Menangkap Langit Lewat Lensa
Isabella Kirei
June 04, 2015
0 Comments
-opini, Muhasabah Diri-
Bismillah
![]() |
| sumber gambar dari sini |
Selalu gagal dan tak seindah yang dilihat mata. Kau tahu? Selalu begitu jika kau ingin menangkap langit lewat sebuah lensa buatan manusia. -kirei-
***
Aku tahu ini lucu
dan tak logis, tapi itulah aku. Sejak tahu bahwa lensa kamera mana pun tak
pernah mampu menangkap keindahan langit, aku memilih untuk menikmatinya saja
dengan mata.
Dan gemintang atau
bulan purnama, juga awan putih yang menemani biru langit, atau justru langit
senja yang jingga atau ungu atau biru. Aku memilih untuk menikmatinya sendiri
lewat mata yang begitu kompleks dan ajaib diciptakan oleh Sang Maha Pencipta.
Aku tidak berusaha lagi untuk menangkap indahnya langit lewat lensa buatan
manusia, karena seringkali hasilnya hanya timbulkan kecewa.
Karena pertama, aku
memang tidak ahli dalam fotografi.
Baik fotografi yang mudah dan simple, maupun
fotografi yang nyeni, termasuk di dalamnya, fotografi langit. Cakrawala yang
tidak pernah kita lihat retaknya ini, menjadi terbatas jika diabadikan lewat lensa
kamera. Tidak utuh, hanya menggambarkan sebagian. Tidak nyata, karena warnanya
terbatas pada RGB atau CMYK.
Karena kedua, aku
tidak memiliki kamera secanggih kedua bola mata ciptaan-Nya.
Pernah di suatu
pagi, pagi yang begitu istimewa. Adzan shubuh saat itu sudah berkumandang,
namun bulan masih tampat indah di peraduannya. Bulat sempurna tanpa ada
sedikitpun awan menghalangi sinar yang muncul di dalamnya. Saat itu aku pikir,
kamera hp bisa merekam sedikit keindahannya, namun ternyata aku salah. Tidak
ada keindahan tersisa saat aku menangkap rembulan dan langit fajar itu. Tidak
ada, hanya langit gelap dan satu titik bulat kecil mewakili rembulan istimewa
fajar itu.
Ya, dua alasan tadi
membuatku selalu mengurungkan niat mengambil kamera, saat mega terbentang
begitu indah. Aku kini lebih suka terdiam menikmati sajian langit, dengan dua
bola mata yang masih diizinkan Allah bekerja dengan baik.
***


