Follow Me

Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Friday, July 24, 2020

Berita Hoax yang Viral

July 24, 2020 0 Comments
Bismillah.

Sejak akhir Ramadhan lalu, aku qadarullah jadi sering ke pasar. Hampir tiap hari kini. Kalau sebelumnya hanya beberapa waktu dalam sepekan, kini setiap hari. Datang ke pasar membuatku membuka mata tentang realita. Bagaimana kehidupan orang-orang kecil, saat pandemi covid hingar bingar. Pasar sepi, baru pernah Ramadhan pasar begitu sepi. Mayoritas paham kondisi saat itu, perintah untuk tetap #dirumahsaja. Maka tidak banyak keluhan. Mayoritas pedagang tetap berangkat ke pasar seperti biasa, menggelar dagangan mereka, melayani pembeli yang bisa dihitung jari. Beberapa pedagang memang ada yang tidak buka, #dirumahsaja. Yang berangkat tentu saja diinstruksikan memakai masker. Instalasi cuci tangan dipasang di pintu gerbang pasar. Masing-masing pedagang pun menyediakan minimal botol air minum 1,5 liter berisi air yang sudah dicampur cairan sabun. Air itu digunakan untuk mencuci tangan, setiap kali habis bertransaksi, memegang uang, yang bisa jadi media penyebaran virus.

Sejauh itu, judul tulisan ini belum berlaku.

Sekitar satu pekan hari yang lalu, pemerintah daerah menyebutkan bahwa ada 5 pedagang pasar wage yang positif COVID19. Katanya sih dari hasil rapid tes yang pernah dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Kebijakan yang diambil, pasar tutup 3 hari (14-16 Juli 2020), untuk penyemprotan. Selama tiga hari itu juga, pedagang diwajibkan ikut tes swab.

Berita tentang 5 pedagang yang positif tersebar viral. Membuat orang-orang takut untuk ke pasar. Wajar, manusiawi. Tapi kabar lanjutan dari orang-orang yang "dikatakan" positif itu membuatku terdiam. Bahwa sebagian besar sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Setelah diperiksa anggota keluarga lain, semua negatif. Lalu yang disebut positif pun sudah dipulangkan ke rumah. Diminta untuk tidak kemana-mana.

Dari situ, salah satu tetangga bercerita tentang kisah yang serupa tapi tak sama. Yang satu ini terjadi pada tetangganya. Dulu... sebelum ramadhan, saat baru awal berita covid menyebar. Satu orang diberitakan positif, beritanya sudah viral. Qadarullah ia pedagang sayuran di kompleks rumahnya. Semua pelanggannya tentu saja pergi ketakutan. Ia dijauhi dan dikucilkan. Hanya untuk mengetahui fakta bahwa ia ternyata tidak positif.

Betapa bahayanya berita fasik yang tersebar luas. Mudah memang meng-copy paste, kemudian menyebarkan berita. Atas nama untuk kebaikan semua. Supaya orang-orang berhati-hati. Tapi pernahkah kita memikirkan, bahwa tabayyun yang tidak kita lakukan, bisa jadi bentuk kedzaliman bagi orang tersebut? Berapa banyak kerugian yang ia rasakan, karena berita hoax yang viral tersebut? Bukan cuma kerugian finansial, tapi secara emosional, sosial.

***

Hari itu Jumat, 17 Juli 2020. Para pedagang berangkat lagi setelah tiga hari sebelumnya pasar ditutup. Sore sebuah berita membuat kami tersenyum. Hasil tes swab hari pertama sudah keluar. Dari 96 orang yang tes swab alhamdulillah negatif semua. Aku ingat riuh suara hamdallah dari pedagang dan juga pengunjung. Melegakan rasanya, apalagi pedagang di sebelah kami mayoritas tes di hari pertama.

Tapi berita tersebut hanya berhenti dan diketahui penghuni pasar sore itu saja. Ada berita buruk lain yang disiarkan viral oleh pemerintah. 16 orang positif katanya. Berbeda dengan respon berita pertama saat 5 orang dikatakan positif. Kalau kemarin responnya lebih ke ketakutan, kini suara terpecah belah. Sebagian takut, sebagian lagi tidak mempercayainya, sebagian lagi abai. Banyak suara saut paut, rumor tentang siapa saja 16 orang tersebut. Sebagian yang tidak percaya belajar dari pengalaman sebelumnya, jangan mencurigai siapapun, karena bisa jadi hasilnya salah, meski sudah dikoar-koarkan oleh pemerintah. Sebagian yang lain abai meski sebenarnya ketar-ketir juga memikirkan nasib mereka.

Sejak berita itu, penjagaan di pasar makin ketat. Pintu utara ditutup. Petugas dengan seragam bolak-balik mengingatkan untuk pakai masker. Para pedagang mayoritas geram. Apa yang mau dijaga, ada orang masuk pasar aja gak. Sebagian mengatakan, "dari dulu kebijakan pemerintah tidak ada yang memihak ke rakyat kecil". Sentimen itu muncul mengingat mall masih adem ayem saja buka.

Dan dari banyak suara, ada satu hal yang membuatku merasa tenang. Saat mendengar kalimat, bahwa toh mereka, pedagang kecil tidak pernah bergantung atau bersandar pada pemerintah. Tidak pernah berharap banyak pada pemerintah. Dari dulu sudah begitu. Kalimat yang membuatku teringat akidah yang seharusnya tertancap kuat. Bahwa rezeki dariNya akan terjamin, entah pasar sepi atau ramai. Bahwa IA tidak pernah meninggalkan hambaNya, meski hanya pedagang kecil yang setiap hari keluar rumah untuk mengais uang untuk makan.

***


Hari-hari berat ini.. aku banyak teringat tentang pelajaran dari surat al hujurat. Tentang berita dari orang fasiq yang harus ditabayyuni terlebih dahulu. Di cross-check kebenarannya. Bukan justru dibantu persebarannya biar viral. Karena seperti yang disebutkan di ayat tersebut, akan ada kaum yang dirugikan karena berita tersebut, jika kita tidak mau lebih teliti membaca, menerima dan menyebarkan sebuah berita.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
[Surat Al-Hujurat (49) ayat 6]

Aku banyak diingatkan ayat-ayat dari surat Al Hujurat. Tentang sebagian besar prasangka adalah dosa. Tentang keengganan dan rasa jijik yang seharusnya kita rasakan jika harus memakan mayat saudara kita.

"Tadi pas dzuhur, Bu X juga terlihat lemes/gak sehat gatau kenapa." suara parau, tentang salah satu orang yang 'rumornya' salah satu keluarganya termasuk satu dari 16 yang positif.

Mau tidak mau aku jadi ikut bersuara, "gimana gak lemes, banyak rumor ngomongin keluarganya kena covid". Tentu saja berita macam itu mempengaruhi psikologi dan fisik kita.

"Padahal prasangka itu lebih menyakitkan daripada tusukan, lebih jelek daripada semua akibat dan cacian yang paling keji." (dari buku biografi Umar bin Abdul Aziz)

***


Jujur, rasanya kepalaku begitu pusing memikirkan ini. Aku biasanya menghindari bahas tentang politik, pemerintah, dll. Tapi nyatanya, saat kita terjun dan melihat realita, kita tidak bisa tidak berbicara tentang itu.

