Follow Me

Wednesday, January 31, 2018

Sabtulis, Gerakan Sabtu Menulis

January 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

Sabtulis


Mungkin banyak yang sudah kenal dengan gerakan 30DWC, alias gerakan menulis 30 hari. Mungkin tidak sekedar tahu, bahkan sudah merasakannya, dan ternyata.... ada yang berhasil, ada yang gugur di tengah jalan, ada yang sampai penghujung tapi banyak bolong. Beberapa pekan kemarin saya menemukan gerakan menulis yang mungkin cocok untuk yang belum bisa nulis setiap hari. Namanya Sabtulis, akronim dari Sabtu Menulis. Jadi, gerakannya menulis satu tulisan setiap pekan, tepatnya di hari sabtu.

Sama seperti 30DWC yang mayoritas tidak mempermasalahkan ditulis dimana, sabtulis juga seperti itu. Kamu bisa menulis di sosmed, maupun blog, medium, wordpress, tumblr, dll. Lalu mengirim tulisannya di bit.ly/kumpulsabtulis. Tulisan yang kamu submit, nantinya akan dipublish di fanpage facebook sabtulis dan instagram sabtulis, serta di campsite sabtulis. Ini yang agak berbeda dengan 30WDC, kalau di tantangan 30 hari menulis, tulisan tersebar tanpa ada compiler atau pengumpul. Dengan adanya fanpage, ig dan line sabtulis, setiap yang ikut gerakan sabtulis bisa saling berkunjung dan blogwalking ke tulisan sabtulis-ers lainnya. Ini yang bikin saya seneng, bisa dapet tempat blogwalking baru dari sabtulis J

Bergabung dengan gerakan Sabtulis caranya juga mudah, tidak ada sistem pendaftaran, tidak ada sistem harus share info ke beberapa grup whatsapp hehehe. Hanya dengan menguatkan tekad, menulis di hari sabtu, dan submit ke bit.ly/kumpulsabtulis. Simple kan?

***

Untuk siapapun yang ingin konsisten menulis, dan butuh pengingat, gerakan Sabtulis mungkin cocok untukmu. Aku yang sekarang belum bisa ikut komunitas menulis offline, dan banyak ikut grup menulis, yang akhirnya terabaikan karena saya bukan tipe yang rajin buka whatsapp akhirnya sadar, kalau yang aku butuhin itu, bukan grup whatsapp, bukan tempat cari materi nulis di whatsapp, tapi sebuah gerakan menulis seperti 30DWC atau Sabtulis. Untuk pengetahuan kepenulisan, teknis, tips, dll, saya lebih cocok cari materi di seminar offline atau dari buku dan blog yang fokus di tema kepenulisan. Beberapa kali ikut kulwap, saya merasakan, saya tidak bisa stay di kulwap dengan fokus, yang ada, notifikasi menumpuk dan harus manjat ke atas di pagi hari-nya membuat materi kulwap tidak terbaca.

Tapi saya masih ga left sih dari grup-grup tersebut, karena kalau lagi luang dan niat, saya kadang baca juga. Dapet share link tulisan blog orang lain, atau malah juga dapet file antologi kaya gini. Silahkan di klik ya, isinya antologi beberapa tulisan mahasiswa UNS tentang depresi, saya belum baca semua sih, baru liat sekilas aja. Keren idenya. Udah di desain pula, tinggal nyebar dan mencari pembaca yang berminat. *Ehm, saya juga belum menyempatkan baca, bantu nyebar dulu aja hehe.

***

Semangat menulis~ mungkin tidak bisa tiap hari, tapi mungkin bisa dicoba tiap pekan sekali. Kamu bisa pilih hari apapun, tanpa ada ikatan, seperti aku yang nulisnya suka-suka tapi diusahakan satu pekan publish. Tapi kalau butuh yang ada ikatan, dan ada pengingat, bisa ikut gerakan Sabtulis.
Menulislah, meski dalam sunyi. Menulislah, meski untuk diri sendiri. -kirei
Allahua'lam.

Tuesday, January 30, 2018

Jangan Menghakimi Diri; Itu Makna Bismillah

January 30, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Kemarin ku beranikan diri kirim lagi, tulisan ke Pak Nass, setelah sempat lama memilih diam dan tidak memenuhi target. Kirim dua file, di read. Tidak ada respon, akhirnya aku menuliskan keterangan, intinya minta maaf karena "one day one sent" tidak terpenuhi. Ku jelaskan posisiku, yang In syaa Allah lanjut mengirim tulisan, tapi mungkin tidak setiap hari kirim.

Pak Nass bertanya, "Kenapa?" Kujawab panjang, yang intinya, terlalu banyak berpikir hal-hal negatif. Pak Nass bertanya lagi, "Kok mikir buruk?" Aku jawab, imanku lagi turun mungkin. Seperti biasa, Pak Nass menanggapi dengan positif. "Wah menarik, tulis aja itu"

Membaca respon Pak Nass membuatku membuka arsip blog ini, draft berjudul "Entah Terlalu Moody, atau Tidak Memaksakan Diri", aku salin isinya ke messenger fb, lengkap dengan PS yang berisi pikiran-pikiran negatifku. PS yang aku hide. Oh ya, tulisan tersebut sudah aku kembalikan ke draft, jadi tidak bisa dicari di blog ini.

Pak Nass, merespon, "Nah itu udah ditulis," lalu dilanjutkan dengan pesan yang intinya, saat ada yang mengganjal di hati, ruwet di otak, maka tuliskan saja dulu, biar plong. Jika sudah ditulis, baru kemudian lanjut nulis yang untuk draft buku, biar konsentrasinya balik lagi.
"Nulis itu beratnya di menjaga niat dan semangat," - Nassirun Purwokartun
Sampai di sana, belum ada tanda-tanda awan mendung. Tapi kalimat-kalimat Pak Nass berikutnya memanggil hujan di siang terik. Menderai saja, tanpa tanda mendung terlebih dahulu.

***

He said, "Don't judge yourself".

those words hit me hard, struck me right into my chest

That sentence hit me hard. Struck me right into my chest. I've been doing this for years, judging myself, also looking down upon myself.

Maybe... what I'm afraid the most, in the past years wasn't how people would see me, it's how I would see myself. Perhaps, the only one who think badly of myself, is me.

"Don't judge yourself", that particular sentence from my writing mentor made me think back of the dark and cold moment, not too long ago. How I passed the day, by kept judging myself, kept looking down to myself. Maybe it becomes a habit now, how often my mind speak to me, 'I don't deserve this', 'I don't belong here', 'I'm not capable of this'. That voice over and over ringing in my head, till it brainwashed my mind. Funny right? It's not someone else, it's me who brainwash myself.

He then told me, he remind me, the essence of Bismillah. I was reading that reminder from him, trying to control my breath and tried to stop the rain that wet my face.

***
"Kalo bisa jangan menghakimi diri sendiri. Aku ga bisa ini. Aku ga bisa gini. Aku ga bisa itu. Aku ga bisa gitu. Ucapan kita itu doa. Jadi sugesti. Membentuk diri. Kalo semakin lama diucapkan, jadi terwujud beneran.

Ucapkan aku bisa. Kalopun ga, ya ucap belum bisa. Bukan ga bisa. Yakinkan diri biar jadi bisa. Bismillah tu maknanya itu. Karena udah menyebut nama-Nya yang serba bisa. Kita akan dibantu menjadi bisa"

- Pak Nassirun
***

'Bismillah', padahal kata itu yang selalu membuka tulisanku di blog ini. Ya, bismillah, mungkin sudah diucap, namun masih terhenti di bibir, atau paling dalam, hanya sampai tenggorokan. Kalimat Pak Nass membuatku berkaca, dibuat malu dan tertunduk, bahwa seharusnya ketika mengucap 'bismillah', keraguan itu sirna, pikiran negatif itu pudar, dan tidak ada istilah menghakimi diri sendiri. Karena setiap hal yang dimulai dengan bismillah, artinya kita tidak sendiri, kita menyebut namaNya dalam setiap sisi hidup kita, langkah kaki kita, makan kita, duduk kita, berdiri kita, tidur kita, bangun kita, juga menulis kita, kita menyertakan Allah di dalam setiap aktivitas kita.

Pengingat dari Pak Nass menyadarkanku, bahwa mungkin yang perlu aku belajar makna dan belajar mengamalkan satu dua ayat pendek. Bukan ayat-ayat yang ppanjangnya selembar, bukan yang sehalaman, bukan pula yang setengah halaman. Tapi satu ucapan yang membuka setiap bacaan surat, satu ucapan yang membuka hari seorang muslim. Bismillah. Aku juga perlu belajar memahami, memaknai dan mengamalkan Alhamdulillah yang juga bermakna sikap yang optimis dan selalu memandangan positif atas setiap situasi. Ya, aku harus belajar optimis, belajar tidak menghakimi, belajar tidak memandang rendah diri, belajar memperbaiki cara berpikir yang negatif belajar, belajar....

***

Maaf di tengah tulisan ini tiba-tiba ganti bahasa hehe. Gatau kenapa kelu menulisnya dalam bahasa Indonesia. Mungkin aku juga perlu banyak belajar bahasa Indonesia hehe. 

Terakhir, semoga tulisan yang banyak curhat ini bisa sedikit bermanfaat. Untuk siapapun, yang sedang belajar juga, untuk tidak menghakimi diri sendiri.

Semangat ^^ Bisa, in syaa Allah. Bismillah, BISA~

Allahua'lam.

Sunday, January 28, 2018

Comparison

January 28, 2018 0 Comments
Bismillah.

Mungkin suatu saat kamu tersinggung, dan merasa mengkerdil karena dari lisan mereka kamu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Entah itu persamaan atau perbedaan. Mungkin suatu saat kamu tersinggung dan merasa menciut karena perbandingan yang mereka tulis dari jemari mereka.

Jika yang membandingkanmu dengan orang lain adalah orang asing, maka dampaknya mungkin tidak signifikan. Seperti beberapa komentar orang asing, masuk lewat telinga kanan, keluar lewat telinga kiri. Atau dampaknya tidak signifikan, meski yang melakukan perbandingan adalah orang terdekat dan kamu percaya, karena topik yang dibandingkan bukan hal yan sensitif untukmu. Setiap orang berbeda, ada yang merasa tersinggung dibandingkan masalah fisik, atau yang tersinggung dibandingkan masalah kecerdasan, ada yang merasa tersinggung dibandingkan masalah kedewasaan, kemampuan, skill, ibadah dan lain-lain. Dampaknya juga mungkin akan signifikan, terutama.. jika yang mereka bandingkan denganmu, bukan orang lain, tapi dirimu, ya dirimu yang dulu, yang terlihat begitu baik, dan dirimu sekarang, yang seolah jatuh dan tampak begitu buruk, kotor karena terlalu lama berkubang dalam dosa.

