Follow Me

Tuesday, October 30, 2018

Bukan Tidak Bisa, Hanya Belum Mencoba

October 30, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pagi ini, sebuah hikmah memanggil-manggilku, meminta untuk ditulis. Dari kejadian sederhana pekan lalu. Beberapa jam sebelum menulis ini, otakku sudah memulai merangkai outline. Memikirkan apakah hikmah ini akan kuikat dalam tulisan fiksi atau non fiksi. Sampai waktu ini tiba, kubiarkan jemariku bekerja.

Hari itu gas sudah hampir habis. Gas yang biasa digunakan untuk kompor, untuk memasak. Gas cadangan sudah dibeli adikku. Tadinya hendak diganti, namun jarum masih belum diujung merah. Kata adikku, nanti sore saja. Sepertinya cukup sampai sore. Adikku sempat bertanya, apakah aku bisa memasang tabung gas. Aku jawab tidak bisa. Lalu aku berbisik pelan, lebih tepatnya belum pernah mencoba. Singkat cerita, hari itu, karena urgen, dan gas habis, aku memberanikan diri mencoba memasang gas. Dan.. ternyata mudah. Aku memang pernah melihat Ayah dan adikku melakukannya. Ternyata, itu pekerjaan sederhana.

Kejadian itu berlalu satu pekan. Lalu pagi ini, entah mengapa hikmahnya terlintas di kepalaku, seolah menyapaku dan meminta ditulis.

***


Benar. Seringkali kita terburu mengakhiri kalimat kita. Kita berkata tidak bisa. Padahal yang lebih tepat, kita hanya belum pernah mencoba. Atau kita sebenarnya bukan tidak bisa. Hanya belum belajar.

Skenario fiksi yang tadi pagi aku reka, adalah contoh kemampuan memasak. Bisa masak? Ga bisa. Benarkah tidak bisa? Atau sebenarnya hanya belum pernah mencoba?

Mungkin sebenarnya kita hanya belum bisa. Kita hanya belum mencoba sehingga belum bisa. Belum belajar sehingga belum bisa. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan kalau kita mau mencoba. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan kalau kita mau belajar.

Jadi.. *khususnya untukku. Jangan segera membatasi dirimu. Jangan terlalu cepat memangkas kemampuanmu. Kita... bukan tidak bisa, kita hanya belum mencoba. Kita bukan tidak bisa, kita hanya belum belajar.

Memasang gas merupakan hal kecil, tapi dari hal kecil itu, aku bisa memetik hikmah. Bahwa seringkali kita, bukannya tidak bisa, hanya belum mencoba, atau belum belajar. Jika kita mau memberanikan diri untuk mencoba, kita bisa melakukannya. Jika kita mau sedikit usaha dan belajar, kita bisa mengerjakannya.

***

Awalnya, aku pikir ada banyak hal yang tidak bisa aku lakukan. Tapi dari satu kejadian kecil itu, aku diingatkan olehNya. Qadarullah ma syaa Allah. Bahwa ada banyak hal yang bisa aku lakukan, yang aku tidak tahu, hanya karena aku belum mencobanya. Dan ada banyak hal yang bisa aku lakukan, jika aku mau belajar. Manusia,.. diberi kemampuan, awalnya mengira tidak bisa, mencoba, ternyata bisa. Manusia,.. diberi kemampuan itu, kemampuan untuk naik tingkat, dari tidak bisa menjadi bisa, jika mau mencoba dan mau belajar.

Allahua'lam.

Sunday, October 28, 2018

Tangga Ketiga White Bamboo House

October 28, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi
Suara ketukan pintu membangunkan Niti. Jari tengahnya menggosok kelopak mata kanannya. Tuk tuk tuk.

"Ni...ti..." suara khas Aurora. Niti membuka pintu, hanya sedikit, cukup untuknya melihat wajah Aurora yang terbalut mukena parasut berwarna peach.

"Udah shubuh?" tanyanya. Niti menengok ke belakang, menunjukkan Aurora bekas mukena yang belum terlipat. Tadi Niti tertidur saat berdoa, baru sebentar, entah lima menit atau baru semenit, sampai pintu kamarnya diketuk. 

"Semalem ga tidur? Begadang bareng jemuran?" tanya Aurora. Niti menghela nafas pelan, sepertinya Aurora tidak berniat untuk segera pulang ke kamarnya. Ia membuka pintu lebih lebar, lalu berbalik dan duduk di sajadahnya, mengambil mukena dan mulai melipatnya. Aurora izin masuk kamar, lalu duduk di tempat tidur Niti yang penuh buku.

"Gimana mau tidur nyenyak, kalau tempat tidur penuh buku dan kertas-kertas gini?" Aurora mulai mengomel. Niti memilih membiarkan kalimat itu masuk kuping kiri dan keluar kuping kanannya. Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air di galon yang diujung bawahnya memiliki keran.

***

Aurora duduk di kamar Niti cukup lama, ia berdalih ingin menemani Niti agar tidak tidur setelah shubuh. Meski alasan sebenarnya bukan itu. Ia hanya butuh teman cerita, dan Niti entah sejak kapan selalu sedia telinga untuk ceritanya, mulai cerita kocak, cerita cinta, sampai cerita horror.

"Niti.. ajarin aku dong gimana caranya ga baper?" itu pertanyaan awal Aurora sebelum ia memulai ceritanya, Sabtu, 27 Oktober, ba'da shubuh.

"Kenapa, ada cowok yang bikin kamu baper?" tanya Niti yang matanya sudah tidak semengantuk sebelumnya. Rupanya meminum satu gelas air dingin cukup untuk menghilangkan kantuknya, meski semalaman ia tidak tidur. 

Aurora mulai bercerita tentang kakak tingkatnya, yang tiba-tiba chat dan bertanya kabar. Ia tahu ia tidak boleh baper dan berpikir yang aneh-aneh. Karena sebelumnya pernah juga ada kakak tingkat lain yang tiba-tiba chat juga, dan.. harusnya biasa saja.

"Tapi aku baper.. masa aku deg-degan ga jelas coba Ni.. ti.." ucapnya sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada. Tingkah Aurora membuat Niti tersenyum, ini bukan yang pertama. Cerita baper Aurora hampir selalu berulang setiap bulan, dengan tokoh yang berbeda.

"Mana kakaknya balesnya lama, bikin aku mikir yang aneh-aneh. Trus ujung-ujungnya nyadar, kalau cuma mau nawarin kerjaan, mumpung aku masih pengangguran. Ih BT" penjelasan Aurora membuat Niti tertawa kecil. Aurora memandangnya, membuat ia pura-pura batuk.

"Maaf," ucap Niti pendek. Lalu fokus mendengar penjelasan panjang dari Aurora. Kalimat yang digunakan kakak tingkatnya, pikiran aneh yang melintas di otaknya, juga debar jantung yang normal.

"Aku tahu aku ga boleh baper, tapi... susaah. ujung-ujungnya berprasangka sendiri, kecewa sendiri." ucap Aurora, menyesali dirinya yang sering baper. Niti mencoba menenangkannya, bahwa wajar kalau perempuan baper, mungkin karena sudah masanya memikirkan peran kedua sebagai seorang perempuan.

"Ga ada yang salah dengan bapermu. Toh kamu bisa mengendalikannya. Kamu bisa kan buat alasan rasional lain, agar bapermu ga menjadi-jadi. Kamu ga sebaper itu kok ra. Kamu normal, wajar. Dan ga kesemua orang kamu baper." Aurora mengangguk-angguk. Merasa sedikit terhibur. Ia takut menjadi orang aneh yang apa-apa baper.

"Anggep aja kaya pms, siklus bapermu kurang lebih sama lah, sebulan sekali", Niti menggoda Aurora. Ia tersenyum lalu mengambil snack stik coklat, yang sudah agak mlempem karena semalaman terkena angin dingin di lantai 4.

Tak terasa percakapan mereka berlangsung satu jam lamanya. Aurora pamit pulang, turun kamarnya di lantai satu.

***

Seharusnya Niti tidur, memberikan jatah istirahat untuk tubuhnya, tapi percakapannya dengan Aurora membuat tangannya gatal untuk menulis. Dalam hitungan menit, ia membuka buku diary bersampul coklat, menulis paragraf pendek, kemudian tertidur sebelum berakhir menyelesaikannya.

Sabtu, 27 Oktober 2018

Ry, pecinta coklat yang tadi malam membuatku sejenak berhenti menulis datang lagi. Kali ini ia bercerita tentang kisah bapernya dengan salah satu kakak tingkatnya. Entah ini kakak tingkat yang keberapa yang pernah ia ceritakan padaku.

Tapi ry, mendengar ceritanya membuatku berkaca dan teringat saat-saat aku baper. Saat aku menyadari bahwa aku ga ada bedanya sama teman-teman lain seusiaku. Nyatanya aku perempuan dan aku bisa baper. 

Seperti suatu sore di Masjid Karpet Merah, saat seorang ibu bertanya namaku, aku kuliah dimana, dan ibu itu mulai bercerita tentang anaknya yang ternyata kuliah juga di kampusku. Aku tidak bisa tidak baper. Jujur saat itu aku bertanya-tanya, apa ini jalan menuju 'kesana'? Sampai ibu tersebut menyebutkan nama anaknya, dan

The End.

***

PS: Ceritanya, daripada tiap nulis fiksi bingung cari nama tokoh, bingung ngedeskripsiin tempat, mendingan dibuat konsisten aja. Jadi settingnya akan sama, di White Bamboo House. Sementara baru ada dua karakter, nanti mungkin bisa bertambah, liat nanti aja hehe. Oh ya, White Bamboo House ini rumah kosan empat lantai. Setiap lantai ada empat kamar, kecuali lantai satu, ada 5 kamar. *nanti mungkin deskripsi lainnya di cerita berikutnya hehe. 

PPS: meski satu tempat dan dengan karakter yang sama, bukan berarti cerita bersambung. meski ada sedikit sambungan. tapi beda sama cerbung yang alurnya satu. Ini semacam beberapa cerita pendek yang terjadi di satu setting dan karakter yang sama. itu aja. 

Sekarang Aku Tahu Alasannya

October 28, 2018 0 Comments
Bismillah.

