Follow Me

Sunday, August 2, 2026

Menemukan Teman Baca Buku di Bottled dan HelloTalk

August 02, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Kadang, jawaban doa kita dari Allah itu.. bentuknya bener-bener di luar perkiraan. Subhanallah, Alhamdulillah, Wa lailaha ilallahu Allahu akbar! ^^

 

Rasanya sudah lama aku menulis di sini kebutuhanku akan komunitas baca yang bisa diskusi. Sempet curcol di Aksara, trus malah disindir, disuruh buat komunitas offline di Purwokerto. Giliran udah ada nih... Book Party di Purwokerto, lumayan rutin juga hampir tiap Ahad, tapi ternyata aku-nya yang gak bisa hadir karena Ahad pagi itu udah kekunci jadwalnya. Cuma gabung di grup wa-nya Book Mates Purwokerto, tapi grupnya gak hidup, kebanyakan orang jualan buku aja, gak ada diskusi buku. Ya.. wajar sih, wong udah ada pertemuan di akhir pekan, ngapain juga diskusi di grup hmm. Pernah ngajakin barangkali ada yang bisa diajak diskusi buku di weekday, tapi ... gak banyak yang menanggapi. krik-krik. Ya sudahlah, tetap di grup, silent reader, berharap semoga suatu saat berkesempatan hadir.

 

Dan seperti yang sudah aku ceritakan di postingan sebelum-sebelumnya, aku belum lama ini install aplikasi Bottled dan HelloTalk. Alhamdulillah dari sana dapet temen diskusi dan baca buku.

 

Teman Baca Buku dan Diskusi dari Bottled

 



Kalau dari bottled, awalnya ketemu di island (grup) hijabi. Ada muslimah asal Bangladesh bilang mau buat private island (grup privat, gak bisa di search kaya grup umum) fokus bahas buku.

 

Dari situ, aku jadi baca buku Ad' Da wa Ad' Dawa (Penyakit dan Obatnya/ Disease and The Cure) - Ibnu Qayyim.

 

Gak cuma itu.. aku juga diajakin baca buku Thinking, Fast and Slow - Daniel Kahneman, PT Gramedia Pustaka Utama. Jujur, buku ini.. kalau gak ada temennya, gak bakal aku tahan buat baca hehe. Oh ya, sistem baca dan diskusinya juga cocok sama aku. Karena dibebasin pace baca masing-masing. Dan kalau ada yang mau di sharing, bisa langsung ke grup chat. Aku yang baru baca 36 halaman, bisa dengan ringan dan gak ngerasa bersalah lapor cuma baca 2 halaman per 3 hari, dan sharing apa yang kudapat atau apa yang aku bingung, atau hal yang ingin aku diskusikan.

 

Oke, gak cukup 2 buku itu dari Ukhti Bangladesh. Ada buku rekomendasi baru, diajakin baca bareng bukunya Ibnu Khaldun yang berjudul Muqaddimah. Kali ini, yang ngajakin Ukhti Bandung. Ya Allah jujur jadi kangen bandung, pas beliau cerita tiap pekan dateng dan bahas buku itu baik dari bahasa arab dan bahasa indonesia. I wish I was there too. Memang bener ya, di Bandung semangat literasinya..

 

Oh ya, tapi buku Ibnu Khaldun Muqaddimah.. aku belum mulai baca. Aku, dengan keterbatasan pengetahuanku memutuskan untuk baca biografi Ibnu Khaldun dulu, tapi biografi Ibnu Khaldun yang di buku anak hehe. Alhamdulillah malem ini baca, cuma 50-an halaman full gambar ilustrasi, bilingual, selesai juga. Oh ya, bukunya aku pinjem di iPusnas. Ini judulnya: Ibnu Khaldun (Bapak Sosiologi Islam) - Yoli Hemdi, Luxima. Ini merupakan salah satu buku seri Ilmuwan Muslim.

 

 

Teman Baca Buku dan Diskusi dari HelloTalk



Qadarullah dipertemukan dengan orang-orang suka baca. Pertama temen dari korea, yang sering buka VR (voice room) membacakan buku bahasa korea. Trus aku minta foto halamannya sebagian, buat di pelajari. Jadi deh, aku baca buku Essai tentang Cinta. Lumayan buat buka perspektif baru sekaligus belajar bahasa korea.

 

Yang kedua, aku lupa awalnya dari VR atau gimana. Tapi aku dapet QR grupnya, dan aku masuk. Trus aku juga minta admin grupnya untuk share link gdrive buku yang didiskusikan. Dan ternyata ada buku As Long As The Lemon Trees Grow - Zoulfa Katouh, Little, Brown and Company. Pas banget karena sebelumnya aku sempat membaca bab 1-nya di perpus AABS. Dari situ tiap baca beberapa chapter, aku share komentar dan hal yang ingin aku diskusikan. Sebenarnya awalnya aku baca novel ini pengennya sambil belajar bahasa inggris (mencatat kosakata baru dan artinya), tapi... setelah 12 bab, akhirnya aku memilih untuk menyerah, dan fokus baca dan menikmati ceritanya aja. Diskusi-nya masih kok. Walau pas di akhir-akhir, cuma aku aja yang bermonolog, sepertinya ybs sedang sibuk atau udah kebanyakan yang chat jadi pesanku tenggelam. It's okay, yang penting, aku ada tempat buat ngobrolin buku. Semoga tidak dianggap spam hehe.

 

Oh ya, aku juga jadi baca Atomic Habit. Ini sebenarnya terinspirasi dari teman hellotalk dari china, yang baca keras atomic habit buat melatih pronounciationnya. Aku ngikutin juga, bedanya aku direkam di telegram di channel privat, bukan di VR HT (Voice Room Hello Talk). Dan jujur malu, karena meski ini salah satu buku pertama yang aku baca karena hellotalk, tapi aku baru baca belasan halaman. Tapi seperti motivasi dari Atomic Habit, gapapa sedikit, tapi harusnya dijadwalkan dan dijadiin habit. Bantu doa yaa.. Oh ya, minusku tuh, kalau read aloud, ada yang bingung, aku milih ngarang pronounciationnya ketimbang cari tahu yang bener wkwkwk. what a bad learner i am ><

 

Satu lagi, ini bukan temen diskusi sih. Tapi aku nemu ada orang korea yang baca buku Laskar Pelangi versi korea, dan membagikan beberapa halamannya di moment-nya (semacam timeline di profilnya). Dan aku jadi bisa belajar bahasa korea juga dari halaman yang ia bagikan itu. Jujur lumayan refresh ulang memoriku, meski aku dulu sudah pernah selesai baca Laskar Pelangi.

