Follow Me

Saturday, December 31, 2022

When Things Got Mess Up

December 31, 2022 0 Comments

Bismillah.

#untukku


Saat banyak hal menjadi berantakan, apa yang akan kau lakukan?


Semoga bukan hanya keluh kesah yang keluar dari lisan. Semoga sejenak duduk, berpikir, menyadari dan mengakui kesalahan diri, tapi tidak tenggelam dalam rasa bersalah.


Sebentar saja, kemudian bangkit lagi dan berusaha membereskan semuanya. Tida bisa satu kali kerja beres. Bertahap. Dari yang kecil, dari yang terdekat.


Jika dalam prosesnya lelah, tidak mengapa beristirahat. Jika dalam prosesnya luka, jangan biarkan menganga, obati, tutup lukanya.


Lalu bekerja lagi. Sembari terus menata yang tak terlihat dalam hati, namun harus selalu lurus agar semua kerja tidak sia-sia.


***


When things got mess up.. and you don't know what to do, where to start, and will you have the ability to make it up... Turn to Allah.


Karena hanya Allah, satu-satunya, yang bisa menerimamu dalam kondisi selemah dan sehina apapun. He knows all of your flaws, but He still embraces you.


Katakan dalam bisik mesra pada-Nya.. Rabbi inni limaa anzalta ilayya.. min khairin fakiir. Rabbi inni massaniyadh dhurr.. wa anta arhamurrahimin.. Rabbi... La Ilaha Illa anta, inni kuntu minazh zhalimin. Aamiin.


Wallahu a'lam.

Thursday, December 22, 2022

Person to Ask

December 22, 2022 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Forgive me for the broken English in the title.

I just want to write here a short post.

Alhamdulillah.. cause I've got a person to ask.

Ask .. bukan bertanya. Tapi meminta. Meminta doa dan nasihat.

She told me, I should be grateful. At first my ego comes out. I need a little time before I can accept it.

Yeah I need to be grateful. Maybe I complain a lot in my own mind.

Yeah I need to be grateful. And that will push me to do more good deeds.

Bella... Didn't you remember how swollen his feet, and how the answer of the questions he was asked? Allahumma shalli wa salim 'ala Muhammad.

Be grateful. Bersyukurlah.

Allahua'lam.

***

PS: Jazakillah khairan katsiraa Ummu Ibrahim. I sent love too.. for your son, who will become 1 year, at 1 January in syaa Allah. Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk ketemu lagi, somehow, someday. (:

Wednesday, December 7, 2022

Time Pass Fast, or Slow?

December 07, 2022 0 Comments

Bismillah.


-Muhasabah Diri-


How's life? Do time pass fast of slow in your life?


***


Fast and slow are relatives right? And also... the point is, it doesn't matter whether it's fast or slow. The real question is, do you spend it in goodness, or do you waste it?


Done. Hanya ingin menulis ini. Pengingat diri. Agar tidak lupa surat pendek yang lafalnya mungkin begitu dihafal, namun jatuh bangun tertatih kita untuk mengamalkannya.


Last.. let's pray for each other, so that Malaikat will say Aameen and for you too.


Allahummaj'alna minalladzina amanu wa 'amilusholihati wa tawashau bilhaqqi wa tawashau bish shabr. aamiin.


Wallahua'lam. 

Sunday, November 20, 2022

Quotes dari Madarijus Salikin

November 20, 2022 0 Comments
Bismillah.

Sudah lama banget ga update post di ig @betterword_kirei.

Karena stuck di konten Madarijus Salikin. Sebenernya pngen baca ulang bukunya, trus buat postingan yang berisi lebih banyak quotes. Minimal 10 lah.

Tapi aku . . . .

I don't want to write excuses. So I failed at my own plan.

But I need to really move on. And filled it again. Jadi kucukupkan dengan 3 saja.

***

Besok, atau lusa. Mungkin akan posting penutupnya. Dua slide. Quotes dari buku Madarijus Salikin juga..

I really need to re-read it though... Hmmm. Bahkan baca ulang nukil buku Madarijus Salikin membuatku belajar ulang bagaimana meniti jalan ini. Bagaimana harusnya aku 'galau' kemudian berazam untuk bergerak, kemudian berjalan melalui halte-halte ...

Aku teringat juga, betapa aku penasaran dengan Madarijus Sairin. Lalu menemukan jawaban dan hikmah dibaliknya. Bahwa Ibnu Qayyim saat membaca buku yang tidak sempurna, ia tidak serta merta menutup bukunya. Tapi ia memilih untuk menyortir emas di dalamnya, kemudian merangkainya. Hingga lahirlah Madarijus Salikin. He fix it, and Allah put the barakah in it. So we can still read this wonderful book today.

*ya Allah jadi keinget buku lain dari Ibnu Qayyim yang baru kubaca beberapa lembar awalnya. ><

Anyway. I'm still distracted as the old me. But I hope, this little thing I do will become a footprint of a little bit of good that I can leave in this world.

Aku masih ingin menulis buku, tapi kurasa, saat ini, membagikan hal-hal baik dari buku yang sudah ada, menjadi prioritas. I hope people find the treasure inside the book that the Ulama write. Cause they're the true Ulul Albab.

***

Sudah malam. Have a good night. Bye 5!

Teman Baca @akademiliterasi.id

November 20, 2022 0 Comments
Bismillah.

Qadarullah baca pengumuman pendaftaran teman baca batch 3 di hari terakhir pendaftaran.

Langsung isi form, penuhi syarat daftar. Done.

***

I still struggle in reading. Jadi emang butuh banget supporting system semacam ini. Minimal kualitas dan kuantitas baca bisa naik. 10 halaman per hari, menyalin insight tiap hari.

Will late upload the litera-sight in my story. Gak peduli lah, tgl-nya gak match. Cause I don't always have time to create the design.

Padahal mah cuma copas, dan benerin dikit2 ya..

Keinget tantangan 30 hari baca bulan Ramadhan yang belum juga kurampungin buat desainnya. Hmmm.

Anyway. It's okay to be imperfect. Just strive to be better.

Jangan menyerah pada diri. Perubahan itu butuh proses. Bertumbuh itu, butuh kesabaran.

Jangan terlalu keras pada diri. Tapi juga jangan terlalu lunak. And to keep it balance is... Not easy. It's okay. When you find it too difficult. Never forget to always connect and ask The One who create the balance.

Anyway. Semangat baca ^^

Thursday, October 27, 2022

Ar Rahman, yang mengajarkan Al-Qur'an

October 27, 2022 0 Comments
Bismillah.



#tadabbur @sq_sahabatquran

Ar-Rahman 55:1-2

 ٱلرَّحْمَٰنُ • عَلَّمَ ٱلْقُرْءَانَ 

(Allah) Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur'an.

***

Pernahkah kita berpikir, mengapa Allah menggunakan Arrahman, "saat" mengajarkan Al-Qur'an.

Allah bisa saja menggunakan asmaul husna yang lain. Al 'Alim, atau Al Hakim.

Ar Rahman, berasal dari kata yang sama dengan rahim. Kasih sayang Allah ibarat kasih sayang ibu pada janinnya. Janin tersebut bahkan tidak tahu, bahwa ada yang melindunginya, memberikannya semua kebutuhannya, dan memberikannya kasih sayang yang begitu banyak.


Begitu pula Allah, Allah mengajarkan kita Al-Qur'an dengan sifat Rahman-Nya.

Karena Allah tahu betapa kita membutuhkan Al Qur'an. Karena dengan mempelajari Al-Qur'an kita jadi bisa melindungi diri kita dari api neraka. Karena Al Qur'an yang bisa menjadi pelipur lara di hati kita.

Arrahman, 'allamal Qur'an.

Maka wahai diri? Apakah kamu mau belajar?

Belajar membaca Al Qur'an, belajar memahami makna ayat-ayatnya, juga belajar mengamalkannya.

Arrahman, 'allamal Qur'an. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berusaha meraih cinta-Nya dengan terus mempelajari Al-Qur'an. Aamiin.

***


اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ
وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً

اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا
وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا

وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ
وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Aamiin.

Wallahua'lam.

Wednesday, October 26, 2022

A28: Emotional Bond Between Palestina and Indonesia

October 26, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

***

☑️ #DAY28-0090

📖 The Aqsa, Henk Kusumawardana

📑 Quote:

At that time nothing has changed on the Aqsa sites; still a terrain without any building on it. So, what is meant by the Aqsa Mosque in the Quran is not the appearance of a mosque but a field on the top of a hill.

The name of the hill Moriah has inspired Raden Umar Said, one of the nine Guardian of Allah (Walisongo the spreader of Islam in Java) to established a boarding house to preach at the top of mountain which he named Mount Muria in Central Java. He was later nicknamed Sunan Muria.

While the other Guardian, Ja'far Sadiq named the city where he preached by the name Kudus referring to the Quds. He is known as Sunan Kudus. How history shows an emotional bond between Palestine and Indonesia that has existed for a long time.

