Follow Me

Thursday, April 23, 2026

Buku Kesehatan Jiwa Abu Zaid al-Balkhi

April 23, 2026 0 Comments

Bismillah.


sumber foto: https://www.instagram.com/p/CpmMUWISXQc/

 

Aliran rasa membaca 37 halaman pertama buku Kesehatan Jiwa (Risalah Psikoterapi Islam Klasik) - Abu Zaid al-Balkhi (Dokter dan Ulama Abad ke-9 M), PT Qaf Media Kreativa 

 

*** 

 

Aku lupa persisnya dari mana, tapi kalau gak salah ingat dari akun instagram seorang penulis aku tahu ada buku Kesehatan Jiwa ini. Maka saat menemukan buku ini di Perpustakaan AABS, aku langsung dibuat tersenyum dan excited. Saat itu aku baru selesai menghadiri acara Uwad di AABS, aku katakan pada suami, ingin melihat perpustakaan di sana. Pertama, aku menemukannya di Perpustakaan SMP AABS Putri. Saat itu aku hanya memegangnya, berusaha konsentrasi membacanya, tapi tidak bisa. Tidak bisa karena saat itu, ada terlalu banyak orang, dan karena setelah acara Uwad, ada beberapa anak, juga para ustadzah di sana yang mengobrol sembari menunggu waktu Dzuhur.

 

Lalu waktu berlalu, dan aku berkesempatan berkunjung lagi ke Perpustakaan AABS, kali ini Perpustakaan SMA AABS Putri. 19 Desember 2025. Aku sempatkan membaca walau cuma 29 halaman.

 

Beberapa kutipan atau kalimat yang kucatatan di sesi baca pertama antara lain:

   

 
Juga ini,
 
"Cara yang benar adalah memperlakukan tubuh sebagaimana memperlakukan jiwa. Ini penting."

Manfaatnya itu makin jelas karena adanya hubungan yang tak terpisahkan antara tubuh dan jiwa. Keberadaan manusia mustahil tanpa perpaduan antara keduanya. Sikap dan tindakan manusia juga ditentukan oleh hubungan antara keduanya. Keduanya terlibat dalam berbagai aktivitas dan pengalaman seseorang, baik suka maupun duka, juga dalam penderitaan yang terjadi tiba-tiba.

Maka, ketika tubuh mengalami sakit dan diserang gejala yang berbahaya, keadaan jiwa pun terpengaruh. Sebaliknya, "penyakit jiwa akan menyebabkan penyakit jasmani." (j. 272-273) 
 
***
 
 
Sesi baca kedua dari buku ini 16 April yang lalu. Kalau sebelumnya aku bisa baca 29 halaman, kali ini aku cuma baca 7 halaman. Jujur malu mengakuinya, tapi kenyataan bahwa kemampuanku untuk duduk lama dan membaca sangat menurun dan butuh perbaikan. I really need community for this, I miss circle that keep me reading in silence for at least 30 minutes. I really should join one or make one.
 
Kalau 29 halaman sebelumnya itu lebih ke pembukaan dan pengenalan tentang sosok Abu Zaid al-Balkhi, 7 halaman berikutnya yang aku baca ini, sedikit banyak sudah mulai membahas tentang Kesehatan Jiwa meski masih ditulis dari orang ketiga.
 
Langsung aja ya, ke kutipan yang aku catat.
 
"Mungkin ia (Abu Zaid al-Balkhi) adalah dokter pertama yang membedakan dengan jelas antara gangguan mental dan gangguan psikologis; antara psikosis dan neurosis. Ia juga yang pertama mengklasifikasi gangguan emosi dengan cara yang sangat modern dan mengategorikannya dalam satu klasifikasi umum.

Model nosologinya mengklasifikasikan neurosis ke empat jenis: takut dan panik (al-khauf wa al-faza‘); kemarahan dan dendam (al-ghadhab); kesedihan dan depresi (al-huzn wa al-jaza‘); dan obsesif-kompulsif (al-waswasah).

Selanjutnya, ia menuliskan dengan sangat rinci konsep tetapi kognitif rasional dan spiritual yang dipergunakan untuk mengobati setiap gangguan yang telah ia klasifikasikan sebelumnya." 

....
 
 
Di semua bagian bukunya, al-Balkhi kerap memperbandingkan gangguan fisik dengan gangguan psikis. Ia gambarkan dengan indah bagaimana keduanya saling berinteraksi lalu memicu gangguan psikomatik. 
...
 
 
...ia menyoroti pentingnya memperhatikan perbedaan individu ketika menangani gangguan emosi dan psikosomatik yang mereka alami.
 
***
 
Kutipan terakhir, ini masih ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Oh ya, buat yang bingung kok bisa dari sudut pandang orang ketiga, jadi buku ini tuh ada beberapa bagian. Jadi bukan terjemahan dari apa yang ditulis Abu Zaid al-Balkhi. Bagian depan yang kubaca ini semacam ringkasan atau ulasan dari penerjemah bahasa inggris kalau gak salah, yang penasaran mungkin bisa cari daftar isi dari buku ini.
 
Terakhir, masih dari kutipan buku ini. Sebuah apresiasi pembeda buku karya Abu Zaid al-Balkhi dengan buku lain,
 
...bukunya itu unik karena memasukan kesehatan tubuh dan jiwa dalam satu jilid sehingga menjadi satu kontribusi penting yang belum pernah dikenal sebelumnya. 
 
yang sejujurnya sangat disayangkan, karena buku yang aku pegang tersebut, cuma fokus menerjemahkan bagian kesehatan jiwa-nya saja. Mungkin alasannya karena biar fokus kali ya. Tapi kan jadi ironis, padahal disebutkan itu yang menjadi keunikan, tapi malah cuma nerjemahin cuma bagian kesehatan jiwa-nya saja. Hehe, Ironis gak sih?
 
Tapi aku paham kok, mungkin untuk mempermudah pembaca seperti aku. Slow reader, yang minatnya memang lebih ke topik kesehatan jiwa.
 
Sekian aliran rasanya. Doakan semoga di kesempatan berikutnya, aku bisa membaca lebih banyak halaman dari buku tersebut dan bisa mengambil ilmu darinya. Jujur kalau ke perpus tuh, lebih banyak cuci mata dan kepingin baca banyak buku, ambil beberapa buku sekaligus, tapi praktik bacanya tetap saja kurang hehe. But it's okay lah, minimal masih berusaha untuk baca. Step by step. Jangan menyerah pada diri yang slow reader.
 
Untuk yang baca sampai akhir, adakah yang sudah baca buku ini? Atau adakah buku serupa yang kau ingat saat membaca tulisanku? Atau barangkali ada buku lain yang sedang kau baca dan ingin kau bagikan aliran rasa setelah membacanya? Kalau ada boleh banget bagikan di komentar ya~ either the link, or just some sentence. I'll be glad to read it.
 
Bye!
 
Wallahua'lam bishowab. 
 
 

Saturday, April 18, 2026

Unfortunately, It is Still There

April 18, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

-Muhasabah Diri- 

 

"I still hear it in the way you talk

The words you chose to speak"

 

*** 

 

Arogansi itu salah satu penyakit hati. Meski letaknya di hati, tapi bukan berarti tersembunyi. Keberadaannya yang mengotori hati bisa dengan mudah tercermin dalam lisan dan laku. Terdengar saja meski tanpa disengaja. Terlihat saja, meski hanya dalam bentuk gesture kecil.

