Follow Me

Sunday, March 31, 2019

Sebelum Maret Berakhir

March 31, 2019 0 Comments
Bismillah.



Hanya ingin menyalin beberapa tulisan dari blog magic of rain, kalimat ambigu, bait tanpa judul. Atau diberi judul, dengan judul super asal hehe.

~#~

Seperti Allah yang percaya menitipkan ujian itu padanya
aku juga harus berusaha percaya padanya

bahwa ia bisa menyelesaikannya
dengan bantuan Allah tentunya
aku tak boleh meragukannya
atau memandang rendah prosesnya
karena memang berbeda tiap tanjakan hidup seseorang


*ditulis 13 Desember 2018, dengan judul "Seperti Allah percaya"

~#~

Terkadang ada hari seperti ini
saat mataku terasa lembab
seolah waktu yang tepat untuk menangis
meski belum ada sebab
Harusnya membaca ayatNya
lalu menangisi dosa
atau tangis takut akan azabNya
atau tangis haru atas nikmatNya yang terus mengalir
Hari ini lembab

*ditulis 20 Oktober 2018, dengan judul "Lembab"


~#~

...
ketidaktahuan ini
memang menghadirkan kuriositas
tapi ketidaktahuan ini
juga memekarkan baik sangka padaNya
semoga aamiin


*ditulis 22 September 2018, dengan judul "I'm not in a good condition"

**bukan keseluruhan postingannya, hanya bagian penutupnya saja.


~#~

Emosi penuh, perlu dituang
dalam secangkir rasa
atau semangkuk warna
Namun mulut tekonya bungkam
tertutup
akankah ia meledak
jika tidak dituang?



*ditulis 3 Maret 2018, dengan judul "Hmm..."



~#~

Terakhir, jika emosi penuh, dan perlu dituang dalam secangkir rasa atau semangkuk warna. Namun mulut tekonya bungkam atau tertutup. Solusinya, ajari sang teko untuk menulis, ia tidak perlu membuka mulutnya, ia hanya perlu menggores tinta, atau menekan keyboard, menuangkan rasa dan warna bukan dalam cangkir atau mangkuk, namun dalam kata, yang menjelma menjadi kalimat. Jikapun tidak menjadi kalimat, semoga bisa menjadi bait-bait sajak, yang penuh rasa, juga penuh warna.

Allahua'lam.

***

PS: Atau ajari tekonya untuk berdoa, mengadukan luapan emosi kepada Sang Maha Mendengar^^

Saturday, March 30, 2019

Bukan Cuma Hidup

March 30, 2019 1 Comments
Bismillah.

Apa kamu tidak punya mimpi? Keinginan? Target dalam hidup?

***

Manusia hidup, jantungnya masih memompa darah, masih bernafas, masih hidup. Tapi apakah cukup cuma hidup? Menjalani hari sekedar rutinitas, kebiasaan yang sama dan berulang. Apakah hanya akan berhenti di situ? Seolah tak ada yang membuatmu antusias, tak ada yang membuatmu ingin berlari meraihnya.

Manusia hidup, dari bayi, tumbuh menjadi kanak-kanak, kemudian menjadi dewasa. Mimpi adalah hal yang biasa ditanyakan pada kanak-kanak, dan dijawab dengan aneka rupa kata. Manusia dewasa juga terkadang ditanya tentang mimpi, namun ada sebagian yang memilih berhenti bermimpi hanya karena terhantam realita. Meski mereka tahu, bahwa manusia yang memiliki visi, hidupnya bukan cuma hidup, lebih berarti, karena bukan sekedar terbawa arus ombak. Namun mendayung ke arah tujuan atau menggukan layar, agar bisa mencapai tanah impian dengan bantuan angin.

Bukan cuma hidup, tapi ada arah, ada motivasi, ada target, ada keinginan, ada mimpi.

***

"Kamu ga punya keinginan apa gitu Bell?" Pertanyaan seseorang yang melihat keseharianku seolah cuma hidup. Aku menjawab, aku setiap hari membaca buku, menghafal meski sedikit. Ia bergumam pelan, "bukan itu."

Aku tahu ia berbicara tentang mimpi, keinginan, serta target dalam hidup. Agar tidak 'cuma' hidup. Kalau boleh jujur, aku juga punya... bedanya aku hanya menyimpannya sendiri, dan hal itu belum bisa menjadi penggerak. Nyala apinya masih terlalu redup, untuk bisa menghasilkan energi yang menggerakkan.

Karena kalau boleh jujur.... aku masih terlalu takut untuk mulai bermimpi lagi. Masih ragu untuk memulai (lagi) menanamnya, merawatnya dan berharap memetik hasilnya.

Mungkin pertanyaannya padaku sebuah pemantik. Allah ingin aku tidak sekedar menjalani rutinitas hari, Allah ingin aku bukan cuma hidup. Aku sepertinya harus belajar lagi, berani bermimpi lagi, merajutnya, berusaha berlari menuju ke sana. Meski perjalanannya mungkin tidak mudah, dan hasilnya tidak selalu sesuai ekspektasi. Tapi aku harus belajar, supaya bukan cuma hidup.

Terakhir, ada satu kutipan tentang mimpi, yang terlintas di otak saat menulis ini.
"A dream is not the same as your talents. Your dream is something you want to achieve, even if you are not good at it. You think about your dream when you're eating, and even when you're sleeping." - anonim
Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

***

PS: Seems like I still stuck or only move so slow. I must learn so much to grow, to be a better human. Pertama 'mengubah hidup', lalu ini, 'bukan cuma hidup'. Hidup memang terbatas, karena kematian lebih pasti. Tapi justru dari keterbatasan itu, kita diminta untuk mempersiapkan sebanyak-banyaknya bekal. Karena perjalanan akan berlanjut, setelah kita mati kelak. Semangat berjuang~ semoga Allah berikan kekuatan agar tidak 'hilang fokus' meski banyak rintangan dan hambatan. Aamiin.

PPS: 1 April, pagi buka ig. Ngeliat ini.. seolah Allah ingin aku baca itu.


Friday, March 29, 2019

9 Hari Kemudian

March 29, 2019 0 Comments
Bismillah.

#random #banyakcurhat

Sembilan hari kemudian, setelah postingan terakhir hari Rabu pekan kemarin. Baru sembilan hari, tapi rasanya sudah tiga pekan. Soalnya aku bolos submit sabtulis dan 1m1c sudah dua pekan hehe. Anyway, long time no see.. glad to see you today^^

***

Ada alasan mengapa sembilan hari kemudian aku baru menulis lagi di sini. Alasan yang panjang kalau diceritakan, tapi bisa juga dibuat versi singkatnya.

Sebenarnya, aku belum ingin menulis lagi di sini. Apalagi kemarin, dan tadi pagi..... ingin vakum lebih lama, sampai perasaanku membaik. Tapi sepertinya, justru aku harus menulis di sini. Siapa tahu, dengan menulis, sedikit demi sedikit perasaanku membaik.

