Follow Me

Sunday, December 31, 2023

Ada yang Mau Dibagikan?

December 31, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

#bersihbersihdraft

 

Pertanyaan serupa, dengan diksi berbeda pernah hampir tiap hari dalam sebulan kudengar. Saat itu, entah mengapa aku lebih sering menahan lidah dan menjawab dengan perasaan gamang, "belum ada".

 

Perasaan itulah, yang akhirnya mendorongku membuat draft tulisan ini. Saat itu aku menuliskan,

It's the second time that I become a participant in this kinda program. But this time, I feel for sure that I am not as enthusiastic as I was before.


Waktu berlalu, dan tulisan ini masuk ke antrian draft, lama tak diselesaikan. Dan saat waktu itu berjalan, aku menemukan diriku di situasi yang mirip dan pertanyaan yang sama. Alhamdulillah, kali ini jawabanku lebih antusias. Entah karena kondisiku yang lebih baik, atau karena bahasannya lebih familiar, dan orang di sambungan telepon kali itu energinya menarikku untuk ikut bersemangat. Ada banyak faktor. Tapi kutemukan lagi manisnya berbagi, meski sedikit, dari apa yang kupahami.

 

Oh ya, program yang aku ikuti saat itu mewajibkan peserta untuk membaca tulisan, kemudian berpasangan dan membagikan insight dari tulisan yang dibagikan tiap hari. Sifatnya "sunnah", jadi boleh juga tidak berbagi apa-apa, jika merasa cukup membaca saja.

 

***


Ada yang mau dibagikan?


Tentang memberi... aku pernah di posisi bertanya-tanya, bagaimana bisa berbagi, jika kita merasa tidak memiliki apapun yang dibagikan. Aku ingat saat itu aku menemukan diriku di situasi "tragis", saat aku berusaha membantu orang lain, akan hal-hal yang aku sendiri kesulitan dan butuh bantuan. (I'll search the old posts and share the link, in syaa Allah)


Tapi kemudian aku mendapat insight baru, setelah membaca buku antologi Ramadan seorang blogger. Pengalaman penulis buku tersebut membuatku menemukan hikmah baru. Bahwa bisa jadi lewat kita Allah berikan kesempatan untuk berbagi dan membantu kesulitan orang lain di "masalah yang mirip", justru dari situlah jalan kemudahan untuk urusan kita juga akan dibuka. Saat itulah aku mulai menyadari kesalahan pikiranku, betapa saat itu aku terlalu fokus pada kekurangan, dan lupa untuk mencari hikmah dibalik kejadian itu. Aku lupa, bahwa ada hadits yang mengajarkan kita, bahwa saat kita memudahkan atau membantu saudara muslim yang lain, Allah akan memudahkan dan membantu kita.


***


Ada yang mau dibagikan?

 

Bagaimana jika kita ragu? Apakah saat ragu itu, lebih baik kita menahan untuk berbagi, atau lebih baik tetap berbagi sambil berjuang di balik layar?


Jawabannya... tergantung konteks dan situasi. Untuk pertanyaan ini, aku harus hati-hati. Karena setiap case itu unik.


Kalau keraguan ini karena ilmu kita yang belum seberapa, ingatan yang buram, tidak yakin apakah yang kita sampaikan benar atau tidak, apa kita benar-benar tahu... maka lebih baik menahannya. Jangan terbawa ego untuk menjawab setiap pertanyaan. Ada kalanya kita harus mengakui bahwa diri ini tidak tahu.


Kalau keraguan ini karena dari pengetahuan itu, kita sendiri merasa masih belum bisa mengamalkannya. Ragu karena rasa takut dibenci Allah, mengatakan sesuatu yang belum kita kerjakan. Yang ini, aku masih 50:50. Ada kalanya aku tetap membagikan, sambil berjuang di balik layar, berdoa, semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya. Tapi... aku pun yakin, bahwa ada saatnya kita harus menahan diri dan menahannya. Karena urutan dari ilmu itu.. setelah menyimak, mencatat, dan memahami... adalah mengamalkan terlebih dahulu.


Pernah aku membaca di buku Tazkiyatunnafs ala Tabi'in, disebutkan bahwa saat itu ada yang meminta seorang tabiin/tabiin tabiut untuk khutbah tentang suatu tema. Namun beliau menunda menyampaikan topik tersebut sampai beberapa pertemuan. Jamaahnya pun bertanya kenapa baru disampaikan, beliau menjawab karena kemarin2 masih mengumpulkan uang untuk mengamalkan hal tersebut. Aku agak lupa amalannya apa, tapi kalau nggak salah tentang membebaskan budak.

 

Itu pertimbangan yang membuatku sering memilih diam dan menyimpan sendiri apa-apa yang kudapatkan. Karena aku tahu persis, aku masih terseok-seok dalam mengamalkan, atau lebih buruk, aku takut ternyata aku justru melakukan hal sebaliknya. Membuatku bertanya-tanya sendiri, berharap ayat ini ditujukan pada diri, ata'murunannassa bil birri wa tansauna anfusakum? wa antum tatlunal kitab...

 

۞ أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَـٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

[Surat Al-Baqarah (2) ayat 44]


Tapi di sisi lain, aku tahu betul betapa pentingnya saling menasihati dalam agama Islam. Sungguh, kalau semua orang memilih untuk diam dan tidak saling berbagi, tidak saling mengingatkan dalam haq (kebenaran) dan kesabaran, tentu kita semua dalam kerugian. Tenggelam dalam masalah masing-masing, tidak ada yang membantu saat was-was setan yang menyuruh kita menyerah dan terus membisikkan kebohongan-kebohongan yang membuat kita berputus asa dari rahmat Allah. Tentu kita juga tidak ingin begitu kan?


Semoga Allah memberikan kita kebijaksanaan, untuk tahu kapan kita harus diam dan memilih menyimak. Sibuk membenahi diri, berjuang untuk mengamalkan ilmu. Dan semoga Allah juga memberikan kita keberanian dan kekuatan, untuk berbagi, meski sedikit dari yang sampai pada kita. Sedikit hikmah, sedikit pelajaran, sedikit cerita, sedikit pemahaman, sedikit insight. Tidak mengapa sedikit, sesederhana membagikan satu ayat. Ayat yang "mutiara"-nya pernah kita "lihat" dan membuat mata kita berkaca-kaca karena keindahannya. Ayat yang mengingatkan kita lagi untuk terus berjuang mendekat pada-Nya.


Terakhir, sebuah pertanyaan untukmu: jadi, ada yang mau dibagikan? 

 

Wallahua'lam.

Wednesday, December 27, 2023

Delightful Time with Quran

December 27, 2023 1 Comments

Bismillah.

 


 

 

Judul ini terinspirasi sebuah program di komunitas quran @guidelight.id. Pernah hadir beberapa kali. Biasanya diadakan awal bulan. Sebuah forum diskusi tadabbur.


Sistemnya, peserta masuk kelas online. Lalu pembukaan, dan penjelasan teknis. Lalu personal tadabbur, masing-masing diberi waktu untuk tadabbur, bebas mau ayat apa, surat mana. Kalau bingung harus tadabbur bagaimana, butuh bantuan tambahan referensi, diberi juga beberapa referensi dan link bacaan dari panitia. Aku lupa berapa lama durasinya, 30 menit? Atau hanya 15 menit? Setelah selesai tadabbur masing-masing, baru dimulai sesi sharing. Dipersilahkan untuk membagikan hasil tadabbur masing-masing.


That's it. It's a delightful time with Quran. Berbeda dengan rutinitas membaca quran yang hanya baca text arab qurannya saja. Saat merasa membaca terjemah saja masih kurang. Sesi tadabbur ini membuat kita belajar untuk mengamalkan ayat "afala yatadabbarunal quran", semoga sedikit dari usaha kita menjadi bukti, bahwa kita masih punya hati, hati.. yang semoga tidak terkunci dari hidayah dari-Nya.


***


Delightful time with Quran itu bagiku, penting, banget. Bahkan untuk yang masih terseok-seok mengejar target tilawah dan hafalannya. Sebuah pengingat, bahwa quran ini, bukan seperti buku biasa, yang cukup dibaca. Ia bukan sekedar hafalan, yang cukup dihafal di lidah. Ada hati yang seharusnya bergetar tiap kali kita membacanya. Ada biji-biji niat amal kebaikan yang seharusnya tertanam di hati setiap kali kita menghafalkan ayatnya.


Mari meluangkan waktu itu. Kalau dari satu komunitas, tiba-tiba prokernya sudah tidak ada. Cari lagi dari komunitas lain. Ngafal Ngefeel-nya Kak Siti misalnya.

 


 

Kalau ini, programnya, baca insight, ngafalin, dan setor hafalan setiap hari ke mentor, oh ya, ada quiz juga tiap pekannya. Sistem pendaftarannya memang agak-agak spesial gitu sih. Karena cuma dibuka beberapa jam saja di tanggal yang ditentukan. Dan ada seleksi juga, jadi ya, kalau nggak diterima, mari cukupkan membaca insightnya aja, di web https://www.ngafalngefeel.com/ atau bisa dengerin insight dari podcastnya, ada dua channel : Ngafal Ngefeel dan Quranic Insight.


