Follow Me

Thursday, November 7, 2019

But He Gave It Anyway

November 07, 2019 0 Comments
Bismillah.


There are so many things I don't deserve, but He gave it anyway.

Kalimat itu yang terlintas di otakku berkali-kali, saat aku dibuat heran, takjub, dan perasaan tak terdeskripsi lain, akan pemberian-pemberian dari-Nya.

***

Ada banyak momen dimana aku merasa tidak pantas menerima begitu banyak nikmat dan karunianya. 

Allah Maha Pemberi. Dia memberi dan memberi lagi. Terus begitu meski hambanya seringkali berbalik arah, atau tenggelam dalam dosa. Dia masih memberi. Meski hamba tersebut lupa untuk meminta pada-Nya.

Aku malu, baru menyadarinya saat limpahan nikmatnya deras menghujaniku. Padahal setiap hari alirannya lembut mengalir.

Rasa malu ini, semoga membuatku belajar untuk menjadi golongan hamba-hambaNya yang bersyukur.

[1] اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahua'lam.

***

Keterangan:

[1] https://rumaysho.com/627-dzikir-dan-syukur-yang-sebenarnya.html


PS: Seperti prasangka baik dari orang lain, bahwa aku tidak berangkat karena merawat ibu yang sakit. Atau kalimat dari seorang teman, 'iyaa Bel...semangaaat Bel... You can do it! aku tetap penggemar kamu Bel'

I really don't deserve it all. But He gave it anyway. Allahummaghfirli. La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzholimin. Alhamdulillah, alhamdulillah 'ala kulli hal. Allah tahu betapa 'hina' diriku, yet He saves my face from people. TT

What's New?

November 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

#random #curcol

Cuma mau menulis beberapa hal random, yang sebagian penting tapi bisa jadi ga penting juga.. hehe. 


*warning* read on your own risk



Buku Itu Membacaku

November 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

Pernahkah kau dengar istilah, bahwa "bukan kamu yang membaca buku, sebaliknya, justru buku itu yang sedang membacamu". Aku pernah mendengarnya, dalam sebuah video pendek, tentang momen saat kamu sedang membaca quran, tapi yang kau rasakan justru sebaliknya, seolah quran yang sedang membacamu.



***

Beberapa tahun berlalu sejak saat aku menonton video pendek dengan kutipan tersebut. Empat november lalu, aku memaknai lagi kalimat tersebut. Aku membaca sebuah buku, bukan quran, tapi kalimat di dalamnya, membuatku merasa, seolah buku tersebut sedang membacaku.

Ga cuma aku berkata dalam hati, "I can relate". Tapi aku juga menyimpulkan dalam hati, "as if it's speaking on my behalf".

Mungkin karena topiknya pas dengan apa yang kurasakan dan kualami, mungkin karena saat itu aku sedang begitu sensitif, tapi membaca kalimat-kalimat di buku itu tidak mudah. Karena bukan aku yang membaca, tapi buku itu yang membacaku.

Saat itu... aku berhenti sejenak membaca, karena melanjutkan membaca hanya akan membuatku tampak aneh. I was in a public space, and it would seems so strange if anyone noticed that I was crying.

Aku memilih menulis, berusaha meredakan emosi yang naik tanpa aba-aba. Mengekspresikannya dalam kata, adalah bentuk penyaluran emosi yang lebih baik ketimbang terus menerus menyeka wajah.

***
Seharusnya aku tidak menangis. Karena buku ini bukan buku melodrama yang penuh kisah sendu. Ini buku tentang manusia dan interaksi mereka. Bagaimana mereka berdebat dan bagaimana respon mereka terhadap perdebatan, cara menghindar yang salah. Ada empat cara salah, dan dua poin terakhir berhasil membuat air mataku luruh. Entah ini pengaruh hormon, atau karena aku merasa buku ini berbicara padaku, berbicara tentangku, juga mendengarkanku. Kalimat-kalimat di dalamnya seolah meyakinkanku bahwa 'kata-kata' tersebut mengerti aku, keadaanku, dan kesulitan yang pernah/sedang kurasakan
Buku ini seolah menasihatiku dengan lembut: "Berhentilah berpura-pura baik-baik saja" 
"Berhentilah menyerah" 
"Kamu boleh menyuarakan perasaanmu, pendapatmu, ketidaksukaanmu. Kamu tidak harus selalu diam dan setuju." 
"Berhentilah menyembunyikan dan menekannya. Kau berhak bersuara, mengkomunikasikannya dengan cara yang baik, dengan suara indahmu, - meski mungkin mencobanya akan menggetarkan kedua bola matamu, serta meluncurkan aliran deras di pipimu." 
"Kamu cuma perlu belajar (lagi). Sedikit demi sedikit mengkomunikasikannya. Bukan selalu meredam dan menyembunyikannya."
4/11 

***

Tiga hari berlalu, sekarang tanggal tujuh, aku membaca tulisan di selembar kertas tersebut dan berniat menyalinnya di blog ini. Sempat terpikir untuk membuat kisah fiksi dari sana, tapi karena bisa jadi setelah ini akan ada versi nukil bukunya, sepertinya aku ingin menuliskannya secara lugas saja. Tanpa menutupi identitas, bahwa 'aku' ditulisan itu adalah aku, bukan karakter fiksi.

Dari tulisan itu juga, aku jadi baru tahu.. bahwa ternyata karunia Allah akan kemampuan bahasa kita, efeknya begitu dasyat. Quran memang turun dalam bentuk bacaan, sesuatu yang diperdengarkan. Tapi Allah juga tahu, bahwa quran kelak akan dibukukan, dan kita membacanya, bukan cuma mendengarkannya. Dan buku, sama seperti bacaan, bisa juga memberikan efek itu. Bahwa kalimat, tata bahasa yang kita baca, bisa menghadirkan efek seolah bukan kita yang membaca, tapi sebaliknya, buku yang kita baca yang membaca kita.

Kalau dari video tersebut, ustadz Nouman menjelaskan,
fihi dzikrukum, you'll find your own mention in it. it's talking about you, it's not talking about stories of old times.
Karunia Allah akan kemampuan bahasa kita juga, yang bisa membuat kita merasa didengarkan dan dipahami, meski kita ga sedang curhat ke penulis buku. Saat aku membaca topik tertentu di buku tersebut, dan apa yang tertulis disana membantuku memahami perasaan dan kesulitanku sendiri, saat itu aku merasa bahwa aku sedang dibaca, aku sedang didengarkan, dan juga bahwa ada yang memahamiku. It's interesting.

Itulah mengapa penting belajar bahasa arab, *loh? hehe. Kalau buku buatan manusia, kita cuma bisa relate kalau kita mengerti isinya. Begitu juga dengan Al Quran, kalau cuma baca tapi ga paham apa isinya, apa maknanya, maka akan sulit menemukan momen saat Al Quran yang membaca kita, bukan kita yang membaca quran. Terjemahan itu membantu, tapi tidak cukup. Maka mari berdoa dan berusaha, agar kita bisa mempelajari isi dan makna Al Quran, lewat mempelajari bahasanya. Step by step.

***

Terakhir, ada yang bisa tebak buku apa yang kubaca tanggal 4 November lalu? *gampang banget sebenarnya, da bacaanku masih stuck di buku itu-itu saja hehe.

Saturday, November 2, 2019

Welcome Back, Rainy Days!

November 02, 2019 0 Comments
Bismillah.


Purwokerto sudah masuk musim hujan sepertinya, dimulai dari hari kemarin, lalu hari ini full seharian hujan, reda dikit tapi masih terdengar suara air. Syahdu, dan dingin tentunya hehehe. Musim kemarau sebelumnya benar-benar terasa panjang, ditambah lagi fase super panas, ditambah lagi naik turun air di sumur yang ditandai dengan suara khas saat memompa air menggunakan mesin sanyo.

Welcome back rainy days. Semoga dengan hari-hari hujan, hujan pula inspirasi dan kesempatan serta semangat untuk menulis.

Welcome back rainy days. Semoga dengan setiap rintiknya, hujan pula hidayah yang bisa menghidupkan kembali hati yang terasa begitu kering dan berkerak.

Welcome back rainy days. Dengan kekhasan aromanya, yang seringkali membawa memori di masa lalu yang hampir terlupakan. Tentang payung hijau yang terbuka, dan langkah kaki menjauh yang rimanya terdengar seperti sebuah pesan penghibur. Atau tentang hujan siang di sekolah, dan sebuah pesan pendek, dulu sebelum semua orang mencari wifi dan kuota internet. Atau tentang memori menyusuri trotoar saat hujan deras dan semua orang berteduh, yang berbuah sesal, tapi juga pelajaran.

