Kesempatan yang Sering Disia-siakan oleh Sebagian Penuntut Ilmu
Bismillah.
Nukil Buku "Adab dan Kiat dalam Menggapai Ilmu" - Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhan,
***
1. Ziarah (Saling Mengunjungi)
Ada dua kubu, yang berlebih-lebihan dan yang menyepelekan.
Sering berkunjung dan berkumpul, merupakan tali pengikat dan penguat rasa kasih sayang dan persaudaraan antar sesama. Juga dapat menambah keimanan seorang hamba, ketia ia dekat dengan saudara-saudaranya.
Tapi, saat perkumpulan tersebut tidak dimanfaatkan untuk saling menambah ilmu atau saling menasihati, justru kewajiban kita adalah meninggalkannya.
Ada masa, saat lebih baik menggunakan waktu untuk membaca ketimbang berkumpul/saling mengunjungi. Terutama saat banyak berkunjung menyita waktu sampai buku-buku di rak kita tidak tersentuh apalagi dibaca.
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam buku Al-Fawaid berkata, "Berkumpul bersama teman itu terbagi menjadi dua:
Pertama; berkumpul karena adanya kecocokan jiwa, dan hanya untuk menghabiskan waktu saja. Maka yang ini, bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Minimal perkumpulan semacam itu dapat merusak hati, dan hanya menyia-nyiakan waktu.
Kedua; berkumpul dalam rangka saling bekerjasama, berusaha menuju keberhasilan hidup, untuk saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran. Ini termasuk hal yang mulia dan sangat bermanfaat.
Tapi tetap ada bahayanya; [1] terjadi saling basa-basi, [2] berbicara dan berkumpul yang melebihi kebutuhan, [3] hal tersebut bisa menjadi kebiasaan yang melalaikan dari tujuan utama."
2. Sibuk dengan Urusan yang Tidak Terlalu Penting
Ada sebagian orang yang merasa jika dapat membaca satu jam saja, dia sudah mendapatkan manfaat darinya, sehingga dia pun akan menggunakan sisa waktunya yang banyak untuk bersantai-santai saja.
Bukan berarti bersantai-santai itu tidak perlu. Santai itu perlu, tapi ada batasnya.
Ada sebagian orang, jika membaca satu jam sudah merasa puas, atau apabila sudah hafal satu atau dua ayat, satu atau dua hadits dalam satu hari, ia merasa sudah cukup. Ia beralasan, jika menghafal banyak khawatir akan memberatkan diri. Benar, manusia itu memang berbeda-beda kemampuannya. Tetapi jika Anda memiliki kemampuan lebih, janganlah Anda menghalangi diri Anda untuk melakukan sesuatu yang baik, dan memanfaatkan waktu. Sungguh umur kita sangat pendek dan ilmu itu sangat luas.
Termasuk di antara bisikan setan adalah apabila seseorang merasa puas dengan hanya mendapatkan sedikit pengetahuan dari apa yang ia baca. Setan masuk kepadanya dan membisikinya dengan berkata, "Kamu lebih baik daripada orang lain; karenanya bersantai-santailah." Akibatnya waktu yang ia gunakan untuk santai lebih banyak daripada waktu yang ia manfaatkan.
Hendaklah memerhatikan buku-buku yang dimiliki, ketahuilah bahwa Allah ta'ala akan meminta pertanggung jawaban atas buku-buku tersebut. Ia akan mencelakakan dirinya jika menyia-nyiakannya.
Jika kita mau mengatur dan menjaga waktu dari berbagai kesibukan, agar selalu bermanfaat lalu mengatur waktu untuk membaca dan menghafal, niscaya kita akan mendapatkan kelezatan dan manisnya ilmu. Kita akan merasa rindu untuk banyak membaca dan membahas tentang ilmu.
Asy-Syafi'i pernah ditanya, "Bagaimana kesungguhan Anda terhadap ilmu?" Ia menjawab, "Ibarat seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang, dimana ia tidak memiliki harta kecuali anak tersebut." (Adab Asy Syafi'I wa Munaqabah, Karya: Ar-Razi)
3. Kaset, CD, atau Rekaman Kajian
Demi Allah, rekaman (baik baik berupa tilawah, kajian, dan yang lainnya yang bermanfaat) merupakan salah satu bentuk kenikmatan dari Allah Ta'ala. Tapi kebanyakan kita menyia-nyiakannya. Penyebabnya dalah, ketidakpedulian kita dalam mengatur waktu.
Ulama Salaf mengatakan, "Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi". Tapi di zaman sekarang, teknologi makin maju dan berkembang, ilmu itu dapat dengan sendirinya, bukan didatangi. Rekaman digital, bisa didownload secara bebas di internet, semua itu bisa membantu seorang penuntut ilmu untuk belajar.
Jika seseorang mau mendengarkan rekaman (kajian/tilawah/podcast) dengan seksama, dan dia mengatur waktu untuk mendengarkannya; pada saat dalam mobil, saat bekerja, atau saat di rumah, maka tentu dengan demikian ia kan mendapatkan manfaat yang sangat banyak.
4. Waktu Antara Adzan dan Iqamah
Siapapun yang menggunakan waktu antara adzan dan iqamah untuk membaca Al-Qur`an baik itu untuk muraja'ah (mengulang-ulang hafalan) ayat yang telah dihafal, atau untuk menghafal ayat-ayat yang belum dihafal, niscaya ia akan dapat menghafal banyak ayat dari Al-Qur`an.
Waktu senggang di antara adzan dan iqamah ini banyak sekali dialalaikan oleh saudara-saudara kita. Hal itu tidak lain karena keterlambatan mereka berangkat ke masjid.
Dengan demikian, ia tidak memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah, tidak mendapatkan pahala dari shalawatnya para malaikat kepadanya, ia juga tidak mendapatkan pahala shalat sunnah dan pahala shalat di shaf pertama.
Seandainya kita menggunakan waktu antara adzan dan iqamah ini, bukan saja karena berharganya waktu tersebut, tetapi juga untuk mendapatkan pahala bersegera menuju shalat, maka kita akan mendapatkan manfaat yang sangat banyak, di antaranya ketenangan jiwa, ketenangan jasmani, dan pastinya bisa mendapatkan hal-hal yang bermanfaat lainnya/
5. Membaca Secara Bebas
"Saya sangat heran dengan teman-teman yang selalu berada di dalam rumah. Tapi, apabila Anda tanya tentang apa yang ia kerjakan. Anda akan mendapatinya sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermanfaat. Yang lebih menyedihkan lagi, jika seseorang membaca koran atau majalah, maka ia akan mengulang-ulangnya sampai dua atau tiga kali. Namun ketika membaca buku ia merasa malas. Atau apabila ia berada di sebuah perkumpulan, di mana perkumpulan itu dipenuhi obrolan dan pembicaraan tentang gosip-gosip, kemudian ada yang meminta diambilkan buku untuk dibacakan, maka ia merasa kesal. Siapa pun yang merasa hal ini terdapat dalam jiwanya, hendaknya ia menyadari bahwa, itu adalah dosa, atau perbuatan tersebut akan ditambahkan pada jumlah dosa yang telah ia lakukan. Itu juga merupakan musibah."
Kapan pun Anda mampu mengatur waktu untuk membaca secara bebas, maka lakukanlah. Khususkanlah satu atau dua kitab tertentu yang ingin Anda baca, atau bahaslah suatu masalah dan menulislah.
Isi waktu senggang kita dengan membaca, menulis, mengulang-ulang pelajaran, dan semisalnya.
Wallahua'lam.












