Follow Me

Tuesday, July 31, 2012

Dilarang Berjanji dan Memutuskan

July 31, 2012 0 Comments

Seperti rencana awal, aku menjauh dan mundur teratur. Sejenak menjaga jarak dari mereka dan aroma rupa mereka.

***

Jangan memutuskan saat sedang marah, dan jangan berjanji saat sedang senang. Pernah mendengar kalimat tersebut? Nasihat bijak tersebut mungkin sekilas terdengar tidak masuk akal. Kenapa tidak? Membuat keputusan saat marah? Kenapa tidak? Berjanji saat senang?

keputusan dan amarah

Saat sedang marah, otomatis kepala dan hati panas. Tak bisa berpikir jernih. Yang dikedepankan tak lebih hanya emosi. Maka keputusan yang diambil pada waktu itu (baca: saat sedang marah), biasanya keputusan yang tidak tepat. Terlampau tergesa, hingga seringkali menimbulkan sesal di akhir.

janji dan gembira

Saat sedang gembira, dunia rasanya lebih indah. Segala hal terasa menyenangkan hati, fokus diri hanya pada rasa yang melambung di hati. Maka janji yang di ucapkan pada waktu itu (baca: saat sedang gembira), biasanya hanya sekedar imbas dari rasa gembira yang meluap. Sekedar berjanji, namun tak begitu memperdulikan isi dari janji tersebut. Terlampau tergesa mengiyakan janji, hingga seringkali menimbulkan sesal di akhir.



janji, keputusan dan perasaan kita

Perasaan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi janji dan keputusan yang kita ucapkan. Terutama bagi seorang perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi ketimbang logika-logika. Khususnya lagi bagi diri, yang kata seseorang 'too sensitive', terutama diri yang 'too serious facing everything'.

Bukan hal yang salah, menggunakan perasaan dalam membuat janji atau keputusan. Boleh saja kok^^ tapi untuk dua situasi ini, jika bisa hindarilah! Daripada menyesal di kemudian hari, dari pada mengecewakan ia yang diputusi dan dijanjii (haha -.- rusak tuh tata kata dan kalimat).

Jika memang keputusan harus diambil padahal hati sedang diserbu amarah. Jika memang janji harus dibuat padahal hati sedang menari gembira. Ambilah jarak dan waktu, tak perlu terlalu lebar dan lama. Sejenak saja, sejengkal saja. Dan netralkan dulu perasaan di dada. Semoga keputusan dan janji yang dibuat, bukan dominasi dari perasaan amarah atau gembira.

***

Keputusan ini memang tercipta saat jiwa sedang diliputi amarah. Tapi keputusan tetaplah keputusan. Sejauh ini tak ada sesal, menjauh dan mundur teratur membuatku merasa nyaman.

Perasaan nyaman ini tak seharusnya dijadikan alasan untuk menuli, dari nasihat bijak yang sudah kuakui kebenarannya : "don't decide when you're angry, don't promise when you're happy"

Wallahu'alam

Thursday, July 26, 2012

Lebih Baik dan Lebih Luas

July 26, 2012 0 Comments


-muhasabah diri-

Bismillah..

Ijinkan kali ini aku mengutip beberapa kata indah, dalam paragraf anggun. Sebuah hadist..

“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya
—dengan tidak meminta kepada manusia
dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—
Allah 1 akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri).

Siapa yang merasa cukup,
Allah
l akan mencukupinya
(sehingga jiwanya kaya/merasa cukup
dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).

Siapa yang menyabarkan dirinya,
Allah l akan menjadikannya sabar.
Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik
dan lebih luas daripada kesabaran.

(HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)
***


Rasanya, ada getir yang melekat di lidah saat kubaca kata-kata di atas.
Tapi getir ini tak menghalangiku untuk mengulang kembali, membaca, dan mencoba mencerna kembali kata-kata di atas.
 
Menjaga kehormatan diri, merasa cukup, dan menyabarkan diri.. tiga hal yang rasanya sudah asing di telinga. Rasanya sudah asing, mungkin karena aku sudah lama tak menerapkan ketiga hal tersebut.

menjaga kehormatan diri
Seberapapun sulit beban dan masalah yang menghadang. Jangan melulu meminta pada manusia. Menjaga kehormatan diri, berbeda dengan gengsi. Ia tidak hadir karena semata karena pandangan manusia.

merasa cukup
Keinginan manusia memang seringkali tak terbatas. Satu tercapai, masih banyak yang lain menanti diraih. Bukan berarti mebatasi diri untuk berkeinginan apalagi bermimpi, tapi seringkali keinginan dan mimpi itu melalaikan kita dari bersyukur. Sesekali tengoklah keadaan diri, ingat-ingat dan coba hitung nikmat yang sudah kita kecap hingga detik ini. Dan rasakan, bahwa segala hal sudah ada ini sebenarnya cukup. Cukup. Bahkan terlampau melimpah untuk diri yang hina, dan sering bermaksiat kepada-Nya.


menyabarkan diri
Barangkali baru sesekali Allah menguji kita dengan masalah-masalah yang membuat kaki berat tuk dilangkahkan. Barangkali memang sudah beberapa kali Allah menguji kita dengan luka yang tak sembuh sekedar diobati dengan obat merah. Barangkali memang sudah sering Allah menguji kita, dengan kondisi dan situasi yang membuat kita ingin menyerah saja. Tapi coba-lah bersabar. Hentikan keluhmu (TT). Jangan percaya kata orang "sabar itu ada batasnya". Tidak. Sabar itu tak terbatas oleh waktu, pantaskah kita mengaku sabar, padahal baru sejenak saja? Tapi sudah lebih dari tiga tahun? Bukankah Nabi Nuh menyeru selama ratusan tahun? Sabarkan diri.. sabarkan diri. Aku tahu ini tak mudah, at least try to.. karena tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.

