Nggak Usah Ngajarin Sabar sama Warga +62
Bismillah.
Singkat cerita pekan kemarin (13/9) aku hadir di komunitas baca buku. Karena yang hadir lumayan banyak, jadi dibagi dua kelompok, trus tiap orang sharing tentang buku yang sudah selesai dibacanya. Aku cerita tentang novel Ranah 3 Warna, yang akhirnya selesai aku baca juga. Dan salah satu yang membuat novel tersebut bersambung dengan novel sequel pertamanya (Negeri 5 Menara), adalah motto yang dipegang oleh tokoh utamanya. Kalau di Negeri 5 Menara itu, "man jadda wa jadda", di Ranah 3 Warna adalah "man shabara zhafira". Man jadda wa jadda, siapa yang sungguh-sungguh dia yang sukses. Man shabara zhafira, siapa yang sabar dia yang beruntung.
Lalu ada sesi diskusi bebas. Beberapa yang hadir dibuat "risih" dengan kata nasihat sabar. Lalu dari yang aku tangkap seolah-oleh ada protes, "nggak usah ngajarin sabar sama warga 62". Aku jujur aja memang nggak terlalu memperhatikan kondisi politik sosial yang sedang terjadi. Tapi aku paham, bahwa ada gejolak amarah dan kegeraman dari masyarakat akan ketidakadilan dan kezaliman yang terjadi di negara kita tercinta. Dan kata "sabar", seolah-olah adalah bentuk cara untuk membungkam suara warga +62 dari menyuarakan tuntutan akan semua ketidakadilan dan kezaliman yang terjadi.
Di satu sisi, aku paham darimana amarah dan kalimat itu didasarkan. We've been through a lot as a citizen of +62. Tapi sisi hatiku yang lain juga ingin protes. Jangan sampai karena semua hal buruk yang terjadi pada kita, membuat kita jadi anti dengan nasihat untuk sabar.
Karena yang mereka tidak suka itu, bukan arti sabar yang sebenarnya. Bukan, saat diminta untuk sabar. Kita tidak diminta untuk diam, pasrah dan menyerah dengan semua hal-hal buruk yang terjadi. Itu salah kaprah. Bukan sabar yang seperti itu. Yang seperti itu bukan sabar tapi itu artinya menyerah pada keadaan. Sabar yang sebenarnya bukan hanya diam dan menerima, lantas membiarkan orang lain menzalimi diri kita. Sabar yang sebenarnya seharusnya membuat kita tetap bergerak dan bersuara, mengatakan hal-hal yang benar, tanpa dibuat patah dan menyerah meski kondisinya sudah begitu "gelap".
Menulis ini mengingatkanku akan Bilal bin Rabbah, yang dalam kesabarannya, saat ia masih menjadi budak dan disiksa, dizalimi karena kebencian pemiliknya saat itu pada islam, dan sangat ingin agar Bilal keluar dari islam. Kesabaran Bilal, yang saat itu mungkin belum banyak bisa melakukan apapun, adalah bukan diam lalu pasrah dengan kelaliman yang menyiksa fisiknya. Tapi kesabarannya lah, yang membuat lisannya tetap lantang menyatakan bahwa meski fisiknya "terbelenggu", hati dan jiwanya masih merdeka. Ia secara fisik memang menjadi budak dari tuan yang zalim, dan jiwanya merdeka karena hanya menghamba kepada Allah, Allahu ahad. Maka dalam panas terik dan batu yang meletakkan di tubuhnya, lisannya masih lantang berucap, "Ahadun ahad!"
***
Jangan sampai semua hal buruk yang terjadi di negeri kita tercinta. Semua hal-hal buruk yang dilakukan orang-orang zalim kepada rakyat kecil.. jangan sampai itu membutakan kita dari nasihat sabar yang sebenarnya. Bukan, bukan sabar yang dibelokkan maknanya menjadi keputusasaan dan diam menerima tanpa ada gerak untuk melawan kezaliman. Tapi sabar yang benar, sabar yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam dan para sahabatnya.
Wallahua'lam.
***
PS:
PR untukku, biar keluar dari bubble Hellotalk, dan melihat lebih banyak dari berita dan tulisan-tulisan tentang apa saja yang terjadi di negri kita yang tercinta, juga yang terjadi di dunia. Please, don't let technology and social media blind you from the truth that is happening right now.