Oh ya, dari Ngafal Ngefeel, ada juga program komunitas "anak"-nya, namanya SNN. Bedanya sama Ngafal Ngefeel, di sini nggak ada mentor. Sistemnya tiap peserta dipasangkan, lalu saling setoran via telp dan sharing dari insight yang sudah dibaca. 


***


Tapi contoh di atas itu semua kegiatan online ya? Nggak ada yang offline aja?


Nah untuk kamu yang lebih suka kegiatan langsung tatap muka. Boleh banget segera bikin program delightful time with quran dengan teman-temanmu yang satu visi. Mereka yang sama-sama ingin mendekatkan diri dengan Allah lewat Al Quran. Nggak perlu banyak-banyak, cukup tiga-empat orang dulu. Carinya dimana? Cari dari temen-temen terdekatmu dulu. Kalau nggak ada, coba dateng ke kajian di masjid terdekat, kenalan sama temen yang duduk di sebelahmu. Jangan lupa minta tolong ke Allah juga, supaya dimudahkan dapet temen bisa diajakin tadabbur quran bareng, meski cuma satu bulan sekali. Semoga nanti Allah bukakan jalannya, bahkan lewat hal-hal yang nggak kita sangka.

 

Dan misal belum ketemu, bersabarlah berusaha dan berjuang sendiri, berjuang melawan nafsu, dan berusaha mengatur waktu, agar kita punya delightful time with quran. Semangaat...!


Semoga Allah memberikan kita kemudahan dan hidayah, agar tidak lupa menikmati ayat-ayat Al Quran, bukan cuma lewat membaca dan menghafalnya, tapi juga lewat tadabbur, dan berusaha mengamalkan ayat-ayatNya. Aamiin.


Wallahua'lam.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, December 16, 2023

Buku Cinta, Buku Sejarah, dan Satu Novel

December 16, 2023 0 Comments

Bismillah.


Agustus-September (2021) yang lalu ada 3 buku yang aku selesaikan. Tiga buku ini aku pinjam dan baca dari aplikasi iPusnas.


Buku Cinta


sumber gambar


Judul: Cinta x Cinta = Cinta^2

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: Indiva


Bukunya Mba Sinta lagi hehe. Temanya tentang cinta, dan ini buku Psikologi Remaja, sub judulnya "Biar Masa Remajamu Nggak Sia-Sia!". Meski ini buku untuk remaja, dibaca oleh orang dewasa masih cocok kok. Gak terlalu berasa age gapnya. Bahasannya juga bagus, ada beberapa contoh kisah cinta yang terkenal, dan dari situ kita belajar. Sebenarnya aku gak terlalu ingat isinya. Tapi pesan yang aku dapat sih, intinya jangan terlalu disibukkan dengan cinta, terutama untuk usia remaja, sibukkan dirimu dengan aktivitas positif lainnya, sibuk berkarya, dll.

 

Kutipan dari buku ini:

 

"Cari posisimu, posisi masing-masing di alam semesta. Pasti ada yang istimewa dari dirimu! Belum dapat? Coba pelajari dan temukan, juga asah bakat terpendam lain. . . . . . Hamka bahkan ditolak menjadi guru, karena tidak punya ijazah diploma. Tekad kuatnya belajar, menjadikannya ulama dan sastrawan yang dipuja, hingga sekarang. Love yourself, and find something amazing about you!"

#daribuku Cinta x Cinta = Cinta^2 - Sinta Yudisia, Penerbit Indiva


Buku Sejarah


sumber gambar


Judul: Sejarah Peradaban Islam (Sumbangan Peradaban Dinasti-Dinasti Islam)

Penulis: Saeful Bahri

Penerbit: Penerbit Pustaka Aufa Media (PAM Press)


Aku pinjam buku ini di iPusnas, karena merasa pengetahuanku akan sejarah islam yang bisa dibilang mendekati nol. Buku ini bukan buku sejarah yang mendalam, lebih ke overview, aku bahkan baru nyadar ketika mendekati akhir bab 1 bahwa buku ini adalah buku sejarah buat anak sekolah setara SMA kayanya. Karena di akhir bab, ada semacam pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek apa yang sudah kita baca. Buku ini cocok untuk orang kaya aku, yang dari kecil sekolah negri, dan gak pernah dapet pelajaran sejarah islam, kecuali sirah nabawiyah. Buku ini cukup buat kita mengintip dan melihat secara sekilas, bagaimana sejarah kerajaan/dinasti islam, juga tahu karya/peninggalan apa yang ada di masa itu, baik secara pengetahuan/ilmu yang sampai sekarang kepakai, atau bangunan-bangunan, dll.

 

Kutipan dari buku ini:

 

"Motivasi penaklukan Andalusia didorong oleh semangat untuk membantu kelompok yang tertindas, yaitu seorang yang bernama Julian, Gubernur Ceuta (Sebtah) bersama pengikutnya yang terintimidasi oleh penguasa kawasan itu yang bernama Roderick."

#daribuku *Sejarah Peradaban Islam* (Sumbangan Peradaban Dinasti-Dinasti Islam) - Saeful Bahri, Penerbit Pustaka Aufa Media (PAM Press)



Satu Novel


sumber gambar

Judul: Sirius Seoul

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: Pastel Books

 

Novel ketiga Sinta Yudisia yang kubaca dari iPusnas, setelah Reem dan Polaris Fukuoka. Lanjutan Polaris Fukuoka, karena karakter utamanya masih sama. Tapi kalaupun belum baca Polaris Fukuoka juga gapapa, tetep bisa kok menikmati novel ini. Bercerita tentang Sofia yang ke Korea untuk bertemu sepupunya. Aku suka novel ini karena banyak membahas tentang psikologi. Aku gatau gimana perasaan seorang anak perempuan yang tidak mengenal ayahnya, ditinggal ayahnya. Aku belajar lewat novel ini. Betapa pentingnya peran ayah pada anak perempuan. Agak kaget juga saat membaca bagian akhir novelnya. Sepertinya begitulah rasanya berbincang dengan mereka yang punya masalah mental, perlu kesabaran sampai ada saat mereka akhirnya mau membuka diri dan bercerita yang sesungguhnya.


Kalau di Polaris Fukuoka dibuka dengan puisi kematian, sesuatu yang sudah tidak bisa dicegah, karena Isao sudah pergi tanpa Sofia pernah benar-benar mengenalinya. Tapi di Sirius Seoul, setidaknya Sofia berusaha untuk bertemu dengan sepupunya, dan mencoba mengenali dan memahami jalan pikiran sepupunya itu. I wish there's another sequel of this novel. Aku ingin tahu bagaimana kisah lain di hidup Sofia.

 

Kutipan dari buku ini:

 

Dia belum pernah ke Gyeokbukgung, tetapi membayangkan kompleks istana dengan museum dan pusat sejarah di sampingnya, membuatnya iri untuk kesekian kali. Apakah sejarah kerajaan besar di Indonesia seperti Majapahit, Mataram, Sriwijaya, juga dijelaskan pada khalayak dengan berbagai bahasa dunia agar orang dapat mempelajari keunggulan sejarah Indonesia?

#daribuku *Sirius Seoul* - Sinta Yudisia, Pastel Books


***

 

Menyelesaikan draft ini sebenarnya sesuatu... hehe. Draft ini tadinya cuma berisi foto cover dan keterangan buku. Benar-benar menulis dari awal, dan sudah 2 tahun sejak aku membaca 3 buku tersebut.

 

Selain itu, menyelesaikan draft ini juga mengingatkanku bahwa tahun 2021, aku lagi semangat-semangatnya membaca dan membagikan apa yang kubaca. Berbeda sekali dengan tahun ini, ehm. Anyway, mari kita tutup tulisannya.


Semoga Allah memudahkan kita untuk terus membaca dan menulis, sesedikit apapun. Setidaknya kita berusaha untuk terus belajar dan mencatat hasil belajar tersebut, supaya kita tidak lupa. Semangat membaca dan menulis~


Wallahua'lam.

 

*** 


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: Menemukan draft November 2021 saat hendak import tulisan tentang buku ke Medium. Alhamdulillah punya medium, meski cuma perpanjangan tangan dan reblog dari tulisan blog ini dengan niche buku. Setidaknya dengan itu, aku belajar ulang, apa yang pernah aku baca dari buku, dan juga, siapa tahu kaya gini: nemu draft yang belum diselesaikan setelah 2 tahun hehe.

Sunday, December 10, 2023

A31: Istikharah dan Musyawarah

December 10, 2023 0 Comments

 Bismillah.

 #menjadiarketipe #66haribacabuku

 


 

 

☑️ #DAY31-0090

📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi

 

📑 Quote:

Tidak akan rugi orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah. 


