Follow Me

Monday, February 26, 2018

Negative Vibes

February 26, 2018 0 Comments
Bismillah.

Membaca tulisan berjudul "Negative Vibes" di tumblr penulis Urfa Qurrota Ainy. Udah lama padahal bacanya. Lalu malam ini, baca tulisan orang lain, merefer ke tulisan negative vibes. Jadi ketularan ingin menulis juga.

***

Bukan tentang negative vs positive vibes. Bukan tentang itu. Hanya ingin menuliskan ini...

Menulis dalam narasi panjang di sini, membantu banyak untukku. Sebelumnya, saat aku sedang down, perasaannya negatif, aku tidak menyalurkannya dimanapun, mengekspresikannya ke orang lain pun tidak, curhat juga ya.. hampir tidak pernah. Sok kuat, sok ceria, itu sih kalau kataku pada diriku. Hehe. Mungkin yang baca beberapa tulisanku bisa tahu, bahwa aku tidak suka membuat orang lain ikut sedih, hanya karena aku sedih. Aku memilih menjauh saja, ketimbang harus menunjukkan sisi negatifku. Termasuk menghilang dari peredaran, membuat orangtua khawatir. Karena saat itu aku pikir, tidak memberi kabar lebih baik daripada memberi kabar buruk. Aku salah, salah besar. Kalau orang asing, mungkin ga peduli, kita lagi negatif atau positif. Tapi orang-orang terdekat, mereka aku ikut sedih, dan bahkan lebih sakit, kalau tahu dari orang lain dan bukan dari kita sendiri.

Tapi jujur tentang negative vibes itu ga mudah. Sulit, apalagi kita punya kecenderungan tidak percaya orang lain, enggan minta bantuan, merasa bisa mengatasi semuanya sendirian, dll. Sampai sekarang aku merasa tidak mudah mengekspresikan kerumitan perasaan dan pemikiranku ke orang lain. Tapi menulis membantuku, jadi jalan pelan-pelan aku mengekspresikan negative vibe yang aku rasakan. Bukan dengan kata-kata kasar, tapi dengan narasi panjang. Mencoba menuliskan saja perasaanku, meski sering berusaha mengabstrak. Tapi toh sebenarnya meski tidak tersurat semua, pasti ada yang tersirat. Yang membaca juga mungkin merasakannya, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin ada yang berbaik hati mendoakan kebaikan untukku. Semoga doanya, bukan kebaikan di dunia saja, tapi juga untuk akhiratku. *ini ceritanya minta didoain kebaikan dunia akhirat? hehe.

Aku gatau kalau orang lain. Tapi aku mulai banyak menulis, banyak baca, banyak menyambung ke realita karena menulis. Qadarullah memang suka nulis, jadi habis itu, ya.. terus aja nulis. Vakum pernah, blog di private pernah, karena alesan beda sih, tapi ya gitu. Balik lagi ke menulis, di sini, di diary, di banyak tempat. Alat aja. Seolah Allah kasih salah satu sarana untukku menyalurkan negative vibe selain lewat air mata hehe.

Lewat menulis, yang kekasihnya membaca, aku juga jadi perlahan mengeja ulang, belajar ulang tentang Allah, bagaimana Allah memberikan begitu banyak nikmat, banyak tanda dan ayat lewat banyak tempat, banyak orang, banyak sarana. Sampai aku pernah membuat orang salah sangka hanya karena. Ah, jangan dibahas lagi deh.

Kalau membaca ulang tulisan di blog ini, jadi kaya masuk lorong waktu. Lihat lagi masa-masa naik turun, maju, mundur, belok kanan, belok kiri, berhenti, jalan di tempat, lari, jatuh, bangkit, warna-warni pokoknya. Karena yang menulis diriku, meski dengan keabstrakkan yang ada, aku bisa menggambarkan ulang situasinya di kepalaku. Sekarang mah, udah jarang baca tulisan lama. Takut malah jadi ga move on move on hehe.

Lagian ya.. ada yang bilang, terlalu sering baca tulisan sendiri, trus suka baca tulisan sendiri, bisa membuat otak kita berhalusinasi. Terlalu cinta diri, narsis meski ga pake kamera, merasa tulisan kita bagus sendiri, padahal mah aslinya. hehe. Jadi ngelantur ya? Udah malam memang.

***


Saranku.. untuk siapapun yang sedang struggle dengan negative vibe-nya. Menulislah, dalam narasi panjang. Dan bukan di jalan provinsi, maksudnya, jangan di tempat umum yang banyak mata. Takutnya tanpa sadar, yang kita cari justru atensi dari banyak orang, yang itu justru menambah negative vibe. Tulis di blog anonim, kalau memang butuh di online-kan. Atau di buku tulis big boss, atau di microsoft word, atau bahkan bisa juga di notes di hp-mu. Narasi panjang.

Menulis. Tapi menulis bukan solusi. Cuma cara menyalurkan. Kalau mau solusi, mintanya ke Allah. Menulis saja, tanpa belajar ulang ma'rifatullah, tanpa mendekat lagi ke Allah, takutnya justru membuat kita makin tenggelam dalam gelap. Kau tahu? Seperti bicara saja, tanpa ada langkah nyata untuk maju. Tong kosong, nyaring bunyinya. Meski bukan suara, meski kata yang terketik/tertulis. Menulis bukan solusi, cuma sarana. Itu ga boleh dilupakan.

Semangat menulis~

RR : Rindu Ramadhan

February 26, 2018 0 Comments
Bismillah.


Kemarin, atau hari ini ya? Ada yang bertanya padaku, bulan puasa itu kapan ya? Aku jadi buka kalender gratisan dari salah satu perusahaan percetakan. Idul Fitri tertulis bulan juni 14-15. Berarti Ramadhan jatuh bulan Mei, mungkin tanggal 16 atau 17 . Lalu rindu itu muncul saja. Ramadhan, masihkah Allah memberiku kesempatan bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan?

***

Menulis ini, teringat suatu masa, menghitung mundur menuju bulan Ramadhan. Lalu jadi teringat ukhti shalihah yang sudah lama tak kusapa.

Menulis ini, teringat, 15 Ramadhan.

Menulis ini, teringat, masa-masa gelap, syukurlah Allah memberiku kesempatan bertemu Ramadhan.

Menulis ini...

***

Done. Bye...

Bukan Entrepreneur

February 26, 2018 0 Comments
Bismillah.

Saya bukan enterpreneur dan sejujurnya tidak terlalu tertarik untuk terjun menjadi pedagang. Namun beberapa waktu ini, saya ikut terlibat, melihat dan sedikit tahu tentang beberapa hal terkait kata tersebut. Izinkan aku menuliskannya di sini.

***

Belajar Bersyukur Setiap Hari

Ya, setiap hari. Di dunia enterpreuner, tidak ada hari yang sama, selalu berbeda. Misal jualan donat, sehari kadang habis, laku semua, besoknya ternyata cuma laku dua biji, besoknya lagi satu box, dst, dll. Selalu berbeda. Jadi berlajar bersyukur setiap hari, bahkan setiap waktu. Pagi hari ada yang udah beli, bersyukur. Belum ada, juga bersyukur, lalu ajaibnya, sore laris. Aneh bin ajaib. Pokoknya banyak belajar bersyukur melihat perbedaan penjualan setiap hari. Salut, untuk yang sudah menekuni sejak lama. Karena pasti lebih tahu lagi naik turun di dunia enterpreuner ini.

Ada Banyak Hal yang Harus Dipikirkan; Kompleks

Sebelumnya aku tidak tahu, bahwa ada banyak hal yang harus dipikirkan. Kirain teh, yaudah jualan jualan aja. Tapi nyatanya ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Manajemen SDM, Pemutaran uang, maintenance fasilitas, marketing, dll, dst.. Saya ga terlalu paham istilah-istilahnya. Tapi beneran banyak dan bikin pusing. Banyak risk yang harus diatur, risk management. Haha. Pokoknya harus banyak belajar, entah itu dari pengalaman, dari buku atau mentor tentang enterpreuner. Saya baru nyadar, oalah.. pantesan banyak seminar bisnis berbayar hehe.

Aku jujur tipe yang terlalu sensitif, udah tahu ya? Apa-apa dibawa ke perasaan, jadi rasa khawatirnya berlebihan. Yang punya usaha aja santai, bahas masalah di A, di B, di C, dst. Saya yang pusing, nangis dan curhat panjang lebar tentang ini itu yang baru saya tahu. Ga bisa ga kepikiran, kadang bikin saya stress. Haha, lebay ya? Tapi itu yang awalnya saya rasain setelah tahu banyak kondisi tidak ideal dalam dunia seperti ini.

Akhirnya saya belajar, ya, belajar ga ambil pusing. Atau belajar pusing tapi disampaikan, biar ga jadi stress. Kkk. Belajar banyak hal deh. Meski ada saat-saat saya ingin tutup mata saja, pura-pura ga tahu, biar ga kebawa pikiran dan perasaan hehe. Meski akhirnya kebawa perasaan juga sih, nyatanya saya ga bisa pura-pura ga lihat, ga bisa pasang poker face juga. Belajar kapan harus mengamati dan observasi, baru kemudian mencerna situasi, mencari solusi, lalu menyampaikan uneg-uneg secara lengkap, biar ga sekedar keluhan saja jadinya.

Al Ma'tsurat, Al Falaq, Ayat Kursi

Apa hubungannya ketiga hal di atas dengan enterpreuner? Hehe. Ternyata persaingan di "dunia ini" segitunya... Agak ngeri sih. Keburukan hasad itu nyata. Caranya macam-macam. Ada yang sering ngecek dan sengaja nawarin kerjaan ke karyawan, ada yang mecahin pipa ledeng, dll. Jujur, I see so many bad side of human in this field. Walau kadang bagusnya bikin sadar, kalau aku punya bad side of me yang mungkin lebih buruk dari orang lain. Tapi jujur sering bikin geleng-geleng kepala dan istighfar.