 

Jika kita melihatnya pada diri orang lain, tanpa sadar kita berusaha menjauh dari orang-orang seperti itu. Atau ada kalanya, kita beristighfar sendiri, takut-takut kalau prasangka kita tentang keberadaannya di hati orang lain salah.

 

Tapi bagaimana jika kita melihatnya di diri kita sendiri? Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak tahu jawaban praktikalnya. Tapi aku tahu, saat kita "merasa tinggi", yang harus kita lakukan adalah "merendahkan hati kita". Harus sering-sering berkaca dan melihat keburukan dan kekurangan diri, kesalahan dan dosa diri. Harus sering-sering melihat ke atas, melihat ke langit. Seperti pepatah dalam bahasa Indonesia, di atas langit masih ada langit.

 

***

 

What should I do with you?

Isn't the fall in the past enough for you to learn that lesson?

 

Then why... Why...?

 

Why I still hear it in the way you talk

in words you chose to speak

 

Don't you see how the expression on their face change hearing the way you talk

Squinting at words you chose to speak?

 

Then why... Why...?


Don't you see mountains of mistakes, sins, and lackness on you? Please humble yourself. Purify your heart.

 

Cause you really don't want any of that in your heart.

 

And I know you're just human. But, you can always ask for Allah's help, if you feel like you're helpless. Just like you can always ask for His Forgiveness, every time you fall.

 

Wallahua'lam. 

Friday, April 17, 2026

Roda yang Berputar

April 17, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksi 

 

"I thought you'd be forever living your offline life. Never occurred to me, someday I'll see you there sharing your life on social media.

The world sure is moving. Cause contrary to you, someone else who used to always be active online, right now is choosing to live a calm life offline."

 

 ***

 

Elene mengedipkan matanya berkali-kali, masih tidak menyangka melihat akun yang direkomendasikan oleh instagram kepadanya. Nama itu begitu familiar dan sungguh ini pasti bukan kebetulan. Entah apa yang dilakukan perusahaan Meta, sehingga ia bisa tahu bahwa nama tersebut adalah orang yang dia kenal dan mungkin Elene ingin terhubung lagi dengan orang itu di instagram. Padahal kalau dari keterangan yang tertulis, mutual friendnya cuma 2, tapi kenapa masih saja muncul di rekomendasi? Pertanyaan itu masih melekat di kepalanya, saat ia akhirnya memilih untuk memenuhi rasa haus kuriositasnya dengan melihat profil orang tersebut.

 

Saat Elene membuka profilnya, seharusnya orang tersebutlah yang ada di pikiran Elene. Tapi uniknya, yang muncul di kepala Elene justru orang lain. Dua orang itu tidak benar-benar terhubung, kontras bahkan. Tapi perbedaan itu, yang membuat Elene sadar, bahwa roda kehidupan benar-benar berputar. Jemarinya kemudian dengan cepat mengetik nama lain. Kali ini matanya tidak berkedip, ia memandangi lama saja halaman profil berbeda tersebut sembari menahan nafas, bersamaan dengan kelebat memori yang membuat hatinya terasa lebih kosong.

 

"I thought you'd be forever living your offline life. Never occurred to me, someday I'll see you there sharing your life on social media.

The world sure is moving. Cause contrary to you, someone else who used to always be active online, right now is choosing to live a calm life offline."


Setelah memposting deretan kata itu di story IG-nya, ia menekan lagi tanda + membuat story baru. Di pilihnya format pertanyaan,

 

So do people change? if so, what makes them change?

 

Elene melihat empat angka di kiri atas hpnya, ia buru-buru menutup semua aplikasi di hpnya, kemudian meletakannya jauh dari tempat tidurnya. Lampu kamarnya ikut dimatikan diikuti tarikan selimut dan kelopak mata yang tertutup. Otaknya sebenarnya masih belum ingin tidur, mengajaknya membayangkan siapa saja yang akan membalas story-nya, dan apa jawaban mereka. Di sstt-kannya pikirannya dengan suaranya sendiri. Seperti berbisik, ia melakukan rutinitas doa-doa singkat yang biasa mengantarkannya ke buaian alam mimpi.

 

Roda kehidupan memang berputar. Siapa yang mengira, Elena yang sebelumnya tidak percaya dan tidak peduli pada Tuhan, kini menjadikan doa sebagai kebiasaannya sebelum tidur?

 

The End. 

Monday, April 13, 2026

A37: Ketenangan dalam Keluarga Pembentuk Kepribadian Anak

April 13, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#menjadiarketipe

 

☑️ #DAY37-0090

📖 Rasulullah Sang Pendidik, Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin



📑 Quote:

 

Baqir Sharif al-Qarashi menjelaskan tentang pengaruh keluarga sakinah terhadap pembentukan kepribadian manusia,

"Keluarga harus mewujudkan faktor-faktor ketenangan, cinta kasih serta kedamaian di dalam rumah, dan sebaliknya menghilangkan segala macam kekerasan, kebencian, dan berbagai perilaku jahat lainnya.

Penyimpangan perilaku yang terjadi pada anak-anak, seperti sikap agresif, yang mengarah pada kriminalitas, adalah akibat dari tidak adanya ketenangan, kedamaian, yang harus mereka dapatkan dari keluarga."

 


 

 

💡 Insight: 

 

Inilah pentingnya kesiapan mental sebelum menikah atau mempunyai anak. Keinginan untuk memperbaiki diri harus selalu ada, dan diejawantahkan dalam bentuk menuntut ilmu. Kita harus belajar bagaimana mengelola emosi, bagaimana mengelola konflik, bagaimana komunikasi yang baik saat ada konflik, dll. Namanya interaksi dengan orang yang berbeda, tentu tidak selalu datar, pasti ada saat konflik muncul. Saat itu, masing-masing harus saling mengingat tujuan awal menikah. Harus tahu, bahwa jika yang satu "api", yang lainnya harus menjadi "air". Jika yang satu sedang mengeras yang lain harus melembut. Jika yang satu memiliki banyak hal yang ingin diucapkan, maka yang lain diam untuk mendengar. Dan proses belajar ini akan lancar kalau masing-masing dekat dengan Allah.

 

Aku ingat pernah baca, kalau hubungan hati antara dua orang suami istri itu ibarat segitiga, Allah di tengah, jika masing-masing dekat dengan Allah, maka hati mereka berdua jadi dekat. Sebaliknya jika salah satu atau keduanya jauh dari Allah, sudah pasti hati kedua orang tersebut jauh.

 

Dan doa yang sering kita berikan pada yang baru menikah. Sakinah.. itu kondisi yang tidak bisa hadir cuma dengan usaha, tapi harus diiringi doa. Semoga rumah kita selalu menjadi tempat yang menenangkan, karena di sana, anak-anak kita lahir dan tumbuh menjadi pribadi, yang semoga kelak bisa membawa perubahan baik, tidak cuma dalam dirinya, tapi juga perubahan baik pada sekitarnya.

 

Wallahua'alam. 

Beberapa Contoh Kesungguhan Ulama Memanfaatkan Waktu

April 13, 2026 0 Comments

Bismillah.

#nukilbuku #buku 

 

#daribuku "Adab dan Kiat dalam Menggapai Ilmu" - Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhan, Darus Sunnah 

 

***

 

  1. Beberapa detik seorang perawi hadits

 

As-San'ani menyebutkan, "Apabila seorang perawi hadits berkata,

'Waki' telah memberitahukan kepada kami,'

Kemudian orang-orang yang mendengarnya mulai menuliskan kalimat tersebut, maka perawi tidak menyia-nyiakan waktunya, ia lantas berdzikir pada saat itu, beristighfar, bertasbih kepada Allah Ta'ala, hingga ia meneruskan perkataan berikutnya.