💡 Insight:

Hidup kita penuh dengan pilihan, dari yang sifatnya personal, sampai yang menyangkut urusan banyak orang. Dan saat kita bingung harus memilih yang sama, Allah sudah menyediakan bagi kita 2 cara yang baik untuk kita, istikharah dan musyawarah. Mari manfaatkan dua hal tersebut ^^

Karena akan ada banyak pilihan yang membuat kita bingung dan ragu. Semoga kita dihindarkan dari mengambil keputusan yang membuat kita rugi dan menyesal.

 

***

 

Keterangan: Tulisan ini merupakan bagian dari serial kutipan buku yang kulaporkan untuk program 66 hari baca buku @menjadi.arketipe 1 Februari - 7 April 2022. Tulisan lainnya bisa dibaca di #66haribacabuku atau di page 66 Hari Baca Buku 






Friday, December 1, 2023

Hi December~

December 01, 2023 0 Comments

Bismillah.


📸 sumber
 

Hi December~


Lama tidak membuat tulisan ringan yang isinya cuma sapaan.


Alhamdulillah, setelah lama tenggelam dalam perasaan negatif yang membuatku makin enggan menulis... Akhirnya aku berusaha dan mencoba untuk keluar dari tempurung. I don't want to be a frog hehe.


Bulan ini, penghujung tahun syamsiyah, semoga ditutup dengan hal-hal baik. Seperti biasa, ada banyak ekspektasi, rencana, dll. Semoga Allah memudahkan kita semua menjalaninya selangkah demi selangkah. Jangan terlalu tergesa dan panik, biasanya jadi mudah jatuh.


Semoga, melihat berita dan bantu share tentang Palestina, membuat kita lebih semangat menghidupi hidup kita. Malu sebenarnya dengan keimanan penduduk palestina. Tapi sekedar malu saja, lalu kembali tenggelam dalam distraksi, apa bedanya? Bukankah yang terpenting adalah mengambil pelajaran dan inspirasi dari mereka, kemudian menanamkan hikmahnya dalam hidup kita? Ayo bell! Banguun!! You've been asleep for too long.


Anyway, sekian. Mohon doanya, semoga bulan ini bisa produktif nulis, baca, dan berquran. Semoga Allah juga memudahkanmu untuk produktif dengan hal-hal yang menjadi fokus dan visi misi hidupmu. Aamiin.

 

Oh ya, kalau ada, ide atau kesempatan bisa kolaborasi kebaikan, jangan sungkan untuk kontak ya. Boleh komen di sini, atau dm @betterword_kirei. Aku tipe orangnya suka banget berkomunitas, dan ngerasa butuh banget temen biar ngejaga naik turun diri dalam banyak hal. Jadi jangan ragu.


Ini beneran sekian. That's all, and take care^^ Bye 5!


Wallahua'lam.

Weekly Insight Surat Taha 1-40 Ngafal Ngefeel

December 01, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Surat Taha. Aku teringat memori saat kuliah dulu. Menemukan beberapa teman yang sudah punya hafalan banyak, dan memilih surat taha sebagai surat favorit. Saat itu aku cuma bertanya-tanya. Belum benar-benar mencari jawaban dan menyelami, mutiara apa yang membuat mereka melihat surat Taha sebagai surat yang spesial.

Aku juga teringat, suatu masa dalam hidupku. Saat doa sederhana yang sudah kuhafal dari kecil, mulai sering kulafalkan, dan menjadi penenang saat anxiety membuat dada sesak, mata panas, dan lidah kelu. 

Maka setelah bergabung pertama kali, mencoba ikut Ngafal Ngefeel Surat Qaf Juli 2023 lalu... kemudian membaca kalender Ngafal Ngefeel dan menemukan surat Taha, aku bertekad untuk mendaftar lagi.

Satu bulan, belajar dan membaca berulang surat Taha ayat 1-40. Ada banyak insight, salah satunya yang dibagikan resmi dari Team NN. Silahkan dibaca di bawah ini yaa...

 


Setelah ayat 1 ini, adalah ayat favorit temanku.

 

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

[Surat Ta-Ha (20) ayat 2]

***


Belajar tentang ayat ini, mengingatkanku PR besarku. Adab. Barangkali, karena adabnya kurang dan tidak dijaga, karena itulah ilmu yang dipelajari menjadi tidak berkah, hanya sekedar konsumsi otak dan bukan hati. Na'udzubillahi min dzalik. Allahummaghfirli.. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari adab juga, sebelum ilmu.


***


Ayat ini... pengingat, bahwa emosi kita gak boleh jadi penggerak utama diri kita. No matter how anxious, how scared, how sad we are. Keimanan kita harusnya bisa membuat kita memaksakan diri melangkah di jalan-Nya. Tapi... adakah yang pernah berjuang melawan emosi diri? Melawan kekhawatiran yang membuat kaki limbung. Melawan overthinking yang membuat ingin putus asa. It's not an easy fight. Cause your enemy is not someone else. It's you. Maka saat merasa begitu lemah, coba lafalkan doa ini..


     

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Artinya: “Ya rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku,

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”


Menulis ini mengingatkanku pada sore gerimis di sore hari, berjalan di bawah segarnya air hujan yang menghidupkan, sembari menahan tangis dan melafalkan doa ini. Melangkah pelan membelah lapangan rumput Aula Barat.


Betapa doa sederhana, yang Alhamdulillah sudah diajarkan sejak kecil ini, begitu bermanfaat. Terutama buatku, yang saat itu sedang belajar lagi cara berdoa, belajar bersandar sepenuhnya pada Allah, tapi juga belajar untuk menurunkan ego minta bantuan pada manusia, belajar berkomunikasi lagi setelah lama hilang dari peredaran hehe. Aku bahkan lupa, dari siapa awalnya aku belajar doa ini. It seems small, tapi pahalanya terus mengalir.


***


Dari ayat 1-40, yang mana yang paling favorit? Bagiku ayat doa tersebut. Tapi jika boleh memilih satu ayat lagi yang belum disebutkan diatas, aku ingin menuliskan juga ayat 13.


وَأَنَا ٱخْتَرْتُكَ فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ

Dan Aku telah memilih kamu,

maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). [Surat Ta-Ha (20) ayat 13]


Alasannya? Karena tadabbur dari amazed by the quran dan penjelasan di dalamnya masih begitu lekat.  


Baca juga: Allah is Never Far Away (tentang Surat Taha ayat 13)

 

Aku seolah bisa membayangkan betapa gelap dan sulitnya perjalanan mendaki, kemudian saat tiba diatas, disambut oleh kalam Allah. Bahwa Allah memilih kita. Kalau di surat Taha memang Allah memilih Nabi Musa sebagai Nabi, satu-satunya Nabi dan Rasul yang diberikan keistimewaan berdialog langsung dengan Allah di bumi. Tapi kata wa anakhtartuka, entah mengapa mengingatkanku. Bahwa Allah, juga memilih kita. Bukan asal memilih, diksi memilih yang dipilih itu mengandung kata khair, artinya memilih karena ada kualitas kebaikan di yang dipilih.


Tahukah, bahwa kita dipilih Allah untuk menjadi manusia? Dan bukan daun, bukan batu, bukan hewan, bukan awan.


Tahukah, bahwa Allah memilih kita untuk menjadi seorang muslim? Allah memilih menghadiahkan iman dan islam dalam hati kita. 


Tahukah mengapa? Karena Allah melihat kebaikan di hati kita.


Maka saat ujian bertubi hadir di hidup kita. Saat semua terasa gelap, dan rasanya begitu terjal untuk menyusuri jalan medaki ini. Percayalah bahwa Allah tidak pernah jauh. Berbaik sangkalah, bahwa Allah tidak pernah menginginkan kesulitan untukmu. Seperti hal-nya Al Quran tidak diturunkan untuk menyusahkan kita. Begitu pula setiap hal yang terjadi di hidup kita (:


Terakhir. Semoga Allah menjadikan Quran sebagai musim semi di hati kita. Allahummarhamna bil Qur'an. Aamiin.


Wallahua'lam bishowab.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Memories from Facebook (28 November)

December 01, 2023 0 Comments
Bismillah.

Lama gak buka Facebook, lalu menemukan beberapa memori.

Ternyata tanggal 28 Nov aku sering buka Facebook.

5x, kalau termasuk tahun ini, jadi lima kali.

2009 chat wall dari temen SMP, lama tidak jumpa dan mengobrol. Sebuah pengingat untukku jalin silaturahim padanya.

2011 tantangan buat resensi buku baru, dibeliin bukunya, mention dari senior Aksara, yang sekarang jadi "petinggi" di YPM Salman.

2012. Pengingat untukku, tentang urutan terkait ilmu. Seringkali aku lupa urutannya dan ingin segera melompat ke langkah terakhir.

2013. Tag dari teman satu fakultas. Pengingat bahwa seharusnya jarak tidak mengurangi nilai pertemanan. *Izin share dengan nama asli ya Ro hehe.

Satu lagi tahun 2016. Yang ini kemarin lupa gak aku catet tentang apa. Mungkin share publikasi acara, atau share quotes.

