Follow Me

Monday, June 8, 2015

Phobia Kamera

June 08, 2015 0 Comments

#fiksi

Bismillah.

Aku tidak pernah merasa sekhawatir seperti sore itu. Aku belum memiliki anak, namun hari itu aku seolah seorang induk yang kebingungan mencari anaknya. Kinan, bocah bisu itu tiba-tiba menghilang saat aku dan teman-teman sedang riweh mengatur anak-anak lain berbaris. Tidak ada yang menyadari ia tidak ada di sana, bahkan ketika jepretan kamera mengabadikan jajaran mahasiswa dan anak-anak panti.

Suasana mulai rusuh saat Ibu Pengurus Panti menelpon salah satu temanku, dan memberitahukan satu hal penting yang terlupakan.

"Kinan phobia difoto, tolong pastikan kinan ada teman yang menemani. Dia biasa menghilang saat sesi foto."

sumber gambar dari sini
Dan kami semua panik karena tidak menemukan kinan di barisan anak-anak panti. Kami berada di bukit Moko, tempat ini begitu luas, kami takut terjadi sesuatu yang buruk pada kinan. Dua belas orang terbagi menjadi empat kelompok pencarian. Dan tiga orang tetap di lokasi menjaga anak-anak dan memberi kabar siapa tahu Kinan ke sini lagi.

Sederhanakan

June 08, 2015 0 Comments

#fiksi

Bismillah.

make it simple (sumber dari sini)
"Ternyata semakin sederhana, jadi semakin indah" ujar seorang gadis yang menggunakan khimar berwarna krem (K).

"Ya, jika bisa sederhana, mengapa harus diper-rumit?" sahut gadis lain disebelahnya, ia menggunakan khimar berwarna hitam (H).

K: "Sederhana artinya kau tidak mencari perhatian banyak orang."

H: "Sederhana artinya setiap hal ada pada tempatnya, ada zona masalah dan zona solusi."

Aku Ngikut Aja...

June 08, 2015 0 Comments
#fiksi #SensiMe

Bismillah.

"Gue ikut"
"Ikut Lis,"

bebek yang suka ngikut aja, hehe (sumber gambar dari sini)
Awalnya, kalimat-kalimat singkat itu tidak mengganggu pikiran Lisa. Namun saat diskusi berlangsung dan kata "ngikut aja" muncul, Lisa mulai geram.

Lisa menempatkan diri sebagai moderator. Seperti kebanyakan moderator, Lisa membuka diskusi, menyampaikan sedikit latar belakang, dan bertanya pendapat peserta diskusi.

Diskusi singkat itu berjalan lancar, sampai Lisa tiba-tiba menyadari, peserta seolah sedang mengubah peran Lisa. Peserta satu persatu berkata "ngikut aja", saat ditanyakan kesimpulan dari diskusi. Lagi, peserta satu persatu membeo, ngikut saja, saat ditanyakan keputusan apa yang harus dilakukan.

Wajah Lisa mengeras, dahinya berkerut, namun ia masih berusaha mempertahankan senyum pahit di bibirnya.

***

Thursday, June 4, 2015

Makna Ramadhan Bagiku

June 04, 2015 0 Comments
-Ramadhan, Musahabah Diri-

Bismillah.

Mungkin mudah mengeja kata Ramadhan, namun mengeja maknanya? Aku tidak yakin aku bisa mengeja maknanya dengan benar. -kirei-

***

Aku belum pernah mencoba memaknai Ramadhan dalam hidupku. Sebelumnya, makna Ramadhan bagiku sama seperti makna Ramadhan bagi kebanyakan muslim lain. Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa, saat kita berpuasa sebulan penuh.

Namun kali ini, Ramadhan tahun ini, izinkan aku belajar mengeja maknanya.

Tahukah kamu mengapa Ramadhan begitu istimewa? Aku baru tahu beberapa waktu yang lalu. Atau mungkin sudah tahu, namun kembali diingatkan lagi beberapa waktu yang lalu. Ramadhan istimewa bukan karena puasa 30 hari, Ramadhan istimewa karena pada bulan itu Al Quran turun.