 

  1. Abdullah bin Imam Ahmad dan kitab

 

Demi Allah! Aku tidak pernah melihatnya (Abdullah), kecuali dalam keadaan tersenyum, membaca kitab, atau sedang menelaah satu kitab.

 

  1. Perkataan Ulama tentang Waktu

 

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata, "Wahai anak Adam! Sungguh engkau hanyalah hari-hari yang engkau lalui. Setiap kali satu hari berlalu darimu, maka hilanglah sebagian dirimu." [Hilyah Al-Awliya`, karya Al-Ashfahani 2/148]

 

Al-Khalil bin Ahmad berkata, "Waktu itu ada tiga bagian; [1] waktu yang telah berlalu darimu, di mana dia takkan kembali, [2] waktu yang sedang kau jalani, maka lihatlah bagaimana ia akan berlalu darimu, [3] dan waktu yang engkau tunggu-tunggu, yang bisa jadi engkau tidak akan mendapatkannya." [Thabaqat Al-Hanabilah 1/288]

 

  1. Satu jam Abdul Wahhab bin Abdul Wahhab bin Al-Amin

 

Adz-Dzahabi Rahimahullah berkata, "Abdul Wahhab sangat menjaga waktunya, tidak satu jam pun dari waktunya berlalu kecuali ia gunakan untuk membaca, berdzikir, shalat tahajjud dan menghafal Al-Qur'an." [Ma'rifah Al-Qurra` Al-Kibar 2/460]

 

***

 

"Karena itu, kita harus meninggalkan perbuatan menunda-nunda ini sejauh-jauhnya. Kita harus bersungguh-sungguh, jangan sampai salah seorang di antara kita berputus asa untuk mengamalkan kebaikan dengan berbagai bentuknya."

 

Wallahua'lam. 

 

***

 

Baca juga:

Kenapa Harus Menuntut Ilmu? 

Faktor-Faktor Penghalang dalam Menuntut Ilmu 

 

 

Friday, April 10, 2026

Login Attempt from Paraguay

April 10, 2026 0 Comments

Bismillah.


#gakpentingbgt



Sebagian hatiku melarang menulis ini, karena beneran gak penting. Tapi sebagai orang yang memang suka cerita tentang aplikasi, sosial media, atau web yang kugunakan, kejadian unik kaya gini, sayang kalau gak diceritakan. Maybe someone will search it, maybe the staff from X will found this post, lol! Ke-PD-an banget sih hahaha. Padahal ini cuma spekulasiku saja, bisa jadi salah besar dugaanku.
 
***
 
Tiga hari yang lalu aku dapet email, email kode konfirmasi atas percobaan login ke twitterku. Trus aku lihat di mana gitu, dan tahu kalau lokasi percobaan loginnya di Paraguay. Awalnya aku sedikit kaget dan takut. Wah, jangan-jangan ada yang mau hack nih.
 
Di akhir email tersebut dituliskan, bahwa jika yang melakukan log in bukan aku, aku diminta melakukan beberapa hal: 1. Mengubah password 2. Me-review aplikasi
 
Aku coba deh ngelakuin yang pertama. Aku klik, otomatis buka laman Password Reset dari X di browser. Nah di sini, aku lupa email yang aku pakai untuk twitter/X ku. Yang aku masukin email lain, trus dapet peringatan deh kalau akunnya tidak ditemukan.
 
Trus kan aku mikir, loh kan aku ada aplikasinya, bisa ganti password di sana. Jadi deh, aku keluar dari browser, trus ke aplikasi twitter aku. Nah aku buka kan aplikasinya, buka akun, settingnya, udah mau ngubah password nih, terus rasa parnoku membuatku berhenti. Gak jadi deh aku ganti password lewat hp itu. Kenapa?
 
Jadi qadarullah nih, kamera depan hpku beberapa hari belakang ini error dan gak bisa dipakai, baik itu di whatsapp, maupun untuk gmeet. Anehnya lagi, di whatsapp-pun pas kemarin2 mau laporan baca di grup Konsisten Baca Buku, kan biasanya foto bukunya, trus kasih caption judul buku, penulis penerbit, nah.. kamera belakangku juga gak berfungsi kalau di WhatsApp. Padahal kalau pakai telegram, atau pakai Kamera, bisa-bisa aja. Makin parno gak tuh? Takut banget aku kalau udah misal hp-ku beneran kena virus atau dihack, dan kameranya gak bisa kepake di wa, karena itu.
 
Aku sempet mikir, kalau ganti di aplikasi hp, bisa kebaca dong, misal nih yang disana bisa lihat scren hpku. wkwkwk. duh, gini deh kalau keparnoan diikutin. Anyway, jadinya password X kuganti, tapi dari laptop.
 
 
Sudah selesai. Aku udah ngerasa lebih tenang. Baru deh aku googling "Someone from Paraguay try to log in to my Twitter", dari situ muncullah beberapa site dan jawaban-jawaban. Trus ada salah satu jawaban yang membuatku lebih tenang dan menyadari ke-sillyanku yang mikir aku bakal di hack. Intinya ada yang jawab, barangkali ini akal-akalnya elon musk aja supaya akun-akun yang non aktif, dipakai lagi sama usernya, usernya kan jadi login lagi karena peringatan login attempt kan? Ya kan?
 
Dan jujur jawaban itu lebih make sense dibanding ketakutanku twitterku di hack. I mean, my twitter account is old, and it didn't have many followers. Kalau tentang ke aktifan, sebenarnya belum lama aktif kok. Nah ini yang bikin aku mikir spekulasi lain. Apa karena aplikasiku ya?
 
 
 

FYI, aku masih pakai aplikasi twitter versi lama. Mungkin tahun 2022 saat twitter belum ganti nama jadi X. Bahkan logo aplikasinya pun masih yang lama, gambang burung twitter, biru putih. Jangan tanya gimana aku masih bisa pakai aplikasi itu tanpa diminta untuk di update wkwkwk. yang ini rahasia.

 

***

 

Anyway, jujur hidup di era teknologi sekarang, privasi dan data bener-bener harus dijaga. Makanya jujur pas awal baca email login attempt itu aku parno. Tapi syukurlah kalau bukan karena itu.

 

Tentang aplikasi yang sering minta update, jujur aku udah sebel banget. Pengen banget rasanya uninstall whatsapp. Tentang fungsi kamera belakangku, yang gak jalan di whatsapp, feelingku sih karena aku lama gak update itu aplikasi. Bahkan ini, udah ada peringatan nih dalam 10 hari harus udah update. Males banget sumpah, takutnya, gak cuma aplikasinya yang di update, tapi data kita juga dikirim >.< 




 

kamera belakang di WA gak bisa berfungsi. layar hitam aja 

 

 

untuk perbandingan. kamera belakang masih berfungsi di telegram,

cek yang sebelah kiri yang ada icon camera beserta live apa yang dilihat kamera belakangku


***

 

Sekian. Mohon maaf atas ketidakpentingan postingan ini. Bye!

 

Wallahua'lam. 

My Two "New" Literacy Club

April 10, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Tahun lalu, qadarullah "bertemu" dan masuk ke dua grup yang berbeda. Bukan komunitas sih, tapi semacam itu, karena toh isinya orang-orang yang memiliki kesamaan. Oh ya, meski kontras, sebenarnya dua grup itu mirip, kenapa? Karena sama-sama bergerak di literasi.