Welcome back rainy days... Hai semua! Selamat menikmati hari-hari penuh hujan berteman payung dan jaket! Jaga kesehatan, makan teratur, istirahat yang cukup. Jaga hatimu, bukan bukan dijaga agar tidak terlukai oleh virus merah jambu. Tapi jaga hatimu, agar selalu dipenuhi cahaya iman, yang menerangimu di dunia yang gelap ini. Jika cahayanya meredup, jangan lupa menyalakannya kembali dengan membaca cahaya yang diturunkanNya, Al Quranul Karim.

Allahua'lam.

Karet dan Gelombang Laut

November 02, 2019 0 Comments
Bismillah.

#buku

Nukil Buku "Psikologi Suami-Istri" | DR. Thariq Kamal An-Nu`aimi

***


Laki-laki itu ibarat karet, sedangkan perempuan ibarat gelombang laut, begitu perumpamaan yang disebutkan di buku tersebut. Perumpaan itu digunakan untuk menggambarkan bergejolaknya jiwa masing-masing, dan cara masing-masing menenangkan diri.

Ada perbedaan psikologis yang besar antara laki-laki dan perempuan dalam bereaksi terhadap kelelahan dan kesulitan. Laki-laki memilih diam, menyendiri, dan berjarak, sedangkan perempuan memilih berbicara dan mengungkapkan perasaannya.

Reaksi laki-laki yang lebih banyak diam, menyendiri dan berjarak inilah yang membuatnya diibaratkan sebagai karet. Saat jiwanya sedang bergejolak, ia menjauh, seperti karet yang diulur. Tapi proses itu tidak selamanya, terkadang sebentar, terkadang lama, tapi yang pasti ia akan kembali pada keadaan awal sebelum ia 'mengasingkan diri'.

"Laki-laki itu seperti karet, ketika ingin menjauh dan menyendiri --dan ini sangat biasa terjadi pada laki-laki dalam keadaan tertentu--, ia memiliki hasrat khas untuk mencapai keinginan tersebut. Dan setelah mendapatkan ketenangan ia pun bisa kembali pada keadaan biasa." - DR. Thariq Kamal An-Nu`aimi

Seperti laki-laki yang jiwanya mengalami pergolakan, perempuan pun begitu.

"Perempuan seperti gelombang laut, di mana ketika merasa dicintai dan disenangi maka semangat mentalnya akan naik dan mukanya terlihat senang dan selalu tersenyum lebar. Keadaan jiwa perempuan seperti itu sedang berada di puncak. Setelah gelombang tersebut naik maka ia kan mengalami penurunan disertai dengan perasaan dan keadaan emosional yang dalam."
***

Mengapa laki-laki memilih diam dan menjauh ketika sedang jiwanya sedang bergejolak?

Disebutkan di buku ini bahwa saat laki-laki memiliki masalah, sebelum ia membuka mulut dan bicara satu kata pun ia akan memasukkan masalah ke dalam otaknya dan memikirkannya secara mendalam dengan cara diam.

Maksudnya, ia akan berfikir dengan cara diam dan setelah sampai pada hasil kesimpulan atau suatu pemecahan maka ia baru mulai mengatakannya.
Saat proses berpikir ini ia tidak mau diganggu karena dapat memotong fokusnya, dan jika terpotong ia harus memulai lagi dari awal. Kalau pun ada saat dimana ia ingin sejenak rehat dari proses berpikir, ia memilih melakukan hal santai di tempat yang tenang, ia tidak suka berbincang atau banyak berbicara, apalagi mengenai masalah yang sedang ia pikirkan.

Hal ini wajar, karena memecahkan dan mencari solusi sendiri atas permasalahannya adalah hal penting yang dapat memenuhi fitrahnya dan memuaskan dirinya. Berbeda dengan perempuan yang memilih berbicara dan mengungkapkan permasalahannya sebagai jalan untuk mengurai pikirannya.

***

Saat gelombang laut (kondisi jiwa perempuan) naik, dan turun

Jika gejolak jiwa laki-laki ditandai dengan diam dan menjauh saja, gejolak jiwa perempuan memiliki tanda yang jauh berbeda. Sama seperti gelombang laut, kondisinya lebih sering naik-turun ketimbang diam dan tenang. Ditambah lagi, perbedaan yang sangat drastis saat gelombangnya naik dan saat gelombangnya turun.
"Ketika gelombang naik, perempuan merasakan adanya cinta dan perasaan yang melimpah yang tersimpan pada dirinya dan ia ingin memberikannya kepada orang yang ia cintai. Tetapi ketika gelombang telah reda pada tingkat yang paling bawah maka perempuan akan merasa hatinya kosong." 
...
"Ketika gelombang sedang naik, perempuan akan merasa bahagia dan memberikan kemurahan cintanya. Beberapa saat setelah itu gelombang tersebut akan turun dan penurunan tersebut akan memunculkan perasaan pada perempuan yang menyerupai penjernihan pertimbangan perasaan. Dan dalam hati ia berusaha memeriksa adanya sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Dalam keadaan seperti ini perempuan merasa sangat perlu dan ingin membicarakan permasalahannya. Ia mulai mengeluh tanpa henti dan mencari orang yang mau mendengarkannya. Memahami dan menghargai yang ia katakan dan ia keluhkan."

Bahkan disebutkan pula di buku ini, bahwa proses penurunan perempuan ini sama seperti terjatuh dalam "sumur yang gelap".

"Ketika perempuan masuk ke sumur gelap tersebut ia akan tenggelam pada ketidaksadaran dan pikirannya terpecah belah. Terkadang perempuan merasakan dalam hati ada perasaan yang tertutup dan ia sendiri tidak memahaminya. Terkadang perempuan merasa putus asa, sendirian dan merasa tidak ada bantuan sama sekali. Ketika itu keadaan jiwa perempuan mengalami kegelisahan yang sangat hebat." 
"Tetapi ketika sampai pada dasar sumur dan merasa di sana ada orang yang berdiri di sampingnya dan bersedia menolongnya, maka secara otomatis dan cepat keadaan jiwanya akan kembali baik. Mulai ada perasaan senang dan kebahagiaan yang baru. Saat seperti itu akan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang sekitarnya"
"Kesiapan perempuan untuk memberi dan menerima cinta dan kasih sayang, tergantung pada seberapa besar perasaan dalam dirinya sendiri. Dengan arti lain bergantung pada penghargaannya pada diri sendiri. Ketika penghargaan perempuan pada dirinya sendiri negatif, maka ia tidak siap memberi dan menerima cinta dan kasih sayang. Dalam keadaan seperti ini perempuan akan merasa dirinya kalah dengan keadaan jiwa yang rendah. Pada saat itu yang dibutuhkan adalah perasaan kasih dan sayang dari seorang laki-laki."
***

Sebenarnya di buku ini pembahasan kejiwaan laki-laki dan perempuan dibahas di dua bab yang berbeda. Dan perumpamaan karet dan gelombang laut ada di bagian awal setiap bab

Membaca buku ini, banyak membuka sudut pandangku tentang perbedaan laki-laki dan perempuan. Ternyata oh ternyata... apalagi kalau aku mencocokkan dengan situasi di rumah, ayah, ibu, adik, dan tentu saja diriku. Saat tahu perbedaan tersebut, semoga kita jadi semakin bijak dalam berinteraksi dan menjalin komunikasi. Selain itu, juga lebih mengenali diri sendiri.

Sebelum baca buku ini, aku pribadi suka ga paham dan bingung dengan kondisi diri. Begitu mudah naik-turun. Sebentar merasa baik-baik saja, sebentar berikutnya merasa tidak baik-baik saja. Persis seperti perumpamaan yang dipilih, ibarat gelombang laut. Apalagi saat membaca tentang kondisi turun yang mirip jatuh ke lubang sumur yang gelap. Bacanya sambil angguk-angguk setuju dan ingin berseru, "aah... iya betul-betul, bener banget." Kalimat ini terutama,
Terkadang perempuan merasakan dalam hati ada perasaan yang tertutup dan ia sendiri tidak memahaminya. Terkadang perempuan merasa putus asa, sendirian dan merasa tidak ada bantuan sama sekali. Ketika itu keadaan jiwa perempuan mengalami kegelisahan yang sangat hebat.
Trus tentang hal yang bisa membuat gejolak jiwa perempuan naik lagi, perasaan bahwa di fase jatuhnya tersebut ada orang yang berdiri di sampingnya dan bersedia menolongnya... kalau beneran ada orangnya, entah itu keluarga, teman, atau spouse, Alhamdulillah banget hehe. Tapi kalau pun ga ada, atau ada tapi kitanya ga nyadar, biasanya banyak baca alquran dan baca artinya, dengerin penjelasannya bisa juga menghadirkan perasaan itu. Perasaan bahwa ada Allah bersama kita, dan bersedia menolong kita. 


لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا
 Jangan bersedih, Allah bersama* kita
*kata ma'a bukan cuma bermakna bersama tapi juga siap sedia membantu kita.


Terakhir, untuk siapapun yang jiwanya sedang bergejolak, semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan. Aamiin.

