Reading Someone Else's Diary
Aku tidak pernah membayangkan akan membaca diary orang lain. Sebagai seseorang yang terbiasa menulis diary, aku tahu bahwa diary biasanya disimpan di tempat tersembunyi. Pun jika ada yang membaca, pasti orang terdekat. Mungkin kakak atau ibuku pernah membaca diary childish-ku semasa aku SD, atau SMP, atau bahkan SMA, saat aku menulis di buku tanpa gembok. Tapi tak bisa kupungkiri, ada kalanya otakku mengajakku berimajinasi skenario membaca diary orang lain. Dan ternyata realita jauh dari imajinasi. Atau tepatnya, mungkin karena imajinasiku terbatas pada memori sebuah novel dengan trope menemukan dan membaca diary orang lain.
Diary Minni judul novel tersebut, aku ingat membeli novel itu saat aku duduk di bangku SMP, di gedung pascalis hall, gedung yang terletak di sebelah gereja, gereja yang membuat jalan tempatku sekolah dinamakan jalan gereja. Novel tersebut menceritakan tentang seorang siswa SMA yang menemukan Diary Minni. Aku tidak ingat persis plotnya, dua hal yang kuingat adalah diary tersebut berisi banyak puisi. Salah satu puisi dari novel itu aku catat, dan bahkan pernah aku salin publish di sini. Aku juga ingat agak kecewa dengan isi ceritanya, tapi aku lupa kenapa kecewa, kemungkinan karena aku tidak menemukan happy ending. Mungkin pemeran utama novel tersebut tidak menemukan pemilik diary tersebut. Entahlah, aku sendiri tidak bisa meyakinkan diriku, karena aku tidak ingat persisnya.
Sejak itu, trope menemukan dan membaca diary orang lain sesekali melintas di kepalaku. Sebagai seseorang yang suka menulis, dan mulai mengenal menulis lewat fiksi dulu (puisi, cerpen) ketimbang non fiksi, kadang kepalaku mengajakku berimajinasi dan membangun cerita. Tapi seperti yang kusebutkan sebelumnya, imajinasiku terbatas. Entah karena dulu banyak membaca novel teenlit, skenarionya selalu tentang A menemukan diary B, A dan B beda gender, lalu.. gak ada lalu sih, biasanya menggantung saja. Terakhir kuingat menulis fiksi singkat dengan skenario membaca diary orang lain untuk komunitas Sastra Muda Indonesia. Baru-baru ini aku menyadari keberadaan fiksi pendek itu di google drive email-ku yang jarang kupakai. Judulnya "Buku Biru Itu", entah tulisan itu beneran kukumpulkan, atau hanya aku tulis dan simpan. Yang jelas saat membacanya, aku teringat lagi memori awal tahun ini, saat aku tanpa sengaja membaca semacam "diary" orang lain.
What a long and rounded prolog. Sebenarnya aku hanya ingin mendekripsikan bahwa ternyata membaca diary orang lain jauh dari apa yang bayangkan sebelumnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa ternyata begitu rasanya.
***
Awal tahun 2026, dan aku berkali-kali buka blog, ingin menulis sesuatu, ingin rekap dan eval tahun lalu, tapi aku cuma bolak-balik buka statistik dan baca beberapa tulisan lama. Saat itu aku merasa butuh motivasi menulis, jadi aku akhirnya membuka email pertama yang kubuat untuk sebuah organisasi. Aku ingat betul, sebelumnya aku daftar blogger pakai email yahoo, email pertamaku yang kubuat. Lalu saat aku membuat email organisasi, itu adalah email google pertamaku. Dan karena ternyata blogger adalah website blog buatan google, somehow, in someway, otomatis email organisasi tersebut jadi langsung terhubung dengan blogku, menggantikan email yahoo-ku. Setelah sekian lama pakai email tersebut dan memiliki begeitu banyak blogroll (blog yang aku follow), lalu aku sudah bukan anggota organisasi, aku akhirnya dengan berat hati menambahkan email pribadi google-ku ke sini. Jadi sejak itu aku sekarang kalau buka blogger selalu pakai email ini, atau email satu lagi, yang nyambung ke blog magicofrain.
Anyway, aku buka blogger lewat email tersebut, berniat cek daftar bacaan dari email tersebut. Dan dari sinilah, aku "membaca diary orang lain".
Let me change to english. Please ignore the my messy grammar and poor vocab.
I never thought I would read other people's diary. I mean it was a blog. Maybe she know that nobody visit the blog. Maybe that's why she publish the hidden "diary" she saved there. But honestly it surprised me, cause it's not a recent diary, instead it was a diary of maybe a decade ago or more. But as I know the owner, I could imagine and somehow see what beyond the writing.