 

Nama grupnya: Teman Nulis Club dan Baca Bareng Club

 

Aku baru nyadar pas mau nulis nama grupnya, ternyata pakai istilah club ya, bukan komunitas hehe. Aku gabung di keduanya, untuk Teman Nulis Club tahu dari instagram kayanya, dia ada kegiatan gitu, aku daftar tapi udah full, trus dapat link grup wa-nya trus gabung deh. Untuk Baca Bareng Club, kayanya aku dapet informasi acara baca bareng gitu di WhatsApp, trus ada link gabung grup. Oh ya, aku di kedua grup itu cuma jadi member yang seringnya jadi silent reader. Anggota pasif.

 

*** 

  


Teman Nulis Club, isinya orang-orang yang butuh teman nulis, bisa share tulisan di sana, berbagi link blog, bahkan bisa minta tulisan/draft kita direview. Tapi namanya menulis gak bisa lepas dari membaca ya, jadi kadang ada diskusi tentang buku juga. Kalau gak salah, beberapa admin dan anggotanya anak-anak jurusan fisip, wilayah yang jarang-jarang aku ke sana. It's like entering a new place with different energy for me. Waktu awal-awal gabung, ada beberapa diskusi tentang topik yang hampir gak pernah aku diskusiin sama orang lain. Tentang isme-isme lah.

 

Di dalam club ini, seperti namanya isinya orang-orang yang suka nulis. Isinya beragam ada yang udah pro, ada yang masih newbie. Ada yang nulisnya fiksi, nulis novel. Ada juga yang nulis non fiksi, ada e-book tentang bully kalau gak salah yang di share salah satu anggota di sana. Oh ya, di sana, selain penulis di Medium, banyak yang nulis di Substack.

 

Oh ya, Teman Nulis Club nerbitin zine yang isinya tulisan-tulisan membernya. Zine-nya tulisannya full english sih. Ada kegiatan offline-nya juga base-nya di Jakarta. Kadang ngadain di online juga, buat yang di luar jakarta. Kalau gak salah, konsepnya dalam rentang waktu tertentu masing-masing yang hadir menulis masing-masing. Mirip-mirip sama konsep baca buku barengnya the.ladybook. 

 

Kalau ada yang penasaran boleh cek langsung ke instagramnya dan tanya-tanya ke sana ya @temannulisclub.

 

***

 


Baca Bareng Club konsepnya ngajak baca bareng satu buku. Beda sama konsep komunitas baca the.ladybook, yang dalam rentang waktu tertentu masing-masing baca buku yang berbeda. Jadi ada buku yang dibaca dan "dibedah". Trus ada reader dan explainer-nya hehe. Forgive me for the wrong choice of term. Waktu aku gabung buku yang dibahas itu The Art of Reading. Oh ya, sesi pertemuan mereka biasanya disebut dengan Daras. Sistemnya ada yang baca satu halaman buku, sekaligus nerjemahin, karena buku dalam bahasa inggris. Lalu, setelah readernya selesai baca sekitar 1 halaman, pembedah bukunya menjelaskan ulang apa yang tadi kita baca. Jadi Baca Bareng Club ini lumayan slow pace. 

 

Aku jujur baru pernah ikut satu kali, itupun gak full gitu, terlambat kalau gak salah. Tapi lumayan enjoy sih. Dulu Sabtu/Ahad pagi gitu. Trus jadwalnya berubah, dan aku memang sudah tidak mengalokasikan waktu untuk hadir juga. Sebenarnya sih ada rekaman acara yang di unggah di YouTube-nya. Jadi kalau niat, harusnya tetap bisa disimak darasnya. Boleh langsung ke channel YouTube Dari Rumah Lahir Karya buat yang penasaran sama darasnya. Atau boleh berkunjung ke ig-nya @bacabarengclub

 

***

 

Cuma mau cerita itu aja sih. Ya, ini dua klub literasi "baru"-ku. Meski masih cuma bisa jadi anggota pasif. Gabung di keduanya menurutku masih bermanfaat, karena aku perlu pengingat dari keduanya, baik pengingat untuk nulis maupun pengingat untuk membaca.

 

Semoga nanti, kalau energi sosialku sudah membaik, aku bisa lebih aktif di dua klub itu. Mungkin submit karya tulisan untuk minta di review di Teman Nulis Club. Juga hadir di sesi daras Baca Bareng Club, sebelum buku yang sedang dibahas itu selesai dibaca bersama.

 

Sekian. Kututup dengan pengingat untuk diri. Bahwa jika ingin berjalan lebih jauh, kamu harus berjalan bersama, bukan sendirian.  

 

Wallahua'lam. 

Tuesday, April 7, 2026

When Book Become Escapism

April 07, 2026 0 Comments
Bismillah.

Hello there. Long time no see.  How's your Syawal?


Kutulis ini lewat aplikasi Blogger. Jujur rasanya sedikit kikuk. Sepertinya sudah lama sekali tidak menulis di hp.


***


Post kali ini sesuai judul ingin membahas bagaimana sebuah buku bisa menjadi tepat untuk kabur sejenak dari relitas hidup. Terkadang kita butuh waktu-waktu itu kan? Sejenak keluar dari dimensi realita, ke tempat aman dan nyaman dimana kita bisa meletakkan sejenak beban pikiran kita.


Aku, jujur, masih belum bisa mencintai buku seperti dulu aku mencintainya. I still read. But the love I have is different. Kalau dulu, aku bisa berlama-lama dengannya. Akhir-akhir ini, aku hanya duduk sebentar dan membaca. Lalu cepat bosan, berganti judul, membaca lagi. My attention span is decreasing and I know the cause. Tapi aku belum punya kekuatan tekad untuk menyingkirkan penyebabnya. Padahal Allah seolah pernah mengetuk hatiku lewat sebuah kejadian.


***


Saat itu jam 12, semua orang tertidur, tapi kulihat seorang anak usia sekitar 4 tahun masih terbangun. Tangannya memegang hp, atau tidak, mungkin hpnya diletakkan di karpet. Aku lupa detailnya. Aku lihat dengan jelas dari layar hpnya, ia scroll dari satu short ke short lain. Hatiku bergemuruh, bertanya-tanya siapa orangtua anak kecil tersebut.


At that age, you haven't have control upon yourself. I mean, I am an adult, and sometimes I forget time when I do scroll and scroll. ><


Tapi aku hanya memperhatikan anak tersebut, bertanya kenapa belum tidur, tadi tidur jam berapa. Dia menjawab sekenanya. Perhatiannya masih di hp.


Aku tidak mengenal anak tersebut, pun tidak mengenal orangtuanya. Tapi apakah diam sikap yang benar?


I don't have authority here. Maybe I should ask for help. Itu yang ada di pikiranku. I know it sounds like a coward move, but I really don't know what to do except asking for help. So I walk down the stairs, and talk to the committee, staff, someone who has authority. Kuberitahu situasinya, kujelaskan kekhawatiran ku, dan kudetailkan dimana anak tersebut berada. Dari jawaban mereka, mungkin ini bukan yang pertama kali. Tapi hanya beda lokasi. Setelah meminta tolong, aku pamit. Dan sekitar 10 menitan setelahnya, kulihat mereka naik tangga dan menyapa gadis cilik yang masih sibuk melihat video-video pendek. 4 tahun, bagaimana nanti ke depannya. Itu yang ada di benakku. It's really a hard challenges to educate children in this kind of era.