Sekarang aku tahu alasannya. Mengapa di sana sering hening dan senyap. Aku pikir saat itu, saat aku masih di luar, aku kira aku bisa membantu. Namun apa ini? Aku hanya bisa diam dan terbawa hening senyap tempat ini. Padahal aku bisa saja memecah keheningan. Namun lidahku ragu, jadi bibirku masih tertutup rapat. Atau.. sebenarnya, aku ragu, untuk memecahkan kesunyian. Saat sudah satu kali kupecahkan gelas, namun suaranya mampu ditelan suasana sepi di sana.

Sekarang aku tahu alasannya. Karena memang di sana biasa lebih nyaman diam, sembari saling menunggu. Entah, sampai kapan.

Sekarang aku tahu alasannya. Tapi tahu alasan, tidak menjadikanku bisa berbuat semauku. Maka sementara aku ikut diam, lebih nyaman begini, daripada harus jadi sosok yang suka gawe ribut. Hehe. Nanti, jika sudah kutuliskan satu dua postingan, jika sudah submit kewajiban pekanan. Setelah itu aku akan bersuara lagi. Di sana. In syaa Allah. Karena niat awalku ke sini, bukan untuk diam saja. Tapi untuk membantu, semampuku, dengan segala keterbatasanku.

Allahua'lam.

***

PS: Sudah bersuara sebisaku. Entah suaraku bisa memecahkan es atau ga, eh? wkwkwk. 

Saturday, October 27, 2018

Tentang Baca Buku

October 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kemarin-kemarin saya baca tulisan Johnny Uzan di medium judulnya, "Semua yang Saya Ketahui Tentang Membaca, Salah". Bisa dibaca di sini.


***

Dari situ aku bisa ambil beberapa hal. Pertama kita berhak untuk tidak menyelesaikan buku. Kedua, membaca lebih dari satu buku dalam satu waktu itu bisa. Sama seperti kita belajar beberapa mata pelajaran/mata kuliah dalam satu semester. Ketiga, buku yang baik dan pas untuk kita juga butuh waktu yang pas.

The right book for the right person is not enough. It needs to be the right book, for the right person at the right time. Sometimes you need to go on a little detour before you’re ready for what the book has to give you. The nice thing about books — they always wait where you leave them. - Johnny Uzan

Di bagian ini aku banyak teringat buku yang tertunda di baca, lalu suatu waktu dibaca lagi dan impact-nya lebih ngena. Juga mikir, ada pengecualian buku yang bisa pas dibaca setiap waktu. Apa itu? Al Qur'an. (: Justru menundanya akan membuat hidup kita 'kehilangan arah'. Memang spesial sih, didesain oleh Allah agar bisa dibaca setiap waktu dan zaman, ga pernah kerasa jadul isinya, pesan di dalamnya.

Dari tulisan itu, aku mulai berusaha membaca lebih baik lagi. Yang tadinya cuma menggugurkan kewajiban laporan, minimal tiga halaman, sekarang berusaha ambil judul buku lain dan baca. Tapi.. untuk melakukan itu, harus meluangkan waktu untuk membaca. Maka, aku jadi cek jadwal rutinitas. Bagian mana, yang lebih sering kugunakan untuk hal-hal ga produktif. Kebiasaan buruk apa yang menghabiskan banyak waktu, yang seharusnya bisa diisi dengan membaca. Pelaksanaannya, prakteknya ga mudah, tapi bisa in syaa Allah. Minimal niat sudah ada. Tinggal diusahakan, berdoa, dan dibiasakan.

Udah sih itu aja, tulisan random pagi ini. Selamat hari sabtu (: Sejak ikut gerakan #sabtulis, hari sabtu jadi terasa lebih istimewa. Hehe. Yang penasaran mau baca tulisanku untuk sabtulis, bisa tengok blog new leaf-ku. Alamatnya akardaunranting.blogspot.com.

Selamat beraktifitas (:

Allahua'lam.

Thursday, October 25, 2018

Tangga Keempat White Bamboo House

October 25, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

Semilir angin malam menepuk pelan pipi Niti. Tempat itu selalu menjadi tempat favoritnya, saat udara di kamar kosnya yang berukuran 3x2 terasa begitu sumpek. Lantai empat, lantai teratas kosannya di desain khusus untuk menjemur pakaian. Setengahnya beratap, setengahnya lagi tanpa atap. Di sana, Niti bisa melihat dengan jelas beberapa atap rumah di sekitar kosannya. Juga melihat langit malam, yang seringkali hanya gelap awan, tanpa bintang dan bulan.

Malam ini sepertinya Niti berniat lama di sana. Ia berbekal kursi pendek, meja lipat, juga senter yang diletakkan di kepalanya, serta tas yang isinya beberapa buku dan alat tulis.

Ia memulai dengan mengambil buku bersampul coklat, sepertinya buku agenda. Dibukanya halaman yang ditandai pita pembatas. Ia membaca diarynya, dua hari lalu, satu pekan sebelumnya. Sampai akhirnya ia menge-klik ballpointnya, dan mulai menuliskan tanggal dan jam hari itu.
Jumat, 26 Oktober 2018. 22.40
Ia kemudian tenggelam dalam pikirannya dan mulai merangkai kalimat demi kalimat, menceritakan harinya, perasaannya, pikirannya, pada 'teman imajinasi' yang ia sama 'Ry' dari kata Diary.

***

Ry, beberapa pekan ini aku tidak baik-baik saja. Mencoba bangkit, lagi, lagi. Berkali-kali jatuh, tapi bodohnya aku masih tidak juga belajar dari rasa sakit yang meninggalkan jejak.

Tapi hari ini Jumat, dan hari Jumat selalu saja bisa mengingatkanku tentang rahmah-Nya yang lebih besar, lebih luas daripada dosa hambaNya yang hina dina ini.

Seperti siang tadi, saat dua orang anak kecil meminta air minum. Mereka tidak mengamen, pun tidak menengadahkan tangan untuk mengemis. Aku saat itu sedang berdiri di depan kosan hendak pergi bertemu teman. Lalu mereka mendekat, salah satunya, yang lebih kecil, berkata pelan namun cukup jelas terdengar. "Bu, boleh minta air minum". Aku menengok ke arah dua bocah yang mengenakan kaos hitam bernoda tanah atau pasir

Aku meminta mereka menunggu. Aku masuk lagi ke kosan, naik buru-buru ke lantai 2, membuka kunci kamarku, mencari botol air mineral kosong yang masih bersih, kemudian mengisinya dengan air galon. Aku bergegas menutup kembali pintu kamar dan menuruni tangga, takut mereka menunggu terlalu lama. 

***

"Lagi nulis diary?" suara khas Aurora, penghuni lantai satu membuat Niti berhenti menulis sejenak. Niti kemudian mengisyaratkan pada temannya itu untuk tidak mengganggunya dengan desis pendek dan tegas. Ssst.

Niti melanjutkan menulis satu dua kalimat dengan ballpoint berwarna birunya. Sampai ia menyadari Aurora berusaha membaca tulisannya. Niti menatap Aurora, yang hanya tersenyum karena berhasil menarik perhatian Niti.

Niti menutup menutup buku diarynya. Sedetik kemudian ia mengambil snack stik berlapis coklat di salah satu ujungnya. Aurora mengambilnya, kemudian ia menjauh dan menikmati pemandangan malam sambil menyantap 'sogokan' dari Niti.

***

Air minum dalam botol plastik itu sudah kuberikan pada mereka. Lalu mereka berjalan menjauh, aku juga, ke arah berbeda. Setelah mereka berlalu, aku terus memikirkan kejadian itu. 

Ry, dua bocah cilik itu seolah bentuk Allah mengingatkanku bahwa aku masih diberi kesempatan berbuat baik. Meski dosaku kian hari makin menenggelamkan diriku. Aku jadi teringat kisah Nabi Musa, saat ia berlari atas kesalahannya, kemudian ia melihat dua perempuan yang kesulitan menahan ternaknya agar tidak mendekat ke sumber air, karena di sana penuh sesak laki-laki asing. Nabi Musa 'alaihi salam memandang itu sebagai kesempatan untuk berbuat baik.

Jika Nabi Musa yang mendekat dan meraih kesempatan berbuat baik itu. Aku... dua bocah itu yang datang padaku.

Ry, dua anak itu juga mengingatkanku, bahwa mereka lebih butuh air minum daripada uang receh. Sama seperti kita yang lebih butuh petunjuk (huda) dari-Nya daripada kebutuhan makan dan minum. 

Sampai saat ini, aku masih menyesal membiarkan mereka pergi hanya dengan sebotol air minum. Padahal seharusnya ada hal lain yang bisa kuberikan. Entah itu uang yang tidak seberapa, atau makanan ringan yang hampir selalu ada di tasku.

Ry, ternyata aku cuma segitu. Tidak terbiasa untuk bersedekah. Seharusnya aku bisa memberi lebih dari sekedar air minum. Tapi aku... TT Mungkin tebalnya kerak dosa ini penghalangnya.

Aku.. harus benar-benar bertaubat, bukan pura-pura kembali namun mengulang kesalahan yang sama.

Doakan aku ry. Bye. Ada penikmat coklat yang menanti aku berhenti menulis di sini. See you later.

_Niti @tangga keempat white bamboo house

***

"Kenapa sih rajin banget nulis diary?" suara Aurora mendekat, seiring suara langkah kakinya.

Niti tidak menjawab pertanyaan Aurora. Ia mematikan senter di kepalanya. Aurora mengembalikan snack Niti, yang tinggal setengah.

"Ga bisa tidur Ra?"

Aurora memasang muka masamnya. Ia kemudian protes karena pertanyaannya tidak dijawab.

"Emang kalau kamu tahu alesanku rajin nulis diary, kamu mau mulai nulis juga?" tanya Niti sinis. Aurora menggeleng.

"Penasaran aja, habisnya setiap aku ga bisa tidur, pasti nemu kamu di sini, nulis diary. Kenapa ga nulis di kamar?"

