Follow Me

Wednesday, July 31, 2019

20, Perbanyak Gagal

July 31, 2019 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Saya membaca banyak buku dan menonton banyak video nasihat orang-orang sukses untuk anak muda di usia 20an, dan semuanya menggarisbawahi 20an sebagai fase belajar. Di fase ini, kita didorong untuk mengumpulkan tiga hal berikut sebanyak-banyaknya: pengetahuan, pengalaman, dan kegagalan.
- Iqbal Hariadi, You Are Just Early In The Process
***

Yang penasaran sama lanjutan paragraf di atas, langsung meluncur ke link tulisan di atas ya. Yang di highlight kuning.

Kemarin, baru kemarin... aku curhat ke seseorang tentang beberapa peluang dan betapa aku ingin mencobanya. Tapi bayangan masa lalu, dan kegagalan 'kecil' yang pernah kukecap membuatku menahan diri. Ya, baru kemarin rasanya. Saat curhatanku kupersingkat, karena enggan menambah beban pikiran orang lain. Lalu aku memilih menulis di blog magicofrain.

Hari ini, Allah hadirkan jawabannya. Sebuah penghibur dari tulisan orang lain di blognya. Seolah tulisan itu menjawab pikiran yang mengendap di otakku. Bahwa kegagalan kecil yang pernah kucicipi itu cuma satu. Kau bahkan baiknya banyak-banyak gagal, agar banyak belajar dan banyak menambah pengalaman. Tulisan itu juga mengingatkanku untuk tidak banyak takut, agar mencoba saja. Coba dulu, melangkah dulu. Jangan lupa berdoa. Juga hati-hati atas serangan distraksi di kanan kiri depan belakang.

Di usia ini, jangan berpikir bahwa semua mimpi kita akan terjadi dalam waktu dekat dan bersamaan. Usia ini adalah usia investasi: ini waktunya menanam sebanyak-banyaknya pengetahuan, pengalaman, dan kegagalan. Di fase berikutnya nanti di usia 30an dan 40an, baru kita akan menuai apa yang kita tanam.
- Iqbal Hariadi, You Are Just Early In The Process
***

Terakhir, semangaat^^ jia you~


Allahua'lam.

Monday, July 29, 2019

Jalan Kebenaran

July 29, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Pernahkah kamu bertanya-tanya tentang jalan kebenaran? Kemana dan dimana kaki kita harus melangkah? Jalan yang membantumu untuk memaknai hidup yang benar. Jalan yang menunjukkan kita hal-hal yang membahayakan dirimu. Jalan yang membuatmu dapat melihat dengan jelas, mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Jalan keselamatan.

Pernahkah kamu merasa menemukannya, kemudian bertanya-tanya... adakah jalan kebenaran yang lain? Apakah cuma satu? Atau ada yang lain juga?

Atau pertanyaan, apakah jalan yang kutelusuri ini jalan kebenaran?


***

Pertama... saat pertanyaan itu hadir, itu bahwa kita manusia, yang memiliki kuriositas, yang berpikir. Kita bukan makhluk hidup yang menjalani hidup mengikuti arus saja.

Tapi, adakah kita tahu... bahwa sebagian jawaban dari pertanyaan itu bisa kita temukan di Al Fathihah?
Shirathalladzina an'amta 'alaihim. The path of those who you showered favor upon. The word 'shirath' which I translated as path is actually one of many words in arabic that you can used for a path. But shirath is used for a path that is the only road that go somewhere. If you imagine there are two places, let's say there are 2 islands, the water too turbulent you can't take a boat from one island to another, there's really no other road, there's only one bridge that goes from this island to that island. And there's no alternative possible. There's no other way you can get there. Then that one singular path is called sirath. Sirath has a few qualities, it is a wide path, it is a straight path, it is the only path possible. If we used other words from Arabic, like sabil or thariq or fajj. These words are for roads that you can maybe have an alternative path.
- Nouman Ali Khan, Quran For Young Adults Day 6 Session 1

Kita tiap hari memohon pada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus, jalan kebenaran. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat.

Kita mungkin saat kecil menghafal Al Fathihah lewat kebiasaan mendengar bacaan shalat orang-orang dewasa. Atau diajarkan di TPQ. Kemudian kita mulai tahu artinya, lewat membaca terjemahannya. Kemudian, kita berusaha mempelajari maknanya, penjelasannya, 'mukjizat' di dalamnya. Kita mulai mengerti bahwa pemilihan kata dalam Al Quran selalu presisi. Mengapa Allah memilih kata shirat, bukan sabil, atau thariq, atau fajj. Karena Allah hendak memberitahu kita, bahwa Allah menurunkan satu, hanya satu jalan kebenaran.
Shirath is a path that is singular. There is no plural. It's pretty cool in Arabic that some words they are structure in a way that actually they don't have a plural form. Like sabil has a plural subul. Thariq has a plural thuruq or tharaiq. You know, fajj has a plural fijaj. It has multiple plural, meaning a path-paths, like you put an s in the end. Road and roads. But shirath is a kind of strange word in Arabic that actually doesn't even have a plural. No plural exist for it, because it doesn't make any sense. Because it's the only road that goes. So you can't have multiples of it. Now from that we learn that actually Allah has revealed one truth. Allah has revealed one truth. There's only one true path. So there's no such things as multiple truths. There's no such thing. 
 - Nouman Ali Khan, Quran For Young Adults Day 6 Session 1
***

Bagaimana untuk seseorang yang tidak pernah membaca Al Fathihah, jangankan menghafalnya, jangankan tahu artinya. Bisakah ia menemukan jalan kebenaran? Sanggupkah ia menemukan jalan kebenaran yang hanya satu itu?

Menulis pertanyaan di atas mengingatkanku akan berbagai hal. Pertama, tentang doa yang selalu dikabulkan. Bahwa Allah, selalu mengabulkan doa hamba yang meminta petunjuk.


Aku teringat Nabi Ibrahim 'alaihi salam, yang lahir dan besar di lingkungan pembuat berhala. Bagaimana ia terusir karena menggunakan akalnya. "Mengapa harus menyembah, patung yang bahkan tidak bisa bicara? Yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri?" Seperti saat masyarakat bertanya siapa yang menghancurkan patung-patung? Dan Ibrahim dengan cerdas meminta mereka bertanya pada patung terbesar, satu-satunya patung yang tidak hancur.

