Follow Me

Saturday, July 29, 2017

Gak Berhak untuk Marah

July 29, 2017 0 Comments
Bismillah.
#hikmah

Suatu siang, dua jam lebih setelah adzan dzuhur. Aku berjalan, memilih berbelok dan melewati jalan yang lebih sepi. Sebenarnya, sebelum berbelok hati dan mataku sudah panas. Saat aku pamit kepadanya, aku terburu, yang aku tahu, aku harus segera pergi sebelum ia melihat lapis kaca di mataku.

Mungkin lima belas menit, atau dua puluh menit, aku akhirnya berhenti dan menemui orang lain. Sekitar satu jam lain terlewat, lalu adzan ashar terdengar. Aku pamit, lalu pergi lagi, berjalan, kali ini dengan perasaan ringan.

Saat perjalanan yang kedua, aku baru sadar, hm.. aku tadi seharusnya ga perlu marah dan sampai meneteskan air mata. Karena sebenarnya aku tidak berhak untuk marah kepadanya. Ya, aku ga berhak untuk marah kepadanya, sebaliknya.. sebenarnya ia lebih berhak menerima kata terima kasih dariku, ketimbang perasaan tidak enak karena harus membuatku pergi sendiri.

***

Kejadian singkat satu pekan lalu itu.. membuatku teringat. Kalau aku tidak berhak marah. Kalau kejadian di atas kepada teman baikku, kali ini.. aku diingatkan lagi. Kalau aku tidak berhak marah ke Allah. Ada jauh lebih banyak hal-hal yang harus kita syukuri, ada banyak takdirNya yang mengalir lembut memudahkan hariku.

Dan juga, mengingatkanku juga. Bahwa aku tidak berhak marah, pada diri. Karena marah tidak bisa mengubah apapun. Bukan marah, sikap yang pas untuk situasi ini.

***

Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih, karena kau mengizinkan aku berjalan, dan tidak menunjukkan kristal bening itu jatuh di hadapannya.

Allahua'lam.

***

post to draft

Wednesday, July 26, 2017

Tanda Tidak Baik-baik Saja

July 26, 2017 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Draft lama yang diganti-ganti isinya, dari fiksi, jadi non fiksi, jadi gabungan fiksi dan nonfiksi sampai akhirnya kini, semua tulisan lama di hapus dan ingin menulis dari sudut pandang yang lebih positif.

***

Pernah suatu hari, ada yang mengatakan padaku tentang tanda tidak baik-baik saja ku. Katanya... kalau aku A, pasti aku kemungkinan sedang tidak baik-baik saja. Jujur agak sensi membaca penyataannya. Berasa di judge, berasa orang itu sok tahu, dll. Waktu berlalu, lalu aku mencoba menulis draft pertama, yang intinya membenarkan penyataannya. Ia benar, kalau aku A, aku pasti tidak baik-baik saja. Waktu lain berlalu, lalu aku melanjutkan menulis, draft kedua, intinya bertanya, dan sedikit menyalahkan. Penyataanmu salah, buktinya aku tidak A, tapi aku tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Bingung ya? Begitulah. Karena A, itu ga jelas apa. Gampangnya, buat aja A itu menangis/cemberut/muka muram. Misal kalau aku menangis, atau cemberut, atau mukaku muram.. katanya itu tanda aku tidak baik-baik. Tapi pernyataan itu tidak selalu benar. Karena pernah ada saat dimana aku tidak menangis, tidak cemberut, muka ku juga ga muram, tapi sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Semacam itulah. A bisa diganti hal lain, tergantung tiap orang.

***

Cukup bicara tentang draft lama, sekarang aku ingin menulis dari sudut pandang lain.

Tanda tidak baik-baik saja, menurutku itu semacam gejala penyakit, setiap penyakit gejalanya beda. Setiap orang, pasti ada tanda-tanda yang muncul, saat ia tidak baik-baik saja. Ya, berbeda. Mungkin untukku misalnya, memutus komunikasi dengan orang yang dikenal.  Mungkin orang lain, menulis status penuh kata-kata buruk. Mungkin orang lain, ga nafsu makan, bahkan bisa dua hari cuma minum air putih. Mungkin orang lain, tandanya berbeda. Mungkin ada yang bisa dilihat kalau bertemu, ada juga yang bisa di lihat dari gaya menulis/postingan sosmed.