"Gapapa. Pengen aja"

***

Percakapan keduanya berlanjut, dengan suara lirih namun masih tertangkap telinga. Mereka pernah ditegur penghuni lantai tiga, karena mengobrol keras-keras malam hari. Udara makin dingin membuat Aurora pamit pergi duluan. Niti masih menetap di sana, jaket tebal yang ia kenakan, cukup untuk membuatnya bertahan satu jam lagi di sana. Ia belum ingin masuk kamar, kelopak matanya belum berat.

Ia mengambil sebuah buku bersampul biru. Senter di kepalanya diajak bekerja lagi. Matanya menelusuri satu demi satu kalimat, hanyut dalam cerita bacaan tersebut. Sesekali ia mengusap pipinya, yang terasa dingin karena berkali-kali diterpa angin malam.

The End.

Monday, October 22, 2018

Satu Tahun

October 22, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Saat aku susah payah ingin menyerah, ada orang lain, yang susah payah ingin bangkit. What's done is done. Yang tidak ditakdirkan hadir di hidupku tidak akan pernah hadir, pun yang tidak ditakdirkan pergi dari hidupku juga tidak akan pergi. Jalan setiap orang berbeda, dan satu tahun ini aku berusaha memetik hikmah dari perbedaan tersebut.

Dalam proses memetik, menenun dan merangkai hikmah, banyak momen aku lalai, lupa, lalu terlena membuang waktu yang berharga. Kemudian di satu dua momen, aku berhasil memetiknya, menenunnya dan merangkainya, kemudian terkadang aku goreskan menjadi tulisan. Di sini, atau di tempat lain. 

***

Satu tahun, dan aku sering gagal fokus dan menikmati distraksi. Pergantian fokus juga terjadi, bukan fokus utama tapi. Pencapaian yang ingin kuraih sudah kutuliskan, tinggal bagaimana ia tegak sebagai azzam dalam hati lalu berbuah usaha dan doa. Bagian itu yang masih jatuh bangun. 

Kebiasaan baik yang kucoba bangun, sebagian mulai menunjukkan daun pertamanya, ada juga yang keburu layu, entah apakah bisa dihidupkan lagi. Tapi in syaa Allah ga boleh menyerah. Cukup setahun yang lalu saja aku bersusah payah untuk menyerah. Kali ini tidak boleh J

***

Sering-seringlah berkaca bell.. muhasabah. setiap hari, setiap bulan, setiap tahun. Semoga bisa belajar banyak dari pengalaman dan waktu yang berlalu. Semoga terus semangat bertransformasi menjadi insan yang lebih baik. Menjalani berbagai peran dengan baik, peran sebagai hamba Allah, sebagai anak, sebagai muslimah, sebagai adik, sebagai kakak, sebagai pemuda, sebagai yang bercita-cita menjadi penulis, sebagai bagian dari masyarakat, dll. Semoga Allah memberkahi setiap langkah. Aamiin.

Allahua'lam. 

Sunday, October 21, 2018

Bekas Dosa

October 21, 2018 2 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Seperti dongeng Pinokio, yang setiap berbohong hidungnya bertambah panjang. Seperti itu juga, aku pikir, dosa itu berbekas, meski tak selalu bisa dilihat, seringkali kasat mata. Lalu aku teringat hadits penjelasan kata "ran" yang menutup hati. Bercak, noda hitam yang menutup hati setiap kali kita berbuat dosa. Perlahan melingkupi dan menutup seluruh sisinya. Hati kita sakit, sekarat, hampir mati dan terkunci.


Meski bekas dosa yang tak terlihat, ia terasa. Kita merasakannya lewat rasa bersalah. Lewat suatu pagi kita terlambat bangun untuk shalat. Lewat beratnya tangan kita membuka mushaf dan membaca kalam-Nya. Lewat komunikasi yang runyam dan bundet dengan manusia.

Dosa-dosa kita berbekas, tapi Allah Arrahman memberi kita kesempatan dan cara untuk menghapusnya. Lewat taubat, lewat istighfar, lewat amal shalih yang menghapus dosa, lewat shalat lima waktu, shalat jumat, lewat Bulan Ramadhan.

Semoga Allah mengampuni dan memaafkan dosa-dosa kita. Juga menghapuskan bekas-bekas dosa di hati kita. Sehingga kita bisa menghadapNya dalam keadaan terbaik. Aamiin. 

Allahua'lam.

Berhenti Diam (2)

October 21, 2018 0 Comments
Bismillah.

Qadarullah, atas izinnya aku beranikan diri untuk berhenti diam. Ragu aku bersuara, awalnya lirih dan terdengar menggumam. Namun satu dua hal membuatku berani bersuara lebih jelas. Aku masih sama, masih belum bisa menjadi teman yang baik. Masih sering egois dan sibuk memikirkan diri sendiri. Tapi aku berusaha berjalan, berusaha berhenti diam.

Saat berhenti diam, aku mendengar responnya. Saat mulai bersuara aku sering bertanya-tanya pada diri, apakah kalimat yang kusampaikan salah? Apakah suaraku terlalu bising dan membuatnya menutup telinga? Apakah berhenti diam adalah pilihan yang tepat?

Sesekali aku merasa sia-sia. Rasanya berhenti diam tidak mengubah apa pun, tidak berdampak, tidak berikan efek positif. Namun terlalu lama diam juga tidak membantu. Maka aku akan berusaha tetap begini. Berhenti diam dan mulai bersuara, meski sering pelan, lirih, dan dipenuhi keraguan. 

***

Di masa saat urusanku-urusanku, dan urusanmu-urusanmu, tidak mudah untuk berhenti diam. Seperti kata seseorang, yang berani 'gerak' cuma sedikit. Aku jawab, tidak mudah bersuara dan bergerak "ikut campur" urusan orang lain. Sekalipun orang tersebut adalah orang yang kita sayangi. Karena memang ada seninya, bagaimana tetap peduli dan simpati, tanpa menghakimi dan menuntut. Karena memang, sekalipun ingin bergerak dan bersuara, seringkali keinginan itu terhempas kesibukan masing-masing.

Doa memang hadiah terindah yang bisa kita berikan pada teman dan saudara kita. Tapi itu bukan satu-satunya jalan. Maka kita diminta berusaha juga. Dengan bersuara. Dengan bergerak mendekat. Membantu semampunya. Mengingatkan diri sembari mengingatkannya.


Allahua'lam. 


Friday, October 19, 2018

Berhenti Diam

October 19, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pada momen mana aku harus berhenti diam, dan mulai bersuara? Rasanya ingin ada di sampingnya saja, dan menjadi teman yang ia bisa cerita banyak hal, berusaha untuk menjadi sosok yang tidak mudah menghakimi. Tapi aku tahu, aku bukan teman yang baik kalau aku diam saja saat melihatnya makin jauh jatuh. Seharusnya aku bersuara, mengulurkan tangan. Meski aku sendiri sedang jatuh bangun dengan masalah sendiri.

Lebih mudah rasanya, membiarkan diri menjadi sosok yang egois dan tidak peka. Ketimbang menjadi sosok yang peduli dan membantu. Berkali-kali aku baru bersuara saat ada yang bertanya. Tidak bisakah aku berhenti diam, dan mulai aktif bersuara. Tentu suara yang perlu ia dengar bukan ceramah A-Z. Aku tahu dan yakin, ia sudah tahu. Tapi suara lembut yang bisa menjadi pengingat untuknya. Suara yang mampu menyentuh hatinya.

***

Menulis ini, aku bertanya-tanya pada diri... bagaimana mungkin aku bisa menawarkan bantuan, saat aku sendiri dalam posisi butuh bantuan untuk bangkit? Atau pemikiran ini, hanya sebuah excuse dari diri yang egois. Aku tidak tahu. 

Yang aku tahu, aku bisa segera berlari padaNya, minta bantuanNya, pun minta diberikan kekuatan atau kemampuan, agar bisa berhenti diam, dan bersuara. Bersuara yang tidak menyakitinya. 

Allahua'lam. 

Wednesday, October 17, 2018

Circle (2)

October 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

Seperti yang kutulis Circle, aku takut memulai lagi. Itu perasaan pertama yang hadir saat tahu, bahwa aku mungkin kembali ke 'tempat' itu lagi.


Perasaan selanjutnya, saat sudah melangkah, adalah perasaan heran dan tidak percaya. Disertai mengingat memori lama, saat aku pernah memutuskan untuk menjauh dan mungkin tidak akan pernah kembali. 

Kemudian yang ketiga, aku merasa bersyukur. Ada banyak nikmat lama yang kukecap kembali. Aku baru sadar betapa selama ini aku begitu jauh, dan betapa hal 'kecil' ini, hal 'biasa' ini, justru memberi dampak banyak. Seperti saat aku teringat pentingnya niat mati syahid karenanya.

Tidak setiap langkah mulus memang. Pertanyaan tentang masa lalu, perbedaan, latar belakang, yang kutakutkan di tulisan pertama, memang menjelma jadi realita. Sesekali aku terbata mengeja jawaban. Terkadang tergelincir dalam 'selokan'. Meninggalkan lecet, kotor, dan juga aroma tak sedap.

Juga perbedaan, yang makin hari makin terlihat. Aku jadi bertanya-tanya, akankah perbedaan ini suatu saat akan membuatku pergi? Lagi? Seperti dulu?

***

I still can't believe I'd be here again. After that decision in the past.

Rasanya familiar sekaligus asing. Seperti berjalan bersama, tapi menyendiri. Ada banyak pertanyaan dan prasangka yang berseliweran. Semoga bisa kufilter, agar jawabannya baik, prasangkanya pun positif. Niat memulai lagi, juga harus dijaga. Bukan karena apapun, kecuali karena ingin mendekat dan meraih ridho-Nya.

Allahua'lam. 

Monday, October 15, 2018

What's Left

October 15, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

What's left tidak bisa diartikan per kata. Arti dari what is left, bukan "apa itu kiri". Maknanya bertanya, apa yang tersisa, apa yang tertinggal, apa yang masih ada. Sedangkan jika ingin bertanya apa yang ada di kiri, perlu ditambahkan satu kata, what's on the left? *ini bukan blog akardaunranting Bell, hehe.


