Follow Me

Friday, August 31, 2012

Pahala Akhirat : Absolutely Better

August 31, 2012 0 Comments
Bismillah.. 
"Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (12:57)

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari menulis.
Kau bisa mendapatkan uang yang banyak, seperti JK Rowling yang menjadi kay
a karena novel Harry Potter-nya. Kau bisa menjadi terkenal. Kau bisa mempengaruhi orang, bisa menyuarakan pendapat.

Tapi sungguh, semua itu tidak ada apa-apanya, jika kau bandingkan dengan pahala di akhirat, jika kau menulis karena Allah.

Maka selalu luruskan niatmu, setiap kali hendak merangkai serpihan kata menjadi paragraf tak bernada. Tujukan semua untuk Allah, karena Allah^^

"Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (12:57)

Pahala Akhirat. Lebih baik. Bagi yang beriman dan selalu bertakwa.
Tetap semangat dalam menulis, karena Allah^^
*taken from Menulis Karena Allah

Menulis di Atas Butiran Pasir

August 31, 2012 0 Comments


Bismillah..

Butiran pasir yang terhampar meluas di pantai. Tak terhitung banyaknya. Ibarat pasir, tulisan kita bisa jadi hanya salah satu dari butiran pasir yang terhampar di sana. Kecil dan tak terlihat.

Kini, orang-orang bisa dengan mudah menemukan

buku dan mendapat ilmu darinya. Pun artikel-artikel di dunia maya, bisa dengan mudah kita temukan.

Tapi apakah, itu lantas membuat kita enggan menulis?

Ada benarnya, bahwa sebuah tulisan yang baik bernilai lebih jika semakin banyak orang yang membacanya. Karena jika tulisan kita menjadi jalan hidayah banyak orang, maka manfaatnya akan lebih meluas.

Tapi jumlah pembaca yang sedikit, tidak lantas mengecilkan nilai dari sebuah tulisan. Bisa jadi yang membaca tulisan kita hanya segelintir orang. Hanya kawan dan kerabat dekat. Namun apakah tulisan kita jadi tak bernilai? Bukankah Allah pernah menjelaskan dalam kalam-Nya :

**(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (31:16)**

Yang membuat tulisanmu tidak bernilai bukanlah sedikitnya pembaca, namun niat yang salah.

Yuk luruskan niat! :) Karena Allah
Jangan berhenti menulis! Jangan berhenti menulis... Karena Allah^^
 
*taken from Menulis Karena Allah 

Friendship : A Million Little Things

August 31, 2012 0 Comments
Bismillah..
"Friendship isn't a big thing, it's a million little things!" (unknown)
Jika persahabatan yang dilandaskan pada banyaknya kesamaan, atau tingginya frekuensi bertemu.. Maka sedikit perbedaan, atau sedikit jarak bisa jadi membuatnya rapuh. Tapi jika persahabatan kita landaskan pada keimanan (*karena Allah), maka ia akan menjelma menjadi ukhuwah. Ia tidak rapuh sekedar karena perbedaan fisik, ia tidak renggang sekedar karena jarak yang memisahkan.

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara..." (QS 3:103)

Yang menyatukan hati kita itu Allah^^ Karena kalau bukan Allah, maka siapa lagi? Dia-lah Allah, yang menguasai hati manusia, membolak-balik hati manusia. :) Yuk, revisi lagi landasan persahabatan kita! Agar persahabatan kita tak hanya di dunia yang semu ini, tapi juga sampai nanti di Jannah-Nya. Aamiin :)

Wallahu a'lam

Decrease

August 31, 2012 0 Comments

Bismillah..

Sedih. Miris. Melihat angka yang tertera di archive blog ini. Turun dua kali. Hm. Decrease. Ada apa gerangan?

Kehilangan motivasi kah? Bukan kah sudah pernah ku tulis tentang motivasi terbaik di awal bulan Agustus lalu?

Belum hancurkah belenggu rantai gajah di kepala ku?

***

Mungkin biar blog ini rame lagi, aku post juga beberapa tulisan pendekku di social media. :)
Mungkin hanya beberapa kalimat sederhana, tapi semoga tidak mengurangi nilainya. Semoga bermanfaat, menginspirasi dan memotivasi. Aamiin. :)

Tuesday, August 28, 2012

Dialog, Diskusi Atau Debat?

August 28, 2012 0 Comments
Bismillah..

Dialog. Diskusi. Debat. Tiga kata yang dengan huruf awal yang sama. Unik. Sekilas terlihat sama, sama-sama menggunakan suara, sama-sama melibatkan lebih dari satu pihak. Tapi berbeda, jelas saja berbeda.^^

***

Pagi itu, karena keisengan kakakku.. mau tidak mau ditarik untuk angkat bicara. Meski jujur, aku tidak terlalu suka berdiskusi, berdialog apalagi sampai berdebat atas perbedaan yang ada.

Ini tentang aku dan pendapatku tentang hari ulang tahun, dan tentang pendapat kebanyakan orang.

***

Perbedaan adalah hal yang fitrah. Setiap manusia memiliki keistimewaan sendiri. Kita semua spesial, karena tak ada dua orang yang memiliki sidik jari sama. Maka wajar, jika pemikiran setiap orang berbeda.

