Follow Me

Friday, December 14, 2018

Mengapa Menulis?

December 14, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tugas pertama KMO Club Batch 15.

***

dari unsplash

Pernah aku menulis sebait puisi tentang menulis dan P3K.

“Karena merangkai kata bagiku
adalah hiburan atas segala pilu
P3K atas segala luka
ekspresi atas segala suka”

Begitulah makna pertama merangkai kata bagiku. Menulis bukan lagi sebuah hobi bagiku, namun sudah menjadi kebutuhan untuk menghibur, mengobati serta mengekspresikan hati.

Dari menulis, keinginan untuk menyusun buku hadir. Tapi prosesnya tidak mudah. Berulangkali aku diingatkan harus ada strong why, yang akan menemani perjalanan menyusun buku, sampai buku tersebut lahir dan menjadi jejak karya kita.

Allah menakdirkanku hadir di banyak forum online tentang kepenulisan, menanam sedikit demi sedikit agar tekad menerbitkan buku makin kuat. Lalu lewat rencanaNya aku bertemu channel Telegram Indonesia Menulis, dari sana jadi tahu pendaftaran KMO Club Batch 15.

Materi pertama, seolah menggedor pintu hatiku. Tentang ikrar yang isinya mengizinkan diri menjadi penulis. Kalimat sederhana yang perlu diulang-ulang diucapkan dalam hati. Membuat mata tiba-tiba memanas, dan mengobarkan lagi api semangat menulis. 

Kang Tendi memaparkan alasannya mengapa beliau menulis. Betapa banyak buku yang “meracuni” otak manusia. Dan betapa mahalnya kebenaran, kebaikan serta perbaikan. 

“Kegundahan saya sekarang adalah betapa mahalnya sebuah kebenaran, betapa mahalnya sebuah kebaikan, dan betapa mahalnya sebuah perbaikan.Ini benar-benar bikin saya nggak bisa tidur.” - Tendi Murti

Saya jadi teringat lagi, bahwa menulis memang merupakan ekspresi hati, bagaimana rangkaian kata mampu mengeja rasa. Namun kata memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Jika menulis kita niatkan untuk kebaikan, lalu Allah berkahi tulisan kita, maka tulisan tersebut dapat menggerakkan pembaca untuk melakukan hal baik, mendekat pada Allah, serta mengambil manfaat dari tulisan tersebut. 

Saya pun begitu. Saya ingin tulisan saya, bukan sekedar kata. Tapi kata yang mengubah, menginspirasi dan mengajak tuk menjadi lebih baik. Kata yang bisa bernilai amal shalih, yang pahalanya mengalir sampai ke akhirat. Kata yang menjadi wasilah, agar baik penulis maupun pembaca melangkah mendekat kepada Rabb Semesta, Allah azza wajall. 

Semoga tulisan ini, bisa menjadi bibit yang kelak akan tumbuh subur. Sehingga menulis, bukan lagi dinikmati diri sendiri, tapi juga membuahkan karya berupa buku, buku yang mengajak pada kebenaran, kebaikan dan perbaikan. 

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diupload pertama kali di facebook : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213180135644850&id=1439117666

***

PS: Baru nyadar aku salah baca deadline-nya. Kirain teh malam ini jam 9, padahal batas akhirnya besok jam 9. Wkwkwk. Gapapa, bagus, jadi ngumpulin lebih awal hehe. 

Foto, Facebook, dan "Diam"-ku

December 14, 2018 0 Comments
Bismillah.

Cuma bercerita tentang diri. Silahkan skip aja, baca blog lain aja hehe.

***


Sejak menghilang dari peredaran, fungsi sosmed, termasuk Facebook cuma buat scrolling aja, kadang share, tapi jarang banget. Menebar like aja, tapi menahan jemari untuk komentar.

Dulu pernah, EMC kalau ga salah. Sama, tugasnya harusnya di share di fb. Tapi saat itu mungkin aku masih cenderung ke introvert, jadi deh milih untuk bandel dan ga share di fb. Tentang perjalanan nulis, dan isi tulisannya memang banya cerita detail masa lalu.

Kemarin, waktu ada tugas dari KMO, sebenarnya aku ragu. Pertama, aku harus aktif di facebook. Posting ikrar bro.. beraaat. Kedua, di syarat ikrarnya, harus ada foto. Kalau aku lagi mode introvert mungkin aku akan mundur teratur saja. Tapi mungkin karena sedang mode ekstrovert, atau memang beginilah takdirnya, jadi Allah menggerakkan hatiku.