💡 Insight:

Kalau bukan karena membaca buku ini, aku pasti tidak akan tahu hubungan nama Gunung Muria dan Kota Kudus di Jawa yang ternyata terkait dengan Palestina.

Begitulah kita, jika tidak mempelajari sejarah, kita akan melupakan diri kita, identitas kita.

Bisa jadi kita hanya memandang masalah yang terjadi di Palestina adalah tentang kemanusiaan. Meski itu memang benar, tapi harusnya perasaan kita kepada Palestina terutama Al Aqsa lebih dari sekedar itu.

Seharusnya hati kita bergetar, seharusnya kita ikut merasa sakit. Seharusnya kita lebih peduli.

Jika hubungan emosional kita belum terbangun pada Al Aqsa, Palestina. Maka yang harus kita lakukan adalah menumbuhkannya, dengan apa? Dengan belajar. Dengan banyak membaca, mendengarkan atau mencari tahu.

Semoga Allah menjadikan hati kita lebih peka, agar kita bisa melihat diluar "masalah" diri sendiri. Aamiin.

Wallahua'lam.

***

Keterangan:

[1] Tulisan ini diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

[2] Ini merupakan bagian dari serial kutipan buku yang kulaporkan untuk program 66 hari baca buku @menjadi.arketipe 1 Februari - 7 April 2022

Tulisan lainnya bisa dibaca di #66haribacabuku

Tuesday, October 25, 2022

Suppress Emotion

October 25, 2022 0 Comments

Bismillah.


Barusan googling frase ini, cuma ingin memastikan apakah spellingnya benar atau tidak. Kemudian menemukan kalau arti dan bahasan dari frase ini begitu berat. Sedangkan yang akan aku bahas di sini cuma hal kecil, yang kutemukan hikmahnya dalam keseharianku.


***


Pernahkah kamu menekan emosimu? Menekannya begitu keras supaya tidak muncul di permukaan. Pura-pura baik-baik saja, padahal ada emosi lain yang begejolak di dalam. Tidak disalurkan ke manapun, tidak diceritakan, pun tidak pula diekspresikan. Jangankan lewat bisikan saat bersujud, kau mengabaikannya, menekannya, lagi dan lagi berharap itu bisa memusnahkan emosi tersebut. Tapi ternyata kamu salah, pilihan untuk menekan emosi, bukan pilihan yang bijak.


I just found out about it, somedays ago in my daily life. Oh ya, menekan emosi disini beda sama menahan amarah ya. Meski memang ada emosi marah di situ, tapi ini beda. Ada berbagai emosi lain juga, entah itu sedih, kesal, cape, dll. Awalnya tidak ada niatan ditekan, atau disembunyikan. Aku cuma tidak ingin ada pihak yang merasa tidak nyaman jika emosi tersebut tampak. Awalnya aku pikir, aku bisa menetralkannya sendiri tanpa berurusan dengan orang lain. Tapi karena kesibukan rutinitas, aku lupa untuk menyalurkan emosi yang sudah ditekan tersebut. Tidak lewat tulisan, tidak pula lewat olahraga, atau hal lain.


Time is ticking, and that emotion turn into a ball. Tidak sampai jadi bom, tapi aku mulai merasa tidak nyaman akan keberadaannya. Feels like my body is filled with negative energy. Saat itulah aku mencoba mengurainya, aku tidak mau ini menjadi bom dan meledak saat aku tidak siap. Maka aku mengurainya di kepala, mencoba mencari hikmah dari hal tersebut.


Beberapa hal yang ingin kucatat dari hasil pencarian hikmah itu adalah, sebuah refleksi, betapa aku butuh latihan komunikasi.


I mean, it's really start ftom a small thing. Tapi hal kecil itu, ditumpuk dan bertambah dengan emosi lain (mostly tiredness), membuatnya jadi hal besar. Rasanya ingin mengambil jalan pintas hahaha. No I won't, cause I already know how fool I am to take that kind of solution way back in the past, with a different case. Jadi, rencananya akhir Oktober ini mau berusaha mengkomunikasikannya. Masih ada 5-6 hari. Aku gak boleh terus begini kan? Hanya karena kebiasaan tidak menampakkan emosi dan memendam semua sendiri. Semoga lancar dan aku bisa memilih diksi yang tepat.


Hikmah kedua. Mari menulis lagi. Sungguh aku tidak mau terlalu banyak "mengeluh" dengan excuse ingin mengekspresikan emosi. Lebih aman menuliskannya, di sini... jika ada hikmah yang bisa ditemukan. Atau di tempat lain, jika kurasa isinya hanya hal-hal privasi.


Yang terakhir, mari perbanyak doa. Terutama doa di saat semua orang tidur. Agar kita bebas menangis tanpa perlu malu atau takut ketahuan orang lain. Semoga kita tidak lupa, bahwa emosi yang kita rasakan diciptakan Allah dengan tujuan tertentu. I think I read it from another blog, dari blog penulis dan psikolog. I'll put the link here. (Baca tulisan Fitri Ariyanti atau baca artikel blogwalking versiku setelah membaca tulisan itu)


Sekian. Bye 5!


Wallahua'lam.

Tuesday, September 27, 2022

Note Today

September 27, 2022 0 Comments

Bismillah.




Membuka buku catatan lama, menemukan coretan, check list, cuhatan dengan pensil di bagian depan. I think I wrote it in Ramadhan, the last one, before I went back to my hometown. Some day 2017.


Izinkan kusalin di sini, siapa tahu ada yang bisa mengambil manfaatnya. But ofcourse, first and foremost, it's for me.


***


Note today:


Take a step, make do'a. Allah will guide you.

Allah will help you. Allah will comfort you.

Even if the step felt so hurt, pain, unbearable*.

Even if you're so weak, so "a step" felts "too much" for you. Allah will protect you...

Allah will give you strength. In syaa Allah.


Believe Allah. Have faith. Keep Good prejudice towards Him.


***


That's the end of the note. Now, let me try to rewrite it in Indonesia.


***

 

Catatan Hari ini:


Ambil satu langkah, berdoalah. Allah akan membimbingmu.

Allah akan membantumu. Allah akan menenangkanmu.

Bahkan jika langkah tersebuh begitu sakit, perih dan tak tertahankan.

Bahkan jika kau terlalu lemah, sehingga "satu langkah" terasa "terlalu banyak" untukmu. Allah akan melindungimu.

Allah akan memberikanmu kekuatan. In syaa Allah.


Percayalah pada Allah. Yakinlah. Teruslah berprasangka baik kepada-Nya.


***


Terakhir, untuk siapapun, kamu, yang sedang berjuang. Dalam perjuangan sunyi, yang orang lain mungkin tidak tahu. Semoga Allah menjaga hatimu, memberikan cahaya petunjuknya untukmu. Don't be ashamed to ask for His guide. Sehina dina apapun dirimu, sejauh apapaun dirimu dari-Nya. Cause Allah still loves you, He always do. And He is waiting for you.


Wallahua'lam.


***


Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: *actually I wrote "undurable" instead of "unbearable", silly and fool me. lol. Please forgive my english^^ still have to learn a lot.


Fokus dan Konsistensi

September 27, 2022 0 Comments

Bismillah.

-Muhasabah Diri-


Life is going on, and I still lack those two in the title. Sedikit banyak terantuk, jatuh, bangun, berjalan lagi. Masih menggenggam impian yang cuma disimpan di hati saja, dan kurang diejawantahkan dalam laku.


Anyway, just in case someone else who is not me reading this. Izinkan aku menyapamu. Hai? How's life? Apa kabar? Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan hidupmu.


***


Di tengah rutinitas, dan adaptasi akan penambahan peran, yang menuntut tanggung jawab. Aku mencoba menjadi produktif, sedikit. Mendengarkan podcast Muslim Productive dan itu udah lama banget gak dikerjain lagi. Juga berusaha membaca buku, meski cuma satu dua halaman per tiga hari wkwkwk.


Jadi, aku menyadari, tanpa direncana, blog ini sekarang lebih banyak berisi tentang buku. Beda sama dulu, karena dulu aku banyak berinteraksi dengan orang, pengalaman-pengalaman itu muncul saja sebagai bahan tulisan. Kalau sekarang, karena lebih introvert, aku lebih banyak berinteraksi seorang diri, dan satu-satunya bahan yang bisa kutulis, dari keseharianku yang 'biasa aja', adalah dari tulisan. Dan ditengah perjalanan itu, aku menemukan dua hikmah, sebuah evaluasi, tentang dua hal yang aku masih sangat kurang. Fokus dan konsistensi.