***

Siang tadi, aku buka aplikasi blogger Android, baca acak tulisan di blog magicofrain. Lalu menemukan sebuah kutipan, yang kutulis sekitar dua tahun yang lalu. Tepatnya 18 Agustus 2017.

Dari sebuah buku berjudul, "Amalan Penghilang Susah :)" karya Musthafa Syaikh Ibrahim Haqqi. Buku yang kubaca saat aku kembali lagi ke peredaran. Saat itu, daripada duduk di kortim, atau di selasar tempat wudhu, aku lebih suka ke SRC (Salman Reading Corner), mengambil buku tebal tersebut dan membacanya meski hanya beberapa menit. Sesekali mencatat jika ada yang kalimat dan paragraf yang ingin kusimpan.

Aku ingat, setiap kali memasuki ruangan, di gedung kayu belakang ruangan BMK, aku menulis nama di buku tamu. Kemudian meletakkan tas di rak tas yang disediakan disebelah selatan, dekat pintu kaca. Lalu aku lurus maju menyusuri rak buku sampai di bagian paling ujung. Kemudian berjongkok, karena buku tersebut letaknya di rak paling bawah. Jika sudah kuambil, aku berpindah ke ruang baca akhwat. Begitu terus, tidak setiap hari, tapi kadang sehari bisa dua sampai tiga kali ke sana. Sampai habis buku 574 halaman tersebut.

Oh ya, balik ke kutipan. Kutipannya, aku ambil dari halaman 494.
"Ketika Anda telah merasakan nikmatnya shalat -dan saya yakin akan itu- maka Allah akan mengubah jiwa dan perilaku Anda
Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, niscaya Allah akan menjagamu dan mengubah keadaanmu, sebagaimana berubahnya padang pasir yang kering menjadi kebun yang hijau, dan itu semua dalam kemampuan Allah Ta'ala. 
Dia Mahamampu untuk mengubah keadaanmu jika kamu mau jujur. Allah akan menerima tobatmu, karena sifat Allah adalah selalu menerima tobat dan Maha Penyayang. Dan Dia juga Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
-  Musthafa Syaikh Ibrahim Haqqi, Amalan Penghilang Susah :) halaman 494
***

Sesuai dengan judulnya, buku tersebut membantuku melalui masa-masa susah. Amalan-amalan yang disebut di buku tersebut mungkin terkesan klise, bahkan amalan yang sudah tiap hari kita lakukan. Tapi membaca buku itu, mengingatkan kita lagi, bagaimana jika amalan-amalan tersebut kita lakukan dengan benar, bisa menghilangkan kesusahan kita. 

Dan hari ini... Allah seolah menuntun aku untuk mengingatnya lagi. Agar aku tidak lupa, akan hal-hal yang pernah kubaca dari buku tersebut. Alhamdulillah^^

Allahua'lam.

***

screenshoot tampilan postingan kutipan tersebut di aplikasi blogger

Wednesday, March 20, 2019

Menempuh Jalan Menuju Allah

March 20, 2019 0 Comments
Bismillah.
#quotes



Mereka melihat jalan (menuju Allah) dan menempuhnya sesaat demi sesaat. Jadilah mereka orang yang ridha dengan keputusan Allah, bersabar menghadapi cobaan-Nya, bersyukur atas karunia-Nya, dan sangat rindu bertemu dengan-Nya. - Imam Al Ghazali, dalam bukunya "Minhajul 'Abidin"

Semoga Allah menjadikan aku salah satu dari orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah, yang ridha akan keputusanNya, bersabar menghadapi cobaan-Nya, bersyukur atas karunia-Nya dan  sangat rindu bertemu dengan-Nya. Aamiin.

Allahua'lam.

Tuesday, March 19, 2019

Mengubah Hidup

March 19, 2019 0 Comments
Bismillah.
#selftalk

Aku pikir aku sudah berjalan maju, berubah sedikit demi sedikit. Namun pertanyaan itu muncul, dan berulang. Membuatku ragu, apakah selama ini aku belum berjalan maju, meski satu langkah? Apakah aku memang hanya jalan di tempat? Atau justru sebenarnya mundur, namun mengira itu maju?

Pernyataan itu, awalnya membuatku emosi, ingin rasanya menyanggahnya. Tapi kalau aku mau jujur, sebenarnya pernyataan itu dibuat karena mereka peduli, karena mereka sayang padaku. Mereka ingin aku tidak begini terus. Mereka ingin aku melangkah maju, dan meninggalkan yang seharusnya dilewati. 

Aku bertanya-tanya pada diri. Apa selama ini, delta s sama dengan 0? Apa gerakku, sia-sia, tak memberikan perpindahan?

Aku bertanya-tanya pada diri. Ataukah mungkin langkahku terlalu lambat? Dan pernyataan itu tercipta untuk mengingatkanku, bahwa aku bisa berakselerasi, bahwa aku bisa melangkah lebih cepat. Juga mengingatkan, bahwa usahaku masih jauh dibandingkan kemampuan kakiku untuk bergerak. Bukan jalan kaki santai, tapi aku seharusnya berlari, melompat, juga menendang. Berlari menuju kepadaNya. Melompat meraih ridha-Nya. Juga menendang dinding hambatan yang menahanku untuk bergerak maju. 

***

They asked me, "When will you change your life?" 

They said, "You have to change your life."

Dan tulisan ini, hadir karena dua kalimat itu. Pertanyaan dan pernyataan yang belum bisa kujawab dengan mengejawantahkannya dalam amal. 

La haula wala quwwata illa billah. 

Allahua'lam. 

Sunday, March 17, 2019

Instagram : @betterword_kirei

March 17, 2019 0 Comments
Bismillah.

Di sini mau curhat aja, behind the scenes akun ig tersebut. Awal buat saat awal-awal ikut KMO Club. Materi pertama waktu itu menyuruh peserta untuk berikrar mengizinkan diri menjadi penulis buku best seller. Ikrarnya dalam hati, diulang-ulang. Kalimatnya sederhana, tapi cukup untuk menggetarkan hati, dan membuat otak berpikir.

Aku tahu.. aku masih membatasi diri dalam menulis. Aku lebih suka menulis untuk diri sendiri, di sini, seolah aku belum mengizinkan diriku untuk menjadi penulis buku yang best seller. Dari situ, aku mulai merasa bahwa aku perlu membuka pintu. Agar orang lain bisa membaca tulisanku. Akhirnya aku buat akun ig tersebut. Emailnya juga. Jadi kedepannya, untuk urusan menulis, buku, dll, bisa buat komunikasi. betterwordforlife@gmail.com

Waktu berlalu.. .

