Follow Me

Wednesday, June 27, 2012

Are You Okay?

Bismillah..



*image taken from this

Wajahmu yang tak secerah biasanya, suaramu yang tak senyaring biasanya, membuatku tak tahan untuk melontarkan sebuah tanya.

"Kamu baik-baik aja?"

Mendengar pertanyaanku, kamu membuang muka dariku. Seolah tak ingin mata-mu terbaca oleh ku. Lebih dari 10 detik, tapi dirimu masih bungkam. Jika diammu adalah ya, kali ini aku tak yakin ia sebuah 'ya'.

"Kamu nggak papa (baca: nggak kenapa-kenapa) kan?"

Tanyaku sekali lagi. Akhirnya kamu mau menolehkan wajahmu kepadaku. Masih dengan bibir tertutup, perlahan kau menggeleng.

***

Pertanyaan "are you okay", "apa kamu baik-baik saja", "ni hao ma", dan pertanyaan sejenis diciptakan untuk memastikan bagaimana keadaan seseorang. Sebuah pertanyaan yang menjadi salah satu pertanyaan favoritku. Pertanyaan simpel ini bagiku, sudah menunjukkan simpati orang yang bertanya kepada ia yang ditanya. Sebuah pertanyaan sederhana dan to the point, yang menunjukkan kepedulian kita pada ia yang kita tanya.

Pertanyaan 'are you okay', biasanya merupakan pertanyaan retoris. Selain untuk benar-benar menanyakan keadaan seseorang, sebenarnya pertanyaan ini tetap dipakai sekalipun orang yang bertanya sudah tahu jawabannya. Ya, sudah menjadi rahasia umum bahwa jawaban dari pertanyaan "are you okay?" adalah "i'm okay". Atau versi bahasa indonesianya, 'aku nggak papa kok'.

Dan kita semua tahu, saat kita bertanya "are you okay?", sebelum itu.. kita sudah menerka keadaan mereka. Pertanyaan ini, merupakan ekspresi dari kekhawatiran kita karena seseorang terlihat tidak baik-baik saja. Pertanyaan, yang seringkali jawabannya adalah "I'm okay", sekalipun tebakan kita benar bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Kita mungkin sering kali melakukannya. Mencoba menyembunyikan keadaan sebenarnya, yang sudah terbaca oleh orang lain. Tanpa ada maksud untuk menutup diri. Jawaban "I'm okay" untuk pertanyaan "Are you okay?" seseorang kepada kita, adalah wujud simpati balik kita pada ia yang bertanya. Sebentuk simpati, agar ia yang bertanya tidak khawatir. Selain, bisa juga karena memang tidak ingin menceritakan kondisi diri.

Maka saat seseorang yang kita beri pertanyaan "Are you okay?", lantas menjawab "I'm okay". Jangan lantas berpikir, bahwa ia tidak mau terbuka kepada kita. Berkhusnudzon-lah (baca: Berbaiksangka-lah).. Karena saat menjawab "I'm okay", ia sedang meyakinkan kita untuk tidak khawatir. Saat menjawab "I'm okay", ia sedang meyakinkan kita (-dan dirinya sendiri) bahwa ia sedang berusaha mengatasi masalah yang ia rasakan. Bahwa ia bisa menyelesaikan kondisi tersebut sendiri, dan ia yakin bahwa ia akan baik-baik saja.

***

"Kamu nggak papa (baca: nggak kenapa-kenapa) kan?"

Tanyaku sekali lagi. Akhirnya kamu mau menolehkan wajahmu kepadaku. Masih dengan bibir tertutup, perlahan kau menggeleng.

Lapisan kaca di matamu menjelma menjadi bulir-bulir air, jatuh satu persatu membasahi pipimu. Dari gelengan kepalamu dan tangis tanpa suara ini, aku yakin jawabmu "aku tidak baik-baik saja". Meski bibirmu masih terkunci rapat.

Mendapati sikapmu dan jawabanmu, aku kehilangan ide. Tak tahu harus melakukan apa selain tetap berada di sampingmu. Tak mampu sekedar bertanya lagi 'mengapa'. Tak mampu sekedar menawarkan tissue untuk menyeka tangismu.

Ah. Kiranya aku lebih suka kau menjawab kau baik-baik saja. Meski keadaanmu tidak begitu. Karena dengan jawaban itu, aku tahu kau bisa menyelesaikan masalahmu. Aku yakin, kau akan baik-baik saja setelah keadaan ini berlalu.

Tapi kini, kau menjawab kau tidak baik-baik saja. Dan aku di sini mati kutu. Tak tahu lagi, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu. Karena sedari tadi, kau masih saja senyap, tenggelam dalam tangismu. Tak sedikitpun kata kau rangkai untuk menjelaskan ke-tidak-baik-baik-saja-mu. Tak sedikitpun nada.

Dan kini aku bertanya pada diri, 'bolehkah aku tetap di sini? atau kau ingin aku pergi dan membiarkanmu sendiri?'

 
***

Bersyukurlah.. saat seseorang yang kau tanya "Are you okay?" menjawab "I'm okay". Karena saat itu terjadi, yang kau perlu lakukan hanyalah percaya padanya. Bahwa kekhawatiranmu (bahwa ia sedang tidak baik-baik saja) bukanlah sebuah kenyataan. Dan sekalipun itu adalah sebuah kenyataan, kau tahu ia bisa mengatasinya sendiri. Dan saat itu terjadi (baca: ia yang tidak baik-baik saja berkata ia baik-baik saja), kau hanya perlu membantunya dengan tersenyum padanya, dan/atau tetap berada di sisinya.

Bersyukurlah..
karena jika saja, ia yang kau tanya "Are you okay?" menjawab "I'm not okay" (*meski tidak pernah aku benar-benar mengalaminya). Sungguh, tak ada yang banyak kita lakukan. Yang ada hanya kebingungan, don't know exactly what we should do for her/him. Terutama pada ia, yang hanya menjawab "I'm not okay", tanpa melanjutkannya dengan kalimat-kalimat penjelas.

***



Still this question is my favorite one,
karena ia menyadarkan ku untuk menjadi baik-baik saja..
saat keadaan memaksaku untuk tidak baik-baik saja..


maka jika diri terlalu sedih
jika diri terlalu penat
jika diri terlalu senang
jika diri terlalu emosi
jika diri terlihat 'tidak baik-baik saja'
tak perlu tunggu orang lain yang bertanya



bertanyalah pada diri
"Are you okay, Bella?"
"Kamu baik-baik aja kan?"


dan jawablah :)
"Sure, I'm fine"
"Yes, I'm okay"
"I don't feel that bad"
"I know, I'll be just fine"

dan jika jawaban yang tersedia hanya
"I don't feel, I'm okay"
"No, I'm not"
"I'm doubt, I am"


maka tak perlu ragu untuk menemuiNya,
berdialog denganNya..
lewat ruku' dan sujud kita
lewat tilawah dan muroja'ah kita


Allah is always listening to you :))



***

Wallahu'alam bishowab.. Selamat menjalani hari :)
Ni hao ma?
Wo hen hao, xie xie^^

3 comments:

  1. Bagus sekali artikel ini, topik yang umum dan sederhana disajikan dengan menarik, apa adanya dan bisa menjadi penumbuh semangat. Terimakasih Bella, itu kan nama mu ya?
    You did a fantastic job!

    ReplyDelete
  2. Terimakasih sudah berkunjung Chandra. Iya, saya Bella.

    ReplyDelete
  3. Thank you, menginspirasi ��

    ReplyDelete

ditunggu komentarnya