Follow Me

Showing posts with label hati. Show all posts
Showing posts with label hati. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Hati Lain yang Harus Dijaga

June 25, 2020 1 Comments
Bismillah.

Giveaway #premarriagetalk kemarin, aku pilih postingan ini. Hasil skimming cepat. Judulnya menarik hati, pas aku baca juga bagus isinya. Plus, menurutku ini penting banget untuk di share. Banyak soalnya dari kita, aku mungkin termasuk, yang terlalu fokus menjaga hati sendiri, sampai lupa bahwa ada hati lain yang harus dijaga.



oh ya, dan ini tambahan insight dariku, in images. Maaf males nyalin isinya. hehe.



***

Mumpung lagi bahas tema tentang ini. Hati lain yang harus dijaga itu termasuk juga orang-orang non mahram yang kamu berinteraksi dengannya. Kamu mungkin punya seperangkat penjagaan hati yang lengkap. Jadi kamu santai-santai aja haha hihi, sebar senyum ke banyak orang. Tapi sesekali coba ingatkan bahwa kamu juga harus menjaga agar hati mereka tidak terluka. Jangan pakai banyak emoticon yang biasa kau gunakan untuk temen-temen perempuanmu. Pun yang laki-laki, jangan bawa candaan antara teman-teman laki-lakimu di forum umum. Kita tidak harus super kaku, dan sama sekali tidak berinteraksi. Karena memang interaksi tetap boleh dalam batasan-batasan yang mungkin agak bias. Kamu boleh bermuamalah jual beli, atau belajar bareng, berorganisasi, berkomunitas, kolaborasi, dan kebaikan-kebaikan lain yang bisa dikerjakan bersama.

Jika kamu begitu mencintainya, mengapa kamu membiarkannya berada pada hubungan yang dipertanyakan, dan kamu tahu pasti bahwa ia kelak harus memberikan jawaban pada Allah (atas apa yang dilakukan di dunia), sebagaimana kamu juga harus memberikan jawaban pada Allah. Apakah kamu tidak cukup mencintainya untuk menyelamatkan ia dari itu? 
Jika di antara kalian semua ada yang sedang jatuh cinta, tolong catat bahwa usia remaja adalah masa-masa yang “gila”. Di satu waktu, kamu yakin bahwa kamu tidak dapat hidup tanpa seseorang dan kamu kemudian mendekatinya, dan di waktu berikutnya kamu bisa beralih pada hal lain dalam waktu singkat, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Jangan biarkan perasaanmu menjatuhkanmu ke dalam sebuah kesalahan yang akan menghancurkan dua kehidupan dan dua keluarga. 
Hal yang benar yang harus dilakukan, menurut saya (Nouman Ali Khan) –dan ini hanya pendapat saya, adalah memutuskan semua komunikasi sampai kamu siap berbicara kepada keluargamu dan keluarganya. Jika tidak, kamu hanya mempermainkan perasaan orang lain dan menciptakan situasi penuh tekanan yang akan menyakiti dirimu dan dirinya dengan cara yang dapat melukaimu sampai akhir hidupmu.
Nasehat yang indah tentang hubungan sebelum pernikahan dari Ustadz Nouman Ali Khan

Terakhir, selamat menjaga hatimu dan juga hati yang lain. Jangan lupa ufukkan doa, pada Sang Maha Penguasa Hati. Ya Muqallibal quluub tsabbit qulubana 'ala dinik. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi minamal satu cerita dalam satu minggu.

Tuesday, March 5, 2019

Getar Hati

March 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-


20 Januari 2019. Ahad pagi, di sebuah ruangan seminar ber-AC, acara baru dibuka 1 jam dari jadwal yang tertera di poster publikasi. Acara dibuka dengan basmallah oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat Al Quran.

Seseorang naik ke podium, dengan mushaf di tangan kanannya. Ia membacakan surat yang sudah familiar di telinga. As Shaff ayat pertama sampai terakhir. Aku berusaha khidmat mendengarkan, tapi sebuah suara mengusikku. Tiga bangku di sebelah kiriku, seseorang duduk, tertunduk dan tergugu dalam tangisnya. Bukan suara isak, tapi suara tergugu. Sulit untuk mendeskripsikannya. Akhawat dengan khimar berwarna punk, masih menangis cukup lama. Kulihat dua orang di samping kananku, yang juga jadi saksi kejadian itu terlihat bingung untuk bersikap. Aku berusaha fokus lagi ke bacaan surat Ash shaff, sembari mengusir berbagai kelebat pikiran yang hadir karena tangisnya.