Sampai suatu saat aku baru ngalamin "jatuh" dan berusaha bangkit lagi. Baca kutipan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tentang hati yang tidak merasakan sakit, karena hatinya sudah mati. Akhirnya buat desain, niat awal di share di story ig pribadi. Setelah diupload di story ig pribadi, ngerasa sayang kalau cuma di ig pribadi. Karena ig pribadi di private, dan niatnya memang terbatas, aku usahain jumlah following dan followernya ga meningkat. Jadi aku buat satu desain baru, untuk cover, lalu deh di post di akun ig @betterword_kirei

Sepekan kemudian..

Aku isi lagi, masih tema yang mirip, tentang "hati". Masih ambil dari kutipan buku. Lalu sekarang sudah ada 4 postingan, dua postingan yg baru ga setema.

Masing-masing captionnya postingan diambil dari tulisan dari blog ini. Tentang caption, jujur masih kagok... suka sebel, karena tatanannya jadi ga bener. harus berkali-kali edit, tapi tetep aja gemes, karena ga sesuai yg diinginkan. Harus sabar hehe. Mungkin karena belum terbiasa.

***

Karena buat instagram ini, saya jadi tahu bahwa proses buat konten di instagram itu ga mudah hehe. Ga semudah di blog yang tinggal nulis aja. Perlu effort lebih. Salut buat yang rajin buat konten dan ga cuma regram hehe.

Doain ya, semoga instagram @betterword_kirei bisa rajin diisi (:


Sekian. Bye~

Allahua'lam.

Friday, March 15, 2019

Drop

March 15, 2019 0 Comments
Bismillah.
#fiksi


"Jujur, saya sedang drop,"
Itu yang ditulis Aisy dalam pesan singkat kepada Zhova. Kemudian ia melanjutkan dengan kata maaf karena tidak melakukan kewajiban yang seharusnya ia kerjakan. Zhova setengah hati menjawab dengan doa, "syafakillah". Ia lalu berdiri dari kursi dan memandangi papan tulis putih berukuran 2 x 1 meter di ruang kerjanya.

"Mundur lagi timelinenya," desah Zhova pelan. Projek kali ini terasa begitu memakan waktu, apalagi partner kerjanya di belahan bumi lain sedang 'drop'. 

Bekerja sama memang selalu begitu, perlu banyak energi untuk saling mengerti, saling melengkapi saat yang lain sedang drop. Berbeda dengan kerja sendiri yang tidak butuh komunikasi, hanya butuh motivasi sendiri, dan kerja sendiri. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri, termasuk projek yang satu ini. Ia membutuhkan orang lain, ia butuh tangan Aisy. 

***

Ruangan gelap, hanya ada sedikit cahaya dari sebuah hp yang berkedap-kedip karena minta diisi batrenya. Pemilik kamar itu, Aisy sedang pergi menghirup udara malam, sekaligus membeli sebungkus nasi untuk tubuhnya yang makin malam makin lunglai. Sengaja ia tinggal hpnya di kamar, kalau sedang 'drop' begini. Aisy butuh waktu untuk sendiri tanpa gangguan notifikasi dunia maya. Ia ingin hidup tanpa dunia itu, ia ingin lebih jeli menikmati suara penjual nasi goreng yang sedang memasak, juga suara kaki yang melangkah kesana-kemari. Saat beberapa pelanggan lain sibuk dengan hp masing-masing, Aisy memilih untuk membuka buku kecil dan mengeluarkan pensil. Ia mulai membuat doodle orang-orang tanpa wajah yang menunduk di hadapan hp masing-masing.
"daily scenery, almost everywhere"
Pelayan mengantarkan pesanannya, Aisy mengeluarkan uang pas, kemudian tas kresek putih berisi bungkusan nasi goreng tersebut berpindah tangan. Ia kemudian memaksa tubuhnya bergerak, berpindha tempat, kali ini ke warung kecil sebelum masuk ke gang kosannya. Ia membeli yogurt, dan minuman penambah ion. Bangku panjang kayu yang cat merahnya sudah pudar, ia pilih sebagai tempat duduk, kemudian menegak minuman ion, memberi sedikit asupan untuk tubuhnya yang hampir 12 jam tidak diberi haknya, baik minum maupun makan. Ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan sekitar, sembari menghabiskan air 150ml. Mulai dari motor yang berlalu lalang, anak-anak kecil yang berlarian, juga mahasiswa yang sedang mengantri di warung makan sebrang ia duduk. Ia jadi teringat Zhova. 

Aisy mengenal Zhova saat sama-sama mengantri membeli makan, mereka satu almamater, namun beda jurusan dan berbeda spesies. Aisy kupu-kupu, sedangkan Zhova kura-kura. Bukan, bukan tenntang serangga dan reptil, tapi tentang tipe mahasiswa yang kuliah-pulang (kupu) dan kuliah-rapat (kura). 

Saat itu Aisy juga sedang drop, memilih menunggu sembari menggambar, meski sebenarnya hp-nya bergetar berulang di dalam tasnya. Sedangkan Zhova, ia menunggu sembari membaca, bukan buku, tapi quran. Suaranya memang lirih, tapi bukan pemandangan biasa, seseorang membaca quran di pedagang kaki lima. Ia seolah tak terusik meski berulang kali pengamen lewat. Membuat Aisy tanpa sadar fokus membuat gambar sosok Zhova.

Aisy membuka pintu kamarnya, memindahkan kunci ke bagian dalam, menyalakan lampu, kemudian rebahan. Jendela kamarnya masih sedikit terbuka, membiarkan udara malam masuk, dari bagian atasnya. Tipe jendela berpintu satu, dengan pegangan di bagian atasnya. Kaca-kacanya tertutup puluhan kertas sticky notes berwarna kuning.

"Syafakillah," tulisan itu terbaca di preview pesan yang masuk, membuat Aisy merasa semakin bersalah. Seharusnya hari ini ia sudah mengirim ilustrasi untuk bab 3 dan 4. Namun ia baru menyelesaikan setengah dari bab 3. Ia benci harus menjelaskan pada Zhova kalau ia sedang drop, tapi ia tahu, menghilang tanpa kabar jauh lebih menyakitkan. Tapi jawaban singkatnya, membuat Aisy merasa bersalah.

Zhova membaca kata "drop" dengan makna bahwa Aisy sedang sakit, sedangkan Aisy menulisnya untuk menunjukkan semangat dan imannya yang sedang jatuh, drop.

***

"Belum tidur? Tumben nonton TV," ucap ibu, membuat Zhova menolehkan wajahnya. Zhova menekan tombol turn off, TV mati, kemudian Zhova menangis, mengadu pada ibunya. Tentang beberapa projek yang ia pegang dan tidak ada yang berjalan sesuai rencana. Bahkan projek buku "Aurora", yang ia pikir hanya akan mundur sedikit dari target awal, ternyata harus mundur lagi. Ia mengadu karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Ibu mengelus kepala Zhova, mencoba menenangkan putri satu-satunya itu.

