Follow Me

Wednesday, June 27, 2012

Are You Okay?

June 27, 2012 3 Comments
Bismillah..



*image taken from this

Wajahmu yang tak secerah biasanya, suaramu yang tak senyaring biasanya, membuatku tak tahan untuk melontarkan sebuah tanya.

"Kamu baik-baik aja?"

Mendengar pertanyaanku, kamu membuang muka dariku. Seolah tak ingin mata-mu terbaca oleh ku. Lebih dari 10 detik, tapi dirimu masih bungkam. Jika diammu adalah ya, kali ini aku tak yakin ia sebuah 'ya'.

"Kamu nggak papa (baca: nggak kenapa-kenapa) kan?"

Tanyaku sekali lagi. Akhirnya kamu mau menolehkan wajahmu kepadaku. Masih dengan bibir tertutup, perlahan kau menggeleng.

***

Pertanyaan "are you okay", "apa kamu baik-baik saja", "ni hao ma", dan pertanyaan sejenis diciptakan untuk memastikan bagaimana keadaan seseorang. Sebuah pertanyaan yang menjadi salah satu pertanyaan favoritku. Pertanyaan simpel ini bagiku, sudah menunjukkan simpati orang yang bertanya kepada ia yang ditanya. Sebuah pertanyaan sederhana dan to the point, yang menunjukkan kepedulian kita pada ia yang kita tanya.

Pertanyaan 'are you okay', biasanya merupakan pertanyaan retoris. Selain untuk benar-benar menanyakan keadaan seseorang, sebenarnya pertanyaan ini tetap dipakai sekalipun orang yang bertanya sudah tahu jawabannya. Ya, sudah menjadi rahasia umum bahwa jawaban dari pertanyaan "are you okay?" adalah "i'm okay". Atau versi bahasa indonesianya, 'aku nggak papa kok'.

Dan kita semua tahu, saat kita bertanya "are you okay?", sebelum itu.. kita sudah menerka keadaan mereka. Pertanyaan ini, merupakan ekspresi dari kekhawatiran kita karena seseorang terlihat tidak baik-baik saja. Pertanyaan, yang seringkali jawabannya adalah "I'm okay", sekalipun tebakan kita benar bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Kita mungkin sering kali melakukannya. Mencoba menyembunyikan keadaan sebenarnya, yang sudah terbaca oleh orang lain. Tanpa ada maksud untuk menutup diri. Jawaban "I'm okay" untuk pertanyaan "Are you okay?" seseorang kepada kita, adalah wujud simpati balik kita pada ia yang bertanya. Sebentuk simpati, agar ia yang bertanya tidak khawatir. Selain, bisa juga karena memang tidak ingin menceritakan kondisi diri.

Maka saat seseorang yang kita beri pertanyaan "Are you okay?", lantas menjawab "I'm okay". Jangan lantas berpikir, bahwa ia tidak mau terbuka kepada kita. Berkhusnudzon-lah (baca: Berbaiksangka-lah).. Karena saat menjawab "I'm okay", ia sedang meyakinkan kita untuk tidak khawatir. Saat menjawab "I'm okay", ia sedang meyakinkan kita (-dan dirinya sendiri) bahwa ia sedang berusaha mengatasi masalah yang ia rasakan. Bahwa ia bisa menyelesaikan kondisi tersebut sendiri, dan ia yakin bahwa ia akan baik-baik saja.

***

"Kamu nggak papa (baca: nggak kenapa-kenapa) kan?"

Tanyaku sekali lagi. Akhirnya kamu mau menolehkan wajahmu kepadaku. Masih dengan bibir tertutup, perlahan kau menggeleng.

Lapisan kaca di matamu menjelma menjadi bulir-bulir air, jatuh satu persatu membasahi pipimu. Dari gelengan kepalamu dan tangis tanpa suara ini, aku yakin jawabmu "aku tidak baik-baik saja". Meski bibirmu masih terkunci rapat.

Mendapati sikapmu dan jawabanmu, aku kehilangan ide. Tak tahu harus melakukan apa selain tetap berada di sampingmu. Tak mampu sekedar bertanya lagi 'mengapa'. Tak mampu sekedar menawarkan tissue untuk menyeka tangismu.

Ah. Kiranya aku lebih suka kau menjawab kau baik-baik saja. Meski keadaanmu tidak begitu. Karena dengan jawaban itu, aku tahu kau bisa menyelesaikan masalahmu. Aku yakin, kau akan baik-baik saja setelah keadaan ini berlalu.

Tapi kini, kau menjawab kau tidak baik-baik saja. Dan aku di sini mati kutu. Tak tahu lagi, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu. Karena sedari tadi, kau masih saja senyap, tenggelam dalam tangismu. Tak sedikitpun kata kau rangkai untuk menjelaskan ke-tidak-baik-baik-saja-mu. Tak sedikitpun nada.

Dan kini aku bertanya pada diri, 'bolehkah aku tetap di sini? atau kau ingin aku pergi dan membiarkanmu sendiri?'

 
***

Bersyukurlah.. saat seseorang yang kau tanya "Are you okay?" menjawab "I'm okay". Karena saat itu terjadi, yang kau perlu lakukan hanyalah percaya padanya. Bahwa kekhawatiranmu (bahwa ia sedang tidak baik-baik saja) bukanlah sebuah kenyataan. Dan sekalipun itu adalah sebuah kenyataan, kau tahu ia bisa mengatasinya sendiri. Dan saat itu terjadi (baca: ia yang tidak baik-baik saja berkata ia baik-baik saja), kau hanya perlu membantunya dengan tersenyum padanya, dan/atau tetap berada di sisinya.

