Follow Me

Monday, July 22, 2019

Cuma Perantara

July 22, 2019 0 Comments
Bismillah.

Kadang, kita memang cuma perantara, cuma jalan dan bukan tujuan.

***

Ga, aku ga bahas tentang jodoh hehe. Untuk membahas tentang itu aku masih menghindari hehe.

Aku hendak membahas tentang pertolongan dari Allah. Dan bagaimana aku merasa hanya jadi perantara, jalan. Bukan orang yang memberikannya. Bukan.

***

Senin pekan kemarin (15 Juli), aku berencana ke Bandung. Niatannya memang untuk bertemu seorang ukhti, berharap dengan bertemu dengannya aku bisa membantunya. Karena memang selama ini aku cuma bisa mengamati dari jauh, berkomunikasi lewat chatting yang isinya hal-hal remeh, dan jarang membahas hal-hal yang urgen atau penting. Entah ia yang enggan terbuka, atau aku... yang begitu cuek, atau aku... yang belum bisa tegas.

Janji itu cuma berakhir janji. Aku qadarullah tidak jadi ke Bandung. Beberapa kali melobby orang tua, bercerita pada Ibu bahwa aku ke Bandung bukan untuk main. Termasuk menjelaskan mengapa aku memilih tanggal itu. Karena berangkatnya bisa bareng adik yang juga ada agenda di Bandung tgl segitu. Tapi usahaku minta izin ditolak, dengan berbagai alasan. Salah satunya, karena kemungkinan aku pulang sendirian. (*dalam hati aku berbisik, 'padahal dulu juga kadang pulang sendiri dari bandung ke purwokerto') Jadi banyak curhat ya? Hehe.

Intinya aku tidak jadi ke Bandung, tapi ukhti tersebut jadi ke Bandung tanggal 15. Aku meminta maaf padanya, karena ia harus menghabiskan hari di Bandung sendirian. Cuma bisa menemani dibalik layar hp dan membaca deretan kalimatnya di chat, menjawab dan merespon dengan kata. Bukan hadir secara langsung.

***

Siang itu (15 Juli) aku sebenarnya masih ingin berada di Bandung. Membayangkan mendengarkan ceritanya langsung. Berharap aku bisa membantunya.

Sampai akhirnya Allah menunjukkan padaku, bahwa aku cuma perantara, aku cuma jalan. Ada orang-orang lain yang dikirim Allah untuk membantu ukhti tersebut. Orang-orang yang memang lebih mampu dan lebih tepat untuk melakukannya.

"Barusan di ceramahi ama dokternya. Soal kondisiku yang lagi bingung galau arah hidup.", begitu ketiknya dalam thread chat kami.

"Tentang apa?" tanyaku, lalu ia bercerita panjang lebar.

Seketika itu aku takjub lagi pada indahnya rencana Allah. Bahwa Allah tahu, aku memang hanya boleh jadi perantara dan jalan. Saat itu, lebih baik begitu. Itu peran yang tepat untukku.

***

Ukhti itu menuliskan sebuah kisah yang ia dengar dari seorang dokter. Kisah yang menjadi nasihat lembut dalam proses perjuangan hidupnya.

Kadang kita ga tahu. Bisa jadi justru bukan dari tangan kita Allah kasih bantuannya. Kita mungkin cuma bisa usaha dan doa. Selanjutnya Allah gerakkan bantuan itu tersalur lewat tangan orang lain. Mungkin memang lebih baik hari itu aku ga jadi ke Bandung. Aku cuma diminta Allah untuk membuat janji bertemu dengan ukhti tersebut di Bandung. Aku cuma perantara, jalan, agar ukhti tersebut pergi ke Bandung hari itu. Agar ia bertemu orang-orang yang lebih tepat untuk menyerahkan bantuan dari-Nya.

Yang perlu ukhti tersebut temui di Bandung bukan aku. Karena bisa jadi, dan memang aku dalam posisi tidak mampu memberu nasihat yang lembut dan berkesan di hati.

Pun saat ukhti tersebut bertemu orang selanjutnya. Yang memberinya langkah-langkah menuju solusi permasalahannya.

Aku kembali bergumam pada diri, yang perlu ukhti tersebut temui di Bandung bukan aku. Karena memang aku tidak mempu memberikan solusi, atau menunjukkan padanya langkah-langkah menemukan solusinya.

***

Aku, mungkin cuma perantara, cuma jalan. Tapi aku tidak sedih. Aku justru senang. Karena Allah lebih tahu yang terbaik untuknya. Seperti yang pernah kutuliskan sebelumnya,

Semoga Allah melindungimu... hanya doa, doa dan doa yang bisa kupanjatkan untukmu. Karena aku yakin Allah Maha Mendengar, semoga doa singkat ini sampai padamu. Jika bukan aku yang bisa membantumu, maka Allah akan mengirimkan kepadamu orang lain yang lebih punya kemampuan untuk membantumu. Jika bukan aku yang menghiburmu, maka Allah yang akan mengirimkan kepadamu kabar gembira, entah lewat rintik hujan, biru langit, burung-burung yang terbang, atau lewat apapun untuk menghibur hatimu.

Allahua'lam.

Sunday, July 21, 2019

Tidak Ada Keluarga yang Ideal

July 21, 2019 0 Comments
Bismillah.

Tidak ada keluarga yang ideal. Kalimat itu terbersit di kepala. Saat aku mengetahui fakta bahwa di "rumah" yang terlihat baik-baik saja, ternyata ada "dinding" yang retak. Ibarat kapal yang berlayar. Mungkin memang tidak berhenti, tapi ada ombak yang seringkali menggoyahkan. Belum lagi jahitan pada layarnya. Atau mesinnya yang sudah tua. Atau orang-orang yang menaikinya. Mungkin nahkoda yang tidak lagi lihai mengemudikan kapal, karena tangannya terluka dan ia harus berdiri ditopang tongkat. Atau penumpang kapal yang tidak menghiraukan imbauan agar berhenti melubangi dinding kapal.

Tidak ada keluarga yang ideal. Masing-masing keluarga punya ujian dan cobaannya masing-masing. Ada yang dari luar. Kekeringan, atau justru banjir. Ada yang dari dalam. Bahkan bisa jadi bukan orang lain, tapi dari justru diri sendiri. 

***

Ya, kenyataannya memang begitu. Tidak ada keluarga yang ideal. Sama seperti pepatah "tidak ada yang sempurna dalam hidup". 

Ya, tidak ada keluarga yang ideal. Tapi kalimat itu tidak boleh dijadikan tameng, excuse untuk melempar batu kesalahan. Seolah semua hal yang salah dalam hidup karena keluarga kita tidak ideal. Karena setiap kekurangan sebenarnya menyimpan hikmah. Bahkan bisa mendatangkan kekuatan.

Seperti keluarga Yaqub. Tidak ideal. Kakak-kakaknya yang begitu iri pada yusuf. Tapi dari ketidakidealan tersebut ada banyak hikmah. Nabi Yaqub 'alaihi salam yang menunjukkan kesabaran yang indah, serta sikap hanya mengadu kesedihan dan kesusahan pada Allah. Belum pula Yusuf yang kelak menakwil mimpi raja, dan menyelamatkan banyak rakyat dari kekeringan 7th panjang yang datang setelah masa subur 7th. 

Begitu pun kita, saat menemui ketidakidealan dalam keluarga kita. Artinya ada hikmah dan pelajaran yang seharusnya kita ambil. Bahkan... Jika kita mau bersabar dan teliti, kita akan menemukan banyak hal yang patut disyukuri. Bahkan di sisi yang tidak ideal tersebut. Allahua'lam. 

***

PS: kalimat draft, sayang dibuang, tapi dimasukin juga susah hehe.

"Bersyukur itu harus. Tapi kita juga tidak bisa mendustakan fakta, bahwa tidak ada keluarga yang ideal. Dan bahkan, bisa jadi, yang menjadi kekurangan sebuah keluarga, bukan pada orang lain, tapi diri kita." - kirei

Thursday, July 18, 2019

Orang-orang Dunia Nyata

July 18, 2019 0 Comments
Bismillah.


Beberapa waktu yang lalu, salah satu akun sosial media yang sering kukunjungi mengunggah postingan pamit, karena ingin sejenak menjauh dari dunia maya. Satu hal itu kemudian mengajak otakku teringat beberapa sosok dunia nyata, yang memilih sama sekali tidak aktif di dunia maya. Mereka memilih tidak memiliki sama-sekali akun sosial media. Hanya satu, dan sebuah web. Aku jadi bertanya-tanya pada diri, bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang hanya hidup di dunia nyata? Yang sama sekali tidak tertarik dengan riuh lalu lalang informasi di dunia maya?