Pesan dari Ibu. Makanya penting untuk rajin baca Al Ma'tsurat, Al Falaq, Ayat Kursi. Manusia bisa mencegah, bisa mengobati, bisa menanggulangi dan cari solusi atas setiap bahaya yang diberikan manusia lain, tapi penjagaan terbaik adalah dari Allah. Apa yang ditakdirkan terjadi akan terjadi. Tapi ketika kita sudah usaha, banyakin dzikir dan doa, in syaa Allah, sekalipun ada hal yang terjadi, hati dan pikiran lebih lapang untuk cari solusi mengatasinya. Juga selalu tenang, karena Allah pasti mencegah yang lebih buruk yang terjadi.

***

Apa lagi ya? Perasaan kemarin-kemarin banyak deh yang mau ditulis hehe. Segini dulu aja ya. Kalau ada yang salah, mohon dikoreksi. Maklum, saya banyak tidak tahu daripada tahu.

Ah ya.. satu lagi. Tentang pintu rezeki, sebagian besarnya lewat perdagangan, ini juga kerasa banget. Berapa pintu dari berapa ya?

Aku bukan enterpreneur, dan jujur masih belum tertarik untuk terjun di dunia ini. Tapi kalau sekedar mengamati, banyak melihat aku mah suka-suka aja. Lumayan, bisa jadi tambahan ide tulisan. Ya ga? Hehe.

Terakhir, apapun pekerjaannya, semoga halal, thayyib, dan juga berkah~ aamiin.

Wallahua'lam.

Berhenti

February 26, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Aneh. Entah ini rasa sok tahuku saja, atau prasangka yang dibuat-buat. Namun rasanya, aku berhenti dan orang lain juga berhenti.

***

Hampir genap sebulan aku berhenti, alasannya sederhana, aku merasa ini sudah tidak sehat. Aku punya hal-hal kecil yang biasanya aku jaga, namun somehow, entah karena perasaanku, atau karena orang lain, aku tidak bisa menjaganya. Maka bulan kemarin, aku memutuskan untuk berhenti. Awalnya aku kira akan sulit, bahkan aku sampai membuat to do list, dan mencentangnya. Namun hampir satu bulan, ternyata tidak sesulit yang aku kira.

Lebih nyaman. Saat aku memilih berhenti. Banyak waktu pikiranku beralih dan ingin berhenti berhenti hahaha. Beginilah kalau ingin menulis abstrak, jadi tidak bebas, karena takut tanpa sadar menuliskan hal apa yang sebenarnya aku berhentikan. Ya, saat aku berhenti, tidak berarti perasaanku reda. Masih sama. Masih kembang kuncup, naik turun, lalu berakhir dengan doa.

Saat aku sadar, hampir satu bulan berhenti. Aku menemukan hal lain, yang sebenarnya lebih pahit. Bahwa ternyata ada hal-hal lain yang seharusnya aku hentikan, hal lain yang sebenarnya lebih buruk.

***

Sebenarnya hari ini aku ingin berhenti juga dari hal lain tersebut. Tapi aku gagal. Mungkin tekadku belum sekuat, saat aku memutuskan untuk berhenti sebelumnya. Attachment. Ah, padahal kalau kata Teh Yasmin Mogahed, attachment adalah penyebab kesedihan.

I will learn to stop. Really. Terutama mumpung keseharianku begitu nyaman, lingkungan begitu kondusif. Harus bisa berhenti.

Yang hari ini, meski gagal, ya sudah. Semoga jadi pelajaran. Buat to do listnya juga. Barangkali, mulai besok, ketika satu hari terlewati, dan Allah masih mengizinkanmu tidur, kamu mencentang dua hal. Bahwa kamu sudah berhasil berhenti(1) dan berhenti(2).

***

Aneh. Tulisan ini aneh ya? Hehe. Maaf kalau ada yang tanpa sengaja lewat, dan menggaruk kepala, atau memasang ekspresi sebal karena satu dua menitmu terbuang membaca tulisan absurd ini. Maaf.

Izinkan kututup tulisan ini dengan sebuah kutipan, dari buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran-nya Indonesia Quran Foundation,
Maka barangkali ini saatnya kita merenung dan bertanya di kedalaman hati masing-masing: Dengan berbagai nikmat yang Allah berikan untuk kita, dengan begitu kecilnya kita di hadapan-Nya, masih pantaskah kita berjalan dengan dada membusung sambil terus berpaling dan menjauh dari-Nya?
- Azhar Nurun Ala
Semoga Allah berikan kepada kita nikmat hidayah-Nya, nikmat iman dan islam, serta semoga Allah berikan kita kekuatan dan kemampuan untuk menjaga nikmat hidayah, nikmat iman dan nikmat islam tersebut. Aamiin.

Ya muqallibal qulub tsabbit qulubana 'ala dinik

Wallahua'lam.

Friday, February 23, 2018

There's No Comfort Food

February 23, 2018 0 Comments
Bismillah.

Saya baru tahu, bahwa ga ada istilahnya comfort food setelah selesai membaca buku Little Good Things Every Day.
"Resigning to a situation using comfort food is not going to help..." -Medeline Djajasaputra

Terlepas coklat memang bisa mempengaruhi mood dari segi ilmiah. Tapi kita ga boleh selalu lari ke makanan kalau perasaan sedang tidak nyaman. Karena bisa jadi bentuk pelarian, yang adiktif.
***

Belakangan ini saya banyak membaca artikel psikologi mengenai depresi, baik dari tumblr, medium atau blog lain. Salah satu bentuk pelarian selain comfort food, adalah tidur.

Ada orang yang memilih dan memaksa dirinya tidur agar tidak harus berhadapan dengan realita hidupnya. Mungkin ada hal buruk yang terjadi di hidupnya, dan ia kehilangan arah bagaimana menghadapinya. Mungkin ada ancaman diluar sana yang ingin ia hindari. Aku juga tidak tahu, tapi ada yang memilih banyak tidur, dan tidak memiliki semangat sama sekali untuk bangkit dari tempat tidur.

Aku membaca blog seorang senior, yang menuliskan perjuangannya dengan bipolaris yang ia rasakan. Baru sadar, bahwa bipolaris tidak seperti dua kepribadian yang digambarkan di film/drama. Ada saat ia 'tinggi', semangatnya naik, begitu semangat dan sering belanja tanpa memikirkan batas. Ada saat ia 'rendah', ia hanya berbaring seharian tidak mau melakukan apapun.

***

Anything can become an addiction. Bahkan olahraga, bisa jadi adiksi. Termasuk sosial media, perhatian, like dan segala interaksi di dalamnya bisa menjadi adiksi.

Dunia rasanya begitu menyeramkan bukan?

***

Saya juga beberapa kali membaca tulisan orang lain mengenai fenomena bunuh diri. Hal tabu, yang saya sendiri takut menulisnya dan takut sok tahu.

Di salah satu tulisan tersebut, seseorang menuliskan, yang intinya. Mudah bagi orang lain, yang tidak pernah punya pikiran untuk bunuh diri, menjudge bahwa mereka yang bunuh diri itu ga percaya agama. Saya terhenyak, jujur. Karena saya mungkin termasuk salah satunya.

Sebagian hatiku, saat membaca itu tidak setuju. Karena aku percaya, saat seseorang mengenal Allah, dengan segala sifat dan asma-Nya, seharusnya ia bisa bertahan meski dengan derai penderitaan psikis, yang saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya.

Kemudian sebagian hatiku mengungkapkan, lintasan pikiran itu mungkin bahkan ada meski seseorang mempercayai tuhan. Teringat lagi kisah Maryam salamun 'alaiha, doanya, beliau bahkan menyuarakan lintasan pikirannya, dan Allah bahkan mengabadikan doanya. Artinya... saya tidak berhak menjudge apapun terhadap orang lain yang sering kepikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Karena kita manusia, bisa berada di titik sangat lemah. Kalau seseorang yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya, sadar, bahwa orang lain, semua orang hanya akan menunjuk jari dan memakinya karena punya pikiran seperti itu, dituduh tidak beriman, dituduh lemah iman. Mungkin setan justru semakin senang dan membuatnya yakin untuk segera melaksanakan lintasan pikiran negatif tersebut.

Bukan itu. Sikap yang harus kita ambil bukan itu, kita mungkin tidak bisa memaklumi, tidak bisa mengerti. Tapi setidaknya, kita harus menunjukkan pada orang yang punya pikiran untuk mengakhiri hidup, bahwa Allah paham, Allah mengerti, Allah tahu setiap kelu, rasa sakit, dan semua hal yang tak terungkap dan tak tersurat tersebut.

That's the thing I want to underline inside the story of Maryam. Yang sampai saat ini belum bisa aku selesaikan bagian keduanya.

Kita, aku dan kamu bukan Maryam. Tapi saat Allah mengabadikan doa tersebut, ada hal yang perlu kita sadari lagi. Meski seluruh dunia tidak mengerti derita psikis kita, pertarungan otak dan bathin kita, Allah knows. Bukan cuma tahu, Allah bisa menghapus setiap luka, tidak mudah, harus ada usaha, doa dan tawakal yang beriring dilakukan. Tapi Allah bisa membuat rasa sakit itu hilang. Jikapun tidak di dunia yang menyeramkan ini. Nanti, di jannahNya. In syaa Allah.

***

Maaf jadi panjang bahasannya. Maaf kalau ada yang salah, mohon koreksinya.

Semoga Allah menjaga kita, melindungi kita, memeluk kita, menyembuhkan setiap luka yang tak terlihat di diri kita. Aamiin.

Semangat berjuang~

Allahua'lam.

Thursday, February 22, 2018

She was There But I wasn't

February 22, 2018 0 Comments
Bismillah.
#untuksahabat #untukmuukhti

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, hari demi hari. Terutama di saat-saat seperti ini, derai hujan yang terdengar riuh di luar. Ia masih diam, memilih untuk diam dan menjaga jaraknya dariku. Sepertinya, kesalahanku fatal. Jujur, rasanya tidak pernah tenang, kalau kuingat kalimat yang kuketikkan ringan, ternyata justru menoreh luka di hatinya. Atau mungkin tidak melukai, tapi membantu luka lamanya terbuka lagi lebar-lebar.

