Follow Me

Showing posts with label sensiMe. Show all posts
Showing posts with label sensiMe. Show all posts

Thursday, July 10, 2025

Apakah Itu Ada?

July 10, 2025 0 Comments

Bismillah.

 


 

 

Apakah writer’s block itu ada?

Apakah luka batin itu ada?

 

Dua pertanyaan itu hadir dari dua orang berbeda, lewat medium berbeda (tulisan dan lisan).

 

Aku ingin menjawab, ya, secara fisik memang tidak ada. Tapi keberadaannya tidak bisa dinafikan hanya karena mata yang tidak bisa melihat.

 

Di sisi lain, aku memahami cara berfikir sang penanya. Sebenarnya bagi mereka, pertanyaan itu hadir bukan untuk benar-benar bertanya, atau mengajak debat pada yang berbeda pendapat dengan mereka. Mereka hanya ingin memberikan mindset berbeda, bagi mereka jika keberadaan dua hal tersebut tidak dibesar-besarkan, hanya dianggap sebagai salah satu dari hal yang harus kita hadapi dan selesaikan, maka itu akan lebih baik. Ya, karena jika kita menjauh dan menyadari bahwa dua hal tersebut tidak sebesar yang kita pikirkan, maka akan lebih mudah untuk mencari solusinya.

 

Tapi sebagai seseorang yang sensi dan masih bergelut dengan dua hal tersebut, ingin rasanya menjawab dengan nada sensi dan penuh emosi. Hanya karena ia tidak tampak, bukan berarti ia tidak ada. Mudah untuk bicara ketiadaan dua hal tersebut saat tidak sedang mengalaminya. Namun bagaimana jika suatu saat dihadapkan pada dua tantangan tersebut? Apakah masih bisa mengatakan bahwa dua hal tersebut tidak ada? I don't know. I hope they don't meet that kind of invisible wall or invisible scar. Nobody wants to get stuck and get left behind because of things inside their mind/heart. *lah kok switch bahasa hehe. Mari aku ulangi haha.  **yang kaya gini harusnya gak usah ditulis ya? Tapi biarlah, kan ini blog personal, bukan di Medium.

 

Tidak ada orang yang menginginkan terjebak dan tertinggal hanya karena pagar-pagar dalam kepalanya, atau luka-luka taknampak dalam hatinya. Lebih mudah untuk mencari jalan yang lain, saat kau masuk ke jalan buntu di dunia nyata. Lebih mudah untuk menyembuhkan luka karena tergores pisau saat masak dibanding menyembuhkan luka karena tergores pisau lidah di masa lalu. Tapi setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan hal-hal material/fisik yang jelas tampak dan bisa dilihat mata fisik. Namun ada pula yang diuji dengan hal-hal tak nampak yang berada di dalam kepala dan hatinya. Penting untuk bertukar pandangan untuk saling membantu. Karena ujian juga saling berganti. Seperti ujian dalam bentuk kesusahan berganti dengan ujian kesenangan, begitu pula sebaliknya. Perbedaan ini, jangan sampai membuat kita memandang rendah ujian orang lain.

 

Let's walk together hand in hand helping each other. 

 

Wallahua'lam.

 

***

 

PS: Aku tahu dua orang yang bertanya tidak ada maksud merendahkan yang mengaku sedang mengalami kedua hal tersebut di atas, mereka hanya ingin membantu, agar rang yang mengalaminya, sejenak menjauh dan melihat dari tempat tinggi, melihat dari sudut pandang orang ketiga, bahwa dua hal tersebut tidak sebesar yang ada dipikiran/hatinya. Bahwa ada begitu banyak hal-hal baik di luar sana yang bisa membuat orang-orang yang tersendat lama di depan writer's block

Friday, November 1, 2024

In another life,

November 01, 2024 0 Comments

Bismillah.

#sensiMe 


*warning* probably lots of broken grammar, and imperfect english sentence

 

It's scary how our core believe (islam core believe) could be crooked because of things we consume (see, hear, watch) and also because of mainstream ideas.


***


I read a post on Medium. Perhaps, I was the one who is wrong. Cause I assume the writer is Indonesia, and her name sounds like it's muslim name. So when I saw a sentence like this closing her passage, part of my heart felt kinda weird.


"In another life, maybe, we would have done better."


That's what it's written there. I know, that kind of phrase, what it means, and it might be just a concept of things to write when people have regret with their life.


But #SensiMe can't just ignore the fact, that maybe, maybe, youth people nowadays unconciously believing that phrase.


As if there's another life. If you're not muslim, and have that kind of believe, it's okay.


And if you're muslim, maybe we should check our core believe. There's no another life, as if after death there will be life, and we could do different.


When talking about another life, other than this dunya, we only knows the life after life. which we have no control over it once we jump to the next phase of life.


So instead of asking what if, or imagining another life. Accept your mistake, regret it, but don't stop there. Take those regrets to make you grow to be a better person.


***


Last, I know I am a little bit too sensitive, and judging. I don't know exactly why people write the phrase "in another life". Or how is their life. Not many people have come to the knowledge and the core believe of Islam. And actually, probably, why people just following mainstream ideas, is because the one who knows the knowledge didn't spread it yet.

People, each person, each culture have their own concept of after death concept. And even if I know it is a sensitive and taboo topic to talk about. But shouldn't we still talking about it, so that people that haven't heard about it at least know about it? So that they know, that the true concept of life after death.


Wallahua'lam.

Friday, July 2, 2021

Broken Pottery

July 02, 2021 0 Comments

Bismillah.

sumber foto


She is a beautiful piece of broken pottery, put back together by her own hands. And a critical world judges her cracks while missing the beauty of how she made herself whole again.

J.M. Storm



Should I throw it away? Or should I keep it, and try to put it back together?


***


Jumat pekan lalu, ada agenda unboxing gitu. Sebenarnya aku bisa menebak isinya apa. Saat kugoyang pelan, terdengar suara kaca beradu. Aku pikir, selain mug, ada semacam pin di dalamnya. Jadi saat membukanya, jujur aku kaget. Mug putih dengan logo biru di satu sisinya terbelah jadi dua. Ada sepihan kecil memang, tapi benar-benar terbelah jadi dua.


