Follow Me

Tuesday, October 31, 2017

Halu-a

October 31, 2017 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Mengapa tidak ditulis 'halua', mengapa harus ditulis 'halu-a'? Pertanyaan ini yang pertama melintas di otakku saat hendak menulis tentang ini. Aku menjawab pertanyaan diriku sendiri, mungkin lebih baik jika ditulis dalam aksara aslinya, dengan huruf arab-nya.

Prolognya aneh ya? Hehe. Peace V Abaikan saja prolognya.

***


Innal insana khuliqa halu-a

Manusia diciptakan untuk reaktif. Bicara dari segi fisik, ketika tubuh kita ada asupan energi, ada reaksi rasa lapar dari tubuh kita. Saat jari kita tergores tajamnya pisau, ada reaksi rasa perih, reaksi sel-sel yang memperbarui dan menutup lukanya. Dari segi spiritual dan psikologis, kita reaktif. Para ulama memaknai kata halu-a melalui contoh-contoh bentuknya, seperti rasa tamak (greed). Contoh-contoh reaktif lain adalah mudah marah, rasa takut/pengecut, mudah menyerah, pelit.

Sifat-sifat reaktif ini.. kita diciptakan seperti itu. Itu state normal kita. Innal insana khuliqa halu-a
Cara mudah melihatnya adalah dengan melihat anak kecil, atau melihat sifat-sifat childish kita. Seperti anak kecil yang tidak suka mainannya dipegang oleh temannya, kita reaktif, kita pelit. Seperti anak kecil yang mudah tantrum, menangis dan marah saat ia tidak mendapat yang ia inginkan. Seperti anak kecil, yang mudah merasa teragitasi. Kita reaktif, itu state normal kita.
Seiring kita tumbuh dan besar, menjadi manusia dewasa, kita belajar untuk tidak reaktif. Kita belajar. Seperti seorang petinju, yang berlatih ribuan jam, agar tidak mudah jatuh dan segera KO, belajar menahan rasa sakit berkali-kali dipukul, belajar untuk tidak reaktif. Kita juga perlu melatih psikologis dan spiritual kita untuk tidak reaktif. Caranya?

Illal mushollin, alladzinahum fii shalatihim daa-imun
Ketika kita shalat, kita melatih diri untuk berdiri dalam keadaan rendah hati di hadapan Allah, Ilah dan Rabb kita. Kita berlatih untuk tidak reaktif, karena kita sedang dalam urusan yang sangat penting, menghadap zat yang paling penting dan berkedudukan tinggi. 

Ayat berikutnya, juga cara untuk melatih kita agar tidak reaktif.

walladzinahum fii amwalihim haqqum ma'lum, lissaa-ili wal mahrum

Ketika kita belajar untuk bersedekah, menyediakan sebagian harta kita untuk yang tidak mampu. Kita berlatih untuk melihat ke bawah, melihat bahwa kita punya banyak sekali nikmat untuk disyukuri ketimbang jumlah masalah untuk dikeluhkan. Bahwa kita berlatih, belajar.. bahwa ada orang yang memiliki ujian yang jauh lebih berat dibanding yang Allah uji pada kita.

***

Sifat reaktif ini, mungkin memang state normal kita, tapi bukan berarti kita jadi membiarkannya saja. Kalau kita tidak mau berkali-kali jatuh dan reaktif terhadap kondisi yang tidak nyaman, kalau kita tidak mau berkali-kali bersikap salah hanya karena kereaktifan diri. Kita perlu memperbaiki shalat kita. Lalu berlatih lagi dan lagi agar tidak reaktif, agar tidak halu-a. Belajar lagi dan lagi.

Allahua'lam.

PS: Maaf kalau ada kesalahan transliterasi. Tulisan ini saya intisarikan dari video ustadz Nouman yang berjudul Divine Remedy.

Belajar Tentang Cinta, Cinta yang Bukan Kata Benda

October 31, 2017 0 Comments
Bismillah.

Mungkin kalian sudah tahu ya, salah satu buku yang sedang dalam proses aku baca adalah buku Serial Cinta-nya Anis Matta. Sebenarnya sudah sedikit tahu tentang buku ini, karena ustadz Salim A. Fillah banyak mengutipnya di buku Jalan Cinta Para Pejuang. Namun entah karena aku yang terlalu pilih-pilih buku, baru pertengahan tahun ini saya menyempatkan beli bukunya.

***

Izinkan aku mengikat ilmu, agar tidak lupa. Apalagi ilmunya tentang cinta, barangkali bisa bermanfaat meramaikan internet. Agar bahasan cinta tidak cuma yang merah jambu, tidak cuma tentang jatuh, tapi lebih banyak tentang bangkit. Agar bahasan cinta bukan cuma mengajak menyegerakan proses penyempurnaan din, meski ajakan itu baik dan memang akan selalu baik, asal yang baca gak baper aja hehe.

Ya.. izinkan aku menuliskannya di sini. Supaya diri ini lebih banyak belajar lagi tentang cinta. Cinta, ya cinta. Tapi bukan cinta sebagai kata benda, melainkan cinta sebagai kata kerja. Yuk mulai aja hehe.

love
***

Cinta sebagai kata kerja maknanya ada beberapa. Izinkan aku mengutip dan membuat ringkasannya, dari buku Serial Cinta-nya Anis Matta. Karena Serial Cinta, bukan sekedar sinetron atau drama romance. Serial cinta, maknanya juga tulisan serial tentang cinta, yang tidak dibahas terlalu mendayu-dayu dan mellow.

Cinta | Memberi

Cinta maknanya memberi, sebuah kerja yang selalu diberikan yang mencinta. Cinta adalah pekerjaan orang kuat, tidak semua orang bisa melakukannya. Ini salah satu kutipan yang mungkin sudah kau baca di salah satu tulisan nukilan buku-ku.
"Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolis saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai."
- Anis Matta
Ketika kita belajar cinta, yang bukan kata benda, artinya kita belajar untuk banyak memberi tanpa memikirkan efeknya, tanpa memikirkan 'menerima'.
 Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu. - Anis Matta
Dari buku tersebut, aku juga belajar, bahwa pecinta sejati seharusnya tidak suka berjanji. Yang perlu dilakukan, saat kita memutuskan untuk mencintai, adalah membuat rencana memberi. Rencana yang kemudian direalisasikan.
Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi teralisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi di hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tetapi, pemberian melahirkan kepercayaan. - Anis Matta
Cinta | Memperhatikan

Salah satu bentuk pertama pemberian yang dilakukan sebagai bentuk cinta, yang bukan kata benda adalah perhatian.
Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai.
Belajar cinta yang bukan kata benda, artinya kita belajar untuk memperhatikan. Artinya kita belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada didengarkan. Belajar untuk mencari tahu, belajar untuk teliti dan titen, belajar untuk bersabar, belajar untuk peka.

Cinta | Penumbuhan


Perhatian saja tidak cukup, salah satu bentuk pemberian kita yang kedua setelah perhatian adalah penumbuhan. Ini adalah kunci, bahwa cinta sebagai kata kerja, tidak sekedar diam di tempat. Ini adalah kunci, bahwa cinta, maknanya bersama-sama tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.
Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. -Anis Matta
"Penumbuhanlah," menurut Anis Matta, "yang membedakan cinta yang yang matang dengan cinta yang melankolik."

Anis Matta menunjukkan salah satu contoh nyata, bahwa ditangan Rasulullah (shalawat dan salam untuk beliau), Aisyah radhiyallahu anha, bukan hanya seorang istri.
Rasulullah telah menumbuhkannya menjadi bintang di langit sejarah.
So sweet ya? Hehe.

***

Terakhir, ingin mengingatkan diri dan juga siapapun. Bahwa kata kerja di sini, tidak hanya bisa kita lakukan kepada pasangan hidup kita, bukan cuma tentang Adam-Hawa, bukan cuma tentang tulang rusuk kita.

Izinkan aku mengutip nasihat dari Kang Firman, dalam Kulwap Pranikahnya:
Sibuklah mencintai orangtua dan keluarga anda. Sebelum anda sibuk menyiapkan diri untuk menyambut seseorang yang belum ada dan belum tahu kapan datangnya, sibuklah mencintai yang telah ada dalam hidup anda.
Bye.. semoga bermanfaat.

Selamat belajar! Belajar tentang cinta, cinta yang bukan kata benda~

Allahua'lam.

***

PS: Seharusnya masuk ke nukil buku Medium, tapi aku sedang ingin introvert hehe. Aku pernah bilang padamu kan? Menulis di medium itu.. berasa nempel tulisan di mading. Jauh lebih nyaman menulis di buku yang setiap hari kamu bawa, ketimbang menempelkan tulisanmu di mading hehe~ *peace V. Is this an excuse? *tanya ke siapa Bell?

EMC; Enjoy Menulis Club

October 31, 2017 0 Comments
Bismillah.


Berawal dari grup Rumpun Aksara, lalu aku dapat link grup Serdadu Aksara, lalu aku dapat link grup Enjoy Menulis Club (EMC).

Grup EMC, semacam club menulis. Diminta isi formulir, isinya nama, domisili, minat menulis (buku non fiksi, essay/artikel, cerpen, novel). Lalu ada konfirmasi sudah mengisi formulir, lalu ada juga daftar perkenalan. Saya cuma isi konfirmasi mengisi formulir, merasa tidak perlu memperkenalkan diri hehe *bandel. Karena format konfirmasi dan perkenalan diri copas, jadi grup penuh dengan chat redundan. Ya, seperti itu.

Selasa malam, pekan kemarin ada materi di grup Serdadu Aksara, tentang menulis di penerbit Indie, yang mengisi Teh Novie. Qadarullah, rabu malam saya buka grup EMC, dan menemukan tugas pertama. Saya kira.. tugasnya itu, follow up dari materi di grup Serdadu Aksara hehe.

