Follow Me

Tuesday, August 27, 2019

Berjumpa Orang-orang Lama

August 27, 2019 0 Comments
Bismillah.

#fiksi

Hari itu, aku tahu aku akan berjumpa orang-orang lama. Tapi aku tidak tahu, akan berjumpa dengan sosoknya.

Aku mencium tangannya saat berjabat tangan. Ia kemudian menarik tubuhku dan memelukku pelan, kemudian dengan kehebohannya bercuap tentang jumlah tahun yang terlewati tanpa jumpa. Ibu paruh baya itu kini sudah mengenakan kerudung.

"Kenapa ga pernah main ke rumah? Sombong ih," ucapnya, aku hanya tersenyum. Aku pernah kerumahnya, saat persiapan lomba koor kelas. Menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah. Aku yang selalu terpengaruh dengan anak-anak kelompok suara dua.

Ia bertanya kabar, rencana menikah, dan pertanyaan standar lain. Aku jawab pendek, dengan senyuman. Aku tahu Ibu itu tidak benar-benar membutuhkan jawabanku. Ada lebih banyak hal yang ia ingin bicarakan ketimbang mendengarkanku.

Ia kini bercerita tentang tinggiku saat itu. Kedua tangannya mengantup wajahku, masih tidak percaya, bocah kecil itu kini sudah menjadi sepertiku saat ini. Sebenarnya aku tidak nyaman, di tempat umum, diperlakukan seperti itu. Tapi aku memakluminya, baginya aku masih kanak-kanak yang dulu ia ingat. Pipiku yang tidak chubby kena 'jewer' berkali-kali. Saat itu aku iseng berpikir, 'apa ibu itu sedang elastisitas pipi gadis seumurku?'

Seorang teman menyelamatku, dan kami pamit. Temanku juga sama seperti ibu itu, lama baru bersua lagi denganku. Ada beberapa hal yang membuatku lebih betah sendiri, meski sebenarnya aku dan mereka tinggal di kota yang sama. Ya... ada beberapa hal.

"Tuh kan, banyak yang kangen... jangan ngilang-ngilang lagi ya?" ucap temanku, saat aku pamit.

"Kalau ada kumpul lagi, dateng ya..."

Aku hanya menunjukkan barisan gigi, karena tertangkap basah, sebelum-sebelumnya aku hanya membaca saja, tanpa pernah berkeinginan bertemu.

***

Berjumpa dengan orang-orang lama seperti masuk ke lorong waktu. Karena setiap orang yang kutemui, memiliki memori tersendiri dalam hidupku. Memori yang berwarna, serta berasa. Warnanya bukan sephia. Dan rasanya, tidak selalu manis, lebih banyak terlalu asin, atau kecut dan sedikit pahit.


The End.

Sunday, August 25, 2019

Always Better

August 25, 2019 0 Comments
Bismillah.


Bedanya di rumah sama di perantauan, surat izin berkegiatannya lebih susah keluar pas di rumah. Kalau di rantau dulu, sifatnya lebih ke laporan. "Mah, aku malem ini mabit di sini, ikut acara ini, keluar kota kondagan ikut rombongan, dll" Tapi kalau di rumah beneran minta izin, dan aku masih ga pinter ngerayu. Sering salah strategi, salah timing, dan ujung-ujungnya ditolak. Salah satunya rencana sabtu ini.

Terlepas dari soal meminta izin pada orangtua atau suami *bagi yang sudah menikah, sebenarnya hidup itu memang mayoritas tidak berjalan sesuai rencana. Banyak kejutan, seringnya yang terjadi justru di luar rencana. Tapi meski sudah tahu begitu, tetap saja, kita butuh jarak dan waktu untuk menerimanya dengan lapang dada. Karena memang dalam hidup rencana yang batal bukan sekedar satu dua agenda harian. Tapi bisa jadi justru hal yang sudah diimpikan lama, diperjuangkan penuh peluh dan tangis. Saat hasilnya tidak sesuai rencana kita sejenak beku, atau justru mendidih.

Jika bukan karena iman, dan keyakinan bahwa rencana-Nya selalu lebih baik dari rencana kita. Jika bukan karena janji-Nya yang selalu ditepati. Pasti kita akan hidup dirundung kesedihan dan kemarahan. Karena memang seringkali yang kita rencanakan tidak terlaksana. Bahkan saat kita sudah merancang rencana A, B, C, D, yang terjadi justru P, atau R.

Maka saat rencana batal, dan kita diminta untuk mengambil hikmah. Mari sejenak katakan pada diri, "in syaa Allah lebih baik, lebih baik, lebih baik." Waktu pertama mengucapkannya mungkin sulit, tapi lama-lama kalimat tersebut meresap ke hati, menebalkan keyakinan dan iman.

So next time you met another change of plan, you're gonna be sure, that His plans are always better. Not only for your dunya, but also for your akhirah.

Allahua'lam.

Saturday, August 24, 2019

Dua Kali

August 24, 2019 0 Comments
Bismillah.

Dua kali, kritikan yang sama dari salah satu orang terdekat membuatku otak dan perasaanku porak poranda. Seolah selama ini aku sudah dengan halus diingatkan, tapi aku kurang peka. Hingga akhirnya cermin itu di datangkan langsung tepat di depan wajahku. Duk. Wajahku beradu dengan cermin tersebut, kemudian aku mengaduh pelan. Di hadapanku, refleksiku juga melakukan gerakan yang sama, tanpa suara. Aku mengusap hidungku dengan tangan kanan, sosok dalam cermin juga mengusap hidungnya dengan tangan kirinya.

***


Prolognya berlebihan kah? Hehe. Aku tidak benar-benar menabrak cermin. Itu hanya deskripsi perasaanku saja, karena kritik itu hadir lagi, dari orang yang sama. Seseorang yang selalu punya tempat istimewa di hati. Kalimat yang ia sampaikan mungkin tidak sama persis tapi pesannya sama. Dan aku jadi merasa bersalah.

Disebutkan olehnya, perilaku dan tingkahku, tidak mencerminkan ilmu yang aku pelajari. Seolah sia-sia buku yang kubaca, karena aku tidak mengamalkannya. Untuk apa? Kalau hanya menjadi tumpukan, dan tidak diejawentahkan?