Dari speaker laptop terdengar bahwa ada yang retak juga, kemudian seloroh komentar 'jokes', "tergantung amal perbuatan", semacam itu. Aku tidak ingat kalimat persisnya. But it hits me right on the spot.


"It does seems like it can describe how is my state, my heart, my iman, my 'amal..." TT

 

"Oh what should I do?"


***


Oh ya, tentang kutipan di pembuka tulisan ini. Qadarullah nemu di tumblr, sehari atau beberapa hari setelahnya. It's a sad, but beautiful quotes. Jujur jadi makin baper. Bertanya berkali-kali pada diri, 'apa kabar iman?' 'apa kabar hati?' terkadang sia-sia. Ya, sia-sia, kalau cuma tanya. Tapi kemudian memilih bungkam. Padahal seharusnya berkaca, menjawab dengan jujur, kemudian melakukan perbaikan.


Penutup. The pottery is still broken, but giving up without even trying to fix it is just wrong. Begitupun manusia, ia mungkin berkali-kali melakukan kesalahan. Belum lagi retakan di masa lalunya. Tapi bukan berarti kita menyerah di awal, bukan itu yang diajarkan nenek moyang kita. Bukan itu yang diajarkan Nabi Adam 'alaihi salam. Ia mengakui kesalahannya, mengucapkan kalimat yang Allah ajarkan kepadanya. Kemudian ia menjalankan tetap tugasnya di bumi sebagai khalifah. So let's acknowledge our crack, ask for His forgiveness and rahmah, then do our job as a slave.


It might be dark now and we can't see anything. But we can ask for His Light. It might be felt as if we're lost and don't what to start from. But we can ask for His Guidance. Cause He always listens, we just often forget to ask.


Allahua'lam.


***


PS: Ada yang tahu lem yang bisa dipakai untuk nyatuin untuk mug yang pecah?


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


Sunday, January 17, 2021

Memutar

January 17, 2021 0 Comments
Bismillah.

Jalannya memutar.

Aku hanya merasa heran, pada orang-orang yang memilih komunikasi tidak langsung.

***

Dua orang berbeda, menyampaikan dua pesan berbeda, dari dua orang lain yang berbeda.

Pesan pertama, sebenarnya sudah disampaikan langsung, tapi entah kenapa dititipkan lagi, lewat jalan memutar.

Pesan kedua, awalnya membuatku sensi. Tiba-tiba saja emosiku meledak. Aku bertanya-tanya sendiri, maksudnya apa? I have my own opinion and assumption, that someone else didn't do their job. And feels like I'm the one thatneed to speak up first. And it remind me of my old memories, and a lot of fiction i wrote about it here. I'm gonna search it later and post the link here, when I have an access to my laptop. (tulisan fiksi yang terlintas di otak saat itu: My Winter - Their SummerAku Ngikut Aja..Da di Sini Mah Beda ; dan tulisan nonfiksi lain, tentang fitrah, tentang aku yang aneh)

Tapi setelah puas membiarkan air mengalir. Aku sedikit bisa tenang dan berpikir rasional. Aku tahu, masalahnya mungkin di aku sendiri. I'm not in a good form wkwkwk. I mean. Kemungkinan besarnya seperti itu, karena aku sedang tidak baik-baik saja, maka komunikasi jadi buruk, termasuk lintasan asumsi dan prasangka.

Kemudian dari komunikasi yang memutar itu... Aku jadi sadar. Oh now, they actually were waiting for me. They gave me time. So what I need to do is to stop getting SensiMe and do my part. Sisanya, komunikasikan dengan baik. Jangan ada prasangka buruk di awal.

***

Hari ini, aku baru sadar bahwa kemarin aku meninggalkan blog dengan latest post abstrak dan gelap, agak negatif(?).

Jadi setelah menulis ini, aku berencana menulis hal lain yang lebih 'ringan'. Tentang 'olahraga', dan sedikit nostalgia.

Semoga aku tidak lupa ya hehe. J

There are a lot I wish I can write here, but sometimes I'm getting concious that somebody might read it the wrong way.

And if you're that somebody... I want to tell you. When I'm in a low and dark place, and I wrote something with a negative vibes... It actually means that I'm not in a very bad condition. Because I once at my worst, and I didn't write anything. Or I suddenly make this blog hidden for some times.

Anyway, doakan saja yang baik-baik untukku. Untuk kebaikan dunia dan kebaikan akhiratku.

Aku... In syaa Allah juga akan berdoa. Robbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar, waqina 'adzabannar.

Allahu'alam.

***

PS: sabtu kemarin, kemarinnya lagi, SSS NAKID bahas tentang video ini --> https://youtu.be/VUHJ3s6A0B0 (I recommend you to watch this!, di ig @nakindonesia juga ada, buat yang prefer nonton di igtv)

Sunday, December 27, 2020

Tidak Diundang

December 27, 2020 0 Comments

Bismillah.


Akhir tahun, sedang butuh banget tambahan booster imun iman. Harusnya sih proaktif dan bertanya terlebih dahulu. Toh yang membutuhkan diriku. Tapi aku sampai detik ini cuma diam. Masih 3 hari sebelum 2020 berakhir. Masih bisa sebenernya kalau mau bertanya, siapa tahu jodoh? hahaha. Sengaja banget milih kata itu, padahal ini gak ada hubungannya sama hal itu.


Lalu kemarin dapet kabar, kalau tgl 26-27 ini ada "agenda itu". Jujur saat pertama baca, udah kaya seneng gitu. Pengen dateng, ngecharge imun iman. Tanya kan, dimana agendanya. Trus dijawab, "ini agenda terbatas mbak, memang tidak untuk umum", disertai emoticon wajah tertawa dengan tangan menutup bibir. Seketika aku jadi kecewa, karena gak diundang.


Sebenernya, kalau diundang pun, gak mesti bisa hadir full. Mungkin kaya tahun kemarin, ga bisa nginep, cuma hadir dengerin materinya. Tapi kan, hadir dengerin materi aja buatku lebih dari cukup. Duduk bareng orang-orang shalih itu... perlu banget. Biar kecipratan harumnya iman mereka. Biar belajar dari pancaran khasyah di hati mereka.


