Follow Me

Saturday, March 31, 2018

Tidak Ada Salahnya Menunggu

March 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pernah aku bertanya-tanya, tentang jarak yang terbentang. Komunikasi yang sunyi. Awalnya kubiarkan diriku berisik sendiri. Karena aku sebenarnya tidak mengapa, jika ia lebih suka diam. Biasanya memang begitu, aku bicara ia diam. Tapi jujur saat itu... diamnya terlalu lama, dan jarak yang terbentang seolah semakin bersekat-sekat. Pagar itu meninggi saja. Kini bukan saja tentang jarak tapi juga halangan.

Pernah aku bertanya-tanya, apakah berisikku mengganggunya? Maka kukurangi frekuensiku bersuara. Bukan aku ikut menjauh, sungguh bukan. Aku hanya takut ia terluka oleh suara parauku.

***


Tidak ada salahnya menunggu. Sepi ini, jarak ini, bahkan pagar-pagar ini, kelak akan sirna jika aku mau menunggu. Tentu bukan menunggu matahari terbit di sebelah barat. Namun menunggu, sembari terus mengisi waktu menunggu dengan mengufukkan untaian kalimat indah dalam hati. Setidaknya, parauku tidak membuatnya menutup telinga.

Tidak ada salahnya menunggu. Lihatlah, kemarin...setelah puluhan hari ia lewati dalam bungkam, ia akhirnya bersuara. Kalimatnya lirih, tak panjang, namun tidak bisa disebut singkat.

Tidak ada salahnya menunggu.

***

Menulis ini sembari tersenyum karena ia telah meluruhkan pagar penghalangnya. Jaraknya masih ada. Sunyi juga masih dominan menghias suasana. Namun ia sudah bersuara lagi, dalam barisan kata, tak singkat namun juga jauh dari panjang.

Tidak ada salahnya menunggu. Bila lewat menunggu kutemukan indahnya saat ini. Saat aku terlambat membaca pesanmu. Pesan yang kunanti satu bulan lamanya.

***

Tidak ada salahnya menunggu. Lagi.

***

PS: Tentang seorang ukhti nan jauh di mata

Friday, March 30, 2018

Menyergap Saja

March 30, 2018 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Ketakutan itu menyergap saja datang tanpa peringatan.

***

Manusia... salah satu bentuk ujian yang disajikan oleh Allah pada manusia adalah perasaan takut.


Malam itu, ditambah satu hari berikutnya, perasaan takut menyergap saja diriku. Saya pernah menulisnya di sini, tentang ketakutan berlebihan jika merasa sakit. Pikiran buruk bermunculan saja, jemari tak bisa ditahan untuk bertanya ke internet, yang justru semakin membuat saya takut. Saya tahu, ini tidak baik, tidak rasional.

Maka hari itu, kuingat lagi makanan apa yang sebelumnya saya makan. Saya ingat lagi, dulu.. saat ketakutan berlebihan saya luruh, bahwa saya ternyata tidak sakit parah. Saya saja yang melebih-lebihkan rasa sakitnya.

Perlahan, pikiran buruk yang bermunculan mulai kalah oleh pikiran rasional. Perasaan pasrah pun membantu saya menenangkan diri, yang sempat disergap rasa takut. Jika ini bukan sakit parah, maka Allah sedang mengajarkanku untuk berbaik sangka. Jika ini memang sakit parah, maka itu hak Allah, ketentuan Allah, tinggal bagaimana aku nanti bereaksi, bisakah sabar? Bisakah rasa sakit menjadi penggugur dosa?

***

Hari ini, aku terbangun atas Rahmat-Nya. Menemukan bahwa semua ketakutan dua hari kemarin salah. Bahwa mungkin ketakutan itu, memang perlu hadir sejenak, agar aku merapat kepadaNya.

(:

***

Menulis ini sebenarnya seolah buka kartu, bahwa aku terkadang sering parno, ketakutan irasional itu sering hadir. Terutama tentang rasa sakit fisik. Mungkin karena Allah mengkaruniakanku badan yang sehat, maka sedikit rasa sakit, kemudian aku mulai berspekulasi yang terlalu lebay hehe.

***

Terakhir, sudah masuk pertengahan bulan Rajab (:
Ramadhan berapa hari lagi? ^^

Mari persiapkan diri dari sekarang~ Semoga Allah izinkan kita untuk bertemu lagi dengan Bulan Quran, Ramadhan.

Thursday, March 29, 2018

Tentang Tulisan Reaktif

March 29, 2018 0 Comments
Bismillah.


Beberapa postingan belakangan ini merupakan tulisan reaktif. Apa sih bedanya tulisan reaktif dan tulisan non-reaktif? Bedanya di jeda waktu. Tulisan reaktif itu biasanya tulisan spontan yang tergerak atas perasaan sensi ku, sensi di sini ga mesti marah, bisa juga perasaan ga nyaman, ga setuju, ingin bertanya, atau juga ingin menjawab pertanyaan. Rasanya seperti ada yang menggelitik otak dan jemarimu, harus dituang kemana gitu. Dan aku biasanya memilih untuk menuangnya di blog magic of rain, tapi ada saat-saat ingin di publish ke umum, kalau blog magic of rain kan yang baca cuma sendiri hehe.

Tulisan non reaktif itu, biasanya ada jeda waktu. Dari "ide tulisan" yang biasa muncul dari kejadian, atau interaksi dengan buku/manusia, kemudian ada jeda, dimana aku mengolah pengetahuan yang kuketahui, terhadap ide tersebut. Kalau lagi niat banget, biasanya ada proses cari referensi, biar hasil tulisanku bukan sekedar yang aku tahu, tapi juga jadi membuatku belajar hal baru. Di jeda ini juga, akan ada proses pembuatan outline, sebagian aku simpan di kepala, kadang aku buat draftnya saja dulu di sini, atau di tempat lain (di kertas terdekat biasanya).

***

Bicara tentang tulisan reaktif tiba-tiba mengingatkanku akan istilah expressive writing. Istilah yang digunakan untuk menulis yang 'menyembuhkan' luka. Kalau expressiv writing, justru harus ekspresif, dan biasanya tulisan lebih ekspresif kalau reaktif. Karena terbawa perasaan emosional. Berbeda sama tulisan non-reaktif, yang mayoritas menggunakan otak rasional. Ya, bawa perasaan juga sih. Tapi ga se-dominan tulisan reaktif.

***

Orang yang perfeksionis, biasanya jarang menelurkan tulisan reaktif. Semua kata sudah terencana, ejaan harus benar, kalimatnya juga harus beneran efektif. Judul harus yang click bait. Mungkin juga disiapin gambar yang mau disisipkan di tulisan tersebut. hehe. *teringat betapa banyak tulisan di blog ini yang belum dihiasi gambar. hm..  

***

Udah sih, itu aja yang ingin saya tulis mengenai tulisan reaktif. Reaktif atau tidak, tetaplah menulis~ Tapi untuk tulisan reaktif, usahakan jangan ditulis di "jalan raya". Bukan di sosial media, di mana banyak mata yang membaca. Di blog boleh, kalau pengunjung blogmu ga rame-rame banget. Atau di tempat-tempat sepi lainnya.

Sekian, semangat menulis~

Tuesday, March 27, 2018

Tulisan Reaktif Lagi

March 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

Seseorang berkata,
"Duh, aq sedih deh kl lama ga berkabar sm tmn tp tau2 pas berkabar denger ada yg ga lanjut kuliah, ada yg cerai, dll. Rasa2nya pgn ngulang ke beberapa wkt lalu nepuk pundaknya siapa th bs berubah kputusannya......"
Aku membacanya pelan, tidak emosional, tapi jujur, membacanya membuatku ingin reaktif dan menulis di sini.

***

Aku tahu, beliau lebih paham tentang kata 'seandainya' yang seharusnya dihindari.

Aku tahu, beliau hanya menuangkan perasaannya, saat lebih dari sekali ia menemukan kabar keputusan 'mengejutkan' dari teman yang lama tidak berkomunikasi dengannya.

Tapi aku ingin menjawabnya, di sini...

Bahwa meski ia ada saat itu, disamping teman-temannya, menepuk pundaknya, menjadi salah satu orang yang menguatkan teman-teman tersebut di saat gejolak pilihan yang konsekuensi tidak kecil. Meski ia ada di sana, saat itu. Dan kemudian waktu berlalu, menjadi saat ini. Keputusan teman-temannya mungkin akan tetap sama. Why? Karena sudah terjadi, dan itulah yang disebut takdir. Yang sudah terjadi.

***

Untuk siapapun yang mungkin merasakan keterkejutan yang sama, atas kabar dari teman yang lama tak berkomunikasi.

Instead of wondering how it might have been, if you had been there beside them before they made such decision. Instead of asking 'why' to them. Maybe it's better for you to ask for their feeling,


"Are you okay now? What's happen is happened. What's your next plan?" Instead of telling them, that you're sorry for not being there for them. You can just begin to keep in touch with her, and keep staying beside them, despite their previous 'shocking' decision.

Karena sebenarnya, yang mereka pikirkan, bukan tentang bagaimana kita tidak ada di samping mereka pada saat-saat yang lalu. Tapi mungkin, yang mereka sekarang pikirkan, dan khawatirkan, adalah apakah kita mau tetap di samping mereka, meski setelah mengetahui keputusan yang mereka ambil.

***

Terakhir, jangan salahkan dirimu.. atas apa yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Tujuan mereka baru menceritakan keputusannya padamu, bukan supaya kamu merasa bersalah. Tidak. Saat kamu akhirnya mengetahui keputusan tersebut, dari lisan/jemari mereka, itu artinya mereka percaya padamu, bahwa keputusan mereka di masa lalu, tidak akan mempengaruhi hubungan pertemananmu dan mereka. Karena bagi mereka, tidak mudah, mengungkapkan fakta bahwa mereka memilih keputusan tersebut.

Allahua'lam.

Monday, March 26, 2018

Fooling Myself (2)

March 26, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tulisan Fooling Myself kubiarkan saja tetap di sana, meski sebagian sisi diriku ingin mengembalikannya ke draft.

