Follow Me

Thursday, January 28, 2021

Will You Notice Me?

January 28, 2021 0 Comments

 Bismillah.

#fiksi


Gia menekan tombol F5 berkali-kali, bibirnya mengerut ke bawah. Sudah lebih dari dua bulan website tersebut belum diperbarui, tidak ada tulisan baru. Ditutupnya layar laptop, tangannya beralih ke hp dengan casing berwarna merah bata. Aplikasi sosial media terbuka, Gia mengetikkan beberapa huruf, menuju sebuah akun. Jarinya berputar-putar sejenak di atas tulisan "follow". Tap. Satu ketukan, lalu tulisan tersebut berubah, seiring warna putihnya menjelma jadi biru. Dimatikannya layar hp tersebut, kemudian dilempar lembut ke kasur. Tangan dan badan Gia seolah terserang listrik, ia menggerakkan jemari dan kakinya tidak beraturan, bibirnya tertutup rapat seolah menahan getar pita suara yang mendesak ingin mengajaknya berteriak kecil.


Gia memutuskan untuk keluar kamar, dilihatnya tangga putih yang berada tepat di sebrang kamarnya. Dalam beberapa menit, ia sibuk meniti anak-anak tangga di kosannya. Dari lantai satu, ke lantai empat, kemudian turun, kemudian naik, lagi. Terkadang tempo langkahnya pelan, terkadang setengah berlari. Saat nafasnya sudah mulai tak beraturan, ia akhirnya duduk di anak tangga paling bungsu. Gia menutup kelopak matanya, mencoba mengatur nafas sembari memikirkan apa yang akhir-akhir ini sering menetap di kepalanya.


Suara langkah kaki membuat ia menengok ke belakang, refleks ia berdiri, memberi jalan. Perempuan yang baru melewatinya membawa panci kecil berisi wortel, kobis, daun bawang, dan beberapa perangkat masak lain.


"Mau masak sop?" tanya Gia.


"Mau bantu?"


Gia tersenyum kemudian bergegas mengikuti ke dapur kosan.


***


"Anggun, menurutmu, apa cara efektif supaya orang notice kita?"


Anggun yang sedang mencuci talenan dan pisau menutup keran air, ia memandang Gia yang berusaha menghindari kontak mata. Ujung bibir Anggun naik melihat gesture Gia.


"Siapa Gi yang pengen kamu buat notice kamu?" ledek Anggun.


"Eh, poinnya bukan siapa.." Gia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seolah menyesal telah bertanya.


"Sop.. sopnya udah mateng Nggun," kali ini ia berhasil mengalihkan topik, berhasil menutupi perasaan gugup yang tiba-tiba menyergapnya.


Sop di mangkuk Anggun sudah habis, ia mengucap hamdalah pelan. Sebaliknya, sop di mangkuk sebrang masih setengah penuh, hanya di aduk-aduk oleh pemiliknya.


Anggun akhirnya buka suara, kali ini ia bertanya tanpa tatapan dan nada meledek. Ia menjelaskan, kalau ia harus tahu lebih detail untuk bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gia sesaat sebelum sop matang.


"Kan beda, cara biar dosen kita notice kita, atau bos, atau...", Anggun membiarkan kalimatnya tergantung. Gia meletakkan sendoknya, menghela nafas pelan, kemudian akhirnya memilih bercerita tentang perasaan dan pikiran yang akhir-akhir ini mengganggunya. 


Ada seseorang, yang sebelumnya, bagi Gia melihatnya dari jauh sudah cukup. Cuma rasa penasaran, tertarik, kagum, semacam itu. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini Gia merasa sangat ingin agar orang itu sadar keberadaannya.


"Cuma pengen orang itu tahu, ada orang loh di sini,"


Anggun cuma bisa mengeluarkan suara "hmmm" panjang. Mencoba memahami perasaan Gia. Ia kemudian memberitahu Gia tidak bisa banyak membantu. Karena untuk urusan rasa tertarik dengan lawan jenis, interaksi, dll, ia tidak lebih tahu daripada Gia.


"Kamu udah coba ngelakuin sesuatu?"


"Baru follow akun sosmednya doang," jawab Gia sembari mengingat kejadian tadi, sebelum ia naik turun tangga kosan.


"Sebelumnya ga follow?" tanya Anggun heran. Anggun mengenal Gia sudah tiga tahun, tidak begitu dekat memang, tapi karena satu fakultas dan beberapa kali mengambil mata kuliah yang sama, ditambah tahun ini satu kosan, Anggun merasa terkejut. Ada warna baru yang ia lihat. Anggun kira, Gia tipe yang santai dan tidak strict tentang sosmed, beda dengan Anggun yang mengkhususkan sosmednya untuk girls only.


"Aneh ya?", Gia tertawa kecil. Gia sendiri juga merasa heran. Dengan yang lain, Gia dengan mudah follow sosmed selama ada mutual friend, dan akunnya ga nyampah. Tapi dengan orang itu... entah mengapa ia memilih untuk "menjaga jarak". Efek dari perasaannya sepertinya, ia takut, kalau perasaannya pada orang itu membesar dan tidak bisa dikendalikan. Ia juga takut orang itu tahu tentang perasaan tak bernama yang mekar di hati Gia, rasa yang ingin ia simpan sendiri saja.


Percakapan mereka berlanjut, Gia merasa sedikit bisa bernafas setelah bercerita pada Anggun. Tanpa terasa mangkuk sopnya kini sudah kosong.


***


"Komunikasi langsung," ucap Anggun sesaat sebelum menaiki tangga menuju kamar. Tidak ada cara lebih efektif dari komunikasi langsung, kalau kita ingin seseorang tahu keberadaan kita. Butuh keberanian memang, dan mungkin juga sebuah excuse, tapi setidaknya itu yang Anggun rasakan setiap kali ia jadi notice seseorang. Karena orang tersebut berkomunikasi langsung dengannya, face to face, atau mengirim private message. 


"Anggun pernah ngerasa kaya gini juga?" tanya Gia pelan. Anggun tersenyum dan mengangguk, kemudian melempar sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Gia unfollow akun orang itu. Pertanyaan yang membuat Gia membaca ulang archive di website orang tersebut.


Kini pertanyaan Gia bukan lagi, "bagaimana caranya agar orang itu 'notice' keberadaannya". Pertanyaan yang harus ia jawab kini adalah, "kenapa ia tiba-tiba merasa tidak cukup sekedar melihat dari jauh?"