Tanda tidak baik-baik saja itu, semacam gejala penyakit. Mungkin demam, salah satu tanda kalau seseorang terkena penyakit demam berdarah. Tapi ga setiap kali kita demam, otomatis tanda kalau kita terkena penyakit demam berdarah. Semacam itu juga. Mungkin orang lain pernah tahu, titen, dari kebiasaan jadi mengenal tanda tidak baik-baik saja kita. Tapi kenyataannya, ga selalu benar. Kadang kita memang tidak nafsu makan karena sedang tidak baik-baik saja. Tapi mungkin pernah, kita makan teratur, tapi sebenarnya diri sedang tidak baik-baik saja.

***

Lalu aku teringat, tentang tanda-tanda yang Allah sebutkan dalam Al Quran. Mungkin karena Allah yang menciptakan manusia, jadi Allah-lah yang paling paham dan tahu secara umum, kapan manusia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Allah lah yang paling paham dan tahu, kapan manusia baik-baik saja.

Saat kita sedang bertanya, apakah sholat kita sudah benar? Allah menyebutkan tanda-tandanya. Saat kita bertanya, apakah hati kita sedang sakit? Allah menyebutkan tandanya. Apakah kita sedang dalam kondisi munafik? Allah menyebutkan tanda-tandanya.

Yang jadi masalah adalah, kalau kita tidak membaca Al Quran, tidak mengerti artinya, sehingga saat tanda-tanda itu muncul, kita tidak segera mengoreksi shalat kita, kita tidak segera merefleksi iman kita, hati kita.

Yang jadi masalah adalah, kalau kita cuma sekedar membaca Al Quran, cuma baca, tahu padahal artinya, baca terjemahannya, tapi cuma sekedar itu. Ga melaksanakannya, ga ada bedanya dengan  ahli kitab. Bak keledai yang membawa kitab-kitab tebal. hmm..

***

Semoga kita mengenal diri kita, sehingga saat tanda diri tidak baik-baik saja muncul, kita bisa mencari solusinya. Seperti kita merasa gejala pusing, keringat dingin, lemas, tenggorokan yang gatel, hidung yang berair, kita segera sadar kita mungkin bisa saja segera terserang flu, atau radang, atau batuk yang lebih parah. Ketika kita tahu.. kita bisa segera memperbanyak makan, mencukupkan istirahat, minum madu, dan lain-lain untuk menjadikan kita baik-baik lagi.

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya, yang diizinkan dan digerakkan hatinya untuk selalu dekat dengan Al-Quran. Mungkin ada saat kita malas membacanya, tapi Allah segera menegur/mengingatkan lewat orang lain, lewat tulisan yang lewat di feed sosmed/blog kita. Atau lewat apapun. Aamiin.


Allahua'lam bishowab.

Thursday, July 20, 2017

10:1 dan Center of Attention

July 20, 2017 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking
Dari dua blog, temanya, seperti yang ada di judul 10:1 dan center of attention.

1:10 | latihan desain, tapi aneeh aaaa


Yang pertama dari blognya Pak Budi Rahadjo, udah lama bacanya sih. Berikut ini kutipannya,

Saya selalu menantang diri saya sendiri. Challenge myself. Salah satu caranya adalah menahan diri untuk tidak sering-sering membagikan ulang (reshare)  sesuatu di media sosial. Misalnya, saya hanya boleh melakukan sharing setelah saya membuat tulisan / gambar / foto / program / atau apapun yang buatan saya sendiri sebanyak 10 kali. Jadi rasio buatan kita sendiri dan buatan orang lain adalah 10:1.

Hal-hal kecil seperti ini membuat kita memutar otak. Kreatif.
Silahkan dicoba deh. Melatih diri sendiri untuk menjadi kreatif.
- Budi Rahadjo dalam tulisannya Syarat Menjadi Kreatif
Yang kedua, tulisan bahasa inggris, tapi ga terlalu rumit. Berikut saya ambil kutipan yang saya suka.
.... We would like to think that we are somehow at the center of people’s attention. We think that when we walk around in a crowd that other people are constantly thinking about (and judging) us. That’s probably why we keep on asking that nagging question: What would people think about me if I do or don’t do this?

That question bugs us so much that it can dictate a huge chunk of our lives. Because we think that people are constantly thinking about us, so we constantly worry about the image we display, in the hopes that the image is in line with what they expect.
- Aiman Azlan, dalam tulisannya Nobody Remembers Your Wedding
Baca kedua tulisan lengkapnya di link-link tersebut ya.

***

Lanjut bagian komentar, eh tambahan.

Pertama tentang 10 banding 1, aku suka banget. Trus langsung pengen ngelaksanain di blog ini. Ga boleh nulis 1 blogwalking kalau sudah nulis 10 tulisan buatan sendiri. Oh ya, aku suka contoh-contoh Pak Budi kalau buatan sendiri itu bukan cuma tulisan, bisa jadi bentuknya foto, atau program (ehm), atau lettering, atau buat kerajinan tangan, atau buat hal-hal lain yang bisa ningkatin kreativitas kita.