***

Ia mungkin menganggap hari itu biasa saja, tapi bagiku, itu hari penting, hari terakhirku di Bandung, sebelum akhirnya pindah domisili ke Purwokerto lagi.

Qadarullah satu hari sebelumnya, hp nokia-ku tertinggal di kosannya. Pagi, ia mengantarkan hp-ku. Seolah Allah sudah merancangnya dengan baik. Saat itu, saat aku gagal untuk belajar minta tolong pada orang lain, Allah kirimkan bantuannya lewat ukhti shalihah tersebut. Aku saat itu panik, sibuk dan heboh sendiri harus packing segitu banyak barang di kamarku. Waktu terus berjalan, sudah hampir jam 11 sedangkan tiket kereta yang akan mengantarku jam 1. Belum sarapan, belum siap-siap, belum nanti kirim barangnya, dll.
Ketukan di pintuku, dari tangan mungilnya menyadarkanku, kalau aku ga sendiri, ada seorang teman yang Allah kirimkan untukku.
Ia ada di sisiku, dengan tas ransel coklatnya, saat aku panik harus packing semua barang di kosan. Ia ada di sisiku, membantuku mengangkat dus-dus berat, rela ikutan cape, meski awalnya ia hanya hendak mengembalikan hp yang tertinggal di kosannya karena kelalaianku. Ia ada di sisiku, bahkan menyatakan bersedia untuk mengurus administrasi pengiriman barang-barangku. Ia ada di sisiku, saat kami duduk di stasiun bandung gerbang selatan, saat kami duduk di kamar kosku yang sudah tinggal kasur dan lantai saja. Ia bahkan ada di sisiku, saat sebuah hal masuk ke sela-sela pikiranku.

***

She was there beside me. Bukan cuma hari itu, juga banyak hari-hari lain saat aku butuh seorang teman. And these days, I feel like I often wasn't there beside her when she need someone. 

Jarak mungkin memang selalu terbentang, beratus mil. Namun sebelumnya, tidak terasa serenggang ini. Tidak terasa sejauh ini, tidak... sampai ketika ia memilih untuk diam.

I wish she talk to me again, even after these silent days. Or maybe, I hope she talks a lot with Allah, spend more time with Allah and cure her wound with her interaction with Allah.

I wish I could be a good friend for her. But if I'm not qualified. I wish Allah will send a lot and a lot of good friends to accompany her passing through her darkest day in life. The days when she needs someone to comfort her, the days when she needs someone to wipe her tears, the days when she needs someone to make her smile, the days when she doesn't want to be alone.

***



Izinkan aku menuliskan sekali lagi kata maaf di sini. Atas setiap salahku padanya. Atas sikap yang salah kuambil, kata yang salah kuucapkan, keegoisanku, kesombonganku, sikap menyebalkanku. Maaf.

the one who wish for your best,
_kirei

Halu'a

February 22, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pernah saya sedikit membahas tentang halu'a setelah menonton video khutbah ustadz Nouman yang berjudul Devine Remedy.

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton ulang video pembahasan surat alma'arij masih dari ustadz Nouman di video yang berjudul Full Night of Inspiration.

Dari video tersebut, saya jadi sadar, bahwa ada satu hal yang lupa saya tuliskan mengenai halu'a. Bahwa halu'a itu state, bukan kondisi yang tetap. State, maknanya bisa berpindah dari satu state ke state lain. Artinya kita bisa terhindar dari sifat halu'a.

Kalau kita pahami makna halu'a, kemudian mengetahui contoh-contohnya, kesannya manusia kok gitu banget ya? hehe. Mudah mengeluh, mudah putus asa, pengecut, pemarah, reaktif. Padahal di sisi lain, Allah memuliakan manusia (17:70) , dan membanggakan manusia sebagai ciptaan terbaik. Ini yang ga boleh kita lupa. Halu'a itu cuma state. Jadi jangan berputus asa hanya karena kadang kita jatuh dan termasuk orang-orang yang halu'a. Harus muhasabah lagi, taubat lagi, memperbaiki shalat kita lagi. Biar bisa masuk standar musholin (orang-orang yang shalat).

***

Masih dari video Night of Inspiration. Ada tiga surat dimana Allah mendeskripsikan syarat-syarat manusia tertentu. Yang pertama, yang paling tinggi, di awal surat Al Mu'minun. Yang kedua, 'ibadurrahman, di surat Al Furqan, ayat berapa hayo? Dan yang ketiga surat alma'arij tentang orang-orang yang shalat.

Kalau boleh nambahin, surat Al Ashr. Syarat super minimum, supaya tidak termasuk orang yang merugi.

Jadi teknisnya bertahap. Kita berusaha memenuhi syarat-syarat di surat Al Ma'arij, nanti syukur-syukur bisa belajar dan memenuhi deskripsi di surat AlFurqan dan menjadi 'ibadurrahman. Yang terakhir, menjadi al mu'minun, deskripsi orang yang benar-benar beriman. yang beruntung (':

Semoga kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk meniti jalan lurus, mendekat kepada Allah, terus menerus memperbaiki diri di hadapanNya. Hingga kelak mati, kembali padaNya dalam keadaan terbaik. Aamiin.


Wallahua'lam.

Hati-hati Jika Sendiri

February 22, 2018 0 Comments
Bismillah.

Apa kabar nih? Lima hari saya vakum menulis hehe. Bukan vakum sih, rehat saja. Ada banyak alasan dan excuse, tapi kita skip saja ya. Fokus ke judul tulisan ini.

Terinspirasi dari sebuah kutipan,
"Kita mudah sekali terlena oleh kenyamanan dan senang berkawan dengan ketidakproduktifan, ketika kita terasyikan oleh kesendirian." 
- Abdul Aziz, salah satu tim penulis buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran terbitan Indonesia Quran Foundation
***

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk individualis, namun juga makhluk sosial. Ada masa ketika sendiri kita bisa merasa nyaman dan lebih produktif, terutama kalau kita introvert. Ada masa ketika berinteraksi dengan banyak orang membuat kita terbawa arus, bagus kalau arusnya menuju hal-hal baik, tapi kalau menuju hal-hal negatif?

Kita mungkin hafal surat Al Ashr, dan pernah mendengar pembahasan tentangnya. Bahwa syarat supaya kita tidak termasuk orang yang rugi, salah satunya adalah dengan berjamaah. Bahkan beriman dan beramal shalih saja tidak cukup untuk kita masuk ke pengecualian orang yang rugi. Ada ayat saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, 'saling' harus ada peran orang lain, tidak bisa sendiri.

Ilustrasinya,seperti kita tenggelam, dan sadar harus berenang ke atas air, namun kaki kita terikat rantai dengan orang lain yang juga tenggelam, yang juga terikat rantai dengan orang lain.

***

Hati-hati dalam kesendirian, terutama saat sendiri, kamu lalai dan sibuk dengan hal-hal yang tidak produktif, lupa target, lupa cita, lupa asa. Asik saja menghabiskan waktu dalam kesenangan semu nan sia-sia.

Carilah teman, disekitarmu, untuk mengingatkanmu. Ada banyak komunitas online bahkan, kalau misal kamu kesulitan di mobilitas. Tapi jangan tergatung sama yang di dunia maya ya, tetap butuh dan pasti ada orang - orang yang mau diajak bergerak bersama, belajar ilmuNya, mendekat padaNya.

***

Pastikan kamu proaktif bukan reaktif. Jangan sampai kamu pundung karena tidak menemukan teman seperjalanan, atau tidak menemukan lingkungan yang suportif. Proaktif, mungkin kamu yang harus memulainya, aktif mencari, nanti Allah datangkan orang-orang yang juga ingin berhijrah kepadaNya. Proaktif, mungkin kamu yang harus membuatnya, menciptakan lingkungan yang suportif.

Semangat ~

***


Berhati-hati. Kata itu tiba-tiba mengingatkanku pada salah satu definisi takwa. Takwa itu seperti berjalan dengan hati-hati, barangkali ada duri yang siap menusuk kakimu.

Buang khawatir yang terlalu dilebih-lebihkan. Fokus ke usaha dan doa, kemudian bertawakal.

Wallahua'lam.

Friday, February 16, 2018

Allah Will Help You Move On

February 16, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Tujuan dari doa bukan untuk mengubah kenyataan, tapi untuk menguatkan kita saat sebuah kenyataan yang pahit terjadi di hidup kita.


***
Do you know the purpose of du'a? Did I tell you? Change reality? (The purpose of du'a is) to help us deal with this reality. Cause what is going to hit you, no matter how much you try will still hit you, but how can you have the strength to deal with it.

First, know that it came by Allah permission. Wamayyu'mim billah yahdi qalbahu. And whoever would trully believe in Allah, then Allah will guide their heart. The heart would be at ease, no matter what the situation, this is the ayah man.. This is the ayah.

The ayah is, bad things will happen, but if you really believe in Allah, you're heart will be fine, you're not gonna be unrest, you're not gonna be angry, or depress, or sad, or overwhelm, or crying constantly, you're not going to be like that. You're heart will become at ease.

Yes, in the beginning, we're human being, when something bad happens, the heart is rattle, we're angered, we are sadden, we are depressed, we are all of those things. But eventually, if you're really have iman in Allah, Allah will tape all of your heart, and you'll be fine. You'll be able to survived.

And without iman of Allah, that grief and that sadness, that pain will never go away and some people might even kill themself, because of something bad that happens. They might not even be able to live. They might be in a life long depression.

Allah is telling us in this ayah, that those who believe in Allah, Allah lets them move on with life. 
- Ustadz Nouman Ali Khan, Quran For Young Adults Day 9
Pembahasan awal Surat At Taghabun. Maaf kalau ada kesalahan, kemampuan listening saya terbatas, hehe.