***


Gia sedang sibuk dengan pencarian jawabannya, tidak sadar, bahwa pertanyaannya mereplay sebuah kenangan di memori Anggun.


Sebuah SMS berisi nomer hpnya sendiri, pernah dikirim seseorang pada Anggun. Saat itu, ia hanya menjawab dengan sebuah tanda tanya. Dan memori lain, saat situasi dan alasan ada dan mendukung untuknya bertanya dan meminta bantuan, tapi ia memilih untuk mengirimkannya, karena takut orang lain notice akan keberadaannya.


Gia sedang sibuk dengan pencarian jawabannya, tidak sadar bahwa sebuah dm masuk ke sosial medianya, "Ini dengan Gia PM15?"


The End.

Selftalk: When will you learn? When will you stop running away?

January 28, 2021 0 Comments

Bismillah.


Berapa kali, supaya jadi jera? Berapa kali, agar benar-benar mengerti dan belajar?


Kapan, berhenti menghindar? Kapan, berhenti egois?


***


Dua baris pertanyaan, dua hal berbeda. Lalu aku teringat suatu masa, sebuah tulisan: Can I Give What I Never Have?


Tulisan itu hadir setelah suatu sore aku dibuat sibuk dengan diri, tenggelam dalam emosi dan masalah pribadi, sampai ba'da magrib, aku di angkot, jalanan macet, hujan, lalu aku baru membuka hp. Aku baru sadar, aku mengingkari sebuah janji. Dua orang, di tempat berbeda, harus aku buat kecewa dengan pesan balasan, bahwa aku tidak jadi bisa hadir.


Saat itu, aku begitu terpukul. Aku tidak bisa membantu, jika aku sendiri masih terseok-seok untuk melangkah. Saat itu aku bertanya-tanya, benarkah aku tidak bisa memberi, jika aku tidak punya apa-apa? Ibarat seseorang yang ingin menyelamatkan orang yang hendak tenggelam, tapi ia lupa, bahwa ia tidak bisa berenang. Funny but in sarcastic way. Ah, aku pernah menulis ini juga: Lucu? Ironis Lebih Tepatnya dan membaca ulang tulisan itu baru sadar, ada tulisan lain yang juga terkait: Tidak Diizinkan Memberi?


Rasanya seperti mengulang, remidi, dan aku masih saja belum bisa menjawab pertanyaannya dengan benar.


Aku sebenarnya ingin membuka suara, agar komunikasi terjalin. Tapi aku lelah untuk proaktif. hmm kalimat itu bohong. Bukan lelah, tapi kondisiku sedang kurang fit untuk bisa bersuara terlebih dahulu. Aku takut aku cuma bisa bersuara, tanpa benar-benar melangkah.


Tapi kalau aku diam saja, rasanya aku seperti menjawab pertanyaan dengan jawaban yang aku tahu itu salah. Aku... harus gimana? Inginnya Februari selesai, biar bisa move on ke projek berikutnya. Tapi sudah tanggal 28 Januari. Hm. Masih 2 hari sih. Tapi... konsekuensinya, bisakah aku fokus dan serius?


Sebagian hati ingin lanjut diam dan lari. Meski aku tahu, bahwa bisa jadi masalahnya adalah karena semua saling menunggu.


hagdfhdaguyfgurigbfvjabjgbdjbvzngkga. fell frustated and mad at myself. Aku bertanya pada diri, lagi, dan lagi.


Berapa kali, supaya jadi jera? Berapa kali, agar benar-benar mengerti dan belajar?

Kapan, berhenti menghindar? Kapan, berhenti egois?


Ya Allah... bantu aku....

Friday, January 22, 2021

SelfD #5 : What are 7 Things that Made Me Happy?

January 22, 2021 0 Comments

Bismillah.

Ada begitu banyak hal yang membuatku bahagia/senang/ternyum. Beberapa di antaranya, bukan berdasarkan urutan:

1. Rain

Aku belum mencintai hujan sebelum aku mengetahui ada makna indah dibalik tiap tetes airnya. Sejak denger penjelasan Al Hadid ayat 16-17. Padahal gak ada kata hujan di ayat tersebut, tapi tetep aja, sukaaa..karena tiap tetes air hujan dari langit bisa menghidupkan bumi yang tadinya mati. Maka tiap aku merasa sudah hampir berputus asa, kemudian hujan turun. Aku merasa Allah sedang berfirman lewat tiap bulirnya, menghiburku agar tidak bersedih dan agar optimis. Hatiku juga begitu. Seperti Allah bisa menghidupkan bumi dari matinya, hatimu pun bisa Allah hidupkan lagi. So don't give up on yourself.

Alhamdulillah tinggal di Indonesia, negri tropis  yang sering hujan. Purwokerto yang hampir tiap sore hujan di akhir tahun. Bandung pun begitu. Aku teringat dua momen saat hujan deras, dan aku sengaja tidak menepi dan justru membiarkan diri basah kuyup dengan pakaian lengkap, Entah berapa liter air, terasa berat dibawa jalan, tapi menyegarkan. I don't care what people think when they see me. I just love the rain, cause it makes me happy.

2. Walking

Kalau menulis udah semacam kebutuhan, jalan kaki itu semacam cara lain bagiku untuk me time. Sama temen seneng, tapi sendiri pun tak mengapa. Kadang memang terlupakan, karena tenggelam dalam rutinitas. Tapi sekalinya diluangkan, meski cuma 15-30 menit, itu cukup. Satu lagi yang penting, coba saat jalan kaki hpnya dimatiin, atau ditinggal di rumah. Sejenak mengambil jarak dari dunia bising ruang maya. Fokus memperhatikan ke luar, dan ke dalam. Bukan berarti ngosongin kepala ya. Bahaya kalau jalan kaki sambil ngelamun. Hati kalau bisa terus mengingatNya, indra lain memperhatikan sekitar, dan otak, ajak ia mengurai benang kusut yang tersembunyi.

3. Membaca Tulisan Teman

Untuk sekarang ini, aku belum bisa bilang aku suka baca buku. Baca buku, aku masih berusaha biar bisa suka kaya dulu aku menyukainya.

Tapi membaca tulisan teman, dari dulu aku suka. Kalau ada teman yang nulis buku, I'd love to read it. Kalau ia punya blog, i'd love to read it. A short paragraph like caption is okay, but I prefer long naration, things that made me know them more.

