CR#2 : Yang Harus Kita Prioritaskan di Bulan Ramadhan
Bismillah.
Catatan Ramadhan kedua, kajian tentang fiqh prioritas. Sebelum ke fiqh prioritas, Ustadz Nuzul Dzikri mengingatkan kita betapa istimewanya dan betapa singkatnya waktu Ramadhan, ayyamal ma'dudat, hanya beberapa hari saja. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Jadi jangan sia-siakan waktu ini. Ayo fokus dan niatkan agar Ramadhan kita diisi dengan melakukan ibadah dan meninggalkan maksiat.
"Semua bisa di bisa dipending. Tapi Ramadan enggak bisa dipending. Bahkan Ramadan akan berlari dan terus berlari. Dan kalau kita tidak maksimalkan, kita tergerus dan akhirnya gagal mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa taala. Iya kan? Di tahun-tahun lalu tuh cepat banget. Kesan lamanya mungkin hari pertama, hari kedua, tapi setelah itu tek tek 13, 16, 19, 24, 27 malam takbiran selesai semua. Maka maksimalkan dengan sebaik-baiknya."
Ustadz juga mengingatkan jangan sampai terlena oleh tipu daya setan yang membuat kita mengabaikan hari-hari awal Ramadhan. Padahal dari awal ini, yang akan menjadi anak tangga kita menuju kesuksesan di akhir Ramadhan kelak.
Langsung ke poin utama. Sebagai manusia biasa yang memiliki begitu banyak keterbatasan, kadang keinginan kita melakukan A-Z padahal kemampuan kita dibawah itu, apa yang harus kita lakukan? Ustadz Nuzul Dzikri mengingatkan kita untuk menggunakan fiqh prioritas. Apa yang harus kita prioritaskan?
1. Amalan wajib
Amalan wajib ini dirinci lagi, utamakan amalan hati yang wajib. Apa itu amalan hati yang wajib? Salah satunya keikhlasan. Jaga niat kita, agar tidak berbelok. Latih hati kita agar bisa mencapai takwa, sebagaimana yang Allah sebut di ayat-ayatNya, bahwa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa la'allakum tattaqun, supaya kamu bertakwa.
"Ketika kita bicara tentang amalan wajib dan langsung firman Allah Subhanahu wa taala dalam hadis qudsi di atas menjelaskan lalu kita lebih dalamkan, prioritaskan amalan-amalan hati sebelum amalan-amalan zahir yang wajib. Prioritas kan amalan hati dan ini blind spot banyak orang di bulan suci Ramadan.
Ketika berbicara amalan langsung arahnya ke amalan zahir, lupa bahwa Allah berfirman ketika bicara tentang puasa Ramadan. Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumussiyam kama kutiba 'alalladina minqoblikum laallakum tattaquun. Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Coba koneksikan Albaqarah 183 ini dengan sebuah hadis yang dikeluarkan Imam Muslim ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Attaqwa hahuna." Atttaqwa hahuna. Takwa itu di hati. Takwa itu di hati kata Nabi. Dan ini gol besar. Ini visi orang berpuasa hati.
Oleh karena itu, pada pertemuan yang lalu kita jelaskan bahwa puncak orang-orang yang berpuasa adalah bukan hanya orang yang menahan lapar haus dan bukan hanya orang yang mengatakan tidak pada maksiat-maksiat zahir, tapi orang-orang yang mempuasakan hatinya dari virus-virus hati. Ini puncak."
Ustadz juga memberi kita contoh para Ulama yang terbiasa menyembunyikan amalnya, karena apa? Karena takut ria, dan dalam rangka menjaga hati dan keikhlasannya.
Ibrahim An-Nakha'i salah satu ulama besar klasik. Salah satu ulama juga yang namanya Al Imam Al-A'masy. Al'masy pernah bercerita, "Kuntu Ibrahim annaki." Aku pernah bersama Ibrahim Annakhai. Wahua yaqra fil mushaf. Dan Ibrahim Annakhai itu membaca dari mushaf. Membaca Alqur'an dari mushaf. Fastana alaihiulun. Lalu tiba-tiba ketika beliau lagi baca quran dengan mushaf di sebuah ruangan, ada orang minta izin masuk dari luar. Asalamualaikum. Boleh masuk enggak? Fagthal mushafa. Lalu beliau cepat-cepat menutup mushaf beliau. Waqal la yaroni hadza anni anni aqro fihi ka saah. Aku menutup mushaf ini agar orang itu tidak tahu bahwa aku sedang membaca Al-Qur'anul Karim.
Lanjut ke urutan berikutnya. Setelah amalan hati, tentu saja berikutnya amalan wajib yang zahir, baik itu shalat 5 waktu, berbakti kepada orangtua, berbakti kepada suami, menafkahi istri, dll. Kita harus hati-hati pada tipu daya setan yang menginginkan kita sibuk dengan amalan sunnah, sampai melupakan yang wajib.