Boleh lah kita berdialog, atau berdiskusi untuk saling sharing pendapat. Saling bertukar informasi tentang apa yang masing-masing dari kita ketahui. Tanpa ada emosi yang tercampur aduk. Murni, sama-sama ingin berbicara dan mendengarkan.

Tapi jangan-lah berdebat. Karena ketika kita memilih atau terbawa dalam sebuah debat. Maka seringkali yang maju bukanlah opini kita, tapi lebih ke ego kita. Takutnya, yang kita debatkan, opini yang kita coba pegang teguh, bukanlah sebuah kebenaran, tapi lebih pada sebuah pembenaran.

Dialog. Diskusi. Debat.
Yuuk.. kita coba baca firman Allah :))


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik “(QS An-Nahl: 125)
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali." (QS As-Syura: 10)
simak juga hadist yang satu ini..
Rasulullah SAW bersabda: “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”(HR. Abu Dawud)
***

"Nggak masalah, kita memiliki pendapat yang berbeda dengan mayoritas. Mungkin memang terkesan ekstrim. Tapi bukankah yang terpenting, kita saling menghargai pendapat masing-masing, tanpa menyalahkan dan merasa benar sendiri?", ucapku berusaha mengakhiri dialog, diskusi, dan sedikit debat. Enggan melanjutkan, takut merusak momen seperti ini (*bisa berbincang panjang dengan Ayah).

wallahu a'lam

Sunday, August 26, 2012

Pulang

August 26, 2012 0 Comments
"kamu seneng bel, balik ke bandung?" tanya ia dengan bola mata berkaca-kaca

***


Rumah. Home. Adalah tempat kita kembali, setelah berlelah-lelah di luar sana. Adalah tempat kita kembali, untuk sekedar merasakan kembali hangatnya teh saat buncahan masalah menyerang. Adalah tempat kita kembali, meski keadaan di luar sana seringkali membuat kita lupa untuk pulang.

Euforia pulang ke rumah baru saja usai mengingat libur lebaran Idul Fitri yang berakhir. Tapi justru di saat ini, aku ingin bercerita tentang rumah dan tentang kepulangan kita.

***

Berada di luar rumah, jauh dari rumah adalah sebuah kesenangan sekaligus kesedihan. Jika di rumah, akan ada orangtua yang mengawasimu, di luar sana.. orang tua mempercayakan pengawasannya pada dirimu. Berada di luar rumah berarti membiarkan diri bebas, menikmati manis pahit hidup.

Berada di luar rumah, jauh dari rumah.. berarti membuka peluang untuk lalai akan rumah. Lupa. Lupa, kalau ada tempat untuk kembali. Dan kesibukan demi kesibukan menyita waktu dan pikiran, menyita jiwa dan raga bahkan harta. Dan masalah, dan hiburan, dan manisnya madu, dan pahitnya bratawali, dan tangis sendu, dan gelak tawa. Bertubi bergantian mewarnai hari. Maka lupalah diri bahwa ada rumah yang menanti kita untuk segera pulang. Rumah. Home. Bukan hanya bangunan yang kokoh berdiri, tapi juga orang-orang di dalamnya yang kokoh menanti.

Dan saat senja menyapa, dengan rona jingga miliknya. Pulanglah. Pulanglah. Time is up for today. Let's go home.

***

Maksud hati ingin mengingatkan diri : bahwa sesibuk apapun hari, sempatkanlah untuk pulang. Untuk bertanya kabar ia yang berada di rumah : ibu, ayah, kakak dan adik. Dan handai taulan tentunya.

Maksud hati ingin mengingatkan diri : bahwa seindah apapun dunia, nantinya diri akan pulang. Menghadap padaNya, dengan wajah hina kah, atau wajah berseri?
3. Sungguh, prkataan bahwa mrpkn tempat peristirahatan terakhir hanya pantas diucapkn o/ orang yg tdk myakini Hari Kemudian.  
4. Tidakkah kita ingat firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an surat At-Takaatsur? Allah Ta'ala katakan "Hatta zurtumul-maqabir".
5. Kata bermakna mengungjungi, mendatangi, tapi bukan menetap dan tinggal di dalamnya. Maka, masuk bermakna transit
6. Ada tujuan berikutnya dan merupakan ruang tunggu sebelum kita berangkat ke Padang Mahsyar untuk pengadilan massal.
(Kultwit M. Fauzil Adhim @kupinang)


***

"jika aku boleh memilih, aku lebih suka berada di sini saja, di purwokerto" jawabku meski tanpa suara.

Wednesday, August 22, 2012

Kabar Iman

August 22, 2012 1 Comments

-muhasabah diri-
Bimillah.

Ramadhan telah berlalu, apakabar imanmu hari ini?
Khaifa imanuki ya ukhti? Masih kah ia rimbun dan teduh? TT

Jika pada bulan Ramadhan, semangat kita dalam membaca, belajar, memahami, dan menghafal Al Quran begitu membara. Maka apakah semangat itu masih hadir di hari-hari ini?

:'(
"jika hati-hati itu murni, maka mereka tak akan pernah cukup melafalkan kata-kata Allah (Al Quran)" -Utsman Bin Affan-
TT
astaghfirullah. apakah hari ini kau merasa cukup membaca al quran, hanya karena target harianmu sudah terlampaui?