Tentang fokus. Aku dapet dari podcast Muslim Productive season 1 episode 6 dan 7. Boleh langsung cek aja podcastnya disini, scroll dikit untuk dengerin langsung. I guarantee you, it brings more benefit than reading this shallow writing. hehe


Salah satu manfaat dari membaca buku adalah melatih fokus kita. Dari situ rasanya aku dapet pukulan 'pang!' Aku merasa, ada yang salah dari cara membacaku, sehingga level fokusku gak naik. Aku berusaha membaca tiap hari, tapi cuma satu halaman, udah cuma dikit baca, eh, sok-sokan banyak nulis. Gak cuma itu, aku juga baca banyak buku dalam satu waktu, dan... gak buat catetan untuk merapikan, biar ilmu yang aku dapet dari buku itu gak mencar-mencar, atau malah menguap sebelum diserap.


Jadi kangen the ladybook. I think I really need supporting system to be able to do that. Aku butuh tempat dan teman yang ngajakin aku baca fokus selama 30 menit lah minimal, baca satu buku. Aku tahu kelemahan dan kekuranganku. Aku padahal udah sempet buat mekanisme lain biar bisa fokus baca tapi tetep sharing, niatnya ngelanjutin projek insight 10halaman di ig @quote.daribuku. Tapi pelaksanaannya nol. Aku tergilas distraksi. Malu mengakuinya, tapi ini satu hal yang harus segera aku perbaiki: fokus.


***


Next one, consistency. Istiqomah.


Kalau yang kemarin dari podcast, yang ini dari buku. Novel, Rantau 1 Menara-nya A. Fuadi. Di novel tersebut, Alif membandingkan dirinya dengan kawannya (*lupa nama tokohnya). Intinya ia melihat temennya tuh konsisten setelah memilih tujuan/jalan yang akan ditempuh. Nah, Alif tuh bercermin, trus kemudian sadar, bahwa diantara banyak hal yang dia gak konsisten, ada satu yang dia konsisten, nulis. Dan itu yang akhirnya jadi titik dia semangat buat serius ngelanjutin menulis dan mengambil jalan tersebut.


Pukulan kedua tuh buah aku. Kalau yang pertama tentang fokus membaca, yang kedua ini lebih sakit, karena tentang menulis. Dan hmm dengan berat hati, aku harus mengakui, kalau aku juga kurang dalam hal ini konsistensi, terutama dalam menulis.


Beda sama membaca, yang aku udah buat supporting system. Iklan dulu, kalau ada yang butuh grup buat latihan baca tiap hari, dan kamu perempuan, boleh banget join ya. Sistemnya simple, dan peraturannya juga tegas tapi gak kaku. Kalau minat boleh langsung dm ig @betterword_kirei.


Beda sama membaca, yang aku udah buat supporting system. Kalau menulis, karena emang bawaannya suka, aku jadi gak buat program khusus buat konsisten nulis. ya, ikut sih komunitas #1minggu1cerita, tapi itu gak ada unsur 'paksaan', dan oke-oke aja kalau gak nulis maksimal 5 pekan berturut-turut. Anyway, intinya mah, kalau liat kondisiku sekarang, aku ternyata juga butuh lingkungan atau sistem tertentu yang memaksa aku untuk menulis secara konsisten. Free writing, even diary. *sedih rasanya kalau ingat udah lama banget gak nulis diary. Butuh, tapi akhirnya aku abaikan karena ngerasa masih bisa disimpen di hati, which in long term, for me it's not good.


***


Selesai. Sekian sesi menulis pagi ini. Thanks to ksis yang somehow gak bisa login. Kapan lagi buka laptop pagi-pagi kalau bukan karena tuntutan kewajiban hehe.


Have a happy morning, and productive day for all of you.. Barakallahu fikum. Bye 5!


Wallahua'lam. 


***


PS: Oh ya di @the.ladybook juga ada program womanwrites. Bisa juga sih buat support system nulis. mangga yang mau join. sementara aku kayanya mau coba buat supporting system mandiri dulu, karena i need to be flexible in my time management.

Wednesday, August 24, 2022

A27: Bahkan Membenci... Ada Seninya

August 24, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

☑️ #DAY27-0090

📖 Kitab Cinta dan Patah Hati, Sinta Yudisia

📑 Quote:

Bagaimanapun dalamnya kebencian pada seseorang, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam memberikan batasan-batasan indah dalam membenci.

Membenci tidak boleh mencaci orangtua musuh, membenci tidak boleh bersikap tidak adil pada musuh, membenci tidak boleh mendoakan keburukan bagi musuh.

Membenci harus proporsional, sekedar membenci perilakunya dan bukannya si pelaku. Siapa tahu suatu saat perilaku si pelaku berubah dan dia berbalik 180 derajat dari musuh menjadi sahabat.

💡 Insight:

Banyak yang menulis tentang cinta, tapi sedikit yang mengenal lebih banyak tentang benci.

Tapi Islam mengatur perasaan itu, karena Islam tahu, hati manusia... bisa diracuni rasa benci. Dan racun itu, meski awalnya sedikit, lama kelamaan bisa mengeraskan hatinya, menghancurkan hidupnya.

So let's hate something in a proposional way. Like what Rasulullah taught us, 'alaihimushalawatu wasalam.

***

Mereka bilang, batas benci dan cinta itu tipis. Itulah mengapa kita tidak boleh berlebihan.

Mereka bilang, benci itu membebani hati, seperti kentang busuk, yang terus-menerus dibawa. Seharusnya kita buang, bukan justru dibawa kemana-mana.

Benci itu, ada seninya. Karena kadar yang berlebihan hanya akan meracuni diri. Itulah mengapa mungkin ada begitu banyak forgiveness therapy, karena ada banyak yang tidak tahu, bagaimana caranya melepas rasa benci.

Tentang benci, aku ingat sebuah doa. Meski mungkin diksinya berbeda. Ghill. Semacam rasa mengganjal dan tidak nyaman dalam hati, tapi fungsinya sebagai pengaman. Seperti baju perang ceunah hehe *lama sekali rasanya tidak menggunakan partikel bahasa itu.

Anyway, let's open the Qur'an, and read that du'a.

QS Al Hasyr ayat 10

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّۭا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". [Surat Al-Hasyr (59) ayat 10]

Last but not least,... Allah mengajarkan Rasulullah bahwa saat seseorang melakukan kesalahan, beliau diperintah untuk mendoakan dan memintakan ampunan, termasuk meminta pendapat mereka dalam musyawarah. Dan kita, sudah "melihat" bagaimana Rasulullah bersikap ba'da perang Uhud. Bukankah kita ingin bertemu dengan Rasul di telaga Al Kautsar kelak? Jadi jangan lagi katakan, "ah, cuma Sunnah". Seorang guru pernah mengajarkanku. Wajib itu dikerjakan berpahala, ditinggalkan dosa. Sedangkan Sunnah, dikerjakan berpahala, ditinggalkan... Rugi pisan. Allahumma shalli wa Salim 'ala Muhammad wa shahbihi wattabi'in. Aamiin.

Wallahua'lam.
 

Keterangan:

[1] Tulisan ini merupakan bagian dari serial kutipan buku yang kulaporkan untuk program 66 hari baca buku @menjadi.arketipe 1 Februari - 7 April 2022. Tulisan lainnya bisa dibaca di #66haribacabuku

Saturday, August 20, 2022

Muslim Produktif

August 20, 2022 0 Comments
Bismillah.


#nukilbuku Muslim Produktif - Mohammed Faris.

Halooo.. apa kabar? Semoga harimu baik dan bahagia ya.. dan tentu saja produktif.

Nah bahas tentang produktif, aku ingin berbagi sedikit dari awal buku Muslim Produktif-nya Mohammed Faris.

***

Tiga Unsur

Di awal bukunya, kita diajak menilik kembali apa sih definisi dari produktif?

Menurut penulis, ada tiga unsur yang harus kita miliki untuk menjadi produktif: fokus, energi dan waktu.

Jika kita memiliki fokus dan waktu, namun tidak memiliki energi: maka kita akan merasa sangat lelah dan lesu untuk menangani tugas-tugas kita.

Jika kita punya waktu dan energi, namun tidak atau kurang fokus. Maka konsentrasi kita akan terus menerus terganggu. Kita mudah sekali melompat dari satu tugas ke tugas lain, yang hasilnya justru kita tidak bisa menyelesaikan tugas tersebut 

Dan terakhir, tentu saja kita tidak bisa produktif jika fokus dan energi kita miliki, namun kita tidak memiliki waktu.

Oh ya, penulis juga menambahkan. Bisa jadi seseorang fokus, memiliki energi dan waktu, namun yang dikerjakannya kurang bermanfaat. Maka itu juga tidak bisa disebut produktif.

Jadi, selain tiga unsur tersebut. Kita juga harus memiliki tujuan dan manfaat.

Terakhir, penulis memberikan kalimat definisi produktif menurutnya.

"Produktifitas adalah tentang membuat pilihan yang cerdas (secara terus-menerus) dengan energi, fokus dan waktu Anda untuk memaksimalkan potensi Anda serta meraih hasil yang bermanfaat."

***

Next...