Trus sebenarnya aku masih mikir, kalau misal aku ambil kutipan dari buku, tapi itu jadi satu tulisan, tanpa aku ubah redaksinya, ibarat copy-paste meski manual dengan ngetik, itu terhitung buatan orang lain ya? Harus masuk ke 1 ya?

Kedua.. tentang pusat perhatian. Ah.. gatau mesti ngomong apa. Malu sebenarnya. Padahal rasanya baru kemarin-kemarin aku ngobrol sama temen, kalau manusia ga akan selamat dari omongan orang. Bahkan Rasulullah yang terpuji, shalawat dan salam untuknya, juga dikatakan seorang penyihir, orang gila. Kita? Kita apa coba? Kita yang banyak kekurangan, pasti pernah dan ga mungkin ga pernah kena omongan orang. Inget Bel?

Yang kedua.. aku cuma ingin mengingatkan diri.
Although we like to believe that we are the center of people's attention, the fact of the matter is that people are generally too busy thinking about themselves. That's not because they're selfish. That's because they're human.
Ya, sama seperti aku.. yang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Mereka.. orang lain juga sibuk memikirkan diri mereka sendiri. Sudah paham? Tapi prakteknya kadang gitu ya? Hm.. Gapapa. Latihan. Kadang teori sama praktek memang beda, teorinya sederhana, tapi kalau lagi down tiba-tiba prakteknya jadi super sulit. Ya kan? Hm. Semangatlah pokoknya.

Yang terakhir, ga nyambung sama tulisan di atas tapi. Untukku yang entah kenapa Juli ini semangat nulis di sini turun. It's okay. Kalau ga mau nulis di sini gapapa, jangan nulis. Tapi perbanyak baca, ga cuma dari blog ke blog, tapi juga buku-buku kecil yang kamu beli untuk diresensi project after 1000 post. Nanti.. kalau tekomu sudah penuh karena banyak baca, in syaa Allah hatimu, otakmu, jemarimu akan tergerak untuk menulis di sini. And that's better. It's better, than you writing a lot of negative, random and ga jelas post. Ok? Bye.

Terimakasih yang ga baca tulisan tambahan, meski ga tahu kalau aku berterima kasih.

Allahua'lam.

Wednesday, July 19, 2017

Menjadi Positif

July 19, 2017 0 Comments
Bismillah.
 -Muhasabah Diri

Sedikit tulisan ngasal, semoga bisa membujuk diri agar mau aktif nulis di sini lagi.

***

Rumus menjadi positif tidak selalu dengan mengisi dengan hal-hal positif. Rumus menjadi positif lainnya adalah dengan mengurangi kenegatifan. Ibarat kamu sebelumnya punya -1juta, selain harus ditambah angka angka positif, kamu perlu mengurangi dengan angka negatif.

misalnya. -99+5+1+2+.. ini kadang kelamaan. Sekarang coba dikurangi negatif. -99 - (-10) - (5) dst.

Kalau dua rumus itu rajin dilakukan in syaa Allah kenegatifan meski 1 juta, bisa menjadi positif 1 juta.

Oh ya, contoh di atas kalau untuk kasus matematika. Kalau untuk  menjalani hidup positif, in syaa Allah bisa dilaksanakan juga. Selain mengisi hari dengan hal-hal positif, seperti ibadah, olahraga, menulis, dll. Juga perlu mengurangi kebiasan buruk, seperti tidur terlalu malam, malas-malasan, lama main sosmed, dll.

***

Untuk siapapun yang sudah positif, dan punya banyak sifat sikap dan hidup positif.. bagi-bagi dong hehe. Caranya bisa lewat tulisan, atau cara lain secara langsung ke orang-orang terdekat terutama.

Untuk siapapun yang masih negatif dan masih berusaha menjadi positif, semoga tetap semangat. People will say you're not  who you are before. People will say you have a lot of negativity than you were in the past. It will be hard to forget what they say, maybe you will accept that negatively. But.. banyak jalan untuk menjadi positif, banyak rumus, ga cuma yang aku tulis dengan ngasal di sini. Keep strong, even if you're weak. Makin mendekat ke Allah. Allah heard you. Allah always hears you.

.


Allahua'lam.

Saturday, July 15, 2017

Fake or Sincere Care?

July 15, 2017 0 Comments
Bismillah.