***

Hanya ingin mencatat ini di sini, biar tidak lupa.

Sesekali, tidak mengapa buka FB. Back then you were so active in that social media. Barangkali hikmah dan pelajarannya, masih menanti untuk dipetik lagi. (:

Wallahu a'lam bishowab.

Friday, November 10, 2023

Tak ada Kata Dariku

November 10, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Beberapa pekan, atau bahkan bulan, sulit rasanya untuk menulis. Tidak ada kata dariku. Yang kutemukan dalam diri hanya kehampaan. Teko kosong. Sebenarnya tidak bisa dibilang kosong. Karena alhamdulillah, atas bantuan-Nya, aku masih menyempatkan membaca, meski sedikit. 


Mudah, jika aku hanya sebuah aplikasi yang tugasnya membagikan bacaan yang kubaca. Tapi aku bukan mesin. Ada beban setiap kali aku membagikan sesuatu, yang aku sendiri belum benar-benar bisa menanamnya dalam tanah hatiku. Belum aku tanam, belum aku sirami, belum terlihat sama sekali kecambahnya mencuat dari tanah yang makin hari terlihat kering.


***

 


 

Tak ada kata dariku, tapi ada kata-kata dari buku yang kubaca. Izinkan kubagikan di sini. Bukan karena aku mesin, justru karena aku manusia. Aku mungkin lupa, dan suatu saat akan ingat karena membaca tulisan ini.


Tentang Bersemangat #daribuku Pribadi Hebat - Hamka, Gema Insani

 

"Semangat yang berapi-api adalah sebagian dari sikap berani, yang timbul karena dorongan percaya atas kekuatan diri sendiri. Namun, jika semata-mata bersemangat saja, pengetahuan tentang hal yang akan dihadapi tidak ada, tidak akan berhasil.
.
.
.
Sebab itu meskipun semangat berapi-api, janganlah berjalan dalam gelap gulita malam dengan tidak bersuluh. Suluhnya adalah kekuatan kepercayaan, ilmu, dan pikiran."

 

semangat tidak selalu bergantung pada umur

 

"Semangat yang besar karena cita-cita yang besar tidaklah bergantung kepada umur."


semangat kaum perempuan


"Bagaimanpun besar dan berkobar semangat para kaum laki-laki, boleh dikatakan tidak berarti jika kaum perempuan tidak bersemangat."


teruslah membaca


"Bacalah buku-buku yang bermanfaat, roman yang berisi, ketahuilah jalan pikiran bangsa sendiri.

Bacalah syair pujangga kita sendiri, seperti Chairil Anwar dengan Bintang Jalang-nya, Aoh Kartahadimaja dengan syairnya yang dari mencintai alam fana, dapat menjadi Yang Baka. Jangan hanya Vondel dan Shakespeare atau Du Perron dan Hemingway saja.

Itulah yang akan menumbuhkan semangat dalam jiwa untuk bekerja dan berjuang, menegakkan kebenaran, masyarakat, dan budi. Sehingga setelah layar ditutup dan permainan habis, kepuasan menjelma dalam hati kita.

Setelah perasaan menjadi halus karena pikiran yang tinggi dan dahaga jiwa yang dipuaskan, penuhlah pribadi dengan semangat dan berani berjuang. Sebab, tidak ada orang lain yang akan memikul beban ini, melainkan kita sendiri."


terakhir, yang melemahkan semangat


"Yang melemahkan semangat ada dua perkara. Pertama prasangka, kedua hati busuk.

Prasangka menyempitkan lapangan tempat jiwa berbesar.

Hati busuk.... pada pandangannya tidak ada orang yang benar dalam dunia ini, hanya dia saja."


Semoga kata-kata dari beliau, bisa kuserap dalam hati, berharap suatu hari dapat tumbuh, hingga aku sendiri, yang masih belajar ini, bisa menjadi pribadi yang hebat. Aamiin.


Wallahua'lam.


***

 

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Wednesday, November 8, 2023

Berani Patah untuk Merekah

November 08, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Aku ingat, saat pertama kali membaca judul itu. Sebuah calling for young writers. Awalnya, aku begitu semangat dan bersiap untuk mendaftar. Tapi rasa itu sejenak dihentikan saat membaca persyaratan usia. Ah, aku sudah tidak lagi muda hehe. Tapi aku masih suka dengan judulnya, dengan projek menulis itu, maka aku share, dan aku dm ke beberapa "adik" yang aku tahu suka menulis.


Waktu berlalu, dan jujur agak kaget kalau ternyata projek buku antologi tersebut hanya diterbitkan dalam bentuk e-book. Kalau gak salah, ada kelas plus launching bukunya. Aku, tidak mendaftar, tidak hadir juga.


Waktu berlalu lagi hehe. 7 Oktober, kita semua ingatkan, serangan dadakan, bentuk perlawanan dari mereka yang terjajah, dan hingga saat ini masih berlangsung TT. Aku, masih belum bisa menulis atau membuat konten sendiri. Jadi fokusku, adalah bantu sharing via story. Sesederhana itu.


Sampai akhirnya kutemukan sebuah konten bagus, aku follow creatornya. Dan di bio-nya, aku menemukannya. Link e-Book Berani Patah untuk Merekah. Aku bersyukur menemukan linknya, dan sayang rasanya, jika hanya aku yang membaca. Barangkali ada yang ingin baca juga.

 


 

 

Ini linknya >> https://online.fliphtml5.com/zdljl/xywd/

 

Aku baru sampai halaman 23 *gak ada yang tanya ya? Hehe


Anyway, selamat membaca. Terkadang dari kisah orang lain, kita bisa belajar banyak hal, mendapat penghiburan, sekaligus juga semangat. Untuk siapapun, yang takut patah, karena mengira itu akan menjadi akhir. Semoga suatu saat kita menyadari, bahwa dari patahan itu, akan merekah keindahan dan kekuatan dalam diri yang tadinya tersembunyi. Wallahua'lam.

Sunday, November 5, 2023

Slow Snail

November 05, 2023 0 Comments
Bismillah.
 
#fiksi 

 

"Untuk karakter kepengurusan tahun ini, silahkan pilih satu hewan per orang ya.. Ditunggu max 21.00 WIB"


Pesan terkirim, dalam hitungan detik, mulai muncul nama-nama hewan populer. Kucing, penguin, panda. Beberapa orang sempat berebut, bertanya padaku apa boleh satu hewan yang sama, kan bisa dibedakan warnanya. Aku jawab tidak dulu. Nanti kalau benar-benar tidak ada pilihan, baru boleh hewan yang sama.


(pilihan yang ada saat ini: kucing, penguin, panda, kupu-kupu, jerapah, ikan paus, bintang laut, burung rajawali, kunang-kunang, singa)


***


20.00 WIB, masih ada 2 orang yang belum menuliskan pilihan karakter hewan. Ya, siapa lagi kalau bukan orang itu. Dia sejak tahun kemarin memang terkenal sebagai silent reader di grup ini. Baginya, cukup ia menunjukkan eksistensinya dengan melaksanakan program kerja. Sisanya, ia lebih banyak diam dan mengangguk setuju. Agak sedikit aneh, karena aku pernah dengar sedikit histori hidupnya. Dia dulu begitu vokal, dan hampir selalu aktif dalam setiap diskusi, di ruang maya maupun nyata. Tapi entah sejak kapan, ia berubah. Begitu, kesaksian salah seorang teman divisinya, saat aku bertanya apakah ia kira-kira bisa amanah untuk melanjutkan kepengurusan di tahun ini.


Sebenarnya, aku bisa saja menunggu sampai jam 21.00 WIB, tapi saat melihat keterangan bahwa ia bahkan sedang online dan menyimak pesan terakhir yang kukirim di grup, jemariku tidak bisa diam. Kumention nomernya, bertanya jawaban. Dan benar, dalam hitungan detik, ia segera membalas. Singkat padat, tanpa babibu. Satu kata. Hewan yang tidak kusangka akan ia pilih. Siput.

 

sumber gambar

 

"Why?" tanyaku di grup. Seketika, aku menyesal telah bertanya. Apalagi saat ia bertanya balik, "emang harus pakai alasan?"


Ingin rasanya membuat excuse, tapi benar pertanyaannya, sejak awal, aku tidak pernah penasaran dengan alasan orang lain memilih hewan tertentu. Tapi pilihannya, sungguh tidak mencerminkan dirinya. Ia jauh dari image siput yang terkenal lambat. Lagi pula, bukankah lebih lucu kura-kura ketimbang siput?