Penulis menjelaskan tentang hal-hal yang bukan termasuk produktifitas. Aku tulis poin-poinnya saja ya.. kalau penasaran sama penjelasannya, silahkan baca bukunya (: recommended^^

Yang bukan termasuk produktifitas:

1. Produktifitas BUKAN berarti SIBUK
2. Produktifutas BUKAN sebuah KEJADIAN
3. Produktifitas TIDAK membosankan
4. Anda TIDAK bisa SELALU menjadi produktif

Nah... untuk poin ke empat ini, ada kutipan yang ingin kusalin dari buku.

".... Walaupun ada banyak cara untuk mempertahankan tingkat produktivitas dalam hari atau kehidupan Anda, jangan pernah berpikir bahwa Anda adalah sebuah mesin yang dapat bekerja secara konsisten dengan kecepatan dan tingkat produktivitas yang tinggi. Bahkan mesin sekalipun akan rusak jika selalu bergerak pada kecepatan tinggi."

***

Gimana, seru kan bahasan tentang produktifitas? Ini baru definisi ya. Belum bahas praktikalnya.

Doain ya semoga aku bisa istiqomah baca buku ini meski sedikit demi sedikit.

Semoga Allah memberkahi hari kita, dan menyibukkan kita dengan kebaikan. Aamiin.

Selamat berjuang~ we might be far from the best, but we can always strive to be a better version of us. In syaa Allah.

Wallahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


Thursday, August 18, 2022

Books of Quotes

August 18, 2022 0 Comments
Bismillah.

When you're not in the mood to read a long passages. Or when you're in a hurry, but still need to read a book. Maybe a book of quotes is right for you.

***


***

It's August, how's your day? I hope we're all celebrate independence day with gratitude.

Bye 5!

Wallahua'lam.

Thursday, August 4, 2022

A26: Jaga Dirimu!

August 04, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

Helloow 👋

Satu bulan tidak menyapa. Ingatanku terakhir menulis adalah di pekan pertama bulan lalu, pekan tematik 1m1c. Time passed, tema baru di 1m1c muncul. Tapi tulisan ini bukan untuk 1m1c. Izin menyapa saja, prolog sedikit gak nyambung, boleh di skip hehe.

Bagi yang baru membaca blog ini, dan menemukan kode A26 di awal judul. Maksudnya apa? Lalu hashtag di awal tulisan. Apa pula itu?

Aku pernah ikut challenge 66 hari baca buku yang diadakan komunitas arketipe (@menjadi.arketipe). Challenge-nya sudah selesai. Archive kutipan dan insight buku yang kubaca saat 66haribacabuku sebenarnya sudah di publish di story ig @betterwordforlife. Tapi aku ingin menyalin ulangnya lagi di sini.

Lebih ke pengingat diri. Agar bacaan tidak berhenti pada bacaan.

Termasuk quote kali ini. Rasanya malu menyalinnya. I have so many homework to strive to be a better me, but I often forget, and just keeping myself busy with routine life (which not always productive).

Sebelum curcol lebih banyak, let's just check the quotes.

***

☑️ #DAY26-0090

📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi

📑 Quote:

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata sebagaimana disebutkan dalam Al Hilyah karya Abu Nu'aim dan selainnya: "Siapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak akan menjaga dirinya."

Di antara bentuk menjaga ilmu adalah: 'iffah (menjaga diri dari hal-hal yang buruk, hina atau syubhat), menjaga harga diri, tidak tamak, dan tidak meminta-minta pada orang-orang kaya dan tokoh.

Di antara bentuk penjagaan ilmu yang lain adalah menjaga batin dari noda-noda keburukan seperti: ujub, sum'ah, riya', sombong, hasad, nifaq dan ghurur, serta menjaganya dari seluruh kemaksiatan

💡 Insight:

Jaga dirimu... Jangan biarkan ilmu yang sudah dipelajari, sia-sia. Bukankah kita tidak mau menjadi seperti keledai yang mengangkut kitab-kitab yang tebal dan berat? Cek QS Jumuah. Ayat berapa? Read all from start to the end.

***

Wallahua'lam.
 

Keterangan:

[1] Tulisan ini merupakan bagian dari serial kutipan buku yang kulaporkan untuk program 66 hari baca buku @menjadi.arketipe 1 Februari - 7 April 2022. Tulisan lainnya bisa dibaca di #66haribacabuku 

Monday, July 18, 2022

A25: Ilmu Akan Memperbaiki

July 18, 2022 0 Comments

Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku


☑️ #DAY25-0090


📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi


📑 Quote:


... karena ilmu akan memperbaiki, mendidik dan membetulkan yang salah, meluruskan niat, dan membimbing kepada setiap kebaikan. Jadi, ilmu itu terkadang menggiring penuntutnya untuk memperbaiki niatnya.


💡 Insight:


Jangan berhenti belajar saat kita merasa niat kita bengkok, lanjutkan belajar sembari meluruskan niatnya lagi.


Mohon bantuanNya. Hati kita memang begitu, itulah mengapa Allah menyebutnya al-qalb. Itulah mengapa Rasulullah mengajarkan kita doa ini


"Ya Muqallibal Qulub tsabbit qalbi 'ala dinik".


Wallahua'lam.

Thursday, July 14, 2022

A24: Efek Positif dari Konflik

July 14, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

☑️ #DAY24-0090

📖 Resolve Conflicts in Your Life, Dale Carnegie

📑 Quote:

Penelitian menunjukkan bahwa ketidaksepakatan dan masalah dengan rekan kerja atau dalam kehidupan pribadi kita yang terselesaikan secara sukses pada akhirnya menghasilkan rasa saling menghormati yang lebih besar dan hubungan yang lebih positif.

***

Adakah yang pernah berkonflik atau berantem dengan seseorang, tapi setelah konflik itu selesai, kamu justru makin baik hubungannya dengan orang tersebut. Lebih dekat, lebih mengerti orangnya, dan lebih saling menghormati dan menghargai. Coba ingat kembali, apa konfliknya dan bagaimana kamu menyelesaikan konflik tersebut. Termasuk setelah konflik tersebut selesai, bagaimana ada banyak hal positif yang kau dapatkan setelahnya.

Orang-orang yang terdekat denganku, tentu adalah mereka yang paling banyak berkonflik denganku. Beberapa malah menjadi dekat karena konflik. Aku teringat seorang sahabat terdekatku, sejak SD, dan alhamdulillah sampai sekarang masih dekat. Aku ingat konflik awal yang membuat kami renggang, tapi kemudian menjadi dekat lagi setelah konfliknya selesai. Ada bantuan mediator di sana, ada dua orang yang mendamaikan kami setelah lama diam-diaman. Dan alhamdulillah saat ini 4 orang tersebut (aku termasuk hitungan 4) masih berkomunikasi, dan bahkan beberapa bulan yang lalu ngadain projek tukar hadiah. Seru, tiap bulan dapet hadiah dan surat tulis tangan dari temen SD. So sweet isn't it.

Kutipan buku di prolog tulisan ini memang terlalu singkat, jika hanya sekedar dibaca. Tapi semoga kita gak cuma membaca suatu kalimat. Sesekali kita harus merefleksikannya dalam diri kita, menilik ulang, barangkali kita pernah merasakannya. Atau jika belum, kalimat itu seharusnya memotivasi kita untuk memandang sebuah konflik dari kacamata positif. Saat ini kita mungkin memiliki konflik dengan pihak B, tapi kita yakin, saat kita menjaga attitude dan behaviour selama proses penyelesaian konflik, kita kelak akan menemukan bahwa konflik saat ini akan membantu kita memiliki hubungan yang lebih baik dengan pihak B tersebut.

***

That's all I got to write. It's already 8.33. Have a nice morning~ and have a beautiful day^^ Barakallahu fiik^^

Bye 5!

Saturday, July 9, 2022

Arti Sebuah Toga

July 09, 2022 1 Comments
Bismillah.


Sudah beberapa pekan aku tidak menulis untuk #1m1c. Dan saat aku harus menulis, karena sudah terlalu banyak membolos, qadarullah dapet di week dengan tema khusus. Dan tema saat ini, empat huruf yang ada di judul: Toga.

***

It sounds like coincidence. But I know for sure, Allah made sure it happens this way so that I can write about it, finally.

Arti sebuah toga? Sebelumnya aku belum pernah memikirkannya terlalu dalam. Aku sama seperti kebanyakan orang, seolah itu adalah sesuatu yang wajar dari proses hidup seseorang. Dari TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, lalu mengenakan toga. Sesederhana itu.

Tapi kemudian dalam alur hidupku, ada plot twist, *ada yang tahu istilah bahasa Indonesia yang baku untuk frase plot twist? Hehe (:

Dari plot twist tersebut, aku jadi paham, kalau toga bisa berarti lebih rumit dari sekedar proses normal yang biasanya dilalui banyak orang.

Ada yang jatuh bangun untuk mengenakannya. Ada yang memandang jauh, karena tidak bisa mengenakannya. Namun ada juga yang tidak terlalu memikirkannya. Sebuah toga, punya nilai berbeda di mata orang yang berbeda.