Ya Allah, Ya Ghoffur.. Ampuni hamba. Yang sering kali melupakan harga diri. Ampuni hamba. Yang hampir tak pernah merasa cukup atas segala nikmat yang Kau beri (55:55 TT). Ampuni diri, yang sering mengeluh tanpa berusaha untuk menyabarkan diri.

Laa haula wala quwwata illa billah. Segala daya hanya milikMu. Gerakkan hatiku agar terus menyongsong cahayaMu. Tetapkan ia hanya padaMu, hanya padaMu, hanya padaMu.

Wallahu 'alam bishowab.

***
 
*Moku : Seminggu lebih tak menulis, padahal bisa saja kata ini terangkai dan membawa manfaat bagi orang lain. Ayo menulis lagi Bella! Kata A. Fuadi, "Menulis itu adalah cara asik untuk menjadi manusia yang bermanfaat", tidakkah kau tergoda untuk menjadi sebaik-baik manusia?

Ramadhan Sibuk, Ibadah?

July 26, 2012 0 Comments
Bismillah..

~Jadi malu sendiri, membaca beberapa posting sebelumnya. Hanya berisi curhat, dan hal-hal yang tak banyak memberi manfaat. Kembali ke jalan yang benar, Better Word for A Better World : tak sekedar kata, ia merubah, menginspirasi, mengajak tuk menjadi lebih baik.~

***

Ramadhan.. Ramadhan.. Bersama P3R,
Ramadhan.. Ramadhan.. Bersama P3R.. :)

Senyum sapa salamku untuk
menyambut datangnya bulan
yang penuh berkah
bersama P3R

Rasakan indahnya ramadhan
di masjid Salman ITB
bersama
"Satukan Hati Merangkul Umat"

Ramadhan.. Ramadhan.
Bersama untuk meraih ridho Yang Maha Kuasa
Ramadhan.. Ramadhan.
Isilah hari-hari kita, dengan ceria
bersama P3R :)

***

Senandung lagu soundtrack P3R 1433 H mengalun pelan dalam gumam. Ramadhan kali ini, keistimewaannya berlipat. Jika kemarin aku hanya menjadi penonton, merasakan asiknya duduk disekitar Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa, kita aku tak hanya diam dan menonton. Mungkin bukan peran utama, tapi paling tidak ambil peran (baca: jadi panitia).
Ramadhan, adalah bulan istimewa.. Bulan dimana, ribuan bahkan jutaan umat muslim berpuasa di siang hari, sholat tarawih di malam hari dan mengisi setiap detik waktunya untuk kebaikan (insya Allah).

Ramadhan ini, bisa jadi menjadi ramadhan terbaik bagi mahasiswa ITB angkatan 2011. Namun tak menutup kemungkinan menjadi ramadhan terburuk. Na'udzubillah. Kok bisa? Pasalnya, ramadhan ini ada banyak sekali kegiatan di kampus (meski sedang masa liburan). Mulai dari yang beraroma ramadhan (P3R), yang beraroma mahasiswa baru (OSKM, Simfoni), sampai.. yang beraroma kaderisasi (apalagi kalau bukan osjur).

Adalah sebuah kebanggan sendiri, bagi mereka.. yang bisa memanage diri, agar ibadah lancar, kegiatan/kepanitian juga oke (semoga kita termasuk di dalamnya). Tak hanya kebermanfatan untuk diri sendiri (ibadah vertical), tetapi ada juga kebermanfaatan untuk orang lain (ibadah horisontal) tentunya.. jika ia meniatkannya untuk Allah.

Adalah sebuah kerugian yang besar, bagi mereka.. yang melewatkan bulan Ramadhan, tanpa amalan terbaik. Padahal di bulan ini, semua amal baik dilipat gandakan pahalanya. Dan lagi, bisa jadi ini adalah ramadhan terakhir kita. Jika bukan di bulan ini, lantas di mana lagi kita bisa mengejar keterketinggalan kita?

Maka terutama pada diri, aku berpesan padamu.

Seberapapun sibuk diri, seberapapun tugas dan amanah bertubi-tubi menghantam.. jangan tinggalkan ibadahmu. Seberapapun kegiatan, tugas dan amanah menyita waktumu.. jangan biarkan ibadah sunah lepas. QL, tilawah, dhuha, sodaqoh, silaturahim, sholat rowatib, baca buku, dan masih banyak lagi.

Jangan sampai kau menyesal di akhir Ramadhan. :) Tetap semangat jalani hari. Tugas yang melimpah bukanlah rintangan, bukankah begitu dendang mars cahimpunan mu? Semoga Allah memberi kekuatan, dan pertolongannya :))

***

"A busy life makes prayer harder, but prayer makes a busy life easier" (anonim)

Wallahu'alam bishowab.

Wednesday, July 18, 2012

Menyerang Saat Tertekan

July 18, 2012 0 Comments
Bismillah

Mendengar pernyataannya, serta merta aku menatapnya sinis. Masih dengan wajah tidak sedap dipandang, kutimpali pernyataannya dengan jawab nan pedas. Serta merta dia-pun terdiam mendengar pernyataanku. Sejenak ia mendiamkanku. Mencerna mengapa sikapku seperti itu padanya.

"I didn't mean that.." ralatmu. Dan seketika aku pun sadar. Ah, I did it again.

***

Jangan ajak aku berdebat, karena saat tanpa sengaja diposisikan untuk berada dalam adu pendapat, yang akan kau dapati hanyalah kelemahanku. Tentangku, yang keras kepala lagi tak mau mendengar. Tentangku, yang selalu menyerang kala tertekan.

Jangan tanya kenapa aku berkali-kali menulis posting yang bercerita tentang diri. Jujur, aku sendiri ragu jawabnya apa. Yang jelas lewat tulisan ini, aku hanya ingin meminta maaf. Pada mereka terutama, yang pernah ku 'serang' saat aku merasa tertekan.

