Follow Me

Tuesday, March 31, 2020

Dear Diary

March 31, 2020 0 Comments
Bismillah.



Hari ini qadarullah nemu diary jaman SMA dengan cover winnue the pooh, dimulai dengan curhatan tanggal 17 Desember 2009 sampai 24 April 2011.

Aku kebut baca ulang isinya, baru sampai tanggal 3 April 2011. Aku terhenti di sebuah paragraf yang ingin kuabadikan di sini. Seolah ingin menghighlight, bahwa salah satu hikmah menemukan buku tersebut adalah ini...

***

"Aku tak mau berpura-pura. Aku ingin jujur padamu. Yang setia di sini. Menjadi tempat kumenuang kisah hari. Ta'akan kusembunyikan, kalau ada awan kelabu yang membayangiku. Ada kabut yang menyamarkan pandanganku. Tapi aku, tak apa.. lebih tepatnya.. merasa tak apa. Bukan karena aku dapat mengusir awan kelabu.. bukan juga karena aku bisa melihat dalam kabut. Bukan karena itu. Lebih karena aku percaya^^ aku percaya sebentar lagi hujan akan turun, sejukkan hariku. Lebih karena aku percaya^^ aku percaya mentari akan menyingsing dan mengubah kabut menjadi bulir-bulir embun yang berkilauan. =) lebih karena aku percaya^^ Allah ada di sini."

Allahua'lam

                      



Tanpa Judul

March 31, 2020 0 Comments
Bismillah.

Tadinya ingin menyelesaikan draft tentang majelis buku aksara online. Tapi ternyata tidak bisa.

Begitulah uniknya menulis. Kalau ada hal lain yang mengisi ruang kepala, menyesaki setiap sudutnya, harus dikeluarkan dulu, baru kemudian kita bisa menulis tentang hal lain.

Tapi... Aku ragu menuliskannya. Rasanya seperti bermain petak umpet, lalu merasa takut ketahuan dimana aku bersembunyi. Karena yang akhir-akhir ini memenuhi otakku bukan sesuatu yang manis dan indah. Bukan tentang ayat-ayatNya. Bukan tentang covid-19. Bukan juga tentang rasa empati pada orang lain.

Aku ragu menuliskannya. Karena seolah sia-sia, penuh ego, dan... tidak berharga. Harusnya tak perlu ditulis di sini, cukup ditumpahkan saja menjadi coretan di atas kertas reuse, kemudian jika sudah selesai, dibuang, masuk ke tong sampah.

Suara adzan dzuhur terdengar berkumandang, seolah mengingatkanku untuk mengakhiri tulisan ini.

Shallu fii buyutikum.. Tambahan tersebut akhir-akhir ini bergema lima kali. Membuatku merasakan manisnya shalat berempat.

Kututup tulisan ini dengan ayat pertama al fathihah.

Alhamdulillahirabbil 'alamin.

Wednesday, March 25, 2020

Akhir yang Baik

March 25, 2020 1 Comments
Bismillah.

**I'm gonna write something in English. And there will be lots of broken grammar.

It's been two or three days since I don't read any book. I just read some blog posts, and of course hundred lines in WhatsApp.

I actually really want to fill this blog with another nukil buku. But I feel ashamed of myself. I'm afraid I will see another proof that my heart is sick. There's this chapter from a book, about how knowledge should change our attitude and behavior. It should change our way of thinking, and our way of living. Knowledge is not words that we read, or concept we understand, it should be reflected in every steps of our daily life.

So I read that chapter and a sudden quiz come in the night. You know, like when I go to a calculus class back than in college, and suddenly the lecturer told us to closed our book, and gave a surprised quiz. I thought, I just read that chapter, I can clearly remember the message, but why... I found myself failed in that sudden quiz that night? Why I can't act based on the knowledge in my mind, why I lost from myself?