***

Hal-hal 'buruk' yang sudah terjadi, atau akan terjadi pada kita, akan tetap terjadi. Saat kita menjaga hubungan kita dengan Allah, terus berdoa padaNya, menjaga iman kita agar tidak goyah, Allah akan membantu kita melalui masa-masa berat dan kelam itu. Mungkin kita ga langsung tenang dan menerima, ga langsung tenang dan melepas, akan ada fase manusiawi kita bersedih, marah, merasa tertekan, menangis, dan hal-hal manusiawi lainnya. Kita manusia, dan itu normal kalau kita merasakan hal-hal tersebut. Namun perlahan, kalau kita masih beriman dan terus berjuang untuk memperbaiki iman kita kepada Allah, lewat doa, lewat segala hal yang merupakan langkah mendekat padaNya, Allah nantinya akan membimbing hati kita supaya bisa melalui masa-masa gelap dan penuh tekanan tersebut.

Hati kita memang lemah, diri kita memang lemah. Tapi Allah bisa menguatkannya, membuat hati kita jadi baik-baik saja, meski segala hal yang tidak baik-baik saja menghantam hidup kita.

Tetap semangat~ usaha untuk move on itu harus, doa juga. Allah nanti akan bantu kita untuk move on, dari apapun yang saat ini bergelantungan menahan kaki kita untuk melangkah ke depan. I don't know how hard your day, how painful your past, but you'll make it through in syaa Allah, if you belive in Allah. Allah will make your heart feel ease.

Allahua'lam.

Wednesday, February 14, 2018

Grup Komunitas Menulis Online

February 14, 2018 4 Comments
Bismillah.

from unsplash


Berawal dari Serdadu Aksara, lalu juga Enjoy Menulis Club yang kemudian pindah grup dan nama jadi Klub Menulis Kreatif. Dari sana, saya dapat info grup telegram dan facebook baru, yang akan diisi materi kepenulisan oleh 8 mentor. Saya langsung gabung, alhamdulillah banyak manfaat. Materi pertama dari Zulfadhli Ashari tentang Copywriting. Saya ga terlalu tertarik sih, tapi seneng baca materinya, jadi tahu, kalau yang menulis copywriting itu perlu belajar banyak hal tentang produk/jasa yang mau ditawarkan, termasuk menganalisis calon pembeli, buat database, biar tahu karakter tiap pembeli. Panjang deh hehe.

Oh ya, yang mau gabung grup telegram bisa klik link bit.ly/tele8pm. Yang mau dapet broadcast materinya saja, satu arah, bisa klik link t.me/channel8pm.

***

Malam ini, ada materi kedua. Grupnya sebenarnya lumayan sepi, mungkin orang-orang pada sibuk hehe. Pas ditanya, materi apa yang diinginkan, saya memberanikan diri bersuara, ingin materi tips dan serba serbi menulis draft buku pertama (butuh soalnya hehe, jadi belajar biar ga silent reader saja).

Materi kedua diisi oleh Rezky Firmansyah, berjudul "Tips Menulis Buku yang Gue Banget". Saya tidak berniat membuat resume materinya, hehe. Jadi kalau yang penasaran, bisa gabung saja ke grup atau channel telegramnya. Saya cuma ingin menulis beberapa hal yang mengena di hati, dan membuat jemari saya gemas ingin menulis dan promosi di blog ini.

Kapan Mulai Aksi Nyatanya?

Bagian awal materi, udah disentil hehe. Ini kutipannya,
Kalau ada yang bertanya, "Gimana sih cara menulis buku?". Saya enggan menjawab pertanyaan ini berulang-ulang....
...Bukan kenapa-kenapa. Karena kalau Anda masih berkutat di pertanyaan itu, kapan mulai aksi nyatanya?
- Rezky Firmansyah
Tidak cuma di situ, saya juga diingatkan lagi, bahwa draft yang ga maju-maju itu, jawabannya karena saya banyak menulis di tempat lain dan sibuk melakukan hal-hal lain.
Begini. Rumus menulis itu, ya menulis aja. Jangan banyak tanya. Menulis itu pekerjaan tangan dan hati, bukan pekerjaan mulut yang jadinya banyak tanya. Paham ya? - Rezky Firmansyah
Ehm. Perlu emang disindir kaya gitu diriku, biar segera sadar dan kembali pasang sabuk pengaman, tancap gas melanjutkan draft yang diabaikan lama. Berapa pekan coba diabaikan? Hahaha *ketawa pahit. Temennya senyum pahit.

@InsightKajian, Ide Baru, Modifikasi dari Ide Lama @AnakKajian

Ini bagian akhir dari materi. Jadi, di materi dibahas juga tentang kreatif. Kalau kreatif itu ga harus menciptakan hal yang benar-benar baru, kreatif itu kaya membuat suatu yang lama, tapi dengan tambahan yang baru. Bingung ya? Hehe. Tulisan saya memang sering membingungkan. Peace V

Rezky Firmansyah mencontohkan akun instagram @insightkajian yang terinspirasi dari @anakkajian. Kalau akun @anakkajian cuma membagikan jadwal kajian, insightkajian juga berbagi dokumentasi dan insight yang di dapat dari kajian. Insight, bukan cuma notulensi hehe. Dikemas dalam bahasa yang apik dan kekinian. Saya jadi tertarik untuk follow, dan baca beberapa postingannya. Beneran bagus dan kreatif~

***

Udah itu aja hehe. Hari ini, saya dapet hikmah, bahwa memilih bertahan di grup serdadu aksara, enjoy menulis club, klub menulis kreatif, meski cuma menjadi silent reader. akhirnya berbuah manis. Jadi tahu info grup telegram bersama 8 mentor. Lewat grup itu juga, Allah seolah menjawab doaku, yang butuh komunitas menulis online. Allah always answer my prayer, even though I often don't realize His way of answering my prayer. Aku saja yang sering tidak peka.

Alhamdulillah bini'matihi tatimushalihaat..

Allahua'lam.

***

PS :24.8.2018 sekarang grup 8pmnya ga aktif gatau kenapa. pada sibuk mungkin mentor2nya hehe

Tepat Sasaran

February 14, 2018 0 Comments
Bismillah
#fiksi
Di sebuah forum online.

Z: "Nasihat/kritik yang pernah kamu dengar langsung yang tepat sasaran?"
Y: "You're judging others do su'udzon, but actually what you do is su'udzon"
X: "katanya banyak belajar islam, kok akhlaknya masih gitu-gitu aja"
W: "orang pinter emang gitu, ga mau diatur, sombong"
V: "jangan marah, jangan marah, jangan marah"
U: ...
T: ...
S: ...

***

Z, sebenarnya ingin bercerita tentang diri, bagaimana seseorang dengan lantang menyuarakan kritik dan nasihatnya. Entah pilihan katanya yang tajam, atau isi kalimatnya yang tepat sasaran. Ia ingin menyuarakannya, berbagi perasaan #jleb dan perasaan aneh setelah dan saat menerima kalimat itu. Tapi membaca respon dari forum online tersebut. Z memilih untuk diam dan menjadi pembaca saja. Ada lebih banyak orang yang berhak bercerita tentang itu.

The End.

Monday, February 12, 2018

Pernah Mampu Meraih Sesuatu

February 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

from unsplash
Sudah berapa lama aku ga nulis blogwalking? Hehe. 16 Januari, hampir satu bulan. Kali ini saya mau share kutipan dari blog kakak tingkat.

***

Berawal dari baca tulisan berjudul Akhir Perjalanan Seorang Mahasiswi, kemudian lanjut baca salah satu tulisan yang di refer, di dalam tulisan tersebut. Isi tulisannya, murni tulisan seorang istri khusus untuk suaminya. Aku baca skip-skip, karena memang banyak cerita tentang suaminya dari mata sang istri. Trus sampai di paragraf terakhir. Gatau kenapa kebawa haru-nya, mungkin aku saja yang cengeng, atau kalimat itu seolah memang Allah takdirnya ditulis Teh Dewi, selain untuk suaminya, juga bermanfaat untuk pembaca lain.
"My navy, masa lalu memang tidak pantas untuk dibanggakan. Sejarah itu kosong tanpa karya masa kini. Namun terkadang kita perlu melihat sejarah, bahwa kita pernah mampu meraih sesuatu, sehingga kita akan lebih kuat untuk menghadapi masa depan...."
".... Tentang ujian-ujian itu, mungkin untuk mencuci dosa kita yang terlalu banyak dan atau mungkin untuk membuat kita jadi lebih kuat. Bersama Allah, semua akan baik-baik saja."
- Dewi Kusuma Pratiwi, dalam tulisannya yang berjudul Sekilas Tentang Arbi
***

Masa-masa berat itu sudah lewat padahal. Tapi siang menjelang sore, 11 Februari kemarin saat membacanya, mataku ikut berkaca-kaca. Seolah kalimat itu Allah kirimkan untukku. Ya, untukku yang masih belajar memperbaiki mindset agar selalu positif, agar bisa percaya diri dan tidak minder, despite all the failure, and the past better version of me. Kok jadi pake bahasa inggris? Hahaha. Kebiasaan.

Takut dilanjut banyak curhat. Aku akhiri saja tulisan blogwalking kali ini. hehe.

Kalau ada yang bertanya-tanya, kenapa sudah jarang nulis blogwalking, ga kaya dulu.. hehe. Jawabannya, karena ada 1:10 yang sedang ingin aku terapkan. Blogwalking mah in syaa Allah jalan terus. Suka aja menyerap tulisan banyak orang, konsumtif memang. Tapi semoga dari banyak baca jalan pikiran dan jalan hidup orang-orang yang menulis, aku bisa memetik hikmahnya, untukku sendiri terutama. Semoga jadi semakin semangat untuk menulis juga. *tiba tiba teringat draft yang terabaikan. ehm ehm.

Bye~ Semangat menulis. Mungkin kau menulis untuk orang tertentu saja. Tapi selama itu dipublish, dan bisa terjangkau via internet, siapa tahu ada orang lain yang ikut terbantu membaca tulisanmu. Entah itu terbantu jadi ikutan terharu, terhibur, atau yang terpenting, terbantu.. agar semakin mendekat kepada Allah.