Sebenernya aku paham betul, kondisi sedang seperti ini. Jadi wajar kalau undangannya terbatas, bukan untuk umum. Tapi aku gak bisa bisa bohong, dan gak mau juga pura-pura biasa aja. Sebagian hatiku kecewa dan sedih, karena gak diundang. Gak ada link yang bisa dibagikan kah? Jadi minimal yang ga dapet undangan hadir fisik, bisa dapet ilmunya juga? TT


Aku gak bisa pura-pura menerima saja. Maka setelah jawabannya, aku merespon, bahwa aku 2 tahun kemarin juga ikutan agenda itu. Dan aku pengen dan butuh dateng ke agenda semacam itu, di akhir tahun ini. Hmmmm.


Aku tahu aku tidak boleh begini. Tapi aku... sedih. Sedih mungkin bukan kata yang pas untuk menggambarkan perasaanku. Intinya, ada rasa nggak nyaman di sini, yang harus aku tuliskan. Bukan karena undangan yang terbatas, dan aku tidak mendapatkannya. Tapi lebih karena aku merasa sedang di titik rendah, dan butuh lebih dari sekedar forum online, dan aku belum menemukan solusinya. Rasanya, aku butuh seseorang yang secara langsung bertemu dan menyampaikan nasihat padaku. Nasihat tentang iman, tentang islam, tentang quran, tentang apapun...


Nulis ini, tetiba kalimat ini terlintas di otak. Jangan cari orang lain bell. Allah sendiri yang akan menasihatimu. Langsung. Kamu cuma perlu membaca firmannya, kemudian berdoa. Make a good conversation with Him, and you'll find that you actually don't need anybody but Him. *Maksudku.. tentu kamu butuh nasihat dari orang lain juga, Allah juga menyebutkannya di surat Al Ashr. Tapi kalau misal, waktu dan tempat dan kondisinya lagi tidak memungkinkan, seharusnya Al Quran cukup untukmu.


Jadi.. jangan sedih, jangan lagi kecewa. UndanganNya selalu terbuka untukmu.^^


Allahua'lam.

Sunday, July 19, 2020

Wasted Food

July 19, 2020 0 Comments
Bismillah.

Beberapa kali aku marah karena satu hal ini. Mungkin bukan satu, mungkin bertumpuk dengan beberapa yang lain.

Is it some kind of restaurant? You want the food ready. Then you eat, and not finished it. And the same chef who cook it have to throw that food waste.

Rasanya ingin berteriak dan melampiaskan amarah. Entah marah karena merasa effort-ku sia-sia. Atau karena kesal karena paham bahwa sikap tersebut adalah bentuk kurangnya rasa bersyukur.

The food that you throw, those tiny little rice you left uneaten, is months of tears and sweat of a farmer.

Rasanya ingin protes dan egois. Biar saja kelaparan, biar belajar mensyukuri tiap makanan yang ada. Agar belajar menyesal setiap kali menyisakan makanan.

Rasanya ingin menangis. Ups. Yang ini sudah sepertinya berkali-kali. Meski aku belum paham sebenarnya tangis itu karena apa. Karena tidak ikhlas, atau karena apa?

Rasanya ingin melemparkan dalil. Bahwa mubadzir itu saudaranya setan. Tapi takut kalau ternyata aku yang salah. Jangan-jangan aku yang menggunakan dalil untuk membenarkan emosiku.

***

"Is it some kind of restaurant?", I want to voice out that question. But... i just mumble it to my ear.

Sejujurnya sampai sekarang aku masih tidak paham. Alasan apa yang sebenarnya membuatku marah untuk case yang rasanya berulang itu.

Mungkin benar, bahwa aku belum ikhlas. Sehingga aku mengharapkan respon tertentu. Sehingga saat responnya berbeda aku kecewa.

Aku kagum sekaligus ingin menangis malu. Bagaimana caranya aku belajar seperti Mamah? Saat beliau mengucapkan kalimat yang redaksinya tidak aku hafal, tapi maknanya masih terngiang.

Jangan hitung-hitungan. Niatkan semua hal untuk ibadah. Bentuk sedekah.

Pesan yang mengingatkanku pada kelas Feminitas Bunda tentang ketulusan.

Ah... sungguh, aku masih jauh dari kata-kata itu. Aku masih bertanya-tanya, bagaimana caranya tidak hitung-hitungan. Bagaimana caranya untuk tulus. Bagaimana... caranya untuk ikhlas. Bagaimana mengubah mindset dan mempraktekan dalam amal, agar tiap hal, tiap aktivitas jadi ibadah dan sedekah. Aku... masih harus banyak belajar.

Allahua'lam.

Saturday, February 16, 2019

Ada Allah

February 16, 2019 0 Comments
Bismillah.

Alhamdulillah... Alhamdulillah...

Saat tidak ada orang yang mau mendengarkanku, Allah siap mendengar kapanpun, siang atau malam, saat ramai maupun saat sepi. 

Saat tidak ada yang bisa mengerti diriku, Allah tahu, paham dan mengerti. 

Saat orang lain mempertanyakan pilihanku, keputusanku, Allah siap menjadi sandaranku, dan tempatku mengadu.

Saat aku tidak bisa menjelaskan, tidak bisa berkata banyak, dan justru hanya bisa menangis saja. Allah tahu, Allah paham, Allah mengerti mengapa bulir-bulir air itu berjatuhan. Allah tahu apa yang berkecamuk di hati, yang bertumbukan di otak. Allah tahu... 

يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

dan itu.. cukup. Lebih dari cukup.

Alhamdulillah... 



Wallahua'lam. 

Monday, January 28, 2019

Mengada-ada

January 28, 2019 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe
-Muhasabah Diri-

Aku tahu ini mengada-ada. Tapi aku tidak bisa tidak reaktif, saat kukunjungi tulisan fiksi "membuta" di sini, kemudian memperbaiki typo dan kelebihan kata, kemudian teringat, bahwa belum lama kubaca ayat yang sama di tempat lain. 

