Follow Me

Thursday, August 26, 2021

Teman Bacaku Saat Ini

August 26, 2021 0 Comments

Bismillah.



List teman dan komunitas yang menjagaku agar tetap membaca buku.


1. Grup WhatsApp Membaca Tiap Hari


Grup ini buatanku sendiri, karena merasa butuh, dan gak menemukan grup laporan baca setelah grup whatsapp GMIB dan Gen Al Fihri sepi. Grup ini khusus untuk perempuan. Sistem laporannya, share kutipan (foto/diketik ulang) dari buku, disertai keterangan identitas buku (Judul,Penulis, Penerbit).


Awalnya, aku share ini ke lingkaran terdekat, pernah share ke instagram juga. 10-an orang. Trus kemarin, pas join grup telegram Bookish Indonesia, memberanikan diri share info tentang grup ini. Banyak yang minat, jadi sekitar 25 orang. Habis itu tawaran di grup telegram Bookish aku tarik, aku persilahkan kalau ada yang mau buat sendiri. Jujur takut gak kehandle kalau banyakan orangnya.


Nanti mungkin kalau misal membernya sudah banyak yang gugur, aku buka lagi buat yang mau gabung. Kalau ada yang mau gabung sekarang bisa sih, silahkan dm instagram @betterword_kirei.


2. The Lady Book

Komunitas baca, khusus perempuan juga. Sistemnya pertemuan tiap hari ahad jam 7-9. Selain baca bareng tiap pekan ada program-program lain juga. Silahkan langsung cek aja ke instagram.com/the.ladybook.


Foundernya, adik tingkat, sebelumnya buat The Lady Book beliau yang mencetuskan program Read in Peace Al Murabbians.


3. Read in Peace (RiP) by Al Murabbians

Tadinya cuma buat muslimah, trus karena programnya bagus jadi dibuat untuk umum (laki-laki dan perempuan). Agendanya sama, baca bareng, baca beberapa menit, lanjut trus diskusi. Ini dua pekan sekali, hari Rabu malam jam 19.30-21.30. Jujur pas awal agak ragu sih, karena campur kan ya? Tapi karena yang ngadain kan ibaratnya kaya pemuda masjid *apa sih istilahnya? hehe. Intinya kemungkinan udah paham adabnya. Jadi deh ikutan. Dan alhamdulillah enjoy aja ikutnya, buat aku nambah wawasan sih, terutama karena bacaanku biasanya itu-itu aja. Dengan ikut program RiP atau The Lady Book, aku jadi dapet pengetahuan dari buku-buku yang mungkin gak aku baca.

Yang mau ikut, bisa langsung cek instagram.com/murabbians kontak CP, nanti dimasukin grup wa gitu. Di grup itu nanti di share link zoom dll.



Oh ya, yang ikut RiP lebih sedikit dari LadyBook. Engagementnya agak kurang. Pengen saran sebenernya, tapi siapa aku hehe. Kalau tiap agenda, harusnya mention anggota. Atau bisa pakai sistem broadcast whatsapp, dengan asumsi, semua anggota grup udah nyimpen nomer CP masing-masing.


4. LiteraSea Indonesia

Laporan baca juga. Sementara masih buat internal. Tapi in syaa Allah nanti bakal launching program SeRBook (Sebulan Read Buku). Aku sebenernya gabung di tim creative event, mohon doanya ya semoga lancar persiapannya hehe. Sementara, bisa cek di ig @litera.sea.


5. Others

Di luar itu, aku sebenarnya gabung juga di grup telegram Bookish Indonesia, masih gabung jadi non-member Arketipe, masih dapet email gitu, cuma qadarullah belum bisa ikut agenda bulanannya.

Oh ya, aku juga gabung di channel Ngemil Buku. Ini keren banget, karena pas sama yang kucari. Jadi agendanya bahas buku tertentu, tapi bahasnya dari kacamata islam. Tapi ini khusus perempuan juga sih. Kayanya yang ngadain para akhawat dan ummahat yang doyan baca. Udah bahas 2 buku, "Men are from Mars, Women are from Venus" sama buku "Rich Dad, Poor Dad". Ada rekamannya juga, aku kemarin dateng agenda Rich Dad Poor Dad telat, cuma denger sesi tanya jawab. Trus baru nyimak rekaman yang men are from mars bagian awal.