Saat itu... rasanya tidak nyaman. Ingin marah, ingin balik menyerang, snap back at them. Tapi kau menahannya, entah karena tidak bisa berkomunikasi, atau karena ingin belajar bersabar. Saat itu, perlahan kamu mencoba menenangkan gejolak perasaan negatif setelah menjadi objek yang dibanding-bandingkan. Saat itu.. perlahan kamu mulai membuat teori, hikmah, apalah namanya. Mungkin excuse.

***

Manusia Belajar Melalui Perbandingan

different color pastels

Pada dasarnya mereka manusia biasa. Entah itu orang asing, atau orang terdekat, bahkan orang tua kita. Seperti dirimu yang manusia, yang sering tanpa sadar membanding-bandingkan sosok A dan sosok B, bangunan Y dan Z, kota 1 dan kota 2. Karena manusia belajar melalui perbandingan (comparison). Saat kita mengenal angka, angka satu yang menyerupai tugu, angka dua yang menyerupai bebek. Seperti itu, lewat perbandingan perbandingan, lewat comparison. Seperti saat kita mengenal bentuk dasar, yang membedakan segitiga dengan segi empat adalah jumlah sudutnya, yang membedakan bentuk layang layang dan belah ketupat adalah besar sudutnya. Seperti itu. Kita juga mulai belajar mengenal si kembar, siapa yang Ama dan siapa yang Ana dari perbedaan tulang pipinya, dan letak tahi lalat di wajahnya, atau dengan senyum ber-behel atau tidak. Hehe. *izin digunakan sebagai contoh ya Ma, Na.. *Miss you two.. twins Pribadi^^

Allah Tidak Membandingkan

Ini salah satu excuse, hikmah, atau apa sebutannya saat aku mulai merasa sedih dan kecewa pada manusia, dan juga pada diri sendiri yang merupakan salah satu manusia. Aku menengok dan mencoba mengenal Allah. Bagaimana Allah? Allah tidak membandingkan. And that's all matter. Berbeda dengan manusia, Maha Suci Allah, Allah tidak akan pernah sama dengan makhluknya. Saat manusia melakukan perbandingan, bahkan antara dirimu yang dulu dan dirimu yang sekarang. Allah tidak. Allah melihatmu satu, tanpa membandingkan. Allah melihat diri kita yang sekarang, jatuh kita, bahkan diri kita yang hina dan penuh noda, Allah bisa menerima, asalkan kita mau bertaubat, lalu bersihlah kita, berwarnalah kita dengan celupan Rahmah Allah.

Itu teorinya, itu rumusnya bagiku. Saat dunia terasa sesak, dan kita luangkan waktu untuk memikirkan dan mencoba mengenali Allah. Somehow, someway, thinking about it calms my heart. And that's enough.

Seperti saat semua orang tidak mengerti diriku, dan bahkan aku sendiri tidak mengerti diriku, mengetahui dan yakin kalau "Allah knows", itu cukup. 'Know' di sini maknanya bukan cuma tahu, tapi juga mengerti, paham, dan juga menyediakan tempat untuk kita mengadu dan bersandar. Itu cukup (':

Atau seperti semua orang berpaling dari diriku, menutup pintu di depan hidungku, atau mungkin masih membuka pintunya, namun itu karena mereka tidak tahu betapa buruk dan hina hatiku. Mengetahui dan yakin kalau Allah tidak pernah menutup pintu Rahmatnya menjadi hiburan, dan penenang yang jauh dari cukup. Allah knows, all of worst side of me yet He still let the oxygen into my lungs. Yet He still pour the rain to let my smile bloom in my bad day. Seperti itu. Cukup. Hasbunallah wa ni'mal wakiil.

***

Untuk siapapun, yang pernah, dan akan sering terluka telinga, mata dan hatinya karena perbandingan yang manusia lakukan. Semoga setiap kali dirimu terluka, luka itu membuatmu berlari mendekat padaNya, karena hanya dengan itu setiap luka akan sembuh. Semoga Allah menguatkan hati yang lemah, dan membimbing kita untuk menjadi lebih baik, lebih dekat dan mendekat terus menuju kepadaNya. Aamiin.

Allahua'lam.

Saturday, January 27, 2018

Butterfly, Bee and Firefly

January 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random

Ada beberapa hal yang membuatku betah dengan kondisi saat ini. Rutinitasnya memang tidak sesuai ekspektasi. Tapi lingkungan yang Allah sediakan untukku membuatku lebih banyak melihat alam. Aku masih merindukan Bandung, dengan segala memori dan tempat istimewa, dan orang-orang di dalamnya. Namun saat ini, jika belum ada keharusan, jujur aku begitu nyaman dan betah di sini.

Gunung Slamet, yang masih terlihat jelas di jalanan, karena kota Purwokerto masih belum dipenuhi gedung pencakar langit. Sajian langit sore yang selalu berbeda, terkadang biru, ungu, jingga, bahkan abu, terkepung awan. Juga kupu-kupu.

***

Aku lebih sering melihat kupu-kupu di sini. Kupu-kupu hanya terlihat jika disekitarmu banyak tanaman, dan pepohonan. Kupu-kupu kecil berwarna kuning, putih, juga yang berukuran sedang dan bercorak. Setiap kali mereka terbang dan berkejaran, selalu menyejukkan mata. Terkadang berdua, berputar-putar, terkadang sendiri, bahkan dari kejauhan aku melihat rombongan kupu-kupu diatas pohon, mungkin jumlahnya lima, enam, atau bahkan puluhan. Hujan seolah jadi pemanggil kupu-kupu. Saat hujan reda, banyak kupu-kupu yang menari dan keluar dari persembunyiannya. Bahkan pernah aku melihat kupu-kupu tetap terbang meski gerimis mulai berubah menjadi hujan deras. Dengan khawatir kubertanya dalam hati, mau terbang kemana? Berteduhlah dulu, nanti kau bisa bermain dan mengepakkan sayapmu lagi.

Photo on Visual hunt
Kupu-kupu memang selalu menarik mata manusia. Ia termasuk serangga, tapi penampakannya menarik hati. Berbeda dengan lalat, atau kumbang, atau belalang. Tapi meski menarik di mata manusia, kupu-kupu tetap kalah dari lebah, karena lebah termasuk salah satu makhluk yang mendapat "wahyu" dari Allah. Lebah diabadikan dalam Alquran dalam sebuah ayat.

Dari situ, aku memetik hikmah,, meski kupu-kupu cantik, dan menarik hati manusia. Itu tidak berarti. Kita harus lebih fokus ke Allah daripada pandangan manusia. Maksa banget ya? Lebah sebenarnya juga menarik hati manusia. Lewat manfaatnya, dari madu, nekropolis, dll. Tapi menurutku, tidak mudah menemukan lebah. Aku hampir tidak pernah melihat secara langsung lebah dengan garis-garis kuning hitam khasnya. Mungkin kalau ke peternakan lebah banyak ya? Hehe. Orang yang fokus menebar manfaat tanpa mempedulikan mata manusia, lebih sedikit, dibanding yang ingin tampil di panggung, terkenal karena penampakannya (baik itu kecantikan, kekayaan, atau apapun yang bisa dibanggakan dan menarik mata manusia).

***

Tadi kan udah bahas kupu-kupu (butterfly) dan lebah (bee), sekarang bahas kunang-kunang (firefly). Jadi.. ide awal tulisan ini ada dari kupu-kupu, lalu dari sana aku teringat lebah, bagaimana kita harus belajar tentang keistimewaan lebah, karena ayatNya, juga karena hadits Rasulullah menyebutkan lebah (*apa hayo haditsnya? yang menulis pertanyaan tidak lebih tahu dari yang membaca).  

Dua serangga itu mengingatkanku pada satu serangga yang sudah sangat jarang ditemui. Kunang-kunang. Aku pernah lihat, beberapa tahun yang lalu, tapi satu, bukan berkelompok. Memikirkan kupu-kupu dan lebah membuatku berpikir tentang lingkungan. Ya, di kota besar, yang penuh dengan gedung tinggi, akan sulit untuk menemukan kupu-kupu dan lebah. Apa kabar anak-anak yang lahir dan tumbuh di kota ya? Apa mereka nanti hanya akan mengetahui kupu-kupu, lebah dan kunang-kunang dari buku? Atau dari video national geographic gitu? Atau mereka harus berpetualang dulu, ke hutan, dan menemukan keindahan ciptaan Allah itu?

***

Random ya? Hehe. Sekian kerandoman saya. Semoga ada yang bisa diambil hikmahnya, atau idenya. Kalau ada yang punya pengetahuan lebih tentang serangga, mungkin bisa ditulis tentang tiga serangga itu dari segi ilmiah. Jujur aku ingin tahu, apa hujan benar-benar mengundang kupu-kupu? Ingin tahu, dimana bisa menemukan lebah dan kunang-kunang?

Maha Suci Allah, yang menciptakan makhluknya dengan haqq.

Allahua'lam.

PS: Memberi judul dalam bahasa inggris semata-mata karena tidak nyaman harus mengulang dua kosa kata. Kupu-kupu dan kunang-kunang. V *peace. Aku cinta Bahasa Indonesia kok J

Wednesday, January 24, 2018

Buku Teh Puty, dan Konsep Buku Impianku

January 24, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku

Aku pernah cerita kan? Rasanya bahagiaku kalau liat orang yang kukenal menerbitkan buku? Seperti Teh Indah yang ternyata termasuk tim penyusun buku Cantik Karena Allah. Kali ini, meski tidak kenal secara personal, ada Teh Puty Puar yang nerbitin buku ilustrasi Happiness is Homemade.

Aku yakin akan beli sih, karena belum ada budget untuk beli buku baru, tapi izinkan aku bantu promosi aja di blog ini. Barangkali ada pembaca yang berminat beli. J

Buku jenis kaya gini, cocok untuk yang ga betah baca buku yang penuh tulisan semua dan isinya terlalu serius. Buku kaya gini, cocok, untuk menemani, saat dirasa hari begitu suntuk, bawaan bad mood, entah karena banyak rencana yang tidak terlaksana, atau karena hal-hal lain. Buka deh buku ini, sehari satu halaman, baca dan akan kita temukan hal-hal manis kecil yang bisa membuat kita tersenyum dan bersyukur.