Rosulullah saw bersabda, “Adapun orang yang menerima catatan amalnya dari tangan kirinya dan dari belakang punggungnya (saat hisab), wajahnya akan menjadi hitam, matanya menjadi berubah,, dia akan dikumpulkan dengan golongannya, badannya membesar, kulitnya mengeras, dan dia meratapi kesialannya ketika melihat buku catatan amalnya. Dia mengenali dosanya yang besar maupun yang kecil, semuanya tercatat dalam buku catatan amalnya. Betapa buruknya keadaan mereka, buruk prasangka mereka, mereka sangat takut dan susah. Kepala mereka tertunduk, mata mereka ketakutan, dan hati mereka gemetar. Mereka memandang ke neraka sebagai tempat tinggal mereka, dan pandangan mereka tidak kembali laagi. Mereka menyadari bahwa mereka akan menerima kehancuran, kebinasaan, dan kesusahan yang berkepanjangan. Mereka mengakui penghambaannya kepada Tuhannya, mereka mengakui dosa-dosanya, dan mengakui bahwa mereka berhak mendapatkan siksa di neraka. Sungguh, mereka mendapatkan murka ALLAH SWT"
 TT
 can't write any words again.

Ya Allah, lindungi hamba, selamatkan hamba dari panasnya api neraka. :'(

Biarkan Kata Menghampirimu

August 22, 2012 2 Comments
Taken from Menulis Karena Allah
“Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika kamu berhasil, teruslah berkarya. Jika kamu gagal, teruslah berkarya. Jika kamu tertarik, teruslah berkarya. Jika kamu bosan, teruslah berkarya.” –Michael Crichton, penulis novel Andromeda Starin dan Jurassic Park—

Jangan karena merasa belum bisa memilih diksi yang pas, lantas kau memilih untuk berhenti menulis, dan lebih suka copy paste kata-kata orang yang sudah terkenal tulisannya.

It's not about how beautiful your words are. Ini tentang menyampaikan kebenaran. Jika yang kau sampaikan itu karena Allah, untuk menyeru orang pada Allah, jangan ragu :) Allah tak akan menilai dari kata yang kau pilih, tak apa tak puitis asalkan dengan cara yg ahsan tentumya.

Teruslah menulis :) Semakin sering kau menulis, kata akan semakin mengenalmu. Jika sekarang kau yang harus mencarinya, nanti ia yang akan menghampirimu.

Semangat menulis.. karena Allah^^

***

Inti dari post tersebut kurang lebih sama seperti tulisan di sini. Jangan biarkan diri diliputi rasa pesimis, Tulisan mu bagus kok. Kalau pun tidak bagus, memangnya kenapa?

:))

Sunday, August 19, 2012

Memaafkan

August 19, 2012 2 Comments

Bismillah..
Jika ada kata kerja yang diklasifikasikan 'susah' untuk dilakukan, aku yakin kata 'memaafkan' pasti masuk dalam kelompok kata itu.

Memaafkan, adalah pekerjaan hati. Ia bukan sekedar pekerjaan lisan. Karena saat luka tergores, jika tak diobati, ia akan menganga, dan pasti timbulkan perih tak berperi jika suatu saat harus ditutup. Karena saat rasa kecewa menyelimuti, jika tak segera disingkap, ia akan menjalin erat, membuat diri enggan keluar darinya.

Memaafkan, adalah pekerjaan hati. Lebih sukar ketimbang meminta maaf menurutku. Untuk meminta maaf, kita hanya perlu keberanian dan inisiatif, selanjutnya terserah yang dimintai maaf. Tapi memaafkan, berarti melapangkan dada, memberi sedikit ruang di hati kita.

***

Memaafkan -.- mungkin memang sulit. Tapi Allah menyuruh kita untuk memaafkan.
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuura: 43)
***

Nabipun mencontohkannya. Uswatun hasanah kita, Rasululullah Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam telah memberikan teladan yang sempurna tentang memaafkan. Sempat kan diri membaca kisah hidupnya, dan kita akan terkagum. Pada akhlaknya yang begitu memukai. Pada sifat pemaafnya, yang entah bagaimana Rasulullah memiliki dan melakukannya.

Bagaimana hati tidak tergetar untuk memaafkan, saat membaca dialog ini?
“Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

Jawab Rasulullah SAW, "Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun."
Bagaimana hati tidak tergerak untuk memaafkan, saat menyimak kisah Rasulullah tersebut?
Sungguh, semoga salam terlimpah padanya, Muhammad Ya Rasulullah :) Seseorang yang bisa begitu mudah memaafkan, bahkan melupakan kesalahan yang orang perbuat kepadanya. Seseorang, yang penuh kasih sayang.. hingga di akhir hayatnya, yang ia pikirkan adalah umatnya. TT
***
Memaafkan.. jangan hanya dilakukan setahun sekali. :) I know it's hard, tapi BISA kan? hehe (*baca di sini).
Memaafkan, sebuah kata kerja. Maka ia hadir untuk dikerjakan, bukan sekedar dilafalkan. Semoga Allah memberi kita kemudahan dalam memaafkan orang lain. Semoga Allah meluaskan hati kita, agar setiap luka dan kecewa yang pernah membekas tak membuat ia (baca: hati kita) sempit. Aamiin.
***

Akhir kata,
Ijinkan hati meminta maaf, atas segala khilaf dan salah yang pasti pernah menoreh luka.
Ijinkan pula hati untuk memaafkan, segala khilaf dan salah -mu yang mungkin pernah bersemayam di hati.
Taqoballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Happy 'Ied :)
-Isabella Kirei-
Wallahu a'lam.