***

Aku ga tahu kalau orang lain, tapi bagiku.. negative vibes memang terkadang perlu tetap diekspresikan, meski abstrak.

Naik turun, merasa sudah membaik, namun justru sebenarnya masih sedang proses terjun, jatuhnya belum selesai. Hm. Perasaan ingin menyerah, ada. Tapi alhamdulillah, Allah menghapusnya. Ditambah dukungan lingkungan, sungguh bersyukur berada di sini, seatap dengan orangtua dan adik. Saat jatuh dan menjauh, ada adik, ibu, ayah yang sering "memperdengarkan padaku" ayat-ayat Allah.

Sebenarnya aku selalu ragu, benarkah aku sudah baik-baik saja?


Tapi keraguan itu tidak boleh kubiarkan berlama-lama di otak dan benakku. Tutup mata saja akan keraguan itu. Bangkit lagi, meski jatuh lagi, bangkit lagi. Paksa diri, bukankah itu bentuk mujahadah? Saat iman terasa begitu rendah, diri tak berdaya, paksakan diri berdoa padaNya, bersandar pada pertolonganNya. Hanya Allah yang bisa melindungiku, Hanya Allah yang bisa menolongku, Hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hatiku.

***

Beberapa hari kemarin, seolah meyakinkanku. Aku tahu, ini mungkin termasuk keputusan yang salah tempat. Tapi sementara, izinkan aku membatalkan rencana diri, tanggal 7 nanti, momen silaturahim yang direncanakan jauh-jauh hari. Mungkin aku akan memilih di sini saja, berdoa dari jauh, menyapa dari jauh.

Meski tak bisa kupungkiri, aku ingin berada di sana, di hari bahagianya(1). Aku ingin di sana, bertemu ia(2) yang masih diam. Aku ingin di sana, bertemu beberapa orang lainnya(3,4,dst) dan berbagi salam.

But who knows? Manusia cuma berencana. Dan keyakinan ini, keputusan ini, bisa jadi berubah. Kalau Allah menggerakkan hatiku. Kalau Allah menuliskan rencana lain yang lebih baik.

***

I'm still afraid, that I will repeat the same mistakes of fooling myself. Cause I still remember clearly how hurt it is, to keep fooling myself.

***

Terakhir, barangkali ada yang membaca ini. Mohon doanya ya (: doa yang baik-baik untuk dunia akhiratku ^^ terimakasih sebelumnya.

5!

Saturday, March 24, 2018

Fooling Myself

March 24, 2018 0 Comments
Bismillah.

It's a reactive post. I know. But I think I should really write it here. To remind me, reminding myself.. that I can't and I shouldn't keep doing this. Fooling myself.


When you fall, to the dark pit. You can always get up again, no matter how painful it is, no matter how hurt you are. But... you can also fool yourself, pretending that you are already out from that dark pit, but in fact, the reality is, you still don't move an inch from there. You're fooling yourself.

Thursday, March 22, 2018

Istilah Lain dari Kelapangan Hati

March 22, 2018 0 Comments
Bismillah.

#buku

Dari buku Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Headingnya, tentang Firar dan Riyadhah.

Firar maknanya melarikan diri/pelarian. Ada dua jenis pelarian, yang menderita: lari dari Allah ke hal-hal lain, dan yang bahagia: lari dari hal-hal lain ke Allah. Yang dibahas pertama kali, adalah firar-nya orang awam. Firar dari kebodohan kepada ilmu, lalu firar dari kemalasan ke kerajinan, juga firar dari kesempitan ke kelapangan.

***

Tulisan ini, fokus ke firar yang terakhir dari kesempitan ke kelapangan. Makna sempit di sini adalah segala hal yang menyebabkan sesak dada, seperti rasa takut, khawatir, dll. Ada dua kutipan yang sayang kalau cuma dibaca sendiri,
...lari dari semua jenis kesempitan yang menghimpit dada, lalu beralih ke kelapangan keyakinan kepada Allah, tawakal dan harapan kepada-Nya.
- Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam buku Madarijus Salikin
....
Keyakinan dan baik sangka terhadap Allah merupakan istilah lain dari kelapangan hati. Sebab tidak ada yang lebih membuat dada terasa lapang setelah iman, selain keyakinan, mengharapkan yang baik dan berbaik sangka kepada Allah.
- Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam buku Madarijus Salikin
***

Membaca kutipan tersebut mengingatkanku akan suatu sore, saat dadaku terasa sesak sebab menahan amarah, rasanya sesak, sakit dan naik sampai tenggorokan, lalu mataku panas, meski sudah ditahan supaya tidak nangis. Saat itu, aku cuma mikir, mungkin ini yah, yang disebut perasaan tersedak air mata. I'm a crybaby, and I acknowledge it. Tapi jujur, sore itu, baru pernah aku ngerasain nangis yang kaya gitu hehe. Lebay emang, cuma gara-gara amarah. Alhamdulillahnya, amarahnya ga disalurkan lewat lisan, atau tangan atau hal-hal lain yang bisa merugikan diri dan orang lain.

Kejadian itu juga yang membuatku penasaran, bagaimana ya, sistem tubuh kita melakukan seperti itu. Hormon apa yang naik kalau lagi marah, bagaimana otak menterjemahkannya, kenapa bisa beberan sesak dadanya, naik sampai tenggorkan dan menekan kelenjar air mata. Beneran penasaran. hehe. Soalnya sebelumnya, waktu aku nulis tentang dunia yang sempit, atau banyak tulisan lain tentang kesempitan, rasa sesak di dada, sebenarnya itu cuma ungkapan aja. Ga benar-benar sesak dadanya, ya.. sesak hatinya mungkin iya sih hehe. It just makes me more curious. Kok bisa ya?

***

Balik lagi ke kutipan dari buku Madarijus Salikin. Mungkin yang sudah tahu, akan berkata dalam hati, ah.. itu udah tahu. Biasa aja kutipannya. Tapi bagiku, meski mungkin bukan pengetahuan baru. Rasanya beda aja, baca kalimat dan pilihan kata itu. Cerdas. hehe.

Istilah lain dari kelapangan hati adalah keyakinan dan berbaik sangka pada Allah. Karena cuma itu, obat untuk hati yang sempit. Rasa sesak dan penat karena kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan dan ketakutan yang kita rasakan, obatnya cuma keyakinan dan berbaik sangka pada Allah. Ga ada yang lain.

Keyakinan kepada Allah dapat didapat dari belajar mengenal-Nya, dan berbaik sangka kepada-Nya juga akan mengikuti kalau kita mengetahui sifat dan asmaul husna-Nya. Perlu berjalan mendekat padaNya, harus ada usaha untuk terus berbaik sangka, meski pasti ada saja lintasan pikiran buruk di otak, karena hati kita mungkin sedang sakit.

***

Terakhir... jika hati terasa sesak. Baca juga doa, yang dicontohkan Nabi Musa, dan diabadikan doa-nya di Quran (Surat Thaha ayat 25-26).

رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى
Aamiin.

Wallahua'lam.

Rasanya Lama Sekali

March 22, 2018 0 Comments
Bismillah.
#curhatsemua
-Muhasabah Diri-

Rasanya lama sekali aku tidak menulis di sini hehe. Padahal kalau lihat tanggalnya, baru jeda 3 hari hehe. Sekarang, dan mungkin beberapa bulan ke depan, akan berbeda. Menulis di laptop akan jadi momen yang spesial. Karena sekarang yang banyak akses laptop ini adikku hehe. Ada laptop lain padahal, tapi rasanya aneh saja, lebih baik pegang hape aja.

***

Setelah sabtu kemarin sempat bolos GMIB, ternyata ahad cuma naik sedikit, kemudian tiga hari kemudian saya turun lagi motivasi menjadikan membaca sebagai habit hehe. Kamis ini baru nyoba lagi, ga sampai 25 halaman, gapapa. Lapor dulu aja hehe. Syukur-syukur bisa nambah baca lagi, tapi kalaupun ga, gapapa hehe.

Selasa kemarin ada materi di grup KMK dan EMC, diingatkan lagi modal yang harus dimiliki, atau tiga hal penting kalau mau nerbitin buku. Yang pertama strong why, lalu bad writing sama habit. Materinya dari Rezky Firmansyah. Di akhir materi, ada challange gitu, batas waktunya 12 jam. Tentang perjalanan menulis, boleh ditulis fiksi/non-fiksi. Gatau kenapa lagi semangat jadi nulis deh, curhat ini itu.. sempet di publish di sini juga loh hehe. Tapi sudah aku back to draft lagi. Terlalu banyak cerita tentang diri hehe. Dari kulwap tersebut, aku diingatkan lagi tentang draft buku-ku, tentang weakwhy-ku. Motivasiku memang masih lemah, jadi ada banyak alasan untuk tidak mengedit, menulis, mengedit lagi, menulis lagi hehe. In syaa Allah, akan segera kucari strong why-nya. Kemudian melanjutkan menulis draft lagi. Bantu doain ya hehe.

Jeda senin-rabu tidak membaca sebenarnya jeda yang cukup untukku bertanya pada diri. Bagaimana menjadi pembaca yang tidak cuma pembaca. Bagaimana agar diri tidak menjadi keledai yang memikul banyak kitab. Hmm.. berat. Bener-bener berat.

Apalagi, ahad kemarin yang kubaca, penutup dari buku Revive Your Heart adalah tentang akhirat. Bagaimana posisi akhirat di hati kita. Tentang rasa malas, yang seharusnya tidak boleh terlalu lama menahan tangan dan kaki kita. Kalau kita terlalu sering malas, kata ustadz Nouman, coba tengok lagi iman kita terhadap akhirat? TT

Apalagi, ahad kemarin yang kubaca, beberapa halaman dari Madarijus Salikin adalah tentang inabah. Juga tentang perampok di perjalanan antara amal dan hati, dan perampok di perjalanan antara hati da Allah, juga tentang beberapa hal yang merusak hati.