***

Untuk diri :
Jangan terlalu percaya pada tulisan itu! Tulisan yang membuatmu lantas menjadi nyaman menyerang kala tekanan menghimpit. Padahal kepribadian ini, bukanlah karakter. Jikapun ia unik dan menjadi ciri khas diri, bukan berarti ia menjadi alibi untuk terus mengulangi kesalahan. Bukan lantas menjadi alibi, untuk terus melukai perasaan orang lain dengan sikap-mu itu.

***

Aku masih belum menyadari kesalahanku, hingga yang berniat baik terpaksa meminta maaf. Kala niatnya kupertanyakan, dengan sebuah firmanNya. Sungguh, aku tak mengingkari atau meragukan niatnya untuk ber-amar ma'ruf padaku. Tapi saat itu, aku khilaf. Hingga sok tahu-lah diri, berceloteh tentang cara beramar ma'ruf yang benar.


"Pdhal bkn sperti itu amar ma'ruf yg dprintahkan oleh Allah. Cek 16:125."

ah sotak kali kau Bella! Memangnya kau sudah bisa mengamalkan amar ma'ruf yang seperti itu? -.-

***

Ya Allah.. Ampuni diri! Ya Rabb.. Pembolak-balik hati, bantu aku untuk menjaga sikap, agar saat tekanan menghimpit tidak ada hati yang terlukai, tidak ada pihak yang terhakimi.

Well. I know, aku akan lebih sering menyerang saat tekanan menghimpit. Tapi jangan jadikan alibi, untuk terus mengeraskan kepala. Karena adalah hal yang pasti, bahwa diri tak selalu benar. Bisa jadi orang lain lebih tahu banyak.

Kebenaran bisa kau petik dari mana saja. Allah menitipkannya kepada orang-orang di sekitarmu, mulai dari ia yang mencintaimu, sampai ia yang membencimu. Mulai dari ia yang muda, hingga ia yang tua renta. Masih ingin memetik hikmah dari mereka? :)) Stay positive! Jangan mudah tersinggung, jangan mudah menyerang, jangan keras kepala. Cobalah menjadi pendengar yang baik. Allah memberimu dua telinga yang terbuka, isn't that mean something?

Wallahu'alam

Wujud?

July 18, 2012 2 Comments
Satu demi satu,
kata demi kata,
frasa dan kausal,
dan makna yang hendak kupeluk

still this feeling hold me tight
still dancing with the words in hand

ah,
bicara apa aku

-.-
intinya : masih terganggu oleh pertanyaan yang sama
akankah wujud?

Selesai Satu Urusan

July 18, 2012 0 Comments
Bismillah..

Jika telah selesai mengerjakan suatu hal, maka kerjakan lah hal lain dengan sungguh-sungguh :))
Ya, kurang lebih itulah hal yang dapat kupetik dari ayat terakhir surat Al Insyirah.

Aku tahu, pada praktiknya tidak akan mudah. Tapi tak apalah mengingatkan diri. Agar tak lupa, bahwa setiap satu urusan selesai, akan ada urusan lain yang mengantri, menanti diri untuk segera diselesaikan.

Jadi jangan lah lengah! Jika sebuah urusan telah selesai, bukan saat kita untuk ber-selonjor-ria (baca: meluruskan kaki untuk beristirahat). Jangan lengah! Ada urusan lain yang menanti kontribusi diri, dan bukan dengan tenaga sisa, tapi dengan sungguh-sungguh. Seperti perintahNya, seperti firmanNya. :))

Wahai diri! Satu mungkin sudah usai, tapi ribuan lain menantimu :) Seperti pahlawan, mati satu tumbuh seribu. Dan amanah ini, dan urusan ini. Dan niat yang harus kau luruskan^^ agar tetap tertuju padaNya, agar tak berbelok dan menghasilkan kesia-siaan.

Wallahu'alam.

Melihat Kelebihan, Bukan Kelemahan

July 18, 2012 2 Comments
Bismillah

"Ibarat memiliki kapak yang tumpul, akan lebih mudah jika kita mengasah bagian yang sudah tipis, bukan yang masih tebal" ucap seorang pembicara di acara Bincang Inspirasi Kamis (BIKA) Aksara Salman ITB.

***

Pernah tes kepribadian atau psikotes, DISC, atau tes-tes sejenis untuk mengenal diri? Ekstrovert-Introvert-Sensing-Judging? Ya, semacam itu. Tes kepribadian yang disebut di atas, adalah sebuah upaya untuk mengenal diri. Dan diharapkan dengan mengenal diri, kita bisa memetakan potensi dan kelemahan kita. Jadilah kita lebih terarah dalam menjalani hidup. :)

Maklumlah jika mendengar kata-kata "Mengenal Allah jika sudah mengenal diri.". karena ketika sudah mengenali diri, ada banyak hal pada diri yang akan kita syukuri. Ketika sudah mengenal diri, kita dapat mengoptimalkan kemampuan dan potensi yang Allah berikan sesuai dengan peran kita.

Talking about mengenal diri, maka yang akan muncul bukan sekedar kepribadian, kelebihan atau potensi diri, tapi juga kelemahan diri.

Sering kali, saat mengetahui kelemahan yang kita miliki. Kita lantas berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kelemahan tersebut. Berusaha 'mati-matian' agar kita kelemahan tersebut dapat diperbaiki. Tak ingin orang lain mengenali kelemahan yang kita miliki, tak ingin orang lain tahu.'

Padahal nih.. bisa jadi, akan lebih mudah jika kita memfokuskan diri pada kelebihan yang kita miliki, bukan kelemahan diri. Kalo pemisalan dari Kang Firman, "akan lebih mudah menaikan 7 menjadi 9, ketimbang menaikkan nilai 4 menjadi 6."