Aku bercakap pada diri. Barangkali orang-orang dunia nyata itu, memang tidak membutuhkan dunia maya. Mereka sibuk dengan perannya di dunia nyata, sehingga manfaat dan fasilitas di dunia maya tidak mereka perlukan.

Aku juga jadi bertanya-tanya, mungkinkah suatu saat aku memilih jalan itu? Toh selama ini akun sosial mediaku jarang update. Kadang dipakai, tapi cuma untuk konsumsi, ga produktif. Hmm...

***

Setiap orang punya pilihan masing-masing. Fasilitas boleh dipakai jika berguna dan dibutuhkan. Tapi boleh juga tidak menggunakannya. Semoga apa pun pilihan kita bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Aamiin.

Allahua'lam.

Tuesday, July 16, 2019

Mungkin, Seperti Ini Rasanya

July 16, 2019 0 Comments
Bismillah.

Seperempat abad sudah berlalu. Bukan waktu yang singkat, tapi di mataku, rasanya masih baru awal mula. Seperempat abad, ditambah satu tahun. Kemudian lingkungan dan orang sekitar berbisik, seolah aku sudah amat sangat tua untuk mememikirkan diri sendiri saja.

Satu dua hari, beberapa pekan berlalu. Awalnya hanya bisikan, lama-lama berubah menjadi kata-kata yang membuat diri tertekan. Sampai aku bertanya-tanya, "mungkin, seperti ini rasanya..." yang dialami oleh perempuan-perempuan lain juga, yang mungkin jauh lebih dewasa daripadaku, yang tuntutan sosial menyesak dada dari segala penjuru.

Mungkin, seperti ini rasanya... padahal sebenarnya tidak ada yang salah. Atau sebenarnya ada yang salah? Tapi yang jelas, jika bisikan kalimat tersebut terus diserap tanpa saringan, akibatnya hanya akan berupa kesedihan dan tekanan bathin. Seolah apa yang sudah kita lakukan sia-sia. Seolah apa-apa yang kita capai tidak berarti. Lalu mulailah kita bertanya-tanya, mengapa kita begini, sedangkan orang lain begitu. Dan jika diteruskan, tentu hanya akan mengundang bermacam kenegatifan lainnya.

***


Jika mungkin, seperti ini rasanya... mari kita sejenak menjeda, memberikan jarak antara tekanan dari luar, untuk mencari ketenangan dalam kesendirian. Bukan sendiri yang berarti seorang diri, tapi sendiri, untuk berdialog dengan tulus pada Yang Maha Mendengar.

Kita merendahkan diri sebagai hamba-Nya, kemudian bertanya dengan santun. "Ya Rabb, Engkau yang menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan. Masing-masing diberi peran yang berbeda, Dan masing-masing diberi jalan hidup yang unik, yang sama-sama dipenuhi ujian untuk membuktikan siapa yang jujur dan yang dusta imannya."

Kita menyapu lapisan kaca di bola mata, kemudian mengadu, "Ya Allah, mengapa orang-orang seolah menuntut banyak padaku, sedangkan aku seorang hamba yang lemah dan tak berdaya. Seolah jika aku tidak memenuhi standar sosial tersebut, aku lebih layak hilang tertiup angin sepoi. Apa aku.. yang salah menyerap kalimat-kalimat yang penuh tekanan tersebut? Atau memang, ada yang salah pada diriku?"

Kita menundukkan kepala, namun mengangkat tangan tinggi, mengemis pada-Nya, "Tunjukkan dan bimbing hamba ke shiratal mustaqim. Hilangkan kesedihan hamba. Hadirkan ketenangan di hati hamba. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di hati hamba."'

***

Mungkin, seperti ini rasanya... dan aku kira, ada banyak yang juga merasakan hal yang sama. Zaman berubah, waktu terus berlari. Terlepas entah kita perempuan atau laki-laki. Terlepas dari tekanan yang menyerang dari luar. Mari ingat lagi peran utama kita sebagai hamba. Budak-Nya.

Biarkan bisikan-bisikan itu bising. Biarkan kalimat-kalimat itu mencoba melukai. Kita tetap berusaha tegak, berjalan. Tegak, mengabdi pada-Nya, fokus pada firman-Nya. Karena kita hidup bukan untuk memenuhi harapan orang-orang, atau ekspektasi sosial. Kita hidup untuk memenuhi peran kita sebagai hamba-Nya, berusaha meraih ridha-Nya. Semoga kelak, dimatikan dalam keadaan terbaik, bersama orang-orang yang taat, diizinkan memasuki jannah-Nya, kemudian berjumpa wajah-Nya. Aamiin.

Allahua'lam.

Wednesday, July 10, 2019

Stop Being Hard On Myself

July 10, 2019 0 Comments
Bismillah.



*tidak terkait topik judul*

Aku mengetik komentar tambahan, sebuah lintasan pikiran saat membaca quotes tersebut di dashboard tumblr. Tapi aku menghentikan tanganku saat hendak mengklik button Reblog. "Jangan di sini, bukan tempatnya". Begitu bisikku pada diri, tanpa suara.

Aku sudah lama punya tumblr, tapi memang fungsi utamanya hanya untuk membaca tulisan dan melihat gambar-gambar di dashboard. Juga untuk me-reblog apa yang ingin di-reblog. Kadang memang ada tambahan komentar, tapi tidak banyak. Pernah juga posting beberapa foto koleksi pribadi, tapi sudah tenggelam di archieve.

Jangan di sini, bukan tempatnya". Begitu bisikku pada diri, tanpa suara. Aku akhirnya memilih menyimpan screenshot tampilan editor tumblr, lalu memutuskan mengunggahnya di sini. Ada hal-hal yang aku pilih untuk tidak dikonsumsi umum. Tumblr dan medium misalnya, orang-orang bisa follow, aku tidak membatasi followernya. Jadi aku sengaja menyimpan ekspresi yang tidak seharusnya dimunculkan di sana. Tapi bisa aku abadikan di sini.

Blog ini ibarat rumah pertama. Tempat paling familiar dan nyaman. Aku bisa menulis naik turun yang kualami, perasaan yang berkecamuk, pikiran yang lalu lalang, di sini. Semoga tetap begitu.

***

Terakhir, balik ke kutipan dari tumblr. Benar, salah satu hal yang bisa jadi menghancurkan diri kita adalah terlalu keras pada diri. Saat kesalahan kecil kita sikapi seolah itu tanda bahwa kita tidak bisa berhasil. Atau kita orang yang jahat. Atau semacam itu. Jika itu yang sering kau lakukan, berulangkali menyalahkan diri, tidak pernah mengapresiasi progres diri meski kecil, maka kutipan tersebut cocok untukmu. Stop being hard on yourself, be nice to yourself.~

Allahua'laa.

Hanya Perantauan

July 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Orang-orang yang pergi jauh dari rumahnya, meninggalkan orang-orang terkasih untuk merantau akan merindukan kampung halamannya. Kota asing perantauan meski sejuk dan rindang kotanya, tetap tidak bisa mengalahkan hangatnya berkumpul bersama keluarga, di rumah sendiri.

Tapi.. mungkinkah situasinya berbeda? Bagaimana dengan orang yang terbiasa merantau, kemudian tiba-tiba menghabiskan hidupnya di kampung halaman, jika ia merindukan perantauan, apa itu aneh?

***

Sabtu kemarin awal bulan Juli, artinya pekan tematik untuk sabtulis. Tema yang disajikan, "rantau". Aku tidak bisa menulis tepat waktu memang, tapi aku ingin tetap menuliskan tentang tema itu.


***

Aku pernah merantau sekali, ke Bandung. Dari perantauan yang tidak singkat itu ada banyak warna dan rasa. Perasaan senang dan khawatir saat pertama kali menjejaki tanah rantau, lalu kenalan sama homesick, mulai menikmati pola dan ritme kehidupan di rantau, dll. Ada rasa manis, asin, pahit, asam, campur aduk.

Setelah berhenti merantau, kini aku juga merasakan merindukan perantauan. Meski memang sekarang lebih nyaman di rumah. Tetap saja, kadang ingin sesekali mengenang memori, berkunjung ke kota rantau. Terakhir ke Bandung April 2018. Tahun ini pengen ke Bandung juga... tadinya buat rencana tgl 15 Juli ini. Tapii... kayanya cuma akan jadi rencana. Ada beberapa pertimbangan. Sepertinya tanggal segitu tahun ini belum jodoh.

Bicara tentang rantau mengingatkanku pada sebuah hadits yang dijelaskan seorang ustadz di Masjid Jendral Soedirman kota Purwokerto jumat kemarin (5/7). Tentang pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam agar kita hidup di dunia bagai orang asing, atau orang yang numpang lewat.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/298-menjadi-orang-asing-di-dunia.html


Sebelum membahas tentang isi hadits, ustadz menjelaskan penuturan Ibnu Umar, yang mendeskripsikan bagaimana Rasulullah menyampaikan pesan tersebut. Rasulullah memegang kedua pundak Ibnu Umar radhiyallahu anhu. Tujuannya untuk menarik perhatian, bentuk agar pesan yang disampaikan lebih mengena.