Tapi itu kan nabi... ada yang diam-diam berkata begitu? Hehe. Atau aku saja? 

Aku juga teringat pemuda al kahfi. Mereka bukan nabi. Tidak mengenal al fathihah, tidak tahu caranya shalat. Mereka lari dan bersembunyi untuk menyelamatkan iman mereka. Kemudian berdoa, bersama, memohon rahmat dan petunjuk-Nya.

Aku juga teringat kisah-kisah mualaf yang selalu membuat takjub. Perjuangan masing-masing untuk mencari jalan kebenaran dan mengenal Allah, kemudian berani melakukan perubahan hidup yang tidak kecil.

Ustadz Yusuf Evan, entah sudah berapa kali aku mengulangi mendengar kisahnya. Masjidnya begitu dekat. Namun pencariannya menuju jalan kebenaran begitu panjang dan berliku. Kisahnya mungkin bisa di filmkan. Entah cara story tellingnya yang menarik, atau.. aku saja, yang terpikat kisahnya. Aku membayangkan kecelakaan mobil yang dialaminya, atau saat ia ditodong pistol di atm jaman baheula *yang tidak berpintu. Saat ia masuk masjid pertama kali di hari jumat, prasangkanya saat masuk dan mendengar khutbah berbahasa arab yang disampaikan dengan berapi-api. Saat ia membaca terjemahan quran, atau saat ia kembali ke masjid namun ternyata dikunci.

Teringat juga nama Irene Handono. Teringat juga kisah Ustadz Felix Shiaw. Dan tentu saja teringat kisah Robert Davilla.

Kita hanya perlu meminta petunjuk padaNya, berdoa padaNya, lagi dan lagi. Bahkan yang sudah islam, Allah syariatkan untuk shalat, yang setiap rakaatnya membaca al fathihah. Karena memang manusia membutuhkan petunjuk seperti ia butuh minum. Kita membutuhkan petunjuk tidak hanya sekali, tapi berkali-kali, lagi dan lagi, terus... sampai waktu kita di dunia habis.

***

Jalan kebenaran. Menulis tentang ini sebenarnya berat. Apalagi jika aku harus jujur melihat ke cermin dan menatap jeli kondisi diri. Diakhiri saja ya.

Ihdinashirathal mustaqim shirathalladzina an 'amta 'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladhallin.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaih.

Allahua'lam bishowab.

Wednesday, July 24, 2019

Stumble Upon My Own Words

July 24, 2019 0 Comments
Bismillah.
#selftalk
- Muhasabah Diri - 


Miris ga sih saat kamu menemukan bahwa kamu melakukan hal yang terbalik dari kata-kata yang pernah kamu ucapkan atau kamu tulis? Kalau lagi inget, mungkin kita akan segera muhasabah dan mengoreksi diri. Tapi kalau lagi lupa, keterusan... sampai ada yang menegur. Entah yang menegur itu orang lain, kerikil yang membuatmu tersandung dan jatuh, atau bahkan ayat yang pernah kau hafalkan. Lalu kamu sadar, "Why I said what I didn't do? Why I wrote what I didn't act??" Mengapa... Tanda-tanda kemunafikan itu bermunculan, dan kamu menjalani hari seolah tidak ada yang salah? Padahal. Pelan-pelan cahaya di hatimu meredup karena tertutupi debu dosa-dosa yang menebal dan mengerak.

I stumble upon my words.. Lalu aku jadi takut, apa... lebih baik aku diam? Menyimpan nasihat untuk diri sendiri di tempat sunyi yang tidak diketahui siapapun kecuali aku dan Rabb-ku?

Tapi... Jika aku berhenti menulis, aku takut justru semakin membiarkan hati gelap. Menulis memaksaku mencari cahaya dari luar, dari quran, dari buku-buku dari kajian. Menulis memaksaku mengelilingi diri dengan cahaya dari orang-orang shalih, berharap dengan begitu aku bisa mengumpulkan cahaya, serta membersihkan kerak hitam yang menutup kaca hati.

I will often stumble upon my words. Mungkin selalu begitu. Karena memang perjalanan hidup akan dihiasi naik turun iman, dan perjuangan kita menjaganya, agar tidak jatuh terlalu dalam, agar bisa naik lagi meski pelan-pelan.

Satu yang aku tahu... Aku selalu bisa meminta petunjukNya, meminta cahaya dari-Nya. So every time I find myself stumbling upon my own words.. Yang harus kulakukan pertama kali bukan membenci diri. Sungguh bukan itu urutannya. Dan memang tidak boleh itu yang kulakukan. Yang perlu aku lakukan adalah mengakuinya, sembari memohon ampunan dan petunjuk dariNya. Bahwa benar aku hamba yang hina dan bodoh. Tidak mengapa. Aku boleh merasa begitu di hadapan Rabbku. Karena aku tahu... DIA satu-satunya yang bisa menerima sisi yang tidak ingin kuungkapkan pada siapa pun.

Dia akan lembut memberitahuku.. Wallahu wasi'un 'alim.

وَلِلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(QS Al Baqarah ayat 115)

Allahua'lam.

Monday, July 22, 2019

Cuma Perantara

July 22, 2019 0 Comments
Bismillah.


Kadang, kita memang cuma perantara, cuma jalan dan bukan tujuan.

***

Ga, aku ga bahas tentang jodoh hehe. Untuk membahas tentang itu aku masih menghindari hehe.

Aku hendak membahas tentang pertolongan dari Allah. Dan bagaimana aku merasa hanya jadi perantara, jalan. Bukan orang yang memberikannya. Bukan.

***

Senin pekan kemarin (15 Juli), aku berencana ke Bandung. Niatannya memang untuk bertemu seorang ukhti, berharap dengan bertemu dengannya aku bisa membantunya. Karena memang selama ini aku cuma bisa mengamati dari jauh, berkomunikasi lewat chatting yang isinya hal-hal remeh, dan jarang membahas hal-hal yang urgen atau penting. Entah ia yang enggan terbuka, atau aku... yang begitu cuek, atau aku... yang belum bisa tegas.