Bersyukurlah..
karena jika saja, ia yang kau tanya "Are you okay?" menjawab "I'm not okay" (*meski tidak pernah aku benar-benar mengalaminya). Sungguh, tak ada yang banyak kita lakukan. Yang ada hanya kebingungan, don't know exactly what we should do for her/him. Terutama pada ia, yang hanya menjawab "I'm not okay", tanpa melanjutkannya dengan kalimat-kalimat penjelas.

***



Still this question is my favorite one,
karena ia menyadarkan ku untuk menjadi baik-baik saja..
saat keadaan memaksaku untuk tidak baik-baik saja..


maka jika diri terlalu sedih
jika diri terlalu penat
jika diri terlalu senang
jika diri terlalu emosi
jika diri terlihat 'tidak baik-baik saja'
tak perlu tunggu orang lain yang bertanya



bertanyalah pada diri
"Are you okay, Bella?"
"Kamu baik-baik aja kan?"


dan jawablah :)
"Sure, I'm fine"
"Yes, I'm okay"
"I don't feel that bad"
"I know, I'll be just fine"

dan jika jawaban yang tersedia hanya
"I don't feel, I'm okay"
"No, I'm not"
"I'm doubt, I am"


maka tak perlu ragu untuk menemuiNya,
berdialog denganNya..
lewat ruku' dan sujud kita
lewat tilawah dan muroja'ah kita


Allah is always listening to you :))



***

Wallahu'alam bishowab.. Selamat menjalani hari :)
Ni hao ma?
Wo hen hao, xie xie^^

Tuesday, June 26, 2012

Take A Rest!

June 26, 2012 0 Comments
Bismillah..
Dan tak tahu diri ingin menulis apa. Mungkin sebaiknya aku berbaring saja. Dan membiarkan diri terlelap. Karena jujur, fisik sudah menuntut untuk istirahat.





Untuk diri. Jangan sering-sering tidur larut malam^^ Jaga kesehatan. Ada banyak kegiatan memang. Ada banyak amanah memang. Tapi perhatikan juga dirimu^^ sayangi diri, makan teratur, istirahat yang cukup. Belajarlah manajemen diri yang baik.

Satu hal yang tak boleh dilupakan. Tetap istiqomah ya^^ Niatkan hidupmu, matimu, sholat, ibadah dan segala aktifitasmu untukNya. Insya Allah tak akan sia-sia. Well.. selamat beristirahat!

Monday, June 25, 2012

Bukan Waktu Sisa

June 25, 2012 0 Comments
-muhasabah diri- 


 Bismillah...

"...dan bacalah al-qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)" (QS Al Muzammil : 4)

Sediakanlah waktu terbaik kita untuk membaca ayat-ayat Allah. Waktu terbaik. Dengan perlahan-lahan. Bukan waktu sisa dengan tergesa-gesa.

***

Dan jujur saja aku tertohok. Merasakan kalimat di atas menunjuk padaku. :'( Takut sekali diri. Jangan-jangan selama ini, tilawah sekedar formalitas, sekedar mengejar target!

Dan semoga Allah membalas kebaikan dan pengingat yang dikirim via sms oleh si pengirim. Terimakasih sudah mengingatkan.

Wahai diri yang hina. Jangan beri Allah waktu sisamu, sedangkan dunia, manusia dan makhlukNya lebih kau prioritaskan ketimbang Allah.

Wahai diri yang kedil. Berikan waktu terbaikmu untuk Allah. Niscaya Allah akan memberikan keberkahan pada waktu yang tersedia. Meski hanya sedikit, satu menit, atau bahkan satu detik. Bukankah waktu di nilai bukan dari panjang atau pendeknya, tapi keberkahannya?

Wahai diri yang katanya merindu surga.
Luruskan niatmu. Bacalah Al-Qur'an di waktu terbaikmu. Bacalah Al-Qur'an dengan tartil (baca: perlahan-lahan). Biarlah waktu sisa untuk dunia dan isinya yang tidak kekal.

*Kullu man 'alaiha fan :  All that is on earth will perish (55:26)

Wallahu'alam bishowab.

Friday, June 22, 2012

Suka Mengeluh Lagi Kikir

June 22, 2012 0 Comments
Jika saja malam ini saya tidak bisa menulis sesuatu yang bermanfaat. Ijinkan Allah saja yang berbicara pada kita, tentang hal-hal yang seringkali kita lupa tuk maknai.
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir," (70:19-21)

*image taken from this

Sadar ataupun tidak, seringkali lisan ini terlalu banyak berkeluh kesah. Padahal, ada lebih banyak nikmat yang belum kita syukuri, ada lebih banyak nikmat yang sering didustakan.

Sadar ataupun tidak, kita sering kali kikir kepada Allah. Rizqi yang dibentangkanNya begitu luas, berapa persen yang kita relakan, kita rencanakan untuk masuk ke kotak-kotak amal? Berapa persen yang kita bagi kepada yang berhak (fakir, miskin, yatim, dll)?