Mengetahui dan membaca tulisan teman selalu membuatku tersenyum. Aku senang mereka menulis, meski tulisannya tidak selalu hal-hal yang positif. Kadang malah, aku lebih suka, membaca bagaimana mereka menceritakan pikiran dan perasaannya tanpa filter sosial media. I mean, we all know, how people always shows what's bright and flasy in social media.

Aku lebih suka membaca pandangan mereka yang jujur tentang banyak hal. Bagaimana mereka melihat sesuatu, perspektif mereka, sudut pandang mereka. Atau saat mereka bercerita tentang pengalaman mereka. Aku suka mengetahui sisi lain yang tidak aku ketahui selain lewat tulisan.

I'm not a good friend. Aku kikuk untuk memulai percakapan dan bertanya kabar. Bingung dalam menjalin percakapan. I'm afraid it will sounds like an interogation. I care about them, that's why I want to know more about them. Sedikit, yang mereka izinkan. Maka dari itu aku senang membaca tulisan teman.

Aku bahkan senang, saat ada yang bilang gak suka nulis, tapi suatu hari ia menulis. Aku ingin memberitahu teman-temanku terutama, kalau menulis itu gak perlu yang 'wah', atau yang keren, atau yang puitis. Menulislah seperti halnya kamu bercerita dan mengobrol dengan teman. Menulislah sesederhana apapun. And know that I will always be glad to read your writing.

4. Milk, yogurt & chocholate

Minuman dan makanan yang kupilih kalau lagi pengen buat diri happy. Ah, ada ice cream juga ya? haha.

Bingung mau nambahin keterangan apa. Pokoknya tiga hal itu aku suka.

Let's talk about yogurt. Aku kenal yogurt cimory waktu di bandung. Ipah, my friend, sering beli itu. Pas aku cobain, kecut banget *jaman cimory botolnya masih gendut. Tapi setelah berkali-kali minum, trus ganti kemasan, entah mengapa rasa kecutnya kaya berkurang drastis. Sekarang, aku bahkan prefer beli yogurt daripada susu atau coklat. Coklat itu... mahal haha. And milk sometimes sounds like a drink for kids.

5. Flower and Greenery

Melihat alam secara langsung seperti pergi ke pantai, gunung, air terjun, danau, taman bunga, itu sesuatu yang menyenangkan bukan? Tapi meski ga jauh-jauh pergi, sekedar liat bunga liar di jalan, itu bagiku cukup untuk buat senyum.

Allah menciptakan manusia menyukai keindahan. Bahkan kadang, liat foto-fotonya aja udah bisa buat kita happy. Kalau kata ustadz Nouman, sebenarnya apa yang ada dunia, pohon dan bunga, selain untuk perhiasan di bumi, tapi juga buat ngingetin kita akan surga. Biar kita inget, bahwa kita di sini cuma singgah bentar, jangan lupa untuk bekerja dan mengumpulkan bekal, agar bisa pulang ke kampung halaman. Allahumma inna nas-aluka ridhakawal jannahm wa na'udzubika min sakhatika wannar.

6. Observing childern and baby from distance

I loved playing with them too, but just seeing from a far is enough to make me happy. Keinget masa-masa jadi observan tiap hari ahad waktu banyak adik-adik PAS main di lapangan rumput dan selasar masjid Salman. Keinget habis magrib ngajar ke darul ulum, bertemu anak-anak yang karakternya beda-beda, yang jelas rame deh. Dulu jadi kewajiban anggota astri. 

Dan yang terakhir, atau yang ketujuh adalah...

7. You

*hahahahahahaha #justkidding.

Yang terakhir, realizing the love I recieved from Allah, Rasulullah, family and friends. Semoga semua bisa reuni lagi di jannah-Nya^^ aamiin.


***

Let Me Hide for a Moment

January 22, 2021 0 Comments

Bismillah.

Izinkan aku bersembunyi sebentar, di sini. I want to hide from the world. from myself. I want to cry silently, alone, acknowledging that i am not okay. And I don't want to pretend that i am okay.

Thursday, January 21, 2021

[On Going] Books I've been Reading

January 21, 2021 0 Comments
Bismillah.

#buku

Udah lama ga nulis nukil buku. Tapi ini bukan nukil buku sih. Cuma ingin cerita aja beberapa buku yang masih sedang kubaca:

1. Teman Imaji
2. Science and Me
3. Pearl from Surah Yusuf
4. Menentukan Arah

***

Teman Imaji

Baca juga: Menebak Teman Imaji 

Aku baru memulai beberapa halaman awal Hujan Bulan Oktober. Novel ini, meski tiap 'heading'-nya pendek, tetap saja lama untuk di selesaikan. Bukan karena tidak bagus, hanya saja aku menghindari membaca fiksi. Aku sudah terlalu banyak mengecap fiksi lewat mata dan telinga, dan otakku. Aku takut ditambah satu lagi. Aku bisa-bisa membuat novel sendiri, karena ingin membuat skenario lain dari fiksi yang kukonsumsi. Selalu begitu. Aku tahu.

Terlepas dari itu, aku senang ditakdirkan membaca Teman Imaji. Teman imaji mengingatkanku mengapa menulis fiksi itu penting, karena tidak ada sama sekali kesan menggurui. Pesannya disimpan dalam cerita. Nasihatnya disampaikan dari karakter A ke karakter B. Bukan ke pembaca langsung.

Ada dua hal yang membekas dan berulang kuingat di otak. Pesan yang tidak ingin kulupakan meski buku ini belum selesai dan entah kapan aku selesaikan membacanya.