Tugasnya perkenalan diri, minimal 300 kata, dikirimkan ke email EMC, batas waktunya 1x24jam setelah tugas release. Karena memang niat saya ikut banyak grup menulis, adalah untuk mencari tempat yang mengingatkan dan menyemangati saya menulis dan belajar nulis, saya kerjakan tugasnya. Alhamdulillah sebelum tenggat waktu sudah dikirim. Judul tulisan yang saya kirim, "Jalan Menulis Isabella Kirei". Diberi feedback dan 'nilai' ahad kemarin.

Kelanjutan dari tugas 1, adalah mengedit tulisan yang sudah diberi feedback, kemudian membagikannya ke sosial media, diberi hastag, lalu share link ke grup EMC. Saya jujur saja, sejak perintah ini muncul di grup, rasanya ingin sensi, ingin keras kepala, ingin protes, dan hal-hal lain, sensiMe pokoknya. Tapi akhirnya siang ini tulisan sensi tersebut saya hapus. Saya memutuskan ingin menuliskan ini saja.

Saat ini saya sedang dalam keadaan superreaktif, seperti anak kecil, childish, halu-a. Saat ini saya sedang merasa banyak bertengkar dengan diri sendiri, tentang keinginan aktif di sosmed, namun juga keinginan untuk berhenti dan tidak posting apapun di sosmed. Saat ini, saya sedang ingin introvert menulis untuk diri sendiri saja, namun juga ingin ekstrovert membagikan tulisan.

Tugas pertama itu.. saya dengan senang hati mengerjakannya. Saya ceritakan tentang diri, tentang jalan menulisku, dengan mindset bahwa yang membaca tulisan tersebut hanya saya, dan orang-orang yang berada di balik email EMC. Rasanya berat, dan mungkin saya tidak akan rela jika tulisan tersebut saya posting di sosmed, termasuk di blog ini.

Saya ingin meminta maaf, atas sikap saya yang tidak kooperatif ini. Maaf, karena saya tahu niatnya baik, namun saya tidak mau diajak kerjasama. Saya tahu saya harus belajar tumbuh dan berkembang, namun saat ini saya sedang begitu reaktif.

Izinkan saya menjadi anggota yang tidak baik di EMC. Yang berusaha mengerjakan tugas, namun tidak selalu mengikuti instruksi admin. Saya akan menulis tentang EMC di sini, dengan hastagh #enjoymenulisclub. Saya sementara belum akan membagikan link blog/sosmed saya ke grup, juga belum akan memperkenalkan diri di sana. Maaf.

***

I'll try to enjoy joining EMC, try to do every task given there. But if there's instruction that I can't enjoy, let me step back a little. My bad, I apologize for that.
enjoy!

Jalan Menulisnya

October 31, 2017 0 Comments
Bismillah.

Setiap penulis punya kisah jalan menulisnya sendiri, yang unik, yang menceritakan awal mula dan perjalanannya menulis. Izinkan aku menceritakan jalan menulis seseorang. Sudut pandangnya cuma dari seorang pendengar saja, tidak detail, bisa jadi banyak yang salah dan keliru. Izinkan aku menuliskannya di sini, semoga minimal diriku bisa mengambil hikmah dari jalan menulisnya.

bukan iklan faber castel hehe ^^
***

Kami duduk berhadapan, menyantap ayam geprek di sebuah kantin di timur jauh. Ia terlebih dahulu menyelesaikan makannya, sedangkan aku masih perlahan menikmati satu demi satu cabe yang terpotong besar dengan sisa ayam dan nasi di piringku. Aku membuka percakapannya, penasaran.. kisah awal ia memulai hobi menulisnya.

"Sejak kapan teh? Mulai tertarik nulis sampai berhasil menelurkan buku? Buku kolaborasi dengan beberapa orang," tanyaku.

"Aneh ya? Masih inget dulu diingetin Kadiv karena aku ga setor-setor tulisan," ucapnya mengenang masa ketika kami satu organisasi. Aku tersenyum mengingat itu. Obrolan berlanjut jadi kisah nostalgia kami dengan organisasi yang tidak sekedar organisasi di hati kami. Tentang betapa banyak konflik, namun dari sana, muncul banyak pelajaran, banyak karya, dan juga banyak kenangan yang tertanam di hati.

Kuulangi pertanyaanku lagi, tentang awal mula perjalanan menulisnya. Ia kemudian menyebut nama sebuah tempat. Sebuah negara, tempat ia menempuh setengah dari pendidikan double degree-nya.

"Inget kan? Sore itu.. waktu aku cerita tentang keinginan buat kajian di lingkungan yang kering dakwah islamnya," kata-katanya mengingatkanku pada sebuah sore saat ia baru kembali dari negeri itu, membagikan kartu pos.

"Dari sana ngerasa butuh untuk nulis sebagai media syiar dan dakwah," jelasnya. Aku mengangguk pelan, sembari masih berusaha menghabiskan makanan di piringku.

Obrolan kemudian berlanjut ke buku-buku, ke ustadz Salim A. Fillah, cara menulisnya, non fiksi namun berhias sastra. Ia menceritakan padaku, bahwa ia sering mencari kata yang unik, yang lebih indah daripada kata umum untuk dimasukan dalam kalimat yang ia tulis. Ia juga menyatakan keheranannya, saat ia mulai membuat puisi, sesuatu yang mungkin orang lain tidak tahu tentangnya.

"Aku juga ga tahu, kalau ternyata aku bisa buat kalimat-kalimat yang puitis seperti itu", ucapnya. Aku tersenyum, dalam hati mengiyakan kalau menulis bisa mengeluarkan sisi lain dari diri kita. Sisi yang mungkin tidak bisa dilihat dari keseharian kita.

"Tapi sekarang aku udah ga puas dengan kata-kata puitis. Aku mulai baca-baca buku-buku "berat", dengan bahasa semacam bahasa politik atau bahasa litelatur," ucapnya.

"Semacam text book?" tanyaku. Ia mengiyakan. "Tapi wajar sih Teh, soalnya yang puitis-puitis itu lebih banyak menggunakan otak kanan, teteh kan akademisi banget," tambahku. Piringku sudah hampir kosong, aku menyudahi makanku, meski ada sisa satu dua, mungkin tiga cabe yang masih utuh.

"Terus gimana teteh bisa ikutan nulis buku itu Teh?" tanyaku, masih penasaran dengan jalan menulisnya. Yang ia ceritakan baru awal, aku ingin tahu bagaimana ia berjalan dan memulai menapaki satu batu pijakan di jalan menulisnya.

"Ada temen Teteh yang ngajakin Bel. Dia sering liat tulisan teteh, dan menurut dia, tulisanku bisa dibukuin," jelasnya. Aku masih berusaha menyimak, menahan diri untuk berkomentar, belajar menjadi pendengar yang baik.

"Awalnya ragu, ngerasa belum pantes juga. Tapi aku kan golongan darah B, pengen ada pencapaian-pencapaian baru," lanjutnya. Ia kemudian menceritakan bagaimana ia selalu suka memulai mengerjakan hal-hal baru. Pengalaman organisasinya, pengabdian, penelitian, dan banyak aktivitas lain. Aku beberapa kali menanggapi dan mengiyakan, karena aku tahu betapa ia selalu sibuk dengan berbagai macam aktivitas. Meski jujur, saat itu.. sampai sekarang, aku tidak tahu apa hubungannya itu semua dengan golongan darah.

"Dan nyusun buku, itu salah satu hal yang belum pernah aku coba kerjain," tegasnya. Aku tersenyum, jalan menulisnya unik bagiku, rasanya senang bertemu dengan seseorang yang mulai suka menulis, dan menemukan dirinya ternyata suka menulis. Aku teringat betapa banyak yang merasa tidak suka menulis, padahal pernah aku menemukan satu dua tulisannya yang bermanfaat, yang sayang kalau ia tidak menulis hanya karena alasan tidak suka. Walau memang itu pilihan masing-masing orang, aku juga tidak pernah memaksa, meski sering mengingatkan orang lain untuk menulis.

"Selain itu, aku juga mendedikasikan buku ini untuk salah seorang sahabatku, Bel" ucapnya. Aku kemudian bertanya, ingin tahu lebih detail tentang salah satu yang memotivasinya menyusun buku tersebut.

Ia menceritakan padaku, ia memiliki seorang teman dekat, sahabat, yang sangat dekat. Ia tidak menyebutkan padaku namanya, toh aku juga tidak akan mengenalnya. Aku pun tidak bertanya, karena aku tidak perlu tahu namanya. Aku cuma ingin tahu ceritanya, motivasi apa, perasaan apa yang membuat ia menulis buku untuk sahabatnya tersebut.

Ia menjelaskan panjang lebar tinggi, tidak dalam. Terlalu sulit menceritakan perasaan ingin merangkul sahabatnya tersebut dalam kalimat lisan. Tapi aku bisa merasakannya, mengapa ia memilih menulis untuknya.

Sejujurnya, saat itu.. aku ingin sekali memberikan opini A, dan B. Namun akhirnya aku memilih diam dan mendengarkan. Aku belum pernah punya sahabat dengan situasi sepertinya. Jadi aku merasa, tidak punya hak untuk mengutarakan opini. Bagian ini seharusnya tidak perlu ditulis ya? Maaf.

"Aku gatau sih, temenku itu responnya gimana. Tapi aku beneran nulis itu untuk dia," tegasnya. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Aku tahu kok teh, kita kan sama-sama orang syiar, yang punya perasaan sayang dan ingin merangkul banyak orang, ketika kita melihat sedikit kebaikan di orang lain." ucapku. Lalu aku bercerita tentang Strawberry dan Lemon. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sebenarnya aku menyesal. Aku bohong, mungkin aku bohong, kenyataannya aku bukan anak syiar yang baik. Aku teringat masa-masa osjur, betapa egois diriku, aku teringat betapa aku memilih menjauh ketimbang mendekat dan mengajak mereka yang mungkin sudah tidak mungkin aku temui lagi dalam waktu dekat ini, untuk waktu yang lama. Mungkin, kecuali kalau Allah berkehendak lain.