***

Membahas tentang toga, aku teringat fakta kecil yang pernah diucap tentang toga. Pertanyaan seseorang apakah topi toga di ITB masih segi empat. Bagaimana pakaian tersebut terkait dengan Islam, meski kini banyak dimodif seolah-olah justru menyerupai pakaian non muslim.

Aku juga teringat sebuah bacaan di buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran yang diterbitkan Yayasan Quran Foundation. Aku lupa penulisnya, tidak menghafal kutipan di dalamnya juga. Tapi ada sebuah tulisan, yang mendeskripsikan haru biru saat ia diwisuda ba'da menyelesaikan hafalannya. Mulai dari perjalanan ia ke kampungnya, menyampaikan ke orangtua, shalat berjamaah, lalu saat wisuda, bagaimana reaksi orangtuanya, bagaimana perasaannya saat berdiri di depan. Dan yang terpenting dan paling membekas di memoriku... Bagaimana penulis mengaitkan peristiwa tersebut dengan sebuah hadits yang biasa dibacakan untuk memotivasi seseorang untuk menjadi penghafal Al Qur'an. Mahkota, dan jubah.

Menulis tentang hal tersebut membuatku ingin menangis TT. Entah aku sedang sensi atau memang baper saja. Rasanya tersindir. Apa kabar dirimu? Sudahkah kau memperjuangkan "toga" yang arti dan nilainya, jauh lebih baik dan berharga ketimbang toga biasa.

Let's not only talk or write about this. Let's pray and try hard for this. Fear but also feeling hopeful. Your heart might be beating fast, but strangely still calm, knowing that Allah sees effort, and continuity.

Semoga Allah memudahkan kita meraih "toga" tersebut. Semoga Allah memberikan kita keistiqomahan untuk selalu dekat dengan kalam-Nya. Allahummarhamna bil Qur'an... aamiin.

Wallahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Friday, July 1, 2022

D+6 Our Mitsaqan Ghaliza

July 01, 2022 1 Comments
Bismillah.

Tidak pernah aku mengira bahwa jawaban doa-doa itu hadir begitu cepat. Sekelebat, sekilas, hingga aku merasa kewalahan untuk memilih respon yang tepat.

Ramadan kemarin, doa yang naik, dan ketentuannya.

Aku teringat, agak tergesa berjalan menuju Alun-alun Purwokerto saat hendak shalat Eid. Menggandeng tangan mamah, sembari meyakinkannya dengan tekanan tangan, bahwa tidak akan terlambat. Tidak perlu berlari, berjalan cepat saja.

Aku teringat, saat pulang menuju rumah, lewat jalur berbeda setelah shalat eid. Dan mamah memberitahuku rahasia, tentang sebuah nama, yang kelak akan bersanding dengan namaku. Saat itu semua masih belum jelas, baru rencana bahwa Ayah hendak memperkenalkanku dengannya. Tapi disembunyikan, entah sejak kapan. Tapi mamah memberi bocoran, supaya aku tidak terlalu kaget dan malah salah memilih respon.

Maka hari itu, selepas sungkem minta maaf, ba'da makan opor ayam. Ayah bercerita tentang sosoknya. Memang bukan CV berlembar-lembar yang aku baca. Tapi penjelasan dari Papah kudengarkan dengan seksama, dengan degub hati yang masih belum jelas arahnya kemana. Yang aku tahu saat itu, sama seperti yang aku tahu sebelumnya, bahwa jika jodoh, in syaa Allah akan dimudahkan.

Lalu waktu berjalan pelan, nazhar. Lalu waktu berjalan cepat, khitbah. Lalu hari itu tiba. 25 Juni 2022. Di Masjid Jendral Soedirman Purwokerto. Mitsaqan ghaliza itu terucap dari lisannya.

***

Alhamdulillah bini'matihi tatimushalihaat.

Terima kasih untuk mamah papah, yang selalu menjadi orangtua terbaik untukku yang serba "kekurangan" ini.

Terima kasih untuknya, yang menjadi jawaban doaku. Semoga janji tersebut teguh, kemudian bersama, kita meniti jalan lurus meraih ridhaNya. Terus mendekat pada-Nya bersama-sama. Tolong menolong dalam kebaikan, saling mengingatkan agar tidak terpeleset ke dalam keburukan. Bersama di dunia, juga di Jannah-Nya lagi nanti. Aamiin.


****

PS:
- Untuk siapapun yang merasa kabar ini terlambat sampai, mohon maaf. Semata karena kekuranganku. Entah berapa banyak nama yang kulewatkan tidak kuberitahu tentang ini. TT
- you are allowed to scold me directly in pm hehe. I never intend to forget, I just so overwhelmed with the whole process, that I skip many things.
- Mohon doanya semuanyaa..

Overwhelmed

July 01, 2022 0 Comments
A lot of things pouring down
like rain, or waterfall
but my immediate respond is run

So I run, pretending the rain is not above my head
as if I am not wet and getting cold

Then I stopped. Then I realize running will never solve anything.

So I turn towards Him, and He open His Doors, ready to accept whatever condition I am.

***

When I stop running, I know for sure, that these are all Allah answer to my prayer.

I might feels like I'm not ready to accept it, that's why I run.

But He knows all. He knows it too... That I am ready. I just need a little bravery to face it.

***

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulilah.

Tuesday, June 21, 2022

A23: Adab, Amalan Tersembunyi, Niat Ikhlas

June 21, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

Another gems from At-Tibyan


****

☑️ #DAY23-0090


📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi


📑 Quote:


Seyogianya seorang murid dididik secara bertahap untuk memiliki adab-adab mulia, dan perilaku-perilaku yang diridai. Melatih jiwanya dengan amalan-amalan yang tersembunyi. Membiasakannya untuk melakukan penjagaan terhadap seluruh perkaranya yang tersembunyi maupun yang tampak. Mendorong supaya semua ucapan dan tindakannya yang berulang-ulang untuk ikhlas, jujur, dan memperbaiki niat, serta senantiasa merasa diawasi oleh Allah 'azza wajall.


💡 Insight:


This is my big homework. Ketika semangat belajar kita sudah ada, lalu kita sudah melangkah dan menyuap sedikit demi sedikit ilmu. PR selanjutnya adalah tiga hal ini. Tiga hal yang tidak mudah dan pasti butuh waktu buat jatuh bangun sembari merendah dan berdoa semoga Allah memudahkan kita.


Semoga kita bukan termasuk mereka yang belajar, tapi adab-nya gak ada. Bukan juga termasuk yang hanya fokus memperbaiki amalan-amalan yang terlihat, lupa bahwa seharusnya ada amal yang kita istimewakan, agar hanya kita dan Allah yang tahu.

Tiba-tiba teringat kisah salah seorang sahabat radhiyallahu anhu yang lewat dua kali dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam dua kali menyebutnya sebagai ahli surga. Sampai sahabat terdekat Rasulullah kepo, dan akhirnya menginap di rumahnya untuk mencari tahu amalan spesialnya. Tapi tidak kunjung menemukannya, hingga akhirnya ia jujur dan bertanya langsung. Dan jawabannya... kebiasaan setiap malam membersihkan hati dan memaafkan orang lain.


Atau tentang terompah Bilal radhiyallahu anhu yang terdengar di Surga. Dan saat ditanya amalan spesial apa yang biasa dilakukannya, dan jawabannnya... shalat dua rakaat sunnah setelah wudhu. TT


Sudahkah kita punya amalan spesial yang tersembunyi dari mata manusia? Sudahkah kita mengamalkannya terus menerus? Sembari berulang memperbaiki niat kita? TT Allahummaghfirli..


Wallahua'lam.


***


PS: I know seharusnya ini tidak ditulis. But let me write this. Sebenarnya aku sedang tidak sama sekali pantas untuk menulis tentang ini. Mengingat beberapa pekan ini aku merasa begitu jauh dari Allah TT But le me just write this to remind myself. 

Thursday, June 16, 2022

Long Time No See

June 16, 2022 0 Comments
Bismillah.

Suddenly remember this blog.

So here it is, some words I read today.

***

Bukan tentang good or bad fortune, tapi tentang cara seseorang dalam menghadapi berbagai hal yang menimpa kehidupannya.

....

Bukan tentang bagaimana seluruh mimpi, harapan, cita-cita harus kita gapai dan terwujud. Tapi tentang tiga keyakinan akan terbalasnya doa:

(1) Allah akan mengabulkan apa yang kita minta;

(2) Allah menunda mengabulkan apa yang kita minta sampai pada waktu yang lebih tepat;

(3) Allah gantikan harapan kita dengan suatu takdir yang bahkan berkali-kali lipat dari apa yang kita harapkan.

#daribuku *I'm Muslim* - Hana Hanifah, PT Elex Media Komputindo

***

Semoga Allah memberikan keberkahan dalam hidup kita.

Selamat menikmati perjalanan hidup. Yang naik turun, yang jatuh bangun, yang manis asam manis, yang gelap dan yang terang.

You might never be perfect. But you can always strive to be better. Right?