Pertama, tentang sfi. Frase "too good to be true". Aku lupa halaman berapa, atau di bab berapa. Tapi Kica pernah bercerita tentang sesosok orang yang baginya too good to be true. Dan aku lupa siapa yang menjawab, tapi intinya, buku teman imaji mengajarkanku, bahwa ga ada yang too good to be true, termasuk sosok tersebut yang terlintas di otakmu. Kita cuma harus melakukan lebih banyak hal baik, agar sosok tersebut tidak too good to be true. Mungkin kalau frase/klausa galaunya tentang memantaskan diri. Intinya, jangan minder karena seseorang tampak terlalu bersinar untuk ada di sisimu. Tapi fokus saja melakukan lebih banyak hal baik, agar kamu juga bersinar lebih cerah. *aku benci mendapati diriku ga bisa nyari diksi yang lebih indah. Ketahuan banget jarang baca buku-buku dengan majas dan kata-kata sastra. I find it easier to say it in english. There's no a person who's too good to be true. Just focus on doing many good things, so you can also glow brighter. Perhaps, other people see you as the one who's too good to be true

Yang kedua, pesannya Abi pada Kica. Banyu pada Kica, saat sedang jalan-jalan di puncak, entah puncak gunung apa, ga inget-inget nama settingnya hehe. Sebenarnya hampir semua pesan Banyu bagus untuk diingat. Termasuk tentang anak tunggal, anak pertama dll. Banyu tuh ibarat guru kehidupan, bijak banget kayanya, banyak pengalaman. Dimata kica begitu, dan karena sudut pandangnya mayoritas dari kica, jadilah begitu juga karakter banyu di mata pembaca.

Btw, pengen nyalin percakapannya di sini, tapi takut jadi ketahuan. Ketauan apa? Hmm ada deh. Haha. *salin aja, sambil menenangkan diri, yang baca blog ini cuma kamu kok Bell. Jadi tenang.

"Seperti yang kau bilang. Little things matter. Banyak loh, orang yang bermimpi besar, bermimpi bisa melakukan perubahan besar, tapi malas untuk sekedar bangun pagi atau beresin kamar."
"Emang apa hubungannya mimpi besar sama bangun pagi atau beresin kamar?"
"Ada. Orang yang serius sama mimpinya, sama cita-citanya, pasti selalu bangun pagi. Sebab, di seriap harinya ada cita-cita yang ingin dicapai."
"Kalau beresin kamar?" Kica terbayang kamarnya sendiri. Selalu seperti habis tsunami di sana.
Banyu menarik napas panjang, mulai ngos-ngosan, "Orang yang berhasil itu selalu bersih. Hatinya, badannya, akalnya/ Kotoran sekecil apa pun dibersihkan. Kamar itu mencerminkan hati, badan, serta akal yang punya. Kalau dengan yang sederhana saja seseorang tak peduli, bagaimana dengan yang besar?"
#daribuku Teman Imaji hal. 214, Mutia Prawitasari 
***

Science and Me


Aku belum mulai membaca lagi heading kedua dari bab 3 buku ini. Cerita dan hikmah dari prodi Fisika dan Astronomi sudah selesai. Kini masuk ke prodi Kimia. Tapi karena gak sabar ingin baca tulisan yang menghadiahiku buku ini, aku akhirnya baca bab terakhir dulu, 2 heading sudah selesai, tinggal 2 lagi. Entah nanti kalau lanjut baca mau baca prodi kimia atau matematika.

Dari dua bab, ditambah seperempat bab 3 dan setengah bab 5, aku kepikiran untuk segera menyelesaikan buku ini dan ngiklanin peminjaman buku ini ke yang butuh. Buku ini bakal lebih bermanfaat kalau dibaca siswa kelas 12 atau TPB yang lagi galau mau pilih prodi mana. Membaca buku ini, juga membuatku membayangkan, gimana kalau tiap fakultas ada satu buku semisal ini. Yang isinya bukan Cuma teks book penjelasan prodi tersebut, tapi ada kisah nyata dari pengalaman mahasiswanya. Aku membayangkan mengajak mahasiswa STEI buat nulis tentang kisahnya masing-masing plus penjelasan tentang prodi tersebut. Btw, sekarang STEI ada berapa prodi? Seingetku, terakhir ada beberapa nama prodi baru. 6? Atau udah jadi 7? Yang udah terkenal dan lama ada 5 ya, STI, IF, EL, ET, dan EP. Trus ada satu lagi, lupa namanya, yang gabungan EL dan Mesin, Euro…? Bener-bener lupa haha.

Lepas dari istilah-istilah asing di dalam buku ini, sementara ada dua hal yang ingin catat di sini. Yang pertama tentang astronomi, suka aja, saat membaca sedikit penjelasan suhu di merkurius, dan kaitannya sama nikmat Allah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal manusia. Yang kedua, tentang prodi matematika dan matakuliah yang di dalamnya memaksa untuk skeptis, jadi ga cuma terima bahwa 1 kali 0 itu 0. tapi harus ada pembuktiannya.

Ah ya, ada satu lagi. Pelajaran yang harusnya aku tahu waktu masih mahasiswa.

Ini satu yang aku sesali. Aku gak banyak menjalin komunikasi yang baik sama temen-temen if. Padahal harusnya aku yang aktif bertanya, dan meminta bantuan. Tapi aku sibuk sendiri dalam tempurungku. Humm. Yang ini di hidden aja. *curcol soalnya haha

Setelah solman, yang dibutuhkan anak matematika adalah teman………….yang nyambung sama dosen kalau lagi ngomongin teorema dan pembuktiannya di kelas, dan tentu murah hati, baik mau menunjukkan langkah-langkah yang masih "ghaib" bagi kelas "manusia biasa". InsyaAllah ada banyak, tips nya adalah berteman dengan siapapun dan terbuka pada kebaikan hatinya. Beneran deh, orang pintar itu default-nya penolong; asal kita mau ditolong, pasti mereka temani. 
#daribuku Science and Me, Nur Faizatus Sa'idah, dkk 
***

Wah, gak kerasa panjang ya… bersambung ya. In syaa Allah lanjutan 2 buku lainnya di episode 2 ^^

Btw, semangat baca~ meski satu halaman sehari, meski loncat-loncat, meski seringnya susah fokus hehe.

Semangat baca. Karena seperti perutmu yang lapar dan butuh makan. Otakmu juga butuh makan. Jadi, pilih buku yang kamu suka, dan lahap pelan-pelan. Rasakan manisnya membaca tiap lembar. Jangan buru-buru menelan tanpa benar-benar mengunyah.

Ada kalanya kamu perlu berhenti membaca, untuk kemudian ngobrolin isi bacaan tersebut dengan temanmu. Bertanya dan berdiskusi topik buku tersebut. Atau ada kalanya kamu sejenak berhenti membaca, untuk mencatat ulang quotes di dalamnya, capture bukunya, share ke story. Bukan supaya orang lain tahu pentingnya membaca, tapi supaya kamu suatu saat melihat jejak bacamu. Lalu kamu meresapi ulang makna dan pelajaran dari quotes tersebut.