Jujur liat foto-foto yang di share Teh Puty di grup ITBMh Book, membuatku teringat konsep buku yang ingin aku buat. Dibanding buku yang satu arah, ingin rasanya buat buku yang dua arah, yang mengajak pembaca untuk coret-coret di buku tersebut. Kalau di Happiness is Home Made, contohnya menulis resep masakan yang sudah/akan dipraktekan hari ini. Kalau aku, ingin buat buku dengan halaman atau bagian yang sengaja dikosongkan dan mengajak pembaca menulis hehe. Entah itu menulis insight yang didapat dari membaca tulisan, atau memori yang datang ketika membaca tulisanku, atau bahkan sekedar space buat pembaca naruh doodle, atau coret-coret bebas. Semacam itu.

***

Yang berminat beli bukunya Teh Puty Puar silahkan cari di toko buku terdekat, atau via online juga bisa, liat di keterangan Teh Puty yang ada di screenshoot ya.

Ada yang bermimpi nerbitin buku juga? Konsep bukunya kaya apa? Bagi-bagi dong, siapa tahu.. bisa jadi penyemangat untukku melanjutkan draft yang masih jauh dari target selesai.

Semangat menulis~ Semangat berkarya^^

Nukil Buku Madarijus Salikin, dan Refleksi Diri

January 24, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku
-Muhasabah Diri-

Alhamdulillah pindah buku lagi, beberapa hari ini saya berusaha membaca buku Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, buku yang sudah dibeli lama tapi belum pernah dibuka, akhirnya saya beranikan memulai membaca.

dari sini

Buku terbitan Al Kautsar dengan sub-judul Pendakian Menuju Allah, Penjabaran Konkrit "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in". Kesannya berat ya? Hehe. Bismillah, izinkan aku menulis, mengutip beberapa yang saya dapat dari lembar-lembar yang sudah saya baca.

Al-Fatihah dan Dua Penyakit Kronis Hati | Dua Dasar Ibadah dan Isti'anah

Hati itu mudah terjangkiti dua macam penyakit yang kronis. Jika seseorang tidak mengobatinya, tentu dia akan binasa yaitu riya' dan takabur. Obat riya adalah iyyaka na'budu, sedangkan obat takabur adalah adalah iyyaka nasta'in.
Tiga kalimat itu membuatku berpikir, apa hubungan dua penyakit hati yang kronis itu, dengan lafal yang setiap hari kita baca, namun sering kali di bibir saja, dan tidak masuk ke hati TT.

Riya vs Iyyaka Na'budu

Ketika seseorang mempunyai penyakit riya' di hatinya, maka setiap ia beribadah tujuannya adalah agar dilihat manusia. Ini bertentangan dengan iyyaka na'budu, yang maknanya, 'hanya kepada Allah aku menyembah'. Ketika hati kita riya, maka kita tidak hanya tunduk kepada Allah, namun juga tunduk pada nafsu ingin terlihat, tunduk pada pandangan manusia. Padahal kalau menurut penjelasan di buku ini,
Ibadah mengandung dua dasar: Cinta dan Penyembahan. Menyembah di sini artinya, merendahkan diri dan tunduk. Siapa yang mengaku cinta namun tidak tunduk, berarti bukan orang yang menyembah. Siapa yang tunduk namun tidak cinta, juga bukan orang yang menyembah.
Ketika kita riya, kita sebenarnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ayat yang kita ucapkan, iyyaka na'budu. Maka ketika kita belajar memahami maknanya, kemudian menjalankan maknanya, dengan itu... kita mengobati penyakit riya di hati kita, dengan izin Allah.

Takabur vs Iyyaka Nasta'in

Ketika seseorang mempunyai penyakit takabbur di hatinya, ia memandang dirinya tinggi dan mampu melakukan banyak hal tanpa bantuan siapapun. Ini bertentangan dengan iyyaka nasta'in, yang maknanya, 'hanya kepada Allah aku meminta pertolongan'. Ketika hati kita takabur, maka kita merasa seolah tidak membutuhkan bantuan Allah, seolah semua hal berada dalam kuasa kita. Ketika kita takabur maka kita seolah tidak membutuhkan Allah, mungkin kita percaya pada Allah, namun kita tidak bersandar pada Allah. Padahal isti'anah menurut penjelasan di buku ini,
Isti'anah (memohon pertolongan) menghimpun dua dasar: kepercayaan terhadap Allah dan penyandaran kepada-Nya. Ada kalanya seorang hamba menaruh kepercayaan terhadap seseorang, tapi dia tidak menyandarkan semua urusan kepadanya, karena dia merasa tidak membutuhkan dirinya. Atau ada kalanya seseorang menyandarkan berbagai urusan kepada seseorang padahal sebenarnya dia tidak percaya kepadanya, karena dia merasa membutuhkannya dan tidak ada orang lain yang memenuhi kebutuhannya.
***

Sampai sini dulu ya.. penjelasan tentang itu, jujur membuatku berkaca ulang. Ada yang salah dengan saya, saya... dan iyyaka nasta'in. Saya pernah cerita kan, sering mungkin di blog ini, tentang fase gelap, fase jurang, fase saya kehilangan diri saya sendiri. Saat itu.. mungkin saat itu benar kata Ayah, hati saya berpenyakit, sombong takabur. Saya tidak memaknai dengan benar lafal iyyaka nasta'in dalam menjalani hari-hari saya.

Ada saat-saat saya percaya pada Allah, namun sebenarnya saya tidak menyandarkan diri saya kepada Allah. Saya lebih banyak bersandar pada diri sendiri, yang hasilnya? Hancur, sakit hati, bagaimana saya bisa bersandar pada diri, yang lemah, yang hina? TT Semoga lewat fase kelam itu saya belajar, untuk menyembuhkan penyakit hati takabur.

Ada juga saat-saat saya bersandar pada Allah, namun saya tidak percaya, atau tidak berbaik sangka pada Allah. Yang ada dipikiran saya hanya hal-hal negatif melulu. Yang ini juga menyalahi makna yang sebenarnya dari iyyaka nasta'in.

Saya tidak membahas yang pertama (riya'), bukan karena saya merasa terbebas darinya. Tapi jujur, yang pertama kali saya lihat, saat membaca buku ini, dan berkaca, adalah yang kedua. Betapa saya congak, dan sombong. Betapa saya seringkali tidak memenuhi dua dasar isti'anah, seringnya meninggalkan salah satunya.

Saat itu, alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan saya untuk kembali pada-Nya, berusaha kembali mencari jalan yang benar, meski sudah lama tersesat, dan malah memilih jalan yang salah. Lewat sebuah quotes sederhana yang pernah saya bagi di sini.

don't know how to start (from unsplash) 
Saat itu saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi saya membutuhkan bantuannya, belajar lagi untuk merendah dan meminta tolong padaNya, sembari memperbaiki sikap mental saya kepada Allah, dari tidak mau tahu menjadi peduli, dari buruk sangka menjadi ber-husnuzhzhan, dari ragu menjadi yakin. Pelan-pelan, lewat tanda-tanda kecil Allah menuntunku.

Sekarang penyakitnya mungkin belum sembuh. Masih terlihat dari interaksi antarmanusia, rasa berat untuk minta bantuan. Mungkin proses sembuhnya memang lama, atau memang harus selalu diulang-ulang. Karena hati kita lemah dan mudah berbolak-balik. Seringkali dua penyakit itu hinggap, baik riya maupun takabbur.

***

Membaca buku ini juga membuatku teringat, bagaimana seharusnya kita belajar Quran, satu ayat, dibahas secara mendalam sampai jadi satu buku. Sedangkan seringkali, kita belajar satu hal dengan banyak ayat, yang efeknya, pengetahuannya hanya di permukaan saja. Bukan berarti lebih baik ga belajar ya hehe. Pelan-pelan, belajar ayatNya, banyak berdoa agar dibimbing menyusuri jalan lurus, shiratal mustaqim.

Semoga setiap yang berjuang dalam belajar, berjuang dalam berhijrah, bisa sampai ke tujuan, bertemu dan berkumpul di JannahNya, semoga kita salah satunya. Aamiin.

Wallahua'lam.

***

PS: Ada lagi sebenernya, pengen ngutip bahasan tentang empat persinggahan, tapi dilanjut di lain waktu in syaa Allah.

Tuesday, January 23, 2018

Klise? Bukan, Hal Itu Susah Bahkan Bisa Jadi Tidak Mungkin

January 23, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Maksud diri ingin membatalkan 'claps', hasilnya? Justru mengkalilipat-kannya.

***

Semoga yang nulis itu ga baca blog ini.

Ia menulis, "Entahlah, aku hanya ingin melakukan sebuah mimpi sederhana. Membuat orang lain bahagia, membuat mereka juga ingin berbuat demikian untuk orang lain. (KLISE, ngawang, tidak jelas, tapi hanya ini, beneran hanya ini)"

Tulisannya memang bagus, jadi aku kasih clap satu kali. Namun, mungkin karena sudah malam, otak sensiku aktif.

Kataku dalam pikiran, "Klise? Bukan. Justru membahagiakan orang lain itu hal yang susah, bahkan bisa jadi tidak mungkin". Padahal ya, kalau saya mau teliti, toh ia tidak menulis, membahagiakan semua orang. She just wrote, she wants to make someone else happy. Hal yang mulia. Aku saja, yang malam ini terlalu sensi.

***

Jangankan membuat orang lain bahagia, membuat diri sendiri bahagia juga bukan hal yang mudah loh. Misalkan aja nih.. cita-citanya adalah membuat orangtua bahagia, itu bukan perkara mudah loh. Akan ada masa kita saya membuat orang tua marah, atau kecewa. Membuat orang tua bahagia itu bukan hal yang mudah, tidak sesederhana itu.

She said, mimpi sederhana, membuat orang lain bahagia. It's not simple, rather it's complicated. Untuk tahu orang sudah bahagia tidak semudah, yang penting ia sudah menaikkan kedua ujung bibirnya. Kalau sebuah senyum saja cukup, mungkin memang sederhana. Kita bisa ngelawak, kita bisa ngasih senyum, yang efeknya mungkin orang lain jadi balas senyum kita, atau melakukan hal-hal kecil yang membuat mereka tersenyum. Tapi bahagia, bukan sekedar apa yang tampak diwajah kan?

