Follow Me

Saturday, May 30, 2020

Obat Pereda Rindu Selain Video Call

May 30, 2020 0 Comments
Bismillah.


Obat penghilang rindu itu bertemu katanya. Tapi kalau tidak bisa bertemu? Mungkin kita bisa meminum obat pereda rindu. Ga benar-benar menghilangkan memang, tapi minimal meredakan, sedikit demi sedikit.

Obat pereda rindu yang sudah laris adalah video call, pertemuan virtual, kita melihat orang yang kita rindukan, mendengar suaranya, bertukar salam serta sapa. Tapi selain video call, menelpon, atau chat, ada hal lain yang bisa kita lakukan untuk meredakan rindu. Apa aja?

*disclaimer* tips ini ditulis untuk meredakan rindu pada keluarga, atau pasangan yang sudah halal.

Kirim hadiah

Kita memang tidak bisa hadir langsung bertemu, tapi hadiah kita bisa mewakili kita. Dan untuk yang merantau jauh, coba kirim hadiah ke orangtua, atau saudara. Ga perlu yang mahal-mahal. Bisa dikasih kartu ucapan di dalamnya.

Saat hendak kirim hadiah, kita otomatis jadi memikirkan orang yang kita rindukan, apa yang kira-kira mereka butuhkan, hadiah apa yang mereka suka. Proses itu bisa jadi bentuk pereda rindu. Pun saat sudah dikirim, kita bertanya-tanya kapan hadiahnya sampai. Dan jika sudah sampai kita akan merasa senang, membaca atau mendengar respon dari penerima hadiah, entah itu dalam bentuk chat maupun telpon.

Menulis surat

Jaman milineal kaya gini nulis surat? Kenapa tidak? Romantis tahu hehe. Jika chat/sms cepat di dapat tapi juga mudah tenggelam dalam thread. Berbeda dengan surat. Menulisnya saja butuh waktu, kita memilih kertas, memikirkan apa yang hendak ditulis, jika ada yang salah tulis, kadang harus ganti kertas. Bisa beli perangko dan kirim via kantor pos. Bisa juga kaya kirim dokumen via agen kirim paket. Ketika suratnya sampai, membacanya bisa berulang-ulang, pun bisa disimpan.

Memang obat pereda yang satu ini kaya nyusahin diri. Tapi coba pikirkan dari sudut pandang yang menerima surat. Tulisan tangan kita mungkin tidak indah. Kita pun ga terbiasa buat kata-kata puitis. Gapapa. Pakai bahasa biasa saja. Tulisannya pun tidak perlu super artistik, yang penting masih bisa terbaca. Sependek apapun suratnya, isinya seremeh apapun, sebuah surat tetap menjadi hal istimewa bagi penerimanya.

Oh ya, biar tambah istimewa, kamu juga bisa membubuhkan sedikit parfum di kertas suratmu. Meski ga ada jaminan aromanya masih bertahan di sana ketika sampai hehe.

Menilik galeri foto lama

Kita juga bisa meredakan rindu dengan menilik galeri foto lama. Entah itu yang tersimpan di hp, laptop, di Facebook atau di buku album foto.

Kalau fotonya masih digital, kamu bisa memilih foto tertentu dan mencetaknya. Letakkan di tempat yang sering kamu lihat, di meja kerjamu, di dompet, atau di buku yang sedang kamu baca sebagai pembatas buku.

Kamu juga bisa membuat video dari kumpulan foto tersebut. Entah itu diurutkan berdasarkan waktu, atau random.

Buat To Do List

Sembari menikmati rindu yang memenuhi otak dan hatimu, coba buat to do list, apa saja yang ingin kamu lakukan kalau nanti bisa pulang kampung dan bertemu orang yang kamu rindukan. Sembari memikirkan apa yang ingin dilakukan, langitkan juga doamu pada Allah, agar diberi izin melaksanakan rencana tersebut.

Kalau sudah buat listnya, coba baca ulang. Cek, barangkali ada yang bisa kamu lakukan sekarang. Tanpa perlu menunggu harus bertemu secara fisik.

Berdoa

Terakhir dan yang termujarab untukku. Obat pereda rindu yang paling efektif adalah dengan berdoa. Ada yang tahu rindu itu letaknya di mana? Sama seperti perasaan cinta, rindu itu letaknya di hati. Dan tahukah siapa yang berkuasa akan hati kita? Allah-lah yang berkuasa membolak-balik hati kita.

Dengan berdoa, kita mungkin masih rindu, tapi kita tidak jadi gelisah. Rindu, tapi rasanya tetap tenang. Karena kita yakin Allah menjaga orang-orang yang kita rindukan. Karena kita yakin, Allah lebih menyayangi orang-orang yang kita rindukan, lebih daripada kita menyayangi mereka. Juga karena kita yakin, Allah mendengarkan doa kita.

***

Semoga sedikit tips ini bisa jadi inspirasi, agar rindu tidak cuma menjadi rasa yang menyesakkan hati. Tapi justru rindu itu, menjadi penguat silaturahim dan rasa kasih sayang diantara kita.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Inevitable

May 30, 2020 0 Comments
Bismillah.

Perubahan itu... tidak bisa dihindari. Inevitable. Maka, pilihan kita cuma satu, menerimanya, dan beradaptasi dengan perubahan tersebut. Entah itu perubahan lingkungan tempat kita berutinitas, atau perubahan aktivitas, atau perubahan tampilan blogger. Hehe

new blogger

old blogger

Kalau sekarang aku memang masih bisa memilih salah satunya. Buka pakai akun email X, untuk tampilan lama. Dan buka pakai akun email Y, untuk tampilan baru. Tapi nanti, aku tidak bisa memilih. Sudah ada pemberitahuan bahwa per tanggal sekian semuanya bakal berubah jadi tampilan baru.

Selain tampilan ada juga hal lain yang berubah. Seperti rutinitas harianku, yang ga penting untuk ditulis. Juga tentang sebuah grup yang berpindah dan ganti personel. Aturannya baru, membernya baru sedikit, dan banyak yang memilih diam, suasanya berubah, beda sama yang dulu. Karena perubahan itu, aku jadi memaksakan diri lebih banyak bersuara. Sambil berharap grup bisa segera ramai, sehingga aku bisa menempati tempat duduk lamaku sebagai silent reader hehe.

Ramadhan 1441H sudah berlalu, apakah ada perubahan di hatimu, di harimu, dan di hidupmu? Ramadhan harusnya merupakan bulan yang bisa membuat kita bertransformasi menjadi lebih baik. Tapi memang tantangannya tidak mudah. Bagaimana menjaga ibadah dan iman kita. Kalau dari akun @loveshugah-nya Teh Amalia Kartika, gapapa turun dari Ramadhan, yang penting lebih tinggi dari Sya'ban.

Buatku pribadi, Ramadhan tetap menjadi bulan transformatif. Meski aku memang ga berubah jadi kupu-kupu. Aku masih ulat yang sama, yang geraknya lambat, tapi kalau aku menengok ke belakang, aku bersyukur akan Ramadhan yang telah lalu. Terutama Ramadhan tahun 2015. Kalau diingat rasanya malu, karena saat itu Ramadhanku begitu buruk. Tapi... meski dengan segala keburukan itu, satu malam saja, satu doa, dan Allah menjawabnya. Aku saat itu berdoa tidak ingin meninggal dalam kondisi iman seperti itu, dan Allah kabulkan doanya. Hingga aku bertemu Ramadhan 2016, 2017, 2018, 2019, 2020. Tentu.. aku juga masih berharap diberi kesempatan bertemu Ramadhan 2021. Tapi sekarang, fokusnya lebih gimana aku menerapkan cahaya yang kudapatkan dari Ramadhan kemarin, aga perubahan yang tidak bisa dihindari itu, bisa menjadi perubahan menuju lebih baik. Bukan sebaliknya.