Saturday, August 18, 2012

Gema Takbir Ini

August 18, 2012 0 Comments
Gema takbir ini,
mengalun saja merdu
menelisik dan mengetuk pelan
gendang telinga

Gema tahlil ini,
mengalun saja merdu
diiringi suara bedug yang bertalu
masih mengetuk ramah gendang telinga

Gema tahmid ini,
mengalun saja merdu
merambat dan menggetarkan gendang telinga
selalu lembut terdengar

Dan semesta mengagungkan asma-Nya
dan semesta men-tauhidkan asma-Nya
dan semesta memuji asma-Nya

Allahu akbar.. 3x
Laa ilaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd..

Wednesday, August 15, 2012

Meragukan Diri, Menengok Hati

August 15, 2012 0 Comments

-muhasabah diri-

Bismillah..
Jujur aku takut, teramat takut untuk sekedar menulis satu paragraf bertema Ramadhan. Jika kau bertanya mengapa, jawabku mungkin hanya gelengan kepala. Nothing. I just can't tell you the detail.

***
Ramadhan ini, tentu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaannya adalah, apakah perbedaan yang ada lebih ke arah positif, atau? Tak berani aku melanjutkan pertanyaan tadi pada diri. Takut mendengar yang kedua sebagai jawabannya.

Tinggal tiga hari lagi, insya Allah Ramadhan akan berakhir. Sudahkah kau menggunakan waktu yang tersisa untuk ibadah terbaik? Atau kau justru disibukkan dengan hal-hal duniawi nan semu, tentang baju lebaran, kue lebaran, buka bersama yang justru membawa lebih banyak mudhorot?



Apakabar imanmu hari ini? Apakah ia lebih kokoh dari hari-hari sebelumnya? Sudah siapkah diri melangkah keluar dari bulan Ramadhan dan menyongsong sebelas bulan lainnya?

Ramadhan ini adalah bulan tempat hati, jiwa dan raga ditempa, dilatih dan dipersiapkan. Agar kelak di sebelas bulan lain, kita dapat bertahan dan istiqomah. Agar kelak di sebelas bulan lainnya, kita tak mudah goyah lantas tumbang dihempas ujian demi ujian.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (2:183)

"Agar kamu bertakwa", sudahkah diri bertakwa setelah hampir sebulan penuh kita berpuasa? Sudahkah diri mematuhi semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya? Jika dirasa belum, bolehlah meragu pada diri. Bagaimana puasa kita yang hampir sebulan itu? Apakah hanya sekedar menahan haus dan lapar? Jika dirasa belum, bolehlah bertanya pada diri. Bagaimana kabar target Ramadhan yang dengan semangat kau rancang di awal? Apakah sudah bisa tercapai, atau sudah lupa pernah membuatnya?

Ramadhan tinggal menghitung hari? Relakah kau membiarkannya pergi begitu saja? Boleh jadi ini Ramadhan terakhirmu. Karena, "Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. 3 : 185).
 
***

Jujur aku takut, menulis kata demi kata ini. Tapi jika tidak kutulis, aku jauh lebih takut lagi. Mengatakan yang tidak kita lakukan itu dimurkai Allah, tetapi mengatakan kebenaran itu sebuah kewajiban. Maka ijinkan tulisan ini sebagai muhasabah diri, sebagai cambuk untuk hati, agar tak lengah, agar selalu tertuju padaNya.

Wallahu a'lam.

Rantai Gajah di Kepalamu

August 15, 2012 3 Comments
Bismillah..
"Ada rantai gajah di kepalamu," tandasmu tanpa basa-basi. Aku terpekur sejenak, kemudian balik bertanya -barangkali aku salah dengar-

"Ada rantai gajah di kepalaku?"
yang ditanya hanya mengangguk pelan.

***

Ini tentang persepsi, yang sering kali menghalangi diri untuk melangkah, berlari dan melompat. Tentang persepsi, yang menghambat laju kesuksesan kita.

Bukan sekali dua kali, teman yang kuajak dan kumotivasi untuk menulis menjawab dengan pernyataan pesimis macam 'aku nggak bisa nulis' dan  'tulisanku jelek'. Jawaban yang senada yang sering kujawab ketika ada yang tanya 'kenapa nggak di share?'.

Persepsi adalah apa yang terbentuk di pikiran kita, ia bukanlah kenyataan yang ada. Hanya berkisar kekhawatiran yang kita rasakan.
"Kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar, hanya dirimu yang mengerdil. " (Salim A Fillah)
Persepsi itu ibarat rantai gajah, kalo kata Kang Irfan (Aksara, trainer PMJ). Tapi, ia berada di kepalamu.

***


Alkisah, tertangkaplah seekor gajah liar. Segera sebelum sang gajah terbangun karena efek obat bius yang habis, si pemburu pun memasang rantai besar dan kuat di kaki gajah. Rantai itu, bukan rantai yang biasa kita temui di rumah-rumah. Tapi rantai khusus, rantai yang tidak putus sekalipun ditarik dengan kekuatan gajah.