Saat aku sibuk dengan pikiranku, beberapa yang lain mencoba mencairkan suasana di grup. Mereka bilang, karena siput suka sembunyi di cangkangnya, mirip dengannya. Juga.. karena siput menyukai hujan. Membaca tanggapan yang lain, ia membalas dengan emotikon senyum jaman dulu, titik dua, dan kurung tutup. Eh, tidak, terbalik. Ia mengetik kurung buka, kemudian titik dua. (:


***


Sudah sekitar 5 karakter hewan yang kugambar, aku berdiri sejenak dan meregangkan tangan, memegang dagu dan kepala melemaskan otot leher. Gelas kopiku sudah kosong, menanti untuk di refill. Tapi teringat waktu yang sudah malam, aku akhirnya memilih botol air putih dan menegaknya. Kubuka hp, membuka notifikasi, membaca sekilas beberapa grup dan pesan yang masuk. Pertanyaan yang sama masih melekat di benak. Tentang pilihannya, mengapa siput? Apa mungkin ia menuliskan alasannya di blognya?


Lalu tanpa sadar, secara otomatis, aku membuka browser di laptop dan mengetik alamat yang sudah kuhafal. Cukup satu kata "Pluvia" lalu auto complete browserku melengkapi alamatnya berdasarkan histori web yang pernah kukunjungi. Aku tersenyum, saat menemukan bahwa tebakanku benar. Ia hampir selalu begitu, hemat kata di grup, tapi diam-diam bernarasi di blognya.

 

***


Why is it Snail? by Pluvia Lover

 

Karena aku lambat, sesederhana itu alasannya. Karena untuk membaca buku 100 halaman, aku membutuhkan waktu lebih dari 100 hari. Terkadang bahkan mungkin 1 tahun pun tidak cukup.

 

Karena aku lambat, sesederhana itu alasannya. Meski jelas aku memiliki niat untuk memperbaiki diri. Tapi progresnya mendekati nol. Jangankan orang lain, aku sendiri heran dan hampir berputus asa. Aku lihat rintangan demi rintangan, yang ternyata kubuat sendiri. Aku tahu jalan lurusnya, tapi aku memilih jalan memutar. Lebih sering memilih bersembunyi dan diam di dalam cangkang, padahal kunci dari kesuksesan adalah konsistensi.

 

Aku bak siput, lambat, lagi tenggelam dalam distraksi yang kuletakkan sendiri di dalam cangkangku.

 

PS: No, it's not a self loath. It's a self reflection, as I supposed learn from my lack and mistake.

 

PPS: And thank you, for the question. Both of them. The animal representation, and the why. I wonder, how about you? Which animal and why?


***


Membaca tulisannya membuatku sadar, bahwa aku juga belum mengumumkan pilihan hewan untukku. Tiba-tiba aku kesal, karena tidak ada yang menyadari itu di grup. Kemudian aku tersenyum sendiri, ah, ada, satu orang. Ya, meski dia memilih diam dan tidak bertanya di grup.


Membaca tulisannya membuat jemariku gatal untuk berkomentar. Berbeda dengannya yang memilih menjadi silent reader. Aku, sejak dulu, selalu menjadi noisy reader. A commentator.


Setelah menyetting komentar menjadi anonim, kuketik beberapa kalimat.


"Menurutku kamu bukan bak siput. Lebih mirip kelinci, yang sering jatuh di lubangnya sendiri. Semua orang tahu kelinci itu cepat, tapi tidak banyak yang tahu keberadaannya saat ia bersembunyi dalam lubang kelinci. Entah terjatuh, bersembunyi, atau sedang mengisi energi untuk melompat-lompat lagi."


Jemariku mengambang di atas keyboard. Ingin rasanya menjawab juga pilihan hewan dan alasannya. Tapi kutahan, dan kucukupkan kalimat tadi. Satu klik, publish. Kemudian tertulis bahwa komentar akan muncul setelah moderasi.


Aku beralih ke grup, kemudian protes, kenapa tidak ada yang bertanya pilihanku. Tapi kemudian mengadakan tebak-tebakan dadakan, yang benar hadiahnya boleh merebut hewan pilihan orang lain. Setelah puas berkoar di grup, yang sepi karena jam segini pasti banyak yang tidur, aku beralih lagi ke aplikasi gambar, melihat hasil ilustrasi yang sudah kubuat.


'Satu lagi,' batinku, 'Habis ini tidur'. Lalu goresan demi goresan membentuk sketsa kelinci. Hewan populer yang sebenarnya tidak terpilih dan tidak perlu digambar.


The End.

Monday, October 23, 2023

Crying Alone

October 23, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

10 September yang lalu, sebuah kejadian menyembunyikan hikmah yang menanti untuk dipetik. Kusimpan-simpan, karena jujur, aku masih belum yakin bisa merangkainya, takut-takut salah mengambil kesimpulan dan pelajaran. Tapi lebih baik memulai dan belajar mengeja, tidak apa salah. Nanti.. kita ulangi lagi merangkainya, jika diberikan kesempatan untuk mengambil lagi hikmah yang sebenarnya.


***


Aku bertanya-tanya, mengapa orang, saat sudah dewasa dan tumbuh dari tubuh kanak-kanaknya, cenderung malu untuk menangis di hadapan orang lain? Mengapa mereka memilih untuk menyembunyikan tangisnya, dan menangis sendiri?


Aku bertanya-tanya, mengapa tidak nyaman menangis di depan orang lain? Bahkan di depan orang yang seharusnya kita merasa aman dan nyaman. Apakah ingin terlihat tangguh? Atau memang, fitrah manusia dan hewan barangkali, bahwa ia tidak mau terlihat lemah? Tidak mau dikasihani. Ego?

 

Kenapa aku menambahkan hewan, karena aku tiba-tiba teringat, bayangan kucing kecil, yang meski tubuhnya kecil, ia melakukan hissing untuk mengintimidasi. Padahal ia tahu, bahwa ia lemah, dan reaksi itu adalah bentuk perlindungannya, saat ia bertemu dengan sosok yang bisa jadi hendak melukai dan mencelakainya. Apakah seperti itu juga, alasan, mengapa orang memilih untuk menangis sendiri? Bentuk ia melindungi dirinya sendiri?


Aku juga berpikir, tentang sisi empati. Yang ini sudah beberapa kali kutulis. Terkadang kita tidak mau berbagi sisi tidak baik-baik saja diri, bukan karena tidak percaya pada orang lain, tapi karena tidak ingin kesedihan itu menular atau merusak hari orang lain. Kita tidak ingin orang lain merasa sedih juga.


Atau bisa jadi, selain alasan-alasan di atas, barangkali rasa nyaman dan keinginan untuk menangis sendiri, ketimbang menangis di hadapan orang lain, adalah karena menangis, seharusnya menjadi waktu istimewa, agar kita kembali ingat Allah. Saat sendiri itu, kita jadi punya waktu untuk berjarak dari manusia, dan berdialog dengan diri, juga Allah. Terkadang lewat kata dan doa yang terucap lisan. Terkadang lewat gelembung pikiran yang lalu lalang, dan taut menaut di kepala. Terkadang hanya dengan bulir-bulir air yang mengalir dari mata.


***


Pernah ada masa aku mengira menangis sendiri, sembunyi itu hal yang buruk. Bertanya-tanya, apakah ini tanda aku memiliki trust issue. Bertanya-tanya, apakah tangis, juga mesti dieja dan diurai satu-satu, dibuka pada orang lain. Tapi setelah dipikir-pikir ulang, dicerna, berusaha mengambil hikmah. It's not a bad thing to cry alone. Syaratnya, asalkan kita tidak merasa sendiri saat menangis sendiri. Hati kita harus ingat, bahwa menangis sendiri kita, juga disaksikan oleh Allah. Bahwa bisa jadi, hal-hal mengecewakan, atau apapun yang membuat kita menangis, adalah bentuk kasih sayang-Nya, yang rindu ingin mendengarkan keluhan dan aduan mesra seorang hamba pada Rabb-Nya.

 

Adakah kita lupa, bagaimana Allah menjawab langsung pertanyaan seseorang kepada Rasulullah?


Fainni qarib. Bukan faqul inni qarib.


Lalu ingatkah lanjutannya? Kalau lupa, yuk tadabbur lagi ayat itu.. [1] dan rasakan kerinduan untuk menangis sendiri bersama-Nya. Ah... aku rindu Ramadan juga. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertemu bulan Ramadan lagi. Aamiin.

 

Wallahua'lam.


***


Keterangan:

[1] Salah satu sumber untuk tadabbur ayat ini (2:186) https://youtu.be/EFreH2aLkjU?si=O6xb-6guzTsa25TZ&t=3122 (ada subtitle indonya)

Friday, October 20, 2023

Bella Masih Nulis?

October 20, 2023 0 Comments

Bismillah.

-Musabah Diri-

 

Sebuah pertanyaan hadir, saat seorang sepupu mampir ke Purwokerto dalam perjalanan kerjanya di Cilacap.


"Bella masih nulis?"

"Masih."

"Novel?" tanyanya. 

Aku menggeleng kemudian menjawab, "di blog".


***


Pertanyaan sederhana itu membuatku terdiam dan banyak berpikir. Tentang cerita apa... yang didengarnya sehingga ia bertanya hal tersebut. Tentang kabarku, dan menulis, berapa tahun telah berlalu, dan rasanya aku masih stuck di level yang sama. Tentang "batu penghalang" yang kubuat sendiri, kutumpuk sendiri, sehingga sampai detik ini aku masih di sini saja. Tentu, bukan berarti tanpa progres, tapi ini... jauh terlalu lambat dan rasanya tidak seperti yang dulu aku tuliskan di selembar surat di sebuah kantor pos.