***


Balik ke judul. Jadi, aku kira aku cepat bosan dan tidak bisa membaca seperti dulu. But then I found books that could become my escapism. Dan kutemukan diriku membacanya dengan perhatian penuh, lembar demi lembar, seperti masuk ke dunia Alice. Meski tentu masih melakukan kewajiban, tapi.. ini berbeda. Satu, dua, tiga buku. Lalu aku memaksa diriku berhenti.


No! I don't need this kind of book. I felt guilty. Then I stop reading for a long time. Dua pekan atau lebih lama. Rasanya seperti tidak membaca 2 bulan. Meski kalau dilihat dari catatan laporan baca di grup WhatsApp "Konsisten Baca Buku" aku masih laporan baca 4 kali di bulan Februari dan 2 kali di bulan Maret. Tapi tetap saja, aku tahu betul berapa kali aku menghindarkan diri untuk membaca karena rasa bersalah yang bersarang.


***


But things get better.. hidup memang begitu, naik turun. Alhamdulillah sekarang perasaannya sudah membaik. Buku-buku yang dijadikan escapism biarlah di sana. Mari fokus kembali ke tujuan awal membaca, untuk menghubungkan diri dengan realita. Untuk menambah pengetahuan dan memperluas perspektif hidup.


Kalau tidak bisa sendiri, setidaknya cari teman.~ Jadi kubuka lagi pintu untuk perempuan yang ingin konsisten baca buku dan butuh support system.


Semoga dengan bertambahnya anggota jadi bertambah pula semangat untuk membaca. Kita juga jadi bisa melihat, bagaimana beragam bacaan orang lewat laporan tiap anggota.


Yang mau gabung boleh langsung klik link https://chat.whatsapp.com/JcBDKKPti1WKtM71zq3xaz?mode=gi_t


Nanti kalau udah request to join, aku wapri tanyain nama dan domisili. Untuk berkenalan dan memastikan yang join memang niat join karena pengen konsisten baca. Karena jujur ada beberapa nomer yg join tapi ketika di wapri gak jawab. Kemungkinan besar gabung karena ingin spam, atau bot wa yang dapet link dari google.


Anyway. Kesimpulan akhirnya, seperti disebut di awal. Sesekali gapapa menjadikan buku sebagai escapism. Tapi mayoritas bacaanmu seharusnya lebih banyak menjadikan dirimu terhubung dengan realita. Karena bahkan banyak buku fiksi yang ceritanya diangkat dari kisah nyata, agar kita tahu bahwa itu pernah atau bahkan masih terjadi, di tempat dan orang yang berbeda.

Sekian. Semangat membaca, meski "dunia" memaksamu untuk sibuk menonton. Feed your mind, and take care your mindset. Broaden your perspective and sharpen your emphaty. Hope we all becoming a better person day by day. Aamiin.


See you next time^^


Wallahua'lam.

Friday, March 27, 2026

Eid Mubarak 1447H

March 27, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Happy Eid Mubarak everyone~

 

 

Lebaran kali ini terasa lebih sibuk. Jadi maaf baru bisa menyapa. Maaf juga menjelang lebaran justru posting tulisan #fiksiku yang agak-agak dark, gak dark juga sih, cuma muatannya negatif. But that's just the strong unspoken things that push me to write. Sebelum itu, aku udah nulis juga di akhir Ramadhan, tapi di blog anonim hehe.

 

Anyway. Eid mubarak! Taqabalallahu minna wa minkum. Semoga mudik atau di rantau, sendiri atau bersama keluarga, hari-hari Syawal-mu dipenuhi dengan senyum. Juga, semoga tidak mengalami Ramadhan blues. Jatuh terpuruk setelah di bulan Ramadhan berhasil menaikkan kuantitas dan kualitas ibadahmu. Btw aku juga baru tahu ada istilah Ramadhan blues karena ngikutin channel WhatsApp yang isinya resume dari kajian ustadz-ustadz dari luar negri. It's a good channel you should follow it!

 

Here's the links:

https://whatsapp.com/channel/0029VaixR2c0AgW9ATtOZT1w (resume ustadz Nouman Ali Khan)

https://whatsapp.com/channel/0029VbAWjVOCBtx8MmEcwW35 (resume ustadz Omar Suleiman) 

 

Oh, tentang Ramadhan blues, setelah aku cek wa, ternyata resume kajiannya Ustadz Yasir Qadhi, kajian 3 tahun lalu. Aku belum dengerin ceramah aslinya, baru baca sedikit poin-poin resumenya. Tapi membaca sedikit itu saja, udah membuatku merasakan manfaatnya dan ingin membagikannya ke orang lain. Rasanya pengen copas aja, I know it's more useful than writing other stuff here. Should I? Izin ya Kak... (Resume ini dibuat dan di share sama salah satu anggota grup whatsapp NAKID).

 

***

Kegalauan Pasca Ramadan | Shaykh Dr. Yasir Qadhi [1]


https://youtu.be/JqzOqZBU9LA



1️⃣ Video ini membahas fenomena jujur yang disebut "Post-Ramadan Blues" atau perasaan sedih pasca-Ramadan.
2️⃣ Shaykh Yasir Qadhi memulai ceramah dengan suasana santai di Texas, menyapa jemaah yang itikaf.
3️⃣ Beliau mengakui bahwa selama Ramadan, iman seseorang biasanya berada di titik tertinggi dalam setahun.
4️⃣ Banyak orang menghabiskan dua hingga empat jam sehari di masjid selama sepuluh malam terakhir.
5️⃣ Ada perasaan sedih yang muncul bahkan sebelum Ramadan benar-benar berakhir karena kita tahu ini akan segera pergi.

6️⃣ Beliau mengingatkan bahwa seminggu setelah Ramadan, kondisi spiritual kita tidak akan sama lagi.
7️⃣ Fenomena menarik: saat Idul Fitri, kita sering lupa waktu Maghrib karena tidak lagi menghitung mundur untuk berbuka.
8️⃣ Setelah Ramadan, level ibadah dan iman biasanya mengalami penurunan tajam atau "nosedive".
9️⃣ Tujuan ceramah ini adalah memberikan saran praktis agar penurunan tersebut tidak kembali ke titik nol.
1️⃣0️⃣ Aturan pertama: Kita harus bersikap realistis terhadap diri sendiri mengenai kapasitas ibadah kita.

1️⃣1️⃣ Tidak mungkin mempertahankan intensitas 200% seperti di malam ke-27 Ramadan sepanjang tahun.
1️⃣2️⃣ Mengakui keterbatasan manusiawi adalah langkah awal untuk menjaga konsistensi yang sehat.
1️⃣3️⃣ Target utamanya adalah memastikan level iman pasca-Ramadan lebih tinggi daripada sebelum Ramadan dimulai.
1️⃣4️⃣ Beliau menggunakan analogi pasar saham untuk menjelaskan pertumbuhan iman yang ideal.
1️⃣5️⃣ Jika modal awal 100, naik ke 200 saat Ramadan, lalu turun ke 150, kita tetap untung 50 poin.

1️⃣6️⃣ Setiap tahun, kita harus masuk Ramadan dengan "modal spiritual" yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
1️⃣7️⃣ Ramadan harus dipandang sebagai mekanisme pembersihan dan "gym" spiritual tahunan.
1️⃣8️⃣ Poin praktis pertama untuk menjaga iman adalah menjaga kehadiran di masjid secara fisik.
1️⃣9️⃣ Masjid memainkan peran krusial dalam membentengi dan melindungi iman seseorang dari kerasnya dunia.
2️⃣0️⃣ Di masjid, kita termotivasi oleh orang lain; jika orang lain salat, kita pun tergerak untuk ikut salat.