Banyak yang tersenyum, namun sebenarnya sedang gelisah dan tidak bahagia. Banyak yang menangis, tapi justru tangisannya adalah bentuk pengekspresian kebahagiaannya. Jika standar yang dikejar adalah kebahagiaan orang lain, maka itu bukan hal klise, itu hal yang super sulit, bahkan bisa jadi tidak mungkin. We can't really make people happy. Kita cuma bisa berusaha, hasilnya, mereka bahagia atau tidak, itu ada di hati mereka, sesuatu yang invisible. Terkadang mungkin memang terpancar dari matanya, dari senyumnya, dari nada suaranya, namun kita tidak pernah bisa tahu.

***

Karena ini tulisan SensiMe. Saya minta maaf. Ia yang menulis itu, mimpinya indah. Cita-citanya mulia. Karena sebuah senyum bagi saudara muslim adalah sedekah. Maka saat ia membuat saudara muslim bahagia, tentu ada pahalanya juga.

Mimpinya untuk membuat orang lain bahagia, bukan berarti yang ia kejar adalah kebahagiaan orang lain. Karena jika manusia tujuannya, pasti yang terjadi adalah kecewa, dan ga mungkin. Kita ingin buat orang lain bahagia, tapi karena fokusnya, center-nya manusia, hasilnya, hidup kita yang tidak bahagia. Beda, kalau yang ia maksud di sana, adalah cara/media. Cita dan mimpinya adalah meraih ridho Allah, cara/jalannya adalah dengan membuat orang lain bahagia. Karena menyingkirkan sebuah duri ditengah jalan saja berpahala, apalagi membuat orang lain bahagia. In syaa Allah berpahala kalau niatnya karena Allah.

Iya, saya minta maaf. Saya yang salah.

Yang ia maksud memang seperti itu. Definisi cita-cita yang seperti itu. Seperti seseorang yang bercita-cita menjadi dokter, sebagai perannya, menjadi khalifah di bumi, dengan niat menjalankan tugas yang dititahkan Allah pada manusia, dengan niat, sebagai bentuk penghambaannya pada Allah. Seperti itu.

***

Sekali lagi maaf, karena dibawakan pakai Sensi. Sudah malam, mengantuk, tapi belum bisa tidur. Mungkin itu alasannya, atau excuse, atau pengen curhat saja.

Mungkin akan balik ke draft lagi. Tapi malam ini, izinkan kupublish sampai waktu tertentu.

Wallahua'lam.

Tiga Sungai untuk Membersihkan Dosa

January 23, 2018 0 Comments
Bismillah
#buku

Disalin dari Buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah halaman 98.

***

winter river

Orang-orang yang berdosa mempunyai tiga sungai besar yang bisa dipergunakan untuk membersihkan dosa-dosanya di dunia. Jika belum juga bersih, maka mereka akan dibersihkan di sungai neraka di Hari Kiamat. Tiga sungai itu ialah:

1. Sungai at-taubatun-nashuh

2. Sungai kebaikan-kebaikan yang melimpah ruah dan menghanyutkan berbagai macam kesalahan di sekitarnya

3. Sungai musibah dan cobaan yang menghapus semua dosa

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Dia memasukkannya ke dalam salah satu sungai ini, sehingga dia datang pada Hari Kiamat dalam keadaan bersih, sehingga dia tidak memerlukan cara pensucian keempat.

***

Semoga kita termasuk yang bisa menghadapNya di Hari Kiamat dalam keadaan bersih. Aamiin.

Allahua'lam

Monday, January 22, 2018

Cara Allah Membuatku Lebih Produktif

January 22, 2018 0 Comments
Bismillah.

*warning* banyak curhat

Aku takut kepekaan hatiku suatu saat hilang, jadi izinkan aku mencatatnya di sini. Tentang cara Allah menjawab doaku, agar aku lebih produktif.

Allah made me left my phone home. And I learn to fill my daily activities away from distraction from those little thing.

Bukan cuma sekali, beberapa kali. Qadarullah tertinggal karena aku buru-buru berangkat, cuma ambil tas laptop, yang sering tidak berisi laptop, melainkan mukena, pena, buku tulis, alquran dan terkadang sebuah buku bacaan.

Saat aku jauh dari rumah, pekerjaanku di sana, banyak waktu luang, karena mayoritas memang menunggu. Jika ada benda kecil yang dipenuhi ribuan distraksi itu (baca: handphone), aku tanpa sadar bisa menghabiskan waktu luang untuk menatap layar 5inchi itu, entah streaming video, main sosmed, main game, dan menanggapi berbagai distraksi lain dari benda tersebut.

Tapi saat benda itu jauh, karena tertinggal, aku jadi bisa melakukan hal lain yang lebih produktif, entah itu lebih banyak waktu membuka quran, menulis lintasan pikiran, membaca buku, atau hal-hal lain. Meski memang tidak menjamin aku bisa benar-benar produktif (ada saat-saat aku terkantuk, atau kebanyakan melamun) *uah.. Tulisan ini banyak buka aib. Will be deleted soon, I mean, back to draft.

Intinya, jawaban Allah sederhana, tapi selalu manis kalau aku lagi peka. "Wah, aku baru doa tadi pagi loh, dijawab pagi ini juga." Bukankah manis? Hehe.

Allah made me left my charger, when I left home with low battery phone.

Mirip sama poin pertama, tapi beda dikit. Aku seolah disajikan Allah pilihan, untuk menghabiskan batre telpon sekali jalan, dalam waktu singkat, tapi tidak bisa menggunakannya di siang-waktu pulang ke rumah. Atau aku memilih jarang menggunakannya, mematikan internet, menahan diri untuk ga banyak nonton video, menahan diri untuk ga main game, yang semua itu memakan banyak energi listrik dari batre hp.

Biasanya sih, saya pilih yang pertama hehe. I don't care when it's already dead. Aku sering gitu, membiarkan diri tidak tahu jam. Tidak apa-apa, toh masih di Indonesia, ada adzan yang jadi pengingat waktu shalat. Aku mungkin salah satu manusia biasa, yang hidupnya tidak lepas dari benda ini, yang sering senyum-senyum sendiri menatap layar, menundukkan kepala. Tapi juga bukan tipe yang kalau hape mati, atau tertinggal, ya sudah, aku bisa hidup tanpa hp untuk satu, dua atau tiga hari. Pernah soalnya, hp hilang/rusak, dan aku memilih berprasangka kalau aku harus puasa dengan hp berhari-hari, yang hasilnya, mamah telpon khawatir via temen-temenku. My bad..


Tapi sekarang, karena aku di Purwokerto. Aku ga perlu merasa bersalah atau khawatir tentang itu lagi. Yang paling khawatir kalau aku tidak bisa dihubungi adalah mamah dan papah. Tapi saat ini, nyaman sekali rasanya, pagi bertemu, sore malam bertemu. Pulang rumah juga dijemput. Even if my handphone left at home, or have a dead battery, they might even don't know. Ya, pernah soalnya, aku pulang, tanya hp-ku dimana, jawabannya, "Loh, emang tadi ga dibawa?" Aku cuma nyengir dan segera menuju tempat persembunyian hpku.

Allah made the internet connection super slow, like this morning. Somehow, someway.


Ini sering loh, aku juga heran. Padahal misal biasanya mah lancar-lancar aja. Tapi somehow koneksinya super lambat, atau sering connect disconnect tethering-nya. Jadinya? Ya, akhirnya waktu nunggu konek, aku jadi kepikiran buat ngerjain hal lain. Bisa jadi sarapan, atau menulis ini. Pokoknya sedikit lebih produktif.

Aku gitu siih, kalau koneksi internet lancar, suka lupa waktu, habis waktu untuk berselancar, nonton ini itu, baca ini itu. Ga bener.

***

Udah, itu aja cerita/curhatku. Aku sukaa... kalau lagi peka gini. Bagaimana aku bisa soktau kalau hal-hal diatas adalah jawaban Allah atas doaku. Iya aku emang sok tahu, tapi semoga gapapa, ini caraku berusaha untuk berbaik sangka pada-Nya.

Maaf, kalau aku sok tahu. Allahummaghfirli. Ya Allah, aku tidak tahu apa-apa. I know nothing. Allah knows all. Wallahua'lam.

Saturday, January 20, 2018

Burlian, Hadiah Novel dari Pecinta Alkahfi

January 20, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku
#serialbukukenangan

Saat SMA, seorang sahabat memberiku hadiah novel bercover biru dengan siluet kapal besar. Burlian, salah satu novel Tere Liye yang membahas tentang tokoh anak dan kehidupannya. Novel pertama yang mengenalkan saya pada Tere Liye.

***

from goodreads

Aku dulu pembaca fiksi, tapi biasanya berupa kumpulan cerpen, atau novel komik, atau novel terbitan DAR! Mizan atau novel remaja terbitan Gema Insani press yang ketebalannya berbeda, jauh lebih tipis dari novel Burlian. Aku membaca teenlit juga, mengikuti bacaan teman-temanku. Jujur, pertama menerima Burlian ada rasa deg-degan, karena ga yakin bisa mencerna novel tersebut. Terlebih, aku tipe yang sangat pilih-pilih bacaan.

Tapi membaca deskripsi di belakang novel, memulai bab pertama, membuatku tak bisa berhenti untuk membaca. Kisahnya unik, gaya bahasanya juga enak dibaca, aku banyak mengenal hal-hal baru dari novel Burlian, mengingat setting cerita bukan di Pulau Jawa, bukan di Ibukota Jakarta.

Aku sudah lupa garis besar ceritanya, tapi bagi yang belum baca, saya sarankan baca~ baguus^^

Dari novel Burlian, saya jadi baca novel Tere Liye yang lain (Moga Bunda Disayang Allah). Saya tidak mengikuti banyak novel Tere Liye, alasannya sederhana, lepas SMA, minat membaca saya turun. Membaca buku cuma dilakukan jika ada tugas. Selain itu, saya juga mulai beralih lebih prefer membaca non fiksi. Bahkan saya baru baca novel lagi, the Kite Runner, empat atau tiga tahun selepas lulus SMA.

***

*warning* curhat semua

Buku ini saya pilih karena yang memberikannya orang yang istimewa. Seorang sahabat yang saya temui di kelas IPA 5, dua tahun sekelas. Namanya Gisella Arnis Grafiyana, suaranya tidak nyaring, namun tegas dan khas. Sampai sekarang saya masih mengingat suaranya, ketika ia bercerita dengan nada menggebu-gebu. Aktivis SMA, mulai dari OSIS, Rohis, PMR juga ya Sel? Hehe. 

Aku teringat pintu pertama yang membuat kami tidak sekedar teman biasa. Suatu siang lepas jam sekolah, saat aku menangis di mushola Ulba berdinding hijau, dengan karpet hijau. Gisella punya cara unik merespon tangisku, ia tidak bertanya kenapa, tidak pula mencoba menghibur, she was simply just being there beside me. Melakukan aktivitas lain, tapi tetap disampingku.