***

"Waktu kamu tanya, aku nulis dimana Bell. Alamat blogku apa," ucapnya. Aku menyimak, masih penasaran mengapa ia menggantungkan tanyaku di chat saat itu. Ia menjelaskan bahwa ia tidak ingin bagi-bagi alamat blog. Ia lebih menghargai, kalau orang lain menemukan blognya, baru kemudian mengetahui bahwa itu tulisannya. Ketimbang ia mempromosikan blognya kepada orang lain.

Saat mendengar penjelasan itu tiba-tiba saja aku teringat aku yang lalu. Sejujurnya, saat itu mungkin aku tidak banyak teringat tentang hal lain, kami saat itu bergegas ke sebuah gedung, untuk shalat ashar. Aku shalat ashar, ia memberi makan 'anak'-nya.

Tapi sebenarnya penjelasan itu menetap di otakku, terkadang terlintas lagi dan lagi di otakku. Aku sebenarnya dibuat berpikir ulang, tentang blogku, tentang tulisanku, tentang ketersembunyian, tentang berbagi tulisan, tentang banyak hal terkait itu semua.

***

Cuma itu... cuplikan kisah jalan menulisnya yang aku ketahui. Mungkin ada informasi yang salah, atau keliru, saya minta maaf. Hikmahnya apa dari tulisan ini? Izinkan aku tidak menyuratkannya di sini, semoga pembaca bisa memetik sendiri hikmahnya.

Aku takut memperpanjang tulisan ini hanya akan membuatku lebih banyak bercerita tentang diri. Jadi, kusudahi saja di sini.

Intinya mah, semangat menulis! Semangat beramal baik! Fastabiqul khairat^^

Allahua'lam.

Sunday, October 29, 2017

Pilar yang Tidak Seharusnya Bergeser

October 29, 2017 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Bukan pilar yang seharusnya bergeser, tapi kamu, yang seharusnya bergeser. Tentang shalat yang seharusnya menjadi pilar hari kita. Tidak mudah memang, menjadikan shalat sebagai pilar sebagaimana pilar bangunan. Kokoh, berdiri tegak di tempatnya. Bukan shalat yang menyesuaikan jadwal harian kita, tapi kita yang menyesuaikan jadwal shalat.

Berat rasanya menulis ini....

Deskripsi orang-orang yang shalat di surat Al Ma'arij yang pertama adalah alladzinahum fii shalatihim daa-imun. Konsisten di sini maknanya tidak hanya dilaksanakan lima waktu, namun juga konsisten waktunya, tidak bergeser.

Ibarat pilar, kita tidak bisa memaksakan maju terus kalau ada pilar di hadapan kita, kecuali kita memang mau merasakan sakitnya menabrak tiang hehe. Bukan pilarnya kita dorong, biar kita bisa maju terus pantang mundur. Tapi kita yang harus berputar, sedangkan pilar tersebut tetap tegak di tempatnya.

Apa yang akan terjadi, kalau pilarnya kita hancurkan, atau kita pindah-pindah seenaknya? Bangunannya akan rapuh, bahkan bisa roboh. Shalat adalah pilar iman kita. Ketika kita tidak menjadikannya konsisten (dilaksanakan 5 kali, dan di awal waktu shalat), maka iman kita akan rapuh, bahkan bisa hancur. Kalau iman kita rapuh atau hancur, efeknya apa ke hidup kita? TT Hidup kita juga pasti jadi berantakan. Kalaupun ga berantakan, bisa jadi bukan nikmat yang Allah beri, namun istidjraj. *maaf kalau salah istilah/penulisannya.

Terakhir.. kalau kita menyatakan diri peduli akan islam, ingin membantu dakwah islam. Maka yang harus kita perbaiki lebih dahulu adalah shalat kita, shalat wajib kita, lalu disusul shalat sunnah kita. Terutama shalat shubuh, shalat isya, dan juga shalat malam kita.

***
PS:

Ditulis untuk diri ~
Sebenarnya berat nulisnya, inginnya disimpan rapat-rapat saja untuk konsumsi diri. Tapi semoga dengan ditulis di sini bisa jadi manfaat untuk orang lain.

Oh ya, isi dari tulisan ini, sumbernya dari penjelasan ustadz Nouman, videonya lupa yang mana, yang jelas merupakan potongan dari video full Night of Inspiration. Kalau ada yang tahu versi pendeknya, yang isinya saya tulis di sini, bagi-bagi link ya. Biar bisa saya taruh di sini video-nya.

Videomark

October 29, 2017 0 Comments
Bismillah.
#random

Aku tahu, membuat istilah bahasa inggris baru yang ngasal itu, tidak boleh. Tapi gapapa ya? Kepikiran kata itu untuk judul.

Semacam bookmark buat sebuah video. Tadi Kemarin pagi, aku menonton sebuah video, dan tidak selesai. Malam ini aku teringat, mungkin baiknya aku tulis di sini, agar mengingatkanku, bahwa ada video yang harus aku selesaikan menontonnya.

***


***

*warning* Better stop reading, the rest is unimportant information for you. Thanks!

Aku baru nonton bagian pembukanya, seperempat jalan juga belum. Jadi sayang kalau terlupakan, bahwa video tersebut harus diselesaikan. Hehe. Mungkin ada yang heran, bertanya, kenapa ga sekarang aja nontonnya? Oh, iya ya? Ga, salah. Bukan 'iyaya' tapi 'ga'. Fortunately, I follow my mood too much. Kalau sedang mood nulis, aku ga akan maksa diri untuk nonton video. Begitupun sebaliknya, kalau sedang mood baca-baca, blogwalking, cari sebanyak-banyak input, saya ga akan menulis. I know it might be bad for me. Apalagi kalau menulis sudah jadi pekerjaan. Alhamdulillah belum, dan semoga ga lah. Menfulis, biarlah menjadi hal-hal yang aku nikmati. Kalaupun nanti berhasil nerbitin buku *mimpi wkwkwk, naskahnya selesaiin dulu Bell. Semoga nulis bukan jadi definisi 'pekerjaan' yang seolah jadi beban.

Balik ke video. Sebenarnya, akhir-akhir ini aku sedang sering sensi *curcol. Jadi aku sering lebay bereaksi terhadap suatu kejadian. Ayahku sering banget negur aku, "biasa aja kali Bell". Aku? Aku memilih khusyuk menikmati perasaan reactionary-ku, whether it's anger, sadness, cry, exited, joy, or other. Mostly the bad one. Kalau kata teh Risma, aku masih belum bisa menerapkan mindset pertama dari 7 Habbit. Jadi deh, dengan promosi dari teh Risma, aku beli bukunya. Berharap aku bisa mengubah mindsetku yang seperti ini. Agar tidak dipengaruhi oleh lingkungan dan orang lain, tapi inisiatif, proaktif. Kita yang bisa mengatur perasaan kita, keadaan kita, proaktif, tidak memilih reaktif.

Bukunya sudah aku baca bagian awalnya, bener-bener baru bagian awal. Belum nyentuh ke poin pertama untuk proaktif, baru pembuka aja, perbedaan karakter dan kepribadian. Yang definisinya jujur agak rancu, bingung aku. Mungkin akan beda kalau aku baca dalam bahasa inggris. Soalnya mah, kalau kepribadian di mindset-ku, artinya apa, yang dijelasin di buku apa. As if 'kepribadian' is just an image that we try to make. Semacam foto profil yang kita tampilkan ke orang lain. Ada alasan lain sebenernya kenapa aku baru baca beberapa halaman, tapi.. takutnya jadi ngeles. Tetep harus dibaca kok, itu PR lain. Another bookmark.

Qadarullah, kemarin pagi aku nemu video ini. Mungkin karena video kemarin-kemarin yang aku tonton bahas surat Al Ma'arij juga, dari ustadz Nouman juga, tapi yang pendek dan ada ilustrasinya *lupa judulnya apa. Mungkin karena itu jadi youtube kasih rekomendasi video ini.

Dan pembukanya, aku ngerasa jleb-jleb gimana gitu. Dari pembukanya, lumayan nangkep inti dari video. Muhasabah untuk diriku, kalau aku orangnya masih terlalu reaktif, ga bisa mengontrol emosi hanya karena satu dua kejadian kecil, mungkin ada yang salah di shalatku. TT. Iya memang bener, ada faktor hormon, dan memang sedang PMS, tapi jangan dijadikan excuse. Instead of blaming the situation, I should have trying to find solution to it, right?

Maaf banyak curhat. Inti tulisan ini sebenarnya 2:
1. Videomark
2. Kalau penyakit sensi dan reaktif-ku kambuh, aku harus cek ricek kualitas shalatku

Terakhir.. kututup dengan doa. Allahummaj'alna minal mushollin. Aamiin.

Allahua'lam.

Friday, October 27, 2017

Peka Akan Jawaban dari-Nya

October 27, 2017 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

from unsplash

Aku memasuki ruangan pelan, aku kira sudah tidak ada orang, sudah jam 10 malam, kantor sudah hampir tutup. Kudapati seseorang di ujung ruangan, mengenakan senter di kepalanya, sedang membaca lembaran buku. Pantulan cahaya dari buku ke wajahnya memberitahuku fakta bahwa sembari membaca ia menangis, pipinya basah, matanya mengalirkan air mata, meski tidak ada isak. Aku mendekatinya, penasaran novel melankolis apa yang ia baca. Namun aku terhenyak saat mendapati grafik di buku yang ia baca. Kupanggil namanya pelan, ia sempat kaget menyadari keberadaanku, meletakkan buku dan buru-buru menghapus jejak tangis di wajahnya.

"Kenapa balik lagi?" tanyanya. Kujawab handphone dan dompet yang ketinggalan. Ia mendesah pelan lalu berceramah tentang kebiasaan burukku lupa dan meninggalkan barang-barang. Aku balik mencibirnya, "Orang bakal salah sangka kamu baca novel mellow.. apa yang sedih sih, dari buku teoritis itu?" kamu terdiam, tidak menjawab.

"Ada masalah?" tanyaku dengan nada lebih lembut. Ia menggeleng.

"Kelenjar air mataku lagi terlalu penuh, gatau kenapa baca buku ini rasanya terharu." Kuambil buku tersebut, kuperiksa satu persatu kalimat. Tidak ada yang mengharukan.