#random #gakpenting

Ada saat-saat dimana saya trenyuh ketika orang lain bertanya kabar, kemudian memintaku untuk jaga kesehatan. Tapi tak jarang juga... aku mengeras, gak ada efek apapun ketika orang lain bertanya kabar. Seolah pertanyaan itu cuma basa-basi. Kosong, cuma pengantar sebelum inti percakapan yang sebenarnya.


Tapi yang lebih aneh lagi.. ketika ada yang bertanya, dijawab, lalu selesai. Hm.. Maksudnya apa coba? Ingin aku balik berkicau, tentang pertanyaan yang salah. Salah.. bukan itu pertanyaan tepat untukku. Kalau kamu bertanya seperti itu.. kamu ga akan dapat jawaban yang kamu inginkan. Tapi keinginan itu segera hangus. Ya, ga mungkin tersampaikan, karena aku merasa tidak perlu, dan kamu juga sedang sibuk dengan urusanmu sendiri.

Lalu aku jadi diingatkan. Ah.. sepertinya aku tahu mengapa pernah kamu menuliskan itu. Bahwa kepedulian orang lain terhadap kita itu "fake", karena memang.. sepeduli-pedulinya orang lain, kenyataannya lebih banyak mereka ga peduli. Hm.. gimana jelasinnya ya. Karena setiap orang punya banyak urusan, pikiran dan kesibukan, pasti cuma sedikit dari waktunya, yang mau direlakan untuk peduli ke orang lain.

Sebenarnya kata "fake" agak-agak kasar. Karena kita ga pernah bisa tahu apa yang ada di hati orang. Apakah itu tulus atau fake, itu kita ga tahu, cuma Allah yang tahu. Oh ya, ini ga termasuk orang tua ya. Aku pribadi percaya, kepedulian orang tua ke anaknya selalu tulus. In syaa Allah.

Karena fakta ini.. aku jadi salut kepada Rasulullah. Rasulullah juga manusia, bukan malaikat. Tapi Rasulullah istimewa karena berbeda dari kebanyakan manusia. Saat manusia kebanyakan hanya memikirkan diri sendiri, Rasulullah justru lebih banyak memikirkan orang lain, memikirkan ummatnya. Bahkan sampai akhir hayatnya.

Pertanyaannya, apakah ketika mengetahui betapa Rasulullah hebat, sampai Allah mengajak manusia untuk bershalawat kepada Rasulullah. Sekedar mengetahui itu, apakah cukup? Udah? Iya ya.. Rasulullah memang manusia terkeren yang aku tahu. Sudah? Segitu aja? Sampai di lisan aja?

Apakah kita aku ga ada bedanya dengan ahli kitab, yang tahu bahkan yakin bahwa Rasulullah adalah nabi terakhir, lalu cuma sampai itu? Ga mau masuk islam? Ga mau mengikuti Rasulullah? Udah? Sekedar pengetahuan aja??

***

Aku akhiri di sini. Allahua'lam bishowab.

Tuesday, July 11, 2017

Kacamata Kuda

July 11, 2017 0 Comments
Bismillah.
#gakpenting #fiksi

Dimana aku bisa membeli kaca mata kuda? Sehingga aku bisa terus lari kedepan, tanpa melihat kanan kiri. Tak peduli di depan ada tiang, atau turunan, atau naikan, akan terus berlari, karena aku menggunakan kaca mata kuda.  Dimana aku bisa membeli kaca mata kuda?

unsplash

***

Pagi ini, aku menyempatkan diri ke alun-alun, tempat biasanya ada Dokar (Delman). Naik dokar saja, kalau tidak salah 15 tahun yang lalu, tapi pagi ini.. aku harus memberanikan diri bertanya pada Pak Kusir tentang dimana ia membeli kacamata kuda.

Jam 8 pagi, hari Ahad. Dipikir-pikir aku salah memilih timing, dua tiga dokar ramai berkeliling. Selain kusir, ada sekitar tiga, empat sampai lima penumpang. Aku memilih menunggu di salah satu pohon beringin yang usianya mungkin dua atau tiga kali lipat usiaku. Lima, sepuluh, tiga puluh menit. Satu, dua, tiga jam.

Matahari sudah makin naik, Alun-alun tidak seramai pagi saat aku baru datang. Aku mendekati kusir dokar yang sedang beristirahat lima meter di utaraku.'

"Pak," ucapku pelan dan ragu.

"Mau naik dokar mba?" tanyanya. Aku terdiam sejenak, teringat berbagai skenario yang kukarang di otakku selama tiga jam menunggu. Mungkin tanya tentang kuda, kacamatanya, dokar, dan dll, akan lebih santai jika sembari naik dokar.