Proses nulis ikrarnya cepat. Tapi milih foto, edit-editnya lama. hehe. Sempat mau naruh pp fb aja, trus foto diri, tapi bagian wajahnya di tutup, dan akhirnya foto siluet aja, kasih label nama. Entahlah dihitung memenuhi syarat atau ga. Yang jelas, aku sudah publish.

***

Tentang foto.. ini juga yang buat aku ragu gabung sebuah komunitas. Namanya Buka Buku, penggagasnya Pak Nassirun Purwokartun, yang dulu membimbing di Kompilasi. Seneng padahal, doaku kaya terjawab. Beberapa kali di blog ini aku menyebutkan, butuh komunitas kaya aksara, yang ngajak baca tulis dan diskusi. Butuh baca sharing bacaan dari orang lain. Agar pembaca pemilih dan lambat seperti aku, bisa ambil pelajaran juga dari buku yang dibaca orang lain.

Tapi kalau liat akun sosmednya Buka Buku, aku minder. Ah, foto. Asumsiku, semua anggotanya wajib kirim foto wajah plus buku yang sedang dibaca. Ada yang cadaran juga anggotanya. Tapi aku, dan foto itu... ada hal kecil yang ingin aku jaga, meski kadang satu dua kali lalai. Aku akhirnya cuma jadi penikmat saja, follow sosmednya. Kadang berusaha menghibur diri, gapapa bell.. toh kalaupun ikut ga mesti bisa hadir di forumnya.

***

Foto, Facebook dan diamku. KMO berhasil membuka diamku di facebook, untuk foto.. masih bisa diakali, entah dimaklumi atau ga sama panitia. Semoga effort-ku kebaca. Agak aneh soalnya kalau aku panjang lebar menjelaskan tentang diri, tentang foto. Aku cuma satu dari ratusan peserta lain.

Yang penting, satu hal ini, semoga bisa menjadi langkah agar aku berani meningkatkan kualitas menulis. Dari nulis asal, ga jelas, di sini. Ke nulis rapi, dibukukan. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Karena KMO juga, aku jadi buat email dan akun ig untuk BetterWord. emailnya: better betterwordforlife@gmail.com. Mangga kalau ada yang mau kirim kritik tentang blog ini bisa ke sana. Ig-nya @betterword_kirei. Belum ada isinya tapi. Semoga segera buat logo, trus launching resmi *sok gaya bgt hehe. Oh ya, gatau kenapa ga bisa naruh link blog ini di bio ig. Nyebelin.


Mengizinkan Diri untuk Menjadi Penulis

December 14, 2018 0 Comments
Bismillah

Sudah lama aku ikut komunitas online menulis, mulai dari Kompilasi, Rumpun Aksara, Serdadu Aksara, EMC, KMK, Menulis Aja, Perempuan!, Sabtulis, 8PM, Sharpen the Saw, Partai Literasi, dan sekarang KMO. 

Awal kenal KMO dari channel telegram Indonesia Menulis, tahu agenda besar tahunan / dua tahunan yang namanya Jumpa Penulis. Banyak materi kece di sana, tapi kalau ga standby dibaca, kemungkinan ga dapet manfaatnya. Aku baru sadar beberapa waktu lalu, saat materinya hendak aku copas sebagian untuk diceritakan di sini, eh udah ga ada hehe. Dari situ diberitahu tentang KMO Club angkatan #15. Ini gratis dan ga ngasih syarat harus share ke berapa kontak atau grup hehe. Daftar deh, malem kemarin mulai kegiatannya. 

Tiap peserta dikasih dua "nyawa", gamifikasi. Habis materi ada tugas, kalau ga ngumpulin atau telat, "nyawa"-nya berkurang satu. 

Materi semalem aku agak telat bacanya, jam 9 baru bisa standby di telegram. *yang ini harusnya ga perlu diceritain ya? wkwkwk. 

Anyway, materi semalam tugasnya menuliskan ikrar, kalimat sugesti bahwa kita mengizinkan diri kita untuk menjadi penulis. 

Semalem, aku coba ulangi kalimatnya. satu, dua.. gatau kenapa mata jadi panas dan lembab. Teringat keinginan menjadi penulis, yang sering aku cuap-cuapkan di sini, draft buku yang terbengkalai, alasan dan excuse yang membuatku 'ragu' naik tangga agar tidak berhenti menulis di sini.

