Bismillah.
#fiksiku
*warning* messy writing, mix language, free writing without editing
Aku hanya ingin menangis dengan tenang sendiri, maka aku mulai mencari-cari tempat yang kiranya aman. Dan aku memilih untuk duduk di tangga itu, sudah hampir pukul 11, di sini lebih baik daripada di koridor itu, ada banyak orang lalu lalang. Sengaja kutelungkupkan wajahku di atas kedua tanganku yang terletak di atas lututku, it was a perfect position to hide a cry. Aku kira aku menangis tanpa suara. Aku hanya merasakan emosi yang meluap dan mata yang tidak berhenti mengalirkan air, kubiarkan alirannya jatuh dan membasahi masker putih yang kupakai. Ada rasa sakit di dada saat otakku memutar memori beberapa menit yang lalu, kejadian yang menjadi trigger tangisku, lalu memori lain di masa lalu, rasa sakit yang sama atas rasa kecewa. Aku pikir, aku tidak pernah meminta banyak, tapi sikapnya melukaiku. Lalu mungkin karena tangki emosi negatif yang sering kutekan dan kusimpan rapat-rapat sudah penuh, mungkin karena itu, seperti bendungan yang tak lagi mampu menahan debit air yang yang sudah terlalu tinggi.
I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. Sentuhan halus itu membuatku menghadapkan kepalaku ke arah tangan tersebut. Aku ingat beberapa detik sebelum tangannya menyentuhku, aku sedang bermonolog dengan diri, berusaha menjinakkan emosi yang menarik-narikku ke arah yang salah. Aku sedang mengingatkan diriku pada kisah Nabi Ya'qub 'alaihi salam dan quotes dari beliau yang banyak orang tahu. Aku lupa apakah itu sebuah doa, atau itu kalimatnya yang dikatakan kepada anak-anaknya yang lain saat mereka protes akan kesedihan yang tampak pada raut wajahnya, pada sikapnya, seolah kehilangan Nabi Yusuf 'alaihi salam masih menimbulkan luka yang mengaga di hatinya. Ya, betul kalimat itu...
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
Aku baru saja menggaungkan kalimat itu untuk mengingatkan diriku, bahwa tujuanku di sini bukan untuk tenggelam dalam emosi negatif yang meledak di saat itu. Bukankah aku pergi ke sana, untuk mendekatkan diri padaNya, dan meminta ampunan-Nya? Baru saja aku hendak belajar dari ucapan Nabi Ya'qub, lalu Allah hadirkan pilihan lain, seolah Allah ingin memberitahuku, kuberi kau kesempatan untuk bercerita pada orang lain, jika kau mau. Bahwa tidak semua orang bisa seperti Nabi Ya'qub yang kesabarannya begitu indah. Tentu saja, aku tahu, masalahku begitu kecil dan remeh jika dibandingkan kisah beliau. Anyway... ku tengadahkan kepalaku. Mungkin mataku merah dan masih berair, tapi pandanganku jernih, seorang akhwat dengan kerudung hitam dan wajah manis menyapaku, ia mungkin melihatku saat berpindah dari koridor ke tangga, mungkin melihatku menelungkupkan kepalaku dan menebak dengan benar bahwa aku sedang menangis dan sedih. Mungkin tangisanku cukup keras, dan itu mengganggu hatinya yang penuh dengan empati.
Ia mulai bertanya kenapa aku menangis, bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Aku meminta tissue padanya, dan beberapa menit kemudian dia mondar-mandir mencari tissue dan tidak menemukannya, lalu duduk di sampingku, mencoba membuatku bercerita tentang alasanku duduk di tangga itu dan menangis. Ia mengatakan ia hanya orang asing yang mungkin tidak bertemu lagi. Aku dalam hati tertawa, what an amazing scenario, cause I usually feel more comfortable open up to strangers. But not this time. Jujur, aku sangat ingin mengusirnya, jika saja ada pintu, rasanya ingin segera menutup pintu dan menyuruhnya pergi. But her voice is soft, and she looks concern and sincere. Jadi aku hanya diam dan membiarkan otakku berdebat sendiri bagaimana cara agar akhawat tersebut bisa memberiku waktu dan ruang untuk sendiri.
Dia sepertinya paham ada dinding tinggi tak terlihat diantara kami. Meski dia berusaha meyakinkanku bahwa aku aman untuk bercerita. Bahwa perempuan mungkin tidak butuh solusi, tapi bercerita bisa membantunya untuk merasa lebih baik. Yang tentu kujawab bahwa aku lebih nyaman menulis daripada bercerita. Ia juga mungkin berpikir banyak saat aku hanya memilih diam. Tapi ia tidak pergi, dan aku tidak enak hati untuk mengusirnya. Apalagi saat ia berkata, bahwa barangkali sekedar keberadaan orang lain bisa membantuku lebih reda dan tenang. She caresing my knees as she told me other sentence. Kalimat-kalimat baik seperti, jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Atau saat ia bercerita tentang seorang anak SMP yang terlihat cemas menunggu dijemput ayahnya, hpnya tertinggal, dan ia terlihat cemas. Kecerdasan emosi dan empatinya yang tinggi membuat akhwat tersebut menangkap sinyal cemas dari remaja putri tersebut, dan ia mengajak remaja putri tersebut mengobrol sembari menemaninya sampai anak SMP tersebut dijemput. Mendengar ceritanya mengingatkanku pada kejadian di masa lalu, saat aku SMP, dan cemas menangis karena mengira salah naik angkot, hanya karena angkotnya lewat jalan yang jauh. What a silly incident but that makes me could relate to her stories.