Aku mengenal akhawat itu, belum lama. Yang aku tahu, ia seorang aktivis, ia lulusan pendidikan matematika, ia memiliki hafalan quran, dan ia punya cita-cita untuk menyelesaikan hafalan quran, juga ingin membangun sekolah gratis.

Aku tahu... ia seorang shalihah, tapi entah mengapa kejadian itu mengundang pikiran negatif di kepalaku. Jujur aku berprasangka buruk, bahkan  sedikit sinis, karena lintasan pikiran yang kudapati saat kejadian tersebut.

Sepertinya kebiasaan burukku belum berhenti. Saat itu, yang muncul di otakku, adalah pertanyaan niatnya, mengapa ia menangis, dengan suara menggugu. Tidak bisakah ia menghayati ayat, dadn menangis dalam hening, berlinang air mata, tanpa perlu mengeluarkan suara? Ayat mana di surat ash shaff yang membuat ia menangis sebegitunya? Ayat 2 dan 3? lalu...? Mengapa saat ayatnya sudah berganti, ia masih saja begitu? Seolah ia memaksa dirinya menangis? Atau... ia sedang memiliki banyak masalah sehingga emosinya tiba-tiba membuncah saat mendengar ayatNya? Atau...

Kuhentikan pikiran buruk itu. Tahu apa diriku, siapa diriku berhak memikirkan begitu. Seharusnya kejadian itu membuatku berkaca dan malu. Kamu... bell... kapan terakhir kali hatimu bergetaar hingga mengundang air mata saat mendengarkan kalamNya? Ia mungkin seseorang yang hatinya sangat lembut, sehingga saat al quran dibacakan, ia menangis dan lupa... kalau ia sedang di tempat umum. Hatinya begitu lembut, getar itu sampai ke hatinya. Kamu? Apa kabar hatimu? Masih sakit kah? Semakin mengeraskah? Sudahkah kau menanyakan keadaan diri, sampai membiarkan lintasan pikiran itu menyibukkan dirimu?

***

Masih adakah getar hati itu? Saat kau membaca ayat-ayatNya? Atau kau hanya membaca, dengan lidah, dan sampai di tenggorokan saja?

TT

Jika hati sakit, dan mengeras... sampai tidak terasa getarnya, mintalah obat padaNya, agar hatimu bisa melembut kembali, agar bisa bergetar lagi saat mendengarkan Al Quran.

'Asaa ayyahdiyani robbi li aqroba min hadza rosyada. Ya Muqallibal qulub tsabbit qolbi 'ala dinik. Aamiin.

Allahua'lam.

Sunday, December 30, 2018

Pesan Untukku

December 30, 2018 0 Comments
Bismillah.


Hatimu hanya satu, jika ingin ia makin jernih dan bercahaya, maka isi dengan iman, bukan dengan hal lain. Setiap hal kecil akan menoreh jejak, membuat pola, maka sekecil apapun, jika itu buruk, jangan lakukan. Dan sekecil apapun, jika itu baik, jangan ragu, baca asmaNya dan laksanakan. 

Bohong namanya, jika di bibir kamu bilang ingin memperbaiki diri namun kakimu enggan melangkah maju. Awalnya mungkin perlu dipaksakan, karena memang tidak mudah. Tapi justru sulit itu, rasa berat itu, akan diganti oleh Allah dengan hal-hal yang jauh lebih menyenangkan dan menenangkan hati. 

Hatimu hanya satu, dan itu mempengaruhi seluruh tubuhmu. Maka jangan racuni, jangan sakiti. Jaga ia agar bersih dan jernih. Jikapun suatu saat nila terlanjur membekas, segera sucikan, banyak minta ampun dan maaf pada Allah. 

***

Semangat ^^

قَالَ رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, 

وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى
dan mudahkanlah untukku urusanku,

Aamiin. 

Allahua'lam. 

Thursday, December 13, 2018

Patah Hati

December 13, 2018 0 Comments
Bismillah.

Patah hati, sakit hati, heart break. Sebelumnya aku memandang frase itu sebagai frase saja. Tidak pernah aku bisa melihatnya lebih dalam, aku tidak pernah tahu atau paham rasanya. Sampai Allah menuliskan takdir, agar aku melihat frase itu lebih dekat. Bagaimana patah hati, sakit hati, bisa memberikan banyak perubahan di hidup seseorang.

Betapa hati itu lemah, mudah terbolak balik, aku sudah tahu. Tapi sebelumnya aku tidak pernah berempati, menyaksikan orang jatuh bangun berjuang menyembuhkan hatinya yang hancur. Mungkin itulah mengapa Allah ingin menjaga hati kita sebegitunya. Karena Allah tahu, efeknya, sakitnya, jika hati kita terluka, sakit, bahkan patah. 