Terakhir, untuk siapapun yang sedang bertemu dengan perubahan, perubahan yang membuat tidak nyaman, selamat mengobrol dengannya, berkenalan serta berteman dengannya. Semoga setiap perubahan, proses menerimanya, proses membiasakannya, diiringi dengan mengingat Allah. Agar bukan keluh yang keluar dari lisan, tapi rasa syukur yang memenuhi hati dan berbunga dalam laku. Semoga Allah jadikan kita salah satu hamba-hambaNya yang pandai bersyukur. Aamiin.

Tuesday, May 26, 2020

Sudahkah Mencapai Tujuan Ramadhan?

May 26, 2020 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-


Berawal dari sebuah tanya, tentang bedanya tujuan puasa dan tujuan Ramadhan. Tujuan puasa adalah takwa. Sedangkan tujuan Ramadhan?

Sesi diskusi berjalan, ada beberapa yang menjawab pertanyaan tersebut. Dan qadarullah, aku menemukan video yang seolah menjawab pertanyaan tersebut.


***

Video tersebut di upload pertenghan Ramadhan 2019. Mengingatkan tentang pentingnya motivasi, agar bisa terus semangat ibadah di bulan Ramadhan.

Ustadz Nouman mengambil dua hal yang mungkin merupakan tujuan dari Ramadhan. Tujuan Ramadhan pertama, agar kita bersyukur, diambil dari akhir ayat 285 ayat Al Baqarah. Tujuan kedua adalah agar kita terhubung dalam komunikasi aktif Allah, lewat mendengarkan Quran sebagai bentuk kita mendengarkanNya, Allah berfirman lewat Quran, dan kita berbicara kepada Allah lewat doa. Tujuan kedua ini diambil dari ayat 286 Al Baqarah.

Bersyukur atas apa?

Saat kita berpisah dengan Ramadhan, kemudian merayakan hari idul fitri karena telah berhasil mengenapkan 30/29 hari puasa, kita seharusnya menjadi hamba yang lebih pandai bersyukur. Ga cuma bersyukur karena sekarang kita bisa makan setiap waktu. Tapi yang utama, bersyukur karena Allah menurunkan Al Quran di bulan ini. Al Quran yang seharusnya, saat membaca dan mendengarkannya, hati kita bergetar. Our heart moved. Kita menjadi tenang saat mendengarkan Al Quran, kita bergembira akan kabar gembira di dalamnya, serta takut akan peringatan di dalamnya, juga dipenuhi rasa harap dan tidak putus asa karena ayat-ayat di dalamnya.

Tapi agar hati kita bisa bergetar, kita harus belajar Al Quran, apa isinya, pesan apa yang ingin Allah berikan pada kita. Dan agar hati bisa merasa takjub, takut, harap, kita harus meningkatkan interaksi dengan quran, bukan cuma membaca, dan mendengarkan tapi juga tadabbur dan tafakkur. Bukan cuma informasi tentang asbabun nuzul, dan makna ayat. Tapi juga bagaimana ayat tersebut terkait dengan diri kita, apa refleksi yang kita dapatkan, apa doa yang bisa kita panjatkan dari ayat tersebut, dll.

Apa berdoa saja cukup?

Masih terkait pentingnya belajar dan memahami Al Quran. Di ayat 286, Allah memberitahu kita bahwa Allah dekat. Allah mendengarkan doa siapapun yang mau berdoa, pendosa maupun ahli ibadah. Allah mendengarkan doa kita kapanpun, di terik siang, maupun sunyi malam. Allah mendengarkan doa kita, tapi Allah juga meminta kita berusaha menunjukkan, bahwa kita juga ingin melangkah memenuhi perintahNya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 186]

Falyastajibuli wal yu'minubi. Allah meminta kita berusaha untuk memenuhi perintahnya, dan beriman, yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita, dengan caraNya.

Al Quran dan Air

Ustadz Nouman juga menyebutkan bahwa kebutuhan hati kita terhubung dengan Al Quran seperti kebutuhan tubuh kita terhadap air. Kita butuh lagi dan lagi dan lagi. Mau yang belum pernah belajar quran, atau yang udah punya ilmu banyak, sama aja, kebutuhannya tetap sama, harus sering-sering membaca, mendengarkan, belajar memahami, tadabbur dan juga berdoa pada Allah. Lagi dan lagi.

Water is a need that you need to restore in yourself over and over again. You need to drink it again, and drink it again, and drink it again. Because without it your body starts dying. The same way, the word of Allah is something you have to take it again, then again, then again. Even if you know it, you take it again, then you take it again, then you take it again. 
And every time, it restores something in you, it fixes something in you. It cleans something in you. It's a detox for you. It's a spiritual detox for you, for your mind, for your heart, for your thinking, for what you're feeling. 
Maybe there's something wrong that you're doing, and you don't have the strength to get out of it. The word of Allah will give you that strength. It'll empowered you to take the step that you've been not being able to take. Maybe you don't have that strength yourself. That strength can only comes from Allah when you nourish it. And that you haven't given Allah's word's that chance.
- Nouman Ali Khan, dalam khutbah I Can't Feel Anything
***

Pertanyaannya, sudahkah kita mencapai tujuan Ramadhan tersebut?

Kalau belum? Kalau belum artinya kita harus berusaha memenuhinya. Tingkatkan interaksi kita dengan Al Quran, baca dan juga pelajari pesan di dalamnya, lagi dan lagi. Seperti kita minum air 8 gelas perhari, jangan biarkan hati kita mengeras. Karena hati yang keras akan menjadi tempat bermain setan. Ingatlah, sesekarat apapun hati kita, separah apapun hati kita mati rasa, Allah bisa dengan mudah menghidupkannya kembali. Asalkan kita mau berdoa memohon pertolongannya, sembari melangkah mendekat padaNya. Step by step. Sedikit asal kontinyu. Lagi dan lagi. Sungguh saat kita berjalan pelan menujuNya, Allah "berlari" ke arah kita.

Terakhir, masa latihan (Ramadhan) memang sudah berakhir, tapi setiap nafas, artinya kita masih diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Semoga Allah memudahkan dan menguatkan langkah kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang berdoa, 'asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

PS: Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

PPS: Pertanyaan di paragraf prolog dapet dari diskusi pekanan 2 grup nakindonesia yang baru. Dan qadarullah juga materi matrikulasi batch 3 yang pekan pertama dan kedua, adalah tentang pentingnya memahami quran, al hadid ayat 16 serta tentang doa. Pas banget bahwa dua hal itu yang harus diingatkan di bulan Ramadhan. Alhamdulillah atas izinNya, bisa ikut menyimak diskusi peserta matrikulasi batch 3. ^^

Sunday, May 24, 2020

Happy Eid Mubarak 1441H

May 24, 2020 0 Comments
Bismillah. 



Taqabballallahu minna wa minkum.
Semoga Allah menerima amal kita, menghapus dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang bersyukur. Aamiin.

