Follow Me

Sunday, October 21, 2018

Berhenti Diam (2)

October 21, 2018 0 Comments
Bismillah.

Qadarullah, atas izinnya aku beranikan diri untuk berhenti diam. Ragu aku bersuara, awalnya lirih dan terdengar menggumam. Namun satu dua hal membuatku berani bersuara lebih jelas. Aku masih sama, masih belum bisa menjadi teman yang baik. Masih sering egois dan sibuk memikirkan diri sendiri. Tapi aku berusaha berjalan, berusaha berhenti diam.

Saat berhenti diam, aku mendengar responnya. Saat mulai bersuara aku sering bertanya-tanya pada diri, apakah kalimat yang kusampaikan salah? Apakah suaraku terlalu bising dan membuatnya menutup telinga? Apakah berhenti diam adalah pilihan yang tepat?

Sesekali aku merasa sia-sia. Rasanya berhenti diam tidak mengubah apa pun, tidak berdampak, tidak berikan efek positif. Namun terlalu lama diam juga tidak membantu. Maka aku akan berusaha tetap begini. Berhenti diam dan mulai bersuara, meski sering pelan, lirih, dan dipenuhi keraguan. 

***

Di masa saat urusanku-urusanku, dan urusanmu-urusanmu, tidak mudah untuk berhenti diam. Seperti kata seseorang, yang berani 'gerak' cuma sedikit. Aku jawab, tidak mudah bersuara dan bergerak "ikut campur" urusan orang lain. Sekalipun orang tersebut adalah orang yang kita sayangi. Karena memang ada seninya, bagaimana tetap peduli dan simpati, tanpa menghakimi dan menuntut. Karena memang, sekalipun ingin bergerak dan bersuara, seringkali keinginan itu terhempas kesibukan masing-masing.

Doa memang hadiah terindah yang bisa kita berikan pada teman dan saudara kita. Tapi itu bukan satu-satunya jalan. Maka kita diminta berusaha juga. Dengan bersuara, dan bergerak mendekat. Membantu semampunya. Mengingatkan diri sembari mengingatkannya.

Allahua'lam. 


Friday, October 19, 2018

Berhenti Diam

October 19, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pada momen mana aku harus berhenti diam, dan mulai bersuara? Rasanya ingin ada di sampingnya saja, dan menjadi teman yang ia bisa cerita banyak hal, berusaha untuk menjadi sosok yang tidak mudah menghakimi. Tapi aku tahu, aku bukan teman yang baik kalau aku diam saja saat melihatnya makin jauh jatuh. Seharusnya aku bersuara, mengulurkan tangan. Meski aku sendiri sedang jatuh bangun dengan masalah sendiri.

Lebih mudah rasanya, membiarkan diri menjadi sosok yang egois dan tidak peka. Ketimbang menjadi sosok yang peduli dan membantu. Berkali-kali aku baru bersuara saat ada yang bertanya. Tidak bisakah aku berhenti diam, dan mulai aktif bersuara. Tentu suara yang perlu ia dengar bukan ceramah A-Z. Aku tahu dan yakin, ia sudah tahu. Tapi suara lembut yang bisa menjadi pengingat untuknya. Suara yang mampu menyentuh hatinya.

***

Menulis ini, aku bertanya-tanya pada diri... bagaimana mungkin aku bisa menawarkan bantuan, saat aku sendiri dalam posisi butuh bantuan untuk bangkit? Atau pemikiran ini, hanya sebuah excuse dari diri yang egois. Aku tidak tahu. 

Yang aku tahu, aku bisa segera berlari padaNya, minta bantuanNya, pun minta diberikan kekuatan atau kemampuan, agar bisa berhenti diam, dan bersuara. Bersuara yang tidak menyakitinya. 

Allahua'lam. 

Wednesday, October 17, 2018

Circle (2)

October 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

Seperti yang kutulis Circle, aku takut memulai lagi. Itu perasaan pertama yang hadir saat tahu, bahwa aku mungkin kembali ke 'tempat' itu lagi.


Perasaan selanjutnya, saat sudah melangkah, adalah perasaan heran dan tidak percaya. Disertai mengingat memori lama, saat aku pernah memutuskan untuk menjauh dan mungkin tidak akan pernah kembali. 

Kemudian yang ketiga, aku merasa bersyukur. Ada banyak nikmat lama yang kukecap kembali. Aku baru sadar betapa selama ini aku begitu jauh, dan betapa hal 'kecil' ini, hal 'biasa' ini, justru memberi dampak banyak. Seperti saat aku teringat pentingnya niat mati syahid karenanya.

Tidak setiap langkah mulus memang. Pertanyaan tentang masa lalu, perbedaan, latar belakang, yang kutakutkan di tulisan pertama, memang menjelma jadi realita. Sesekali aku terbata mengeja jawaban. Terkadang tergelincir dalam 'selokan'. Meninggalkan lecet, kotor, dan juga aroma tak sedap.

Juga perbedaan, yang makin hari makin terlihat. Aku jadi bertanya-tanya, akankah perbedaan ini suatu saat akan membuatku pergi? Lagi? Seperti dulu?

***

I still can't believe I'd be here again. After that decision in the past.

Rasanya familiar sekaligus asing. Seperti berjalan bersama, tapi menyendiri. Ada banyak pertanyaan dan prasangka yang berseliweran. Semoga bisa kufilter, agar jawabannya baik, prasangkanya pun positif. Niat memulai lagi, juga harus dijaga. Bukan karena apapun, kecuali karena ingin mendekat dan meraih ridho-Nya.

Allahua'lam. 

Monday, October 15, 2018

Contagious

October 15, 2018 0 Comments
Bismillah.


Salah satu alasan mengapa orang-orang sering tidak mau membagi kesedihan atau cerita tentanng luka yang membekas di hatinya, selain karena enggan dilihat lemah, juga karena ini, contagious. Takut, jika kesedihannya menular pada orang-orang yang dipilih jadi pendengarnya. Takut, kalau ternyata lukanya yang tidak seberapa, membuat orang lain teringat luka yang lebih parah milik orang tersebut. 