Ada banyak asumsi. Bisa jadi semua ini bisnis. Gak logis memang. Dari berita awal 5 orang. Lima-limanya seolah sengaja dipilih, dari orang-orang tua renta.Tempatnya pun terpencar, bukan hanya di satu area. Lalu pedagang yang diwajibkan tes swab. Siapa yang diuntungkan, dari pembelian tes swab masal itu? Lalu berita selanjutnya. Mengapa hanya pasar. Bagaimana dengan mall? Apakah di wajibkan tes juga? Hasilnya apa? Apa disembunyikan? >< Ah, ini prasangka. jangan ditulis bell.

Dari dulu, kebijakan pemerintah memang tidak pernah menguntungkan rakyat kecil. Entah apa yang dicari dari menyebarkan berita yang bisa jadi tidak sepenuhnya benar. Aku jadi teringat dulu waktu masih duduk di bangku SD. Aku ingat pernah diajak Ayah duduk di sebuah sidang meja hijau. Tentang sengketa tanah pasar wage, yang dijual pemerintah kepada konglomerat. Pasar tradisional dipaksa pindah, mundur ke tempat yang tidak lagi strategis. Tadinya di pinggir jalan, kini mundur. Tanah yang dijual itu kini menjadi ruko, tentu saja ruko hanya bisa ditempati oleh yang memiliki modal besar. Pedagang kecil? Sejak dulu memang tidak pernah diuntungkan dari kebijakan pemerintah. Aku teringat bahwa kasus pasar pindah bukan cuma terjadi di kota kami. Entah berapa banyak kota yang pasarnya dipaksa pindah, protes merebak. Lalu "tiba-tiba" terjadi kebakaran yang membuat pedagang kecil "terpaksa" mau pindah.

Sedih. Miris. Kesal. Marah. Bahkan di masa pandemi seperti ini. Saat mayoritas pedagang kecil sudah berjuang habis-habisan. Tidakkah ada yang mengetuk pintu hati pemerintah? Bahwa kelak dari kebijakan itu, dan kedzaliman yang dirasakan rakyat kecil, semua itu akan dipertanyakan olehNya?

Jujur rasanya malu karena cuma bisa menulis saja. Teringat cerita ibu, tentang pedagang sayur yang merelakan dagangannya dijual murah, karena toh besok sudah layu dan tak layak jual. Itupun yang beli hanya satu dua orang.

Ya Allah bantu kami, agar kuat menjalani hari-hari berat ini. Kenyangkanlah perut lapar orang-orang kecil. Serta penuhilah hati kami dengan kepasrahan kepadaMu dan keyakinan akan keadilanMu. Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pemberi Rizqi.  Wallahu khoirurroziqin.

***

Terakhir, ini bulan Dzulhijjah... semoga Allah memberkahi bulan ini. Mari perbanyak shalat, dzikir, dan doa. Perbanyak sedekah. Semoga idul qurban tahun ini bisa menjadi sedikit sebab rakyat kecil tersenyum.

Allahua'lam.

Monday, August 12, 2019

Besar Kecilnya Kegagalan

August 12, 2019 0 Comments
Bismillah.

Sebelum bahas topik sesuai judul, Selamat Hari Raya Idul Adha~

Semoga ibadah kita diterima, semoga kita bisa belajar dan mengambil makna di balik ibadah haji dan berkurban. Menengok kisah hidup Nabi Ibrahim 'alaihisalam. salah satunya ini

***

From unsplash

Tulisan ini udah lama ada di kepala, cuma belum disempatkan untuk diurai dalam kata. Salah satu hasil perenunganku, tentang kegagalan.

Aku saat itu bertanya pada diri, apakah ada kegagalan yang kecil?

Aku mencoba melihat dari sudut pandang subjektif, sosok yang mengalami kegagalan. Mungkin, tidak ada kegagalan yang kecil di mata orang yang baru saja gagal. Orang lain mungkin meremehkan kegagalannya, 'ih, baru segitu doang'. Tapi tidak dengannya. Ia tahu betul, kegagalannya tidak pernah kecil di matanya. Ya, tidak ada kegagalan yang kecil, setiap orang berjuang masing-masing mengatasi kegagalan yang pernah di alaminya. Dan perjuangannya tidak mudah, karena saat itu, baginya itu bukan kegagalan kecil.

Kemudian waktu berlalu, aku kembali bertanya pada diri, apakah ada kegagalan yang besar?

Aku mulai menyadari bahwa besar-kecilnya kegagalan itu relatif. Jika kegagalan itu masih di depan mata, tentu ia nampak besar. Tapi jika kita bertemu dengan kegagalan yang lebih besar lagi, kita jadi tahu, kegagalan sebelumnya ternyata kecil. Atau ketika kita lihat orang lain yang jatuh dari 'bangunan' yang lebih tinggi, kita akhirnya malu, ternyata jatuh kita tidak seberapa.

Aku juga memikirkan, bahwa tidak ada kegagalan yang besar... kalau kegagalan itu cuma tentang apa yang terjadi di dunia. Jika masih terkait dengan hidup yang sementara, berarti kegagalan itu tidak besar.

Kegagalan yang benar-benar besar itu...

Kegagalan yang tidak hanya menyangkut hidup di dunia, tapi terus terbawa dan menyeret kita ke jurang yang lebih dalam setelah mati kelak. Kegagalan yang mengantar kita pada keabadian yang mengertikan.

Seperti kegagalan mengenali Rabb Semesta, kegagalan untuk hijrah dari dosa ke amal shalih hingga akhir hayat. kegagalan yang akibatnya tidak dapat diakhiri dengan kematian.

Kita boleh belajar dan salah dalam proses belajar. Yang mengerikan itu, kalau kita salah, kemudian berhenti belajar, dan akhir hidup kita dalam keadaan begitu.

Kalau kita tidak mengenali Allah Yang Maha Pengampun, Pengasih lagi Penyayang. Kita akan mudah putus asa, kita akan tenggelam dalam masalah sendiri, kita limbung karena tidak ada tempat bersandar. 

Kalau kita tidak mengenali Rabb semesta, kita juga akan gagal mengenali diri kita sendiri. Akibatnya kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan, apa tujuan kita diberi kehidupan di bumi ini. Lalu kita asal menerka dan memilih tergerus arus 'black hole'.

Kalau kita tidak berusaha mengenali Allah, dan memilih tidak menggunakan nikmat pendengaran, penglihatan dan hati kita..... itu baru kegagalan yang besar.

***

Tadinya, ingin kuakhiri tulisan ini dengan kutipan dari tulisan lama, bahwa setiap manusia pasti pernah gagal. Tapi... qadarullah barusan baca kutipan buya hamka, yang mungkin pas dijadikan penutup tulisan ini.

"Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil." -Buya Hamka
Terakhir, untuk siapapun yang sedang berusaha untuk bangkit dari kegagalan "besar" maupun kegagalan "kecil", semangat^^ Aku mungkin tidak bisa membantu apa pun, tapi baik aku, maupun kamu punya Allah Yang Maha Kuat. Jadi saat merasa lemah, dan payah akan kegagalan dalam hidup, mendekatlah pada-Nya. Ia akan menghibur kita, dan kita akan bisa tersenyum dan bernafas lega. Bahwa kegagalan itui.. bukan akhir. Bahwa ukuran kegagalan itu, begitu kecil, jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. *masih hari tasyrik, perbanyak takbir dan dzikir, doa jugaa..

Allahua'lam.

Wednesday, July 10, 2019

Hanya Perantauan

July 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Orang-orang yang pergi jauh dari rumahnya, meninggalkan orang-orang terkasih untuk merantau akan merindukan kampung halamannya. Kota asing perantauan meski sejuk dan rindang kotanya, tetap tidak bisa mengalahkan hangatnya berkumpul bersama keluarga, di rumah sendiri.