2️⃣1️⃣ Suasana masjid membantu kita mendapatkan kekhusyukan yang sulit didapat jika hanya di rumah sendirian.
2️⃣2️⃣ Dunia (dunya) cenderung mengeraskan hati, sementara masjid adalah oase yang melunakkannya kembali.
2️⃣3️⃣ Jangan langsung memutuskan hubungan dengan masjid segera setelah hari raya Idul Fitri berlalu.
2️⃣4️⃣ Cobalah untuk meningkatkan frekuensi ke masjid sebesar 150% dibandingkan sebelum bulan Ramadan.
2️⃣5️⃣ Utamakan salat Subuh dan Isya berjemaah karena keduanya memiliki berkah yang sangat besar.

2️⃣6️⃣ Beliau menyayangkan jika masjid penuh saat Ramadan jam 3 pagi, tapi sepi di waktu Isya hari biasa.
2️⃣7️⃣ Padahal, Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama di bulan-bulan lainnya.
2️⃣8️⃣ Di negara Barat atau lingkungan korporat, hampir tidak ada pengingat otomatis tentang Allah sepanjang hari.
2️⃣9️⃣ Kita harus melakukan upaya ekstra dan meluangkan waktu perjalanan ke masjid demi menjaga iman.
3️⃣0️⃣ Sejarah mencatat bahwa Makkah adalah masjid pertama yang ditetapkan sebagai tempat ibadah permanen.

3️⃣1️⃣ Kita harus bersyukur karena umat Islam diberikan kemudahan untuk membangun masjid di mana saja.
3️⃣2️⃣ Orang-orang dari luar negeri sering takjub melihat antusiasme jemaah di Amerika yang mencapai ribuan orang.
3️⃣3️⃣ Berdiam diri di masjid sambil menunggu waktu salat adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi.
3️⃣4️⃣ Menunggu salat di masjid dianggap sebagai "meditasi halal" yang menenangkan jiwa dan pikiran.
3️⃣5️⃣ Malaikat mendoakan orang-orang yang duduk di masjid menunggu waktu salat dimulai.

3️⃣6️⃣ Nabi Muhammad menyebut duduk di masjid sebagai salah satu bentuk "Ribat" atau perjuangan di jalan Allah.

 

3️⃣7️⃣ Sangat disarankan untuk membuat jadwal rutin ke masjid, bukan hanya datang secara acak atau sesempatnya.
3️⃣8️⃣ Poin praktis kedua adalah memperhatikan dengan siapa kita bergaul atau "Good Companionship".
3️⃣9️⃣ Iman kita tinggi di Ramadan karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang juga sedang membaca Al-Qur'an.
4️⃣0️⃣ Seseorang cenderung mengikuti agama dan gaya hidup teman dekat atau rekan pergaulannya.

4️⃣1️⃣ Kita harus berani memeriksa daftar teman dekat kita dan melihat pengaruh apa yang mereka bawa.
4️⃣2️⃣ Jika teman-teman kita hanya bicara sia-sia atau ghibah, iman kita akan perlahan-lahan ikut terkikis.
4️⃣3️⃣ Ramadan adalah momen tepat untuk membangun ikatan persaudaraan baru dengan jemaah masjid lainnya.
4️⃣4️⃣ Gunakan kesempatan ini untuk mencari "penjual parfum" spiritual yang memberikan pengaruh wangi kebaikan.
4️⃣5️⃣ Secara bertahap, kita perlu menjaga jarak dari lingkungan yang membawa dampak negatif pada spiritualitas kita.

4️⃣6️⃣ Tantangan bagi generasi muda saat ini jauh lebih berat karena kemudahan akses pada keburukan lewat internet.
4️⃣7️⃣ Allah menguji anak muda zaman sekarang karena Allah tahu mereka memiliki kapasitas untuk melewatinya.
4️⃣8️⃣ Penyebab kegagalan terbesar anak muda seringkali bukan diri mereka sendiri, tapi teman bergaul mereka.
4️⃣9️⃣ Anda mungkin tidak bisa mengatur apa yang teman lakukan, tapi Anda bisa memilih siapa yang jadi teman Anda.
5️⃣0️⃣ Poin praktis ketiga adalah menjaga asupan harian Al-Qur'an dan zikir setiap hari tanpa putus.

5️⃣1️⃣ Al-Qur'an adalah "sarapan bagi jiwa" yang harus dikonsumsi sebelum memulai aktivitas duniawi.
5️⃣2️⃣ Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membuka Mushaf, meskipun hanya membaca lima baris saja.
5️⃣3️⃣ Konsistensi kecil jauh lebih dicintai Allah daripada amal besar yang dilakukan hanya sesekali.
5️⃣4️⃣ Waktu terbaik untuk membaca Al-Qur'an adalah di pagi hari karena di situlah letak keberkahan umat.
5️⃣5️⃣ Malaikat memberikan perhatian khusus pada bacaan Al-Qur'an di waktu fajar atau subuh.

5️⃣6️⃣ Jika kita bisa bangun malam selama Ramadan, kita pasti mampu menyisihkan 15 menit ekstra di bulan biasa.
5️⃣7️⃣ Amalan yang konsisten (istiqamah) adalah kunci utama untuk mencapai garis finish kehidupan dengan baik.
5️⃣8️⃣ Setiap tahun, target kita adalah menjadikan Ramadan terakhir kita sebagai Ramadan yang paling berkualitas.
5️⃣9️⃣ Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput, maka kita harus selalu berusaha menjadi lebih baik setiap tahun.
6️⃣0️⃣ Umat Islam beruntung karena diberikan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan ibadah.

6️⃣1️⃣ Manfaatkan sisa malam-malam terakhir untuk berdoa agar Allah menerima semua amal ibadah kita.
6️⃣2️⃣ Shaykh menutup dengan doa agar kita diberikan kekuatan untuk terus istiqamah setelah Ramadan berakhir. 

 

***


Penutup, semoga tidak ada yag mengalami Ramadhan Blues ya. Jika pun itu terjadi, semoga kita tahu, bahwa "jalan kesembuhan" dari perasaan dan kondisi tersebut adalah mendekat kepada-Nya, dan meminta pada-Nya agar diberi jalan untuk keluar dari perasaan dan kondisi tersebut. Termasuk memohon supaya Allah kelilingi kita dengan teman-teman yang shalih dan shalihah. At least, saat kita down, ada yang mengingatkan dan meski mereka tidak melakukan banyak effort, keberadaan mereka saja, bertemu dan berinteraksi dengan mereka saja, sudah cukup untuk memberikan semangat dan menjadi pengingat bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada tangan yang menggandeng kita untuk menjadi hamba lebih baik, pribadi yang lebih baik. Semoga takwa, yang Allah harapkan ba'da Ramadhan, dapat tercapai. Aamiin.

 

Terakhir, I know it's late. Tapi rasanya ingin menutup dengan takbir. ya, takbir yang dikumandangkan di malam dan pagi 1 syawal. Semoga dengan menuliskannya, mengingatkanku untuk selalu "meng-akbar-kan" Allah di setiap saat dalam hidup kita. It's not an easy thing to do, but it is the right way to do.

 

Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar. Laa ilaaha illallaahu Allahu akbar. Allahu Akbar walillahil hamd. 