Mungkin benar, selama ini.. aku belum sepenuhnya mengizinkan diriku menjadi penulis. Mungkin itu... salah satu alasan mengapa strong why belum terbentuk dan menggerakkanku untuk merampungkan tulisan agar menjadi karya sebuah buku. 

***

Tugasnya, terakhir di kumpulkan malam ini jam 21.00 di publish di facebook. Jujur keraguan itu masih ada. Facebook itu bagiku "jalan raya". Bisakah aku memberanikan diri menyatakan ikrar, bahwa aku ikhlas mengizinkan diriku menjadi penulis?

Allahua'lam. Sekarang tugasku, buat dulu.. selain posting foto ikrar yang ditulis tangan, juga membuat tulisan alasan mengapa menulis. jadi inget Aksara Salman ITB dan tugas Ambak, hehe.

Sebelum posting di fb, izinkan aku post di sini ya. 

Bismillahirrahmanirrohim. 


***

Semoga Allah menguatkan tekadku, dan menjadikanku penulis, yang karyanya mengajak pembaca menuju jalanNya, mendekat padaNya, serta mengenal tentangNya. Penulis, yang karyanya bukan hanya bernilai di dunia, tapi juga di akhirat kelak, dihitung sebagai amal baik, sebagai amal yang terus mengalir. Aamiin. 

Allahua'lam.

Thursday, December 13, 2018

Mutiara Al Quran

December 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku

Dari buku Mutiara Al Quran, Dr. Sultan Abdulhameed, diterbitkan oleh Zaytuna. Terjemahan dari "The Quran and The Life of Excellence".



***

Tentang ayat 5 dan 6 surat Al Insyirah,
Kedua ayat di atas hendak menegaskan bahwa setiap masalah selalu dilengkapi dengan pemecahannya. Solusi atau rasa lega tidak hadir setelah kesulitan, tetapi sudah tersedia saat masalah itu muncul. Kita sering kali tak mampu melihatnya tatkala kita diliputi kabut krisis, padahal sebenarnya solusinya sudah ada, yang artinya bahwa kita bisa menemukan jalan keluar itu jika kita mau mencarinya.
Tapi apakah setiap masalah solusinya bisa 'segera' kita dapatkan?
Pengalaman mengajarkan bahwa sering kali kita tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu seketika, tetapi bila kita bersikeras menemukannya dengan fokus yang optimis, maka jawaban-jawaban itu akan tampak di depan mata. Menghapuskan memori rasa sakit atau musibah dengan sendirinya akan sanggup menciptakan kelegaan tersendiri.
 ***

Tentang ayat terakhir Al Insyirah. Wa ila rabbika farghab. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
Sumber kekuatan yang paling dahsyat dan penting yang bisa kita miliki adalah memahami bahwa Allah peduli dan menjaga diri kita. Kata bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai 'Perawat' adalah Rabb, yang menyiratkan makna "Yang peduli, merawat, memelihara, menunjukkan, melindungi, membentengi, mencintai". Jalan yang dijamin untuk menjalani hidup dengan kekuatan yang terus bertambah adalah dengan cara tetap sadar akan sang Rabb, Dzat yang tidak terlihat, tetapi selalu ada. Setiap hambatan yang kita temui telah dibentuk oleh Sang Pencipta sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Dia telah merancang hidup sedemikian rupa sehingga masalah selalu hadir melengkapi dengan pemecahannya. Dan Dia senantiasa bersama kita dan memandu kita dalam setiap kesulitan yang kita hadapi.
- Dr. Sultan Abdulhameed, The Quran and The Life of Excellence
***


Tulisan pertama di buku ini sekilas isinya mungkin hal yang pernah kita dengar atau baca. Surat Al Insyirah? Familiar kan? Sudah hafal, mungkin pernah juga mendengar penjelasan tentangnya. Tapi membaca tulisan pertama yang hanya empat lembar itu, cukup untuk membuatku sadar, bahwa Al Quran memang begitu, harus sering-sering dibaca dan dipelajari. Diulang-ulang lagi dan lagi. Dan setiap pengulangan, rasanya tidak bosan, selalu ada manfaat yang didapat. Itulah mukjizat Al Quran, isinya terjaga, berlaku untuk semua zaman. Yang mempelajari dan mengajarkan disebut sebagai sebaik-baik manusia.

Buku ini juga mengingatkanku, bahwa interaksiku dengan Al Quran tidak boleh berhenti di membaca saja, atau menghafal saja, tapi juga harus menggali makna dan tafsirnya, memikirkannya, mentadabburinya, dan mengamalkannya. Bagaimana agar setiap ayat yang kita baca bisa membuat shalat kita makin khusyu, bagaimana agar setiap ayat membuat akhlak kita semakin harum. Semoga Allah memudahkan kita melaksanakannya. Aamiin. 