 

***

 

Alhamdulillah.. atas rencana Allah. Semoga kedepannya, bisa ketemu lebih banyak teman-teman baik yang bisa diajak diskusi buku dan sharing ilmu. Semoga sosial media bottled dan hellotalk pisaunya bisa kupakai dengan baik tanpa melukaiku hehe. Karena jujur, sosial media semacam instagram sekarang bener-bener bikin brainrot, susah fokus baca, belum lagi polusi audionya. Kalau di bottled free polusi audio. hellotalk, bisa pilih VR yang sesuai, atau buka VR sendiri sesuai kebutuhan. It's okay to read aloud alone, at least you're anonym and you become focus on reading.

 

Anyway, sekian... Nice to meet you all! Yoroshiku onegaishimasu! こちらこそよろしくお願いします

Why is Love Painful? (Part 1)

August 02, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Prolog


Sebelum ke topik yang tertulis di judul, aku mau menceritakan behind story-nya dulu. Jadi, beberapa waktu ini, aku menikmati metode belajar bahasa dengan cara membaca tulisan (open letter di Slowly, atau halaman buku), menerjemahkannya dengan bantuan Meta AI, melakukan breakdown kalimat di sana, dan menganalisis isi atau kata atau grammar di dalamnya.

Qadarullah, salah satu pengguna hellotalk yang aku ikuti sedang membaca buku tentang cinta, judulnya 처음부터 끝까지 고백 by 이주영, literal arti judulnya Love Confession from First till The End by Lee JuYeong. Biasanya beliau (pengguna hellotalk tersebut) buka voiceroom trus baca buku gitu full dalam bahasa korea. Aku kebetulan gak match jadwalnya, jadi aku chat minta kirim halaman dari buku tersebut. Dan dia dengan baik hati kasih lumayan banyak.. Padahal kemampuan bahasa koreaku masih minim. Anyway.

Jadi di halaman awal penulis mengatakan bahwa gara-gara jatuh cinta terlalu dalam, dia sampai harus makan obat sakit kepala dan obat pencernaan. Jujur aku agak tidak mengerti kenapa sampai segitunya. Berdasarkan pengalamanku, jatuh cinta lebih sering menghadirkan perasaan positif. Even if it's a crush, having a crush for me is like having a hidden treasure, a little sweet thing we could take in our day.

Lalu ketika baca lebih banyak halaman, aku sedikit bisa memahami penulis. Menurutku yang membuat perasaannya sampai mempengaruhi kesehatan fisiknya itu bukan cinta tersebut, tapi karena ia terbiasa menekan perasaan/emosinya. Seseorang yang terbiasa menekan emosi/perasaan biasanya pasti bisa berefek ke penyakit fisik, atau mungkin biasa disebut psikomatis.

***

Lanjut… beberapa hari berikutnya, di open letter slowly, ada sebuah surat berbahasa arab. Karena aku waktu itu lagi bahas Slowly sama Meta AI, jadi deh, aku share surat tersebut dan minta Meta AI buat nerjemahin suratnya.

Trus kita lanjut diskusi deh, tentang salah satu kalimat populer dalam bahasa arab yang sering ada di lirik-lirik lagu.

Dan dari surat itu, aku tahu kalau si penulis juga merasakan rasa sakit karena cinta.

Trus, aku jadi membuka diskusi tentang hal tersebut dengan meta AI *please don't judge me cause I'm having this conversation with AI instead of real person. ><

Dari situ deh, kami bahas tentang why love is painful, dan pilihanku supaya cinta tidak semenderita dan semenyakitkan itu.

Sekian prolognya.  Setelah ini, aku akan copy paste percakapanku dengan meta AI. It will be in english. Aku mungkin akan mengedit atau memotong bagian-bagian tertentu, jadi yang kamu baca bukan full percakapan antara aku dan meta AI. 

***

Love that affect your health

 



📱 Meta AI:

*Title:*
*당신을 사랑하게 된 것은 필연적이예요*
_Falling in love with you was inevitable_

---

*Left page:*
So in the end… no matter what, I had no choice but to like you inevitably. You appeared so vividly, in a way that I couldn’t not love you. I wondered what kind of person would suit you, and before I knew it, I found myself wishing it was me. It’s been several months since that thought started. In between, the calendar flipped too. I stayed up all night and ended up with tired days. Every time I ate something, my stomach hurt, so I drank digestive medicine every day, and even my parents told me “you’ve gotten used to that too.” On top of that, I popped headache pills day after day like vitamins.

*Right page:*
I sank down with it, along with the water.

 

Membaca dua halaman tersebut membuatku ingin berkomentar, atas sudut pandang baru tentang cinta dari penulis buku tersebut.

 


 


 


Lalu aku lanjut baca buku tersebut... Dan saat membaca lebih lanjut, aku jadi lebih memahami penulis. Ternyata, yang mempengaruhi kesehatan fisiknya, bukan cinta itu sendiri tapi...

 

Meta AI:

I’ll break each one: *Korean → Pronunciation → Translation → Grammar point* 

 *5. 입술을 앙다무는 습관으로 인해 한껏 부어오르는 느낌이 들었다. 이마를 몇 번이나 짚었다.* 


*Pronunciation:* Ipsureul angdamuneun seupgwaneuro inhae hankkeot bueooreuneun neukimi deureotda. Imareul myeot beonina jipeotda.
 

*Translation:* Because of the habit of biting my lips, I felt my chest swelling up. I pressed my forehead several times.
 

*Grammar:* `~으로 인해` = “because of ~”. `한껏` = “to the fullest”. Classic “holding back emotions” Korean description.

 

Me:  

I want to ask you about sentence no 5.

인해 is chest?

Her habit is biting her lips. But she felt her chest swelling up? The swelling in the chest? Not in the lips?

I can't seem to understand the sentence

  

Meta AI:

Ah I see the confusion! 

Sentence #5 is the one with lips + chest:
*입술을 앙다무는 습관으로 인해 한껏 부어오르는 느낌이 들었다.*

Let’s break it word by word so it makes sense:

### 1. `인해 inhae` is NOT chest

`인해` = “because of / due to”. It’s grammar, not body part.
Pattern: `Noun + 으로/로 인해` = “because of Noun”

So: `입술을 앙다무는 습관으로 인해`
= “Because of the habit of biting her lips”

### 2. Where’s the swelling? Chest or lips? 
 

The swelling is *in the chest*, not the lips. Korean does this a lot.