Kuungkapkan bahwa aku bisa relate, dan membayangkan rasa takut yang dirasakan anak SMP tersebut. Talking about other people story is always easy than talking about ourself right, especially for introvert. Tapi akhwat tersebut belum menyerah mengetuk pintuku, ia bertanya apakah aku datang sendiri atau sama teman. Aku bertanya balik sudah berapa hari ia di sini. Ah, she ask my name and I ask her name too. I actually don't trust her, I think Aminah is her fake name. But I tell her my real name, probably she didn't hear it or remember it. Ya, begitulah sikap skeptisku. Meski aku tahu niatnya baik, aku masih sangat ingin mengusirnya. Jadi akhirnya kuyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja, aku hanya perlu waktu untuk mengalirkan emosiku, aku tidak perlu tissue, aku bisa cuci muka dan membuang sisa air mata dan cairan lain di wastafel. Aku ucapkan aku juga akan naik ke atas menyusulnya. Dan akhirnya ia pergi, sembari mengatakan bahwa jika ingin bertemu lagi dan ingin bercerita, ia sangat terbuka.
***
I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. What a beautiful scenario right? Entah hikmah apa yang ingin Allah ajarkan padaku. Setelah kejadian itu, aku bertemu lagi dengannya di lantai atas. Ia seperti yang ia katakan, baru ke atas di akhir malam, dan benar, aku sedang duduk bersandar di tiang terdekat dengan tangga, saat ia menaikinya. Aku tersenyum melihatnya, lalu kembali melanjutkan aktivitasku dengan hp di hadapanku. Ia duduk sejenak di sampingku bertanya apakah aku sudah lebih tenang. Kujawab ya, atau hanya dengan anggukan, aku lupa. Tapi aku ingat aku kemudian fokus kembali ke hpku dan aktivitasku, membuat ia merasa awkward, entah ada yang ingin ia katakan lagi atau... ia hanya ingin pamit tapi bingung cari timingnya. Ia sempat bertanya mengapa aku belum tidur, kukatakan aku akan tidur jam 12. Lalu ia pergi dan mencari tempat tidur.
It's 12, and most of the people are asleep, except some who are still busy, I should sleep. So I search for a good place to sleep. Just when I was arranging my bag, my jacket, the emphatic girl come again. She told me about affirmation.
"Pernah ngelakuin afirmasi gak?" Aku jawab ya. Lalu ia bertanya seperti apa? My mind goes blank, sunyi beberapa detik. All iz well, semua akan baik-baik saja, that kind. Jawabku akhirnya. Lalu ia mengajarkanku kalimat afirmasi lain, aku mampu, aku bisa, aku cantik. Kalimat afirmasi yang bisa membantu kita mencintai diri sendiri. Dia mengajakku mencoba melakukannya, tapi aku memilih untuk diam, I refused found her suggestion in my head, probably also with my body language. She's really concern about me I guess. But I really can't say that kind of affirmation out loud. Though most of the people is asleep but some of them are still awake, busy with their own things to do. Aku tidak seperti akhawat penuh empati tersebut, aku bukan tipe yang mengucapkan dengan keras dan berulang kalimat afirmasi, I do said it, in a written way. The silence is loud and she chose to go again, as I bid goodbye and thank you for her.
***
I just want to cry out alone but a hand touch my shoulder. I wasn't kind to her that day. Tapi saat menuliskan ini, aku bisa melihat dari sudut pandang lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang mungkin pernah tenggelam dalam kesedihan, yang melalui proses healingnya dengan mengucapkan kata-kata afirmasi. Ia tahu persis bahwa ia bersyukur jika saat sedih ada yang menemaninya, atau ada teman/orang asing yang bisa menjadi tempat ia menuangkan emosi dan pikiran yang berkelindan dan membuatnya sedih. Aku melihatnya kini sudah keluar dari masa-masa itu, dan kini ia selalu mengasah awarenessnya pada sekitar, karena ia tahu betapa menyiksanya perasaan sendiri saat awal kesedihan, ketakutan, kecemasan melingkupi hati dan pikiran seseorang.
Pagi itu, aku terakhir melihatnya duduk di bangku luar masjid sembari mendengarkan kajian ba'da shubuh. Aku duduk di sebrangnya, di lantai bersandar pada tembok menghadap ke pelataran luar masjid. Aku teringat ucapan salam terdengar dari pengisi kajian, lalu mataku terkantuk, entah berapa lama, tapi aku terbangun, dan kulihat kebelakang orang-orang sedang sibuk shalat syuruq, di bangku tempat ia duduk, sudah tidak ada dirinya. Entah sudah pergi, atau ia masuk ke dalam untuk shalat. Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan keluar, memandang langit dan awan berbaris-baris yang menghias pagi itu.
The End.