Izinkan kuakhiri tulisan ini dengan kalimat yang mirip tapi berbeda dari kutipan blogwalking.
Aku... tidak akan baik-baik saja, kalau bukan karena bersama Allah. -kirei
Allahua'lam.

Sunday, February 11, 2018

Dari Kulwap GENF Quran

February 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

Ini bukan resume materi kulwap, hanya sharing.. sedikit, cuma beberapa hal yang saya dapatkan dari join grup Kulwap GENF Quran.


***

GENF Quran merupakan produk aplikasi quran. Saya pertama kenal dari seorang adik tingkat, yang merupakan admin dari sosial media GENF. Lanjut, ada seorang saudari lain, yang share info link grup kulwap GENF. Saya memilih bergabung, meski belum install aplikasinya hehe.

Singkat cerita ini hal-hal yang saya dapatkan dari dua kulwap GENF Quran:

Perbedaan makna istilah Qiraah dan Tilawah

Jadi interaksi dengan quran yang bisa difasilitasi oleh GENF Quran ada tiga, qiraah, tilawah dan tahfizh. Apa beda qiraah dan tilawah? Istilah qiraah di genf quran maknanya seperti istilah tilawah yang kita kenal, yaitu membaca quran secara literal. Sedangkan Tilawah maknanya membaca quran dengan pemahaman, secara vertikal, dan lebih mendalam ketimbang cuma baca aja.

Jadi membaca kisah Nabi Sulaiman 'alaihi salam dalam tafsir

Salah satu fitur GENF Quran yang mendukung tilawah, adalah adanya telusur akar kata, statistik akar kata, dan tafsir ibnu katsir. Karena saya belum download aplikasinya, saat pengisi kulwap meminta saya baca tafsir ibnu katsir surat 38: 34 dan 37, saya jadi googling. Saya tipe yang jarang inisiatif buka tafsir, kadang merasa cukup baca terjemahan, atau dengar dari kajian saja. Karena kulwap GENF Quran saya jadi baca tafsir tentang kisah sulaiman.

Sebelumnya, saya cuma memahami ayat doa Nabi Sulaiman dari penjelasan ustadz Nouman saja. Tapi karena membaca tafsirnya, tentu akan berbeda.. ketika nanti saya qiraah dan bertemu ayat tersebut. Saya mungkin akan teringat penjelasan kisah Nabi Sulaiman dengan berbagai versi, membaca bukan sekedar membaca. Semoga. Aamiin. In syaa Allah.

Batas Kesabaran itu Pertolongan Allah

Kalau dua poin sebelumnya saya dapatkan dari kulwap pekan kemarin. Yang satu ini saya dapatkan dari kulwap kemarin malam.
Sabar itu berbatas, karena ujung sabar adalah pertolongan -Kang Mohan GENF Quran
Dari kalimat itu saya dapet sudut pandang baru. Kalimat itu sebenarnya tidak kontradiktif dengan kalimat yang mungkin lebih sering kita dengar dan baca, tentang sabar itu tidak berbatas. Saya mengambil kesimpulan, bahwa jika sabar itu berbatas, maka yang menentukan batasnya bukan manusia. Kita ga bisa bilang, "kesabaranku sudah habis", karena itu artinya / mungkin itu tanda, kalau sebenarnya kita belum sabar. Kita cuma bisa terus berusaha bersabar, Allah yang menentukan batasnya. Saat pertolongan Allah datang, saat itu sabar berbatas.

Masih belum paham? Berikut penjelasan lebih panjang dari Kang Mohan,

Sabar itu berbatas, karena ujung sabar adalah pertolongan. Sabar dalam kajian bahasa arab seperti seseorang yang memetik buah belum matang, lalu dengan sabar ia akan menunggu sampai matang, atau ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk mempercepat kematangannya.

Sabar hanya milik mereka yang memiliki pengetahuan bahwa kelak buah itu akan matang. Tanpa pengetahuan kita tidak akan pernah bersabar.
QS 18:68. Allahummarhamna bil Quran
Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?
- dari grup KULWAP GENF QURAN

***

Sudah itu saja. Sebenarnya ada banyak, tapi buat saya, itu tiga poin yang mengena. Semoga bermanfaat.

Allahua'lam.

Friday, February 9, 2018

Bersyukur Terlahir Sebagai Seorang Perempuan

February 09, 2018 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-



Padahal tulisan sebelumnya mengingatkan untuk tidak banyak cerita diri ya? Hehe. Let me tell you just one sentence. These days, I keep feeling grateful that Allah made me as a woman.

***

Manusia, aku, membuat perbandingan. Jika yang terjadi dihidupku terjadi, dan aku seorang laki-laki, mungkin aku tidak akan sanggup.

Nyaman sekali rasanya sekarang. Sebagai seorang perempuan, yang memiliki Ayah, adik laki-laki yang menjaga. Yang berada di rumah dan tidak di luar kota dan merantau. Nyaman, karena tidak memiliki kewajiban mencari nafkah. Nyaman, menunggu.. meski menunggu banyak tantangan di dalamnya.

Lalu aku teringat salah satu materi dari grup whatsapp HSR. Tentang hakikat perempuan dan laki-laki yang berbeda, secara fungsi dan fitrahnya.

Materinya disampaikan oleh Ustadz Jalaludin Asy-Syatibi, dicatat oleh Kang Supri dan Teh Karin, kemudian dibagikan catatannya di grup HSR. Ini sedikit kutipan materi-nya,
Allah telah mempersiapkan perempuan secara fisik maupun psikis untuk (1) hamil, (2) melahirkan, (3) menyusui. Sesabar dan sekuat apapun seorang laki-laki tidak akan ada yang mampu menggantikan ketiga peran wanita yang disebut diatas.
Sementara laki-laki Allah persiapkan fisik dan psikisnya untuk menjadi Qawwam. Seunggul apapun wanita, qawwam adalah fitrah dan peran seorang laki-laki.
Allah Maha Adil, saat Allah menjadikan kita seorang perempuan, Allah juga menyiapkan fisik dan psikis kita untuk menjalani peran, yang cuma bisa dilakukan seorang perempuan. Begitupun sebaliknya, saat Allah menjadikan mereka seorang laki-laki, Allah juga menyiapkan fisik dan psikis mereka untuk menjalanii peran, yang cuma bisa dilakukan seorang laki-laki.

Subhanallah.. walhamdulillah.. wa laa ilaha illallah.. Allahu akbar!

Udah itu aja, semoga tulisan pendek ini bisa bermanfaat. Baik untuk yang ditakdirkan menjadi seorang perempuan, maupun laki-laki. Aamiin.

Allahua'lam.

Banyak Bicara atau Menulis Tentang Diri

February 09, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Seorang sahabat pernah menuliskan di salah satu sosial medianya. Katanya, kita cuma perlu duduk dan banyak mendengar orang lain berbicara tentang dirinya. Lalu sadar atau tanpa sadar, orang tersebut akan memberitahu kita kekurangan, kesalahan dan aibnya.

Saat membaca itu, awalnya aku sensi hehe. Kebiasaan buruk. Merasa disindir, karena memang saat itu aku banyak berbicara tentang diri padanya. Namun rasa sensi tidak membuatku berhenti/mengurangi bicara tentang diri, terutama jika bertemu dan duduk di dekatnya. Ia terlalu banyak diam, pendengar yang baik, aku? Aku jadi nyaman bercerita ini itu tentang diri.

Mungkin ia menulis itu untuk mengingatkan dirinya. Agar tidak banyak cerita tentang diri. Dan ia benar-benar melaksanakannya, hampir tidak pernah, kecuali di saat-saat tertentu, di momen tertentu, baik secara lisan saat aku duduk di dekatnya, atau lewat tulisan, di tempat yang bukan "jalan raya" itu.

***


Di sini, aku ingin mengingatkan diri sendiri. Agar tahu tempat, agar ingat kapan harus berhenti bercerita tentang diri.

Memang, menulis yang paling mudah, adalah menulis tentang diri. Kita paling banyak mengetahui tentang diri, tentang apa yang kita alami, apa yang kita lihat. Ya, segala hal yang berotasi disekitar diri. Walaupun, ada yang mengaku belum mengenal diri, tapi menulis tentang diri yang belum dikenal, jauh lebih mudah daripada menulis tentang orang lain yang belum dikenal. Hehe.

Ada banyak cara menyampaikan hikmah, tanpa menyangkut pautkan dengan diri. Unsur tentang diri bisa dihapus, atau disamarkan, namun hikmah atau inti tulisan/pembicaraan yang ingin disampaikan tidak hilang, bahkan makin utuh, karena tidak tercampur noise curcol hehe.

Untukku... belajarlah mengurangi menulis tentang diri. Di sini, maupun di tempat lain. Mungkin tempat ini tidak seprivasi diarymu, tapi banyak hal yang seharusnya disimpan, yang kamu pilih untuk dipublish di sini. Ya, ini mungkin bukan "jalan raya", namun siapapun bisa lewat sini, sengaja atau tanpa sengaja.

Sesekali, dua kali, bicara tentang diri atau menulis tentang diri boleh. Terutama pada orang yang kamu percaya, saudara, keluarga, sahabat. Mereka akan tahu, bahwa kamu sudah membuka hatimu, saat kamu bicara tentang diri pada mereka. Sesekali saja, tidak perlu keseringan. Toh sebenarnya mereka tidak membutuhkan itu. Yang butuh itu, kamu, rasanya ingin saja cerita tentang diri ya? Hehe.

Jadi ingat. Beberapa kali aku aktif di grup. Dan melihat fenomena ini. Seolah kami berinteraksi dan melakukan percakapan, namun jika ditelisik lagi, sebenarnya masing-masing sedang bicara sendiri, menulis tentang dirinya sendiri, tanpa benar-benar menyimak balasan dari orang lain.

Tidak mudah memang. Tapi mari belajar menjadi pendengar yang baik. Pembaca yang baik. Lisan kita ada satu, jemari ada sepuluh siih wkwkwk. Tapi telinga kita ada sepasang, begitu pula mata kita. Mari belajar menjadi pendengar yang baik, pembaca yang baik. Terutama untukku, yang memang sudah terlalu sering berbicara atau menulis tentang diri.