Sedari kemarin aku ingin menulis tentang ini, tapi bimbang, bingung dan ragu, apakah tepat kutulis di sini, atau seharusnya ditulis di blog magic of rain? Hmm...Kupikir, coba tulis dulu disini, urusan publish atau save as draft, itu urusan belakangan.

***

Yang tersisa adalah bekas luka. Daging sobek yang mengeluarkan nanah. Melihatnya saja membuat meringis dan ingin menutup mata. Tapi bekas luka yang belum menutup itu, berhasil mengingatkanku akan dosa yang menggunung. Jika sakit dan bekas luka tersebut adalah bentuk penggugur dosa, sungguh tak sebanding. Sakitnya tak seberapa, jika dibandingkan dengan dosaku.

Yang tertinggal adalah bekas sayatan. Sudah menutup sempurna memang. Sayatan dalam, yang aku pikir butuh jahitan itu, secara ajaib menutup secara alami dengan sendirinya. Sungguh hebat raga yang diciptakan Allah shubhanahu wata'ala. Bagaimana saat terluka, jika ia ditutup, dan diberi antiseptik, serta dijaga agar tidak banyak bergerak dan memperlebar luka, pasukan sel darah merah, sel darah putih, jaringan daging, kulit, bekerja untuk menutup luka, sel-sel baru dibuat, lalu jaringannya terjalin. Lalu tertutuplah luka. Ada jejaknya memang, Seolah meninggalkan cendramata bahwa bagian kulit tersebit pernah tersayat dalam.

Yang ada, adalah bekas luka. Yang ini akibat tersiram air panas. Hadirnya tidak kuperhitungkan. Tiba-tiba saja kutemukan, sebagian kulit menghitam. Aku pikir akan lama menetap, tapi masih karena kehebatan Sang Pencipta, bagian kulit yang menghitam tersebut mengelupas. Yang tersisa kini, seolah tidak ada  lagi bekas lukanya. Tapi kalau dilihat lebih dekat, sebenarnya ada sedikit perbedaan, antara kulit yang pernah tersiram air panas dengan yang tidak terluka.

***

Semua luka itu letaknya di kiri, semuanya hadir karena kecerobohan dan kesalahan diri. Tapi cukup untuk membuatku bertanya-tanya... bisakah luka-luka kecil itu menggugurkan sedijit dari gunungan dosaku?

***

I wish what's left is not only those scars. Bukan cuma bekas luka. Tapi semoga juga kesadaran untuk banyak beramal baik, karena amal baik dapat menghapus dosa. Semoga diri tidak banyak menghabiskan waktu dengan hal sia-sia. Namun bersegera unit uk meraih ampunanNya, yang luas, yang jauh lebih besar dari pada gunungan dosaku. 

Allahua'lam.


Contagious

October 15, 2018 0 Comments
Bismillah.


Salah satu alasan mengapa orang-orang sering tidak mau membagi kesedihan atau cerita tentanng luka yang membekas di hatinya, selain karena enggan dilihat lemah, juga karena ini, contagious. Takut, jika kesedihannya menular pada orang-orang yang dipilih jadi pendengarnya. Takut, kalau ternyata lukanya yang tidak seberapa, membuat orang lain teringat luka yang lebih parah milik orang tersebut. 

***

Seperti sebuah senyum bisa menjadi sedekah dan berantai, menimbulkan senyum lain, begitu pula kesedihan, begitu pula luka. 

Maka tingkat tertinggi.. memang hanya menjadikan Allah sebagai tempat mengadu. Mengadu padaNya ketika kesedihan melingkupi hati, dan luka terasa begitu sakit. 

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".

Tapi tidak semua mencapai tingkatan tersebut, banyak dari kita yang masih butuh orang lain. Bercerita dan meminta bantuan orang lain, atas masalah, kesedihan atau luka, itu tidak mengapa, asalkan kita tidak bersandar dan bergantung pada manusia. *kayanya pernah nulis ini deh hehe.

Bahkan, salah satu hal yang aku pernah dengar, penting untuk tahu kapan kita butuh bantuan orang lain. Misal saat menyimpan kesedihan justru membuat kita tenggelam di dalamnya, mungkin kita butuh mendengar pendapat orang lain, bagaimana agar kesedihan tidak menyita pikiran kita seharian. Seperti saat sakitnya sudah kompleks, batuk, demam, radang, kita harus ikhtiar ke dokter. Bukan untuk mengeluhkan rasa sakit, tapi sebagai ikhtiar menyembuhkan luka tersebut. Begitu pula kesedihan, luka di hati. Ada kalanya menceritakannya, menuliskannya menjadi jalan menyembuhkannya. Agar kesedihan bisa menjelma menjadi kata, kita titipkan sejenak, agar bisa melanjutkan hari tanpa tersita kesedihan tersebut. Pun, agar kita tahu bagaimana mengatasi luka tersebut.

Kuncinya kalau bagiku, ingatkan hati, luruskan niat. Bahwa kita bercerita, kita menulis, entah itu kesedihan atau luka, bukan untuk mencari perhatian, pun bukan karena mencari tempat bersandar. Dalam perjalanannya, niat ini harus selalu diperhatikan, jangan sampai belok. Kunci keduanya bagiku, "jangan di jalan raya". Tidak perlu ada banyak telinga dan mata yang mendengar dan membaca sedikit ekspresi sedih dan cerita luka kita. Bercerita jangan ke kelompok orang, cukup ke orang yang kita percaya, yang kita pikir bisa memberikan pengingat dan nasihat penguat. Tulis di tempat sepi pengunjung, entah itu dokumen yang terkunci password, atau blog anonim.

***

Contagious. Tentu kita tidak ingin meninggalkan efek buruk pada orang lain. Kita hanya ingin memberikan kebermanfaatan meski kecil dan sedikit. Karena yang kecil dan sedikit itu, bisa bernilai besar, jika niatnya benar dan caranya juga benar.

Yang unik itu... ada beberapa tulisan, yang sekilas, kesannya merupakan bentuk kesedihan dan luka penulisnya. Tapi mungkin karena niatnya tulus, bukan untuk cari perhatian, hanya sebagai tempat mengambil hikmah, manfaatnya dirasakan yang membaca. Dan aku sebagai pembaca jadi bisa ikut memetik manfaat juga, dari kesedihan dan lukanya. 

Juga beberapa kisah Al Qur'an, tentang kesedihan dan luka, yang bisa kita ambil pelajaran darinya. Nabi Adam 'alaihisalam yang diturunkan ke bumi terpisah dari Hawa, dalam perasaan sedih menyesali kesalahannya. Nabi Ya'qub 'alaihisalam yang terpisah puluhan tahun dengan anaknya. Maryam salamun 'alaiha yang dihina kaumnya di depan mukanya, dituduh sebagai pezina, Ibu Musa yang harus menghanyutkan bayinya, Zakariya 'alaihisalam yang hingga usia senja belum dikaruniakan keturunan. Asiyah, yang hidup serumah denngan manusia zalim Fir'aun dan pasukannya.

Terakhir, jangan keliru urutannya. Tentu berdoa dan mendekat padaNya adalah langkah pertama dan utama. Menulis dan bercerita pada selainNya itu langkah kesekian. Semoga Allah memberikan kita nikmat mengadu kesedihan dan luka hanya padaNya. Semoga setiap kesedihan, luka, pun kebahagiaan dan senyum menjadi jalan kita mendekat padaNya. Aamiin.

Allahua'lam. 

Saturday, October 13, 2018

Ini Apa?

October 13, 2018 0 Comments
Bismillah.

Dua kata, pertanyaan yang akhir-akhir ini kudengar berulang. Semenjak dekat, dan sudah nyaman denganku, bocah yang belum genap 2 tahun itu setiap main bareng pasti mengulang pertanyaan tersebut.


"Ini apa?" lalu kujawab, lalu ia mencoba menirukan jawabanku, meski seringnya tidak sempurna, hanya lafal akhir saja. Sendok jadi dok, kertas, jadi tas. Kalau yang sudah familiar, biasanya bisa lengkap meniru, sapu, buku, dll.

Entah mengapa hal itu mengingatkanku akan keistimewaan manusia. Bagaimana Allah mengajarkan pada manusia nama-nama (ism). Saat malaikat ditanya, jawabannya Allah Maha Mengetahui. Saat Adam 'alaihi salam ditanya, jawabannya seperti yang telah diajarkan.

Salah satu keistimewaan manusia adalah mengenal nama-nama benda. Bisa melihat perbedaannya, dan menyebutkan namanya, setelah diajarkan tentu saja. Ilmunya dari Allah, dan kita diciptakan dengan otak yang bisa menerima ilmu tersebut. Pengetahuannya tidak harus dengan mata, bahkan kita juga diberi kemampuan untuk mengimani yang kasat mata. Keberadaan jin, perasaan cinta, benci, surga neraka, lauhul mahfuzh, dll.

Tapi meski dengan kemampuan yang dimiliki tersebut, manusia juga diberikan pilihan, untuk menggunakannya, atau justru lalai dan memilih menjadi lebih buruk dari hewan ternak. Matanya tidak digunakan untuk melihat, telinganya tidak digunakan untuk mendengar, dan hati.. tidak digunakan untuk menerima cahaya petunjuk dariNya.

***

Ini apa? Pertanyaan sederhana itu membuatku berpikir. Awalnya kita mengetahui nama benda, kemudian kita perlahan tahu fungsinya, memperhatikan elemen yang membentuknya, bahkan juga mulai mengetahui bahwa setiap benda tersusun dari atom. Selanjutnya... jika kita sudahi saja berpikir di ranah materi, mungkin pengetahuan itu akan sia-sia. Karena seseorang baru disebut berilmu, jika ilmunya membuatnya memiliki khasyah. Bukan hanya materi benda, tapi kita jadi memikirkan tentang penciptanya Yang Agung.

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Semoga Allah menjadikan setiap ilmu yang kita dapat menjadi cahaya untuk mendekat padaNya. Semakin tunduk, khusyu' padaNya. Serta dilindungi dari sifat ujub dan ria. Aamiin.

Allahua'lam.


Utak Atik Desain Lagi (2)

October 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Sejak hari itu.. qadarullah jadi beneran mainan desain lagi. Buktinya coba tengok beberapa postingan terbaru di blog ini. Ada preview desainnya kan? Ada sih yang ga ada desain, tapi ada foto/screenshoot. Yang jelas ga kosong.