***

Kau tahu? Aku membuat benang merah, seolah di sini dan di sana terhubung jembatan kasat mata. Meski aku tidak tahu, apa fungsi jembatan itu.

glass bridge (from unsplash)

Padahal jika aku mau lebih rasional. Sebenarnya bukan itu poinnya. Bukan itu Bell. Jadi berhentilah mengada-ada. 

Poinnya adalah, Allah ingin mengingatkanmu tentang ayat tersebut, bagaimana ayat tersebut kau refleksikan dalam hidupmu. Apa kabar mata? Apa kabar telinga? Apa kabar hati? Apa kau masih manusia? Atau kau lebih buruk dari binatang ternak? Yang abai memakan rumput, meski sesuatu yang begitu cepat baru saja melintas?

***

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةًۭ فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

QS Al Jasiyah ayat 23

Allahua'lam.

Saturday, September 15, 2018

Cerita Hari

September 15, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Ia mungkin tidak tahu, dan tidak perlu tahu. Bahwa beberapa kalimatnya membuatku tidak nyaman. Aku tahu, ia tidak bermaksud buruk. Tapi aku.. jujur tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak nyamanku. Maka izinkan kutulis di sini. 

***

Ya, aku biasa menulis cerita hari. Ketimbang membuat artikel, yang tidak terkait tentang diri dan tidak di sisipi curhat, aku lebih nyaman menulis cerita hari. Karena selama perjalananku menulis, aku menemukan hikmah dan pelajaran di kesederhanaan. Cerita hari yang biasa, berulang, bahkan mungkin terdengar klise... di sana ada hikmah yang bisa diambil. Kecil mungkin, tidak dipenuhi muatan informasi hasil studi A, B, C. Kecil mungkin, dan memang terkadang lebih banyak cerita hari daripada tulisan tentang hikmahnya. Tapi hal kecil itu membantuku. Cerita hari ini, baik yang kutulis atau yang orang lain tulis, di mataku istimewa. 

***

Ada istilah 'sampah' yang digunakan orang untuk tulisan cerita hari. Jujur aku tidak nyaman pada istilah itu. Benar memang, cerita itu dituang karena otak kita penuh. Tapi cerita hari, meski sederhana tidak sekotor sampah, pun bukan berarti hanya tumpukan 'hal' yang tidak berguna. Aku juga paham mengapa ia menyebutnya sampah, karena cerita hari, tidak selalu positif, seringkali hanya ungkapan hal-hal negatif yang melintas di otak, dan perasaan negatif yang menyesakkan dada. Tapi menuliskannya, bukankah membantu kita? Saat menulisnya, kita seolah menjejerkan potongan puzzle yang tadinya bertumpuk. Pelan kita mulai melihatnya dari sudut pandang lain. Lalu kita jadi bisa merangkainya. 

***

Aku tahu, ia tidak sedang memandang kerdil cerita hari. Ia hanya sedang berusaha menulis yang bukan cerita hari. Maka saat melihat tulisanku, yang mayoritas isinya cerita hari, ia jadi bertanya... memang biasa menulis itu? Pernah nulis yang bukan cerita hari?

Sebenarnya, pertanyaan itu muatannya normal, bukan negatif. Tapi mungkin aku yang terlalu sensitif, merasa di sindir. Karena memang benar, sudah lama aku tidak menulis di luar cerita hari. Menulis, yang membutuhkan banyak baca dan cari referensi untuk membuatnya kaya informasi. Menulis... yang banyak orang bisa mengambil manfaat. 

Ya, aku saja yang terlalu sensitif. Karena memang aku sendiri kesulitan, membuat tulisan tanpa kata 'aku' di dalamnya. Masih harus belajar.

Allahua'lam.

Wednesday, June 27, 2018

Freeze the Air

June 27, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Others know how to break the ice. I know how to freeze the air.


Perusak mood hehe. Yaudah sih. Hehe.

Yang lain heboh bahas quick count karena penasaran dengan hasil akhirnya. Aku malah melempar kalimat yang membekukan suasana: sabar aja ngapa, tunggu release resmi. 

Sebenarnya bisa di undo, delete for everyone. But why? Kenapa harus di undo, I don't think it's wrong to freeze the air. I have my own role. Just let the other do their role to break the ice. J

***

Kejadian singkat, tulisan sensi. Hikmahnya satu: lebih baik diam. Tahan lisan dan jemari untuk komentar hehe.

Hikmahnya lagi, wajar lah.. mereka manusia punya kuriositas. It's important for them, so they want to know the result, as fast as they can.

Yang jadi masalah itu... quick count, atau info apapun yang diburu-buru, biasanya tidak akurat, rawan diisi kesalahan.

Trus, mau dilanjutin? Hehe.

***

Terakhir, untukmu bell... sibukkan diri dengan hal produktif please.. Kan kemarin baru belajar tentang prioritas. Ok?

Tentang rencana pagi yang tidak terlaksana. Ambil hikmahnya, kamu juga belum siap, lakukan kerja dan doa, sisanya biar Allah yang menentukan skenarionya.

Ucapkan in syaa Allah saat berencana. Jika lupa, berdoalah. 'asaa ayyahdiyani robbi li aqroba min hadza rosyada. aamiin.

Allahua'lam.

Thursday, June 21, 2018

Sleep? Are You Sure?

June 21, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Akan dibalikin lagi ke draft in syaa Allah. Just a reactionary post.

Jadi.. aku baca lumayan bayak tulisan di Medium. Sampai medium bilang, I read a lot. Trus ada tambahan kata, and we like it. wkwkwk. Dulu ga ada padahal hehe. Bagus ih, minimal sekarang nadanya bukan kaya ga suka kalau kita baca banyak hehe. *Dih, ngomongin medium dibelakang mulu hehe. 