***

Alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan. Merasakan lagi bagaimana "musim semi". Tidak sempurna, banyak target yang tidak tercapai, jatuh dua kali pula. Tapi meski begitu, ada banyak sekali hal lain yang harus disyukuri. Seperti tarawih berjamaah di rumah, atau merasakan manis pahitnya komunikasi jika hendak jalan bersama. Juga tentang kualitas dan kuantitas yang ternyata bisa bareng-bareng diperbaiki. Tentang menjalin silaturahim pada yang jauh di sana. Fasilitas video call yang bisa menjadi obat rindu pada Tsabita dan Arkan. Membaca tulisan dan kisah tentang ayat pilihan orang-orang. Dan begitu banyak nikmat lain yang tidak bisa disebut satu persatu.

Ramadhan sudah selesai, semoga kita benar-benar lulus, dan menjaga keistiqomahan di bulan berikutnya.

Semoga Ramadhan kemarin bisa mentransformasi diri dan hidup kita. Aamiin.

Allahua'lam. 

Friday, May 22, 2020

Daftar 1m1c (Lagi)

May 22, 2020 0 Comments
Bismillah.

Alhamdulillah pekan kemarin daftar 1m1c lagi, semoga dengan daftar 1m1c jadi lebih sering nulis tiap pekan satu. Nulis yang bukan abstrak hehe.


Alesanku mendaftar lagi sebenarnya cukup impulsif. Karena pas liat statistik, ternyata ada yang berkunjung ke blog ini dari web 1m1c, ternyata... tulisan submit terakhirku ke 1m1c, sebelum akhirnya aku dikeluarkan karena 5 pekan ga submit lagi, masuk nominasi tulisan terpilih.

tebak, tulisanku yang judulnya apa? ehehehe

Dan tahu gak? Uniknya, tulisan pertamaku ke 1m1c juga masuk nominasi tulisan pilihan.

ss in an ss, jadi deh begitu wkwkwk.
Pekan ini, aku menulis tentang apa ya untuk di submit ke 1m1c? Ada yang mau kasih ide?

Ada yang Tidak Kuceritakan

May 22, 2020 0 Comments
Bismillah.

*warning* abstract


Ada yang tidak kuceritakan. Ada bagian yang ingin kusimpan sendiri.

Ada ketakutan lain yang lebih dari itu, lebih dari sekedar tentang keraguan untuk maju atau harus menyusuri langkah yang terlewat.

Aku takut, kalau apa yang terjadi adalah gambaran diri, bahwa seperti itulah aku. Aku yang tidak berjingkat dari semak hitam yang mengeluarkan asap. Bahwa aku mungkin kayu itu, kayu yang bersandar itu.

Ada yang tidak kuceritakan. Ada bagian yang ingin kusimpan sendiri.

Lagi, tentang ketakutan. Tapi yang ini, semoga baik untukku. Dan rasa kebas, rasa ngilu, dan entah rasa apa itu... rasa yang tidak bisa dideskripsikan karena aku kehabisan kosa kata. Kekhawatiran yang mengepung, aku dibuat merasa lemah, tapi baiknya, aku jadi sadar bahwa aku membutuhkanNya. Sangat-sangat membutuhkanNya.

Ada yang tidak kuceritakan. Ada bagian yang ingin kusimpan sendiri.

Jika benar ingin kau simpan sendiri, mengapa kau menulis di sini? Karena aku ingin merekamnya, dalam kata dan kalimat abstrak. Paragraf yang tidak penting bagi semua orang kecuali diriku.

Aku memang tidak menceritakannya pada siapa pun, tapi aku ingin mencatat jejaknya di sini. Semoga kelak jika aku lupa, tulisan ini mengingatkanku, pada hal-hal yang kusimpan sendiri dan tidak kuceritakan.

Ada yang tidak kuceritakan. Ada bagian yang ingin kusimpan sendiri.

Sebenarnya aku tidak menyimpannya sendiri. Ada yang mengawasiku, melihatku saat aku menyimpannya. Aku berharap aku menyadari hal itu. Aku harap aku tidak mencukupkan diri dengan menulis, kemudian selesai. Aku harap aku benar-benar memaknai, that He knows secret, and what's more hidden (than a secret).

QJ Ramadhan #10: Perkataan yang Lebih Baik dan Benar

May 22, 2020 0 Comments
Bismillah.
#quranjurnal

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ كَانَ لِلْإِنسَـٰنِ عَدُوًّۭا مُّبِينًۭا

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [Surat Al-Isra (17) ayat 53]

***


Lisan adalah salah satu bagian tubuh yang harus kita jaga. Ia bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari pisau. Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu menimbang ulang apa yang hendak kita katakan. Apakah ada perkataan yang lebih baik untuk mengungkapkan hal ini? Apakah ada perkataan yang lebih benar? 

Karena saat perkataan meluncur, mudah sekali setan untuk menimbulkan perselisihan antara manusia. Salah sedikit saja, beda intonasi saja, pilihan kata yang buruk, maka perkataan itu dengan mudah dijadikan setan sebagai api yang menyalakan sumbu pertikaian.

Perkataan yang ahsan itu yang seperti apa?

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan, perkataan yang lebih baik di sini mencakup semua perkataan yang mendekatkan diri kepada Allah, baik berupa membaca Al Qur’an, dzikrullah, menyampaikan ilmu, beramar ma’ruf dan bernahi munkar, dan ucapan yang lembut kepada manusia. Ayat ini juga menunjukkan, bahwa apabila kita dihadapkan dua perkara yang baik, maka kita diperintahkan mengutamakan yang lebih baik di antara keduanya jika tidak memungkinkan menggabung keduanya. Manfaat perkataan yang lebih baik adalah karena ia mengajak kepada setiap akhlak yang mulia dan amal yang saleh, di mana orang yang mampu menguasai lisannya, maka dia memampu menguasai semua urusannya. [1]

Ayat ini mengingatkan kita agar memilih diam jika tidak ada perkataan baik yang terlintas di kepala. Seburuk apapun situasinya, semenyebalkan apapun orang yang kau temui, sehambar apapun makanan yang kau santap, tahanlah lisanmu. Katakan yang baik saja, atau diam.

Di era sekarang dimana meluncurkan kata-kata kasar seolah jadi trend, menulis deretan komentar berisi kebencian begitu mudah, Allah mengingatkan kita lewat ayat ini, agar hanya mengucapkan perkataan yang lebih baik dan benar. Allahua'lam.

Referensi: [1] https://tafsirweb.com/4657-quran-surat-al-isra-ayat-53.html

25 Februari 2020 | 1 Rajab 1441H

#refleksiramadhan #quranjournal #betterword

***

Keterangan: Tulisan ini sebelumnya dipost di facebook pribadi khusus Ramadhan.

Wednesday, May 20, 2020

Tadharu’, Bukan Sekedar Rendah Hati

May 20, 2020 0 Comments
Nukilan Buku “Reclaim your Heart | Yasmin Mogahed”
Bismillah.
Suatu hari, dalam sebuah perjalanan naik kereta, aku membawa buku Reclaim your Heart yang dulu pernah aku baca dari bagian depan, namun sudah lama aku tidak meneruskannya.
Rasanya aneh, membaca dari batas membaca yang lama, aku saja sudah lupa, tapi sebagian ingat kalau pernah membaca bagian depan.
Akhirnya aku memilih untuk membacanya dari belakang, dari bab puisi, satu persatu hingga bab puisi habis. Salah satu puisi yang menyentuh hatiku judulnya Terus Berjalan.
Silahkan dibaca dulu, sebagai prolog, sebelum kita bahas nukilan buku yang menjadi bahasan utama kali ini. Atau bisa di skip, kalau ingin segera tahu tentang judul tulisan ini.