Selama proses utak atik desain ini, aku jadi merasa banget perlu belajar. Belajar memilih font, jenisnya, ukurannya, spacing antar letter dan spacing antar barisnya. Belajar memilih gambar, filter mana yang bagus dipakai. Belajar juga kombinasi warna, suka ngasal dan ga paham buat palette yang baik. Belum lagi tentang white space. Banyak, pokoknya harus banyak belajar. Inget dulu pernah sedikit dapet ilmu di mata kuliah visualisasi data. Pernah di rekomendasikan text book yang bisa dibaca juga. Tapi.... belum kuat keinginan belajar via text booknya. Sementara eksperimental saja belajarnya. 

***

Utak-atik desain juga membuatku ingin mendokumentasikan hasilnya. Rasanya sayang kalau cuma berakhir di blog ini. Kepikiran buat share di fanpage fb. Tapi meragu, karena aku belum siap.. sharing link blog ini.

Trus... jadi inget beberapa sosial media yang fokus di visual. Ga asal, minimal ada ciri khas, semacam logo, atau template desain yang standar. Beda denganku, yang seenaknya saja. Ga ada logo, ukuran desain beda-beda. Font juga. Warna juga.

***


Rasanya ada banyak yang bisa dikerjakan, dan banyak juga distraksi yang membuat lupa hal yang seharusnya dikerjakan. Hampir selalu begitu, merugi.

Banyak doa, dan usaha, agar ga rugi. Waktu yang terus mengalir ini, semoga diisi dengan keberkahan. Aamiin.

Allahua'lam.


Friday, October 12, 2018

Getting Far Away

October 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi
"I feel like I'm getting far away. From you."
Sebuah kertas hvs merah muda yang terselip di pintu kamar menarik mataku. Kutengok kanan kiri, tidak ada orang, pelan aku berjongkok dan menariknya keluar. Kertas berukuran hvs tersebit terlipat dua, kubuka dan kutemukan kalimat tersebut. Tulisan tangan, agak keriting, namun masih terbaca dengan jelas.

Aku hendak membaca kalimat berikutnya, namun suara langkah dan obrolan dua atau tiga orang teman kosku membuatku menutupnya lipatannya lagi. Aku buru-buru mencari kunci dan membuka pintu kamarku yang terletak persis disebrang pintu kertas merah muda yang kupungut tadi.

Aku masih berdiri dibalik pintu, mendengarkan suara langkah dan berusaha mengenali siapa saja yang lewat. Setelah suasana kembali sepi, aku menghela nafas lega. Pertama, karena tidak ada yang melihatku mengambil kertas tersebut. Dan kedua, karena tidak ada suara Windy. Aku masih punya waktu untuk membaca kalimat berikutnya, sebelum kukembalikan kertas merah muda ini pada yang berhak.

***
"Every time I fall, every chance I lost, every step I miss, take me far far away from you. You're getting better, and I'm getting worse. You take a step closer, but I take step back, twice. So I'm wondering, will we ever get a chance to meet again? I think I just... "
Semua tulisan di sana berbahasa inggris, setiap dijeda titik, tulisannya makin keriting membuatku harus fokus supaya bisa membacanya. Yang paling aneh, akhirnya, akhir kalimatnya yang terpenggal, seolah tidak selesai. Atau sebenarnya kalimat sempurnanya ada di otak si penulis, namun ia tidak mampu atau tidak mau menuliskannya.

Lipatan kertas merah muda itu menghuni kamarku tiga hari, aku selalu lupa memberitahu Windy. Lebih tepatnya, aku takut Windy marah karena aku membaca yang tidak seharusnya kubaca. Sampai suatu hari, aku ke kamar Windy, hendak meminta kertas A4 reuse.

"Ambil aja di kerdus itu," tunjuknya mempersilahkan aku masuk. Ia sedang memakan snack kacang, sembari membaca buku tebal bersampul ungu dengan ilustrasi seorang anak kecil memakai teropong untuk melihat bintang. Aku mengambil beberapa lembar, A4 reuse, kemudian terhenti karena menemukan hvs hijau muda terlipat. Kutengok Windy yang masih fokus membaca, pelan kubuka lipatannya, sekilas kubaca satu kalimat sebelum Windy memergokiku dan aku salah tingkah.

"Windy.. sebenernya, hari Senin kemarin, aku nemu lipatan kertas hvs merah muda terselip di bawah pintu kamarmu... " ucapku jujur, akhirnya. Windy meletakkan bukunya, menghampiriku dan mengambil kertas hijau hvs yang terlipat dua.

"Ada di kamarku, sebentar ya aku ambil," aku keluar kamar Windy, dan segera menuju kamarku, meraih kertas hvs merah muda dan mengambil nafas pelan. Selintas kuingat lagi kalimat di kertas hijau yang kuintip isinya.
"I'll keep my distance, even if I can easily make it disappear."
Aku menyerahkan kertas itu, menunduk. Siap untuk diomelin, berharap Windy tidak memilih diam dan mengusirku keluar.

***

"Jadi ini bukan surat dari siapa gitu buat kamu?" tanyaku heran. Windy tertawa kecil, tangan kanannya menutupi mulutnya, matanya mengecil. Beneran ketawa, bukan pura-pura.

"Kamu kebanyakan nonton atau baca cerita romance Tri," ia tersenyum. Aku masih bengong, tidak menyangka akan begini. Tiga hari itu, aku sibuk membuat skenario kemungkinan-kemungkinan. Pun saat kulihat lipatan hvs hijau, kukira, kertas merah muda itu bukan yang pertama. 

"Kecewa lah, masa kamu ga ngenalin tulisanku sih?" Aku mendengus kesal, memberitahunya bahwa wajar aku tidak tahu tulisan tangannya. Kami bukan teman satu jurusan yang suka saling pinjam catatan. Apalagi di jaman serba ketik, sangat sulit untuk mengenali atau menghafal tulisan tangan seseorang.

"Trus ini surat buat siapa?" tanyaku, membuat Windy salah tingkah. Matanya tidak bisa menatapku, otaknya mungkin sedang berpikir bagaimana mengubah topik. Selagi Windy panik, kuambil hvs hijau yang terlipat dua.

"Pinjam ya," ucapku mengejeknya, kujulurkan lidahku kemudian aku lari ke kamar. Windy mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Aku tertawa puas, baru kemudian membukanya.

"Siapa?" tanyaku. 

***

Kata Windy, surat ini cuma untuk mengeluarkan apa yang ada di otaknya. Tidak bermaksud ditujukan pada siapapun. Tapi bukan Ratri namaku, kalau aku tidak berhasil membuat Windy bersuara. Pertanyaannya aku ganti. Bukan siapa, tapi aku ingin tahu penjelasan tulisan di kertas merah muda yang kubaca tiga hari yang lalu.

"Cuma perasaan inferior aja. Karena ia tampak begitu tinggi, dan aku begitu rendah."

"Kaya bumi dan langit?" tanyaku, 

"Ga dong, enak aja." jawaban Windy membuatku heran. Seolah ia masih punya pride dan tidak mau dikatakan kalah jauh ketimbang sosok yang seharusnya menerima surat tersebut.

"Jangan sering-sering ngebandingin diri sama orang lain, ga baik." nasihatku pada Windy. Aku kini sedikit paham mengapa ia menuliskan kalimat-kalimat itu. Sosok itu mungkin tampak lebih dekat dengan Allah, sedangkan Windy masih tertatih untuk mendekat padaNya, masih sering jatuh dan menjauh lagi denganNya.

"Kakak tingkat?" tanyaku iseng, menggoda Windy. Windy diam terpaku, mungkin itu bisa diartikan ya. Selanjutnya aku yang banyak bicara. Sok bijak, sok dewasa. Untuk hal ini, aku lebih berpengalaman. Aku juga pernah merasakan yang mirip dengan itu.

"Iman itu, ada di hati. Yang tampak tidak selalu sama dengan yang ada di hati. Ketimbang fokus pada rasa minder, mending fokus memperbaiki diri. Ga usah banyak menengok ke arahnya, ga baik."

"Aku juga tahu kok Tri. Makasih udah diingetin."

"Jangan bilang siapa-siapa ya," ucap Windy sebelum akhirnya balik ke kamar. Aku tersenyum tipis. Tangan kananku masih di belakang punggung, memegang hvs hijau yang terlipat dua.

***
I choose to stay far away, not because I'm afraid to get closer. I just don't want you to read me. Though I'm like one little book inside a library. Also.. I think I'm alone. And it's better this way. And there's some.... 
Kali ini, aku menyesal membacanya. Kenapa Windy selalu mengakhiri tulisannya dengan kalimat yang tidak selesai. Kulipat kembali kertasnya, rasa penasaran membuat otakku menebak lanjutan kalimatnya. Mungkin benar kata Windy, aku terlalu banyak membaca dan menonton kisah romance. Menit selanjutnya, aku membuat dua tiga skenario fiksi. Termasuk membayangkan sudut pandang sosok penerima surat, yang tidak kuketahui eksistensinya. 

The End.

Monday, October 8, 2018

Mendiamkan ; Hajr

October 08, 2018 0 Comments
Bismillah.

Allah merencanakan semuanya, dengan matang, untukku. Semua 'kebetulan' yang hadir di hariku, memojokkanku dan bertanya, bisakah kamu mengambil hikmahnya? Bisakah kamu mengamalkan jika ilmunya sudah kau ketahui?

***

Setelah keluar dari persembunyian (akhir tahun 2016), kemudian perlahan berusaha memetakan masalah diri dan mengambil keputusan besar (sampai akhir tahun 2017), kembali ke Purwokerto, adaptasi dengan rutinitas baru, sampai akhirnya berinteraksi lagi dengan orang selain keluarga. 