***


Aku masih menulis.


Dan ingin rasanya melengkapi kalimat itu dengan excuse-excuse lain. Justifikasi. Hmm..

 

It's october. I should really hurry, and be serious. Didn't you always say, that you want to write at least a draft this year? So what's holding you back?


***


Bella masih nulis?


Ya, aku masih menulis. Doakan aku. Ada batu besar, yang harus kudorong pergi. Aku... ingin terus menulis. Aku, ingin lebih banyak mengeluarkan karya. Karya yang bukan sekedar tulisan kosong, bukan sekedar kata-kata di permukaan bak buih.


Aku, masih menulis.


Wallahua'lam.

Monday, October 16, 2023

Cemas dan Stress Memantau Berita Tentang Palestina

October 16, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

-Muhasabah Diri-

 

Maaf, atas judul yang terlalu to the point. Tapi itu poin pertama yang ingin kutuliskan, sebuah ejaan perasaan sejak pertama berita tentang palestina hadir, hingga kini...  7-16 Oktober, satu pekan lebih. Ada begitu banyak emosi yang bercampur aduk, sedih, amarah, ghirah, dll. See? I can't even name or mention each of those feelings. Ada rasa sakit dan menyesakkan setiap kali membaca update berita dari berbagai sumber terpercaya. Pun merasa marah, saat melihat dan membaca komentar yang membuat badan bergidig, kok bisa.. ada yang begitu. Belum lagi perasaan tidak berdaya, karena merasa tidak bisa ikut andil, bahkan untuk sekedar share, menulis, dan doa, aku tahu persis untuk hal-hal kecil ini aku belum bisa maksimal.

 

Belum lagi, ironisnya setelah membaca dan menyaksikan serta merasakan berbagai emosi, kadang, rasanya ingin lari dari perasaan itu. Akhirnya memilih untuk pura-pura lupa, mendistraksi diri dengan hal-hal lain. Padahal kita tahu di sana, ada yang untuk minum saja sulit, makan juga, rasa aman.. suara-suara bom, pemandangan darah dan orang-orang yang sakit dan mati. Ah.. ini keliru. Mereka syahid, hidup, dan merdeka dari raga dan dunia yang memenjarakan ruh.


Sungguh, rasa cemas dan stress memantau berita tentang palestina itu nyata. Dan hal itu mungkin membuat kita bingung untuk mengatasinya. For me, at least reading broadcast channel from Risalah Ammar could give me another side of news, aside from the bombs, the blood, the number of dying, the tragic and sad stories people told. Yang mau cek dan baca bisa cek link ini. Dan tentu, yang ini gak boleh lupa. Baca Quran, sungguh ketenangan itu datangnya dari Allah, dari membaca kalam-Nya. Semoga dengan membaca ayat-ayatNya, kita belajar lagi untuk menyeimbangkan rasa cinta-harapan-takut. Kita mungkin tidak bisa melakukan banyak hal, tapi dari yang sedikit, lakukan meski sedikit. Baca lagi literasi tentang palestina dan al quds, baca lagi Sirah Nabawi. 

 

Terakhir, sebuah tulisan tentang kontribusi apa yang bisa kita lakukan:

 

 

 


Semoga Allah membimbing dan memudahkan kita, untuk ambil bagian, meski sedikit. Aamiin.


Wallahua'lam.

Sunday, October 15, 2023

Beyond Ourselves

October 15, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Setiap dari kita punya perjuangan masing-masing, masalah masing-masing, urusan dan kesibukan masing-masing. Tapi meski begitu, kita, sebenarnya diberikan kemampuan untuk mengatasi hal-hal di luar itu juga. We're not born just for ourselves, there's something beyond ourselves.

 

Saat aku memilih sibuk dengan keluhan diri, merasa kewalahan dengan masalah pribadi, egois memikirkan diri lagi dan lagi. Saat itulah Allah mengingatkanku untuk berhenti berada dalam tempurung kelapa dan melihat lebih luas dari diri sendiri. Di luar sana, ada yang berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tapi juga untuk orang lain, ia tidak hanya berjuang memenuhi peran sebagai hamba, namun juga mengingat tugasnya sebagai khalifah. Mereka bisa saja memilih egois, dan memutuskan untuk sekedar survive seorang diri. Tapi jiwa suci mereka memilih untuk berjuang tidak sekedar untuk diri sendiri. Mereka menggali potensi dalam diri, kemudian membagikan buahnya pada banyak orang. Mereka tidak mengeluh tentang kekurangan mereka, dan fokus pada apa yang mereka punya, untuk memberi, memberi dan terus memberi.


Di tanah yang rasa aman begitu langka, menit-menit ketidakpastian, bahwa bisa jadi dentuman bom berikutnya bukan hanya didengar dan dilihat, tapi juga merenggut nyawa. Mereka berlari dan berlomba dalam kebaikan. Orang di luar mungkin hanya bisa mengasihani mereka, karena banyak yang tidak paham, justru kita lah yang harus dikasihani. Yang memilih menyibukkan diri dengan diri, tenggelam lagi dan lagi. Melupakan begitu banyak kebaikan-kebaikan, potensi yang yang bisa tumbuh dan berbuah. Kerdil, karena memilih berhenti di diri sendiri.


Dan saat ini... mereka yang berjuang bukan hanya untuk diri, tapi untuk hal-hal lebih besar dibandingkan dirinya sendiri. Mereka memang saat ini merasakan sakit yang bertubi, fisik, psikis. Seolah mereka yang butuh bantuan. Tapi nanti.. nanti bisa jadi kita-lah yang menangis, dan merasakan sakit. Saat tahu, bahwa di masa-masa ini, bukan mereka yang membutuhkan bantuan kita. Tapi justru kita, yang butuh untuk membantu. Karena diam kita, adalah kerugian dan penyesalan. Saat gelar syahid menanti mereka, tidakkah kita ingin ikut kebagian, meski sedikit, dari perjuangan mulia mereka? Maka mari berhenti memikirkan diri sendiri saja. Mari berhenti diam dan bersuara. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk ambil bagian.

 

Mari ambil bagian. Bahkan sekecil membagikan berita-berita yang benar, saat begitu banyak hoax tersebar. Sekecil membagikan gambaran besarnya, agar tidak banyak tertipu oleh potongan gambar yang membutakan banyak orang dari masalah yang sebenarnya.


Mari ambil bagian. Sungguh, bukan mereka yang akan mengemis bantuan. Tapi kita yang akan menyesal jika kita membiarkan masa ini berlalu tanpa kita meraih sedikit saja, sebagai bentuk bahwa hati kita masih hidup dan berdetak. Sungguh, doa bukanlah hal kecil. Bisa jadi, karena inilah, karena doa kita pada mereka yang sedang berjuang di sana, doa-doa pribadi kita ikut dikabulkan. Wallahua'lam.



***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, October 7, 2023

Last Puzzle Instagram @quote.daribuku

October 07, 2023 0 Comments

Bismillah.


Aku tidak tahu bahwa dibutuhkan waktu 2 tahun, untuk nyelesaiin puzzle konten di @quote.daribuku. Selesai, untuk memulai kembali.



Setelah ini, akan post logo. Kemudian mungkin cari ide template baru. Atau pakai template lama di puzzle sebelumnya.


Untuk akun ini aku memilih puzzle 2 • (3x3)


***


Let's talk about my history with Instagram.


Akhir 2016, aku baru buat Instagram. Meski saat 2012, Instagram adalah sosmed baru yang banyak dipakai teman-temanku. Alhamdulillah aku tidak membuatnya di tahun itu.


Awalnya instagram personal. Saat itu id-nya masih @kirei999193.


Beberapa saat kemudian, aku buat akun ig baru untuk blog @betterword_kirei.


Semenjak suka catet kutipan dari bacaan, sayang kalau gak di share. Akhirnya buat akun Tumblr anonim (daribuku.tumblr.com). Saat sudah berani untuk melepas topeng anonim, dan udah mulai buat grup laporan baca harian, akhirnya buat ig lagi @quote.daribuku


Setelah itu, akun ig personal ganti id jadi @isabellakirei_


Aku lupa persisnya kapan mulai mengerjakan puzzle konten. Awalnya di akun @betterword_kirei. Saat mulai otak-atik logo blog. Masukin sebagai banner. Aku ingat, install aplikasi yang bisa potong gambar jadi 3.


Lalu mulai lah, yang tadinya cuma ngisi 3 template yang sama. Kini jadi 3x3, template dan isi yang mirip-mirip. Lalu setelah memenuhi 3 • (3x3), entah mengapa ngerasa pengen kasih line. Jadilah, posting logo lagi.


Sejak itu, aturan buatan ini berlaku juga di akun ig @quote.daribuku. Bedanya, kali ini ukuran puzzlenya 2 • (3x3).