Wallahua'lam.

Bye ~ 🌼🌼

Thursday, June 9, 2022

Re-Reading Old but Gold Article

June 09, 2022 0 Comments

Bismillah.


"Ketika kepasrahan itu total tapi harap itu tidak ditutup, Allah akan memberikan  karunia indah yang tidak kita duga." - Yayah Inayah [1]


Aku kira tulisannya sudah tidak bisa diakses, saat linknya di klik dan yang muncul justru peringatan. So I google some keyword, and found what I was looking for.


Jazakumullah khairan untuk Teh Tristi yang sudah menuliskan wawancara tersebut, untuk beliau berdua yang diwawancarai juga. Semoga Allah memberikan keberkahan. It's been 10 years. Yet it still gives me the same inspiration, and a new hikmah.


[1] https://baitijannati.wordpress.com/2012/10/01/samsoe-bassaroedin-dan-yayah-inayah-merintis-kasih-di-penghujung-senja/

A22: Hadir Majelis Ilmu

June 09, 2022 0 Comments

Bismillah.


Prolog. It's getting harder (mentally),to copy paste what I read from Arketipe's Challenge #66haribacabuku.


Sejak hari ke 22, back then, aku mulai hanya melaporkan kutipan buku saja, tanpa insight. Kau tahu kenapa? Karena saat kita harus membuat insight, kutipan itu bukan lagi sesuatu yang ada di luar. Tapi kita berusaha mengambil dan memasukkannya ke dalam diri kita. It's getting personal, in a good way. Ada refleksi yang harus diambil, dan saat refleksi, hikmah, insight sudah dibuat, ada next step-nya. Harus ada amal yang dilakukan. Harus ada gerakan, harus ada perubahan.


Meski dulu, aku cuma melaporkan quotes-nya saja. Saat menyalinnya di sini, aku berharap menambahkan insight. Meski hanya satu dua kata. Aku berharap kata-kata yang baik itu bukan cuma "pajangan", tapi ditanam menjadi benih yang nantinya tumbuh, berbunga dan berbuah.


***


☑️ #DAY22-0090


📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi


📑 Quote:


Luqman berkata kepada anaknya, "Wahai anakku! Bermajelislah dengan para ulama, dengarkanlah tutur kata para ahli hikmah, dan merapatlah kepada mereka sedekat mungkin, karena sesungguhnya Allah 'azza wajall benar-benar akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan curah hujan."


💡 Insight:


I've been complaining a lot in this blogs, how I felt my heart is harden. Bagaimana ia mengeras, dan seolah tidak bergetar lagi. Lalu mendekat pada Quran, memberikan "hujan" dan melunakkannya lagi. Ternyata, ada lagi, hal lain yang bisa menghidupkan hati yang mati. Mendatangi majelis ilmu.


Seburuk apapun kondisimu, serendah apapun posisimu saat ini, dorong dirimu untuk pergi ke masjid, meski di ujung belakang, mendengarkan kajian ilmu di sana. Mungkin suaranya tidak sejelas saat kamu duduk di depan, tapi para ulama dan ahli hikmah tersebut, karena hubungan mereka (hafizhahumullah) dengan Allah, keberkahan ilmunya akan menyentuh, bahkan hatimu yang kau kira mati dan tidak bisa hidup lagi.


Buka buku yang didalamnya terdapat nasihat dan kata-kata hikmah dari para ulama. Baca satu, dua halaman. It will gives you more healing, than whatever wonderful trip you wish you can go. Jadi teringat salah satu nasihat Al-Ustadz. Manusia itu, terdiri dari ruh dan jasad. Namun kadang kita lupa, dan hanya fokus memenuhi kebutuhan jasad. Padahal ruh kita juga butuh healing. Jasad kita butuh healing, entah dengan makan-makanan enak. Or having a relax day on some beautiful resort out there. But our ruh need it too. It needs to be feed with lots of ayah from the Quran. Dan ia juga butuh untuk sejenak 'menaiki mesin waktu' dan mendengarkan nasihat pada ulama salaf.


Beneran deh, untukku terutama, dan untuk siapapun yang mungkin membutuhkan pengingat tentang ini. hadiri majelis ilmu. Physicly is good. Tapi kalau hadir secara fisik gak bisa, minimal, dengarkan kajian online, hadiri pertemuan dunia maya yang di dalamnya mengingatkanmu pada Allah, dibacakan nasihat para ulama.


I felt ashamed writing this actually. Karena aku sendiri masih jatuh bangun dan sering lalai. Harus ada prioritas, sehingga kita meluangkan waktu. Bukan sekedar daftar, kemudian lupa dan tidak hadir. TT


***


Curcol satu lagi boleh. I've been reading At-Tibyan for like... forever, but I haven't finished it yet. Isinya dipenuhi ilmu yang menggedor-gedor hatiku, bertanya-tanya, do you just read it, without practicing it? Berat banget, mentally. I know, bertumbuh itu butuh proses. Tapi aku juga tahu, aku terkadang tidak berjalan dengan kecepatan yang sebenarnya aku bisa. I know I stumble upon unneccesary things. Still often drowning in distraction. But...

Can someone pray for me? I love studying, but I'm afraid of the consequence of it. Aku takut banyak baca, banyak nulis, tapi nol di praktek. I don't want to be someone like that.


Can someone pray for me? Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang kita baca/pelajari. Can you just pray for youself, berlindunglah pada-Nya, dari apa-apa yang kau takuti.


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’, wa min qolbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min da’watin laa yustajaabulahaa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan”. [1]


Wallahua'lam.


***


Keterangan:

[1] sumber: https://bekalislam.firanda.com/3596-doa-berlindung-dari-ilmu-yang-tidak-bermanfaat-dan-hati-yang-tidak-khusyu-jiwa-yang-tidak-pernah-puas-dan-doa-yang-tidak-mustajab.html

Wednesday, June 8, 2022

Still On Run

June 08, 2022 0 Comments
Bismillah.

Hari-hari ini seharusnya lebih baik, tapi mengapa justru begini?

Berlari, di luar track ><


***

It's not time for this Bell! Let's get back on track.

If you're helpless, ask for His Help.

Jangan bergantung pada diri. Jangan bersandar pada kaki yang lemah.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

semangaaaat 🍉🍉

Saturday, May 28, 2022

Perjalanan Menulis Isabella Kirei

May 28, 2022 0 Comments

Bismillah.

Challange dari kulwap malam itu di grup KMK dan EMC. In syaa Allah saya post di grup KMK saja. Satu saja cukup hehe. (back then in 2018 maybe, I thought if I republished this draft, it will be on that date, but... yaudah sih hehe)


***


Saya pernah baca di blognya Mba Sinta Yudisia, salah satu penulis ternama di Indonesia, kalau membaca dan menulis adalah sepasang kekasih. Aku.. pernah jatuh hati kepada keduanya. Masih jatuh hati, pada salah satunya. Dan sedang berusaha jatuh hati lagi pada kekasihnya juga.


Yang pertama kukenal adalah membaca, baru kemudian aku mengenal kekasihnya, menulis. Aku ingat, bagaimana awal aku belajar membaca karena ingin ikut-ikutan semua aktivitas kakak yang usianya hanya 13 bulan lebih tua dariku. Aku ingat, bagaimana ayah membelikan bundel majalah bobo bekas. Bagaimana bundel yang setebal novel Harry Potter tersebut kuhabiskan dalam satu malam. Semuanya, dari surat pembacanya, komik bobo, nirmala, cerpen di dalamnya, semuanya. Pengalaman pertama begadang karena membaca, ya aku jatuh hati pada membaca.


Duduk di sekolah dasar aku mengenal menulis. Mungkin karena mereka sepasang kekasih, tanpa sadar aku mulai jatuh hati pada menulis juga. Aku rutin menulis di diary, kuhabiskan dua tiga buku, dari yang sederhana, sampai yang bergembok. Aku juga suka menulis puisi, mungkin belum pantas disebut puisi, hanya barisan kata yang terpisah dalam bait. Binder anak seusiaku yang biasanya hanya berisi biodata teman sekelas, kupenuhi dengan puisi kanak-kanakku.


Duduk di sekolah menengah pertama. Aku mengkonsumsi banyak buku fiksi. Lalu terdengar kabar ada seleksi siswa yang akan menjadi perwakilan lomba menulis cerpen. Kuberanikan diri menyerahkan cerpenku pada Bu Budi, guru Bahasa Indonesia yang sangat lekat di memoriku. Dibimbing Bu Budi aku diajarkan menulis cerpen yang baik, juga menulis tangan yang rapi. Karena Bu Budi lebih suka aku menyerahkan tulisanku, bukan hasil cetakan, tapi tulisan dari jemariku langsung. Alhamdulillah pernah menyicip juara 1 lomba menulis cerpen tingkat kabupaten dua kali. Di masa ini juga aku belajar menulis non fiksi, karena pernah bergabung di ekstrakulikuler jurnalistik, yang paling melekat saat belajar pengertian dan cara menulis tajuk dari Pak Agus.