Gajah liar terbangun, mendapati dirinya di tempat asing, sendiri tanpa teman-temannya. Ia kemudian mencoba berjalan, namun sayang sebelah kakinya terikat sesuatu. Secara naluriah, ia pun berontak dan mengamuk. Hanya kelelahan yang membuatnya berhenti mengamuk dan tertidur. Untuk makan, si pemburu telah menyediakan makanan tak sedap untuk menjaga agar gajah tersebut tidak mati.

Kejadian gajah mengamuk ingin pergi berulang setiap gajah tersebut terbangun dan menyadari ia tak seharusnya berada di sana. Hingga tiba suatu saat, ia (gajah) terbangun, tapi tak berontak, tak lagi berusaha untuk lari. Ia hanya mencari-cari makanan yang biasa disediakan oleh si pemburu. Sejak saat itu, si pemburu melepas rantai di kaki sang gajah dan menggantinya dengan seutas tali biasa. Sebuah tali tak istimewa tak juga kuat, yang bahkan dengan kekuatan manusia bisa dengan mudah putus.

Tapi, sang gajah tak pernah menyadarinya. Ia tak pernah mencoba lagi untuk lari setiap terbangun dari tidurnya.

***

"Rantai gajah itu berpindah ke kepalanya," begitu tutup trainer PMJ mengakhiri kisah rantai gajah.

Mungkin bukan yang pertama kali kita mendengar, membaca kisah di atas. Mungkin saja ada yang berbeda, beda versi, tapi inti pesan yang disampaikan hanya satu. Tentang hambatan persepsi yang seringkali membuat kita tidak jadi melangkah. Seperti gajah tadi. Padahal jika ia mau melangkah dan berlari, maka ia sudah bisa bebas, sudah bisa menyusul temannya.

Kita, seperti gajah tadi. Tidakkah kita sadar, ada rantai gajah di kepala kita. Yang membuat kita ragu, khawatir lantas memilih untuk tidak melakukan sesuatu hanya karena persepsi negatif di kepala kita.

Sungguh, menulislah! Meski persepsi 'tidak bisa menulis' merantai kepalamu.
Sungguh, menulislah! Meski persepsi 'tulisan ku jelek' menjerat kepalamu
Sungguh, menulislah! Meski persepsi 'aku tak punya bakat' membuat jemarimu kaku.

Menulis itu bukan soal bakat atau tidak bakat. Percayalah, aku pun tak punya bakat di sini (di bidang tulis menulis). Menulis itu sebuah ketrampilan. Maka semakin sering kau menulis, semakin sedaplah tulisanmu untuk dibaca. Menulis itu sebuah ketrampilan, maka bagaimana tulisanmu mau enak dibaca, bagus dan menarik jika kau terus menahan jemarimu untuk menari dan menorehkan tulisan?

Yuk.. sama-sama memutuskan rantai gajah di kepala kita. :))
dan mulailah menulis.


Memang tak mudah, mengubah persepsi yang terlanjur terbentuk. Memang tak mudah mengubah persepsi bahwa rantai itu sebenarnya ada di kepala kita, bukan di kaki kita, apalagi di jemari kita. Rantai itu ada di kepala, tak nyata, tak kuat. Ia lemah, kalau saja kita mau mencoba melangkah. Ia lemah, kalau saja kita mau mencoba menulis.

***

untuk diri : rantai gajah masih ada di kepalamu. Masih ada jika saat ini kamu masih saja enggan berbagi, masih enggan nge-share tulisan-tulisan di sini pada sesiapa. Masih ada, sekalipun kau beralibi ini itu tentang hal ini.

"hei Bella, terus emang kenapa?"
>.<

Wallahu a'lam

Menginspirasi dengan Satu Klik

August 15, 2012 0 Comments
Bismillah..

"Tahu nggak cuma dengan satu klik kamu bisa menginspirasi?" begitu kurang lebih kata seorang trainer di PMJ (Pesantren Media dan Jurnalistik).

***

Satu buah klik saja. Kamu tidak harus pintar merangkai kata. Tidak harus jago nge-desain. Tidak mengharuskan kita punya keahlian-keahlian macam nge-desain, membuat komik, atau sekedar mengedit foto.

Satu buah klik saja. Apa itu? :)) Like. Ya, sebuah like. Sebuah like bisa menginspirasi jika kita berikan untuk postingan yang menginspirasi, baik itu status, gambar, maupun catatan. Mengingat, posting yang muncul di home facebook adalah postingan yang paling banyak like-comment-nya, juga yang terbaru. Juga, teman dekatmu akan melihat apa saja yang kamu like. Sekedar satu klik, yang mungkin terkesan remeh.. tapi ternyata bisa membuat oranglain terinspirasi.


***

Berbagi, menginspirasi.. somehow menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pelaku. Maka untukmu yang merasa tidak memiliki hal yang 'wah' untuk dibagikan, merasa tidak memiliki hal yang 'wow' untuk bisa menginspiirasi, jangan keburu patah arang. Tetaplah jaga keinginan untuk berbagi dan menginspirasi. Lakukan saja hal kecil, yang mungkin menurutmu tidak bisa menginspirasi. Lakukan saja, selama menurutmu itu baik. Insya Allah semua takkan sia-sia kalau kau niatkan karena Allah.