***

Seperti sebuah senyum bisa menjadi sedekah dan berantai, menimbulkan senyum lain, begitu pula kesedihan, begitu pula luka. 

Maka tingkat tertinggi.. memang hanya menjadikan Allah sebagai tempat mengadu. Mengadu padaNya ketika kesedihan melingkupi hati, dan luka terasa begitu sakit. 

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".

Tapi tidak semua mencapai tingkatan tersebut, banyak dari kita yang masih butuh orang lain. Bercerita dan meminta bantuan orang lain, atas masalah, kesedihan atau luka, itu tidak mengapa, asalkan kita tidak bersandar dan bergantung pada manusia. *kayanya pernah nulis ini deh hehe.

Bahkan, salah satu hal yang aku pernah dengar, penting untuk tahu kapan kita butuh bantuan orang lain. Misal saat menyimpan kesedihan justru membuat kita tenggelam di dalamnya, mungkin kita butuh mendengar pendapat orang lain, bagaimana agar kesedihan tidak menyita pikiran kita seharian. Seperti saat sakitnya sudah kompleks, batuk, demam, radang, kita harus ikhtiar ke dokter. Bukan untuk mengeluhkan rasa sakit, tapi sebagai ikhtiar menyembuhkan luka tersebut. Begitu pula kesedihan, luka di hati. Ada kalanya menceritakannya, menuliskannya menjadi jalan menyembuhkannya. Agar kesedihan bisa menjelma menjadi kata, kita titipkan sejenak, agar bisa melanjutkan hari tanpa tersita kesedihan tersebut. Pun, agar kita tahu bagaimana mengatasi luka tersebut.

Kuncinya kalau bagiku, ingatkan hati, luruskan niat. Bahwa kita bercerita, kita menulis, entah itu kesedihan atau luka, bukan untuk mencari perhatian, pun bukan karena mencari tempat bersandar. Dalam perjalanannya, niat ini harus selalu diperhatikan, jangan sampai belok. Kunci keduanya bagiku, "jangan di jalan raya". Tidak perlu ada banyak telinga dan mata yang mendengar dan membaca sedikit ekspresi sedih dan cerita luka kita. Bercerita jangan ke kelompok orang, cukup ke orang yang kita percaya, yang kita pikir bisa memberikan pengingat dan nasihat penguat. Tulis di tempat sepi pengunjung, entah itu dokumen yang terkunci password, atau blog anonim.

***

Contagious. Tentu kita tidak ingin meninggalkan efek buruk pada orang lain. Kita hanya ingin memberikan kebermanfaatan meski kecil dan sedikit. Karena yang kecil dan sedikit itu, bisa bernilai besar, jika niatnya benar dan caranya juga benar.

Yang unik itu... ada beberapa tulisan, yang sekilas, kesannya merupakan bentuk kesedihan dan luka penulisnya. Tapi mungkin karena niatnya tulus, bukan untuk cari perhatian, hanya sebagai tempat mengambil hikmah, manfaatnya dirasakan yang membaca. Dan aku sebagai pembaca jadi bisa ikut memetik manfaat juga, dari kesedihan dan lukanya. 

Juga beberapa kisah Al Qur'an, tentang kesedihan dan luka, yang bisa kita ambil pelajaran darinya. Nabi Adam 'alaihisalam yang diturunkan ke bumi terpisah dari Hawa, dalam perasaan sedih menyesali kesalahannya. Nabi Ya'qub 'alaihisalam yang terpisah puluhan tahun dengan anaknya. Maryam salamun 'alaiha yang dihina kaumnya di depan mukanya, dituduh sebagai pezina, Ibu Musa yang harus menghanyutkan bayinya, Zakariya 'alaihisalam yang hingga usia senja belum dikaruniakan keturunan. Asiyah, yang hidup serumah denngan manusia zalim Fir'aun dan pasukannya.

Terakhir, jangan keliru urutannya. Tentu berdoa dan mendekat padaNya adalah langkah pertama dan utama. Menulis dan bercerita pada selainNya itu langkah kesekian. Semoga Allah memberikan kita nikmat mengadu kesedihan dan luka hanya padaNya. Semoga setiap kesedihan, luka, pun kebahagiaan dan senyum menjadi jalan kita mendekat padaNya. Aamiin.

Allahua'lam. 

Saturday, October 13, 2018

Ini Apa?

October 13, 2018 0 Comments
Bismillah.

Dua kata, pertanyaan yang akhir-akhir ini kudengar berulang. Semenjak dekat, dan sudah nyaman denganku, bocah yang belum genap 2 tahun itu setiap main bareng pasti mengulang pertanyaan tersebut.


"Ini apa?" lalu kujawab, lalu ia mencoba menirukan jawabanku, meski seringnya tidak sempurna, hanya lafal akhir saja. Sendok jadi dok, kertas, jadi tas. Kalau yang sudah familiar, biasanya bisa lengkap meniru, sapu, buku, dll.

Entah mengapa hal itu mengingatkanku akan keistimewaan manusia. Bagaimana Allah mengajarkan pada manusia nama-nama (ism). Saat malaikat ditanya, jawabannya Allah Maha Mengetahui. Saat Adam 'alaihi salam ditanya, jawabannya seperti yang telah diajarkan.

Salah satu keistimewaan manusia adalah mengenal nama-nama benda. Bisa melihat perbedaannya, dan menyebutkan namanya, setelah diajarkan tentu saja. Ilmunya dari Allah, dan kita diciptakan dengan otak yang bisa menerima ilmu tersebut. Pengetahuannya tidak harus dengan mata, bahkan kita juga diberi kemampuan untuk mengimani yang kasat mata. Keberadaan jin, perasaan cinta, benci, surga neraka, lauhul mahfuzh, dll.

Tapi meski dengan kemampuan yang dimiliki tersebut, manusia juga diberikan pilihan, untuk menggunakannya, atau justru lalai dan memilih menjadi lebih buruk dari hewan ternak. Matanya tidak digunakan untuk melihat, telinganya tidak digunakan untuk mendengar, dan hati.. tidak digunakan untuk menerima cahaya petunjuk dariNya.

