Follow Me

Friday, August 17, 2018

Harusnya Fokus pada Isi Bukunya

August 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tapi aku.. justru lebih tertarik pada nostalgia kenangan yang tersimpan di buku tersebut. 

***


Buku berikutnya, judulnya Mizanul Muslim. Direkomendasikan oleh Mba Nisaa Fatayah. Belinya di Yaquut Islamic Book Store. Gatau sekarang toko bukunya masih buka atau ga. Aku mulai baca dari halaman pertama lagi, kemudian menemukan jejak nerupa lingkaran dengan pensil pada beberapa kata, garis bawah masih dengan pensil pada kalimat tertentu, tanda tanya, dan tanda semisalnya. Sepertinya, sifatnya bukan sebagai highlight atau quote yang berkesan, tapi bagian yang perlu ditanyakan atau belum dipahami. 

khasyyah itu bisa diterjemahkan takut, tapi maknanya bukan cuma takut, jadi tetap ditulis setelah kata takut. 

Rasanya... jadi nostalgia, saat melihat tulisan kepemilikan, alamat yang tertera, oh.. aku beli buku ini pas aku tinggal di sana. Trus saat menemukan pembatas buku dari Yaquut, ada CP-nya, membuatku bertanya itu nomernya siapa ya? Masih bisa dikontakkah? Atau sudah tidak aktif? Apa itu nomer temenku? *Ga sampai cek kontak di hp sih, cuma bertanya-tanya aja.

Saat liat jejak pensil, dibuat kagum juga, sama rencana Allah, terhibur sendiri. Seolah, Allah memang merancangnya begitu, belinya saat itu, baca sebagian saat itu, lalu mulai membaca lagi saat ini. Kata-kata yang tadinya asing, sekarang aku sudah sedikit tahu artinya. Kalimat yang tadinya tidak aku pahami, sekarang cukup aku pahami. Alhamdulillah. Nikmat mana lagi yang kita dustakan? (':


Satu lagi, tiba-tiba ingin menyebut buku ini bak harta karun memori. Saat sekali lagi kutemukan pembatas buku, ukurannya kecil, tulisan yang tertera juga hampir tak terbaca. Membuatku tersenyum saat kemudian mengenali, kalau itu dari Annisaa Gamais.

***

Aku tahu.. harusnya fokus pada isi bukunya. Tapi aku tidak bisa menutupi perasaan tak deskripsikan, menimbulkan senyum, membuatku ingin menuliskannya. 

Waktu yang tidak genap sewindu itu, meski terdapat penyesalan di sana sini, sungguh penyesalannya semata karena dosa dan kesalahan diri. Selain itu, aku bersyukur atas setiap memori dan kenangan. Buku itu, buku bersampul keras *hard cover hahaa.. puitisnya gagal. Buku itu.. buku bersampul biru itu berhasil membuat hatiku ikut biru, bukan biru dalam bahasa inggris yang sering menjadi konotasi rasa sedih. Tapi biru, seperti birunya langit yang membuat ujung bibir kita refleks naik, melengkungkan senyum. Seperti birunya air lautan, tenang, namun berisi begitu banyak rahasia di dalamnya. 


Aku tahu.. harusnya fokus pada isi bukunya. Tapi.. izinkan aku menuliskan ini. Nanti, in syaa Allah aku tuliskan juga cuplikan isi bukunya.

Allahua'lam. 

Belajar Menolak Panik

August 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

#blogwalking

Salah satu blog yang rutin diisi dengan tulisan berkualitas. Aku selalu tertarik membaca setiap kubaca judul inisial SAK sebagai penulisnya. 

gatau kenapa selalu ada emot sebagai image preview di setiap tulisan Mba Shinta Anggraini, mungkin settingan dari theme wordpressnya.
***

Tulisan kali ini cocok untukku, yang sering panik, clumsy, dan tergesa-gesa. Tulisannya, membuatku tergerak untuk menulis blogwalking, yang lewat di sini, berkunjung ke blog tersebut, dan sadar kalau ternyata banyak blog lain yang lebih berkualitas isinya daripada blog ini hehe. 

Langsung aja ya, kutipannya.. 
Sejak saat itu, seburuk apapun keadaan, saya berusaha sekali untuk tenang. Butuh kerja keras memang. Butuh tarik napas panjang, memejamkan mata, dan berdiam diri sejenak untuk memikirkan. Butuh waktu lama untuk terus berlatih dan membiasakan. Butuh kesabaran untuk menjalankan. Dan, yang paling utama, butuh niat yang lurus untuk istiqomah melakukan.
Dan kini, ketika berhasil menaklukan rasa panik, orang-orang sering bertanya, “Shin, kok nggak panik? Nggak sakit? Nggak takut?”
Saya manusia biasa yang memiliki rasa. Tentu saja ada rasa panik, takut, dan khawatir, ketika menghadapi situasi menegangkan. Tentu saja merasa khawatir dengan kesalahan. Tetapi, saya tahu, satu-satunya cara menghadapi semua itu adalah mencari solusinya. Dengan begitu, segala ketegangan akan sirna secara perlahan.
Ada proses panjang dilakukan untuk menolak rasa panik. Pemahaman tersebut tidak tertanam begitu saja. Ada proses afirmasi diri berulang kali dilakukan. Ada proses pembiasaan yang terus diusahakan. Dan ada proses-proses lainnya.
- Shinta Anggraini Karsono, Menolak untuk Panik

Selengkapnya langsung klik di link di atas ya (:

***

Tentang panik, jadi ingat temen-temen asrama. Salah satu pesan yang berulangkali muncul di kertas kecil dari mereka adalah untuk tidak panik, dan santai. 