Ustadz menjelaskan, ada juga hadits lain yang menggambarkan bagaimana sahabat pernah mendeskripsikan bahwa kedua tangannya ada di antara kedua tangan rasulullah, sebelum sebuah hadits disampaikan. *kebayang ga? Jadi kaya salaman pakai dua tangan, tapi kalau salaman kan tangan cuma satu tangan, tapi ini dua-duanya.

Kebayang ga? Kedua tanganmu di antara dua tangan Rasulullah? Bagaimana tidak ingat saat istimewa itu. Perkataan yang Rasulullah sampaikan, pesannya, pasti akan lebih membekas, karena disampaikan dengan gesture tertentu.

Begitu pun pesan ini, pengingat agar kita hidup seperti orang asing, atau orang yang hanya lewat. Pengingat, bahwa kita hidup di dunia hanya sementara, tidak hendak menetap. Hanya mengisi bensin, agar dapat melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, hingga nanti, semoga bisa mencapai tujuan kita, jannahNya. Aamiin.

Selain itu, hidup di rantau itu tidak selalu manis, ada banyak berjuang, dan bekerja keras. Begitu pun hidup di dunia. Kesenangan di dalamnya semu. Dan kita banyak menjumpai kesulitan demi kesulitan. Semua manusia merasakan, tidak pandang bulu. Karena lewat kesulitan itu, Allah menguji kita. Lewat kesulitan itu, kita belajar. Dan jika kita bisa mengambil hikmah dari kesulitan dan memilih sikap yang benar, Allah akan menhadiahkannya dengan balasan yang lebih baik. In syaa Allah.

***

Aku kira aku sudah tidak merantau. Ya, aku kini menjalani hari-hari di kota kelahiran. Tapi setelah aku mendengarkan pesan cinta dari Rasulullah. Aku jadi teringat, bahwa aku masih merantau. Aku tidak boleh lupa. Bahwa sebentar saja, sebentar lagi, aku harus melanjutkan perjalanan. Bahwa dunia hanya "pom bensin", kita mengisi bahan bakar, untuk melanjutkan perjalanan. Bukan untuk menetap di "pom bensin".

Allahua'lam.

***

PS: Rabbi habli hukma wa alhiqni bisholihin. Allahummaj'alna minalladzina amanu wa 'amilusholihat wa tawashau bilhaqqi wa tawashau bishabri. Aamiin.

***








Sunday, July 7, 2019

Instagram, Forest, Dan Lainnya

July 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

Draft beberapa hari yang lalu. Saat itu sedang "sesuatu", jadi untuk memotivasi nulis, aku buat tulisan random ini.

***

Instagram

Aku termasuk newbie di instagram, banyak gapteknya hehe. Baru buat instagram juga bulan-bulan terakhir di Bandung. Tepatnya tanggal berapa bulan apa, ga inget, dan males cari tahu hehe. Anyway, alamatnya agak alay banyak angka, susah diingat hehe. @kirei999193 jangan tanya angka itu angka apa ya hehe. Yang jelas bukan pin atm wkwkwk.

Waktu itu buat ig emang ga jelas tujuannya. Bukan untuk ngikutin tren, dan follow akun-akun keren. Ga niat bakal aktif diisi juga. Benar-benar random. Sampai sekarang aku juga suka mikir, kenapa aku private padahal isinya ga private, maksudnya dibaca semua orang juga gapapa. Tapi untuk saat ini aku masih nyaman begini. Private, dan aku batasi jumlah follow dan followingnya. 50-50. Dulu pernah batasnya dibawah itu, tapi lama-lama nyampe angka 50, gatau juga kalau suatu saat berubah pikiran.

Oh ya, selain akun itu, aku juga buat akun ig untuk blog ini. @betterword_kirei


Trus kemarin kepikiran buat akun lagi, buat newleaf sama mungkin tempat buat nyalin kutipan buku. Tapi sementara aku tahan dulu, karena takutnya cuma buat-buat aja tapi ga keurus hehe.

Forest

Tebak ini bicara tentang apa? Hutan? Nama orang? Hehe. Masih sejenis sama instagram, tapi bukan sosial media. Sama-sama aplikasi hp. Aplikasi yang bantu kita untuk fokus pada kegiatan dan menjauh sejenak dari hp.


Sistemnya, kita set waktu ingin fokus berapa lama. Dari 10-120 menit. Trus kalau udah di start, kita dibantu untuk ga main hp. Ada tulisan pengingat, 'stop phubbing', atau 'Don't look at me!', dll. Selain itu kalau kita buka aplikasi lain, ada tulisan harus 'membunuh' tanaman yang sedang ditanam.

Efektif apa ga? Tergantung orangnya. Kalau pakai forest biasanya justru jadi sering liat hp, pengen tahu waktunya tinggal berapa menit lagi hehe. Tapi masih aku pakai sih, meski jarang. Kalau untuk aku, lebih efektif cara lama, taruh hp di luar jangkauan tangan dan mata.

Oh ya, salah satu alasan masih pakai ini adalah sense of achievement, jadi ada catatan berbentuk hutan yang berisi pohon dan tanaman yang kita tumbuhkan saat memakai aplikasi forest. Selain itu, ada coin juga. Ada shop buat beli jenis tanaman/pohon. Koinku baru sedikit sih, tapi sayang kalau uninstall. Setengah jalan lagi, bisa buat beli pohon sakura hehe.

Lainnya

Masih tentang aplikasi. Jadi ada keinginan untuk ga install game. Sosmed dan youtube saja sudah menyita produktifitas, kalau ditambah game, bisa habis waktu untuk main-main. Tapi kadang keinginan untuk main game itu ada. Cari alternatifnya dengan install aplikasi belajar yang dibuat game. Entah itu belajar bahasa, kaya memrise, dan belajar grammar yang isinya soal-soal pilihan ganda, dll.


***

Kita sebagai makluk zaman now, wkwkwk. *aku paling ga bisa ngikutin trend frase kekinian hahaha.

Anyway, kita sebagai orang yang hidup dengan segala kemudahan yang dibawa oleh komputer, hp, dan teknologi lain, harus sepenuhnya sadar, ga cuma manfaat tapi juga mudharat yang dibawanya. Lalu kita berusaha memilah-milah, agar waktu kita tidak habis untuk meladeni sekian banyak fasilitas itu. Fokus pada tujuan kita, sesekali berhenti dan menjauh darinya, supaya tidak addicted, supaya kita membuat batas yang jelas, siapa yang berkuasa hehe. Bukan hp kita yang menarik tangan dan mata kita untuk selalu mengelus dan melihatnya. Kita bisa dengan mudah mengatakan, "bye dulu, ada banyak kerjaan lain". Ya, kita harus bisa begitu.

Semoga Allah memberkahi hari-hari kita~ Aamiin.

Allahua'lam.

Can Tell No One

July 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

foggy (Photo by Joe Green on Unsplash)

Ada hal-hal yang tidak bisa kita katakan, tidak bisa kita ceritakan pada orang lain. Mungkin itu sisi gelap yang selama ini disembunyikan. Atau justru itu hal yang sangat perlu diekspresikan, tapi lidah kita kelu, jemari kita kaku. Hal tersebut menggumpal, menendang-nendang hati dan pikiran. Hingga yang keluar hanya tangis, atau rintihan lirih, atau teriakan tanpa suara.

***

Hari ini, aku diingatkan tentang ketidakmampuan seseorang dalam bercerita. Bukan karena bisu, bukan karena tidak bisa menulis. Ada banyak pertimbangan yang membuat ia memendam cerita sendiri, sampai menumpuk-numpuk, dan karena sekarang bukan hal 'kecil', hasilnya, ia kini kesulitan mengeluarkannya.

Kemampuan seseorang untuk terbuka, mengungkapkan apa yang ia rasakan, menjelaskan apa yang ia pikirkan, adalah sesuatu yang penting. Manusia, diberi kemampuan untuk berkomunikasi. Bahkan yang bisu pun, membutuhkan cara untuk berkomunikasi. Keterkungkungan pikiran dan perasaan akan membuatnya lemah, dan kesulitan menjalani hidup. Seseorang harus bisa mengungkapkan dan menceritakan beban pikiran dan perasaannya, kalaupun tidak bisa lewat ucapan, minimal lewat tulisan. Dan sekalipun tidak ada yang mendengarkan atau membaca, minimal ia terhubung dengan yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Jika keduanya terputus. Ia tidak bisa bercerita, pun menuliskan beban pikiran dan perasaannya, jika ia tidak mau berdoa, dan mengungkapkan keresahannya meski dengan tangis pada Rabb-Nya, dan ia memilih memikulnya sendiri. Ia akan merasakan betapa lemahnya dirinya. Betapa ia hanya seorang manusia kecil. Apalagi jika ditambah was-was dari setan. Hmm..