Semangat membaca semuanya~

Allahua'lam.

***

Keterangan: 

[1] Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Tuesday, October 29, 2019

Aku Kira

October 29, 2019 0 Comments
Bismillah.


Aku kira, aku tidak akan menulis postingan baru di sini sampai nanti berganti bulan. Tapi aku salah. Hari ini, Allah menggerakkan hatiku untuk menulis.

***

Kemarin, buku "Silsilah Hidayah"-nya Amru Khalid selesai kubaca. Buku kecil yang seharusnya bisa selesai cepat, tapi ternyata baru beres beberapa bulan. Ada banyak jeda saat aku berhenti membacanya. Bayangkan saja, dari Ramadhan kemarin, sampai bulan ini.. bulan apa ini? Rabiul awal. Wah. Udah mau Ramadhan lagi... B-6 Ramadhan.

Dua bab terakhir buku ini membahas tentang ridha dan tentang peradaban. Dari bab Ridha, ada satu syair yang ingin kukutip. Sedangkan dari bab peradaban, ada juga tulisan yang ingin kunukil. Oh ya, bab peradaban ini pendek, isinya pengingat saja agar kita sebagai muslim tidak silau melihat peradaban di luar islam, peradaban barat, peradabat bangsa-bangsa non muslim.

***

Sebuah Syair untuk Direnungkan

Amru Khalid, sebelum mengutip syair ini menuliskan, "Alangkah baiknya kita merenungkan kata hikmah yang diucapkan seorang penyair ini:"


         Mungkinkah engkau merasa bahagia
         sementara hidup ini adalah derita.
         Mungkinkah engkau pasrah,
         sementara semua orang marah.
         Jika cintamu itu sejati,
         apapun bagimu akan mudah.
         Sebab apapun yang di atas tanah
         asalnya tetap tanah.



Tentang Keseimbangan


Abdullah ibn Umar pernah ditanya, "Apakah para sahabat rasulullah s.a.w. pernah tertawa? 
Ia menjawab, "Mereka tertawa dan bergurau. Mereka tertawa, namun iman di hati mereka lebih kokoh daripada gunung-gunung."

Lalu Amru Khalid meneruskan penjelasannya,

Jadi, yang dituntut dari seorang manusia adalah keseimbangan; tidak tenggelam dalam keinginan nafsu dan melupakan ibadah; tidak pula tenggelam dalam ibadah dan meninggalkan usaha mencari rezeki.

Ada paragraf-paragraf lanjutan penjelasannya, tapi aku nukilkan sampai di sini saja. Saat membaca penjelasan itu, aku berkaca, bahwa aku masih jauh dari keseimbangan. Ada banyak yang harus diperbaiki pada diri, bukan sekedar dengan membaca tentunya. Buat apa buku-buku, kalau hanya terhenti sebagai bacaan?

***

Terakhir,.. sebuah doa. Allahummarzuqna ilman nafi'an wa rizqan tayyiban wa 'amalan mutaqabbalan. Aamiin. Ya Allah karuniakanlah kami ilmu yang manfaat, rizqi yang thayyib dan amalan yang diterima. Aamiin, Aamiin Ya Rabb.

Ah ya, satu lagi. Semangat semuanya~

Se - ma - ngat - !!!

Allahua'lam.

Saturday, October 26, 2019

Membuka Pintu

October 26, 2019 0 Comments
Bismillah.

#fiksi


Sebelumnya pintunya selalu terbuka, ia pun lebih suka duduk di depan pintu. Tapi waktu berlalu, dan perubahan adalah hal yang tidak bisa ditolak. Pintunya kini hampir selalu tertutup, hanya sesekali ia keluar dan berada di depan pintu, mayoritas waktunya habis dengan aktivitas di balik pintu. Tidak ada percakapan dengan orang lain. Hanya ia dan dirinya sendiri. Ya selalu begitu, kecuali… kecuali jika ada orang yang mau mengetuk pintu dan membuka pintu terlebih dahulu.

Pintu itu memang tertutup, tapi tidak terkunci. Siapapun yang datang, bisa dengan mudah membukanya. Tapi tidak semua orang punya inisiatif untuk membuka pintu kan? Apalagi jika tidak ada suara respon terhadap ketukan. Mayoritas orang akan pergi, kala ketukan pintu disambut dengan sunyi. Hanya ada beberapa saja yang memberanikan diri memegang handle-nya dan membuka pintunya. Orang-orang tertentu itu… mungkin begitu ingin tahu apakah dibalik pintu benar-benar tidak ada orang.

Seperti suatu pagi. Saat aku duduk di depan pintuku, yang bersebrangan dengan pintunya. Kulihat seseorang yang wajahnya seperti bunga yang baru mekar, ia mengenakan baju berwarna ungu dengan sedikit corak putih di bagian lengannya. Sebelum mengetuk pintunya, ia terlebih dahulu bertanya padaku dengan suara lembut tentang sebuah nama. Aku mengangguk, meyakinkannya bahwa ia tidak berkunjung ke pintu yang salah.

Seperti biasa, tidak ada respon atas ketukan pintu. Ia berteman sunyi beberapa menit. Ia kemudian berbalik ke arahku, seolah bertanya, 'Apa benar, ia ada di dalam? Atau ia sedang pergi entah kemana?'

"Coba buka saja pintunya, mungkin ia tidak mendengarnya."

Ia sempat ragu mendengar saranku. Tapi akhirnya ia memberanikan diri memegang gagang pintu dan membuka pintunya. Sebelum ia masuk, kudengar samar ia mengucapkan kalimat,

"Ini aku, kawan lamamu, masihkah kamu mengingatku?"

***

Pintu itu terbuka, bersamaan dengan sosok yang membuka pintu, pemilik pintu menyambutnya dengan senyum. Mungkin pemilik pintu itu meminta maaf karena tidak segera membuka pintu, atau mungkin ia akan menceritakan mengapa ia memilih tidak membuka pintu terlebih dahulu. Yang aku tahu, ada orang-orang yang seperti itu. Harus ada orang lain dahulu, baru kemudian ia menyambut pintu yang terbuka dengan hati yang terbuka juga.

The End.

Sebuah Doa

October 26, 2019 0 Comments
Bismillah.

Pagi semuanya~ Rasanya lama sekali tidak menulis. Satu pekan.

Ada beberapa alasan dan excuse, lebih banyak yang kedua sepertinya. Aku juga sampai bertanya-tanya pada diri. Why?? Ada banyak waktu dan peluang untuk menulis, pun ide, tapi mengapa aku memilih melakukan hal lain? Is it about mood? Or something else?

Masa tidak menulis adalah masa berpikir, dan mengecek kondisi hati. Meluruskan lagi niat awal menulis. Mengapa diri memulai menulis, apa distraksi yang bisa membengkokkan niat tersebut, dll.

Kita sudahi dulu prolog yang tidak nyambung dengan isinya hehe. Aku di sini mau menyalin ulang terjemahan sebuah doa.

***

Kalian masih inget buku Silsilah Hidayah yang disusun Amru Khalid? Aku belum lama menukil isinya, tentang mencintai islam.

Baca juga: Mencintai Islam

Doa ini juga aku ambil dari buku tersebut. Di bab tentang ridha, selain doa radhiitubillahi robba [1] yang mungkin mayoritas sudah hafal, ada juga doa ini. Doa yang diriwayatkan oleh An-Nasa`i ini merupakan salah satu doa yang menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam juga memohon supaya dijadikan ridha atas ketetapan Allah. Yang maknanya, apalagi kita, kita harus sering-sering berdoa juga. Supaya Allah jadikan kita ridha terhadap qadar-Nya.

***

"Ya Allah! Dengan keagungan Ilmu-Mu pada hal-hal yang ghaib, dan dengan keagungan kekuasaam-Mu dalam mencipta, hidupkanlah aku, Ya Allah, dengan kehidupan yang menurut ilmu-Mu baik bagiku! Dan wafatkanlah aku, Ya Allah, bila itu yang terbaik bagiku!
Ya Allah, aku meminta pada-Mu perasaan takut terhadap-Mu dalam keadaan sendirian dan banyak orang.
Aku memohon ikhlas dalam ridha dan marah.
Aku memohon karunia-Mu yang tak pernah habis.
Aku memohon kepada-Mu kekasih yang tak pernah hilang.
Aku memohon pada-Mu keridhaan atas ketetapan-Mu, kesejukan hidup setelah mati, kelezatan memandang Zat-Mu dan kerinduan bertemu dengan-Mu!
Ya Allah! Aku mencari perlindungan pada-Mu dari kesengsaraan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan.
Ya Allah, ya Tuhanku! Hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikan kami suluh bagi orang yang mendapat hidayah!" (HR An-Nasa`i) 

***

Untuk lafadz bahasa arabnya, aku barusan googling nemu yang mirip. Doa yang juga dituliskan di buku Silsilah Hidayah setelah doa diatas.


 اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لاَ يَنْفَدُ وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
[2]


Awal dan akhirnya sama, tapi tengahnya beda. Bagian ini...

"(Ya Allah) Aku memohon kebenaran dalam ridha dan marah. 
Dan aku memohon padamu kesederhanaan dalam miskin maupun kaya. 
Aku memohon karunia-Mu yang tidak pernah sirna. 
Aku memohon pada-Mu kekasih yang tidak pernah putus. 
Aku memohon pada-Mu keridhaan setelah qadha
Aku memohon pada-Mu kesejukan hidup setelah mati. Aku memohon pada-Mu kelezatan menatap-Mu, dan kerinduan berjumpa dengan-Mu, tidak dalam keadaan sengsara yang membahayakan fitnah yang menyesatkan."

***

Dua-duanya doa yang indah. Buku ini mungkin hanya meng-highlight bagian memohon keridhaan terhadap/setelah qadha, tapi selain permohonan itu, ada permohonan lain yang sangat kita butuhkan. Seperti perasaan takut (khosyah) baik saat sendiri maupun dengan orang lain, juga permohonan kesejukan hidup setelah mati, dan kerinduan berjumpa dengan Allah.

Kita mungkin tidak hafal, dan belum bisa rutin membaca doa di atas, tapi minimal, minimal jadi berdoa saat membaca buku/tulisan tentang doa tersebut.

Terakhir, akan ada saat dimana kita ingin diam dan enggan berbincang dengan orang lain. Diam dan tidak perlu menuliskan tentang diri di platform apapun (sosmed, blog, dll). Dan saat-saat itu, alangkah baiknya jika banyak diisi dengan bercakap-mesra dengan-Nya. Kita bisa membaca doa yang diajarkan Rasulullah, seperti doa di atas, atau kita juga bisa berdoa apapun, dengan bahasa kita, sembari memaknai kembali bahwa Allah dekat, Allah selalu dekat. Semoga Allah jadikan kita salah satu hamba-hamba-Nya yang selalu dekat dan mendekat padaNya. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan:

[1]

[2] Teks arab doa tersebut diambil dari web https://sunnah.com/nasai/13/127



Saturday, October 19, 2019

Facebook Memories (2)

October 19, 2019 0 Comments
Bismillah.


Jarang-jarang pas buka facebook pas ada reminder post. 6 Oktober kemarin salah satu hari jarang tersebut.

Sebuah pengingat sederhana untuk diri agar senantiasa melakukan perbaikan di saat kebanyakan orang berbuat kerusakan. Minimal.. minimal perbaikan pada diri sendiri.

***

Oh ya, tentang tidak mengasingkan diri dan tidak sibuk dengan dunia kita, ini masih PR besar di fase pasca-kampus. Kalau dulu konteksnya adalah organisasi, himpunan, dan antar-mahasiswa lain. Kini konteksnya lebih luas, pada masyarakat. Bisakah kita peduli, berbaur tanpa lebur di masyarakat? Lewat kerja dan gerakan apa kita melakukannya?

Terakhir, selamat untuk siapapun yang sudah menjadi bagian dari orang-orang asing, namun juga memiliki peran aktif di masyarakat. Dan untuk yang belum, termasuk aku, mari bergerak dan jangan diam. Mari berhenti berkutat pada masalah diri saja.

Ketika manusia tenggelam dalam masalah pribadi, yang ia pikirkan hanyalah dirinya sendiri sehingga ia gagal melihat bahwa ia merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar, they fail to see the larger picture. 
-Suhendi Pusap

Let's see the larger picture ahead of us! Semangat^^

Allahua'lam.

Thursday, October 17, 2019

Didn't You Get Some Life Lessons These Years?

October 17, 2019 0 Comments
Bismillah.

#blogwalking

Tanpa link. tanpa keseluruhan konteks. Cuma tentang satu kalimat yang menggerakkan jemariku untuk menyalinnya di sini.

***

She didn't write it for me. Clearly she delivered that sentence to someone she refers as 'guy friend', and I'm definitely a girl. But there's one sentence that struck me. It makes me want to write it here, as a mirror to myself. Btw, is it because she wrote it in English, so i write here in English also? hahaha

Ganti mode bahasa indonesia aja ya hehe. abaikan paragraf di atas.

***

Sebuah kalimat yang bukan ditujukan padaku malam ini menjelma menjadi kaca. Dan kini, aku membayangkan menanyakan hal yang sama pada diriku.

I mean, didn’t you get some life lesson for these years?

Salah satu blog di daftar bacaan-ku akhirnya update juga. Setelah sekitar sebulan berteman sepi. Seperti biasa, isinya memang bukan narasi panjang seperti di sini. Biasanya hanya beberapa paragraf. Atau sebuah kutipan singkat. Atau seperti kali ini, beberapa kalimat berbahasa inggris.

Aku membacanya cepat sekali. Kemudian mengulanginya. Yang kedua ini, yang akhirnya membuatku terhenti di sebuah kalimat tanya.

Ia bertanya-tanya, 'didn’t you get some life lesson for these years?'

Ia heran, mengapa seseorang masih 'mengkhawatirkan' hal yang sama seperti yang dilakukannya beberapa tahun yang lalu. Ia heran, mengapa tidak terlihat adanya perubahan, sedangkan beberapa tahun telah berlalu.

Penulis kalimat tersebut jelas bukan bertanya padaku. Aku yakin 100%. Tapi kalimatnya itu, menjelma menjadi cermin di hadapanku. Aku jadi melihat refleksi diriku. Aku rasa, aku juga perlu bertanya kalimat yang sama pada diriku.

Hai Bella! Bukankah beberapa tahun telah berlalu? Tidakkah kamu belajar sesuatu?

***

Alhamdulillah pertanyaan itu tidak diajukan padaku. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jika orang lain melemparkan kalimat itu padaku. Mungkin aku hanya bisa terdiam, lalu berbalik badan dan masuk ke tempat persembunyian.

Atau mungkin aku akan terbawa emosi dan balik bertanya, 'Who are you? That kind of question? I don't think you deserve to know the answer. *sensiMe banget hahahaha

Alhamdulillah pertanyaan itu tidak dilemparkan padaku oleh siapapun. Pertanyaan itu dikirim dengan lembut lewat skenario yang lembut. Kalimat itu tidak ditujukan padaku bagai panah, tapi hadir sebagai cermin. Berbeda dengan panah yang jika tepat sasaran akan meninggalkan bekas, cermin hanya menghadirkan refleksi. Jika kita ingin jejaknya terekam, kita yang harus membenahi diri dan kembali becermin.

Kini, pertanyaannya tak lagi sama. Aku sudah melihat di cermin ada sebuah coreng di wajahku. Aku tidak tahu apa itu dari tinta, atau cat, atau coklat, atau hitam arang. Yang aku tahu, aku harus membersihkannya. Perlu air, sabun, mungkin minyak, kapas? kain? Aku tidak tahu pastinya. Yang jelas, aku harus bergerak dan segera membersihkannya, sebelum corengan tersebut menempel lebih erat dan menyatu dengan kulit.

***



Years had passed, yet I still see myself struggling with the same battle. Is it the lack of strength? Is it the lack of strategy? Or maybe I still haven't learn the right lesson.

Beberapa tahun memang sudah berlalu, dan pertanyaan itu membuatmu terdiam sejenak. Ada perasaan kelam melingkupi. Tapi cuma sebentar. Karena kamu berbeda dengan dirimu di masa lalu. JIka dulu kamu tenggelam dalam gelap. Kini kamu selalu segera beranjak kita gelap menghampiri. Kamu memang masih belajar di ujian yang sama, hasilnya belum tampak di depan mata. Tapi keyakinanmu bahwa Allah melihat proses membuat hatimu tenang. Tugasmu hanya berusaha, dan berdoa. Sisanya serahkan pada-Nya. Dan hatimu tenang karena itu.

Karena kamu menyerahkan hasilnya, pada Ar Rahman, pada Zat yang mencintaimu melebihi cinta ibumu kepadamu. Karena kamu menyerahkan akhirnya, pada Yang Maha Adil, pada Zat yang tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

Famayya'mal mitsqala dzarratin khairayyarah. Wamayya'mal mitsqala dzarratin syarrayyarah.

Allahua'lam.

***

PS: Tulisan ini ga ada sangkut pautnya sama pemilik blog. Cuma tentang kalimat, dan bagaimana kalimat tersebut membuatku tergerak untuk menulis.

Btw, the one who wrote that sentence is someone I'd love to engage in conversation with, but I just don't know how to connect again after a long time.

Saturday, October 12, 2019

Huruf yang Tertinggal

October 12, 2019 0 Comments
Bismillah.

"Cuma ada beberapa huruf yang sering tertinggal"

Saat membaca kalimatnya, aku seketika tercekat, ingin bertanya lebih lanjut.

Huruf apa yang tertinggal, pada kalimat yang mana?