Yang ga kenal aku, mungkin tidak akan pernah melihat sikap panikku. Tapi yang sering bersamaku, pasti tahu, dan paham, serta biasanya jadi teman yang mengingatkanku untuk menolak panik. 

Sekarang, meski belum bisa selalu menolak panik, aku kira aku sudah sedikit tidak terlalu sering panikan. Unik, bagaimana Allah menempatkanku di situasi yang ga boleh panikan. Karena jika panik, maka pasti terluka, meksi luka kecil, tetap saja, jadi jejak kepanikan. Sekarang, jadii nelajar untuk tidak panik, belajar tetap tenang tapi juga tetap cekatan. Cepat itu tidak harus tergesa-gesa. Kalau tenang, dan cekatan, kemungkinan terluka akan kecil.

Seperti yang ditulis Mba Shinta, menolak untuk panik memang tidak mudah, perlu tarik nafas panjang, membiasakannya. Kalaupun panik, gimana caranya, diusahakan cuma panik di hati dan tak sampai muncul di sikap atau tingkah laku. 

It won't be easy. But let's learn (:

Don't be panic!

Allahua'lam.

Yang Berubah Setelah Baca Sirah 'Aisyah

August 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Bukan nukil buku, cuma ingin berbagi insight atau pergeseran persepsi, setelah baca sirah 'Aisyah.

***

Diantara istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam yang paling familiar namanya adalah Khadijah dan Aisyah. Dari keduanya, lebih familiar Khadijah. Istri pertama Rasulullah, yang ada di sisi Rasulullah menyelimutinya saat Rasul menggigil setelah mendapatkan wahyu. Istri yang mendukung dakwah Rasulullah baik finansial, maupun psikologis. Istri yang tidak dimadu, yang darinya lahir Fathimah binti Muhammad.

Sedangkan tentang Aisyah, hanya sedikit yang aku ketahui, tentang ia, istri yang paling dicintai Rasulullah. Tentang kisah-kisah kemesraan Aisyah dan Rasulullah, lomba lari, saat menonton balap kuda, minum dari sisi gelas yang sama, dan keberadaannya di akhir kehidupan Rasulullah. 

Tapi setelah membaca Sirah Aisyah, jadi 'mengenal' lebih dekat tentangnya. Tentang Rasulullah yang pernah mimpi bertemu dengan Aisyah sebelum menikah dengannya. Tentang kecerdasan dan hafalannya yang kuat, sejak kecil. Tentang ayat-ayat yang turun karenanya, hadits ifki, syariat tayamum. Dan tentang banyak hal lain. Dari sana, aku jadi tahu, kalau perlu baca lebih banyak biografi perempuan hebat, seperti Aisyah, untuk membuat kita (perempuan) jadi sadar bahwa kita perlu banyak meneladani perempuan, muslimah hebat tersebut. 

Di era sosmed sekarang, yang istilah follow itu sekedar bentuk kita ingin tahu pembaruan-pembaruan suatu akun.. Di era sosmed, kita jadi banyak membandingkan diri dengan orang lain pada hal-hal yang tampak di mata, pencapaian 'kecil' yang terkesan wah karena jumlah like dan share. Kalau kita mau membaca buku, dan meninggalkan sejenak kehidupan di dunia maya tersebut, kita akan sadar, bahwa berjibaku di sosmed itu sering membuat kita lupa. Bahwa ada banyak kisah muslimah yang patut kita jadikan teladan, yang tidak akan kita temukan akunnya di sosial media manapun. Kalau kita ingin tahu tentangnya, perlu usaha lebih, bukan hanya dengan scroll, tapi harus membaca. *malu sendiri, kalau mengingat porsi waktu membaca dan porsi waktu main sosmed TT. 

***

Sekilas terdengar dan terbaca senada. Aku ingat Maryam salamun 'alaiha yang pernah berdoa agar terlupakan dan dilupakan. Lalu aku membaca tentang Aisyah, yang berucap lebih baik menjadi tanah. Keduanya perempuan, dan perasaan menyesal, ingin dilupakan, suatu saat akan hinggap di hati dan tertutur di lisan. Bukan berarti mendustakan nikmat-nikmatNya, hanya saja.. begitulah manusia, bisa merasa lemah dan menyesali kesalahan atau berada di situasi yang membuatnya ingin dilupakan dan terlupakan.

Dan meski kata-kata yang terkesan negatif itu pernah terucap di lisannya, ia tetap menghadapi kehidupan. Ia pernah menyesal akan ijtihad yang menurutnya salah. Tapi ia tidak hidup dirundung penyesalan, penyesalan itu ada dan mungkin selalu muncul sewaktu-waktu, namun ia melanjutkan hidup. Ia mendakwahkan quran dan sunnahNya, ia menerima puluhan dan ratusan tamu yang hendak belajar tentang sunnahNya, ia mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Gatau kenapa, dan bisa jadi pemikiranku salah. Tapi ucapannya, ingin dilupakan, lebih baik menjadi tanah, membuatku sadar bahwa terkadang, tidak apa-apa jika pemikiran itu melintas. Tidak apa-apa menjadi lemah, nyatanya memang kita bukan batu karang yang tetap berdiri tegak dihempas badai. Manusiawi jika tidak setiap waktu kita dipenuhi kepositifan. Terkadang jatuh, kesulitan untuk berdiri lagi itu...tidak mengapa. Terkadang, memilih menyepi karena ingin dilupakan dan terlupakan itu gapapa. Asalkan... kita tidak memutus komunikasi dengan Allah. Karena meski jatuh, meski lemah, meski hina, kita harus tahu bahwa Allah ada, dan selalu mendengarkan kita. Karena yang bisa membuat kita bangkit dan menghadapi badai kehidupan hanya Allah Yang Maha Perkasa. Allah yang akan menguatkan kita, yang akan menenangkan kita, yang akan membanntu kita. Maka meski suatu saat, kita dipenuhi kenegatifan, tidak apa-apa, asalkan kita terus berkomunikasi dengan Allah, lewat shalat, doa, dzikir, membaca kalamNya. 