"Rasanya ingin marah dan menyalahkan orang lain, tapi di sisi lain, aku juga punya salah dna kekurangan," tangis Zhova sudah reda, ia lega karena bisa menyalurkan perasaannya ke Ibu.

"Putri ibu.. Zhova, marah, kecewa itu wajar. Tapi jangan cuma seperti ini. Mending Zhova wudhu, shalat dua rakaat lalu tidur, istirahat, biar besok lebih fresh,"

Zhova mengangguk. Setelah wudhu, ia merasa lebih fresh, air dingin yang membasuh muka, tangan kaki, kepala dan telinganya membuat perasaannya lebih tenang. Ia mengambil lipatan mukena berwarna coklat. Sembari memakainya, ia berpikir tentang apa yang dihadapinya, apa yang membuatnya kecewa. Saran Ibu untuk shalat mengingatkan Zhova bahwa ia kecewa karena ia bergantung pada partner kerjanya. Ia lupa untuk meminta pada Allah agar projek-projeknya lancar, agar partner kerjanya bisa menyelesaikan jobdesk sesuai timeline, agar ia bisa bijak jika terjadi hal-hal di luar rencana.

Malam itu, bahkan sebelum shalat, Allah membimbing hatinya. Apalagi, kalau Zhova mendirikan shalat, dan berdoa meminta bantuanNya.

***

Hari sudah berganti, Aisy masih terjaga. Kertas-kertas sketsanya berserakan di meja kecil tempat ia biasa bekerja. Ia mengambil hp karena bosan, ada pesan baru dari Zhova.

"Makan yang teratur, istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, biar bisa segera fit. Jangan dibawa stress ya, inget lagi niat awal ngerjain buku Aurora. Met bobo^^"

Aisy tersenyum. Dipikir-pikir lagi, doa pendek sebelum pesan itu, tidak selalu untuk sakit fisik. Syafakillah, semoga Allah menyembuhkan, hati yang sakit, yang mengeras, saat iman turun dan futur. Syafakillah, semoga Allah menyembuhkan, semangat yang hilang, menggantinya atau memperbaruinya, seperti luka yang menutup karena sel-sel kulit yang baru.

Aisy memang sedang tidak shalat, tapi bukan berarti ia tidak bisa berdoa. "Ya Allah, sembuhkan aku, jangan biarkan aku berlama-lama drop. Aamiin."

The End.

Tuesday, March 12, 2019

Doa yang Pasti Dikabulkan

March 12, 2019 0 Comments
Bismillah.

sumber: grup Komunitas NAK Indonesia

Orang-orang stuck, kamu stuck, saya stuck. Kita tidak bisa menemukan jalan keluar dalam beberapa momen. Momen yang sukar tersebut sebenarnya adalah cara Allah memberikan pada kita, hadiah paling berharga yang bisa kita dapatkan. Itulah cara Allah membimbing hati kita, mengarahkan hati kita. Jika kita bisa memanfaatkan momen tersebut untuk menemukan Allah. Untuk berbincang pada Allah, di momen sulit tersebut, dan kita tidak harus bisa bahasa arab untuk melakukan itu. Kita tidak perlu tahu banyak ayat Al Quran, untuk melakukan itu (berbicara dan berbincang denganNya). Kita hanya perlu menghadap kepada Allah, kemudian berkata,

"Ya Allah, Engkaulah Sebaik-baik Pembuat Rencana.
Ya Allah, tidak ada yang mencintaiku seperti Engkau mencintaiku, tidak ada yang peduli padaku seperti Engkau peduli padaku.
Aku tahu situasi ini yang terbaik untukku, maka bimbinglah aku, aku membutuhkan petunjuk dan bimbingan-Mu"

Tidak mungkin Allah menolak permintaan kita, saat kita menghadap padaNya dan benar-benar meminta petunjukNya.

Kita meminta mobil kepada Allah, IA mungkin tidak memberikannya. Kita bisa meminta rumah pada Allah, namun IA tidak memberikannya. Kita mungkin meminta kesembuhan penyakit kita, namun IA tidak memberikannya. Mungkin Allah memberikannya, atau tidak memberikannya. Karena Allah mengetahui mana yang lebih baik untuk kita. 

Tapi satu hal yang pasti IA berikan kepada kita, saat kita meminta dengan tulis padaNya, adalah petunjuk dan bimbinganNya.

-Nouman Ali Khan

***


People are stuck, you're stuck, I'm stuck. In some situations, we don't see a way out. Those difficult situation are actually Allah's way of giving us the most valuable gift we can ever earn. His way of guarding our hearts. If we can just used those situation to find Allah in those situations. To talk to Allah in those situations, and you don't have to know Arabic to do that. You don't have to know a lot of Quran to do that. You just turn to Allah, and you say,

"Ya Allah, YOU're the best planner,
Ya Allah, nobody loves me like YOU do, nobody cares me like YOU do.
I know this situation is the best for me, guide me, I need YOUR guidance."

There's no way that you will turn to Allah and you really asking Him for guidance and He will turn you away.

You'll ask Allah for a car, He may not give you. You can ask Allah for a house, He may not give you. You might ask Allah to cure your disease, He might not. Maybe He will, maybe He won't. Cause He knows what's better for you.

But one thing guaranteed He will give you when you ask Him sincerely is His Guidance.

-Nouman Ali Khan

***

Keterangan: terjemahannya ga literal, ada beberapa perubahan yang semoga tidak mengubah konteks.

Monday, March 11, 2019

As If I'm Ready...

March 11, 2019 0 Comments
Bismillah.
#selftalk

As if I'm ready to tell the world.

***

Awalnya kukira kumpulan tulisan itu akan dibukukan, dicetak dalam lembaran kertas, dijilid dan dijual. Alasan itulah yang akhirnya membuatku menulis dan mengirimkannya, meski sudah melampaui batas waktu. Aku pikir... nanti, akan kubeli buku itu dan kuberikan pada seseorang. Sebagai bentuk terima kasih dan ucapan maaf.

bagian akhir tulisan yang sudah terkirim

Tapi, aku kemudian mengetahui, bahwa kumpulan tulisan itu hanya akan dijadikan e-book. Buku yang hanya bisa dibaca di layar. Awalnya aku kira aku akan ketakutan, karena di sana, kutulis sebuah hal yang tadinya rapat-rapat kusembunyikan. Tapi aku... biasa saja. Seolah itu tulisan biasa. Tak apa jika dibaca orang lain, tak apa jika orang lain tahu identitas penulisnya. As if I'm ready to tell the world about it.

Aku... jadi bertanya-tanya, inikah tanda, kalau aku sudah benar-benar menerima? Sudah benar-benar move on?

Allahua'lam.