Karena yang kuharapkan bukan sekedar itu, aku butuh koreksi yang detail, bukan sekedar komentar tentang beberapa huruf yang sering tertinggal.

***

Beberapa huruf yang tertinggal.


Aku hanya perlu mengecek ulang sendiri kan? Sehingga aku bisa tahu huruf mana yang ia maksud sering kutinggalkan.


Aku tidak perlu bertanya lebih lanjut kan? Ia sudah berkenan menghabiskan waktu 'mendengarkan'-mu, bukankah itu cukup?

***

Teruntuk huruf yang tertinggal, hei, maafkan aku. Aku cuma manusia, yang sering lupa dan salah. Seharusnya, saat kubaca kalimatnya, aku lebih banyak memikirkanmu, dan bukannya terbawa perasaan tentang ekspektasiku terhadap koreksi detail dan bukan komentar keseluruhan. Seharusnya aku sekarang muhasabah diri, bagaimana agar kamu tidak tertinggal, bagaimana agar mengeratkan rantai pengikatnya, bagaimana lebih teliti, bagaimana agar tidak ada yang tertinggal lagi.


Huruf yang tertinggal menjawabku. Ia tersenyum karena tahu, bahwa aku tidak menyengaja ingin meninggalkannya. Dalam senyumnya, ia ingin aku belajar, bahwa barangkali, ia tertinggal bukan sekedar karena lupa atau salah. Tapi karena ada yang perlu aku pelajari. Bukan sekedar tentang ejaan dan kata yang benar. Bukan tentang kalimat yang lengkap. Tapi juga tentang bagaimana berprasangka baik, bagaimana menenangkan diri saat kecewa, dan bagaimana menghargai bantuan orang lain, sekecil apapun.



Huruf yang tertinggal melambaikan tangannya padaku, sembari mengingatkanku, bukankah kau pernah menulis tentang tiga menit yang mahal?


***


Terakhir, semoga Allah memberikan kita kebijakan untuk tidak segera bersempit dada saat menemui situasi yang tidak sesuai harapan. Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu berkaca dan belajar, memetik hikmah, dan bukan terbawa emosi, saat tidak ada yang mengerti kita, kecuali Allah. Aamiin.

Allahua'lam.

Thursday, October 10, 2019

Menjadi Nyamuk

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

#gakpenting

Sebuah curcol ga penting tentang kejadian unik saat blogwalking.

***

Aku masih sama, masih suka baca banyak blog orang lain diam-diam. Dari yang kenal, sampai yang sama sekali tidak kenal. Kadang aku sendiri lupa, kapan dan mengapa aku follow blog tersebut. Yang aku tahu, tulisan di blog tersebut masuk ke feed daftar bacaanku.

Ada sebuah blog yang Oktober ini rajin diisi, aku melihat postingannya berturut-turut di daftar bacaanku. Jarang-jarang ada blog personal yang sering diisi. Biasanya mayoritas satu pekan sekali, atau sebulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Isi tulisannya oktober ini sedikit banyak menggambarkan perasaannya. It shows her negative vibes. Tapi bukan berarti benar-benar negatif, selalu ada sisi positif yang berusaha ia tulis. Seperti judul blognya "Back to live, to learn and be happy". URLnya singkatan namanya, serta dua buah angka, entah itu angka istimewa yang sengaja ia pilih, atau itu angka yang dibuat otomatis oleh blogger. Aku sendiri tidak tahu.

2 Oktober kemarin, ia posting sebuah tulisan berjudul "Kuatkan pundakku". Berbeda dengan tulisan lain yang biasanya berbahasa indonesia. Tulisan berjudul bahasa indonesia tersebut justru isinya full english. Seperti puisi tapi bukan puisi. Kalimat yang ia buat, isinya, membuat hatiku tergerak untuk menulis komentar.

Perempuan tersebut menuliskan,

"I hit rock bottom of self confidence,
I have nothing to tell me what I am, who I am and what I can do,
This feeling is spiraling down to nowhere
Yet, I have nobody to tell,
Nobody help and ask, nobody...."

Aku baru saja hendak menuliskan komentar pendek, sependek kata "semangat". Atau kalimat doa agar pundaknya kuat, dan langkahnya dimudahkan. Tapi aku terkejut membaca ternyata sudah ada yang berkomentar.

Aku seketika terdiam dan membaca komentar dan komunikasi antara pemilik blog dan pemberi komentar. Kemudian aku mengurungkan niatku untuk komentar. 'Sepertinya... aku akan merusak suasana kalau ikut komentar'.

***

Komentar yang sudah ada di sana isinya memang bukan kata-kata penyemangat. Hanya sebuah kunjungan balik. Penulis komentar bercerita, bahwa ia membaca tulisan lama di blognya dan menemukan perempuan pemilik blog itu berkomentar. Ia pikir, ia perlu untuk mampir dan terkejut ternyata masih ada yang begitu aktif menulis di blog.

Lalu percakapan mereka pun berlanjut. *dan aku seolah menjadi nyamuk yang diam-diam membaca.

Si pemilik blog juga lupa pernah komentar apa, kemudian ia memberikan alamat instagramnya.

Si komentator menjawab lagi, bahwa komentar si pemilik blog sudah lama. Hampir lima tahun yang lalu. Ia juga mengatakan sudah follow instagram pemilik blog.

Dan percakapan terhenti.

***

Yang namanya blogwalking itu, ketika kita baca satu blog, seringkali kita jadi berkunjung ke blog lain. Dan membaca komentar dua orang itu, aku kemudian mengunjungi blog si komentator.

Aku membaca sebagian tulisan di sana, sedikit mengerutkan dahi karena isinya agak berat dan terlalu 'gelap'. Aku memutuskan untuk tidak memfollow blog tersebut. Tapi ada satu hal yang aku syukuri karena Allah menuntunku ke blog tersebut. Ada satu tulisan di sana yang mengobati sedikit rinduku pada Bandung, pada Salman *bukan nama orang hahaha, nama Masjid ^^ just in case someone read it the wrong way.

Juni 2019 ternyata ia berkunjung ke Bandung, berhenti di Balubur *baltos, kemudian berjalan ke masjid Salman. Ia menuliskannya dengan baik. Aku bisa membayangkan berjalan kaki ke ITB dari Baltos. Melalui jalan ganesha, yang saat itu sepi karena H-1 lebaran. Katanya sih begitu, aku sendiri belum pernah jalan-jalan di sekitar ITB H-1 lebaran. Biasanya maksimal sepekan sebelum lebaran aku sudah pulang kampung.

Panjang kayanya, kalau aku harus menceritakan ulang yang dituliskannya. Anyway, tulisan itu rasanya seperti cahaya lampu kecil di malam hari. Blog itu mungkin tempatnya memaparkan pikiran-pikiran yang tidak bisa terus ia pendam di otaknya. Tapi meski sebagian besar isinya gelap, aku masih membaca banyak lampu-lampu kecil di sana. Salah satunya di tulisan tentang kunjungan ia ke masjid Salman, sehari sebelum lebaran tersebut.

Sama, seperti blog perempuan yang tulisannya hampir kuberi komentar. Di akhir tulisannya, aku bisa sedikit lebih tenang. Karena aku yakin, pundaknya sebenarnya sudah kuat. Hanya saja, ia manusia, sama sepertiku. Yang terkadang butuh menyalurkan negative vibes-nya dalam kata, bukan untuk sekedar mengeluh. Justru untuk menguatkan diri, serta mengepalkan tangan dan bersiap kembali berjuang.

Perempuan itu mengakhiri tulisannya dengan sebuah doa, yang kuaminkan dalam hati.
I know i am stronger than what i really think, i have made my life this far, without being fallen to disgrace or darkness,May God still guiding me to a better life, better mind and heart
***

Untuk siapapun, menulislah meski isinya curahan hati kenegativan di pikiran dan hatimu. Tapi... ada tapinya. Jangan menulis di 'jalan raya'. Agar tidak menebarkan virus. Tulis di tempat sepi, di blog anonim tanpa pengunjung tetap, atau di buku diary, atau di note hp.


Terakhir,
Channeling our negative emotions will release all the negativity and will result in positivity. - Medeline Djajasaputra
Semangat!!


***

PS: Yang mau tahu link blognya PM ya hehe. Kalau ditulis di sini, bisa ketahuan soalnya kalau ternyata nyamuk yang lewat di sana adalah aku. wkwkwk.

47,67

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

kuantitas blog

Sudah lama aku buat catatan kuantitas blog, niatnya agar menjaga konsistensi nulis. Dan tahun ini total dari januari-november cuma 165 tulisan. Iseng aku hitung selisih dengan kuantitas tahun lalu, trus dibagi tiga, agar tahu, berapa yang harus kutulis supaya bisa nyamain kuantitas tahun lalu. Hasilnya 47,67. Artinya untuk bisa sama, setiap bulan harus nulis 48 postingan. Aku cuma tersenyum kecut ngebayangin berarti tiap hari harus nulis, satu atau dua postingan. Jauh hehe.