Cuma satu klik, tapi bisa menginspirasi. :) Ayuuk.. jangan pelit-pelit jempol jika melihat posting baik dan bagus untuk dibaca. Daripada ngelike status galau, mending kita ngelike status/posting yang bisa menginspirasi. Yang bisa mengingatkan kepada Allah. :) Dan luruskan niat^^ insya Allah satu klik tak akan sia-sia. Insya Allah.



Wallahu a'lam.

Saturday, August 11, 2012

Tak Sampai Di Sini

August 11, 2012 0 Comments

Bismillah...

Jika tidak bertemu denganmu, berjabat tangan dan berjalan beriringan denganmu, mungkin aku tak akan sampai di sini.

***

I'm not talking about someone. Ini tentang komunitas, organisasi atau keluarga yang kita pilih untuk berjalan bersama.

Rohis Ulul Albab, atau biasa di singkat menjadi Rohis Ulba adalah salah satu organisasi/ekskul yang aku ikuti di SMA Negeri 1 Purwokerto. Di awali dengan first impression yang asik, lewat SBR (Sehari Bersama Rohis), aku tertarik untuk bergabung dan mendaftar menjadi pengurus. Ada saat dimana aku jadi pengurus yang ogah-ogahan (baca: tidak aktif), tapi ada juga saat dimana tak bisa aku menjauh -mengingat amanah yang dibebankan padaku-. Majelis IK (Ilmu dan Kreatifitas), divisi yang jobdesk utamanya membuat majalah dan buletin :)

Ada terlalu banyak cerita, yang jika kuurai di sini mungkin hanya membuat orang lain menguap bosan. Maka ijinkan aku menulis tentang komunitas/organisasi serta pengaruhnya bagi diri kita.

***

Teman bermain, teman belajar, teman tertawa, teman menangis. Dan komunitas, dan organisasi. Dan diri yang merupakan makhluk sosial, menjadikan mereka yang berada di sekitar kita bisa dengan mudah mempengaruhi kehidupan kita. Dan diri yang merupakan makhluk sosial, menjadikan mereka yang sering berinteraksi dengan kita, memberi warna pada sifat, sikap dan kepribadian kita.

Memilih bergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi, artinya mempersilahkan orang lain mempengaruhi hidup kita. Dengan bergabung dengan komunitas/organisasi, kita belajar untuk terbuka, dan memahami perbedaan demi perbedaan yang ada. Pasti pernah muncul gesekan-gesekan yang menimbulkan panas, bahkan bisa jadi percikan api. Tapi dari situasi tersebut kita belajar untuk tidak egois, tidak melulu mengedepankan sifat diri.

Memilih bergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi, artinya kita siap berbagi dan dibagi. lho? hehe. Maksudnya, kita harus mau memberikan sesuatu kepada komunitas, maka insya Allah akan ada sesuatu yang bisa kita dapat.


Bagi yang belum memilih untuk gabung di organisasi/komunitas.. cobalah memberanikan diri dan membuang rasa malasmu untuk membuka diri. Percayalah, akan ada banyak hikmah yang kau petik saat bergabung dalam komunitas/organisasi, insya Allah.

Karena komunitas/organisasi begitu berpengaruh dalam hidup kita. Maka yuuk.. pilih komunitas/organisasi yang baik. Pilih yang tidak hanya sesuai dengan minat kita, tapi juga bisa mengajak kita pada kebaikan. Bisa memberi pengaruh yang baik pada kita. Syukur-syukur, komunitas/organisasi itu bisa membantumu mendekatkan diri kepada Allah. :) Lumayan dapet obat hati. Karena berkawan dengan mereka yang sholeh dan sholehah, adalah salah satu obat hati.

Wallhu a'lam.


Gombal Mode : ON

August 11, 2012 0 Comments
Bismillah..

"Alhamdulillah ketemu," spontan kuucapkan kalimat tadi saat melihat benda itu terkait di kerudung abu-abu milikku. :) sedetik kemudian, aku pun tersenyum. lalu menertawakan diri dalam hati, 'tuh kan, nggak boleh ngambil kesimpulan terlalu cepat'. hehehe :P

dan satu hal lagi yang ku sadari, aku sudah terlanjur mencintai mereka. dan tak ingin berpisah kiranya. aku mencintai mereka, walau aku tak ingin selalu berjalan beriring mereka. tapi untuk berpisah? sepertinya hatiku masih berat -.-



***


aku tergelitik untuk menulis, sungguh kelewat tergelitik..
ijinkan ku kutip tulisan seseorang di sebuah grup :