Jadi, yuk baca buku~

Tuesday, January 19, 2021

Which One is Easier?

January 19, 2021 0 Comments

Bismillah.


Lebih mudah mana? Menyalahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri?


***


Pertanyaan ini sempat terlintas di otakku, saat aku mencoba berdamai dengan perasaan sensiMe.Kalau buatku hal yang pertama kulakukan biasanya menyalahkan orang lain, sebelum akhirnya merasa bersalah, dan balik menyalahkan diri sendiri. Lalu "sakit-sakit" sendiri. Karena tidak ada orang yang suka dengan perasaan bersalah.


Which one is easier? Pertanyaannya salah kali, begitu aku bermonolog pada diri. Karena bagiku, keduanya sulit. Menyalahkan orang lain kesannya mudah, tapi sebenarnya tidak. Karena kita tahu menyalahkan orang lain tidak akan mengubah apapun, bahkan akan memperburuk keadaan jika hal tersebut menjadi habit dan membentuk kebiasaan 'play victim'.


Which one is easier? Pertanyaannya salah kali, begitu aku bermonolog pada diri. Karena bagiku, keduanya sulit. Jika aku sudah sedikit bisa berpikir rasional, dan tahu tidak boleh menyalahkan orang lain. Fase selanjutnya biasanya aku menyalahkan diri, berkali-kali. Dan ini, juga tidak kalah sulitnya. Aku sudah terlalu sering melakukannya, sampai membuatku membenci diri. Rasanya, bukan orang lain yang menjatuhkanku, tapi diriku sendiri. Bukan orang lain yang mengerdilkanku, tapi aku sendiri. Intinya menyalahkan diri sendiri itu... gak baik juga.


Jadi, pilih yang mana? Aku ingin memberitahu diriku sendiri, yang mungkin suatu saat akan bertemu lagi dengan dua pilihan tersebut. Jangan pilih keduanya, ada jawaban lain. Muhasabah diri, refleksi, mengakui kesalahan, memperbaiki kesalahan. Semua itu berbeda dengan menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendiri membuat kita membenci diri. Sedangkan mengakui kesalahan dan memperbaikinya, adalah tangga kita untuk bertumbuh.


Ya, perasaan bersalah itu ada. Tapi jangan disiram bensin hingga membakar dirimu. Perasaan bersalah itu harus diolah agar menjadi pupuk yang membantumu bertumbuh, menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi hamba yang rajin meminta ampun padaNya. Karena nyata, bahwa manusia itu akan terus mengulang kesalahan, dan terus jatuh dalam dosa. Tapi manusia juga, bisa untuk belajar dari kesalahannya, bisa untuk bertaubat dari dosanya, karena Allah Ar Rahman.. Ar Rahiim.. Tapi jangan lupa, Allah pula, Maliki Yaumiddin.


Allahua'lam.

 

Sunday, January 17, 2021

Mengenang Habit 'Olahraga'

January 17, 2021 0 Comments
Bismillah.

*warning* read on your risk. Ga penting buat orang lain. Cuma cerita tentang diri. Beberapa hal aku biarkan abstrak. Istilah TS/PG, kusimpan untuk diriku, dan orang yang bisa menebak dengan benar saja haha.

***

Sabtu kemarin, dalam rangka berupaya untuk bangkit, aku memaksa diriku untuk keluar rumah dan jalan kaki. Setelah 2 atau 3 pekan aku full di rumah saja.

Pagi itu sebenarnya purwokerto agak mendung. Ibuku bahkan menyarankanku bawa payung, siapa tahu gerimis. Aku menolak halus, sembari bergumam cilik, kalau beneran hujan/gerimis alhamdulillah. I prefer rain than a gray and dark cloudy rain.

Awalnya aku berencana memutari alun-alun saja. Sampai di alun-alun rintik-rintik kecil, mengetuk pelan, benar-benar kecil dan tidak intens. Beberapa ronbongan orang dengan sepeda terlihat duduk di beberapa sisi alun-alun. Padahal kalau ada matahari, biasanya jalanan ramai. Karena hampir semua duduk, aku merasa awkward jalan kaki sendiri mengelilingi alun-alun.

Saat itulah aku memutuskan untuk berjalan menuju sebuah taman kecil, yang biasanya dipakai untuk orang-orang yang olahraganya jalan kaki sepertiku.

Prolognya terlalu panjang ya? Haha. Intinya, meski di taman tersebut ga gerimis, tapi sinar matahari yang terhalang awan kelabu membuatku terdorong untuk ga sekedar jalan kaki, tapi juga berlari, bahkan mengulang beberapa gerakan TS/PG, 1-12, tanpa pemanasan yang benar.

Hasilnya? Baru malamnya rasa pegal bersarang di kaki.

***

Lalu aku teringat dua kali jumat, saat aku lapor belum olahraga. Teringat saat aku bercerita ke teman-teman Maryam di google room, tentang kebiasaan olahragaku dulu, tiap pekan minimal sekali.

Mengenal TS/PG dalam hidupku merupakan hal besar. Aku memang tidak pernah benar-benar menyukai pelajaran olahraga, sejak SD-SMA. Nilaiku selalu buruk. Pun saat TPB, catatan waktu lariku buruk, sampai diminta dosen untuk latihan di luar jam kelas, tiap sabtu jam 6.30, bagaimana aku tidak ingat? Tapi dulu datang latihan lari karena kewajiban bukan karena suka. Sampai sekarang pun sebenarnya aku tidak suka lari. Aku lebih suka jalan kaki.

Tapi TS/PG itu.. Beda. Aku ingat waktu SMP pernah ingin sekali ikut ekskul "semacam itu", tapi ada prinsip kecil yang ingin kujaga. Jadi aku memilih ikut ekskul jurnalistik dan karawitan saja, dan pramuka di tahun pertama karena wajib.

Maka saat aku mengenal TS/PG di Bandung, aku segera mendaftar. Seingatku, pelatih pertamaku adalah Teh Aya. Teh Aya yang biasa pemanasannya lari setengah kampus. Aku.. Gak sampai segitunya sih. Kan masih baru. Tapi aku banyak belajar dari beliau.

Aku ingat, pertama kali latihan, dan efek pegal di seluruh tubuh. Karena TS/PG bukan cuma kaki, tapi juga tangan, bahkan juga sendi-sendi jari. Ah.. Jadi teringat, sudah lama aku tidak benar-benar latihan basic-nya.