And it hurts. Tiba-tiba aku merasa wajahku tertutup berlapis-lapis topeng. Barangkali, selama ini begini rupaku. Orang lain mungkin tidak sadar, tapi ia, salah satu orang terdekat dalam hidupku merasakannya. Ia bertanya-tanya, kemana perginya ilmu yang kubaca dan kudengarkan?

***

Aku bungkam, menatap refleksi diri di cermin yang disajikan Allah saat itu. Cermin yang hadir bukan untuk membuatku merasa putus asa. Tapi agar aku dapat melihat dengan baik dimana aku berpijak.

Lisanku memang diam, tapi perasaan dan otakku tidak. Yang satu berusaha untuk tenang agar tidak terbawa emosi. Yang lainnya berusaha mencari cara, agar kritik tersebut menjadi pembangun dan bukan perusak diri.

Sampai kalimat-kalimat yang sudah kuhafal hadir di sisiku. Kemudian berbisik lembut,

"Sayang, kau sudah membacaku belasan kali setiap hari. Bukankah ini saatnya untuk meresapi maknaku, dan bukan sekedar merapalkannya bak mantra?"

***

Ihdinashiratal mustaqim. Tunjukkan, bimbing kami ke shirat al mustaqim. Satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Shiratalladzina an'amta 'alaihim. Jalan orang-orang yang pernah Engkau beri nikmat. Rasul-Mu, Nabi-nabi-Mu serta orang-orang shalih terdahulu.

Ghairil maghdubi 'alaihim. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai. Orang-orang yang mengetahui kebenaran namun justru berbalik arah. Orang-orang yang cerdas dan berilmu, namun tidak diamalkan.

Wa ladhollin. Dan bukan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang melangkah tanpa tahu arah. Orang-orang yang beramal tanpa ilmu.

Ya, kalimat-kalimat itu ada di Al Fathihah. Banyak yang hafal di luar kepala, sehingga lafalnya bisa meluncur begitu cepat di lisan kita, tanpa benar-benar masuk ke hati.

***

Dua kali. Dan semoga tidak perlu diulangi lagi kritik itu. Biar aku saja... Yang berusaha mengingatnya setiap kali aku berdiri dan membaca kalimat-kalimat yang diajarkan Arrahman pada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam. Biarkanku mengingatkan diri, bahwa saat meminta dibimbing di jalan yang lurus, ada kemungkinan kita berbelok ke jalur yang salah.

Semoga Allah memudahkanku mengeja makna kalimat-kalimat tersebut. Semoga Allah kokohkan langkahku agar bisa menjadi lebih baik hari per hari.

***

Terakhir, untuk seseorang yang lewat lisannya aku bisa bercermin, semoga Allah merahmati dan memberkahi hidupmu. Tetaplah seperti itu, aku butuh orang-orang dekat yang melihat sisi burukku, dan berani untuk menegurku. Karena banyak yang mengkritik untuk menjatuhkan, tapi denganmu, aku tahu, kau melakukannya karena menyayangiku.

Allahua'lam bishowab.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Monday, August 12, 2019

Besar Kecilnya Kegagalan

August 12, 2019 0 Comments
Bismillah.

Sebelum bahas topik sesuai judul, Selamat Hari Raya Idul Adha~

Semoga ibadah kita diterima, semoga kita bisa belajar dan mengambil makna di balik ibadah haji dan berkurban. Menengok kisah hidup Nabi Ibrahim 'alaihisalam. salah satunya ini

***

From unsplash

Tulisan ini udah lama ada di kepala, cuma belum disempatkan untuk diurai dalam kata. Salah satu hasil perenunganku, tentang kegagalan.

Aku saat itu bertanya pada diri, apakah ada kegagalan yang kecil?

Aku mencoba melihat dari sudut pandang subjektif, sosok yang mengalami kegagalan. Mungkin, tidak ada kegagalan yang kecil di mata orang yang baru saja gagal. Orang lain mungkin meremehkan kegagalannya, 'ih, baru segitu doang'. Tapi tidak dengannya. Ia tahu betul, kegagalannya tidak pernah kecil di matanya. Ya, tidak ada kegagalan yang kecil, setiap orang berjuang masing-masing mengatasi kegagalan yang pernah di alaminya. Dan perjuangannya tidak mudah, karena saat itu, baginya itu bukan kegagalan kecil.

Kemudian waktu berlalu, aku kembali bertanya pada diri, apakah ada kegagalan yang besar?

Aku mulai menyadari bahwa besar-kecilnya kegagalan itu relatif. Jika kegagalan itu masih di depan mata, tentu ia nampak besar. Tapi jika kita bertemu dengan kegagalan yang lebih besar lagi, kita jadi tahu, kegagalan sebelumnya ternyata kecil. Atau ketika kita lihat orang lain yang jatuh dari 'bangunan' yang lebih tinggi, kita akhirnya malu, ternyata jatuh kita tidak seberapa.

Aku juga memikirkan, bahwa tidak ada kegagalan yang besar... kalau kegagalan itu cuma tentang apa yang terjadi di dunia. Jika masih terkait dengan hidup yang sementara, berarti kegagalan itu tidak besar.

Kegagalan yang benar-benar besar itu...

Kegagalan yang tidak hanya menyangkut hidup di dunia, tapi terus terbawa dan menyeret kita ke jurang yang lebih dalam setelah mati kelak. Kegagalan yang mengantar kita pada keabadian yang mengertikan.

Seperti kegagalan mengenali Rabb Semesta, kegagalan untuk hijrah dari dosa ke amal shalih hingga akhir hayat. kegagalan yang akibatnya tidak dapat diakhiri dengan kematian.

Kita boleh belajar dan salah dalam proses belajar. Yang mengerikan itu, kalau kita salah, kemudian berhenti belajar, dan akhir hidup kita dalam keadaan begitu.

Kalau kita tidak mengenali Allah Yang Maha Pengampun, Pengasih lagi Penyayang. Kita akan mudah putus asa, kita akan tenggelam dalam masalah sendiri, kita limbung karena tidak ada tempat bersandar. 