Janji itu cuma berakhir janji. Aku qadarullah tidak jadi ke Bandung. Beberapa kali melobby orang tua, bercerita pada Ibu bahwa aku ke Bandung bukan untuk main. Termasuk menjelaskan mengapa aku memilih tanggal itu. Karena berangkatnya bisa bareng adik yang juga ada agenda di Bandung tgl segitu. Tapi usahaku minta izin ditolak, dengan berbagai alasan. Salah satunya, karena kemungkinan aku pulang sendirian. (*dalam hati aku berbisik, 'padahal dulu juga kadang pulang sendiri dari bandung ke purwokerto') Jadi banyak curhat ya? Hehe.

Intinya aku tidak jadi ke Bandung, tapi ukhti tersebut jadi ke Bandung tanggal 15. Aku meminta maaf padanya, karena ia harus menghabiskan hari di Bandung sendirian. Cuma bisa menemani dibalik layar hp dan membaca deretan kalimatnya di chat, menjawab dan merespon dengan kata. Bukan hadir secara langsung.

***

Siang itu (15 Juli) aku sebenarnya masih ingin berada di Bandung. Membayangkan mendengarkan ceritanya langsung. Berharap aku bisa membantunya.

Sampai akhirnya Allah menunjukkan padaku, bahwa aku cuma perantara, aku cuma jalan. Ada orang-orang lain yang dikirim Allah untuk membantu ukhti tersebut. Orang-orang yang memang lebih mampu dan lebih tepat untuk melakukannya.

"Barusan di ceramahi ama dokternya. Soal kondisiku yang lagi bingung galau arah hidup.", begitu ketiknya dalam thread chat kami.

"Tentang apa?" tanyaku, lalu ia bercerita panjang lebar.

Seketika itu aku takjub lagi pada indahnya rencana Allah. Bahwa Allah tahu, aku memang hanya boleh jadi perantara dan jalan. Saat itu, lebih baik begitu. Itu peran yang tepat untukku.

***

Ukhti itu menuliskan sebuah kisah yang ia dengar dari seorang dokter. Kisah yang menjadi nasihat lembut dalam proses perjuangan hidupnya.

Kadang kita ga tahu. Bisa jadi justru bukan dari tangan kita Allah kasih bantuannya. Kita mungkin cuma bisa usaha dan doa. Selanjutnya Allah gerakkan bantuan itu tersalur lewat tangan orang lain. Mungkin memang lebih baik hari itu aku ga jadi ke Bandung. Aku cuma diminta Allah untuk membuat janji bertemu dengan ukhti tersebut di Bandung. Aku cuma perantara, jalan, agar ukhti tersebut pergi ke Bandung hari itu. Agar ia bertemu orang-orang yang lebih tepat untuk menyerahkan bantuan dari-Nya.

Yang perlu ukhti tersebut temui di Bandung bukan aku. Karena bisa jadi, dan memang aku dalam posisi tidak mampu memberu nasihat yang lembut dan berkesan di hati.

Pun saat ukhti tersebut bertemu orang selanjutnya. Yang memberinya langkah-langkah menuju solusi permasalahannya.

Aku kembali bergumam pada diri, yang perlu ukhti tersebut temui di Bandung bukan aku. Karena memang aku tidak mampu memberikan solusi, atau menunjukkan padanya langkah-langkah menemukan solusinya.

***

Aku, mungkin cuma perantara, cuma jalan. Tapi aku tidak sedih. Aku justru senang. Karena Allah lebih tahu yang terbaik untuknya. Seperti yang pernah kutuliskan sebelumnya,

Semoga Allah melindungimu... hanya doa, doa dan doa yang bisa kupanjatkan untukmu. Karena aku yakin Allah Maha Mendengar, semoga doa singkat ini sampai padamu. Jika bukan aku yang bisa membantumu, maka Allah akan mengirimkan kepadamu orang lain yang lebih punya kemampuan untuk membantumu. Jika bukan aku yang menghiburmu, maka Allah yang akan mengirimkan kepadamu kabar gembira, entah lewat rintik hujan, biru langit, burung-burung yang terbang, atau lewat apapun untuk menghibur hatimu.

Allahua'lam.

Sunday, July 21, 2019

Tidak Ada Keluarga yang Ideal

July 21, 2019 0 Comments
Bismillah.


Tidak ada keluarga yang ideal. Kalimat itu terbersit di kepala. Saat aku mengetahui fakta bahwa di "rumah" yang terlihat baik-baik saja, ternyata ada "dinding" yang retak. Ibarat kapal yang berlayar. Mungkin memang tidak berhenti, tapi ada ombak yang seringkali menggoyahkan. Belum lagi jahitan pada layarnya. Atau mesinnya yang sudah tua. Atau orang-orang yang menaikinya. Mungkin nahkoda yang tidak lagi lihai mengemudikan kapal, karena tangannya terluka dan ia harus berdiri ditopang tongkat. Atau penumpang kapal yang tidak menghiraukan imbauan agar berhenti melubangi dinding kapal.

Tidak ada keluarga yang ideal. Masing-masing keluarga punya ujian dan cobaannya masing-masing. Ada yang dari luar. Kekeringan, atau justru banjir. Ada yang dari dalam. Bahkan bisa jadi bukan orang lain, tapi dari justru diri sendiri. 

***

Ya, kenyataannya memang begitu. Tidak ada keluarga yang ideal. Sama seperti pepatah "tidak ada yang sempurna dalam hidup". 

Ya, tidak ada keluarga yang ideal. Tapi kalimat itu tidak boleh dijadikan tameng, excuse untuk melempar batu kesalahan. Seolah semua hal yang salah dalam hidup karena keluarga kita tidak ideal. Karena setiap kekurangan sebenarnya menyimpan hikmah. Bahkan bisa mendatangkan kekuatan.

Seperti keluarga Yaqub. Tidak ideal. Kakak-kakaknya yang begitu iri pada yusuf. Tapi dari ketidakidealan tersebut ada banyak hikmah. Nabi Yaqub 'alaihi salam yang menunjukkan kesabaran yang indah, serta sikap hanya mengadu kesedihan dan kesusahan pada Allah. Belum pula Yusuf yang kelak menakwil mimpi raja, dan menyelamatkan banyak rakyat dari kekeringan 7th panjang yang datang setelah masa subur 7th. 