Bab sebelum puisi adalah bab berjudul Umat. Tentu saja aku membaca tulisan paling terakhir dari bab Umat di buku Reclaim Your Heart.
Judul tulisannya Pembelahan Laut Merah Masa Kini: Renungan tentang Mesir. Isinya tentang dua kisah, kisah Musa dan Bani Israil yang dikejar-kejar Firaun dan kaumnya, kemudian dihadapkan pada Laut Merah. Dan juga.. tentang masyarakat Mesir yang berjuang untuk lepas dari kediktatoran Hosni Mubarak.
Lepas dari cerita yang dibahas, ada beberapa hal yang membuatku ingin mengutip sebagian dari isi tulisan tersebut.

Mengapa kita harus menderita, jika memang kita berada di sisi Allah?

Beberapa orang mungkin mempertanyakan mengapa, jika kita memang berada di sisi Allah, kemenangan tidak datang dengan mudah. Beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak begitu saja memberikan kemenangan yang lurus tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar.
Yasmin Mogahed kemudian mengingatkan kita, untuk melihat kembali ke kalamnya, dengan mengutip surat Al A’raf, surat ke tujuh, ayat 94.

“…melainkan Kami timpakan kepada penduduk-nya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.”
Di ayat tersebut Allah berfirman, bahwa tujuan dari penderitaan adalah untuk mencapai keadaan tadharu’.

Tadharu’ adalah kerendahan hati di hadapan Tuhan — tapi bukan sekedar kerendahan hati.
Untuk menjelaskan konsep tadharu’, Yasmin meminta kita membayangkan suatu situasi.
Bayangkan diri Anda berada di tengah-tengah lautan. Bayangkan bahwa badai besar datang dan gelombang yang sebesar gunung mengepung Anda.
Sekarang bayangkan, Anda berpaling kepada Allah pada saat itu dan meminta bantuan-Nya. Apakah Anda merasakan keadaan membutuhkan, takjub, bergantung sealigus rendah hati? Itulah tadharu’. — Yasmin Mogahed

Ketika Allah menempatkan sebuah situasi sulit dalam hidup kita, situasi, keadaan yang membuat kita menderita. Sebenarnya Allah tidak menciptakan situasi tersebut untuk menganiyaya kita.
Justru lewat situasi tersebut, Allah ingin menganugrahkan tadharu’, menganugrahkan agar kita mencapai kedekatan denganNya. Anugrah, yang tidak bisa kita capai jika yang terjadi tidak seperti itu.


Keadaan rendah hati, kedekatan, dan ketergantungan total kepada Tuhan, yang tak ternilai itulah yang telah dianugrahkan …
-Yasmin Mogahed, Reclaim Your Heart
Allahua’lam.
PS: Selain tadharu’ ada tujuan lain mengapa Allah menghadirkan penderitaan di kehidupan hambaNya, yaitu tamhisHint, proses pemurnian emas
***
Tulisan ini sudah pernah dipublish di Medium @isabellakirei

Maukah Kau Menulis?

May 20, 2020 0 Comments
Bismillah.

Bulan ini aku merindukan tulisan beberapa orang sekaligus. Sebagian memang sudah lama tidak menulis, lebih memilih aktif di sosial media. Sebagian lagi, masih suka update memang, tapi tetap saja aku rindu, karena bukan satu dua kalimat pendek, aku ingin membaca narasi yang yang lebih panjang darinya. Satu dua paragraf mungkin cukup.

Sembari menikmati rasa rindu akan tulisan orang-orang tersebut, aku bertanya-tanya, apa merindukan tulisan seseorang, artinya aku merindukan orang tersebut? Jawabannya, mungkin iya, mungkin tidak. Iya, jika kau mengenal orang tersebut. Tidak, jika kau hanya mengenal tulisannya, tidak mengenal orangnya.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin lebih tepat jawaban tidak. Merindukan tulisan seseorang bukan berarti kamu rindu orang tersebut. Itu dua hal yang berbeda. Anggaplah kamu punya teman seorang penulis, tiap hari kamu masih bertukar sapa, mengobrol ini itu. Jelas, kamu tidak merindukannya, karena ia masih sering muncul di harimu. Tapi teman tersebut lama sekali tidak menulis, kamu bisa melihatnya aktif di sana sini, tapi kamu lama tidak membaca tulisannya. Jadilah kamu merindukan tulisannya, rindu membaca tulisannya.

Menulis tentang ini sebenarnya rasanya geli. Seolah sedang gombal, meski sudah dibuat seabstrak mungkin. Menuliskan tentang rindu, mungkin akan selalu begini.

Pada mereka, yang tulisannya kurindukan. Aku ingin bertanya, "Maukah kau menulis?"

Aku tidak akan memintanya untuk menulis untukku. Aku hanya ingin membaca tulisannya. Entah tulisan itu ia tulis karena tugas, karena kewajiban, atau karena kebutuhan. Entah tulisan itu ditulis untuk dirinya sendiri, atau mungkin untuk orang lain.

Pada mereka, aku ingin jujur, "Aku rindu membaca tulisanmu. Maukah kau menulis, lagi?"

***

I know it will sound awkward, so I just write it here. Semoga, Allah mengilhamkan pada jiwa-jiwa mereka untuk menulis hehe. Tanpa alasan tertentu, jemari dan otak mereka seolah terdorong untuk menulis. Dan kerinduanku untuk membaca tulisannya, terobati. What a wishful thinking wkwkwk.

Ragu

May 20, 2020 0 Comments
Bismillah.

Kalimatnya membuatku ragu untuk melangkah maju, rasanya ingin berputar balik, menyusuri langkah yang sudah terlewati.

Pertama mendengar kalimatnya, rasanya seperti mendapat kertas ujian dengan nilai buruk, aku tidak lulus. Tapi mungkin karena begitu banyak yang salah, aku bahkan tidak diberitahu nomer mana yang kujawab dengan benar, dan bagian mana yang salah. Aku ingin belajar lagi, tapi aku harus tahu kesalahanku dulu. Aku mau mengerjakan remidial, tapi aku tidak bisa sendiri, aku perlu orang yang bisa memberitahuku, di sini loh, di sini kamu mulai salah menyelesaikan equation-nya.

Ini sebenarnya bukan yang pertama. Seharusnya aku tidak seragu ini. Tapi... nyatanya aku temukan diriku berdiam diri.

Memoriku mengajakku mengingat seseorang, yang mungkin bisa memberi sedikit ruang udara, atas rasa frustasi akan keadaan ini. Aku ingin mendengar pendapatnya, aku ingin menyimak nasihatnya, aku ingin mendapatkan dorongan motivasi darinya.

Agar tidak lagi meragu. Agar aku tahu apa memang aku harus melangkah maju. Atau sebaliknya, aku memang harus meniti ulang langkah yang terlewat. Kemudian belajar lagi. Karena aku ingin memperbaikinya, aku tidak ingin salah mengucapkannya. Karena aku paham, bahwa menghapus permanent marker itu, tidak mudah.