*eh ini oot sih. Tapi ada gak sih yang ngerasa sulit ngatur waktu buat nyimak beginian? Kaya misal ada agenda online, entah itu webinar atau kajian, trus kita ga hadir pas berlangsung. Ada rekamannya sih, tapi buat nyimak itu sesuatu. Ini balik lagi ke manajemen prioritas dan waktu kali ya?


Anyway, mari isi hari kita dengan kesibukkan yang baik. Trus, kalau misal kamu ingin membiasakan membaca, tapi butuh teman dan supporting sistem, jangan ragu untuk cari. Aku juga dulu muter-muter, pernah kenalan sama IMLA juga, seruu. Meski cuma dua kali kayanya dijelasin tentang bukunya Buya Hamka. Kalau kita udah cari, in syaa Allah nanti bakal nemu yang pas sama kita. Oh ya, Bookish Indonesia juga ada forum rutin tiap Sabtu jam 8, cuma itu jam-jam sibuk, dan biasanya bahas buku fiksi. Intinya, jangan salahkan kondisi yang tidak mendukung untuk baca buku. Tapi, buat sendiri dan cari sendiri supporting system yang akan ingetin dan motivasi kita untuk terus membaca.


Sekian. Semangat membaca!


***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Take A Walk

August 26, 2021 0 Comments
Bismillah.


Pesan pendek, untukku, atau untuk siapapun yang sudah terlalu lama duduk.

Berhenti! Ya, berhentilah sejenak dan berdiri. Kau sudah terlalu banyak duduk.

Ayo berdiri dan melangkah.

***

Hei! Sempatkan jalan kaki pagi atau sore meski hanya 15-20 menit.

Your body, your mind, and your soul need it. Feels the sunshine, break a sweat, breath a fresh air under trees.

Take a walk, have a tiny excercise. Take a walk, declutter your mind. Take a walk, while still being connected with Him. Maybe by doing dzikr. Or observing and pondering from what you see when you're taking a walk. How the grass is green, and the sky is blue. How the bird can fly, and not fall. *no it's not because they have wings. 67:19 (do I remember the right number?)

Anyway, you've been sitting for too long. Get up and take a walk. Or make yourself coffee or tea. Or stretch. Or have a snack. Or rest your eyes. Or take a no screen break. Or call a friend. And if you don't have one, call your family, your parents, they'll be happy that you call them first. (:

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Allahua'lam.

Sunday, August 22, 2021

Mengantri Meminjam Buku di iPusnas

August 22, 2021 2 Comments
Bismillah.

Ada yang pernah ngantri pinjam buku di iPusnas juga? Gimana rasanya? Hehe. Berhasil pinjem kah? Buku apa kalau boleh tahu?

***


Aku pernah dua kali mengantri pinjam buku. Yang pertama ini, buku Seni Mencintai-nya Erich Fromm. Setelah sekian lama kelewat terus notifikasinya, karena memang gak dibunyiin juga sih, jadi liatnya pas lagi buka aja. Alhamdulillah berhasil pinjem.



Tapi... eh tapi, setelah lama ngantri, aku kurang manfaatin waktu bacanya. Harusnya kan ya, kalau pas dapet giliran baca, serius baca, fokus, mumpung dapet nih buku 'limited' yang ada di iPusnas. Tapi nyatanya, aku cuma baca 3x, lumayan sih 40 halaman. *ketahuan kan rata-rata sekali baca cuma berapa halaman hehe. Bukunya mulai aku baca tanggal 14 Juni, trus besoknya 15 Juni aku baca lagi, dan yang terakhir tanggal 18 Juni. Aku sebenernya bahkan gak nyatet lama waktu peminjamannya berapa hari. Padahal ngantrinya udah lama, tapi setelah baca, aku kehilangan minat.

Kenapa hilang minat? Karena gitu deh.. setelah baca 40 halaman, aku ngerasa buku-nya nggak worth the wait, eits, ini pendapat subjektif ya. Mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung.