Aku ingat kenapa latihannya bisa 2 jam. Karena pemanasan+pendinginan itu wajib. Kadang bisa 3 jam, ditambah sesi sharing dan melingkar. Kalau sesi melingkar aku jadi teringat Teh Rurry dan Teh Erni. Waaaah I miss them all (':

Keinget Teh Syifa juga TT yang jauh-jauh dari UPI hadir, tapi aku kadang cuma nemuin, untuk kemudian izin karena ada tugas kelompok/rapat/agenda unit ><

Karena PG/TS, aku jadi belajar membiasakan olahraga. Tiap pekan. Termasuk habit perjalanan menuju tempat latihan juga, saat aku sudah naik "level". Kircon, RS Pindad, Masjidnya, rumput hijaunya, ruangan "aula" dengan dinding kaca, termasuk kamar mandi dan tempat wudhunya.

Sejak itu, aku jadi "suka" olahraga.

***

Lalu negara api menyerang haha. Saat aku "menghilang dari peredaran" habit TS/PG tiap pekan ikut lenyap juga.

Tapi kemudian, aku diajakin Teh Risma buat olahraga lari. Meski aku biasanya cuma satu putaran lari, habis itu lebih banyak jalan kaki hehe.

Sejak itu aku mulai pelan-pelan lagi membangun habit jalan kaki, olahraga sendiri, meski ga ada temen. Kalau lari, ga bisa sambil senam sendi tangan. Gak bisa sambil inget-inget gerakan PG/TS.

Tapi kalau jalan kaki, aku bisa sambil melakukan banyak hal. Termasuk bermonolog dan membuat draft tulisan di kepala. Termasuk melakukan selftalk dan menyemangati diri setiap kali merasa down.

***

PG/TS aku inget perjuangan jadiin unit resmi kampus. Udah pernah jadi, eh gitu deh.

Pun saat berjuang biar dapet stand di unitday? .... Fair? Lupa namanya haha. Dan akhirnya dapet stand dong, setelah ramadhan nangis2 sendiri, dan marah-marah ke orang yang salah (gara-gara ga nyimpen nomer pakai nama, cuma keterngan TS). Yang ingin kumarahin anak S1, eh yang kena anak S3 dong. Malunya tuuh TT astaghfirullah.

Pun momen di mushola akhawat comlabs. Dulu sih mengedepankan perasaan dan emosi, jadi deh hujan superlokal. Padahal bisa jadi salahnya di aku, kurang bisa mengkomunikasikan perasaan, ga bisa menyampaikan ketidaknyamanan. Disimpen sendiri, ditumpuk sendiri, sampai akhirnya luber, hujan, ga sampai banjir sih, alhamdulillah.

Karena TS/PG juga aku dua kali ke bukit bintang/bukit moko, tapi bukan malem-malem dong, pagi haha. Pas bintangnya udah gak kelihatan hehe. Waktu pertama kali ke sana sendirian. Niatnya H-1 kesana. Gatau naik angkutan apa, nyasar, nangis2 sendiri. Haha. Wkwkwk. Trus balik ke kosan lagi. Emang takdirnya dateng hari H ^^. Habis subuh, naik angkot yang kemarin sore, udah lebih tahu jalan dong, karena nyasar sekali haha. Pas sampai di atas, dikasih "kejutan manis" sama Allah. Dikasih hikmah, untuk jangan pernah merasa single fighter. We're never fight alone. (':

Kayanya tentang single fighter aku tulis juga deh di sini. Nanti aku kasih linknya, kalau udah bisa akses laptop. ^^ (link Single Fighter)



***

Ah, keinget lagi satu memori. Kunjungan terakhir aku ke bandung setelah resmi mudik november 2017, april 2018 aku ke bandung. Dan ga nyangka ketemu teh rurry. Udah kaya dikasih hadiah begitu sama Allah TT.

Qadarullah juga waktu itu sempet baper sendiri karena dikeluarin dari grup PG Bandung, meski masih gbung di PG Semua Wilayah+kampus. Tapi tetep aja baper haha. *yg ini ditulis juga kayanya.

Tapi setelah ketemu, jadi bisa senyum lagi. Hilanglah baper2nya.

Semoga kapan-kapan bisa main ke rumahnya Teh Rurry lagi. Ketemu anak-anaknya Teh Rurry dan Kang Fajar. Udah 5 apa ya skrg? Aku lupa hitungannya. Pas latihan di pindad 4, trus di grup sempet ada kabar lagi hamil lagi *bbrapa tahun yg lalu*.

Semoga nanti aku bisa menuhin janjiku ya. Kalau ada kabar gembira, aku japri langsung dan teruskan kabarnya. Seperti yng aku jawab saat itu. Karena PG/TS bukan hal kecil di hidupku. Aku belajar banyak, ga cuma membngun habit olahraga. (': --ini udah kutulis juga, tapi linknya gak akan kukasih tahu. Nanti ketahuan PG/TS itu artinya apa hahaha.

***

Panjang ya? Namanya juga nostalgia, mengenang.

Udah dikasih warning ikih. *emot nyengir

Anyway, mari jangan cuma mengenang. Tapi dibangun lagi kebiasaan olahraganya. Meski cuma jalan kaki pagi beberapa menit. Meski cuma sit up push up *barangkali ada yang suka jenis olahraga di rumah aja*.

Kalau aku, aku lebih suka keluar, menghirup udara pagi, merasakan hangatnya mentari, melihat orang-orang asing, mengamati sekitar, having a me time also.

Semangat jaga kesehatan, jaga kebugaran, dengan olahraga rutin. Sedikit tapi rutin, lebih baik daripada banyak tapi habis itu mlempem.

S e m a n g a t !

Memutar

January 17, 2021 0 Comments
Bismillah.

Jalannya memutar.

Aku hanya merasa heran, pada orang-orang yang memilih komunikasi tidak langsung.

***

Dua orang berbeda, menyampaikan dua pesan berbeda, dari dua orang lain yang berbeda.

Pesan pertama, sebenarnya sudah disampaikan langsung, tapi entah kenapa dititipkan lagi, lewat jalan memutar.