QJ Ramadhan #9: Beruntung; yang Dijaga Dirinya dari Kekikiran

May 20, 2020 0 Comments
Bismillah.
#quranjurnal

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَـٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةًۭ مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung [Surat Al-Hasyr (59) ayat 9]

***


Al Hasyr ayat 9 merupakan cerminan indahnya ukhuwah yang berdasarkan iman. Muhajirin, orang-orang yang terusir dari kampung halamannya karena iman yang mereka miliki. Dan Anshar, orang yang sudah beriman, sebelum Muhajirin datang ke Madinah. Saat mengetahui bahwa saudaranya terusir dan berhijrah, sikap Anshar begitu menakjubkan. Allah memujinya di ayat ini.
Yuhibbuna man hajara ilaihim, mereka mencintai orang yang berhijrah. Iman kaum Anshar menjadikan mereka mencintai saudara seimannya, muhajirin.

Wala yajiduna fi sudurihim hajatan mimma utu, mereka tidak memiliki keinginan terhadap apa yang diberikan pada muhajirin. Tidak ada iri atau dengki terhadap apa-apa yang Allah berikan kepada muhajirin.

Wa yu`tsiruna 'ala anfusihim, dan mereka mengutamakan muhajirin ketimbang dirinya sendiri. Walaukana bihim khososoh. Padahal mereka juga dalam keadaan susah dan membutuhkan. Yang dimaksud dengan khasasah ialah keperluan. Yakni mereka lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan diri mereka sendiri; mereka memulainya dengan kebutuhan orang lain sebelum diri mereka, padahal mereka sendiri membutuhkannya. [1]

Dan di akhir ayat Allah memberitahu bahwa orang-orang yang dipelihara dari kekikiran, mereka yang dermawan dan suka memberi, merupakan orang-orang yang beruntung. Di sini Allah mengingatkan kita bahwa orang-orang yang beruntung bukan mereka yang sejak kecil hidup berkecukupan, juga bukan orang yang ketiban duren, mendapatkan rezeki besar tiba-tiba, bukan, bukan itu. Tapi orang yang beruntung adalah orang yang hidupnya mungkin sederhana, tapi hatinya Allah hindarkan dari kekikiran, sehingga ia masih bisa memberi dengan keterbatasan yang ia miliki.
 Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda, "…Sifat kikir mendorong mereka berbuat aniaya, maka mereka berbuat aniaya; dan mendorong mereka untuk berbuat kedurhakaan, maka mereka berbuat kedurhakaan; dan mendorong mereka untuk memutuskan silaturahmi, maka mereka memutuskan pertalian silaturahmi.'" [1]

Ayat ini mengingatkan saya tentang sebuah kutipan dari buku Revive Your Heart, Nouman Ali Khan. Bahwa saat kita bersedekah, berinfak, memberi sesuatu pada orang yang membutuhkan, sebenarnya bukan orang yang menerima yang membutuhkan bantuan, tapi justru kita yang memberi, yang membutuhkan orang-orang yang mau merima 'pemberian' kita yang tidak seberapa.

 "When you help someone, you are not honouring them; they are honouring you. You've helped them only in the dunya, which is nothing to Allah, but they have help you in akhirah, which is everything." - Nouman Ali Khan

Kedermawanan merupakan sikap yang harus kita tumbuhkan, kita biasakan. Kita harus mendidik hati kita agar terhindar dari kekikiran. Senantiasa mengingatkan diri kita bahwa apa yang kita miliki sebenarnya adalah pemberian dari Allah. Dan Allah menitipkan 'hak' orang lain pada dompet kita, kita harus mengeluarkannya, karena memang itu sebagian dari harta kita adalah hak orang lain. Sembari kita memberi, belajar untuk dermawan, Allah akan menyucikan kita, serta memberikan kita keberkahan hidup.

Memang lebih mudah untuk ingin menghabiskan sendiri apa yang menjadi 'milik' kita. Memang lebih mudah untuk kikir dan menutup mata bahwa ada sebagian harta yang seharusnya kita berikan pada orang lain. Namun kita berkaca pada ayat ini. Al Hasyr ayat 9. Bahwa benar, orang yang beruntung adalah orang yang dipelihara dari kekikikiran. Wa mayyuqo suhha nafsihi faulaika humul muflihun. Semoga Allah menjadikan hati kita terhindar dari kekikiran, dan memudahkan kita untuk berbagi dan memberi nikmat yang Allah berikan pada kita, yang sebagiannya memang hak orang lain, bukan hak kita. Aamiin.

Allahua'lam.

16 Juni 2019 | 12 Syawal 1440H

Keterangan: [1] http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-al-hasyr-ayat-8-10.html

#refleksiramadhan #quranjournal #betterword

***

PS: Tulisan tahun lalu, dari facebook pribadi khusus Ramadhan.

Saturday, May 16, 2020

QJ Ramadhan #8: Hemat; Pertengahan Kikir dan Boros

May 16, 2020 0 Comments
Bismillah.
#quranjurnal



وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًۭا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
[Surat Al-Furqan (25) ayat 67]

***


Sadarkah kita, bahwa sekarang kita sedang dikepung dengan budaya konsumtif? Jika kita tidak memiliki prinsip yang kuat dan mudah terbawa arus, kita tanpa sadar akan mengikuti budaya konsumtif tersebut. Iklan-iklan yang lewat, trend bau, makanan, dll. Diskon bebas ongkir. Seolah ada banyak sekali hal yang harus kita beli.

Al Furqan ayat 63-74 merupakan rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan tentang 'ibadurrahman, hamba-hamba Arrahman. Titel yang begitu indah, karena kata hamba disandingkan dengan asma Allah Arrahman. Salah satu ciri 'Ibadurrahman adalah mereka yang tidak berlebihan dalam membelanjakan hartanya, serta tidak kikir. Hemat dan memiliki hidup yang sederhana.

Sikap pertengahan ini juga disebutkan dalam ayat lain (Al Baqarah ayat 143) sebagai ciri umat muslim. Seorang yang islam berada di jalan tengah, bukan seperti yahudi yang mengetahui namun tidak mengamalkan, bukan pula seperti nasrani yang tersesat dan mengada-adakan apa yang tidak diketahui. Begitupun keseimbangan dalam rasa takut dan harap, yang baik itu pertengahan. Tidak mengedepankan rasa takut seperti Khawarij, juga tidak terlalu mengelukan rasa harap seperti Murji'ah. 

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam Madarijus Salikin, "Akhlak yang baik ada diantara dua akhlak yang tercela, seperti kedermawanan yang ada di antara bakhil dan boros, tawadhu' yang ada di antara kehinaan dan takabur. Selagi jiwa menyimpang dari pertengahan ini, tentu ia akan cenderung kepada salah saatu dari dua sisi yang tercela."

Untuk tetap berada di tengah-tengah dan menjaga keseimbangan, diperlukan usaha dan doa. Seperti Allah menjaga keseimbangan langit yang kokoh berada di atas bumi tanpa satupun tiang, semoga kita dimudahkan agar memilih jalan tengah, menjadi umat yang wasathan.

***

Ayat ini mengingatkan kita tentang bagaimana kita menggunakan harta kita. Pengingat, bahwa kelak harta kita akan ditanya pertanggungjawabaannya, darimana dan bagaimana kita mendapatkannya, serta dimana dan bagaimana kita membelanjakannya.