***

Memang ada hal-hal yang ingin kita simpan sendiri. Menuliskannya saja kelu. Tapi kenyataannya, kita harus mengungkapkannya. Terutama bagi yang terbiasa menyimpan semua sendiri. Kadang harus dipaksakan.

Kemarin, aku diingatkan lagi tentang bagaimana bedanya, saat aku bergantung pada diri, sok-sokan memikul semua sendiri. Saat itu aku kepayahan, jangankan berjalan, merangkak saja rasanya tidak sanggup. Tapi setelah dipaksa untuk mengungkapkan beban pikiran dan perasaan, pada orangtua, pada teman, pada psikolog, rasanya berbeda. Memang ada hal yang sama. Bahwa masalahku, hanya bisa aku selesaikan. Bahwa hidupku, aku sendiri yang menjalaninya. Tapi dengan mengungkapkan pikiran, mengekspresikan perasaan, benang kusut yang ingin kupotong saja, kutemukan salah satu ujungnya. Dan dari satu ujung itu, aku bisa tahu cara mengurainya. Masih sulit, tapi tidak segelap saat semua kupikul sendiri.

Kemarin juga…. Aku diingatkan. Bahwa bisa jadi, ini bukan tentang orang lain. Tapi tentang diriku. Karena masih ada hal-hal yang aku pilih untuk disimpan rapat-rapat. Aku masih tidak tahu, apa aku perlu mengungkapkannya, mengekspresikannya, dan meminta pandangan orang lain, bantuan tangan orang lain? Atau… bisakah aku menyelesaikannya sendiri? Tentu saja maksudnya bukan sendiri. Tapi hanya dengan terus berusaha terhubung dengan Allah, agar hal itu hanya aku dan DIA yang tahu. Berharap Allah memberikanku kekuatan untuk menyelesaikannya sendiri. Meski sebagian hatiku ragu, meski aku kepayahan dan berulangkali jatuh.

Bisa jadi, memang begitu. Bahwa aku berada 'di sini', melihat dan mengetahui 'hal ini', bukan karena aku bisa membantu orang lain. Tapi justru sebaliknya, dari orang lain, aku bisa mengambil pelajaran dan bantuan, untuk diriku.

Jadi selanjutnya Bell.. *tiba-tiba selftalk hehe* Daripada merasa tidak bisa membantu apa-apa. Atau merasa harus menjadi orang yang berperan dan bisa membantu. Daripada perasaan dan persepsi itu. Coba ubah persepsinya. Bahwa kamu adalah pembelajar. Ada hikmah yang Allah ingin titipkan padamu lewat hal tersebut. Maka merendahlah, seperti seseorang bodoh yang belajar agar mendapatkan ilmu. Seperti itu. Karena bisa jadi, yang membutuhkan pertolongan dan bantuan bukan orang lain, tapi dirimu sendiri.

***

Terakhir, mungkin ada yang kesulitan bercerita, dan mengungkapkan isi pikiran dan hati. Mendekatlah padaNya, merendah dihadapanNya, agar ia mengajari kita lagi, caranya membaca, bicara dan menulis. Caranya bercerita dan mengungkapkan beban yang menggayuti langkah kita. Karena kita mungkin hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata-kata, tapi Allah Tahu persis makna dibalik setiap bulir air yang jatuh, desahan nafas kecil, dan teriakan bisu dalam dada. Allah Tahu, Allah Mendengar, dan Allah Menjawabmu.

Allahua'lam.

Tuesday, July 2, 2019

Pengingat Sederhana dari Teteh Mata'

July 02, 2019 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking


Seperti di judul, pengingat tentang sederhana, dari blog teteh Mata', teteh MSTEI, dan teteh Muslif. *berasa dari tiga orang

Sederhana. 
Suatu kata sifat yang pengamalannya tidak mudah ya?
Ketika kita punya kelebihan harta, sederhana adalah pilihan membelanjakan harta di jalan Allah, ketimbang di jalan untuk mencapai kesenangan pribadi
Ketika kita Allah beri kelebihan, jiwa tetap tawadhu tanpa sedikit pun merasa unggul atas kelebihan itu karena semata milik Allah-lah segalanya
Ketika kenikmatan yang Allah beri tidak sedikitpun membuat kita goyah akan keteguhan dalam ibadah
- Teh Ammy, dalam blog Kisah Fajr
***

Oh ya, ini tambahan ga terkait topik sederhana.

Ramadhan kemarin, aku mengulang-ulang sebuah video penjelasan beberapa ayat quran. Dari situ, aku jadi inget perjalananku saat mulai jatuh cinta dengan quran, dan ingin menjadi salah seorang pejuang quran.


Pertama, lewat Mata', Majelis Ta'lim Salman. Kalau dari namanya, agak-agak misleading memang. Seolah isinya kajian ta'lim hehe. Memang sih salah satunya. Tapi sebenarnya, dari Mata' aku melihat fokus tarbiyah dan dakwah quran. Iya Quran.

Dari Mata' aku kenalan sama Teh Ammy. Rahmi Yuwan. Kalau dari gamais dapet kelompok mentoring, dari mata' aku dapet kelompok halaqah quran. Aku lupa-lupa inget apakah sebenarnya aku masuk kelompok halaqah-nya teh Ammy. Yang jelas, lewat halaqah quran sama teh Ammy aku jadi banyak berinteraksi sama quran. Pengalaman mabit pertama di Masjid Habib juga karena diajakin teh Ammy, dadakan hehe. Kalau ga salah sama Roro dan Anna juga.

Selain Mata' aku kenal juga TGTC, ini cuma pernah dateng sekali, habis itu ikutan Mukhayyam. Sejalan dengan itu kenal Ustadz Suherman, lalu Khizanatul Islam, di Kircon. Mulai akrab bolak-balik ke kiara condong. Lalu aku teringat Teh Indah, yang ngasih tahu angkot mana yang ga muter jauh. Waktu itu belum jamannya grab dan gojek. Teman perjalanan paling sering bareng, Asni.

Lewat Anna (Melyana) kenal Ustadz Nouman Ali Khan, gabung NAKIndonesia. Lalu ikutan Qaf Indonesia. Dari Qaf, halaqah qurannya lanjut, bareng-bareng belajar seri Quran for Young Adults, dan video-video lain.

Lalu negara api menyerang hehe. Alhamdulillah, diketemuin lagi sama teh Ammy yang balik ke Bandung lagi untuk studi S2-nya. Mulai lagi halaqah quran.

***

Sekarang.. udah banyak yang berubah. Tapi semoga masih istiqomah, meski jatuh bangun, berusaha agar hidup dalam naungan quran. Bagaimana agar interaksi dengan quran, tidak cuma horizontal, tapi juga vertikal, mendalam.

Kalau cuma membaca tulisan ini, tanpa tahu kenyataan dibalik layar, mungkin kesannya sudah banyak yang dilakukan. Tapi kalau mau jujur, dan melihat lebih jelas, aku tahu, ada lebih banyak hal yang belum dilakukan. Masih banyak bolong di sana sini. Masih babak belur di banyak sisi. Masih jauh-jauh sekali antara cita, dibandingkan usaha dan doa. Masih harus dikelilingi orang-orang baik, agar tidak lupa semangat yang dulu pernah menyala terang.

Jadi panjang ya? Karena banyak nostalgia dan curcol hehe.

Terakhir, untuk Teh Mentari Pagi, jazakillah khairan~ Sering-sering nulis ya. Aku masih suka nungguin baca tulisan barunya^^ Semoga kapan-kapan bisa bejumpa lagi.

Allahua'lam.

***

Belum Naik Level

July 02, 2019 0 Comments
Bismillah.

Manusia... punya tahapan-tahapan dalam hidupnya. Ada level-level yang dilaluinya.

white stairs
Gatau kenapa, rasanya aku stuck di suatu level, belum naik-naik. Masih remedial ujian yang sama. Bodohnya, masih bingung menjawab pertanyaan yang sama. Masih terbata menjawab persoalan-persoalan.

Pemikiran itu terkadang seperti mendung hitam legam, sesekali menghadirkan kilat dan gemuruh petir. Lalu perasaan takut hadir, sama seperti perasaan takut yang Allah sisipkan pelan pada kita, terutama saat kecil dulu, saat melihat kilat dan mendengar gemuruh petir. Kalau pemikiran itu dibiarkan berhenti di situ, maka hanya perasaan takut dan cemas yang akan dihasilkan. Tapi kita tidak boleh berhenti kan? Seperti sunnah yang diajarkan saat mendengar gelegar petir, kita bertasbih, subhanallah. Maha Suci Allah.