Jadi kan aku lagi suka, dan masih mau cari-cari buku tentang cinta tuh, tapi yang non fiksi ya. Setelah JCPP-nya Salim A Fillah, setelah Serial Cinta-nya Anis Matta, dan setelah Taman Orang-orang Jatuh Cinta-nya Ibnul Qayyim Al Jauziyah, aku udah punya frame sendiri tentang cinta kan ya. Trus pengen baca teori/opini dari buku barat. Tapi eh tapi, setelah baca 40 halaman, aku ngerasa gak cocok aja. Entah akunya yang gak open mind atau gimana, tapi aku kaya hilang minat aja sih. Gak beneran penasaran. Daripada baca buku itu, pikirku, mending baca buku yang sifatnya praktikal, misal yang bahas cinta dari dari sudut psikologi. Ini masih wacana tapi ya, belum jadi prioritas. hehe.

Btw, gara-gara nulis ini, aku juga kepikiran buat bikin artikel tentang buku-buku non fiksi tentang cinta hehe. Tapi, agak males nulisnya haha. Lumayan sih sebenernya. Karena selain tiga yang udah kubaca di atas, aku ada tambahan 2 buku lagi. Buku #💓 Rules of Love-nya Esty Dyah Imaniar, sama yang terakhir yang belum lama beres aku baca, buku Cinta x Cinta = Cinta² -nya Sinta Yudisia. Harusnya bisa ya, semua yang udah aku baca itu, aku buat sedikit deskripsi tentang bukunya, trus aku bandingin, trus jadi deh artikel tentang 5 Buku Non Fiksi tentang Cinta yang Pernah Kubaca. Tapi... nulis artikel itu berat, *ngeles aja nih. Aku lebih suka nulis kaya gini aja, kaya story telling, kaya curhat, kaya ngobrol sama teman imaji.

***

Mari akhiri saja, sebelum ngelantur. Pernah ngantri meminjam buku di iPusnas? Kalau belum pernah, coba deh, lumayan juga soalnya, meski nunggu, tapi setelah bisa dapet, rasanya excited gitu.

Trus ya.. aku pernah diajarin trik sih, gimana caranya bisa pinjem ulang tanpa ngantri lagi kalau misal udah dapet sekali tapi belum beres dibaca meski waktu pinjamnya udah habis. Mau tau? Ternyata mirip sama kaya perpus offline aja. Kalau kita pinjem buku, trus biar gak ngantri, ya pas balikin minta perpanjang aja. Gitu juga di iPusnas. jadi sebelum bukunya 'diambil' karena waktu pinjammu udah habis. Segera aja balikin, trus segera pinjem lagi. *tapi trik ini jangan dilakuin kalau gak niat dibaca ya. Kan kasihan user lain yang mau pinjem. Terutama buku yang banyak antriannya, kalau misal pas dapet, segera baca dan rampungkan.

Atau kalaupun kamu gak suka mengantri pinjam buku, kaya aku, coba sesekali iseng searching keyword yang kamu tertarik. Beneran deh, di ipusnas banyak banget buku menarik dan bagus, yang gak perlu ngantri. Ada lebih banyak buku yang bisa dibaca, dibandingkan buku yang harus mengantri untuk membacanya.

Jadi kesimpulannya, semangat baca semua~ start your first page, and enjoy the read^^

Fact Attack

August 22, 2021 2 Comments

Bismillah.




Beberapa kali baca buku, kemudian merasa 'diserang' oleh fakta. Berasa disindir, dikritik, diingatkan. Jadi mikir dua kali tiap mau nulis tentang buku di sini. Ehm ehm.


But in the end, aku akhirnya memilih untuk menyalinnya ke sini. Yang sudah dibaca lebih baik ditulis ulang dan dicatat. Untuk diri, berharap makin lekat dalam ingatan. Minimal untuk diri, semoga ga cuma di ingatan, tapi juga meresap ke dalam kalbu, mengakar, kemudian tumbuh menjadi pohon rindang yang berbuah manis.


***


Kisah Penggembala, dan Asma-Nya Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi)


Ada seorang pemuda penggembala yang bertemu Umar bin Khaththab. Tentu saja, saat bertemu ia tidak mengenali Umar yang saat itu menjabat sebagai Khalifah. Umar menghampiri pemuda tersebut dan meminta agar ia menjual satu domba yang digembalanya. Tujuannya untuk menguji kejujuran pemuda tersebut, untuk dijadikan tolak ukur kejujuran umatnya. Pemuda itu menjawab, bahwa domba tersebut bukan miliknya. Kemudian Umar menyarankan untuk menjualnya kemudian berbohong kepada pemilik domba. Kemudian jawaban pemuda tersebut membuat umar menangis. Aku sarankan baca buku ini[1] langsung atau dengerin kajian terkait kisah ini ya, biar lebih ngena. 