Kalau kita tidak mengenali Rabb semesta, kita juga akan gagal mengenali diri kita sendiri. Akibatnya kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan, apa tujuan kita diberi kehidupan di bumi ini. Lalu kita asal menerka dan memilih tergerus arus 'black hole'.

Kalau kita tidak berusaha mengenali Allah, dan memilih tidak menggunakan nikmat pendengaran, penglihatan dan hati kita..... itu baru kegagalan yang besar.

***

Tadinya, ingin kuakhiri tulisan ini dengan kutipan dari tulisan lama, bahwa setiap manusia pasti pernah gagal. Tapi... qadarullah barusan baca kutipan buya hamka, yang mungkin pas dijadikan penutup tulisan ini.

"Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil." -Buya Hamka
Terakhir, untuk siapapun yang sedang berusaha untuk bangkit dari kegagalan "besar" maupun kegagalan "kecil", semangat^^ Aku mungkin tidak bisa membantu apa pun, tapi baik aku, maupun kamu punya Allah Yang Maha Kuat. Jadi saat merasa lemah, dan payah akan kegagalan dalam hidup, mendekatlah pada-Nya. Ia akan menghibur kita, dan kita akan bisa tersenyum dan bernafas lega. Bahwa kegagalan itui.. bukan akhir. Bahwa ukuran kegagalan itu, begitu kecil, jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. *masih hari tasyrik, perbanyak takbir dan dzikir, doa jugaa..

Allahua'lam.

Friday, August 9, 2019

QJ Hajj Day 4: Bakkah; Mekah

August 09, 2019 0 Comments
Bismillah.
#quranjournal

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَـٰلَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
[Surat Ali-Imran (3) ayat 96]

فِيهِ ءَايَـٰتٌۢ بَيِّنَـٰتٌۭ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًۭا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
[Surat Ali-Imran (3) ayat 97]

***

Ayat 96.

Dijelaskan di Tafsir Jalalain, yang pertama dibangun sebagai rumah tempat ibadah di muka bumi adalah yang terdapat di Bakkah (nama lain Mekah). Dinamakan demikian karena Ka'bah mematahkan leher orang-orang yang durhaka lagi aniaya.

Baitullah ini dibina oleh malaikat sebelum diciptakannya Adam dan setelah itu baru dibangun Masjid Al Aqsa. Jarak waktu dibangunnya baitullah di mekah dan masjidil Aqsa adalah 40 tahun (berdasarkan dua hadis sahih).

Pada hadits lain disebutkan pula bahwa Ka'bah-lah yang mula-mula muncul di permukaan air ketika langit dan bumi ini diciptakan sebagai buih yang putih. Maka dihamparkanlah dari bawahnya. Tanah tersebut diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Petunjuk di sini, karena ka'bah adalah kiblatnya manusia.

Ayat 97.

Masih dari Tafsir Jalalain. Allah menyebutkan bahwa di baitullah terdapat tanda-tanda nyata, diantaranya maqam ibrahim. Yang dimaksud maqam Ibrahim adalah tempat berpijaknya Ibrahim ketika membangun baitullah. Kedua telapak kakinya meninggalkan bekas padanya sampai sekarang, dan akan tetap sepanjang zaman walaupun pemerintahan yang berkuasa sudah silih berganti.

Tanda/ayat agungnya baitullah yang lain adalah dilipatkannya pahala kebaikan bagi yang shalat di dalamnya dan burung tidak dapat terbang diatas ka'bah. Dan barangsiapa yang masuk ke dalamnya, ia aman, artinya bebas dari ancaman pembunuhan, keaniayaan, dll. 

Ibadah haji merupakan kewajiban bagi yang sanggup. Oleh Nabi shalallahu 'alai wa sallam ditafsirkan yang diwajibkan adalah yang memiliki kendaraan dan bekal untuk beribadah haji. 

Barang siapa yang kafir terhadap Allah atau terhadap kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya terhadap seluruh alam. Artinya Allah tidak memerlukan manusia, jin dan malaikat serta amal ibadah mereka.

***

Ayat 96 dan 97 surat Ali Imran bicara tentang baitullah di Mekah dan ibadah haji. Sebagai manusia, normal untuk kita penasaran, ingin tahu terhadap sesuatu. Termasuk tentang mekah, kenapa kita berkiblat ke Mekah? Karena perintah Allah! Ya, itu benar. Tapi kalau kita membaca quran lebih teliti, dan mempelajarinya, ternyata Allah juga memberikan tanda-tanda, ayat-ayat mengapa dipilih baitullah di mekah. Ada yang bisa review? Jadi, mengapa kita shalat menghadap baitullah di mekah? (1) karena itu perintah Allah (2) karena di sana merupakan tempat ibadah pertama yang di bangun (3) di sana terdapat maqam ibrahim, siapa Ibrahim? Bapaknya para Nabi. Yang berdoa dan jawaban doanya adalah diutusnya Rasulullah dan Al Quran (4) dan ketika manusia memasukinya, ia akan aman. Baitullah di Mekkah itu ibarat safe zone bagi manusia. Bahkan ketika akhir zaman nanti… *aku ga begitu ingat detailnya, tapi nanti… akan ada saat tidak ada tempat di belahan bumi yang aman kecuali Mekkah dan Madinah.

Trus di akhir ayat 96, pengingat banget… ketika Allah sudah menentukan suatu hal wajib, entah itu haji, menutup aurat, shalat lima waktu, zakat, puasa di bulan Ramadhan, apapun itu yang wajib.. Ketika ada manusia yang mengingkarinya, kufur terhadap kewajiban itu, sungguh Allah Maha Kaya. Fa innallaha ghaniyyun 'anil 'alamin. Allah ga butuh shalat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita. Allah ga membutuhkan ibadah kita. Sesungguhnya justru kita yang sangat amat butuh Allah, kita yang butuh terus mengingat Allah, maka Allah syariatkan shalat lima waktu. TT

Bahkan disebutkan di Ath Thaghabun, bahwa kita mendengarkannya, kita taat dan kita berinfak itu.. Untuk kebaikan diri kita sendiri. Fattaqullaha mastatha'tum wasma'u wa athi'u wa anfiqu khairalli anfusikum.