 

***

 

Sebenarnya kalau mau rajin post, untuk akun quote.daribuku relatif lebih mudah. Karena cuma satu quote/post. Tapi kembali lagi. Aku terlalu sering tenggelam dalam distraksi. Selain itu, entah ini bisa dijadiin excuse apa gak. Aku cari quote dari buku yang berbeda. Kalau bisa satu quote per buku. Artinya, aku harus menyelesaikan banyak buku. Padahal seperti yang selalu kutulis, i am a snail reader, perharps even slower than a snail. 


Oh ya, untuk akun @betterword_kirei, aku udah pernah cerita belum ya? Rencanya mau posting 3x3 dari tulisan mencari makna. Setelah itu, mungkin buku/dari catatan ceramah/tadabbur quran. Setelah itu, harusnya podcast. Tapi aku stuck, dan belum mulai merekam lagi. Alasannya banyak. Tapi kalau kurumuskan, anggap saja, aku masih tenggelam dalam distraksi.


Lepas dari naik turun buat konten. Baik di blog, medium, maupun instagram. Aku mau kasih sedikit 'usapan di kepala' atas puzzle yang sudah selesai. Meski butuh waktu 2 tahun. Semoga jejaknya tidak cuma di sini. Semoga niatnya tidak bengkok dan menghanguskan semua.


I'm still struggling. Want to give up couple of times. I'm ashamed to face my reflection in the mirror. Di dalam cermin sana, aku masih melihat betapa legam dan berkarat, keras, kering. But as long as Allah still give me chance, to be me, to fulfill the reason Allah gives me life... aku masih mau bersusah payah dalam perjuangan melawan diri, melawan hawa nafsu, yang ingin bermain saja di dunia. Padahal nasihat itu sudah berulang didengar dan dibaca, bahwa semua yang ada di sini, kelak akan menguning, dan berubah menjadi sia-sia, ibarat daun kering yang terinjak. Kalau beneran daun kering, mungkin itu lebih baik, karena bisa jadi kompos, menyuburkan tanah.

 

Tapi nilai dunia, bahkan lebih hina dari itu kan? setengah sayap nyamuk? Bangkai? hmm.. apa lagi perumpamaannya? How beautiful how Allah reminds us. Allah tahu, harusnya dengan perumpamaan kita lebih mudah mengingat. Tapi buat apa, kalau mengingatnya hanya dengan otak, bukan dengan hati? TT



Wallahua'lam.

Friday, October 6, 2023

When Allah Test You

October 06, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

-Muhasabah Diri-

 

Rasanya sudah lama, aku tidak mencatat kajian atau apa yang aku pelajari dari quran ke blog ini. Dan jujur, aku tidak punya topik lain untuk dibahas. Karena aku masih merasa dikelilingi "kabut".

 

Maret 2023, lupa tepatnya kapan, aku menonton video Ustadz Nouman di youtube. Isinya potongan dari khutbah lama. Yang mau nonton videonya boleh langsung meluncur aja ya, gak usah baca ini hehe

 


Dari video itu, aku ngerasa jleb gitu tentang kadang kita terlalu milih yang mudah, dan gak mau jalan yang susah. Padahal yang mudah itu salah.

 

Video pendek itu menyadarkanku, bahwa cerita populer, tentang ikan, yang loncat-loncat di hari sabat, dan orang-orang yang akhirnya melanggar hari sabat itu.. bukan cuma cerita tentang orang-orang terdahulu. Bisa jadi, itu tentang kita. Yang memilih hal-hal mudah, yang sebenarnya salah. Maybe that's the test Allah put on us, as a believer.

 

Malu, untuk mengakui tentang kerugian-kerugian yang aku pilih sendiri, karena merasa seolah ada waktu. Padahal setiap waktu akan ditanya. Berapa kali aku memilih mengerjakan hal yang sangat tidak penting, ketimbang mengerjakan hal-hal produktif. Dengan alasan apa? Karena lebih mudah sekedar rebahan, ketimbang hal-hal lain yang lebih produktif, entah itu olahraga, kerja, belajar, baca, atau apapun. Hmm.


But today what I wanted to highlight is a kind of test that you and I have to be ready for from Allah and what's that test? That test is that the halal, the right way may seem like it requires more work. It requires more effort. It's not as convenient. And the wrong way is actually wide open and extremely tempting and super convenient and effortless. Where the benefit that you're seeking from the Halal way if you do the right thing, you have to make a lot of effort for it to, it won't come to you have to go to it. But the haram, you don't even have to go to it it's coming to you like the fish are coming to you.


Terakhir, saat pintu hitam terbuka lebar, dan jalanannya terlihat begitu mulus tanpa halangan. Bukan berarti Allah membiarkanmu untuk memilih itu. Kita selalu punya pilihan untuk berbalik.

 

He's giving you the choice. You can walk away from any of them at any point.

 

Seberapa jauh pun kamu dari Allah, kamu punya pilihan untuk berbalik dan memilih jalan yang sukar, tapi mengantarmu kepada kebenaran, kepada Allah. Dan jika rasanya kamu merasa lemah dan kekuatan, jangan ragu untuk meminta dan memohon kepada-Nya. He'll give you the strength. Sudahkah kamu meminta? Atau ayat yang diulang-ulang itu, selama ini hanya penghias bibir saja?


Ihdinash-shiratal mustaqim.

'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada.

Allahumma ati nafsi taqwaha wa zakkiha anta khairu man zakkaha wa anta waliyyuha wa maulaha

Allahumma inna nas-alukal huda wattuqa wal 'afaf wal ghina.

Aamiin.

 

Wallahua'lam.

 

PS: Hello there~ It's been some weeks, still struggling here with my spiritual condition. But Alhamdulillah my mental and physical health is okay. Sekian curcolnya, bagian ini aku tutup aja ya hehe.

Monday, October 2, 2023

A Polite Goodbye

October 02, 2023 0 Comments

Bismillah.

A friend from slowly, sent this to me...

 

"...Since I have more free time now I want to focus on my language studies. I hope I can read more as well. So I'll stop using slowly as it takes me a lot of time and mental power to write. Thank you for all the lovely letters you've sent me, it was great talking to you. May Allah bless you with lots of goodness. Take care~ 💐"


***


Sad but... I know every meeting has its own separation. Honestly I can't stop myself from overthinking.


Do something I said, somehow annoy her?


I tried, to connect with her with other option outside slowly, but she doesn't use social media anymore.


Perharps, it is really a goodbye. And I need to let go this overthinking which sometimes drag me into something negative.


***


She said, it takes a lot time and mental power to write in slowly. I agree about that too. That's why, I'm taking slowly as slow as I possibly could. Just hoping the one waiting there not getting tired and choose to stop answering my letter.


But her decision to stop, I think that's what make us different. Perhaps, cause I love writing, and I need it too.. That's why even if it's not easy to write a sincere and honest letter, trying to connect with someone you've never and might be will never met, I choose to still use it. Despite sometimes, getting tired of it. 


I know for sure, it's better than scrolling on social media, or youtube short. With letters from slowly, they remind me how to answer a shallow "how are you". And how honest would I be, when I have choice to pretend to be who i am not. It reminds me to act upon my writing, cause someone else really read it. It's different, in this blog, sometimes, I still think the only reader is just me, Allah, and maybe google crawler wkwkwk.


Anyway, a goodbye is a goodbye. Thank you also for all the letters. I hope you achieve what want, and maybe even better than what you imagine. Nice to meet you. Bye 5!


Wallahua'lam.

Thursday, September 28, 2023

But That's My Line...

September 28, 2023 0 Comments

Bismillah.

  

"Doain ya, Mba" ucapnya. Aku terdiam, menunggu lanjutan kalimatnya. Aku kira, ia sedang dalam proses ta'aruf, atau butuh doa spesifik apa, tapi ternyata...

"Aku lagi futur,"

Aku tersenyum tipis, getir. Ada suara kecil yang tidak keluar di lisan tapi menggema di hati. 'But that's my line.. I should be the one asking you to pray for me. I am still, after almost two months,...'

 

f u t u r

 

***

 

Jika aku menuliskan kata itu, kemudian memisahkan tiap hurufnya dengan spasi, aku tidak bisa tidak berpikir tentang kata lain di bahasa inggris, future, beda pelafalan memang.


Ada yang tidak familiar dengan diksi 'futur'? Aku.. aku dulu juga tidak tahu kata apa itu. Aku lupa persisnya kapan pertama kali aku mengenal kata itu, dan bagaimana kata itu kini sering menghias hariku. Seperti saat aku kuliah dulu, masa-masa aku aktif di organisasi islam, dan dikelilingi dengan banyak orang yang menggunakan kosakata bahasa arab. Futur, iqab, riyadhah, afwan, dll. Oh ya, tapi kalau di kampus dulu, tidak ada panggilan "akhi, ukhti", kalau dua kata itu, aku justru banyak memakainya saat di Rohis SMA. Saat di kampus, dua kata itu begitu kikuk untuk digunakan, kami hanya menggunakan sapaan khas daerah, Teh dan Kang. *ups, kenapa jadi malah nostalgia.