***

Ini apa? Pertanyaan sederhana itu membuatku berpikir. Awalnya kita mengetahui nama benda, kemudian kita perlahan tahu fungsinya, memperhatikan elemen yang membentuknya, bahkan juga mulai mengetahui bahwa setiap benda tersusun dari atom. Selanjutnya... jika kita sudahi saja berpikir di ranah materi, mungkin pengetahuan itu akan sia-sia. Karena seseorang baru disebut berilmu, jika ilmunya membuatnya memiliki khasyah. Bukan hanya materi benda, tapi kita jadi memikirkan tentang penciptanya Yang Agung.

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Semoga Allah menjadikan setiap ilmu yang kita dapat menjadi cahaya untuk mendekat padaNya. Semakin tunduk, khusyu' padaNya. Serta dilindungi dari sifat ujub dan ria. Aamiin.

Allahua'lam.


Utak Atik Desain Lagi (2)

October 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Sejak hari itu.. qadarullah jadi beneran mainan desain lagi. Buktinya coba tengok beberapa postingan terbaru di blog ini. Ada preview desainnya kan? Ada sih yang ga ada desain, tapi ada foto/screenshoot. Yang jelas ga kosong.

Selama proses utak atik desain ini, aku jadi merasa banget perlu belajar. Belajar memilih font, jenisnya, ukurannya, spacing antar letter dan spacing antar barisnya. Belajar memilih gambar, filter mana yang bagus dipakai. Belajar juga kombinasi warna, suka ngasal dan ga paham buat palette yang baik. Belum lagi tentang white space. Banyak, pokoknya harus banyak belajar. Inget dulu pernah sedikit dapet ilmu di mata kuliah visualisasi data. Pernah di rekomendasikan text book yang bisa dibaca juga. Tapi.... belum kuat keinginan belajar via text booknya. Sementara eksperimental saja belajarnya. 

***

Utak-atik desain juga membuatku ingin mendokumentasikan hasilnya. Rasanya sayang kalau cuma berakhir di blog ini. Kepikiran buat share di fanpage fb. Tapi meragu, karena aku belum siap.. sharing link blog ini.

Trus... jadi inget beberapa sosial media yang fokus di visual. Ga asal, minimal ada ciri khas, semacam logo, atau template desain yang standar. Beda denganku, yang seenaknya saja. Ga ada logo, ukuran desain beda-beda. Font juga. Warna juga.

***


Rasanya ada banyak yang bisa dikerjakan, dan banyak juga distraksi yang membuat lupa hal yang seharusnya dikerjakan. Hampir selalu begitu, merugi.

Banyak doa, dan usaha, agar ga rugi. Waktu yang terus mengalir ini, semoga diisi dengan keberkahan. Aamiin.

Allahua'lam.


Friday, October 12, 2018

Getting Far Away

October 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi
"I feel like I'm getting far away. From you."
Sebuah kertas hvs merah muda yang terselip di pintu kamar menarik mataku. Kutengok kanan kiri, tidak ada orang, pelan aku berjongkok dan menariknya keluar. Kertas berukuran hvs tersebit terlipat dua, kubuka dan kutemukan kalimat tersebut. Tulisan tangan, agak keriting, namun masih terbaca dengan jelas.

Aku hendak membaca kalimat berikutnya, namun suara langkah dan obrolan dua atau tiga orang teman kosku membuatku menutupnya lipatannya lagi. Aku buru-buru mencari kunci dan membuka pintu kamarku yang terletak persis disebrang pintu kertas merah muda yang kupungut tadi.

Aku masih berdiri dibalik pintu, mendengarkan suara langkah dan berusaha mengenali siapa saja yang lewat. Setelah suasana kembali sepi, aku menghela nafas lega. Pertama, karena tidak ada yang melihatku mengambil kertas tersebut. Dan kedua, karena tidak ada suara Windy. Aku masih punya waktu untuk membaca kalimat berikutnya, sebelum kukembalikan kertas merah muda ini pada yang berhak.

***
"Every time I fall, every chance I lost, every step I miss, take me far far away from you. You're getting better, and I'm getting worse. You take a step closer, but I take step back, twice. So I'm wondering, will we ever get a chance to meet again? I think I just... "
Semua tulisan di sana berbahasa inggris, setiap dijeda titik, tulisannya makin keriting membuatku harus fokus supaya bisa membacanya. Yang paling aneh, akhirnya, akhir kalimatnya yang terpenggal, seolah tidak selesai. Atau sebenarnya kalimat sempurnanya ada di otak si penulis, namun ia tidak mampu atau tidak mau menuliskannya.

Lipatan kertas merah muda itu menghuni kamarku tiga hari, aku selalu lupa memberitahu Windy. Lebih tepatnya, aku takut Windy marah karena aku membaca yang tidak seharusnya kubaca. Sampai suatu hari, aku ke kamar Windy, hendak meminta kertas A4 reuse.

"Ambil aja di kerdus itu," tunjuknya mempersilahkan aku masuk. Ia sedang memakan snack kacang, sembari membaca buku tebal bersampul ungu dengan ilustrasi seorang anak kecil memakai teropong untuk melihat bintang. Aku mengambil beberapa lembar, A4 reuse, kemudian terhenti karena menemukan hvs hijau muda terlipat. Kutengok Windy yang masih fokus membaca, pelan kubuka lipatannya, sekilas kubaca satu kalimat sebelum Windy memergokiku dan aku salah tingkah.

"Windy.. sebenernya, hari Senin kemarin, aku nemu lipatan kertas hvs merah muda terselip di bawah pintu kamarmu... " ucapku jujur, akhirnya. Windy meletakkan bukunya, menghampiriku dan mengambil kertas hijau hvs yang terlipat dua.