Allahua'lam.

***

PS: Kalau ga salah, karena buku ini saya jadi menulis "Buku-buku yang Aku Baca". Ingin rasanya menyalin satu dua paragraf dari setiap tulisan di buku ini... boleh ga ya? Hehe.

Patah Hati

December 13, 2018 0 Comments
Bismillah.

Patah hati, sakit hati, heart break. Sebelumnya aku memandang frase itu sebagai frase saja. Tidak pernah aku bisa melihatnya lebih dalam, aku tidak pernah tahu atau paham rasanya. Sampai Allah menuliskan takdir, agar aku melihat frase itu lebih dekat. Bagaimana patah hati, sakit hati, bisa memberikan banyak perubahan di hidup seseorang.

Betapa hati itu lemah, mudah terbolak balik, aku sudah tahu. Tapi sebelumnya aku tidak pernah berempati, menyaksikan orang jatuh bangun berjuang menyembuhkan hatinya yang hancur. Mungkin itulah mengapa Allah ingin menjaga hati kita sebegitunya. Karena Allah tahu, efeknya, sakitnya, jika hati kita terluka, sakit, bahkan patah. 

***

First heart break. Prosesnya akan menyakitkan, tapi jika ia bisa melaluinya ia akan menjadi kuat. Begitu yang dijelaskan temanku. Ia mungkin sudah sering mendengar kisah patah hati orang lain, sehingga seolah-olah itu hal biasa. 

Tapi aku... bagiku, itu bukan sekedar itu. Rasanya aku bisa mengerti mengapa dunia seseorang terasa sempit dan ikut hancur, saat seseorang mengalami patah hati. Meski aku juga setuju, bahwa patah hati tidak mengakhiri hidup seseorang. Bisa jadi itu "hal kecil", jika dibandingkan dengan gempuran bom yang setiap hari mengancam nyawa seseorang yang tinggal di wilayah perang.

Menulis tentang patah hati dan perang ngingetin aku sebuah video lecture animasi. Penjelasan surat Al Furqan kalau ga salah, bagaimana gunung dosa bisa Allah ganti menjadi gunung amal baik.


Ada tiga dosa.. bagaimana seorang muslim bisa melakukan itu? Dosa syirk, membunuh dan berzina. Lalu bagaimana ayat ancaman adzab yaang dilipatgandakan itu, dilanjutkan dengan ayat rahmat dan rahim-Nya.

Membunuh dan zina itu berkaitan, yang satu membunuh raga manusia, yang satu lagi membunuh jiwa manusia. Di video itu juga digambarkan, bahwa ada situasi dimana manusia bisa "begitu mudah" terjatuh dalam dosa tersebut. Yanng satu kondisi peperangan, dimana "semua orang membunuh" maka membunuh seolah hal biasa yang terjadi sehari-hari. Yang satu lagi kondisi dimana "semua orang berzina" maka zina seolah hal biasa yang terjadi sehari-hari. Padahal keduanya merupakan dosa yang disebutkan setelah dosa syirk.

Ada di kondisi yang mana kita? Begitu bahayanya zina, sampai Allah memperingatkan agar tidak mendekatinya.

***

Main api, main hati. Berawal dari hal kecil, lalu saling meracuni dan menyakiti. Saat sudah kadung terluka, patah hati, kita baru akan menyadari hikmah perintah dan laranganNya.

Perasaan kita begitu berharga, maka Allah tidak menginginkannya terluka. Sekali dihancurkan, patah hati, kemudian mengulang kesalahan yang sama lagi dan lagi.

***

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyatukan kembali hati yang sudah patah? Mengokohkannya lagi setelah bentuknya telah menjadi serpihan kecil? Setiap orang berbeda, jelas temanku.

Lalu aku teringat sebuah ayat lain, surat At Taghabun. Mungkin bahkan lukanya dibawa terus sepanjang hidup, jika saat patah hati, kita berkunjung ke dokter salah, meminum obat yang salah, atau justru hanya lari lagi dan lagi ke tempat yang salah.

Begitu, masih akan sakit. Sampai kita tahu bahwa cuma Allah yang bisa menghidupkan hati yang telah mati. Bahwa cuma dengan berlari kepadaNya, berdoa memohon petunjukNya, hati kita bisa membaik, pelan dan ada prosesnya. Tapi janjiNya tidak pernah ingkar. Allah akan menyembuhkannya secara sempurna. Jika pun masih terasa sakit, Allah akan ganti rasa sakit itu dengan hal yang lebih baik, entah di dunia atau di akhirat kelak. 