The diary is not like a diary of mine. I use to write diary like a letter. Like a conversation with someone named Diary. And I usually write it like many sentence, build a story. Contrary to mine, there's only a few sentence each of the post. Maybe the writer only writes the strongest feeling of the day, the things that knotted hard in her heart and head that she need to really kick out and put it in words so that she could feel a little bit lighter.
The diary is not similiar like a diary of mine. The writer wrote name directly. Unfortunately, many names are familiar, so familiar that I could exactly remember each of faces. Thankfully, the things written about the familiar names are always a good thing. And i don't know anything about names that are not familiar. Different with that diary. My diary, ever since I presume, might be read by my mother, or my sister, or my dad, or even my brother, aa.. ever since I knew someone might as well read it, that's why I never wrote names except an alias, and it always fun for me to find an alias for anyone I want to write in my diary. If I must mention some of the memorable one, it might be "almost", "thunder". Let's just name two. Ah, "doraemon", somehow this name float on my mind. Anyway, even when I move my diary to a Ms.Word protected with password, I still do make alias for anyone. There was a time where I should look up and find, if I already make name for a particular person. And also there was a time that I make two different alias for one person, because I forget I already make one for them.
***
Balik ke tujuan utama menulis ini. Jujur aku kaget saat selesai membaca "diary" orang lain. Imajinasiku hancur, dan aku dibuat speechless. ternyata perasaannya begini ya, membaca diary orang lain. Dalam sekejap aku seolah dibawa ke "behind the scene" hidupnya. Pengetahuanku tentangnya yang sedikit, point of view-ku jadi terbuka lebar. Aku dibuat berkaca, dan bertanya-tanya pada diri. Why do Allah wants me to read this? Jujur aku merasa mengerdil karena aku merasa kurang, sangat kurang bersyukur. Pun aku jadi lebih salut padanya. Aku biasa membayangkan perjuangannya, bagaimana ia berjalan jauh dalam kondisi kaki yang sakit. Bagaimana ia berdiri tegap, saat begitu banyak badai yang menerpanya. Maybe that's what makes the writer of that diary different from me. Mungkin itu yang membuat ia lebih baik daripada aku. Itu yang membuat itu memutuskan untuk segera mencari solusi dari masalah dan tantangan dari hidupnya. Berbeda denganku, yang saat itu memilih lebih banyak berlari dan mencari jalan pintas untuk keluar dari masalah, yang seharusnya membuatku belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
I know absolutely well, that I cannot compare the writer's life with mine. Aku tahu persis bahwa ujiannya di sana, dan ujianku di sini. Sekarangpun, dia dengan segala tantangan dalam hidupnya, dan aku dengan segala tantangan dalam hidupku. Dan tiap manusia diuji dengan soal ujian yang berbeda, mata pelajaran yang berbeda. Dan diary tersebut,... kenpa bisa sampai terbaca olehku, pasti karena Allah ingin mengajarkanku sesuatu. Dan sayangnya, sampai bulan berganti, aku baru menyempatkan untuk menuliskan mencoba mengais hikmah darinya. It's not like I don't know the lesson right after I read the diary. It's just that, maybe I should write it, and it will be a little bit easier for me to implement the lesson in me.
***
Sebelum penutup, aku ingin bertanya, bagaimana rasanya membaca blog ini? Adakah terkadang seperti membaca diary-ku? Atau sekedar membaca sebagian kecil dari pemikiran, opini dan perasaanku?
Aku tahu, saat memilih menulis blog personal ini, aku akan tampak seperti buku yang terbuka. Aku pernah mengalami masa-masa itu, saat aku menangis saat tahu ada banyak orang yang membaca blog ini. Pun merasa merinding dan akhirnya memilih untuk mengganti domain, berharap bisa mengusir visitor yang tidak diinginkan. Mungkin sejak saat itu, aku sedikit lebih selektif pada tema yang ingin kutulis di sini.
Tapi tahun ini, mungkin karena aku ingin menulis lebih bebas, aku memilih untuk menulis saja yang ingin ditulis. Termasuk dua tulisan fiksi sebelum ini. Kalau dulu, aku tidak akan membiarkan fiksi bernada negatif berlama-lama di recent post. Tapi sekarang, minimal ada tulisan baru lah ya.
Izinkan kututup dengan kalimat bahasa inggris.
It was never occured to me that reading someone else diary would felt like this... how about you? Have you ever read someone else diary? How do you feel about it?
Wallahua'lam.