***

Kutipannya menyusul in syaa Allah. Kalau insightnya salah, itu harap dikoreksi. Baca doa kafaratul majlis dalam hati, jujur berat untuk publish. 

Tulisan ini, untukku, untukku, untukku. 

Allahua'lam. 

Thursday, August 16, 2018

17 Agustus ; 20 Agustus

August 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

*warning* full curhat

Sebelumnya sudah aku publish di sini, tentang perasaan terkejut dan heboh sendiri saat tahu ada lecture dari Yasmin Mogahed plus pake 2 buku beliau. Tadinya, aku pikir, ga akan bisa hadir, sekarang juga masih mikir ga bisa hadir. Tapi jujur kemarin malam, membuatku ingin sekali hadir meski kemungkinannya kecil. 

Alasan tidak bisa hadir sebelumnya adalah rencana tgl 17 Agustus ke Bandung memenuhi undangan Teh Fiti, salahh teteh shalihah yang kukenal lewat Qaf. But then.. karena satu dua hal, akhirnya rencananya batal. Ayahku tgl 17 ke Semarang, ga mungkin aku meninggalkan ibuku sendirian. Oke lah bye. 

Trus semalem aku teringat lagi lecture Yasmin Mogahed, iseng aku buka link info pendaftarannya. Ternyata batas terakhir transfer tgl 15.

August 15, 2018. 19:49
***

Esoknya, Teh Fiti, iya teh Fiti yang tgl 17 mengadakan walimatul ursy di Bandung, tanya di grup, tentang CP acara tersebut selain yang tertera di posternya. Dan di jawab oleh salah satu anggota grup.


Jujur... waaah aku ingin sekali hadir. Bertanya-tanya pada diri, mungkinkah, masihkan ada kemungkinan untuk hadir? Liat waktunya, belum lagi, aku yang harus ditemani adik, trus budget, ga mungkin bs hadir kayanya. Aku masih mikir, apa tanya aja, barangkali bs beli bukunya, barangkali buku paketnya merupakan versi bhs inggris. Kalau iya, aku ga masalah bayar segitu, untuk dua buku versi bahasa inggrisnya Yasmin Mogahed. Tapi.. belum aku coba tanya sih. Nanti, hbs nulis ini in syaa Allah aku coba tanya deh ke email yang disarankan Mba Hain. 


Sore ini.. di grup yang sama tiba-tiba ada yang nanyain. Butuh tiket acara Yasmin Mogahed? Huaaa.. aku ga akan japri sih kalau yang ini. Karena kemungkinan aku bisa hadir sangat sedikit. Rezeki orang lain mungkin. J Allahua'lam. 


***

Terakhir, kopas dari tulisan kehebohan diriku saat baru tahu info acara tersebut, 
Oh ya, meski aku ga pernah ngikutin video-video beliau, satu buku yang aku baca udah cukup buat aku ingin hadir dan ikutan. Terutama buku reclaim your heart itu pesan intinya sesuatu banget, merebut kembali hati. Suka juga baca quotes beliau di tumblr. - Isabella Kirei
Bagiku, buku Reclaim Your Heart itu.. sesuatu. Aku teringat saat kuselesaikan membacanya saat berada diatas rel menuju rumah tercinta. The book made me realize that I have to, I must reclaim my heart back. (':

Meski kemungkinannya ga bisa hadir. Semoga acara tersebut lancar dan berkah J
 

Monday, August 13, 2018

Change of Heart?

August 13, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random #gakpentingbgt

Judulnya cheesy, padahal hanya ingin mengabstrak tentang perubahan pikiran. Tapi ingin menulis judul berbahasa inggris, jadilah.. kutulis frase yang kutahu maknanya mirip dengan perubahan pikiran. Change of heart. 

***

Awalnya... aku seorang pengamat, secret admirer? Bisa dibilang begitu. Sebuah ide, gerakan yang baik dan positif. Aku suka konsepnya, sistemnya. Awalnya, aku cukup menikmati melihat dari jarak jauh. Namun perlahan, melihat dari jauh saja.. rasanya, kurang. Apalagi saat kulihat, beberapa kali hening dan senyap di sana. Aku bertanya-tanya, apa ia butuh bantuan? Maka... aku beranikan untuk bersuara, kuperkenalkan namaku, kuapresiasi ia. Aku ajukan bantuan padanya, barangkali meski hanya sedikit.

Bayangkan ada orang asing, yang tiba-tiba menawarkan bantuan? Apa perasaanmu? Aneh kan? Apalagi meski sudah didiamkan, ia berulang menawarkan bantuan. Pasti awkward dan aneh. Setelah memikirkan posisinya, aku akhirnya mundur lagi. Meski tidak kucabut penawaran bantuan dariku, aku kembali ke posisi awal. Biarkan aku jadi pengamat jarak jauh lagi, secret admirer lagi. 