Wasma'u wa athi'u wa anfiqu, and listen and obey and spend, khairan li anfusikum, all of that is good for yourself. That's good for you. Listening is good for you, this right now, what are you doing? Listening, It's good for you. But after listening, what you have to do? Obeying, that's good for you. And then, you have to spend up on it. You have youth which means you have time, spend up on your time. Your parents they have money, spend up on your money. You have talents, spend up on your talent. And all of that you would do for whose good? Your own good. Allah doesn't benefit, you benefit. 
Nouman Ali Khan, Quran For Young Adults Day 9

Semoga Allah mudahkan kita untuk memenuhi kewajiban kita, dan meninggalkan larangan-Nya. Semoga Allah tetapkan hati kita pada din-Nya. Aamiin.

Allahua'lam bishowab.

***

Keterangan: In syaa Allah kedepannya ngikutin jadwal dari QJ Challange di bawah ini. Semoga bisa rampung.



Struktur QJ-nya: (1) Ayat dan arti dari lafzi (2) keterangan penjelasan dari tafsir jalalain (3) trus tambahan tulisan dari penulis. Setiap bagian dipisah dengan "bintang tiga" J.

Kalau ada yang salah, jangan sungkan untuk mengoreksi. Masih belajar.

QJ Hajj Day 3: Segenap Penjuru Menjawab Seruan-Nya

August 09, 2019 0 Comments
Bismillah.
#quranjournal

وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًۭا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍۢ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍۢ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
[Surat Al-Hajj (22) ayat 27]

***

Dalam Tafsir Al Jalalain dijelaskan, bahwa Allah memerintahkan agar menyeru manusia untuk mengerjakan haji. Kemudian Nabi Ibrahim naik ke puncak bukit Abu Qubais, lalu ia berseru, "Hai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah membangun Baitullah dan Dia telah mewajibkan kalian untuk melakukan haji, maka sambutlah seruan Rabb kalian ini." Lalu Nabi Ibrahim menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri serta ke arah Timur dan ke arah Barat. Maka menjawablah semua orang yang telah ditentukan baginya dapat berhaji dari tulang-tulang sulbi kaum lelaki dan rahim-rahim kaum wanita, seraya mengatakan, "Labbaik allaahumma Labbaika", artinya: Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu, Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu.

Kemudian, dari seruan itu, mereka datang kepadamu dengan berjalan kaki. Lafal Rijaalan adalah bentuk jamak dari lafal Raajilun; artinya laki-laki, wazannya sama dengan lafa Qaaimun yang bentuk jamaknya adalah Qiyaamun; artinya berjalan kaki. Dan dengan mengendarai unta yang kurus, mengapa disebutkan unta yang kurus? Karena lamanya perjalanan. Lafal Dhamirin (unta yang kurus) mencakup unta jantan maupun betina. Mereka (orang-orang yang memenuhi seruan haji) datang dari segenap penjuru yang jauh.

***

Ayat ini mengingatkanku bahwa mekkah merupakan tempat beribadah yang selalu ramai. Allah mengundang orang-orang terpilih untuk berhaji. Dan hatinya yang diundang Allah, akan menemukan jalan menuju baitullah. Baik itu dengan jalan kaki, naik pesawat, naik kapal. Ayat ini mengingatkanku kisah hamba yang terkenal di langit namun tidak dikenal di bumi, yang menggendong ibunya dari Yaman menuju Mekkah. Keinginannya untuk memenuhi permintaan ibunya membuat ia berlatih menggendong anak sapi, berhari-hari, dari kondisi anak sapi masih 'kecil' sampai beratnya bertambah dan bertambah.

Ayat ini juga mengingatkanku sebuah kisah di facebook yang baru-baru ini saya baca. Tentang seorang muslim di ghana, sebelumnya ia tinggal di desa yang melarangnya untuk shalat, kemudian ia berhijrah, kemudian ia menjalani hidup sebagai petani. Sampai ketika sebuah drone milik wartawan Turki jatuh di sekitar rumahnya. Saat wartawan tersebut menemukannya, dan ia mengembalikan drone tersebut, ia bertanya apakah ada yang lebih besar, agar ia bisa pergi haji. Wartawan tersebut mengabadikan foto laki-laki tersebut, dan menjadi berita, sampai akhirnya pemerintah Turki memberangkatkan laki-laki itu untuk naik haji. Sungguh rezeki yang tidak diguga, seperti janji Allah di salah satu ayatNya untuk orang yang bertakwa. Wayarzuqhu min haitsu la yahtasib. 

Ayat ini juga mengingatkanku peristiwa tahun gajah? Apa hubungannya? Karena Allah menyeru manusia untuk berhaji, dan banyak orang yang mendatangi baitullah untuk thawaf. Melihat itu, salah seorang raja ingin juga membuat tandingan rumah peribadatan. Tapi ternyata tidak mungkin bisa manandingi baitullah di mekkah. Oh ya, detail cerita ini juga aku dapatkan dari video animasi dari channel yang sama kaya sebelumnya.


Seperti yang digambarkan di ayat ini, kalau kita melihat dokumentasi haji, kita akan melihat begitu banyak orang dari segala penjuru datang dan berthawaf bersama. Lintas negara, lintas ras, lintas bahasa, semuanya datang memenuhi undangan Allah ^^

Menulis ini jadi membuatku merindukan baitullah, harapan untuk ke sana mengufuk kembali. Kalau tidak menulis ini, mungkin aku lupa tentang impian dan keinginan tersebut. Kadang memang begitu, menjadi manusia artinya menjadi makhluk pelupa. Kesibukan sering membuat kita hanya menjalani rutinitas saja. Lupa bahwa ada banyak mimpi yang masih belum terwujud, ada visi yang dituju. Kadang kita lupa mana yang merupakan distraksi yang harus diabaikan. Harus sering-sering membaca quran memang, bukan sekedar membaca lafalnya saja, tapi juga mempelajari dan merenunginya.
"This is the gift of Qur'an. It puts things in perspective, it gives us a sense of priority. What should I worry about and what shouldn't I worry about. What should I make a big deal of in my life, and what can I maybe take to the side, and I can work on it, little by little." - Nouman Ali Khan, Revive Your Heart
Semoga Allah menjadikan kita mencintai Al Quran, sehingga kita menikmati setiap interaksi dengan quran, baik tilawahnya, menghafalnya, mempelajari bahasanya, maupun saat merenungi hikmah di setiap ayat-ayatNya. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: In syaa Allah kedepannya ngikutin jadwal dari QJ Challange di bawah ini. Semoga bisa rampung.