Oke, balik ke topik. Dari sekian tulisan yang aku baca, ada tulisan ini, berjudul 5 Essential Investment Every Human Being Should Make in Themselves

By the way, the article is good.. read it and hopefully it will give you benefit. Abaikan tulisan sensi ini, baca lengkapnya di link di atas.

di sana ditulis ini.. 
If you improve the quality of your sleep, you’ll improve every other area of your life. - Srinivas Rao
Aku baca itu gatau kenapa sensi. Yakin tidur? bukan hal lain? Aku tahu kalimat itu ga sepenuhnya salah. Karena dia ngerasain bedanya saat tidur teratur dibanding saat dia susah tidur. Tapi ya tapi..  yang bener bukan kualitas tidur yang dibenern biar aspek lain di hidup kita juga naik. Kau tahu apa? Shalat. Ya, tulisan sensi ini untuk mengingatkanku... bahwa.. 
If you improve the quality of your shalah, you'll improve every other area of your life (not only in this life, but also afterlife). - Kirei
***

Trus aku mikir... yakin kau pantes sensi nulis ini? Punya kaca Mba? Coba dilihat.. gimana kualitas shalatmu? Ehm... *speechless

Allahummaj'alna minal mushollin..

Allahua'lam.

Thursday, June 7, 2018

I Don't Need That

June 07, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Saat itu, sebuah tulisan kubagikan di grup. Isinya, tentangku dan perasaan minderku akan tulisanku. 

Tapi respon seseorang terhadap tulisanku, membuatku sebel sendiri, sensi sendiri. Ga diekspresiin di sana sih, karena aku tahu, yang salah itu diriku yang terlalu sensi.


Ingin kukatakan pada yang bersangkutan. Iya... aku menulis itu, karena merasa  minder membaca tulisannya yang lebih berbobot, lebih bagus, lebih berisi dan bergizi. Jujur, aku memang merasa sedikit mengerdil, tiap membaca tulisannya. Tapi sungguh, aku menulis tulisan tentang minder, dan bagaimana aku mengatasi perasaan itu, sebagai bentuk kejujuranku pada diri, bukan mengharap apapun dari ybs. So, I don't need that kind of respond

Jadi.. jujur aku merasa sensi. Saat kubaca ia merespon tulisanku. Ingin kukatakan padanya, I don't need that. Aku ga butuh respon itu. Bisakah ia diam saja, seperti dua puluh hari yang lalu?

***

Ini salah satu bentuk ujian kan? Aku cuma perlu berhenti bersensi ria, dan terus saja menulis. Tenangkan hati, jangan marah, jangan sensi. 

Kalau masih ga bisa? Bisaaaaaaa. Istighfar, duduk, main air *eh hehe. Bisa in syaa Allah. Ok? Semangat ^^

Allahua'lam.

Thursday, April 12, 2018

Why Did You Hide?

April 12, 2018 0 Comments
Bismillah.

#fiksiku

Pertanyaan itu dilemparkan kepadaku. Dengan ketus kutampik, "Nggak, aku nggak sembunyi". Aku sedang menunggu teman, dan aneh rasanya menunggu di tengah lorong, jadi aku menepi, dan itu bukan persembunyian.

Ingin rasanya memperpanjang penjelasan, agar ia paham, aku tidak memiliki alasan untuk bersembunyi darinya maupun dari orang lain. Aku mungkin memang tidak akan menyengaja menemui banyak orang, aku hanya akan menyengaja bertemu dengan orang-orang yang ingin kusapa, orang-orang yang dengan mereka aku bisa ringan bercerita semua, karena mereka sudah tahu, dan aku tahu mereka menerimaku, kekuranganku. Tapi tidak menyengaja untuk bertemu bukan berarti bersembunyi. Sungguh, I won't hide, I won't even ignore. Jika memang tanpa sengaja bertemu, aku tidak akan bersembunyi atau menghindar. Aku mungkin bisa tersenyum dan memulai sapaan, bertukar pertanyaan, kemudian melanjutkan aktivitasku.

***

Why did you hide? Tanyanya saat itu. Itu bawa apa? Tanyanya lagi. Aku melihat tas kertas batik di tangan kananku. Oh, ini... hadiah untuk temanku, hari ini hari istimewa, bukan hari lahir memang, tapi ini hari tanda ia telah menyelesaikan salah satu tugasnya. Dan aku hadir jauh-jauh untuk berada di sampingnya di hari istimewa tersebut. Ia mengangguk pelan, mungkin menyadari kesalahan pertanyaannya. Semoga ia sadar, bahwa jika aku benar-benar memilih bersembunyi, maka aku tidak mungkin di sana, dan berniat kesana.

Tahu A? Tanyanya.. Ini juga hari istimewanya. Aku sedikit terkejut pada informasi yang kudengar darinya, aku kira hari istimewanya sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Kusebutkan padanya, berarti ada banyak orang, yang hari itu.. adalah hari istimewa. Bukan cuma temanku, bukan cuma A, tapi banyak orang.

***

Ia pergi, saat yang ia cari di lorong itu, ternyata sedang ada urusan di tempat lain. Entah basa-basi atau benar-benar bertanya, ia sebutkan nama kecamatan itu. Aku jawab, hanya tahu angkot dengan jurusan tersebut, namun belum pernah kesana. Ia pergi, dan aku... masih merasa ofensif pada pertanyaannya.

Why did you hide?

Aku bertanya pada diri sendiri saat ini, ditulisan ini. Apa rasa ofensif dan keinginan menuliskan ini, adalah tanda... kalau sebenarnya saat itu aku bersembunyi? Darinya? Karena apa? Karena menghindari pertanyaan klise saat orang-orang berpapasan setelah lama tidak bersua? Karena itu?

Jawabanku tetap sama. Aku tidak bersembunyi. Sungguh. Saat itu aku tidak bersembunyi. Karena jika aku memang berniat bersembunyi, saat kulihat ia datang ke arahku, aku seharusnya berbalik dan segera pergi dari lorong itu, menuju jalan sempit yang lebih gelap. Di sana tempat sembunyi yang cocok. Tapi saat ia mendekat ke tepi lorong tempat aku bersembunyi, aku menyapanya, ya, aku yang terlebih dahulu menyebut namanya. Menceritakan padanya, bahwa temanku mengenalinya dari jauh, namun aku enggan mencari tahu lebih jauh, bukan karena ingin bersembunyi, hanya karena, buat apa? Haha.