Tadinya, aku ingin ikut membantu. Ingin berjalan bersama. Tapi setelah beberapa waktu, dan kulihat sikapnya yang beku. Aku jadi berubah pikiran. I have a change in my heart. Aku tidak mau menjadi orang asing, yang tiba-tiba ikut campur urusan orang lain. Bagaimana pun, aku orang asing. Maka meski aku lihat ia seperti membutuhkan bantuan, aku tidak akan mendekat.

Aku.. aku akan mengambil hikmah, bahwa Allah membuatku mendekat, agar terjadi 'perkenalan'. Allah ingin aku belajar lagi menjadi ekstrovert, seperti dulu. It's not that hard. Dan aku jadi teringat lagi aku yang dulu.. Yang suka bertemu orang baru.

Meski kini aku menjauh dan menjadi pengamat jarak jauh lagi. Tapi ada perubahan pada diriku. Aku bukan aku yang dulu diam dan menjadi secret admirer. Sekarang bukan secret, admirer aja. Bukan admirer bahkan, cuma satu diantara yang lain.

Even though I have a change of heart. Thanks to it, I achieve one of my little milestone. New leaf. 

Akan segera kuakhiri keabstrakan ini.

I don't know, maybe another time I'll have another change of heart. Who knows? Karena memang begitu hati, mudah berbolak-balik. Tulisan ini.. hanya sedikit jejak, bahwa saat ini, aku ingin berada jauh di sini saja.

Allahua'lam. 

Menahan Jemari

August 13, 2018 0 Comments
Bismillah. 

Hari ini beberapa kali aku membaca pertanyaan atau pernyataan yang membuat otakku berpikir, dan kemudian jemariku bergerak untuk merespon. Tapi... aku kemudian menahannya. Hmm... Kalau cuma sekali, mungkin biasa saja. Yaudah. Tapi hari ini, beberapa kali. Jadi ingin menuliskannya di sini. Saat otakmu berputar, jemarimu mengetikkan kata-kata. Namun kemudian... backspace, atau block all dan cut. Hilang tulisannya, aku menahan jemariku. Saat itu, di sana, lebih baik aku diam dan tidak memberi respon? Atau? Lebih baik aku menuliskannya saja? Di tempat lain? I don't know. 

***

Dari tiga pertanyaan, yang membuat otakku berputar dan siap merespon, meski pada akhirnya aku menahan jemariku untuk mengetikkan dan mengirimkan kalimatnya... kesamaannya, adalah.. aku bertanya-tanya, apa tujuan yang bersangkutan bertanya? Apakah hanya kuriositas? Atau? 

Saat aku hendak menjawab dan merespon, hendak mengeluarkan opiniku, aku menemukan pola yang sama. Aku bukan menjawab pertanyaan, tapi justru bertanya balik, sebenarnya niat nanya buat apa? Trus aku jadi kesel sama diri sendiri, why it seems like, you think negative towards the questioner? Itu.. salah satu yang membuatku menahan jemari.

Alasan lainnya. Klise, aku merasa jawabanku tidak tepat, atau tidak penting, It's just my two cents. Atau karena sebenarnya aku tidak tahu, hanya sok tahu. 

Alasan lainnya,... mungkin aku sedang fase introvert. I'll just chew and process my answer alone, in my head. Maybe I'll write it, but not here. Entahlah. Masih ada keinginan untuk menjawab tiga pertanyaan dari tiga penanya berbeda. Tapi di sisi lain, aku ingin menahan jemariku. Di sana, dan juga di sini.

***

Jadi tujuan nulis ini apa Bell? Penyaluran perasaan anehku, saat hari ini Allah takdirkan aku menahan jemari lebih dari sekali, atas pertanyaan yang berbeda. 

Aku bertanya-tanya, apa ya... hikmah yang bisa kupetik dari hal itu? Sikapku, pilihanku untuk menahan jemari, apakah itu baik? Atau.. justru, aku baiknya tidak menahannya. Mungkin baiknya aku tetap bersuara, meskipun respon atau jawabanku salah. Karena cuma dengan menuliskannya, dan orang lain membacanya, akan ada yang mengoreksiku. Kalau aku nulisnya di sini, ditulis sendiri dan dibaca sendiri, ya.. ga ada yang memberitahuku bahwa aku salah, atau pendapatku tidak tepat.

***

Terakhir... sebenarnya, aku senang membaca tiga pertanyaan itu. Aku jadi dibuat berpikir, dan memikirkan respon yang tepat, opiniku terhadap pertanyaan itu.. meski akhirnya aku menahan jemariku, tetap saja menyenangkan. Ibarat lama ga olahraga otak, trus pertanyaan itu membuat otakku jadi olahraga hehe. Brainstorming. 

Terimakasih pada yang bertanya. Maaf karena memilih menjawab dalam hati dan otak saja hehe. 

Semoga di lain kesempatan, di lain pertanyaan, aku tidak menahan jemariku untuk merespon pertanyaan. J

Bye... 

Allahua'lam. 

Saturday, August 11, 2018

Cuma Didengar dan Diiyakan

August 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

Sebenarnya tadi sudah bersiap akan tidur, tapi kemudian teringat "jatah makan" New Leaf hari ini. Jadilah kupaksa mata yang sudah sekian watt untuk melek lagi dan menulis seadanya, sebisanya. 