"Ada di kamarku, sebentar ya aku ambil," aku keluar kamar Windy, dan segera menuju kamarku, meraih kertas hvs merah muda dan mengambil nafas pelan. Selintas kuingat lagi kalimat di kertas hijau yang kuintip isinya.
"I'll keep my distance, even if I can easily make it disappear."
Aku menyerahkan kertas itu, menunduk. Siap untuk diomelin, berharap Windy tidak memilih diam dan mengusirku keluar.

***

"Jadi ini bukan surat dari siapa gitu buat kamu?" tanyaku heran. Windy tertawa kecil, tangan kanannya menutupi mulutnya, matanya mengecil. Beneran ketawa, bukan pura-pura.

"Kamu kebanyakan nonton atau baca cerita romance Tri," ia tersenyum. Aku masih bengong, tidak menyangka akan begini. Tiga hari itu, aku sibuk membuat skenario kemungkinan-kemungkinan. Pun saat kulihat lipatan hvs hijau, kukira, kertas merah muda itu bukan yang pertama. 

"Kecewa lah, masa kamu ga ngenalin tulisanku sih?" Aku mendengus kesal, memberitahunya bahwa wajar aku tidak tahu tulisan tangannya. Kami bukan teman satu jurusan yang suka saling pinjam catatan. Apalagi di jaman serba ketik, sangat sulit untuk mengenali atau menghafal tulisan tangan seseorang.

"Trus ini surat buat siapa?" tanyaku, membuat Windy salah tingkah. Matanya tidak bisa menatapku, otaknya mungkin sedang berpikir bagaimana mengubah topik. Selagi Windy panik, kuambil hvs hijau yang terlipat dua.

"Pinjam ya," ucapku mengejeknya, kujulurkan lidahku kemudian aku lari ke kamar. Windy mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Aku tertawa puas, baru kemudian membukanya.

"Siapa?" tanyaku. 

***

Kata Windy, surat ini cuma untuk mengeluarkan apa yang ada di otaknya. Tidak bermaksud ditujukan pada siapapun. Tapi bukan Ratri namaku, kalau aku tidak berhasil membuat Windy bersuara. Pertanyaannya aku ganti. Bukan siapa, tapi aku ingin tahu penjelasan tulisan di kertas merah muda yang kubaca tiga hari yang lalu.

"Cuma perasaan inferior aja. Karena ia tampak begitu tinggi, dan aku begitu rendah."

"Kaya bumi dan langit?" tanyaku, 

"Ga dong, enak aja." jawaban Windy membuatku heran. Seolah ia masih punya pride dan tidak mau dikatakan kalah jauh ketimbang sosok yang seharusnya menerima surat tersebut.

"Jangan sering-sering ngebandingin diri sama orang lain, ga baik." nasihatku pada Windy. Aku kini sedikit paham mengapa ia menuliskan kalimat-kalimat itu. Sosok itu mungkin tampak lebih dekat dengan Allah, sedangkan Windy masih tertatih untuk mendekat padaNya, masih sering jatuh dan menjauh lagi denganNya.

"Kakak tingkat?" tanyaku iseng, menggoda Windy. Windy diam terpaku, mungkin itu bisa diartikan ya. Selanjutnya aku yang banyak bicara. Sok bijak, sok dewasa. Untuk hal ini, aku lebih berpengalaman. Aku juga pernah merasakan yang mirip dengan itu.

"Iman itu, ada di hati. Yang tampak tidak selalu sama dengan yang ada di hati. Ketimbang fokus pada rasa minder, mending fokus memperbaiki diri. Ga usah banyak menengok ke arahnya, ga baik."

"Aku juga tahu kok Tri. Makasih udah diingetin."

"Jangan bilang siapa-siapa ya," ucap Windy sebelum akhirnya balik ke kamar. Aku tersenyum tipis. Tangan kananku masih di belakang punggung, memegang hvs hijau yang terlipat dua.

***
I choose to stay far away, not because I'm afraid to get closer. I just don't want you to read me. Though I'm like one little book inside a library. Also.. I think I'm alone. And it's better this way. And there's some.... 
Kali ini, aku menyesal membacanya. Kenapa Windy selalu mengakhiri tulisannya dengan kalimat yang tidak selesai. Kulipat kembali kertasnya, rasa penasaran membuat otakku menebak lanjutan kalimatnya. Mungkin benar kata Windy, aku terlalu banyak membaca dan menonton kisah romance. Menit selanjutnya, aku membuat dua tiga skenario fiksi. Termasuk membayangkan sudut pandang sosok penerima surat, yang tidak kuketahui eksistensinya. 

The End.

Monday, October 8, 2018

Mendiamkan ; Hajr

October 08, 2018 0 Comments
Bismillah.

Allah merencanakan semuanya, dengan matang, untukku. Semua 'kebetulan' yang hadir di hariku, memojokkanku dan bertanya, bisakah kamu mengambil hikmahnya? Bisakah kamu mengamalkan jika ilmunya sudah kau ketahui?

***

Setelah keluar dari persembunyian (akhir tahun 2016), kemudian perlahan berusaha memetakan masalah diri dan mengambil keputusan besar (sampai akhir tahun 2017), kembali ke Purwokerto, adaptasi dengan rutinitas baru, sampai akhirnya berinteraksi lagi dengan orang selain keluarga. 

Di lingkungan baru itu, aku mengenal beberapa sosok manusia yang membuatku belajar banyak hal. Aku sering marah sendiri, curiga sendiri, sebel sendiri, terutama saat Allah memperlihatkan sisi buruk mereka. Saat itu, rasanya ingin orang-orang itu keluar saja dari hidupku, atau aku yang keluar saja dari hidup mereka, jalan pintas memang, dan kali ini aku tidak punya kuasa. Jadi pilihan selanjutnya adalah mendiamkan, sebisa mungkin menutup diri. Bukan tidak mengobrol sama sekali, komunikasi tetap jalan, tapi hanya hal yang perlu dan memaksa. Selain itu, aku sibuk sendiri dan mereka sibuk sendiri.

