Follow Me

Sunday, October 30, 2011

Tentang Rasa

October 30, 2011 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahim

Seuntai kata, mungkin tak berarti apa-apa, tapi bisa juga.. ia memiliki arti yang tak bisa diraba semua orang.
Just realized.. kalau aku termasuk satu dari mereka yang terbata-bata dalam merangkai kata, untuk kemudian diucapkan demi mengikat sebuah makna.
That's why now i write this note, coz i don't know how to say it..

Ini tentang sebuah ekspresi, tentang ungkapan yang seringkali manusia ungkapkan lewat ekspesi, ucapan atau tindakan. Begini, ketika seseorang merasakan sesuatu, sedih misalnya
maka orang tersebut akan mengekspresikan rasa itu dalam ekspresi 'menangis', mengucapkannya kepada orang yang ia percaya, atau bersikap lesu dalam menjalani hari.
Ya, ini tentang sebuah ekspresi, sebuah aksi yang kita ambil untuk menunjukkan kepada orang lain tentang apa yang kita rasa.

Singkat kata, aku sedikit-banyak bukan termasuk mereka yang terlalu ekspresif dalam menunjukkan perasaannya. Maka yang mengenal aku sebagai sosok yang sangat ekspresif, mungkin akan me nyernyitkan dahi.
Maksudnya apa? Bukankah paling sering bermain ekspresi adalah 'aku'? Well sorry, you just don't know me well yet.


Aku miskin ekspresi. Atau kalaupun aku memiliki banyak ekspresi, aku kesulitan untuk mengungkapkannya. To show what i really feel inside, apa lagi kalau udah menyangkut yang biru-biru. Dijamin, nggak ada yang nyadar
kalau bisa jadi seharian ini, saat tawa dan senyum silih berganti menghias hariku, maka bisa jadi hari itu.. aku sedang biru (baca: i was blue, artikan dalam kaidah bahasa inggris). You may say i fake my smile. But I'm not.
Aku tidak pernah merasa memalsukan senyum dan tawa, sekalipun mereka hadir saat hatiku sedang kacau-balau. Itu ekspresi terbaik bagiku, senyum dan tawa somehow.. bisa memberi sentuhan lembut untuk hatiku, menghibur lara..luka atau apalah.

You may say my life isn't life. Karena, bukankah hidup ini tak selalu diekspresikan dengan senyum dan tawa? Bukankah memang ada masa-masanya kita menangis dan tersedu, cemberut, kesal, marah, dan ekspresi lainnya.
Well, i don't say i never cry, coz i do still love to cry (baca : cengeng). Permasalahanku bukan pada ekspresi itu sendiri, tapi pada makna pengekspresian itu. Ekspresi muncul sebagai reaksi natural atas perasaan yang sedang dominan di hati kita.
Tapi maknanya lebih dari sekedar reaksi spontan, ia hadir untuk ditunjukkan ke orang lain. Kita berekspresi baik dalam ucapan, tindakan maupun ekspresi wajah itu sendiri, sebenarnya karena kita ingin menunjukkan pada orang lain tentang apa yang kita rasa.
Bukankah begitu?

Maka ribuan rindu yang berkecamuk di sini (baca : di hati), mungkin tak dapat dengan mudah diketahui orang lain. Maka maaf beribu maaf, untukmu yang merindukanku.
Ingin rasanya mengatakan perasaan rindu ini, atau mengekspresikannya dalam tindakan. tapi entah kenapa, my mind keep myself to be just quiet. Mungkin ini efek labelling terhadapku dariku.
Sekali lagi maaf, untaian kalimat rindu ini tak bisa kutransformasikan dalam nada atau tindakan. Maaf, untuk pesan yang sering tak terbalas. Aku selalu ingin membalasnya, but i don't know what to write.

Well I do miss you so.. Well I do want to be there where you are. And well I cry this time because of you, or because how stupid i am about this.

katamu : -Mama pikir hari sabtu prei gak ke campus. kenapa gak jawab sms mama tadi siang. emang sibuk banget? lagi ngerjain tugas apaan?-

well i'm truly hurt reading those words, feel so guilty coz i can't express this feeling inside about you, feel stupid coz i can't show you that i do feel what you feel.
Maaf, sekali lagi maaf..

Ku Aminkan tiap doa yang terlantun indah dari bibirmu di tiap malam. Terimakasih untuk cinta, rindu, dan kasih sayang yang kau berikan.


Untuk Mamah, papah, mba ita, aan, dan keluarga di purwokerto :
"Karena hanya dengan melihat mereka, setidaknya aku kembali ingat. Bahwa ada yang akan ikut menangis saat aku menangis, ada yang turut tertawa saat tawaku mekar"

Saturday, October 15, 2011

May I Shake Your Hand?

October 15, 2011 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahiim..