Saya melihat ayat ini sebagai pengingat, agar tidak terlalu bakhil namun juga tidak terlalu boros. Misalnya penggunaan kuota internet bulanan. Bagaimana mengatur uang agar bisa memenuhi kebutuhan pokok, sekaligus untuk bersedekah. 

Terakhir, Al Quran mengatur bagaimana kita mendapatkan dan membelanjakan uang kita. Dalam mendapatkan uang, kita tidak boleh mencuri, menipu, dan memakan uang riba. Sedangkan dalam membelanjakan uang, kita diingatkan untuk tidak boros, bahkan disebutkan dalam ayat lain (QS Al Isra ayat 62), bahwa orang-orang yang boros merupakan saudara setan. Na'udzubillah. Semoga kita bukan termasuk di dalamnya.

Allahua'lam.

28 Mei 2019 | 23 Ramadhan 1440H

#refleksiramadhan #quranjournal #betterword

***

Keterangan: Tulisan Ramadhan tahun lalu, dari facebook pribadi khusus Ramadhan.

Friday, May 15, 2020

Jangan Berjalan Sendirian

May 15, 2020 0 Comments
Bismillah.


Rasanya baru kemarin, dan memang baru empat hari yang lalu aku menuliskan tentang perasaan tidak nyaman saat berjalan bersama. Mau tidak mau kita jadi harus memikirkan orang lain, mereka yang memilih lari sendiri padahal diminta berkomitmen untuk sama-sama saling berpegangan tangan. Belum lama aku mengeluh dalam rangkaian kalimat abstrak. Tapi hari ini, malam ini, Allah ingin aku memahami, bahwa setidak nyaman apapun berjalan bersama, itu lebih baik daripada berjalan sendirian. Karena ini perjalanan panjang, dan untuk berjalan lama, kau tidak bisa sendirian, harus ada teman.

Jangan berjalan sendiri Bell. Lihat lah, kau hampir saja tergelincir, tapi tangan mereka menahan berat badanmu, sehingga tidak ada suara "gedebuk". Kau belum jatuh, kau hanya hampir jatuh. Dan tangan mereka, membantumu untuk berdiri tegak lagi, setelah tadi hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh. Bukan hampir jatuh di lantai yang habis di pel, tapi hampir jatuh ke jurang. Bayangkan kalau kamu berjalan sendiri, bagaimana kondisimu saat ini? Mungkin patah tulang, remuk, berdarah dan butuh waktu lama untuk bisa bangkit dan mendaki jurang. Lagi.

Tapi lihatlah sekarang. Bersyukurlah dan doakan mereka, yang mau berjalan bersamamu. Yang hadirnya membuatmu mengingat Allah. Yang sekedar satu baris pesannya membuatmu teringat akhirat.

Semoga Allah memberkahi malam-malam Ramadhannya, semoga amalan shalihnya diterima, dosa-dosanya diampuni, dan semoga ikatan ini terus terjalin dalam rangka menunaikan ayat-ayat al ashr, agar termasuk kategori pengecualian. Aamiin.

Terakhir.. Allahu la ilaha illa anta inni kuntu minadzholimin. Rabbana dzalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin. Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa'fuanni.

Allahua'lam.

Thursday, May 14, 2020

QJ Ramadhan #7: Memaafkan dan Berlapang Dada

May 14, 2020 0 Comments
Bismillah.
#quranjurnal

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [Surat An-Nur (24) ayat 22]

***

Siapa yang tidak sakit hati, saat buah hatinya disakiti? Sebuah berita dusta tersebar tentang putrinya, dan salah satu yang ikut menyebarkan berita tersebut, adalah kerabat yang biasa ia beri sedekah. Saat itulah sumpah itu terucap.


Hadits ifki, berita dusta. Peristiwa itu banyak menyimpan hikmah untuk kita. Allah mungkin telah menyiapkan peristiwa tersebut, agar menjadi pelajaran, bukan hanya saat peristiwa itu terjadi bahkan sampai akhir zaman. Bahwa kita diminta untuk berbaik sangka dan menoak jika ada berita buruk tentang saudara sesama muslim.

 "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) mengatakan, “Ini adalah berita bohong yang nyata.” (QS An Nur ayat 12)

Allah juga mengingatkan kita untuk berhati-hati mengucapkan sebuah perkara. Agar tidak mudah menyebarkan sesuatu yang tidak kita ketahui. Allah Tahu, akan datang era milineal, dimana informasi dan 'ucapan' tersebar begitu cepat dan mudah, tanpa mempedulikan apakah isinya kebenaran atau justru dusta. Begitu ringan, tapi di mata Allah itu suatu yang berat.

 "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia di sisi Allâh adalah besar." (QS An Nur ayat 15)

***

Dengan ayat-ayatNya Allah mensucikan kembali Aisyah radhiyallahu anha dari berita dusta yang tersebar. Kemudian Allah juga menurunkan ayat 22, atas sikap Abu Bakar terhadap Mistah.

Allah memberitahu kita, bahwa dalam kondisi dan skenario seberat itu, Allah meminta kita memaafkan dan berlapang dada. Apalagi pada kesalahan yang lebih kecil dari itu. Kita diminta untuk tetap menyambung silaturahim pada saudara yang pernah bersalah. Jangankan silaturahim, bahkan sedekahpun, harus tetap diberikan jika saudara kita tersebuut orang yang membutuhkan.

Karena memaafkan dan berlapang dada bukan hal yang mudah, Allah juga menjanjikan balasan yang besar. 

{أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ}
Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? (An-Nur: 22)

Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana engkau mengampuni dosa orang yang berdosa kepadamu, maka Allah mengampuni pula dosa-dosamu. Dan sebagaimana kamu memaaf, maka Allah pun memaafmu pula. [1]

Maka pada saat itu juga Abu Bakar berkata, "Benar, demi Allah, sesungguhnya kami suka bila Engkau memberikan ampunan kepada kami, wahai Tuhan kami." Kemudian Abu Bakar kembali memberikan nafkah bantuannya kepada Mistah seperti biasanya. Untuk itu Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya." Perkataannya kali ini untuk mengimbangi apa yang telah dikatakannya sebelum itu, yakni ucapannya," Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi barang sedikit pun, selamanya." Karena itulah maka sahabat Abu Bakar sesuai dengan nama julukannya, yaitu As-Siddiq; semoga Allah melimpahkan rida kepadanya, juga kepada putrinya. [1]

***

Allah berulangkali menyebutkan tentang memaafkan dalam ayat-ayat Quran. Jika sebelumnya pemberian maaf setelah didzalimi, meski kita berhak dan punya kekuatan untuk membalas dengan hal yang setimbang. Kali ini Allah mengajarkan kita untuk memaafkan, saudara, kerabat, yang pernah menyakiti buah hati atau anak kita. Allah tahu, bahwa kita akan menemui banyak skenario, kejadian yang membuat dada kita sempit, dan memaafkan terasa begitu berat. Namun Allah kembali mengingatkan, bahwa kecintaan kita, keinginan kita untuk diampuni Allah, seharusnya menjadi penuntun kita untuk membuka pintu maaf dan berlapang dada.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk memaafkan dan berlapang dada. Orang-orang yang dengan memaaafkan, dimaafkan juga oleh Allah dosa dan kesalahannya. Semoga Allah lapangkan dada kita, dan mudahkan urusan kita. Aamiin.

Allahua'lam.