Tapi.. mungkinkah situasinya berbeda? Bagaimana dengan orang yang terbiasa merantau, kemudian tiba-tiba menghabiskan hidupnya di kampung halaman, jika ia merindukan perantauan, apa itu aneh?

***

Sabtu kemarin awal bulan Juli, artinya pekan tematik untuk sabtulis. Tema yang disajikan, "rantau". Aku tidak bisa menulis tepat waktu memang, tapi aku ingin tetap menuliskan tentang tema itu.


***

Aku pernah merantau sekali, ke Bandung. Dari perantauan yang tidak singkat itu ada banyak warna dan rasa. Perasaan senang dan khawatir saat pertama kali menjejaki tanah rantau, lalu kenalan sama homesick, mulai menikmati pola dan ritme kehidupan di rantau, dll. Ada rasa manis, asin, pahit, asam, campur aduk.

Setelah berhenti merantau, kini aku juga merasakan merindukan perantauan. Meski memang sekarang lebih nyaman di rumah. Tetap saja, kadang ingin sesekali mengenang memori, berkunjung ke kota rantau. Terakhir ke Bandung April 2018. Tahun ini pengen ke Bandung juga... tadinya buat rencana tgl 15 Juli ini. Tapii... kayanya cuma akan jadi rencana. Ada beberapa pertimbangan. Sepertinya tanggal segitu tahun ini belum jodoh.

Bicara tentang rantau mengingatkanku pada sebuah hadits yang dijelaskan seorang ustadz di Masjid Jendral Soedirman kota Purwokerto jumat kemarin (5/7). Tentang pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam agar kita hidup di dunia bagai orang asing, atau orang yang numpang lewat.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/298-menjadi-orang-asing-di-dunia.html


Sebelum membahas tentang isi hadits, ustadz menjelaskan penuturan Ibnu Umar, yang mendeskripsikan bagaimana Rasulullah menyampaikan pesan tersebut. Rasulullah memegang kedua pundak Ibnu Umar radhiyallahu anhu. Tujuannya untuk menarik perhatian, bentuk agar pesan yang disampaikan lebih mengena.

Ustadz menjelaskan, ada juga hadits lain yang menggambarkan bagaimana sahabat pernah mendeskripsikan bahwa kedua tangannya ada di antara kedua tangan rasulullah, sebelum sebuah hadits disampaikan. *kebayang ga? Jadi kaya salaman pakai dua tangan, tapi kalau salaman kan tangan cuma satu tangan, tapi ini dua-duanya.

Kebayang ga? Kedua tanganmu di antara dua tangan Rasulullah? Bagaimana tidak ingat saat istimewa itu. Perkataan yang Rasulullah sampaikan, pesannya, pasti akan lebih membekas, karena disampaikan dengan gesture tertentu.

Begitu pun pesan ini, pengingat agar kita hidup seperti orang asing, atau orang yang hanya lewat. Pengingat, bahwa kita hidup di dunia hanya sementara, tidak hendak menetap. Hanya mengisi bensin, agar dapat melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, hingga nanti, semoga bisa mencapai tujuan kita, jannahNya. Aamiin.

Selain itu, hidup di rantau itu tidak selalu manis, ada banyak berjuang, dan bekerja keras. Begitu pun hidup di dunia. Kesenangan di dalamnya semu. Dan kita banyak menjumpai kesulitan demi kesulitan. Semua manusia merasakan, tidak pandang bulu. Karena lewat kesulitan itu, Allah menguji kita. Lewat kesulitan itu, kita belajar. Dan jika kita bisa mengambil hikmah dari kesulitan dan memilih sikap yang benar, Allah akan menghadiahkannya dengan balasan yang lebih baik. In syaa Allah.

***

Aku kira aku sudah tidak merantau. Ya, aku kini menjalani hari-hari di kota kelahiran. Tapi setelah aku mendengarkan pesan cinta dari Rasulullah. Aku jadi teringat, bahwa aku masih merantau. Aku tidak boleh lupa. Bahwa sebentar saja, sebentar lagi, aku harus melanjutkan perjalanan. Bahwa dunia hanya "pom bensin", kita mengisi bahan bakar, untuk melanjutkan perjalanan. Bukan untuk menetap di "pom bensin".

Allahua'lam.

***

PS: Rabbi habli hukma wa alhiqni bisholihin. Allahummaj'alna minalladzina amanu wa 'amilusholihat wa tawashau bilhaqqi wa tawashau bishabri. Aamiin.

***








Friday, April 26, 2019

Dijadikan Pelajaran

April 26, 2019 0 Comments
Bismillah.
#hikmah



Bagiku, seolah semua yang terjadi beberapa hari yang lalu sebagai sebuah peringatan, sekaligus pengingat, bahkan bisa jadi jalan yang Allah tunjukkan padaku. Selama ini aku terus saja jatuh, berkali-kali. Allah ingin aku belajar, agar tidak jatuh lagi. Meski mungkin caranya dengan hal yang tidak disangka-sangka.

***

Kadang aku lupa, untuk mengambil pelajaran dari sebuah kejadian. Hari itu rasanya berlalu cepat, dengan emosi dan perasaan yang bergerak cepat pula bagai awan yang ditiup angin. Panik, menyesal, menyalahkan diri sendiri, kemudian berusaha tenang, sedih, teringat berulang-ulang, mencoba menghibur diri, mengingatNya, berusaha berprasangka baik padaNya, hingga kemudian bisa pelan-pelan menerima. Alhamdulillah respon orang-orang terdekat juga lembut. Sampai aku lupa untuk mengambil pelajaran.

Hingga sebuah telepon mengingatkanku lagi? Ia kaget karena yang menjawab aku, kujelaskan panjang lebar, seolah yang terjadi tidak meninggalkan bekas (karena cepatnya pergantian perasaan). Lalu ia mengingatkanku, "Yaudah jadikan pelajaran. Agar lebih primpen." Seketika orang-orang yang kusayangi ikut menambahkan, agar aku ingat, bahwa aku tidak pernah sendiri.

***

Aku kira sampai di situ pelajarannya. Ternyata masih berlanjut. Beberapa orang yang menelpon dan mengirim pesan. Mengingatkan bahwa dalam keterbatasan kita harus tetap semangat. Allah akan berikan jalannya. Pun teman yang rela direpotkan.

Semua itu membuatku sadar, bahwa ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dari satu kejadian. Hanya saja kita seringkali lupa untuk mengambil dan merenungi dan memasukkannya ke hati kita.

Semoga Allah berikan kita kecerdasan dan kebijakan untuk mengambil pelajaran di setiap kejadian, baik yang kecil maupun yang besar, dalam hidup kita. Pelajaran yang mengantarkan kita lebih dekat kepada-Nya. Allahua'lam.

Saturday, March 30, 2019

Bukan Cuma Hidup

March 30, 2019 2 Comments
Bismillah.

Apa kamu tidak punya mimpi? Keinginan? Target dalam hidup?

***

Manusia hidup, jantungnya masih memompa darah, masih bernafas, masih hidup. Tapi apakah cukup cuma hidup? Menjalani hari sekedar rutinitas, kebiasaan yang sama dan berulang. Apakah hanya akan berhenti di situ? Seolah tak ada yang membuatmu antusias, tak ada yang membuatmu ingin berlari meraihnya.