Kantuk hilang, lalu aku berkunjung ke instagram. Membaca postingan Teh Tristi, otakku yang sudah pemanasan menulis di New Leaf, ingin ikut berkomentar di sana. Tapi sebagian lainnya, menahan jemariku. Jangan di sana, komennya, di blog aja. Baiklah.. 

yang mau baca tulisan Teh Tristi bisa berkunjung ke @tristiul
Aku membaca beberapa komentar di sana, yang mengelak, pernyataan bahwa perempuan hanya ingin didengar dan diiyakan. Aku juga... bagiku, perempuan tidak cukup cuma didengar dan diiyakan. Ga asik, kalau lawan bicara cuma mendengar dan mengiyakan. Kalau gitu mah, mending nulis di blog aja. Justru tujuan berdialog itu.. karena butuh mendengar suara orang lain, pikirannya, opininya, sudut pandangnya.

Trus..perlu digarisbawahi, menjadi pendengar yang baik itu bukan cuma mendengar dan mengiyakan. Tapi harus memberi respon yang tepat. Bukan cuma hmm.. iya.. terus? oh.. gitu ya... *angguk-angguk kepala. Kalau lawan bicara begitu, biasanya aku justru berhenti bercerita. Buat apa? Kalau cuma respon kaya gitu, mending juga nulis di sini hehehehe. 

Pendengar yang baik itu,... *mudah menulisnya susah praktenya. Bukan cuma mengiyakan dan pasang telinga. Tapi menyimak dengan cermat, sesekali mengulangi yang diceritakan sebagai bukti kalau kita tidak salah menyimpulkan. Terkadang meminta ia untuk mengulangi, jika ada yang terkesan janggal atau salah. Bahkan tidak ragu untuk mengingatkan, jika ternyata ia terus berputar-putar tanpa menyatakan poin utamanya.

Lepas dari gender, bagiku komunikasi itu memang tidak mudah. Mau iti komunikasi dengan sesama perempuan maupun dengan laki-laki. Baik itu komunikasi dengan orangtua, maupun dengan teman. Dengan orang yang sudah sepuh, apalagi dengan balita yang lidahnya masih pendek. Hehe. 

Tapi.. tapi.. meski susah, tidak mudah, ada banyak kesempatan untuk terus belajar. Baik itu komunikasi lisan maupun tulisan. Baik itu komunikasi verbal maupun non verbal (gesture, ekspresi wajah, dll). Sama seperti bayi, yang awalnya hanya bisa menangis, bentuk ia berkomunikasi. Kita juga, bisa perlahan belajar. Terlepas dari karakter introvert atau ekstrovert. Bahkan juga terlepas dari keterbatasan bahasa. Kita bisa belajar.. berkomunikasi.

Terakhir, saat seharusnya semua bisa dikomunikasikan dengan baik. Namun entah mengapa lidahmu kelu, jemarimu kaku, dan komunikasi menjadi sunyi senyap. Coba sejenak tengok kabar hatimu, imanmu. Saat segala komunikasi dengan manusia terasa runyam, barangkali dan justru mungkin yang perlu kau perbaiki sekarang adalah komunikasimu dengan Allah. Apa kabar doa? Apa kabar shalat? Apa kabarmu dengan quran?

Allahua'lam. 






Have Responsibility But No Control

August 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

Mudah menuliskan kesimpulannya.

Bahwa kita memiliki kewajiban namun tidak memiliki kontrol atas seseorang. Dan kita harus tahu bedanya. Kadang kita suka lupa. 

Tentang orangtua, yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anaknya sebaik-baiknya, menciptakan lingkungan yang baik untuk mendukung ia tumbuh dewasa menjadi pribadi yang hebat. Tapi.. meski kita sudah melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan, bukan berarti kita memiliki kontrol atas anak-anak kita. Mereka, adalah individu yang berdiri sendiri kelak di hadapan Rabb-Nya. Usaha kita, mungkin tidak selalu membuahkan hasil manis.
"We cannot change the environment of our children and expect that they're going to come out perfect. We cannot, later on, start getting frustated with them when they change, when they make bad decisions. Because a lot of our kids will make a bad decisions. Like we made bad decisions. You and I made bad decisions. We disappointed our parents, they couldn't control everything we did. We also gave them a hard time."
***

Daripada menyederhanakan dan hanya menuliskan kesimpulannya saja, aku ingin menuliskan juga contoh-contoh kasus yang Allah deskripsikan dalam Al Quran. Ingin rasanya menuliskan semuanya, persis seperti yang disampaikan dalam video khutbah berdurasi 30menitan itu. Tapi...

***

Jadi Allah tidak banyak memberikan teori parenting, tapi Allah banyak memberikan contoh kasus, kisah-kisah interaksi antara orangtua dan anak. Yang pertama, tentang Ibrahim yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang tidak baik, lingkungan yang sangat buruk. Namun Ibrahim mampu menggunakan kemampuannya, untuk menemukan kebenaran, mengenal Allah, kemudian ditunjuk Allah sebagai kekasihnya, bapak Tauhid.


Lalu kisah kedua, tentang Nabi Yaqub, Yusuf dan saudaranya. Lingkungan dan pendidikan mana yang lebih baik, menjadi anak seorang nabi adalah lingkungan dan pendidikan terbaik yang mungkin di dapatkan seseorang. Namun meski begitu, ada perbedaan "produk". Ada Yusuf, yang terpisah dari pengawasan orangtuanya saat masih muda, ia kemudian menjadi budak di rumah seorang politikus. Ia muda, dan ia bisa berbuat semaunya, karena tidak berada di bawah pengawasan orangtua. Kemudian, ia dituduh bersalah, dan berpindah ke lingkungan yang buruk juga, penjara. Orang-orang seperti apa yang kita temui di penjara? Namun meski lama berada di lingkungan yang tidak baik, Yusuf 'alaihisalam tidak terpengaruh ia mampu tetap menjadi pribadi yang memukau. Bandingkan dengan saudaranya, yang berada di lingkungan yang baik, namun mereka berbohong, membuat skema buruk kepada Yusuf, bahkan tidak menghormati ayah mereka Yaqub 'alaihisalam. 