Pesan kedua, awalnya membuatku sensi. Tiba-tiba saja emosiku meledak. Aku bertanya-tanya sendiri, maksudnya apa? I have my own opinion and assumption, that someone else didn't do their job. And feels like I'm the one thatneed to speak up first. And it remind me of my old memories, and a lot of fiction i wrote about it here. I'm gonna search it later and post the link here, when I have an access to my laptop. (tulisan fiksi yang terlintas di otak saat itu: My Winter - Their SummerAku Ngikut Aja..Da di Sini Mah Beda ; dan tulisan nonfiksi lain, tentang fitrah, tentang aku yang aneh)

Tapi setelah puas membiarkan air mengalir. Aku sedikit bisa tenang dan berpikir rasional. Aku tahu, masalahnya mungkin di aku sendiri. I'm not in a good form wkwkwk. I mean. Kemungkinan besarnya seperti itu, karena aku sedang tidak baik-baik saja, maka komunikasi jadi buruk, termasuk lintasan asumsi dan prasangka.

Kemudian dari komunikasi yang memutar itu... Aku jadi sadar. Oh now, they actually were waiting for me. They gave me time. So what I need to do is to stop getting SensiMe and do my part. Sisanya, komunikasikan dengan baik. Jangan ada prasangka buruk di awal.

***

Hari ini, aku baru sadar bahwa kemarin aku meninggalkan blog dengan latest post abstrak dan gelap, agak negatif(?).

Jadi setelah menulis ini, aku berencana menulis hal lain yang lebih 'ringan'. Tentang 'olahraga', dan sedikit nostalgia.

Semoga aku tidak lupa ya hehe. J

There are a lot I wish I can write here, but sometimes I'm getting concious that somebody might read it the wrong way.

And if you're that somebody... I want to tell you. When I'm in a low and dark place, and I wrote something with a negative vibes... It actually means that I'm not in a very bad condition. Because I once at my worst, and I didn't write anything. Or I suddenly make this blog hidden for some times.

Anyway, doakan saja yang baik-baik untukku. Untuk kebaikan dunia dan kebaikan akhiratku.

Aku... In syaa Allah juga akan berdoa. Robbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar, waqina 'adzabannar.

Allahu'alam.

***

PS: sabtu kemarin, kemarinnya lagi, SSS NAKID bahas tentang video ini --> https://youtu.be/VUHJ3s6A0B0 (I recommend you to watch this!, di ig @nakindonesia juga ada, buat yang prefer nonton di igtv)

Saturday, January 16, 2021

Bleeding

January 16, 2021 0 Comments

Bismillah.

#fiksi #abstrak


Tidak terlihat lukanya, tidak pula terasa sakitnya. Namun dapat ia lihat jelas ada darah mengalir, bukan merah segar, tapi merah gelap. Bukan memuncrat, tapi mengalir, kemungkinan dari pembuluh vena. Bukankah begitu cirinya? Tapi tidak ditemukan sumber lukanya , sakitnya juga seolah tidak ada. Jadi, apa darah tersebut milik orang lain? Tidak, pasti milik diri, karena selalu terlihat bercaknya, seolah tinggalkan jejak-jejak kecil.


Dua bulan diliputi prasangka dan sergapan takut. Kemudian hilang satu pekan dan menjadi tenang. Kemudian muncul lagi, kali ini tanpa prasangka dan takut, seolah itu hal biasa. Padahal bukan hal normal. It's bleeding. Jadi meski tidak terlihat lukanya, juga tidak terasa sakitnya, darah tersebut seharusnya menjadi tanda. Your body sent you a signal that you're not okay. Yang seharusnya dilakukan adalah bertanya pada yang ahli, lalu meminta kesembuhan pada Zat Yang Menurunkan Obat bersama Penyakitnya. Bukan justru terdiam dan memandang kosong, pada merah jejak darah tersebut.


It's bleeding. Something is not right. You gotta work to make it right.


Allahua'lam.

SelfD #4 : If I could do anything, what would it be?

January 16, 2021 0 Comments

Bismillah.

#SelfDiscovery

Saat membaca pertanyaan di judul jawabanku satu sebenarnya. I want to travel alot. Pengen naik gunung, pergi ke pantai, melihat indahnya laut dari dekat, mengunjungi banyak tempat baru, bertemu orang-orang baru, baik di perjalanan maupun di tempat yang dituju. Mendengar lebih banyak bahasa, latihan berbicara dengan bahasa tubuh karena ga paham bahasa native tempat tersebut, dll.


Itu satu hal. Yang sebenarnya bisa saja aku wujudkan, ada banyak kesempatan, tapi aku belum pernah benar-benar berusaha untuk meraihnya. Tentu saja, aku pernah safar. Seperti suatu pagi tahun 2011 ke curug, acara jalan-jalan aksara (2 kali), acara kaderisasi unit yang konsepnya camp/mabit. Atau safar saat silaturahim,baik menghadiri undangan atau ta'ziah. Tapi lepas dari itu, jujur aku merasa banyak melewatkan kesempatan untuk safar, lebih ke prinsip kecil yang ingin kujaga sih. Seperti saat ada acara study tour ke malaysia. I found myself funny actually. Karena aku ikutan buat paspor karena keinginan untuk safar itu ada, tapi aku tidak benar-benar ikut. Hmm.


***


Satu hal lagi. Karena aku merasa yang diatas terlalu egois hahaha. Aku tiba-tiba teringat salah satu program kekeluargaan di astri, saat diminta buat video berisi mimpi, dan aku malu saat melihat video teteh-teteh dan temen yang lain berisi mimpi besar yang gak berhenti di diri sendiri. It feels like I still have a long way to learn to dream big, and try to achive it. Bukan angan-angan kosong.


Aku ingin memperkenalkan islam, ke banyak orang, terutama ke anak-anak yang lahir dan tumbuh di negara non-muslim. Gak harus dengan ngenalin islam itu gimana, atau langsung ke quran. Mungkin bahkan caranya cuma sekedar bermain bersama, dan menunjukkan islam lewat akhlak kita, lewat hijab yang menjadi identitas muslimah. So when they grow up, they will have a good start point to learn islam, to know their Rabb, to realize the straight path that they need to walk upon.