Maka betapa Allah mengenal kita, hingga ia abadikan sifat 'keluh kesah lagi kikir' kita di dalam Al-Qur'an. Tapi benarkah semua manusia bersifat 'keluh kesah lagi kikir'? Simak ayat selanjutnya.. 
"KECUALI orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. karena Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).

dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.

dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 

dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.

dan orang-orang yang memelihara shalatnya.

mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan." (70: 22-35)
Ah... betapa kalimat di ayat 35 begitu menggoda. Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan. :)) Siapa pula yang tak tergiur pada surgaNya? Ya Rabb.. beruntunglah mereka yang termasuk pengecualian. Ijinkan kami menjadi salah satu dari mereka, menjadi salah satu hambaMu yang berkesempatan menikmati SurgaMu. Aamiin. :))

**untuk diri : sempatkanlah membaca terjemahan Al Qur'an serta mentadaburinya. Agar apa yang kau baca bukan sekedar formalitas, agar sampai di hati.^^

Sholat Dulu Ka!

June 22, 2012 2 Comments

-muhasabah diri-

Bismillah..

Dan ia dengan wajah innocent-nya tersenyum dan menjawab, “Sholat dulu Ka”. Dan aku yang sepintas saja mendengar kata-kata itu, jujur, tidak bisa tidak kagum pada keputusan yang ia buat di antara pilihan yang ada.

***

Ini tentang komitmen sholat di awal waktu. Tentang toleransi sholat tidak di awal waktu. Tentang, betapa panggilanNya jauh lebih mesra dan membuat kita seharusnya meninggalkan aktivitas apapun, dan segera menemuiNya, kala adzan.. mengetuk lembut gendang telinga.

Hari itu, kami istirahat 'dikawal'. Istirahat, namun masih berasa berada di dalam satu rangkaian acara. 'Dipaksa' untuk saling menunggu dan melakukan aktivitas istirahat (baca: sholat dan makan siang) bersama dengan kelompok masing-masing.

Dan di sinilah komitmen diuji. Ya, komitmen sholat di awal waktu.

Maka beruntunglah ia, yang bisa menggenggam erat komitmennya. Tanpa sungkan, memisahkan diri dari barisan yang berjalan tidak menuju ke masjid, padahal beberapa menit lagi adzan akan terdengar merdu.
Maka beruntunglah ia, yang insya Allah hatinya terjaga, langkahnya diridhoi, harinya diberkahi. Karena ia lebih memilih untuk menemuiNya, ketimbang sekedar mengikuti kebanyakan orang.

Maka beruntunglah si penulis, karena jika saja ia diharuskan memilih pada saat itu. Bisa jadi ia tak bisa menggenggam erat pilihannya. Bisa jadi, ia mengikuti kebanyakan dari mereka. :'( Padahal alibi 'tidak enak' menolak, tidak diterima jika ini berurusan dengan Allah.

Hei dirimu! Ya, dirimu! Yang sedang mengetik huruf demi huruf! Takutlah engkau kepada Allah! Sungguh IA Maha Besar! Maka tak pantas jika lebih kau pentingkan yang lain, padahal Allah JAUH LEBIH penting dari mereka. Dan Allah menegurmu lewat sosok di atas. Dan adakah dirimu mengambil pelajaran? Atau sekedar terkagum tanpa memetik hikmah?



Wallahu'alam.

Thursday, June 21, 2012

Terbata

June 21, 2012 0 Comments
-muhasabah diri-
Bismillah..
bermain kata di sini : www.magicofrain.blogspot.com
merangkainya di sini : www.betterwordforlife.blogspot.com

:)) *masih belajar, walau terbata.. biarlah^^ ijinkan aku tetap menulis Ya Rabb~ :)
-.-
Tulisan di atas adalah salah satu status jejaring sosial yang aku rilis, dalam rangka promosi blog. :)) Dan postingan kali ini, bukan untuk kembali berpromosi. Bukan. Sekalipun ada hal yang bisa diceritakan tentangnya. (baca: alasan kenapa ada dua blog, bedanya apa, dkk).
Ya, yang ingin kutulis kali ini adalah tentang terbata. Sadarkah kita, bahwa ada yang unik dari kata terbata? Setipe dengan kata tertitah, yang maknanya belum bisa berjalan dengan lancar. Terbata maknanya belum bisa lancar dalam membaca. Terbata berbeda dengan tergagap, yang pertama adalah karena baru belajar.. sedangkan yang kedua karena kekurangan diri. Seperti halnya tertitah dan tertatih, bedanya? :) I'm sure, you can conclude it by yourself.^^
Terbata.
Adakah yang pernah berfikir, mengapa terbentuk kata itu. Mengapa terbata, dan bukan ter-abece. Mengapa? Sadarkah kita, bahwa yang dimaksud dari terbata adalah ter-ba-ta. Got it?

*Ok, ini sekedar opini dan menebak. Jujur, belum benar-benar menanyakannya ke ahli bahasa.

Terbata
Terbata, seperti suku kata penyusunnya ter-ba-ta, berarti ketidaklancaran kita dalam membaca. Dan bukan membaca huruf-huruf latin dalam kalimat. Bukan. Tapi huruf hijaiyah. Huruf-huruf yang tersusun indah di Al-Quran.

 (*image taken from this)

Terbata
Membuat-ku takjub, terheran sekaligus tertohok saat mengetahui asal kata tersebut. Ah ya, ini tentang kemampuan kita membaca. Dan bukan membaca huruf-huruf latin yang sekarang kutulis. Tetapi membaca huruf-huruf hijaiyah dalam kalamNya. Sudahkah lancar? Ataukan masih ter-ba-ta?