Manusia hidup, dari bayi, tumbuh menjadi kanak-kanak, kemudian menjadi dewasa. Mimpi adalah hal yang biasa ditanyakan pada kanak-kanak, dan dijawab dengan aneka rupa kata. Manusia dewasa juga terkadang ditanya tentang mimpi, namun ada sebagian yang memilih berhenti bermimpi hanya karena terhantam realita. Meski mereka tahu, bahwa manusia yang memiliki visi, hidupnya bukan cuma hidup, lebih berarti, karena bukan sekedar terbawa arus ombak. Namun mendayung ke arah tujuan atau menggunakan layar, agar bisa mencapai tanah impian dengan bantuan angin.

Bukan cuma hidup, tapi ada arah, ada motivasi, ada target, ada keinginan, ada mimpi.

***

"Kamu ga punya keinginan apa gitu Bell?" Pertanyaan seseorang yang melihat keseharianku seolah cuma hidup. Aku menjawab, aku setiap hari membaca buku, menghafal meski sedikit. Ia bergumam pelan, "bukan itu."

Aku tahu ia berbicara tentang mimpi, keinginan, serta target dalam hidup. Agar tidak 'cuma' hidup. Kalau boleh jujur, aku juga punya... bedanya aku hanya menyimpannya sendiri, dan hal itu belum bisa menjadi penggerak. Nyala apinya masih terlalu redup, untuk bisa menghasilkan energi yang menggerakkan.

Karena kalau boleh jujur.... aku masih terlalu takut untuk mulai bermimpi lagi. Masih ragu untuk memulai (lagi) menanamnya, merawatnya dan berharap memetik hasilnya.

Mungkin pertanyaannya padaku sebuah pemantik. Allah ingin aku tidak sekedar menjalani rutinitas hari, Allah ingin aku bukan cuma hidup. Aku sepertinya harus belajar lagi, berani bermimpi lagi, merajutnya, berusaha berlari menuju ke sana. Meski perjalanannya mungkin tidak mudah, dan hasilnya tidak selalu sesuai ekspektasi. Tapi aku harus belajar, supaya bukan cuma hidup.

Terakhir, ada satu kutipan tentang mimpi, yang terlintas di otak saat menulis ini.
"A dream is not the same as your talents. Your dream is something you want to achieve, even if you are not good at it. You think about your dream when you're eating, and even when you're sleeping." - anonim
Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

***

PS: Seems like I still stuck or only move so slow. I must learn so much to grow, to be a better human. Pertama 'mengubah hidup', lalu ini, 'bukan cuma hidup'. Hidup memang terbatas, karena kematian lebih pasti. Tapi justru dari keterbatasan itu, kita diminta untuk mempersiapkan sebanyak-banyaknya bekal. Karena perjalanan akan berlanjut, setelah kita mati kelak. Semangat berjuang~ semoga Allah berikan kekuatan agar tidak 'hilang fokus' meski banyak rintangan dan hambatan. Aamiin.

PPS: 1 April, pagi buka ig. Ngeliat ini.. seolah Allah ingin aku baca itu.


Tuesday, March 19, 2019

Mengubah Hidup

March 19, 2019 0 Comments
Bismillah.
#selftalk

Aku pikir aku sudah berjalan maju, berubah sedikit demi sedikit. Namun pertanyaan itu muncul, dan berulang. Membuatku ragu, apakah selama ini aku belum berjalan maju, meski satu langkah? Apakah aku memang hanya jalan di tempat? Atau justru sebenarnya mundur, namun mengira itu maju?

Pernyataan itu, awalnya membuatku emosi, ingin rasanya menyanggahnya. Tapi kalau aku mau jujur, sebenarnya pernyataan itu dibuat karena mereka peduli, karena mereka sayang padaku. Mereka ingin aku tidak begini terus. Mereka ingin aku melangkah maju, dan meninggalkan yang seharusnya dilewati. 

Aku bertanya-tanya pada diri. Apa selama ini, delta s sama dengan 0? Apa gerakku, sia-sia, tak memberikan perpindahan?

Aku bertanya-tanya pada diri. Ataukah mungkin langkahku terlalu lambat? Dan pernyataan itu tercipta untuk mengingatkanku, bahwa aku bisa berakselerasi, bahwa aku bisa melangkah lebih cepat. Juga mengingatkan, bahwa usahaku masih jauh dibandingkan kemampuan kakiku untuk bergerak. Bukan jalan kaki santai, tapi aku seharusnya berlari, melompat, juga menendang. Berlari menuju kepadaNya. Melompat meraih ridha-Nya. Juga menendang dinding hambatan yang menahanku untuk bergerak maju. 

***

They asked me, "When will you change your life?" 

They said, "You have to change your life."

Dan tulisan ini, hadir karena dua kalimat itu. Pertanyaan dan pernyataan yang belum bisa kujawab dengan mengejawantahkannya dalam amal. 

La haula wala quwwata illa billah. 

Allahua'lam. 

Wednesday, November 21, 2018

Jangan Tidur Kemaleman

November 21, 2018 0 Comments
Bismillah.

#selftalk

Salah satu hal, nikmat masih serumah sama orangtua dan ga merantau, adalah pengingat hidup sehat. Entah itu pola makan, maupun pola tidur. Pagi ini, aku diingatkan ayah agar memperbaiki pola tidur, agar tidak tidur larut malam. Iya, masih dibawah jam 12, tapi kan...


Atau saat malam diingatkan untuk makan. Terakhir makan tadi jam berapa? Oh iya, pagi... jamnya... ga ingat. Perutku belum lapar, atau mungkin sudah lapar tapi akunya bandel dan ga peka.

Bayangkan kejadiannya di kosan, saat merantau. Pola tidur berantakan, pola makan juga begitu. Siapa yang mau mengingatkan? Ga ada.

***

Bersyukurlah akan apa yang ada Bell. Manage yourself well, please... Olahraga? Apa kabar?

Live a healthy and happy life, you deserve it.. Berikan hak pada tubuhmu, pikiranmu juga hatimu. (:

Allahua'lam.

Saturday, August 4, 2018

Ga Sakit

August 04, 2018 0 Comments
Bismillah.


Ga sakit, tapi artinya bukan berarti tidak sama sekali sakit. Ga sakit, bisa jadi artinya, sedikit sakit, tapi tidak parah. Seperti tertusuk jarum pentul saat membenarkan kerudung segi empat. Ga sampai berdarah, sedikit sakit saja, membuat kaget dan refleks menarik jari dan mengeja huruf 'a' pelan.

Diperhatikan itu.. menyenangkan. Tapi kalau sampai membuat dua orang yang kamu sayangi jadi begitu khawatir, lebih baik diam saja menikmati sakit yang tidak seberapa. Sebentar juga sembuh, in syaa Allah.

Sehat dan sakit bergilir, seperti sedih dan bahagia, seperti lapar dan kenyang. Perlu usaha memang agar yang satu bisa berputar menjadi yang lain. Untuk sehat, dari sakit perlu berobat, atau beristirahat dan makan bergizi. Untuk bahagia, dari kesedihan perlu mendekat padaNya, belajar ulang makna kebahagiaan, menghitung nikmatNya dan tersenyum saat mendapati banyak nikmat ketimbang perasaan sedih kita. Untuk kenyang, dari lapar perlu makan, untuk bisa makan harus usaha, ga bisa berdiam diri.

***

Ingin kuyakinkan dua orang yang pagi ini beradu kalimat yang intinya sama. Sama-sama menunjukkan perhatiannya padaku, kekhawatirannnya padaku. Ingin kuberitahukan padanya, ini.. tidak sakit. Hanya sedikit saja sakitnya. Jangan terlalu dipusingkan. Doakan saja segera hilang. Doakan saja, agar sakit yang tidak seberapa ini bisa menjadi pengugur dosa. Meski dosaku, bergunung-gunung.