Bapak kusir mengulangi pertanyannya, membuatku tersadar. Aku menggeleng pelan, kemudian minta izin bertanya.

"Kacamata kuda itu, beli dimana ya Pak?"

"Mba punya kuda juga? Saya biasa bikin, mau beli ke saya?" tanya Bapak Kusir tadi. Aku menggeleng kemudian terpaku sibuk dengan lintasan pikiranku.

Satu, lima, sepuluh, tiga puluh detik. Aku menggelengkan kepalaku pelan, kemudian menyadari kalau Bapak Kusir tadi sudah menjauh pergi, mungkin takut atau curiga, kalau aku bukan manusia waras.

The End.

***

PS: Sebenarnya ingin bercerita tentang kacamata kuda yang merupakan kiasan. Tapi bingung, akhirnya lahirnya skenario aneh ini. Wkwkwk. Kalau-kalau ada yang nggak sengaja baca, biar sedikit bermanfaat izinkan aku salin quote Salim A. Fillah dari buku Jalan Cinta Para Pejuang. 
Ajarkan pada kami Bunda Hajar, bagaimana perasaan iman menghajar rasa khawatir dan cemburu yang membakar.
Wahai para sahabat yang menggali parit, bisakah kalian rumuskan dalam sebait, bagaimana nalar iman meloncat tinggi melampaui nalar munafik yang berbukit-bukit.
- Salim A. Fillah
PSS: Mungkin tulisan selanjutnya bakal banyak berhashtag gakpenting. Mungkin. Allahua'lam.


Masih Muda Jangan Mudah Lupa

July 11, 2017 0 Comments
Bismillah..
#hikmah
-Muhasabah Diri-

street vendor (from unsplash)

"Kembaliiannya neng," aku membalikkan tubuhku, dan menggumam pelan 'oh ya lupa'. Bapak penjual ayam goreng itu menyodorkan uang empat ribu rupiah di tangan kanannya. Ketika hendak mengambilnya, tangan bapak tadi mundur, aku yang tadi tertunduk, jadi memandang wajah Bapak paruh baya tersebut.

"Masih muda jangan mudah lupaan", nasihat singkatnya, kemudian menyerahkan kembalian. Aku mengangguk malu, berterima kasih lalu buru-buru pergi.

***

Kejadian singkat kemarin membuatku ingin meneruskan nasihat Bapak tersebut di sini. Masih berkaitan tentang lupa.

Jangan mudah lupa... tentang tujuan kamu hidup. Jangan mudah lupa.. bahwa kehidupan sekarang, akan ada pertanggung jawabannya. Ini bukan YOLO, seenaknya kamu pakai untuk hal-hal ga penting.. Seenaknya kamu pupuk, tumbuh, hijau untuk kemudian dibiarkan menguning dan diinjak.

Jangan mudah lupa.. bahwa deretan hak asasi mu, hak dirimu. Diikuti juga dengan deretan kewajiban.

Jangan lupa.. kalau ridho orang tua adalah ridhonya Allah. Ihsan, kata itu.. jangan lupa maknanya.

Jangan lupa.. kalau ada banyak nikmat yang perlu disyukuri. Dan bersyukur itu.. bukan sekedar ucapan lisan, tapi juga berbentuk mendaya gunakan nikmat. Yang berjalan - berlari, dst. Cek buku JCPP.

Jangan lupa.. kalau ada banyak dosa dan khilaf yang perlu ditaubati. Jangan lupa, your sins are not bigger than Allah mercy. Juga... your sins are not bigger than yourself.

Jangan lupa...


***

Diisi yang banyak ya Bell. Mungkin ga di sini, tapi coba tulis. Manusia, memang pelupa. Dirimu, juga pelupa. Harus banyak menulis, untuk mengingatkan diri. Harus banyak bertemu sahabat, agar banyak yang mengingatkan.

***

Jangan lupa.. bukannya kemarin kamu baru nulis tentang fluktuatif kuantitas tulisan? Bukannya kamu baru nulis pengingat agar mulai menulis lagi? Ini apa coba?? Vakum beberapa hari. Alasannya apa??

***

Allahua'lam.

PS: Lebih banyak selftalk, maaf kalau ga nyaman dibaca. Ga ada yang baca sih tapi.. just in case.. Maaf.

Thursday, July 6, 2017

Menyebrangi Jalan Ini

July 06, 2017 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

cross road (from unsplash)

Pagi menjelang siang.. seorang mahasiswa telihat berjalan cepat menuju suatu tempat. Ia berhenti sebelum pertigaan jalan di hadapannya, berniat menyebrang. Saat itulah, tiba-tiba muncul seorang anak kecil perempuan, dengan kerudung putih dan kaos pink.

