Follow Me

Monday, February 19, 2024

Buah Simalakama

February 19, 2024 1 Comments

Bismillah.

#opini



Ada yang masih ingat tentang peribahasa buah simalakama? Buah yang dimakan atau tidak, dua-duanya sama-sama buruk buat kita. Ibarat terjebak, tidak bisa maju, juga tidak bisa mundur.


Bagiku, demokrasi, bak buah simalakama. Itulah mengapa aku sedikit banyak membenci politik. Bukan karena politiknya, tapi karena aku seringkali dibuat pusing jika mulai memikirkannya.


Aku teringat awal-awal mengenal politik. Bukan, bukan langsung ke ranah politik negara. Tapi lewat politik kampus. Kubu depan dan belakang, kubu timur dan barat.


Aku juga teringat pertama kali aku dihadapkan realita bahwa islam itu seolah terkotak-kotak dalam organisasi/harokah. Aku tidak bisa lupa saat aku menangis karena merasa dipaksa harus memilih kelompok. Terlebih aku mendengar curhatan teman, saat ia sudah memilih, dan perubahan sikap senior dari 'kelompok' lain. Saat itu aku masih belum banyak tahu, yang aku tahu aku merasa terpojok, dan pilihanku adalah lari. Tidak memilih salah satu pun dari keduanya. Alhamdulillah saat itu aku bertemu ustadz yang bijak, beliau menjelaskan awal mula mengapa terjadi 'perpecahan tersebut'. Tentang hadits muslim yang terbagi menjadi 72 golongan, lalu tentang pembagian zaman menjadi lima masa. Cita-cita yang sama ingin meraih kembali masa saat Islam berjaya dan menjadi pemimpin. Serta perbedaan cara untuk meraihnya. Singkatnya itu.

 

Dan karena sekarang demokrasi yang digunakan untuk memilih pemimpin, terbagilah jadi dua. Yang memilih berjuang dengan masuk ke dalam sistem, dan yang memilih berjuang di luar sistem. Masuk dalam sistem di sini maksudnya ya, ikut nyaleg, masuk ke partai, dll, dst. Di luar sistem, ya selain itu. Belum lagi perbedaan pendapat saat tahun pemilu, ada yang memilih, ada yang golput, ada yang abai/cuek.

 

Jujur, aku sebenarnya agak anti dengan politik. Padahal kan dalam hidup kita gak bisa lepas dari politik ya? Mungkin bukan anti diksi yang tepat. Aku hanya tidak suka saat kepalaku dibuat pusing akan permasalahan yang terus menerus muncul di politik. Kecurangan-kecurangan. Sikap yang terlalu berpihak tanpa mendahulukan rasionalitas. Debat-debat tak berujung. Dan masih banyak hal lain.

 

Demokrasi bagiku bak buah simalakama. Memakannya salah, tapi tidak memakannya juga salah. Dan kalau sudah bingung kaya gini, kita tidak bisa sekedar mengikuti perasaan, atau ego pribadi. Harus mau mendengarkan, membaca dan berdiskusi lebih banyak. Dengarkan pendapat para ulama, atau orang-orang yang lebih berilmu. Kemudian baru memilih sikap.

 

***

 

Terakhir, saat kita merasa dunia begitu gelap dan sistem demokrasi yang seperti buah simalakama ini membuat kita tak berkutik, kembalilah kepada Allah, Rasul-Nya, dan Al Quran. Bukankah setiap pagi dan sore Allah menyarankan kita untuk membaca ayat-ayat terakhir Al Baqarah?

 

Seperti malam yang berganti pagi, dan siang yang berganti malam, seperti itu juga kekuasaan Allah pergulirkan di tangan manusia-manusia. Jangan putus asa, dan bergantung pada buah simalakama. Tetap pegang erat iman kepada Allah, meski seperti menggenggam batu bara. Lalu lanjutkan langkah kita, perbaiki terus diri kita, bangun keluarga yang baik. Nanti dari keluarga-keluarga itu akan terbentuk masyarakat yang baik pula.