Ingatkan saya ya.. kalau blog ini sudah terlalu membosankan karena mengulang cerita diri lagi dan lagi. Terimakasih sebelumnya.

***

Ah, jadi ingat tentang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam, yang marahnya, tidak pernah untuk hal terkait diri. Belum selesai-selesai baca transkrip ustadz Omar Suleiman yang ini.

Balik ke topik awal, semoga kita bisa termasuk orang-orang yang sedikit berbicara dan menulis tentang diri. Aamiin.

Allahua'lam.

Berani untuk Membantu

February 09, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random #hikmah

Lama tidak mengobrol dengan adik. Meski sekarang setiap hari ketemu. Kemarin ini, berawal dari broadcast tentang bahaya penculikan anak. Lanjut adikku cerita, modus penculikan orang dewasa yang mirip dengan broadcast yang aku bacakan.

Adikku bertanya, kenapa ga ada yang mau nolongin ya? Padahal sudah teriak minta tolong.

Aku menjawab, ga mudah untuk ikut campur urusan orang lain. Apalagi kalau lawannya banyak. Aku kasih contoh, misal kita ngeliat satu anak dikeroyok beberapa orang sekaligus, apa kita berani untuk bantu?

Adikku kemudian bercerita tentang salah satu mahasiswa Unsoed, yang parttime ojek, habis nganter orang ke stasiun, balik ke kosan, dia melihat satu orang dikeroyok lima orang, dia berani bantu, jarinya sampai patah karena menangkis kayu yang dipakai penyerang. Polisi saat itu datang. Penyerang ditangkap. Tiga orang buron curanmor, dua yang lain mahasiswa universitas/sekolah tinggi swasta.

Kronologisnya. Malam hari, sebelum shubuh, mungkin jam 2-3. A mengendarai motor melihat B naik motor tapi ga bener, karena sedang mabuk. A menegur dan mengingatkan agar naik motornya yang benar (mungkin niatnya baik, agar tidak terjadi kecelakaan). A tersinggung, dikuasai oleh setan mungkin karena kondisi mabuk. Menelpon teman-temannya, kemudian mencegat B di daerah Pabuaran. B dikeroyok habis-habisan, luka organ dalam, kalau tidak ada C yang memberanikan diri turun tangan dan membantu mungkin B sudah meninggal karena dikeroyok lima orang. 
Aku bertanya, karena ada polisi juga, jadi C dan B tidak sampai meninggal. Aku bertanya, polisi kok bisa datang?

Adikku menjawab, tidak tahu. Mungkin ada intel.

Aku menyeletuk, mungkin hasil laporan dari orang lain yang melihat namun tidak berani langsung turun tangan. Mungkin bahkan yang melapor polisi melihat B dikeroyok sebelum C datang. Adikku mengangguk, kemungkinan, yang mungkin benar, mungkin salah.

Adikku bertanya, gimana ya.. kenapa si C berani untuk membantu? Padahal C mahasiswa biasa, bukan yang bisa beladiri atau gimana.

Aku memberikan beberapa kemungkinan yang melintas di otak:
- mungkin C pernah ngalamin dikeroyok dan ga ada yang mau bantu, jadi dia tahu banget posisi B, akhirnya turun tangan
- mungkin orang tua B berdoa sama Allah untuk melindungi B, dan Allah menggerakkan hati C sebagai perantaranya
- kemungkinan lain, yang kita gatau.

It's hard to be brave like that. 


Adikku, setuju, kita tidak pernah tahu, bagaimana hati C diberikan Allah keberanian, apa yang membuatnya berani turun tangan langsung, campur tangan di 'urusan orang lain'. Menulis ini, aku kemudian teringat, sebuah hadits saat melihat kemungkaran di depan mata. Mungkin, iman C tinggi, sehingga saat melihatnya, ia memilih turun tangan meski dengan segala resiko di depan mata. 

***

Obrolan kemarin pagi dengan adikku, menuai hikmah. Kalau kata ibuku, perbanyak dzikir, agar Allah melindungi. Kalau kata adikku, keberanian seperti itu jarang ditemui. Kalau aku? Aku terlalu banyak berprasangka, sok tahu. Hehe.

Aku tidak tahu mana yang benar. Kita.. cuma bisa mencoba mengambil hikmah dari kisah. Kalau kamu mendengar/membaca kisah ini, hikmah apa yang bisa kamu petik?

Tuesday, February 6, 2018

More Powerful, Than A Mere Small Talk

February 06, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

"I made a mistakes", ucapmu, tertunduk. Aku melepas earphone di telinga kiriku, menyiapkan kedua telingaku untuk mendengar pengakuannya.

"Aku mengucapkan kalimat yang salah, dan temanku berhenti membalas pesan-pesanku. She pushed me away," jelasmu. Aku menghadapkan badanku ke arahmu, kamu... memandang jauh ke langit yang semakin gelap, mungkin pertanda akan hujan.

"Kalimat apa? Apa kamu yakin, ini bukan prasangkamu saja? Mungkin temanmu cuma butuh waktu untuk sendiri, seperti kamu sering memilih tidak menjawab pesan dariku saat sedang ingin sendiri," kulihat selapis kaca tipis di bola matamu. Kelopak matamu bergetar, berusaha menahan agar air tidak jatuh. Ini memang ruang publik.

"Aku berkata padanya, dosaku mungkin lebih banyak. Hanya saja Allah menutupinya. Aku bilang, aku malu karena seolah aku orang baik, padahal aslinya dalemnya busuk", kamu menengadahkan wajahmu, melihat ke langit-langit. Aku tahu, bukan itu sebenarnya, kamu cuma sedang berusaha agar air matamu ditelan balik lagi, dibantu gravitasi.

Aku menghela nafasku pelan, memandang ke lantai sejenak. Aku kaget saat menemukanmu menghadap ke arahku, tatapan kami beradu, ada ekspresi geram yang kubaca dari wajahmu, dari caramu membungkam rapat bibirmu, wajahmu kaku, seolah menahan amarah. Aku mundur, duduk lebih jauh darimu.

"Jangan pasang muka kaya gitu dong, ngeri" ucapku jujur.

"Aku harus gimana Di?" suaramu lemah, aku salah membaca ekspresi wajahmu. Bukan geram, bukan, tapi ekspresi pias karena prasangkamu benar. Kamu menelungkupkan wajahmu di atas lipatan tangan, di depan laptopmu yang terbuka, namun layarnya hitam, karena sudah mati.

Aku jadi salah tingkah. Kamu mungkin salah mengucap kalimat pada temanmu, tapi aku, salah karena sebuah helaan nafas pendek.

***

Kamu masih menelungkupkan wajahmu, mungkin menangis tanpa suara. Aku berusaha menenangkanmu mengatakan ini itu, tapi sepertinya belum berhasil membuatmu bangkit dari posisi tertutup tersebut.

"Kamu ga tidur kan San?" tanyaku akhirnya, karena rasanya sudah hampir satu jam aku mengoceh sendiri.

Kamu mengangkat kepalamu, menghapus beberapa jejak air di pipimu. Matamu merah, ujung hidungmu merah, kelopak mata dan hidungmu membengkak karena tangis.

"Ada tissue Di?" ucapmu ringan, membuatku panik dan menggeledah tas laptopku. Aku menggeleng, kamu tersenyum, entah karena apa. Mungkin melihatku panik hal yang lucunya baginya. Senyumku tanpa sadar ikut mengembang, karena senyummu meyakinkanku kamu baik-baik saja.

Kamu mengeluarkan tissue dari tasmu, membersihkan sisa-sisa air mata yang tertinggal di rongga hidungmu. Kemudian bertanya padaku, dengan nada begitu tenang, seolah badai telah berhenti di pikiranmu.

"Kamu bener Di, kalimatku salah, tapi yang sudah terucap ga bisa dibalikin. Yang sudah lalu, bahkan satu detik yang lalu, ga bisa diubah dan ga bisa diulang. It's beyond our control," ucapmu, seolah meresume apa yang aku ocehkan selama kurang lebih satu jam.

"Kamu juga bener Di, temenku mungkin butuh space untuk sendiri. Dan mungkin kalimatku bukan satu-satunya alasan dia ga bales pesanku," aku mendengarkan dengan pandangan lembut padamu. Kamu, tentu saja tidak melihat ke arahku, kamu meresume ocehanku, sembari melihat ke luar, yang sudah dihiasi gerimis. Mendungnya benar, pertanda hujan. Bukan pertanda yang lain.

"Jadi... yang bisa aku lakuin sekarang, buat temenku, cuma doa kan Di? Aku ga bisa lagi jadi temen yang dengerin rutinitas harinya, aku ga bisa tanya hari ini dia makan lauk apa, aku ga bisa tanya apa dia baik-baik saja, ga bisa bertukar pesan, cuma bisa satu arah.."

Aku mengikuti arah pandanganmu, melihat orang-orang di luar yang mulai menepi, sebagian membuka payung, sebagian berlari, sebagian menutup kepalanya dengan tangan.


"Ya, doa. Tapi buka 'cuma' San, doa is a powerful thing you do for her right know." ucapku.

"That's right. Doa is actually more powerful than my mere small talk with her", ucapmu. Aku saat itu masih fokus ke warna warni payung yang lewat satu persatu di luar sana. Tidak sadar, kamu saat itu memandangiku sembari berdoa dalam hati, 'Allah... berkahilah hidup orang yang duduk di sampingku ini'

"Hujan Di," ucapmu, aku menoleh karena kalimatmu aneh. Aku jelas tahu kalau sedang hujan, aku melihat dan mendengarnya juga. Mata kami beradu sedetik, mungkin bahkan tidak sampai sedetik, hanya beberapa milidetik, sampai kamu beranjak dan pamit pergi.

"Nitip laptop ya, aku mau doa buat temenku",

"Kenama?", aku salah memilih kata tanya. Maksudku... kenapa kamu harus pergi, kamu kan bisa berdoa di sini, mengangkat tanganmu dan berdoa dalam hati. Maksudku... kemana, kamu mau pergi.