***



Maka apapun kepribadianmu, apapun kelemahanmu, siapapun dirimu.. cobalah lebih bijak menyikapinya. Dengan cara fokus pada hal-hal yang positif. Jika sebuah kapak perlu di asah, jangan habiskan waktumu untuk mengasah bagian yang tebal. Jangan mengeluh tentang kelemahan diri, jangan pula memaksakan diri agar kelemahan itu hilang. Wajar kok, manusia memang tidak ada sempurna. Wajar, manusia penuh khilaf dan kelemahan.

Ya Allah.. :)) Aku tahu diri, tentang kelemahan yang menyelimuti diri. Maka bantu aku ya 'Alim, untuk menemukan diriku, menemukan potensiku, menemukan kelebihan diriku. Agar menjadi manusia yang mengenal tuhannya, mengenalMu. Agar menjadi manusia yang bermanfaat, bukan hanya untuk diri, tapi untuk orang lain. Aamiin.

Wallahu'alam

Jangan Sholat Di Sini

July 18, 2012 0 Comments

Bismillah..

"Kenapa kita nggak sholat di sini aja?" tanya seseorang kepada temannya.

Saat itu, adzan sedang berkumandang. Tak heran tempat wudhu akhwat padat dan sesak. Suara-suara berbaur, membuat bising sekitar. Tapi percakapan dua orang teman tadi, menebal dan menguat frekuensinya di telinga. Dan aku tertarik untuk mengetahui jawaban temannya.

“Jangan di sini!”

“Kenapa?” tanya temannya heran. Pertanyaan sama yang berteriak dalam hati, hingga mengerutkan keningku.

“Lama”


“Oh iya.. lama. Jamaah sih.”

***

-muhasabah diri-

Sesungguhnya ingin hati, mendengus keras di hadapan si penjawab. Kesal bukan main mendengar jawabannya. Tapi basuhan air wudhu, membuatku sejenak ingin berkaca. Pada diri, yang bisa jadi lebih hina dina daripada orang di atas.

Lima kali sehari. Bukankah hanya itu sholat yang di wajibkan pada kita? Masihkah kita mau menawar? Tak lebih dari 15 menit, sungguh bahkan tak lebih dari 10 menit. Tapi 15 menit itu, tapi 10 menit itu.. kau anggap menyita hidupmu. Kau anggap menyita waktumu. Sok sibuk kali dirimu, hingga tak kau ikhlaskan 10 menit lima kali dalam sehari untuk bertemu Tuhanmu, Penciptamu, Allah subhanahu wata'ala.

Wahai diri! Sebenarnya siapa yang menciptakanmu? Siapa yang berkuasa atasmu? Hingga dirimu lebih suka mengurusi dunia, ketimbang bertemu, menyapa, ruku', sujud dan khusyuk dalam munajat padaNya.

Lupakah diri? Ataukah sengaja kau lupakan? Tujuan hidup yang telah terukir jelas di kitabNya?

***

Jika tujuan itu sudah kau ketahui.. Lalu apa masalahmu? Hingga dirimu misuh-misuh tak jelas, masih saja mengeluh dan berusaha mengurangi jatah waktu sholat?

Engkau tidak diciptakan di dunia untuk bersenda gurau, atau sekedar belajar dan bekerja lantas kaya dan mati. Engkau tidak diciptakan di dunia untuk tenggelam dalam kelakar tawa, bersenandung biru, bergalau ria,  atau berbaris, push up, lari dan mati.

Masihkah kau berpikir untuk menghindari sholat berjamaah? Hanya untuk segera pergi dan berlari, karena kewajiban sudah kau gugurkan? Serendah itukah kau tempatkan sholat di hidupmu?

Cobalah kembali baca ini, lalu biarkan benih-benih cinta itu tumbuh dan mengakar. Bukankah ia (baca: sholat) memang seharusnya dicintai? Karena di sanalah, seorang hamba dapat 'bertemu' dengan Rabbnya. Mengeluh, mengadu, bersyukur, meminta tolong, tersungkur dalam khusyuk sujud kepadaNya, kepada Allah , Robbal Alamin. :))

Wallahu'alam.

Tuesday, July 17, 2012

Pertanyaan Ini

July 17, 2012 0 Comments
Jujur pertanyaan ini mengganggu tidurku. Aku tak tahu, akankah pertanyaan ini tetap menjadi pengandaian saja, atau bisa kuwujudkan.

Ini pertanyaan kontroversial, yang jika kuungkapkan aku tahu akan banyak komentar bermunculan. Entah mendukung, atau menghalangi. Tapi pertanyaan ini belum kunjung berubah sejak pertama kali ia muncul.

Lama sudah aku tak berkunjung ke sini, sekedar berbagi kata mencoba memeluk makna. Tapi kali ini, aku hanya berceloteh dan berceracau. Tampak tanpa makna. Ah. Aku tak peduli.

Hanya ingin bercerita, tentang pertanyaan yang mengganggu tidur.

"Bagaimana jika....."