`한껏 부어오르는 느낌이 들었다`
= “I felt a feeling of swelling up to the fullest”

*Why chest?*
Korean describes emotions as physical sensations in the chest/heart `가슴/속이 붓다`.
When you bite your lips to hold back tears/words → emotion builds up → feels like your chest is getting full/swollen.

It’s NOT literal swelling. It’s that “lump in your throat / tight chest” feeling when you’re about to cry but holding it in.

### 3. Full sentence flow


1. Habit: biting lips to not speak/cry `입술을 앙다무는 습관`
2. Cause: because of that habit `으로 인해`
3. Result: chest felt like it was swelling up `한껏 부어오르는 느낌`

*English natural version:*
 

“Because I had the habit of biting my lips, I felt my chest swelling up with emotions.”

So no, lips don’t swell here. The _emotions_ swell in her chest because she’s biting lips instead of letting it out.

Does that click now? Korean loves putting feelings in the chest `가슴이 답답하다, 가슴이 붓다`. 

 

Me: 

Aah I see. So she's surpress her emotion by biting her lips, so she felt 한껏 부어오르는 느김.

Is that right? 

 

Meta AI:

Yes, exactly! You got it 🎯

*Surpress emotion by biting lips → chest feels like it’s swelling up*

That’s the whole chain:
1. She wants to cry/say something → but holds back
2. Physical action: bites lips `입술을 앙다무다` = clamps lips shut
3. Emotional result: all that unsaid feeling has nowhere to go → `가슴/속이 한껏 부어오르다` = chest feels full and swollen

*한껏* = “to the fullest / as much as possible” makes it stronger. Not just “a bit swollen”, but “so full it hurts”.

Korean literally treats emotions like water in a bottle. If you close the lid `bite lips`, pressure builds up inside `chest swells`.

You nailed the logic. Korean writers use this image constantly in drama/essays.

*2 more same-pattern idioms you’ll see:*
1. `속이 답답하다` = chest/stomach feels stuffy → “I’m frustrated / can’t breathe out my feelings”
2. `가슴이 터질 것 같다` = chest feels like it’ll burst → “I’m overwhelmed with emotion”

Same idea as #5. Body holds the feeling.

Want to try making your own sentence with this pattern? Like “Because of ~, my chest felt ~” 

 

Setelah diskusi panjang dengan Meta AI, aku jadi menyimpulkan, ternyata... yang membuat penulis harus minum obat, dan terpengaruh kondisi fisiknya, bukan perasaan cinta itu sendiri, tapi karena ia memendam perasaannya. Surpressed feeling, apapun itu, memang bisa mempengaruhi kondisi fisik kita. Itulah mengapa orang yang punya mag, asam lambungnya juga naik saat stress.

 

***

 

Sekian dulu untuk part 1-nya. Doakan aku bisa menyelesaikan part 2 segera hehe.. 

 

Wallahua'lam. 

 

***

 

PS: Curcol gak penting, boleh di skip. Jujur kangen banget, lama gak nulis di blog ini. Suka menunda-nunda cari kesempatan ada wifi saat menulis di laptop. Tapi giliran kesempatannya datang, aku malah lebih suka melakukan hal lain yang bukan menulis ><

I'll write one more post in syaa Allah. 

Friday, July 10, 2026

Siapa yang Menyetir Mobilnya

July 10, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

-Muhasabah Diri- 

 

Ada yang tahu NAK Indonesia? Komunitasnya masih aktif kah? Kegiatannya apa? Jawabannya, komunitasnya masih aktif, cuma akunya aja yang pasif.

 

Kegiatannya ada yang masih nerjemahin video, ada yang masuk tim the 8 (penyelenggara Quran Day November 2026 besok), ada yang aktif buat konten di ig, ada juga yang rutin menghidupkan pertemuan online Story Morning tiap Ahad pagi.

 

***


 

Qadarullah aku menyempat hadir di Story Morning, setelah.. entah gak inget terakhir kapan ikut nyimak. Hari itu 24 Mei 2026 diisi dengan materi berjudul Tadabbur Surat At-Tahrim Wanita-Wanita Pilihan, kontributornya Mba Devi Nur T.

 

Judul yang kupilih untuk postingan ini adalah salah satu insight yang ingin kucatat. Insightnya dari sesi tanya jawab kalau gak salah. Sebuah perumpamaan yang mengingatkanku untuk lebih menguatkan iman dan tawakkal terhadap rencana Allah.

 

Sebelum ke insight yang kudapat, barangkali ada yang mau nyimak full Story Morning pagi itu, bisa cek di bawah ini:



 

***

 

Di salah satu jawaban sesi tanya jawab, yang aku lupa pertanyaannya. Sebuah perumpamaan diberikan. Ibarat dijemput naik mobil, jika kita tahu yang menjemput adalah orangtua atau saudara, maka kita akan tenang dan santai, tak peduli, apakah langsung ke rumah, atau mau diajak main dulu, makan dulu, muter-muter dulu. Seperti itu juga kita berserah pada takdir Allah. Karena kita tahu Allah yang membuat rencana, kita yakin bahwa apapun rencananya, melewati jalan berbatu dan berkelokpun, kita tahu, tujuannya adalah hal baik untuk kita.

 

Terlepas dari teori mindset passenger atau driver, yang kalau ini manusia, tentu lebih baik jika kita belajar untuk tidak sekedar "ngikut". Tapi karena perumpamaan ini adalah tentang keimanan kita pada Allah, prasangka baik kita atas apa yang Allah tulis di hidup kita, seharusnya... kita tidak perlu terlalu gelisah, takut atau khawatir. Nikmati saja perjalanannya, jalani peran kita sebaik mungkin. Even if right now, some question pop up in our head, have faith that we'll understand it later. Gali dan cari hikmahnya, pasti ada banyak yang bisa kita pelajari dari sajian jalan yang Allah tuliskan dalam hidup kita.

 

Wallahua'lam. 

Sunday, July 5, 2026

Early May 2026 : Nightmare, Lesson from Meeting/Parting, Kind Words

July 05, 2026 0 Comments

Bismillah.