Hari ini, meski sudah bisa lanjut baca beberapa halaman berikutnya dari Madarijus Salikin, bukan berarti yang kemarin sudah selesai. Semoga masih akan terus membuat hati gelisah. Karena ilmu dan amal itu.... jaraknya sungguh jauh. Beda jauh, orang yang sekedar mengetahui ilmunya, dan orang yang sudah mengamalkan.

***

Dan tiba-tiba aku kehabisan kata, gatau harus menutup tulisan ini dengan kalimat apa. Sekian curhat kali ini. Banyak hal yang menanti dikerjakan, baik itu menulis, maupun hal-hal lain.


Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu di hidup kita dengan kegiatan produktif, yang tidak hanya bermanfaat untuk diri kita, tapi juga untuk orang lain. Bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin.

Allahua'lam.

Sunday, March 18, 2018

Supaya Dapat Melihat Diri yang Sebenarnya

March 18, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku

Pertama, maaf atas judul yang sangat tidak menarik. Hehe.

Hanya ingin menuliskan di sini, sedikit pelajaran dan kutipan yang saya dapatkan dari buku Revive Your Heart (RYH), Nouman Ali Khan.

***

Manusia... suka tidak suka, sadar tidak sadar, suatu saat akan mengalami, bagaimana pujian dan kritik dari orang lain mempengaruhi pandangan kita terhadap diri.

Kalau kata Ustadz Nouman dari buku RYH, ini fenomena manusiawi.
... when people get praise and criticism from others all the time, you know what starts happening? They start getting affected by it. They start seeing themselves in light of how other people see them. So their image of themselves becomes polluted because they're not seeing themselves for who they really are, they're seeing themselves in light of other people's words. That's a human phenomenon. -Nouman Ali Khan
Membaca paragraf itu mengingatkanku fase-fase saat aku kehilangan diriku. Bagaimana ketakutanku, kekhawatiranku, hanya karena aku terbiasa mendengar pujian dan kritik. Seolah pujian atau kritik dari orang lain tersebut mempengaruhi siapa diriku. Seolah saat semua orang memandangku rendah, sebenarnya aku memang seorang yang sangat rendah. Atau sebaliknya.

Kalimat selanjutnya dari ustadz Nouman Ali Khan, juga mengingatkanku, masa saat aku perlahan mulai mencari lagi diriku, saat aku mulai perlahan keluar dari fase gelap tersebut.
This is why we have Allah's word. So we can see ourselves in light of Allah's words; and that will help us see ourselves for who we really, truly are. -Nouman Ali Khan
Al Quran.. mendekat lagi ke Al Quran, membacanya, mempelajarinya, mendengarkan kajian tentangnya. Sedikit demi sedikit, interaksi dengan Al Quran mengingatkanku tentang siapa diriku. Mengingatkanku tentang betapa tidak pentingnya, pujian dan kritik manusia, betapa mereka.. what they think of me, what they talk about me, means nothing to me. Aku tetaplah aku. Jika aku merah aku tetap merah. Meski semua orang mengatakan aku biru. Juga, jika aku hitam maka aku tetap hitam. Meski semua orang mengatakan aku putih.

Lewat membaca kalam-Nya, mendengarkan firman-Nya, memikirkan dan belajar tentangnya (Al Quran). Cuma dengan itu, kita bisa membersihkan polusi yang awalnya memburamkan identitas kita yang sebenarnya. Saat kita salah, Quran lah yang menegur kita, kadang dengan lembut, kadang dengan hantaman keras. Saat kita berusaha melakukan hal baik, Quran juga.. firman Allah-lah yang akan menghibur kita. You're doing well, Allah knows your struggle, Allah puts that burden cause He knows you can handle it. 

***

Akan ada saat kita masuk lagi ke fenomena manusiawi itu, lagi. Karena itu wajar. Kritik dan pujian dari manusia, mungkin akan mempengaruhi kita. Tapi semoga saat itu.. kita tidak lupa untuk terus berpegang teguh pada kalamullah. Sehingga kita tidak mudah terombang ambing karena polusi pujian dan kritik manusia.

Wallahua'lam bishowab

Import Medium, GMIB, dkk

March 18, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random
Tulisan ini random, akan banyak curhat mungkin hehe. Pertama tentang import medium.

***

medium.com/p/import

Fungsi Import di Medium

Aku baca di salah satu tulisan seseorang di medium, berbahasa inggris, yang menjelaskan poin-poin mengapa tepat memilih medium. Linknya aku ga catet, cari sendiri ya kalau ada yang penasaran hehe. Jahat banget bella.

Salah satunya, adalah fungsi import medium. Jadi kita bisa import tulisan dari website/blog milik kita ke medium. Sekitar beberapa bulan kemudian, saat aku sedang fase ekstrovert hehe, aku menulis di sini, curhat ini itu tentang attachment to people. Masih belum puas sisi ekstrovertnya, akhirnya memutuskan import banyak tulisan dengan label buku ke medium hehhehe.

Sejak saat itu, saya jadi beneran ekstrovert di Medium hehe. Rajin import, tulisan lama sih. Dan baru tahu ada perbedaan saat import 5 maret lalu, dan import beberapa kali setelah tanggal 5 maret. Yang pertama, semua import tertanggal 5 maret. Yang kedua, dan ketiga (hari ini) menyesuaikan tanggal postingan di blog ini. Gatau kenapa bisa gitu. Tapi aku suka sih, sekarang nyesuaiin tanggal asli postingnya hehe.

Meski jujur, waktu cek profil bingung. Kok latest-nya Find Your Self ya? hehe. Padahal ada dua atau tiga postingan lain yang pernah saya post setelah tanggal 5 maret. Ternyata eh ternyata hehe.

H+6 Gabung Grup WA GMIB

Satu, dua, tiga, empat hari pertama lancar. Jumlah halaman minimalnya terpenuhi. Tapi kebiasaanku baca sambil nyatet kutipan jadi agak terbengkalai. Sabtu, ga baca sama sekali hehe. Bolos laporan. Baca-baca ulang empat hari yang kemarin, nyatet kutipan di buku tulis, ada yang aku tulis nukil bukunya juga di sini, hari Jumatnya sih hehe. Hari ini mulai lagi, dibawah jumlah minimal. Trus ada yang ngingetin juga di grup, agar jangan terlalu fokus ke jumlah halaman. Takutnya kuantitas membaca oke, kualitasnya buruk. Padahal membaca yang baik, harusnya tidak terhenti di membaca, bukan sekedar informasi yang lewat saja masuk mata, keluar dari mana ya? Membaca itu bukan sekedar aktifitas memasukkan informasi dari mata, kemudian dilupakan di otak. *buat pepatah sendiri, ngasal beut hehe.

Aku pribadi tahu, bahwa I'm a slow reader. Sejak memulai lagi membaca. Menikmati membaca di SRC (Salman Reading Corner). Tempat itu.. jadi favorit ketiga setelah kortim, dan asrama putri. Setiap harus menunggu, dan malas bertemu wajah familiar, aku memilih 'sembunyi' di SRC. Meski cuma lima-sepuluh menit di sana. Ngisi buku tamu, ambil buku "Amalan Penghilang Susah :)" kemudian membacanya. Satu dua lembar. Kadang dicatat kalau ada yang somehow ngena di hati. Ah.. jadi kepikiran buat daftar link, buku dan beberapa tulisanku yang terinspirasi/isinya ngutip banyak dari buku tersebut. hehe.

Aku pribadi tahu, bahwa I'm a slow reader. Dan niatku ikutan GMIB (Gerakan Membaca untuk Indonesia Berkeilmuan) memang sekedar cari temen baca, cari temen yang ngingetin biar aku baca setiap hari. Even if it doesn't fulfill the minimum. Oh ya, di GMIB ada reward-nya juga loh. Jadi kalau udah selesai satu buku, peserta bisa kirim tulisan ke email X, dan mengisi formulir Y. Nanti akan dipilih peserta yang berhak dapat reward. Hadiahnya buku ~

Oh ya, bersama GMIB, aku berhasil nyelesaiin buku Revive Your Heart. Alhamdulillah. Jadi inget resensi. Saya pribadi berhutang resensi pada blog ini. Harusnya mah, tiap selesai baca buku, dibuat resensinya hehe. Buku MMPQ belum dibuat resensi, sekarang tambah Revive Your Heart. Mohon doanya ya, semoga segera dibuat dan dipublish di sini.

Gadget InstaFeed di Blog

Jadi.. aku kan penasaran tuh, kalau misal ig kita di private, munculkan di instafeed? Ternyata masih muncul. Dan uniknya, kalau di klik, kita bisa ngintip dan lihat postingannya, meski belum follow, meski defaultnya postingan akun yang di private ga bisa dilihat non follower hehe.

Udah sih, itu aja. Pengetahuan baru. Ini aku nyadarnya karena berkunjung ke blog wordpress seorang ukhti shalihah, ia pasang instafeed juga di blog-nya, tapi ditaruh di bawah, ga kaya template blog ini di atas instafeednya. Kan aku klik salah satu foto, bisa lihat foto, caption, komentar. Trus aku penasaran sama ig-nya beliau.. pengen liat postingan lainnya. Ga bisa. Karena aku belum follow. Yaudah sih, ga jadi kepo hehe. Kepo blognya aja, banyak tulisan bergizi di sana. Oh ya, nama blognya salam first. (biar ga ambigu dan ga ada yang salah tebak hehe).

***

Ada banyak sebenarnya yang masih ingin di tulis. Rasanya kangen nulis blog di laptop kaya gini hehe.

Tapi izinkan di akhiri saja ya, takutnya saya menulis hal-hal yang banyak tidak penting dan gak ada yang tanya juga. hehe. Kalau pun masih banyak yang perlu dituangkan dalam tulisan, mari pindah ke diary hehe.

Bye~

Friday, March 16, 2018

Mata'

March 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

#buku

Menulis judulnya, aku jadi teringat Mata' Salman. Majelis Ta'lim Salman, sebuah unit yang mungkin membersamainya singkat, tapi kenangan di dalamnya begitu banyak. Belajar banyak dari aktif di sana.