Di lingkungan baru itu, aku mengenal beberapa sosok manusia yang membuatku belajar banyak hal. Aku sering marah sendiri, curiga sendiri, sebel sendiri, terutama saat Allah memperlihatkan sisi buruk mereka. Saat itu, rasanya ingin orang-orang itu keluar saja dari hidupku, atau aku yang keluar saja dari hidup mereka, jalan pintas memang, dan kali ini aku tidak punya kuasa. Jadi pilihan selanjutnya adalah mendiamkan, sebisa mungkin menutup diri. Bukan tidak mengobrol sama sekali, komunikasi tetap jalan, tapi hanya hal yang perlu dan memaksa. Selain itu, aku sibuk sendiri dan mereka sibuk sendiri.

Sampai qadarullah, kajian Bulughul Maram di masjid dekat rumah sampai di hadits ke 24, hadits mengenai mendiamkan saudara muslim, yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Sekitar tiga atau empat pertemuan baru selesai membahas satu hadits tersebut. Selama rentang waktu itu, berbagai "drama" terjadi di rutinitas yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang yang tidak aku sukai. Ditambah, qadarullah baca buku Mizanul Muslim yang membahas tentang ukhuwah. Lengkap sudah 'kebetulan' yang Allah rancang untukku.

Pertemuan pertama, Ustadz Abdullah Zaen fokus menjelaskan kisah periwayat hadits tentang mendiamkan /hajr tersebut. Nama aslinya, bagaimana saat Rasulullah tinggal bersama beliau, sifat dan sikap baiknya, sampai akhir hayatnya, ia dikuburkan jauh dari kampung halamannya.

Pertemuan selanjutnya, dibahas tentang dua sebab mendiamkan seseorang, apakah itu karena urusan pribadi atau karena urusan agama. Mendiamkan/hajr karena urusan agama ternyata boleh lebih dari tiga hari tiga malam, seperti yang tertulis di Quran tentang Ka'ab bin Malik dan dua sahabat lain, yang didiamkan selama kurang lebih 40 hari karena tidak hadir di perang Tabuk tanpa alasan syar'i.

Tiap duduk dan mendengarkan, pikiranku pasti menyangkut pautkan dengan apanyang terjadi di keseharianku. Aku.. yang enggan ramah, berkomunikasi sekedarnya saja, karena merasa sakit melihat keburukan orang tersebut. Beberapa kali tertegur mendengar penjelasan hadits tersebut. Bahwa membenci atau memilih tidak memaafkan, bahkan sampai mendiamkan karena ego, tidak akan memberikan keuntungan apapun bagi diri kita.

Belajarlah dari Nabi Yusuf,
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang".

itu maknanya, ia sudah lupa kesalahan kakak-kakaknya.

***



Itu teorinya, prakteknya beda cerita. Saat itu, setiap aku melihat orang itu, mudah sekali rasanya menghadirkan ulang bayangan kesalahan orang lain. Lalu rasanya begitu sulit untuk memaafkan, ibarat kertas yang sudah diremas, mau dibuka lagi, dicoba dirapikan, tetap saja masih ada bekasnya. 

Lewat pengalaman dengan orang lain itu, aku jadi berkaca tentang diri. Ya, aku juga. Aku sekarang paham, mengapa beberapa orang tanpa sengaja dan tanpa niat menyakiti sering mengucapkan kesalahan yang pernah kuperbuat. Karena luka yang kutorehkan di hatinya, masih berbekas. Aku saja masih berulangkali teringat kesalahan itu, apalagi mereka, yang tersakiti karena kesalahanku.

Lalu aku jadi sedikit lebih paham lagi, bahwa memang tidak ada tempat kembali selain padaNya. Karena hanya DIA, yang bisa menutup kesalahan dan dosa kita. Terbukti, rahmatNya, nikmatNya terus mengalir, meski kita berulang jatuh dalam dosa, mencoba bertaubat, namun kembali oleng dan terjatuh lagi, kemudian mencoba bangkit lagi karena kita tahu pintuNya masih terbuka lebar-lebar, siang maupun malam.

Pun berkaca lagi, tentang ketentuannya yang adil. Bahwa kebaikan bisa menghapus keburukan. Maka setiap ada sedikit, sedikit peluang melakukan kebaikan, kita teringat, bahwa Allah tidak menutup pintu rahmatNya. Seperti wanita hina yang bertaubat, namun tidak diterima manusia manapun karena kelamnya masa lalunya. Namun seciduk air, yang ia berikan untuk anjing yang kehausan, Allah hitung balasannya dengan adil.

Kemana lagi akan berlari, jika bukan kembali padaNya?

***

Di pertemuan selanjutnya, masih bahas tentang hadits mendiamkan atau hajr. Disebutkan bahwa mendiamkan bukan satu-satunya jalan yang bisa diambil jika kita bermasalah dengan orang lain. Pun saat kita melihat kesalahan orang lain.

Cara kita bersikap terhadap orang yang memiliki kesalahan dalam agama ada dua :
_ menghajr/mendiamkan
_ mendekatinya, agar bisa mengambil hatinya dan menasihatinya
ada orang yang didiamkan semakin baik, namun ada juga yang didiamkan namun semakin buruk.
setiap orang caranya berbeda, tergantung situasi dan karakter orangnya. Ada yang karakternya keras, kalau dikerasi jadi tambah keras. 
Penjelasan itu lagi-lagi membuatku melihat ke situasi yang saat itu aku hadapi. Aku lebih memilih mendiamkan karena ego, dan lebih memilih berkeras, bukan berusaha mendekat. Salah. Aku salah.

Aku makin yakin kesalahanku, saat salah satu orang akhirnya memilih pergi dari hidupku. Sedang satu lagi, membaik karena sikap yang dipilih Ayahku pada orang tersebut benar. Mungkin ini bedanya, Ayahku sudah banyak berinteraksi dengan orang lain, lebih pandai memetakan mana yang sebaiknya didiamkan, dan mana yang perlu didekati dan diambil hatinya. Sedangkan aku lebih fokus pada luka di diriku, pada egoku, pada keengganan untuk berinteraksi.

Yang lebih telak lagi, di pertemuan tentang hadits mendiamkan, ada kalimat yang kurang lebih begini... 
Orang yang mendiamkan, apakah punya kekuatan atau tidak? Punya pengaruh atau tidak? Misal anak kecil yang mendiamkan orang dewasa, atau guru yang mendiamkan murid, bukankah berbeda efeknya?
Jadi mendiamkan atau menghajr itu ada syarat dan caranya. Tidak asal dilakukan. Harus lihat kondisi, situasi, orang yang mendiamkan dan yang didiamkan. Aku malu sendiri mengakui, bahwa benar, aku tidak memberikan efek apapun, percuma aku mendiamkan, yang rugi aku sendiri. Aku hanya anak kecil, yang sok-sokan mendiamkan, childish, ga efektif pula, jauh dari bijak. I need to learn much how to be a better muslimah. 

***

Pertemuan selanjutnya, masih membahas hadits ke 24 Kitab Bulughul Maram. Penghujung haditsnya. Bahwa yang lebih baik antara dua orang yang saling mendiamkan tersebut, adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam.

Ada tiga pendapat penjelasan mengenai teknis mengakhiri hajr/mendiamkan. Yang pertama cukup dengan salam, yang kedua tidak sekedar salam hubungannya harus kembali membaik seperti dulu, yang ketiga berbeda sesuai hubungan kekerabatan, jika bukan kerabat cukup dengan salam, jika kerabat, harus kembali membaik hubungannya seperti sebelum hajr.
Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani, menggabungkan ketiga pendapat tersebut. Ada beberapa level dalam menyelesaikan hajr, yang minimal itu mengucap salam, maksimalnya sampai kembali seperti hubungan sebelum peristiwa hajr. Dan level maksimal ini adalah untuk kerabat.
Disebutkan juga di penjelasan saat itu, batas tiga hari di hadits tersebut terkait dengan diangkatnya amal perbuatan manusia di hari senin dan kamis. 
Amal shalih bani Adam dilaporkan hari Senin dan Kamis. Pada hari Senin dan Kamis Allah akan mengampuni dosa orang-orang yang beriman selama ia tidak syirik, kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya. Kemudian dikatakan pada para malaikat, undurkan ampunan buat dua orang ini, sampai kedua orang ini mau saling baik-baikan.
Catatanku mengenai penjelaskan mendiamkan / hajr diakhiri dengan kalimat miris..
Anehnya.. ada orang yang rela dosanya tidak diampuni, karena gengsi. TT
***

Allah merencanakan semuanya, dengan matang, untukku. Semua 'kebetulan' yang hadir di hariku, memojokkanku dan bertanya, bisakah kamu mengambil hikmahnya? Bisakah kamu mengamalkan jika ilmunya sudah kau ketahui?


Saat itu, aku belum bisa mengambil hikmahnya, masih tertatih mempraktekkannya dalam amal. Saat itu, situasi dan kondisinya berbeda. Aku, cuma bisa menuliskan ini. Berharap, agar hikmah ini tidak aku lupakan. Dan jika, suatu saat aku dihadapkan pada kondisi didiamkan atau mendiamkan, aku harap, aku bisa lebih baik bersikap dan bertindak. Semoga aku bisa menjadi muslimah yang lebih baik. Yang tidak terpaku pada perasaan dan ego sendiri. Yang memandang segala hal, lewat kacamata quran dan sunnah. Rabbi habli hukmaw wa alhiqni bisholihin. Aamiin. 

Allahua'lam.

Bangkit

October 08, 2018 0 Comments
Bismillah.

Aku menulis ini, sebagai pelunas hutang, karena sabtu kemarin seharusnya submit tulisan bertema "Bangkit" di blog akardaunranting.

*disarankan skip paragraf ini*

Ada banyak excuse mengapa akhirnya ga jadi submit, semacam rentetan sebab-akibat. Tidak submit karena tulisannya belum selesai, belum selesai, karena ga dimulai. Ga ada ide? Iya salah satunya, belum menemukan frase bahasa inggris atau idiom yang nyangkut sama tema "Bangkit". Sebenernya nemu satu, tapi dalam proses menggalinya, justru menemukan alasan harus cari frase lain. Tadinya mau nulis dengan judul "chin up" pernah baca dan sembarang mengartikannya dengan kata "semangat". Sebenarnya aku tahu juga kalau chin up itu istilah lain dari pull up. Bukan, bukan itu yang buat aku urung menuliskannya. Aku cek ulang, googling, arti dari chin up, trus nemu penjelasan bahwa kata itu lebih sering digunakan untuk menyindir, konotasinya negatif. Jadi malam sabtu kemarin, aku memilih melakukan hal lain, dan mengabaikan 'kewajiban' nulis sabtulis.