Saturday, March 9, 2019

Tidak Mencari yang Romantis

March 09, 2019 0 Comments
Bismillah.
 #fiksi

"Aku nggak cari yang romantis," ucapnya membuatku memhembuskan nafas tak percaya. Aku kemudian menimpali kalimatnya dengan rentetan kalimat penyangkal.

"Mana ada yang ga mau dapet pasangan yang romantis, apalagi kita perempuan", kubenarkan letak kacamataku, kemudian melanjutkan, "dimana-mana, semua perempuan itu suka di rayu, suka digombalin, suka diperhatiin, suka diberi kejutan, suka yang romantis-romantis."

Ia tersenyum, seolah meledekku yang tiba-tiba kebawa emosi. "Memangnya, kalau cari yang romantis, tahu dari mana? Ada tesnya gitu?" ia tertawa kecil.

Aku kini paham kalimatnya, mengapa ia berkata tidak mencari yang romantis. Karena memang bukan itu prioritasnya. Selain itu, jika ia tahu orang tersebut romantis, karena sudah tebar 'kain gombal' sebelum halal, orang tersebut justru otomatis masuk blacklist.

"Tapi... kalau misal orangnya suka nulis, kan bisa ketahuan dia romantis atau ga?" tanyaku, masih ingin menggoyahkan pendapatnya. Ia menggeleng pelan, lalu menjelaskan padaku. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada penulis yang tidak bisa menyatakan perasaannya melalui lisan, mengekspresikan melalui air mata, dan akhirnya memilih mengejanya dalam tulisan-tulisannya.

"Intinya, jangan menelan mentah-mentah tulisan orang lain. Tidak semua tulisannya menggambarkan dirinya. Kaya kamu," ia tersenyum seolah mengejekku. Wajahku berubah piasnya, karena kaget ternyata Tifa tahu aku suka menulis, dan juga sedikit tersinggung atas kalimatnya.

"Maksudku.. cerpen-cerpenmu bagus. Orang yang membacanya akan mengira kamu sudah pernah pergi menjelajah berbagai pulau di Indonesia, padahal kan..." penjelasannya membuatku tak jadi marah. Oh ternyata itu maksudnya.

***

Adzan magrib berkumandang saat kami membuka gerbang White Bamboo House, nama kosan kami. Percakapan sore tadi masih terngiang-ngiang di otakku. Jarang-jarang kami membahas tentang ini. Apalagi Tifa selama ini selalu diam jika anak-anak lantai 2 heboh membahas tentang cinta. Kerudung hitam panjang yang selalu ia kenakan, bahkan ketika keluar kamar kos, seolah menjadi dinding tinggi untuk mengobrol lepas dengannya. Tapi sore ini, dinding itu luruh. Saat kami tanpa sengaja bertemu di sebuah toko buku bekas.

Setelah membeli buku, kami shalat ashar di masjid terdekat, kemudian membeli jus dan membahas buku yang dibeli masing-masing. Ia membeli buku islami sedangkan aku membeli novel romance. Dari situ, percakapan berlanjut.

Awalnya aku ragu, dan agak minder karena genre bacaan kami berbeda. Namun ia tidak segan bertanya padaku novel favorit, pelajaran yang aku suka dari novel itu, juga karakter yang paling kuingat. Ia tidak terkesan meremehkanku juga tidak serta merta mengeluarkan ayat atau hadits untuk menghakimiku. Ia hanya bercerita tentang dirinya, mengapa ia membatasi membaca buku-buku fiksi, meski ia pernah suka. Tentang mengapa ia tetap mengenakan kerudung setiap keluar kamar, meski kosan kami perempuan semua.

Hal yang paling kuingat dari percakapan sore iti adalah tentang ia yang tidak mencari sosok yang romantis. Saat itu aku bercerita tentang karakter novel yang selalu memikatku, yang romantis, bukan lewat kata-kata tapi lewat sikapnya. Ia mengangguk pelan saat aku berpanjang lebar menceritakan karakter fiksi tersebut. Sampai sati kalimat itu terucap, dan aku jadi mendapat sudut pandang baru darinya.

Ia tidak mencari yang romantis. Baginya seseorang yang agamanya baik, akhlaknya baik itu cukup. Percuma romantis jika tidak membimbing menuju surgaNya. Terkesan klise, tapi bagiku, aku baru menemui pandangan seperti itu. Teman-temanku yang lain, ya.. cari yang agamanya baik, tapi juga mencari yang romantis seperti karakter fiksi yang biasa ada di novel, atau film. Sebenarnya, aku masih meragukan kalimatnya saat itu, sampai ia mengucapkan kalimat skak nat sebelum kami menaiki angkutan kota.

***

"Kalau misal ada yang sama-sama baik agamanya, satu romatis, satu lagi nggak romantis, kamu pilih yang mana?"

"Kan udah dibilang, aku nggak cari yang romantis," Ia menjeda kalimatnya, "biar aku aja yang romantis."


Tifa mempercepat melambaikan tangan supaya angkutan berwarna oranye berhenti. Aku terdiam speechless dengan kalimatnya. Kalimat itu akan kupastikan tertulis di cerpenku yang berikutnya.


The End.

***

Keterangan : Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.



Menjadi Lebih Baik

March 09, 2019 0 Comments
Bismillah.

Setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah, begitu juga setiap perubahan, dimulai dengan satu gerakan. Perubahan adalah bentuk perjalanan juga. Perubahan menjadi diri yang lebih baik, dimulai dengan sebuah gerakan hati terlebih dahulu, yang kemudian disusul dengan gerakan pikiran dan tubuh.


Saat hati sudah bergerak, maka otak kita mulai merancang rencana, langkah apa saja yang harus kita tempuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita mulai membuat list, hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita akan membuat list tersebut berdasarkan pemahaman yang ada di diri kita, serta prinsip-prinsip yang kita yakini. Kita juga akan membuat list, hal-hal yang sebaiknya kita hindari dan tidak lakukan. Setelah membuatnya, kita mulai melangkah.

Awalnya, kita berpikir berubah itu hal yang mudah. Namun setelah menjalaninya kita tahu, bahwa ada banyak rintangan dan hambatan. Dalam hukum fisika, kita mengenal istilah lembam. Lembam adalah situasi dimana sebuah benda cenderung pada keadaan awalnya. Kita mulai merasakan bahwa kita sering lebih cenderung kembali seperti kondisi awal, ketimbang bergerak dan berubah sesuai arah yang kita inginkan. Komitmen kita diuji, apakah kita benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik, atau kita lebih suka diam saja.

Seseorang yang gerak hatinya kuat, maka gerak pikiran dan fisiknya pun akan kuat. Pasti ada saat kita ingin berhenti dan istirahat, namun jika hati kita sudah bersikeras ingin menjadi lebih baik, maka ia akan mengingatkan otak dan tubuh kita. Hal ini berarti, penting untuk menjaga dan menguatkan gerak hati.