Kamu tertawa kecil karena kesalahanku. Namun tidak berhenti untuk menjawab tanyaku, kamu melangkah saja menjauh, ke arah barat daya. Hujan semakin deras, dan aku terpaku melihat sosokmu mengecil dan semakin kecil.

The End.

Saturday, February 3, 2018

I Don't Believe People

February 03, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi


"Aku ga percaya sama manusia, Ri" ucapnya padaku. Kalimat dengan nada serius itu, kutampik dengan kalimat bercanda, semoga bisa sedikit menghangatkan suasana yang seolah beku karena keseriusan Yana.

"Bagus dong Yan, kita mah harus percaya sama Allah aja", mungkin pilihan kataku yang salah, padahal nada sudah aku buat secair mungkin. Yana mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Seolah responku bermakna serius. Ya, meski bener sih.

"Kenapa emang Yan?" ucapku, setengah hati aku mengikuti suhu beku-nya Yana.

"Rianti..", suara Yana yang memanggil nama depanku membuatku skak mat, aku tidak mungkin mencairkan percakapan ini.

"Orang mungkin bertanya-tanya, apa yang membuat aku ga percaya orang. Trauma apa, pernah ditipu uang berapa banyak emang, sampai segitunya ga percaya orang", ucapnya.

"Trus..?" kata favoritku, kalau aku sudah mati kutu karena keseriusan Yana.

"Padahal aku ga pernah ngalamin yang kaya gitu. Aneh memang. Cuma hal kecil aja padahal, yang terjadi di masa lalu. Tapi aneh, efeknya sampai sekarang. Kalau kata psikolog, harus segera diobatin."

Memoriku teringat, saat Yana curhat pertama kali, tentang pertemuannya dengan seorang Ibu Psikolog di kantornya, yang biasa menyeleksi calon karyawan yang akan bekerja di sana.

"Lo harus belajar percaya sama orang, gimana nanti kalau lo nikah, dan ga bisa percaya sama orang. Nikah itu butuh saling percaya dan komunikasi"

Memoriku berhenti bernostalgia, saat kulihat Yana tersenyum sinis.

"Kenapa?" tanyaku takut, kalau-kalau aku salah sikap.

"Aneh aja diriku Ri.. ngaku ga percaya sama manusia. Ini? Ucapan psikolog dipercaya terus sampai sekarang,"

"Yang kamu percaya bukan orangnya, buktinya Yana ga minta tolong atau bantuan dari psikolog itu. Yang Yana percaya itu ucapannya aja, karena itu fakta, bahwa menikah itu, komunikasi penting, dan saling percaya itu super penting."

"It's different, acknowledge the truth in somebody's speech and trusting that person", jelasku.

"Rianti, why are you so smart?" tanya Yana, entah mengejekku, atau memang serius memujiku.

"I'm not trying to show off my English, sorry", ucapku riang karena suhunya tidak lagi beku, hampir cair.

"Seneng deh, punya temen kaya kamu Ri," ucap Yana ringan. "Gombal," ujarku sembari meninju pelan lengan kiri Yana.

"Ralat. Ga seneng ding," ucap Yana. Aku menurunkan kedua ujung bibirku, merasa kesal juga, karena kalimatnya di ralat.

"Ralat, bukan seneng, tapi bersyukur banget, Allah baik ngirim Rianti ke dunia buat jadi sahabat Yana yang ga asik," ucapnya, masih ringan.

Aku tersenyum, dalam hati mengakui kalau Yana memang ga asik, terlalu serius. Tapi untukku yang terlalu sering bercanda, Yana adalah sahabat yang baik, yang sering mengingatkanku tentang banyak hal.

"Yana...", ucapku ragu. Yana mengubah ekspresi wajahnya, seolah bertanya kenapa?

"Aku ada deadline laporan nih besok? Bangunin jam 3 ya? Mataku udah berat gini habis dengerin obrolan seriusmu," ucapku kemudian tertawa, naik ke kasur dan menarik selimutku.

Yana menaikkan nada suaranya, mengomel ini itu yang intinya memarahiku karena tidak mengerjakan apa-apa dari sore.

"Wan an", ucapku. Yana menghentikan ocehannya, keluar kamarku dan mematikan lampu kamarku. "Jangan lupa baca doa", ucapnya sembari menutup pintu kamarku.

The End

***
rust? atau faith? atau reliance? ah.. ngoceh apa ini bell. Hide ps-nya ya? ok.

Dua Dua

February 03, 2018 0 Comments
Bismillah.
#quotes #buku

Bukan dua puluh dua, tapi dua dua. Berikut ini kutipan yang saya dapat dari dua buku, yang saya cicil bacanya, gantian. Dua kutipan dari buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran yang disusun Tim Penulis IQF, dan dua kutipan dari Revive Your Heart, Nouman Ali Khan.

Semoga bermanfaat~


***
Aku sering menjauh, larut dengan kehidupan duniawi, tersesat, tapi Allah entah mengapa selalu memanggilku dari kejauhan seberapa pun itu, agar aku kembali. Kembali ke pangkuanNya. Kembali menghafal Quran. Kembali murajaah. -Khairun Nisa'il Hulwah
...
Karena sesungguhnya motivasi kuat di diri akan menggugurkan segala permasalahan-permasalahan faktor eksternal. -Jodhi Andhikaprana S.
...
Don't just wear your faith on your sleeve. Don't just call yourself a Muslim and not represent any of its teachings. You're not going to get away with that. This faith of ours isn't just a declaration, it has to be a lifestyle of choice. It has to be a way we do business; it has to be a way in which we deal with each other. -Nouman Ali Khan
...
This is the gift of Qur'an. It puts things in perspective, it gives us a sense of priority. What should I worry about and what shouldn't I worry about. What should I make a big deal of in my life, and what can maybe take to the side, and I can work on it, little by little by little. -Nouman Ali Khan
***

Terakhir, sebuah pesan untuk diriku sendiri.

Ayo biasakan lagi membaca, singkirkan kegiatan non-produktif dan ganti dengan yang produktif. Kemarin jatuh? Gimana rasanya? Sakit? Tumben ga nangis lama merutuki kebodohan diri? Sakit, pasti, tapi segera bangkit ya.. paksa diri untuk bangkit, jangan lupa catat kesalahanmu di otak, biar tidak diulangi. Waktu untuk nulis itu udah kurang, eh malah dipakai untuk hal-hal lain. Ga bener banget Bella. Alhamdulillah hari ini Allah izinkan jemarimu menulis di sini. Jangan lengah, setan selalu mengincar. You have to be smarter than them. Ok?

Allahua'lam.

***

PS: Ustadz Nouman in syaa Allah ke Indonesia lho.. segera daftar ya, gratis di ustadnouman.com, buruan! hehe J

Tempat Persinggahan dan Pilar Muhasabah

February 03, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku
-Muhasabah Diri-
Nukil Buku "Madarijus Salikin | Ibnu Qayyim Al-Jauziyah"

***

bus stop, from unsplash


Tempat Persinggahan


Menulis ini, supaya yang dibaca melekat lebih lama di otak. Ada beberapa tempat persinggahan hati, saat hati sedang melakukan perjalanan menuju Allah. Saat kita hijrah menuju Allah, meniti jalanNya, jalan cinta para pejuang.
Yang pertama adalah al-yaqzhah, artinya kegalauan hati setelah terjaga dari tidur yang lelap. Hal ini sangat penting dan membantu pembenahan perilaku. Siapa yang merasakannya, berarti dia telah merasakan satu keberuntungan. Jika tidak, berarti dia tetap dicengkram kelalaian.
Jadi, galau itu bukan tentang perasaan ecek-ecek tentang hubungan dua insan. Ini galau yang penting, yang kalau kita ga galau, maka rugi dan dalam keadaan lalai. Ibarat lama tertidur, kemudian kita bangun dalam keadaan resah karena terlalu lama tertidur. Mungkin contoh mudahnya, al-yaqzhah saat kita masih memakan uang riba, atau galau karena kita pacaran, atau galau karena kita sering kesiangan shalat shubuh, atau galau-galau lainnya, yang merupakan kesadaran kita, kalau ada yang salah di hidup kita, kalau kita seharusnya berjalan mendekat ke Allah, bukan sekedar menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia.
Jika perjalanan sudah dimulai, maka hati beralih ke persinggahan al-azm, yaitu tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan dan mencari penuntun yang dapat mengantarkan ke tujuan.
Seberapa jauh seseorang memiliki kesadaran, maka sejauh itu pula tekadnya, dan seberapa jauh tekad yang dimilikinya, maka sejauh itu pula persiapan yang dilakukannya.
Setelah kita mengalami fase galau, kita lanjut ke fase tekad, azam, punya tekad untuk berubah dan bergerak jalan mendekat padaNya. Entah itu tekad untuk meninggalkan maksiat, atau tekad untuk melakukan perintahNya. Selanjutnya, ada tempat persinggahan yang namanya al fikrah, dan al bashirah. Fikrah ini maknanya pandangan hati yang tertuju ke suatu yang hendak dicari. Sedangkan bashirah maknanya cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati manusia. Penjelasan tentang fikrah dan bashirah, silahkan baca di bukunya ya. Saya merasa tidak sanggup menuliskannya, berat gitu hehe. Agak nerawang juga saya bacanya, belum sepaham persinggahan al yaqzhah sama al azm. Selanjutnya ada persinggahan muhasabah dan taubat.

Pilar Musahabah

Di buku ini disebutkan pilar musahabah ada tiga : (1) membandingkan antara nikmat Allah dan kejahatanmu, (2) membedakan antara bagian dan kewajiban (3) tidak ridha terhadap ketaatan yang dilakukan.