"Kang," ucapnya. Mahasiswa tersebut menoleh, dan memandang ke bawah, ke wajah arah anak kecil yang jauh lebih pendek dari tinggi tubuhnya.

"Boleh minta tolong sebrangin?" tanya muslimah cilik tersebut malu-malu. Mahasiswa tadi tersenyum dan mengangguk. Ia memang hendak menyebrang, jadi membantu bocah untuk menyebrang tidak ada masalah sama sekali.

Mahasiswa tadi perlahan mengangkat tangannya, lalu membimbing anak kecil di sampingnya untuk menyebrang. Sesampainya di sebrang, sang bocah berterimakasih.

"Mau kemana memangnya?" tanya mahasiswa tersebut. Sang bocah menjawab sebuah tempat tidak jauh dari situ. Lalu mereka pun berpisah, sejenak saling melambaikan tangan.

'Hati-hati di jalan' bisik mahasiswa tersebut, sambil terus berjalan menuju tempat tujuannya. Hari itu.. paginya disambut dengan satu kejadian unik, seolah Allah mengirimkan bocah kecil itu agar ia bisa melakukan kebaikan kecil. Seolah Allah ingin meyakinkannya yang meragu pada dirinya sendiri, kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik, meski masa lalumu begitu kelam. Seolah Allah ingin memberitahunya, ada banyak kebaikan kecil yang bisa ia lakukan, sedikit, demi sedikit.. kalau ia masih belum pantas untuk melakukan kebaikan yang besar.

'Karena yang dilihat Allah, bukan kecil atau besar. Bukan pula sedikit atau banyak. Tapi rasa ikhlas, dan ketaqwaan didalamnya, sesuatu yang hanya bisa Allah lihat.' ucap mahasiswa tadi pada dirinya, sembari memandang gedung tinggi di hadapannya.

"Bismillah".. bisiknya, lalu melanjutkan langkahnya.

The End.

***

PS: Kalau ada yang mau ngasih ide nama, boleh banget. J

Mari Menulis Lagi

July 06, 2017 0 Comments
Bismillah.
#menulis

Ditulis untuk mengingatkan diri agar tidak berhenti menulis. A selftalk

***
 
Hai diri! Ya, kamu yang mengaku menulis banyak membantumu menjalani hari. Ya, kamu yang merasa 'se begitu tidak sukanya' seseorang dengan menulis, sebenarnya ia tidak bisa lepas dari menulis itu sendiri.

Hai diri! Ya, kamu yang mengaku menulis bisa menghiburmu, bisa memetik hikmah, kemudian jika dibagi, bisa bermanfaat untuk diri dan mungkin juga untuk orang lain.

Hai diri! Yang tahu banyak teori menulis, tapi masih tersendat-sendat dalam mengamalkannya. Ya, kamu.. yang tahu "rantai" itu harus dihancurkan, ya.. jangan ragu. Nulis dulu lah. Kan kalau ada yang salah/kurang bisa diedit, atau bisa dibalikin ke draft lagi. Ya?

Hai diri! Ya, kamu.. yang katanya.. kalau ga nulis di sini, mau nulis di tempat lain. Tapi ini apa? Di sini kosong, di sana kosong, latihan nulis dengan tangan di kertas? Itu juga tidak!

Hai diri! Aku tahu.. ketakutanmu, keraguanmu.. pada dirimu sendiri. Kau memang bukan penulis yang lihai, bukan pula manusia yang ideal.. Kenyataanya, kamu cuma satu dari milyaran manusia. Kenyataannya, kamu mungkin termasuk mereka yang............. (isi sendiri ya, takut jadi seolah buka aib). Jangan biarkan itu menghalangimu menulis. Please.

Hai diri! Ya.. kamu.. kamu yang bisa senang membaca teman-teman dan orang-orang terdekat menulis. Kamu.. yang suka tersenyum, melihat tulisan orang lain yang mengaku tidak suka menulis, tapi tulisan mereka banyak hikmahnya, dan mereka masih menyempatkan menulis, meski satu dua tulisan sebulan.

Hai diri! Ya.. kamu yang sedang memandang layar laptop dan membiarkan jemarimu menari di atas keyboard. Menulislah.. banyak hal yang harus ditulis. Mari menulis lagi. Semangat!

keinginan menulis tumbuh dengan menulis (dari @sabtulis) 

Allahua'lam.