Pernahkah kita dulu bertanya-tanya, kenapa kita harus sekolah, bertemu PR dan tugas-tugas, lalu bertarung dengan ujian-ujian, UTS, UAS, Ujian Kompre, dll. Kenapa kita harus naik tingkat. Kenapa.. kita tidak berdiam diri saja di level tertentu?

Kalau kita mau berpikir dengan kepala dingin. Kita akan paham, bahwa yang membutuhkan naik tingkat itu bukan sekolah, bukan guru-guru atau dosen-dosen kita. PR, tugas, kuis, ujian, yang diberikan pada kita pada akhirnya akan berguna untuk kita. Dengan itu, kita belajar banyak hal, mengerti lebih banyak hal, kemudian kita menjadi lebih dewasa, lebih cerdas, lebih teliti, lebih bijak.

Bedanya dengan sekolah, kehidupan tidak memiliki level atau tingkatan yang jelas. Kita tidak bisa tahu seperti kita tahu, kita duduk di kelas 1 SD, atau 8 SMP, atau kelas 12, atau semester 5 S1, dst. Level dalam kehidupan begitu abstrak. Bisa memang kita kelompokkan, kita buat tahapannya. Tapi tetap saja... tidak bisa benar-benar tahu. Entah, mungkin kalau di dunia setelah kematian, kita bisa benar-benar tahu di level mana diri kita.

***

Untukku, tetap semangat^^ Jika jatuh, segeralah bangkit. Jika sakit, berobatlah. Jika berdosa, bertaubatlah. Jika melangkah, rendahkan hatimu. Jika berlari, buka matamu lebar-lebar. Jika terjatuh lagi, berdiri lagi, lalu tengok keadaan hatimu.

'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada. Kita memohon petunjuk sekaligus bimbinganNya, agar semakin dekat padaNya. Bukan dengan cara membandingkan diri kita, dengan level orang lain. Tapi dengan berkompetisi sendiri, bagaimana agar kita hari ini, lebih baik daripada kita kemarin.

'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada. Rabbi habli hukma wa alhiqni bisholihin. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Curcol dikit gapapa ya? Rasanya belum naik level. Masih sama, Masih jatuh bangun pada hal yang sama. Masih mengulang kesalahan yang sama. Bedanya saat itu sekitaranku gelap, dan aku mengurung diri. Sedangkan saat ini sekitaranku bercahaya, namun aku masih berada di pojok gelap, sendiri. Satu lagi, beda case, tapi perasaannya masih sama. Masih merasa belum naik level. Peran sebagai anak, masih susah payah menjalaninya. Padahal sudah sejak bayi, sekarang rasanya masih bayi, bedanya tubuhnya dewasa. Masih belum bisa ihsan 'berteman' dengan orangtua. Masih takut, kalau aku termasuk anak yang menjadi ujian/bahkan musuh bagi orangtuanya. Atau termasuk anak yang durhaka TT Na'udzubillah. Semoga Allah memberikanku hidayah dan kemampuan untuk belajar, terus belajar menjalani peran sebagai anak. Sebelum nanti diberi tambahan peran baru. Allahua'lam.

Saturday, June 29, 2019

Siapa yang Tidak Open Mind?

June 29, 2019 0 Comments
Bismillah.
#hikmah #selftalk
-Muhasabah Diri-

Jadi, siapa yang tidak open mind?

Dua kali. Seharusnya aku merenung, memikirkannya dan mengambil hikmah. Jadi, siapa yang tidak open mind?

Allah dua kali ingin mengajarkanku, bahwa sikapku salah. Sikap skeptis itu. Sikap menjustifikasi berdasarkan stereotipe. Bukankah aku sendiri yang mencari sosok yang open mind? Mengapa prosesnya, justru aku melakukan sebaliknya?

Apa seseorang yang memegang prinsip, artinya ia seorang yang closed mind? Apa kamu ingat testimoni seorang kawan, bahwa orang-orang mungkin melihatmu sebagai sosok yang kaku, tapi mereka yang mengenal keseharianmu, bertukar pikiran denganmu akan tahu, bahwa tidak sepenuhnya begitu.

Hei diri! Begitupun orang lain. Jika ia memiliki suatu hal dan teguh akan prinsipnya, tidak selalu berarti ia tidak open mind. Pun termasuk saat ia begitu selektif memilih dari mana ia mendapatkan ilmu dan berguru, jangan samakan ia dengan stereotipe yang ekslusif dan ashobiyah. Karena saat kau berpikir begitu. Sebenarnya yang tidak open mind itu bukan mereka, bukan orang lain, tapi dirimu sendiri.

closed and chained (Photo by Jose Fontano on Unsplash)


Allahua'lam.

Cries Out For Help

June 29, 2019 0 Comments
Bismillah.

pelampung keselamatan (Photo by Jametlene Reskp on Unsplash)

She cries out for help. Ia menangis dan berteriak minta tolong. Sudah berkali-kali, berturut-turut selama lebih dari tiga tahun. Tapi tahun ini, ia bukan cuma menangis dan berteriak, tapi juga menodongkan pisau memaksa orang untuk peduli dan menolongnya. Alih-alih memberikannya sedikit perhatian atau kasih sayang, orang-orang menodongkan telunjuk dan berbisik di belakang mengatakan keburukan dan rumor mengenainya. Bahkan orang-orang yang memiliki kepedulian pun, takut mendekat karena pisau yang ia bawa. Sebagaian takut terluka, sebagaian lainnya takut salah langkah dan ia justru melukai dirinya dengan pisau tersebut.

She cries out for help. Dengan bahasa yang tidak dipahami orang sekitarnya. Yang lain mencerna seolah ia A, B, C. Tapi sebenarnya bukan itu maksudnya. Bukan itu.

Mungkin benar, ia sakit, jiwanya sakit dan butuh obat. Ia menangis meminta bantuan karena ia juga ingin keluar dari situasi itu. Tapi ia tidak bisa melakukannya sendiri. Ia butuh bantuan yang tulus. ia butuh orang yang sabar, yang bisa mensupportnya.

Terbukti, baru ketika ia bertingkah membahayakan, baru ketika itu... Orang-orang mulai memperhatikannya lagi. Bertanya-tanya lagi. Berusaha membantu lagi.

***

Ia yang menangis, berteriak minta tolong. Melihatnya selalu mengingatkanku akan diriku. Seolah apa yang ia rasakan juga pernah aku rasakan. Seolah sebenarnya, aku juga seharusnya menangis dan berteriak minta tolong.

Tidak sama memang. Jelas perbedaannya. Tapi melihatnya seolah Allah ingin mengingatkanku... Ada yang harus aku lakukan. Aku tidak boleh berdiam diri. Pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan.

Allahua'lam.

Tuesday, June 25, 2019

Gerak Yuk!

June 25, 2019 0 Comments
Bismillah.

Being introvert doesn't mean all you do is listening, reading and thinking. Harus gerak juga. Meski untuk gerak perlu mempertimbangkan banyak hal.

Hari ini aku sedikit takjub pada sisi introvertku. Keinginan untuk bersuara dan mengemukakan pendapat dari sisi ekstrovert ada. Tapi karena sisi introvert, aku perlu menulis dan corat coret di A4 reuse sebelum mengetiknya dan membiarkan orang-orang di grup tsb membacanya.

Menarik. Mengenali diri. Yang ternyata pindah-pindah, kadang ekstrovert kadang introvert.


***

Beberapa hari yang lalu saya baca buku Deadline Your Life-nya Solikhin Abu Izzudin. Belum selesai, masih stuck di deadline training. Tapi sedikit halaman yang kubaca tersebut menyadarkanku pentingnya baca buku motivasi hehe. Karena memang jadi pendorong agar bergerak. Selanjutnya tinggal bagaimana kita menginternalisasi motivasi tersebut agar menjadi gerak, dan tidak terhenti karena distraksi.

Aku share salah satu quotes di dalamnya ya. Tapi bukan quotes dari Solikhin Abu Izzudin, quotes dari Ibnu Qayyim Al Jauziyah yang aku baca dari buku tersebut.

"Hati itu mempunyai saat semangat dan keengganan, maka pergunakan sebaik-baiknya kala dorongan semangat lebih dominan, serta beralihlah kala terjadi kebosanan dan penurunan." - Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Al-Fawaid, Efisiensi Waktu hlm. 145

Terakhir, untukmu, untukku, dan untuk semuanya... Semangat bergerak~


Allahua'lam.

***

Ps: pertanyaan ga penting, ada yang nyadar ga, postingan ini ditulis di hp?