Terbata
Seringkali kita lupa, tidak sadar, atau memang membiarkan. Membiarkan lisan ini dengan lancarnya membaca buku demi buku, mulai dari komik, novel, sampai buku sekelas kalkulus. Tapi ingatkah kita? Tentang membaca Al-Quran? Bagaimana kita dalam membaca Al-Qur'an, masih terbata kah, tersendat-sendat oleh waktu (baca: sok sibuk) atau bahkan sekedar membaca? Padahal jelas Allah memerintahkan kita untuk membaca Al-Quran dengan tartil!

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا... --> "... Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS Al Muzammil [73] : 3)

Terbata
Terbata itu sebenarnya tidak apa-apa. Mengingat Allah memberi 2 pahala pada orang yang membaca qur'an dengan terbata (pahala membaca qur'an dan pahala belajar). Yang jadi masalah adalah, jika kita berhenti belajar untuk menghilangkan ke-terbata-an itu. :'( Sudah tahu tidak lancar, tapi tak mau belajar untuk melancarkan bacaan al-qur'an dengan berguru pada ahlinya dan mempraktikannya setiap hari.

Terbata
Dan empat kesalahan umum (baca: mad, qolqolah, ghunnah, vocal) yang masih dilakukan berulang-kali. Dan makharajul huruf yang belum dikuasi dengan baik. Dan frekuensi serta kuantitas membaca yang memprihatinkan. Sampai kapan akan kau pertahankan terbata mu?

Jangan pernah malu untuk belajar! Pada siapapun, tentang apapun. Karena diri yang bodoh dan mau belajar jauh LEBIH BAIK daripada yang bodoh dan tidak mau belajar. Coba-lah liat sekeliling, adakah fasilitas yang bisa kita manfaatkan untuk memperbaiki bacaan qur'an kita? Les tahsin? Teman yang sudah mahir membaca al-Quran? Ayoo.. tunggu apa lagi. Jangan jadikan terbata mu menjadi tergagap, hanya karena kau berhenti belajar.

(*image taken from this)

**mengapa ter-ba-ta, dan bukan ter-a-ba, mungkin karena teraba sudah memiliki arti dapat di sentuh. Sedangkan saat itu, dibutuhkan kosakata untuk menunjukkan ketidaklancaran dalam membaca. Dan hadirlah : terbata.

Wallahu'alam bishowab.

Wednesday, June 20, 2012

Seek Allah's Forgiveness

June 20, 2012 0 Comments
-muhasabah diri-

Bismillah..
PadaMu Ya Allah.. hanya padaMu, kupinta ampun, maaf.

Tak terhitung. Sungguh, tak terhitung kesalahan dan dosa yang sudah kulakukan. Termasuk di dalamnya tulisan ini. Lisan ini. Ya, jika tulisan dan lisan ini hanya berhenti di kata. Tak menjelma menjadi laku.

Harus berapa kali kulantunkan istighfar? Jika Rasul saja, yang sudah dijamin masuk surgaNya, yang sudah terjamin bebas dari dosa, tak pernah bosan apalagi enggan untuk mengucap, 'astaghfirullah'.

-.- Bahkan, saat kesalahan tanpa sengaja kita perbuat.. lantas ucapan apa yang terdengar? Apakah 'astaghfirullah'? Atau kata apa? Adakah kau miliki kata yang lebih baik dari lata 'astaghfirullah' saat kau melakukan kesalahan?

TT Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Ampuni hamba Ya Allah, Ya Ghoffur, Ya Rahiim..

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS As-Shaff : 2-3)

Melupakan

June 20, 2012 0 Comments
Bismillah..

Jika melupakan masa lalu bisa membantumu mengatasi hari ini, maka lupakanlah^^

Jangan stuck dengan hari kemarin, walaupun benar adanya.. dari hari kemarinlah kita ambil pelajaran, agar tak terulang kesalahan, agar semakin baik hari demi hari. Tapi jika dengan mengingat hari kemarin, yang ada hanya penyesalan demi penyesalan. Atau harapan semu ingin kembali ke sana (baca: ke masa lalu). Lupakanlah! Lupakanlah!

 
***

Mudah sekali kiranya, kutulis kata demi kata di atas. Melupakan. Semudah itukah melupakan?

:)) Ya, i'm going to talk about forget-ing something (*rusaklah itu grammar, hehe peace :P)

Melupakan. Kata kerja transitif, benar tidak? Ya.. tanpa objek, maka kata 'melupakan' akan terdengar samar. Melupakan apa, siapa? Melupakan terkait dengan memori, otak dan juga hati. Kok bisa hati dibawa-bawa? :)

Pernah dengar atau baca qoutes ini?
"People will forget what you say.. People will forget how you look like.. But people, will not forget how you made them feel" -someone i forget-
Quotes di atas aku dapatkan waktu matrikulasi (*juli 2011 yang lalu). Membaca quotes tersebut, membuat kita sadar.. bahwa memori, bukan sekedar yang ada di otak, tapi juga yang di hati. Contoh real dari qoute di atas adalah pepatah lain yang bunyinya "first love never die". Cinta pertama, biasanya adalah yang paling diingat, susah dilupakan, dll. Kenapa? Bukan karena si dia yang cantik/tampan. Bukan itu, yang membuat kita ingat adalah.. karena itu pertama kalinya kita 'jatuh' cinta (*people will not forget how you made them fell).

***

Melupakan. Sebuah pilihan. Sebuah takdir. Sebuah kemampuan.