Kemudian kisah dalam surat Al Kahfi. Nabi Musa saat hendak berguru kepada Nabi Khidir dipertemukan dengan tiga situasi. Pertama tentang pemuda yang bekerja dengan menangkap ikan. Kemudian anak yang terbunuh, yang ternyata alasan dibalik terbunuhnya adalah karena ia kelak akan membuat kedua orangtuanya kesulitan. Ustadz Nouman mendeskripsikannya, dengan kata terror dan horror. He was going to be a terror and a horror to his parents. Yang unik, di ayat 80 surat Al Kahfi, kedua orangtuanya dideskripsikan sebagai orang baik yang beriman. Fa kana abawahu mu'minain. Orangtuanya tadinya hendak mendidik dan membesarkan anak tersebut dengan segala kemampuan mereka, namun anaknya ini kelak akan menyebabkan keburukan untuk kedua orangtuanya.
"Tughyaanan wa kufran, quran describe it as rebellion and disbelief. He's going to leave Islam, and he's going to be a horrible rebel against his parents. Even though they did nothing wrong in raising him." - Nouman Ali Khan
Masih di surat Al Kahfi. Kisah anak yatim, yang kita tidak mengetahui apapun tentangnya. Musa 'alaihisalam diberitahu untuk membangun sebuah dinding, ia tidak tahu mengapa ia membangunnya. Saat diberitahu alasannya, ternyata.. ada anak yatim, yang ayahnya belum lama meninggal. Ayahnya ini seorang yang baik. Anak yatim ini kelak akan tumbuh dan besar di jalanan, namun uniknya Allah azza wajall ingin menjamin kehidupan anak tersebut. 

***

Dari sekian kisah dalam quran tersebut, kesimpulannya.. ada di paragraf-paragraf pembuka tulisan ini. Kita memiliki kewajiban, tapi tidak punya kontrol. We have responsibility but no control. Meski di penjelasan ini fokusnya tentang kewajiban orangtua terhadap anaknya, sebenarnya ini bisa juga dibalik arahnya. Sama.. anak juga punya kewajiban untuk mengingatkan orangtuanya, tapi anak tidak punya kontrol atas iman orangtuanya. Begitupun teman kita, istri/suami kita, tetangga kita, orang-orang yang kita sayang. Kita punya kewajiban untuk menyampaikan ayat-ayatNya, memberitahu mereka betapa indah ajaran islam, tapi kita juga harus ingat, kita tidak punya kekuasaan atau kontrol atas mereka.

Allahua'lam. 

Friday, August 10, 2018

That's Not Who You Are

August 10, 2018 0 Comments
Bismillah.

Beberapa waktu yang lalu aku buka tumblr lagi, biasa... like beberapa postingan di dashboard, dan reblog beberapa. Salah satunya quotes ini,

“Never wish them pain. That’s not who you are. If they caused you pain they must have pain inside. Wish them healing.”
— Najwa Zebian

Kutipan tersebut, terutama kalimat, 'that's not who you are' bagiku sesuatu banget. Seolah ada yang mengingatkanku, akan apa yang sebenernya bukan aku. Hmm.. gimana jelasinnya ya? Hehe. 

Jadi, kadang.. kita suka bingung, lupa, siapa yang sebenernya diri kita, dan siapa yang bukan kita. Misal pernah suatu hari kita malas dan tidak produktif, salah kan kalau kita mempercayai, kalau sebenarnya kita memang pemalas. Padahal, ada hari-hari saat kita bersemangat dan mengerjakan banyak hal produktif. 

Begitu pula, yang disebutkan di kutipan tersebut. Kamu mungkin pernah bertemu seseorang, lalu orang tersebut melukaimu, entah sengaja atau tidak. Kemudian, karena perasaan marah, kau jadi ingin mendoakan yang tidak baik untuknya. Padahal, sikap itu, sebenarnya bukan kamu banget.

“Never wish them pain. That’s not who you are. If they caused you pain they must have pain inside. Wish them healing.”
— Najwa Zebian

Jangan berdoa keburukan untuknya. Itu bukan kamu. Kamu tidak seperti itu. Kamu bukan orang yang mudah berdoa buruk untuk mereka yang melukaimu. Kamu bukan orang yang saat tersakiti, segera mengucapkan atau menuliskan kata/kalimat buruk untuknya. Itu bukan kamu, kamu tidak seperti itu. 

Jika mereka menyakitimu, sebenarnya mereka merasakan sakit juga dalam hati mereka. Seperti seorang yang sakit, karena rasa sakit yang ia rasakan, tanpa sadar ia melukai orang di sekitarnya. Maka doakan ia agar sembuh.

***


That's not who you are. 


Ingin rasanya, ada yang memberitahu kita, meyakinkan kita, bahwa kita tidak seperti itu. Saat segala label buruk kita sandingkan di diri kita. Bukan orang lain yang berburuk sangka pada diri kita, tapi justru kita sendiri. Kita mengira kita egois, tidak bertanggung jawab, malas, menyebalkan, pemarah, bodoh, jahat dan segala label negatif lainnya. Kita bingung, dan hampir saja percaya was-was dari setan bahwa semua kata-kata negatif itu adalah diri kita. 