***

First heart break. Prosesnya akan menyakitkan, tapi jika ia bisa melaluinya ia akan menjadi kuat. Begitu yang dijelaskan temanku. Ia mungkin sudah sering mendengar kisah patah hati orang lain, sehingga seolah-olah itu hal biasa. 

Tapi aku... bagiku, itu bukan sekedar itu. Rasanya aku bisa mengerti mengapa dunia seseorang terasa sempit dan ikut hancur, saat seseorang mengalami patah hati. Meski aku juga setuju, bahwa patah hati tidak mengakhiri hidup seseorang. Bisa jadi itu "hal kecil", jika dibandingkan dengan gempuran bom yang setiap hari mengancam nyawa seseorang yang tinggal di wilayah perang.

Menulis tentang patah hati dan perang ngingetin aku sebuah video lecture animasi. Penjelasan surat Al Furqan kalau ga salah, bagaimana gunung dosa bisa Allah ganti menjadi gunung amal baik.


Ada tiga dosa.. bagaimana seorang muslim bisa melakukan itu? Dosa syirk, membunuh dan berzina. Lalu bagaimana ayat ancaman adzab yaang dilipatgandakan itu, dilanjutkan dengan ayat rahmat dan rahim-Nya.

Membunuh dan zina itu berkaitan, yang satu membunuh raga manusia, yang satu lagi membunuh jiwa manusia. Di video itu juga digambarkan, bahwa ada situasi dimana manusia bisa "begitu mudah" terjatuh dalam dosa tersebut. Yanng satu kondisi peperangan, dimana "semua orang membunuh" maka membunuh seolah hal biasa yang terjadi sehari-hari. Yang satu lagi kondisi dimana "semua orang berzina" maka zina seolah hal biasa yang terjadi sehari-hari. Padahal keduanya merupakan dosa yang disebutkan setelah dosa syirk.

Ada di kondisi yang mana kita? Begitu bahayanya zina, sampai Allah memperingatkan agar tidak mendekatinya.

***

Main api, main hati. Berawal dari hal kecil, lalu saling meracuni dan menyakiti. Saat sudah kadung terluka, patah hati, kita baru akan menyadari hikmah perintah dan laranganNya.

Perasaan kita begitu berharga, maka Allah tidak menginginkannya terluka. Sekali dihancurkan, patah hati, kemudian mengulang kesalahan yang sama lagi dan lagi.

***

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyatukan kembali hati yang sudah patah? Mengokohkannya lagi setelah bentuknya telah menjadi serpihan kecil? Setiap orang berbeda, jelas temanku.

Lalu aku teringat sebuah ayat lain, surat At Taghabun. Mungkin bahkan lukanya dibawa terus sepanjang hidup, jika saat patah hati, kita berkunjung ke dokter salah, meminum obat yang salah, atau justru hanya lari lagi dan lagi ke tempat yang salah.

Begitu, masih akan sakit. Sampai kita tahu bahwa cuma Allah yang bisa menghidupkan hati yang telah mati. Bahwa cuma dengan berlari kepadaNya, berdoa memohon petunjukNya, hati kita bisa membaik, pelan dan ada prosesnya. Tapi janjiNya tidak pernah ingkar. Allah akan menyembuhkannya secara sempurna. Jika pun masih terasa sakit, Allah akan ganti rasa sakit itu dengan hal yang lebih baik, entah di dunia atau di akhirat kelak. 

***

Terakhir, untuk siapapun yang sedang atau pernah patah hati... Semoga Allah menyembuhkan lukanya, menghapus rasa sakitnya. Semoga patahan itu menjadi jalan kita mendekat padaNya. Karena apapun yang membuat kita mendekat padaNya itu baik, meski rupanya gelap, dan berdarah.

Allahua'lam.

***

PS: Entah berapa kali aku maju mundur untuk menulis topik sensitif ini. Rasanya, siapa kamu bell? Mohon maaf kalau ada banyak salah. Tulisan ini yang utama dan pertama untuk diri. Subahanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Monday, June 4, 2018

Menulis Itu.... Berat

June 04, 2018 0 Comments
Bismillah.

Izin menumpahkan ekspresi di sini (baca: curhat).

Menulis itu berat, sungguh... bahkan menulis dan menyalin ulang kajian. Berat.

Menulis itu berat, sungguh... bahkan merangkum ilmu yang kita baca. Berat.

Menulis itu berat, bahkan meski cuma menulis sebaris insight dari nasihat yang kita dengarkan. Berat.

Dan malam ini, rasa beratnya lebih terasa, entah mengapa.

Setelah selesai menulis paragraf-paragraf itu. Publish di fb khusus ramadhan, share di grup dengan jumlah orang terbatas. Jemariku bergetar. Rasa takut membuat beratnya menulis makin terasa.