Monday, June 24, 2019

Juni, Bulan Kampanye LGBT (2)

June 24, 2019 0 Comments
Bismillah.

color paint (Photo by David Pisnoy on Unsplash)

Baca bagian pertamanya, Juni, Bulan Kampanye LGBT

Lalu, jika kita memilih tidak setuju, apa artinya kita akan membenci dan mengucilkan mereka yang tenggelam di dalamnya?

***

Ini yang sering orang-orang anggap bias. Seolah ketika kita memilih sikap untuk menentang LGBT, tidak setuju dan menolaknya, seolah artinya kita akan bersikap semena-mena pada mereka yang tenggelam di dalamnya.

Menulis ini aku teringat dua hal, yang aku temui saat di Bandung.

Pertama, saat hadir sebuah kajian, dan mengisi adalah ustadz yang pernah mencicipi gelapnya hal tersebut. Ustadz tersebut, dulu salah seorang laki-laki yang pernah menyukai sesama jenis. Namun ia bangkit dan berhijrah. Aku tidak ingat persisnya, apa acara tersebut diadakan untuk umum, di ruang utama/selasar paving block salman, atau... acara tersebut ada di acara KISMIS (Kamis Inspirasi) di sekre Aksara Salman. Yang aku ingat, sedikit penjelasan jalan hijrah ustadz tersebut. Dan pernah tenggelam, bukan berarti akhir cerita. Seharusnya tidak menjadi alasan untuk berdiam diri. Karena sebenarnya pada setiap penyakit, Allah menyediakan obatnya.

Yang kedua, pengamen waria yang biasa bernyanyi di jalan gelap nyawang. Setiap kali berpapasan, aku selalu berusaha mengingatkan diri, bahwa ada cerita dibalik sosok mereka. Mengapa mereka memilih berpakaian seperti itu. Kejadian penuh luka, yang membuat mereka mencari uang seperti itu. Awalnya mereka korban dari kezaliman, lalu mereka merasa tidak bisa memilih, akhirnya pasrah untuk tenggelam dalam gelapnya hal tersebut.

Aku juga teringat sebuah video viral, tentang seseorang yang memilih menjadi laki-laki lagi, setelah sebelumnya selalu menutupi diri dengan topeng dan nama perempuan. Dari sana kita belajar, bahwa yang mereka butuhkan bukan justifikasi, atau penghakiman, atau telunjuk, dan tatapan sinis. Tidak mudah memang, tapi kalau kita bisa mengambil sikap yang benar untuk mereka yang tenggelam, mungkin akan terjadi perubahan menjadi lebih baik. Bukan cuma pada diri mereka, tapi juga pada diri kita.

***

Sebenarnya, untuk masalah mengambil sikap pada yang tenggelam di dalamnya, aku cuma bisa berteori. Aku belum pernah secara langsung inisiatif berinteraksi, dan mengajak diskusi. Aku cuma yakin, bahwa seperti Allah yang mengirimkan Luth untuk mengingatkan kaumnya, sebelum adzab itu turun karena kaumnya menolak dan mendustakan peringatan tersebut. Seperti itu pula kita seharusnya. Bukan langsung menjustifikasi. Harus ada pengingat yang disampaikan, dengan hikmah, dengan kasih sayang. Bukan kecaman karena kebencian.

***

Bulan juni ini, katanya bulan kampanye. Maka ketimbang sekedang menjadi penonton yang dijejali "pelangi" oleh mereka, bagaimana jika kita juga menjawab kampanye mereka? Tell them our side of story, our choice, our value.

Jangan sampai karena kita diam, banyak yang terbawa arus informasi dan opini, bahwa seolah-olah kampanye 'pelangi' yang mereka gemakan itu baik. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Allahua'lam bishowab.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Juni, Bulan Kampanye LGBT

June 24, 2019 0 Comments
Bismillah.

#nukilbuku #buku

Awal juni yang lalu dari sebuah grup whatsapp aku baru tahu, kalau bulan ini bulan kampanye lgbtqia. Adakah yang sadar, mengapa banyak 'pelangi' dimana-mana? Termasuk logo Medium. *berkunjung ke medium rasanya jadi agak gimana karena asosiasi warna pelangi yang dijadikan 'brand' kampanye mereka.


Padahal pelangi itu ciptaan Allah, pelangi hasil distorsi cahaya sesaat ketika hujan reda, dan cahaya matahari bersinggungan dengan tetesan airnya.

Baca juga: Pelangi yang Tak Lagi Indah (tulisan di blog nakindonesia)

Mumpung masih Juni, dan qadarullah aku baca buku yang membahas tentang kemungkaran kaum luth, yang kini terulang dan dinamakan lbbtqia. Izinkan aku menukilkannya di sini. Things we should know, how we should see lgbt (bukan orangnya, tapi yang dikampanyekan). Dari Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam buku Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.

***

Pelajaran dari Surat Al A'raf, dan Kaitannya dengan LGBT


Bagi orang yang berakal bisa mengambil pelajaran dari apa yang dikisahkan Allah dalam surat Al-A'raf, tentang orang-orang yang mengumbar hawa nafsu yang tercela, agar menjadi peringatan dan pelajaran.

Allah memulai kisah tentang hawa nafsu Iblis yang menyombongkan diri untuk taat kepada perintah Allah, yaitu bersujud kepada Adam....

Kemudian Allah menyebutkan hawa nafsu Adam yang ingin kekal di surga....

Kemudian Allah menyebutkan cobaan yang menimpa orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya dengan hal-hal yang tidak diterangkan-Nya.

Selanjutnya Allah menyebutkan kisah kaum Nuh dan hawa nafsu yang mengakibatkan mereka tenggelam dalam keduniaan dan akhirnya mereka masuk ke neraka di akhirat. Kemudian Allah menyebutkan kisah Aad dan hawa nafsu yang menyeret mereka kepada bencana yang mengerikan dan siksa yang tiada henti-henti. Kemudian kisah kaum Shalih yang juga tak jauh berbeda gambarannya, kemudian kisah para pemimpin yang fasik, orang-orang yang menyenangi sesama jenis dan meninggalkan para wanita. Mereka bermain-main dalam kesesatannya dan mereka menjadi buta karena mabuk cinta. Bagaimana Allah menghimpun siksa lalu ditimpakan kepada mereka, yang tidak pernah ditimpakan kepada umat selain mereka. Mereka dijadikan pendahulu bagi rekan mereka yang tindakannya seperti kaum Luth, baik yang dahulu atau yang datang kemudian. Tatkala mereka semakin kelewat batas dan menjadi-jadi dalam kedurhakaan itu, maka para malaikat menghampiri Allah karena perbuatan tersebut, bumi mengadu kepada Allah menghadapi urusan aneh itu, para malaikat lari ke penjuru langit, dan Allah sudah menetapkan bahwa Dia tidak akan menghukum orang-orang yang zhalim kecuali setelah menyampaikan hujjah atas mereka, mendahuluinya dengan janji dan ancaman. Allah juga mengutus Rasul-Nya agar memperingatkan perbuatan mereka yang buruk dan menyampaikan adzab-Nya yang pedih. Maka beliau berseru kepada semua manusia, dan beliau adalah pemberi nasihat yang paling agung,

"Mengapa kalian mengerjakan perbuatan mesum itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini sebelum kalian)?" (Al A'raf: 80)

Kemudian beliau mengulang lagi perkataannya agar menjadi nasihat dan peringatan bagi mereka, mesentara mereka dalam cinta yang memabukkan dan mereka tidak berpikir,

"Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada merek), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas." (Al A'raf: 81)

Orang-orang yang dimabuk cinta itu memberi jawaban layaknya orang yang tenggelam dalam nafsu dan kesewang-wenangan serta hatinya tertutup oleh cinta,

"Usirlah Luth beserta keluarganya dari negeri kalian, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih." (An-Naml; 56)

Tatkala waktu yang telah ditentukan tiba dan saat yang telah ditakdirkan datang, maka Allah mengirim utusan ke rumah Luth, yang tiada lain adalah malaikat yang elok rupawan dalam wujud manusia. Tidak pernah ada laki-laki yang setampan malaikat itu. Mereka datang ke rumah Luth sebagai tamu, yang kemudian diterima dengan tangan terbuka.

"Dan, tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang sangat sulit'." (Hud: 77)

Lalu ada kabar selentingan yang didengar kaum Luth, bahwa Luth kedatangan para pemuda yang tampan, yang ketampanan dan keelokannya belum pernah dilihat bandingannya. Sebagian di antara mereka menyampaikan kabar ini kepada sebagian yang lain, hingga akhirnya mereka mendatangi rumah Luth, untuk melampiaskan birahi dan mendapatkan puncak kenikmatan.