Sampai ada yang memberitahu kita. That's not who you are. Itu bukan kamu, sungguh, label dan kata-kata negatif itu bukan kamu. 

That's not who you are. Kamu jauh lebih baik dari yang kamu pikirkan. Jangan biarkan dirimu meyakini bahwa hal-hal negatif itu adalah dirimu. Bukan, sungguh bukan. Kamu bisa berubah, menjadi lebih baik, bermetamorfosis layaknya ulat yang berproses menjadi kupu-kupu. Layaknya pohon yang tak berdaun, kemudian Allah hidupkan lagi. Layaknya, bumi kering kerontang, yang Allah jadikan subur lagi lewat hujan.

Maka saat kamu ragu, dan merasa sebagai manusia terburuk dan terjahat di muka bumi, izinkan aku menuliskan ini, izinkan aku memberitahumu. That's not who you are.

Allahua'lam. 



Amalan Hati, dan Orang-orang yang Bersyukur

August 10, 2018 0 Comments
Bismillah.

Cuma ingin menyalin dua kutipan dari buku Madarijus Salikin. Yang pertama tentanng pentingnya memperhatikan amalan hati. Amalan seperti shalat, puasa, membaca quran, yang sifatnya jasmani perlu diperhatikan dan dijaga kualitas dan kuantitasnya. Begitupun amalan hati, baik itu bersyukur, ridha, ikhlas, sabar, dll.
"Amal-amal anggota tubuh dilipatgandakan hingga bilangan tertentu. Sedangkan amalan hati tidak ada batasan penggandaannya. Sebab amal anggota tubuh memang ada batasan penghabisannya dan pemberhentiannya, sehingga pahalanya tergantung dari batasannya. Sedangkan amal hati terus-menerus berkait, sekalipun kesaksian hamba terhadap amal ini surut." - Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam Madarijus Salikin
***


Salah satu ciri orang yang bersyukur,
"Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang mengambil manfaat dan pelajaran dari ayat-ayatNya, mengambil salah satu dari asma'-Nya, karena Allah adalah Asy-Syakur, yang berarti menghantarkan orang yang bersyukur kepada Dzat yang disyukurinya, sementara orang-orang yang bersyukur diantara hamba-hambaNya amat sedikit." - Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam buku Madarijus Salikin
Semoga Allah menjadikan kita salah satu dari orang-orang yang bersyukur. Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Aamiin.

Allahua'lam.

Tujuan Hidup, Misi Hidup

August 10, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku

Kali ini nukil buku dari 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey. Kebiasaan kedua: mulai dari tujuan akhir.

Baca nukil kebiasaan pertama: Proaktif: Fokus Pada Diri yang Bisa Kita Ubah

What's your goal? What's the mission of your life? Ini dua pertanyaan yang menjadi landasan kebiasaan 2 di buku 7 Habits of Highly Effective People. Kita lebih membutuhkan tujuan dan kompas (petunjuk arah) daripada sebuah peta. Buat apa punya peta kalau kita tidak tahu harus kemana. 

Terkait tujuan atau misi hidup ini, kalau menurut Stephen R. Covey enaknya bayangin saja kita meninggal, visualisasikan ingin dikenal sebagai orang yang bagaimana, atau apa yang akan orang bicarakan tentang kita di pemakaman kita. 

Walaupun aku pribadi kurang suka dengan hal itu. Karena kesannya yang kita kejar itu opini manusia. Padahal kan ya, hidup kita kalau untuk ngejar 'ridha' nya manusia, ga akan selesai, yang ada hanya sedih dan stress. 


Kecuali kalau tujuan visualisasi itu untuk mengingat kematian. Itu memang penting, karena kita sering lupa, untuk menentukan tujuan hidup, cuma ngalir aja, karena lupa bahwa kita akan dan pasti akan mati. Yang membuat kita lupa bisa banyak hal, antara lain kesibukan dan rutinitas. 
"Mudah sekali bagi kita untuk terperangkap dalam jebakan aktivitas, dalam kesibukan hidup, bekerja makin keras saja dalam mendaki tangga kesuksesan, hanya untuk mendapati tangga itu bersandar di dinding yang salah." - Stephen R Covey, dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People
Membaca kutipan itu entah mengapa mengingatkanku akan ayat quran, bersusah payah, memasuki api neraka TT. Al Ghasiyyah ayat 3-4.
"Jika tangga tidak bersandar di dinding yang tepat, setiap langkah yang kita ambil hanya akan membawa kita lebih cepat ke tempat uang salah. Bisa saja kita sangat sibuk, sangat efisien, tapi kita hanya bisa menjadi sangat efektif ketika kita memulai dengan tujuan akhir." - Stephen R. Covey
Kita pasti tidak ingin, sudah bersusah payah mendaki ratusan anak tangga, hanya untuk mengetahui, bahwa kita berada di gedung yang salah. So, let's ask ourself, what's the end that we want to achieve?

***

Selanjutnya, dituliskan juga di bab ini mengenai pusat kehidupan kita dan pentingnya untuk mengenalinya. Beberapa contoh pusat kehidupan yang bahas antara lain: pasangan, keluarga, uang, harta, pekerjaan, kesenangan, teman atau musuh, gereja, diri sendiri. Biasanya seseorang tidak berpusat pada satu hal saja, melainkan kombinasi dari beberapa.