Bagian kisahnya saja sebenernya udah 'sesuatu', tapi yang ingin kusalin saat membaca itu, adalah paragraf tambahan dari penulis (Amru Khalid), Tentang sisi lahir dan bathin yang seharusnya sama-sama bersih.


"Pemuda penggembala dengan keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, dapat menangkap intisari ajaran Islam. Sementara itu, banyak orang berlaku sok khusyuk; sisi lahir tampak rajin beribadah, shalat, membaca dan menghafal al-Qur'an, serta berdzikir dan berdoa, tetapi sisi batin orang-orang seperti itu benar-benar penuh kebusukan dan keadaan jiwanya rusak parah."

- Amru Khalid [1] 


Reading that passage made me wondering, am I one of them?


Jujur aku merasa diserang, aku dibuat bertanya pada diri, apa kabar bathin-ku? Apakah selaras dengan 'branding' zhahirku?


***


Tentang Pentingnya Fokus dan Khusyu'


Yang kedua, masih sedikit nyambung. Membaca kutipan dari buku Kun Fa Yakun! Menembus Palestina, menjadi pengingat keras untukku. Diingatkan untuk bercermin tentang kekhusyuan shalat, diingatkan lagi untuk fokus ke Allah.


Jadi, di buku Kun Fa Yakun Menembus Palestina, setelah menulis tentang sejarah terkait palestina. Peggy Melati Sukma mulai menulis kisah beliau, dari awal niatan membantu gaza, sampai akhirnya bisa menggalang dana dan menyalurkannya ke Gaza, lewat bantuan program post-persalinan, dan juga membangun sekolah dan sentral untuk anak-anak disabel.


Oh ya, aku saranin baca sendiri lengkapnya, biar konteks dan feel-nya lebih ngena. Karena jika hikmah dirangkai dengan background kisah nyata yang terjadi, rasanya lebih nyess. Ketimbang kalau cuma mencicip sepotong kutipannya saja.


Semoga kutipan ini bisa buat kamu termotivasi untuk baca bukunya ya, ada di aplikasi iPusnas.


Kita manusia, banyak ketidakbisaannya. Banyak luput, banyak lupa, banyak lalai. Maka, dalam hidup ini kita harus fokus saja kepada Allah. Jika kita fokus kepada Zat Yang Mahabisa ini, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.

Cuma masalahnya, kita banyak gagal fokus. Kita ingin ini, ingin itu, mengejar ini, mengejar itu. Gara-gara itu semua, kita jadi tidak ingat Allah. Tidak ingin Allah. Atau ingat Allah sesekali, kalau shalat saja.

Masih mending kalau shalat ingat Allah. Kadang, kita shalat, yang kita ingat ya shalatnya saja. Sedangkan Allah kita lupakan. Asal shalat aja. Berebet, brebet, cepet-cepet, tapi hati tidak shalat. Tidak "ketemu" Allah. Astaghfirullah.

Ikhtiar kita mesti utuh. Lisan harus basah menyebut Allah. Hati dan pikiran ditujukan kepada Allah. Apa pun ingat Allah. Tujukan kepada Allah. Jika kita sudah berada dalam "orbit" Allah, tidak ada yang tidak mungkin.

- Peggy Melati Sukma [2] 


***


Jika merasa 'diserang' oleh buku yang kita baca, lalu?


Ada kalanya, membaca buku itu menenangkan, ada kalanya membaca buku itu mencerahkan, ada kalanya membaca buku membuat kita merasa dimengerti, merasa didengar. Tapi, akan ada pula saat membaca buku membuat kita merasa diserang. Seolah buku itu mengkritik kita tajam, memojokkan kita untuk menghadap ke cermin dan melihat ke dalam diri, barangkali di sana ada noda yang perlu dibersihkan, atau luka, yang mestinya diobati agar tidak infeksi.


Dan jika itu terjadi, semoga kita tidak reaktif dan memilih menutup buku. Semoga kita diberikan keberanian untuk terus membaca, menerima pukulan-pukulan yang mendidik tersebut. Kemudian pelan-pelan memperbaiki diri, dari serangan fakta tersebut. Semoga. Semoga Allah memudahkan kita. Aamiin.