***

Dua, tiga atau hampir sepekan setelah pertanyaan itu dilempar padaku. Aku kemudian teringat, bahwa aku mungkin juga melemparkan pertanyaan yang membuat ia tidak nyaman. Di sini... izinkan aku meminta maaf. Mungkin lebih baik, kalau saat itu aku sembunyi. Sehingga ia tidak perlu menjelaskan padaku, mengapa ia ada di sana. Maaf, jika karena pertanyaanku, ia tidak bisa bersegera pergi karena segan dan bingung mengakhiri percakapan. Aku kurang pandai membaca bahasa non verbal, saat itu. Kalau diingat lagi, padahal jelas terlihat berulangkali gerak kakinya ingin segera pergi. Tapi pertanyaan pertamanya, padaku, membuatku ingin membuktikan padanya, sungguh aku tidak sedang bersembunyi.

Jadi, maaf. Ia salah. Aku tidak bersembunyi. I didn't hide that time.

The End.

Tuesday, March 27, 2018

Tulisan Reaktif Lagi

March 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

Seseorang berkata,
"Duh, aq sedih deh kl lama ga berkabar sm tmn tp tau2 pas berkabar denger ada yg ga lanjut kuliah, ada yg cerai, dll. Rasa2nya pgn ngulang ke beberapa wkt lalu nepuk pundaknya siapa th bs berubah kputusannya......"
Aku membacanya pelan, tidak emosional, tapi jujur, membacanya membuatku ingin reaktif dan menulis di sini.

***

Aku tahu, beliau lebih paham tentang kata 'seandainya' yang seharusnya dihindari.

Aku tahu, beliau hanya menuangkan perasaannya, saat lebih dari sekali ia menemukan kabar keputusan 'mengejutkan' dari teman yang lama tidak berkomunikasi dengannya.

Tapi aku ingin menjawabnya, di sini...

Bahwa meski ia ada saat itu, disamping teman-temannya, menepuk pundaknya, menjadi salah satu orang yang menguatkan teman-teman tersebut di saat gejolak pilihan yang konsekuensi tidak kecil. Meski ia ada di sana, saat itu. Dan kemudian waktu berlalu, menjadi saat ini. Keputusan teman-temannya mungkin akan tetap sama. Why? Karena sudah terjadi, dan itulah yang disebut takdir. Yang sudah terjadi.

***

Untuk siapapun yang mungkin merasakan keterkejutan yang sama, atas kabar dari teman yang lama tak berkomunikasi.

Instead of wondering how it might have been, if you had been there beside them before they made such decision. Instead of asking 'why' to them. Maybe it's better for you to ask for their feeling,


"Are you okay now? What's happen is happened. What's your next plan?" Instead of telling them, that you're sorry for not being there for them. You can just begin to keep in touch with her, and keep staying beside them, despite their previous 'shocking' decision.

Karena sebenarnya, yang mereka pikirkan, bukan tentang bagaimana kita tidak ada di samping mereka pada saat-saat yang lalu. Tapi mungkin, yang mereka sekarang pikirkan, dan khawatirkan, adalah apakah kita mau tetap di samping mereka, meski setelah mengetahui keputusan yang mereka ambil.

***

Terakhir, jangan salahkan dirimu.. atas apa yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Tujuan mereka baru menceritakan keputusannya padamu, bukan supaya kamu merasa bersalah. Tidak. Saat kamu akhirnya mengetahui keputusan tersebut, dari lisan/jemari mereka, itu artinya mereka percaya padamu, bahwa keputusan mereka di masa lalu, tidak akan mempengaruhi hubungan pertemananmu dan mereka. Karena bagi mereka, tidak mudah, mengungkapkan fakta bahwa mereka memilih keputusan tersebut.

Allahua'lam.

Monday, March 12, 2018

SensiMe

March 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe
"Kita yang salat buru-buru atau Allah yang enggan berlama-lama dengan kita?"
dari sebuah grup, nasihat yang nonjok ceunah.

***

Aku? Aku sensitif, sensi, sensiMe, bukan dengan orang, tapi dengan kalimat tersebut. Ingin rasanya "berteriak" dan mendebat kalimat tersebut, mencacahnya dan mengemukakan betapa tidak benarnya kalimat tersebut.

Yang buru-buru itu kita. Bukan Allah yang tak mau berlama-lama dengan kita.

Allah selalu ingin berlama-lama dengan kita, berduaan dengan kita. Ya, kita, bahkan aku, seorang hamba yang hina dina.

Allah membuka tangannya malam dan pagi, menanti taubat hamba-hambaNya. Allah menguji hambaNya dengan kesulitan, agar mereka mendekat padaNya. Allah mengambil orang-orang tersayang yang menjadi tandinganNya, agar hambaNya kembali sadar, bahwa cinta yang pertama, dan tidak boleh di duakan, adalah pada Allah, bukan manusia, bukan harta apalagi tahta.

Pernah suatu malam, tiba-tiba terbangun? Mungkin haus, mungkin perlu ke air. Tahu maksud di balik kejadian tidak biasa itu? Allah merindukan hamba-Nya berkhalwat, mendirikan dua rakaat, menengadahkan tangan dan berkeluh kesah padaNya.

Dan rasa bersalah, yang selalu menggayut tiap kali kita melakukan dosa? Itu tanda bahwa Allah ingin kita segera berlari dan memohon ampunanNya.

***

Kau tahu surat Nur? Deskripsi tentang orang yang dalam hatinya sudah tidak ada cahaya? gelap berlapis gelap? Apabila ia mengeluarkan tangannya, "hampir" tidak dapat melihatnya. Allah bisa saja mengatakan mereka yang berada dalam lapisan gelap tidak dapat lagi melihat. Namun Allah menggunakan kalimat yang maknanya hampir tidak dapat melihat.

Bahkan di situ, Allah masih memberikan harapan. Bahwa cahaya itu, bisa masuk dan menerangi hati hamba-hambaNya yang kini dalam kondisi diliputi gelap berlapis gelap.

***

Allah enggan mau berlama-lama dengan kita? Pikirkan lagi, bagian mana yang salah. Mungkin niatnya baik, dan efektif bagi sebagian orang. Tapi Allah tidak begitu. Bukan Allah yang enggan berlama-lama dengan kita, kita aku saja yang shalatnya terburu-buru.