"Yakin kamu baca buku ini? Bukan mikirin hal lain sambil natep kosong halaman buku?" tanyaku, masih khawatir. Aku cuma bisa bantu kalau ia mau membuka diri, sedikit saja.

Bukannya menjawab ya atau tidak, kamu malah menjelaskan ringkasan dan pemahamanmu terhadap halaman buku yang terbuka tersebut, membuat mulutku terbuka, heran.

"Perempuan, hebat ya?" tanyaku. Pertanyaan retoris, ia memandang wajahku menanti lanjutan kalimatku.

"Bisa mikir hal lain, sekaligus baca buku", ucapku sembari berpikir, menerka apa masalahnya, juga berpikir baiknya aku harus melakukan apa. Mendengar kalimatku ia tertawa kecil, padahal kalimatku tidak lucu. Tapi anehnya, tawanya tidak terlihat palsu, matanya ikut mengecil, mengikuti ujung bibirnya yang naik.

***

Aku pulang dengan hati sedikit lebih ringan. Rasa khawatir itu memang masih ada untuknya, yang menangis dalam sunyi di pojok ruang kerja. Namun pengakuannya membuatku sedikit lebih lega, setidaknya aku tahu dia akan baik-baik saja.

Lampu merah membuatku memberhentikan motorku, selama menunggu, bayangan kejadian singkat malam ini terlintas.

"Tahu ga? Hape dan dompetmu ketinggalan, kamu yang balik lagi ke kantor," ucapnya sembari mengantarku ke garasi, "mungkin jawaban Allah atas doaku." mataku melebar, tak menyangka mendapatkan kata-kata manis itu dari sesama perempuan, dan bukan sahabat dekat yang biasa saling curhat, cuma rekan kantor yang obrolannya tidak lepas dari pekerjaan.


"Tadi.. sebelum aku baca buku dan nangis, aku pengen banget ga sendirian ngelembur tugas kantor." jelasmu. Aku hanya ber-oh, lalu tersenyum, tidak menyangka keberadaanku yang sejenak itu bisa menghiburnya, meski aku tidak bisa menemaninya bermalam di kantor.

"Kamu... jangan pakai kalimat itu anak kantor lain ya. Mereka bakal salah sangka, bakal ke GRan nanti,"

"Ey.. ga lah. Mana berani aku, nanti aku bisa di cap PHP." jawabnya. Memang sekantor, cuma kami berdua yang perempuan, lainnya laki-laki.

Suara klakson menyadarkan lamunanku, aku melajukan motorku lagi, menuju rumah yang berjarak lima menit lagi dari lampu merah tersebut.

'Alhamdulillah... aku bisa jadi jawaban atas doa rekan kerjaku. Semoga aku bisa sepeka ia, yang ketika berdoa meminta A dan diberi B, tetap bisa menyadari bahwa B juga merupakan jawaban doa dari Allah. Aamiin,' ucapku dalam hati. Kubuka pintu rumah sembari mengucap salam. Adikku menjawab pendek salamku dengan wajah mengantuk, masih berusaha tidak tidur untuk menghadang serangan UTS kampusnya.

The End.

***

PS: Ciee yang sedang mood nulis fiksi, sampai berturut-turut. *gak penting banget ya? Hehe. Pengen ada non fiksinya aja jadi ada PS-nya. Tulisan fiksi (cerpen/novel) memiliki beberapa jenis alur cerita, ada yang maju, mundur dan ada juga yang kombinasi. Yang ini, termasuk yang mana ya? Aku lebih sering pakai yang mana?

Wednesday, October 25, 2017

Membuta

October 25, 2017 0 Comments
Bismillah.
#fiksi
Hanya karena kau menutup matamu, tidak menjadikan sebuah fakta seketika hilang dari hadapanmu. Fakta itu masih di sana, hanya kau saja, yang membuta.
***

Aku memejamkan mataku, entah mengapa di siang yang terik ini, kepalaku terasa pening. Sepuluh detik, rasa tidak nyaman itu masih bertengger di dahi, di otot sekitar alis, dan juga di pelipis. Ku padangi layar putih yang berisi dua kalimat penjelasan tentang 'membuta'.

'Apa lagi yang harus kutulis?' tanyaku dalam hati, jemariku melayang di atas keyboard, namun tidak menyentuh salah satu tutsnya. Hanya gerakan hampir mengepal dan memegar berulang-ulang, kebiasaan jemariku saat aku ketinggalan 'kereta' ide dan ritme menulis. Pening kembali menyengat kepalaku, membuat kelopak mataku terpaksa menutup lagi, kali ini lebih lama dari hitungan sepuluh.

"Ngantuk?" suara seseorang membuatku membuka mataku. "Mau kopi?" tanyanya, kulirik galon berbalut sarung doraemon di pojok ruangan. Aku beranjak dari tempat duduk, meninggalkan orang yang bertanya tanpa jawab. Biarkan saja, memang bukan pertanyaan yang harus dijawab.

Kuambil mug putih dengan tulisan berwarna merah "you can do it!", kuisi dengan air galon, tidak panas. Kupandangi beberapa sachet pilihan kopi di meja, yang melihatnya saja, sudah bisa kubayangkan harum dan rasanya. Tapi aku sedang puasa kopi, dan sudah berjanji memperbanyak minum air putih untuk kesehatanku. Kuteguk habis air putih di mug tersebut sembari meyakinkan diri, bahwa tidak ada obat yang manis.

"Saya keluar sebentar ya, cari udara segar", ucapku pada beberapa orang di ruangan yang sedang sibuk di depan layar putih masing-masing. Cuma sekedar ucapan saja, ucapan yang tidak perlu ditanggapi. Selalu begitu di sini, tidak ada basa-basi, tidak ada obrolan ringan, tidak perlu tanya jawab. Semua fokus pada pekerjaannya masing-masing, dan berusaha agar tidak mengganggu pekerjaan orang lain.

***

Ke rooftop di siang terik memang bukan pilihan yang tepat. Tapi entah mengapa kakiku tergerak untuk kesini. Saat keluar lift dan mencari bagian rooftop yang agak teduh, aku mendengar sayup-sayup suara seorang perempuan. Awalnya aku kira ia sedang bersenandung, tapi saat mendekat, aku sadar, bukan lagu yang ia lantunkan. Ia sedang membaca sebuah kitab, kitab yang cuma aku buka satu tahun sekali.

Aku berhenti melangkah lebih dekat, kulihat kibaran khimar berwarna hijau lumut yang ia kenakan. Mungkin karena mendengar suara langkahku, atau ia merasa ada yang memperhatikannya, lantunan ayat suci tersebut berhenti. Otakku sempat berpikir, apa yang baiknya aku lakukan kalau ia berbalik dan melihatku. Namun pikiran tersebut kemudian berhenti, dikagetkan oleh suaranya. Ia tidak merubah posisi duduknya, bagian belakang khimar hijau lumut tersebut masih di sana. Ia tidak lanjut membaca quran, tapi kini ia sedang membaca terjemahannya. Cukup keras hingga telingaku dapat menangkapnya.

Aku terpaku disana, ikut mendengarkan satu demi satu arti ayat kitab tersebut. Kitab yang cuma satu kali satu tahun aku baca, namun belum pernah aku ketahui artinya. Sesekali ia berhenti untuk mengambil nafas, terkadang jeda untuk menghembuskan nafas panjang, seolah lewas hembusan nafasnya, ia lepaskan juga beban-beban di pundaknya. Aku masih asik mendengarkan suaranya, sampai suaranya bergetar pelan di salah satu ayat. Seolah sembari membaca terjemahan ayat tertentu itu, bulir air sedang berdesakkan di ujung matanya.

***

Seketika seolah palu dipukulkan ke kepalaku, pening di kepalaku seolah menghilang karena benturan keras tersebut. Bagaimana aku bisa menulis tentang 'membuta', kalau sebenarnya, itu aktivitas yang hampir setiap hari aku lakukan.

Kupandangi layar di meja kerjaku, memoriku menggerakkan jemariku untuk mencari terjemahan surat apa dan ayat mana yang dibaca perempuan berkhimar hijau lumut itu. Isak tangisnya membuatku tidak bisa menangkap dengan jelas keseluruhan terjemah ayatnya. Namun aku masih bisa mendengar sebagiannya.

"quran mereka mempunyai mata namun tidak digunakan untuk melihat", aku klik search.

The End.

Tuesday, October 24, 2017

Apa Kabar Hati?

October 24, 2017 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-


Sungguh indah cara Allah membolak-balik hati. Sore ini, aku seolah disadarkan oleh Allah, bahwa hatiku.. meski mudah berbolak-balik, aku punya tanggung jawab untuk meluruskannya, membersihkannya, menjaganya.

Jika hati telah direbut dan dikuasai dunia, manusia, kesombongan, dan hal-hal lain yang tidak seharusnya menguasainya, aku punya tanggung jawab untuk merebutnya kembali.

Jika hati telah mengeras, kering, hampir mati, atau mungkin sudah mati, aku punya tanggung jawab untuk menghidupkannya kembali.

Mungkin aku tidak punya kemampuan untuk merebut hatiku, juga tidak punya kemampuan untuk menghidupkan hatiku yang mati. Tapi aku punya tanggung jawab dan kewajiban untuk berusaha. Menunjukkan kepada Allah, agar Allah izinkan satu demi satu noda terhapus. Usaha dan doa yang tulus, agar Allah mengizinkan sedikit demi sedikit kurebut kembali hatiku. Berlelah dan menangis berusaha dan berdoa, agar Allah mengizinkan setitik air menghidupkan kembali hatiku yang mati.

Aku memang tidak punya kemampuan untuk itu semua, juga tidak punya kekuatan untuk itu semua. Tapi.... kita harus berusaha menjaga hati, membersihkannya, menghindarkannya dari noda, menjaga aliran airnya agar tetap hidup. Berusaha mengobati setiap luka di dalamnya. Usaha.. yang tentunya dibarengi dengan doa.