 

Allahua'lam.


***


PS: Ah ya, izinkan aku menambahkan ini. Tentang buku lain, yang membacanya juga kadang kita mungkin merasa 'diserang' oleh fakta. Yang satu ini juga, jangan bosan membacanya, dan meski ada saat iman kita begitu lemah dan tangan kita begitu berat untuk membukanya. Tetap paksa dirimu membacanya. Karena jika 'serangan' buku lain mungkin bisa membuatmu merasa 'kalah' dan ingin menyerah. Berbeda dengan buku lain, Al Qur'an, ayat-ayat di dalamnya tidak akan pernah membuatmu merasa begitu. Karena selalu, dan selalu, ada penyeimbang setelah/sebelum pengingat tentang neraka, tentang kematian. Ada kabar gembira tentang surga, dan balasan di akhirat yang lebih baik. Ada juga pengingat tentang asma-asma-Nya, yang membuat kita belajar untuk 'terbang' dengan dua sayap raja' (harap) dan khauf (takut), dan tentunya, kita juga dengan 'terbang' kepala rasa cinta padaNya. Dengan tiga itu (cinta, harap, takut), kita merangkat, berjalan juga berlari menuju-Nya. In syaa Allah.


Keterangan

[1] Dengan Nama-MU Aku Hidup (Indahnya Hidup dengan Nama-Nama Allah) - Amru Khalid, Penerbit Maghfirah

[2] Kun Fayakun! Menembus Palestina - Peggy Melati Sukma, Penerbit Noura

[3] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Wednesday, August 18, 2021

SelfD #12 : What I Want To Be In The Next 5 Year?

August 18, 2021 0 Comments

Bismillah.


I'll answer it in some sentence. I want to be an inspiring writer. I want to be a wiser human being. I want to have a close relationship with quran everyday in my life. I want to be the coolness in their eyes.

And to be those, I need to keep learning, dan working and growing, and pray a lot. I need to have a concrete plan instead of day dreaming, I need to keep making progress.

That's all I can answer this question in this blog. I might have other specific answers, but for now, it's not for public consumption.


Last, a du'a that I want to put here. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina 'adzabannar.*


*I recommend you to read or listen to the explanation of that famous du'a. It will felt all different when you learn the meaning and the contain of that beautiful dua.


***


Keterangan :

Tulisan ini termasuk rangkaian 30 tulisan mengenal diri.




Friday, August 13, 2021

Lulusan SMU Dulu dan SMA Sekarang, Apa Bedanya?

August 13, 2021 0 Comments

Bismillah.


Pada era kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 40-50-an, siswa setingkat SMU sepanjang masa sekolah harus mampu menamatkan bacaan novel dan membuat resensinya sebanyak 25 judul. Novelnya bukan teenlit-chicklit, namun novel klasik. In Indonesia? No! Novel-novel yang disarankan bahkan diwajibkan dikonsumsi, ditulis dalam Bahasa Belanda, Jerman, Perancis, Inggris. Maka tak heran, sekalipun saat itu belum banyak universitas di Indonesia yang meluluskan sarjana S2 dan S3, para negarawan serta pemuda-pemuda di masa itu menguasai beberapa bahasa. Fasih berbicara, berwawasan luas, tajam dalam filosofis.

#daribuku Cinta x Cinta = Cinta^2 - Sinta Yudisia, Penerbit Indiva


Membaca kutipan di atas, rasanya jleb. Baru tahu informasi tentang kurikulum pendidikan dulu yang mewajibkan membaca 25 buku dan meresensi, dan bukan buku-buku ringan, tapi novel klasik dalam bahasa asing. Sudah membaca, bisa meraba-raba isinya dengan keterbatasan bahasa, lalu apa sudah selesai? Gak, tapi harus buat resensinya juga. Artinya ada kemampuan membaca kritis yang diasah, harus benar-benar mengerti, kemudian mengkritisi dan menganalisa.