19 Mei 2019 | 14 Ramadhan 1440H

Keterangan: [1] http://www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-nur-ayat-22.html

#refleksiramadhan #quranjournal #betterword

***

PS: Tulisan Ramadhan tahun lalu, dari facebook pribadi khusus Ramadhan.

Dzikir Penaut Hati dan Sayap yang Tak Patah

May 14, 2020 0 Comments


Nukilan Buku “Serial Cinta | Anis Matta”




Bismillahirrahmanirrahim
Hari ini saya membaca dua tulisan dari buku Serial Cinta-nya Anis Matta.
Sebelumnya, tulisan ini ingin aku beri judul “Serial Cinta; Bukan Sinetron atau Drama Bergenre Romance”, tapi karena isi tulisan ini tidak jadi membandingkan bedanya buku ini dengan drama/sinetron cinta, maka judul itu sementara saya simpan.
Mungkin bisa dipakai untuk judul resensi buku ini, kalau saya sudah selesai membaca.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan Anis Matta dari Majalah, di rubrik Serial Cinta. Tidak perlu kerunutan dalam membacanya, jadi saya sering iseng membuka judul-judul tulisan sebelum akhirnya lanjut membaca isinya. Berikut ini dua judul dan sedikit nukilannya.

Doa Cinta Sang Imam



Ya Allah Engkau tahu, hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta-Mu, bertemu dalam taat-Mu, menyatu menolong dakwah-Mu, berjanji perjuangkan syariat-Mu, maka eratkanlah ikatannya, dan abadikan cintanya …..
Anis Matta lanjut menuliskan, bahwa tidak ada penjelasan historis tentang suasana yang melatari Hasan Al Banna saat menulis potongan doa itu. Doa itu adalah wirid pengikat.

Pengikat hati. Hati yang sedang dibangun untuk memikul beban kebangkitan umat. Beban mereka berat. Jumlah mereka sedikit. Musuh mereka banyak. Jadi, mereka butuh landasan yang kokoh dan pengikat yang kuat. Landasannya adalah iman. Pengikatnya adalah cinta. — Anis Matta

Sayap yang Tak Pernah Patah

Entah memang aku yang suka dengan paragraf yang puitis, tapi tulisan kali ini juga dimulai dengan paragraf pertama yang menarik hati.


Mari bicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah.

Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam.

Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’ lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas. — Anis Matta
Tulisan ini tidak dilanjutkan dengan sebuah penghibur, kalau memang cinta mungkin saja tertolak, sayap mungkin juga patah.
Jadi teringat tulisan sebelumnya Broken Wings di nukil buku Little Good Things Everyday. Tapi buku ini mengingatkan kita, bahwa sebenarnya, di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah.

Kalau cinta berawal dan berakhir kepada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolis saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.
Lewat tulisan ini pula, kita diingatkan bahwa,


Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya!

Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tetapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita!



Kita memang harus banyak belajar tentang cinta. Tapi bukan sekedar cinta, yang sering ditampilkan di layar TV, bukan pula yang sering dituliskan di novel-novel romance.
Kita harus banyak belajar tentang cinta, cinta yang maknanya lebih mulia dan lebih luas dari itu. Cinta, yang ujungnya mendekatkan kita kepadaNya.
Allahua’lam
***
Keterangan: Tulisan ini sudah pernah di publish di akun Medium @isabellakirei

Wednesday, May 13, 2020

My Favorite Ayat 2020

May 13, 2020 0 Comments
Bismillah.

In case ada yang gak tahu, jadi NAK Indonesia punya proker tiap Ramadhan namanya My Favorite Quran. Dari tahun 2017, waktu itu aku cuma banyak promosi di blog ini, tapi ga bener-bener ikut kirim tulisan. Nulis sih, tapi di blog ini, ayat pertama surat Arrahman.

Baca juga: Ar Rahman 

Trus tahun 2018, setelah berhasil ngundang ustadz Nouman ngisi di Istiqlal, dengan tema reconnect with quran, MFA dilanjutkan dengan konsep yang sedikit berbeda. Kalau dulu ada 2 versi, tulisan sama video. Kali ini fokus di tulisan aja, tapi... selain pilihan ayat dan sedikit penjelasan tentang ayat, harus ada juga kisah personal kaitan mengapa ayat itu penting dalam hidup kita, atau refleksi personal kita terhadap ayat tersebut. Tahun 2019 juga kirim tulisan.

Baca juga:

Tahun 2020? Tadinya mau nulis tentang doa di al kahfi ayat 24. Ayat, yang aku awalnya ga tahu di situ ada doanya. Biasanya kan ya.. kalau doa di quran diawali dengan kata "Rabbana", "Ya Tuhanku". Tapi di sini nggak.

إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَٱذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَـٰذَا رَشَدًۭا

kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". [Surat Al-Kahfi (18) ayat 24]

'asaa ayyahdiyani rabbii li aqraba min haadzaa rasyadaa. Aku dulu nonton video penjelasannya, dari sharing di timeline line adik tingkat. kemungkinan akhir 2016 atau justru tahun 2017.



Saat itu, aku habis tersesat, hilang arah dan baru mau kembali lagi, mendekat lagi ke Allah. Tapi... proses mendekat ke Allah itu ga mudah, banyak momen aku merasa hampir putus asa, karena jatuh lagi dan lagi. Banyak momen aku membandingkan diriku dengan orang lain. Dan doa ini, serta penjelasan tentangnya, mengajarkan aku bahwa Allah tidak akan pernah membandingkan kita dengan orang lain. Juga bahwa yang terpenting kita terus menerus memperbaiki diri dan terus mendekat, gapapa kalau kita mati asalkan kita berada di jalan ini, dalam kondisi ikhtiar untuk bangkit dan mendekat ke Allah.
Don't compare yourself to anybody else. That's not what Allah wants. Allah is not going to put you next to someone else and compare. 

***


MFA2020, aku memang jadi kirim tulisan. Tapi jadinya bukan ayat tersebut. Ada beberapa alasan, seperti lupa link videonya, trus pas mau nulis stuck. Trus nemu ayat lain, yang juga ayat doa, dan juga ayat favorit. Akhirnya nulis tentang ayat itu. Ada yang penasaran? Pengen baca? Tunggu aja tanggal tayangnya hehe. Aku jg gatau bakal dipublish kapan di nakindonesia.com, bisa cek ig nakindonesia jg untuk tahu tulisan mfa siapa yang hari ini di post.

Oh ya, baca juga tulisan MFA yang lain. Banyak yang menginspirasi, setiap kisah di dalamnya unik. Ada beberapa yang pilih ayat yang sama, tapi karena ada refleksi personal dan cerita personal, ga akan merasa kaya "ini udah pernah baca".

Satu lagi yang unik tentang MFA 2018-2020, tiga tahun berturut-turut ada ayat yang selalu dipilih, doa nabi Musa saat duduk di bawah pohon. Tentang doa ini, aku juga merasa ingin menuliskannya, doain ya semoga aku bisa nulis tentang ini, someday.

Terakhir, ini bulan Ramadhan, untukku terutama, jangan lupa banyakin melangitkan doa. Boleh dari doa-doa di Quran. Boleh juga doa dalam bahasamu sendiri. Doa-doa dari hadits juga banyak banget. It's Ramadhan, it's the month of quran, but it's also the month of dua.

Allahua'lam.