Begitu pun kita, saat menemui ketidakidealan dalam keluarga kita. Artinya ada hikmah dan pelajaran yang seharusnya kita ambil. Bahkan... Jika kita mau bersabar dan teliti, kita akan menemukan banyak hal yang patut disyukuri. Bahkan di sisi yang tidak ideal tersebut. Allahua'lam. 

***

PS: kalimat draft, sayang dibuang, tapi dimasukin juga susah hehe.

"Bersyukur itu harus. Tapi kita juga tidak bisa mendustakan fakta, bahwa tidak ada keluarga yang ideal. Dan bahkan, bisa jadi, yang menjadi kekurangan sebuah keluarga, bukan pada orang lain, tapi diri kita." - kirei

Thursday, July 18, 2019

Orang-orang Dunia Nyata

July 18, 2019 0 Comments
Bismillah.


Beberapa waktu yang lalu, salah satu akun sosial media yang sering kukunjungi mengunggah postingan pamit, karena ingin sejenak menjauh dari dunia maya. Satu hal itu kemudian mengajak otakku teringat beberapa sosok dunia nyata, yang memilih sama sekali tidak aktif di dunia maya. Mereka memilih tidak memiliki sama-sekali akun sosial media. Hanya satu, dan sebuah web. Aku jadi bertanya-tanya pada diri, bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang hanya hidup di dunia nyata? Yang sama sekali tidak tertarik dengan riuh lalu lalang informasi di dunia maya?

Aku bercakap pada diri. Barangkali orang-orang dunia nyata itu, memang tidak membutuhkan dunia maya. Mereka sibuk dengan perannya di dunia nyata, sehingga manfaat dan fasilitas di dunia maya tidak mereka perlukan.

Aku juga jadi bertanya-tanya, mungkinkah suatu saat aku memilih jalan itu? Toh selama ini akun sosial mediaku jarang update. Kadang dipakai, tapi cuma untuk konsumsi, ga produktif. Hmm...

***

Setiap orang punya pilihan masing-masing. Fasilitas boleh dipakai jika berguna dan dibutuhkan. Tapi boleh juga tidak menggunakannya. Semoga apa pun pilihan kita bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Aamiin.

Allahua'lam.

Tuesday, July 16, 2019

Mungkin, Seperti Ini Rasanya

July 16, 2019 0 Comments
Bismillah.

Seperempat abad sudah berlalu. Bukan waktu yang singkat, tapi di mataku, rasanya masih baru awal mula. Seperempat abad, ditambah satu tahun. Kemudian lingkungan dan orang sekitar berbisik, seolah aku sudah amat sangat tua untuk mememikirkan diri sendiri saja.

Satu dua hari, beberapa pekan berlalu. Awalnya hanya bisikan, lama-lama berubah menjadi kata-kata yang membuat diri tertekan. Sampai aku bertanya-tanya, "mungkin, seperti ini rasanya..." yang dialami oleh perempuan-perempuan lain juga, yang mungkin jauh lebih dewasa daripadaku, yang tuntutan sosial menyesak dada dari segala penjuru.

Mungkin, seperti ini rasanya... padahal sebenarnya tidak ada yang salah. Atau sebenarnya ada yang salah? Tapi yang jelas, jika bisikan kalimat tersebut terus diserap tanpa saringan, akibatnya hanya akan berupa kesedihan dan tekanan bathin. Seolah apa yang sudah kita lakukan sia-sia. Seolah apa-apa yang kita capai tidak berarti. Lalu mulailah kita bertanya-tanya, mengapa kita begini, sedangkan orang lain begitu. Dan jika diteruskan, tentu hanya akan mengundang bermacam kenegatifan lainnya.

***


Jika mungkin, seperti ini rasanya... mari kita sejenak menjeda, memberikan jarak antara tekanan dari luar, untuk mencari ketenangan dalam kesendirian. Bukan sendiri yang berarti seorang diri, tapi sendiri, untuk berdialog dengan tulus pada Yang Maha Mendengar.

Kita merendahkan diri sebagai hamba-Nya, kemudian bertanya dengan santun. "Ya Rabb, Engkau yang menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan. Masing-masing diberi peran yang berbeda, Dan masing-masing diberi jalan hidup yang unik, yang sama-sama dipenuhi ujian untuk membuktikan siapa yang jujur dan yang dusta imannya."

Kita menyapu lapisan kaca di bola mata, kemudian mengadu, "Ya Allah, mengapa orang-orang seolah menuntut banyak padaku, sedangkan aku seorang hamba yang lemah dan tak berdaya. Seolah jika aku tidak memenuhi standar sosial tersebut, aku lebih layak hilang tertiup angin sepoi. Apa aku.. yang salah menyerap kalimat-kalimat yang penuh tekanan tersebut? Atau memang, ada yang salah pada diriku?"

Kita menundukkan kepala, namun mengangkat tangan tinggi, mengemis pada-Nya, "Tunjukkan dan bimbing hamba ke shiratal mustaqim. Hilangkan kesedihan hamba. Hadirkan ketenangan di hati hamba. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di hati hamba."'

***

Mungkin, seperti ini rasanya... dan aku kira, ada banyak yang juga merasakan hal yang sama. Zaman berubah, waktu terus berlari. Terlepas entah kita perempuan atau laki-laki. Terlepas dari tekanan yang menyerang dari luar. Mari ingat lagi peran utama kita sebagai hamba. Budak-Nya.

Biarkan bisikan-bisikan itu bising. Biarkan kalimat-kalimat itu mencoba melukai. Kita tetap berusaha tegak, berjalan. Tegak, mengabdi pada-Nya, fokus pada firman-Nya. Karena kita hidup bukan untuk memenuhi harapan orang-orang, atau ekspektasi sosial. Kita hidup untuk memenuhi peran kita sebagai hamba-Nya, berusaha meraih ridha-Nya. Semoga kelak, dimatikan dalam keadaan terbaik, bersama orang-orang yang taat, diizinkan memasuki jannah-Nya, kemudian berjumpa wajah-Nya. Aamiin.

Allahua'lam.

Wednesday, July 10, 2019

Stop Being Hard On Myself

July 10, 2019 0 Comments
Bismillah.