(*image taken from this)


Yang pertama (baca: melupakan sebagai pilihan), adalah hak kita. Ya, untuk melupakan atau tidak melupakan adalah pilihan kita. Jika ingin melupakan, maka buang jauh hal-hal yang bisa membuat kita ingat. Jika tidak ingin melupakan, maka rekam dan abadikan hal tersebut (bisa berupa foto, tulisan, video atau apapun).

Yang kedua (baca: melupakan sebagai takdir), adalah hak Allah. Ya, kita tak pernah benar-benar bisa mengendalikan apa yang ingin kita ingat dan ingin kita lupakan. Itu hak Allah. Allah bisa saja membuatmu lupa, padahal baru sedetik yang lalu ia dihadapanmu (*baca: kunci, buku, hp). Allah bisa saja membuatmu ingat, padahal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. IA-lah yang menguasai hati dan pikiran kita. Jika IA berkehendak, maka IA hanya perlu mengatakan 'Kun' (baca: jadi), maka jadilah.

Yang ketiga (baca: melupakan sebagai kemampuan), adalah keunikan masing-masing pribadi. Everyone was unique. Maka akan kau temukan seseorang yang bisa mengingat nama dan wajahmu hanya dalam hitungan detik. Maka akan kau temukan seseorang yang masih sering lupa nama dan wajahmu, walau setahun kau mengenalnya. Maka akan kau temukan, ia yang mengingat detail kejadian, atau ia yang melupakan dengan mudah hal-hal besar di hidupnya.

Terakhir tentang melupakan:

Bagiku, jangan paksakan diri untuk melupakan jika kau benar-benar ingin melupakan. Karena pada akhirnya, kau justru akan mengingat.

Bagiku, jalan terbaik untuk melupakan adalah dengan menyibukkan diri, melakukan banyak hal sampai tak ada waktu bagi diri untuk sekedar me-replay memori.

Bagiku, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, atau terlalu dikenang dan disebut-sebut. Ia adalah tempat kita berkaca dan belajar. Jangan lupakan masa lalu, sekalipun itu pahit atau berdarah-darah :P.. Berdamailah saja dengannya. :) Jika memang harus lupa, tak apa. Jika memang harus ingat, tak apa. :) Akan selalu ada manis, asam, asin, pedas, pahit tentangnya.


Wallahu'alam. :))

KeputusanMu, RencanaMu, Takdir baikMu untuk-ku

June 20, 2012 0 Comments
dan pertanyaanku
terjawab
dan doaku
terkabul

dan tak ada lagi risau
atau bimbang dan ragu

karena Engkau melindungiku
saat kuterlihat lemah
karena Engkau menjagaku
dari apa yang ingin melukaiku

:)) Ya Allah,
kini bukan lagi aku yang bertanya
tapi Engkau Yang Maha Mengetahui yang bertanya

dan aku tak bergeming mendengar tanyamu,
kecuali hanya lapisan kaca yang semakin tebal

"Fabi ayyi alaa irobbikuma tukadziban??"
"Maka nikmat Tuhanmu yang mana (lagi) yang kau dustakan?" (QS 55)

Tuesday, June 19, 2012

Take A Moment

June 19, 2012 2 Comments
*self-talk

Sekali-kali berhentilah. Berhentilah menulis. Jika yang kau tulis, tak lain hanya mencerminkan betapa lemahnya dirimu.

Daripada kau tulis unek-unek tak jelas yang menggumpal dan mengganjal hati. Lebih baik, kau coba syukuri hari ini.


Ya Allah.. Segala Puji Hanya UntukMu, karena pagi tadi.. kau masih memberi kesempatan padaku, untuk terbangun, dan menghirup oksigen..


Ya Allah.. Segala Puji Hanya UntukMu, yang telah merencanakan hari yang begitu indah untukku. Yang telah mengajarkanku ilmu dengan hikmah.

Ya Allah.. Segala Puji Hanya UntukMu, yang selalu membuka pintu taubat, sekalipun kepada manusia hina dina lagi berlumur dosa seperti hamba..

Ya Allah.. Segala Puji Hanya UntukMu, atas mata, tangan, kaki, kulit, jari, dan segala nikmat yang seringkali kudustakan..

Ya Allah.. Segala Puji Hanya UntukMu, Sungguh,.... Segala Puji Hanya UntukMu.

Ya Allah.. Segala Puji Hanya UntukMu, yang apabila kuberdoa "Tunjukkan kami jalan yang lurus" dengan sungguh-sungguh.. maka engkau akan memperkenankan dan mengabulkan doa ku. :)) Insya Allah. Karena aku tak boleh ragu pada janjiMu. :))

Monday, June 18, 2012

Singa, Tali, Sumur, Madu

June 18, 2012 0 Comments
-muhasabah diri-

Bismillah


The life must go on. Hitungan amal terus berjalan.
Saat ajal tiba, semoga husnul khotimah.
-- Cahaya

***

Ini tentang hidup dan mati. Ya, tentang kehidupan dan kematian. Saat Rasul bersabda, orang yang paling cerdas adalah ia yang paling sering mengingat kematian, bagaimana dengan kita? Wahai yang dadanya berdesir halus saat di sebut putra-putri terbaik bangsa. Wahai dirimu yang merasa cerdas, sudah berapa sering engkau mengingat kematian?