Temen-temen yang biasa membaca tapi gak biasa menulis mungkin tahu kesulitannya, saat harus menuliskan resensi bacaan. Gak mudah. Aku saja, yang bukan nulis resensi ya, cuma nulis nukil buku, berbagi pengalaman baca, itu juga prosesnya sesuatu banget. Banyak stuck dan akhirnya berakhir berbagi kutipan buku aja. Gak ada tambahan kalimat dariku, proses mencerna bacaan-nya belum bener-bener jalan. Keinginan untuk berbaginya aja yang masih ada hehe. Sama lebih sering lagi, cuma ingin mencatat ulang agar suatu saat dibaca lagi oleh diri sendiri dan dirasakan lagi manfaatnya.


***


Kutipan di atas itu sesuatu..., karena kalau dibanding saat ini, kita mudah banget mendapatkan buku-buku bagus, yang aslinya berbahasa asing, tapi udah ada terjemahnya. Kecuali kitab-kitab bahasa arab yang bagus, yang katanya memang sulit cari versi terjemahnya. Begitupun video, udah dipermudah banget dengan adanya subtitle.


Kutipan di atas itu sesuatu..., dengan ketersediaan bacaan terjemahan, sudahkah kita membaca?


Kutipan di atas itu sesuatu..., apa kabar kemampuan bahasa kita? Bahkan kemampuan bahasa indonesia aja kayanya masih stagnan karena kita jarang baca buku. Kosa kata kita itu-itu saja >< maluu.


***


Oh ya, ada yang penasaran gak, hubungan kutipan tersebut sama judul bukunya? Hehe. Oke, cerita dikit tentang bukunya deh. Jadi penulisnya Sinta Yudisia, *ehm, iya kalau aku lagi suka baca tulisan orang, biasanya terus aja baca. Keinget jaman SMA-awal kuliah banyak baca bukunya Salim A. Fillah. Atau kalau video, banyak nonton video-video Ustadz Nouman Ali Khan.


Judul bukunya, cinta kali cinta sama dengan cinta kuadrat. Sub judulnya, biar masa remajamu nggak sia-sia! Ini sebenernya semacam buku panduan untuk remaja sih, tapi dibaca buat dewasa juga masih cocok banget. Terutama yang punya anak yang usianya menuju remaja, atau yang pengen belajar terkait tema.


Quote tersebut ada di bagian tentang dengan apa remaja harus disibukkan. I still relate to that though. Let's just study and read more, while waiting the times to come when it comes to love hahaha. *felt really cringy and shy writing this.


Anyway, jangan salah fokus. Intinya, ada banyak, banyak banget yang bisa dilakukan ketimbang jatuh pada cinta yang salah. Terutama kalau kamu remaja. Kalau kamu banyak baca, bacaan yang gak cuma tentang kisah cinta fiksional, kamu akan dapat banyak hal lain yang lebih bermanfaat daripada tenggelam dalam virus merah jambu yang berakhir sakit hati. Though every heartbreak might give you big lesson, but it's better to guard your heart tight. Semangat menjaga hati~ Semangat membaca^^


Allahua'lam.


12b

August 13, 2021 0 Comments

Bismillah.

#nostalgia

*warning* just memory that you might not want to read.


***


Nomer itu istimewa, lewat nomer itu aku bertemu dengan empat orang shalihah. Dua orang saat matrikulasi, cuma 1 bulan padahal, tapi rasanya menjadi begitu dekat. Hm.. jadi kangen. Dua lagi, selama setahun.


Can I mention name here? Nur Faizatus Sa'idah. Nining Rohayati. Berlian Filda Yofita Serli, Siti Rosidah.


***


Saat matrikulasi, aku sering dikira anak FMIPA, dan aku senang-senang saja dibilang begitu. Ada rahasia dan begitu banyak hikmah, mengapa Allah menempatkan aku untuk tinggal sekamar di gedung tua, lantai dua, 12b. Kamarnya persis di pojok sebelah kanan, saat selesai naik tangga. Satu bulan matrikulasi, pertama kali merantau, mengenal dua orang sunda, Meski gak sekamar, sejak matrikulasi kami (aku, Ida dan Nining) sudah sering juga main bareng sama Berlian, termasuk sama temen-temen kamar sebelah dari FITB (Uus, Farah, Tatik, dll).