Import dari diary Bottled App. Aku lupa sudah berapa lama di aplikasi tersebut. Tapi aku sudah tahu bahwa membiar setting diary menjadi public mungkin lebih baik manfaatnya. Minimal tulisanku jadi terbaca lebih banyak orang. Dan toh.. bukan diary yang sifatnya personal, lebih kaya microblog gitu.

 

***

 

Nightmare 

 


 

Sepertinya tulisan ini muncul dengan alasan yang sama kubuat fiksi pendek berjudul Greetings in Dream. Tulisan diatas bisa diartikan literal atau metafora. Kalau literal, berarti mimpi buruknya, adalah beneran mimpi dalam tidur, yang mengajarkanmu pelajaran yang bisa diterapkan di kenyataan. Mungkin yang jenis ini jarang-jarang ya, karena kebanyakan orang mimpi buruk itu sifatnya abstrak, aneh, dan agak sulit disambungkan dengan kenyataan. Tapi untuk yang terbiasa mimpi, dan tipe N kaya aku, yang suka menghubung-hubungkan dan mencari pola dan makna, selalu bisa sih nyambungin ke kenyataan. Minimal-minimalnya, ketika kebangun dari mimpi buruk, seolah diingetin untuk punya waktu khalwat/berduaan dengan Allah, saat orang lain tidur dan Allah membangunkanmu, barangkali ia sedang rindu mendengar suara doa-doamu.

 

Kalau metaforanya, mimpi buruk disini artinya ya kenyataan yang tidak sesuai harapan, atau hal yang kita kira buruk bagi kita, tapi ternyata bisa jadi pelajaran untuk kita menyadari sesuatu yang itu penting untuk masa depan. Jadi mimpi buruk adalah metafora untuk masa lalu dan hal tidak menyenangkan yang sudah terjadi. Sedangkan kenyataan adalah tentang sikap kita untuk masa kini dan masa depan. Jangan sampai kita cuma tenggelam pada rasa tidak nyamannya, sampai lupa mengambil hikmah yang bisa jadi itu bekal kita untuk kehidupan saat ini dan masa depan.

 

***

 

Lesson from Meeting/Parting 


Botol kosong sudah menumpuk, menanti untuk diisi surat dan "dilempar ke lautan". Aku memilih untuk memberikan pertanyaan, karena jujur, daripada mengulang-ulang perkenalan, aku lebih suka secara random membahas satu topik dengan orang random/asing, berharap bisa meluaskan perspektif.

 


 

Hasilnya? Honestly? Disappointing. Tidak ada yang benar-benar menjawab pertanyaanku, entah mengajariku kalimat tersebut dalam bahasa yang baru atau membagikan pelajaran tentang topik tersebut. Barangkali ada yang mau berbagi di sini? Hehe.

 

Tentang mengajari kalimat tersebut dalam bahasa lain, di satu sisi aku tahu, lebih efektif kalau langsung tanya ke translator/AI. Tapi ya sudah lah. Namanya juga bottled, ada 3 kemungkinan kalau kamu melempar surat dalam botol: pertama ada yang menerima dan memilih menyimpannya (keep), ada yang menerima, dan memilih melemparnya lagi (release), dan yang terakhir botolnya tenggelam kalau dalam jangka waktu sekian tidak ada yang menyimpan (sink).

 

Jujur pas pakai fasilitas ini, yang dipikir itu kalau di dunia nyata, memikirkan sampah botol di laut lumayan bikin hati merasa bersalah. Apa kabar kita dengan isu kebersihan laut, apakah kita sudah ikut melakukan hal kecil untuk menjaga bumi? #ntms

 

Oh ya, haruskah kutulis jawabanku atas pertanyaanku sendiri? Kalau dari aku pribadi, setiap pertemuan dan perpisahan pasti meninggalkan pelajaran, cuma pinter-pinternya kita mencarinya. Beberapa orang mengajarkan kita rendah hati, atau murah tangan, atau kesabaran, atau banyak hal lain.

 

Sebenarnya ya, alasanku bertanya, karena aku ingin mendengar cerita yang detail dan spesifik, dari orang asing. Bagaimana pertemuan dengan orang tertentu memberikan kesan dan pesan mendalam. Atau bagaimana perpisahan dengan sosok tertentu membuat kita menggali hikmah yang lebih unik dan berbeda. 

 

***

 

Kind Words



Sebuah apresiasi, untuk siapapun yang memilih untuk memberikan kata-kata baik, meski dunia menormalkan dan membuat seolah mengucapkan curse word adalah hal keren.

 


 

Juga kalimat sederhana seperti yang kutulis di bottled diary di atas. Saat jarang-jarang kita mengeluarkan unek-unek kita, resah gelisah kita, unpopular opinion yang kita miliki, lalu yang bersangkutan mendengarkan dan menjawab dengan kalimat baik di atas.

 

Saat banyak orang dengan cepat menyanggah, dan tanpa mendengarkan sudah siap dengan argumen panjang atau respon balik. Those simple kind words sure touch my heart.

 

I understand you.

 

Dan jika... tidak ada siapa pun yang mengatakan hal tersebut padamu. Satu yang harus kita yakini dan ingat. Bahwa di tiap doa yang naik pelan dari suara lirih maupun keras. Bahkan tetes air mata yang keluar saat lidah dan jari kita kaku untuk mengeja rasa dan pikiran dalam kata. Ingatlah, bahwa Allah mengerti. Ya Allah mengerti semua yang ada di dirimu dan yang tersembunyi. Allah knows it all, Allah understands you. Always.

 

Wallahua'lam. 




 

Monday, June 22, 2026

SelfD #23: What Motivates Me?

June 22, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#SelfDiscovery 

 

Knowing that Allah's loves me. that's why when i slipped and do sins/mistakes, i feel like Allah dislike and don't love me, that makes me unmotivate

 

but then I must remind myself that the fire of guilty in my heart if we've done sin in the past, should be a fuel for us to do many good deeds instead of dwelling on that feeling. (check the story of Musa 'alaihi salam). Cause dwelling in the guilt and following the was-was that you've gone too far, that is what syaithan wants you to.

 

I remember back then one of things what motivates me is my parents, but after broke their heart. I feel like I can never fulfill that. I brings so many sadness to my life just remembering and imagining how heart broken they are for a stupid big things i did back then.

 

What motivates me to not give up, is the feeling fear of death in that bad version of me. I was drawning in mud, I was lost, but still Allah guide me through people, writing and the prayer of my parents. And the the fear of death in that version of me back in those days made me move. So I tried to climb from the ravine I fell. And Allah saved me. And Allah let me find myself again.