Divo Afif
‎[Curhat]
ASCII 2011!!
Izin curhat! Jadi begini, awalnya gw masuk STI dan mendaftar SPARTA dengan sangat berat hati,karena jujur, temen sepermainan gw TPB adalah di tetangga sebelah, dan jujur,ga nyampe 20 orang yang gw kenal banget di peserta SPARTA, trus gw sering mikir, masuk himpunan ini akan berteman dengan orang2 cinta ngoding, jarang komuniasi, dan menjadi lebih introvert lg, itu lah first impression gw, Day 0~ Day 1~ Day 2~ ga ada hal yang ngerubah first impression gw, keadaan itu diperburuk dengan penyakit laknat yang sangat terkenal itu, sebutlah Dislokasi, beberapa hari sebelum Day 7 gw udah bisa masuk,dan gw mengerjakan tugas buku perkenalan ASCII, disitu gw bener2 merasa temen2 gw udah jauh lebih kompak dan lebih akrab, tapi gw? gw tetep ga deket dan ketinggalan banyak hal,ban
yak cerita,dan kayak gatau apa2, itu sempet bener2 ngebuat gw males ikutan ngumpul dengan ASCII,dan sangat minder, Day 7~ Day 8~ Day 9~ first impression gw diperburuk dengan perasaan ga gw kalo gw di anggep di ASCII, karena gw sering gabisa ikut ngobrol karena gatau apa-apa sih, tapi! setelah Day 9~ gw memutuskan untuk maju,dan mencoba mendekatkan diri sama keluarga gw selama 3 tahun kedepan, gw mulai hal itu dengan dateng semua kumpul angkatan, ngomongin tugas,forum2 gajelas,ikut ngerencanain buka yang gagal terus,kemarin ngmgin RABUN (yang bikin namanya nih #ehm) ngerjain tugas buku panitia dengan segenap hati,ngebantuin teman2 yg belum, semuanya gw lakuin dengan penuh semangat dan cinta (kecuali translate), dan apa hasilnya?
CUMA 2 MINGGU!! cuma se sebentar itu waktu yang di butuh kan ternyata, untuk gw buat benar2 jatuh cinta dan merasakan kehangatan keluarga ini, jujur, first impression gw berubah 540 derajat, dan gw bener2 pengen ngumpul lg,dan ngumpul terus,ngomongin apapun dari tugas sampe cuma dengerin alif ngomong yang ga jelas juga gw mau, dan gw bener2 nyesel se nyesel2 nya nyesel orang nyesel gaikut RABUN ASCII :''' tapi sokay,semoga setelah ini akan diadakan terus,cuma beda nama karena ga ada "BU" nya, dan lebih rame lg!!
Kawan, kalian harus tau, mengingat perjalanan kita yang sudah sangat dekat dengan puncak, gw bener2 nyesel baru bisa deket dengan kalian di akhir2 ini, tapi ingat kawan, tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi keluarga, dan ingatlah kawan,ke keluarga an kita bukan untuk SPARTA tapi untuk hidup dan mati kita,jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama,keluarga tidak hanya bertahan dan tetap ada karena suatu peristiwa, keluarga akan selalu ada dan membuat peristiwa itu berarti, ayo kawan, genggamlah tanganku, bergandengan kita terus maju

P.S. : Jangan nunggu dirangkul,berusalah mendekat pada keluargamu,sesungguh nya jika menunggu di rangkul,maka itu bukan keluarga,keluarga ada adalah karena kemauan kita,kalau dari tarikan orang lain,kita di adopsi nama nya, gw belajar ini dari F*a**to*ni
Sorry for the super long post ya!! Terserah mau dibaca apa engga,gw cuma curhat :p

Bismillah.. they’re talking about sparta. And how it changes everything in their life. Their perception, their way of thinking, their spirit, almost everything. Dan aku? Tak bisa kubilang tidak, kalau sparta memberi banyak perubahan dalam hidupku. Dan keluhan-keluhanku, dan tangisku, dan keinginanku untuk pergi, dan kejadian ajaib hingga aku sering hadir sparta (walaupun sering pula aku tak hadir), dan keputusanku saat ini untuk menjauh, dan slayer yang sempat menghilang, dan perasaan lega saat ia (slayer) kutemukan, dan semua tentang ASCII.

Kutipan di atas tak mempengaruhi keputusanku untuk mundur teratur dan menjauh. Tidak pula menjadikanku menyesal karena nggak bisa dateng rabun. Tidak pula menjadikanku semangat berhimpun dan mengerjakan tugas sparta. Tidak pula menjadikanku rindu ke-GJ-an kumpul ASCII.

Tapi terlepas dari semua itu, aku tidak memungkiri aku sama-sama jatuh cinta pada ASCII seperti yang diungkapkan orang di atas. Jika ia jatuh cinta pada ASCII di day dekat-dekat akhir. Maka aku mencintai ASCII di awal keberjalanan ASCII. Aku menikmati tawa canda bersama ASCII, walau tak urung aku dibuat kesal karena sistem kerja kalong anak-anak ASCII. Aku menikmati kegokilan demi kegokilan ASCII, walau tak jarang itu juga buatku tidak nyaman berada di antara mereka. Ada yang tak seharusnya terjadi diantara aku dan ASCII. Aku memang tertawa dan tersenyum geli melihat segala kekocakkan ASCII, tapi aku tak bisa berlama-lama tertawa di sana. Karena aku tak suka detikku dihabiskan hanya untuk tawa canda yang berlebihan. 


 Aku mencintai ASCII, tapi somehow aku tak ingin terlalu dekat dengannya. Mungkin lebih baik begini (hahayy  L melankolis tenan). Biarlah aku mencintai ASCII dengan caraku sendiri. Mereka tak perlu tahu. Cukuplah mereka memandangku sebagai orang yang kalah di akhir kisah, pergi dan menjauh tanpa kabar yang jelas, kecuali alibi bahwa aku seorang yang sibuk. Cukuplah mereka memandangku sebagai orang yang aneh bin ajaib, karena aku lebih banyak menyembunyikan diriku. Dan sekalipun mereka melihatku, maka mereka akan menerka aku seorang stranger.