Duduk di sekolah menengah akhir. Aku banyak menulis puisi lagi, bukti bahwa selain pada menulis dan membaca, aku juga pernah merasakan jatuh hati pada manusia. They call it first love, but I'd rather call it, strange feeling inside. Di masa itu aku ikut organisasi Suryakanta1,   juga Rohis. Semuanya terkait dengan tulis menulis. Meski tidak mengikuti lomba menulis individu, kami (tim suryakanta1) pernah bertarung membuat mading, dan dapat juara. Di akhir masa putih abu-abu ini juga, aku mulai aktif menulis di blog yang pernah kubuat saat SMP hasil pelajaran TIK.


Kuliah. Banyak menulis di blog. Semua unit kemahasiswaan hampir selalu masuk divisi media. Di sini aku mulai melupakan kekasih menulis. Rasanya membaca tidak ada waktu. Menulisku tetap jalan, karena selain dari membaca, bahan tulisan bisa dari pengalaman, dan informasi yang kutangkap dari ucapan orang-orang sekitar, atau guru-guru kehidupan. Selama masa itu, keinginan menerbitkan buku selalu ada, namun hanya naik turun di level keinginan, belum sama sekali masuk ke level eksekusi.


Pasca kuliah. Aku tahu dan paham kalau menulis di blog adalah zona nyamanku. Aku cukup puas menulis di sana, dibaca oleh orang-orang yang tidak sengaja melintas. Aku tahu dan paham, aku tidak boleh berhenti di sini. Maka aku mulai telusuri lagi, apa yang salah, apa yang tertinggal. Dari sana, aku teringat kekasih menulis. Membaca.


Saat ini. Aku masih berusaha jatuh hati lagi dengan membaca. Draft buku? Sudah ada, bahkan bahannya sudah ada, puluhan tulisan di blog yang bertema senada. Tapi seperti materi yang disampaikan di grup KMK, aku kehilangan poin pertama (strong why) yang bisa membuat keinginanku menerbitkan buku terwujud.


Saat ini. Hanya sebagian kecil dari perjalananku menulis. Doakan aku, semoga jika niat ini baik, semoga Allah menguatkan tekadku untuk merampungkan draft dan segera mengirimkannya ke penerbit.


Terakhir, izinkan aku menuliskan sebaris doa dari Ustadz Fauzil Adhim, yang kubaca dipengantar salah satu buku Ustadz Salim A. Fillah,

Semoga Allah bangkitkan kebaikan dan kekuatan, melalui setiap kata yang mengalir dari ujung jari kita. Sungguh sebuah buku dapat mengubah jiwa manusia dan nasib dunia.. -M. Fauzil Adhim


Isabella Kirei - Purwokerto
Ini tulisanku, mana tulisanmu?


***


Jadi Bel, sudah siap melanjutkan perjalanan menulismu? Atau mau berhenti lama di zona nyaman ini?

Wallahua'lam bishowab.


--end of draft that time

***


Tambahan, waktu sudah berlalu lama sejak materi tersebut aku simak, grup KMK sekarang sudah nonaktif. Aku sudah membuat beberapa e-book, menerbitkan antologi saat memberanikan diri ambil amanah PJ KMO Club, dan sekarang sedang menunggu dan berdoa semoga pengkaryaan guidelight batch 3 segera bisa sampai di tangan. Buku solo? *tiba-tiba teringat, orang-orang yang tidak paham istilah buku solo, karena memang mereka tidak berkecimpung di dunia tulis menulis hehe. Sedihnya, masih sama, strong why-nya masih belum terbentuk. Aku masih terlalu nyaman bersembunyi di sini, sesekali saja mengimport tulisan ke medium, tulisan tentang buku. Keinginan itu memang belum kuat, tapi masih ada, selalu sayup-sayup menggema setiap kali kulihat buku dengan isi dan layout, cover yang ciamik. Aku juga ingin punya yang seperti itu hehe.


Qadarullah juga, beberapa waktu yang lalu pernah sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan dari salah seorang anak kecil, yang bertanya apa mimpiku. Dan lebih terkejut lagi saat aku jujur menjawab "penulis". Walaupun sekarang malu sih, karena sudah jarang menulis jika dibandingkan dulu. Lebih sering memilih hal lain yang tidak produktif, dan sama sekali bukan tangga ke 'puncak' yang ingin aku tuju.


Anyway, kupublish ini untuk memotivasi diri lagi. Here's your journey, would you like to level up? Mohon doanya.. TT


Sekian. Maaf banyak cerita tentang diri dan curhat.


Kamu, apa mimpimu? Semoga Allah memudahkan dan memberkahi perjalananmu mewujudkannya yaa~ Semangaat! Bye 5~

Thursday, May 26, 2022

From Draft 26 Februari 2018

May 26, 2022 0 Comments

Bismillah.


Tidak semuanya layak untuk dibaca publik, tapi sedikit, izinkan kusalin di sini, semoga bisa jadi pemicu, jika suatu saat membaca ini, jadi menulik draft lagi. Karena pesan dari kakak yang harus dibaca berulang, pengakuan diri yang harus dibaca berulang juga. Agar tidak tenggelam dan lupa.


***



***


I'm far from good, to learn better. But I don't want to give up. I really, really want to be the better version of me, wishing to die on my best version. Semoga keinginan ini mengakar erat, tumbuh menjadi pohon yang bebunga dan bebuah amal.


Last,.. let me put a dua here.



Semoga Allah menjadikan kita termasuk at-tawwabin, dan menjadikan kita termasuk al mutathohhirin.


إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al Baqarah ayat 222)

(:

Wallahua'lam.

A21: A House in Jannah

May 26, 2022 0 Comments

 Bismillah.


#menjadiarketipe #66haribacabuku


☑️ #DAY21-0090


📖 Rasulullah Sang Pendidik, Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin


📑 Quote:


"....Dan berilah kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di dalam surga, yang di dalamnya tidak ada kegaduhan dan tidak ada kesusahan." (HR. Bukhari dari Abi Hurairah)


💡 Insight:


Berita gembira dari Jibril, untuk Ibunda Khadijah. (':


Ingat lagi betapa besar peran beliau radhiyallahu 'anha dalam dakwah Islam. Keimanannya, pengorbanannya.


The question is, don't we also want a house in Jannah?


Let's listen more, obey more and spend more. (recall QS 64:16)


***


Teringat hadits lain, tentang orang-orang yang tidak menginginkan masuk surga. Kita pun heran, bagaimana mungkin seseorang tidak menginginkan masuk surga?


كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga

Sumber: https://muslim.or.id/23102-orang-yang-enggan-masuk-surga.html


Semoga kita bukan termasuk mereka yang enggan masuk surga. Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk memasukinya. Aamiin.


Wallahua'lam.

Tuesday, May 24, 2022

Link Diblokir/Dikira Spam di Twitter?

May 24, 2022 0 Comments
Bismillah.

Padahal tadinya mau nutup dengan tulisan 1m1c, tapi qadarullah nemu kasus kaya gini. Sayang kalau gak ditulis. Karena bisa jadi bantuan buat yang lain.

***

Jadi aku buka twitter. Niatnya mau copas keterangan 1m1c. Nah, tweet terakhir share link #bacatulisanlama. Anehnya pas aku klik, dapet peringatan coba?

"Why?" Satu kata itu. Sebel banget, padahal itu kontennya jauh banget dari tuduhan yang ditulis di sana.

Lebih kesel lagi pas baca kebijakan URL, terus ya, ketentuan apa-apa aja yang di spam/diblokir/dikasih peringatan.

Aku buka link dari blog ini yang aku posting di 1m1c , dan ya normal. Tapi kenapa??

***

Jadi deh aku laporin ke twitter.

and then this.

ini contoh yang salah. aku kira url yang dikira spam. ternyata url tweet kita. jadi deh, aku coba klik tweetnya dan copas link panjangnya. Bukan link pendek t.co-nya

Done. Tinggal menunggu. I'll inform later in comment or edit this post, if my report is processed or not.

Sekian.

***

PS: ini yang bikin aku sebel sosmed. We can't deny that it is made by nonmuslim and they ban a lot of things from muslim, termasuk berita tentang Palestina. TT Ya Allah sedih kalau inget, kadang kita --i mean, aku, terlalu egosentris sampai lupa mendoakan bagian tubuh kita, yang jauh di sana. Aren't we one ummah? TT anyway. social media are like knives. use it wisely. #ntms

A20: Keep 'Cool' While in Conflict

May 24, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

☑️ #DAY20-0090

📖 Resolve Conflicts in Your Life, Dale Carnegie

📑 Quote:

"Kapan pun Anda terlibat konflik dengan seseorang, ada satu faktor yang bisa membuat perbedaan antara merusak hubungan Anda dan memperdalam hubungan itu. Faktornya adalah sikap." -William James

💡 Insight:

Keep your manner. Jaga adab dan akhlak meski sedang ada konflik.