Meski aku tidak memutuskan untuk mengejar target, tapi aku bertekad akhir tahun ini harus lebih produktif nulis. Kalau bingung nulis apa, artinya aku harus banyak baca, dan banyak peka pada hikmah yang Allah titipkan di keseharian. 

Kuantitas memang seringkali dipandang sebelah mata kalau dibandingkan dengan kualitas. Tapi kuantitas, perlu diperhatikan kalau yang kita kejar adalah konsistensi. Bukankah Allah menyukai amal baik yang dilakukan secara konsisten?

Untukku, semangat menulis!

Unnoticed

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

I thought it'd be unnoticed.

***

Aku kira tidak ada yang sadar. Toh hanya beberapa hari. Aku pikir tidak akan ada yang mencariku.

Tapi Allah menuliskan skenario indah, yang mengingatkanku lagi pada indahnya persahabatan karena Allah.

3 Oktober. Seorang ukhti mengirim pesan. Bertanya kabar. Satu, dua, sampai lima hari berlalu. Tapi pesannya masih centang satu. Artinya pesan itu bahkan belum masuk ke kotak pesanku.

7 Oktober. Ia bertanya di grup, barangkali ada yang memiliki nomer hpku yang lain. Barangkali aku ganti nomer hp dan ia tidak tahu. Ternyata yang lain pun hanya memiliki satu nomer hpku. Ya, nomer yang itu, yang belakangnya 193.

Atas izinnya, siang itu aku menyalakan kembali hpku, setelah beberapa hari sengaja dimatikan karena beberapa alasan.

Malamnya, kubaca pesannya, kubalas dengan perasaan senang karena terhubung kembali dengannya.

Ia menceritakan padaku kepanikannya, kekhawatirannya, karena beberapa hari berlalu dan pesan yang ia kirim untukku masih centang satu. Aku ikut terharu membacanya, karena aku kira tidak akan ada yang menyadari. But she knows. I thought nobody would notice, but she noticed it.  Somehow.

Lalu obrolan mengalir. Dan dari percakapan itu aku baru tahu, bahwa sekitar tiga bulan yang lalu ibunya berpulang ke rahmatullah. Setelah lama berjuang dalam fisik yang sakit. Seketika itu hatiku ikut sakit sekaligus malu. Seharusnya aku tahu kabar itu lebih cepat, seharusnya aku lebih inisiatif untuk menjalin silaturahim.

Ia bercerita lagi, tentang kesulitannya saat itu. Rasanya, begitu banyak kejadian dalam waktu itu. Ia yang berkali-kali izin cuti karena mengantar ibunya bolak-balik ke rumah sakit. Rekan kerja yang mengira ia mangkir, karena alasan ia pergi "itu-itu saja". Ia yang hampir resign, karena hari H saat ibunya menghadap Allah, ia begitu panik dan segera meluncur ke Cirebon tanpa banyak persiapan. Bahkan hp, hpnya tertinggal dan tidak terbawa.

Aku bertanya padanya, trus sekarang gimana? Udah clear kan di tempat kerja? Aku membayangkan ia mengangguk sembari membaca balasan pesannya. Malam itu ia baru pulang kerja, pasti ia lelah, ingin kutepuk pundaknya pelan. You've gone through it. You've done it. Kamu sudah melaluinya dengan baik. Allah akan menghadiahkan padamu ganjaran atas setiap ujian yang berhasil kau lalui. Entah berupa gugurnya dosa-dosa atau bertambahnya pahala dan juga naiknya derajatmu di mata-Nya.

Percakapan malam itu diakhiri dengan kalimat yang membuatku tersenyum tipis,
"Kalau mau main Bandung, berkabar ya ..."
Kalimatnya diakhiri dengan emoticon mata berkaca-kaca. Aku menjawab singkat, "Siap in syaa Allah".



Dalam hati aku berdoa, semoga kelak Allah mengizinkan kita bertemu lagi, di Bandung, kota tempat kita bertemu dulu. Atau di belahan bumi manapun. 

Semoga Allah melindungi, semoga Allah menaungi hidupmu dalam keberkahan. Barakallahu fik.

Allahua'lam.

Mencintai Islam

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

#buku

Nukil Buku "Silsilah Hidayah" | Amru Khalid

***
"Beragama Islam artinya, seluruh jiwa Anda dipenuhi dengan perasaan cinta kepada agama Islam dan berharap seluruh manusia memiliki hubungan yang kuat dengan Allah. Maka pada gilirannya, ayat-ayat al-Qur'an sendiri pun akan menanamkan cinta beragama ke dalam jiwa Anda. Apakah Anda cinta kepada agama Anda, atau cukup melaksanakan shalat, ibadat dan air mata yang bercucuran? Apabila yang penting bagi Anda adalah shalat, ibadat dan air mata yang bercucuran, namun Anda tidak merasa bahwa Islam adalah seluruh wujud Anda, maka shlat, ibadat dan air mata yang Anda cucurkan itu tak ada gunanya bagi Islam. Sekiranya masjid-masjid penuh sesak dengan orang-orang yang shalat, menangis dan penuh kekhusyukan, namun Anda tidak merasakan cinta kepada Islam dan tidak ingin mengajak manusia untuk mencintai Islam seperti Anda mencintainya, maka ketahuilah bahwa semua itu tak ada gunanya bagi Anda dan tidak pula bagi Islam. Kondisi kaum muslimin tidak akan berubah tanpa orang-orang yang mencintai Islam sebagaimana mereka mencintai anak-anak dan keluarga mereka. 
Perhatikan contoh orang-orang yang mencintai Islam! Simaklah kisah tentang seorang laki-laki yang hidup di sebuah kampung kecil, tempat di mana Allah mengirim dua orang utusan yang kemudian ditambah lagi dengan utusan ketiga, sebagaimana yang diceritakan dalam surah Yasin. Barangkali Anda semua hafal ayat berikut ini,
"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepada kalian.'" (QS Yasin: 14)
Di kampung tadi terdapat tiga orang rasul. Tapi coba renungkan ayat berikutnya, "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas-gegas." (QS Yasin: 20)
Perlu kami tegaskan, al-Qur'an tidak pernah memakai kata-kata berlebihan yang tidak ada faidahnya. Setiap kata yang dipakai al-Qur'an memiliki makna tertentu. Oleh karena itu, kalimat "Dari ujung kota" adalah kalimat kunci yang menjelaskan kepada kita bahwa laki-laki yang diceritakan al-Qur'an tersebut tidak hanya diam dan tidak bisa diam.
 "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas-gegas, ia berkata, 'Hai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu! Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepada kalian, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengaa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhan kalian.'" (QS Yasin: 20-25) Ia pun mulai mengarahkan ucapannya ke ketiga orang nabi itu, "Saya bersama kalian. Dan saya setuju atas apa yang kalian katakan."
Coba Anda renungkan apa yang dirasakan laki-laki itu! Setelah berbicara dengan kaumnya ia berkata kepada para nabi itu, "Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian" (QS Yasin:25) lalu ia melemparkan pandangan ke arah penduduk kampung, dan berkata, "Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku ini." (QS Yasin: 25) Ini adalah ungkapan isi hati. Dengan kata-kata ini, laki-laki itu ingin mengumumkan isi hatinya pada seluruh orang.
- Amru Khalid, Silsilah Hidayah
***


Sebuah pengingat untuk diri, agar tidak hanya merasakan indahnya islam sendiri, tapi juga membagikannya dan mengajak orang untuk merasakannya, sebagai bukti bahwa kita mencinta Islam.

Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang mencintai Islam, dan menebarkan harumnya pada orang di sekitar kita. Meski cuma satu ayat. Meski hanya sedikit. Aamiin.

Allahua'lam.

Saturday, October 5, 2019

Aku Ingin Berpuisi Lagi

October 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

Harusnya judul tulisan ini Menengok Diary Jaman SMA bagian 2.

Jadi selain apa-apa yang udah kutulis ditulisan sebelumnya, ada hal lain yang aku dapatkan setelah baca diary jaman SMA.

I got a ton of longing feeling. Ada satu ton rindu yang kuambil dari sana. Bukan rindu ingin mengulang masa lalu, no no no. Bukan itu.

Tapi rindu teman-teman SMA, apa kabar kalian? Sehat? Maafkan aku yang begitu buruk menjalin komunikasi *peace.

Juga.. rindu ingin berpuisi lagi.

Terutama saat membaca barisan puisi bercoret di awal diary.

Juga cerita saat aku kehilangan buku hijau berisi puluhan puisiku. Salah sendiri naruh di laci sebelum masa ujian.