(:

***

Di sini, saya ingin membahas tentang mata' dalam bahasa arab. Sekedar ingin menuliskan sedikit yang aku pelajari dari bab Putting Life in Perspective di buku Revive Your Heart-nya Nouman Ali Khan.


Mata' adalah sesuatu yang bisa kita manfaatkan namun tidak untuk dinikmati. Mata' juga digunakan untuk menunjukkan bahwa sesuatu sudah sampai puncak kematangan (mature enough), siap untuk digunakan. Seperti tali yang sudah dipilin dan siap digunakan.

***
"So, Allah is saying whatever experience happened to you, part of the reason for giving you these experiences is they're going to mature you. This is the part of your growing. The good things and the bad things that happen to you and me are part of us growing.

Part of our growth is sometimes things that we are proud and sometimes they are things that we're not proud of. Things that we've done, we look back and we say, 'I'm glad we've done those things' and there are things we look back and we say, 'I wish I never did those things'. Well actually that was part of your mata'; it was part of your growth and maturation process.

Even the regret that you feel looking back, that regret is a gift from Allah. That regret alone might save you. That might be the reason for you and me to enter jannah."
- Nouman Ali Khan, Revive Your Heart
Dibawah paragraf tersebut, ustadz Nouman juga menuliskan bagaimana kisah pemilik kebun di Surat Al Kahfi. *qadarullah banget hari ini hari jumat ^^

Jadi... pemilik kebun, yang pada akhirnya kehilangan kebunnya, berkata, ya laytani lam ushrik bi-rabbi ahada. Pemilik kebun tersebut menyesal karena telah menyekutukan Allah.

Menurut ustadz Nouman, kisah tersebut happy ending (: Kenapa? Karena penyesalan tersebut, pemilik kebun sekarang kembali pada Allah (tidak lagi menyekutukan Allah).

***

Satu lagi, kutipan selanjutnya yang seolah mengingatkanku... kalau kita memahami mata', harusnya kita bisa menjadi seseorang yang kuat. Kalau kata anak-anak EP, Hidup itu (H)Arus Kuat hehe.
Looking back, for a lot of people when they look back at their life, their past experiences, their failures and their tragedies; they debilitate them and they are not able to do anything in their future. But for people who understand what mata' is, what this world is for, they look at their past experiences and it makes them stronger. That Allah put me through that must mean I'm stronger than this and maybe I can help a million other people; help them go through these experiences and see them in the way that they're supposed to be seen. This would be looking at one's own experiences as mata'.
- Nouman Ali Khan
***

Semoga Allah mudahkan kita belajar memahami kalam-Nya, kemudian dari sana... kita belajar untuk mengamalkannya di kehidupan kita. Aamiin.

Semoga kita bisa termasuk orang-orang yang membuktikan: bagaimana sebuah bacaan tidak hanya bacaan, namun bisa mengubah hidup manusia. Al Quranul Karim ^^

Wallahu'lam.

Memandang Berbeda

March 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Seharusnya, aku yang tahu sakitnya tidak seperti itu. Tapi nyatanya aku manusia. Tanpa sadar aku memandang berbeda. Setelah orang lain pernah menunjukkan kesalahannya. Susah untuk memandangnya sebagai sosok yang sama. Tapi aku harus terus belajar kan?


***

Seorang anak kecil ketahuan berbohong. Bukan cuma sekali, dua tiga, berkali-kali. Maka setiap kali ia mengucapkan kalimat yang tidak masuk akal, atau ambigu, atau sedikit terdengar aneh. Orang-orang mengira, itu salah satu kebohongannya. Padahal bisa jadi ia jujur.

Atau seseorang yang pernah mencuri. Namun ia sudah bertaubat dan berusaha bekerja dengan jujur. Namun setiap kali ada barang yang hilang, orang lain akan memandangnya dengan mata menyakitkan. Seolah barang yang hilang itu, selalu dan pasti diambil olehnya.

Atau seseorang yang pernah ketahuan mencontek. Kemudian ia berusaha, belajar sekuat tenaga, siang malam. Hingga suatu hari nilai ujiannya terbaik sekelas. Namun mirisnya, orang-orang melihatnya sebagai hasil contekan. Padahal ujian tersebut ia jujur.

***

Aku tahu padahal, bagaimana sesak dan sakitnya saat orang sekitar mengingatkanku akan kesalahan lama. Aku tahu padahal, bagaimana aku tidak bisa mengelak, karena memang dulu aku pernah melakukan kesalahan itu.

Saat itu, yang bisa meredakan sakitku hanya keyakinan bahwa Allah Tahu, dan manusia wajar tidak tahu.

***

Pertanyaannya dibalik, mampukah kita tidak memandang berbeda? Pada seseorang yang kesalahannya pernah Allah perlihatkan kepada kita? Mampukah kita berbaik sangka, dan tidak memperlakukan mereka secara berbeda hanya karena kesalahan di masa lalu?

Jujur aku meragu pada diri. Meski aku tahu sakitnya diperlakukan seperti itu. Aku cuma manusia. Pernah, aku melakukan itu, memandang berbeda. Tapi aku tidak boleh berhenti belajar kan?

Mungkin memang, aku tidak bisa selalu berbaik sangka. Tapi aku bisa terus menerus belajar berbaik sangka kan? Lagi dan lagi, sampai lintasan prasangka buruk lelah mengikutiku. Bergerak dan bergerak lagi menjauh dari kebanyakan prasangka.

Kejadian ini, kejadian berturut di sini, situasi ini. Allah hendak mengajarkanku sesuatu kan?

***

Semoga kita termasuk orang yang bisa terus berprasangka baik khususnya kepada sesama muslim.

Semoga Allah berikan kejernihan pikiran, dan kelapangan dada.

***

Terakhir, untukku...
Minta maaf lah.. Minta maaf lah. Sincerely apologize. Ok?

Wednesday, March 14, 2018

Karakter Fiksi

March 14, 2018 0 Comments
#fiksi

Banyak orang yang memilih fiksi sebagai cara ia mengungkapkan hidup yang ingin ia rasakan. Karakter utamanya dia, lalu keinginannya, diwujudkan di dunia fiksi.

Tapi... ada juga yang sebaliknya, ia justru membuat karakter fiksi, yang berkebalikan dengannya. Mungkin sang penulis ingin merasakan, bagaimana rasanya memiliki sifat/karakter yang bukan dia. Bagaimana rasanya punya kebiasaan yang jauh dari kebiasaan dirinya di dunia nyata.

Aku mengenal dua jenis penulis fiksi tersebut.


Yang pertama, namanya Finda. Ia punya mimpi untuk melanjutkan kuliah di Eropa, lebih tepatnya di Inggris. Realitanya, Finda mengalami kesulitan dan kemungkinan ia mewujudkan impiannya, tipis. Maka Finda memilih menulis sebuah fiksi, kisah bersambung tentang seorang gadis yang berjuang untuk kuliah di Inggris, serta petualangannya saat akhirnya karakter fiksi tersebut berhasil pergi ke Inggris, bukan sebagai mahasiswa, namun justru sebagai pengantar surat. Karakter fiksi yang Finda buat di kisah tersebut, sangat mirip Finda. Postur tubuhnya, sifatnya, kebiasaannya, bahkan gaya bahasanya saat berdialog dengan karakter fiksi lain.

Aku juga mengenal penulis fiksi jenis kedua. Namanya Tiwi, berbeda dengan Finda yang membuat kisah bersambung. Tiwi lebih sering membuat kisah pendek. Flash fiction. Namun kalau pembaca kenal Tiwi di dunia realita dan memperhatikan karakter fiksi yang menjadi peran utama kisah yang ditulisnya. Ada satu kesamaan dari sekian banyak karakter fiksi tersebut. Karakter fiksi tersebut selalu bertolak belakang dari Tiwi. Postur tubuhnya, sifat-sifatnya, dll. Contohnya, karakter fiksi buatan Tiwi selalu sesosok misterius, yang sangat sulit terbaca kondisi hatinya, apakah karakter fiksi tersebut sedih, atau senang, tidak terbaca oleh tokoh lain, kecuali yang diberitahukan oleh Tiwi kepada pembaca. Realitanya, Tiwi adalah seseorang yang sangat ekspresif. Saat ia senang, semua orang bisa melihatnya. Nada suaranya yang semakin nyaring dengan intonasi ceria. Derap langkahnya yang seperti anak kecil baru bisa berjalan dan memakai sepatu yang berbunyi. Begitu juga saat Tiwi marah atau sedih, sangat mudah terbaca. Saat Tiwi marah atau sedih, ia akan banyak menundukkan wajahnya, nada suaranya mendadak rendah, volume suaranya juga mengecil diiringi intonasi tegas dan serius. Tiwi saat marah, akan menjadi Tiwi yang sangat ceroboh, ia dengan mudah menjatuhkan kertas di meja kerjanya, tersandung tempat sampah, dan kecerobohan lain yang mengundang perhatian banyak orang. Tiwi saat sedih, ia seolah tidak berada dimana ia bertapak. Sunyi, bergerak sangat hati-hati, seolah ia ingin keberadaannya tidak diketahui siapapun.

***

Berbicara tentang menulis fiksi, aku juga menulis fiksi. Kamu tahu, aku termasuk golongan pertama atau yang kedua?

Apa aku lebih mirip gaya menulis Finda, atau lebih mirip Tiwi? Atau bukan keduanya?

The End.

Outline untuk Sabtulis Pekan Kemarin

March 14, 2018 0 Comments
Bismillah.


Mau share aja, bagaimana saya membuat outline tulisan. Saya jarang niat buat outline. Biasanya spontan saja menulis saat mood. Tapi sabtu kemarin, karena laptop sedang banyak dipakai adik yang sedang berjuang menyusun skripsi, saya membuat outline di note hp.

***

March 10, 2018 3:04 PM

Draft untuk #sabtulis. Buat note fb di Refleksi Ramadhan.

Prolog: siapa bilang penulis yang romantis itu di dunia nyata juga romantis? Bisa jadi ia hanya lihai menguntai kata dalam tulisan, karena kesulitannya mengungkap kata indah lewat lisan.