Struktur QJ-nya: (1) Ayat dan arti dari lafzi (2) keterangan penjelasan dari tafsir jalalain (3) trus tambahan tulisan dari penulis. Setiap bagian dipisah dengan "bintang tiga" J.

Kalau ada yang salah, jangan sungkan untuk mengoreksi. Masih belajar.

QJ Hajj Day 2: Baitullah

August 09, 2019 0 Comments
Bismillah.
#quranjournal

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِى شَيْـًۭٔا وَطَهِّرْ بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْقَآئِمِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud.
[Surat Al-Hajj (22) ayat 26]

***

Disebutkan dalam Tafsir Jalalain, bahwa Allah menerangkan Nabi Ibrahim 'alaihisalam tentang tempat Baitullah dan memerintahkan untuk membangunnya kembali karena sebelumnya Baitullah diangkat saat zaman banjir besar (zamannya Nabi Nuh).

Allah juga memerintahkan agar tidak menyekutukan-Nya, serta mensucikan baitullah dari berhala-berhala, bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang bermukim (tinggal di sekitarnya) dan orang-orang yang rukuk dan sujud.

Rukka'is-sujuud adalah bentuk jamak dari kata raaki 'iin dan saajidin, maksudnya adalah orang-orang yang shalat.

***

Membaca ayat ini mengingatkanku sebuah video animasi yang informatif tentang baitullah. Di sana disebutkan bahwa baitullah di mekah merupakan tempat ibadah pertama manusia. Sejarah saat Nabi Ibrahim dan Ismail membangunnya, serta tentang batu hajar aswad, yang diturunkan dari langit, tadinya berwarna putih namun kemudian menghitam karena dosa-dosa manusia. Juga sejarah tokoh yang pertama kali berhala ke baitullah, hingga kemudian menumpuk ratusan berhala sampai kemudian Rasulullah diutus, dan ratusan berhala itu berhasil dihancurkan ketika peristiwa fathuh makkah.


Kita mungkin sudah hafal di luar kepala, lima pilar islam, lima rukun islam. Poin terakhirnya, Haji, bagi yang mampu. Ibadah haji merupakan bagian ibadah yang tidak bisa dipisahkan dengan islam. Kita semua berharap semoga Allah mengundang kita untuk ke rumahNya. Melaksanakan langsung runutan ibadah yang penuh historis. Kepasrahan dan ketawakalan Bunda Hajar, dalam sa-I, lari-lari kecil bolak balik dari safa ke marwah. Berkumpul di arafah, sembari teringat khutbah haji wada' Rasulullah TT Surat An Nasr yang saat itu turun, dan Abu Bakar yang menangis karena menyadari bahwa waktu Rasulullah di dunia sudah hampir habis.

Menulis jurnal quran kali ini juga mengingatkanku akan ibadah umrah yang alhamdulillah merebak. Sisi baiknya, banyak yang memilih untuk umrah, ketimbang menghabiskan uang untuk hal lain. Tapi di sisi lain, kita juga harus saling mengingatkan, supaya umrah tidak sekedar tren wisata ruhani belaka. Kita bukan sekedar bertamasya kemudian kembali disibukkan oleh kehidupan dunia. Umrah nilainya lebih dari sekedar 'wisata ruhani'.

Semoga Allah memudahkan dan memberkahi ibadah manusia-manusia terpilih yang diundang Allah untuk berhaji tahun ini. Semoga Allah memberikan kita dan keluarga kita kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji. Allahumma aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: In syaa Allah kedepannya ngikutin jadwal dari QJ Challange di bawah ini. Semoga bisa rampung, meski mulainya terlambat.


Struktur QJ-nya: (1) Ayat dan arti dari lafzi (2) keterangan penjelasan dari tafsir jalalain (3) trus tambahan tulisan dari penulis. Setiap bagian dipisah dengan bintang tiga. Kalau ada yang salah, jangan sungkan untuk mengoreksi. Masih belajar~

Wednesday, August 7, 2019

QJ Hajj Day 1: The Moon is Beautiful

August 07, 2019 0 Comments
Bismillah.
#quranjournal


 يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ ٱلْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا۟ ٱلْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا۟ ٱلْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَٰبِهَا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
[Surat Al-Baqarah (2) ayat 189]

***

Orang-orang bertanya tentang bulan sabit kepada Rasulullah. Kata 'ahillah' merupakan bentuk jamak dari 'hilal'. Begitu pula 'mawaaqiit' merupakan jamak dari 'miiqaat' (waktu).

Fungsi hilal/bulan sabit adalah untuk mengetahui waktu bercocok tanam, berdagang, idah wanita, berpuasa, dan haji.

Disebutkan dalam tafsir Jalalain, mawaqitu linnas, diatahafkan atau dihubungkan kepada manusia artinya untuk diketahui waktunya. Karena seandainya bulan tetap dalam keadaan sama, tentulah hal itu tidak dapat diketahui.

Bulan, pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga penuh dengan cahaya. Lalu kembali sebagaimana semula. Berbeda dengan matahari yang tetap. Kita bisa mengetahui waktu salah satunya dengan bulan, saat sabit, kemudian setengah, bangkok, full moon, lalu bangkok lagi, setengah, sabit lagi. Begitu, berulang fasenya.

Lalu bagian akhir ayat. Dulu ada kebiasaan di waktu ihram, memasuki rumah-rumah dari belakangnya dengan membuat lubang di belakang rumah untuk keluar masuk. Bukan lewat pintu. Hal itu biasa dilakukan dan dianggap sebagai kebaktian/kebajikan. Allah melalui ayat ini memberitahu kita, bahwa kebajikan itu bukan itu. Kebajikan adalah bertakwa kepada Allah. Orang-orang yang berbakti adalah orang yang bertakwa kepada Allah dengan tidak melanggar perintah-perintahNya. Allah kemudian menyuruh kita untuk masuk ke rumah melalui pintu baik sewaktu ihram maupun pada waktu-waktu lainnya.

Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

***
"The moon is beautiful"
Siapa sih yang ga suka memandangi bulan? Di zaman sekarang, saat polusi cahaya mewarnai malam, tidakkah ada yang rindu memandangi bulan? Sejak di Purwokerto, aku ngerasain banget nikmat memandang langit malam. Di Purwokerto, lebih mudah, dan sering ditemukan langit malam berhias bulan dan bintang. Beda, waktu dulu aku tinggal di bagian kota Bandung yang polusi cahayanya lumayan tinggi. Pemandangan bulan yang berubah-ubah, dari sabit, half-moon, lalu full moon menyimpan keindahan dan juga sisi misterius. Kalau mau kita perhatikan, ada begitu banyak mitos terkait bulan. Cerita atau kartun. Misal tentang kelinci yang tinggal di bulan. Atau gambar-gambar kartun, seolah bulan sabit tuh jadi tempat duduk. Nah, ayat ini menjawab misteri tentang bulan, mengapa bulan Allah ciptakan memiliki banyak bentuk, berubah sesuai waktu. Ternyata agar kita bisa mengetahui waktu-waktu, baik untuk bercocok tanam, berdagang, perhitungan idah perempuan, termasuk untuk haji. Dulu belum dibuat sistem penanggalan, belum ada jam tangan. Dulu, manusia tahu perhitungan jam dari matahari, yang terbit dan tenggelam, di ufuk timur dan barat-Nya. Allah juga menyediakan tanda untuk mengetahui hitungan hari dalam sebulan, lewat bulan di malam hari. ^^

Kita dulu belajar bedanya penanggalan berdasarkan matahari dan bulan. Kita belajar juga, mengapa satu hari di suatu tempat, jumlah jam malam-nya dan siangnya berbeda, termasuk bagaimana posisi matahari mempengaruhi musim. Kita belajar semua itu, sebagai ilmu yang kemudian tersimpan di otak. Tapi apakah cukup cuma sampai di situ? Banyak yang berhenti belajar hanya dihitung-hitungan, tapi lupa, agar ilmu bisa sampai ke hati dan mengingatkan kita pada yang Sang Pencipta. Jangan sampai kita hafal tahun-tahun berapa saja yang termasuk tahun kabisat, tapi kita lupa tidak mensyukuri bahwa semua itu Allah ciptakan untuk manusia, sebagai nikmat yang Allah berikan. Termasuk tentang bulan sabit yang merupakan membantu kita tahu mengetahui waktu, tidak berhenti disana, tapi bagaimana kita jadi tahu waktu untuk beribadah, salah satunya jadi tahu kapan masuk sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah. Agar kita bisa memperbanyak dzikir dan amal shalih.

Bagian akhir ayat tentang definisi kebaikan/kebajikan. Manusia itu pintar mengada-ada, membuat standar kebaikan sendiri. Termasuk merasionalisasikan keburukan menjadi kebaikan. Misal kisah-kisah di film, semacam robin hood, ya, mencuri, tapi kan untuk diberikan pada yang membutuhkan. Dan hal seperti ini masih sering dipakai di film loh, meski tokohnya bukan bernama robin hood. Seolah kebajikan itu bias. Ga ada standarnya, balik ke masing-masing orang, masing-masing daerah dan negara. Dan lewat ayat ini, Allah menegaskan, bahwa kebajikan itu bukan bentukan manusia. Bukan budaya yang dilakukan berulang oleh manusia dan dianggap sebagai kebajikan, bukan. Kebajikan atau kebaikan itu adalah bertakwa kepada Allah. Dan kalau dirunut kebawah, dibuat detail, kita akan mendapati bahwa kebaikan/kebajikan itu tidak bias.

Bertakwa kepada Allah, takwa.. Bahas tentang ini memang berat sih. Tapi bisa dipelajari. Ramadhan kemarin aku baca buku Silsilah Hidayah-nya Amru Khalid, bab pertama tentang takwa. Disebutkan bahwa takwa itu tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tapi juga muamalah / interaksi sosial. Bagaimana takwa disebutkan saat membahas tentang riba, sesuatu yang sangat sulit dihindari. Takwa juga disebutkan saat membahas tentang talak/cerai. Termasuk saat membahas tentang ghibah atau menggunjing. Perintah bertakwa berkali-kali disebutkan dalam Al Quran karena hal itu penting bagi kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Aamiin.

Allahua'lam bishowab.

***

Keterangan: In syaa Allah kedepannya ngikutin jadwal dari QJ Challange di bawah ini. Semoga bisa rampung sepuluh-sepuluhnya.

Struktur QJ-nya: (1) Ayat dan arti dari lafzi (2) keterangan penjelasan dari tafsir jalalain (3) trus tambahan tulisan dari penulis. Setiap bagian dipisah dengan bintang tiga.

Kalau ada yang salah, jangan sungkan untuk mengoreksi. Masih belajar.

Keistimewaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

August 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

Ini bulan apa? Agustus! Benar! Bulan Apa? Kan tadi udah dijawab. Tapi belum lengkap, ada jawaban lain yang juga benar. Ada yang tahu? Yap.. Ini bulan Dzulhijjah.

Seperti bulan Agustus yang istimewa bagi Indonesia karena merupakan bulan kemerdekaan, bulan Dzulhijjah juga istimewa loh. Istimewa karena merupakan bulan Haji, bulan perayaan Idul Adha, bulan amalan baik dilipatkan pahalanya, begitu pula perbuatan buruk.

7 Dzulhijjah. Untuk bahas tentang keutamaan bulan dzulhijjah, sunnah-sunnah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, memang kesannya terlambat. Banyak yang sudah share, banyak yang sudah tahu hehe. Tapi, saya masih memegang pepatah inggris, "better late than never". Jadilah tulisan ini hadir, untuk mengingatkan diri terutama, dan semoga bisa jadi pengingat juga untuk yang sengaja/tanpa sengaja membaca tulisan ini.