 

Aku teringat sebuah kutipan meski lupa dari siapa, tentang masalah sistemik, yang solusinya juga harus sistemik. Kau tahu artinya apa? Artinya, kita harus bekerja sama dan bahu membahu, bukan malah berpecah belah dan saling menyalahkan. Kalau kita semua balik dan fokus mempelajari Al Quran dan sunnah, dengan izin Allah, hati kita akan Allah satukan juga. Toh tujuan kita sama kan? Jangan jadikan perbedaan sebagai pemecah. Saat Allah menciptakan manusia menjadi laki-laki dan perempuan dan menjadi bangsa-bangsa, perbedaan itu.. tahukah apa yang ingin Allah ajarkan lewat perbedaan itu? Cek Al Hujurat! Supaya kita saling mengenal dan saling belajar dari kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Jadi, saat kita dihadapkan dengan buah simalakama, semoga kita tidak lupa pada pencipta buah simalakama. Saat Allah menakdirkan kita berada di sini, di saat ini, dengan segala keruwetan situasi ini, sebenarnya ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Semoga Allah memudahkan kita untuk melewati ujian ini, sehingga nanti saat bertemu dengan-Nya, kita termasuk orang-orang yang lulus ujian di dunia, ujian apapun, termasuk ujian buah simalakama ini.


Wallahua'lam bishowab.


***


Keterangan : Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Monday, February 12, 2024

Jarak Antara Biji dan Pohon yang Berbuah Manis

February 12, 2024 0 Comments

Bismillah.


 

Beberapa waktu belakangan ini, aku banyak memikirkan tentang jarak antara ilmu dan amal. Jarak antara biji menjadi pohon yang berbuah manis. Ada banyak waktu bertumbuh dan berproses yang aku tidak bisa bersabar. Rasanya seperti lebih lambat dari seekor siput.


Aku teringat buku-buku yang pernah kubaca, kemudian aku berkaca dan berusaha jujur pada diri. Berapa persen biji yang sudah ditanam dan tumbuh menjadi benih, berapa banyak yang layu, adakah yang masih bertahan dan mulai tumbuh tinggi dan berkambium? Adakah yang benar-benar menjadi pohon dan mulai berbunga? Adakah yang bertahan diterpa badai dan masih berbuah. Jikapun berbuah, apakah ia manis? Seperti jeruk? Semoga bukan buah Raihanah.


Aku bertanya-tanya, tentang buku yang kubaca saat masa-masa gelap dalam hidupku. Saat menulis ini, aku teringat 3 buku:

 

1. The Life-Changing Magic of Tidying Up- Marie Kondo

2. Amalan Penghilang Susah (: - Musthafa Sheikh Ibrahim Haqqi

3. 7 Habits of Highly Effective People - Stephen R. Covey


Sudah 5 tahun sejak buku-buku itu kubaca, apa kabar pada biji yang pernah kutanam? Benarkah sudah kutanam? Jika ada yang benar-benar ditanam, adakah yang sudah tumbuh menjadi pohon berusia 5 tahun?


Yang Berubah


Satu hal yang alhamdulillah berubah adalah mindset atau perspektif dalam melihat 3 topik di atas.

Pertama tentang topik bersih-bersih, dan kaitannya dengan mengubah hidup.

Baca juga: Berbenah yang Mengubah Hidup

Kedua tentang pandanganku terhadap kesedihan, bagaimana kondisi iman sangat mempengaruhi bagaimana sikap kita pada perasaan yang pasti aku kembali kita rasakan lagi dan lagi dalam hidup. Belajar ulang mengenal Allah lagi dan mengamalkan amal-amal "kecil" yang seperti janji Allah, kalau kita mau melakukannya dengan tulus, Allah pelan-pelan akan hapus kesedihan kita.

Baca juga: Quote Tentang Istighfar

Dan yang terakhir tentang topik 7 kebiasaan baik yang harus kita ulangi terus dalam hidup.

Baca juga: Daun - Akar; Perilaku - Cara Pandang  


Bagaimana dengan yang lain?

 

Tapi selain mindset, adakah hal-hal praktis yang kupelajari dari buku-buku itu benar-benar dilakukan sehingga berbuah manis? Atau lebih banyak yang tertinggal sebagai teori, menjadikanku seperti keledai yang membawa banyak buku? Beratnya terasa, tapi tidak manisnya.