*tidak terkait topik judul*

Aku mengetik komentar tambahan, sebuah lintasan pikiran saat membaca quotes tersebut di dashboard tumblr. Tapi aku menghentikan tanganku saat hendak mengklik button Reblog. "Jangan di sini, bukan tempatnya". Begitu bisikku pada diri, tanpa suara.

Aku sudah lama punya tumblr, tapi memang fungsi utamanya hanya untuk membaca tulisan dan melihat gambar-gambar di dashboard. Juga untuk me-reblog apa yang ingin di-reblog. Kadang memang ada tambahan komentar, tapi tidak banyak. Pernah juga posting beberapa foto koleksi pribadi, tapi sudah tenggelam di archieve.

Jangan di sini, bukan tempatnya". Begitu bisikku pada diri, tanpa suara. Aku akhirnya memilih menyimpan screenshot tampilan editor tumblr, lalu memutuskan mengunggahnya di sini. Ada hal-hal yang aku pilih untuk tidak dikonsumsi umum. Tumblr dan medium misalnya, orang-orang bisa follow, aku tidak membatasi followernya. Jadi aku sengaja menyimpan ekspresi yang tidak seharusnya dimunculkan di sana. Tapi bisa aku abadikan di sini.

Blog ini ibarat rumah pertama. Tempat paling familiar dan nyaman. Aku bisa menulis naik turun yang kualami, perasaan yang berkecamuk, pikiran yang lalu lalang, di sini. Semoga tetap begitu.

***

Terakhir, balik ke kutipan dari tumblr. Benar, salah satu hal yang bisa jadi menghancurkan diri kita adalah terlalu keras pada diri. Saat kesalahan kecil kita sikapi seolah itu tanda bahwa kita tidak bisa berhasil. Atau kita orang yang jahat. Atau semacam itu. Jika itu yang sering kau lakukan, berulangkali menyalahkan diri, tidak pernah mengapresiasi progres diri meski kecil, maka kutipan tersebut cocok untukmu. Stop being hard on yourself, be nice to yourself.~

Allahua'laa.

Hanya Perantauan

July 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Orang-orang yang pergi jauh dari rumahnya, meninggalkan orang-orang terkasih untuk merantau akan merindukan kampung halamannya. Kota asing perantauan meski sejuk dan rindang kotanya, tetap tidak bisa mengalahkan hangatnya berkumpul bersama keluarga, di rumah sendiri.

Tapi.. mungkinkah situasinya berbeda? Bagaimana dengan orang yang terbiasa merantau, kemudian tiba-tiba menghabiskan hidupnya di kampung halaman, jika ia merindukan perantauan, apa itu aneh?

***

Sabtu kemarin awal bulan Juli, artinya pekan tematik untuk sabtulis. Tema yang disajikan, "rantau". Aku tidak bisa menulis tepat waktu memang, tapi aku ingin tetap menuliskan tentang tema itu.


***

Aku pernah merantau sekali, ke Bandung. Dari perantauan yang tidak singkat itu ada banyak warna dan rasa. Perasaan senang dan khawatir saat pertama kali menjejaki tanah rantau, lalu kenalan sama homesick, mulai menikmati pola dan ritme kehidupan di rantau, dll. Ada rasa manis, asin, pahit, asam, campur aduk.

Setelah berhenti merantau, kini aku juga merasakan merindukan perantauan. Meski memang sekarang lebih nyaman di rumah. Tetap saja, kadang ingin sesekali mengenang memori, berkunjung ke kota rantau. Terakhir ke Bandung April 2018. Tahun ini pengen ke Bandung juga... tadinya buat rencana tgl 15 Juli ini. Tapii... kayanya cuma akan jadi rencana. Ada beberapa pertimbangan. Sepertinya tanggal segitu tahun ini belum jodoh.

Bicara tentang rantau mengingatkanku pada sebuah hadits yang dijelaskan seorang ustadz di Masjid Jendral Soedirman kota Purwokerto jumat kemarin (5/7). Tentang pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam agar kita hidup di dunia bagai orang asing, atau orang yang numpang lewat.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/298-menjadi-orang-asing-di-dunia.html


Sebelum membahas tentang isi hadits, ustadz menjelaskan penuturan Ibnu Umar, yang mendeskripsikan bagaimana Rasulullah menyampaikan pesan tersebut. Rasulullah memegang kedua pundak Ibnu Umar radhiyallahu anhu. Tujuannya untuk menarik perhatian, bentuk agar pesan yang disampaikan lebih mengena.

Ustadz menjelaskan, ada juga hadits lain yang menggambarkan bagaimana sahabat pernah mendeskripsikan bahwa kedua tangannya ada di antara kedua tangan rasulullah, sebelum sebuah hadits disampaikan. *kebayang ga? Jadi kaya salaman pakai dua tangan, tapi kalau salaman kan tangan cuma satu tangan, tapi ini dua-duanya.

Kebayang ga? Kedua tanganmu di antara dua tangan Rasulullah? Bagaimana tidak ingat saat istimewa itu. Perkataan yang Rasulullah sampaikan, pesannya, pasti akan lebih membekas, karena disampaikan dengan gesture tertentu.

Begitu pun pesan ini, pengingat agar kita hidup seperti orang asing, atau orang yang hanya lewat. Pengingat, bahwa kita hidup di dunia hanya sementara, tidak hendak menetap. Hanya mengisi bensin, agar dapat melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, hingga nanti, semoga bisa mencapai tujuan kita, jannahNya. Aamiin.

Selain itu, hidup di rantau itu tidak selalu manis, ada banyak berjuang, dan bekerja keras. Begitu pun hidup di dunia. Kesenangan di dalamnya semu. Dan kita banyak menjumpai kesulitan demi kesulitan. Semua manusia merasakan, tidak pandang bulu. Karena lewat kesulitan itu, Allah menguji kita. Lewat kesulitan itu, kita belajar. Dan jika kita bisa mengambil hikmah dari kesulitan dan memilih sikap yang benar, Allah akan menghadiahkannya dengan balasan yang lebih baik. In syaa Allah.

***

Aku kira aku sudah tidak merantau. Ya, aku kini menjalani hari-hari di kota kelahiran. Tapi setelah aku mendengarkan pesan cinta dari Rasulullah. Aku jadi teringat, bahwa aku masih merantau. Aku tidak boleh lupa. Bahwa sebentar saja, sebentar lagi, aku harus melanjutkan perjalanan. Bahwa dunia hanya "pom bensin", kita mengisi bahan bakar, untuk melanjutkan perjalanan. Bukan untuk menetap di "pom bensin".