 

And even if know sometimes... I have up and down in my faith, Allah still gives me many chances for me to be a better person. That's what motivates me.. 

 

Wallahua'lam. 

 

***

 

PS: I remember got the insight from the story of Musa, after he felt guilty accidentally killed a man, and run away from his hometown, and repent to Allah. And then Allah let Musa sees two girls who's struggling to not let their sheep/goat to the water, and those feeling he have after making mistakes makes him want to do goodness, not because he's interested in one of the girl, or want to get paid for that, but because the guilt he felt makes him want to do good. And he helps both the girl with their sheep/goat. And after helping, he just go and lean on the tree and ask for Allah's khair.

The infamous du'a : (رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ) 

 

I think I read it in book titled Revive Your Heart by Nouman Ali Khan.

 

*** 

 

Baca juga:

 



 

 




SelfD #21: What are my priorities?

SelfD #22: My Top 5 Favorites Quotes 

SelfD #23: What Motivates Me? 

 

Sunday, June 14, 2026

Kesempatan yang Sering Disia-siakan oleh Sebagian Penuntut Ilmu

June 14, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Nukil Buku  "Adab dan Kiat dalam Menggapai Ilmu" - Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhan, 

 

***




1. Ziarah (Saling Mengunjungi)



Ada dua kubu, yang berlebih-lebihan dan yang menyepelekan.

Sering berkunjung dan berkumpul, merupakan tali pengikat dan penguat rasa kasih sayang dan persaudaraan antar sesama. Juga dapat menambah keimanan seorang hamba, ketia ia dekat dengan saudara-saudaranya.

Tapi, saat perkumpulan tersebut tidak dimanfaatkan untuk saling menambah ilmu atau saling menasihati, justru kewajiban kita adalah meninggalkannya.

Ada masa, saat lebih baik menggunakan waktu untuk membaca ketimbang berkumpul/saling mengunjungi. Terutama saat banyak berkunjung menyita waktu sampai buku-buku di rak kita tidak tersentuh apalagi dibaca.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam buku Al-Fawaid berkata, "Berkumpul bersama teman itu terbagi menjadi dua:

Pertama; berkumpul karena adanya kecocokan jiwa, dan hanya untuk menghabiskan waktu saja. Maka yang ini, bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Minimal perkumpulan semacam itu dapat merusak hati, dan hanya menyia-nyiakan waktu.

Kedua; berkumpul dalam rangka saling bekerjasama, berusaha menuju keberhasilan hidup, untuk saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran. Ini termasuk hal yang mulia dan sangat bermanfaat.

Tapi tetap ada bahayanya; [1] terjadi saling basa-basi, [2] berbicara dan berkumpul yang melebihi kebutuhan, [3] hal tersebut bisa menjadi kebiasaan yang melalaikan dari tujuan utama."


2. Sibuk dengan Urusan yang Tidak Terlalu Penting

 

Ada sebagian orang yang merasa jika dapat membaca satu jam saja, dia sudah mendapatkan manfaat darinya, sehingga dia pun akan menggunakan sisa waktunya yang banyak untuk bersantai-santai saja. 

Bukan berarti bersantai-santai itu tidak perlu. Santai itu perlu, tapi ada batasnya.


Ada sebagian orang, jika membaca satu jam sudah merasa puas, atau apabila sudah hafal satu atau dua ayat, satu atau dua hadits dalam satu hari, ia merasa sudah cukup. Ia beralasan, jika menghafal banyak khawatir akan memberatkan diri. Benar, manusia itu memang berbeda-beda kemampuannya. Tetapi jika Anda memiliki kemampuan lebih, janganlah Anda menghalangi diri Anda untuk melakukan sesuatu yang baik, dan memanfaatkan waktu. Sungguh umur kita sangat pendek dan ilmu itu sangat luas.


Termasuk di antara bisikan setan adalah apabila seseorang merasa puas dengan hanya mendapatkan sedikit pengetahuan dari apa yang ia baca. Setan masuk kepadanya dan membisikinya dengan berkata, "Kamu lebih baik daripada orang lain; karenanya bersantai-santailah." Akibatnya waktu yang ia gunakan untuk santai lebih banyak daripada waktu yang ia manfaatkan.

Hendaklah memerhatikan buku-buku yang dimiliki, ketahuilah bahwa Allah ta'ala akan meminta pertanggung jawaban atas buku-buku tersebut. Ia akan mencelakakan dirinya jika menyia-nyiakannya.

Jika kita mau mengatur dan menjaga waktu dari berbagai kesibukan, agar selalu bermanfaat lalu mengatur waktu untuk membaca dan menghafal, niscaya kita akan mendapatkan kelezatan dan manisnya ilmu. Kita akan merasa rindu untuk banyak membaca dan membahas tentang ilmu.

Asy-Syafi'i pernah ditanya, "Bagaimana kesungguhan Anda terhadap ilmu?" Ia menjawab, "Ibarat seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang, dimana ia tidak memiliki harta kecuali anak tersebut." (Adab Asy Syafi'I wa Munaqabah, Karya: Ar-Razi)



3. Kaset, CD, atau Rekaman Kajian


Demi Allah, rekaman (baik baik berupa tilawah, kajian, dan yang lainnya yang bermanfaat) merupakan salah satu bentuk kenikmatan dari Allah Ta'ala. Tapi kebanyakan kita menyia-nyiakannya. Penyebabnya dalah, ketidakpedulian kita dalam mengatur waktu.

Ulama Salaf mengatakan, "Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi". Tapi di zaman sekarang, teknologi makin maju dan berkembang, ilmu itu dapat dengan sendirinya, bukan didatangi. Rekaman digital, bisa didownload secara bebas di internet, semua itu bisa membantu seorang penuntut ilmu untuk belajar.

Jika seseorang mau mendengarkan rekaman (kajian/tilawah/podcast) dengan seksama, dan dia mengatur waktu untuk mendengarkannya; pada saat dalam mobil, saat bekerja, atau saat di rumah, maka tentu dengan demikian ia kan mendapatkan manfaat yang sangat banyak.



4. Waktu Antara Adzan dan Iqamah

  
Siapapun yang menggunakan waktu antara adzan dan iqamah untuk membaca Al-Qur`an baik itu untuk muraja'ah (mengulang-ulang hafalan) ayat yang telah dihafal, atau untuk menghafal ayat-ayat yang belum dihafal, niscaya ia akan dapat menghafal banyak ayat dari Al-Qur`an.