 

Wallahua'lam bishowab.

 

*** 

Keterangan:

 

[1] Resume tersebut dibagikan oleh Rio di grup whatsapp NAK Indonesia. Yang mau gabung ke grupnya, bisa langsung cek bio instagram @nakindonesia

Saturday, March 21, 2026

I Just Want to Cry Out Alone But A Hand Touch My Shoulder

March 21, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksiku 

 

*warning* messy writing, mix language, free writing without editing 

  

Aku hanya ingin menangis dengan tenang sendiri, maka aku mulai mencari-cari tempat yang kiranya aman. Dan aku memilih untuk duduk di tangga itu, sudah hampir pukul 11, di sini lebih baik daripada di koridor itu, ada banyak orang lalu lalang. Sengaja kutelungkupkan wajahku di atas kedua tanganku yang terletak di atas lututku, it was a perfect position to hide a cry. Aku kira aku menangis tanpa suara. Aku hanya merasakan emosi yang meluap dan mata yang tidak berhenti mengalirkan air, kubiarkan alirannya jatuh dan membasahi masker putih yang kupakai. Ada rasa sakit di dada saat otakku memutar memori beberapa menit yang lalu, kejadian yang menjadi trigger tangisku, lalu memori lain di masa lalu, rasa sakit yang sama atas rasa kecewa. Aku pikir, aku tidak pernah meminta banyak, tapi sikapnya melukaiku. Lalu mungkin karena tangki emosi negatif yang sering kutekan dan kusimpan rapat-rapat sudah penuh, mungkin karena itu, seperti bendungan yang tak lagi mampu menahan debit air yang yang sudah terlalu tinggi. 

 

I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. Sentuhan halus itu membuatku menghadapkan kepalaku ke arah tangan tersebut. Aku ingat beberapa detik sebelum tangannya menyentuhku, aku sedang bermonolog dengan diri, berusaha menjinakkan emosi yang menarik-narikku ke arah yang salah. Aku sedang mengingatkan diriku pada kisah Nabi Ya'qub 'alaihi salam dan quotes dari beliau yang banyak orang tahu. Aku lupa apakah itu sebuah doa, atau itu kalimatnya yang dikatakan kepada anak-anaknya yang lain saat mereka protes akan kesedihan yang tampak pada raut wajahnya, pada sikapnya, seolah kehilangan Nabi Yusuf 'alaihi salam masih menimbulkan luka yang mengaga di hatinya. Ya, betul kalimat itu...

 إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ


Aku baru saja menggaungkan kalimat itu untuk mengingatkan diriku, bahwa tujuanku di sini bukan untuk tenggelam dalam emosi negatif yang meledak di saat itu. Bukankah aku pergi ke sana, untuk mendekatkan diri padaNya, dan meminta ampunan-Nya? Baru saja aku hendak belajar dari ucapan Nabi Ya'qub, lalu Allah hadirkan pilihan lain, seolah Allah ingin memberitahuku, kuberi kau kesempatan untuk bercerita pada orang lain, jika kau mau. Bahwa tidak semua orang bisa seperti Nabi Ya'qub yang kesabarannya begitu indah. Tentu saja, aku tahu, masalahku begitu kecil dan remeh jika dibandingkan kisah beliau. Anyway... ku tengadahkan kepalaku. Mungkin mataku merah dan masih berair, tapi pandanganku jernih, seorang akhwat dengan kerudung hitam dan wajah manis menyapaku, ia mungkin melihatku saat berpindah dari koridor ke tangga, mungkin melihatku menelungkupkan kepalaku dan menebak dengan benar bahwa aku sedang menangis dan sedih. Mungkin tangisanku cukup keras, dan itu mengganggu hatinya yang penuh dengan empati.

 

Ia mulai bertanya kenapa aku menangis, bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Aku meminta tissue padanya, dan beberapa menit kemudian dia mondar-mandir mencari tissue dan tidak menemukannya, lalu duduk di sampingku, mencoba membuatku bercerita tentang alasanku duduk di tangga itu dan menangis. Ia mengatakan ia hanya orang asing yang mungkin tidak bertemu lagi. Aku dalam hati tertawa, what an amazing scenario, cause I usually feel more comfortable open up to strangers. But not this time. Jujur, aku sangat ingin mengusirnya, jika saja ada pintu, rasanya ingin segera menutup pintu dan menyuruhnya pergi. But her voice is soft, and she looks concern and sincere. Jadi aku hanya diam dan membiarkan otakku berdebat sendiri bagaimana cara agar akhawat tersebut bisa memberiku waktu dan ruang untuk sendiri.

 

Dia sepertinya paham ada dinding tinggi tak terlihat diantara kami. Meski dia berusaha meyakinkanku bahwa aku aman untuk bercerita. Bahwa perempuan mungkin tidak butuh solusi, tapi bercerita bisa membantunya untuk merasa lebih baik. Yang tentu kujawab bahwa aku lebih nyaman menulis daripada bercerita. Ia juga mungkin berpikir banyak saat aku hanya memilih diam. Tapi ia tidak pergi, dan aku tidak enak hati untuk mengusirnya. Apalagi saat ia berkata, bahwa barangkali sekedar keberadaan orang lain bisa membantuku lebih reda dan tenang. She caresing my knees as she told me other sentence. Kalimat-kalimat baik seperti, jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Atau saat ia bercerita tentang seorang anak SMP yang terlihat cemas menunggu dijemput ayahnya, hpnya tertinggal, dan ia terlihat cemas. Kecerdasan emosi dan empatinya yang tinggi membuat akhwat tersebut menangkap sinyal cemas dari remaja putri tersebut, dan ia mengajak remaja putri tersebut mengobrol sembari menemaninya sampai anak SMP tersebut dijemput. Mendengar ceritanya mengingatkanku pada kejadian di masa lalu, saat aku SMP, dan cemas menangis karena mengira salah naik angkot, hanya karena angkotnya lewat jalan yang jauh. What a silly incident but that makes me could relate to her stories.

 

Kuungkapkan bahwa aku bisa relate, dan membayangkan rasa takut yang dirasakan anak SMP tersebut. Talking about other people story is always easy than talking about ourself right, especially for introvert. Tapi akhwat tersebut belum menyerah mengetuk pintuku, ia bertanya apakah aku datang sendiri atau sama teman. Aku bertanya balik sudah berapa hari ia di sini. Ah, she ask my name and I ask her name too. I actually don't trust her, I think Aminah is her fake name. But I tell her my real name, probably she didn't hear it or remember it. Ya, begitulah sikap skeptisku. Meski aku tahu niatnya baik, aku masih sangat ingin mengusirnya. Jadi akhirnya kuyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja, aku hanya perlu waktu untuk mengalirkan emosiku, aku tidak perlu tissue, aku bisa cuci muka dan membuang sisa air mata dan cairan lain di wastafel. Aku ucapkan aku juga akan naik ke atas menyusulnya. Dan akhirnya ia pergi, sembari mengatakan bahwa jika ingin bertemu lagi dan ingin bercerita, ia sangat terbuka.