Allahua'lam.

***

PS: Rabbi habli hukma wa alhiqni bisholihin. Allahummaj'alna minalladzina amanu wa 'amilusholihat wa tawashau bilhaqqi wa tawashau bishabri. Aamiin.

***








Sunday, July 7, 2019

Instagram, Forest, Dan Lainnya

July 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

Draft beberapa hari yang lalu. Saat itu sedang "sesuatu", jadi untuk memotivasi nulis, aku buat tulisan random ini.

***

Instagram

Aku termasuk newbie di instagram, banyak gapteknya hehe. Baru buat instagram juga bulan-bulan terakhir di Bandung. Tepatnya tanggal berapa bulan apa, ga inget, dan males cari tahu hehe. Anyway, alamatnya agak alay banyak angka, susah diingat hehe. @kirei999193 jangan tanya angka itu angka apa ya hehe. Yang jelas bukan pin atm wkwkwk.

Waktu itu buat ig emang ga jelas tujuannya. Bukan untuk ngikutin tren, dan follow akun-akun keren. Ga niat bakal aktif diisi juga. Benar-benar random. Sampai sekarang aku juga suka mikir, kenapa aku private padahal isinya ga private, maksudnya dibaca semua orang juga gapapa. Tapi untuk saat ini aku masih nyaman begini. Private, dan aku batasi jumlah follow dan followingnya. 50-50. Dulu pernah batasnya dibawah itu, tapi lama-lama nyampe angka 50, gatau juga kalau suatu saat berubah pikiran.

Oh ya, selain akun itu, aku juga buat akun ig untuk blog ini. @betterword_kirei


Trus kemarin kepikiran buat akun lagi, buat newleaf sama mungkin tempat buat nyalin kutipan buku. Tapi sementara aku tahan dulu, karena takutnya cuma buat-buat aja tapi ga keurus hehe.

Forest

Tebak ini bicara tentang apa? Hutan? Nama orang? Hehe. Masih sejenis sama instagram, tapi bukan sosial media. Sama-sama aplikasi hp. Aplikasi yang bantu kita untuk fokus pada kegiatan dan menjauh sejenak dari hp.


Sistemnya, kita set waktu ingin fokus berapa lama. Dari 10-120 menit. Trus kalau udah di start, kita dibantu untuk ga main hp. Ada tulisan pengingat, 'stop phubbing', atau 'Don't look at me!', dll. Selain itu kalau kita buka aplikasi lain, ada tulisan harus 'membunuh' tanaman yang sedang ditanam.

Efektif apa ga? Tergantung orangnya. Kalau pakai forest biasanya justru jadi sering liat hp, pengen tahu waktunya tinggal berapa menit lagi hehe. Tapi masih aku pakai sih, meski jarang. Kalau untuk aku, lebih efektif cara lama, taruh hp di luar jangkauan tangan dan mata.

Oh ya, salah satu alasan masih pakai ini adalah sense of achievement, jadi ada catatan berbentuk hutan yang berisi pohon dan tanaman yang kita tumbuhkan saat memakai aplikasi forest. Selain itu, ada coin juga. Ada shop buat beli jenis tanaman/pohon. Koinku baru sedikit sih, tapi sayang kalau uninstall. Setengah jalan lagi, bisa buat beli pohon sakura hehe.

Lainnya

Masih tentang aplikasi. Jadi ada keinginan untuk ga install game. Sosmed dan youtube saja sudah menyita produktifitas, kalau ditambah game, bisa habis waktu untuk main-main. Tapi kadang keinginan untuk main game itu ada. Cari alternatifnya dengan install aplikasi belajar yang dibuat game. Entah itu belajar bahasa, kaya memrise, dan belajar grammar yang isinya soal-soal pilihan ganda, dll.


***

Kita sebagai makluk zaman now, wkwkwk. *aku paling ga bisa ngikutin trend frase kekinian hahaha.

Anyway, kita sebagai orang yang hidup dengan segala kemudahan yang dibawa oleh komputer, hp, dan teknologi lain, harus sepenuhnya sadar, ga cuma manfaat tapi juga mudharat yang dibawanya. Lalu kita berusaha memilah-milah, agar waktu kita tidak habis untuk meladeni sekian banyak fasilitas itu. Fokus pada tujuan kita, sesekali berhenti dan menjauh darinya, supaya tidak addicted, supaya kita membuat batas yang jelas, siapa yang berkuasa hehe. Bukan hp kita yang menarik tangan dan mata kita untuk selalu mengelus dan melihatnya. Kita bisa dengan mudah mengatakan, "bye dulu, ada banyak kerjaan lain". Ya, kita harus bisa begitu.

Semoga Allah memberkahi hari-hari kita~ Aamiin.

Allahua'lam.

Can Tell No One

July 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

foggy (Photo by Joe Green on Unsplash)

Ada hal-hal yang tidak bisa kita katakan, tidak bisa kita ceritakan pada orang lain. Mungkin itu sisi gelap yang selama ini disembunyikan. Atau justru itu hal yang sangat perlu diekspresikan, tapi lidah kita kelu, jemari kita kaku. Hal tersebut menggumpal, menendang-nendang hati dan pikiran. Hingga yang keluar hanya tangis, atau rintihan lirih, atau teriakan tanpa suara.

***

Hari ini, aku diingatkan tentang ketidakmampuan seseorang dalam bercerita. Bukan karena bisu, bukan karena tidak bisa menulis. Ada banyak pertimbangan yang membuat ia memendam cerita sendiri, sampai menumpuk-numpuk, dan karena sekarang bukan hal 'kecil', hasilnya, ia kini kesulitan mengeluarkannya.