***

Dari poster yang diterbitkan AQL Islamic Center, ada minimal 7 keutaman 10 hari pertama bulan Dzulhijjah:

1. Allah bersumpah atas hari-hari tersebut

Surat Al Fajr ayat 2, wa layalin ashr, demi malam yang sepuluh. Ada beberapa pendapat sepuluh malam di sini, (a) 10 malam terakhir Ramadhan, (b) 10 yang pertama di bulan Muharram yang termasuk di dalamnya hari Asyura, dan (c) 10 malam pertama bulan Dzulhijjah. Ketika Allah bersumpah akan sesuatu hal, berarti hal tersebut penting dan agung, yang kalau kita mau memikirkan hal-hal yang Allah sumpahkan dalam Al Quran, kita akan menemukan banyak hikmah dibaliknya.

2. Merupakan ayyam ma'lumat (hari-hari yang telah ditentukan)

Di hari-hari tersebut Allah memerintahkan untuk memperbanyak dzikir. (search ayyam ma'lumat selain 10 hari pertama dzulhijjah)

3. Hari-hari terbaik di dunia

Dari jabir, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Hari-hari yang terbaik di dunia ini adalah sepuluh hari -yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah-" Seseorang berkata, "Apakah jihad fisabilillah tidak sebanding dengannya?" Beliau menjawab, "Tidak sebanding dengannya (jihad fisabilillah). Kecuali seorang lelaki yang wajahnya penuh dengan debu." (HR. al-Bazzar dan Ibnu Hibban)

Ada pula keterangan bahwa pengecualiannya adalah orang yang berjihad fisabilillah dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (maksudnya ia mati syahid).

4. Terdapat hari Arafah

Hari Arafah merupakan hari Haji Akbar, hari pengampunan dosa, dan hari pembebasan dari api neraka.

5. Terdapat hari Nahr (Qurban)

Ini adalah pendapat sebagian ulama, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah tabaraka wa ta'ala adalah hari nahr (Hari Raya Qurban) kemudian hari setelah nahr." (HR. al-Bazzar dan Ibnu Hibban)

6. Terkumpul beberapa ibadah yang agung

Seperti shalat, puasa, shadaqah dan haji. Hal seperti ini tidak ada di hari yang lain.

7. Kedudukannya sangat tinggi dan agung di sisi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengistimewakan amal shalih yang dilakukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah.


***

Nah, karena bulan ini istimewa... inginnya sih, blog ini lebih sering diisi. Qadarullah juga kemarin liat challange QJ Hajj di instagram @thequranjournal.id. Pengen ikutan, tapi ga sesuai syarat dan ketentuan hehe *bandel

Niatnya di sini aja nulisnya, bukan dengan tulisan tangan. Trus isinya mungkin ga lengkap. Cuma catatan sederhana aja, dari baca tafsir jalalain. Tujuan utamanya, untuk membiasakan membuat jurnal quran. Termasuk supaya keinget untuk nyelesaiin hutang puluhan qj ramadhan lalu hehe.

Doakan semoga bisa lengkap terlaksana ya, meski start-nya 'sedikit' terlambat.

Semoga Allah mudahkan kita untuk beramal shalih di hari-hari istimewa ini! Allahummarzuqna 'ilman nafi'an wa rizqan thayyiban wa 'amalan mutaqabbalan. Aamiin.

Allahua'lam.

Tugas Materi Pertama FFB (Forum Femininitas Bunda)

August 07, 2019 0 Comments
Bismillah.


Materi pertama tentang Bunda dan Feminitas. Semacam prolog kenapa penting seorang perempuan yang kelak akan menjadi bunda untuk mengasah kembali feminitasnya, fitrah perempuannya. Di zaman milineal dimana sekolah tanpa sadar mengikis feminitas dan membangun maskulinitas. *ga bisa jelasin lebih panjang dan lebih jelas, karena takut salah. Trus di kontrak belajar juga disarankan tidak share materi, selama masih jadi siswa. Beda ya, kalau yang angkatan pertama dan sudah matang pemahaman akan materinya.

Nah, materi pertama ini tugasnya sederhana, tapi bisa jadi sulit hehe. Yaitu buat puisi atau pantun tentang keluarga, alam, atau ayat Al Quran. Kenapa buat puisi/pantun, karena itu merupakan salah satu hal yang bisa mengasah feminitas.

Jujur, udah lama ga buat puisi. Blog magic of rain, yang awalnya diniatkan jadi blog puisi, sekarang sudah tidak, lebih ke blog berisi curhatan hehe.

Lewat tugas ini, aku belajar lagi buat puisi. Mungkin lebih pas disebut tulisan yang disusun dalam bait dan bukan paragraf hehe. Tidak berjudul, tapi mungkin kalau dikasih judul, "Ayat-ayat Semesta", atau "Adakah yang Mau Menguntai Ayat-ayatNya?"

***

Semesta menyimpan ayat-ayatNya
Menanti insan untuk membacanya
Mendengarkannya
Kemudian mengambil pelajaran darinya

Tapi manusia terlalu sibuk akan dunia
Matanya melihat, tapi buta akan tanda-tandaNya
Telinganya mendengar, tapi tuli akan ayat-ayatNya
Sedangkan hatinya?

Hatinya beku dan mengeras
Gelap gulita
Tertutup kerak dosa berlapis-lapis

Semesta menyimpan berjuta ayat
Hanya hamba-hamba terpilih yang mampu memetiknya
Merenunginya, serta berjalan dengan tuntunanNya

Hamba-hamba terpilih itu…
Hatinya mungkin bukan tanpa noda
Tapi mereka berupaya mensucikannya
Hatinya mungkin masih dinaungi gelap
Tapi mata dan telinganya digunakan untuk mereguk cahaya
Membaca kalamNya
Mendengarkan firmanNya

Semesta berhias butir-butir ayat
Adakah yang mau menguntainya?
Menjadi petunjuk agar hidup di dunia mengantar pada kebahagiaan akhirat

***

Menyalin ulang baris-baris 'puisi' di atas mengingatkanku pada beberapa ayatNya..
…. Waja'alnahum sam'aw wa absharaw wa af-idah fa ma aghna anhum sam'uhum wa la absharahum wa la af-idatahum min syai-in.… (Al Ahqaf: 28) 
Dan kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka.