Pintu kedua, yang membuat kami makin dekat, adalah ketika kelas 12, tiba-tiba ia mengatakan padaku, tekadnya menghafal surat Alkahfi. She loves Al Kahfi. Aku saat itu belum hafal, dan belum tahu keutamaan surat Alkahfi, belum tahu sunnah membaca Alkahfi setiap jumat, belum tahu keutamaan menghafal 10 ayat pertama atau terakhir Alkahfi. I know nothing. Tapi lewat Gisella, aku jadi ikutan 'menghafal' Alkahfi. Sebenarnya, aku cuma dimintai tolong menyimak hafalannya. Seorang yang sangat audio sepertiku, yang saat memperkenalkan gisella, suaranya yang pertama muncul di memori. Ya, seorang audio sepertiku, menyimak sahabat jelita melantunkan surat Alkahfi berulang, satu ayat, besoknya tambah lagi dan lagi, membuatku tanpa sadar ikut belajar menghafal Alkahfi. Belum sampai keseluruhan surat, baru sampai ayat ke 20 kalau ga salah, tapi hal itu membekas dalam di memoriku. Aku ga pernah tahu, sampai saat kuliah, kalau karena permintaan Gisella untuk menyimak hafalannya, aku jadi dimudahkan menghafal ayat-ayat awal Alkahfi, yang berefek pada jaket unit pertama yang kumiliki. Setiap kulihat jaket biru itu, yang kuingat surat Alkahfi, kemudian aku mengingatnya, Gisella, muslimah shalihah yang merantau ke Malang untuk kuliah.

Persahabatan kami pernah mengalami renggang. Saat suatu hari, dari orang lain, aku mendengar keburukannya. Saat itu aku memilih bungkam, dan berusaha sekuat otak dan hati agar tidak percaya, sampai ia yang cerita sendiri. Kami sempat tanpa sadar berjeda, ada sekat yang tidak terlihat. Kami sibuk dengan persiapan masing-masing untuk Ujian Nasional. Namun renggang itu hanya sebentar, dan aku dibuat terharu lagi, pintu ketiga yang membuat Gisella salah satu sahabat istimewa dalam hidupku. Perempuan pecinta Alkahfi itu membuktikan padaku, kalau ukhuwah itu nyata, kalau sahabat yang baik itu ada, dan kejujuran itu, mungkin pahit, namun ia akhirnya berani mengatakannya, lewat sepucuk surat.

Ya, sepucuk surat yang kubaca terlambat beberapa hari, atau bahkan satu pekan setelah sampai. Dikirim ke Asrama Kanayakan. Saat itu, aku tidak tahu, surat ke asrama disimpan dimana, ternyata di ruang belajar lantai 1 gedung lama. Aku menemukan satu surat dan satu paket, dari dua orang berbeda. Dua-duanya dari sahabat cantik nan shalihaat in syaa Allah. Suratnya dari Gisella, she told me the truth, and I relieved by that.

Saat ini, meski sudah tidak terjalin komunikasi, semoga ukhuwah tidak terputus. Salahku memang, yang masih belum memberanikan diri membuka jalan komunikasi. I can't promise to contact her soon, tapi lewat tulisan ini. Izinkan aku mengirim salam rinduku padanya, muslimah yang mencintai surat Alkahfi. Semoga Allah memberkahi hidupnya, melancarkan segala urusannya. Aamiin.

***

Sekian, maaf banyak curhat. Niat bahas buku kenangan, tapi malah kebanyakan nostalgia hehe. Oh ya, aku menulis ini karena terpancing rasa senang karena masuk grup ITBMh Book. Rasanya sesuatu, antara excited, tapi khawatir, tapi seneng, karena nemu tempat buat sharing tentang buku. Sebuah kebiasaan lama yang sedang aku pupuk lagi. Mungkin aku bukan kutu buku, bukan pecinta buku juga, tapi karena menulis dan membaca adalah kekasih, aku tidak ingin memisahkannya hehe

Maaf, .. bukannya ditutup malah dilanjut curhat 'behind the scene' hehe.


Setiap orang punya buku kenangan sendiri. Entah itu buku yang dibaca, atau mungkin buku pramuka waktu SD. Siapapun punya, mungkin akan baik kalau kau menulisnya, baik itu sekedar ditulis untuk diri sendiri, maupun kemudian di publish di blog/sosmed. Selamat menulis tentang buku kenanganmu, bagi yang mau hehe. Bye..

Thursday, January 18, 2018

Menulis; Pembiasaan, Keseimbangan, dan Kejernihan

January 18, 2018 0 Comments
Bismillah.

#menulis
-Muhasabah Diri-

Untukku, yang masih belajar supaya konsisten menulis, bukan cuma di sini, di zona nyaman ini. Tapi juga di sana, tempat merajut cita, yang kerlipnya sering kalah oleh perasaan negatif di otak dan di dada.

***

Orang yang tidak pernah menulis akan bertanya heran, bagaimana seseorang bisa rutin menulis sebulan sekali? Orang yang biasa menulis sebulan sekali akan bertanya heran, bagaimana seseorang bisa rutin menulis satu pekan sekali? Orang yang biasa menulis sepekan sekali akan bertanya heran, bagaimana seseorang bisa rutin menulis setiap hari, satu tulisan?

Kata kerjanya bisa diganti, mungkin dengan 'olahraga', atau 'membaca quran', atau hal-hal lain. Yang kamu heran orang lain bisa konsisten dan rutin melakukannya.

Tapi bahasanku kali ini tentang menulis.

***

Ada yang berkata, bahwa menulis itu kekasihnya membaca, tidak bisa dipisahkan. Kalau seseorang kesulitan menulis, mungkin ia melupakan atau justru memisahkannya dengan kekasihnya, membaca. Jadi keduanya memang harus diseimbangkan.

balance your writing and and your reading

Hanya jika tekonya berisi, ia bisa menuang air. Begitu pula... kita bisa menulis, ketika otak kita diisi dengan bacaan, atau hidup kita diisi dengan pengalaman, atau pikiran kita diajak untuk sering brainstorming.

Yang terbiasa menulis sebulan sekali, mungkin gelas yang ia pakai besar dan tinggi. Ia baru bisa meminumnya, ketika tekonya penuh, airnya dituang dan memenuhi gelas. Kalau baru setengah terisi, atau masih setengah kosong, ia memilih menulis sebagai draft saja, tidak di publish. Atau tulisan draftnya tidak selesai, hanya setengah jalan. Hanya pokok-pokok pikiran, atau ide utama tulisan, tanpa pelengkap kalimat penjelas.

Perkecil gelasnya, lebih sering isi tekonya. Semoga dengan itu, frekuensimu menulis, menjadi naik. Jangan memaksakan diri naik tingkat terlalu instan dan cepat. Karena kuncinya adalah pembiasaan, maka lakukan perlahan-lahan, tapi konsisten. Baca buku yang tadinya sebulan sekali, naikkan frekuensinya jadi dua pekan sekali, lalu naik jadi satu pekan sekali, lalu naik jadi hari senin dan kamis, lalu naik jadi dua hari sekali, lalu naik jadi setiap hari. Meski cuma satu halaman perhari, tidak apa-apa, yang penting dibiasakan. Menulis juga, kenaikan frekuensinya tidak perlu mencuat bagai naik tebing, pelan-pelan tingkatkan frekuensinya. Buat jadwal, luangkan waktu, laksanakan, jangan banyak alasan. Hehe.

***

Ada faktor lain selain keseimbangan membaca dan menulis. Ada hati yang perlu dijaga kejernihannya, ada otak yang perlu dibersihkan dari debu-debu negatif. Jika yang ingin kau tulis adalah kata-kata yang baik (betterword), maka tempat mengolah katanya juga harus bersih. Yang masuk ke teko mungkin air susu putih, tapi teko yang berdebu, akan menjadikan susunya rusak. Yang masuk ke teko mungkin teh manis, tapi teko yang kotor bertanah akan menjadikan tehnya pahit. Atau mungkin tidak terlihat, tapi saat diminum, susunya tidak sesegar yang diharapkan, tehnya tidak semanis yang dibayangkan.

Seperti halnya kita, yang terus berusaha memperbaiki dan meluruskan niat, agar setiap tulisan tidak hanya memberi manfaat di dunia, tapi juga akhirat kita. Seperti itu juga, kita harus terus berusaha menjaga kejernihan dan kesehatan hati dan otak. Hati... dari segala penyakit hati. Otak... dari segala virus kenegatifan.

Allahua'lam.

Cara Marah pada Diri Sendiri

January 18, 2018 0 Comments
Bismillah.

#untukmuukhti

"Aku pengen marah, tapi sama diri sendiri"

"Tapi gatau caranya gimana", dua kalimat tersebut aku kirim, terpisah enter. Yang membaca, seorang sahabat, yang hampir setiap hari masih bertukar sapa, meski jarak antara kami lebih dari 100 mil.

Respon pertamanya, "Baguslah, daripada marah sama orang lain". Respon keduanya, yang membuatku mengerutkan dahi, "Caranya, dengan membahagiakan diri sendiri? Beli sunskrin?".

Kubalas dengan kalimat panjang, "Aku tanya caranya marah sama diri sendiri", enter. "Pengen marah kok malah dikasih tips membahagiakan diri. Ogah wkwkwk", lanjutku.

Balasan berikutnya dari gadis manis yang lebih muda dariku, "Dengan melakukan hal yang tak disukai tapi produktif." Aku terdiam membaca kalimatnya. Ia mungkin lebih muda dariku, tapi terkadang, atau justru sering, ia lebih dewasa dariku.

***

Nama yang memberi saran, Asni Nuraeny. Sesuatu ya, tipsnya. Membuatku sadar, agar aku jangan salah milih sikap kalau lagi marah sama diri sendiri. Ya, melakukan hal yang tidak disukai, tapi produktif, itu saran yang bagus banget untukku. Hukuman yang tidak menzalimi diri sendiri.

Di sini, izinkan aku bercerita sedikit tentangnya, dan tentangku. Saran saya, ga perlu baca lanjutannya, karena curhat semua hehe. V *peace

Aku dan dia bertemu karena pernah tinggal di satu atap. Sama-sama penghuni yang sering terlihat di ruang internet. Itu saja. Tidak ada yang istimewa padahal waktu kami masih tinggal satu atap. Ia introvert, tidak ada kesamaan organisasi, tidak ada obrolan. Ah, ada yang sama. Satu kegiatan, sabtu siang, yang perjalanan menuju kegiatan tersebut memakan waktu satu jam, dua jam pulang pergi. Mungkin karena itu, kami jadi dekat, meski masih tidak saling curhat.