Aku tahu. Tak baik berandai-andai. Jadi, bukankah lebih baik kuwujudkan saja? :P

Wednesday, July 11, 2012

Hingga Akhir Hari

July 11, 2012 0 Comments
Bismillah..
yang bertahan hinga akhir hari ini.
 *** 
 Seharusnya sih, aku biasa-biasa saja membaca tulisan di atas. Seharusnya, aku hanya terdiam dan tersenyum. Tapi jujur, ada perasaan tak bernama yang memaksaku menulis ini. Ada perasaan tak bernama, yang bergejolak ingin diekspresikan.
Jika baru kemarin aku berbicara tentang 'bertahan'-nya aku di sini. Maka membaca kalimat di atas somehow hurt myself. Karena membaca kalimat di atas, berarti mengetahui dengan pasti bahwa aku tidak berada di sana. Tidak bertahan hingga akhir hari, tidak hari kemarin, hari ini, bahkan hari esok. Aku tidak akan bertahan hingga akhir hari.
I know it's just me, who is too sensitive. I know it's just me, who takes everything so seriously.
Tapi aku. Seolah membaca kalimat di atas sebagai pertanda bahwa aku TIDAK PERLU bertahan di sini. Karena toh, aku tak akan pernah bertahan hingga akhir hari. Tak akan. Dan Allah, Insya Allah mengijinkan aku untuk tetap pergi dan tak bertahan hingga akhir hari.
***
Kepada yang bertahan hingga akhir hari, bolehkah aku bertanya? Apakah aku lebih baik beranjak saja dari sini? Apakah lebih baik aku pergi saja? Meninggalkan kalian yang bertahan hingga akhir hari?
Bukankah hanya sebuah beban, seseorang yang tidak pernah bisa bertahan hingga akhir hari?
 ***
Terakhir,
aku takut tulisan ini kemudian bermakna ambigu. Maka ingin kuperjelas. Adapun tulisan-tulisan di atas.. adalah efek dari ke-sensi-anku terhadap kalimat di atas. Bukan sebuah penyesalan atas diri yang tidak bisa bertahan hingga akhir hari. Sungguh, Ya Allah.. semoga benar! Karena sekalipun aku harus menyingkir dari mereka, menjadi sebagian kecil yang tak bertahan hingga akhir hari. Karena sekalipun aku harus mengasing dari mereka, menjadi sebagian kecil yang 'tak peduli' pada cap ansos. Aku rela :)
Maka tulisan ini, hanya sebuah getar-getir di jiwa. Baru kemarin aku berceloteh tentang 'bertahan', dan kini kubaca tentang sesiapa yang bertahan dan aku tahu, aku tak mungkin menjadi yang bertahan jika definisinya sesuai kalimat di atas.
 :)) aku baik-baik saja. Turut senang melihat mereka yang bertahan hingga akhir hari. Maaf,maaf. Karena sampai kapan pun, insya Allah.. aku tak akan pernah menjadi bagian dari kalian-yang bertahan hingga akhir hari-.
 
Wallahu'alam.

Tuesday, July 10, 2012

Masih di Sini

July 10, 2012 0 Comments
Bismillah

"Memangnya, apa motivasimu masih mau ada di sini?" tanya seorang teman yang mengaku ingin mengundurkan diri dari "sini".

***

A simple question, but I just can't answer surely. Hanya bisa menjawab dengan nada ragu. Takut, jujur takut.. kalau yang kukatakan saat itu tak lebih hanya sebuah alibi, sebuah pembenaran.



Aku tahu kondisinya tak mudah, aku tahu.. ada banyak hal yang pahit dikecap, perih dirasa. Ada banyak sekali hal yang ingin saja ditinggalkan, ditolak keberadaannya. Tapi saat ini, entah mengapa aku memilih untuk tetap berada di sini. Hingga ia yang ingin mundur dari sini menyadarkanku lewat pertanyaan simpelnya.

"Lantas, apa motivasimu masih berada di sini?"

Bukan. Aku bukan tersadar untuk kemudian pergi dan beranjak dari sini. Bukan. Tapi aku petik dari pertanyaan tersebut adalah tentang niat. Betapa niat ini, diuji bukan hanya di awal, tapi juga di tengah-tengah dan di akhir.

Misalnya bagi ia yang akan bersedekah,
ujian niat di awal adalah apakah sedekahnya untuk Allah, atau agar orang lain melihatnya sebagai sosok yang dermawan?
ujian niat di tengah adalah saat tiba-tiba anaknya merengek minta segera dibelikan gadget baru
ujian niat di akhir adalah.. setelah berzakat, entah mengapa ingin bercerita kepada teman.

Well.. aku tak tahu sudah di tahap mana aku? di awal kah? tengah kah? akhir kah? Yang jelas niat ini diuji. Apakah ia sekedar mengikut kebanyakan orang, ataukah sekedar mencari hal yang semu, ataukah karena Allah?

Stay strong!! Aku tahu, di sini kondisinya tak mudah. Tapi percayalah.. jika Allah menakdirkanmu untuk di sini, pasti ada hikmah di balik takdirNya. Tapi percayalah.. jika Allah menakdirkanmu di sini, pasti Allah memberimu kemampuan untuk bertahan dan melewati ini.

***

Jadi, apa motivasimu tetap di sini?

Wallahu'alam.

Artikel Bagus itu TIDAK PENTING!

July 10, 2012 2 Comments
Bismillah..

Katamu : tidak penting isi artikel yang kita tulis bagus banget. Iya lah, bagus aja kali.. bagus banget mah (heuu).

***

Pasti bingung ya membaca prolog di atas? Oke, jujur saya menulis ini dengan perasaan tidak netral (rada sensi + emosi).

Seseorang yang ahli di bidang web berceloteh padamu tentang pentingnya optimasi web. Dan muncul-lah nama web yang tidak ada 'isi'-nya, namun masih sering muncul di pencarian google. Untuk pendapat ia tentang pentingnya optimasi web, saya setuju. Tapi bumbu yang ia tambahkan untuk penjelas kalimat itu, yang membuatku geram. Keasinan. :|

Sebagai orang yang hobi menulis, suka memeluk makna lewat rangkaian kata, jujur aku TERSINGGUNG. Dan emosilah diri, mendengar berkali-kali ia menyebut kalimat itu (kalimat pertama yang ada di prolog).

Iya, oke. Saya tahu, optimasi web itu penting. Karena tujuan web dibuat adalah agar ia ramai dikunjungi. Tak peduli si pengunjung sekedar asal klik, atau memang benar-benar ingin membaca konten dari web.