Monday, July 3, 2017

Maafkan Aku yang Tidak Peka

July 03, 2017 0 Comments
Bismillah.
#untukmuukhti #maaf

Tadinya hendak aku buat fiksi, dengan perbahan situasi dan dialog. Tapi kalau dipikir-pikir lagi.. tidak ada yang berhak tahu detailnya. Aku... cuma perlu menulis bahwa aku salah, bahwa aku tidak peka, dan aku ingin meminta maaf.

***

from unsplash

Untukmu.. yang sedang berjuang, diliputi rasa khawatir dan tekanan. Untukmu.. yang perhatian orang lain, justru membebanimu. Untukmu.. ukhti shalihah, cantik serta fighter yang baik.

Maafkan aku yang tidak peka, sehingga aku salah memilih kata untuk bertanya. Maafkan aku yang tidak peka, dan sok tahu.. Sehingga salah mengekspresikan yang seharusnya tersampaikan. Sungguh tidak ada niat untuk menambah beban pikiranmu, tidak juga aku bertanya sekedar bertanya. Tapi kau benar, aku... salah mengambil kata, salah mengekspresikan rasa.

Kejadian kemarin-kemarin ini.. jujur memang membuatku ragu untuk kembali menyapamu, sekedar mengirim pesan semangat saja ragu. Karena aku takut justru melukaimu lagi. Besok, atau lusa jika kita bertemu, semoga aku tidak sekaku saat ini, semoga aku tidak tiba-tiba canggung.

Kejadian kemarin-kemarin itu.. membuatku sadar satu hikmah kecil. Bahwa benar.. hadiah terbaik dari seorang sahabat adalah doa. Doa yang dipanjatkan di saat hujan, atau setelah shalat, atau di penghujung malam. Tidak perlu kata atau sikap yang terlihat untuk menunjukkan bahwa aku peduli kamu, karena terkadang, semua itu terlihat fake di matamu yang sedang sensitif. Atau memang.. sebenarnya aku yang rasa peduliinya fake. Tapi sungguh.. membaca deretan katamu, rasanya ingin menangis, betapa aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu.

Sekali lagi, maafkan aku ya.. Aku minta maaf. It's my fault, I apologize..

***

Terakhir.. semoga suatu hari aku bisa menyatakan maaf secara langsung. Bukan lewat tulisan, bukan di sini, padahal kemungkinan besar kamu tidak akan membacanya.

Maaf.

Allahua'lam.

***

PS: Sudah bertemu dan lurus semua yang berliku. Alhamdulillah ia tidak merasa ada yang salah dari pertanyaanku dan caraku menunjukkan padanya bahwa aku peduli padanya. Senang melihatmu melalui masa ini dengan kuat dan berani. ^^ Proud of you~

Saturday, July 1, 2017

Grafik Menulis

July 01, 2017 0 Comments
Bismillah.
#blog

Setelah sebelumnya nulis grafik 2012, 2013, dan juga gunung es pertama (2008-2014). Kali ini izinkan aku berbagi grafik yang lebih rumit, fluktuasi jumlah tulisan di blog ini, dari April 2008- Juni 2017. Grafiknya dibuat di Excel 2013. Pilih datanya (tabel), lalu klik pilihan rekomendasi grafik. Bagus ternyata pilihan-pilihannya. Habis itu baru diedit-edit sesuai selera. Biar ga terlalu monoton grafiknya, dan agak lebih nyeni. Oh ya, disarankan tidak membaca tulisan ini karena penuh angka dan membosankan wkwkwk.


Kalau mau lihat detail datanya, lihat saja di archieve blog ini ya.. Maret 2017 adalah bulan terbanyak nulis, 50 tulisan. Sedangkan paling sedikit nulis 0 tulisan, ada di 25 bulan. Jadi sebenarnya aku aktif nulis cuma 86/111, atau sekitar 77% dari umur blog ini.. Tahun paling sedikit nulis 2008 alias pertama kali buat, pas SMP kelas 3. Paling banyak nulis tahun 2016, belum tahu.. apakah 2017 bisa naik atau ga.