Semoga Allah lapangkan dada kita untuk tetap "stay cool". Seperti salah satu ciri 'Ibadurrahman (cek QS 25:63)

***

Pelajaran menjaga sikap saat berkonflik ini ada banyak banget di islam. Dari mulai perintah untuk tidak marah, dan menjaga biar kemarahan gak menguasai diri kita sampai misal kita lupa diri (e.g. say something we didn't mean). Itu satu.

Trus tentang mendiamkan saudari lebih dari 3 hari. Ini jugaa jleb banget pas denger penjelasan haditsnya. Masa sih kita memilih untuk mendiamkan saudara kita (sesama muslim), kalau kita tahu itu bakal jadi penghalang dari amal shalih kita untuk diangkat dan diterima? Ini dua.

Satu lagi yang terlintas di otakku pas nulis ini. Tentang maaf. Ini tuh sesuatu banget. Apalagi kalau denger kisah teladan dari Rasulullah dan Abu Bakar.

Rasulullah, saat setelah perang Uhud. Penjelasan ayat "fabima rahmatimminallahi lintalahum". How to stay soft and gentle to the one who make mistakes. How to forgive, pray for them, and even ask for their opinion, after what happen in Uhud. Salamun 'alaika Ya Rasulullah. Allahumma shalli wa salim wa barik 'alaih.

Dan Abu Bakar, sikapnya saat harus memaafkan saudaranya, yang ikut menyebarkan berita ifki tentang Aisyah Radhiyallahu anhuma[1]. Ayat yang Allah turunkan, dan sikap beliau. Kalau kita mau membayangkan di posisi beliau, kita akan tahu betapa beratnya memaafkan dan tetap melanjutkan memberi sedekah, setelah sebelumnya pernah bernazar untuk berhenti. Tapi kecintaannya pada ampunan dan maaf dari Allah, membuatnya segera memenuhi perintah Allah.

***

Conflicts are inivitable in our life. We will face it, not only once in a while. Jangankan sama orang lain, sama diri sendiri juga akan sering terjadi. Saat itu, semoga kita bisa menjaga sikap kita. How to stay cool while in conflicts? The answer is, by keeping our heart cool. And how is it cool, by remembering Allah and the sunnah. Dan harus banyak belajar agar tahu ilmunya. Dan harus banyak latihan agar makin mudah mempraktekkannya.

Semangat~ Terutama untukmu yang sedang berada dalam sebuah konflik. Seen or unseen. Within yourself or with other people. Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk menjaga sikap meski ditengah bisingnya konflik. Aamiin.

Wallahua'lam.

***

Keterangan:

[1] Dulu, aku pernah bertanya-tanya, kenapa kalau disebut Abdullah bin Umar, "radhiyallahu anhuma" ditambahkan. Pernah mikir, apakah ada dua orang? Sampai nemu jawabannya. Ternyata, sunnahnya saat dibacakan nama anak dari sahabat, kita mendoakan keduanya, untuk anaknya, juga ayahnya. *walaupun untuk tulisan ini, gak tahu bener apa gak pemraktekkannya. cmiiw

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Why do I...?

May 24, 2022 0 Comments
Bismillah.

Kenapa hanya di saat-saat seperti ini aku teringat begitu banyak hal yang aku ingin lakukan?

***

I'm afraid I'm still wandering without knowing where I will go. Or what exactly the thing that I should put priority to.

***

Ramadhan kemarin, punya target buat konten untuk instagram @betterword_kirei. Membuka lagi lembaran buku Madarijus Salikin. Menyalin beberapa kutipan, kemudian tersadar. Betapa kalimat tersebut tepat sasaran untukku.

Aku tidak mau menjadi orang yang panjang angannya, lebih banyak bicara (menulis) tapi nol dalam aksi.

Saat aku membagikan berbagai kutipan dari buku-buku, aku ingin aku juga belajar mengamalkannya, pelan tak mengapa, tapi jalan. Dan tentunya tidak ada jalan di tempat di jalan yang lurus ini. Saat kita tidak maju, pasti kita mundur ><

***

Aku pernah dan masih bermimpi menyusun sebuah buku. Kemudian aku dipertemukan fakta, bahwa barangkali, lebih baik membagikan tulisan yang sudah ada dalam buku-buku yang banyak tak tersentuh karena who read a book, literally, in this social media era?

Maybe, if I could just pick up their curiosity, with a quotes, people will come and look for the book, and read it. They'll know how shallow is my writing, and found more beautiful lesson from reading a book, instead of scrolling on social media.

**ahh.. who i am talking to?
I think the paragraph above is actually for me. Who struggle to even read a page a day. Bye bye ladybook. Now I am really have to force myself to read even when I'd like to do another thing that looks more entertaining.

***

So this is a late night selftalk. Doakan ya, semoga konten kutipan dari buku Madarijus Salikin segera terbit hehe.

Ada satu buku lagi juga, yang menanti dijadikan konten setelahnya. Biar genap jadi 9 post tentang buku. Habis itu biar bisa move on ke tema yang baru. Entah itu memilih tulisan dari blog ini, dan dikemas ulang. Atau, maybe, write a simple tadabbur.

***

Talking about tadabbur, here's a challenge from @guidelight.id

Malu sebenernya ngajakin ini, tapi aku sendiri lagi di fase jarang banget tadabbur. TT hiks. semoga Allah memudahkan kita untuk mentadabburi ayat-ayatNya.

Bukankah tadabbur berhubungan dengan kondisi hati?

Afala yatabbarunal Qur'an? Am 'ala qulubin aqfaluha?

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? [Surat Muhammad (47) ayat 24]

Terakhir. I know it rather strange. Cause not may people do this. But let's finish this writing --and reading *for someone who somehow end up reading this till the end--.

Let's finish with kafaratul majlis. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wallahua'lam.

****

PS: kalau banyak salah, baik secara konten atau grammar, or anything. Boleh banget dikoreksi, silahkan tinggalkan komentar, bisa anonim (:

Sunday, May 22, 2022

Run

May 22, 2022 0 Comments
Bismillah.

*warning* personal, abstract

***

Feels like I've been running from something, somehow, in someway.

Rasanya ingin menghindar dari banyak hal. Rasanya ingin mendistraksi diri dan menyibukkan diri dengan kerjaan, ingin lebih banyak tidur. Ada banyak yang harus dihadapi dan ditindaklanjuti, tapi aku merasa belum siap, maka aku lari, entah dari apa, dan dengan cara apa.

Kuingat lagi tulisan lama tentang firar, kemudian berharap cemas aku tidak berlari dari hal baik ke yang buruk. Berharap aku bisa berlari ke Allah saja. Tapi kenyataannya aku limbung, berputar, lalu kembali lagi, kemudian tersandung, tidak sampai jatuh, tapi cukup memberi rasa perih di ujung kaki.

I'm on run. from something, I may be knew, but I don't want to acknowledge it.

And here I am, comeback to write, to connect myself to reality again. Like back then, when running become my disease. Bedanya dulu aku berlari menuju hutan, makin tersesat. Kali ini masih terkadang berbelok ke arah yang salah, tapi saat sadar, berusaha menyusuri lagi jalan yang benar.

***

I'm gonna end this run. By opening this blog to public again. Didn't actually know the reason why I change it to private few days ago. Padahal aku tidak menambahkan satu tulisan apapun di sini. Ah, mungkin karena aku juga berlari dari menulis. Benangnya terlalu kusut, untuk diurai dalam diksi dan kalimat. Sebenarnya kini pun, masih ingin menutup rapat-rapat pintu, entah pintu apa. Tapi aku tahu, aku harus membukanya, berhenti bersembunyi, kemudian menemui yang harus ditemui.

Sebelum menambah deretan kalimat tidak jelas lainnya. Mari akhiri tulisan ini. Dengan rasa syukur dan haru. Karena sungguh, aku berlari, terkadang menjauh, kemudian menyeret diri mendekat lagi pada-Nya. Dan kutemukan lagi dan lagi pintu-Nya terbuka, dan tidak ada yang lebih menenangkan daripada berkeluh kesah padaNya. I have a complicated feeling here, unresolved, unraveled. Dan Allah Maha Mendengar. He hears, even to the feeling that I can't properly spell. Doaku, semoga tidak kembali berpaling, setelah mengetahui betapa lembut dan melimpah kasih sayang-Nya.

Let's run only to Allah. Let's run only towards goodness.

Laa haula walaa quwwata illa billah.

Wallahua'lam.

A19: Kesabaran

May 22, 2022 0 Comments
Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku

☑️ #DAY19-0090

📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi

📑 Quote:

"Sabar secara bahasa adalah menahan (al-habsu), adapun secara syar'i adalah menahan jiwa dari sikap tidak sabar, lisan dari keluh kesah, dan anggota badan dari kemaksiatan."

💡 Insight:

Mari melatih kesabaran, menabungnya. Semoga kelak bisa diberi ucapan selamat.

Allahummaj'alna minashshabirin. Aamiin.

Wallahua'lam.