- Romantis/Pembohong?

Samakah keduanya? Penyair itu rawan untuk berbohong. Di satu waktu, ia berkata, kamu-lah satu-satunya. Beberapa abad kemudian, atau tahun, atau bulan, atau bahkan cuma beberapa hari kemudian, ternyata bukan cuma satu. Mungkin kata 'kamu' yang digunakannya mirip kata 'you' dalam bahasa inggris yang sifatnya bisa tunggal maupun jamak hehe.

- Hati diciptakan cinta pada yang berbuat baik

Tahukah kamu sosok romantis tapi bukan pembohong?

Kutipan dari buku Madarijus Salikin.
Hadits Ahmadnya.

Jadi, bagaimana? Masih mau terlena dengan romantisme maya dan sementara dari manusia? Atau mau menyelami dan mensyukuri romantisme dari Zat Yang Maha Sempurna?

- Dua pertanyaan dari sahabat

Siapa orang yang paling Allah cintai? Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amalan apa yang paling Allah cintai? (1) membahagiakan muslim, (2) membantu orang lain, (3) menolong orang yang terlilit hutang (4) memberi makan orang yang kelaparan.

Sumber:
_buku Serial Cinta Anis Matta
_buku Madarijus Salikin Ibnu Qayyim Al Jauziyah
_poin catatan kajian bulughul maram oleh ustadz Zein @Masjid Jensud kemarin malam.

***

Cuma ingin membagikan outline-nya. Mungkin ga akan saya sempurnakan menjadi tulisan. Ada beberapa yang sebenarnya sudah saya tulis di blog ini soalnya. hehe. Yang tentang romantis/pembohong, bisa baca di sini. Kutipan dari Madarijus Salikin, nanti saya ketik di sini in syaa Allah. Hadits Ahmad, bisa dibaca di sini.

***
Sebab hati itu diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Lalu kebaikan macam apakah yang lebih besar daripada Dzat yang mengetahui kedurhakaan hamba, lalu justru memberinya nikmat, memperlakukannya dengan lemah lembut, menutupi aibnya, menjaganya dari serangan musuh yang selalu mengintainya, dan menjadi penghalang di antara keduanya? Semua ada dalam pengamatan dan penglihatan-Nya. Padahal langit sudah meminta izin untuk menindihnya, dan bumi sudah meminta izin untuk menelannya, dan laut sudah meminta izin untuk menenggelamkannya.
- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, dalam buku Madarijus Salikin
***

Mungkin hanya outline, tapi semoga masih bisa bermanfaat. Terutama untuk yang berniat menulis, namun sering stuck untuk memulai. Cobalah untuk membuat outline dulu, membuat rangkanya, agar nanti.. memudahkanmu mengisi dagingnya. Kalau sudah ada rangka, minimal kita jadi tahu urutannya, atau bahkan bisa menulis acak tapi tidak mengubah rangka.

Ya, aku bisa menyempurnakan tulisan poin catatan kajian dulu, baru kemudian menulis tentang romantis/pembohong, baru kemudian menulis bagian tengah rangka tulisannya. Bisa seperti itu. J.

Atau, kalau yang memang tidak terbiasa membuat outline. Spontanitas aja juga gapapa. Aku juga seringnya gitu. Apalagi kalau cuma satu tulisan di blog. Beda kalau menyusun buku, harus ada outline-nya. Ehm.

Selamat berlatih menulis~ Bye bye^^

***

PS: Tentang sabtulis

Behind The Scene Perubahan Tampilan Blog

March 14, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blog

Mau curhat bagaimana akhirnya blog-ku sampai di tampilan yang sekarang hehe. Alasan awalnya childish, childish banget hehe.

Jadi awalnya kan saya menggunakan tema Terkemuka, dengan warna tosca, tapi karena banyak menemukan blogger lain pakai tema yang sama, akhirnya saya ganti pake tema Soho kombinasi warna hitam pink.

Sampai di situ, masih ada yang ga pas di hati. Rasanya ada yang kurang. Ga bisa baca preview, kecuali pinned post. Trus ga ada prev-next post. Jadi deh.. akhirnya termotivasi untuk cari-cari cara edit html, buat ngedit yang udah ada. Sebelum ngedit, blog ini saya set private.

Percobaannya gagal, gatau kenapa ga berhasil aja, nambahin link prev-next post plus judulnya. Hehe. Maklum, baru pertama kali nyoba edit ginian. Pernah belajar html, tapi buat ngerjain tugas aja, ga pernah dipraktekan untuk blog sendiri hehe.

Trus, kepikiran buat download free theme aja. Hehe. Googling, nemu template ini, upload trus tinggal customize deh. Hal pertama yang saya edit, adalah header blog. Ternyata, bentuknya image. Saya jadi buka canva lagi, setelah sekian lama hehe. Cuma nulis "Better Word for Better Life" dengan background putih hehe. Ukurannya sebenarnya salah, tidak sesuai dengan template asli. Masih harus diubah kayanya, tapi harus belajar desain dan tanya-tanya ke Teh Risma atau orang lain kayanya. Baiknya gimana, biar header blog bisa bagus-nya sama, kaya contoh di default awal Tema Lucy.

Yang kedua, yang saya customize adalah serba serbi di kolom kanan. About me di kanan, saya hapus. Jujur malas, harus cari foto, atau bahkan ngedesain lagi. hehe. Lanjut mengisi link-link sosial media. Trus mengurutkan beberapa gadget lama. Searchnya dibalikin ke atas, lalu bismillah, lalu here i am, dst. Gadget label yang tadinya dikolom kanan juga saya pindah ke bawah hehe. Juga menambahkan gadget image, ambil kutipan dari fanpage Menulis Karena Allah.

Lanjut... saya mengutak-atik feeder instagram. Saya pikir, itu akan muncul kalau akun ig saya public. Setelah dilihat-lihat, sebenarnya isi instagram saya ga ada yang perlu di private. Akhirnya saya ubah setting jadi bisa dilihat siapa saja. Trus saya bingung, harus isi ig_id dan access token. Googling deh. Id gampang dapetnya. Untuk access token, lumayan step-stepnya. Tapi ga terlalu susah juga kok. Saya ngikutin tutorial dari web ini. Setelah sehari, saya coba private lagi ig-nya, ternyata feeder-nya tetep jalan hehe. Jadi akun instagram saya private lagi. Meski isinya ga private, tapi mungkin lebih nyaman seperti ini. Jangan terlalu banyak yang mem-follow dan jangan terlalu banyak nge-follow. Takutnya, saya jadi suka main di instagram lebih lama dari seharusnya hehe.

Lanjut.. saya mengedit widget di baris paling bawah. About me-nya saya isi, fotonya pakai PP twitter saya. Ah, bicara tentang twitter, saya kasihan sama twitter saya, hidup enggak, tapi kalau ditutup juga gimana hehe. List tulisan popular saya setting untuk pekan ini, karena yang di kolom kanan, saya setting all time. Bisa jadi, suatu saat saya ganti-ganti, per bulan, all time, per pekan. Karena ternyata link-link itu ngaruh ya. Hehe. Kerasa banget, betapa tampilan itu penting. Statistik berubah lumayan banyak sejak tampilannya berubah hehe.

Lanjut mengedit menu. Mudah ternyata, membuat menu yang beranak hehe.

editor gadget daftar link
***

Ada beberapa hal yang masih perlu saya lakukan, salah satunya buat desain header blog yang lebih ciamik. Trus, tiap kali nulis link, harus saya kasih underline secara manual. Karena tema ini tulisan hyperlink ga beda jauh sama tulisan biasa. Hm.. namanya juga gratisan pasti ada aja yang kurang hehe. Oh ya, ada kemungkinan saya akan ganti tampilan lagi hehe. Tapi mungkin ga dalam waktu dekat ini hehe. Perlu cari tema yang lebih clean, yang preview tiap tulisannya lebih panjang dari sekarang. Jadi pengennya di home cuma nunjukin 5 tulisan aja, tapi preview-nya lebih panjang, dua kali lipat lah dari yang sekarang.

Satu lagi, tentang related post, PR buat saya untuk memasukkan tiap tulisan ke label dengan baik. Mungkin karena hampir semua tulisan di blog ini, masuk ke label untukku, dan motivasiku, jadinya related postnya terus-menerus menampilkan tulisan terbaru hehe. Kecuali fiksi. Kalau aku buka tulisan fiksi di blog ini, related post-nya udah bener hehe. Beda sama wordpress kali ya. Kalau di blogger kan cuma ada label. Kalau di wordpress ada kategori, tag. Nah aku memperlakukan label itu seperti tag hehe. Ah, jadi kangen buka wordpress, dulu sering buka wordpress karena web tertentu yang harus saya urus kontennya. *maaf ngelantur
 
***

Terakhir, ada yang mau kasih kritik dan saran atas tampilan blog ini? Ada yang mau share tema gratis yang menurutmu cocok untuk blog ini? Atau bahkan mau beliin tema premium? Hehehe.

Bagi saya, selalu, konten itu nomer satu. Saya tahu optimisasi web (SEO,dkk), juga penampilan web itu penting. Tapi konten harus selalu nomer satu.

Jadi Bell? Mari semangat memperbaiki diri, banyak baca, belajar lagi untuk mengedit dan teknis menulis. Mari menulis konten yang baik dan bermanfaat, untuk diri, semoga juga bermanfaat untuk orang lain. Aamiin.

Wallahua'lam.

Tuesday, March 13, 2018

Formulir

March 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi


"Aku kayanya alergi deh sama formulir. Rasanya horror gitu kalau harus ngisi formulir kosong," ucap Zima padaku. Aku mendengus, kesal pada Zima yang terbiasa melebih-lebihkan hal yang biasa.

"Dasar Mister Hiperbol," jawabku pendek. Aku tahu, setelah ini Zima akan menceritakan lengkapnya. Mengapa ia sampai menggunakan istilah alergi, bagian mana yang horror dari mengisi formulir kosong. Ia selalu begitu, Zima yang aku kenal hampir selalu begitu. Ia hampir selalu memulai sesi diskusi kami dengan kalimat nyentrik yang menarik perhatianku.