Contohnya tentang ilmu tentang membuang sebelum membereskan, supaya kamar kita tidak menjadi gudang tempat hal-hal yang jarang dipakai, atau bahkan tidak pernah dipakai.

Atau ilmu tentang sedekah sebagai salah satu amalan penghilang susah, sudahkah istiqomah? Atau cuma dilakukan saat ingat saja? Pada momen-momen tertentu?

Atau tentang ilmu manajemen waktu dan prioritas. Sudahkah mayoritas hal yang dikerjakan di kuadran dua? Atau masih saja sibuk tenggelam dalam kuadran tiga, dan sering terjebak dengan stress di kuadran satu?

 

Jika Tidak Tumbuh, atau Lambat... 


Saat menengok dua hal tersebut, dari perubahan mindset yang alhamdulillah sampai saat ini dirasakan, juga melihat hal-hal praktis lain yang seolah menjadi teori saja.. aku bertanya-tanya. Jika "biji ilmu" yang sudah dibaca tidak tumbuh, atau lambat untuk tumbuh. Apa penyebabnya? Langkah apa yang tertinggal? Pengganggu apa yang harus disingkirkan?


1. Jika tidak tumbuh


Mungkin biji tidak tumbuh menjadi benih, karena dari awal kita tidak pernah menanamnya. Bijinya tersimpan saja di suatu laci, atau diletakkan jauh dari tanah.


Atau jikapun sudah ditanam, barangkali kita lupa menyiramnya, tanahnya terlalu kering untuk bisa menjadi media tanam. Jikapun tidak ada tanah, kan ada hidroponik, cari media tanam yang lain. Bagaimana dengan sinar matahari, adakah? Atau kita barangkali tidak tahu, bahwa ada biji yang tumbuh lebih baik di tempat gelap?


Baru saja, sembari menulis ini, aku membuka tumblr, dan menemukan kutipan ini dari akusore.tumblr.com



Poster sederhana di atas dipost di story seseorang, lalu dituliskan di tumblr orang lain, untuk kemudian di reblog dua kali, dan dari orang terakhir itu, aku menemukannya. Aku memang belum membaca tulisan lengkap yang direblog, tapi satu desain sederhana ini membuatku bertanya-tanya. Adakah barangkali aku terlalu sering mempublikasikan rencana, bergerak dengan suara berisik, dan itu mempengaruhi mengapa rencana-rencana masih menjadi rencana dan belum juga selesai direalisasikan?

 

Do I talk too much? Write too much, but then never busy in implementing what I said and what I wrote?


2. Jika lambat


Jika tumbuhnya lambat, sering terserang jamur, hampir mati kekeringan, dll. Apa yang harus diperbaiki? Ilmu apa yang perlu kucari agar aku mengenali cara merawat benih agar bisa tumbuh sehat dan cepat? Agar akarnya kuat, batangnya kokoh, dan buahnya manis? Gulma atau hama apa yang perlu aku perangi?


Ada banyak daun berpenyakit yang harus dipotong, supaya daun lainnya gak ikut sakit. Ada rumput-rumput liar yang harus disiangi, agar tidak menghambat pertumbuhan benih yang ditanam. Dan ada banyak hal lain.


Kata distraksi, distraksi dan distraksi begitu sering aku ulang. Aku tahu persis bahwa saat ini aku tidak fokus mengejar apa yang harus kuraih. Aku tahu distraksi-distraksi itu memperlambat bahkan tak jarang membuatku terdiam terlalu lama, membuatku makin jauh dari garis final. Tapi setelah menuliskan pengingat itu, adakah aku benar-benar berjuang untuk meningkatkan fokus dan mengabaikan distraksi? Atau lebih sering, hanya mencoba satu dua kali, kemudian segera menyerah dan tenggelam lagi dalam distraksi? Tidak cukupkah, rasa sakit saat itu untuk memberikanmu pelajaran dan membuatmu kapok? 


***


Aku bertanya-tanya tentang jarak antara ilmu dan amal. Aku menerka dan mencoba menuliskan jarak antara biji hingga menjadi pohon yang berbuah manis.