Catat kaidahnya Alhafiz Ibnu Hajar. Alhafiz Ibnu Hajar menyatakan, "Man syagolahu, man syagolahu alfardu alin nafli fahua ma'zur." Barang siapa yang sibuk mengerjakan hal-hal yang wajib sehingga dia tidak bisa mengerjakan hal-hal yang sunah, maka dia dimaafkan dan bisa jadi dapat pahala dari Allah. Tetap dapat pahala yang sunah. Wamanagolahun nafluil fardi fahua magrur. Dan barang siapa yang sibuk mengerjakan yang sunah sehingga lupa dengan yang wajib, maka dia tertipu oleh iblis. Kata Alhafiz Ibnu Hajar magrur, tertipu dia. Dan itu salah satu talbis iblis yang paling hebat di antara yang paling hebat. Jadi, iblis enggak mengarahkan kita untuk bermaksiat, tapi iblis ngajak kita sibuk dengan perkara-perkara yang hukumnya sunah agar kita lupa dan enggak sempat ngerjain yang wajib."
2. Tinggalkan yang haram
Ustadz juga mengingatkan pentingnya meninggalkan maksiat, dan segala yang haram. Karena itu termasuk wajib.
"Yang haram itu wajib ditinggalkan. Tinggalkan yang haram. Jangan ghibah, jangan maksiat, jangan bohong. Dan kita sudah jelaskan man lam yada quur falaisa lillahi hajatun fiada. Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta atau perbuatan dusta atau maksiat, Allah enggak butuh dengan puasanya saat dia meninggalkan makan dan minumnya. Dan Al Imam Ibnu Abdul Bar menjelaskan maksudnya sah tapi amalannya enggak diterima sama Allah."
Cara terbaik meninggalkan yang haram adalah dengan mengatakan aku sedang berpuasa, dan itu bentuk pengingat bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Apabila ada seseorang yang mencelanya auqatalahu atau ngajak dia berperang, berantem, ribut, apa respon orang yang berpuasa?
Respon orang yang berpuasa apa? Tunggu azan magrib." Hah? Respon orang berpuasa, antum diajak ribut sama orang, apa responnya? Inni shaim. aku sedang puasa. aku sedang puasa. Apa maknanya?
Dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah. Nabi sebutkan inni shaim. inni shaim dua kali. Saya lagi puasa. Saya lagi puasa. Maknanya yang pertama ditujukan kepada orang yang mencela atau mengajak berantem kita.
Kita diajak ribut, kita katakan, "Mohon maaf, saya lagi puasa." Agar apa? Agar kondisi lebih kondusif.
Yang kedua, ini menarik sekali, kata Imam Nawawi, inni shaim yang kedua itu ternyata juga harus kita tujukan ke diri kita. Jadi ini bicara sama diri sendiri. Inni shoim. Eh, dengar loh ya. Kita nih lagi puasa. Jangan lupa nih kita lagi puasa. Jangan terpancing. Jangan terpancing. Jangan terprovokasi.
Cara menanggulangi maksiat yang paling ampuh adalah dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan mengingatkan diri ini bahwa kita sedang beribadah. ni paling ampuh. Dan kalau orang sudah bisa menjalankan hadis ini, maka dia akan lebih enak, dia akan lebih mudah meninggalkan dosa atau maksiat di kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kalau dia bisa nahan dirinya saat dia diprovokasi, apalagi kalau enggak diprovokasi."
Selalu ingatkan diri kita agar kita tidak lalai, karena maksiat terjadi saat nafsu bergabung dengan lalai.
Jadi maksiat kan kata Alhafiz Ibnu Rajab ketika nafsu bergabung dengan lalai. Nah, ini tadi kita nafsu nih biar enggak lalai apa bicara sama diri kita. Eh, ingat loh Anda tuh lagi ibadah, kita lagi puasa. Ini puasa ibadah yang mulia. Ini poinnya. Ingetin kita mau maksiat
ingat. Ajak bicara jangan sampai lalai. Itu poinnya.
Selain itu Ustadz juga mengingatkan bahwa sebagaimana amal baik akan mengundang amal baik lainnya, begitu juga dosa bisa mengundang dosa lainnya. Salah satu hukuman dosa adalah melakukan dosa berikutnya. Salah satu cara kita meninggalkan hal yang haram adalah dengan melaksanakan ibadah, sebagaimana dalam surat Al Furqan disebutkan mereka yang bisa meninggalkan yang haram, adalah karena sujud mereka di malam hari.
"Kata al Imam Ibnu Rajab secara makna kuncinya ada di ayat berikutnya. Apa ayat berikutnya? Walladzina yabituna lirabbihim sujjadaw waqiyama. Yaitu orang-orang yang di waktu malam. yabitun. Mereka menghabiskan malam-malam mereka dengan sujud dan qiyamulail kepada Allah subhanahu wa taala.