"Kara, I'm a girl, not bapak-bapak. Jadi panggilan yang tepat itu, Miss Hiperbol, bukan mister". Kalimatnya kujawab mengerucutkan bibirku, yang seharusnya diartikan oleh Zima, bahwa sebenarnya aku tahu perbedaan penggunaan mister, atau miss.

***

Zima seorang perempuan yang percaya diri. Ia berbeda dengan teman-temanku yang lain. Saat yang lain sibuk melukis make up di wajahnya, mengoles lipstik di bibirnya, Zima memilih menjauhi itu. Ia tidak terlalu cantik, bukan masuk standar cantik zaman now, tapi ia percaya diri dan tidak minder dengan penampilannya. Entah terlalu cuek, atau memang ia merasa cukup puas dengan pakaian dan kerudung yang rapi. Kata Zima, ia sudah sering mendapat pujian cantik dari orang tua dan sanak saudaranya, itulah yang membuatnya percaya diri dan tidak perlu pujian orang lain.

Tapi Zima seorang perempuan biasa. Ada hal-hal yang menjadi titik kelemahannya, juga kekuatannya. Hal-hal yang sering kali diminta untuk dituliskan dalam formulir kosong.

"Disatu sisi, aku tahu.. maksudnya untuk pendataan. Dan pendataan itu baik. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak perlu memberikan dataku pada siapapun jika aku merasa tidak nyaman," ucap Zima. Aku tahu sebenarnya, formulir apa yang membuat Zima mengungkapkan hal ini.

"Aku juga gitu kok Ma, kadang suka sulit dan ragu untuk mengisi formulir. Misal kolom tanggal lahir, buat apa coba mereka tahu tanggal lahirku? Kalau cuma ingin tahu angkatan, ya tinggal tanya tahun masuk kuliah, atau tahun lulus kuliah. Kalau cuma ingin tahu umur, kan tinggal tanya tahun lahir. It's not like they would celebrate my birthday, ngapain juga tanya tanggal lahir," ucapku, meyakinkan Zima, bahwa tidak hanya ia yang kadang merasa malas dan enggan mengisi formulir.

"Bukan di pertanyaan tanggal lahir Ra, ada pertanyaan lain yang membuatku malas mengisi formulir kosong. Gatau kenapa formulir kosong, selalu mengingatkanku,.." ucap Zima menggantung.

"Mengingatkanmu?" tanyaku, berharap kali ini Zima meneruskan kalimatnya.

Aku ingat beberapa diskusi yang Zima mulai namun tidak Zima akhiri. Ia terkadang terlalu sulit mengungkapkan opini, pikiran dan perasaannya. Ia lebih suka memendamnya sendiri. Sebenarnya itu tidak masalah, kalau ia tidak memberiku kalimat menggantung. Kan nyebelin, bikin penasaran karena aku tahu awal kalimatnya, namun ia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.

"Apa? Formulir kosong mengingatkan Zima tentang apa? siapa? Cinta pertama Zima?" ucapku ngasal, jujur geram karena Zima diam terlalu lama, entah berpikir keras atau hendak pergi dan membiarkan kalimatnya menggantung.

***

Aku menaikkan tanganku, menarik otot lengan agar tidak kaku. Tidak cukup, aku berdiri mengayunkan tanganku ke kanan dan kekiri, melemaskan otot pinggangku yang kaku. Tugasku sudah selesai, alhamdulillah.

Detik itu, sesaat setelah rasa syukur kepada Allah atas tugas yang selesai, pikiranku mengajakku mengingat sore ini, kalimat lanjutan dari Zima.

"Kara... jujur aku sendiri sudah ragu, apakah sebenarnya aku sudah belajar menerima yang seharusnya diterima dan melepas yang seharusnya dilepas. Dan formulir kosong itu, seolah mengingatkanku. Bahwa mungkin... aku hanya berpura-pura sudah menerima, berpura-pura sudah melepaskan. Buktinya... bukankah kalau sudah menerima, seharusnya mudah saja aku mengisi kolom kosong itu? Tapi mengapa aku merasa sulit? Ini perasaan apa? Antara aku dan formulir? Apa karena aku malas? Atau enggan? Atau... aku malu mengakui, malu pada fakta yang seharusnya kuisi di formulir tersebut. Malu, minder, dan ingin sembunyi saja."

Saat itu.. aku ingat, saat mengucapkannya, dengan banyak jeda, matanya berkaca. Mata Zima berkaca, namun air matanya tidak jatuh. Sebentar saja berkaca, kemudian lapisan kaca di matanya seolah menguap begitu saja.

"Ra... bolehkah aku tidak mengisi formulir itu?" tanya Zima padaku akhirnya. Saat itu aku menggeleng. Kukatakan pada Zima, jangan menghindar. Ia bahkan belum membuka formulirnya, aku tahu kertas itu pasti masih tertutup, yang Zima lihat hanya belakangnya, yang putih kosong. Kalau Zima mau memberanikan diri, membaca formulir itu, berusaha mengisinya, ia pasti tahu...

***

'kolom pertanyaan itu sudah hilang', ucap Zima dalam hati. Kemudian seulas senyumnya menghias wajah Zima.

Masih ragu, Zima memberanikan diri mengambil pena dan mulai mengisi formulir tersebut. Dari kolom pertama, nama lengkap, ia eja dengan benar namanya, Khazimatu Nur Aini.

The End.

Malu, Baru Nulis Saat Sensi

March 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random #curhatsemua


Malu. Jujur malu, karena meski niatan dan bahkan brainstorming ide untuk menulis di sini sudah dilakukan. Tapi nyatanya prakteknya, bahkan membuat draft di blog ini baru satu, dan itu belum setengah jalan. Kemarin... kejadian kemarin seolah menyindirku, haruskah aku dibuat sensi dulu, biar nulis di sini? Hehe.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Tentang behind the scene, mengapa dan bagaimana proses blog saya ganti tema. Termasuk niat ikutan sabtulis, temanya tentang betapa Allah romantis, udah di buat poin-poin yang mau di sampaikan. Udah kepikiran, mau nulis di note facebook saja, kan Sabtulis bebas platform. Sampai di rumah? Ga dilaksanakan hehe, memilih ngutak-atik template blog hehe.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Tentang tulisan "Allah Maha Melihat", yang kutulis dan kuletakkan di sana. Awalnya ditujukan sebagai bentuk pengguguran kewajiban lisan, pada seseorang. Tapi setiap melihat tulisan itu, aku jadi sadar, bahwa nasihat itu, kalimat simple tapi mengena tentang Allah dan basyirah-Nya, sebenarnya lebih tepat untukku. Ya, untukku.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Nukil buku. Penjelasan dari Madarijus Salikin. Tentang pepatah 'mengenal diri mengenal tuhan', tiga jenis ta'wil/pemaknaan. Niatnya mengutip sebagian dari buku, lainnya dibahasakan ulang oleh diriku.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Tentang diri yang biasanya enggan dan super malas menyapa dulu pada siapapun yang jauh di sana. Tentang Allah yang bisa dengan mudah menggerakkan hatiku. Allah helps me to communicate better. Takjub aja, pada skenario-Nya, bagaimana lebih dari sekali, Allah ringankan jemariku, untuk mencari kontak seseorang, beberapa orang, kemudian menyapa mereka, bertanya kabar, bahkan sampai meminta bantuan pada mereka. Padahal, jujur saja, sampai sekarang, aku sering berpikir, bertanya kabar dan menjawab pertanyaan kabar itu annoying, terkesan basa basi. Tapi kalau itu diniatkan untuk silaturahim? Harusnya bisa ringan, menjawab jujur tanpa harus menutupi yang tidak harus ditutupi *nulis apa kamu bell? haha. Abstrak. Aku cuma ingin menuliskan.. terkadang, seringkali sulit untukku menjawab pertanyaan umum orang-orang, saat aku menyapa duluan. Ya, pertanyaan standar itu, menjawabnya sulit. Bukan tanya kapan, bukan pertanyaan itu. Ada lah, pertanyaan lain yang kata tanyanya, "apa", diletakkan di belakang, bukan di depan. *mau main tebak-tebakkan Bell? hehe. Maaf. Next.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Apa lagi ya? Yang hari ini kepikiran buat nulis juga ada. Tentang formulir, in syaa Allah nanti kutulis, fiksi. Juga tentang hari pertama GMIB dimulai, excited hehe~

***

Tulisan ini mungkin bentuk keluhan, mungkin juga bentuk brainstorming, supaya aku inget ide apa yang beberapa hari ini menumpuk dan belum direalisasikan. Tulisan ini, mungkin bentuk penyemangat untukku. Tuh, udah banyak ide yang ditulis. Tinggal praktek, mulai dari satu. Jangan dipikirkan banyaknya, atau jangan ngikut mood mulu. Mulai saja, satu, dari mengetik satu kata di judul, atau jika judul masih blank, bisa dimulai dengan bismillah. Mulai saja, seperti menulis curhatan ini. Mengalir saja, biarkan loncat-loncat. Biarkan banyak tambahan ga penting dan banyak selftalk. Seperti tulisan ini. Tidak mengapa.

Tulis dulu. J

Semangat menulis, untukku, dan untuk siapa pun di belahan bumi manapun.~


Semoga Allah memberikan kita kelurusan niat dan keberkahan dalam tulisan kita. Aamiin.

Allahua'lam.

Monday, March 12, 2018

SensiMe

March 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe
"Kita yang salat buru-buru atau Allah yang enggan berlama-lama dengan kita?"
dari sebuah grup, nasihat yang nonjok ceunah.

***

Aku? Aku sensitif, sensi, sensiMe, bukan dengan orang, tapi dengan kalimat tersebut. Ingin rasanya "berteriak" dan mendebat kalimat tersebut, mencacahnya dan mengemukakan betapa tidak benarnya kalimat tersebut.

Yang buru-buru itu kita. Bukan Allah yang tak mau berlama-lama dengan kita.