 

Aku berharap aku bisa bersabar, tapi sekaligus teliti dan tidak lalai. Karena memang benar,

 

"Pertumbuhan diri bersifat lembut. Hal ini jelas bukan perbaikan kilat."

 

Baca juga: Pertumbuhan Diri: Lembut; Bukan Perbaikan Kilat

 

Tapi aku harus teliti, karena bisa jadi aku menjustifikasi begitu banyak hal, supaya aku merasa nyaman saat benihnya lambat tumbuh, atau lebih parah lagi, saat bijinya tidak tumbuh. 


Terakhir, sebuah potongan ayat yang mengingatkanku untuk fokus menjadi lebih baik selangkah demi selangkah, sembari memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah. Ayat, yang minimal seharusnya dibaca satu pekan sekali di hari jumat.

 

عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَـٰذَا رَشَدًۭا

'asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada [1]


Wallahua'am bishowab.


***


Keterangan:

 

[1] QS Al Kahfi ayat 24. Penjelasan tadabbur ayat yang membuat ayat ini istimewa buatku ada di https://youtu.be/7hmi5ck5ph8

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: Lama rasanya tidak membuat tulisan sepanjang ini. Terinspirasi dari tulisan teman di Medium. Eh, yang kemarin ditulis, juga panjang ya sebenernya? wkwkwk.

Monday, February 5, 2024

E-book yang Selesai Kubaca Tahun 2022 (part 3 - end)

February 05, 2024 0 Comments

Bismillah.

#bersihbersihdraft

 


 

Sudah di Februari 2024, kenapa baru nulis e-book yang dibaca tahun 2022 Bel? Wkwkwk. Terlalu memang hehe. Anyway, langsung aja. Ini e-book terakhir yang kubaca di tahun 2022.

Baca juga: Part 1 ; Part 2

 

5. Kitab Cinta dan Patah Hati

 - Sinta Yudisia, Indiva Media Kreasi

sumber: goodreads


Buku ini kubaca pada masa lagi semangat baca buku-bukunya Mba Sinta Yudisia. Karya fiksinya sudah, non fiksi tentang cinta juga sudah tahun 2021 yang judulnya cinta x cinta. Tapi yang sebelumnya, target pembacanya lebih ke remaja. Kalau buku ini lebih untuk umum. Selain target pembaca yang beda, jumlah halaman juga beda. Kalau yang untuk remaja cuma 138 halaman, dan tulisannya lebih ringan dibaca. Yang ini juga gak berat sebenarnya, seperti biasa ada banyak info dan fakta yang disajikan. Gaya penulisan yang berbeda dibandingkan buku tentang "cinta" ala Anis Matta atau Salim A. Fillah.
 
Meski buku ini tentang cinta, tapi baca buku ini dijamin gak baper. Karena isinya emang nggak dibuat mellow. Banyak tips dari buku ini yang membantuku untuk tenang sembari menjalani masa menunggu jodoh datang hehe. Oh ya, pas baca buku ini, aku juga sedang ikutan challenge 66 hari baca buku @menjadi.arketipe. Jadi banyak quotesnya yang aku share juga di story instagram. Tapi gak aku kategoriin sesuai buku sih, bisa cek aja di highlight baca buku tiap hari. Oh ya, sebenarnya aku re-post di sini juga, cuma baru sampai day 31. Karena niatnya, dibedain antara laporan dengan yang disini. Untuk di blog ini, insight aku perpanjang. Sekalian aku mengulang lagi belajar dari kutipan yang pernah aku baca, gituu.

Baca juga: 66 Hari Baca Buku 
 
Berikut ini beberapa kutipan dari buku Kitab Cinta dan Patah Hati

Salah satu tips supaya bisa bangkit dari patah hati:

"Orang besar mengajarkan hidup tidak terus berkubang pada masalah yang itu-itu saja, tetapi segeralah beralih melakukan pencapaian lain."

"Membaca biografi tokoh yang dikategorikan berhasil akan memperkuat semangat untuk berbuat lebih." - Sinta Yudisia
 
Sebelum mencintai orang lain, cintai diri. Dengan apa? Dengan menghargai prestasi diri, sekecil apapun.