***

Terakhir, untuk siapapun yang sedang atau pernah patah hati... Semoga Allah menyembuhkan lukanya, menghapus rasa sakitnya. Semoga patahan itu menjadi jalan kita mendekat padaNya. Karena apapun yang membuat kita mendekat padaNya itu baik, meski rupanya gelap, dan berdarah.

Allahua'lam.

***

PS: Entah berapa kali aku maju mundur untuk menulis topik sensitif ini. Rasanya, siapa kamu bell? Mohon maaf kalau ada banyak salah. Tulisan ini yang utama dan pertama untuk diri. Subahanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Siapa Kamu?

December 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-
#selftalk

Siapa kamu? Mau nulis tentang A... memangnya kamu benar paham? Benar mengerti? Memangnya kamu sudah baik?

Siapa kamu?

Pertanyaan itu selalu hadir setiap kali aku hendak menulis, atau mempublish tulisan. Terutama jika tulisannya tentang opini, atau hal yang perlu ilmu untuk membahasnya. Maka aku sering menahan jemariku. Pertanyaan itu selalu bisa membuatku berhenti menulis, atau berhenti dan tidak jadi menekan button publish.


***

Siapa kamu?

Aku... aku hanya seseorang yang sedang belajar, dan aku suka menulis. Jadi dalam proses pembelajaranku, aku ingin menuliskannya, meski pengetahuanku tentangnya belum sempurna, masih di permukaan. 

Siapa kamu?

Aku... aku hanya seorang pendosa yang berusaha bertaubat, dan aku suka menulis. Maka dalam perjalananku kembali padaNya, meminta ampun akan dosaku, aku menuliskannya, pengingat dan nasihat-nasihat yang baik untuk hati. Bukan untuk mengingatkan orang lain, tapi justru untukku yang masih tertatih menelusuri jalan menuju padaNya. Masih sering salah belok, masih sering tersandung dan jatuh. Semoga tidak menyerah untuk terus kembali bangun dan berjalan lagi mendekat padaNya, semoga kelak dimatikan diantara orang-orang yang taat. 

***

Siapa kamu?

Bukan siapa-siapa. Cuma seorang hamba biasa, yang Allah takdirkan suka menulis. Maka izinkan aku membiasakan setiap tulisanku diawali dengan menyebut asma-Nya. Dan diakhiri dengan kata, bahwa Allah Lebih Tahu, Lebih Berilmu, dan tulisanku penuh kekurangan dan kesalahan. 

Allahua'lam.

Tuesday, December 11, 2018

2018 Selesai

December 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

#blog

Sekitar sebulan September akhir, aku mulai suka utak atik desain di canva. Akhirnya kuputuskan untuk membuat setiap postingan di blog ini ada foto preview-nya. Mulai deh, aku garap satu persatu. Terkadang hanya desain sederhana, kadang cuma foto, kadang kalau niat, buat desain poin-poinnya. Setiap desain, meski cuma tempel-tempel dan edit dari layout yang udah ada di canva, ternyata tetap makan waktu lumayan lama hehe. Dan alhamdulillah 2018 sudah selesai. Ini mau mulai ngerjain tulisan tahun 2017, tapi masih ngumpulin semangat hehe. Selain canva, aku juga pakai aplikasi resplash, buat download gambar dari unsplash.

Sebenernya saat dicek ulang, ada aja tulisan yang image previewnya ga muncul. Gatau kenapa. Tapi kalau di klik, harusnya ada kok satu image, entah itu desain, foto, atau screenshoot. Hehe.



***

Nulis tentang blog jadi inget New Leaf. Udah ganti tema juga, semalem jadi, udah download temanya lama, dulu salah satu opsi tema untuk blog ini. Isinya... sedang krisis, karena memang semangat menulisku sempat turun. Dan konsumsi bacaan bahasa inggrisku bisa dibilang nol. 

Magic of rain masih jalan, masih di private, tapi isinya sudah bukan puisi. Cuma kata-kata pendek, yang enggan kusempurnakan jadi kalimat.

Medium, kemarin sempat import beberapa tulisan dari sini, dan dari New Leaf. Kayanya kedepannya akan begitu, cuma semacam speaker tambahan, sumber tulisannya dari sini, atau dari blog New Leaf.