Sampai qadarullah, kajian Bulughul Maram di masjid dekat rumah sampai di hadits ke 24, hadits mengenai mendiamkan saudara muslim, yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Sekitar tiga atau empat pertemuan baru selesai membahas satu hadits tersebut. Selama rentang waktu itu, berbagai "drama" terjadi di rutinitas yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang yang tidak aku sukai. Ditambah, qadarullah baca buku Mizanul Muslim yang membahas tentang ukhuwah. Lengkap sudah 'kebetulan' yang Allah rancang untukku.

Pertemuan pertama, Ustadz Abdullah Zaen fokus menjelaskan kisah periwayat hadits tentang mendiamkan /hajr tersebut. Nama aslinya, bagaimana saat Rasulullah tinggal bersama beliau, sifat dan sikap baiknya, sampai akhir hayatnya, ia dikuburkan jauh dari kampung halamannya.

Pertemuan selanjutnya, dibahas tentang dua sebab mendiamkan seseorang, apakah itu karena urusan pribadi atau karena urusan agama. Mendiamkan/hajr karena urusan agama ternyata boleh lebih dari tiga hari tiga malam, seperti yang tertulis di Quran tentang Ka'ab bin Malik dan dua sahabat lain, yang didiamkan selama kurang lebih 40 hari karena tidak hadir di perang Tabuk tanpa alasan syar'i.

Tiap duduk dan mendengarkan, pikiranku pasti menyangkut pautkan dengan apanyang terjadi di keseharianku. Aku.. yang enggan ramah, berkomunikasi sekedarnya saja, karena merasa sakit melihat keburukan orang tersebut. Beberapa kali tertegur mendengar penjelasan hadits tersebut. Bahwa membenci atau memilih tidak memaafkan, bahkan sampai mendiamkan karena ego, tidak akan memberikan keuntungan apapun bagi diri kita.

Belajarlah dari Nabi Yusuf,
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang".

itu maknanya, ia sudah lupa kesalahan kakak-kakaknya.

***



Itu teorinya, prakteknya beda cerita. Saat itu, setiap aku melihat orang itu, mudah sekali rasanya menghadirkan ulang bayangan kesalahan orang lain. Lalu rasanya begitu sulit untuk memaafkan, ibarat kertas yang sudah diremas, mau dibuka lagi, dicoba dirapikan, tetap saja masih ada bekasnya. 

Lewat pengalaman dengan orang lain itu, aku jadi berkaca tentang diri. Ya, aku juga. Aku sekarang paham, mengapa beberapa orang tanpa sengaja dan tanpa niat menyakiti sering mengucapkan kesalahan yang pernah kuperbuat. Karena luka yang kutorehkan di hatinya, masih berbekas. Aku saja masih berulangkali teringat kesalahan itu, apalagi mereka, yang tersakiti karena kesalahanku.

Lalu aku jadi sedikit lebih paham lagi, bahwa memang tidak ada tempat kembali selain padaNya. Karena hanya DIA, yang bisa menutup kesalahan dan dosa kita. Terbukti, rahmatNya, nikmatNya terus mengalir, meski kita berulang jatuh dalam dosa, mencoba bertaubat, namun kembali oleng dan terjatuh lagi, kemudian mencoba bangkit lagi karena kita tahu pintuNya masih terbuka lebar-lebar, siang maupun malam.

Pun berkaca lagi, tentang ketentuannya yang adil. Bahwa kebaikan bisa menghapus keburukan. Maka setiap ada sedikit, sedikit peluang melakukan kebaikan, kita teringat, bahwa Allah tidak menutup pintu rahmatNya. Seperti wanita hina yang bertaubat, namun tidak diterima manusia manapun karena kelamnya masa lalunya. Namun seciduk air, yang ia berikan untuk anjing yang kehausan, Allah hitung balasannya dengan adil.

Kemana lagi akan berlari, jika bukan kembali padaNya?

***

Di pertemuan selanjutnya, masih bahas tentang hadits mendiamkan atau hajr. Disebutkan bahwa mendiamkan bukan satu-satunya jalan yang bisa diambil jika kita bermasalah dengan orang lain. Pun saat kita melihat kesalahan orang lain.

Cara kita bersikap terhadap orang yang memiliki kesalahan dalam agama ada dua :
_ menghajr/mendiamkan
_ mendekatinya, agar bisa mengambil hatinya dan menasihatinya
ada orang yang didiamkan semakin baik, namun ada juga yang didiamkan namun semakin buruk.
setiap orang caranya berbeda, tergantung situasi dan karakter orangnya. Ada yang karakternya keras, kalau dikerasi jadi tambah keras. 
Penjelasan itu lagi-lagi membuatku melihat ke situasi yang saat itu aku hadapi. Aku lebih memilih mendiamkan karena ego, dan lebih memilih berkeras, bukan berusaha mendekat. Salah. Aku salah.

Aku makin yakin kesalahanku, saat salah satu orang akhirnya memilih pergi dari hidupku. Sedang satu lagi, membaik karena sikap yang dipilih Ayahku pada orang tersebut benar. Mungkin ini bedanya, Ayahku sudah banyak berinteraksi dengan orang lain, lebih pandai memetakan mana yang sebaiknya didiamkan, dan mana yang perlu didekati dan diambil hatinya. Sedangkan aku lebih fokus pada luka di diriku, pada egoku, pada keengganan untuk berinteraksi.

Yang lebih telak lagi, di pertemuan tentang hadits mendiamkan, ada kalimat yang kurang lebih begini... 
Orang yang mendiamkan, apakah punya kekuatan atau tidak? Punya pengaruh atau tidak? Misal anak kecil yang mendiamkan orang dewasa, atau guru yang mendiamkan murid, bukankah berbeda efeknya?
Jadi mendiamkan atau menghajr itu ada syarat dan caranya. Tidak asal dilakukan. Harus lihat kondisi, situasi, orang yang mendiamkan dan yang didiamkan. Aku malu sendiri mengakui, bahwa benar, aku tidak memberikan efek apapun, percuma aku mendiamkan, yang rugi aku sendiri. Aku hanya anak kecil, yang sok-sokan mendiamkan, childish, ga efektif pula, jauh dari bijak. I need to learn much how to be a better muslimah. 