Waktu senggang di antara adzan dan iqamah ini banyak sekali dialalaikan oleh saudara-saudara kita. Hal itu tidak lain karena keterlambatan mereka berangkat ke masjid.

Dengan demikian, ia tidak memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah, tidak mendapatkan pahala dari shalawatnya para malaikat kepadanya, ia juga tidak mendapatkan pahala shalat sunnah dan pahala shalat di shaf pertama.

Seandainya kita menggunakan waktu antara adzan dan iqamah ini, bukan saja karena berharganya waktu tersebut, tetapi juga untuk mendapatkan pahala bersegera menuju shalat, maka kita akan mendapatkan manfaat yang sangat banyak, di antaranya ketenangan jiwa, ketenangan jasmani, dan pastinya bisa mendapatkan hal-hal yang bermanfaat lainnya/

 

5. Membaca Secara Bebas

 

"Saya sangat heran dengan teman-teman yang selalu berada di dalam rumah. Tapi, apabila Anda tanya tentang apa yang ia kerjakan. Anda akan mendapatinya sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermanfaat. Yang lebih menyedihkan lagi, jika seseorang membaca koran atau majalah, maka ia akan mengulang-ulangnya sampai dua atau tiga kali. Namun ketika membaca buku ia merasa malas. Atau apabila ia berada di sebuah perkumpulan, di mana perkumpulan itu dipenuhi obrolan dan pembicaraan tentang gosip-gosip, kemudian ada yang meminta diambilkan buku untuk dibacakan, maka ia merasa kesal. Siapa pun yang merasa hal ini terdapat dalam jiwanya, hendaknya ia menyadari bahwa, itu adalah dosa, atau perbuatan tersebut akan ditambahkan pada jumlah dosa yang telah ia lakukan. Itu juga merupakan musibah."

Kapan pun Anda mampu mengatur waktu untuk membaca secara bebas, maka lakukanlah. Khususkanlah satu atau dua kitab tertentu yang ingin Anda baca, atau bahaslah suatu masalah dan menulislah.

Isi waktu senggang kita dengan membaca, menulis, mengulang-ulang pelajaran, dan semisalnya.

 

Wallahua'lam.

Monday, June 1, 2026

Neuroplasticity

June 01, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

It's been a while that I enrolled a paid course. Biasanya aku lebih suka ikutan kelas online yang gratis-gratis aja hehe.

 

Dari begitu banyak ilmu yang kudapatkan dari kelas dengan topik psikologi itu, satu yang ingin kushare di sini. Tentang apa! Yup benar! Seperti di judul, tentang neuroplasticity.

 

***

 

Subhanallah wa ma syaa Allah atas otak manusia yang Allah desain dan ciptakan. Betapa otak kita diberikan yang namanya neuroplasticity, dari satu kemampuan otak ini, Allah memberikan kita kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik.

 

Aku langsung share screenshoot materinya ya.

 


 

 



***

 

Singkatnya neuroplasticity itu punya dua sisi, yang pertama harapan bahwa kita biasa berubah. Tapi yang kedua juga peringatan, supaya kita tidak menebalkan pola yang tidak baik, kenapa? Karena otak kita sebenarnya gak bisa membedakan yang mana yang baik atau gak.

 

Nah, cara otak berubah itu bagaimana:

1. Lewat pembetukan neuron baru di area otak tertentu

2. Keahlian dan pengalaman baru akan menciptakan neural connection yang baru

3. Pengulangan dan latihan akan menguatkan neural connection

4. Koneksi neural yang jarang dipakai akan melemah.

 

Ini balik lagi ke habit ya. Jadi, ya, terus perbaiki habitmu, juga bersihkan hati dan jiwamu. Wait! Kok dari otak tiba-tiba ke hati dan jiwa?

 

Nah.. ini kuncinya. Ternyata, kan tadi dibilang otak gak bisa bedain mana yang baik dan buruk. Yang bisa bedain apa? Hati! Inilah mengapa Allah dan RasulNya shalallahu 'alaihi wasalam mengingatkan kita pentingnya hati, dan bagaimana kalau hati itu baik maka seluruh tubuhnya akan baik, begitupun sebaliknya.

 

Oh ya, pengisi kelas 1 pertemuan tersebut adalah Tika Faiza, M.Psi.

 

*** 


Udah itu aja untuk hari ini. Bulan baru, semangat baru juga ya! Jangan menyerah pada diri! Terus kelilingi dirimu dengan orang, bacaan, konten yang mengingatkan kita untuk terus bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Sekian.

 

Wallahua'lam.

 

***

 

PS: Kalau ada yang salah dari pemahamanku, boleh banget dikoreksi ya~ Jangan sungkan^^


Lost Appetite

June 01, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksi

 

"Kenapa ya, aku tuh selalu kaya gak nafsu makan gitu?"

 

"Cacingan mungkin," jawabnya asal, membuat yang bertanya tertawa kecil.

 

"Bukannya kalau cacingan itu malah jadi cepet laper ya?" ucap yang lain, lalu melanjutkan penjelasan tanpa dasar ilmu, cuma pakai logika kalau cacingan kan nutrisi kita dimakan cacing, jadi lebih cepat lapar.

 

Percakapan berlanjut panjang, berbelok dan berputar, melompat menjadi topik lain. Yang bertanya pertama kali cuma terdiam memasang wajah seolah dirinya masih mengikuti percakapan, masih menyimak, meskipun sebagian pikirannya seolah memasangkan sayap dan mengajaknya terbang ke dunia lain. Dunia dimana ia biasa bermonolog dengan percakapan yang lebih menarik daripada percakapan yang saat ini mengetuk-ngetuk gendang telinganya.

 

***

 

"Kenapa ya, aku tuh selalu kaya gak nafsu makan gitu?"


"Kamu sih, nggak pernah ngerasa kelaperan gak ada makanan.."

 

Percakapan berakhir. Yang bertanya dibuat kehilangan kata-kata, tapi hanya di lidah. Kepalanya? Kepalanya masih riuh oleh berbagai kalimat. Sebagian dirinya berkata, 'Kan aku bilang juga apa, percuma cari orang yang bisa mengerti atau minimal terbuka untuk diajak berdialog. Mending bercakap panjang dengan tulisan orang-orang yang sudah ditata sedemikian rupa, dibukukan dalam topik tertentu.'