Kita tuh. Kata para ulama, kemampuan kita mengatakan tidak pada maksiat. Kemampuan kita menceraikan antara nafsu dan kelalaian itu tergantung ibadah kita di waktu malam atau salah satu faktornya ibadah kita di waktu malam. Coba di antum introspeksi. Kalau waktu malam antum kuat isinya ibadah zikir, itu siang tuh akan gampang ngerem. Ibadah yang bisa ngerem itu kelalaian dan nafsu itu ibadah."
Amalan Spesial Ramadhan #1: Perbanyak Dzikir
Selanjutnya, setelah prioritas amal wajib (amal hati+zahir) dan meninggalkan yang haram, mari perbanyak dzikir.
Sebagaimana disabdakan Nabi sallallahu 'alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Ibnu Mubarak. Hadis ini dikuatkan juga oleh Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin. Lalu Ibnu Qayyim juga mensitir hadis ini. Nabi pernah ditanya, "Faayusimina a'domu ajrob?" Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya? Dalam meriwayat, siapakah ahli puasa terbaik? Yang terbaik siapa nih? Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Aksaruhum lillahi zikro. Orang terbaik di puasa Ramadan kali ini kata Nabi, yang paling banyak berzikir di antara mereka. yang paling banyak berzikir. dan ini membuka harapan.
Hadits ini membuka harapan bagi siapapun. Bukan yang hafalan qurannya paling banyak, bukan yang sedekah hartanya paling banyak, tapi dzikir, dzikir, ibadah yang bisa dilakukan oleh siapapun.
Nabi bilang, "Yang paling banyak berzikir, siapa di antara tu enggak bisa banyak zikir?" Siapa? Semua bisa. Cuman mau apa enggak? Cuman mau apa enggak? Semua bisa.
Makanya di puasa jangan miss zikir pagi, zikir petang, zikir keluar rumah. Zikir bawa motor zikir. Ini gadget istirahatin dulu. Kecuali isinya mushaf atau Al-Qur'an atau zikir pagi petang.
Ustadz juga mengingatkan kita untuk tidak lupa memperbanyak istighfar di waktu sahur. Juga mengingatkan kita agar dzikir kita tidak hanya di lisan.
"Dan ingat zikir yang terbaik bukan hanya dengan lisan, tapi diresapi dengan hati. Lalu diucap, direnungkan, dan dituangkan dengan amalan sehari-hari. Yang membuat zikir-zikir kita enggak ada kekuatannya, karena hanya dengan lisan."
"Innallaha laqbal duaan minqbin gofilillahi. Allah enggak terima tuh. Apabila muncul dari hati yang lalai dan enggak serius, istigfarlah kepada Allah. Zikir kepada Allah."
Amalan Spesial Ramadhan #2: Al Quran
Ini bulan Al Quran, mari perbanyak berinteraksi dengan Al Quran, dari mulai membacanya, tadabbur, menghafal, mempelajari tafsir ayat-ayatnya, dll.
"Icon-nya Ramadan itu Al-Qur'an. Azzuhri mengatakan, Al Imam Azzuhri tilawatul Quran wa'amut thaam. Ramadan itu icon-nya adalah membaca Al-Qur'an dan memberikan makan kepada sesama. Membaca Al-Qur'an. Di bulan inilah Al-Qur'an diturunkan. Syahru Ramadan alladzi unzila fihil Quran. Bulan ini nih Al-Qur'an diturunkan. Albaqarah 185. Dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat kita pada hari kiamat. Dan pahalanya luar biasa.
Dalam hadis Tirmidzi apa kata Nabi? Man qaraa harfan min kitabillah falahu bihi hasanah. Barang siapa yang membaca satu huruf di dalam Al-Qur'an dia dapat pahala. Wal asar wal hasanatu biasri amsaliha. Dan satu pahala. dikalikan 10. La akul alif lam mim harf. Aku enggak pernah mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf.
Bayangkan, 30! Modal antum alif lam mim 30 pahala. Amalan lain, amalan lain kalau antum kerjakan, antum dapat satu pahala dikali 10. 10. Tapi membaca Al-Qur'an per huruf dihitung sama Allah Subhanahu wa taala. Per huruf."
Amalan Spesial Ramadhan #3: Infaq dan Sedekah
Hadisnya jelas. Kanan nabiu ajwadanas. Hadis Bukhari. Nabi itu orang yang paling dermawan. Wana ajwada ma yakunu fi Ramadan. Dan puncak kedermawan Nabi itu di bulan suci Ramadan. Hadirin, Imam Syafi'i mengatakan dari hadis di atas, kita diminta untuk menambah infak kita di Ramadan. Kita diminta untuk menambah sedekah kita di Ramadan.
Infaq dan sedekah akan membangun mental kita agar tidak mudah meminta-minta. Ditekankan juga untuk memberi makan untuk berbuka, karena mendapatkan pahala orang yang berpuasa.
***
Penutup, ngutip dari kajian di atas,
"Hari-hari ini adalah hari-hari start kita berpuasa pada bulan ini. Manfaatkan start kita dengan baik. Rebut pol position agar kita bisa menutup garis finish dengan ketakwaan."
Wallahua'lam bishowab.