From that moment, I realize many things. The reason why my draft is still a draft. I'm glad I just write something in here. I imagine if I publish a book, people take advantage from it, but.... the reality, I, myself, the book writer can't take advantage from my own writing TT.

You know what worse? It's been more than a week since I realize that. Yet I still don't learn from that. I buried myself in distraction. I don't take a step to become better. Just like what I re-write from a resume two years ago. My reaction to a huda, still number one or two. I should have taking a step forward. TT

Tonight, my sister text me a question. A simple question that makes me writing this...

"Did you personally know M***?"

That question make me open a facebook, type a name, and read a beautiful dua in her profile. That she wants a khusnul khatimah. And Allah has answer her prayer.

How ungrateful I am..if that kind of reminder spread in front of my eyes, and I still don't move my legs towards Him. TT

Let me finish this post with a question to myself, "do you truly want a khusnul khatimah? or is it just a saying written in your vile mask?"

Allahua'lam.

Harus Diingatkan

March 25, 2020 0 Comments
Bismillah.


Aku harus selalu diingatkan tentang banyak hal. Tentang esensi hidup. Tentang Allah, Rasul-Nya dan Al Quran. Tentang pertanggung jawaban setelah kematian. Tentang serangan dari empat penjuru. Tentang nafsu yang seharusnya menjadi 'budak' dan bukan 'raja'. Tentang banyak hal.

Aku harus sering-sering diingatan tentang banyak hal. Tentang gunung-gunung dosa yang belum ditaubati. Tentang amal baik yang begitu sedikit dan belum tentu diterima, entah karena tidak ikhlas, atau salah cara mengerjakannya. Tentang angan-angan yang dibisikkan setan. Tentang distraksi melihat kesalahan orang lain dan bukan kesalahan diri sendiri. Tentang ilmu yang belum diamalkan. Tentang diri yang terus merugi setiap kali detik berdentang.

Aku... harus diingatkan, bahwa Ramadhan sebentar lagi menyapa, tapi belum terlihat diri ini bersiap-siap.

Aku.... harus diingatkan, bahwa kematian segera menjemput, tapi aku justru berputar-putar di kubangan kehinaan.

Allahua'alam.

***

Aku... aku takut menulis ini, kemudian merasa cukup, dan kembali ke dalam kehinaan lagi. Seolah tulisan ini hanya topeng. Atau tangisan hati yang sekarat, tapi kemudian dibungkam kembali oleh tanganku sendiri.

Ya Allah. Selamatkan aku dari api neraka-Mu. TT

Tuesday, March 17, 2020

Sakit Apa?

March 17, 2020 0 Comments
Bismillah.

#fiksi



Tumben makan obat, ucapku saat melihat dirimu membuka kemasan biru, plastik obat. Kutengok sekilas, dua kali sehari, habiskan. Kuambil kemasan biru satunya lagi, yang baru kamu letakkan. Tiga kali sehari, setelah makan. 

Sakit apa? Tanyaku, lagi. Setelah pernyataan sebelumnya tak menarik perhatianmu. Kau masih diam dan menegak beberapa mili air putih dari mug Doraemonmu.

Kau mengemasi sisa obat, memisahkan sebagian sampah, masih tidak menjawab pertanyaanku. Kuambil mug Doraemon, pecahkan saja gelasnya, biar ra... Kamu merebut mug biru tersebut.

Ga sakit. Cuma perlu makan obat biar lukanya membaik. Akhirnya kamu menjawab setelah mug kesayanganmu jadi target kekesalanku atas bungkammu. Luka dimana? Tanyaku, masih penasaran. Di hatimu, jawabmu sembari nyengir kuda. Sebelum aku bertanya lagi, kamu mengalihkan pembicaraan. Bertanya mengapa aku rela naik tangga ke lantai empat. Aku kemudian jadi ingat alasanku, dengan heboh kuceritakan padamu bahwa berat badanku mencapai 55 kilogram. Meski memang aku tidak kurus, biasanya berat badanku berkisar antara 48-52, tidak pernah mencapai 55kg. Kucurahkan semua perasaanku padamu.