***


Bangkit. Bagaimana aku bisa menulis topik ini, saat aku sendiri sedang memilih duduk dan menunda untuk bangkit? Tapi izinkan aku tetap melanjutkan menulis. Bukan untuk sabtulis, bukan untuk siapapun. Tapi untuk diri ini, yang mungkin perlu menulis dulu, agar segera sadar dan segera bangkit.

Saat mulai menulis, entah mengapa sebuah quote terlintas di otakku. Salah satu quotes yang esensinya aku hafal. Dari salah satu buku karya Salim A. Fillah. Buku Jalan Cinta Para Pejuang. Tentang definisi bersyukur.

Bahwa bersyukur itu.. mendayagunakan nikmat. Tidak merasa cukup berdiam diri. Yang duduk, bangkit berdiri. Yang berjalan, mulai berlari. Seperti itu. Bukan sekedar menerima, tapi mendayagunakan nikmat. Seperti hari ini, setelah menunda menulis dua hari, tapi Allah masih memberi nikmat nafas padaku. Bentuk syukurku atas oksigen yang Allah sediakan gratis, seharusnya bukan sekedar berucap 'alhamdulillah'. Tapi mengisi tiap detik dan menit dengan produktif. It won't be easy tho... Karena manusia umumnya merugi dalam hal ini.

***

Untuk mulai bangkit, harus terlebih dahulu menguatkan hati. Karena sungguh, meski raga kuat, jika kondisi hati sedang jatuh dan lemah lunglai, kita akan kesulitan untuk bangkit. 

Maka saat bangkit terasa begitu berat dan sulit, coba tengok kondisi hati. Mungkin ia sedang sakit, kotor serta berkarat. Beri obat pada hati kita. Lewat dzikir, doa, shalat, membaca quran, mendengarkan nasihat siraman hati. 

Setelah hati terasa lebih tenang, dan tidak lagi sesak, langkah selanjutnya ajak dirimu berbincang. Bisa lewat tulisan, dimana kau jujur pada diri, tentang hal-hal yang berjatuhan, tentang luka yang bersarang, tentang tembok tinggi di hadapan. Atau jika tidak menulis, berikan waktu dan tempat agar dirimu bisa tafakkur, dalam diam, berbincang dengan diri.

Semoga setelah itu, setelah hatimu sedikit lebih kuat, kau bisa memaksa tanganmu untuk bergerak, kakimu untuk melangkah, dan bersama, hati dan ragamu bangkit. Bangkit dari jurang gelap, bangkit dari trauma masa lalu, bangkit dari kegagalan bertubi, bangkit.. bangkit.

Sertai setiap langkah dan usaha dengan doa. Karena cuma dengan doa, diri yang lemah ini bisa ditopang kekuatan dariNya. Karena lewat doa, kita tidak bersandar pada kemampuan hati dan tubuh kita yang terbatas, tapi kita bergantung dan bersandar pada Rabb Semesta. Yang Tidak Pernah Lelah dan Tidak Pernah Tidur.

Selamat memulai bangkit, meski berkali jatuh terpuruk. Semoga Allah hadirkan orang-orang yang menemani dan mengingatkan kita untuk bangkit. Aamiin. 

Allahua'lam.

Saturday, October 6, 2018

Masjid Jami' Al Ikhlas Brongsongan

October 06, 2018 0 Comments
Bismillah.


Saat itu, sekitar 30 menit sebelum waktu shubuh. Aku sengaja masuk ke dalam masjid, ingin menjauh dari keramaian. Agak kaget, saat kutemui seorang nenek menggunakan mukena putih di shaf terdepan akhwat yang dibatasi hijab bertuliskan nama masjid tersebut. Nenek tersebut melihatku kemudian berbicara padaku. Mungkin karena usianya sudah lanjut tak dapat kutangkap dengan jelas suaranya. Ia menggunakan bahasa jawa, sedikit kutangkap sattu dua kata. Tangannya menunjuk ke pintu di belakangku. Aku mengerti, ia memberitahuku agar membuka pintu tersebut. Tadi aku memang masuk melalui pintu tengah, yang seharusnya menjadi jalur masuk ikhwan.

Setelah selesai membukanya, kulihat nenek tersebut berjalan melewatiku, ia menyalakan lampu, membuat ruang utama shalat lebih terang. Saat kembali ke tempat semulanya, ia memberitahuku, dengan suara yang masih tidak bisa kutangkap dengan sempurna. Intinya ia tahu, bahwa buku bersampul hijau ini hendak kubaca, dan ia menyalakan lampu agar terang. Sekitar lima menit selanjutnya, ibuku duduk di sampingku, pun beberapa orang lain. Shubuh masih lima belas menit lagi, belum ada tanda-tanda pengurus masjid yang hadir.

***


Pagi itu bulan sabit menghias langit. Memang sudah memasuki akhir bulan Muharram. Pertemuanku dengan seorang nenek di masjid tersebut membuatku banyak berpikir

Tentang nenek itu.. sejak kapan ia di sana? Sejak dini hari kah? Saat udara masih dingin menusuk kulit? Apakah ia tinggal sendiri? Apakah baginya, masjid yang lebih nyaman daripada berdiam sendiri di dalam rumah? Allah memanjangkan umurnya, namun fitrah penyakit tua itu terlihat jelas di dirinya. Mulai dari suaranya, bentuk tubuhnya yang kecil, tulang belakang yang miring dan sedikit bungkuk, gerakan tubuhnya yang pelan.

Pertemuanku dengan seorang nenek di masjid tersebut membuatku banyak berpikir. Tentang AyatNya, bagaimana ia menciptakan manusia, dari lemah, lalu diberikan kekuatan lalu lemah lagi. Pernah memperhatikan, bagaimana tubuh manusia, sejak lahir, kecil, besar lalu mengecil lagi? Seolah pelan-pelan titipan kekuatan dari Allah menyusut satu per satu. Bukan hanya rambut beruban, gigi yang tanggal, tapi juga otot yang menyusut dan tulang yang mengecil. Aku jadi berkaca pada diri, akankah aku menemui masa tua? Lalu aku juga teringat, bahwa bertanya tentang masa depan itu boleh, tapi jangan sampai melupakan fokus masa sekarang. Ya, masa muda ini, saat kekuatan ini masih Allah berikan, aku salurkan kemana? Otak, raga yang masih bekerja dengan baik ini... sudahkah kugunakan untuk menghamba padaNya? Jika sudah, apakah hanya di titik minimal, hanya sekedarnya?

***

Nama masjjidnya, Masjid Jami' Al Ikhlash Brongsongan, saat itu.. qadarullah Allah masih mengizinkanku shalat, dan masuk bertemu nenek tersebut. Nenek, yang menjadi awal pelajaran yang harus dipetik di perjalanan tersebut.

Semoga Allah memberkahi hidupnya, semoga nenek tersebut dapat menghadapNya kelak dalam keadaan terbaik. Aamiin. Sama seperti aku menginginkan mengakhiri usia dalam keadaan iman terbaik.

Allahua'lam. 

Thursday, October 4, 2018

Hijrah : Step By Step Mendekat Pada-NYA

October 04, 2018 0 Comments
Bismillah.

Untuk project Muharram XYouthGen.



***

Pertama, meski di project Muharram XYouthGen adalah menulis kisah hijrah pribadi, aku tidak akan menulis kisahku. Tapi aku akan share beberapa kisah hijrah orang lain yang aku tahu. Jika ada yang tanya kenapa, jawabanku karena kisah hijrahku tidak menarik, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menuliskannya.

Kedua, salah satu hashtag yang diinstruksikan oleh XYouthGen adalah hijrahtotal atau hijrah tuntas *ntar aku cek. Aku ingin menuliskan hijrah dari sudut pandang lain. Bahwa hijrah itu step by step, tidak bisa tuntas dan total sekaligus. Tanpa mengurangi makna asli dari hijrah total.

Baiklah, mari kita mulai...

***

Berawal dari teman


Aku tahu salah satu perjalanan hijrah seseorang, berawal dari temannya. Sebut saja ia Ara, saat itu ia duduk kelas 7. Ia menyukai anime, terutama komik Conan. Potongan rambutnya pendek seperti laki-laki, mengenakan kacamata. Ia terlihat pendiam, sekalinya bicara, ia bercerita tentang karakter anime yang ia sukai. Mungkin karena ia berbeda, ia jadi dijauhi teman-temannya, banyak yang tidak mau sekelompok saat ada tugas berkelompok. Konflik di kelas itu, diketahui orangtuanya, sampai akhirnya ia berpindah kelas. Satu tahun kemudian, saat ia duduk di kelas 8 ia bertemu kembali dengan salah satu temannya, teman yang ikut dijauhi karena dekat dengannya. Teman Ara tersebut yang membuat ara tertarik untuk mengenakan kerudung. Saat itu, mungkin sekedar keinginan untuk melakukan dan menyukai hal yang sama dengan temannya. Tapi saat itu, jadi pintu hijrah pertamanya. Hijrah Ara tidak berhenti di situ, ada banyak kerikil dan ujian. Ia bahkan pernah membuka kembali kerudungnya, untuk menemukan alasan yang lebih kuat. Hijrahnya mungkin tidak semulus jalan tol, tidak selalu maju, tapi bukan berarti ia berhenti.

Berawal dari kekaguman pada seseorang

Ini kisah hijrah seorang perempuan yang awal berhijrahnya karena kagum dengan kakak kelas SMA-nya. Sebut saja Daya. Daya awalnya ingin tahu, perempuan seperti apa yang menarik di mata seseorang tersebut. Ternyata yang Daya kagumi sudah lebih dulu berhijrah. Daya mulai belajar dari awal tentang kewajiban perempuan menggunakan hijab karena sosok yang ia kagumi. Pun, mulai membaca quran dan menghafalnya, karena sosok yang ia kagumi. Raasa kagum yang dihadirkan Allah di hati Daya pada sosok itu, menjadi langkah awal Daya mendekat padaNya. Dalam perjalanan hijrahnya, Daya mulai tahu, tentang niat yang menjadi syarat diterimanya amal. Ia kemudian menyibukkan diri belajar lebih banyak, memperbaiki diri tahap demi tahap. Pun saat tahu kabar bahwa sosok yang ia kagumi ternyata bukan jodohnya, rasa sakit di hatinya tidak membuatnya memperlambat langkah hijrahnya, apalagi berbalik arah.