 

***

 

I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. What a beautiful scenario right? Entah hikmah apa yang ingin Allah ajarkan padaku. Setelah kejadian itu, aku bertemu lagi dengannya di lantai atas. Ia seperti yang ia katakan, baru ke atas di akhir malam, dan benar, aku sedang duduk bersandar di tiang terdekat dengan tangga, saat ia menaikinya. Aku tersenyum melihatnya, lalu kembali melanjutkan aktivitasku dengan hp di hadapanku. Ia duduk sejenak di sampingku bertanya apakah aku sudah lebih tenang. Kujawab ya, atau hanya dengan anggukan, aku lupa. Tapi aku ingat aku kemudian fokus kembali ke hpku dan aktivitasku, membuat ia merasa awkward, entah ada yang ingin ia katakan lagi atau... ia hanya ingin pamit tapi bingung cari timingnya. Ia sempat bertanya mengapa aku belum tidur, kukatakan aku akan tidur jam 12. Lalu ia pergi dan mencari tempat tidur.

 

It's 12, and most of the people are asleep, except some who are still busy, I should sleep. So I search for a good place to sleep. Just when I was arranging my bag, my jacket, the emphatic girl come again. She told me about affirmation.

 

"Pernah ngelakuin afirmasi gak?" Aku jawab ya. Lalu ia bertanya seperti apa? My mind goes blank, sunyi beberapa detik. All iz well, semua akan baik-baik saja, that kind. Jawabku akhirnya. Lalu ia mengajarkanku kalimat afirmasi lain, aku mampu, aku bisa, aku cantik. Kalimat afirmasi yang bisa membantu kita mencintai diri sendiri. Dia mengajakku mencoba melakukannya, tapi aku memilih untuk diam, I refused her suggestion in my head, probably also with my body language. She's really concern about me I guess. But I really can't say that kind of affirmation out loud. Though most of the people is asleep but some of them are still awake, busy with their own things to do. Aku tidak seperti akhawat penuh empati tersebut, aku bukan tipe yang mengucapkan dengan keras dan berulang kalimat afirmasi, I do said it, in a written way. The silence is loud and she chose to go again, as I bid goodbye and thank you for her.

 

***

 

I just want to cry out alone but a hand touch my shoulder. I wasn't kind to her that day. Tapi saat menuliskan ini, aku bisa melihat dari sudut pandang lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang mungkin pernah tenggelam dalam kesedihan, yang melalui proses healingnya dengan mengucapkan kata-kata afirmasi. Ia tahu persis bahwa ia bersyukur jika saat sedih ada yang menemaninya, atau ada teman/orang asing yang bisa menjadi tempat ia menuangkan emosi dan pikiran yang berkelindan dan membuatnya sedih. Aku melihatnya kini sudah keluar dari masa-masa itu, dan kini ia selalu mengasah awarenessnya pada sekitar, karena ia tahu betapa menyiksanya perasaan sendiri saat awan kesedihan, ketakutan, kecemasan melingkupi hati dan pikiran seseorang.

 

Pagi itu, aku terakhir melihatnya duduk di bangku luar masjid sembari mendengarkan kajian ba'da shubuh. Aku duduk di sebrangnya, di lantai bersandar pada tembok menghadap ke pelataran luar masjid. Aku teringat ucapan salam terdengar dari pengisi kajian, lalu mataku terkantuk, entah berapa lama, tapi aku terbangun, dan kulihat kebelakang orang-orang sedang sibuk shalat syuruq, di bangku tempat ia duduk, sudah tidak ada dirinya. Entah sudah pergi, atau ia masuk ke dalam untuk shalat. Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan keluar, memandang langit dan awan berbaris-baris yang menghias pagi itu.

 

The End. 

Wednesday, March 4, 2026

Jeda Lama Nulis Catatan Ramadhan Karena....

March 04, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#curcol

 

Apa kabar hari-hari Ramadhanmu? Aku... nggak ada yang tanya sih, anyway, mari saling mengingatkan dan mendoakan semoga hari-hari Ramadhan kita diisi dengan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan dan hal yang sia-sia.

 

Terkait judul postingan ini, tolong abaikan ya. Karena kalau perlu dijawab ada banyak sekali excuse. Intinya it's my fault that I haven't write the next CR. Draftnya sudah ada, video materinya udah aku simak, dan menarik untuk dirangkum dan ditulis ulang, untukku terutama, yang seringkali lupa pentingnya mengikat ilmu. Tapi what's done is done.

 

Kutulis ini, semoga ajdi penyemangatku untuk lanjut menulis. Apalagi, ternyata 28 Februari kemarin ada komen dari adik tingkat, what a surprise visit! Jujur, aku selama ini masih sering mempercayai, kalau blogku ini yang mampir ya cuma orang-orang yang gak kenal aku di real life hehe. It's more calming that way. Meski di sisi lain, seneng juga pas tahu ada orang yang kukenal baca blog ini sesekali. Semoga gak ada yang rutin berkunjung ya, agak trauma soalnya hehe. 

 

***

 

Tantangan menulis catatan Ramadhan bagiku sebenarnya tantangannya banyak, tapi fokus utamaku bukan ke teknis, bukan masalah manajemen waktu, atau kesulitan membuat kalimat dan lain-lain. Lebih banyak ke mental block aja, rasa takut. Jujur dari dulu sampai sekarang masih sama. Menulis tentang islam, mengajak hal-hal baik, menghimbau untuk meninggalkan keburukan, semua itu masih jadi passionku, itu yang ingin terus aku lakukan, karena aku masih ingat manisnya saat membaca buku Jalan Cinta Para Pejuang, aku masih ingat betapa syahdu dan istimewanya malam mabit DP2Q Mata' Salman, saat diminta mengikuti dan melntangkan ikrar. Aku juga masih merasa manfaat dari mendengarkan bahasan tentang Quran pada imanku yang naik turun dan jauh dari stabil ini. Jadi jika boleh mengambil bagian, aku masih ingin terus menulis seperti ini. Tapi terlepas dari semua itu, aku masih sama, aku masih merasa begitu jauh jarak, dan perbedaan jauh dari apa yang kutulis dan apa yang aku usahakan dalam amal. Jujur takut banget kalau cuma omdo, kalau cuma nato. I don't want to be a liar. Ayat-ayat pertama surat Ash Shaff... siapa yang ingin dibenci oleh Allah TT Padahal satu-satunya hal yang membuatku masih hidup saat ini adalah cinta kasih-Nya 

 

Nowadays I found myself listening and reading more about the end of the world. Dan surat Al Kahfi yang disunnahkan baca tiap hari jumat, apakah sudah benar-benar "dibaca", direnungkan, diamalkan? 

 

I am getting older each day, death is getting closer. Please don't waste your time! Please don't regret when it's already over. Bukankah itu yang mungkin ingin Allah ajarkan lewat hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupmu?

 

Ayo Bell! Ramadhan sudah masuk pertengahan loh, jangan sampai Ramadhan berlalu tapi kamu tidak berubah. Jangan sampai kebiasaan baik yang ingin dibangun tidak diusahakan. Pun kebiasaan buruk yang ingin dihapus jangan sampai dibiarkan menetap dan menggerogoti hari-hari Ramadhanmu. Ayo! Rajakan kembali hatimu, dan tundukkan hawa nafsumu. Bukankah itu esensi dari puasa? Jangan hanya lapar dan dahaga saja, tapi juga semua hal... tell your body, your mind and your soul, that you're fasting. And that you must fill your day with the obedience to Allah.

 

Sekian. Lakukan dari hal kecil, lakukan saat ini, satu lagi apa ya? Lupa. Anyway.. mari perbanyak doa juga untuk saudara muslim di seluruh dunia, di bulan doa diijabah ini, jangan batasi doa kita hanya untuk diri kita dan keluarga saja. Ahh.. kangen banget shalat di masjid dan saat witir ada doa qunut. 

 

Wallahua'lam.