***

Apa kabar hati? Jemari yang tersendat beberapa hari kemarin, rasa sensi yang meluap sore ini. Barangkali itu sebab hatiku sedang tidak baik-baik saja. Indikatornya memang bukan selalu tentang kuantitas tulisan, bukan juga tentang tingginya level kesensitifan diri. Tapi cobalah lebih peka, saat hari berlalu biasa saja, namun rasanya ada yang kurang, mungkin itu tanda Allah mengingatkanku, agar mengecek kabar hati.

Apa kabar hati?

Allahua'lam.

PS: Menulis ini.. sembari teringat dua buku yang judulnya hampir kembar. Bukunya Yasmin Mogahed yang berjudul Reclaim Your Heart, dan juga bukunya Nouman Ali Khan yang berjudul Revive Your Heart.

Monday, October 23, 2017

Masuk ke Sela-sela Pikiranku

October 23, 2017 0 Comments
Bismillah.

#random #selftalk

*warning* abstrak, selftalk, curhat

Aku kira, satu momen kecil yang cuma beberapa detik itu tidak berefek pada hati dan pikiranku. Tapi ternyata, aku tidak bisa membohongi diriku. Ada efeknya. Ah.. I'm not talking about love, just in case somebody interpret it the wrong way.

Saat itu aku dengan temanku sedang berjalan, kami mengobrol, senyum ada di bibirku. Kulihat beliau berjalan menuju arahku, dengan sopan, aku berusaha tersenyum, meski sejujurnya aku ingin pergi saja menghilang. Tak ada respon. Aku mengangguk kemudian menggumam pelan. Wajahnya datar, dahinya berkerut mungkin karena memikirkan hal lain. Sudah selesai.

Setelah melewatinya, temanku bertanya, siapa. Aku jawab. Saat itu jumat sore, aku mungkin saat itu berusaha fokus menjalani obrolan dan pertemuanku dengan teman, fokus ke persiapan pulang ke Purwokerto. Ingin curhat ke sohib di Kendal, tapi akhirnya memilih urung.

Satu dua tiga hari, hampir empat hari aku tidak menulis. Ada banyak ide, tapi sebenarnya yang memenuhi pikiranku bukan ide-ide lain, melainkan situasi beberapa detik itu, momen pendek itu.

Saat itu, sampai saat ini aku masih berusaha berprasangka baik. Mungkin gagal, atau hampir gagal. Ya.. aku masih berusaha untuk tidak overthinking, tapi jujur.. pikiran itu beranak pinak, menyesaki otakku.

Pertama, mungkin beliau sedang sibuk dan pusing memikirkan banyak urusan, orang sibuk. Kedua, adalah hal wajar kalau beliau lupa dan tidak mengingatku, sebagaimana banyak yang lupa padaku, namun aku ingat pada orang tersebut. Ketiga, aku pernah menjadi yang seperti itu... yang kaki berjalan dan mata memandang kedepan, namun pikiran berlari kesana-kemari, membuat satu dua orang yang menyapa tak kusadari, atau beberapa orang yang berpapasan seolah tak ada di sana.

from unsplash
***

Sebenarnya, hari itu.. dan hari sebelumnya, aku sengaja meninggalkan milestone yang seharusnya aku kerjakan. Draft suratnya sudah aku buat, namun aku belum berani menyalinnya satu persatu, membungkusnya dengan amplop, dan menyerahkan suratnya secara langsung, atau menitipkan ke seseorang (pak pos atau siapapun) untuk mengirimkan suratnya.

Lalu pikiran tentang satu kejadian singkat itu beranak pinak lagi. Mungkin lebih baik seperti itu, lebih baik diabaikan saat tanpa sengaja berpapasan. Ketimbang, diabaikan saat sengaja bertemu untuk menyerahkan surat. Rasa 'sakit' penolakannya jauh lebih ringan yang aku alami, ketimbang yang aku khawatirkan aku alami. Maybe it's better that way. Pertemuan singkat, bukan pertemuan, cuma papasan singkat itu.. pasti ada hikmahnya kan? Allah tidak mungkin menuliskannya dalam takdir hariku tanpa tujuan kan? Aku cuma perlu lebih teliti mencari hikmahnya kan?

Mungkin hikmahnya, artinya.. aku tidak boleh menunda target milestone yang sudah aku buat. Toh sudah ada draft, apa sulitnya menyalinnya menjadi tiga surat? Jika tidak berani menyerahkan langsung, apa sulitnya, menulis alamat lengkap dan ke kantor pos? Jika merasa tulisan tangan tidak formal, apa sulitnya mengetik dan menge-print?

***

Hari ini.. pikiran itu tidak berhenti beranak pinak. Meski aku mengira satu kejadian singkat itu tidak memberi efek pada hati dan pikiranku. Nyatanya aku tidak bisa bohong. Curhat ke teman mungkin bukan solusi, mengingat aku merasa terlalu banyak bicara tentang diri setiap kali kesempatan menjalin silaturahmi itu datang. Padahal harusnya tidak begitu .. hmm.. masih belajar menjadi teman yang baik.

Mau nulis di diary, juga takut berakhir di curhat tanpa mencari solusi. Semoga di sini bisa sedikit meredakan pikiran yang terus beranak pinak. Semoga menulis di sini, bukan bentuk keluhan. I wish no one read it but me.

***

Hari ini, pikiran itu tidak berhenti beranak pinak. Aku teringat sebuah pertemuanku dengan beliau. Saat itu, aku sering menangis, mendengar wejangannya, meski aku akhirnya tidak bisa memenuhi dan menjalankan sarannya. Saat itu beliau berkata, bahwa jika bukan untukku, seharusnya aku termotivasi bergerak untuk orang lain, untuk x, untuk y, untuk z. Karena aku bergerak atau memilih diam, tidak hanya memberikan efek pada diriku, tapi juga pada banyak orang, pada x, pada y, juga pada z.

Lalu satu kata negatif itu terngiang lagi. Seolah menebalkan label di dahiku. Ya, benar, aku benar-benar jahat. Bukan jahat kata yang tepat, tapi minimal izinkan aku menuliskannya secara umum, karena yang spesifik menjadikan tulisan ini tidak abstrak.

Jujur rasanya ... bagaimana rasanya ya, saat kau mengetahui kualitas buruk dirimu. Harusnya, mindset-nya adalah.. jika memang aku seperti itu, yang harus aku lakukan adalah memperbaiki diri. Tapi mindset positif itu .. aku masih perlu banyak belajar.

Di lain sisi, aku tidak bisa memungkiri aku pernah dan mungkin masih bermindset negatif. Rasanya ingin menghakimi diri sendiri. Jahat, sangat jahat. Tapi ga boleh begitu kan? Hehe ^^

***

Bismillah. Semoga Allah menguatkan diriku, menjagaku, membimbingku. Kalau sebuah dosa, bukan hanya tentang aku dan Allah, tapi juga menyangkut orang lain.. maka taubatnya bukan sekedar urusanku dengan Allah. Semoga aku diberikan keberanian untuk menyelesaikan urusan milestone surat, ya, surat itu. Surat permohonan maaf dan terimakasih. Mungkin suratnya tidak berarti, mungkin sudah dimaafkan, tapi untukku.. setidaknya untuk ketenangan hatiku, *boleh ga sih niat ini??. Bolehkah untuk tujuan itu, aku harus mengirimkan perasaan bersalah dan memohon maaf, juga berterimakasih. Terlepas dari sampai atau tidak suratnya, terbaca atau tidak suratnya, terlepas dari beliau mengingatku atau tidak. Kewajibanku, untuk diriku, untuk ketenangan hatiku, adalah meminta maaf, atas begitu banyak salah yang aku perbuat. Ya kan? *tanya sama siapa bell? wkwkwk

***

Aneh memang, bagaimana momen kecil, kejadian beberapa detik bisa masuk ke sela-sela pikiranku. Berusaha aku usir, dengan prasangka baik. Tapi ternyata, ia masih menetap. Karena mungkin hikmahnya bukan sekedar aku harus berprasangka baik. Mungkin ada banyak hikmah lain yang harus kutemukan, tapi bukan sekedar kutemukan, tapi menanti perubahan sikap dan mindsetku.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaih.

Allahua'lam.

***

PS: 231117 | Satu bulan kemudian. Baru bisa mengirim surat-surat tersebut. Awalnya berniat di print dan dikirim via pos. Akhirnya dikirim via email. Rasanya di sini.. sesuatu banget, lega tapi juga penasaran. Apakah paragraf-paragraf tersebut akan terbaca, apakah akan ada respon? Mari berprasangka baik saja, sembari berdoa, jikapun suratnya tidak terbaca, semoga niatnya sampai.

Sunday, October 22, 2017

Menerima dan Melepas

October 22, 2017 0 Comments
Bismillah.




Ada banyak ide, sebagian sudah dibuat draft di tempat lain, sebelum akhirnya masuk ke draft blog ini. Namun sebagian yang lain masih menumpuk di otak, menanti jemari menemukan ritmenya. Ini salah satu kutipan yang seharusnya aku kembangkan jadi tulisan. Mungkin memang lebih baik aku bagikan saja kutipannya, tanpa tedeng aling-aling apapun, tanpa prolog tidak jelas nan panjang ini. Hehe. Semoga bermanfaat~

Dalam hidup ini manusia akan diuji dengan tuntutan untuk menerima apa yang sulit diterima, dan melepas apa yang sulit dilepas. -MF
 Allahua'lam.