"Prestasi akan sesuatu akan meningkatkan self respect. Setidaknya, bila orang lain tidak menghargai, kitalah yang harus menghargai diri sendiri. Prestasi, seberapapun kecilnya akan membawa kegembiraan sehingga seseorang tak hanya berkubang pada sisi negatif kehidupan." - Sinta Yudisia
 
Ini reminder banget untukku supaya tidak berhenti belajar dan berkarya. Kadang kita menyempitkan makna prestasi sekedar apa disebut prestasi di sekolah, ranking di sekolah, ikut lomba apa, dll. Padahal, kita bisa juga menjadikan pencapaian-pencapaian dalam hidup kita sebagai prestasi juga. Yuk coba cek, kalau misal belum nemu, coba buat. Setiap dari kita punya potensi untuk berprestasi. Semangaat! 

Satu lagi, kutipan terakhir dari buku ini. Jadi di buku ini diceritakan juga kisah cinta nyata yang perlu kita ambil pelajaran. Baik dari sahabat maupun dari non muslim. Cuma yang aku kutip di sini, yang dari sahabat. Ada yang mau nebak kisah cinta siapa? Ali dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma? Teng! Kurang tepat. Ini tentang kisah cinta Ustman bin Affan dan Nailah radhiyallahu 'anhuma. Kutipan yang belum pernah aku tahu sebelum baca buku ini.

"Sungguh kalian telah membunuhnya. Padahal ia telah menghidupkan malam dengan rangkaian Al-Qur'an dalam rakaat." - Nailah binti Al Farafisah pada hari dibunuhnya Ustman bin Affan

Dibahas dua hal, pertama kecintaan Ustman pada Al Quran, yang dibuktikan dengan momen terakhir beliau r.a, meninggal saat sedang membaca Al Quran. Dan juga kecintaan Nailah pada Ustman. Kalau penasaran, silahkan baca bukunya ya~

6. Rasulullah Sang Pendidik

- Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
 
sumber: myedisi.com

Aku baca e-book ini karena ada pekan tematik di the.ladybook kalau nggak salah ingat dalam rangka maulid Nabi. Pengen baca buku tentang Rasulullah tapi bukan sirah. Dan setelah searching di iPusnas, ketemu deh sama buku ini. Aku banyak belajar tentang Rasulullah dari sudut pandang topik pendidikan. Termasuk banyak diingatkan untuk bersabar dan berusaha istiqomah untuk mendidik diri.

Secara kepenulisan memang agak kurang, ada banyak kalimat yang terlalu panjang/tidak efektif. Tapi in syaa Allah tidak mengurangi esensi dari buku ini. Sistem penyampaian di buku ini seringnya menceritakan sirah Nabi, kemudian mengambil pelajaran tentang pendidikan dari sirah tersebut, ditambah beberapa referensi lain.

Langsung aja ke kutipan ya,

"Sebab, ada kebaikan di dalam diri manusia. Di dalam diri setiap orang ada potensi kebaikan, sebagaimana juga ada potensi keburukan. Jika orang-orang yang berperilaku buruk itu dididik, dibina dengan baik, maka potensi kebaikan dalam dirinya itu akan muncul ke permukaan, sebaliknya potensi keburukannya semakin tertekan dan tertutupi. Lalu kebaikan-kebaikan yang mulanya kecil, lama kelamaan semakin besar dan terus membesar, lalu mendominasi hati dan perilakunya, dan jadilah ia sebagai orang baik."
#daribuku *Rasulullah Sang Pendidik* - Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
Lanjut, pengaruh faktor lingkungan terhadap pendidikan *kaya judul skripsi #eh 

Dr. Baqir Sharif al-Qarashi mengatakan, bahwa lingkungan merupakan salah satu aspek pendidikan yang paling utama. Kadang-kadang anak-anak mengikuti lingkungan mereka tanpa sadar. Lingkungan bisa dengan mudah dan cepat mempengaruhi pikiran lalu terbentuk menjadi kebiasaan pada anak-anak. Para pemuda seringkali mudah mengikuti pengaruh yang baik maupun yang buruk, dari lingkungannya. Faktor-faktor dari dalam diri manusia (internal) dan faktor dari luar dirinya (eksternal), saling berinteraksi dalam membentuk kepribadian."