***

Tapi tahukah? Meski berat.... aku memaksakan diriku menulis, meski sudah lewat jam 9. Karena mungkin, lewat menulis, Allah mengingatkanku. Ya, lewat menulis, Allah menurunkan nikmatNya, nikmat mengingatNya, meski hamba sering lupa.

Berat itu Bell... sebentar saja, atau jikapun lama, bisa meringan. Atau jikapun tidak meringan, Allah bisa membuatmu mampu melaluinya.

Sekarang, saat perasaanmu tidak karuan karena rasa beratnya. Tuliskan saja dulu, di sini. Lalu perbanyak doa.

Allah yang menggerakkan hatimu, jemarimu, untuk menulis. Allah akan membantumu, menjadikan tulisan itu bukan cuma tulisan. Asalkan kamu mau ikhtiar juga, berdoa juga, tawakal juga.

Semoga setiap tulisan menjadi pengingat diri, sembari kemudian kita tertatih mengamalkannya. Aamiin.

Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika. Ya Allah tolonglah aku untuk selalu mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan memperbagus ibadah kepadaMu. Aamiin.

Allahua'lam.

Monday, May 21, 2018

The Sweetness of Iman

May 21, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku
-Muhasabah Diri-

Nukil buku, dari Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Cuma kumpulan quotes saja, ditulis sebagai pengingat diri.
"Jika sudah ada kedekatan hati dengan Allah, maka akan menghasilkan kesenangan dan kenikmatan, yang tidak bisa diserupakan dengan kesenangan di dunia dan tidak dapat dibandingkan... "
Iman itu memiliki rasa 'manis'.

"Karena iman itu mempunyai kemanisan. Siapa yang tidak dapat merasakan manisnya iman, hendaklah kembali untuk mencarinya, dengan mencari cahaya yang bisa mendatangkan manisnya iman."
Cari manisnya iman dimana? Ada dua, yang disebutkan Rasulullah shalawat serta salam untuknya.

Pertama.
Sabda beliau, "Yang dapat menikmati rasa iman adalah yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai rasul."
Kedua.
Beliau juga bersabda,"Tiga perkara, siapa yang tiga perkara ini ada pada dirinya, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu: Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, siapa yang mencintai seseorang, yang dia mencintainya hanya karena Allah, dan siapa yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke neraka."
Jika tidak ada rasa manisnya? Curigailah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jika engkau tidak mendapatkan kemanisan dan kesenangan dari suatu amal dalam hatimu, maka curigailah ia. Karena Allah adalah Maha Penerima syukur. Artinya, Allah pasti akan memberi pahala kepada seseorang di dunia karena amalnya, berupa kemanisan yang dirasakan di dalam hati, kesenangan dan kegembiraan. Jika dia tidak merasakannya, berarti amal itu disusupi setan."
***

Semoga kita dapat merasakan manisnya iman, bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Aamiin.

Allahua'lam

***

PS: sebenernya blm puas sama desainnya. tapi udah kehilangan mood buat geser2 elemennya.

Tuesday, May 1, 2018

Pertanyaannya, Jawabanku

May 01, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Seseorang, bertanya padaku. Singkat, jelas.
Aku menjawab padanya, panjang kemana-mana.



***

Satu hari setelah itu. I feel like I didn't answer her question nicely. Ia bertanya tentang x, namun kuberikan padanya persamaan x kuadrat.

Yang ditanyakan adalah tentang X. Tapi aku justru menjawab tentang diriku. Aku memang menyinggung tentang x di jawabanku, tapi lebih banyak hal tentang diriku yang kugarisbawahi.

***

Belum ada respon lagi. Dan aku bertanya-tanya sendiri. Mungkin baiknya tak perlu kujelaskan ke sana kemari. Pertanyaan seseorang itu cuma satu padahal,

'Bella masih suka kontak x?'

Selesai.

***

Kadang aku dibuat bertanya-tanya. Sebenarnya, benarkah aku sedang berusaha menjadi teman yang baik bagi x? Atau aku sedang berusaha membangun topeng, agar dikenal sebagai teman yang baik?

***

Pada akhirnya, aku cuma perlu fokus ke usaha dan doa. Mungkin saat pertanyaan itu hadir lagi, aku ga perlu jawab. Atau boleh jawab, singkat saja, ga perlu sampai menjabarkan persamaan x kuadrat.

Pada akhirnya, aku cuma perlu fokus usaha dan doa. Ini mungkin ketulusan, mungkin juga kepalsuan. Mungkin tercampur dan berganti-ganti tiap waktu. Aku tidak tahu. Seperti amal, yang terkadang niatnya bengkok. Jika bengkok, jika ini kepalsuan, bukan amal yang harus dihentikan, bukan usaha yang harus diberhentikan. Tapi niat yang harus diluruskan. Ya, niat, yang tak terlihat dan letaknya di hati.