Dalam perjalanan untuk berubah menjadi lebih baik, kita sesekali menengok kondisi hati. Mengingatkan niat awal, tujuan awal, alasan mengapa kita harus berubah, mengapa kita harus melalui perjalanan yang terjal dan melelahkan ini.

Ada yang ingin menjadi lebih baik karena orang lain. Ingin dihormati, ingin dianggap sukses, ingin diapresiasi. Yang alasannya karena orang lain, tentu akhirnya akan dihantam dengan alasan tersebut. Perjalanan berubah menjadi lebih baik bisa semata-mata berhenti karena ternyata orang lain dengan mudah mengabaikan perubahannya, hampir tidak mungkin memenuhi ekspektasi orang lain. Kita akan kecewa dan akhirnya memilih berhenti.

Jika kita menyandarkan alasan kita untuk mendapatkan ridha Allah, kita akan belajar.. bahwa tidak ada alasan lain yang lebih menangkan selain itu. Karena saat kita menempuh perjalanan menjadi pribadi lebih baik, Allah akan memberikan balasan pada setiap langkahnya, setiap jatuh-bangun kita setiap kali terpeleset. Allah juga Maha Melihat setiap perjuangan kita. Allah juga yang menghibur kita saat kita bersedih, dengan Kalam-Nya. Kita juga bisa bebas meminta petunjuk padaNya, saat kita merasa stuck dan tersesat. Bahkan kita diajarkan untuk meminta padanya, minimal 17 kali dalam sehari. Ihdinashiratal mustaqim.

Selamat menempuh perjalanan, untuk menjadi lebih baik.


'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqroba min hadza rosyada. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Friday, March 8, 2019

Berkomunitas Agar Tidak Berkutat dengan Rutinitas Saja

March 08, 2019 0 Comments
Bismillah.

Manusia adalah makhluk individual, tapi juga makhluk sosial. Artinya manusia membutuhkan orang lain, untuk menjalani hidupnya. Salah satu cara kita bersosialisasi, selain di sekolah, dengan keluarga besar, atau di masyarakat, adalah lewat gabung dengan komunitas.

Ada banyak alasan dan manfaat dari berkomunitas, berkenalan dengan banyak orang, membangun jejaring, meningkatkan soft skill, juga bentuk aktualisasi diri. Saat kita memilih berkomunitas, kita akan belajar mengenal diri. Kita mulai memilih komunitas yang ingin diikuti. Kita mencari tahu minat dan bakat kita.

Yang suka menulis, bisa gabung komunitas menulis, yang suka wirausaha bisa gabung komunitas enterpreneur, yang peduli pada kondisi bumi dan lingkungan bisa gabung komunitas zero waste, yang ingin belajar mencintai al quran juga bisa ikut komunitas yang fokus mengkaji al quran.

***

Saya termasuk yang suka berkomunitas, bergabung di satu dua ekskul saat sekolah, mengikuti beberapa UKM saat kuliah, bahkan sekarang banyak mencari komunitas online. Saya merasa kalau saya diam saja, dan tidak berkomunitas, bisa jadi saya tidak berkembang dan tidak tumbuh karena berkutat dengan rutinitas saja.

Karena minat saya literasi dan islam, saya banyak bergabung dengan komunitas dalam lingkup keduanya.

Komunitas Literasi

Komunitas literasi mencakup komunitas menulis dan membaca.

Komunitas menulis ada Sabtulis, dan 1m1c, saya juga mengikuti KMO dibimbing oleh Kang Tendi Murti (pelopor telegram Indonesia Menulis), serta ada grup kecil Sharpen The Saw.

Komunitas membaca ada Generasi Al Fihri (laporan membaca tiap hari), juga IMLA.

Komunitas Islam

Ada NAK Indonesia (cuma anggota, tapi dapet banyak ilmu dari grupnya), MPI Bandung (meski jauh, tapi masih aktif sebagai tim kulwap), ODOLA (laporan setiap hari juga).

Komunitas Lain

Ada satu komunitas lagi, saya baru gabung, tapi bukan termasuk dua kategori tersebut. MEC (Muslim English Club) Bandung. Meski jauh, dan tidak bisa mengikuti kegiatan offlinenya, saya berharap masih bisa mendapatkan manfaat dengan menjadi anggota grup MEC.

Akhir bulan ini in syaa Allah nambah lagi, nanti saya tuliskan kalau sudah resmi jadi anggota hehe.

***

Berkomunitas itu ibarat melakukan perjalanan bersama orang lain, ada komunikasi, berusaha saling mengerti, dan juga bekerja sama untuk menghasilkan sinergi. Mungkin perjalanannya tidak bisa secepat sendirian, namun in syaa Allah bisa menempuh jarak yang jauh.

Terakhir, mengutip Stephen R. Covey tentang interdependance (kesalingtergantungan),
Kesalingtergantungan adalah konsep yang jauh lebih matang dan maju. 
Jika saya saling tergantung secara fisik, saya percaya diri dan memiliki kemampuan, tetapi saya juga menyadari bahwa kalau bekerja bersama-sama, saya dan Anda dapat memperoleh hasil yang lebih banyak daripada yang dapat saya capai sendiri, bahkan dengan kemampuan terbaik saya. 
Jika saya saling tergantung secara emosi, saya memiliki rasa bermanfaat yang besar dalam diri saya, tetapi saya juga mengenali kebutuhan akan cinta, memberi serta menerima cinta dari orang lain. 
Jika saya saling tergantung secara intelektual, saya menyadari bahwa saya memerlukan pemikiran terbaik dari orang lain untuk digabungkan dengan pemikiran saya."
Selamat berkomunitas~

Allahua'lam.

***

PS: Tulisan ini seharusnya diikutkan pada menulis tematik di #sabtulis pekan kemarin, namun baru bisa diselesaikan hari ini.


Wednesday, March 6, 2019

Yang Berbeda

March 06, 2019 0 Comments
Bismillah.

#banyakcurhat

Yang berbeda setelah dua ponakan diboyong ke Kupang, NTT adalah..... ga ada yang menyambut saat pulang. 

***

Aku udah sering baca sih tentang anak-anak yang nungguin ayahnya pulang kerja, trus menyambut gitu pas ayahnya pulang. Tapi baru pernah ngerasain, dan awalnya biasa aja. Sampai sambutan itu ga ada lagi, karena Tsabita sudah diboyong ke pulau lain. 

***

Hujan, atau ga hujan, setiap pulang ke rumah, dijemput Ayah/Adikku, pasti Tsabita menyambut. Kaki kecilnya berlari menyambut. Bibir kecilnya mengulang-ulang kata "Assalamu'alaykum" yang belum sempurna ejaannya. Lalu jika sudah berhadapan, ia langsung minta gendong. Kalau ga hujan, gamisku kering, aku dengan senang haati menggendongnya. Tapi kalau hujan, dan gamisku basah, terpaksa kutolak permintaannya. Kutuntun Tsabita ke dalam rumah, lalu aku mulai bertanya tentang harinya. Sudah mandi? Sudah makan? Makan apa? Makan sama siapa? Tadi dede nangis ga? Hehe. **Mengingatnya saja, sudah menaikkan kedua ujung bibirku.