***

PS: Izinkan aku meneruskan di sini, cuma ingin menorehkan beberapa kata yang seharusnya aku jadikan tulisan. Mungkin malam ini, atau besok. 
  • well done, good job: kata-kata ini ada frase bahasa indonesianya ga? pngen banget nulis ttg budaya yang aku pelajari dari negara lain, kebiasaan mengucapkan well done, good job, you've been tried hard today, semacam itu. bagaimana Allah sering menghibur kita dalam qurannya, bergembiralah, selamat, wabasyirishabirin, dll. Orang, manusia mungkin tidak bisa menghargai dengan pantas dan sesuai keingin hati, tentang usaha kita, tapi Allah selalu bisa memenuhinya. karena janji Allah tidak pernah tidak ditepati.
  • kemampuan untuk meminta bantuan. diberi kesempatan oleh Allah untuk melatihnya, tapi lagi-lagi aku tidak bisa memanfaatkannya. Namun Allah masih baik, meski aku belum bisa meminta bantuan, Allah kirimkan seorang teman yang mau bercape-cape bantu aku.
  • masih nyambung dengan poin ke 2. jangan memutuskan ketika sedang emosional. tuh kan liat, mubazir uang buat beli satu tempat duduk dikereta. akhirnya kamu cuma bisa berdoa, semoga satu ruang itu bisa dimanfaatkan untuk orang lain, mungkin untuk tidur seorang bayi, atau sekedar jadi ruang, bagi seseorang yang sudah bosan berdesakdan bersempit.
  • pain,tentang rentang rasa sakit menetap di tubuh kita. ada yang cepat, ada yang lama. tapi lama atau cepat, yang penting adalah bagaimana kita bersyukur dan bersabar. karena toh, Allah bisa tidak sekedar mengganti amal baik mu'min, bahwa lelah, sedih, dan luka-nya seorang mu'min akan Allah ganti dengan yang lebih baik, penghapus dosa, atau pemberat catatan amal baik. mungkin ini juga terkait poin pertama.
  • banyak kan? nunggu apa lagi?

Thursday, October 19, 2017

Meant to Lost; Won't Hurt

October 19, 2017 0 Comments
Bismillah.

Kali ini ga salah posting. Semalem memang terlalu panik, lupa ganti setting ke blog Magic of Rain. Hehe (:

Bingung ya? Berarti sudah di hapus postingannya. Satu kutipan, dariku. Buat sendiri, tapi mungkin terinspirasi dari tulisan orang lain. Maaf nulisnya di tissue yang sudah dikuwes-kuwes hehe.

Allahua'lam.

Wednesday, October 18, 2017

MSDM + Nostalgia IK Ulba = Belajar Belajar!

October 18, 2017 0 Comments
Bismillah. 
#random

*warning* full curhat, sedikit manfaat

Akhir-akhir ini aku dibuat sadar, satu hal. Bahwa MSDM itu.. Sulit hehe. Mungkin ga sulit bagi yang sudah terbiasa mengurus hal itu, tapi bagi saya, terlalu sulit, menguras pikiran dan perasaan.

Aku tidak sedang berbicara tentang mengelola SDM yang jumlahnya ratusan, atau puluhan. Tapi Cuma dua orang. Dua orang dengan sifat dan karakter yang berbeda, dengan skill berbeda, dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Jujur, rasanya ingin menyerah saja, lebih baik saya mengerjakan semuanya sendiri, ketimbang harus berurusan dengan dua orang yang aku sendiri ga bisa marah-marah pada mereka dan ga punya wewenang untuk mengatur ini itu.

Pernah aku berdialog, diskusi hingga berdebat dengan Ayah tentang hal tersebut. Nangis-nangis sendiri. Kata ayah: ga usah dipikirin. Aku dalam hati, gimana ga bisa dipikirin? Wong ada yang salah, masa didiemin aja, dibiarin aja. BT. Setelah kejadian debat lebay itu.. Ayah akhirnya membiarkan aku lebih sering dirumah, ketimbang di tempat itu.

Setelah satu dua kali dibuat stress lagi dan lagi karena masalah pembagian tugas, dan dua orang dengan watak dan sifat yang berbeda tersebut. Aku dibuat teringat.. Ya, teringat jaman aku masih aktif organisasi.

***

ROHIS ULBA - Majelis IK - Majalah/Buletin?

Saat SMA. Sama, aku juga seperti itu sifatnya. Mengerjakan sesuatu sendiri, kadiv yang menghilang aku lupakan, males berurusan dengan ikhwan yang entah sedang sibuk belajar atau sibuk di organisasi lain. Mengerjakan apa-apa sendiri, padahal mah.. Ada hal-hal yang ga bisa dikerjakan sendiri. Sempat lari juga, karena kemungkinan menerbitkan Majalah Ulba adalah 1%, tidak ada dana, ada dana namun tidak diizinkan pembina Rohis untuk buat majalah, mubazir ceunah. Hm... Dilema media cetak. Berkali-kali menghindar berpapasan dengan ketua Rohis, yang kelasnya sebelahan dengan kelasku. Karena setiap ketemu, pasti ditanya, "Gimana majalahnya Bell?".

Sampai suatu hari, saat aku diluar kota berlibur, H-7 sebelum masa orientasi siswa SMA 1 Pwt, harusnya majalah dibagi/dijual saat MOS. Aku dibuat menangis karena sms dari ketua ROHIS. Biasa, ditanya majalahnya, progresnya dll. Aku jawab, dananya ga ada, partner-ku, ketua divisi hilang ditelan angin, dan sebenarnya sang ketua juga paham. Rasanya aku ingin menyalahkan kakak kelas, dulu divisi kami banyak ikhwan yang rajin, tapi yang satu ditarik jadi Ketua Umum ROHIS, satu lagi jadi bendahara. Tapi aku ga bisa curhat panjang-panjang lewat sms, dulu terbatas karakternya. Aku cuma jawab, kalau aku ga bisa buat majalah. Anggota divisiku juga dikontak sulit, entah ga jawab, atau jawab, tapi ditagih tulisan ga dikirim-kirim. Tapi jawaban sang ketua, akhirnya membuat aku nangis makin menjadi-jadi. Padahal waktu itu ada ayah dan sepupu. *alhamdulillah mereka tidak tanya kenapa hehe.

Ia mengirimkan padaku terjemahan potongan ayat. Aku seolah diingatkan lagi, bahwa aku bukan bekerja sendiri. Ada Allah, backing yang Maha Kuat dan Maha Kuasa.
"....dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS Al Anfal ayat 17)
Saat itu aku ga langsung buka Quran baca terjemahan lengkapnya, ga juga tahu asbabun nuzul kisah perang albadr. Tapi gatau kenapa, rasanya ngena aja. Kita cuma bisa usaha, Allah yang nentuin hasilnya.

Akhirnya.. Setelah balik ke Purwokerto aku mulai buat konsep buletin *gajadi majalah. Tiga hari, nentuin tema, sama berapa tulisan yang harus ditulis. Mulai deh, nulis ini itu, dan juga masukin beberapa kontribusi dari anggota. Aku pikir aku harus ngurus teknisnya juga, layout, print, memperbanyak dll. Tapi Alhamdulillah ga, ada yang mau bantu bukan anggota majelis IK padahal. Aku meleleh deh, bukan karena ketum ROHIS, bukan juga karena yg bantu ngurus teknis, tapi karena Allah dan rencana yang ia tuliskan. Aku tulis deh, perasaan speechless-ku di note fb. Bisa baca di sini, tapi close friend only privasinya. Aku kopas aja ya? Hehe. *ini screenshoot-nya

my old facebook's notes : 20100714

***

Bakal panjang kalau aku lanjutin dengan nostalgia, pengalaman MSDM di organisasi lain. Gimana aku ga berubah, ngurus apa-apa sendiri, ga bilang-bilang ikhwan, dimarahin *ditegur kakak tingkat, ga boleh gitu, harus komunikasi sama yang ikhwan. Ngerasain berkali-kali stressnya kalau ada anggota satu divisi yang ngilang, tapi juga pernah jadi yang hilang, pas ditanya baik-baik malah marah.

Sebenarnya inti dari tulisan ini: MSDM itu sulit, dan aku masih perlu belajar banyak banget. Gimana bisa menjalin hubungan sosial, mengelola SDM yang ada, dengan berbagai perbedaan skill, sifat dan karakternya. Di sisi lain, aku juga harus paham betapa sulit orang lain, jadi kalau jadi yang diatur, jangan ngeyel. Belajarlah untuk mudah diatur, jangan keras kepala. Jangan mendzalimi orang lain, Cuma karena kamu aneh, dan inginnya dimengerti. Ok?

Allahua'lam.

PS: Maaf banyak curhat dan ga jelas. Udah dikasih warning loh ya. Jangan salahin aku. Hehe.

Monday, October 16, 2017

Bukan Karena Satu Hal Kecil

October 16, 2017 0 Comments
Bismillah.

#fiksi


"Sekarang kenapa?" tanyaku. Kau masih terdiam, wajahmu basah, sengaja tidak kau hapus jejak air tersebut, membuat hatiku makin merasa bersalah.

"Aku kan udah ngalah, iya balik ke rencana awal aja, ga akan ada perubahan-perubahan lagi." jelasku, namun air kembali mengalir dari matamu, melalui jejak yang sama.

"Aku juga gatau", ucapmu dengan suara parau, suara khasmu ketika sedang atau habis menangis. Aku terdiam, memandangi wajahmu, sembari memutar otakku keras-keras.

"Maaf", ucapmu pelan. Aku hendak menyela bahwa kau tidak perlu minta maaf. Tapi kamu melanjurkan kalimatmu.

"Aku juga pengen berhenti menangis, tapi ga bisa. Nanti... kalau udah agak baikan, aku pasti cerita. Could you wait for me?" Kalimat panjang itu diucapkannya pelan-pelan, berjeda, setiap kali kamu mengambil nafas, atau menarik air yang keluar dari hidungmu. Aku mengangguk, kemudian beranjak hendak pergi, namun langkahku terhenti.

Aku berbalik, menemukan tanganmu menahan tanganku. Aku kembali duduk, mengira kau belum menyelesaikan kalimatmu. Masih memegang tanganku, kaurebahkan kepalamu di pundakku pelan. Nafasmu kini sudah sedikit lebih teratur, jejak air itu sudah samar, hampir menghilang padahal tidak kau hapus sama sekali.