Benarkah kau kejar dunia untuk akhiratmu? Ataukah ia sudah bengkok? Setan menyerang kita dari berbagai arah, jika ia tak bisa menyerangmu dari belakang dengan membuatmu melupakan akhirat. Maka ia akan menyerangmu dari depan agar kau hanya fokus pada dunia.

Wahai yang berjiwa, yang hidup? Ingatkah diri bahwa akan tiba saatnya ajal menjemput? -.-
Apakah amal ibadahmu sudah cukup untuk menghadapi "hari itu"?

"Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan." (45:28)

Kematian itu sangat dekat. Tak ada yang tahu, tak ada yang menjamin, 15 detik ke depan penulis masih hidup atau tidak.

ijinkan saya mengutip sebuah kisah dari sebuah video yang pernah saya tonton :

Suatu hari, seorang manusia berlari terengah-engah. Di belakangnya terlihat seekor singa mengejarnya. Karena tergesa-gesa, ia terperosok ke dalam sumur. Beruntung ia masih sempat memegang sebuah tali, sehingga ia tidak jatuh ke dasar sumur yang di dalamnya ada ular besar. Ia bergelantungan, tak bisa lagi kemana-mana. Tak cukup sampai di situ, ternyata ada dua ekor tikus, tikus putih dan tikus hitam yang menggigiti tali yang ia pegang. Ia tak bisa lagi berkutik. Tapi sebuah sarang lebah yang sedang ditinggal penghuninya menarik perhatiannya. Dengan hati-hati ia memasukkan jarinya ke dalam saran lebah tersebut, kemudian menghisap madu yang melekat di jarinya. Sarang lebah itu,.. madu itu.. membuat ia lupa akan singa yang menanti ia di atas sumur, membuat ia lupa akan ular di dasar sumur, lupa akan tikus putih dan hitam yang terus menggigiti tali tempat ia bergelantungan.

Itulah pengibaratan manusia.
Tali adalah hidupnya,
sedangkan singa adalah kematiannya,
ular di dasar sumur adalah kuburannya,
tikus putih dan hitam adalah siang dan malam,
dan madu adalah dunia.


Wallahu'alam bishowab

Sunday, June 17, 2012

Kritik Yang Keriting

June 17, 2012 0 Comments
Bismillah..
"Prinsipnya gini, no one's can read what in your mind." kata seorang pengisi materi di sebuah Team Building Training.

 Mengkritik dan dikritik menurutku merupakan hal yang sama-sama tidak enak untuk dilakukan. Well, mungkin kebanyakan orang beranggapan bahwa mengkritik lebih mudah dari pada harus dikritik. Hal ini karena mereka menyandarkan bahwa menyalahkan orang lain, lebih mudah daripada berintropeksi diri.

Memberikan sebuah kritik itu diperlukan. Bagi mereka yang sungkan, atau takut justru membuat ia (yang dikritik) tersinggung, coba ingat lagi prinsip di atas. Dalam hidup ini, memang diperlukan keterbukaan dan kejujuran. Selain prinsip di atas, satu hal lagi yang jangan sampai dilupakan : niat. Ya, niatkan apa yang ingin kau ungkapkan (baca: kritik) adalah untuk membuat ia yang kau kritik menjadi pribadi yang lebih baik. Terus ingatkan diri, bahwa tujuan kita mengkritik, menegur, memberi saran padanya..bukanlah untuk merendahkan ia, atau membuat ia sakit hati. Tidak. Kita hanya ingin jujur dan berharap kejujuran yang kita ungkapkan membuat ia menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana dengan ia yang suka kritik tapi tak memberi solusi? Bukankah itu sama saja ia lempar batu sembunyi tangan? -.- Untuk masalah di atas, ada dua opini dari ku:

1. Point of view sebagai pengkritik (*pengkritik atau pengritik sih?). Pelajaran yang harus kita ambil adalah think before say. Kita memang harus terbuka dan jujur, tapi sebaiknya dipikirkan juga solusi dari kritik yang akan kita sampaikan. Sehingga nantinya, tujuan kita mengkritik orang tersebut juga lebih cepat terwujud (baca: ia yang kita kritik berubah menjadi lebih baik). Contohnya nih.. jangan hanya berkata "kamu tuh, orangnya suka banget sih menyendiri. Ansos banget" (1), tapi juga tambahkan "temen-temen baik semua kok, nggak ada yang nggigit" :P (2). Well bisa dirasakan sendiri kan.. jika hanya kalimat (1) yang diucapkan, kritik tadi kejam kali rasanya. Tapi, dengan kalimat (2).. insya Allah yang dikritik nggak tersinggung.

2. Point of view sebagai yang dikritik. Berhusnudzonlah pada ia yang mengkritik tanpa memberi solusi. Mungkin menurut ia (baca: yang mengkritik kita), kita bisa menemukan dan memetakan sendiri solusi atas kritik yang ia beri. Mungkin, ia bermaksud membuat kita lebih bijak dan lebih dewasa.. karena diharuskan memikirkan solusinya sendiri.

Talking about critique.. hal yang susah aja (*kalo susah banget mah.. :P) adalah menerima kritikan dari orang lain. Menurutku, ada dua tipe tanggapan kurang pas yang sering muncul terhadap kritikan yang ditujukan padanya. Yang pertama ia tersinggung, dan yang kedua ia tak peduli (baca: acuh). Yang pertama, mungkin hadir karena perasaan dan pikiran negatif. Merasa si pengkritik iri lah, merasa si pengkritik kejam lah, dll. Sedangkan yang kedua, hadir karena keras kepala dan antipati. Merasa tidak ada yang salah terhadap hal yang dikritik pada dirinya. Gampangnya gini, jika orang pertama dan orang kedua dikritik.. maka jawaban mereka adalah :
(1) "Maksudnya apa loh, mentang-mentang dia itu pendiem, lantas gue yang cerewet jadi di salah-salahin?"
(2) "Gue emang dari sono-nya gampang naik darah, so what?"