***

Pertemuan selanjutnya, masih membahas hadits ke 24 Kitab Bulughul Maram. Penghujung haditsnya. Bahwa yang lebih baik antara dua orang yang saling mendiamkan tersebut, adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam.

Ada tiga pendapat penjelasan mengenai teknis mengakhiri hajr/mendiamkan. Yang pertama cukup dengan salam, yang kedua tidak sekedar salam hubungannya harus kembali membaik seperti dulu, yang ketiga berbeda sesuai hubungan kekerabatan, jika bukan kerabat cukup dengan salam, jika kerabat, harus kembali membaik hubungannya seperti sebelum hajr.
Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani, menggabungkan ketiga pendapat tersebut. Ada beberapa level dalam menyelesaikan hajr, yang minimal itu mengucap salam, maksimalnya sampai kembali seperti hubungan sebelum peristiwa hajr. Dan level maksimal ini adalah untuk kerabat.
Disebutkan juga di penjelasan saat itu, batas tiga hari di hadits tersebut terkait dengan diangkatnya amal perbuatan manusia di hari senin dan kamis. 
Amal shalih bani Adam dilaporkan hari Senin dan Kamis. Pada hari Senin dan Kamis Allah akan mengampuni dosa orang-orang yang beriman selama ia tidak syirik, kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya. Kemudian dikatakan pada para malaikat, undurkan ampunan buat dua orang ini, sampai kedua orang ini mau saling baik-baikan.
Catatanku mengenai penjelaskan mendiamkan / hajr diakhiri dengan kalimat miris..
Anehnya.. ada orang yang rela dosanya tidak diampuni, karena gengsi. TT
***

Allah merencanakan semuanya, dengan matang, untukku. Semua 'kebetulan' yang hadir di hariku, memojokkanku dan bertanya, bisakah kamu mengambil hikmahnya? Bisakah kamu mengamalkan jika ilmunya sudah kau ketahui?


Saat itu, aku belum bisa mengambil hikmahnya, masih tertatih mempraktekkannya dalam amal. Saat itu, situasi dan kondisinya berbeda. Aku, cuma bisa menuliskan ini. Berharap, agar hikmah ini tidak aku lupakan. Dan jika, suatu saat aku dihadapkan pada kondisi didiamkan atau mendiamkan, aku harap, aku bisa lebih baik bersikap dan bertindak. Semoga aku bisa menjadi muslimah yang lebih baik. Yang tidak terpaku pada perasaan dan ego sendiri. Yang memandang segala hal, lewat kacamata quran dan sunnah. Rabbi habli hukmaw wa alhiqni bisholihin. Aamiin. 

Allahua'lam.

Bangkit

October 08, 2018 0 Comments
Bismillah.

Aku menulis ini, sebagai pelunas hutang, karena sabtu kemarin seharusnya submit tulisan bertema "Bangkit" di blog akardaunranting.

*disarankan skip paragraf ini*

Ada banyak excuse mengapa akhirnya ga jadi submit, semacam rentetan sebab-akibat. Tidak submit karena tulisannya belum selesai, belum selesai, karena ga dimulai. Ga ada ide? Iya salah satunya, belum menemukan frase bahasa inggris atau idiom yang nyangkut sama tema "Bangkit". Sebenernya nemu satu, tapi dalam proses menggalinya, justru menemukan alasan harus cari frase lain. Tadinya mau nulis dengan judul "chin up" pernah baca dan sembarang mengartikannya dengan kata "semangat". Sebenarnya aku tahu juga kalau chin up itu istilah lain dari pull up. Bukan, bukan itu yang buat aku urung menuliskannya. Aku cek ulang, googling, arti dari chin up, trus nemu penjelasan bahwa kata itu lebih sering digunakan untuk menyindir, konotasinya negatif. Jadi malam sabtu kemarin, aku memilih melakukan hal lain, dan mengabaikan 'kewajiban' nulis sabtulis.

***


Bangkit. Bagaimana aku bisa menulis topik ini, saat aku sendiri sedang memilih duduk dan menunda untuk bangkit? Tapi izinkan aku tetap melanjutkan menulis. Bukan untuk sabtulis, bukan untuk siapapun. Tapi untuk diri ini, yang mungkin perlu menulis dulu, agar segera sadar dan segera bangkit.

Saat mulai menulis, entah mengapa sebuah quote terlintas di otakku. Salah satu quotes yang esensinya aku hafal. Dari salah satu buku karya Salim A. Fillah. Buku Jalan Cinta Para Pejuang. Tentang definisi bersyukur.

Bahwa bersyukur itu.. mendayagunakan nikmat. Tidak merasa cukup berdiam diri. Yang duduk, bangkit berdiri. Yang berjalan, mulai berlari. Seperti itu. Bukan sekedar menerima, tapi mendayagunakan nikmat. Seperti hari ini, setelah menunda menulis dua hari, tapi Allah masih memberi nikmat nafas padaku. Bentuk syukurku atas oksigen yang Allah sediakan gratis, seharusnya bukan sekedar berucap 'alhamdulillah'. Tapi mengisi tiap detik dan menit dengan produktif. It won't be easy tho... Karena manusia umumnya merugi dalam hal ini.

***

Untuk mulai bangkit, harus terlebih dahulu menguatkan hati. Karena sungguh, meski raga kuat, jika kondisi hati sedang jatuh dan lemah lunglai, kita akan kesulitan untuk bangkit. 

Maka saat bangkit terasa begitu berat dan sulit, coba tengok kondisi hati. Mungkin ia sedang sakit, kotor serta berkarat. Beri obat pada hati kita. Lewat dzikir, doa, shalat, membaca quran, mendengarkan nasihat siraman hati. 

Setelah hati terasa lebih tenang, dan tidak lagi sesak, langkah selanjutnya ajak dirimu berbincang. Bisa lewat tulisan, dimana kau jujur pada diri, tentang hal-hal yang berjatuhan, tentang luka yang bersarang, tentang tembok tinggi di hadapan. Atau jika tidak menulis, berikan waktu dan tempat agar dirimu bisa tafakkur, dalam diam, berbincang dengan diri.