Ga sakit, sungguh. Ini lebih baik, daripada saat aku sehat dan sering lalai beristighfar. 

It doesn't hurt that hard. It can't be count as pain.

Ga sakit.. It doesn't hurt.

Allahua'lam. 

Sunday, October 8, 2017

Yang Lebih Sulit

October 08, 2017 0 Comments
Bismillah.


#hikmah

Which one more difficult for you? Calculus? Or Chemistry? Or Both? Or maybe English?

***

Aku bertanya pada diriku tentang yang mana yang aku rasa lebih sulit. Tapi bukan tentang mata pelajaran/mata kuliah. Tapi tentang hal lain, tentang lebih sulit mana.. memberitahukan kepada orang lain "kesalahan/kelemahan" kita, atau membiarkan orang lain mengetahui hal tersebut dari orang lain. Dua-duanya sulit sebenarnya bagiku. Ingin rasanya, mereka tidak perlu tahu apa kelemahan/kesalahanku. Tapi aku tidak bisa memungkiri.. Someday they'll know, whether it's from my own lips, or from someone else's lips, or from my own fingers, or from someone else's fingers.

Saat ini.. Aku masih belum tahu jawabannya yang mana. Dua-duanya sama-sama sulit, untukku yang masih belum bisa rendah hati mengakui kelemahan dan kesalahan diri. Rasanya, seolah aku diminta memilih membuka aib diri, atau membiarkan orang lain memberitahu mereka tentang aibku. Meski ga bisa dibilang itu aib juga sih, karena kelemahan dan kesalahan, it's always there. Bahkan mungkin perlu ada, supaya mengingatkan kita, bahwa kita cuma manusia, manusia pada umumnya. Manusia, yang punya banyak kelemahan dan kesalahan. Karena kalau aib mah, sebaiknya disembunyikan saja. Biarkan hanya Allah dan kita yang tahu. Tapi kalau ini sebuah fakta yang perlu mereka tahu, -walau aku sebenarnya ragu, emang buat apa mereka tahu ya? Hehe. Semacam fakta kalau aku seorang yang cengeng, ga perlu aku umumin juga kan, pas sesi perkenalan? hmmm...

Saat ini.. Aku masih bingung, yang mana yang lebih sulit. Bagiku sama saja hehe, dua-duanya sulit. Aku pernah memilih untuk membuka mulutku, menggerakkan jemariku yang kaku, memberanikan diri mengucapkan/menuliskan fakta tersebut, fakta bahwa betapa diri ini lemah dan banyak salah. Ku sebutkan pada mereka kelemahan diriku, dan kesalahanku. Rasanya seperti mengiris bawang satu kilo. *hiperbol hehe V. Pokoknya rasanya ga nyaman membuat mata perih. Bagiku, menceritakan kelemahan dan kesalahanku pada orang asing jauh lebih mudah, ketimbang menceritakannya pada orang terdekat.

Ya, lebih mudah bercerita tentang kelemahan dan kesalahanku pada orang asing. Karena mereka cuma orang asing, yang lalu lalang dalam hidup kita. Masalahnya, yang terkadang justru perlu tahu tentang fakta kelemahan/kesalahan kita adalah orang terdekat, karena bisa jadi, tidak mengetahuinya akan membuat mereka sedih. Seperti halnya aku yang sering sedih dan bertanya, "kenapa dia ga cerita ya?", pertanyaan semacam itu. Tapi mengungkapkan kelemahan atau kesalahanku pada mereka yang dekat itu, sejujurnya dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran. Takut kalau mereka memandangku dengan cara yang "berbeda", setelah mereka mengetahui fakta tersebut. Khawatir, mereka akan menjauh, atau menjaga jarak, atau apapun, perubahan sikap apapun.

Saat ini.. Aku masih bingung, yang mana yang lebih sulit. Bagiku sama saja hehe, dua-duanya sulit. Aku pernah juga memilih merasakan pilihan kedua. Saat orang lain sudah tahu, lewat orang lain. Rasanya pahit juga, ga kaya ngiris bawang sih, kaya apa ya? Hihi. Mungkin kaya kena duri-duri kecil yang nempel di rok ketika lewat rerumputan, yang kecil-kecil itu loh, yang perlu kamu cabut satu-satu. Ga nyaman pokoknya. Ga melukai memang, sama kaya mengiris bawang tidak melukai. Tapi cukup tidak mengenakkan, bukan hal mudah juga.

Sebenarnya yang bikin susah dari pilihan kedua adalah ketika kita dibuat mikir. Memikirkan kemungkinan, bahwa semua orang kini tahu kelemahan atau kesalahan kita. Memikirkan kemungkinan berita buruk tentang kelemahan dan kesalahan kita sudah tersebar, ke seluruh penjuru dunia. Memikirkan hal-hal buruk lain, termasuk bertanya-tanya dari siapa ia mengetahui fakta tersebut. Lalu kita jadi overthinking, jadi ke-PDan, merasa semua orang tahu, PD yang bikin minder. Rasanya setiap kita lewat tempat ramai, semua orang tahu lemahnya kita, tahu betapa banyak kesalahan kita. Kemudian kita akhirnya lebih memilih untuk memutus komunikasi, memilih menyendiri, karena tidak mau menemui orang-orang lain, yang ternyata sudah mengetahui fakta kelemahan dan kesalahan kita, padahal kita belum pernah bercerita kepada mereka.

***

Gimana menurut pembaca? Mana yang lebih sulit? Kebayang ga sih, maksud/contoh kelemahan/kesalahan yang perlu kita kasih tahu ke orang lain?  Karena sebenarnya mah, kalau kondisi normal, harusnya mereka(orang lain) ga perlu tahu. Tapi terkadang ada satu dua fakta di masa lalu, yang merupakan kesalahan/kelemahan kita, dan tidak bisa kita putuskan rantainya. Akan selalu ada di sana. Then someday, people will know it, whether it's from our lips, or someone else lips.
Atau kalian punya semacam hal tersebut. Sesuatu yang seolah perlu untuk kita kasih tahu ke orang lain, tapi entah mengapa mengucapkan fakta itu berat rasanya, tapi membiarkan mereka tahu fakta tersebut dari orang lain, juga berat.

***

Balik ke topik.

Aku bertanya pada diriku tentang yang mana yang aku rasa lebih sulit. Tapi bukan tentang mata pelajaran/mata kuliah. Tapi tentang hal lain, tentang lebih sulit mana.. memberitahukan kepada orang lain "kesalahan/kelemahan" kita, atau membiarkan orang lain mengetahui hal tersebut dari orang lain. Tapi setelah mencicipi keduanya, in positive side, sebenarnya dua-duanya tidak terlalu sulit. I mean, it's difficult, it's still difficult everytime I face both of them. But its difficulty is something I can bear. Sulit, kata sifat itu tidak menjadikan sesuatu tidak mungkin dilakukan. Begitu pula kedua opsi tersebut. Dua-duanya sulit, tapi sebenarnya kita bisa melewati keduanya. Kita bisa menjalani keduanya, mungkin akan ada drama nangis bombay di belakang layar, atau menahan perih saat harus mengeluarkan duri-duri. Tapi ya, habis itu kita bisa melanjutkan hari. Lalu kembali bertemu dengan pilihan yang sama.