Saya ingin menyalin kutipan dari pilar pertama,
Maksudnya, engkau harus membandingkan apa yang berasal dari Allah dan apa yang berasal dari dirimu. Dengan begitu engkau akan mengetahui letak ketimpangannya, dan engkau juga akan mengetahui bahwa di sana hanya ada ampunan dan rahmat Allah di satu sisi, dan di sisi lain adalah kehancuran dan kerusakan.
Saat kita mencoba melakukan pilar muhasabah yang pertama ini, kita akan mengenal Allah, mengetahui sifat-sifat-Nya, keagungan Rububiyah Allah, betapa banyak nikmat yang tercurah dariNya untuk kita, bertapa adil Allah dan semua peraturan dan hukum yang Allah tetapkan.
Jika engkau membuat perbandingan seperti ini, maka engkau akan tahu bahwa jiwamu adalah sumber segala kejahatan dan kekurangan. 
Andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmatNya yang mensucikan jiwa itu, tentu ia tidak akan menjadi suci sama sekali.
***

Sekian nukil bukunya. Semoga ada yang bermanfaat. Doakan aku kuat lanjutin bacanya ya. Jujur, baca kitab kaya gini rasanya sesuatu, karena tidak terbiasa. Baca beberapa kalimat mikir banyak, refleksi diri. Banyak yang ga paham, dan perlu ditanyain juga. Ga mudah, tapi baca ini.. baik buat aku in syaa Allah.

Semoga Allah memudahkan dan memberkahi langkah kita berhijrah menuju Allah, meski diri begitu hina dina, meski dosa membusuk dan menggerogoti jiwa. Semoga Allah mengampuni kita, membimbing kita untuk menyusuri jalan ini, sampai kelak, mati menghadapNya dalam keadaan terbaik, diizinkan memasuki jannahNya, Aamiin.

'asaa ayyahdiyani robbi li aqroba min hadza rosyada

Allahua'lam.

Air Putih

February 03, 2018 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Berapa gelas air putih yang kamu konsumsi setiap harinya? Sudah delapan gelas sesuai standar yang disarankan? Kurang? Atau justru lebih?

Meminum air putih itu sulit, bagi yang tidak terbiasanya. Rasanya aneh karena tawar, mungkin bahkan terasa pahit, karena kita terlalu sering minum minuman manis. Tapi bagi yang sudah terbiasa, atau justru gemar minum air putih, meminum yang manis-manis itu aneh, tidak sesegar air putih.

Btw, air putih itu.. istilah yang salah ya? Karena air putih sebenarnya tidak berwarna, bening, kalau yang berwarna putih itu.. susu, iya kan? Hehe

***

Komposisi tubuh kita membutuhkan asupan air yang banyak. Namun Allah begitu baik, asupan air tidak cuma dari air putih, namun ada banyak minuman segar lain yang halal, yang bisa kita nikmati. Baik itu dari buah-buahan, yang bisa dijadikan  jus, bahkan sayur juga bisa jadi jus. Juga susu, yang airnya murni, tidak tercampur darah maupun kotoran. Jangan lupakan coklat, kopi, madu dan teh yang kalau diseduh dan dicampur ini itu bisa jadi minuman sedap. Intinya banyak banget minuman yang bisa kita nikmati di dunia ini.

from unsplash

Drinks, ini salah satu nikmat yang sering kita lupakan. Saat kita minum air dingin di tengah terik panas matahari. Kita mungkin lupa, di bagian bumi yang lain, ada manusia yang kesulitan mencari air bersih. Nikmat minum air hangat saat hujan deras dan hawa dingin menyelimuti, kita sering lupa, ada yang bersyukur hujan hadir, dan minum langsung air dari hujan tersebut karena tanahnya kering.

Minuman, drinks, salah satu nentuk nikmat, yang juga ditawarkan di surga. Allah membahas tentang drinks (minuman) di satu surat, tiga kali. Disebutkan dalam bahasa yang tervisualisasi, show, bukan tell. Salah satu nikmat di surga adalah minuman di dalamnya.

Aku pernah mendengar ceramah Ustadz Nouman Ali Khan (yang akan segera berkunjung ke Indonesia, in syaa Allah), tentang drinks, mengapa Quran menceritakan tentang minuman di surga. Cek video di bawah ini.


Jadi penjelasan ustadz Nouman, adalah tentang pesta, bagaimana pelayan membagikan minuman, kita tidak perlu jalan untuk ambil minuman, ada pelayan yang menyajikannya ke kita, kalau gelas kita kosong, ada yang mengisinya lagi. Kalau belum pernah ke pesta, mungkin bisa inget-inget dari film atau tontonan. Atau minimal inget waktu ke rumah makan, kita disajikan jus, tanpa perlu repot-repot beli buah, nyuci buahnya, motong, nambahin gula, es batu dll. Cuma duduk cantik, nanti diantar gelas cantik berisi minuman pesanan, tapi bedanya, kita bayar, kalau di restoran.

Kenikmatan minum, kenikmatan drinks adalah kenikmatan yang bisa dibayangkan manusia, karena kita juga bisa ngalamin di dunia, dengan segala keterbatasan nikmat dunia. Ya, di dunia nikmat minuman itu terbatas karena sementara dan pasti kalah dari nikmat di akhirat yang abadi. Allah menyebutkannya di Quran tentang nikmat minuman ini, supaya kita termotivasi, saat dunia terasa begitu sesak dan menghimpit. Membaca gambaran tentang surga di Quran seharusnya sejenak memberi kesejukan, saat kita babak belur oleh luka yang disebabkan oleh dunia.

Menulis, saya jadi ingat salah satu quotes yang melintas di dashboard tumblr, dalam bahasa inggris, tapi intinya gini, "Semakin lama kita hidup di dunia, semakin kita akan memahami sabda Rasulullah (shalawat dan salam untuknya) bahwa dunia itu penjara untuk seorang muslim".

Ya, saat kita lelah dengan dunia, mungkin kita perlu membaca quran, baca terjemahnya, dan meyakinkan diri, kita sekarang lelah dan cape, merasa sedih, bosan, sakit, karena sekarang di dunia. Kalau kita berjuang, jatuh bangun untuk terus berada dan meniti shiratal mustaqim, hijrah kepadaNya, semoga Allah izinkan kita memasuki jannahNya. Aamiin.

Lanjut ke video ustadz Nouman, jadi di penjelasannya ada tiga tingkatan surga yang digambarkan melalui minuman. Ada tiga tingkatan, pertama, orang-orang yang bisa dengan bebas mengambil air dari sungai-sungai yang mengalir di surga, madu, susu, khamr, khamr di surga yang halal, yang tidak memabukkan. Tingkatan kedua, adalah yang dilayani oleh pemuda-pemuda, dituangkan minuman ke cangkir kita, dan kita *aamiin* duduk di dipan saja tinggal menikmati minuman tersebut. Dan yang ketiga... ini sesuatu banget. Bukan pelayan yang menyajikannya, tapi Allah langsung yang menjamu kita di surgaNya. (':

Mungkin rasanya mimpi di siang bolong, bicara tentang surga, tapi kita tahu dan sadar 100% betapa diri hina dan tidak pantas masuk surga. Yang bahkan jika Allah selamatkan aku dari api neraka saja, aku sudah akan sangat senang. Tapi Rasulullah meminta kita untuk berdoa tidak tanggung-tanggung, mintalah Firdaus. Saat kita sudah memberanikan diri yang hina untuk meminta surga dalam doa, semoga kita tersadar, dan segera memperbanyak kerja tangan, kaki dan otak untuk beribadah kepada-Nya, bukan cuma ibadah shalat, puasa, dzikir, zakat. Tapi ibadah di setiap hal yang kita lakukan, setiap langkah, setiap nafas, berdiri, duduk, bahkan berbaring kita, diniatkan sebagai ibadah kepadaNya. Bukan hal yang mudah memang, harus sering meluruskan lagi dan lagi niat kita, agar rutinitas bukan sekedar pengulangan, tapi belandaskan niat beribadah untukNya. Ucapan bismillah, dan alhamdulillah yang semoga selalu mengiringi aktivitas kita, bukan cuma di bibir tentunya, tapi juga mengakar di hati.

Semoga dengan menulis tentang surga, aku, atau siapapun, bisa saling mengingatkan bahwa surga itu butuh kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas untuk mendapatkannya. Bahwa beriman pada Allah dan Rasulullah, mendirikan shalat, dan mencintai Rasulullah memang cukup untuk memasukinya. Tapi bicara cinta tidak semudah, mencintai, yang merupakan kata kerja. Perlu bukti, bukan sekedar kata-kata kosong. Coba cek, berapa kali kita bershalawat padanya, cek lagi sunnahnya, semoga kita bukan mereka yang berkata, entah dalam hati atau justru di lisan, 'kan sunnah' *nada khas, menghindar dan memilih tidak melakukan. TT Malu nulis ini...

***

Balik lagi ke air putih. Jadi, apakah kamu tipe yang suka minum air putih? Atau kamu justru tipe yang tidak suka minum air putih, bisa dihitung berapa tetes dalam sehari? hehe.

Minum air putih itu sehat loh. Meski mungkin tidak senikmat minum teh atau minum kopi. Tidak sesegar minum jus atau minum soda. Kalau belum terbiasa, pasti rasanya aneh di lidah, hambar, atau bahkan pahit. Tapi untuk kesehatan tubuhmu, kesehatan ginjal, dan bahkan juga kesehatan kulitmu, perbanyaklah minum air putih. J. Kalau yang sudah terbiasa bahkan tidak bisa berpisah dengan air putih, meski banyak pilihan lain hehe, lanjutkan kebiasaan sehatnya. J.Udah, sebenarnya awal ide tulisan adalah ini. Tentang air putih yang sehat untuk tubuh, meski rasanya tidak senikmat minuman berasa lainnya. Jaga kesehatan, perbanyak minum.

Allahua'lam.

*** 

PPS: Special thanks to someone, I usually called her, 'Mboke' or simply just 'Bu'. My mother suggest me to called her, 'Yu'. Her doctor remind her to drink more water for her health. It makes me want to write about drink. And actually nowadays I feel weird drinking 'air putih', it's bitter. Maybe because I don't bring water from my home. The water there is bitter somehow, *there goes the curcol hahaha. will hide it of course