***

Jika ini hanya kepalsuan, topengku agar tampak seperti teman yang baik, semoga Allah menggerakkan hatiku, membersihkan hatiku, agar kepalsuan itu hilang, dan tergantikan dengan ketulusan. Aamiin. 

Allahua'lam. 

Monday, May 1, 2017

Masihkah Tidak Terasa? (-19)

May 01, 2017 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

"Hatiku sudah mati..." ucapmu dengan suara lirih dan nada datar. Aku yang mendengarnya dibuat berpikir keras, perkataan apa yang seharusnya keluar untuk menanggapi kalimat pendek itu?

"Kau tahu kenapa?" seolah memberitahuku, bahwa seharusnya aku mengucapkan kalimat tanya itu.

"Aku sudah tidak bisa merasakan getarannya," jawabmu.

"Sudah tidak terasa getarannya?" suaraku akhirnya keluar juga, setelah ribuan kalimat menekan-nekan otakku. Kamu mengangguk, membuatku makin bingung. Maksud pertanyaanku bukan itu....

"Tanahnya begitu kering kerontang, hujan tidak bisa.............." samar kamu mengucapnya sembari melangkah keluar ruangan. Telingaku tidak bisa menangkap keseluruhan kalimatnya, tepat saat kamu membuka pintu kaca itu, suaramu lebur terendam suara rintik hujan siang itu.

Aku mengejarmu kemudian mendapatimu terdiam dibawah hujan. Kamu berdiri di sana, satu langkah di depan jangkauan atap gedung ini, baju berwarna biru mudamu, sebagiannya sudah dihiasi jejak air hujan yang tidak deras, namun juga tidak cukup kecil untuk tidak terlihat.

"Hujannya tidak bisa apa? Aku tadi tidak mendengar lanjutan kalimatnya", ucapku volume suara lebih besar dari biasanya, takut kalah dengan suara rinai hujan favoritmu.

Kamu membalik badanmu, memandang mataku.. tidak tajam, tapi lekat. Perlahan kau gelengkan kepalamu, membuat dahiku berkerut. Apa aku salah dengar?

"Aku mungkin cuma perlu memaksakan diri hujan-hujanan, lagi dan lagi.. sampai hatiku hidup lagi dari matinya," ucapmu sembari berjalan mundur dua tiga langkah.

Suaramu kali ini berbeda dengan suara saat di dalam tadi, ada energi di nadanya. Otakku masih mencerna kalimatmu, saat kedua ujung bibirmu naik.

"Getarannya, aku pasti bisa merasakannya lagi. Mungkin bukan hari ini.. tapi aku yakin suatu saat nanti.." ucapmu sembari mengangkat tangan kananmu, melambai, kemudian pergi.

***

Aku ingat siang itu, memandangi punggungmu menjauh, sampai akhirnya hilang karena tertutup rombongan orang berpayung yang menuju gedung ini. Satu, dua, tiga pekan terlewat. Kamu belum juga kembali ke gedung ini untuk menemuiku, membuatku bertanya-tanya...

"Apa kabar hatimu? Getarannya.. masihkah tidak terasa?"

maybe you need a stethoscope to hear its beating

The End.

***

PS: Izinkan aku mengutip tulisan Salim A. Fillah dalam buku JCPP-nya.
Hati berbicara tanpa kata, menjawab tanpa suara dan sering menyengat tanpa terlihat. Tapi ia terasa.

Monday, April 24, 2017

Sekarang Perasaannya Gimana?

April 24, 2017 0 Comments
Bismillah.

pallet | more than one color

Pertanyaan itu, pertanyaan sederhana yang akhirnya menyadarkanku untuk kembali menulis. Pertanyaan yang ingin aku jawab, tapi aku seolah tidak tahu caranya bagaimana, dan dengan kata apa, agar pertanyaan itu bisa terjawab.

"Bella sekarang perasaannya gimana?"

Aku siang itu tidak bisa menjawabnya. Cuma menjelaskan, lebih tepatnya menampiknya, dengan kalimat.. "Gimana? Gimana ya? Gak bisa dijelaskan" jawabku dengan senyum dan tawa. Jurus favorit ketika bingung harus menjawab suatu pertanyaan.

Yang bertanya, akhirnya menjelaskan perasaannya. Tentang kerisauannya, rasa khawatirnya, apa yang sudah selesai dan belum selesai, apa yang membuatnya bingung, apa yang membuatnya merasa bersalah. Ia akhirnya membuka diri terlebih dahulu, padahal ia lebih introvert daripada diriku, mungkin maksudnya, ia ingin aku jujur padanya. Atau mungkin, ia memang bertanya untuk bercerita. Entahlah.

