Follow Me

Friday, January 29, 2016

Senang Berjumpa Kembali

January 29, 2016 0 Comments
Bismillah..

long time no see
Alhamdulillah akhirnya menyempatkan buka dashboard blog dan menulis di sini lagi. Terakhir post sebenarnya Oktober 2015 lalu. Takjub ternyata sudah satu tahun hehe, sudah beda tahun, tapi rentangnya sekitar tiga bulan.

Selama tiga bulan "vakum" di sini, aku tetep nulis kok. Ada beberapa draft di OneNote yang in syaa Allah hari ini akan di post sesuai tanggal draft. Biar ga kelihatan banget vakumnya hehe.

Oke tak mau berpanjang kata, barangkali ada yang berkunjung, silahkan dibaca dan dikomentari. Terimakasih.

***

Terakhir untuk diri, semoga menjadi pribadi yang makin produktif.

PS: Tiap gambar/ilustrasi foto bukan milik saya, klik di captionnya in syaa Allah nanti menuju ke asal muasal gambar itu.

Thursday, January 28, 2016

Mana yang Lebih Sulit?

January 28, 2016 0 Comments
-Muhasabah Pribadi-

Bismillah.

merajut dengan rapi, tak terlalu renggang, tak terlalu rapat
Merapatkan yang renggang, menyambung yang putus, mana yang lebih sulit? Bagiku keduanya sulit. Tentu saja sulit jika dari awal tidak ada niat untu memulai. Tentu saja sulit karena yang dilakukan hanya diam dan tak bergerak. Tentu saja sulit... akan ada banyak alasan yang membuatku kesulitan, juga akan muncul beribu excuse dalam diriku.

Merapatkan yang renggang, menyambung yang putus, mana yang lebih sulit? Bagiku keduanya tidak mudah. Tentu saja tidak mudah merapatkan sesuatu yang jaraknya bukan selebar sela-sela jari. Tentu saja tidak mudah, perlu usaha lebih agar yang jauh mau mendekat, yang dekat mau merapat. Tentu saja tidak mudah... akan ada banyak alasan yang membuatku meragu, juga timbul berkali-kali pikiran negatif dalam diriku.

Sunday, January 10, 2016

Can't Change My Way

January 10, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

Ini tentang cerita jalan dan kendaraan yang berlalu lalang di atasnya. Ada yang tahu ada berapa jenis jalan? Jawabannya akan bermacam-macam, tapi itu tidak terlalu penting bagi Clara. Ia hanya teringat satu jenis jalan, jalan satu arah. Berada di situasi ini seperti ia ingin berbalik di jalan satu arah. Tidak bisa, bagaimana terpaksanya tetap saja tidak bisa.

Pagi itu karena sebuah acara, ia diminta membeli snack untuk pembicara. Ia memilih berjalan kaki karena memang hari Ahad adalah hari Car Free Day. Tidak ada masalah, karena memang tidak terlalu jauh dan ia memang senang berjalan. Clara melihat ke jam tangan dan mempercepat langkahnya karena sebentar lagi acara dimulai. Ini mudah, karena hari itu spesial, tidak banyak pedagang di trotoar, sengaja dikosongkan karena akan ada pawai Konferensi Non Blok kalau tidak salah. Tapi kemudahan itu perlahan menghilang saat tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan sesosok ikhwan mengenakan jaket himpunan Clara.

Awalnya Clara mengira  itu adalah adik tingkatnya, namun semakin dekat ternyata bukan. Mungkin masih sekitar dua puluh langkah lagi untuk benar-benar berpapasan, namun langkah Clara makin melambat. Rasanya Clara ingin berbalik, berpapasan di jalan lebar dan sepi ini somehow membuatnya merasa tidak nyaman. Ia terus menundukkan kepala dan melanjutkan langkahnya dengan kecepatan maksimal. Baginya, jika harus berpapasan, maka lebih cepat lebih baik. Namun baru beberapa langkah, ia melihat sosok di depannya berbelok dan memilih menyeberang. Saat itulah Clara menghela nafasnya, dan pelan berbisik, "Terima kasih". Sebuah kata yang mungkin tidak di dengar sosok yang sudah berada di trotoar seberang jalan.

***

Udah selesai, hehe. Lagi pengen banyakin nulis hehe, maaf ya kalau dikit-dikit.