Semoga setelah itu, setelah hatimu sedikit lebih kuat, kau bisa memaksa tanganmu untuk bergerak, kakimu untuk melangkah, dan bersama, hati dan ragamu bangkit. Bangkit dari jurang gelap, bangkit dari trauma masa lalu, bangkit dari kegagalan bertubi, bangkit.. bangkit.

Sertai setiap langkah dan usaha dengan doa. Karena cuma dengan doa, diri yang lemah ini bisa ditopang kekuatan dariNya. Karena lewat doa, kita tidak bersandar pada kemampuan hati dan tubuh kita yang terbatas, tapi kita bergantung dan bersandar pada Rabb Semesta. Yang Tidak Pernah Lelah dan Tidak Pernah Tidur.

Selamat memulai bangkit, meski berkali jatuh terpuruk. Semoga Allah hadirkan orang-orang yang menemani dan mengingatkan kita untuk bangkit. Aamiin. 

Allahua'lam.

Saturday, October 6, 2018

Masjid Jami' Al Ikhlas Brongsongan

October 06, 2018 0 Comments
Bismillah.


Saat itu, sekitar 30 menit sebelum waktu shubuh. Aku sengaja masuk ke dalam masjid, ingin menjauh dari keramaian. Agak kaget, saat kutemui seorang nenek menggunakan mukena putih di shaf terdepan akhwat yang dibatasi hijab bertuliskan nama masjid tersebut. Nenek tersebut melihatku kemudian berbicara padaku. Mungkin karena usianya sudah lanjut tak dapat kutangkap dengan jelas suaranya. Ia menggunakan bahasa jawa, sedikit kutangkap sattu dua kata. Tangannya menunjuk ke pintu di belakangku. Aku mengerti, ia memberitahuku agar membuka pintu tersebut. Tadi aku memang masuk melalui pintu tengah, yang seharusnya menjadi jalur masuk ikhwan.

Setelah selesai membukanya, kulihat nenek tersebut berjalan melewatiku, ia menyalakan lampu, membuat ruang utama shalat lebih terang. Saat kembali ke tempat semulanya, ia memberitahuku, dengan suara yang masih tidak bisa kutangkap dengan sempurna. Intinya ia tahu, bahwa buku bersampul hijau ini hendak kubaca, dan ia menyalakan lampu agar terang. Sekitar lima menit selanjutnya, ibuku duduk di sampingku, pun beberapa orang lain. Shubuh masih lima belas menit lagi, belum ada tanda-tanda pengurus masjid yang hadir.

***


Pagi itu bulan sabit menghias langit. Memang sudah memasuki akhir bulan Muharram. Pertemuanku dengan seorang nenek di masjid tersebut membuatku banyak berpikir

Tentang nenek itu.. sejak kapan ia di sana? Sejak dini hari kah? Saat udara masih dingin menusuk kulit? Apakah ia tinggal sendiri? Apakah baginya, masjid yang lebih nyaman daripada berdiam sendiri di dalam rumah? Allah memanjangkan umurnya, namun fitrah penyakit tua itu terlihat jelas di dirinya. Mulai dari suaranya, bentuk tubuhnya yang kecil, tulang belakang yang miring dan sedikit bungkuk, gerakan tubuhnya yang pelan.

Pertemuanku dengan seorang nenek di masjid tersebut membuatku banyak berpikir. Tentang AyatNya, bagaimana ia menciptakan manusia, dari lemah, lalu diberikan kekuatan lalu lemah lagi. Pernah memperhatikan, bagaimana tubuh manusia, sejak lahir, kecil, besar lalu mengecil lagi? Seolah pelan-pelan titipan kekuatan dari Allah menyusut satu per satu. Bukan hanya rambut beruban, gigi yang tanggal, tapi juga otot yang menyusut dan tulang yang mengecil. Aku jadi berkaca pada diri, akankah aku menemui masa tua? Lalu aku juga teringat, bahwa bertanya tentang masa depan itu boleh, tapi jangan sampai melupakan fokus masa sekarang. Ya, masa muda ini, saat kekuatan ini masih Allah berikan, aku salurkan kemana? Otak, raga yang masih bekerja dengan baik ini... sudahkah kugunakan untuk menghamba padaNya? Jika sudah, apakah hanya di titik minimal, hanya sekedarnya?

***

Nama masjjidnya, Masjid Jami' Al Ikhlash Brongsongan, saat itu.. qadarullah Allah masih mengizinkanku shalat, dan masuk bertemu nenek tersebut. Nenek, yang menjadi awal pelajaran yang harus dipetik di perjalanan tersebut.

Semoga Allah memberkahi hidupnya, semoga nenek tersebut dapat menghadapNya kelak dalam keadaan terbaik. Aamiin. Sama seperti aku menginginkan mengakhiri usia dalam keadaan iman terbaik.

Allahua'lam. 

Thursday, October 4, 2018

Hijrah : Step By Step Mendekat Pada-NYA

October 04, 2018 0 Comments
Bismillah.

Untuk project Muharram XYouthGen.



***

Pertama, meski di project Muharram XYouthGen adalah menulis kisah hijrah pribadi, aku tidak akan menulis kisahku. Tapi aku akan share beberapa kisah hijrah orang lain yang aku tahu. Jika ada yang tanya kenapa, jawabanku karena kisah hijrahku tidak menarik, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menuliskannya.

Kedua, salah satu hashtag yang diinstruksikan oleh XYouthGen adalah hijrahtotal atau hijrah tuntas *ntar aku cek. Aku ingin menuliskan hijrah dari sudut pandang lain. Bahwa hijrah itu step by step, tidak bisa tuntas dan total sekaligus. Tanpa mengurangi makna asli dari hijrah total.

Baiklah, mari kita mulai...