Setelah matrikulasi, aku berkenalan dengan Siti, anak SBM yang kalem banget. Lalu bertiga dengan Berlian, kami menjalani kehidupan sebagai roomate. Setelah TPB kami terpisah, aku ingat pernah berkunjung ke kosan Siti. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sampai suatu hari kami dipertemukan di sebuah perjalanan, dalam sebuah bis. Aku lupa walimah siapa yang kami kunjungi, tapi kami satu rombongan bis. Kami mengambil satu dua foto bersama, kemudian membuat grup wa bertiga, 12b, foto profil grupnya bahkan tak diubah apapun.


Dari grup itu, 2021, silaturahim terjalin lagi. Sebuah kabar gembira dari tanah minangkabau. Rasanya terharu membaca undangan virtual tersebut. Teringat beberapa waktu, sebelum pulang ke Purwokerto, sempat bertukar pelukan dengan Berlian. Tersenyum membaca kalimat Siti dan membayangkan mendengar suaranya. Alhamdulillah aku masih ingat suara kedua teman istimewa tersebut. Berlian berbicara dengan ritme cepat, logatnya mirip sama orang-orang padang pada umumnya. Kontras dengan suara Siti yang ritmenye pelan dan kekhasan logat sunda.


***

Hanya ingin menyimpan ini di sini. Sebagai bentuk syukur, karena Allah menakdirkan aku bertemu kalian. Terima kasih telah menghiasi masa mudaku *emang sekarang udah tua hehe. Ada begitu banyak memori dan pelajaran. Terima kasih masih mengingatku. Maaf, jika aku banyak salah.

Terakhir, mari tetap jalin silaturahim ya. Meski cuma lewat doa. Meski tidak sering. Semoga kelak kita bertemu lagi, di sini, atau di tempat yang jauh-jauh lebih baik. Aamiin.

Tuesday, August 3, 2021

A Goodbye (?)

August 03, 2021 0 Comments
Bismillah.

*warning* mayoritas curhat

A goodbye or two (?). Dua komunitas literasi.

***

I've never been good in goodbye. Jujur, sebelum dua yang akan dibahas di sini, ada satu yang sampai sekarang jejaknya belum kuhapus. Logonya masih ada di blog ini, meski komunitasnya beku, resmi selesai sepertinya. Sabtulis. Hmm.

Masuk ke topik yang akan kubahas di sini. A goodbye (?) + dua komunitas literasi.

Yang pertama. KMO Indonesia. Yang kedua. Arketipe.

Yang pertama. Waktu itu kakak dan keluarga di purwokerto. Di telegram ada undangan silaturahim via zoom di grup PJ Aktif KMO Club. Aku.. Sebenarnya sudah tidak aktif. Sekali jadi PJ di Batch 25, lalu ga ambil amanah jadi PJ di Batch setelahnya. Aku menyimak, dan mendengarkan. Gak sampai akhir, jam 10 malam aku left duluan. Tapi dari zoom yang tidak lama tapi tidak juga singkat tersebut, aku mendapatkan "energi baru". Diingatkan oleh Kang Tendi untuk memperbesar cakupan mimpi kita. Jangan cuma untuk diri sendiri. Aku tidak mencatat detailnya. Tapi malam itu berkesan. Jadi keesokan harinya, aku menyapa di grup telegram.

Sekian waktu berlalu. Dan aku, menyadari akun telegramku sudah gak masuk grup PJ Aktif. Hmm. Sejujurnya sakit sih hehe. Tapi alhamdulillah gak sensi, atau baper. Karena sudah pernah dikeluarkan grup lain dulu. Experience really do teach you lessons.

Is it time to say goodbye? Begitu aku membatin.

Yang kedua. Setelah beres program SERI dari Arketipe, kami menunggu lama. Lalu muncul-lah program baru. Tapi ada sesuatu yang jadi konsekuensinya. Grup telegram yang isinya peserta SERI dan SABUK dihapus. Hmm. Yasudah. Padahal di sana aku udah lumayan nyaman untuk bersuara.

Aku daftar program 66HariBacaBuku, trus ga keterima wkwkwk. Ada program non membernya. Daftar juga. Tapi ternyata ga ada sama sekali engagementnya. Ada sih, via email. Padahal minimal berharap ada grup telegram lagi. Begitulah, ekspektasi pada siapapun, jika bukan Allah, maka pasti kecewa.

So I ask myself again, is it a goodbye?

***

Jawabannya.