Di penjelasan tentang macam-macam pusat, ada satu kutipan yang ingin saya catat, mengenai orang-orang yang pusat kehidupannya hanya mencari kesenangan demi kesenangan semu. Waktunya habis untuk berganti dari satu game ke game berikutnya, film ke film berikutnya, adventure ke adventure berikutnya.
"Kondisi ini memastikan kapasitas seseorang terbengkalai, bakat tidak dikembangan, pikiran dan semangat menjadi lesu, serta hati menjadi hampa." - Stephen R Covey, efek samping orang yang berpusat pada kesenangan
Kalau di buku ini, disarankan untuk berpusat pada prinsip. Prinsip di sini definisinya kebenaran yang mendalam dan mendasar, kebenaran klasik, petunjuk bersama dan umum. 

Lepas dari saran di buku ini, sebagai seorang muslim, saya jadi teringat salah satu slogan yang dipopulerkan ustadz Yusuf Mansyur untuk mengingatkan kita, agar kehidupan kita berpusat pada dan hanya kepada Allah semata. Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. 
"Dapatkah Anda melihat betapa mendasarnya pusat kita mempengaruhi kita? Sampai ke motivasi, keputusan sehari-hari, tindakan (atau seringkali reaksi kita), atau interpretasi kita tentang suatu kejadian? Itu sebabnya sangatlah penting memahami pusat Anda sendiri. Jika pusat ini tidak memberdayakan Anda menjadi orang yang proaktif, sangat penting untuk melakukan pergeseran paradigma untuk mencapai efektivitas yang dibutuhkan dalam menciptakan pusat yang akan memberdayakan Anda." - Stephen R. Covey
***

Menuliskan Tujuan Hidup atau Misi Hidup 

Sekedar tahu pentingnya memiliki tujuan atau misi hidup tidak cukup. Manusia itu diciptakan mudah lupa, maka penting untuk menuliskannya.

Menulisnya tidak perlu di blog, atau di sosial media. Tuliskan dan rumuskan di kertas atau buku, menuliskannya pun mungkin memakan waktu lebih dari satu hari. Bahkan mungkin juga direvisi sembari kita semakin mengenali diri kita dan apa yang ingin kita capai dalam hidup, dalam rangka meraih ridha Allah tentunya.
"Penulisan misi bukanlah sesuatu yang Anda tulis dalam semalam. Dibutuhkan introspeksi yang mendalam, analisis yang cermat, ekspresi yang bijaksana dan sering berkali-kali menulis ulang untuk menghasilkan bentuk akhirnya." - Stephen R. Covey
Bicara tentang tujuan dan misi hidup selalu mengingatkan saya sebuah ceramah berbahasa inggris yang disampaikan ustadz Nouman, yang dibahas salah satu ayat di Surat Yusuf. Inti dari ceramah tersebut mengingatkan kita, bahwa setiap orang perlu merinci, bagaimana kita akan mengabdi, menghamba kepada Allah. How are we going to serve Allah? How are we going to serve His Deen? 

Balik lagi ke buku 7 Habits. Kalau di buku ini, menuliskan pernyataan misi hidup ada banyak tips, dikasih beberapa contoh juga dari kliennya Stephen R. Covey. Disarankan memperlyas pikiran secara terperinci, melibatkan sebanyak mungkin perasaan, emosi dan indra. Sebaiknya divisualisasikan, layaknya atlet dunia, yang mayoritas sebelum mereka menang mereka jauh-jauh hari sudah memvisualisasikan perasaan dan kondisi saat mereka menang. Itu efeknya tujuan akhir jadi jelas dan tidak abstrak.

Di bagian ini, aku jadi teringat tentang bagaimana quran mendeskripsikan jannah, sangat bosa divisualisasikan. Buah yang berpasang-pasangan, pelayan muda yang menuangkan minuman, dan para penghuninya saling bertanya dan mengobrol, bahwa dulu ia sekeluarga takut diazab, namun Allah melindunginya dari azab neraka. 

Balik lagi ke buku. Baca kebiasaan dua itu sesuatu bagi saya. Setelah membacanya, saat mau lanjut baca kebiasaan ketiga, rasanya kaya berhutang karena belum mencoba menulis misi hidup pribadi. Begitupun sekarang saat menuliskan nukil bukunya, membuat saya berkaca, apa kabar? Itu udah bener yang kamu tulis? Gamau coba tulis ulang, dan memikirkan lebih cermat dan mendalam lagi? Hehe. Pokoknya, sekedar tahu dan mengerti pentingnya tujuan atau misi hidup itu ga penting. It won't be easy. Ga mudah menuliskannya, tapi proses ini penting.
"Saya merasa proses ini sama pentingnya dengan hasil-nya. Menulis dan melihat kembali pernyataan misi akan mengubah Anda karena hal ini memaksa Anda untuk memikirkan prioritas Anda secara mendalam dan cermat serta menyelaraskan perilaku Anda dengan apa yang Anda yakini." - Stephen R. Covey
Terakhir, untukku, atau siapapun. Selamat merumuskan dan menuliskan misi hidupmu!
Menggunakan kata-kata Frankl, "Setiap orang memiliki panggilan atau misinya sendiri dalam hidup... Oleh karena itu, dia tidak bisa digantikan, dan hidupnya tak bisa diulang. Jadi, tugas semua orang itu seunik kesempatan khusus yang dimilikinya untuk dilaksanakannya." - masih dari buku 7 Habits of Highly Effective People
Allahua'lam.