Tapi, tetap saja. Jika yang kau tekankan adalah itu. Tak usah-lah lantas membuat yang lain tidak penting. Bagiku, apa yang kita tulis, mau di baca oleh seribu orang, seratus orang, atau bahkan hanya satu orang. selama itu kita niatkan untuk-Nya, selama itu bermanfaat bagi pembaca.. maka itulah nilai lebih dari sebuah web. Bukankah Allah tidak menilai sesuatu berdasarkan kuantitasnya? Bukankah ilmu yang bermanfaat lebih baik daripada sekedar ilmu yang banyak?

Well.. aku seharusnya paham. Yang ingin ia sampaikan sebenarnya bukan tentang TIDAK PENTING-nya sebuah konten di web, tapi tentang PENTING-nya optimasi web. Agar kebermanfaat sebuah web bisa meluas.

Sekalipun aku tahu maksud seseorang itu, somehow aku tak bisa untuk tak tersinggung. Tak bisa untuk tidak ber-alibi, "aku tak butuh pembaca/pengunjung yang banyak, cukup-lah Allah yang menuntun siapa-siapa saja yang tertakdir membaca tulisan ku".

Jujur, aku masih saja geram kalau mengingat kata-kata itu diulangi di hadapanku.

"tidak penting isi artikel yang kita tulis bagus banget,"
"percuma artikelnya bagus banget,"
dan kata-kata senada, dengan redaksi berbeda.

Hai dirimu! Si master web, aku tidak peduli pada pendapatmu. Bagiku, isi dari sebuah web (artikel, berita, dkk) itu PENTING untuk BAGUS! Penting banget! Sekalipun kenyataan nanti, menjadikan ia (bagusnya artikel/konten sebuah web) tidak penting. Itu tak menjadikanku lantas asal-asalan dalam menulis dan mengedit tulisan.


***

"Optimasi web itu PENTING. Jadi, untuk yang bertanggung jawab di postingan.. jangan lupa untuk menulis title, description, menambahkan featured image dan ......" aku hanya bungkam dan mengangguk-angguk pelan. Berharap ia segera berhenti berkicau.

Wallahu'alam.

*mohon maaf jika di sini penulis terlihat sangat sensi.

Osjur nan Ganteng

July 10, 2012 0 Comments

Bismillah

"Gimana osjurnya? Ganteng?" tanya seorang teman se-fakultas tidak satu himpunan (perempuan). Dan aku pun menyernyitkan dahi, heran. Hanya beberapa detik, kemudian menjawab "Iya.. ganteng kali (baca: ganteng sekali)".

***

Dan jujur aku takjub pada diksi (pemilihan kata) yang dipakai untuk bertanya tentang ospek jurusan (osjur). Ganteng, kata sifat yang lebih sering digunakan untuk penjelas kondisi wajah seorang laki-laki. Kejadian ini membuat kita sadar, bahwa kita seringkali terpaku pada diksi yang melulu itu saja. Terpaku pada kaidah bahasa indonesia. Weitss.. tunggu dulu, sebenarnya mengikuti kaidah bahasa indonesia merupakan hal yang baik. Namun, adakalanya (terutama bagi mereka yang mencintai fiksi, majas, perumpamaan, ungkapan, dan kawan-kawannya) kita harus berani mendobrak kebiasaan diksi yang telah ada. Tak hanya mengikuti apa yang sudah mendarah daging (baca: membudaya), namun melakukan inovasi dengan cara memadu-padankan kata-kata yang sebelumnya tak pernah bergandengan tangan.

Maka bagi yang suka bermain kata, jangan takut dan ragu untuk bereksperimen^^
jadilah :
desir bergemuruh
senyum menyingsing
tersedak tawa
mengalir tanya
memintal janji

dan masih banyak lagi. Bisa jadi, kreasi katamu saat ini aneh terdengar, membuat setiap pembaca menyernyitkan dahi. Tapi, siapa tahu ia akan membumi, atau terbang berkecipak menghias langit. Dan jadilah diksi baru yang gemar dipakai orang. 

***

"asiknyoo.. di osjur ku nggak ada yang ganteng-ganteng", ia menimpali jawabku. Aku lantas tersedak tawa, walau tak sampai riliskan nada (baca: tertawa dalam hati). Teman yang bertanya tentang osjur dan ganteng, ternyata tidak sedang bermajas, atau bermain diksi. Tidak, arti ganteng di sana ternyata lugas dan sebenarnya. Aku saja yang salah tangkap.^^

Wallahu'alam.

Monday, July 9, 2012

New Family

July 09, 2012 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahim :)

Ada kalanya hati, merasa sunyi ditengah keramaian,
atau ramai di tengah kesepian.

Dan tentang diri yang selalu kucoba tuk tutupi,
dan tentang orang lain yang selalu kujadikan orang asing.

***

Aku tak tahu, harus bercerita apa lagi tentang ukhuwah. Dan komunitas baru yang kutemui, dan senyum ramah orang-orang asing itu.

"Tingkatan cinta yang paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki dan bersih dari sebab-sebab permusuhan."

Dan aku ingin memulai cinta ini dari tingkat yang paling rendah. Keluarga baru ku :

1. Asrama Putri Salman ITB


2. ASCII


***

Tak ingin posting ini sekedar berisi curhatan. Maka ijinkan aku menulis notulensi materi ukhuwah yang di dapat dari MANIS (Mabit untuk Panitia Simfoni).

Iman berbanding lurus  dengan kualitas hubungan yang kita jalin pada sesama, juga bahwa tiap hubungan yang tak didasari iman akan jadi sia-sia.