Tapi memang aku pernah cerita padanya, kalau aku baru terbuka jika seseorang membukakan pintu. Aku bisa cerita A, karena orang tersebut pernah cerita tentang A padaku. Tapi ternyata, rumus itu tidak selalu pas untuk situasiku. Kenyataannya, ia yang introvert justru sudah bercerita banyak hal lebih banyak daripada diriku yang "ekstrovert". Di satu sisi aku merasa bersalah, karena belum cerita tentang perasaanku. Namun di sisi lain aku berterimakasih, setidaknya aku jadi mendengar kisahnya, karena biasanya, ia yang selalu menjadi pendengar.

***

"Bella sekarang perasaannya gimana?"

Pertanyaan sederhana itu masih terngiang di telingaku. Seolah mengajak otakku memaksa jemari menari di atas keyboard. Jawablah.. jika tidak bisa lewat nada, coba jawab lewat kata-kata tak bernada nan sunyi. Bukankah kamu berteman dengan kata? kala nada tak mau sapa? Ah.. frase lama yang kuulang-ulang hingga bosan.

Perasaan. Abstrak. Jika aku menulis satu demi satu nama rasa, apakah itu bisa menggambarkan dan menjawab pertanyaan?

Ada senang, sedih, naik, turun, biru, merah, kecewa, berharap, tertarik, semangat, layu, mekar, marah, risau, bingung, yakin, percaya, ... apa lagi ya? Menyebutkan satu persatu jadi malah lupa, ada yang mau bantu mengingatkan kosakata perasaan? Tulis di komentar ya...

***

Bicara tentang perasaan manusia, aku pernah baca di suatu blog. Kalau perasaan manusia itu, kita mengiranya cuma bisa diisi satu jenis perasaan aja. Padahal kenyataannya ga begitu, bisa jadi perasaan manusia itu bercampur aduk. Manusia bisa merasa senang dan sedih sekaligus, meski logikanya, kalau orang senang itu tidak sedih begitu pula sebaliknya. Tapi kenyataannya, kamu bisa senang akan satu hal tanpa meninggalkan kesedihan pada hal lain. Bingung ya? Iya.. aku juga bingung ini nulisnya harus gimana. Intinya mah gitu.. perasaan manusia, ga cuma satu, bisa jadi bercampur. Dan kalau sudah begini, bercampur aduk, jadi tidak bisa digambarkan lewat kata-kata, juga mungkin ga bisa dipresentase-kan.

Jadi ingat pertanyaan seorang teman. Antara worry dan exited. "50:50?", tanyanya. Aku jawab, ga bisa dijadikan angka. Entahlah proporsinya berapa, yang kita tahu kita merasakan itu ada di sana. Kadang yang satu melingkupi yang lain. Unik ya? Perasaan manusia.

***

Terakhir, kalau seseorang bertanya padamu: sekarang perasaannya gimana? Apa jawabanmu?

Allahua'lam.

Friday, March 10, 2017

Tempat Masuk Setan dalam Hati

March 10, 2017 0 Comments
Bismillah.
 
Tulisan ini sumbernya dari Silahul Mu'mini li Thardisy Syaitan hal 26, cet 10 1422H/2001. Lengkap ya? Sampai halaman juga, karena itu ada di catatan kaki buku yang kemarin aku kutip tentang dzikirnya.

Btw, saya mencatatnya mungkin kurang, keliru arau salah, jadi jangan segan untuk mengingatkan/mengkritik ya? Di kolom komentar..

***
 
1 | Dengki dan Tamak
Diceritakan dibagian deskripsinya, kalau dulu Nabi Nuh memberikan instruksi kepada kaumnya agar masuk kapal berpasang-pasangan (ini sebelum mukjizat banjir turun dari langit). Lalu, ada orang tua asing yang masuk... Singkat cerita ternyata itu adalah iblis yang ingin masuk ke hati kaum beriman yang ada di kapal. Ketika hendak diusir, Iblis/setan memberitahu Nabi Nuh kalau ada lima hal yang membuat manusia celaka, tapi si iblis tadi katanya cuma mau kasih tahu tiga aja. Nabi Nuh 'alaihi salam mendapat firman agar diberitahukan dua hal saja.
Lalu Nuh bertanya, "Apa yang dua?"

Iblis menjawab, "Keduanya tidak akan membohongiku, dan keduanya tidak akan mengkhianatiku karena keduanya manusia akan celaka, yaitu tamak dan dengki."