Pertanyaanmu berhasil membuatku lupa, bahwa kamu yang kutahu membenci obat, malam itu terlihat mengkonsumsi obat. Berhasil membuatku teralihkan dan tidak lagi penasaran kamu sakit apa.

The End.

***

PS: Draft fiksi 31 agustus 2018, ga dilanjutin, cm dirapiin, nggantung gitu wkwkwk. Biarin lah. Yang penting blognya diisi.

I'm not Perfect, But I'll Try Making Steps

March 17, 2020 0 Comments
Bismillah.


Resume Meet Up Community with Ustadz Nouman Ali Khan bagian 2



Sabtu, 5 Mei 2018 di MAJ Senayan

***




Jadi sebelumnya ustadz Nouman menyebutkan bahwa ada tiga jenis reaksi kita terhadap petunjuk (huda): weak reaction, nifaq, dan yang terakhir hijrah.

Saat seseorang memilih untuk hijrah artinya ia mengakui bahwa dirinya tidak sempurna, namun ia memiliki kemauan untuk melangkah.

Hijrah is acknowledging that I'm not perfect, but I'll try making steps.

Hijrah itu melangkah, pergi dari satu tempat menuju tempat lain. Dan yang terberat dalam hijrah adalah langkah yang pertama. Langkah pertama ini berat tapi ganjarannya juga superb. Setan membencinya, tapi Allah mencintai langkah pertama ini. Buktinya apa? Buktinya... syahadat, sebagai langkah pertama kita untuk beriman, dan Allah menghapus dosa-dosa kita lewat satu langkah pertama tersebut.

Kalau sebelum hijrah setan menghalangi diri kita, supaya ga melangkah, setelah hijrah yang setan dekati adalah orang-orang di sekitar kita. Ustadz Nouman mengatakan bahwa seolah semua orang disekitar kita tidak suka pada perubahan kita. Whether it's less step or too much step. Ada yang nyinyir karena kita baru pakai kerudung tapi belum pakai gamis, tapi ada juga yang nyinyir kita terlalu ekstrim karena ga mau salaman. *ups, tapi kalau yang ini sekarang lebih mudah ya. Karena ada alasan untuk mencegah covid-19

Dalam proses hijrah ini kita akan kehilangan banyak hal, tapi Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Allah akan berikan perasaan selalu ditemani Allah, bahwa setiap kita melangkah mendekat satu langkah, Allah mendekat kepada kita lebih dari itu. Perasaan tidak pernah ditinggalkan sendiri. Allah juga akan hadirkan teman dan keluarga baru, serta cahaya ke dalam hati kita. Kita akan belajar bahwa petunjuk yang Allah berikan pada hati kita begitu berharga, begitu mahal.

***

# Sesi diskusi

Tentang persiapan menuju Ramadhan

Ayat tentang Ramadhan turun di Madinah, artinya kita diingatkan untuk mengenal Quran secara berbeda di bulan Ramadhan. Caranya dengan memperbanyak interaksi dengan Al Quran, ga cuma membaca tapi juga mendengarkan, tadabbur, dll. Hubungan kita dengan Al Quran adalah indikasi utama hubungan kita dengan Allah. Quran adalah tali penghubung kita kepada Allah.

Kita sudah hijrah tapi pasangan belum


Ustadz Nouman mengingatkan kita agar jangan marah pada orang lain yang belum melangkah. Karena rasa marah ini akan menghasilkan jarak. Kita harus ingat bahwa yang mereka butuhkan bukan  judgement atau ceramah, tapi cinta. Cara kita mengajak pasangan kita agar ikut hijrah bukan dengan memberikan ceramah, tapi berusaha ihsan dalam peran kita.