Kau tahu apa yang Allah katakan pada laut, yang geram ingin menenggelamkan manusia? Kau tahu apa yang Allah katakan pada malaikat, yang ingin menangani manusia dan mematikannya?

"Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabbnya untuk menenggelamkan Bani Adam. Para malaikat juga meminta izin kepada-Nya untuk segera menangani dan mematikan mereka. Sementara Allah berfirman, 
'Biarkan hamba-Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika Aku menciptakannya dari tanah. Andaikan ia hamba kalian, maka urusannya terserah kalian. Karena ia hamba-Ku, maka ia berasal dari-Ku dan urusannya terserah kepada-Ku.
Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika hamba-Ku datang kepada-Ku pada malam hari, maka Aku menerimanya. Jika ia datang kepada-Ku pada siang hari, maka Aku menerimanya.
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia berjalan kepada-Ku, maka Aku berlari-lari kecil kepadanya.

Jika ia meminta ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya. Jika ia meminta maaf kepada-Ku maka Aku memaafkannya. Jika ia bertaubat kepada-Ku, maka Aku menerima taubatnya.

Siapakah yang lebih murah hati dan mulia dari-Ku, padahal Akulah yang paling murah hati dan mulia? Pada malam hari hamba-hamba-Ku menampakkan dosa-dosa besar kepada-Ku, padahal Akulah yang melindungi mereka di tempat tidurnya dan Akulah yang menjaga mereka di kasurnya.

Siapa yang menghadap kepada-Ku, maka Aku menyambutnya dari jauh. Siapa yang tidak beramal karena Aku, maka Aku memberinya lebih dari tambahan. Siapa yang berbuat dengan daya dan kekuatan-Ku, maka Aku melunakkan besi baginya. Siapa yang menginginkan seperti yang Ku-inginkan, maka Aku pun menginginkan seperti apa yang ia inginkan.

Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah mereka yang ada di dalam majlis-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah mereka yang menginginkan tambahan dari-Ku. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah mereka yang mendapat kemuliaan-Ku.

Orang-orang yang durhaka kepada-Ku tidak Kubuat putus asa terhadap rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka, dan jika mereka tidak mau bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah tabib mereka. Aku akan menguji mereka dengan musibah-musibah, agar Aku mensucikan mereka dari noda-noda'." (HR. Ahmad)
***

Coba ulangi lagi membaca kutipan yang membuatku sensi dan menulis ini.
"Kita yang salat buru-buru atau Allah yang enggan berlama-lama dengan kita?"
Kita yang buru-buru.. selesai. Allah selalu ingin berlama-lama dengan kita, kita yang buru-buru.

***

Aku tahu.. aku terlalu sensitif. Tulisan ini bentuk reaktifku terhadap kalimat tersebut. Aku... aku mungkin ga bisa buat satu kalimat, yang bisa menggerakkan hati banyak orang untuk shalat tidak buru-buru. Tapi.. aku.. izinkan aku bersensiMe, di sini. Mengemukakan kesensitifanku. Bahwa bukan Allah yang tidak ingin berlama-lama dengan kita. Sungguh... Maha Suci Allah atas prasangka kita, yang seringkali jauh nama dan sifat-sifat mulia Allah.

***

Terakhir..izinkan kuakhiri tulisan ini dengan doa kafaratul majlis. Pasti banyak salah. Maaf. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wallahua'lam bishowab.

***

PS: Hadits disalin dari buku Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Madarijus Salikin. Maaf kalau ada typo atau kesalahan penyalinan.

Thursday, February 22, 2018

She was There But I wasn't

February 22, 2018 0 Comments
Bismillah.
#untuksahabat #untukmuukhti

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, hari demi hari. Terutama di saat-saat seperti ini, derai hujan yang terdengar riuh di luar. Ia masih diam, memilih untuk diam dan menjaga jaraknya dariku. Sepertinya, kesalahanku fatal. Jujur, rasanya tidak pernah tenang, kalau kuingat kalimat yang kuketikkan ringan, ternyata justru menoreh luka di hatinya. Atau mungkin tidak melukai, tapi membantu luka lamanya terbuka lagi lebar-lebar.

***

Ia mungkin menganggap hari itu biasa saja, tapi bagiku, itu hari penting, hari terakhirku di Bandung, sebelum akhirnya pindah domisili ke Purwokerto lagi.

Qadarullah satu hari sebelumnya, hp nokia-ku tertinggal di kosannya. Pagi, ia mengantarkan hp-ku. Seolah Allah sudah merancangnya dengan baik. Saat itu, saat aku gagal untuk belajar minta tolong pada orang lain, Allah kirimkan bantuannya lewat ukhti shalihah tersebut. Aku saat itu panik, sibuk dan heboh sendiri harus packing segitu banyak barang di kamarku. Waktu terus berjalan, sudah hampir jam 11 sedangkan tiket kereta yang akan mengantarku jam 1. Belum sarapan, belum siap-siap, belum nanti kirim barangnya, dll.
Ketukan di pintuku, dari tangan mungilnya menyadarkanku, kalau aku ga sendiri, ada seorang teman yang Allah kirimkan untukku.
Ia ada di sisiku, dengan tas ransel coklatnya, saat aku panik harus packing semua barang di kosan. Ia ada di sisiku, membantuku mengangkat dus-dus berat, rela ikutan cape, meski awalnya ia hanya hendak mengembalikan hp yang tertinggal di kosannya karena kelalaianku. Ia ada di sisiku, bahkan menyatakan bersedia untuk mengurus administrasi pengiriman barang-barangku. Ia ada di sisiku, saat kami duduk di stasiun bandung gerbang selatan, saat kami duduk di kamar kosku yang sudah tinggal kasur dan lantai saja. Ia bahkan ada di sisiku, saat sebuah hal masuk ke sela-sela pikiranku.

***

She was there beside me. Bukan cuma hari itu, juga banyak hari-hari lain saat aku butuh seorang teman. And these days, I feel like I often wasn't there beside her when she need someone. 

Jarak mungkin memang selalu terbentang, beratus mil. Namun sebelumnya, tidak terasa serenggang ini. Tidak terasa sejauh ini, tidak... sampai ketika ia memilih untuk diam.