Balik ke kata futur. Futur, berasal dari bahasa Arab. Akar katanya fatara - yafturu - futuran, artinya menjadi lemah atau menjadi lunak. [1]

 

Adapun maknanya ada dua [2]:

1. Terputus setelah bersambung, terdiam setelah bergerak terus

2. Malas, lamban atau kendur setelah rajin bekerja


Adapun secara istilah, futur biasanya digunakan untuk menggambarkan "penyakit" yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da'i, dan penuntut ilmu [3]. Termasuk, orang-orang yang baru hijrah, orang-orang yang sedang berjuang dan berjalan untuk mendekat pada Allah.


Nah, kalau udah kenal sama 'futur', sekarang mari cek bareng-bareng, apakah kita sedang terjangkiti penyakit tersebut? Jika iya, lalu bagaimana?


Kalau aku pribadi, masih mencari solusi. Salah satunya dengan menulis ini. Berharap dengan menulis, aku bisa membaca hal-hal terkait futur. 


Terakhir tentang futur, sebuah kutipan dari Ibnul Qayyim dalam buku Madarijus Salikin, tapi ini aku gak nyalin dari bukunya, nemu di salah satu web yang kubaca terkait futur.


Ibnul Qayyîm rahimahullah berkata, “Saat-saat futur bagi para salikin (orang-orang yang meniti jalan menuju Allah) adalah hal yang tak dapat terhindarkan. Barangsiapa yang futûrnya membawa ke arah murâqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan senantiasa berlaku benar, tidak sampai mengeluarkannya dari ibadah-ibadah fardhu, dan tidak pula memasukkannya dalam perkara-perkara yang diharamkan, maka diharapkan ia akan kembali dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.” (Kitab Madrijus Salikin).

 

***

 

Sekian terkait futur. Lanjut ke sesi curhat. #eh

 

Ada yang masih ingat pembuka tulisan ini? Kejadian itu nyata kualami, di sebuah sore jingga, di waktu spesial, saat doa-doa diijabah. Ada yang mau nebak, kira-kira waktu apa?

 

Sebelum kejadian itu. Aku duduk disampingnya, aku teringat bagaimana tubuhnya miring ke arahku, untuk mendengar lebih jelas. Kemudian ia mengangguk seolah merasa relate, saat aku menjelaskan bahwa yang sulit itu, kalau badan sedang tidak fit, energi habis tidak tidak punya waktu untuk istirahat yang cukup. Saat itu, aku cuma berpikir, bahwa ia sedang sibuk-sibuknya, lelah dengan pekerjaannya, sebagai apoteker di sebuah rumah sakit swasta, di kota lain yang berjarak sekitar 1 jam dari Purwokerto. Saat itu, aku tidak tahu, kalau yang merasa lemah dan lelah itu, bukan hanya fisiknya, tapi juga spiritualnya.


Sejujurnya aku begitu malu, saat ia memintaku mendoakannya. Ingin rasanya balik bersuara, harusnya itu aku yang bilang. But that's my line, itu harusnya dialogku. Harusnya aku yang meminta ia mendoakanku. Karena kalau mau jujur, aku pun sedang tidak baik-baik saja. Aku, sudah terlalu lama bersembunyi dibalik kata futur, terlalu nyaman dengan hal-hal mubah, beberapa kali terpeleset, kemudian merasakan akibatnya saat tangan begitu berat membuka Al Quran. Saat lisan, begitu kaku, mengeja kalam-Nya.


Tapi curhat di sini, mengejanya, tidak akan mengubah apapun bukan? Hanya sebuah keluhan, jika aku tetap diam dan terputus. Jika aku tetap lemah dan lunak. Jadi mari berdoa, agar tulisan ini tidak berhenti di tulisan. Semoga Allah mengobati setiap penyakit dalam hati kita. Semoga Allah membantu kita keluar dari futur ini. Semoga menjadi lebih baik, lagi dan lagi. Semoga dimudahkan untuk bisa kembali pada-Nya dalam keadaan terbaik, berharap mati syahid, meski untuk bisa syahid, ada perjuangan yang harus dilakukan. Bukan sekedar angan kosong, atau omongan tanpa makna. Semoga diejawantahkan dalam amal, yang tidak mengapa sedikit asalkan istiqomah. Rabbi habli hukman wa alhiqni bishshalihin. Aamiin.

 

Wallahua'lam bishowab.

 

***


Keterangan:

[1] https://web.facebook.com/hasanalbannacom/posts/futur-kata-berasal-dari-bahasa-arab-yang-akar-katanya-adalah-fatara-yafturu-futu/464318260298643/

[2] https://dillatheexplorer.com/2014/03/21/futur/

[3] https://muslimah.or.id/9485-penyakit-itu-bernama-futur.html

[4]

Monday, September 25, 2023

Lost Letter (?)

September 25, 2023 0 Comments

Bismillah.


I remember feeling tired to answer letter without question back to me. And after some rest time, and I'm ready to tell them my story, without them asking, I can't find her letter.


It's a letter from a friend in other continent. I remember asking about love to her. I'm curious how it is, in her age--she's still young btw.


I try to remember her name, try to sort my inbox in Slowly. And can't find it. Does she deactive her account? No.. I think, we can still see letter even if one of them deactive their account. Does she change her id? I scroll through my inbox once again, this time focusing on the place under name, to find a country name in Africa. But I can't find it.


Then, I remember I copy one of my letter to her, and post it in my anonym Medium account. I open, and found 4 Sept. Do I unintentionally delete/remove her letter? Thankfully I go to setting and found that I can see previous removed user.

 

"There you are!"


***


I'm glad that I found that lost letter, and finally writing a reply to it.


Sometimes we're just tired and want to stop for a while. But it doesn't mean that we want to quit.

 

I hope I remember to be careful. Sometimes we didn't want to remove people from our life. But how we act, choice we choose, might be the reason, we cut people from our life. intentionally or not.


I suddenly remember, how sometimes, I can't choose a good sentence and it might offend other person.

I suddenly remember, how sometimes I ignore people's chat, just because I'm too dizzy thinking about myself.


I hope I could be a better person in communication. Voice or written. Aamiin.


Wallahua'lam.

Saturday, September 16, 2023

Emosi yang Mengaburkan Memori

September 16, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Aku lupa persisnya dimana, tapi yang jelas aku mendengar kalimat serupa judul postingan ini. Sederhana tapi cukup untuk membuatku berpikir. Emosi yang mengaburkan memori. Kalimat itu membuatku menilik ulang tahun-tahun saat aku sendiri tidak bisa mengingat jelas apa saja yang terjadi di sana. Seolah emosi kuat yang menenggelamkan, menyeleksi memori sehingga yang muncul hanya sebagian saja. Memori-memori yang tidak bisa disebut indah, tapi aku tidak hendak menyebutnya buruk juga. Karena toh dari hal-hal tersebut aku tersadar dan menjadi aku yang saat ini.

 

Mungkin, itulah mengapa penting untuk memiliki hati yang bersih. Bersih dari kabut emosi. Saat hati bersih, otak kita bisa lebih jernih mengingat apa yanag terjadi. Kita jadi bisa mengambil pelajaran lebih mudah. Kita bisa melanjutkan hidup lebih ringan.


***


Untuk siapapun, yang masih dihantui memori tertentu.

 

Untuk siapapun, yang merasa kesulitan mengingat-ingat hal-hal baik pada suatu waktu dalam hidupmu.

 

Barangkali yang perlu kita lakukan, adalah memetakan dan membersihkan emosi kita terlebih dahulu. Jika ada yang tersumbat di sana, mungkin itu yang membuat kita sulit melihat dan mengingat.

 

Jika sulit, dan tidak tahu harus memulai dari mana. Jangan takut dan malu untuk minta bantuan. Tidak mengapa datang dan melakukan konseling. Juga jangan pernah merasa begitu jauh, sampai enggan untuk berdoa dan bersimpuh pada-Nya.


Oh ya, coba biasakan menulis dan mencatat, barangkali itu bisa menjadi alat yang membantumu untuk mengingat kembali, memori yang dikaburkan oleh emosi. Karena itu yang lagi dan lagi kutemukan, setiap membaca tulisan-tulisan lama di blog ini. It's easy to label a certain time as a dark era. But if we're careful enough to remember, we'll find that even in that dark era, we'll find many light moment (bukan ringan, tapi cahaya hehe). It might not shine bright, but it glows in the dark. Waiting for us, to take the lesson from it. Maaf tiba-tiba pindah bahasa. My bad habit, kalau tiba-tiba bicara hal-hal personal.


Mari menulis, mari mencatat. Semoga suatu hari, kita bisa tersenyum dan menertawakan lagi tulisan lama kita. Semoga saat kita membaca lagi, kita akan bersyukur dan berterima kasih, pada diri di masa lalu yang menyempatkan menulis meski menulis itu tidak selalu mudah.


Wallahua'lam.