Aku tersenyum, saat seseorang di belakangku menyebutkan namanya dengan kedua tangan tertelungkup di depan dadanya. Aku tersenyum, sedikit banyak karena ini bukan pertama kalinya aku menemukan orang ‘langka’ yang berprinsip tidak mau menyentuh kulit yang bukan mahramnya. Dan tersenyum, karena mereka.. manusia-manusia ‘langka’ itu.. menjaga prinsip mereka dengan cara yang unik. Spesial :)

Mungkin kebanyakan orang akan bertanya-tanya, heran sekaligus berpikiran ‘aneh’ pada mereka yang tidak mau berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya. “Kenapa sih? Cuma salaman aja nggak mau?”. Pertanyaan itu yang muncul begitu saja, terkadang tanpa jawab, karena jarang diungkapkan lewat bibir. Sekalipun iya terucap dan didengar orang lain, dia yang mendengar tidak tahu jawabannya, atau tahu tapi bingung bagaimana cara menyampaikannya. Pandangan kebanyakan orang ini juga, yang membuat para pemula (mereka, yang sedang mencoba memperbaiki hijab mereka) menjadi ragu untuk melanjutkan aksi say no to jabat tangan dengan non-mahram. Jadilah, para pemegang prinsip yang satu ini semakin sedikit, jarang sekali ditemui.

Melalui tulisan kecil ini, sedikit aku ingin mengurai jawab, tanya di atas. Sekedar sharing, agar yang tak tahu menjadi tahu, agar yang tak mengerti menjadi mengerti, dan yang ragu menjadi yakin. Insya Allah :)

Hijab

Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, sedangkan menurut istilah syara’, al-Hijab adalah suatu tabir yang menutupi semua anggota badan wanita, kecuali wajah dan kedua telapak tangan dari penglihatan orang lain. Tujuan dari hijab adalah untuk menghindari fitnah antarlawan jenis (pria dan wanita), menghindarkan berkhalwat (beduaan di tempat sepi). Hijab juga membantu baik pria maupun wanita untuk menundukkan pandangannya.

Hijab dan Jilbab, sama kah?

Berhijab.. berarti tak sekedar berjilbab. Tentu saja, ada yang lebih dari itu. Ada batas-batas lain dari hijab yang tak tampak. Tentang interaksi antar lawan jenis, bagaiman hijab.. melarang kita untuk berkhalwat (berduaan) dalam urusan apapun dengan yang bukan mahram. Atau tentang ghoudul bashor (menundukkan pandangan), karena Allah tahu.. kita paling lemah untuk yang satu ini. Berawal dari pandangan. Ketika seseorang mengenakan jilbab, maka ia sedang melakukan salah satu upaya berhijab. Ibarat suatu himpunan, maka berjilbab adalah subset dari hijab.

(* Menulis tentang hijab, jujur saja.. seperti menoreh luka tersendiri. Ah.. Ya Ghoffur.. Ampunilah aku. Ada banyak sekali hal yang harus kubenahi, ada khilaf dan lupa yang sering kali terulang-ulang kulakukan. Ya Allah.. Bantu hamba dalam penjagaan hijabku! TanpaMu apa dayaku.. *)

Benarkah hanya untuk mereka yang berpenampilan ‘wah’?

Siapa bilang, mereka yang memilih tidak menyentuh yang bukan mahram hanya ia yang berjenggot, yang celananya (maaf) cungklang, yang jilbabnya lebar, yang memakai gamis, atau penampilan-penampilan yang semacam itu. Coba deh.. telusur lagi, mungkin kamu hanya kurang jeli. Karena aku sudah membuktikannya, bertemu dengan orang-orang ‘langka’ dengan jenis yang berbeda.

Sungguh, mereka tidak sama mulai dari penampilan sampai cara mereka menjaga prinsip ini. Ada yang dengan santunnya menangkupkan tangan cepat-cepat sebelum lawan bicara mereka mengulurkan tangan, ada pula yang dengan santainya menjawab uluran tangan non-mahram dengan menyebutkan namanya dan mengangguk cuek. Yang pertama maupun yang kedua, menjaga hijab mereka dengan cara yang khas, tanpa melukai lawan bicaranya. Tak dapat dipastikan memang, kalaupun ada yang tersinggung itu hanya karena kekagetan saja, semacam culture shock. Selanjutnya semua akan memaklumi, karena si ramah tak sok cuek demi menjaga hijabnya demikian si cuek, ia tidak sok ramah demi menjaga hijabnya. Orang akan berkata : ‘dia emang kaya gitu kok..’. Dan lawan bicaranya akan manggut-manggut mengerti.

Maka bagimu yang ingin memperbaiki hijab, walau terbata.. walau satu demi satu langkah. Apa yang membuatmu ragu untuk menangkupkan tangan dari yang bukan mahram-mu? Dan bagi semua.. yang menemukan orang-orang ‘langka’ di sekitar kalian, cobalah menghargai prinsip mereka. Bagi yang sudah menghargai prinsip orang-orang ‘langka’ ini, tidakkah kau tergoda untuk menjadi salah satu dari mereka? Menjadi sosok unik yang istimewa? :)

Wallahu ‘alam bishowab.. Semoga bermanfaat^^