Tahap-tahap ukhuwah :
1. Ta'aruf (mengenal) 
2. Tafahum (saling memahami) 
3. Ta'awun (Saling menolong) 
4. Takaful (saling menanggung)
5. Itsar (mendahulukan yang lain)

Friday, July 6, 2012

KOMANG* :)

July 06, 2012 0 Comments
Bismillah :)



Manajemen diri! Di saat-saat ini, saat berbagai kegiatan menenati kontribusi kita. Di saat-saat ini, saat selalu saja terbersit keinginan untuk lari saja dari 'masalah' yang membentang di hadapan. Di saat-saat, waktu benar-benar liar untuk dikendalikan.

Komitmen! Di saat-saat ini, saat sudah mendaftarkan diri di kepanitiaan ini-itu. Di saat-saat ini, saat nama sudah tertulis sebagai peserta kegiatan ini-itu. Di saat-saat ini, saat kepanitian, kegiatan dan segala rupa ingin saja kita buang.

Tanggung jawab! Di saat-saat ini, saat sudah kau anggukan kepala untuk sebuah amanah. Di saat-saat ini, saat kau sudah berkata "siap mengerti". Di saat-saat ini, saat pilihan sudah kau ambil, keputusan sudah kau genggam dan tindakan sudah kau lakukan.

***

Tiga kata di atas, merupakan tiga kata kunci yang di dapatkan dari SPARTA day 1. Tiga kata yang mudah diingat, tapi untuk dipraktekkan? Selalu ada saja hambatan, selalu ada saja berat, dan tulisan ini, dan lisan ini.

Suatu malam aku bertanya pada seorang senior,
"Teh, gimana sih caranya memanage waktu, memanage diri saat dirasa terlalu banyak hal yang harus dilakukan, saat dirasa lelah sudah menggayut langkah? Sementara ada amanah-amanah yang harus kita penuhi, namun acap kali dijadikan yang ke-dua gara-gara satu kegiatan?"

dan si Teteh senior pun tersenyum, dengan suara lembut ia berkata..
"Jadilah dewasa! Kamu akan belajar dari keadaan ini. Pada akhirnya yang terpenting adalah, komitmen yang masih melekat."

Ah. Aku memang masih jauh dari kata 'dewasa'. Masih perlu menegak asinnya garam kehidupan untuk menjadi bijak, dan menghadapi masalah dengan cara yang lihai. Bukan dengan sembunyi, berlari, atau sekedar mengeluh kesana kemari.

Dan yang dititik beratkan oleh Senior tadi adalah komitmen. Karena sungguh setelah komitmen bisa kita jaga.. maka akan muncul tanggung jawab, yang menuntut manajemen diri. Karena sungguh, jika komitmen sudah kita lepas. Jangan tanya tentang tanggung jawab, apalagi manajemen diri.

***

Sedang belajar menggenggam komitmen, dengan lembut, bukan terlalu longgar, bukan pula terlalu rapat.
Dan tak bisa tanpa bimbinganNya, tak bisa tanpa petunjukNya, tak bisa tanpa dayaNya.

Ya Allah^^ jangan biarkan hati ini jauh dariMu~



Wallahu'alam bishowab.

*KOMANG = KOmitmen, MAnajemen diri, dan tANGgung jawab ; salah satu kandidat nama angkatan kkkk..

Monday, July 2, 2012

Dari Hati

July 02, 2012 0 Comments
Bismillah..
Dan satu demi satu kata menghampiriku
menari-nari di jemariku
menanti dengan tertib gilirannya di ukir
pada seberkas kertas kosong

Dan satu demi satu makna menggodaku
meloncat kian kemari di benakku
menanti tuk dikejar dan di tangkap
pada sebait kata di secarik kertas

Dan satu demi satu ekspresi menggelitikku
berbisik perlahan di telinga kananku
ia tidak menanti seperti kata dan makna
ia hadir saja, mengisi dan memenuhi rongga dada

maka saat mereka hadir,
kucoba tuk kaitkan kata dengan makna
tak terlalu longgar, tak pula terlalu erat

maka saat mereka hadir,
ekspresi tak mau ketinggalan kereta
ia hadir saja, menelisik di rongga dada
ia hadir saja, melengkapi kata dan makna
agar lebih berwarna

Can Not Refuse

July 02, 2012 2 Comments


Bismillah..

Tak bisa ku menolak,
saat lembut suaranya menyapaku pelan

meski hanya lewat handphone,
meski jika kuberdusta ia tak dapat membaca mataku
Tak bisa ku menolak.

***

Sejak awal, aku tahu ini pilihan yang sulit. Sebelumnya aku memang sudah mendapat info bahwa pada tanggal-tanggal ini sudah dimulai masa ospek jurusan HMIF maupun HME. Tapi mengingat aku yang sangat jarang pulang ke Purwokerto selama semester dua yang lalu, dan mengingat libur asli tiga bulan yang akan banyak kuhabiskan di Bandung ketimbang di Purwokerto. Dan mengingat, tentang kewajiban birrul walidain yang belum sepenuhnya aku jalankan dengan baik.




Aku tak hendak berpanjang lebar. The thing that I would like to tell you is.. that I can't, really I can't. To even say no.. terutama di saat-saat ini.

Maaf. Untuk semua yang merasa dirugikan akibat ketidakberadaanku di Bandung. Maaf. Untuk kontribusi yang seharusnya bisa kuberikan, namun terhalang oleh waktu dan jarak. Maaf.


***

Tak bisa ku menolak,
saat lembut suaranya menyapaku pelan

apalagi kini
saat pandangan mataku bertaut dengan pandangannya
aku tahu
aku memang tidak boleh menolak

***
  
dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman [31] : 14)
bukankah kita diperintahkan untuk menuruti perintah orangtua, selama itu tidak menyuruh kita menyekutukan Allah, menyalahi perintahNya dan melakukan laranganNya?

Wallahu'alam bishowab.

Sunday, July 1, 2012

What is Your Hobby?

July 01, 2012 2 Comments

Bismillah..