Kami justru makin dekat ketika aku sudah beranjak pergi dari atap itu. Ia yang memulai membuka diri dan bercerita padaku tentang ini itu. Aku, melihatnya dan mendengarnya, jadi percaya. Aku pun membuka diri, curhat ini itu.

Saat aku menghilang dari peredaran, ia salah satu yang mau mengkontakku lewat sms. Saat yang lain menyerah karena wa dan line-ku tidak bisa dihubungi, tak ada respon. Beberapa kali aku abaikan smsnya, atau aku balas dalam jangka waktu yang lama, tapi ia ... ia masih mau terus mengkontak terlebih dahulu, dan tidak kecewa kemudian menjauh.

Sejak itu, kami jadi sesekali bertemu. Saat aku sedang membaik dan bisa keluar dari gua, aku bertemu dengannya, sekedar makan bersama, dalam diam. Atau makan bersama, ia makan, aku menangis curhat ini itu. Lewatnya, aku sering diingatkan makan teratur. Lewatnya, aku jadi disadarkan lagi, bahwa makan makanan sehat itu pengaruh ke mood dan suasana hati.

Yang membedakan kami, adalah cara kami menumpahkan cerita. Entah sejak kapan, aku sendiri lupa. Tapi ia tidak pernah curhat via lisan, selalu diam dan menjadi pendengar saat kami bertemu. Kemudian tumpah ruah cerita dalam ribuan tulisan di aplikasi mesaging. Ia lebih memilih cerita lewat tulisan, lewat chat. Mungkin ia tidak mau aku melihat tangisnya. Mungkin.

Aku dan dia pernah ada di masa-masa gelap, kesulitan dengan masalah masing-masing. Ia dengan segala masalahnya. Aku dengan segala masalahku. Ia ada, di sampingku, saat aku jauh di bawah sana. Aku berharap, aku bisa jadi salah seorang yang bisa tetap di sampingnya, saat ia jauh di bawah sana. Keep reminding each other. Progres perbaikannya mungkin tidak bisa instan, tapi bukan berarti kami memilih menjauh ketika salah satu dari kami jatuh dan kehilangan diri sendiri.

Aku ingin belajar menjadi teman yang baik, kakak yang baik. Yang siap telinga dan mata untuk mendengar atau membaca ceritanya. Seremeh apapun itu. Karena aku tahu, ia selalu siap telinga dan mata untuk mendengar atau membaca ceritaku. Dan kami tidak perlu saling berpura-pura baik-baik saja, saat kami sedang tidak baik-baik saja. Serta tidak perlu saling berusaha memakai image yang sempurna di hadapan masing-masing.

***

bukan akar
(Photo by Markus Spiske on Unsplash)
Kalau jalinan ini, berakar dari kesamaan iman, dan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Semoga Allah takdirkan kami berdua kelak tidak terpisah, bertemu lagi di JannahNya. Dan kalaupun, aku tertinggal, semoga ia mengingatku, dan menanyakannya pada Allah.

Allahua'lam.

Tuesday, January 16, 2018

7 Hal yang Perlu Dilakukan Saat Merasa Ingin Berhenti Menulis

January 16, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Whatever you’re facing right now, don’t give up! Do take a break, do reach out for help, and do change your goals if necessary … but don’t stop writing altogether.
- Aliventures, Seven Things to Do When You Feel Like Giving Up on Writing
Photo by Tim Wright on Unsplash

***

Baca lengkapnya di link ya. Di sini? Ga ada apa-apa. Hehe *back to blogwalking mode.

Sudah lama follow aliventures[dot]com, website yang isinya gizi untuk penulis. Semua tentang menulis, penulis, dll. Berbahasa inggris, orang UK, tapi masih enak kok, ga terlalu berat menurutku. Meski sering baca judul-judul tulisannya di feed blogger, daftar bacaanku, aku jarang berkunjung ke sana. Alesannya klise, link di feed bloggerku, menuju ke proxy, ga langsung ke tulisan. Jadi kalau mau baca tulisan tertentu yang menarik, dua kali kerja, ke website, cari tulisan dengan judul yang sama. Wkwkwk.

Pagi ini entah mengapa, qadarullah niat baca. Jadi aku berkunjung ke aliventures, baca beberapa tulisan di sana, dan nemu yang pas untuk disalin dan jadi tulisan blogwalking. Pas aja, untukku yang beberapa hari ini down, and feel like giving up on writing my first draft. Hehe.

Ada 7 hal, aku salin aja ya poin-poinnya, penjelasannya baca di web sumbernya.

1. Take a break from writing | Istirahat sejenak dari menulis

Sehari, dua hari, seminggu, bahkan gapapa sebulan. Sejenak berhenti menulis. Kuncinya di kata break, berhenti sejenak bukan quit, berhenti selamanya.

2. Create some breathing space to your life | buat ruang 'bernafas' di hidupmu

Mungkin terlalu pekat, terlalu padat, dan ini pengaruh, kamu jadi pengen berhenti nulis. Maksudnya membuat space, atau ruang bernafas, banyak caranya, entah itu keluar dari kesibukan/kepanitiaan, minta bantuan orang lain, dll. Baca di link ya.

3. Look at tangible evidence of past successes | Tengok balik bukti kesuksesan yang dulu

Entah itu karya yang pernah di publish, atau buku, atau cerpen yang menang lomba. Feedback positif, komentar positif, testimoni positif. Atau bisa juga, pencapaian pribadi. Semacam 1000post di blog, atau tulisan atau draft yang pernah dibuat.

4. Put negative feedback in perspective | ubah perspektif terhadap negatif feedback

Kalau dari webnya sih, misal, mungkin aja yang komen negatif, lagi ngalamin bad day, dan tulisanmu jadi kambing hitamnya. Tapi ini jadi suudzon ga sih? hehe. Intinya mah, ubah perspektif, bikin hal yang negatif jadi positif. Atau kalau perlu abaikan aja negatif feedbacknya kalau kita jadi terlalu fokus ke situ.

5. Reconsider your goal | cek ulang target/tujuanmu

Cek lagi tujuan, atau targetmu, sudah rasional kah? Ada yang perlu diubah kah? Atau diganti? Mungkin waktu buat draft tulisan ga bisa sebulan selesai *berdeham nyindir diri sendiri

6. Seek emotional support | cari dukungan emosional
All of us need a friendly ear (or a friendly shoulder to cry on) once in a while. If you’re feeling really down about your writing, find someone you can talk to. It might be your spouse, a good friend, someone at your writing group, or members of an online group or forum.

I know how hard it can be to reach out for help and to tell people you’re struggling – but it can be hugely helpful to share your feelings about writing, and to feel that you’re not alone.
- Ali Luke, Seven Things to Do When You Feel Like Giving Up on Writing
7. Get Practical Assistance | Cari Teman/Mentor Menulis

Terjemahannya ga pas kayanya. Baca poin bahasa inggrisnya aja. Bisa minta tolong ke penulis/editor profesional, atau masuk komunitas menulis, dll.

***

Semangat menulis!

Allahua'lam.

Pengingat itu Baik

January 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

Sebuah ayat surat di Adz-Dzariyat, intinya tetaplah mengingatkan, sesungguhnya pengingat itu baik/bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Aku tidak hendak tadabbur, tapi ide tulisan ini somehow mengingatkanku akan ayat itu.

***

Berikut ini pesan/pengingat dari orang-orang baik, yang ingin kusimpan di sini. Takut, kalau otakku suatu saat melupakannya. Redaksinya tidak sama, karena pengingatnya diberikan lewat lisan, dan tidak direkam dengan teknologi. Tapi telinga dan otakku, semoga masih mengingat dengan baik pesan dibalik pengingat tersebut. Semoga tidak ada distorsi, sehingga pesan ini masih tetap bermanfaat untukku di masa depan.

***
Sekarang sudah bukan saatnya lagi kita bersabar, sekarang saatnya kita belajar bersyukur -SA
Saat itu, kondisi tidak berjalan lancar, kacau dimana-mana karena kesalahan sendiri. Tapi pilihan sabar, tidak membuatku membaik, karena aku tidak mempraktekannya dengan benar. Saat itu, beliau mengingatkanku. Bahwa ada pilihan lain, sebagai seorang muslim yang bisa kita pilih untuk membantu kita selain sabar, yaitu syukur. Kalau kita meluaskan pandangan, melihat limpahan nikmat dariNya, mungkin kita bisa semangat dan menangis haru, kemudian berusaha bergerak untuk mendayagunakan nikmat dariNya, sebagai bentuk syukur kita.

***
it's not a noisy fight, actually it's a lonely fight ; cause you fight nobody else but yourself ; mungkin seperti shadow boxing P
Melawan diri sendiri memang sulit. Bahkan mungkin pergulatan yang paling sulit -DPL
Setiap perjuangan, pertempuran, perang, tidak ada yang mudah. Tapi saat lawannya, adalah dirimu sendiri, sesuatu yang tidak bisa kamu hindari, yang selama hidup akan terus bertemu, tidak akan mudah, sulit.

Saat semua orang seolah tidak tahu, dan tidak mengerti. Kalimatnya membuat hatiku sedikit lebih tenang. She knows the battle inside me, she knows how hard it is for me.

***

Mungkin waktunya tersita, mungkin tenaganya terkuras, mungkin pikirannya terpaut, tapi ia juga dapat pahala atas itu, ia juga mendapat kepuasan hati karena menolongmu. -DPL
Aku tidak tahu orang lain. Tapi rasanya, tidak nyaman, bahkan menyakitkan saat banyak orang membantumu, namun yang dibantu (dirimu) tidak menunjukkan progres kebaikan, tidak membaik, mungkin jalan ditempat atau bahkan mundur.

Dengan kalimat itu, ia meyakinkanku... kalaupun kita tidak bisa membalas, dan memenuhi ekspektasi yang membantu. Sebenarnya tidak ada yang sia-sia, yang membantu kita, semua yang mereka lakukan akan dibalas oleh Allah, lunas, dengan pahala. Atau dengan kepuasan hati, yang tidak bisa dilihat lewat mata.

Saat kita tidak bisa membalas apapun, dan merasa terbebani akan bantuan orang lain. Mungkin kita cuma perlu mengucapkan doa dengan tulus, jazakumullahu khairan katsiraa. Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik.