Ustadz Nouman juga mengingatkan kita agar lebih fokus pada kesalahan diri sendiri dan meninggalkan kesalahan orang lain. Islam tidak datang untuk merusak keluarga.

Mengajak orang tua agar shalat


Shalat adalah amal yang merupakan batang dari sebuah pohon. Saat shalatnya bermasalah, berarti ada masalah di akarnya. Ini yang pertama harus kita perbaiki.

Jangan jadikan ancaman api neraka dan ketakutan yang tidak sehat sebagai cara untuk membuat orang-orang shalat. Rasa takut yang sehat itu, takut kehilangan cinta dari Allah.

Saat kita menggunakan ayat Al Quran untuk menghakimi kesalahan orang lain, kita sebenarnya sedang menyalahgunakan Al Quran.

Dalam keluarga kita harus mengingatkan dengan teladan. Ustadz Nouman menyontohkan sang anak bisa semacam lapor kalau misal mau shalat ke orang tuanya. Cara ini lebih lembut dan semoga lebih mengena di hati orang tuanya. Karena tidak ada orang tua yang mau digurui anaknya.

Satu hal lagi yang harus kita ingat,
Why we think we can change our family? People far better than us can't change their family.
Tugas kita hanya berusaha dan mendoakan, selanjutnya Allah-lah yang akan memberikan hidayah pada keluarga kita atau tidak.

***

Masih sesi diskusi, tapi saya lupa konteksnya. Beberapa poin catatan.

- Harus ada hal/amal yang hanya kita dan Allah yang tahu

- Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang jujur, yang mampu mengingatkan kita ketika kita salah

- Ada dua hal yang membuat orang tidak mau hijrah: (1) confusion - intelectual war in Islam (2) phsycology - islam just cages for their lifes

- Saat kita tahu alasan kita berislam, ga ada yang bisa mengambil/menukarnya dari kita. Cara tahu alasan berislam? Read and make connection to Quran.
\
Allahua'lam.

***

PS: Menyalin dan membahasa ulang-kan catatan meet up ini, mengingatkanku pada catatan lain dari pertemuan Qaf Id 21 Oktober 2016,
"If you have guidance, everything around you will be a blessing"

Wednesday, March 11, 2020

1M1C x Line Today

March 11, 2020 0 Comments
Bismillah.

Sebelumnya aku udah pernah cerita kan, kerjasama komunitas 1m1c sama line today. Jadi tulisan fiksi dari member 1m1c dapat kesempatan untuk tayang di line today. Ga semua tulisan yang masuk tentunya, akan ada proses pemilihan dan penyaringan. Baik itu dari admin 1m1c maupun dari pihak line today-nya.

Meski udah tahu info ini dari bulan kemarin, aku baru nyempetin cek website 1m1c dan submit beberapa tulisan fiksi di blog ini yang apa adanya hehe.

Setoran 1m1c x line today

S&K

Meski aku tahu, fiksi-ku biasa-biasa aja, dan kemungkinan besar ga kepilih, gatau kenapa kepengin setor banyak tulisan fiksi di situ. Hehe. Setelah lama menulis untuk di baca sendiri, di blog, ternyata pengen naik tingkat juga, pengen dibaca orang lain, pengen tahu kurangnya dimana aja. Untuk ikutan lomba, kayanya gak buat aku pribadi. Tapi kalau cuma sekedar submit tulisan macem begini, rasanya lebih mudah.

***

Menulis ini mengingatkanku akan kerinduan pada komunitas menulis lain, yang sejak 2020 berhenti. Katanya sih sementara, semoga begitu. Sampai sekarang aku masih mikir, sayang... kalau saja boleh jalan sendiri. hehe. Tapi kan ga bisa hehe. I miss ***tulis

Jadi salut sama 1m1c yang bisa bertahan lama, dan sampai diajak kerjasama dengan linetoday. Semoga banyak member 1m1c yang tulisannya tembus ke line today. Meski aku ga yakin bakal baca hehe. Udah lama ga bisa akses line dan telegram. *curcol

Terakhir, semangat menulis! Apapun genre-mu, mau non fiksi, fiksi, pokoknya semangat menulis ~

Sunday, March 8, 2020

Break

March 08, 2020 0 Comments
Bismillah.