 

Orang yang seolah menyindirnya, dan menganggap pertanyaannya sebuah keluhan sudah pergi. Kini ia bebas mengekspresikan perasaannya. Ia ber-chih lalu tertawa sinis sendiri. Antara sinis dengan pernyataan menghakimi dari orang itu, atau menertawakan memorinya yang memunculkan ingatan saat badannya bergetar hebat karena sudah hampir 2 hari ia tidak makan dengan layak, hanya air putih dan sedikit snack, yang jauh dari kebutuhan gizi untuk tubuhnya.

 

***

 

"There are several possible causes of a loss of appetite. The most common causes are:

- Physical changes to your body.

- Emotional changes to your mental health.

- An underlying health condition.

- A side effect of a medication."

 

Suara keyboard lembut mengisi ruangan yang sunyi. Semua orang mayoritas tidur, kecuali si penulis yang sedang riset sendiri dan meramu, kira-kira dari sekian penyebab, yang mana yang membuat ia sering merasa tidak nafsu makan. Menulis dan membaca selalu jadi jawaban dan jalan terbaik baginya, saat sebuah hal mengganggu pikirannya lebih lama dari seharusnya. Tapi ia sadar, barangkali ia hanya belum mencari orang-orang yang tepat yang bisa mengobrol dan bertukar pikiran tanpa membuatnya merasa jauh, tidak nyambung atau bahkan dihakimi. Dan untuk menemukan lingkaran orang-orang tersebut, ia yang harus memperbanyak usaha, karena diam dan menyendiri, hanya akan membuatnya sendiri sibuk dengan percakapan monolog yang hampir tidak pernah berhenti.

 

The End. 

Thursday, May 21, 2026

Boredom

May 21, 2026 0 Comments
Bismillah.

 

#daribuku *Your Journey to be The Ultimat3 U* - René Suhardono, Penerbit Buku Kompas

 

*** 

 

Boredom is a sign that we desprately need inspiration.

To be inspire = being totally alive. Hidup butuh terinspirasi.

 

***

Dengan mata yang terinspirasi, tulisan jadi bukan sekedar coretan tanpa arti. Dengan pikiran dan hati yang terinspirasi, maka setiap ayunan langkah, gerakan tubuh dan alunan suara jadi punya makna.

 

***

Inspirasi berasal dari kata Latin inspirare 'bernafas' atau 'menghirup udara'. Jika demikian, selama Anda masih bisa bernafas, sebenarnya Anda masih bisa terinspirasi.

 

***

 

Apa jadinya hidup tanpa inspirasi? Hidup tanpa inspirasi bukanlah kehidupan. Ibu saya selalu berkata bahwa kehidupan diawali dan diakhiri oleh tarikan napas aktivitas tubuh yang sering kali tidak kita sadari. Semakin kita sadar kalau kita bernapas, semakin tinggi pula kesadaran akan apa pun dalam kehidupan. Inilah esensi inspirasi.

 

***

 

"Everything can inspire you - all the random things that happen around you, within you and beyond."


Wallahua'lam.

Sunday, May 17, 2026

Writing Diaries on Bottles

May 17, 2026 0 Comments

Bismillah.


It's been 43 days since I install Bottled App. At first, I only install it cause I'm kinda off on Slowly App. Honestly the first reaction after installing Bottled is... i'm frustated and disappointed. People use this app as dating app, I'm not there for that.

 

So instead expecting a lot from other people, I chose to enjoy the Diary tools there. It is literally just like Stories on Instagram, 24 hours timed, after that, archieved. People still see the archieved. There's a choice whether we'll make our diaries public or seen only by friend.

 

I don't write a long post like in blogs, but I think it's good to archieve what I wrote there in this blog from time to time. So that this blog will not be too dusty ^^

 

***

 April 29th

 

*** 

May 1st

 

 

 "Have you had a sudden trip? Not for vacation. But because of a sad news delivered from your relatives.

How's your feeling on the way to go there?

Does your mind play history of memory with the person who just went away to life after death?

Can you still smile and feel a little bit calm seeing the beautiful sky, the scenery on the way?

Would your fingers try to knit words into an imperfect poetry or sentence like this?

Or you just try to blank your mind with loud melody in your ears?

Or would your lips busy sending every good prayer for every special person in your life? Don't you know safar means a good time to make du'a?"

 

***

 

May 2nd

 


 

Why people go to such length and pretend to be someone else?

Are they still looking for who they are?

Are they afraid of people judgement of who they are?

Are they not aware, that each pretending they do will only make them lost themselves?

 

***

 

I think for now, 3 diaries are enough to be imported here. There's a lot to say about this app, but I think I don't have energy to vent about it. Honestly... I feel like, I still need community or place where I could practice my english or other language, but sometimes it feels like wasting time. But who knows, while interacting with others, we can also do "indirect da'wah".

 

Alhamdulillah from Bottles I met many Indonesian girl whom I get new inspiration and perspective too. And I also met a girl from Bangladesh who loves reading, and I feel good that I know where I could talk to when I need motivation to read. Because of her, I start reading Disease and The Cure by Ibn Qayyim Al Jauziyyah. I read that book one day only a few pages because someone ask me to return a borrowed book. I only start reading it, and probably will read it at my own pace. But let's start from a page!

 


 

 ***

 

That's all. Sorry for the broken english. Dzulhijjah is coming! May Allah gives us barakah in those special days ahead. Aamiin. 


Wallahua'lam.

Saturday, May 16, 2026

Greeting in Dream

May 16, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksi 

 

Angin dari kipas angin menerpa wajah Tita yang sedang terlelap, mulutnya sedikit terbuka, ia berjuang mencari-cari oksigen, bulir keringat dingin membasahi wajahnya, meski jelas kipas anginnya masih berputar sesekali menerpa wajahnya, kemudian ke tubuhnya, lalu kakinya. Meski matanya tertutup, sebagian dirinya sudah bangun, ia harus bangun, terlebih hidungnya tersumbat membuat ia tidak bisa bernafas dengan lega. Sekali lagi angin menerpa wajahnya, membuat ia tidak bisa membuka kelopak matanya. Satu dua detik, lalu anginnya pergi, dalam hatinya Tita mendorong kuat dirinya agar terbangun, ayo BANGUN! SEKARANG!