#daribuku *Rasulullah Sang Pendidik* - Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
Kalau dulu pas kecil, kita gak bisa banyak pilih tentang lingkungan. Tapi saat sudah dewasa, kita punya kebebasan untuk memilih dimana lingkungan kita ingin tumbuh. Maka penting untuk mengelilingi diri kita dengan lingkungan yang baik dan teman-teman yang baik. Kalau di tempat kerja gak dapet, minimal pastikan kita gabung komunitas atau cari network yang berisi orang-orang baik yang sevisi. Butuh effort lebih memang, tapi worth it!
 
Kutipan terakhir dari buku ini, pengingat tentang nikmat iman dan islam, yang hadir setelah proses perjuangan Rasulullah berdakwah.
 
"....hal ini mengandung hikmah yang sangat besar, di antaranya adalah menjelaskan betapa penting dan agungnya agama yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam, sehingga terasa berat mengembannya.

Selain itu juga menjelaskan kepada kaum Muslim, bahwa Islam yang kini dianutnya, adalah agama yang pada mulanya hadir setelah melalui sebuah proses yang amat melelahkan dan menyulitkan."

#daribuku *Rasulullah Sang Pendidik* - Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan islam, dan termasuk orang-orang yang shalih aamiin. Semoga Allah memudahkan kita untuk terus mendidik diri, agar tidak jatuh ke titik paling rendah, padahal Allah menciptakan kita dalam ahsani taqwim. PR: Tadabbur lagi surat At Tin! [1]

7. Dreaming Big - @fibkaramadhan & @vaLentfun21+

 

sumber: catalog.unugha.ac.id

 

E-book ini ditemukan saat aku iseng cari buku baru untuk dibaca dengan keyword "dream". Trus pas cek isinya, pas dengan keinginanku yang butuh bacaan ringan. Buku ini ditulis oleh dua orang, gaya penyampaiannya santai. Isinya tentang mimpi juga tentang cerita bagaimana penulis mencapai mimpi mereka. Jujur agak kaget buku ini ditulis oleh orang-orang yang domisili deket denganku. Purwokerto. M. Syah Fibrika, dosen di Unsoed kalau nggak salah ingat, sedang Valentinus Fun itu motivator.

 

Sebenarnya pas baca buku ini aku gak banyak catet quote, kecuali di akhir aja, karena ikutan program Teman Baca-nya @akademiliterasi.id. Tapi dari yang sedikit itu, semoga cukup buat kamu penasaran dan tertarik untuk membaca buku lagi. Boleh buku ini, atau buku lain yang ada di list TBR (to be read)-mu!

 

Tentang keberanian melewati proses.

"Tanamkan dalam diri bahwa menggapai kata 'sukses' membutuhkan 'proses'. Jika kita berani melewati proses, keberhasilan sebentar lagi akan menjemput kita. Percayalah bahwa banyak orang lain yang lebih berat kegagalan dan ujiannya dibanding kita."

 

Kutipan kisah nyata bahwa mimpi akan terwujud kalau kita melakukan usaha dan terus berjuang meraihnya. Bukan sekedar bermimpi.

"Bapak Taufik Effendi, peraih beasiswa Iuar negeri. Beliau memiliki kondisi buta sejak SMP. Beliau menceritakan blak-blakan mengenai beasiswa yang diraihnya. Ditolak berbagai beasiswa, diremehkan oleh banyak orang, hingga akhirnya beliau meraih semua dengan perjuangan yang membutuhkan waktu dan tenaga. Mereka adalah orang-orang yang berani bermimpi besar. Not only dream but they also do it. Mereka mengejar mimpinya bukan sekedar bermimpi saja."

 

Kutipan terakhir, sekaligus penutup tulisan ini.

"Buku ini akan menjadi hiasan lemari belaka jika kamu tidak mempraktikkannya."

 

Wallahua'lam.

 

***

 

Keterangan:

[1] Salah satu sumber referensi tadabbur yang perlu didengerin ulang "Illustrated At Tin NAKID FQE"

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.