***
Ubah mindsetnya. Kamu mungkin tidak pantas. Tapi kamu bisa mulai sekarang memantaskan diri. -DPL
Kalimat sederhana, pengingat agar selalu menjadikan kalimat menjadi positif. Saat kita mengubah mindset kita, cara pandang kita, kita akan selalu bisa menemukan hal positif. Salah satu contohnya kalimat di atas.

Jadi pengingat darinya (semoga Allah memberkahi hidupnya), kalau merasa tidak pantas, jangan jadi berhenti, mundur, dan balik arah. Pantaskan dirimu, lagi dan lagi. Ga pantes lagi, pantesin diri lagi. Gitu terus. Hanya dengan itu kita bisa memperbaiki diri, berprogress menjadi lebih baik. 

***

Terakhir, kalau kata Mba Sinta Yudisia, menulis itu membuka luka, kemudian mengobatinya. Membuka masa lalu, kemudian mencoba berdamai dengannya. Itu yang dimaksud dengan menulis yang mengobati, jadi ga tiba-tiba sembuh, ada proses sakitnya dulu.

Semoga bermanfaat.

Wallahua'lam.

PS: 18 Januari, sudah diedit, curcol ga pentingnya sudah diubah. Barangkali ada yang nyariin postingan ini, selamat membaca lagi.

Entah Terlalu Moody, atau Tidak Memaksakan Diri

January 16, 2018 0 Comments
Bismillah.
#menulis #curhatsemua

Aku... bukan tipe yang bisa rutin menulis setiap hari, maksudnya, mempublish tiap hari. Kalau sekedar menulis diary, menulis ulang rutinitas di layar putih, menulis apa yang unik hari ini, pelajaran apa yang kudapat, siapa yang hari ini aku rindukan, siapa yang hari ini kontak denganku, bisa. Menulis diary setiap hari bukan hal yang berat bagiku, yang sudah terbiasa menulis diary sejak SD, ya.. dengan diary bergembok, dengan cover lucu dan kertas berwarna.

Aku... bukan tipe yang bisa rutin menulis setiap hari, maksudnya, mempublish tiap hari. Di sini, di blog ini, atau di blog lain. Mungkin ini memang balik lagi ke kebiasaan/habbit. Mereka yang terbiasa menulis sebulan sekali, akan heran pada yang terbiasa menulis sepekan sekali. Dan aku, yang biasa mengumpulkan ide dan mood menulis sepekan sekali/dua kali, heran, pada yang biasa menulis sehari sekali. Unik dan jujur kagum saja, melihat akun Medium orang dan deretan tanggal beruntut diatas judul-judul tulisannya.

Entah aku yang terlalu moody, atau memang aku tidak memaksakan diri. Nyatanya sulit, ingin rasanya dengan mudah menulis 'tidak bisa', bukan yang pertama, ikut program nulis tiap hari, setor tulisan setiap hari. Dan hasilnya? Aku kalah oleh mood, aku kalah oleh pemikiran negatif yang lalu lalang di otak, aku kalah oleh keinginan diri untuk melakukan hal-hal lain.

***

Jujur aku kecewa pada diri, bukan cuma karena target one day one sent tidak terpenuhi. Ya aku kecewa pada diri, karena ada orang lain yang terlibat. Pak Nass yang merelakan waktunya untuk mengingatkan dan bantu mengumpulkan tulisanku, untuk targetku sendiri.

Rasanya... hm. Rasanya apa ya? Kecut, pahit, asam, asin. Yang jelas tidak manis, jauh dari manis. Juga tidak hambar.

Aku pernah dikagetkan dengan pernyataan Pak Nass, sebagai balasan atas kalimat bermuatan negatifku. Kataku, "....sama waktu itu masih ansos dan ga mau kontak sama orang asing". Maksudnya, saat itu aku sedang super introvert dan tidak ingin ada kontak dengan siapapun. Tapi Pak Nass mengubah kalimat bermuatan negatifku menjadi positif, mungkin karena kebiasan berbaik sangka-nya, "Hahaha kamu menarik. Bisa ansos. Tu modal. Kalo bisa 'menyepi', berarti siap nulis". Aku tersenyum membaca kalimatnya. Sebagiannya benar, ya, memang, saat aku memilih unread semua chat, dan membatasi kontak dengan siapapun, aku memang banyak menulis. Meski banyak pula melakukan hal-hal tidak produktif, semacam overthinking, atau kegiatan non produktif lain yang benar-benar wasting time.

Sepekan aku menghindari Pak Nass, karena aku belum setor tulisan. Sudah numpuk jadi enam atau bahkan lebih, yang seharusnya dikirim. Ahad kemarin, aku berusaha meyakinkan diri. Kataku, pada diriku, "Kamu ga belajar namanya Bel, ini juga bentuk lari dari masalah. Dulu kaya gitu, sekarang mau diulang?". Ya, bukan pertama, aku kalau ansos memilih mengabaikan semua pesan, menzalimi semua orang yang bermaksud baik menyapaku, atau bertanya hal-hal remeh, atau mungkin butuh bantuanku, atau justru ingin membantuku. My bad habbit, masuk ke gua, sibuk memikirkan diri sendiri, padahal di luar sana banyak yang tersakiti olehku.

Jadi ahad kemarin aku beranikan diri, seen, baca pesan pengingat dari Pak Nass. Menjawab, entah excuse atau reason. Tapi aku menjawab, mencoba tidak lari. Meski masih jalan di tempat, belum balik kanan dan menemui yang seharusnya dihadapi. Jawaban Pak Nass atas excuse/reason dariku adem, tips rutinitas sebelum memulai menulis.
"Usahakan tiap mau nulis wudhu, dalam kondisi suci. Boleh amalkan matsurat ato sholat dulu." - Nassirun Purwokartun
Aku tersenyum, namun jujur tips dari Pak Nass jleb gimana gitu. Aku tidak segera melaksanakan tipsnya, aku memilih menetap di gua lebih lama, membawa selembar cermin. Aku tidak bisa tidak mengakui, mungkin hatiku yang buram, gelap tertutup dosa, yang menghalangiku menulis. Aku tidak bisa tidak melihat, bahwa otakku terlalu penuh kenegatifan, kelam, yang menghalangiku menulis.

***

Untukku, karena yang terus menerus dan konsisten itu lebih baik daripada yang sehari muncul sebulan hilang. Belajarlah membangun kebiasaan baik. Mungkin kamu baru bisa sepekan sekali, ya ditingkatkanlah, yang tadinya sepekan sekali jadi sepekan dua kali. Kalau udah, tingkatin jadi sepekan tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, dan akhirnya nanti jadi sehari sekali.

Untukku, kalau tulisan ini cuma keluhan, percuma, sia-sia. Tapi kalau tulisan ini bentuk kamu menghisab/muhasabah diri. Bagus. Jadi tahu kan, aksi selanjutnya apa? Bersihin hati dari dosa, bersihin pikiran dari negative thinking. Semoga dengan bersihnya hati dan otakmu, lancar juga jemari dalam menulis, otak dalam meramu kata dan kalimat, serta hati dalam usaha meluruskan niatnya.

Semangat nulis~ kalau ga semangat? Motivasi dirimu untuk menulis... Banyak baca, kecilkan ukuran gelasnya, nanti juga tumpah airnya. Dan kamu tidak bisa menghindar untuk tidak menulis.

Bye...

Wallahua'lam.

PS : Ada pikiran-pikiran yang menusuk-nusuk, ingin kutulis meski muatannya negatif. Aku hidden in syaa Allah. And will be delete soon, in syaa Allah.
__1Tulisan are you okay, trafficnya padet, banyak yang lewat, karena banyak orang yang pengen tahu arti are you okay, pengen tahu respon apa aja untuk pertanyaan are you ok. Trus kenapa emang? Kalau itu faktanya, terus kenapa? Bisa jadi mereka lewat karena niat awal itu, tapi bisa mengambil manfaat lain dari tulisan itu. Mungkin memang ga pantes masuk draft buku, atau mungkin emang kamu ga pantes buat nyusun draft buku. Trus kenapa? Ini toh masih draft? Kalau nanti dikirim ditolak, itu urusan lain. Bikin draft kan ga ada urusannya sama itu. Jangan banyak mikir, kerjain aja, lakuin aja. Nanti dikirim, atau disimpen di laci, atau dicetak trus bakar sampai jadi abu, urusan nanti. Jangan biarin pikiranmu membajak tanganmu.
__2Kalau memang tu orang melihatmu dengan alasan U, trus kenapa? It's their eyes, and their assumption. yang hancur kalau asumsinya hancur bukan kamu kan? Lagian... pada akhirnya yg punya hak, keterangan apa yang kamu pengen tambahin di biodata singkat penulis kan kamu. Mau terbit jg belum tentu kok sibuk mikirin ini. balik ke tulisan penutup poin sebelumnya. Bikin draft kan ga ada urusannya sama itu. Jangan banyak mikir, kerjain aja, lakuin aja. Nanti dikirim, atau disimpen di laci, atau dicetak trus bakar sampai jadi abu, urusan nanti. Jangan biarin pikiranmu membajak tanganmu.
__3Kamu mungkin ga pantes, dan emang ga akan pernah pantes buat nerbitin buku. Trus kenapa? Kamu ga akan tahu, dan ga akan berkembang kalau pikiran itu menghentikan gerak tangan dan kakimu. Fokusnya bukan di situ, jangan fix mindset ngapa. >< Kalau ga pantes, ya memantaskan diri. Harusnya gitu kan? Inget apa kata Ibu dengan cerita off the record tentang kuliahnya, perjuangannya? Kamu ngerasa ga pantes lulus dari sini? Mikir pake mindset baru, pantaskan dirimu. Bukan malah mundur dan balik badan. Ya.. yang udah lalu mah lalu aja. Sekarang beda hal, bukan tentang kuliah memang, tapi tentang mimpi nerbitin buku. Jadi? Mau kalah sama diri sendiri?

Thursday, January 11, 2018

Criticism, Assumption and Softness

January 11, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku
-Muhasabah Diri-

*saran* baca kutipannya saja, skip yang lain

Tiga kata di judul itu sebenarnya tidak berhubungan. Itu cuma tiga kata kunci dari tulisan yang ingin saya bahas di sini.


Awalnya saya berniat menulis tentang kritik, sebagai artikel baru di Medium saya yang lama tidak diupdate. Nukil buku dari Revive Your Heart-nya Nouman Ali Khan. Tapi saya punya kecenderungan yang negatif, tidak mau keluar dari zona nyaman. Blog ini, zona nyamanku. Medium? Ah.. disana tidak nyaman. Seolah tulisan yang dipublish di sana, harus ditulis secara baku dan dalam tata bahasa yang baik dan benar. Meski kalau ada yang baca Mediumku, pasti menemukan banyak kekurangan di tulisanku. Begitulah. Harusnya mah, di Medium saya belajar untuk menulis dengan baik dan benar.