 

Tita segera duduk saat ia mampu terbangun, memorinya mengajaknya mengingat mimpi yang baru saja mampir sesaat sebelum ia kesulitan bernafas dan akhirnya terbangun. It's not a nightmare. Hanya sebuah sapaan dari orang tak terduga di masa lalunya dalam mimpi. Tapi sapaan anggukan kepala itu, dan responnya dalam mimpi tersebut me-recall memori terkuat interaksi antara dirinya dengan orang di mimpinya tadi. Sayangnya, bukan memori yang membawa emosi positif. 

 

***

 


 

Juicy Life
sometimes it's sour, but also sweet, and that's what makes life delicious

 

Title: "What is the meaning of a dream?" 

"I met my old school friend in dreams, he greeted me, so I greeted him back, called his name as a sign that I remembered him. It's strange, I remember the face was blurry, but I called his name.

The strongest memory of our interaction came to my mind, along with emotion I feel that day. It was Ramadhan, a beautiful Ramadhan day that turns to sour. I remember crying a lot that night, trying to surpress the unfair feeling to judged as the wrong one. It was just a text, but the words turn into a scolding tone, and I feel so small, and part of me want to protest and deny all,,, but I understood his POV, his anger, and my wrong, so even if it's still feel unfair, I just admit that I am wrong, and I apologize.

That feeling afloat again, through a simple greeting in dream. All of a sudden, without any triggering. Today I felt strange, how could a simple greeting in dreams, makes me wonder, what's that dream want to tell me about? Is it my subsconcious? Why now? After all those years?"

 

 ***

 

Tita baru saja hendak memejamkan matanya lagi, tapi suara gagang pintu yang bergerak hendak membuka kamarnya membuat ia segera duduk lagi. Duk, pintunya tak terbuka, terganjal kunci gerendel besi kecil.

 

"Sintia?" tanya Tita, setengah khawatir kalau yang dibalik pintu orang lain. "Sebentar, maaf.. aku kira kamu nginep di kosan temenmu," ucap Tita sembari mendekat ke pintu setelah Sintia meminta maaf karena mendadak pulang tanpa memberi kabar.

 

"Gak bisa tidur di kosan temen, bawaannya pengen ngobrol terus. Mana besok aku full kelas dari jam 9 sampai dzuhur. Kalau gak tidur, bisa-bisa aku kena hukum dosen karena tidur di kelas." Sintia tanpa jeda langsung curcol sembari meletakkan tas laptopnya di meja, melepas jaketnya, kemudian duduk sejenak.

 

"Mana mereka ngobrolnya gosip-gosip receh, aku udah bosen banget dengerinnya, jadi aku buka hp aja, eh kamu update blog! Tahu kamu kebangun karena mimpi, aku buru-buru pamit ke temen2 untuk pulang. Bodo amat jalan kaki malem2, aman lah, toh lewat gang kecil padat penghuni, kalau ada apa-apa tinggal teriak, nanti penjahatnya diamuk massa,"

 

"Na'udzubillah, jangan bilang gitu ih! Ngeri." Tita bergidik membayangkan kalau Sintia tadi berpapasan dengan orang gak bener di jalan. Anehnya, Sintia malah menyengir sembari berbisik pelan.

 

"Btw, siapa sih yang kamu sapa di mimpi? Ceritain detailnya dong..." 

 

 "Gak ada! Udah malem, katanya besok pagi full kelas," tolak Tita sembari menarik selimutnya dan memejamkan mata. Ia pura-pura tidur. Begini ternyata rasanya kalau blog personalnya punya pembaca setia, dan pembaca itu adalah room matenya, dan room mate-nya adalah Sintia, sosok yang kuriositasnya terlalu tinggi.

 

***

 

Tita sedang asik mengaduk-aduk bubur ayam sarapannya, pikirannya masih bertanya-tanya, hikmah apa yang ingin Allah titipkan dari mimpi semalam. Apa ia harus berusaha mengkontak orang itu, hanya sekedar memenuhi egonya untuk meluapkan emosi yang bangkit dari kuburannya setelah beberapa tahun. But isn't it greed? Dragging other people to the past, just to resolve her burried negative emotion? Ia sudah sibuk dengan hidupnya, tak perlu ia menambah drama atas peristiwa yang mungkin ia sudah lupa. Karena memori itu subjektif, bisa jadi, sama seperti orang itu meninggalkan rasa pahit di malam Ramadhannya, begitu pula ia, ia juga bisa jadi melakukan hal yang sama. Bibir tita naik ke atas tipis, tersenyum pahit, masih memandangi bubur ayam yang sudah tidak terlihat aestetik sama sekali. At least I have apologize to him that night. 

 

"Kata ibuku," suara Sintia membuat Tita keluar dari pikirannya dan kembali ke realita. Tita menatap Sintia, menunggu kalimat berikutnya. Sintia selesai melahap satu kerupuk.

 

"Kalau kita mimpiin seseorang, artinya orang itu lagi mengingat dan mikirin kita."

 

"That's never been true in my case," cepat Tita menolak opini itu.

 

"Sebagai orang yang sering mimpi, dan seringkali aku kontak segera orang-orang yang muncul di mimpiku, it's just me and my subconscious mind, it's never about them."

 

"Emang siapa aja yang pernah mampir di mimpimu? Aku pernah gak?" ucap Sintia.

 

Tapi alih-alih menjawab, Tita memilih menyendokkan buburnya, membiarkan Sinta terlihat tidak sabar. Senyumnya mekar, kali ini rasanya tidak pahit. Betapa manis, punya teman yang bisa membuat pikiran berat yang kau kira akan menggayuti harimu, menjadi lebih ringan dan mudah dicerna.

 

"Nanti malem cerita ya.. aku duluan, kelas Dosen Killer, gak boleh telat!", Sintia mengemas tas, dompet dan hpnya cepat. Ia melambaikan tangan lalu jalan bergegas menuju kampus.

 

"Habis makan.. jangan lari..!" ucapan Tita tidak cukup keras untuk didengar Sintia. Tapi cukup untuk membuat pelanggan lain menoleh ke arahnya. Tita seketika kikuk, buru-buru ia melanjutkan makannya. Sambil berharap semua orang juga kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.

 

The End.

 

 

***

 

PS: bukan serial, tapi aku buat fiksi mini dengan karakter yang sama. Yang mau baca fiksi sebelumnya dengan karakter yang sama,

 

Baca juga: Nightmare in Juicy Life