Allah selalu ingin berlama-lama dengan kita, berduaan dengan kita. Ya, kita, bahkan aku, seorang hamba yang hina dina.

Allah membuka tangannya malam dan pagi, menanti taubat hamba-hambaNya. Allah menguji hambaNya dengan kesulitan, agar mereka mendekat padaNya. Allah mengambil orang-orang tersayang yang menjadi tandinganNya, agar hambaNya kembali sadar, bahwa cinta yang pertama, dan tidak boleh di duakan, adalah pada Allah, bukan manusia, bukan harta apalagi tahta.

Pernah suatu malam, tiba-tiba terbangun? Mungkin haus, mungkin perlu ke air. Tahu maksud di balik kejadian tidak biasa itu? Allah merindukan hamba-Nya berkhalwat, mendirikan dua rakaat, menengadahkan tangan dan berkeluh kesah padaNya.

Dan rasa bersalah, yang selalu menggayut tiap kali kita melakukan dosa? Itu tanda bahwa Allah ingin kita segera berlari dan memohon ampunanNya.

***

Kau tahu surat Nur? Deskripsi tentang orang yang dalam hatinya sudah tidak ada cahaya? gelap berlapis gelap? Apabila ia mengeluarkan tangannya, "hampir" tidak dapat melihatnya. Allah bisa saja mengatakan mereka yang berada dalam lapisan gelap tidak dapat lagi melihat. Namun Allah menggunakan kalimat yang maknanya hampir tidak dapat melihat.

Bahkan di situ, Allah masih memberikan harapan. Bahwa cahaya itu, bisa masuk dan menerangi hati hamba-hambaNya yang kini dalam kondisi diliputi gelap berlapis gelap.

***

Allah enggan mau berlama-lama dengan kita? Pikirkan lagi, bagian mana yang salah. Mungkin niatnya baik, dan efektif bagi sebagian orang. Tapi Allah tidak begitu. Bukan Allah yang enggan berlama-lama dengan kita, kita aku saja yang shalatnya terburu-buru.

Kau tahu apa yang Allah katakan pada laut, yang geram ingin menenggelamkan manusia? Kau tahu apa yang Allah katakan pada malaikat, yang ingin menangani manusia dan mematikannya?

"Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabbnya untuk menenggelamkan Bani Adam. Para malaikat juga meminta izin kepada-Nya untuk segera menangani dan mematikan mereka. Sementara Allah berfirman, 
'Biarkan hamba-Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika Aku menciptakannya dari tanah. Andaikan ia hamba kalian, maka urusannya terserah kalian. Karena ia hamba-Ku, maka ia berasal dari-Ku dan urusannya terserah kepada-Ku.
Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika hamba-Ku datang kepada-Ku pada malam hari, maka Aku menerimanya. Jika ia datang kepada-Ku pada siang hari, maka Aku menerimanya.
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia berjalan kepada-Ku, maka Aku berlari-lari kecil kepadanya.

Jika ia meminta ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya. Jika ia meminta maaf kepada-Ku maka Aku memaafkannya. Jika ia bertaubat kepada-Ku, maka Aku menerima taubatnya.

Siapakah yang lebih murah hati dan mulia dari-Ku, padahal Akulah yang paling murah hati dan mulia? Pada malam hari hamba-hamba-Ku menampakkan dosa-dosa besar kepada-Ku, padahal Akulah yang melindungi mereka di tempat tidurnya dan Akulah yang menjaga mereka di kasurnya.

Siapa yang menghadap kepada-Ku, maka Aku menyambutnya dari jauh. Siapa yang tidak beramal karena Aku, maka Aku memberinya lebih dari tambahan. Siapa yang berbuat dengan daya dan kekuatan-Ku, maka Aku melunakkan besi baginya. Siapa yang menginginkan seperti yang Ku-inginkan, maka Aku pun menginginkan seperti apa yang ia inginkan.

Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah mereka yang ada di dalam majlis-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah mereka yang menginginkan tambahan dari-Ku. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah mereka yang mendapat kemuliaan-Ku.

Orang-orang yang durhaka kepada-Ku tidak Kubuat putus asa terhadap rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka, dan jika mereka tidak mau bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah tabib mereka. Aku akan menguji mereka dengan musibah-musibah, agar Aku mensucikan mereka dari noda-noda'." (HR. Ahmad)
***

Coba ulangi lagi membaca kutipan yang membuatku sensi dan menulis ini.
"Kita yang salat buru-buru atau Allah yang enggan berlama-lama dengan kita?"
Kita yang buru-buru.. selesai. Allah selalu ingin berlama-lama dengan kita, kita yang buru-buru.

***

Aku tahu.. aku terlalu sensitif. Tulisan ini bentuk reaktifku terhadap kalimat tersebut. Aku... aku mungkin ga bisa buat satu kalimat, yang bisa menggerakkan hati banyak orang untuk shalat tidak buru-buru. Tapi.. aku.. izinkan aku bersensiMe, di sini. Mengemukakan kesensitifanku. Bahwa bukan Allah yang tidak ingin berlama-lama dengan kita. Sungguh... Maha Suci Allah atas prasangka kita, yang seringkali jauh nama dan sifat-sifat mulia Allah.

***

Terakhir..izinkan kuakhiri tulisan ini dengan doa kafaratul majlis. Pasti banyak salah. Maaf. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wallahua'lam bishowab.

***

PS: Hadits disalin dari buku Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Madarijus Salikin. Maaf kalau ada typo atau kesalahan penyalinan.

Friday, March 9, 2018

Butuh Temen Baca?

March 09, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kyaa~ itu yang saya rasakan saat baca pesan di line dari channel RDK (Ramadhan di Kampus), semacam channel line-nya P3R versi UGM hehe. Rasanya baru kemarin saya curcol di sini, tentang kebutuhan komunitas baca (meski tulisan curcolnya sudah balik ke draft). Allah baik banget, dijawab saja doa yang kutulis malam itu.



Namanya GMIB (Gerakan Membaca untuk Indonesia Berkeilmuan). Berat ya namanya? Hehe. Jadi ada yang berniat gabung karena butuh komunitas dan teman baca bisa daftar, nantinya ada grup gitu, setiap hari laporan sudah baca berapa lembar hehe. Minimal 25 lembar sih di ketentuan ehm. Sebenarnya, angka itu masih terlalu tinggi buatku hehe. Tapi gapapa, namanya juga gerakan, coba daftar dulu aja hehe.Yang tertarik daftar bisa kirim pesan melalui link berikut:  Putra : ugm.id/daftarGMIBputra | Putri : ugm.id/daftarGMIBputri 
 
Selain sebagai tempat untuk laporan progres membaca individu, ada juga diskusi, sharing buku, dan kajian keilmuaan. Oh ya, meski gerakan ini dicetuskan oleh RDK, yang panitianya mayoritas anak UGM, gerakan membaca ini terbuka untuk umum hehe. Ini info langsung dari panitia. Kemarin waktu saya mendaftar, saya agak ragu gimana gitu, hehe. Jadi tanya deh.. dan ternyata memang untuk umum. Selain itu saya juga tanya tentang jumlah halaman yang harus dibaca setiap harinya, bagaimana kalau belum bisa 25 halaman per hari? Jawabannya bikin tenang hehe. Gapapa ceunah, nanti pelan-pelan ditingkatin hehe. 
 
***
 
Jujur rasanya agak gimana gitu.. bagaimana Allah mengantarkan jawaban kegelisahanku *bahasanya lebay hehe. Ya, aku butuh komunitas baca, dan bingung, mau jadi inisiator, asa gimana. Ternyata.. Allah nitipin jawaban doaku, lewat akun line RDK (Ramadhan di Kampus UGM) yang sudah aku follow lumayan lama, beberapa tahun yang lalu. Ajaib ya? Hehe. Romantis gimana gitu, Allahuakbar (: Allah kan pasti tahu, bahwa suatu saat, aku bakal butuh komunitas baca, setelah aku berusaha menekuni lagi hobi yang pernah hilang. Allah juga pasti tahu, kalau RDK di tahun 2018 akan ngadain program GMIB. Jadi somehow, someway, Allah beberapa tahun yang lalu menggerakkan hatiku untuk follow akun line RDK. Meski saat itu, akun tersebut insignificant for me.
 
Kadang ketidaktahuan kita membuat kita khawatir. Tapi tak jarang, ketidaktahuan kita menjadi hal manis, saat Allah membuka sedikit demi sedikit rencanaNya untuk kita ((:
 
Kalau kata ustadz Salim A. Fillah, akan ada masa kita merasa hikmah dari sebuah peristiwa tidak bisa kita lihat dengan indera mata kita. Saat itu.. mari belajar seperti seorang buta, yang masih bisa mengetahui keberadaan matahari, meski tidak bisa melihat sinarnya, melainkan dengan merasakan kehangatannya. (:



Wallahua'lam.

Thursday, March 8, 2018

You're Beautiful

March 08, 2018 0 Comments
Bismillah.



Perempuan kali ya, perlu diyakinkan berkali-kali, kalau ia cantik, cantik cantik (:

Ada yang bilang, salah satu penyebab perempuan rela berada di ketidakjelasan illegitimate relationship, salah satunya, mungkin karena keinginan untuk dihargai, disayangi dan dipuji.

***

Nowadays, I actually felt strange when my mother ask me the 'same' questions, like is she beautiful? Or, is she getting too fat?

Aku tipe yang bisa dengan mudah nge gombal, tapi kadang terlalu cuek untuk mempedulikan pertanyaan seperti itu. hehe.

Jadilah terkadang aku cuma diam, atau menjawab singkat, cantik, ga gendut kok.

Atau kalau lagi mood nge gombal, jawabanku bikin geli sendiri dengernya hehe. Seperti suatu pagi, saat aku dan ibuku, memutuskan untuk ngejus jeruk oranye yang ternyata kurang manis. Aku saat itu berkata, yang intinya, warnanya cantik banget, oranye seger gitu. Jangan tanya rasanya, hehehe. *ups maaf kalau yang baca lagi shaum hehe.

Ibuku menimpali, "kaya mamah ya cantiknya?"