"Tissue" ucapku pelan, kau menggenggam tangan kiriku lebih erat. Aku hendak menjelaskan, kalau aku tadi pergi hendak mengambil tissue, tapi lidahku akhirnya kelu. Diam, hening. Yang terdengar hanya suara nafas kami, dan sedikit detak jantungku. Tubuhku mungkin diam, tapi otakku tak berhenti berpikir, tangan kananku kaku, meski sebagian otakku memerintahkannya untuk mengelus kepalamu pelan.

"Tissue, air minum, bukan itu yang aku butuhkan sekarang," ucapmu memecah keheningan, sekaligus membuatku menurunkan kembali tangan kananku, yang sudah sedikit terangkat hendak menjalankan misinya.

"Kalau misal.. aku kaya gini lagi, kaya bom reaktif, bom sensitif, bom emosi; itu bukan salahmu. It's just me," kau menarik nafas panjang.

"Aku terbiasa menumpuk emosi yang seharusnya disalurkan keluar. Ada saat aku ingin menangis, namun aku menahannya. Kemudian waktu berlalu.. dan saat mataku sudah terlalu pernuh air, dan saat pikiranku sudah terlalu penuh,  dan hatiku sudah penuh luka..."

Kau menarik nafas dalam lagi, seolah yang hendak kau ucapkan adalah rahasia yang seharusnya tidak seorangpun tahu. "Saat itu, seperti bom, yang cuma perlu menekan satu tombol untuk meledakkannya. Seperti itu juga. Cuma perlu satu alasan kecil, hal kecil, yang bisa membuatku meledak, dan menangis seperti tadi," kau melepas tanganmu dari tanganku, menarik senderan kepalamu dari bahuku, kemudian menatapku lembut.

"jadi jangan merasa bersalah. bukan salahmu, bukan karena hal kecil itu," kau mengakhiri penjelasan panjangmu dengan senyum tipis. Aku masih memandangi bola matamu yang kini terlihat makin jernih dan berkilau.

"Bisa diulangi nggak?" tanyaku. Raut wajahmu berubah, bingung.

"Mau aku tulis di blog, sayang kata-kata bagus kalau dicatet di otak", kamu tertawa kecil, meninju pelan lenganku.

The End.

***

PS: Sayang kalau lagi mood nulis fiksi dipaksain nulis non fiksi, tapi kalau terus bolak-balik fiksi-non fiksi, jadi ga konsisten ya? hehe.

Sunday, October 15, 2017

Rotten Book

October 15, 2017 0 Comments
Bismillah.

#random #hikmah

Bisakah sebuah buku membusuk? Kapan? Saat sudah tidak ada yang mau membacanya?

***

Sebenarnya bukan hal ini yang ingin aku bicarakan. Prolognya sangat tidak nyambung dengan apa yang ada di pikiranku.

Aku ingin bicara tentang buah busuk, yang tidak terlihat busuk dari luar. Lalu aku teringat pepatah don't judge a book by its cover. Bisa jadi sebuah buku covernya begitu baik, namun isinya kosong, mungkin ada isinya, tapi isinya tidak bermanfaat, tidak bergizi.

Aku sedang ingin berbicara tentang orang-orang bertopeng, namun dengan analogi. Sayangnya membuat analogi yang pas, tidak semudah yang aku kira.

***

mask (from unsplash)

Kalau manusia bertopeng itu adalah orang lain, dibalik topeng itu.. seperti apa wajah aslinya? apakah wajahnya lebih indah? atau lebih buruk rupa?

Kalau manusia bertopeng itu adalah diri sendiri, dibalik topeng ini.. wajah apa yang aku sembunyikan? Yang indah? Atau yang busuk?

Kata busuk somehow terbaca begitu tajam di mataku. Entah mengapa, seolah maknanya begitu negatif, dan aku memang menuliskannya untuk mendeskripsikan kenegatifan yang sama.

Faktanya, mungkin seperti itu rupa dibalik topeng indah yang Allah ukir di wajah dan 'image' diriku. Bukan aku yang menyembunyikannya, namun rahmat Allah, yang berhasil menutupi cacat yang begitu buruk rupa.

Kenyataannya, aku cuma manusia biasa, yang berusaha setiap hari untuk memperbaiki rupa dibalik topeng indah yang Allah berikan sebagai salah satu bentuk rahmah-Nya. Berharap aku tidak hanya mendapat rahmah-Nya di dunia yang sementara ini, tapi juga mendapat rahim-Nya di akhirat kelak.

***

Lieur ga bacanya? Pusingnya. Bella nulis apa sih ini? Maksudnya apa? Kenapa? Ada behind the scene stories-nya kah?  Atau ga ada yang nanya, cuma menyernyitkan dahi, nyesel udah baca tulisan ini hehe.

Menulis ini.. somehow mengingatkanku pada sebuah doa. Aku lupa apakah itu doa sahabat atau tabi'in. Sahabat sepertinya. Bentar ya, saya googling dulu.

screenshoot dari artikel rumaysho[dot]com
Aku memang menulis draft ini kemarin malam, saat kepala dipenuhi banyak beban pikiran. Jadi wajar, kalau kesannya aku dalam kondisi negatif. Tapi alhamdulillah Allah tidak mengizinkanku mempublish dengan akhir mindset yang negatif.

Mengingat doa Abu Bakr, aku diingatkan lagi. Bahwa prasangka orang lain kepada kita, bukan urusan kita. Itu diluar kendali kita, tak perlu banyak dipikirkan, tak perlu dipedulikan. Kita pada akhirnya cuma bisa berdoa saja.

Menunda mengakhiri dan menunda mem-publish tulisan ini, juga membuatku bisa menilik hikmah yang pernah kutemukan, namun sering aku lupa. Tentang ujian. Ya, entah kita tampak seperti buah busuk, namun dalamnya ternyata begitu baik dan bergizi. Atau kita tampak seperti buku baru yang masih disegel, namun isinya kosong mlompong. Keduanya bentuk ujian dari Allah. Seolah Allah mengingatkan kita, bahwa kedua-duanya tidak penting, orang lain tahu kualitas sebenarnya diri kita, atau orang lain salah paham tentang kualitas sebenarnya diri kita, keduanya tidak penting. Yang perlu kita fokuskan cuma bagaimana pandangan Allah terhadap kita, bagaimana kita di mata Allah, sudahkah kita seorang hamba yang memenuhi kewajiban sebagai hamba dan memenuhi hak Allah sebagai ilah dan rabb kita?

Aku kembali teringat.. nasihat seorang saudari, yang kini sedang berbadan dua, menanti kelahiran anak kedua-nya. Semoga Allah melindungi sang ibu dan janinnya, semoga kelak bisa bertemu di saat dan di tempat yang lebih baik, dalam keadaan iman masing-masing yang lebih baik juga. Aku pernah curhat padanya tentang perasaan takut dan benciku, saat tahu bahwa blogku banyak dibaca orang, mungkin itu sebelum aku pindah alamat blog, saat itu masih sweetvioletta. Saat itu, dari lisannya, ia mengingatkanku, bahwa ketenaran, dan ketersembunyian bukan pilihan, meski terkadang kita bisa memilihnya, tapi sebenarnya, yang menentukan adalah Allah. Akan ada saat kita diuji dengan ketersembunyian, ada juga saat kita diuji dengan ketenaran. Intinya cuma satu, mengetahui lagi, apakah niat hambaNya masih lurus, atau sudah bengkok. Intinya cuma satu, untuk mengetahui hamba mana yang jujur, dan mana yang dusta akan imannya.

***

I might met the same thoughts over and over again. Ah.. alibi luka lama yang ga bisa aku hindari. Entah ini excuse, atau alasan yang sebenarnya. Tapi, aku pasti akan membahas lagi tentang prasangka orang lain, lagi dan lagi, dan lagi. Semoga kelak, saat aku membahasnya lagi dan lagi, dan lagi, aku bisa selalu mengambil hikmah yang baik, memandang dari sisi yang positif. 

Sebanyak ketakutanku, saat orang lain memandangku rendah, aku juga banyak takut ketika orang lain memandangku tinggi padahal aku rendah. Tapi ketakutan itu seharusnya cuma berlalu lalang saja, tidak perlu sampai disimpan dalam hati. Bukan menyimpan sikap yang harus diambil, namun menghadapinya, mengadu pada-Nya. Karena rasa takut, merupakan salah satu bentuk ujian yang Allah kirim kepada hamba-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang lulus ujianNya, naik tingkat, terus memperbaiki diri meski jatuh dan jatuh lagi, kemudian bangkit dan berjalan lagi mendekat padaNya. Hingga kelak... semoga bisa pulang ke kampung halaman kita, Jannatullah. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Tulisan "Karena Manusia Kah?" yang ditelurkan setelah obrolan dengan ukhti cantik shalihah~ miss you so^^ disana tulisannya lebih singkat dan lebih ngena *imho.

Saturday, October 14, 2017

Dua Saudari, Dua Karakter, dan Seorang Ibu

October 14, 2017 0 Comments
Bismillah.
#hikmah


Dua Saudari

Dua orang saudari, berbagi satu rahim. Setelah empat bulan sang kakak dilahirkan dari rahim tersebut, sang adik giliran mengisi rahim itu. Tiga belas bulan jarak kelahiran kedua saudari ini. Satu tahun lebih empat puluh hari, relatif waktu yang singkat, namun relatif lama. Keduanya tumbuh bersama, berebut mainan, mengenakan baju yang sama, belajar membaca bersama. Setiap pertengkaran kecil, setiap tawa, setiap tangis, setiap saat kebersamaan, menjadikan keduanya dekat, tidak sekedar kakak-adik, tapi seolah teman seumuran, berbagi rahasia-rahasia kecil, pergi ke sekolah yang sama. Ya, dari tingkat kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan akhir. Sampai akhirnya keduanya terpisah oleh jarak, sang kakak ditakdirkan duduk kuliah di kota kelahirannya, sedangkan sang adik merantau ke kota orang.