Ujian beruntun yang membuatnya mendekat

Masalah beruntun yang menerjang hidupnya, dari bisnis orangtua yang bangkrut, dan harus dibangun lagi. Lalu teman yang menipu dan menzalimi dirinya. Belum lagi ia sempat jatuh di kubangan dosa. Setahun ia mengkonsumsi obat dari psikiater lantaran depresi dwngan berbagai ujian yang menghadang, namun obat itu tidak mendatangkan ketenangan. Sampai ia dan orangtuanya memutuskan untuk mendekat kembali pada Allah. Hijrah tersebut, sedikit demi sedikit memberikan cahaya dan membuat ia dan kedua orangtuanya memandang permasalahan lebih jernih dan tahu kemana harus melangkah. Sebut saja Tiara. Masa lalunya yang gelap membuat ia banyak tersendat dalam jalan hijrahnya. Istiqomah mengenakan kerudung masih berat, begitu pula memahami hikmah dari setiap perintah dan laranganNya. Hijrahnya mungkin terlihat sepele di mata orang yang tidak mengetahui background story Tiara. Tapi saat tahu sedikit detail kisahnya, aku tidak bisa membayangkan, perjuangannya untuk maju satu langkah dan memberanikan diri berhijrah. Perjalanan hijrahnya terdengar lebih manis, karena yang berjuang dan berusaha meniti jalan hijrah bukan hanya Tiara tapi juga ibu dan ayahnya.

***

Tiga kisah itu nyata, meski tiga nama tersebut nama buatanku. Ara, Daya dan Tiara. Ketiganya berbeda, waktunya, pemantiknya, jatuh bangunnya. Tapi ketiganya sama-sama mengingatkanku bahwa jalan hijrah itu panjang dan tidak instan. Sulit menemukan cerita hijrah yang sekaligus. Tiba-tiba saja berubah, kilat. Bahkan telur yang ingin menjadi kupu-kupu saja, harus melalui tahap demi tahapnya.

Hijrah itu pergi, dan dampaknya ada perpindahan. Hijrah menuju Allah artinya perpindahan dari buruk ke baik, dari maksiat ke amal shalih. Setiap orang yang berhijrah, seberapapun percepatannya, selama yang ia berada di jalan yang lurus, dan tidak berbalik, maka ia selamat. Tidak semua bisa berhijrah mengendarai kuda atau unta. Ada yang berjalan cepat, ada yang tertatih menyeret langkahnya. Tidak apa-apa. Selama masih di jalan yang lurus.

Tidak semua orang lahir dari keluarga yang memberikan pendidikan Islam yang baik. Tapi setiap orang Allah beri kemampuan untuk belajar, Allah berikan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan juga hati. Bicara hijrah, bukan bicara tentang siapa yang mulai melangkah duluan, bukan pula siapa yang lebih cepat bergerak. Tapi hijrah adalah tentang langkah demi langkah, yang terus maju, dan istiqomah. Jikapun suatu saat berhenti, dan hampir tersesat, kita tidak menyerah dan kembali berjalan.

Hijrah step by step tidak mengurangi makna hijrah total. Karena pasti, dalam setiap langkah hijrah, kita akan menghadapi pilihan, apakah rela meninggalkan kesenangan dan merangkul kesulitan dalam menyusuri jalan hijrah? Terus berjalan, adalah salah satu bentuk, bukti bahwa kita hijrah total.

Yang indah dari menyusuri jalan hijrah kepadaNya.. adalah.. Allah menghitung dan menghargai setiap langkah, setiap peluh, setiap air mata. Yang indah adalah.. jika kita mati dalam usaha mendekat padaNya, Allah tidak akan menyia-nyiakan upaya dan usaha kita. (':

Allahua'lam.




Kalah

October 04, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Aku kalah, bukan sekali tapi berkali-kali. Membuatku bertanya pada diri, kapan kamu mau belajar dari kekalahan yang sudah terjadi?

Berkali-kali kalah artinya, akan muncul selintas ide untuk berhenti, atau menyerah, atau merasa lemah, bodoh, dan deretan kata sifat negatif lainnya.

Kalah berkali-kali artinya, ada yang salah di diri, di usaha, di doa, di teknik, di strategi. Pertanyaannya, siapkah aku jujur melihat kesalahan dan kelemahan diri. Kemudian selanjutnya, mampukah... belajar dari kesalahan itu, memperbaikinya, menutup kelemahan dengan kekuatan.


***

Aku memang kalah, bukan sekali, bukan yang pertama.

Tapi... semoga aku tidak terburu-buru menyerah. Jadikan kekalahan ini sebagai pengingat, bahwa ada begitu banyak hal yang harus dipelajari, dan diperbaiki. Jadi gunakan waktumu dengan bijak. Please.

Allahua'lam.

Tuesday, October 2, 2018

Ia yang Aku Cintai

October 02, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

*warning* judulnya click bait, hehe. Tiba-tiba teringat tulisan seseorang yang memilih simpan draft jika tulisannya belum menemukan judul yang tepat. Katanya, ia tidak suka saat membaca tulisan yang judulnya tidak sesuai dengan isinya, merasa tertipu. Oh iya, orang itu, bukan ia yang aku cintai. Cum somehow terlintas saja, saat aku membuat judul yang menipu ini J.

***

Sore ini, ada sebuah pengingat sederhana yang entah mengapa mengetuk pintu lebih keras. Kalimatnya begini... "Kita akan diuji dengan hal-hal yang kita cintai". Dejavu? Klise? Pernah baca/dengar di tempat lain? Sama. Aku pun begitu saat mendengar kalimat itu. Rasanya tidak asing, bukan pertama dengar, mungkin sudah sering dengar. Tapi sore itu... sembari menulis kalimat itu di buku bersampul merah yang terjilid ring, pikiranku melayang pada ujian yang lalu. Ujian, yang aku sendiri tidak tahu, apakah aku lulus, atau harus mengulang. Jikapun lulus, apakah aku dapat A? Tidak.. kemungkinan besar, jika aku lulus, aku mungkin hanya memenuhi nilai standar batas kelulusan.

Ia yang aku cintai. Ia di sini, bukan me-refer pada manusia, bisa pada benda, atau sesuatu yang abstrak. Sengaja aku biarkan ambigu dan multitafsir, karena aku tidak ingin orang lain tahu, bahwa aku.. mencintainya berlebihan sampai Allah mengujiku dengannya. Kalimat klise dan familiar itu, membuatku mengenang jatuh bangun, kesulitan yang aku rasakan saat aku diuji dengannya.

***

Sosok yang mengucapkan kalimat sederhana itu, melanjutkan perkataannya. Ia membagikan nasihat yang ingin kutulis ulang di sini. 

Pertama, bahwa kita... tidak boleh mencintai sesuatu berlebihan. Apapun itu, entah "ia" adalah manusia, atau harta, atau popularitas, atau jabatan, atau apapun.

Kedua, bahwa kita... harus memperbaiki akidah kita. Agar tidak ada yang lebih kita cintai, bahkan tidak ada yang boleh kita cintai sama dengan kecintaan kita kepada Allah. 

Ketiga, karena hanya dengan itu, kita bisa selamat dari jeratan, jebakan, dan tipuan setan. Yang ingin mengajak kita ikut masuk ke neraka.

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ
kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS Al Hijr : 40)

***

Satu lagi, yang ini dariku untukku sendiri. Bella... perhatikan ia yang kau cintai dan kadarnya. Jangan mencintai, yang tidak pantas dicintai. Pun, jangan berlebihan kadarnya dalam mencintainya. Perhatikan setiap pilihanmu, karena cinta salah satunya hadir karena pembiasaan, pengulangan perilaku.


Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba mayyuhibbuk, wal 'amalalladzi yuballighuni hubbaka, Allahummaj'al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal maa-il baarid. Aamiin.

Allahua'lam.

Monday, October 1, 2018

Telinga

October 01, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kadang kita butuh telinga, bukan telinga sendiri tapi telinga orang lain. Kita ingin berbicara dan ada yang mendengar. Ingin menulis dan ada yang membaca.

Kebutuhan itu normal, manusiawi. Memang idealnya kita bercerita, mengadu suka dan duka pada Allah. Tapi bukan berarti tidak boleh, untuk bercerita pada manusia. Tidak apa-apa, asalkan kita tidak tergantung dan bersandar pada manusia.

Ada yang memilih telinga orang asing yang lalu lalang, ia bercerita di blog, atau sosial media. Ada yang memilih telinga orang terdekat, entah itu ibu, kakak, atau teman.


***

Tidak semua orang dengan mudah bercerita saat butuh telinga, entah karena tidak mudah percaya, atau mungkin takut merepotkan orang lain. Tidak semua topik kita bagikan ke semua telinga, ada cerita baik yang mungkin mudah kita suarakan pada telinga manapun, ada juga suara kecil hati, yang hanya dibagikan pada telinga tertentu. 

Ada saat mudah bercerita di sini, lain waktu merasa sulit dan butuh telinga yang lebih spesifik. Mungkin karena topiknya sensitif, dan bisa jadi menguak sisi lain diri yang sebaiknya tidak diketahui banyak orang. Saat itu, aku menyapanya, lalu bercerita saja. Ia merespon, dan aku sedikit lebih lega. Aku mungkin hanya bercerita sepenggal, dan ia hanya bisa menyimak tanpa memberi solusi, tapi itu cukup. Cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk didengar.

***

Terima kasih padanya, telinganya, matanya, waktunya.

Maaf karena tiba-tiba meracau tentang suasana hati dan kondisi diri yang tidak baik.

Terima kasih atas kata dan jawaban sederhananya.

Maaf karena lebih sering meminta telinga ketimbang menyediakan telinga.

Dan terakhir... Jazakillah khairan katsiraa..