Juga saat membaca momen menunggu jemputan dan aku asik bercorat coret di sebelah pos satpam, tidak mempedulikan lalu lalang motor, sepeda dan siswa yang berjalan kaki. Ya, sesekali mengangguk dan mendongakkan kepala saat dipanggil, atau ditanya kenapa sendiri, tapi selebihnya kembali lagi berteman dengan tinta dan kertas.

Oleh karena itu... kemarin aku mencoba menulis puisi lagi.. ada tiga. Aku salin semua? Atau sebagian saja? Hehe. Karena sepertinya aku sedang condong ke ekstrovert, let's just share all of them. ^^

1st

2nd


3rd
***

Mari berpuisi kembali, semoga dengan itu motivasiku menulis naik lagi. Aku harus mengingatkan diriku, dulu sekali, aku memulainya dari menulis puisi. Rangkaian kata yang di pisahkan dalam bait. Bukan kalimat yang dirangkai dan dipisahkan dalam paragraf.

Semangat menulis^^ dan membaca tentunya! Semangat berkarya, meski dari nol lagi, meski dari hal-hal kecil terlebih dahulu.

Semoga tiap kata yang tertuang mengingatkan kita, bahwa Allah-lah yang pertama kali mengajarkan manusia kata-kata. Bahwa karena nikmat dari Allah, otak, hati dan jemari kita dapat bersinergi dan menulis. Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil 'alamin. J

Allahua'lam.

Menengok Diary Jaman SMA

October 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

#nostalgia #hikmah


Beberapa hari ini saya banyak memandang ke belakang, menengok file-file lama yang tersimpan, baik foto maupun dokumen. Sampai terhenti di sebuah dokumen ber-password yang merupakan diary digital jaman SMA dulu. Penasaran aku buka, sempat kesulitan cari password, setelah belasan kali gagal, akhirnya aku menemukan kata sandinya.

Oh ya, beda dengan password sosial media, blog, yang ada sistem yang membantu kalau kita lupa, dokumen microsoft word berpassword lebih kejam. Kalau ga ingat password, otomatis kita kehilangan akses membuka dokumen tersebut. Proses inget-inget password, coba sampai puluhan kali dengan kombinasi karakter angka, case sensitive membuatku sempat kepikiran, apa perlu pakai software input password dengan sekian banyak probabilitas hehe. Lega sekali aku ingat passwordnya, setelah memastikan bahwa aku tidak pernah mengutak atik tentang huruf kapital. Hanya kombinasi huruf dan angka saja. Hikmah dari cari password di memori otak, adalah segera mencatatnya di diary digital terbaru hehe.

***

Membaca sekian lembar isinya bukan hanya bentuk nostalgia, aku bisa mencerna setiap informasi dengan perspektif baru. Aku tidak hanya melihat diriku di masa lalu, tapi juga teman-teman di masa lalu. Seperti seorang kawan yang menghabiskan harinya sampai sore/magrib di sekolah, atau mengapa kawan yang lain memilih jalan curang 'demi' nilai yang lebih baik, atau tentang siswa kelas sebelah yang hampir pindah sekolah karena tidak masuk jurusan IPA. Kalau dulu aku hanya melihat personalnya, kini saat membaca kembali curhatanku, aku bisa melihat dari sudut pandang berbeda.

Orangtua yang sibuk bekerja di luar kota, anak harus bersekolah dan tinggal di rumah nenek/saudaranya. Pasti di rumah ia bosan, ada rasa kesepian, yang bisa ia 'hancurkan' dengan lebih lama berada di sekolah. Bertemu kawan-kawan yang 'senasib', yang juga memiliki orangtua yang super sibuk.

Ketika ujian tengah/akhir semester, setting tempat ujian diubah. Satu kelas dibagi menjadi dua ruangan, bertemu dan bersebelahan dengan kakak atau adik kelas. Hp mungkin dikumpulkan di depan kelas sebelum ujian dimulai. Namun peluang untuk curang selalu ada. Ada yang memilih jalan pintas ketimbang harus bersusah payah belajar dan berlatih mengerjakan soal. Ia begitu kreatif. Sehingga ide itu muncul di kepalanya. Sistemnya setiap siswa yang selesai mengerjakan soal bisa keluar kelas terlebih dahulu. Ia hanya perlu menutup lembar jawabnya. Setelah ia pergi, dengan licik ia menyuruh adik kelas untuk membalik lembar jawab teman yang duduk di depannya, yang sudah pergi karena selesai mengerjakan soal. Kemudian dengan santai ia menyalin jawabannya. Ia merasa beruntung karena duduk di belakang siswa cerdas. Baginya, toh ia tidak merugikan temannya. Baginya, jalan pintas itu lebih menyenangkan.

Orangtua yang berprofesi seorang dokter, menginginkan anaknya melanjutkan prestasinya. Tentu mereka kaget dan marah, saat tahu anaknya, yang pintar ternyata masuk penjurusan IPS. Mereka tidak terima, karena mereka tahu anaknya mampu untuk masuk jurusan IPA. Ancaman untuk pindah sekolah siap mereka layangkan pada pihak sekolah. Tapi... bagaimana kalau itu adalah keinginan anaknya yang tersembunyi? Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka akhirnya berkomunikasi dan memutuskan untuk menerima hasil penjurusan tersebut. Mungkin anaknya berhasil meyakinkan orangtuanya, atau mungkin orangtuanya punya rencana lain, karena dengar kabar anak rekannya yang SMA jurusan IPS namun tetap bisa masuk kedokteran atau jurusan kuliah IPA dengan beberapa cara dan tentunya bukan usaha yang mudah.

***

Menengok diary jaman SMA membuatku melihat setiap scene di dalamnya lewat sudut pandang lain. Semakin aku tua, semakin banyak informasi, ilmu dan pengalaman yang aku punya. Hal itu mempengaruhi cara berpikirku.

Kalau dulu deretan kata di sana hanya sekedar pelampiasan emosi, dan tempat aku menyimpan memori dan informasi yang berkelebat di otak. Kini, deretan kata itu bukan sekedar apa yang ada di atas layar. Aku bisa menemukan kesimpulan baru, insight baru. Kalau dulu aku hanya mengenali teman-teman dan menuliskan mereka beserta kegiatan mereka, apa yang mereka katakan padaku, sikap mereka. Kini aku bisa melihat dan mengenali sisi serta karakter mereka. Betapa si A terkesan cuek tapi ternyata observant, atau si Y yang dalam diamnya begitu mudah jatuh hati pada orang lain.

Terakhir, tentu saja, aku banyak melihat tumbuh kembang diriku, *emangnya tanaman hehe. Bagaimana aku banyak berubah, tapi juga masih sama.

Oh ya, ada yang hampir ketinggalan. Yang paling penting padahal. Menengok diary masa SMA juga mengingatkanku, bahwa Allah selalu, dan selalu menghujaniku dengan kasih sayang dan nikmat yang tidak pernah bisa dihitung.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Wednesday, October 2, 2019

🍎

October 02, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-


I told you that we focus our mind on the wrong things. And the analogy I'd like to give is like the consumption of junk food. If you eat a lot of junk food, and then you've thrown an apple or two every once in a while, it's actually not necessarily a healthy diet. Nor are you going to see the positive effect of eat fruits once a year, just because your digestion is overwhelmed with foods that are no good for you. You understand? 
So what happens if you're constantly taking in useless information,  you're exposing yourself to what isn't beneficial. And then every once in a while, or everyday even, you're stuck in a lecture like this one, where you're hopefully maybe learning something positive, something beneficial. Then you're not gonna necessarily see positive results, like in one year out the other. Why? Because your mind is still focus on what? Corrupt things.
- Nouman Ali Khan
***

Jika boleh beregois ria, aku ingin menyimpan kalimat-kalimat di atas untukku sendiri. Karena saat aku menyalinnya di sini. Ada konsekuensinya. Dan aku takut akan konsekuensi itu.

Tapi menyimpannya di One Note, membacanya sendiri sesekali, aku rasakan tak berefek pada diri. Entah sekeras apa, sampai pesan dan nasihat yang benar itu sulit untuk dijadikan langkah kaki. Hm..

***

Maybe that's the challenge of our generation. Sekarang, saat begitu banyak informasi simpang siur. Dari mulai berita hoax, sampai update kehidupan hari orang-orang sekitar, termasuk hal-hal lain yang tidak seharusnya mengkonsumsi waktu kita.

Dan kamu bertanya, mengapa hidup terasa sulit? Coba tengok waktu luangmu!\

The question is how much free time do you and I spend, thinking about how terrible life is, sitting there doing nothing, letting our mind take us around in circles. While we sit there, completely unproductive, completely paralyzed. 
And Allah says, you have way too much free time on your hands and you're not exhausting yourself. When you're not exhausting yourself, you are allowing the difficulty to win.
- Nouman Ali Khan
***

Last but not least, an apple once in a year won't bring any effective effect. So please, stop consuming useless information. Please... stop wasting your time doing 'nothing'. Keep yourself busy doing things for the sake of Allah or help someone else.