Kemampuan seseorang untuk terbuka, mengungkapkan apa yang ia rasakan, menjelaskan apa yang ia pikirkan, adalah sesuatu yang penting. Manusia, diberi kemampuan untuk berkomunikasi. Bahkan yang bisu pun, membutuhkan cara untuk berkomunikasi. Keterkungkungan pikiran dan perasaan akan membuatnya lemah, dan kesulitan menjalani hidup. Seseorang harus bisa mengungkapkan dan menceritakan beban pikiran dan perasaannya, kalaupun tidak bisa lewat ucapan, minimal lewat tulisan. Dan sekalipun tidak ada yang mendengarkan atau membaca, minimal ia terhubung dengan yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Jika keduanya terputus. Ia tidak bisa bercerita, pun menuliskan beban pikiran dan perasaannya, jika ia tidak mau berdoa, dan mengungkapkan keresahannya meski dengan tangis pada Rabb-Nya, dan ia memilih memikulnya sendiri. Ia akan merasakan betapa lemahnya dirinya. Betapa ia hanya seorang manusia kecil. Apalagi jika ditambah was-was dari setan. Hmm..

***

Memang ada hal-hal yang ingin kita simpan sendiri. Menuliskannya saja kelu. Tapi kenyataannya, kita harus mengungkapkannya. Terutama bagi yang terbiasa menyimpan semua sendiri. Kadang harus dipaksakan.

Kemarin, aku diingatkan lagi tentang bagaimana bedanya, saat aku bergantung pada diri, sok-sokan memikul semua sendiri. Saat itu aku kepayahan, jangankan berjalan, merangkak saja rasanya tidak sanggup. Tapi setelah dipaksa untuk mengungkapkan beban pikiran dan perasaan, pada orangtua, pada teman, pada psikolog, rasanya berbeda. Memang ada hal yang sama. Bahwa masalahku, hanya bisa aku selesaikan. Bahwa hidupku, aku sendiri yang menjalaninya. Tapi dengan mengungkapkan pikiran, mengekspresikan perasaan, benang kusut yang ingin kupotong saja, kutemukan salah satu ujungnya. Dan dari satu ujung itu, aku bisa tahu cara mengurainya. Masih sulit, tapi tidak segelap saat semua kupikul sendiri.

Kemarin juga…. Aku diingatkan. Bahwa bisa jadi, ini bukan tentang orang lain. Tapi tentang diriku. Karena masih ada hal-hal yang aku pilih untuk disimpan rapat-rapat. Aku masih tidak tahu, apa aku perlu mengungkapkannya, mengekspresikannya, dan meminta pandangan orang lain, bantuan tangan orang lain? Atau… bisakah aku menyelesaikannya sendiri? Tentu saja maksudnya bukan sendiri. Tapi hanya dengan terus berusaha terhubung dengan Allah, agar hal itu hanya aku dan DIA yang tahu. Berharap Allah memberikanku kekuatan untuk menyelesaikannya sendiri. Meski sebagian hatiku ragu, meski aku kepayahan dan berulangkali jatuh.

Bisa jadi, memang begitu. Bahwa aku berada 'di sini', melihat dan mengetahui 'hal ini', bukan karena aku bisa membantu orang lain. Tapi justru sebaliknya, dari orang lain, aku bisa mengambil pelajaran dan bantuan, untuk diriku.

Jadi selanjutnya Bell.. *tiba-tiba selftalk hehe* Daripada merasa tidak bisa membantu apa-apa. Atau merasa harus menjadi orang yang berperan dan bisa membantu. Daripada perasaan dan persepsi itu. Coba ubah persepsinya. Bahwa kamu adalah pembelajar. Ada hikmah yang Allah ingin titipkan padamu lewat hal tersebut. Maka merendahlah, seperti seseorang bodoh yang belajar agar mendapatkan ilmu. Seperti itu. Karena bisa jadi, yang membutuhkan pertolongan dan bantuan bukan orang lain, tapi dirimu sendiri.

***

Terakhir, mungkin ada yang kesulitan bercerita, dan mengungkapkan isi pikiran dan hati. Mendekatlah padaNya, merendah dihadapanNya, agar ia mengajari kita lagi, caranya membaca, bicara dan menulis. Caranya bercerita dan mengungkapkan beban yang menggayuti langkah kita. Karena kita mungkin hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata-kata, tapi Allah Tahu persis makna dibalik setiap bulir air yang jatuh, desahan nafas kecil, dan teriakan bisu dalam dada. Allah Tahu, Allah Mendengar, dan Allah Menjawabmu.

Allahua'lam.

Tuesday, July 2, 2019

Pengingat Sederhana dari Teteh Mata'

July 02, 2019 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking


Seperti di judul, pengingat tentang sederhana, dari blog teteh Mata', teteh MSTEI, dan teteh Muslif. *berasa dari tiga orang

Sederhana. 
Suatu kata sifat yang pengamalannya tidak mudah ya?
Ketika kita punya kelebihan harta, sederhana adalah pilihan membelanjakan harta di jalan Allah, ketimbang di jalan untuk mencapai kesenangan pribadi
Ketika kita Allah beri kelebihan, jiwa tetap tawadhu tanpa sedikit pun merasa unggul atas kelebihan itu karena semata milik Allah-lah segalanya
Ketika kenikmatan yang Allah beri tidak sedikitpun membuat kita goyah akan keteguhan dalam ibadah
- Teh Ammy, dalam blog Kisah Fajr
***

Oh ya, ini tambahan ga terkait topik sederhana.

Ramadhan kemarin, aku mengulang-ulang sebuah video penjelasan beberapa ayat quran. Dari situ, aku jadi inget perjalananku saat mulai jatuh cinta dengan quran, dan ingin menjadi salah seorang pejuang quran.


Pertama, lewat Mata', Majelis Ta'lim Salman. Kalau dari namanya, agak-agak misleading memang. Seolah isinya kajian ta'lim hehe. Memang sih salah satunya. Tapi sebenarnya, dari Mata' aku melihat fokus tarbiyah dan dakwah quran. Iya Quran.

Dari Mata' aku kenalan sama Teh Ammy. Rahmi Yuwan. Kalau dari gamais dapet kelompok mentoring, dari mata' aku dapet kelompok halaqah quran. Aku lupa-lupa inget apakah sebenarnya aku masuk kelompok halaqah-nya teh Ammy. Yang jelas, lewat halaqah quran sama teh Ammy aku jadi banyak berinteraksi sama quran. Pengalaman mabit pertama di Masjid Habib juga karena diajakin teh Ammy, dadakan hehe. Kalau ga salah sama Roro dan Anna juga.