***

PS: MFA2020 memang sudah gak nerima tulisan, tapi kalau kamu mau nulis tentang ayat favoritmu, kenapa ayat itu terasa begitu dekat dalam hidupmu, serta penjelasan tentang ayat itu, kamu bisa tetap menulisnya. Publish di blogmu, atau di facebook, atau di instagram story/post. Barangkali.. dengan kamu share tulisanmu, orang-orang juga akan ikut berpikir, apa ayat quran yang tahun ini terasa dekat di hatinya, mereka jadi membuka quran lagi, dan bersyukur akan turunnya Al Quran dan hadirnya Rasulullah yang menjadi manusia suri tauladan kita. Allah tidak menurunkan quran saja, tapi Allah juga memberikan contoh langsung, bagaimana kalau quran tersemat di hati manusia dan menjadi hidup dalam setiap langkah dan amalnya. Allahumma shalli 'ala Muhammad, wa ala ali Muhammad.

Tuesday, May 12, 2020

The Path and Fruits of Guidance

May 12, 2020 0 Comments
Bismillah.

Transkrip video pendek penjelasan salah satu doa di surat Al Kahfi.


***

عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَـٰذَا رَشَدًۭا…

(QS Al Kahfi [18] : 24)

Now the last and what I considered the most beautiful part of this expression. 

"Perhaps Allah will guide me", guide me to what? He says "li aqraba min hadzaa rasyadaa".

You know, the language of this is so profound. And in a khutbah I can't give you lessons, because you'll have a headache. So I'm going to try to make this as simple as I can.

In the Arabic language, sometimes you say "over there", and sometimes you say "all the way over there".

When you say "all the way over there", you're saying that I'm guiding you to your destination. If you just say "over there", maybe you get over there, then you have to go somewhere else and somewhere else, and somewhere else.

But if I say "all the way over there", then I've told you that "that's where you have to go, you don't have to go any further than that."

When the "lam" is used, "'asaa ayyahdiyani rabbii li aqraba min hadzaa rasyadaa", this "lam", what it suggests, this is a muntaha.  There's no higher thing to ask in this dunya. If you get this, there's nothing better to ask for.

If the word "ila" was used, then you get there, then you get to go for something else and go for something else. You see?

So what I'm asking Allah in this ayah, and what you're asking Allah in this ayah, is for something that if you have it there's nothing better. It is the ultimate end.

Now what is that ultimate end?

He says,  "li aqraba min hadzaa", "closer than this"

"I hope Allah will guide me closer, all the way closer than this"

What is the word "this" mean? "This" means where I am right now.

Now let's understand what this means in simple language.  All of us, alhamdulillah, tsumma alhamdulillah have some degree of guidance, the fact that we're sitting in the house of Allah in jumuah means Allah have given us some guidance. Some people Allah has given more guidance, some Allah has given less guidance. Some have more knowledge, some have less knowledge. Some have better attention when they pray, some have less attention when they pray. We're not all on the same level, that's the fact.

But you know what's this du'a is telling you? My ultimate goal is to get closer to Allah than I am today. I am not here to compare myself to someone else. I am just here to compare myself from where I am right now. If I can just work on getting better than what I am right now, that is the ultimate success before Allah. There is no higher success.

You will never become perfect, I will never become perfect. All we can work on is becoming a little bit better, and then a little bit better, and then a little bit better. Just getting a little closer to Allah, and a little closer. And if a person dies becoming closer to Allah,  they are successful.


A lot of people, you know what they do? They compare themselves to others.

"Wow, this one's already memorized the entire Quran"

"Look at how they recite"

"They're at the Masjid every single day"

"They're there before the Adhan is even called"

"They're worshipping Allah so much more"

"They're so much more knowledgeable"

"They know so much more, they know Arabic, they know tafseer, they know this, they know that"

You know? Or "they dress better as Muslims than I do"


You know, don't compare yourself to anybody else. That's not what Allah wants.

Allah is not going to put you next to someone else and compare. He doesn't even want you to compare yourself to others in dunya, forget akhirah. Not even in dunya.

لَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۚ ..

(QS An-Nisa [4] ayat 32)

Don't wish for what other people have, what Allah has given some preference over others. Don't do that to yourself.

So what are we learning then? We're learning that… if for example you're starting to recite Quran today,  you're 35 years old, you haven't read it. You haven't even opened the book for 30 years, and you decide to start reading Quran today. You can't even get through bismillah, you don't even know what a "ba" looks like anymore. Now you have to learn like children.

There are people who are your age you can read like adults, but you have to read like a child, but that's okay. That's okay. When you learn even that "alif" or that "ba", and you make a little bit struggle closer to Allah and you died that way, maybe you're better than even an alim. Maybe you're better than a Hafidzul Quran, who memorize the whole book but has no appreciation, didn't want to make themselves a better person. Because who wants to make themselves a better person is in the heart, and Allah knows that.

So don't underestimate where you are with Allah. People can underestimate you. Allah does not underestimate you. People make it sound like guidance from Allah is hard, it's expensive it doesn't come easy. And Allah is opening the doors of it wide open. He's just asking you and me to embrace it and say, "Ya Allah guide me, bring me a little closer to Yourself"

"li aqraba min hadzaa rasyadan", in terms of uprightness, in terms of guidance.

The last word of this ayah, "rasyadan" is actually acknowledges, that the the fact that you're making this du'a, means that you're already on some guidance, that you shouldn't say that I'm misguided. It already acknowledged that. The fact that Allah gave you the ability to make this du'a itself is a gift of guidance from him. And Allah will give you more, and He will give you more, and He will give you more. This is the optimism of the Muslim.

When guidance comes in this world, then tuma'ninah come. You know ithminan comes. Our heart becomes tranquil.

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ…

(QS. Ar-Ra'd [13] ayat 28]

This is what I want to conclude with. When a heart becomes tranquil, when a heart becomes at peace, than the people around that person, they're also …. that the peace is infectious, that Iman is infectious.

Peace spreads in the family, peace spreads among friends, peace spreads in a community, when guidance comes.

If the problem of the world is is conflict, hatred. If the problem of the world is war, then the solution to that is not other policies or more weapons. That's not the solution. It's not economic sanctions. What humanity needs is guidance. Because without guidance, you can't have peace .you just can't.

فَأَىُّ ٱلْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِٱلْأَمْنِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ…

[Surat Al-An'am (6) ayat 81]

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

[Surat Al-An'am (6) ayat 82]

Fa-ayyul fariiqaini ahaqqu bil amni inkuntum ta'lamun, alladziina aamanuu

Who deserves more peace? Those who believe, those who came to Iman. This is what we're asking Allah Azza wajall. 

When you and I make du'a for peace in the world, for peace in the Muslim lands, for peace for those who are oppressed. When we make those du'as then we're actually directly asking Allah to increase us and the world around us in guidance.

May Allah Azza wa jall increase all of us in guidance, and make us of those who are positive about their future, their own future, the future of their children, the future of this Ummah and the future of the world over. This entire world, we have to be concerned for it, not just our own Ummah. The entire world. We are the millah Ibrahim alayhi salam. Ibrahim alayhis salam used to be concerned for all of humanity. That is the legacy that we've inherited. So we have to be optimistic about the entire world. May allah so it'll make us that way. And make our future generation a beaming example of what it means to live the beautiful teachings of this book.

***

PS: Mohon koreksi jika ada kesalahan.