Sebenarnya tidak sesulit itu, mengucapkan/menuliskan langsung tentang fakta kelemahan dan kesalahan kita. Tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada orang lain, bahwa mereka akan memahaminya, mereka tidak akan berubah dan menjauhimu, mereka tidak akan memandangmu dengan tatapan aneh. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka, bahwa.. meskipun ada yang menjauh, mungkin itu cara Allah menunjukkan pada kita, orang-orang mana yang Allah izinkan tetap di sampingmu, menerima kesalahan dan kelemahanmu, merangkul, menasihatimu saat kamu salah, menguatkanmu saat kamu lemah.

Sebenarnya tidak sesulit itu, mendapati seseorang mengetahui kelemahan dan kesalahan kita dari oranglain. Tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada orang lain, bahwa mereka peduli pada kita, sehingga mereka bertanya pada orang lain. Mungkin mereka begitu senggan bertanya pada kita, karena mereka lihat kita terus bungkam dan menghindar. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka, bahwa yang memberitahunya, bukan berniat ghibah, atau menyebar kelemahan dan kesalahanmu supaya kamu dijauhi, apalagi dikenal keburukannya. Mungkin si pemberi informasi ingin ada orang lain yang menguatkanmu saat kau lemah, karena ia sendiri tidak tahu caranya menguatkanmu, atau tidak bisa menguatkanmu secara langsung. Mungkin si pemberi informasi ingin ada orang lain yang menasihati kesalahanmu, karena ia tidak tahu caranya, tidak bisa menasihatimu secara langsung.

Sejujurnya... tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada Allah. Allah Maha Mengetahui. Setiap rencana, pasti ada hikmah. Setiap ujian, pasti ada kenaikan tingkat. Setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.

Sejujurnya... tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada Allah dan juga kepada orang lain.

***

I know, keep thinking positive after all the bad things that happen to you is difficult. I also know, keep thinking positive after all the bad person that you met is difficult. Tapi balik lagi, coba renungkan lagi, pikirkan lagi dengan hati yang lebih jernih. Sulit tidak menjadikan sesuatu tidak mungkin. Difficult doesn't make something impossible. Mungkin sulit, tapi bisa.. In syaa Allah bisa. Kalaupun kita tidak bisa, mintalah pada Allah Yang Maha Perkasa, agar memampukan kita.

Selamat belajar, berbaik sangka.. Selamat belajar, menjadi positif. Tetap semangat, meski semua hal terasa begitu sulit. SemangKA!
Life is not easy, and it won't be easy. Cause this worldly life is not your home. So when you feel like everything is difficult, remember, that you're not in Jannah yet. -kirei
Allahua'lam.

***

PS: Maaf ya, vakum 2 hari. Nulis padahal, tapi ga pantes di post. Ini juga sebenernya tulisan kemarin, sudah diedit jadi lebih baik. Selamat menjalani aktivitas hari ini~

Tuesday, September 26, 2017

Kadaluarsa

September 26, 2017 0 Comments
Bismillah.

#hikmah
 

Seperti halnya makanan yang punya batas waktu layak makan, tidak abadi, begitu juga banyak hal lain. Tidak hanya makanan, ada banyak hal lain yang punya "tanggal" kadaluarsa. Air mungkin bening mungkin tidak ada kadaluarsa-nya, tapi kemasannya, punya batas kadaluarsa.

Hal-hal yang saat ini menyita pikiranmu, juga memiliki tenggat kadaluarsa. Suatu saat akan berganti, dari satu hal ke hal lain. Masalah, yang saat ini membuatmu menangis, suatu saat akan menemui kadaluarsa-nya, kemudian hal tersebut mungkin bisa kau ambil hikmahnya atau bahkan bisa membuatmu tersenyum. Kesenangan yang kau miliki saat ini juga ada kadaluarsanya, berganti dengan kesedihan. Karena memang seperti itu kehidupan berputar. Kesehatan kita, kemampuan kita mengingat, kemampuan kita berjalan suatu waktu akan memasuki masa kadaluarsanya. Mungkin kita sadar, sehingga kita menjaganya dengan baik dan mensyukurinya selama masih ada. Tapi mungkin juga kita lalai, dan keburu terlambat, lupa mengucap 'alhamdulillah', keburu dilatih untuk mengucap 'innalillah'. Iman kita, mungkin termasuk yang ada kadaluarsanya. Sifat iman naik turun, menua, maka harus sering kita isi ulang, kita perbarui. 

Semua ada batasnya, ada waktu tenggatnya, ada kadaluarsa-nya. Karena tidak ada yang kekal dan abadi selain Allah. Lewat satu fakta ini, kita diminta mengambil hikmah dan belajar. Belajar untuk bersyukur, belajar untuk menyadari dan mengakui betapa kehidupan kita singkat, sakit, senang, tangis tawa, akan berlalu lalang. 

Semua ada batasnya, ada waktu tenggatnya, ada kadaluarsa-nya. Karena tidak ada yang kekal dan abadi selain Allah. Lalu kita diminta mengambil hikmah dan belajar. Tentang bagaimana mendayagunakan nikmat, sebelum tiba masa kadaluarsa. Agar nikmat, menjadi berkah.. berkah yang bertambah dan bertambah. 

Semua ada batasnya, ada waktu tenggatnya, ada kadaluarsa-nya. Karena tidak ada yang kekal dan abadi selain Allah. Lalu kita dipaksa mengambil hikmah dan belajar. Tentang bagaimana merelakan yang sudah pergi, dan mengakui kelemahan diri, serta kekuasaan Allah. Kemudian kita jadi tahu, diingatkan lagi untuk tidak lupa tujuan, tujuan Allah menciptakan kita. Kita menjadi tahu, diingatkan lagi untuk tidak lupa visi, visi kita hidup di dunia, untuk hidup selamanya kah? Mati dan tidak pernah bangkit lagi? Atau hidup ini adalah ladang amal? Kita mati kemudian Allah hidupkan lagi untuk ditanya pertanggung jawabannya, untuk dihitung perbekalannya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dan diberi petunjuk oleh-Nya. Aamiin. Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi 'ala dinik. Rabbana latuzigh quluubana ba'da idz hadaitaa wa hablana milladunka rahmah.

Allahua'lam.
***

PS: Terinspirasi dari Draft 28 Juni 2017, tentang Ayah yang mengingatkanku bahwa 'pertanyaan itu' sudah kadaluarsa, sekarang udah pindah ke pertanyaan lain. Mungkin maksud Ayah agar aku bisa segera move on, agar bisa 'tutup buku' dan memulai lembaran baru. Tapi maafkan aku pah, aku butuh waktu yang lebih lama untuk bisa move on hehe. Doakan aku ~

Saturday, March 4, 2017

Koma

March 04, 2017 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

comma/coma?
Senin malam sampai kamis siang, koma. Singkat cerita, ini tentang seorang adik tingkat, mahasiswa ITB yang kamis kemarin dipanggil kembali kepada-Nya. Senin malam kejadiannya, saat ia tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Ceritanya disebar agar setiap yang membaca membantu doa. Rabu malam, diadakan doa bersama di GSG Salman. Aku tidak datang, tapi aku sempat melihat foto dokumentasinya di fanpage Masjid Salman ITB. Jumat aku melihat deretan karangan bunga di depan jam gadang. Dengar dari teman, kamis siang mahasiswi itu berpulang.

***

Sebenarnya ini bukan pertama. Maksudku... kita hidup di dunia, pasti pernah satu dua kali kita dengar kabar wafatnya seseorang. Tetangga, teman, sanak saudara. Aku menulis ini hanya ingin mengingatkan diri. Bagaimana perasaanmu saat mendengar itu? Apa yang kau ingat? Apa sekedar lewat telinga kanan keluar telinga kiri? Atau....??