Selain Mata' aku kenal juga TGTC, ini cuma pernah dateng sekali, habis itu ikutan Mukhayyam. Sejalan dengan itu kenal Ustadz Suherman, lalu Khizanatul Islam, di Kircon. Mulai akrab bolak-balik ke kiara condong. Lalu aku teringat Teh Indah, yang ngasih tahu angkot mana yang ga muter jauh. Waktu itu belum jamannya grab dan gojek. Teman perjalanan paling sering bareng, Asni.

Lewat Anna (Melyana) kenal Ustadz Nouman Ali Khan, gabung NAKIndonesia. Lalu ikutan Qaf Indonesia. Dari Qaf, halaqah qurannya lanjut, bareng-bareng belajar seri Quran for Young Adults, dan video-video lain.

Lalu negara api menyerang hehe. Alhamdulillah, diketemuin lagi sama teh Ammy yang balik ke Bandung lagi untuk studi S2-nya. Mulai lagi halaqah quran.

***

Sekarang.. udah banyak yang berubah. Tapi semoga masih istiqomah, meski jatuh bangun, berusaha agar hidup dalam naungan quran. Bagaimana agar interaksi dengan quran, tidak cuma horizontal, tapi juga vertikal, mendalam.

Kalau cuma membaca tulisan ini, tanpa tahu kenyataan dibalik layar, mungkin kesannya sudah banyak yang dilakukan. Tapi kalau mau jujur, dan melihat lebih jelas, aku tahu, ada lebih banyak hal yang belum dilakukan. Masih banyak bolong di sana sini. Masih babak belur di banyak sisi. Masih jauh-jauh sekali antara cita, dibandingkan usaha dan doa. Masih harus dikelilingi orang-orang baik, agar tidak lupa semangat yang dulu pernah menyala terang.

Jadi panjang ya? Karena banyak nostalgia dan curcol hehe.

Terakhir, untuk Teh Mentari Pagi, jazakillah khairan~ Sering-sering nulis ya. Aku masih suka nungguin baca tulisan barunya^^ Semoga kapan-kapan bisa bejumpa lagi.

Allahua'lam.

***

Belum Naik Level

July 02, 2019 0 Comments
Bismillah.

Manusia... punya tahapan-tahapan dalam hidupnya. Ada level-level yang dilaluinya.

white stairs
Gatau kenapa, rasanya aku stuck di suatu level, belum naik-naik. Masih remedial ujian yang sama. Bodohnya, masih bingung menjawab pertanyaan yang sama. Masih terbata menjawab persoalan-persoalan.

Pemikiran itu terkadang seperti mendung hitam legam, sesekali menghadirkan kilat dan gemuruh petir. Lalu perasaan takut hadir, sama seperti perasaan takut yang Allah sisipkan pelan pada kita, terutama saat kecil dulu, saat melihat kilat dan mendengar gemuruh petir. Kalau pemikiran itu dibiarkan berhenti di situ, maka hanya perasaan takut dan cemas yang akan dihasilkan. Tapi kita tidak boleh berhenti kan? Seperti sunnah yang diajarkan saat mendengar gelegar petir, kita bertasbih, subhanallah. Maha Suci Allah.

Pernahkah kita dulu bertanya-tanya, kenapa kita harus sekolah, bertemu PR dan tugas-tugas, lalu bertarung dengan ujian-ujian, UTS, UAS, Ujian Kompre, dll. Kenapa kita harus naik tingkat. Kenapa.. kita tidak berdiam diri saja di level tertentu?

Kalau kita mau berpikir dengan kepala dingin. Kita akan paham, bahwa yang membutuhkan naik tingkat itu bukan sekolah, bukan guru-guru atau dosen-dosen kita. PR, tugas, kuis, ujian, yang diberikan pada kita pada akhirnya akan berguna untuk kita. Dengan itu, kita belajar banyak hal, mengerti lebih banyak hal, kemudian kita menjadi lebih dewasa, lebih cerdas, lebih teliti, lebih bijak.

Bedanya dengan sekolah, kehidupan tidak memiliki level atau tingkatan yang jelas. Kita tidak bisa tahu seperti kita tahu, kita duduk di kelas 1 SD, atau 8 SMP, atau kelas 12, atau semester 5 S1, dst. Level dalam kehidupan begitu abstrak. Bisa memang kita kelompokkan, kita buat tahapannya. Tapi tetap saja... tidak bisa benar-benar tahu. Entah, mungkin kalau di dunia setelah kematian, kita bisa benar-benar tahu di level mana diri kita.

***

Untukku, tetap semangat^^ Jika jatuh, segeralah bangkit. Jika sakit, berobatlah. Jika berdosa, bertaubatlah. Jika melangkah, rendahkan hatimu. Jika berlari, buka matamu lebar-lebar. Jika terjatuh lagi, berdiri lagi, lalu tengok keadaan hatimu.

'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada. Kita memohon petunjuk sekaligus bimbinganNya, agar semakin dekat padaNya. Bukan dengan cara membandingkan diri kita, dengan level orang lain. Tapi dengan berkompetisi sendiri, bagaimana agar kita hari ini, lebih baik daripada kita kemarin.

'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada. Rabbi habli hukma wa alhiqni bisholihin. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Curcol dikit gapapa ya? Rasanya belum naik level. Masih sama, Masih jatuh bangun pada hal yang sama. Masih mengulang kesalahan yang sama. Bedanya saat itu sekitaranku gelap, dan aku mengurung diri. Sedangkan saat ini sekitaranku bercahaya, namun aku masih berada di pojok gelap, sendiri. Satu lagi, beda case, tapi perasaannya masih sama. Masih merasa belum naik level. Peran sebagai anak, masih susah payah menjalaninya. Padahal sudah sejak bayi, sekarang rasanya masih bayi, bedanya tubuhnya dewasa. Masih belum bisa ihsan 'berteman' dengan orangtua. Masih takut, kalau aku termasuk anak yang menjadi ujian/bahkan musuh bagi orangtuanya. Atau termasuk anak yang durhaka TT Na'udzubillah. Semoga Allah memberikanku hidayah dan kemampuan untuk belajar, terus belajar menjalani peran sebagai anak. Sebelum nanti diberi tambahan peran baru. Allahua'lam.