I wish she talk to me again, even after these silent days. Or maybe, I hope she talks a lot with Allah, spend more time with Allah and cure her wound with her interaction with Allah.

I wish I could be a good friend for her. But if I'm not qualified. I wish Allah will send a lot and a lot of good friends to accompany her passing through her darkest day in life. The days when she needs someone to comfort her, the days when she needs someone to wipe her tears, the days when she needs someone to make her smile, the days when she doesn't want to be alone.

***



Izinkan aku menuliskan sekali lagi kata maaf di sini. Atas setiap salahku padanya. Atas sikap yang salah kuambil, kata yang salah kuucapkan, keegoisanku, kesombonganku, sikap menyebalkanku. Maaf.

the one who wish for your best,
_kirei

Tuesday, January 23, 2018

Klise? Bukan, Hal Itu Susah Bahkan Bisa Jadi Tidak Mungkin

January 23, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Maksud diri ingin membatalkan 'claps', hasilnya? Justru mengkalilipat-kannya.

***

Semoga yang nulis itu ga baca blog ini.

Ia menulis, "Entahlah, aku hanya ingin melakukan sebuah mimpi sederhana. Membuat orang lain bahagia, membuat mereka juga ingin berbuat demikian untuk orang lain. (KLISE, ngawang, tidak jelas, tapi hanya ini, beneran hanya ini)"

Tulisannya memang bagus, jadi aku kasih clap satu kali. Namun, mungkin karena sudah malam, otak sensiku aktif.

Kataku dalam pikiran, "Klise? Bukan. Justru membahagiakan orang lain itu hal yang susah, bahkan bisa jadi tidak mungkin". Padahal ya, kalau saya mau teliti, toh ia tidak menulis, membahagiakan semua orang. She just wrote, she wants to make someone else happy. Hal yang mulia. Aku saja, yang malam ini terlalu sensi.

***

Jangankan membuat orang lain bahagia, membuat diri sendiri bahagia juga bukan hal yang mudah loh. Misalkan aja nih.. cita-citanya adalah membuat orangtua bahagia, itu bukan perkara mudah loh. Akan ada masa kita saya membuat orang tua marah, atau kecewa. Membuat orang tua bahagia itu bukan hal yang mudah, tidak sesederhana itu.

She said, mimpi sederhana, membuat orang lain bahagia. It's not simple, rather it's complicated. Untuk tahu orang sudah bahagia tidak semudah, yang penting ia sudah menaikkan kedua ujung bibirnya. Kalau sebuah senyum saja cukup, mungkin memang sederhana. Kita bisa ngelawak, kita bisa ngasih senyum, yang efeknya mungkin orang lain jadi balas senyum kita, atau melakukan hal-hal kecil yang membuat mereka tersenyum. Tapi bahagia, bukan sekedar apa yang tampak diwajah kan?

Banyak yang tersenyum, namun sebenarnya sedang gelisah dan tidak bahagia. Banyak yang menangis, tapi justru tangisannya adalah bentuk pengekspresian kebahagiaannya. Jika standar yang dikejar adalah kebahagiaan orang lain, maka itu bukan hal klise, itu hal yang super sulit, bahkan bisa jadi tidak mungkin. We can't really make people happy. Kita cuma bisa berusaha, hasilnya, mereka bahagia atau tidak, itu ada di hati mereka, sesuatu yang invisible. Terkadang mungkin memang terpancar dari matanya, dari senyumnya, dari nada suaranya, namun kita tidak pernah bisa tahu.

***

Karena ini tulisan SensiMe. Saya minta maaf. Ia yang menulis itu, mimpinya indah. Cita-citanya mulia. Karena sebuah senyum bagi saudara muslim adalah sedekah. Maka saat ia membuat saudara muslim bahagia, tentu ada pahalanya juga.

Mimpinya untuk membuat orang lain bahagia, bukan berarti yang ia kejar adalah kebahagiaan orang lain. Karena jika manusia tujuannya, pasti yang terjadi adalah kecewa, dan ga mungkin. Kita ingin buat orang lain bahagia, tapi karena fokusnya, center-nya manusia, hasilnya, hidup kita yang tidak bahagia. Beda, kalau yang ia maksud di sana, adalah cara/media. Cita dan mimpinya adalah meraih ridho Allah, cara/jalannya adalah dengan membuat orang lain bahagia. Karena menyingkirkan sebuah duri ditengah jalan saja berpahala, apalagi membuat orang lain bahagia. In syaa Allah berpahala kalau niatnya karena Allah.

Iya, saya minta maaf. Saya yang salah.

Yang ia maksud memang seperti itu. Definisi cita-cita yang seperti itu. Seperti seseorang yang bercita-cita menjadi dokter, sebagai perannya, menjadi khalifah di bumi, dengan niat menjalankan tugas yang dititahkan Allah pada manusia, dengan niat, sebagai bentuk penghambaannya pada Allah. Seperti itu.

***

Sekali lagi maaf, karena dibawakan pakai Sensi. Sudah malam, mengantuk, tapi belum bisa tidur. Mungkin itu alasannya, atau excuse, atau pengen curhat saja.

Mungkin akan balik ke draft lagi. Tapi malam ini, izinkan kupublish sampai waktu tertentu.

Wallahua'lam.

Saturday, March 11, 2017

Thursday, January 5, 2017

Menjadi Yang Terlupakan

January 05, 2017 0 Comments
#SensiMe #bersihbersihdraft

Bismillah.

Bagaimana rasanya, menjadi yang terlupakan? Kecewa, sedih... Entahlah.... Mungkin sebenarnya tidak terlupakan, hanya saja...

Sunday, December 25, 2016

Ngapain Ngasih Tahu?

December 25, 2016 0 Comments
#SensiMe #bersihbersihdraft

Judulnya, sesuatu yak? Tiba-tiba terfikir percakapan di otakku

A: Ngapain ngasih tahu?
B: Loh, katanya laper? Ga suka tahu? Mau bala-bala?
A: sjafjashjfbdhajfbjdasfj *kesel dan sensi sendiri

Hahahaha. Ga penting ya? Tapi gatau kenapa pengen ditulis, sebelum pindah ke topik sebenarnya, dan kesensian diriku.

***