#fiksi



Kelopak mata Pita masih belum terasa berat, ia melirik angka 00.41 di lockscreen handphonenya. Kepalanya terasa pening, matanya merah karena sudah satu jam dikuras airnya. Ia akhirnya memutuskan mengirim pesan,

"Beberapa hari kemarin aku sudah ga pernah cemas.... Aku kira sudah sembuh, tapi entah kenapa malam ini kumat lagi... Padahal aku udah ga terlalu kagum sama orang itu."

Centang satu. Ia menghela nafas pendek.

*** 

Aysha baru menyalakan internet di hpnya pukul 9 pagi, dan ratusan notifikasi masuk satu persatu.

"Terus gimana? Bisa tidur? Ya cemas kan ga selalu karena orang itu. Lebih sering karena kekhawatiran kita akan masa depan. Atau karena bayang-bayang masa lalu"
Pesan itu memang dikirim pada Pita, sahabat karibnya sejak SMP. Tapi menulisnya, seolah ia sedang bicara tentang dirinya sendiri. Malam kemarin ia belum tidur sampai jam 3 dini hari. Ada banyak yang perlu dipikirkan, dan banyak yang perlu dikerjakan, tapi ia justru memilih tenggelam dalam angan-angan palsu.

Tidak sampai semenit, balasan dari Pita bertubi menderingkan nada pendek notifikasi pesan masuk. Aysha tidak langsung membacanya karena ia sedang menyelusuri satu demi satu baris dari beberapa grup yang juga memerlukan respon darinya.

***

Pita sedang duduk di tempat kerjanya, dibalik sebuah loket. Pagi ini sepi, baru ada dua orang ibu dan tiga anak-anak. Pekerjaannya selalu diisi dengan jeda menunggu membuatnya selalu menundukkan kepala dan menatap layar kecil yang menyala. Terkadang membaca ribuan baris komentar di sosial media, tak jarang pula menonton video-video yang sering terjeda oleh iklan. Kali ini, ia mengetik sambat hatinya.

Tentang kosan lamanya, yang atapnya bolong dan bocor. Keputusan cepat untuk pindah, meski ia sudah melunasi sewa bulan depan. Hatinya yang merasa sepi. Kontrak pekerjaan yang hampir habis. Pertanyaan mau kemana dan ngapain setelah kontrak kerjanya habis. Uang tabungan yang hampir habis karena digilas sifat impulsifnya setiap kali membuka aplikasi toko online. Keinginannya untuk segera menikah dan jodoh yang rasanya tidak mungkin segera datang. Belum masa lalunya yang gelap dan menyesakkan. Sifat keras dan kasar orangtuanya yang membuat ia selalu merasa kerdil. Pengalaman penolakan dan ditinggal pergi kekasih yang membuat ia mempertanyakan harga dirinya. Kesempatan yang ia buang karena sering merasa emosional. Usaha yang ditempuh berkali-kali namun belum juga mengantarkan ke tujuan.

"Aysha... apa ada jalan keluar atas semua hal yang aku alami? Buntu. Aku merasa berada di lorong gelap dan buntu."
Pita merasa ada sedikit ruang kosong untuk bernafas di otaknya. Akhirnya, setelah semalam ia tidak bisa tidur karena kecemasan yang meradang. Ia tahu, Aysha mungkin bosan dengan keluhan yang hampir setiap hari ia luncurkan. Tapi bisa apa? Pita membutuhkan ruang untuk bernafas, ia harus mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Tapi saat ini, hanya ada Aysha.