"Dan, datanglah kepadanya kaumnya yang bergegas-gegas. Dan, sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." (Hud: 78)

Tatkala mereka memasuki rumahnya dan siap menyerangnya, maka Luth berkata kepada mereka, sementara hatinya gundah, sedih bercampur khawatir,


"Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamu-tamuku ini. Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?" (Hud: 78) 

Tatkala mendengar perkataan Luth itu, maka mereka memberi jawaban sebagaimana layaknya orang yang keji dan mesum,

"Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." (Hud: 79)

Lalu dengan suara yang berat Luth berkata,

"Seandainya aku ada kekuatan (untuk menolak kalian) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." (Hud; 80)

Tatkala para malaikat yang menjadi utusan Allah itu (para tamunya) mengetahui kekerasan kaum Luth di hadapan Nabi-Nya, maka mereka membuka hakikat jati dirinya, lalu berkata, "Tenangkanlah dirimu,


"Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu." (Hud: 81)

Luth merasa senang, karena beliau merasa diselamatkan kekasihnya dari kejahatan. Lalu dikatakan kepada beliau,

"Sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?" (Hud: 81)

Tatkala mereka tetap bersikukuh untuk dapat mencumbu tamu-tamu Luth dan mereka tidak mau mempedulikan kebenaran, maka Jibril memukulkan sayapnya ke wajah mereka, hingga mata mereka tercongkel keluar dan mereka menjadi buta. Mereka pergi dari rumah Luth dalam keadaan buta sambil meraba-raba. Meski begitu mereka berkata, "Besok engkau akan tahu apa yang bakal engkau alami wahai orang yang gila."

Tatkala subuh telah tersibak, maka datang seruan dari sisi Rabb, "Benamkan kaum Luth dan siksalah mereka dengan siksaan yang pedih."

Malaikat yang perkasa dan terpercaya, Jibril menghancurkan tempat tinggal mereka dengan satu bulu sayapnya. Sehingga para malaikat bisa mendengar lolongan anjing mereka dan jeritan ayat mereka. Tempat tinggal mereka dijungkirbalikkan, yang atas dijadikan di bawah dan yang bawah dijadikan di atas. Mereka dihujani batu-batu dari tanah liat yang panas.


"Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negri kaum Luth yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 82-83)

Itulah kesudahan yang menimpa kaum Luth yang mencintai rupa. Mereka menjadi pelajaran bagi rekan-rekan mereka yang datang kemudian, dengan perbuatan yang sama.

***

Saat sebuah isu naik, fenomena di masyarakat, informasi yang kita dapatkan dari media sosial, ada satu hal yang harus kita pastikan. Bagaimana kita melihat dengan kacamata yang benar, agar kita tidak salah mengambil sikap. Dan Al Quran, diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda, furqan, yang memisahkan mana yang benar dan yang salah.

Kalau kita sekedar mengikuti logika, tanpa berpegang pada Al Quran, mungkin isu 'pelangi' yang banyak dikampanyekan bulan ini kesannya benar. Apa yang salah dari menghargai perbedaan? Apa yang salah dari menghargai kebebasan orang lain untuk memilih hidup sebagai perempuan, laki-laki atau tidak keduanya? Apa yang salah dengan menghargai pilihan orang lain untuk mencintai perempuan, laki-laki atau keduanya? Kalau kita tidak berpegang pada Al Quran dan berusaha melihat 'pelangi' dengan kaca mata al quran, maka seolah orang yang menolak lgbt terkesan orang yang konsevatif dan berpikiran tertutup.

Kita akan terlindas oleh logika kita sendiri, dan terbawa arus opini yang disemburkan begitu deras melalui sosial media, dan kanal-kanal berita. Padahal kebenaran itu, bukan apa yang banyak orang kerjakan atau apa yang banyak orang katakan.

Saat Allah mengharamkan sesuatu, sebenarnya Allah hendak menyelamatkan kita dari keburukan hal tersebut. Kampanye pelangi yang mereka lakukan seolah-olah membawa perdamaian dan kemerdekaan hidup manusia yang utuh. Padahal jika kita mau berpikir lebih panjang, kita akan tahu begitu banyak dampak buruk dari apa yang dikampanyekan tersebut. Bagaimana umat manusia bisa hancur jika mengedepankan kecintaannya pada hawa nafsu.

***

Lalu, jika kita memilih tidak setuju, apa artinya kita akan membenci dan mengucilkan mereka yang tenggelam di dalamnya?

To be continued...

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Company in Paradise - Amazed by The Quran

June 24, 2019 0 Comments
Bismillah.

#transkrip


Transkrip video pendek seri Amazed by The Quran oleh Ustadz Nouman Ali Khan: Company in Paradise

***

Assalamu'alaikum everyone welcome to amazed by the quran, a series in which I love sharing with you things I find amazing about the Quran. And today in syaa Allah, it sounds giggy but I'll talk to you about the difference between singular and plural in the quran. And actually sometimes different kind of plulars are in the quran, which yeah it sounds gramatical but I'll make sure that it's easy, easy to understand.

Casual Friend and Intimate Close Friend


First case is actually the description of judgement day, Allah says about people who are lamenting on judgement day. They're about to be thrown into devastation, they didn't make it to heaven. And they're saying, fama lana min syafi'in wala shadiqin hamim. We don't have people that are going to make a case for us, we don't have any friend that is intimate and close.

 فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ (100) وَلا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (101 

QS Asy-Syuara ayat 100-101

Now in this language, the first group that they complain they don't have in their favor, on their side is syafi'in which is plural, people who will make a case for us. And then they say, we don't have a single friend that is close to us, shadiqin hamim, an intimate close friend. So they go from people who make a case for us, which is plural, to a single friend which is really powerful.

Because, you know when you ask somebody, "Hey, what do you think of this person?"

"You're alright, they're cool"

You can find a lots of people that are "okay" with you. They don't know you well enough.

"And they're seems like a good person".

That's a syafi' that's someone who came and said, "Yeah, you know what? You're not that bad."

But then to find someone who's closed and intimate, and knows you deeply well and then care about your well-being and stops and tries to plead on your behave that,

"please don't let him go into the hell fire"

"I'll vouch for him", etc.

There's not gonna be a lot of people. There's not a single one.

So the one that tend to have many of, the plural is used. And the one that just, maybe if you find one, that would mean a lot, the singular is used. And there's an immediate switch from the plural to the singular. It's very powerful and beautiful.

Fama lana min syafi'in wa la shadiqin hamim. And in doing so, Allah doesn't just describe something that happen on the judgment day. As a matter of fact He described the matter of relationship. Casual relationship where people will have good opinion of you, are lots of them. There's acquaintances that thinks highly of you, or think okay of you. They don't have a poor opinion of you. They're syafi'.

But then, to have people vouch for you, that are the closest most intimate friend, that's actually a testimony of character. Because people that are very very close to you, they know your flaws, they don't just know the good thing about you. Right? So when they speak highly of you, that's actually means something. That's actually genuinely means something when they speak highly of you.

So that's kind of settle lesson that's taught just by the switch between the plural and the singular.

Company in Paradise


Another example of the plural and the singular that I find really beautiful  is actually about again the day of judgment. Where there's a comparison made between heaven and hell. And in describing heaven.

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها وَذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (13) وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خالِداً فِيها وَلَهُ عَذابٌ مُهِينٌ (14

QS An Nisa ayat 13-14

Allah said, yudkhilhu jannatin tajri min tahtihal anhar kholidina fiha. So it begins with, whoever would obey Allah and the messenger, which is singular. Whoever would obey Allah and His messenger,  wa man yuthi-illah wa rasulahu yudkhilhu, He will entered him, all singular. Entered him, not entered them, entered him. Jannatin tajri min tahtihal anhar. In gardens at the bottom of which even at the bottom, from the very bottom from which rivers flow. Kholidina fiha. In which they will remain forever. So, he will be entered, He will enter him into the garden, but they will remain in it forever. Kholidina, it's an immediate switch.

And if you compared this to the next ayah, wa man ya'shillaha warasulahu wayata'adda khududahu yudhilhu naaran, khalidan fiiha. Whoever would disobey Allah and His Messenger and crossed the limit that they've said, He will entered him into the fire, in which he will remain.

So there's they will remain, and then there's he will remain. Immediate switch, right? So what's really fascinating even about the first one is, it's started with he. Like, He will enter this person into heaven, where they will remain. So it went from he to they. And the second one was he and then still remain he. So I want you to appreciate this switch that happen, especially when talking about heaven.

Allah is describing the scenario of someone who didn't have much company in this life. Perhaps because of their faith they were left alone. Perhaps because of their faith, everybody around them abandoned them. Their family disown them, their friends left away from them.

And maybe even if they were around muslims, they were the only one who took islam seriously or something. And as a result they felt isolated. They felt pushed away from other people. And these are people who did not let go of their commitment to good deeds and obedience to Allah and His messenger, regardless of the pressure that came. Regardless of the isolation that they felt.