Selain kata "Assalamu'alaykum", Tsabita juga bisa menyambut kepulanganku dengan kalimat curhatan, kalau "Dede nangis" berulang-ulang. Lalu ia cerita dengan suara anak kecil, adiknya yang masih bayi itu menangis karena ingin digendong. Biasanya Ayahku suka menggoda cucu pertamanya,  "yang nangis dede apa Tsabita?". Lalu bocah 2 tahun itu dengan lihai mengalihkan topik, entah tiba-tiba menanyakan tempat minumku, atau mencari boneka doraemon.

Yang berbeda sejak dua keponakanku pindha ke Kupang, adalah... rumah jadi sepi, tidak ada celoteh Tsabita, tidak ada tangis dede bayi. Tidak ada yang meminta gendong, atau mengetuk pintu berkali-kali karena ingin masuk kamarku. 

Benar kata orang-orang. Kehadiran anak itu memberikan warna baru di hidup seseorang. Membawa kehangatan. Tiada hari yang sepi, selalu riuh dengan tangis dan kicau suara (kalau ia sudah bisa bicara). 

***

Kami yang sudah dewasa (papah, mamah, aku dan adikku) meski rindu, namun sudah biasa. Tapi tahukah? Bocah sekecil itu sudah harus belajar tentang rindu. Tujuh bulan ia di Purwokerto, saat adiknya belum lahir, sampai adiknya sudah 4 bulan. Di kepalanya, rumahnya di sini, di Purwokerto. Ia membangun kebiasaan baru di sini. Kebiasaan ganti baju bersamaku, shalat bersama yangtinya, serta tidur sambil digendong yangkungnya. Kakakku bercerita tentang Tsabita yang kemarin-kemarin masih sering menangis dan mencari Yangkung dan Aunty. Menolak ganti baju dengan umi atau abinya. Ia rindu, karena ternyata ia sekarang di Kupang, 1500mil dari Purwokerto. Bocah sekecil itu audah harus belajar rindu, belajar perpisahan sementara. (Alhamdulillah sekarang sudah mulai adaptasi dengan kebiasaan baru di Kupang sana)

Tentang Tsabita yang harus belajar rindu sejak kecil, mengingatkanku akan Nabi Yusuf. Ga kebayang, bagaimana rasanya terpisah dari keluarga, karena saudaranya meninggalkannya di sumur tua. Bagaimana rindunya, bagaimana sendunya. Tidak cukup itu, ada tuntutan ujian lain yang harus ia jalani dalam hidupnya. Ia bukan seorang pendosa, yang harus diuji untuk menyucikan dosanya. Ia manusia terpilih, karena lewat ujian tersebut, ia bisa menyelamatkan anak-anak dari kelaparan, saat ia menjabat menjadi mentri kelak. Bahwa ujian kita, mungkin membuat kita bertanya-tanya mengapa? Tapi yakinlah, Allah punya rencana yang lebih baik. Allah akan membalasnya dengan hal yang jauh lebih baik, di dunia, atau kelak di akhirat. 

Allahua'lam.

Tsabita dan Umi-nya, ngeliatin dede Arkan di tempat duduk belakang sama Yangti. Saat gerbong masih sepi, menuju Sidoarjo, H-2 sebelum ke Kupang. (📷 dokumentasi pribadi)

Takut dan Berharap

March 06, 2019 0 Comments
Bismillah.

Tentang pentingnya khauf dan raja' bersama-sama. Tidak boleh dipisahkan.

Dari buku Minhajul 'Abidin, Imam Al Ghazali.

***

snowy road (📷 from unsplash)

Ada tiga jalan, (1) rasa aman dan berani; (2) putus asa; dan (3) takut dan berharap yang terbentang di antara keduanya. 

Jalan pertama mudah, lebar dan datar. Merasa aman, seolah kita tidak akan di adzab, seolah sudah pasti akan masuk surga. Perasaan aman yang akan mengantar pada kerugian. 

Jalan kedua lebar dan lapang. Merasa putus asa, seolah kita sudah pasti akan di adzab, sudah pasti masuk neraka. Perasaan putus asa yang akan mengantarkan pada kesesatan. 

Kedua jalan yang menyimpang dan membinasakan itu lebih luas medannya, lebih banyak penyerunya, ran lebih mudah ditempuy daripada jalan tengah yang lurus. 

Sedang jalan ketiga, jalan tengah antara keduanya, jalan khouf dan roja', merupakan jalan kecil dan sulit ditempuh. Rasa takut dan harap keduanya dipeluk bersama, tidak dipisahkan. Berjalan di sini sulit, namun jalan inilah yang membuat selamat. Jalan lurus inilah yang akan mengantarkan kita pada ampuanan dan kebaikan, hingga sampai ke surga. In syaa Allah. 

***

Allah menyebutkan dalam ayat-ayatNya, tentang pentingnya membersamai rasa takut dan berharap. 

Seperti dalam Al Fathihah, setelah arrahmanirrahim, Allah mengingatkan kita bahwa DIA juga malikiyaumiddin. 


Atau dalam Al Hijr ayat 49 dan 50. Pertama Allah mengabarkan bahwa DIA Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kemudian Allah mengingatkan juga, bahwa adzabNya adalah adzab yang teramat pedih.

Atau pada Al Mu'min (Ghafir) ayat 3, bagaimana dalam satu ayat, Allah menghadirkan rasa takut, dan juga rasa harap.

غَافِرِ ٱلذَّنۢبِ وَقَابِلِ ٱلتَّوْبِ شَدِيدِ ٱلْعِقَابِ ذِى ٱلطَّوْلِ ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ
Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya-lah kembali (semua makhluk).

***

Untuk siapapun, jalan takut serta berharap ini... tidak mudah ditempuh. Maka sering-seringlah membaca kalamNya. Semoga saat kita merasa aman, dengan membaca ayat-ayatNya rasa takut hadir di hati. Pun saat kita merasa putus asa, ayat-ayat Al Qur'an lah yang menghadirkan kembali harapan di hati kita. 

Allahua'lam.

Tuesday, March 5, 2019

Take It Personally

March 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

Entah sudah berapa kali.


***

190128 | Tentang motivasi internal

Ibarat punya motor, dan bensinnya habis. Namun memilih diam aja, dan menyalahkan keadaan. Kenapa bensin habis? Kenapa di sini? Kenapa sekarang? Kenapa aku? 

Yang bisa orang lain lakukan cuma bantu dorong motornya. Sambil memberi saran agar pemilik mau mengisi bensin. Nanti kalau bensinnya sudah terisi, orang lain ga perlu mendorong. Motornya sudah bisa jalan sendiri, karena sudah ada bahan bakar di dalam. 