Kemarin sempat kepikiran buat blog baru lagi, tapi ga jadi. Kayanya mending ngeramein sini lagi. Belajar lagi menulis bebas yang ga banyak mikir. Yang penting naik dulu semangatnya, semoga nanti diperbaiki juga. 

***

Tambahan ga penting, gatau kenapa autocorrect keyboard hp-ku aneh. Semoga ga jadi penyebab typo yang makin parah ya. Hehe. 

Semangat blogging~

Monday, December 10, 2018

Buku-buku yang Aku Baca

December 10, 2018 0 Comments
Bismillah.



Bagaimana jika seseorang bertanya tentang buku-buku yang kau baca? Bisakah kamu secara jujur memberikan listnya? Atau... kamu memilih menyebutkan beberapa saja. Beberapa judul yang paling berkesan, yang ingin kau rekomendasikan pada yang bertanya?

***

Kompilasi, sebuah grup komunitas menulis, di grup Facebook, saat itu aku ditanya dan diperintahkan untuk menyebutkan 100 buku yang pernah aku baca. Perasaan pertama, senang, tertantang. Pertanyaan itu menjadi jembatanku mengingat ulang masa-masa saat aku begitu menyukai buku, dan gemar membaca. Seolah aku diingatkan, apa kabar sekarang? Sebegitukah sulitnya meluangkan waktu membaca? Dulu kamu setiap istirahat ke perpus, pinjam atau mengembalikan buku, begadang untuk menamatkan buku, kenikmatan membuka lembaran-lembaran buku.

Selanjutnya, aku jadi sadar, bahwa buku-buku yang aku baca juga bagian masa laluku, menyimpan "rahasia" diriku. Maka saat itu, buku-buku yang kukirimkan judul dan pengarangnya, sebenarnya bukan list penuh yang kuingat, tapi merupakan seleksi dari buku-buku yang pernah kubaca. Sebagian buku lain yang pernah kubaca, ingin kusembunyikan saja, memberitahu orang lain tentangnya ibarat membuka rahasia tentang diri. 

Setelah itu... aku mulai hati-hati memberitahu orang lain tentang buku-buku yang aku baca. Membagikan daftar buku yang aku baca itu semacam berbagi rahasia, tentang topik yang kita minati, serta pemikiran yang kita miliki. Belum lagi, aku takut, saat kusebutkan buku-buku itu, orang lain akan mulai menghakimiku. Jika buku-buku yang aku baca merupakan buku pemikiran A, mereka akan mengira aku seorang A. Atau jika buku-buku yang aku baca hampir semuanya homogen, aku mungkin dikira sebagai seseorang yang pemilih, tidak berpikiran terbuka. Aku tahu ini cuma ketakutanku saja, tapi nyatanya, pemikiran itu berhasil membuatku menahan diri untuk menyebutkan buku-buku yang aku baca. 

Sampai suatu sore, atau siang.. Sebuah pemikiran baru muncul, dan membuat jemariku bergerak menulis draft tulisan ini.

Buku-buku yang aku baca, benar merupakan bagian dari diriku, masa lalu, dan juga masa kini-ku. Ia bisa juga jadi sebuah rahasia yang ingin aku sembunyikan. Tapi... tidak bisakah aku berpikir bahwa buku adalah buku? Bukan rahasia. Jika bukunya baik, mengapa tidak kau sebutkan dan rekomendasikan pada temanmu, pada kakak atau adikmu, pada orang lain di luar sana, yang sedang memulai perjalanan membacanya?

Saat itu, aku paham. Selama ini aku terlalu fokus pada diriku, egois dan memilih merahasiakannya. Saat itu aku paham, sebelumnya aku terlalu fokus pada diriku, ketakutanku untuk dinilai dan dihakimi lewat buku-buku yang aku baca. Aku lupa, barangkali saat aku memberitahu orang lain tentang buku-buku yang aku baca, fokus mereka bukan padaku, tapi pada buku-buku tersebut.

Persis seperti saat aku membagikan ayat quran yang aku baca, artinya, sedikit yang aku pahami, dan refleksi yang kudapat dari ayat tersebut. Fokus pembaca adalah pada ayatNya, bukan padaku.


***

Jadi... kedepannya, semoga aku lebih sering menulis tentang buku yang sedang atau sudah aku baca. Atau bahkan sekedar menyadur paragraf yang berkesan dari buku yang pernah atau sedang aku baca. Semoga hal kecil itu, bisa menjadi amal baik, bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Selanjutnya aku juga harus berdoa dan berusaha agar hal baik tidak hangus sia-sia karena bengkoknya niat.