Saturday, December 17, 2016

11 Hal Yang Tidak Bisa Diubah

December 17, 2016 0 Comments
#blogwalking
Bismillah.
 
 
Masih dari medium. Kali ini membahas tentang beberapa hal yang kita ga bisa kekeuh, karena memang ada hal-hal yang harus diterima. Aku akan coba ngetranslate, meski ga janji bisa enak dibaca hehehe.

.....but the fact is, there are some things you just can’t change, no matter how hard you try. In fact, continuing to beat your head against the wall is… well, not very effective, and pretty painful. So cut it out, would you?
- Larry Kim, "11 Things You Can’t Change, So Quit Wasting Your Time Trying"
Apa aja kesebelas hal tersebut?




1. Kamu memiliki tanggung jawab terhadap seseorang

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri, ga bisa nggak. Setelah baligh, semua perbuatan yang kamu lakukan, akan dipertanggung jawabkan, bukan ibu atau ayahmu. Itu yang aku tangkep, kalau penjelasan asli yang di sana, aku kurang ngerti. Aku kutip ya bahasa inggrisnya.
Probably a lot of someones, depending on where you are in your life. It can be tempting to take shortcuts, bend the rules or stretch your ethical boundaries in the pursuit of what you think is the ideal outcome, but we all answer to someone at some point (that is, if answering to yourself isn’t scary enough). 
- dari tulisan yang sama
2. Hidup Kita Sementara, Tidak Kekal

Thursday, December 15, 2016

Learning; How To Handle Uncontrollable Situation

December 15, 2016 0 Comments
#blogwalking
 
Bismillah.

Sebelumnya, minta maaf, kalau judulnya lebay, kaya judul apa ya? Kaya judul karya ilmiah wkwkwk.

Kalau misal kamu udah buat rencana A, tapi ternyata ditengah jalan, ada hambatan, dan harus ganti rencana atau bener-bener ga kelaksana, gimana caramu mengatasinya?

till Z
Sometime, kalau kita terbiasa menjalani hidup dengan rencana, tapi suatu ketika kita dihadapkan dengan kondisi tidak bisa memutuskan bagaimana rencana kita selanjutnya, apa yang akan kamu lakukan?
“Bakal kepikiran terus sih. Tapi yaudah let it flow, berdoa sama Allah, semoga diberi petunjuk untuk memilih pada kehendak terbaik-Nya”
Sometime, kalau kita punya karakter dan tipe pembelajar yang teoritis. Memahami segala hal sebelum praktik. Tapi tetiba kenyataan menuntut kita untuk praktik tanpa kita tahu bagaimana aturan dan cara kerjanya, gimana rasanya?
“Shocked banget pasti, bingung pusing, rasanya pengen tenggelam. Tapi yaudah nyoba belajar sambil praktik, meski butuh penyesuaian dalam waktu yang tidak sebentar. Gak ada pilihan lagi”
Sometime, kalau kita memiliki karakter dengan work situation yang moody dan spontan, namun keadaan kita memaksa untuk harus melakukan sesuatu yang rutin, gimana rasanya?

“Sometime underpressure sih, tapi yaudah jalani aja. In syaa Allah ini adalah bagian dari proses pendidikan”
- Ummu Kiram, dalam tulisannya Let It Flow
***

Thursday, December 8, 2016

Makan Bersama

December 08, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

Lagi, mendapat rasa lapar, krn belum sarapan, gara-gara baca tulisan ustadz Salim yang bahas tentang pawon anget dan keplek ilat. Senang rasanya membaca tulisan itu, diingatkan hal sehari-hari yang kita lakukan. Makan bersama selalu lebih nikmat, pengikat ukhuwah, jadi tempat mengikat keluarga juga. Seneng, lihat foto ustadz dengan pemikiran beda, tapi duduk satu meja, makan bersama, karena fokus mereka adalah kesamaan aqidah, bukan kesamaan harakah. Allahua'lam.
Para Suami dan Istri, para Ayah dan Bunda, barangkali inilah salah satu benteng keluarga menghadapi berbagai tantangan zaman; menghidupkan kehangatan suasana makan. Adalah darurat bagi kita untuk segera meneladani Rasulullah yang mengepaskan mulutnya di bekas bibir sang istri pada cawan yang dipakai minum. Adalah darurat bagi kita menikmati sebuah anggur yang digigit bersama demi meneladaninya. Adalah darurat bagi kita menunjukkan indahnya suap menyuapi antara Ayah dan Bunda kepada putra-putrinya.
Sebab di luar sana ada internet yang tanpa batas, media sosial yang bagai pisau bermata dua, godaan game online, pornografi, narkoba, seks bebas, hingga penularan LGBT yang masif; nilai kehadiran Ayah, Ibu, serta anak dalam kebersamaan yang hangat dan mesra adalah benteng darurat kita.
- Dua Mahdzab Darurat Hangat, Salim A. Fillah
***

Keberkahan Waktu

December 08, 2016 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

bukan tentang kuantitas waktu, tapi tentang kualitasnya, keberkahan yang diberikan-Nya pada tiap masa hidup kita

Semoga Allah berikan kepada kita semua keberkahan waktu... Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi, yang Allah sebutkan pada surat Al Ashr. Semoga.... Allah isi keseharian kita dengan kesibukan yang produktif, bermanfaat, berpahala. 

Aku tidak tahu harus menulis apa, pengen sih, menulis tips untuk mendapatkan keberkahan waktu. Tapi takutnya cuma nulis doang, prakteknya masih terserok-serok. Aku... masih berjuang, agar Allah berikan keberkahan waktu, dalam masa hidupku yang begitu pendek. Semoga bisa menjadi hamba yang wafat dalam ketaatan, hamba yang bisa menjadi anak shalih bagi orangtuanya.

***

Keberkahan waktu...

Keberkahan waktu, adalah tentang waktu yang selalu terisi dengan kebaikan, dengan kesibukan yang berpahala. Terisi dengan amal shalih, sabar dan syukur. Tidak sibuk dengan hal-hal remeh yang tidak penting, yang na'udzubillah justru menambah kuantitas dosa kita TT

Syarat tidak merugi...

Syarat tidak merugi sebenarnya sudah disebut dalam Al Ashr, surat pendek yang saya percaya sudah kita hafal. Beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Selesai, tiga itu harus serangkai, ga boleh terpisah, iman tidak bisa dipisah dengan amal shalih.

Sunday, July 31, 2016

Kata Ayah

July 31, 2016 0 Comments
Bismillah.

diambil dari erstudio.tumblr.com

Meski agak menyimpang dari projek yang diselenggarakan Erstudio, dan ga akan di submit juga, tapi karena liat postingan tersebut di dashboard tumblr membuat jemariku tergelitik untuk menulis di sini.

***

Berbeda dengan kakak atau adikku, aku bisa dengan percaya diri mengatakan aku lebih dekat dari ayah ketimbang kakak atau adikku. Sejak kecil, mungkin sejak SMP, aku yang paling nyambung kalau ngobrol dengan Ayah. Atau kalaupun dulu ada yang ga ngerti, setidaknya aku berani mengatakan dulu aku pendengar yang baik bagi ayah jika dibandingkan dengan kakak atau adikku.
"Ayah. Cintanya dalam diam. Biasanya seorang ayah minim sekali berkata-kata kepada anaknya. Namun sekalinya beliau berkata atau menasehati kita, biasanya akan teringat hingga dewasa." -bit.ly/KataAyahBookProject
Cinta Ayah bagiku tidak dalam diam, seperti di kutipan atas. Meski tidak sebanyak kata yang keluar dari bibir Ibu, aku juga merasakan banyak cinta dalam kata/ucapan Ayah. Percakapan, atau pertukaran pemikiran diantara kami banyak yang menancap dalam di memoriku, diantaranya akan kusebut dan sebagian kuuraikan di bawah ini.