Kritik. Dikritik. Mengkritik. :) Memiliki seninya masing-masing. Maka jika kita dikritik, berterimakasih-lah pada si pengkritik, karena kita tak bisa melihat wajah kita sendiri tanpa bantuan cermin (*orang lain). Maka jika kita menjadi pengkritik, jadilah pengkritik yang baik.. jangan ragu untuk jujur, karen niat kita baik^^ tapi juga jangan asal ngomong, harus dipikirkan dahulu redaksinya agar tidak menyinggung, agar tak sekedar lempar batu sembunyi tangan.

Wallahu'alam

Kerja Keras = Harga Diri

June 17, 2012 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahiim..



Hidup ini jika saja kita mau bersantai-santai.. Tak banyak bekerja, dan lebih banyak bermain-main. Mungkin tetap bisa kita merasakan kemilau dunia yang memang sering melalaikan.

Tapi, benarkah kita mau bersantai-santai saja? Tidakkah hati ini tergerak untuk bekerja keras?

***

Ini tentang semangat kerja keras yang kudapat dari SPARTA day 0.

Informatika, adalah jurusan yang 'katanya' akan dipenuhi dengan badai tugas baik tubes (baca: tugas besar) maupun tucil (tugas kecil). Waw.. sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku mendengar isu tersebut. Jujur, jelas pasti ada rasa gentar dan takut mendengar isu yang berhembus tersebut, dan ketakutanku terjawab di SPARTA day 0.

Ya, sesi ba'da sholat dhuhur di isi oleh Kaprodi Teknik Informatika, Ibu Ayu. Dengan prolog tentang prodi komputasi dan peluang-peluang dan persaingan yang ada, beliau seolah ingin meyakinkan para mahasiswa di hadapannya, bahwa 'kamu berada di program studi yang menjanjikan'. Kemudian dengan cukup menarik, beliau memaparkan apa saja yang harus kita persiapkan dan lakukan selama perkuliahan 3 tahun di jurusan ini.

Dan sesi pertanyaan pun bergulir, sampai ada seseorang dari kami (baca: mahasiswa IF dan STI) yang bertanya tentang mata kuliah yang 'killer' dan butuh usaha lebih. Dan beliau pun menjawab:

"Memang untuk bisa mengoding dengan baik, perlu latihan dan latihan. Makanya, kerja keras dong! Jadikan bahwa kerja keras itu hal biasa." ujarnya (*kurang-lebih intinya itu).

"Ayolah kerja keras, kalian tahu.. saat saya belajar di Jepang, saya takjub pada masyarakat jepang karena prinsip mereka. Bagi mereka, kerja keras itu harga diri. Maka jangan heran kalau banyak yang bunuh diri lantaran nggak punya pekerjaan. Juga jangan heran jika kalian melihat orang yang sudah tua sekali masih mau bekerja, sekalipun hanya menjadi penjaga pintu tol atau pembersih di kebun binatang."

"Ayo kerja keras, sekarang ini nggak ada yang santai-santai terus bisa gaji-nya besar, hidupnya nyaman. Jadikan kerja keras sebagai budaya. Jangan melihat terlalu sempit dan dangkal, kerja keras ini nantinya juga untuk kamu di masa depan."

Dan banyak lagi, kata-kata beliau yang memotivasi kami untuk bekerja keras. Untuk tak lagi takut menghadapi tantangan hanya karena enggan bekerja keras. Selain itu tak lupa, beliau juga mengingatkan.. bukan hanya kerja keras yang kita butuhkan, tapi juga doa. Maka jangan lupa untuk berdoa dengan sungguh-sungguh juga^^



***

Kukatakan "Selamat Bekerja Keras" untuk diriku dan dirimu. :) Bukankah Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh? Let's work hard, dan niatkan itu untuk Allah^^ Insya Allah tak akan sia-sia.

Wallahu'alam.

Saturday, June 16, 2012

Ini Yang Terakhir

June 16, 2012 0 Comments
Bismillah..

Ya Allah, saksikanlah.
Aku tak mau menjadi orang-orang yang munafik.
Ya Allah, saksikanlah.
Aku kini ingin kembali padaMu
Ya Allah, saksikanlah.
Setelah hari ini, tak ada lagi alasan untuk tidak melakukan apa yang kukatakan.

Ya Allah, kuatkanlah
Ya Allah, kuatkanlah
Ya Allah, Engkaulah Sebaik-baik Penolong
Ya Allah, Engkaulah Sebaik-baik Pelindung
Maka jaga hatiku,
jaga hatiku,
jaga hatiku.