Anyway, abaikan prolognya, mari mulai saja bahasannya. Tiga hal yang akhir-akhir ini terngiang terus, meski inputnya dari mata, bukan dari telinga.

Oh ya, sebenarnya ada empat hal. Tapi yang pertama sudah ditulis di "Shield". Tentang diri, yang harus selalu termotivasi untuk beramal baik, karena kesalahan dan dosa di masa lalu. Aku kopas ulang kutipannya ya, bagi yang males buka link Shield.
If you have any mistakes in your past, there should be a fire inside of you to want to do good things. Every time there is an opportunity, no matter how tired you are, no matter how exhausted you are, no matter how unmotivated you are, you motivate yourself. And what should motivate you? The mistakes of your past.
Nouman Ali Khan, dalam buku Revive Your Heart

***

Tentang Kritik

Sebelumnya dari hasil baca satu bab di bukunya Dale Carniage, kritik itu tidak baik, bukan cara yang tepat untuk membuat orang lain berubah. Saya bertanya di nukil buku versi blog ini, tentang bagaimana kritik dan nasihat, apa bedanya, mengingat Allah memerintahkan kita untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Nah.. pertanyaan saya waktu itu, terjawab di buku Revive Your Heart. 

Tawasaw bil haq. Dibahas di buku Revive Your Heart, Nouman Ali Khan tentang akar kata tawasaw yang sama dengan akar kata wasiat. Tahu wasiat? Semacam pesan terakhir yang diberikan oleh seseorang yang akan meninggalkan dunia, sebelum kematiannya. Biasanya, ia memanggil orang-orang yang ia sayangi, kemudian mereka berkumpul, dan mendengarkan sang pemberi wasiat. Semua mendengarkan dengan fokus dan menyimak. Karena mungkin, itu pesan terakhir yang diucapkan sang pemberi wasiat.

Dari akar kata yang sama itu.. pandangan lain tentang tawasaw bil haq jadi berubah. Seperti wasiat yang secara normalnya tidak diberikan kepada orang asing, tapi diberikan pada orang terdekat, keluarga atau yang kita cinta. Seperti itu juga yang membedakan kritik dan nasihat normal, dengan tawasaw bil haq.
But is your criticism, even if it is criticism, is it first and foremost rooted in love? In concern? Do you care about them? And is that what's driving you to give this wasiyyah?
- Nouman Ali Khan, di buku Revive Your Heart
Dari sini, saya dibuat mikir lebih lama sebelum mengkritik atau mengingatkan orang lain. Apa benar, alasannya karena kita peduli dan sayang pada yang ingin kita kritik? Atau karena ego kita? Atau karena kebiasaan aja, kebiaasaan yang terbangun, karena kini semua hal ada rating-nya. Kebiasaan kalau setiap memberi penghargaan seolah harus disertai dengan kritik. Hmhmhm.

Ada lagi satu quotes, yang bikin saya mikir lagi dan lagi tentang kritik. Intinya sih, karena dasar cinta dan kepedulian tersebut, tawasaw bil haq bisa beda dengan definisi kritik yang kita lihat sekarang. Kenapa? Karena kalau kita cinta dan peduli, maka otomatis cara kita menyampaikannya, pilihan waktu kita menyampaikannya, semua itu kita pikirin. Kalau kita peduli dan cinta, maka kritik harusnya ga disampaikan di depan umum, harusnya ga disampaikan dengan kata-kata pedas apalagi kata-kata kasar.
If you love them, you don't want them to get into more trouble. You want to help them, but you know what? The tone that you're going to take and I'm going to take; the time I will pick and give the advice; the sentiments with which I will carry it; the words I'm going to choose - all of them will be governed by the love I have for them. And if love is not there, if that concern is not there, then we are going to pick some pretty offensive ways of saying things.
- Nouman Ali Khan, di buku Revive Your Heart
TT rasanya malu baca kutipan itu. Mengingat berapa banyak tulisan sensiMe, dan kritik tajam serta asal-asalan yang aku tulis. Hm.. semoga ga ada yang terlukai karena tulisan itu. Kalau ada, saya ingin minta maaf.

Tentang Asumsi
Ini berat banget nulisnya. Jadi di bab asumsi ini, ustadz Nouman membahas ayat di surat Al Hujurat. Tentang zann *maaf transliterasinya ga sesuai kbbi. Tentang prasangka. Yang pertama, ustadz Nouman ngasih tahu kalau sebelumnya, dan biasanya Allah tidak menghukumi sesuatu yang masih di pikiran. Seperti niat buruk yang tidak dihitung sebagai dosa. Tapi untuk yang satu ini, Allah memberi peringatan. Tentang prasangka. Silahkan dibuka quran masing-masing, surat Hujurat, halaman terakhir. ayatnya, nanti juga ketemu kalau dibaca.

Pembahasannya agak panjang di buku. Tapi ini beberapa yang saya catet kutipannya. Pertama, tentang zann yang sifatnya selalu ada di sebelah kita. Makanya Allah dalam firmanNya, hindarilah/jauhilah prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Jadi harus ada aksi/usaha kita untuk menghindar. Kita ga bisa diem aja, dan otomatis selalu mikir yang baik-baik. Enggak gitu aturan mainnya. Kita harus banyak bergerak, supaya bisa terhindar dari prasangka yang dosa.
What we're learning then is the idea that making assumption about people is inevitable. It's always there, it's always right next to you, it's not something you say, 'Well, I don't judge people man, I don't judge people, I'm not like that'. Actually it's always there. The ifti'al (ijtinab) form in the Arabic language suggest you have to make an effort to do something, it doesn't come naturally. It's not something you do without even thinking about it. It takes effort.
- Nouman Ali Khan, di buku Revive Your Heart
Oh ya, sebelum kutipan ini, aku juga ngutip kutipan lain. Kan tadi udah dijelasin, kalau bahasan tentang prasangka itu spesial. Karena sebelumnya, pikiran itu biasanya ga dibebani dosa. Tapi prasangka/zann itu beda. Allah seolah nunjukkin ke kita bahwa mindset, dan pola pikir itu penting untuk diperbaiki. Kenapa? Kalau ga diperbaiki, maka hidup kita ga akan membaik. Ini pas banget buat saya, yang pernah ngalamin stuck karena ga ngubah cara pikir dan mindset.
We're learning something very powerful about this process. If you don't change the way you and I think, then things are not going to get better; things are going to get worse
- Nouman Ali Khan, di buku Revive Your Heart
Sebenernya ada dua lagi quotes yang saya catet dari bab asumsi buku Revive Your Heart. Saya bahas secara singkat aja ya. Kalau penasaran dan mau baca versi yang bener, silahkan pinjam atau beli bukunya, dibaca hehe.

Pertama, bahwa zann ini terkait sama bahasan criticism. Kalau misal kita ga belajar untuk berbaik sangka, kalau kita terlalu banyak berprasangka, maka proses tawasaw bil haq akan terhalang. Orang keburu mikir, ah, kamu ingin njatuhin saya kan, makanya kamu kritik saya, semacam itu. Kedua, kita ga boleh mikir, we can only be a corrupt people in this world full of corrupt. Pemikiran ini ga boleh banget. Itu tanda kalau kita pesimis. Padahal harusnya, kalau kita percaya Islam dan nilai yang dibawa oleh Din ini, kita harusnya jadi penggerak kebajikan dan perubahan. Semua orang bisa memilih untuk kacau di dunia yang penuh kekacauan ini, tapi kita muslim. *ah sulit jelasinnya, aku kasih kutipannya aja ya. V **peace
 ....because the Muslims were supposed to be the example of: how you don't stereotype; how you don't make fun of other people; how you don't make assumptions; how you have clean communication; how you give the benefit of the doubt; how you don't pass judgement until you have absolute clarity. Until you have clarity you don't say anything. You reserve your judgement.
- Nouman Ali Khan, di buku Revive Your Heart
Di sini rasanya jleb. Tiap kali aku mikir yang enggak baik, prasangka yang berseliweran. Tulisan di buku ini terngiang. "Oh ini zann.. ayo gerak bell.." Dan ga mudah memang. Tapi bisa, kalaupun enggak bisa, banyak doa dan usaha, semoga Allah mampukan!

Tentang Kelembutan

from unsplash
Sebenernya judul asli babnya Leadership/kepemimpinan. Tapi bagiku yang mengena itu tentang kelembutan. Saat kita berhak marah, dan mengucapkan kata-kata pedas, saat kita bisa saja bermuka masam, membungkam mulut karena kesel. Tapi ayat ini.. dan kisah yang tersimpan dalam ayat ini mengajarkanku, untuk belajar lagi dan lagi tentang kelembutan.
In other word, in your speech, in your speech, in your facial expressions, in your emotions, in your interaction with them, the way you look towards them, all of it will have to be soft.
- Nouman Ali Khan, di buku Revive Your Heart
Fabima rahmatimminallahi linta lahum. Kita mungkin belum dan gak akan bisa selapang dada Rasulullah, mungkin belum dan ga kan bisa selembut Rasulullah. Tapi kita ummatnya kan? Yang mencintainya, dan menjadikannya teladan? Shalallahu 'alaihi wasalam. Maka kita harus berusaha, maksudnya aku harus berusaha, belajar meneladani kelembutannya, kelapangan dadanya. Kalaupun rasanya sesak, rasanya ga bisa aja ga marah dan ga kasar, banyak doa dan istighfar. Wudhu juga boleh. Sembari berdoa, semoga Allah melapangkan dada kita dan memberikan rahmatnya, supaya kita bisa memiliki kelembutan di hati, ucapan dan perilaku kita. Aamiin.

Subhanakkallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illalla anta astaghfiruka wa atubu ilaih.

Wallahua'lam.

***

PS: Maaf, tulisan kritik ga bisa di publish di Medium. entah kalau suatu saat nanti berubah pikiran hehe. Maaf juga kalau tulisan ini ga enak banget dibaca. Sudah diberi saran kan ya di awal, supaya baca kutipannya aja. Bye~

PPS: Satu lagi, dari bab leadership. Salah satu ujian dari leadership, adalah ketika harus berdoa dan memintakan ampunan kepada orang yang mengecewakannya. Trus aku teringat diriku, dan bagaimana mamah dan papah mendoakanku, meski aku messed up, and disappointed them more than once. TT *malah curhat