"Karena dengki aku dilaknat dan dijadikan setan terkutuk. Dan karena sifat tamak keinginanku terwujud pada Adam. Semua isi surga diperbolehkan untuk adam kecuali sebuah pohon yang diketahui, lalu aku menggodanya sampai ia memakannya"

Thursday, November 3, 2016

Maaf, Jika Tulisanku Melukaimu

November 03, 2016 0 Comments
-muhasabah diri-
 
Bismillah.

sincerely, I'm sorry...

Berawal dari obrolan panjang di thread chat suatu aplikasi messaging, tiba-tiba jadi bahas tentang kritik yang di sampaikan, trus jadi ingat tentang form Evaluasi Diri yang pernah kubagikan dan beberapa kutipan hasilnya kutulis di blog ini.

Dari situ, aku membaca ulang hasilnya di GDrive ku, dan aku menemukan sebuah saran/kritik, yang ingin kujelaskan di sini.
Hal menyebalkan apa yang ada di diri Bella?
Ia menjawab dengan senyum ramah, (meski aku ga bisa lihat wajahnya, membaca tulisannya membuatku membayangkan senyum ramah seorang ukhti, anonim padahal),
emm.. apa ya?? kalau ngomong suka susah diremnya... terus kadang kalau ada unek2 jarang disampein ke orangnya, lebih sering diungkapkan lewat blog dan itu lebih nyelekit. hehe.. banyak orang bilang kalau bella itu agak kaku, tapi menurutku mah enggak kok...
-anonim, pengisi form Evaluasi Diri
***

Thursday, October 20, 2016

Reblog: Part of The Reason

October 20, 2016 0 Comments
Bismillah

Meski tulisan awal berjudul the Reason sudah kukembalikan ke draft, izinkan aku menyalin sebagian isinya di sini. Ini tentang pulang malam, dan apa yang hatimu sebenarnya katakan tentangnya.
"Hati bicara tanpa kata, menjawab tanpa suara dan sering menyengat tanpa terlihat. Tapi ia terasa."
Tidakkah kau merasakannya? Ada perasaan tak bernama tiap kali kau melakukan kesalahan/dosa. Termasuk kalau kita memutuskan untuk pulang malam, seharusnya ada rasa di hati menyuruhmu untuk bergegas pulang ke rumah.

Wednesday, October 12, 2016

(Jangan) Menulis Jika Hati Sakit

October 12, 2016 0 Comments
#blogwalking??

Bismillah.

kondisi hati dan efeknya pada ucapan/tulisan kita

Blogwalking? Bukan blog, tapi sosmed seseorang. Bukan walking juga, karena ke sana emang berniat cari tulisannya di sana. Bingung ya?

Aku berbincang pada sahabat A, mengirimkan link video topik tertentu. Ndilalah, somehow, si A belum bisa buka video itu. Jadi aku kasih saran untuk baca dari ringkasan yang pernah ditulis sahabat B di akun google+nya. Aku bilang, "tunggu ya, aku cari dulu link tulisannya".

Karena itu sosmed, dan ga ada feature search status B dengan keyword "tertentu", mau ga mau aku harus scrolling dan membaca status-status si B. Dan dari sanalah, aku menemukan statusnya yang menarik untuk aku bahas di sini. Aku memilih berhenti mencari tulisan tujuan utama aku berkunjung, dan memilih menulis sesuatu yang lain dari tulisan sahabat B. Begini kutipannya, *maaf prolognya panjang hehe

Tulisan itu mencerminkan isi hati seseorang, benar sekali.
Jika hati lagi sakit, sebaiknya jangan menulis.
Jika tulisan itu hanya akan menyakiti hati orang lain, untuk apa?

Jadilah manusia beradab.
Menjaga hati dari mengeluarkan kata-kata 'sakit', yang itu menyakiti orang lain.

(:
- Status seorang ukhti, yang kurindukan ingin berjumpa, mungkin di walimah yang lain? Hehe *you know what I mean, kalau kamu tahu, berarti kamu si B yang aku bicarakan. hehe
***

Tuesday, October 4, 2016

Yang Membolak-balik Hati

October 04, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.
Lalu, membahas tentang penyesalan. Hari ini kita mungkin menyesal, lalu beberapa hari berikutnya kita bertemu dengan situasi yang membuat kita "tidak jadi" merasa menyesal. Hari ini mungkin kita senang, lalu beberapa waktu ke depan ada saja yang membuat perasaan senang itu menguap. Kita bersedih, dan jatuh. Beberapa hari berikutnya kita akan menemukan dan diingatkan kembali oleh sumber semangat kita selama ini.
Tapi semua bentuk perasaan itu bisa diubah menjadi konstan "selalu bahagia" dengan apa yang kita kenal dengan syukur. Saya pikir tidak mudah, karena ada satu-dua kondisi ketika kita harus memaksa diri untuk kembali memaknai kata "Alhamdulillah".
Sungguh menakjubkan bagaimana Allah membolak-balikkan hati.
Semoga ia senantiasa dalam koridor keridhaan ilahi.
- Mentari Pagi, "Random Bana"
***

Thursday, September 22, 2016

Masih Belajar Tentang Itu

September 22, 2016 0 Comments
#random

Bismillah.