Ijinkan aku berpuisi untuk ASCII, lewat sajak-sajak Sapardi :

aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
***



Friday, August 10, 2012

Kesimpulan Cepat, Tepatkah?

August 10, 2012 0 Comments
Bismillah..

Aku sudah bersiap, tinggal mengenakan sepatu dan bergegas menuju suatu tempat. Tiba-tiba aku teringat satu barang yang harus kubawa. Segera kuperiksa jaket yang kemarin kupakai, tidak ada. Lalu dimana?

***

Seharusnya, kita tidak boleh asal mengartikan sebuah kejadian dengan pandangan jarak dekat. Tidak pikir panjang. Saat ingin sedekah, namun uangmu tertinggal; tidak berarti kamu memang ditakdirkan untuk tidak bersedekah. Saat berniat puasa, namun kamu tidak terbangun untuk sahur; tentu tidak berarti kamu memang ditakdirkan untuk tidak puasa. Dan ada lebih banyak contoh kejadian, yang seringkali kita (lebih tepatnya aku) judge sebagai sebuah takdir. Padahal bisa jadi ia hanya kerikil kecil yang mempertanyakan niat kita, mempertanyakan kesungguhan kita.

Seharusnya, kita tidak boleh asal mengartikan sebuah amal dari berat atau ringannya. Lantas menganggap diri belum bisa melakukan yang lebih berat hanya karena hal lain yang lebih ringan belum bisa diistiqomahkan. Maka saat kau belum bisa shalat tepat waktu, jangan lantas menjadikanmu meninggalkan shalat rawatib. Maka saat kau belum bisa tilawah 1 halaman sehari, jangan lantas menjadikanmu meninggalkan mentadaburi ayatNya.

Intinya.. jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan atas kejadian-kejadian yang kita alami. Bagus sih, kalau bisa mengambil kesimpulan dalam waktu yang singkat. Tapi, kalau salah? Bisa berabe. Sesekali merenung dan diam sejenak. Pasti ada alasan lebih logis mengapa hal itu terjadi. Pasti ada hikmah tersembunyi mengapa hal tersebut menyapamu.


***
Sampai detik ini, barang yang kucari di atas belum ditemukan. Somehow dengan nakalnya aku berpikir.
"mungkin ia memang ditakdirkan menghilang, agar aku bisa beranjak dari sana" :P 

Wallahu a'lam

Wednesday, August 8, 2012

Hikmah di Sekitar Decit Printer

August 08, 2012 0 Comments

Bismillah... 

Lembar demi lembar kertas keluar perlahan dari sebuah printer dengan decit khas miliknya. Deretan huruf dan spasi terjajar rapi membentuk paragraf demi paragraf, tercetak di atas kertas tadi. Ini ketiga kalinya aku harus mencetak surat yang sama dalam satu hari. Kiranya kertas bertuliskan surat undangan ini bisa segera di tandatangani dan segera dikirim ke tujuan, ternyata masih ada beberapa kesalahan yang harus diperbaiki.

Sedikit geram dan kesal memang, saat pertama kali merasakan menjadi sekertaris dan harus mencetak ulang sebuah surat sampai berkali-kali.

***

Satu hari penuh nampaknya belum cukup untuk mengurus surat undangan acara STB (Silaturahim Tokoh Bangsa). Jumlah surat yang dibuat memang lumayan banyak, sekitar seratusan lebih, namun masih kurang dari dua ratus.

Mungkin sekilas terkesan mudah, tinggal memeriksa surat kemudian mencetakk, tapi kenyataannya? :P hehe. Here are some lesson i get from becoming a secretary at STB.

Teliti
Lihat dengan seksama. Selusuri kata demi kata, karakter demi karakter. Kesalahan bisa muncul di mana saja, dibagian yang kita kira tak mungkin terlewat.

Sabar
Salah-salah terus? Harus berulang kali memperbaiki? Pasti ada rasa jenuh, kesal dan mungkin geram. Tapi cobalah untuk bersabar. Tak ada yang bermaksud untuk mengerjaimu. Bisa jadi memang dirimu yang salah dan kurang teliti. Jika sudah agak jenuh, tarik nafas perlahan dan luruskan niat.

Mendengarkan
Mendengarkan adalah ketika bukan hanya telinga yang terbuka, tapi juga hati. Mendengarkan artinya tidak membiarkan pesan demi pesan masuk telinga kanan lalu keluar di telinga kiri. Tapi meresapi dalam hati. Karena setiap kritik atau masukan yang ditujukan pada kita, adalah untuk kebaikan diri kita.


***

Printer dihadapanku menggerung keras, tak lagi berdecit seperti yang biasa ia lakukan. Suaranya parau, membuat setiap telinga yang mendengar khawatir. Termasuk aku yang kini menahan nafas menunggu sebuah kertas keluar dari mulutnya. Aku menghela nafas pelan, saat melihat garis yang seharusnya menyambung itu terputus-putus. Sudah lebih dari tiga kali ku-maintain printer di hadapanku, tapi tak kulihat perbedaan yang berarti. Ku tekan tombol on/off di ujung kiri badannya, 'mungkin ia lelah, take a rest then'.

Wallahu A'lam