Aku saat itu jeda sebentar, mencoba memilih reaksi. Mau mengabaikan, mau jawab ya pendek, atau...?

Kujawab, "ga lah, masa sama cantik sama warna jeruk. Mamah jauh lebih cantik dari warna jus jeruk"

***

Ada yang pernah bilang, kalau perempuan seringnya gitu. Sering meragu, perlu sering-sering diyakinkan. Entah itu tentang ia yang cantik apa adanya. Atau tentang rasa sayang kita kepadanya.

Perempuan... atau mungkin general, manusia, memang mudah untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Seringkali hasil perbandingan tersebut membuat kita merasa kerdil, minder, dan perasaan negatif lainnya. Ga selalu sih, kalau kita tahu kemana harus membandingkan, harusnya perbandingan bisa membuat kita banyak bersyukur juga.

***

Aku juga perempuan. Jadi kadang, tanpa sadar, sering tersenyum dan moodnya jadi baik kalau misal ada yang memuji cantik, atau bahkan menyangka saya anak sekolah.

Tapi sebagai perempuan, muslimah.. harus tahu, kapan kalimat pujian tersebut kita terima dengan ringan. Kapan kalimat pujian tersebut harus kita tolak, karena bisa jadi menjadi racun bagi diri kita.

Harus sering mengingatkan diri lagi. We don't have to looked beautiful in the eyes of people. Fokusnya harus dibalikin lagi, bagaimana kita 'cantik' di mata Allah.

***

Untuk sesama muslimah, jangan ragu untuk memuji saudarimu, apalagi ibumu, kalau mereka cantik, mereka cantik apa adanya, bahkan tanpa make up, dan tanpa editan foto. hehe.

Semoga dengan pujian tulus kita, setiap muslimah jadi tidak mencari-cari kalimat tersebut dari orang yang salah.

Terakhir... mari bersyukur, pada Allah yang telah menciptakan kita dalam keadaan terbaik. ^^

خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ
Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). (QS Ath Thaghabun ayat 3)

Wallahua'lam.

Saturday, March 3, 2018

Benarkah Membaca Memudahkan Kita dalam Menulis?

March 03, 2018 0 Comments
Bismillah.

Judulnya, termasuk pertanyaan retoratif kah? Bagi saya, ya, pertanyaan retoratif. Jawabannya satu. Ya.

Buktinya? Apa dasarnya? 


Pertama, membaca menambah pengetahuan. Menulis membutuhkan pengetahuan, selain pengalaman dan imajinasi.

Kedua, membaca membuahkan ide. Semacam pemantik, semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak ide yang bisa dipetik.

Ketiga, membaca menambah kosakata dan diksi yang kita miliki. Ga percaya? Hehe. Lihat saja, orang biologi yang tanpa sadar banyak menggunakan istilah biologi meski yang ditulisnya adalah pengalaman sehari-hari. Atau orang yang terjun di bisnis, akan banyak istilah bisnis yang keluar dari lisan dan tulisannya, meski ia tidak bermaksud ingin menggunakannya. Karena banyak baca, jadi tanpa sadar dipakai saja.

Keempat,... apa lagi ya? hehe.

***

Beberapa bulan terakhir, saya memaksa diri saya memulai lagi membaca. Meski saya termasuk yang sangat lambat, satu buku tipis baru selesai beberapa pekan,bahkan bisa lebih dari sebulan. Saya merasakan efeknya, dalam tulisan saya.

Setiap nulis apa gitu di sini, bawaannya pengen ngasih tahu kutipan dari buku yang saya baca.

Kalau saya sudah baca beberapa halaman dari sebuah buku, keinginan untuk menuangkan ke sini begitu besar. Hehe.

Pengennya sih, foto aja paragraf tertentu dan post di sini. Selesai. Tapi kan, ga bisa gitu aja. Ada tambahan yang ingin saya sampaikan juga. Tapi ga banyak sih.

***

Oh ya, selain buku, banyak baca tulisan yang bagus di blog/web juga banyak bantu untuk memudahkan kita menulis.

Saya rutin buka medium, follow beberapa channel bagus, baca dari daftar bacaan di blogger, juga catet blog orang yang melintas di sosmed (ig, wa, line, fb). Memang sih kesannya banyak informasi, tapi yang penting di taruh dulu linknya di tempat tertentu, jangan dibaca saat itu juga. Kalau memang Allah takdirkan kita baca, in syaa Allah dibaca. hehe.

Sulit memang produktif membaca infomasi yang berkualitas, di zaman sekarang, dimana hoax jadi viral, plus berita kehidupan privat orang-orang lain, yang sebenernya ga perlu dibaca berseliweran di timeline hehe.

Tapi in syaa Allah bisa kok. Harus banyak usaha, dan belajar scanning, jangan ragu unfollow, matikan notif dari grup tertentu, dll.

Tidak mudah, tapi bisa in syaa Allah. Semoga waktu kita tidak banyak dimakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Banyakin doa, banyakin usaha, lalu tawakkal.

Semangat membaca dan semangat menulis ~

Wallahua'lam.

Thursday, March 1, 2018

Dari Blog Magic of Rain

March 01, 2018 0 Comments

Bismillah. Membaca banyak tulisan di sana. Menyicip lagi ribuan perasaan yang pernah aku tumpahkan di sana. Hingga terhenti di kumpulan kata bak puisi tersebut. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk memindahkannya di sini.

Saat itu. Entah apa yang membuatku berkaca kuadrat. Namun semoga, hatiku selalu peka, akan setiap nikmat dariNya. Semoga setiap hari, rasa syukur mekar di hati, kemudian berbuah dalam lisan dan perbuatan.

Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik. Aamiin.

Wallahua'lam.

Suara Angin dan Terang Bulan

March 01, 2018 0 Comments
-Muhasabah Diri-
Bismillah.

SUARA ANGIN

It's really been a long time since I pay attention on the sound of the wind. 

Suatu hari, di sebuah tempat. Karena satu hal, aku selalu terkecoh, seolah angin yang melewati dedaunan pohon, menimbulkan suara gemiricik. Aku selalu mengira itu suara air yang mengalir. Setiap mendengarnya, aku dibuat bolak-balik untuk mengecek barangkali ada air yang mengalir, entah dari keran yang lupa di tutup, atau dari pipa ledeng yang pernah rusak. Dan selalu salah, bukan suara air.

Sampai suatu waktu, aku sadar.. bahwa itu suara sepoi angin lembut yang menyapa dedaunan. Ah, jadi ingat judul sebuah buku, tentang daun yang tidak menyalahkan angin. Juga teringat sebuah kutipan di buku berbeda, kalau bahasa langit pada bumi adalah hujan, maka bahasa daun kepada angin adalah pasrah[*].

TERANG BULAN


It's a long time I haven't look on the dazzling light of the moon. Especially since nowadays most of the night here filled with the rain drops.

Sampai suatu malam, aku duduk di belakang adikku. Adikku fokus mengemudi motor, aku asik memandangi langit malam yang berawan abu pekat, namun disela-selanya terlihat pancaran sinar bulan. Begitu terang, sampai kukira malam itu bulan penuh, masuk hari putih.

Aku berkata, pada adikku, sudah tgl 13 kah? Adikku menjawab, mungkin besok. Belum penuh bulannya. Aku refleks menengadahkan kepalaku, awan abu pekat sudah berjalan kesisi yang lain, kini aku melihat bentuk bangkok bulan dengan sinar yang terang tersebut.

***



Pemandangan sederhana memang. Suara yang sederhana memang. Tapi suara angin yang bergemerisik tersebut, yang mirip suara air mengalir tersebut, somehow, in someway, makes my heart feel content.

Pemandangan sederhana memang. Sinarnya pun tidak semenyilaukan matahari. Tapi bulan yang hampir penuh tersebut, membuatku tersenyum, mood-ku bahkan terus terbawa perasaan unik dari memandang cahaya bulan. Apalagi saat aku teringat. Bahwa setelah bulan ini, ada bulan Rajab, ada bulan Sya'ban, ada bulan apa??

Rindu itu makin mengufuk saja. Menjelma menjadi doa, semoga Allah mengizinkan kita bertemu lagi dengan 30 hari, perayaan turunnya mu'jizat sepanjang zaman, Al Quranul Karim. Bulan Ramadhan~

***

Aku tidak tahu orang lain, tapi aku tahu dan paham aku begitu senang menikmati dan memandangi alam. Seperti sebuah pohon kecil di dekat rel yang setiap hari aku lewati. Bunganya berwarna pink magenta, daunnya hanya beberapa helai, seolah seperti bunga sakura, yang setiap rantingnya bunga. Pohonnya kecil, pendek, seperti bonsai.

Aku tidak tahu orang lain, tapi aku tahu dan paham aku begitu senang menikmati dan memandangi alam. Seperti kebiasaan memandangi langit hampir setiap saat pergi dari dan pulang ke rumah. Betapa setiap hari bahkan mungkin setiap perubahan detik dan menit berubah, tidak pernah tidak, sebuah seni yang tidak bisa cukup ditangkap oleh foto, atau lukisan.

Traveling itu, perlu, ingin juga. Tapi kalau kita mau sedikit lebih peka. Sedikit lebih mau mendekat dan mengobservasi sekitar. Bahkan seuntai rumput yang menyeruak diantara paving block, bisa jadi pengingat yang indah bagi kita. Betapa ia tumbuh, dicabut, akan tumbuh lagi. Dan setiap yang tumbuh dari matinya, seharusnya mengingatkan kita akan hari kebangkitan. Sudahkah kita mempersiapkan diri?

Allahua'lam

***

Keterangan:

[*] dari buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran, tulisan M. Zainul Abidin. Kutipan lengkapnya:
"Dunia adalah kumpulan bahasa-bahasa. Bahasa langit pada bumi adalah hujan. Bahasa bunga pada semesta adalah wangi. Bahasa daun terhadap angin adalah pasrah. Begitu juga dengan kita sebagai hamba yang berbahasa dengan penciptanya melalui syukur, yaitu syukur dengan menghafal kalam suci-Nya."