Dua rombongan dari sekolah membuat Pita sibuk memasukan data, menghitung, menerima uang, dan menyerahkan tiket. Kedua ujung bibirnya ia tarik ke atas, tapi matanya kosong, pertanda bahwa itu hanya senyum formalitas. Tuntutan pekerjaan.

***

"Jalan keluar ada. Cuma kita belum nemu. Makanya harus usaha buat nemu. Usaha dan doa."
Aysha benci harus selalu berada di posisi memberikan kalimat positif. Ia sebenarnya ingin ikut sambat juga. Ia ingin mengeluh juga. Ia ingin menceritakan kecemasannya juga. Tapi jemarinya tertahan. Bukan karena Aysha ingin terlihat lebih baik, tapi justru karena Aysha takut akan terbawa arus hitam yang dulu pernah menenggelamkannya. Ia pernah merasakan pahitnya hidup yang tiap hari diisi pikiran negatif, prasangka buruk dan menyalahkan semua hal. Ia pernah tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Mudah untuk jatuh kembali. Tapi ia ingin mendaki jalan yang sukar.

Membaca pesan-pesan dari Pita selalu membuatnya bercermin. Melihat Pita membuat Aysha lebih jelas melihat dirinya. Setiap kalimat positif, klise, dan klasik, sebenarnya ditujukan untuk dirinya.

Terkadang bahkan, kata-kata Pita juga merupakan suara kecil yang juga memenuhi pikiran Aysha. Seperti respon Pita siang itu,

"Hmmm. Kadang pengen berhenti berjuang...udah sampai sini aja..."
***

Pita membuka pintu kamar kosan barunya. Dua kardus masih belum dibuka. Ia menyalakan kipas angin kecil, lalu berbaring di lantai beralaskan tikar tipis. Tangan dan matanya kembali disibukkan memandang dan menyentuh layar hp. Pesan terakhirnya pada Aysha belum direspon. Mungkin besok, atau tengah malam.

Kelopak mata pita terasa berat, meminta hak tidur kemarin yang belum terpenuhi. Telinganya masih menangkap suara notifikasi pesan masuk, tapi kantuknya membuat ia mengabaikannya.

"Pita pengen pulang dan istirahat ya? Btw, foto profil barunya cantik. Wallpaper kamar baru?"
"Bukan berhenti berjuang, kamu mungkin cuma butuh waktu istirahat. Bukan istirahat diam tanpa aktivitas."
"Ibarat lari maraton, kadang kita butuh waktu buat ambil nafas, berhenti sebentar, baru kemudian bisa lari lagi. Semacam itu" 

The End.

***

PS: Yang ingin kutulis bukan fiksi. Hanya dialog tanpa nama, yang terkadang tidak cukup merangkum konteks. Perlu ada kalimat penjelasnya. Yang ingin kutulis bukan fiksi, dan latar belakang cerita, tokoh atau plot. Bukan. Hanya kata-kata yang....

Tuesday, March 3, 2020

Istirahat dengan Mendirikan Shalat

March 03, 2020 0 Comments
Bismillah.

Nukil Buku "33 Kiat Mencapai Kekhusyuan dalam Shalat" - Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid

***



Orang yang khusyu' dalam shalatnya, ketika keluar darinya, ia mendapati jiwanya menjadi ringan tanpa beban. Ia merasakan adanya beban-beban berat yang terlepas darinya. Ia mendapat semangat baru, vitalitas, kenyamanan serta sportifitas. Sehingga ia berharap seakan tidak pernah keluar darinya. Sebab shalat adalah penyejuk pandangan matanya (qurratul 'ain), kenikmatan ruhiyahnya, syurga hatinya, serta tempat istirahatnya di dunia. Seakan hidup di dunia berada dalam penjara, dan kesempitan sehingga ketika memasuki shalat, ia merasa bisa istirahat di dalamnya bukan merasa istirahat darinya.
Orang-orang terkasih mengatakan: "Kita menunaikan shalat dan merasakan istirahat serta lega dengannya." Sebagaimana disabdakan oleh Imam, tauladan dan Nabi mereka Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam: "Hai Bilal, mari kita istirahat dengan menunaikan shalat." dan beliau tidak mengatakan: "Istirahatkanlah kami dari shalat."
Rasul shalallahu 'alaihi wasalam juga pernah bersabda: "Kesejukan pandangan mataku terletak pada shalat." Maka barangsiapa yang kesejukan pandangan matanya terletak pada shalatnya, bagaimana bisa kesejukan pandangan matanya digantikan dengan selainnya? Bagaimana ia mampu bersabar darinya (shalat)?" (Lihat Al-Waabilus Shayyib : hal.37)