***

Terakhir, maukah kamu memberitahuku tentang buku-buku yang kau baca? J

Semangat membaca! ^^

Allahua'lam.

Friday, December 7, 2018

Slow Reader

December 07, 2018 0 Comments
Bismillah.


"Belum beres baca buku itu?" tanya kakakku, melihat buku kecil tipis yang masih sering kupegang. Aku hanya menjawab dengan cengiran, "belum", lalu menambahkan, "aku bacanya sedikit-sedikit."

Pertanyaan kakakku membuatku berpikir.. mungkin memang aku keterlaluan lambat membaca buku tersebut. Aku jadi bertanya-tanya pada diri, apa aku memang tipe slow reader? Atau itu hanya alesan saja. Sebenarnya bisa jadi, aku belum juga menyelesaikannya karena memang lebih memilih menghabiskan waktu untuk hal lain. 

***

Slow reader, pembaca pelan, bacanya sehari hanya 3-10 lembar. Pelan dicerna. Tidak ingin buru-buru habis, ingin dikunyah lebih lama. Semoga tidak berhenti sebagai bacaan saja, tapi benar-benar masuk ke hati dan berbuah laku. 

Tapi sejujurnya, au juga meragukan diriku. Beda cerita, jika dalam proses membaca pelan, aku mencatat lalu menulis ulang sebagai bentuk aku sudah memahaminya. Seperti dulu, waktu awal-awal rajin nyatet quotes dari buku yang dibaca, juga rajin nulis nukil buku. Apa sebenarnya, kecepatan bacaku harusnya bisa ditingkatkan? Agar semakin banyak buku yang habis kulahap?

Entahlah, sementara aku ingin menikmati membaca ritme ini dulu. Tapi di sisi lain, aku tahu, ada banyak waktu yang lebih baik diisi dengan membaca lebih banyak lembar, atau menulis lebih banyak kalimat. 

Jadi? Kesimpulannya gimana? 

Kesimpulannya gapapa baca pelan-pelan, tapi pastikan itu bukan alasan yang dibuat-buat. Lantaran kamu lebih suka menggunakan waktu melakukan hal lain yang tidak produktif.

Terakhir, semangat membaca!

Allahua'lam.

Wednesday, December 5, 2018

Ikut Campur

December 05, 2018 0 Comments
Bismillah.

Cuma ingin menyalin paragraf dari buku "Hujan Matahari" - nya Kurniawan Gunadi. Tulisan bertajuk, "Ikut Campur". Rasanya, pas saja untukku. Sayang jika cuma dibaca, sepertinya memang perlu disalin untuk mengingatkanku.

from unsplash
***
"Biarkan orang lain lulus dalam ujian hidupnya. Kita sebagai teman ataupun orang dekat jadilah orang yang mendukung. Jika seseorang itu tidak mengizinkan kita masuk, maka jangan memaksa untuk masuk. Ketika orang lain itu tiba-tiba membutuhkan kita dan mengizinkan kita, maka masuklah ke dalam masalahnya dengan cara yang baik.
Kadang kita menjadi "perpanjangan tangan" Allah untuk menyampaikan sesuatu ke dalam hidup seseorang dalam waktu dan momen yang tepat. Jika itu belum, tahanlah diri. Setiap orang memang memiliki ujian hidupnya masing-masing. Iman pun akan diuji. Keyakinan, impian, idealisme, semuanya akan diuji dengan masalah untuk mengetahui sejauh mana keyakinan dan kekuatan seseorang terhadap apa yang dia yakini itu.
Biarkanlah setiap orang memiliki pengalaman emosi yang lengkap. Biarkan seseorang memilih keputusannya sendiri. Sebagai teman yang baik, siapkan diri kita kapanpun dia membutuhkan. Sejauh dia belum memanggil kita, perhatikanlah dan belajarlah dari masalah yang ia hadapi.
Aku yakin, orang dengan masalahnya dihadirkan oleh Allah ke kehidupan kita bukan tanpa maksud, bukan pula untuk menjadi bahan pergunjingan (gosip). Melainkan untuk bahan kita belajar tentang kehidupan ini. Sejauh mana kita semua paham akan hal ini akan membuat kita semua menghadapi hidup lebih bijaksana, baik dalam bersikap maupun mengambil keputusan.
- Kurniawan Gunadi, Hujan Matahari
***