Yang pertama bukan a goodbye. Qadarullah wa maa syaa Allah. Saat masih sering kepikiran KMO dan mencoba meredam rasa telisik, sebuah pesan masuk. Ditawarin untuk jadi PJ lagi. Batch 37. Bismillah. Aku iyakan tawarannya. Sekarang -meski masih gak gabung di grup telegram PJ Aktif-, sedang proses persiapan. In syaa Allah tgl 10 Agustus materi pertama. Kali ini dapet kelompok 26-fiksi. Bismillah. Doakan semoga Allah mudahkan dan kuatkan. Semoga bisa amanah.

Yang kedua, maybe it is a goodbye.

Masih ada kata "maybe". Karena gatau nanti kalau jodoh lagi, mungkin bisa ikutan lagi programnya.

Tapi tapi.. Sebenernya memang, ada komplemen dari arketipe. Ada Literasea, aku diamanahin di creative event. *trus jadi keinget tugas yang belum beres. ><

Anyway, mungkin Allah ingin aku fokus. Jalani saja, bismillah. Banyak istighfar. Aku teringat isi buku Kun Fa Yakun, Menembus Palestina. Bagaimana Mba Peggy Melati Sukma, perjalanannya hingga bisa mengunjungi tanah suci ketiga. Tentang buku itu, doakan aku bisa nulis nukil buku-nya yaa.

***

Penutup.

In life, we'll meet this kind of question. Maybe a lot, cause "Hello" and "Goodbye" are pairs.

Aku teringat Al Mulk ayat 2. Kematian yang disebut terlebih dahulu ketimbang kehidupan. Mungkin begitu juga "goodbye", karena itu sebuah kepastian.

Teruntuk manusia, tempat, komunitas, momen, luka, memori. I want to say,

"I still learn how to say goodbye, or have a goodbye"

Teruntuk Allah. Izinkan aku menulis ulang doa yang masih belum kuhafal ini. Semoga, semoga, doa ini tulus naik ke atas. Bukan hanya tulisan penghias yang hanya terbaca, namun tidak termaknai.

“Allahumma inna nasaluka salamatan fi ad-dini wa afiyatan fil-jasadi wa ziyadatan fil-ilmi wa barakatan fi ar-rizqi wa taubatan qablal-mauti wa rahmatan indal-mauti wa maghfiratan ba’dal-mauti. Allahumma hawwin alaina fii sakaratil-mauti wannajata minannari wal-afwa indal-hisabi,”.

"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu keselamatan di dalam beragama, dan kesehatan pada jasad (tubuh dan jiwa), dan limpahan ilmu, keberkahan dalam rizki, taubat sebelum kematian menyapa (datang), rahmat saat kematian tiba, dan ampunan setelah kematian itu terjadi. Ya Allah, mudahkanlah atas kami di dalam menempuh sakratul maut, berikanlah keselamatan dari siksa neraka, dan ampunan di hari hisab”. [1]


Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan:



Half 2021 Reflection on Writing

August 03, 2021 0 Comments
Bismillah.

Di blog ini, berkurang drastis >< bahayaa..

Tapi sebenernya aktif buat konten di instagram. Gak aktif banget sih. Dan mayoritas mindahin juga. Tapi energinya sesuatu.

Ada tulisan yang mengganjal dari Januari, ngadat belum juga beres diurus. Mohon doanya ya. Harusnya ini jadi karya cetak kedua setelah antologi bareng K39 KMO Club Batch 25, yang judulnya panjang banget hehe.

Trus, ini random, dan loncat jauh. Tapi ingin cerita, beberapa waktu lalu aku mimpiin beberapa tokoh Firasat Mahasiswa, projek sangkuriang tapi berhasil menelurkan majalah INSpira!

Lanjut ke nulis. Evalnya, kalau pegang laptop, jangan konsumtif. Menulis please.

Trus... Kalaupun ada fase ga bisa banyak pegang laptop, nulis di hp kan bisa. Meski mengetiknya butuh tantangan. Gapapa. Toh dulu juga udah pernah ngalami kan. Semangat~

Menulislah Bell, sesederhana apapun. This is your safe zone. Jangan banyak overthinking dan akhirnya ga nulis. Write with your right brain.

Terakhir, doa. Ya Allah jadikan setiap tulisan di sini kebaikan untukku, di dunia dan akhirat. Cause better words will make a better life. In syaa Allah.

Allahua'alam.