Pesan untuk tulisan ini: Aku tidak tahu tentang temen-temen perempuan lainnya. Tapi aku pribadi ga terlalu suka kalau berpapasan dengan orang yang kukenal dan bukan mahram. Antara males dan bingung harus bersikap gimana. Pengalaman disebut sombong soalnya karena sering pura-pura ga kenal. Biasanya kalau bisa menghindar, aku lebih memilih lewat jalan lain, jalan yang jarang dilalui orang. Jadi inget quotes-nya Robert Frost.

and that has made all the difference



Jadi panjang ya? J maaf..

Bukan Itu Maksudnya...

January 10, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

please come to our house
Udara dingin makin mengepung ayah dan anak gadisnya di Stasiun Bandung malam itu. Mereka sedang menunggu kedatangan kereta yang akan mengantar mereka ke kampung halaman. Mungkin orang-orang menyangka orangtua mahasiswi itu begitu protektif, karena tidak pernah membiarkan anaknya sendirian selama perjalanan ke Bandung atau dari Bandung. Mungkin teman-teman mahasiswi itu menyangka gadis itu ikut aliran agama yang keras, karena tidak mau safar tanpa mahram. Tapi banyak juga yang tidak berprasangka, mereka hanya melihat seorang anak gadis yang begitu dekat dengan ayahnya.

Seperti biasa momen menunggu diisi dengan obrolan panjang. Obrolan yang menanti dibagi setelah hampir satu semester tidak bertemu. Obrolan tentang sang kakak yang sedang berproses menuju pernikahan dengan seorang ikhwan di Pulang Nusa Tenggara. Obrolan tentang hal-hal kecil sampai yang besar.

"Tadi siang Ayah ketemu sama kakak tingkatmu," ucap ayah dilanjutkan dengan deskripsi orang itu. Anaknya mengingat nama kakak itu, mahasiswa itu kenal dengan sang Ayah karena di suatu acara kakak itu menjadi LO Ayah sang gadis. Mungkin karena sering bertemu saat di Bandung, tanpa sengaja Ayah melontarkan pertanyaan yang tidak disangka sang kakak tingkat. Sebuah pertanyaan sederhana, "Kapan-kapan main ke rumah ya?"

"Mukanya langsung berubah dan ia terdiam," lanjut Ayah. Pertanyaan tadi memang bisa diartikan berbeda, sama seperti anggapan orang-orang tentang Ayah dan gadis tadi.

Maksud Ayah bukan "main ke rumah" yang artinya menuju ke pernikahan. Bukan itu maksudnya. Ucapan ajakan main ke rumah, cuma ucapan kebiasaan ayah sebagai dosen yang mengajak mahasiswanya main ke rumah.

Kereta yang datang menghentikan obrolan mereka. Obrolan mereka memang sudah selesai, tapi sang gadis terus memikirkan hal tersebut. Berdoa dalam hati, semoga kakak itu tidak salah menangkap, dan juga segera melupakan pertanyaan ayahnya.

***

Pesannya: Kita tidak bisa mengatur cara pandang orang lain, bagaimana mereka menangkap perkataan kita. Yang bisa kita lakukan jika ada miskomunikasi adalah dengan komunikasi juga. Namun tidak semua anggapan orang lain harus kita respon.

Friday, January 8, 2016

Berpisah Tanpa Pamit

January 08, 2016 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Mungkin sudah pamit, namun merasa kurang. Sedikit curhat, seperti kemarin malam saat masuk travel lupa mencium tangan Mamah. Seperti hari ini saat terbangun dan mendapat pesan dari Mamah kalau Papah sudah di bis menuju ke rumah. Dan karena dua kejadian itu hujan riuh menuruni kedua bola mataku.

rails
Aku mencoba untuk tidak baper tapi gagal. Saat kedua momen itu terulang di lintasan pikiran, maka mataku kembali memanas. Ada prasangka, yang harus di buang. Ada memori, bahwa aku dulu pernah merasakan hal sama, saat hendak study tour, sudah pamit, namun saat bis berangkat mata memanas dan rintik hujan turun. Masih memori, bahwa aku sekarang tahu mengapa waktu itu mamah dengan mata berkaca bertanya padaku, "Seneng ya balik ke Bandung?". Ada juga lintasan pikiran lain, mencoba mengambil hikmah.

Berpisah tanpa pamit, selain kejadian kemarin dan hari ini, aku juga teringat tentang kematian. Betapa masing-masing dari kita tidak bisa pamit karena tidak tahu kapan berpisah dengan dunia dan sanak keluarga. Beberapa orang mungkin diberikan kesempatan berwasiat, tapi yang ditinggalkan merasa belum siap. Beberapa bahkan... Tak sempat sekedar memberi tanda baik dalam kata maupun sikap bahwa mereka akan pergi.