***

Membaca buku ini membuatku bertanya pada diri, "Apa kabar shalatmu?"

Allahua'lam.

Sunday, March 1, 2020

Crossing The Line (2)

March 01, 2020 0 Comments
Bismillah.


Satu, dua, tiga hari. Pesan yang kukirim tidak juga berbalas.

Sebelum mengirimnya pun, aku sudah memikirkan kemungkinan tanpa respon tersebut. Aku membayangkan diriku di posisinya. Misalkan aku menulis di blog ini bahwa aku memiliki masalah X, kemudian tiba-tiba ada yang menghubungiku dan memberiku saran bagaimana cara memecahkan permasalahan tersebut. Jika orang yang memberiku saran adalah orang yang pernah dekat denganku, aku akan merasa senang dan merasa tersentuh karena ia membaca tulisanku dan peduli padaku. Tapi aku mungkin juga merasa tersinggung, dan segera menolak sarannya. Aku mungkin dengan sensi memberitahu orang tersebut, bahwa aku menulis di blog ini untuk diriku sendiri. Aku tidak berharap perhatian dari orang lain. Ada kemungkinan juga aku akan merasa berterima kasih tapi menolak sarannya. Thanks but no thanks.

Tapi seminggu kemudian ia menjawabnya. Katanya, pesanku tenggelam dari pesan-pesan lainnya. Membaca responnya membuatku tersenyum. Aku bertanya, "Bagaimana perasannya? Sudah baikan?" Pertanyaan itu dulu pernah kudapatkan dengan redaksi berbeda, "Gimana perasaannya? Legaan atau cemas?" I learn from that question. Daripada tanya apa kabar, dan mendapatkan jawaban 'baik' formalitas. Lebih baik bertanya lebih spesifik.

Ia bercerita bahwa ia punya blog private lain tempat ia biasa menuliskan semua pemikirannya. Tapi hari itu ia ingin menulis di blog itu. Karena menulis di blog private-nya, artinya ia akan membaca tulisan-tulisan lama di blog tersebut.

I can relate to her. Aku teringat hari ketika aku benci menulis diary di dokumen My Blog.docx yang telah diproteksi password. Diary digitalku yang berisi begitu banyak kenegatifan saat aku menghilang dari peredaran. Aku teringat saat aku memutuskan untuk membuat dokumen baru. It is less depressing that way.

Aku bertanya tentang satu dua hal, sebelum akhirnya aku kehilangan energi untuk melintasi garis lagi. Aku seolah mundur dan bingung bagaimana agar percakapannya bisa berlanjut tanpa perasaan bahwa aku terlalu banyak menginterogasi. Kalau pertanyaannya cuma dari satu pihak, tentu berat. Apalagi aku bukan tipe yang bisa sering bertanya. Aku tidak tahu topik apa yang perlu dibahas.

Sampai hari ini, aku belum bertanya lagi. Tapi nanti... kalau aku sedang fase 'extrovert' aku akan memulai lagi percakapannya. Karena toh aku sudah melewati tangga pertama. Dan aku pikir, bukan hanya ia yang butuh teman bicara, aku juga membutuhkan teman bicara. Begitu sih yang dijelaskan di hasil TM, aku menikmati terhubung dengan orang-orang. Aku banyak mendapatkan inspirasi menulis lewat interaksi dengan orang lain.