Dua Karakter

Seperti kembar yang berbeda karakter, kedua saudari yang hanya berbeda satu tahun lebih ini juga memiliki dua karakter yang berbeda. Yang satu dominan, ekstrovert, koleris. Yang lain melankolis, introvert, sanguin. Yang satu sangat disiplin, yang lain perlu diajarkan supaya disiplin. Yang satu pelit, yang satu dermawan. Mereka berbeda, seringkali bertolak balik tapi tidak jarang pula beririsan. Mereka klop, dua karakter yang klop. Yang ekstrovert anehnya bisa membaca rahasia-rahasia introvert, mungkin karena sudah tumbuh dan besar bersama. Lewat sang ekstrovert, ibu jadi mengetahui sang introvert. Ya, Ibu.

Seorang Ibu

Seorang ibu yang melankolis, protektif, tekun. Sering mengajak bercanda kedua putrinya tentang cinta monyet keduanya saat masih remaja. Namun bisa berbicara wejangan tentang calon suami kedua putrinya kelak dengan serius namun tidak membebani. Seorang ibu yang sering menyenderkan badannya, meminta perhatian dari kedua putrinya. Seorang ibu yang mengirim sms berkali-kali dalam sehari untuk mengetahui keadaan kedua putrinya.

Tidak ada yang tahu, mengapa Allah menakdirkan sang introvert untuk pergi merantau. Tidak ada yang tahu, mengapa Allah menakdirkan sang ekstrovert untuk tetap di samping sang Ibu. Selama masa-masa itu... banyak hal terjadi. Sang introvert sadar, bahwa ia begitu buruk menjaga komunikasi dengan sang Ibu. Sang ekstrovert, sering marah-marah kalau sang Ibu menyenderkan badannya manja padanya.

Waktu berlalu, roda berputar. Sekarang sang introvert yang berada di sisi Ibunya, sedangkan sang ekstrovert merantau, mengikuti suaminya yang bekerja di luar pulau. Hikmah, selalu datang diam-diam, menelisip saja ke kalbu manusia, menanti untuk ditemukan.

Sang introvert diam-diam bersyukur, setelah 6 tahun merantau, ia kini bisa berada lagi di samping ibunya. Shalat berjamaah bersama, saling bersandar manja, mendengarkan kecerewetan Ibunya langsung dan bukan lewat pesan yang menumpuk di hape. Ia senang bisa berada di samping Ibunya, berjalan bersama, menemani Ibunya menghadiri majelis ilmu, meski tak banyak kata, tapi berada di samping Ibunya sedikit demi sedikit menghapus luka di hatinya.

Sang ekstrovert diam-diam bersyukur, merantaunya kali ini lebih bermakna. Ia menjadi paham peran Ibu dalam hidupnya, kerinduan yang muncul setiap kali ia di rumah, memori bersama Ibu yang muncul seiring waktunya bersama bayi pertamanya. Rindunya masih bisa diejawantahkan di setiap telpon menjelang magrib, ia selalu tahu pertanyaan dan cerita apa yang butuh ia ungkapkan. Waktu sempit itu memang tidak pernah mampu mengganti saat dulu ia bisa bebas bercerita apa saja pada Ibunya saat masih satu rumah, namun karena pernikahannya, ia jadi paham betapa berharga waktu-waktu yang dulu ia lewati.

Dua Saudari, Dua Karakter dan Seorang Ibu

Semoga ketiganya bisa menjalin silaturahim dengan caranya masing-masing, hingga kelak, dipertemukan lagi di Jannatullah. Aamiin.

Rumpun Aksara + Karya Seorang Teteh = Booster Semangat Menulis

October 14, 2017 0 Comments
Bismillah.

Maaf, kemarin tidak menyempatkan menulis. Draft ada sih, cuma satu dua kalimat dengan judul satu kata *ga ada yang butuh penjelasan ini padahal hehe.

Akhir-akhir ini blog ini banyak diisi dengan tulisan ber-hashtag random, karena saya merasa ada banyak hal random yang berseliweran di otak saya dan meminta saya untuk menuliskannya. Sebenarnya tulisan ini bisa saja masuk hashtag random. Tapi.. saya pikir, ini bisa juga masuk label Menulis, dan Tulisan.

***

Rumpun Aksara

Mulai aktif di tumblr dan mengenal akun tumblr Teh Novie Oktavia, dari sana, kenal Rumpun Aksara yang mengadakan diskusi online via grup WhatsApp, dengan pemateri Teh Novie. Bismillah, akhirnya saya mendaftar, dan mengikuti diskusinya, memberanikan diri bertanya juga. Dua hari atau tiga hari berselang, ada diskusi lagi di grup yang sama. Pematerinya Rere Ariqy Raihan. Di sini, meski baca diskusinya disambi chat dengan orang lain, alhamdulillah dapet banyak pelajaran juga, berani bertanya juga. Bertanya di grup whatsapp seharusnya memang bukan hal yang perlu diacungi jempol, ga perlu keberanian juga, harusnya. Tapi bagiku, beda. Hehe. Maaf skip2, curhatnya di tutup aja.

Diskusi pertama dengan Teh Novie fokus ke motivasi menulis, teknik menulis, tips trik, banyak juga pertanyaan terkait menerbitkan buku. Sedangkan diskusi kedua dengan Rere fokus ke introvert dan mengejawantahkan emosi dalam tulisan yang bermanfaat. Saya yang akhir-akhir ini lebih condong ke introvert, walau tidak menghapus sifat ekstrovert *I think I am an ambivert, jujur banyak dapet manfaat.

Dari Teh Novie, saya diingatkan lagi untuk konsisten menulis. Jangan malu untuk menulis, meski kualitas tulisan kita masih dibawah standar baik. Tingkatkan konsistensi, lalu belajar, in syaa Allah kualitas tulisan juga akan naik. Saya juga diingatkan, bahwa menulis dan menerbitkan buku bukan sekedar percaya diri atau tidak, tapi juga tentang melawan keraguan dalam diri kita. Diingatkan juga, untuk sering-sering konsultasi kepada senior.

Dari Rere, saya diingatkan lagi tentang introvert yang membutuhkan menulis. Butuh dan harus. Bukan lagi sekedar hobi, atau pengisi waktu luang. Selain itu, saya juga diingatkan dan disarankan tips agar menghilangkan introvert dalam membagikan tulisan. Fokus ke tujuan membagi manfaat, jangan mikir yang lain-lain. Diingatkan lagi juga, bahwa setiap tulisan ada pembacanya, jadi jangan takut naskah buku kita tidak bisa diterbitkan hanya karena merasa temanya pasaran.

Saya salut dan ingin mengucapkan terimakasih kepada pengurus/pegiat Rumpun Aksara. Rumpun Aksara basisnya di tumblr dan pernah mengadakan projek menulis metamorfoself. Katanya, di waktu mendatang akan ada projek-projek menulis lain, barangkali ada yang penasaran, silahkan search saja di tumblr. Saya mungkin tidak akan mengikutinya, masih kekeuh urusan seperti ini. Aku lebih nyaman menulis di sini. Sampai nanti, mungkin ada tempat lain saya menulis yang tidak hanya aman dan nyaman di jemari, tapi juga aman dan nyaman di hati. 

Jujur mendengar nama komunitas ini, mengingatkanku pada Aksara Salman ITB, kerinduanku, suasana diskusi di sana, dan banyak hal lain, yang ga bisa saya sebut di sini.

Karya Seseorang


Kyaaa.. maaf heboh. Meski sudah berusaha agak formal dengan menggunakan kata ganti 'saya' dan bukan 'aku', untuk yang kali ini izinkan saya heboh sendiri. Tidak bisa tidak heboh, saat seorang saudari, Teh Indah shalihah, tiba-tiba membagikan kabar gembira tersebut. Jadi ternyata Teh Indah termasuk salah satu penyusun buku berjudul "Muslimah Kece, Cantik Karena Allah" yang diterbitkan oleh Genta Production.

Dari promosi buku di grup, berlanjut ke percakapan pribadi. Akhir-akhir ini hobi Teh Indah adalah menulis, kurang lebih sepertiga dari isi buku tersebut ditulis oleh beliau. Percakapan berlanjut juga dengan nostalgia masa-masa kami satu divisi di suatu organisasi. Organisasi, yang sama-sama kami rindukan.

Oh ya, deskripsi isi buku bisa dibaca di sini. Isinya mayoritas mengenai hijab. Kalau kata teh Indah, buku ini lebih pas dibaca bukan untuk kalangan aktivis. Tapi mungkin bisa dibeli untuk diberikan/hadiah bagi teman. Yang mau pre order, bisa langsung hubungi Teh Indah.^^
Booster Semangat Menulis

Kedua hal tersebut menjadi booster semangat menulis bagi saya. Bukan cuma semangat menulis di sini, tapi juga tempat lain. Dua hal tadi juga, yang mengingatkanku agar berada di lingkaran orang-orang yang punya visi/mimpi yang sama, agar mimpi tidak berhenti jadi angan-angan. Selain itu, juga agar rutinitas menjadi penghapus memori semangat menulis kita.

***

Terakhir.. mungkin pernah, kamu jatuh, semangatmu pudar. Saat itu, mungkin kamu butuh sedikit waktu untuk memulihkan luka, mewarnai kembali semangatmu. Saat itu, mungkin kamu perlu bertemu atau berkomunikasi dengan orang-orang positif, yang keberadaannya, pertemuan singkat dengannya, komunikasi sederhana dengannya, membuat semangatmu terisi ulang.

Semangat berprogres. Mungkin tidak selalu cepat, terkadang lambat, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita tidak memilih berhenti dan mundur ke belakang. Sebenarnya, mundur ke belakang boleh, kalau tujuannya adalah memasang strategi. Jadi ingat sebuah ayat dalam Quran, yang tidak saya hafal nomer surat atau ayatnya. Yang intinya, Allah mengingatkan kita untuk tidak mundur jika berhadapan dengan musuh Islam, kecuali jika hendak menyusun strategi. Ada yang mau bantu ingetin, itu ada di surat apa dan ayat berapa? Makasih.

Semangat! Berlari, berjalan, atau bahkan menyeret langkah. Isi semangatmu, kamu pasti bisa! In syaa Allah. Allah tidak akan memberimu beban kecuali kamu bisa memikulnya. Allahua'lam.