***

Aku ingat, Ayah lah yang memotivasiku untuk sekolah di "luar". Saat lulus SD sempat hampir mendaftar SMP berformat sekaligus pesantren di kota X. Saat lulus SMP sempat hampir mendaftar di SMA boarding school Y. Saat SMP, aku kenal Universitas NanYang karena Ayah pernah berkata yang intinya, "kalau bisa nanti kuliah di sana di jurusan informatika".

Thursday, March 3, 2016

Salah Satu Tanda

March 03, 2016 0 Comments
-muhasabah diri-
Bismillah.
untuk yang sudah, sedang, akan dan belum bertaubat
Salah satu tanda taubat kita diterima, aku mendengarnya di sebuah video ceramah ustadz Nouman Ali Khan. Ceramah itu menceritakan tentang kisah lama yang mungkin sering kita dengar. Kisah tentang Nabi Musa yang bersandar di sebuah pohon, berdoa agar Allah memberikannya kebaikan.

Saat itu kondisi Nabi Musa 'alaihi salam dalam keadaan lelah dan lapar. Ia telah berlari dan berjalan mungkin ribuan mil, ia lari dari kaumnya karena merasa bersalah pernah tanpa sengaja membunuh seorang anak Adam. Nabi Musa bertaubat, atas kesalahan yang ditakdirkan di hidupnya.

Setelah doa singkat nan jelas itu, ia bertekad untuk berbuat baik, melakukan hal baik sebagai penutup perbuatan buruknya. Dan ia kemudian melihat dua orang gadis yang bersusah payah menarik domba mereka agar tidak mendekat ke sumur air.

Ustadz Nouman menjelaskan dengan detail, bahwa pemandangan dua gadis dengan ternaknya tertangkap oleh mata Nabi Musa. Domba-domba dua gadis itu haus maka insting hewani mereka membuat domba-domba itu berusaha mendekat ke sumber air. Domba-domba itu tidak mengerti kalau dua gadis itu baru mau memberi minum saat semua peternak lain (semuanya laki-laki) selesai memberi makan ternak mereka. Ya, dari pemandangan itulah yang akhirnya membuat Nabi Musa bertanya pada dua gadis itu.

***

Langsung ke inti ya, ustadz Nouman menyebutkan bahwa salah satu tanda taubat kita diterima adalah, Allah memberikan kita kesempatan untuk berbuat baik. Allah memberikan situasi dimana kita berkesempatan untuk berbuat baik dan mendapat pahala. Bentuknya memang berbeda-beda, tapi selalu ada.

Aku awalnya tidak menyadarinya. Tapi setelah mengingat masa-masa aku jatuh dalam jurang dosa  kemudian mencoba untuk mendaki keluar dari jurang itu, aku merasa itu memang salah satu tandanya.

Mengapa ustadz Nouman menyebutkan tentang tanda itu? Karena saat kita bertaubat, kita seringkali bingung karena tidak tahu, apakah Allah menerima taubat kita. Kita seringkali hampir berputus asa, karena gunung-gunung dosa kita, rasanya tidak akan bisa dimaafkan. Tapi cobalah bertahan, teruslah bertaubat, niscaya Allah akan menghamparkan begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik.

Bentuknya bermacam-macam, entah itu seorang pengemis yang tiba-tiba ada di jalan yang biasanya tanpa seorang pengemis. Atau mungkin tiba-tiba seorang teman mengajak kita ke sebuah kajian islam. Atau mungkin seorang musafir/wisatawan yang bertanya arah. Atau duri yang berada di tentah jalan, dan banyak lagi bentuk lainnya.

Saat kesempatan berbuat baik itu datang, jangan ragu untuk menyambutnya. Semoga Allah benar-benar menerima taubat kita. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Aku ngembaliin tulisan ini ke draft lagi karena ragu dan takut salah inget. Alhamdulillah hari ini nemu potongan videonya, jadi tulisan ini aku publish lagi. Ini potongan videonya.

Friday, January 8, 2016

Berpisah Tanpa Pamit

January 08, 2016 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Mungkin sudah pamit, namun merasa kurang. Sedikit curhat, seperti kemarin malam saat masuk travel lupa mencium tangan Mamah. Seperti hari ini saat terbangun dan mendapat pesan dari Mamah kalau Papah sudah di bis menuju ke rumah. Dan karena dua kejadian itu hujan riuh menuruni kedua bola mataku.

rails
Aku mencoba untuk tidak baper tapi gagal. Saat kedua momen itu terulang di lintasan pikiran, maka mataku kembali memanas. Ada prasangka, yang harus di buang. Ada memori, bahwa aku dulu pernah merasakan hal sama, saat hendak study tour, sudah pamit, namun saat bis berangkat mata memanas dan rintik hujan turun. Masih memori, bahwa aku sekarang tahu mengapa waktu itu mamah dengan mata berkaca bertanya padaku, "Seneng ya balik ke Bandung?". Ada juga lintasan pikiran lain, mencoba mengambil hikmah.

Berpisah tanpa pamit, selain kejadian kemarin dan hari ini, aku juga teringat tentang kematian. Betapa masing-masing dari kita tidak bisa pamit karena tidak tahu kapan berpisah dengan dunia dan sanak keluarga. Beberapa orang mungkin diberikan kesempatan berwasiat, tapi yang ditinggalkan merasa belum siap. Beberapa bahkan... Tak sempat sekedar memberi tanda baik dalam kata maupun sikap bahwa mereka akan pergi.

Friday, October 23, 2015

Allah-centric

October 23, 2015 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Allah centric, saat mendengar frase itu apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Centric dari kata central atau bahasa indonesianya pusat. Allah centric artinya memusatkan perhatian kita pada Allah. Gitu bukan? Atau, boleh dikatakan istilah "Allah centric" adalah istilah modern dari Allahu ghayatuna (Allah sebagai tujuan kita). Bener ga? Tolong koreksi ya kalau salah

***

"Average people are passion/desire centric, extra ordinary people are Allah centric." -islamicthinking [tumblr]

Allah centric, satu frase yang sederhana dibaca dan ditulis, namun prakteknya? Ya, Cuma orang-orang luar biasa yang bisa menjaga tiap detik, tiap langkah dalam hidupnya untuk terus berpusat pada Allah, titik patokannya Allah. Saat hendak melakukan sesuatu, yang dipikirkan adalah, "Apakah hal ini Allah sukai? Atau justru Allah benci?"

Sulit untuk menerapkan "Allah centric" di kehidupan sehari-hari, kenapa? Karena ada banyak faktor yang membuat kita akhirnya bimbang. Seperti di kutipan sebelumnya, rata-rata orang berpusat pada passion/desire mereka, mereka lebih sering melakukan apa yang mereka inginkan/sukai dan meninggalkan hal-hal yang mereka benci. Atau... Ada juga orang-orang yang "people centric", mereka ngikut kebanyakan orang, melakukan hal-hal yang disukai orang lain, dan meninggalkan hal-hal yang dibenci orang lain.