Crossing The Line

March 01, 2020 0 Comments
Bismillah.



Sebenarnya aku sudah membaca tulisannya berkali-kali, setiap ia menulis di blog bernuansa hijau tersebut. Tentang salju pertama yang ia lihat, tentang rasa suka yang hanya satu arah. Aku membaca tulisannya, bahwa ia merindukan ibunya saat lemah berbaring di atas kasur karena sakit. Aku membaca tulisannya, tentang kesepian yang semakin terasa menusuk. Aku cuma membaca dan berharap yang terbaik untuknya dalam hati. I'm a silent reader.

Tapi.... beberapa postingan terakhirnya entah mengapa membuatku makin khawatir. Tulisannya kubaca sebagai sebuah tanda, bahwa ia butuh teman bicara. Ragu, aku bertanya-tanya, apa aku perlu keluar dari zona silent reader? Apa aku perlu meninggalkan sebuah komentar? Memberitahunya, bahwa ada yang membaca tulisannya? Tapi bagaimana jika ia malah jadi tidak nyaman, tidak suka, dan justru memilih tidak menulis sama sekali? Padahal menulis adalah hal baik untuk kondisinya saat ini.

Hari itu, aku beranikan diri untuk melangkah mendekati garis. Aku menuliskan sebuah komentar. Bertanya, apakah ada cara agar bisa terhubung dan berkomunikasi? Komentar tersebut masuk ke waiting list, menunggu moderasi, bahkan mungkin tidak akan pernah di moderasi. Sembari menunggu juga, aku beranikan diri mencari grup yang mungkin bisa memberitahuku, kemana aku harus menghubunginya.

Ternyata mudah untuk menemukan nomernya. Kode negara yang berbeda. Ada dua, yang satu foto profilnya menunjukkan pemiliknya. Satu lagi foto profilnya berisi sebuah logo perusahaan. Kukirim sebuah pesan pada nomer dengan pp logo perusahaan, bertanya, apakah benar ini nomer hpnya. Satu hari kemudian ia membalas, benar. Alhamdulillah ketakutanku salah nomer sudah terhapus. Kami bertukar sapa basa-basi. Kuberitahu aku membaca tulisan di blognya dan terlintas pikiran untuk mengirim pesan padanya. Tapi aku masih di luar garis, aku tidak membahas atau bertanya tentang isi tulisannya. Aku hanya ingin ia tahu, bahwa ada yang membaca blognya. Hanya itu.

Aku pikir, itu saja cukup. Aku pikir, aku tidak akan melewati garis. Tapi sebuah tulisan lain diunggahnya. Dan setelah membacanya aku tidak bisa berdiam diri. Mungkin... mungkin, sekedar tahu ada yang membacanya tidak cukup. Mungkin ia benar-benar butuh teman yang bisa mendengarkannya. Maka kucoba menghubungi teman yang dulu dekat dengannya. Aku tidak memberitahukan tentang isi tulisan tersebut. Aku berpura-pura bertanya nomer hpnya, padahal aku sudah memilikinya bahkan sudah pernah bertukar chat dengannya.

"Masih keep contact sama dia?", tanyaku

"Iya, masih keep contact kok", jawab teman satu kosannya dulu.

Seharusnya itu jawaban itu membuatku lega. Tapi ternyata aku... entah terlalu terbawa emosi memilih untuk melewati garis. Aku tahu, kesannya seperti ikut campur. Tapi, hanya dengan itu aku bisa menenangkan diriku.

Kukirim padanya beberapa baris pesan, tentang tulisan terakhir yang ia unggah, tentang aku yang pernah menghilang dari peredaran, dan bagaimana aku bisa membaik. Tentang pentingnya menulis dan bercerita, saat begitu banyak hal memenuhi pikiran dan dada.

I crossed the line. I'm not a silent reader anymore.