And Allah want the first gift when He entered him into the gardens, into the gardens of heaven, in jannah, is that they're in a company. They're never gonna be alone again. They will remain. So Allah actually pushed them into plurality.

He gives them a new family. He gives them company, things that they lost out or missed out on as a result of their islam, as a result of their submission. Subhanallah.

Also additionally the subtlety here being told that one of the joy of heaven is company. One of the joy of jannah is actually friends hanging out with each other, talking to each other. Fa aqbala ba'duhum 'ala ba'din yatasa-alun (QS Ash Shaffat ayat 50). They're gonna be facing one another, asking each other all kind of question,

"man, where have you been? Haven't seen you forever"

"oh, you made it too ha?"

like things like that^^

But you know that we're asking each other, hanging out. They're gonna be reminiscing about old times. Inna kunna qablu fi ahlina musyfiqin. (QS Ath Thur ayat 26)

"Man, we used to have such a hard time with our family, man.."

Literally there're ayat like that in the quran. Like they're reminiscing about old times. And that's one of the joy of heaven.

Solitude in Hellfire


On the other end though, Allah is describing the disbeliever, no matter how much he thinks he has company, no matter how many people he or she surround themselves with, no matter how many people are dancing around with them in the club, they're actually always alone. They never genuinely have someone with them. A relationship that will last. You know?

It's not just any disbeliever, the one who violates Allah and His messenger. We're not just talking about any non-muslim there. We're talking about culprit's who go on their way to disobey Allah and His messenger. They take the one thing that'll give them peace, they never find peace in other people's company. They just don't. They're always have only for themselves. And when it happens, like one of the torment of hell from them, is that they are in it and they feel like they're the only one in it.

You know, one of the worst kind of prison, even in this world, is solitary confinement. Prison in itself is torture, but on top of that, the solitude and the loneliness that is imposed on you, for months on it, you lose track of time, people lose their sanity as a result.

And that's actually the feeling these people get. There's not even the consolation,

'at least I'm not the only one being burned'

'At least I'm not the only one being punished.'

No it's not like that. They're gonna feel like they're the only one. Kholidan fiiha. Walahum 'adzabun muhin. And he will have humiliating punishment. May Allah not makes us from those who are punished.

So these are just a couple of examples of the singular and the plural, and how these quick switches create such beautiful lessons, and such powerful insights.

Barakallahuli wa lakum, assalamu'alaikum. See you next time.

***

Allahua'lam.

Saturday, June 22, 2019

Kawan, Sahabat, Teman?

June 22, 2019 0 Comments
Bismillah.

Ada beberapa kata yang berbeda untuk mendefinisikan seseorang yang dekat dengan kita, kawan, sahabat, teman, sohib, rencang *ada yang gatau ini bahasa apa? hehe.

Begitu pun di Al Quran. Ada beberapa. Salah dua satunya disebutkan di ayat-ayat ini.

فَمَا لَنَا مِن شَـٰفِعِينَ

Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun, [Surat Asy-Syu'ara (26) ayat 100]

وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍۢ

dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, [Surat Asy-Syu'ara (26) ayat 101]

Yang pertama Syafi' dan yang kedua Hamim. Sebenarnya malah tiga ya? Sama Shadiq? Untuk arti dan perbedaannya bisa baca di Jenis Teman dalam Al Quran

Nah, ada yang unik dari bentuk kata syafi' dan hamim. Yang satu bentuk plural, alias jamak. Dan satu lagi bentuk singular atau tunggal. Ada yang bisa nebak mana yang bentuk tunggal mana yang jamak? *saya juga sempat ragu, sampai keinget muslim chart

muslim chart.
Syafi'ina adalah bentuk jamak. Sedangkan hamim adalah bentuk tunggal. Apa bedanya dua kata yang sama-sama mendefinisikan "teman"?

Syafi' adalah teman biasa, yang tidak terlalu dekat dengan kita. Atau dekat mungkin, namun ia tidak tahu banyak tentang sisi buruk di diri kita. Ia belum pernah melakukan perjalanan dengan kita, belum pernah nginep/camping bareng, dan juga belum pernah berbisnis dengan kita. Syafi' adalah orang-orang yang saat ditanya, "B tuh orangnya gimana?" maka mereka bisa dengan mudah menjawab, "B? Orangnya baik."

Sedangkan hamim, adalah teman yang bukan sekedar teman. Seorang sahabat yang tahu sisi buruk kita, kekurangan kita.

And they're saying, fama lana min syafi'in wala shadiqin hamim. We don't have people that are going to make a case for us, we don't have any friend that is intimate and close. 
Now in this language, the first group that they complain they don't have in their favor, on their side is syafi'in which is plural, people who will make a case for us. And then they say, we don't have a single friend that is close to us, shadiqin hamim, an intimate close friend. So they go from people who make a case for us, which is plural, to a single friend which is really powerful. 
Because, you know when you ask somebody, "Hey, what do you think of this person?"
"You're alright, they're cool" You know? You can find a lots of people that are "okay" with you. They don't know you well enough. "And they're seems like a good person". That's a syafi' that's someone who came and said "Yeah, you know what? You're not that bad." 
But then to find someone who's closed and intimate, and knows you deeply well and then care about your well-being and stops and tries to plead on your behave that, "please don't let him go into the hell fire" "I'll vouch for him", etc. There's not gonna be a lot of people. There's not a single one. 
So the one that tend to have many of, the plural is used. And the one that just, maybe if you find one, that would mean a lot, the singular is used. And there's an immediate switch from the plural to the singular. It's very powerful and beautiful. 
- Nouman Ali Khan, Company in Paradise (Amazed by The Quran Season 2)
Immediate switch, perubahan dari bentuk jamak ke tunggal, kalau kita bisa melihatnya saat membaca quran, seharusnya itu membuat kita merenung dan berpikir. Lalu kita amazed, kagum.

Bahwa Allah tidak hanya menggambarkan kenyataan di hari akhir nanti, bahwa jumlah teman yang sekedar tahu/kenal kita lebih banyak, ketimbang sahabat yang tidak cuma tahu baik-baik kita tapi juga kekurangan dan keburukan kita itu sedikit. Allah juga menggambarkan kenyataan tersebut di dunia. Coba hitung jumlah 'friend' di FB, atau jumlah teman satu almamater, satu kelas, teman satu daerah, banyak kan? Tapi yang benar-benar mengenal kita, tahu kekurangan dan kelebihan kita, ada berapa? Sedikit.. mungkin sangat sedikit.
Fama lana min syafi'in wa la shadiqin hamim. And in doing so, Allah doesn't just describe something that happen on the judgment day. As a matter of fact He described the matter of relationship. You know, casual relationship where people will have good opinion of you, are lots of them. There's acquaintances that thinks highly of you, or think okay of you. They don't have a poor opinion of you. They're syafi'. You know. 
But then, to have people vouch for you, that are the closest most intimate friend, that's actually a testimony of character. Because people that are very very close to you, they know your flaws, they don't just know the good thing about you. Right? So when they speak highly of you, that's actually means something. That's actually genuinely means something when they speak highly of you. So that's kind of settle lesson that's taught just by the switch between the plural and the singular.
- Nouman Ali Khan, Company in Paradise (Amazed by The Quran Season 2)
***

Dua ayat ini mengingatkanku untuk belajar bahasa arab, *hmmm. Kalau kata orang, bahasa arab-lah yang bisa membuat kita betah berlama-lama dengan quran. **jadi kapan mau belajar Bell??

Dua ayat ini juga menghiburku, yang kemarin-kemarin sempat sedikit sedih karena memikirkan pertemanan, persahabatan. Seolah ayat ini, menepuk pundakku pelan, "memang begitu, hanya akan ada sedikit."

Dua ayat tersebut juga mengingatkanku pentingnya memperhatikan akar pertemanan kita. Agar tidak berhenti di dunia saja, tapi juga hingga akhirat nanti. Berteman, bersahabat karena Allah. Iman yang menguatkan jalinannya, dan setiap bertemu, atau berkomunikasi, masing-masing saling mengingatkan kepada Allah, mungkin tidak selalu lewat sharing ayat quran atau hadits, tapi bisa jadi lewat keteladanan kecil, ajakan shalat berjamaah di awal waktu, setiap bertemu memberi salam dan berjabat tangan, dengan wajah tersenyum, dll.

Kawan, sahabat, teman... bisa lebih bermakna, jika jalinannya berakar dari iman, dan dihiasi dengan tawashau bil haqq dan tawashau bis shobr. Saling mengingatkan pada kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Allahua'lam.

***

Keterangan:

[1] Nouman Ali Khan, Company in Paradise (Amazed by The Quran Season 2)


[2] Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

***

PS: Baru nyadar tulisan sabtulis dua pekan sebelumnya, juga ambil dari video ini.