Aku juga ingin terus menulis, kalau yang ini sebenarnya, tanpa pertanyaan di judul juga sedang dan masih ingin terus kulakukan. Akan ada masa seperti saat ini, dimana aku ingin berhenti menulis saja, bukan karena aku tidak lagi ingin menulis. Hanya saja, aku merasa teko-ku kotor, kosong, jikapun terisi air, airnya tecemar oleh racun. Aku takut, jejak tulisan ini bukan membantuku, namun justru mencelakakanku. Tapi rasa takut ini tidak boleh menjadi alasanku berhenti menulis. Tidak boleh, terutama saat Allah memberiku nikmat ini, nikmat ide yang mengalir, jemari yang bergerak bebas, dan iman, iman yang aku harap mengisi penuh hatiku, menghiasinya meski hatiku masih sedang berjuang atas penyakit yang dideritanya.


Jadi ngelantur ya?


***


Anyway, there's so many things that I would do if I could do anything. I want to visit my friends, and tell them how grateful I am to be their friend. Have a long and nice talk with them directly.


I want to become a proud daughter for my parents, still 'berjuang' to achieve it. I find it difficult to choose vocabulary for 'berjuang', fight? struggle? it just doesn't seem to fit the nuance of 'berjuang'. fight seems like a war.and struggle sounds like a lot of pain. I am not in a war, netheir I am in pain. I might be still haven't take a step. Or it's just in my head. Of course I have take a step towards it, but a little baby step. **just keep walking, but you better run bells.


I want to meet him too. The one I don't know his name or recognize his face yet. Untuk bagian ini, sebenarnya aku masih terlalu fokus ke diri sendiri, sampai kadang melupakannya. Aku sibuk bertanya-tanya, am I belong to good women, so that he's a good man. I just belive that Allah made everything in pairs, from the...

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

I also would like to have a musyrifah, which I meet offline and have a halaqah once a week. Cause I really need it. I do really need it. I need someone, or some system that force me to have a good quantity and quality with the quran.


Mau dilanjut? Kayanya gak bakal selesai hehe. Harusnya dibuat poin-poin saja, ditulis tangan, dijadiin pembatas buku, biar sering-sering dibaca. Hmm gatau deh, beneran dibuat apa gak. Minimal aku sudah menulis beberapa di sini. Semoga tidak berhenti di tulisan.


Sekian~ Bye.


***


Friday, January 15, 2021

Distracted

January 15, 2021 0 Comments

Bismillah.


I feel like I'm getting distracted. I should have listened to a voice, but instead I listen to noises. There're many things that I should have done, and should be done, but I'm getting distracted. Feels like it's messed up, and I found myself didn't even try to work it out.


The signs are getting clearer. And I know I really need to wake up and force myself to focus on the right thing. So I write this, hoping for a better me. 

Wednesday, January 13, 2021

Apresiasi Diri Sebagai Bentuk Bersyukur Pada-Nya

January 13, 2021 3 Comments

Bismillah.


Hari ini, seorang sahabat mengirimkan tulisan panjang. Tulisan untuk dirinya sendiri, ucapan terima kasih untuk dirinya di masa lalu. Ia mengirimnya padaku karena ia ingin ada yang mendengarkannya.


Aku membaca kalimat-kalimatnya, kisah hidupnya, pencapaian-pencapaian kecil dan besar yang ia ingin syukuri. Kemudian aku tersenyum, membalas dengan kalimat pendek, yang juga merupakan kalimat penutupnya.


"I am proud of you too."


Sebelumnya, aku cuma banyak menerka. Tapi setelah membaca tulisan itu, aku jadi semakin yakin, bahwa ia seorang akhawat yang begitu hebat. Ia bisa menyerah, tapi ia memilih untuk terus maju. Ia bisa membenci, tapi ia memilih untuk mencintai. Ia bisa egois, tapi ia memilih untuk menjadi bermanfaat.


Sejujurnya aku malu. Sejujurnya tulisannya membuatku mengerdir, tapi balasannya pada kalimat pendekku membuatku berusaha untuk berhenti mengerdil.


Ia, dan tulisannya, tujuannya untuk mengingatkan, bahwa salah satu cara bersyukur adalah dengan mengapresiasi diri sendiri, mencintai diri sendiri. Karena terkadang kita terlalu keras pada diri.


Kita --hmm. Aku mengira mengapresiasi diri seolah sama dengan merasa cukup, yang itu bisa membuat diri stuck atau justru mundur progresnya. Padahal sebenernya keduanya berbeda, batasannya tipis memang. Kita memang tidak boleh merasa cukup, kemudian hati tersisipi perasaan tinggi yang menjadi racun. Tapi kita perlu juga bersyukur, akan amal kecil kita, mengapresiasi diri kita, agar kita bisa punya energi untuk melakukan amal-amal kecil lainnya, atau bahkan amalan yang lebih besar.


***





Untukku terutama, dan untuk siapapun di luar sana... izinkan aku mengurip bagian akhir tulisan sahabatku.


I'm proud of you. Keep going (:


Terakhir, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil 'alamin.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: I'm really bad at chosing a title, but it's okay. Thanks bella, for writing a post in this blog~

Wednesday, January 6, 2021

SelfD #3 : What would I tell my future self?

January 06, 2021 0 Comments

Bismillah.

#SelfDiscovery


Halo Bella, hai. Apa kabar hatimu? Semoga hatimu masih teguh dalam iman dan islam.


It's kind of awkward writing something to myself. Padahal tanpa diminta pun, biasanya aku selalu menulis untuk diri. Diriku di masa sekarang, diriku di masa depan, yang mungkin nanti menilik ulang blog ini, membaca ulang tulisan lama.


Saat ini mungkin dirimu sudah jauh lebih mengenal diri. Sudah naik tangga, tidak hanya menulis di blog. Saat ini kamu sudah belajar untuk tidak menghalangi diri sendiri. Sudah berani "meninggalkan pantai". Sudah jauh lebih bijak.


I didn't want to expect high to you. Terus berdoa, itu aja. Semoga jangan lupa itu. Karena saat semua hal yang lain kacau, yang satu ini ga boleh putus.


Semoga selalu ingat masa-masa berat saat doa pendek menenangkan hati. Saat tetesan air hujan membuat tersenyum.


And yes, you're human. You can be weak, and tired, and failed, and sinned. But as long as you keep connected to Allah, through dua, and quran, and of course shalah. You'll be fine.


Untuk diriku di masa depan, semoga jika hidup, hidup dengan mengenal-Nya, dan jika mati... mati syahid di jalan-Nya. Aamiin.


**expect low, but keep your dua high. Wish for firdaus, not because you deserve it, but because you know His Rahmah.


La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazhzhalimin.


***