Juga,
Rasulayyatlu 'alaikum ayatullahi mubayyinatil liyukhrijalladzina amanu wa 'amilusholihati minadzulumati ilannur… (Ath Thalaq: 11)
(Allah mengutus) Seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dari kegelapan kepada cahaya.

Pertama tentang nikmat mendengar, melihat dan hati, yang sedikit sekali kita syukuri, yang seringkali tidak kita pergunakan untuk mengingatNya, untuk mendengar, melihat, dan mengambil petunjuk dari ayat-ayatNya

Yang kedua, bagaimana ayat-ayat tersebut akan mengeluarkan kita dari gelap pada cahaya. Baik ayat-ayat yang ada di Quran, maupun ayat-ayatNya yang tersebar di semesta, di alam, di keseharian kita.

***

Mengikuti forum feminitas bunda membuatku sadar, bahwa feminitas bukan tentang apa yang tampak di luar, bukan tentang ahli dalam urusan dapur, bukan... feminitas itu terkait hati, kepedulian, intuisi, empati, perasaan, cinta, dan ketulusan.

Aku... masih perlu banyak belajar.

Allahua'lam.

Sunday, August 4, 2019

Dua Ukhti Penghafal Quran

August 04, 2019 0 Comments
Bismillah.

#hikmah

Aku pernah berkenalan dengan dua akhawat shalihaat, yang keduanya sama-sama rampung menghafalkan quran. Yang satu, sudah kenal lama. Satu lagi belum lama kenal. Tapi ada satu hal yang berkesan dari interaksiku dengan keduanya. Mindset positif, optimis dan kalimat yang baik. 

***
"Masih tiga hari"
Begitu jawabannya, saat aku mengadukan bahwa Ramadhan tinggal tiga hari dan target banyak yang belum tercapai. Kalimat sederhana itu menunjukkan mindset posutif yang dimilikinya. Betapa ia tetap optimis dan berprasangka baik, bahwa tiga hari bukan waktu sisa. Masih tiga hari, untuk memaksimalkan ikhtiar kita memenuhi target Ramadhan. Masih tiga hari, ya kita masih punya tiga hari untuk memperbanyak amal shalih dan memohon ampunanNya. Masih tiga hari.

***
"Alhamdulilah nambah tujuh ayat, semoga pekan depan nambah"
Sama. Mindset positif yang melahirkan sikap optimis. Bahwa yang kita capai mungkin tidak sesuai target. Tapi hasil itu.. Syukuri. Semoga pekan depan karena kita bersyukur, Allah tambahkan nikmatnya. Karena kita tahu, tujuh ayat itu bukan hasil usaha kita, tapi kemudahan yang Allah berikan.

***
"Muslim seharusnya tidak mengenal stress"
Ia membagikan nasihat dari gurunya. Saat suatu siang kami berpapasan dan wajahku yang ditekuk membuatmya bertanya. Saat itu aku bertemu sebuah kerikil kecil, yang membuatku terkepung pikiran buruk. Kemudian kalimat darinya membuatku kembali bersemangat. Kalimat itu adalah pengingat bahwa seorang muslim seharusnya tidak stess, kau tahu mengapa? Karena iman di hatinya. Karena keyakinan yang seharusnya tertanam kokoh. Bahwa setiap kesulitan ada kemudahan-kemudahan yang menyertainya. Bahwa setiap beban, Allah berikan kita kekuatan untuk memikulnya. Bahwa Allah selalu menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Jika iman sudah bersemi di hati, maka kita akan bisa menjalani hidup tanpa stress atau tekanan. Ya, hidup memang pahit. Memang penuh kesukaran. Tapi lepas dari itu, kita punya Allah tempat bersandar dan meminta pertolongan.

***
"Lancar in syaa Allah"
Saat aku ragu dan mengatakan tidak tahu apakah bisa lancar atau tidak. Ia segera meyakinkanku, sekaligus berprasangka baik padaku. Lancar in syaa Allah. Ia mendoakanku lewat kalimat baik yang diucapkannya. 

***

Dari dua ukhti shalihaat tersebut aku menyadari bahwa aku perlu banyak belajar untuk positif. Mindset positif mereka, optimisme, dan kalimat baik yang mereka ucapkan memberi kesan indah di hati. Sebuah pengingat untukku. Agar mengucapkan kalimat baik, karena perkataan akan menjadi doa. Dan pikiran baik, optimisme mampu membuat kita melihat sesuatu lebih jelas dan terang. Kita bisa melihat hal-hal indah di setiap momen.

Bertemu dengan mereka juga membuatku bertanya dan menjawab sendiri. Aku bertanya darimana mindset positif itu tumbuh? Bagaimana membiasakan selalu optimis dan mengucapkan kalimat yang baik? Aku mengingat kesamaan keduanya, mereka penghafal al quran, setiap hari mereka membaca kalamNya meraih kemanisan dari firmanNya. Yang mereka dengarkan yang mereka baca adalah kalimat-kalimat terbaik, yang menyimpan makna dan hikmah yang baik juga. Mungkin... Karena itulah mereka menjadi seperti sekarang. Karena telinga mereka terjaga dari kalimat dan kata-kata negatif. Mata mereka disibukkan dengan membaca ayat-ayatNya. Maka mindset itu terbangun dan terjaga, mindset positif, sikap optimis dan kebiasaan mengucapkan kalimat yang baik.

Dari keduanya aku belajar. Untuk bisa memiliki mindset positif kita harus memfilter mata dan telinga kita. Agar yang masuk ke otak dan hati kita adalah kalimat baik yang menumbuhkan pola pikir dan perasaan positif. Agar kita tidak terbawa arus informasi yang dipenuhi hal-hal buruk dan prasangka negatif. Salah satu cara menyaringnya, adalah dengan menyibukkan diri kita dengan membaca, mendengarkan, menghafal dan mempelajari Al Quranul Karim.

Terakhir, semoga Allah menjadikan Al Quran musim semi di hati kita, cahaya di dada, dan pelipur lara. Aamiin.


Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.