Kenaikan jumlah tulisan tertinggi adalah dari 2015 ke 2016, yaitu dengan selisih tulisan 172. Tapi kalau dari kelipatan, sebenernya  kenaikan dari tahun 2011 ke 2012 itu lebih besar (kurang lebih 5 kali lipat), sedangkan kenaikan dari 2015-2016 cuma sekitar 3 kali lipat. Jadi mikir.. sebenarnya itu bedanya apa ya? Hehe. Harusnya ngitung dari selisih atau perbandingan sih? Apa harus ngitung gradiennya? apa pula itu? sudah lupa kalkulus -.-

Intinya mah, ini tebing kedua yang aku daki selain di tahun 2012. Kalau 2012-2013 naik karena saat itu aku sedang sibuk-sibuknya dan banyak inspirasi yang didapat, banyak kesensian juga dulu wkwkwk. Tahun 2016-2017 ini agak berbeda, 2017 belum tahu sih, tapi semoga naik dikit, meski cuma selisih satu tulisan. Oh ya, bedanya, justru tahun-tahun ini aku sedang sama sekali tidak sibuk. Alasannya kenapa? Bukan karena banyak waktu luang, tapi karena aku sadar, menulis itu sangat bermanfaat untukku, untuk mengingatkanku, untuk reconnect myself with the reality. Sebelumnya, izin agak curhat, mungkin tahun 2014-2015 sampai awal 2016 bahkan, mungkin.. seperti... kok ga jadi bisa curhat ya? Pokoknya itulah. I was fooling myself, I did mistakes, sins, I even lost myself, hurt a lot of people, especially the one I loved. May be I still do TT, but at least these day I passed through with this blogs, writing as many worries and negative post in here, and in there, and in other place, and it helps me a lot. Writing do help me a lot. Tentunya selain menulis ada banyak hal lain yang membantuku, doa orang tua, doa orang-orang shalih, yang semua itu Allah kirimkan dan jawab. (':

Dari sekian banyak tulisan yang sudah aku buat, yeah, alhamdulillah I passed the 1000th post, ada 10 tulisan yang paling banyak di klik. Berikut ini link dan sedikit deskripsinya, dari nomer ke 10:

10. TPB STEI - Tahap Paling Bahagia STEI - Sekedar bagi pengalaman. Isinya sudah basi, karena tidak sesuai dengan kurikulum terbaru.

9. Mukena Transparan : Ganti Dek! - Tentang mukena transparan, mengingat lagi syarat pakaian untuk shalat, diawali dengan kejadian asli yang kusaksikan di suatu hari di suatu masjid kampus.

8. Melupakan - Tentang melupakan, kapan ia (melupakan) adalah pilihan, takdir atau kemampuan.
 
7. Muslimah Cantik, Cerdas dan Sholihah - Ditulis atas kegelisahan melihat fenomena tertentu, untuk mengingatkan diri, agar suatu saat tidak lupa pada prinsip yang sudah dipegang erat.

6. Doa; Haruskah Spesifik dan Tervisualisasi - Hanya mencoba merangkai menjadi paragraf, dari kul-tweet Ustadz Salim A. Fillah. Tentang doa, contoh dari para nabi, dan penjelasan, haruskah spesifik?

5. Dilarang Berjanji dan Memutuskan - Tentang larangan berjanji saat senang dan memutuskan saat marah, sedikit penjelasan dan sedikit saran jika harus berjanji atau memutuskan saat senang atau marah.

4. Be Yourself; Your-Growing-Self! - Tentang frase 'be yourself', yang tidak boleh membuat diri stuck dengan bad habbit dan tidak mau berkembang. Special thanks to Teh Lintang Wahyu Mukti, quote be yourself, your growing self, saya dapatkan dari sebuah stiker yang ditempel di dompetnya beliau kalau ga salah liat, saat kami duduk bersebalahan rapat SPDK/rapat Koran Gamais, ini juga lupa-lupa ingat, tapi saya ingat persis tempat kejadiannya, di Koridor Utara Masjid Salman ITB.

3. Are You Okay? - Tentang pertanyaan sederhana, yang terkesan retoratif, padahal tidak. Dikemas dengan prolog dan epilog berupa tulisan fiksi.

2. Dimana Cinta Sejati? - Salah satu propaganda tentang valentine berupa tulisan dari Majelis (divisi) Ilmu dan Kreativitas Rohis Ulul Albab SMA N 1 Purwokerto.

1. Rantai Gajah di Kepalamu - tentang sebuah kisah, yang hikmahnya adalah mengingatkan kita salah satu hambatan menulis dan mengajak kita untuk menghancurkan rantai tersebut.

Wah.. panjang ga kerasa. Udah dulu ya. Semoga bermanfaat kalau ada yang baca sampai akhir, meski udah disarankan tidak baca. Peace V

***

Semoga kedepannya tidak hanya kuantitas yang diperbaiki, tapi juga kualitas. Bukan hanya berhenti di blog tapi beneran jadi naskah dan coba dikirim ke penerbit. Atau self publishing kalau kuat modalnya hehe. Bantu doakan juga ya, doa yang baik-baik. Ga perlu doa ttg ini juga hehe.

Bye~