Hal ini dituliskan begitu jelas dalam QS Albaqarah ayat 185. Ayat itu bermula dengan kata syahru ramadhan, namun kata-kata selanjutnya, Allah menggambarkan tentang Quran.

alladzii unzila fiihil quran - di dalamnya (Ramadhan) diturunkan Al Quran
huda linnas - petunjuk bagi semua manusia
wa bayyinatil minal hudaa wal furqan - di dalamnya (Quran) terdapat petunjuk dan pembeda (yang haqq dan bathil)

Hanya ada satu ayat yang bercerita tentang bulan Ramadhan, uniknya, setelah ayat dimulai dengan kata syahru Ramadhan, yang dijelaskan setelahnya adalah tentang Al Quran. Bukan alladzi kutiba fiihi shiyam.

Lewat ayat ini, Allah seolah ingin mengingatkan kita, bahwa Ramadhan tidak boleh terlepas dari Al Quran. Ini adalah bulan yang Allah berikan untuk merayakan turunnya Al Quran. Al Quran yang menyatukan kita sebagai muslim, Al Quran yang membuat kita sama-sama berdiri dalam satu shaff.

***

Jika aku boleh mengeja makna Ramadhan, izinkan aku belajar memaknai Ramadhan (lagi) sebagai bulan turunnya Al Quran. Sehingga Ramadhan kali ini -jika Allah izinkan bersua-, semoga menjadi bulan saat aku memperbarui dan memperbaiki interaksiku dengan Al Quran. Lewat membacanya, mentadabburinya, belajar tafsirnya, menghafalnya, dan tentu saja, belajar mengamalkannya.

Mungkin pembaca heran, atau bingung membaca tulisan ini. Maksudnya, bukankah semua orang sudah tahu kalau Ramadhan adalah Bulan turunnya Quran? Ya, semua orang mungkin sudah tahu. Namun aku belum merasa memaknainya dengan benar. Maka kali ini, izinkan aku belajar memaknai Ramadhan dengan baik, lewat interaksi dengan Quran. Sehingga saat pelatihan Ramadhan selesai, Al Quran tidak lepas atau terlalaikan. Semoga meski Ramadhan sudah usai nanti, semoga Al Quran masih menjadi teman setia kita menjalani 'medan perang' yang sesungguhnya.

Allahua'lam bishowab.

Banyak terinspirasi dari video : Month of Forgiveness - Nouman Ali Khan, yang sudah ada subtitle Indonesia-nya.

Menangkap Langit Lewat Lensa

June 04, 2015 0 Comments

-opini, Muhasabah Diri-

Bismillah

sumber gambar dari sini
Selalu gagal dan tak seindah yang dilihat mata. Kau tahu? Selalu begitu jika kau ingin menangkap langit lewat sebuah lensa buatan manusia. -kirei-
***

Aku tahu ini lucu dan tak logis, tapi itulah aku. Sejak tahu bahwa lensa kamera mana pun tak pernah mampu menangkap keindahan langit, aku memilih untuk menikmatinya saja dengan mata.

Dan gemintang atau bulan purnama, juga awan putih yang menemani biru langit, atau justru langit senja yang jingga atau ungu atau biru. Aku memilih untuk menikmatinya sendiri lewat mata yang begitu kompleks dan ajaib diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Aku tidak berusaha lagi untuk menangkap indahnya langit lewat lensa buatan manusia, karena seringkali hasilnya hanya timbulkan kecewa.

Karena pertama, aku memang tidak ahli dalam fotografi. 

Baik fotografi yang mudah dan simple, maupun fotografi yang nyeni, termasuk di dalamnya, fotografi langit. Cakrawala yang tidak pernah kita lihat retaknya ini, menjadi terbatas jika diabadikan lewat lensa kamera. Tidak utuh, hanya menggambarkan sebagian. Tidak nyata, karena warnanya terbatas pada RGB atau CMYK.

Karena kedua, aku tidak memiliki kamera secanggih kedua bola mata ciptaan-Nya. 

Pernah di suatu pagi, pagi yang begitu istimewa. Adzan shubuh saat itu sudah berkumandang, namun bulan masih tampat indah di peraduannya. Bulat sempurna tanpa ada sedikitpun awan menghalangi sinar yang muncul di dalamnya. Saat itu aku pikir, kamera hp bisa merekam sedikit keindahannya, namun ternyata aku salah. Tidak ada keindahan tersisa saat aku menangkap rembulan dan langit fajar itu. Tidak ada, hanya langit gelap dan satu titik bulat kecil mewakili rembulan istimewa fajar itu.

Ya, dua alasan tadi membuatku selalu mengurungkan niat mengambil kamera, saat mega terbentang begitu indah. Aku kini lebih suka terdiam menikmati sajian langit, dengan dua bola mata yang masih diizinkan Allah bekerja dengan baik.

***