Dan untuk kesekian kalinya.. pertanyaan "Apa hobimu?" dariku dijawab dengan kebingungan oleh ia yang kutanya.

"Mmm.. apa ya?"
"Apa aja deh"
"Banyak"

***

Aku tergelitik untuk menulis tentang ini. Tentang hobi. Tentang jawaban kita, yang kini lebih seringkali bingung ketimbang mantap menjawab pertanyaan tentang hobi. Tentang persepsi hobi yang menurutku tidak tepat.

Hobi

Hobi merupakan sebuah kegiatan yang kita suka melakukannya (terutama di waktu luang kita). Enjoy jika kita melakukannya. Tak ada beban, bukan karena kewajiban, bukan karena tuntutan orang lain. Sepenuhnya karena keinginan hati. :))


Hobi

Bukankah ini bukan pertama kalinya kita di tanya tentang hobi? Lantas mengapa ada keraguan untuk menjawab, saat orang lain bertanya apa hobi kita?

Sering kali, kita yang tergagap dan bingung saat ditanya tentang hobi.. adalah karena

1. kita belum mengenali diri.

Tidak tahu, kegiatan apa yang jika kita melakukannya maka senang-lah diri, maka ria-lah hati (*jangan dibaca sombong ya), maka cerah-lah hari..

2. kita salah persepsi tentang makna hobi

Hayo ngaku? Siapa yang ragu untuk mendeklarasikan hobinya, karena tidak ahli di hobi tersebut? Simpelnya gini, misal kita hobi nyanyi, tapi suara kita nggak emas. Jadilah kita malu untuk mengungkapkan hobi tersebut pada orang lain. Atau kita hobi main sepak bola, tapi menggiring bola saja kita belum mahir. Atau kita hobi menulis, tapi.. tulisanku nggak sebagus Habibburahman El Syirazi (penulis novel AAC).

Hobi itu biasanya ditentukan oleh passion kita. And passion is (NOT) about you’re good at. It is what you enjoy the most!


Hobi

Jangan menjawab pertanyaan hobi dengan jawaban standar macam : makan dan tidur. Sebenernya nggak masalah sih, tapi coba deh.. cari jawaban lain yang lebih menggambarkan tentang dirimu. Don't be way too mainstream. Hehe :D Kita tahu, semua orang enjoy dan suka melakukan kegiatan seperti makan dan tidur.

Ah ya, satu lagi.. Pada ia yang menjawab hobinya adalah beribadah. :) Nice answer, tapi aku menyarankanmu untuk mencari jawaban lain. Bagiku, beribadah bukanlah hobi. Ia (baca: beribadah) adalah kebutuhan sekaligus kewajiban kita. Ia adalah tujuan mengapa kita diciptakan. (51:56)



Hobi

Whatever your hobby is, mau ia juga menjadi hobi banyak orang (misalnya membaca), atau ia jarang sekali menjadi hobi orang (misalnya menjahit).. Jika memang hal itulah yang paling suka kau lakukan, paling enjoy jika dilakukan, maka itulah hobimu. Jangan biarkan persepsi orang lain membuatmu ragu untuk menyatakan hobimu, lantas menggantinya dengan hobi lain yang sebenarnya tidak sepenuhnya kau sukai.


Hobi

Hobi akan menjadi hal yang paling sering kita lakukan di waktu luang kita. Jika ia tak hanya bermanfaat untuk diri :) Maka sebuah poin plus untuk kita. Jika ia kita tujukan untuk Allah, maka poin plus-plus untuk kita. :)) Jadi, kalau bisa.. pilihlah hobi yang bisa bermanfaat bagi orang lain, dan juga ditujukan untukNya, dengan jalanNya.



Wallahu'alam bishowab..

(terilhami saat mengisi buku perkenalan SPARTA HMIF 2011)

***

"Hobiku membaca dan menulis, apa hobimu? :))"*

"wo de aihao shi....... "

jika bersedia, isilah titik-titik di atas di komentar ya^^ (bahasa indonesia saja :P)

Jika Seseorang Bertanya Padamu

July 01, 2012 0 Comments
-muhasabah diri-
*a selftalk

 Bismillah..



"Semua yang ada di bumi itu akan binasa," (55:26)


Tidakkah kita meyakininya? Bahwa semua yang ada di bumi, nantinya akan binasa?



Jika seseorang bertanya padamu, mengapa kamu bekerja dan mengejar dunia? Padahal sudah jelas ia akan binasa?

Jika seseorang bertanya padamu, yakinkah kamu.. bahwa apa yang kamu lakukan saat ini adalah untuk akhiratmu? Bukan sekedar untuk mendapatkan kesenangan dunia?

Jika seseorang bertanya padamu, sejauh mana kau memaknai hidupmu di dunia? Apakah sekedar mengisi hari yang kosong? Sekedar menyibukkan diri tanpa tahu (atau lebih tepatnya tanpa ingin tahu), bahwa kelak apa yang kau lakukan di sini akan dipertanggungjawabkan?

Jika seseorang bertanya padamu, semua yang ada di bumi itu akan binasa. Ragukah dirimu? Atau kau masih saja mau menjawab :
“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.” (Al Mu’minun: 37)

Jika seseorang bertanya padamu, lalu apa yang akan kau lakukan setelah tahu semua yang ada di bumi akan binasa? Akankah kau meninggalkan bumi dan mencari planet lain yang bisa menyokong keberlangsungan hidupmu? Ke mars misalnya.



Jika seseorang bertanya padamu, lantas apa yang abadi? Tidakkah kau ingin tahu jawabannya. Coba buka ayat selanjutnya dari ayat di atas (55: 27)


وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (٢٧

dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.


Dan jika memang benar, ada seseorang yang bertanya hal-hal di atas padamu? Lantas apa jawabmu?

Wallahu'alam bishowab.