***

190130 | Tentang proses dan hasil

Ibarat lomba lari. Orang lain menunggu di garis finish. Kok dia ga keliatan-keliatan ya? Apa dia ga lari, apa dia malah duduk aja dan nangis? Berdiam diri aja, atau bahkan berbalik ke garis start? Orang lain yang menunggu di garis finish, ga bisa bener-bener tahu.

Bisa jadi ia sedang berusaha lari. Meski kakinya luka/terkilir sebelah. Sesekali mungkin ia berhenti karena sakit yang ia rasakan. Tapi bukan berarti ia tidak ingin sampai ke garis finish.

***

Tulisan itu awalnya kutuliskan untuk menjelaskan kondisi orang lain.

But I can't help but take it personally.. 

Tulisan itu hadir sembari aku mengingat diriku sendiri. Saat aku berdiam, dan semua orang berusaha membuatku bergerak. Memang hasilnya, ada perpindahan, tapi cuma sedikit. Karena yang perlu dihadirkan adalah motivasi internal terlebih dahulu. 

Yes, I take it personally... 

Bahwa nyatanya...manusia cuma melihat hasil.


Hanya Allah yang tahu perjuangannya. Baik perjuangan yang terlihat, maupun yang kasat mata.

Karena yang berlari itu bukan hanya kaki yang terkilir, tapi juga hati yang sakit. 

Karena yang terjadi, perjuangannya tidak selesai meski sudah sampai garis finish. Ada lanjutannya, bersambung lagi, dengan ujian dan perjuangan yang berbeda.

***

Entah sudah berapa kali.

***

190225 | Diubah perspektifnya. Yang membuat seseorang berharga itu bukan kecantikan, kekayaan, status, pekerjaan, bukan itu. Allah masih ngasih kita hidup, artinya kita berharga. Allah masih ngasih kita iman, artinya kita berharga. Termasuk kita masih islam, itu artinya kita berharga. 

I take it personally too...

Kalimat itu kutulis bukan untuknya saja. Hampir semua kalimat di sana, sebenarnya kutujukan untuk diri. There's time when we feel like, we're at the lowest. 


Satu-satunya cara untuk menenangkan perasaan saat sedang seperti itu, adalah dengan mengingat Allah. Bahwa bagiNya, kamu berharga. Karena bahkan, daun..  daun yang jatuh, bukan daun hijau yang segar, tapi daun yang sudah sedikit menguning, dan j a t u h. Allah mengetahuinya.

Jika daun saja begitu... Percayalah, setiap dari kita, berharga. Jika kita mau sedikit meluangkan waktu mengingatNya, memikirkan kasih sayangNya, merenungkan kesempatan yang berulangkali diberikan... 

Allahua'lam.

***

PS: Take it personally sebenarnya artinya merasa tersinggut atas ucapan orang lain, seolah ucapan tersebut ditujukan untuk kita, baper, atau sensiMe kalau istilahku. Tapi di tulisan ini, tentang tanggapanku, dan bagaimana tulisanku, sebenarnya banyak bercerita tentang diri, meski tanpa subjek, kebanyakan tulisanku, berujung untuk diri. 

Getar Hati

March 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-


20 Januari 2019. Ahad pagi, di sebuah ruangan seminar ber-AC, acara baru dibuka 1 jam dari jadwal yang tertera di poster publikasi. Acara dibuka dengan basmallah oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat Al Quran.

Seseorang naik ke podium, dengan mushaf di tangan kanannya. Ia membacakan surat yang sudah familiar di telinga. As Shaff ayat pertama sampai terakhir. Aku berusaha khidmat mendengarkan, tapi sebuah suara mengusikku. Tiga bangku di sebelah kiriku, seseorang duduk, tertunduk dan tergugu dalam tangisnya. Bukan suara isak, tapi suara tergugu. Sulit untuk mendeskripsikannya. Akhawat dengan khimar berwarna punk, masih menangis cukup lama. Kulihat dua orang di samping kananku, yang juga jadi saksi kejadian itu terlihat bingung untuk bersikap. Aku berusaha fokus lagi ke bacaan surat Ash shaff, sembari mengusir berbagai kelebat pikiran yang hadir karena tangisnya.

Aku mengenal akhawat itu, belum lama. Yang aku tahu, ia seorang aktivis, ia lulusan pendidikan matematika, ia memiliki hafalan quran, dan ia punya cita-cita untuk menyelesaikan hafalan quran, juga ingin membangun sekolah gratis.

Aku tahu... ia seorang shalihah, tapi entah mengapa kejadian itu mengundang pikiran negatif di kepalaku. Jujur aku berprasangka buruk, bahkan  sedikit sinis, karena lintasan pikiran yang kudapati saat kejadian tersebut.

Sepertinya kebiasaan burukku belum berhenti. Saat itu, yang muncul di otakku, adalah pertanyaan niatnya, mengapa ia menangis, dengan suara menggugu. Tidak bisakah ia menghayati ayat, dadn menangis dalam hening, berlinang air mata, tanpa perlu mengeluarkan suara? Ayat mana di surat ash shaff yang membuat ia menangis sebegitunya? Ayat 2 dan 3? lalu...? Mengapa saat ayatnya sudah berganti, ia masih saja begitu? Seolah ia memaksa dirinya menangis? Atau... ia sedang memiliki banyak masalah sehingga emosinya tiba-tiba membuncah saat mendengar ayatNya? Atau...

Kuhentikan pikiran buruk itu. Tahu apa diriku, siapa diriku berhak memikirkan begitu. Seharusnya kejadian itu membuatku berkaca dan malu. Kamu... bell... kapan terakhir kali hatimu bergetaar hingga mengundang air mata saat mendengarkan kalamNya? Ia mungkin seseorang yang hatinya sangat lembut, sehingga saat al quran dibacakan, ia menangis dan lupa... kalau ia sedang di tempat umum. Hatinya begitu lembut, getar itu sampai ke hatinya. Kamu? Apa kabar hatimu? Masih sakit kah? Semakin mengeraskah? Sudahkah kau menanyakan keadaan diri, sampai membiarkan lintasan pikiran itu menyibukkan dirimu?

***

Masih adakah getar hati itu? Saat kau membaca ayat-ayatNya? Atau kau hanya membaca, dengan lidah, dan sampai di tenggorokan saja?

TT

Jika hati sakit, dan mengeras... sampai tidak terasa getarnya, mintalah obat padaNya, agar hatimu bisa melembut kembali, agar bisa bergetar lagi saat mendengarkan Al Quran.

'Asaa ayyahdiyani robbi li aqroba min hadza rosyada. Ya Muqallibal qulub tsabbit qolbi 'ala dinik. Aamiin.

Allahua'lam.