***

Berawal dari teman


Aku tahu salah satu perjalanan hijrah seseorang, berawal dari temannya. Sebut saja ia Ara, saat itu ia duduk kelas 7. Ia menyukai anime, terutama komik Conan. Potongan rambutnya pendek seperti laki-laki, mengenakan kacamata. Ia terlihat pendiam, sekalinya bicara, ia bercerita tentang karakter anime yang ia sukai. Mungkin karena ia berbeda, ia jadi dijauhi teman-temannya, banyak yang tidak mau sekelompok saat ada tugas berkelompok. Konflik di kelas itu, diketahui orangtuanya, sampai akhirnya ia berpindah kelas. Satu tahun kemudian, saat ia duduk di kelas 8 ia bertemu kembali dengan salah satu temannya, teman yang ikut dijauhi karena dekat dengannya. Teman Ara tersebut yang membuat ara tertarik untuk mengenakan kerudung. Saat itu, mungkin sekedar keinginan untuk melakukan dan menyukai hal yang sama dengan temannya. Tapi saat itu, jadi pintu hijrah pertamanya. Hijrah Ara tidak berhenti di situ, ada banyak kerikil dan ujian. Ia bahkan pernah membuka kembali kerudungnya, untuk menemukan alasan yang lebih kuat. Hijrahnya mungkin tidak semulus jalan tol, tidak selalu maju, tapi bukan berarti ia berhenti.

Berawal dari kekaguman pada seseorang

Ini kisah hijrah seorang perempuan yang awal berhijrahnya karena kagum dengan kakak kelas SMA-nya. Sebut saja Daya. Daya awalnya ingin tahu, perempuan seperti apa yang menarik di mata seseorang tersebut. Ternyata yang Daya kagumi sudah lebih dulu berhijrah. Daya mulai belajar dari awal tentang kewajiban perempuan menggunakan hijab karena sosok yang ia kagumi. Pun, mulai membaca quran dan menghafalnya, karena sosok yang ia kagumi. Raasa kagum yang dihadirkan Allah di hati Daya pada sosok itu, menjadi langkah awal Daya mendekat padaNya. Dalam perjalanan hijrahnya, Daya mulai tahu, tentang niat yang menjadi syarat diterimanya amal. Ia kemudian menyibukkan diri belajar lebih banyak, memperbaiki diri tahap demi tahap. Pun saat tahu kabar bahwa sosok yang ia kagumi ternyata bukan jodohnya, rasa sakit di hatinya tidak membuatnya memperlambat langkah hijrahnya, apalagi berbalik arah.

Ujian beruntun yang membuatnya mendekat

Masalah beruntun yang menerjang hidupnya, dari bisnis orangtua yang bangkrut, dan harus dibangun lagi. Lalu teman yang menipu dan menzalimi dirinya. Belum lagi ia sempat jatuh di kubangan dosa. Setahun ia mengkonsumsi obat dari psikiater lantaran depresi dwngan berbagai ujian yang menghadang, namun obat itu tidak mendatangkan ketenangan. Sampai ia dan orangtuanya memutuskan untuk mendekat kembali pada Allah. Hijrah tersebut, sedikit demi sedikit memberikan cahaya dan membuat ia dan kedua orangtuanya memandang permasalahan lebih jernih dan tahu kemana harus melangkah. Sebut saja Tiara. Masa lalunya yang gelap membuat ia banyak tersendat dalam jalan hijrahnya. Istiqomah mengenakan kerudung masih berat, begitu pula memahami hikmah dari setiap perintah dan laranganNya. Hijrahnya mungkin terlihat sepele di mata orang yang tidak mengetahui background story Tiara. Tapi saat tahu sedikit detail kisahnya, aku tidak bisa membayangkan, perjuangannya untuk maju satu langkah dan memberanikan diri berhijrah. Perjalanan hijrahnya terdengar lebih manis, karena yang berjuang dan berusaha meniti jalan hijrah bukan hanya Tiara tapi juga ibu dan ayahnya.

***

Tiga kisah itu nyata, meski tiga nama tersebut nama buatanku. Ara, Daya dan Tiara. Ketiganya berbeda, waktunya, pemantiknya, jatuh bangunnya. Tapi ketiganya sama-sama mengingatkanku bahwa jalan hijrah itu panjang dan tidak instan. Sulit menemukan cerita hijrah yang sekaligus. Tiba-tiba saja berubah, kilat. Bahkan telur yang ingin menjadi kupu-kupu saja, harus melalui tahap demi tahapnya.

Hijrah itu pergi, dan dampaknya ada perpindahan. Hijrah menuju Allah artinya perpindahan dari buruk ke baik, dari maksiat ke amal shalih. Setiap orang yang berhijrah, seberapapun percepatannya, selama yang ia berada di jalan yang lurus, dan tidak berbalik, maka ia selamat. Tidak semua bisa berhijrah mengendarai kuda atau unta. Ada yang berjalan cepat, ada yang tertatih menyeret langkahnya. Tidak apa-apa. Selama masih di jalan yang lurus.

Tidak semua orang lahir dari keluarga yang memberikan pendidikan Islam yang baik. Tapi setiap orang Allah beri kemampuan untuk belajar, Allah berikan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan juga hati. Bicara hijrah, bukan bicara tentang siapa yang mulai melangkah duluan, bukan pula siapa yang lebih cepat bergerak. Tapi hijrah adalah tentang langkah demi langkah, yang terus maju, dan istiqomah. Jikapun suatu saat berhenti, dan hampir tersesat, kita tidak menyerah dan kembali berjalan.

Hijrah step by step tidak mengurangi makna hijrah total. Karena pasti, dalam setiap langkah hijrah, kita akan menghadapi pilihan, apakah rela meninggalkan kesenangan dan merangkul kesulitan dalam menyusuri jalan hijrah? Terus berjalan, adalah salah satu bentuk, bukti bahwa kita hijrah total.

Yang indah dari menyusuri jalan hijrah kepadaNya.. adalah.. Allah menghitung dan menghargai setiap langkah, setiap peluh, setiap air mata. Yang indah adalah.. jika kita mati dalam usaha mendekat padaNya, Allah tidak akan menyia-nyiakan upaya dan usaha kita. (':

Allahua'lam.