Sebenarnya sudah lama aku bertanya-tanya pada diri, keresahan karena ditempatkan di satu dua kondisi untuk "ikut campur". Entah hikmah apa yang ingin Allah sampaikan. Yang aku tahu, aku berkali-kali takut sendiri, ragu untuk mengambil sikap. Seringkali gagal menjadi pendengar yang baik. Seringkali terlalu egois untuk belajar mengerti keseluruhan masalah orang lain, dan perasaannya. Entah pelajaran apa yang ingin Allah titipkan. Aku... masih perlu banyak belajar. Kapan aku harus menahan diri dari ikut campur ujian kehidupan orang lain. Dan kapan aku harus masuk, membantu sebisaku, berusaha menjalani peran sebagai teman yang baik, saudara muslim yang baik. Meski dalam prosesnya, mungkin aku banyak melakukan kesalahan.

Terakhir, semoga Allah membimbing langkahku, menahanku saat aku terlalu dalam "ikut campur" pada ujian hidup orang lain, juga memberikanku keberanian untuk melangkah membantu, karena bisa jadi, hal kecil itu bisa menjadi penghapus dosaku yang menggunung. 

Allahua'lam.

Monday, December 3, 2018

Mungkin...

December 03, 2018 0 Comments
Bismillah.

Mungkin, ia tidak benar-benar membacanya. Sehingga wajar pesanku tidak sampai padanya. Mungkin, begitu. Ya, pasti karena itu. Timingnya yang salah. Ia sibuk, jadi tulisannya terbuka tanpa benar-benar terbaca. Begitu. Begitu seharusnya aku menjaga prasangka baikku padanya. 

***


Malam ini, aku membuka aplikasi catatan yang hanya bisa diakses saat terhubung jaringan internet. Aku jadi melihat tumpukan yang menanti untuk dikerjakan. Rasanya ingin membantu, tapi pesan yang tidak benar-benar dibaca itu, membuatku enggan bertanya lagi. 

Seperti yang kusebut berkali-kali di blog ini. Menawarkan bantuan, tentu berbeda dengan meneror atau memaksa orang lain agar menerima bantuan. Otakku berputar-putar, memikirkan prasangka, tentang ia yang mungkin belum belajar tentang delegasi tugas. Terkesan egois.

Namun pemikiran yang membuat otakku penuh tersebut, kini didesak oleh pemikiran lain. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ini rasanya menjadi orang lain, yang melihatku jatuh bangun, terseok melangkah, jatuh lagi, namun saat mereka mengulurkan tangan aku malah tersenyum menggeleng dan berusaha bangkit sendiri. Menciptakan suasana kikuk karena keinginan baiknya untuk membantuku ditolak berkali-kali. Ah... beginikah rasanya?

***

Malam ini Purwokerto hujan *tiba-tiba? hehe. Mataku melembab, mengingat masa lalu. Betapa egois diriku, tidak tahu, atau tidak bisa berlapang dada menerima tawaran bantuan dari orang lain. Pun saat sudah dibantu, justru disia-siakan. Ibarat sudah ke dokter, dibantu diberi obat, eh, obatnya ga dimakan. Justru dibiarkan di meja, sedangkan aku masih keras kepala kalau bisa mengobati tanpa obat. Semacam itu. Atau seseorang melihat kakiku terkilir, ia memberikan tongkat untuk membantuku berjalan, tapi tongkatnya justru aku letakkan di tas, masih sok kuat bisa berjalan dengan kaki terkilir. Lupa, atau bodoh, bahwa kaki yang terkilir jika dipaksa berjalan akan semakin sakit. 

***

Nulis apa kamu bell? Hehe.

Balik lagi ke topik awal, abaikan tulisan setelah malam Purwokerto yang hujan. Sudah ga hujan hehe.

Kemungkinannya begitu, seperti yang kutulis di paragraf pertama. Semoga bisa kujaga prasangka baik itu. Semoga bisa mengulang pertanyaan, agar benar-benar yakin, apa tulisannya tidak benar-benar ia baca, atau... diamnya merupakan penolakan halus atas tawaran bantuan dariku? Atau aku bisa saja memilih menutup mata, atas tumpukan yang menanti untuk dikerjakan. Menutup mata, dan fokus saja memperbaiki semangat menulis.

Apapun pilihan sikap yang nantinya aku ambil, semoga yang terbaik. Dan tentang lintasan kemungkinan yang berputar-putar di otak, semoga aku bisa menghindari yang buruk, dan hanya mengambil yang baik. Karena itu haknya, dan itu kewajibanku padanya.

Allahua'lam.