Ya Allah, Engkau Maha Melihat..
maka aku tak perlu peduli pada pandangan mereka
Ya Allah, Engkau Maha Mendengar..
maka aku tak perlu peduli pada pendengaran mereka

Robbana dzolamna anfusana fain lam taghfirlana wa tar-hamna lanakuunanna minal khoosiriin,
ya Allah kami telah menganiaya diri kami sendiri, sungguh jika Engkau tiada mengampuni kami, tiada mengasihani kami, maka kami benar-benar akan menjadi bagian orang-orang yang sungguh merugi 


Rabbana la tu-akhidzna in nasina au akhtha’na rabbana wala tahmil ‘alaina ishran kama hamaltahu ‘alalladzina min qablina, rabbana wala tuhammilna ma la thaqata lana bih, wa’fu ‘anna waghfirlana warhamna anta maulana fanshurna ‘alal qaumil kafirin.
"Ya Tuhan kami,janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada Kami,dan kurniakanlah kami rahmat dari sisiMu,sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

Bendera, Obor, dan Puisi Yang Mereka Bacakan

June 16, 2012 0 Comments
-muhasabah diri-
-hari ini 160612-

Dan saat suara demi suara adzan bersautan,
mereka.. orang-orang di hadapanku justru berteriak makin lantang..
berbicara tentang generasiku
tentang tanggung jawab bangsa yang tertumpu di pundak kami

Saat panggilan Allah, panggilan untuk menemuiNya
masih bisa terdengar jelas dengan telinga,
mereka.. ah, bahkan aku mungkin termasuk di antara mereka
hanya diam menuli pada panggilanNya,

dan bendera yang mereka gelar,
dan obor nan lilin yang mereka nyalakan
dan puisi serta kata-kata pemantik yang mereka deklarasikan
dan situasi ini



dan memang selemah-lemah iman,
ia yang hanya bisa membenci dengan hati
kemungkaran yang ia lihat di depan matanya

wahai dirimu,
bukankah sunnahnya mengubah kemungkaran dengan tangan dahulu?
jika tidak bisa, maka dengan lisan?
jika tidak bisa, hendaklah kau benci ia dalam hati?

jika, tak ada getar benci dan rasa tidak suka di hati,
kubertanya padamu, dimana imanmu?

apakah tidak cukup jelas bagimu,
bukankah sebuah kemungkaran,
jika orang-orang lebih memilih mendengar seruan manusia kepada selainNya,
padahal Allah memanggilmu..
sungguh Allah memanggilmu... memanggilmu untuk menghadapNya

Friday, June 15, 2012

Dimana Cinta Sejati?

June 15, 2012 2 Comments

Cinta apa yang kau cari? Aku mencari cinta yang sejati, yang abadi, yang hakiki. Mengapa? Karena dengan cinta tersebut, aku akan bahagia, aku tak akan merasa sakit. Bukankah sesuatu yang sementara itu bisa menyakiti hati kita? Karena suatu saat ia akan pergi dan menghilang.
Raise your hand, kalau kamu setuju sama paragraf diatas! Waaahh.. kayaknya banyak nih yang mencari cinta sejati. Mau tahu di mana cinta sejati berada? Sssstt…. sini-sini, let me tell you about it.


Sebuah cinta sejati nan abadi dan hakiki sebenarnya sudah berada dekat sekali dengan kalian semua. Dimana? Di sebelah kita kah? Bukan… jauh lebih dekat lagi. Lebih dekat lagi. Ia berada di palung hatimu. Kamu telah memilikinya, telah berjanji untuk menjaganya. Ingatkah saat kau mengucapkan janji itu pada Sang Pemilik Cinta?
Sebuah cinta tak terbatas telah ditunjukkan Sang Pemilik Cinta, Allah swt. kepada kita semua. Semua. Tanpa terkecuali. Tak perlu kita cari-cari bukti cintaNya pada kita. Tanpa perlu mencari, kita akan menemukan banyak sekali, satu diantaranya adalah Allah selalu ada untuk kita. Selalu ada saat kita membutuhkanNya, walau seringkali kita berpaling dariNya, sering melupakanNya saat kebahagiaan datang menyapa.
See? Cinta sejati itu sudah ada, sudah kita miliki. Tapi sudahkah kita menyambut cinta itu sepenuh hati? Sudahkah kita jaga cinta yang hakiki ini untuk yang berhak? Atau malah, kita dengan sombong mengabaikan cinta itu? Naudzubillahi min dzalik, semoga kita bukan termasuk orang-orang merugi yang mengabaikan cinta dari Sang Pemilik Cinta.
Allah swt. Maha Mengetahui hati hambaNya, maka dari itu Ia tidak melarang manusia untuk mencintai selain Dia. Seperti dalam Q.S. Ali Imran ayat 14 yang berarti :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Kita sah-sah saja mencintai selain Allah, asalkan kecintaan kita ini tidak melebihi rasa cinta kita kepada Allah serta sesuai dengan firman Allah (Al Qur’an).


Sudahkah kita mencintai Allah dengan sepenuh hati? Ada sedikit tips supaya rasa cinta kita kepada Allah semakin besar :
1.  Mengingat-ingat begitu banyak nikmat dan kebaikan yang telah diberikan Allah swt. kepada kita.
2.   Membaca Al-Qur’an dengan memikirkan dan memahami maknanya
3.   Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah swt, dan lain-lain
Kau mencari cinta sejati? Sekarang kau sudah tahu dimana ia berada. Ia ada di palung hatimu untuk Allah. Sudahkah kau beri cintamu seperti Allah memberimu cinta itu?


A nice song for Allah swt :
Meski ku rapuh dalam langkah kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam hati hanyalah padaMu.
Maafkanlah bila hati, tak sempurna mencintaiMu.
Dalam dada kuharap hanya diriMu yang bertahta. (Rapuh - Opick)


IK - ROHIS

*still from IK :))