Keep learning...
Tentang kepercayaan. Just want to write here to remind myself. Don't stop learning. I know it's not an easy thing, especially for you who have that old scary scar.

"Kamu harus belajar mempercayai orang lain," ucapnya dengan wajah tulus.


***

Monday, August 24, 2015

My Heart Is Not That Strong

August 24, 2015 0 Comments
diambil dari sini
Bismillah.

"My heart is not that strong..." lirih suara berbisik pada diri.

***

Ya, seringkali untuk memotivasi diri kita sering berkata pada diri kalau kita quwwat, ya kita kuat. Namun tidak setiap waktu cara itu berhasil membuat kita menjalani hari-hari.

Terkadang, kita justru harus jujur pada diri bahwa kita tidak sekuat itu. Hati kita lemah, itulah mengapa dalam bahasa arab hati disebut 'qalb'. Qalb adalah sesuatu yang mudah terbolak-balik, seperti sebuah koin yang digantung. Begitu mudah berbalik meski hanya oleh angin sepoi.

My heart is not that strong...

Monday, June 8, 2015

Sederhanakan

June 08, 2015 0 Comments

#fiksi

Bismillah.

make it simple (sumber dari sini)
"Ternyata semakin sederhana, jadi semakin indah" ujar seorang gadis yang menggunakan khimar berwarna krem (K).

"Ya, jika bisa sederhana, mengapa harus diper-rumit?" sahut gadis lain disebelahnya, ia menggunakan khimar berwarna hitam (H).

K: "Sederhana artinya kau tidak mencari perhatian banyak orang."

H: "Sederhana artinya setiap hal ada pada tempatnya, ada zona masalah dan zona solusi."

Friday, May 29, 2015

Ajakan, Sebuah Tanya, dan Tangis Sunyi

May 29, 2015 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

"Udah mau jam 2 kawan, kita masih belum shalat" ujar seorang mahasiswa pada sekelompok temannya yang sedang asik mengerjakan tubes (asumsiku). Aku yang berada di sebelah kelompok mereka ikut tersenyum.

Selalu menyenangkan mendengar ada orang yang mau mengajak yang lain. Membuat kagum melihat sosok yang peduli orang lain di era saat individualisme begitu ditinggikan.

Dan yang terakhir, membuat diri teringat.. Betapa aku belum melakukan banyak hal untuk mengajak orang lain kepada kebaikan. Lebih sering ber-egois-ria, menumpuk nasihat untuk diri. Takut, begitu takut untuk menulisnya, atau bahkan mengucapkannya.

***

sumber gambar dari sini
Aku teringat sebuah momen saat dua orang saling menangis dalam diam, tangis tanpa isak.

Monday, May 4, 2015

"Gatal" untuk Berkomentar

May 04, 2015 0 Comments

-Muhasabah Diri, SensiMe-

Bismillah.

http://assets.kompasiana.com/statics/files/1417255040435110281.png?t=o&v=300
Sebutlah diri membaca status saudarinya di jejaring sosial "garis" haha, ada 2 komen. Tap, lalu muncul lah dua nama, nama pemilik status (akhwat) dan nama komentator (ikhwan). Dan percakapan bathin pun terjadi pada si silent reader.

A : "Kenapa sih ikhwan kegatelan banget untuk komentar di status akhawat?"

A' : "Iya, kaya kamu yang gatel untuk berkomentar kalau liat ikhwan komen di status akhwat"

A : (tertawa) "Iya juga. Tapi beneran deh getet* kalau liat yang kaya gitu. Pengennya teriak, PENTING YA KOMEN KAYA GITU??"

Wednesday, April 1, 2015

The Moment I'm Ready to Quit

April 01, 2015 0 Comments
-Muhasabah Diri-
Bismillah..



"The moment you're ready to quit is usually the moment right before the miracle happens." (anonim)

Detik-detik kemarin malam, adalah detik saat aku hendak memutuskan berhenti. Berhenti menjadi anggota grup kompilasi 50 hari. Aku berhutang tujuh tulisan dan dua tugas. Rasanya tidak mungkin jika harus menyelesaikannya malam itu.

I was ready to quit that night.

***