Semangat^^

Monday, September 30, 2019

Be the Moon

September 30, 2019 3 Comments
Bismillah.

📸 from tumblr

Jadilah seperti bulan dan menginspirasi orang-orang bahkan saat kamu jauh dari sempurna.

***


Jika kita menunggu diri kita baik, dan berhenti menulis hal-hal baik, maka kita tidak akan pernah menulis.

Jika kita menunggu diri kita baik, baru kemudian berbuat baik pada orang lain, maka kita tidak akan pernah berbuat baik.

Jadilah seperti bulan, bulan selalu memiliki sisi gelap, ia bahkan mungkin bukan bulan purnama, cuma sabit, cuma separuh, tapi kehadirannya membuat orang-orang yang memandangnya terinspirasi.

Bulan memang bukan matahari, yang bersinar terang dari inti yang menyala dengan ledakan-ledakan cahaya. Bulan hanya bak cermin, yang memantulkan cahaya dari matahari, pada bumi di malam hari. Tapi pantulan cahaya itu cukup untuk membuat orang yang memandangnya tersenyum, ia tampak indah, meski dengan ketidak sempurnaannya.

Begitupun kita, jadilah seperti bulan. Kita menulis mengajak pada kebaikan bukan berarti kita sudah baik. Namun justru karena kita ingin menjadi baik. Kita hanya menjadi jalan, meneruskan cahaya yang kita terima dari Allah, lewat kalam-Nya, lewat hikmah yang Allah titipkan dalam kehidupan kita, lewat buku-buku yang kita baca, lewat kebaikan yang diberikan orang lain pada kita. Kebaikan itu, cahaya itu bukan dari diri kita, kita hanya meneruskannya, sumbernya dari Allah.

***

Be the moon and inspire people even when you're far from full.

Cahaya hatimu mungkin kini redup, hampir-hampir padam. Tapi cahayanya masih ada, dan kamu berharap Allah tambahkan lagi cahayanya, agar kembali terang dari gelap.

Maka kita melakukan amal baik, meski diri kita hina, jauh dari baik.

Maka kita menuliskan hal-hal baik, meski ada begitu banyak kata-kata buruk yang hendak tumpah, meski rasanya.... apa yang kita tulis jauh dari gambaran diri kita.

Maka kita mengatakan hal-hal baik, atau diam. Maka kita berusaha berpikir dan berprasangka baik. Even when we're far from good.

Karena kita berharap, dengan begitu Allah melihat hati kita yang ingin menjadi baik, meski saat ini kita jauh dari baik. Kemudian Allah permudah jalan kita untuk memperbaiki diri. Kemudian Allah berikan kekuatan agar kaki kita mampu terus melangkah, meski berulangkali jatuh. Dan semoga Allah sembuhkan setiap luka yang tercipta setiap kali kita terjembab. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

If You Find that You're Not

September 30, 2019 0 Comments
Bismillah.



"I hope you live a life you’re proud of. If you find that you’re not, I hope you have the strength to start all over again." - F. Scott Fitzgerald

***

Kita berharap menjalani hidup yang baik. Kita hidup dalam keluarga harmonis dan hangat. Tapi jika dapati keluarga kita tidak ideal, semoga Allah berikan kita kekuatan untuk menjadi sosok yang menjadi penyejuk hati keluarga, penjalin silaturahim jika anggota keluarga lain ada yang berselisih.

Kita berharap menjalani hidup yang baik. Pendidikan yang baik, pekerjaan yang baik, penghasilan yang cukup. Tapi jika kita dapati ada yang tidak begitu, semoga Allah beri kita kekuatan, agar memiliki jiwa yang suka mencari ilmu, dan jiwa pekerja keras dan pekerja cerdas, serta hati yang lapang dan penuh syukur.

Kita berharap menjalani hidup yang baik. Waktu yang terisi dengan kegiatan produktif. Ibadah yang istiqomah. Kita membawa manfaat bagi orang-orang sekitar. Namun jika kita dapati diri kita tidak seperti itu. Semoga Allah beri kita kekuatan untuk terus bertekad memperbaiki diri. Jika kemalasan dan ketidakproduktifan menyerang, kita berjuang untuk melawannya. Jika ibadah kita belum istiqomah, kita berulangkali bangkit untuk terus melakukannya semampu kita. Setiap kesalahan menjadi cambuk, agar kesempatan berbuat baik sekecil apapun selalu diambil.

Kita berharap memiliki hidup yang bisa kita banggakan, nanti di akhirat. Bukan sekedar kebanggaan hidup yang bersifat material. Bukan sekedar hidup yang terbungkus kepalsuan demi mengundang decak kagum orang lain. Namun jika tidak demikian, semoga kita diberi kekuatan untuk melihat mana yang lebih berarti dalam hidup kita, perspektif yang benar, prioritas yang benar. Sehingga setiap kali hati kita hampir berbelok, dari mencari ridha Allah menjadi mencari ridha selain Allah, kita diberikan kepekaan hati. Kepekaan hati yang mengantarkan kita mendengarkan lagi kalamNya, membaca lagi ayat-ayatNya, kemudian menyadari lagi, bahwa hidup yang baik, adalah hidup yang bisa kita banggakan di akhirat. Hidup yang mengantarkan kita ke surga-Nya. Hidup yang menghindarkan kita dari api neraka-Nya. Hidup yang diridhai Allah, sehingga semoga kita termasuk orang-orang yang diberi nikmat kelak berjumpa denganNya, memandang wajahNya. Aamiin.


Allahua'lam bishowab.

Friday, September 27, 2019

Waste of Talent

September 27, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Sebuah pengingat untuk diri. Dari Quran for Young Adults Day 6. Bayyinah.tv.

***


Another comment that might be hurtful but I think it's important. Cause I personally do feel the effects on it. It's that Fira'un, the Pharaoh was an incredibly oppressive human being. He decided that He does not want a generation of young man to raise in Egypt, you know, of the Israelites, because too many of them will create ruckus and they will stand up against the tyranny of the King. So he did it to control the population of young man. So he would kill every other year he killed all the baby boys. That was his policy. Kill all the baby boys every other year. And question arises, why not every year? Well because he still needs some population to be his future slaves. So he doesn't want to get rid all the man, but he wants to keep the population down. Because too many young man, and you might have a revolution on your hands. Right?

Nowadays, you don't actually have to kill babies every other year to keep the population of man from becoming too high. You can just keep them from ever turning into man. You can just keep them stays at kid, keep them as boys by just handing them an iPad, and an iPad mini, and, you know, PS whatever. Just when they're like 3 years old. And they'll hold on to that sucker until they're like 25. Sitting on their couch playing video games,  all day. Watching movies all day. And not getting a job, not taking from their college life seriously. They're not taking their career seriously. Not taking their religion seriously. Not taking anything in life seriously.

I'm actually seeing cases like this. Parents have come up to me, "Ustad you need to talk to our son, he's 27 years old, he stays home all day, he yells at his mother, he watches video games, he's in movies, it's all he does. He's dropped out of school. He's doing nothing with his life. This is a new phenomenon. And he's not motivated to do anything."

You don't have to kill that kind of a boy. He's not a threat to any injustice in society. He's not gonna be a contributor. He's not gonna speak out against any kind of wrong in societies. He's as good as…. He's a about as mobile as the furniture he's sitting on. You know? What a waste of talent. 

What a waste of talent. You know?

The young generation has to realize the power it possessed. And young generation also has to realize the dangerous it's in. The danger you guys are in, is because we are living in time where entertainment is so widely accessible and so infinite. There is no end. You know, life time will end, and the numbers of movies will not. Your life time will end, and the numbers of video games will not. You will never have played all of them. Never. There's still gonna be more. Which means you can spent your entire life wasted away in this. And then your life amount will meant nothing. You know? This is why being from the ulul albab is so important. 

***

Sudahkah kita paham apa yang kita miliki? Nikmat yang Allah beri? Waktu, kemampuan otak kita, fisik kita yang sehat, dll?

Sudahkah kita waspada terhadap ancaman dan godaan yang menyerang dari segala sisi?

Maukah kita menginfakkannya di jalan Allah? Untuk kebaikan diri kita sendiri?

***
Wasma'u wa athi'u wa anfiqu, and listen and obey and spend, khairan li anfusikum, all of that is good for yourself. That's good for you. Listening is good for you, this right now, what are you doing? Listening, It's good for you. But after listening, what you have to do? Obeying, that's good for you. And then, you have to spend up on it. You have youth which means you have time, spend up on your time. Your parents they have money, spend up on your money. You have talents, spend up on your talent. And all of that you would do for whose good? Your own good. Allah doesn't benefit, you benefit. 
Nouman Ali Khan, Quran For Young Adults Day 9

Allahua'lam.

PS: hasil listening sendiri, mohon koreksinya kalau ada yang salah. disarankan nonton langsung serialnya, lebih dapet feel-nya kalau dengerin langsung daripada baca.