Follow Me

Saturday, June 30, 2018

You're Doing Well

June 30, 2018 0 Comments
Bismillah.


You're doing fine. Teruskanlah usaha dan doamu. You're doing well...

Kadang, ada masa kita ragu, apakah kita sudah benar? Apa kita berprogres? Apa kesalahan-kesalahan itu bisa ditanggulangi?

Kadang ada masa kita bertanya, apa kita bisa terus berjalan seperti ini? Atau kita perlu sejenak berhenti? Istirahat? Atau justru perlu berbalik dan menyerah? 

Saat-saat itu... semoga ada yang menyakinkanmu, mengatakan padamu, you're doing fine, you're doing well...

Mungkin kata-katanya tidak harus persis seperti itu. Ada perbedaan diksi, pilihan kata. Mungkin bahkan bukan lewat lisan, tapi lewat tulisan. Mungkin bahkan bukan dari orang terdekat, tapi dari orang asing, yang tulisannya tanpa sengaja kau temukan. Bahkan mungkin... itu dalam bentuk kitab, tulisan berbahasa arab yang membacanya kau terbata, tahu artinya dari terjemahan. Tapi entah mengapa, kalimat itu menurunkan ketenangan di hatimu, seolah kamu diyakinkan.. kamu dihibur, bahwa... you're doing well. You're doing fine.

Sesekali terjatuh, itu lumrah. Kesalahan itu.. kegagalan itu... pasti pernah terukir, dan berulang. Lelah, jenuh, itu sifat alami manusia. Ia sering datang, dan menyelimutimu, membuatmu ingin menyerah dan berhenti saja.

Lewat kesalahan dan kegagalan itu.. kita belajar untuk tumbuh, grow up, mendewasa. Lewat lelah dan jenuh itu.. kita menyadari status kita sebagai manusia biasa, yang butuh tempat bersandar yang tangguh. Bersandar pada diri sendiri, orang lain, harta, tahta, itu... tidak cukup. Tidak akan pernah bisa membebaskan kita dari lelah dan jenuh. Kalau kita tahu... setiap kesalahan, ada pintu taubat yang dibuka lebar oleh Allah. Kalau kita tahu... setiap lelah dan jenuh akan dihapus tanpa sisa nanti, di kehidupan yang hakiki. Semoga sedikit pengetahuan itu bisa membuat kita berjalan lagi, berproses lagi..

You're doing fine, you're doing well...

Allahua'lam bishowab.

Thursday, June 28, 2018

Things You Watch Influences You

June 28, 2018 0 Comments
Bismillah.

Apa yang kamu liat, yang kamj tonton, yang kamu dengar, yang kamu baca, mempengaruhimu.

Beberapa waktu yang lalu, saya banyak nonton acara traveling backpacker, dikasih budget tertentu, trus diberikan misi yang harus dilakukan. It's just entertaining.. nonton banyak bahasa tibuh, karena ga bisa bahasa negara yang dituju, dan bahasa inggris ga berlaku sebagai bahasa internasional. The exitement when they succeed their mission. 

Jadi banyak mikir traveling.. keinget banyak hal terkait traveling. Tentang paspor yang sudah hampir habis masa berlakunya. Hehe. Dibuat tahun 2013 saat anak asrama rencana jalan-jalan ke Malaysia. Padahal mah, aku memang ga berencana untuk ikut, tapi karena mimpi traveling itu ada di hati, jadi dibuat aja. Qadarullah ada uang juga untuk buat passport, lagian.. who knows, maybe the chance will come. J

Trus teringat chat dari anak asrama angkatan 2017/2018 yang berencana study tour ke Jepang dan lagi usaha cari dana baik dengan jualan, maupun membuka donasi. Aku cuma bisa bantu doa aja hehe. Keren ih.. rencananya hehe ~ berasa ada study tour juga di kuliah hehe. Biasanya kan study tour cuma pas sekolah aja hehe.

Trus teringat seorang ukhti yang aku temui di acara MAMT. Ia dan cerita travelingnya.. Katanya, meski harus ngumpulin uang dan ngeluangin waktu, harus dipaksain, kalau ga gitu, ga akan ada kesempatan hehe. You must looking for the chance not just sitting around and waiting.

Terakhir, untukku... be careful and selective choosing what you read, what you watch, and even what you listen to. Untukku... datang atau tidak, dijemput atau tidak, jika itu sudah digariskan, ia akan somehow hadir di hidupmu. Pastikan usaha dan doa, juga niat yang lurus. J

Allahua'lam.

Wednesday, June 27, 2018

Freeze the Air

June 27, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Others know how to break the ice. I know how to freeze the air.


Perusak mood hehe. Yaudah sih. Hehe.

Yang lain heboh bahas quick count karena penasaran dengan hasil akhirnya. Aku malah melempar kalimat yang membekukan suasana: sabar aja ngapa, tunggu release resmi. 

Sebenarnya bisa di undo, delete for everyone. But why? Kenapa harus di undo, I don't think it's wrong to freeze the air. I have my own role. Just let the other do their role to break the ice. J

***

Kejadian singkat, tulisan sensi. Hikmahnya satu: lebih baik diam. Tahan lisan dan jemari untuk komentar hehe.

Hikmahnya lagi, wajar lah.. mereka manusia punya kuriositas. It's important for them, so they want to know the result, as fast as they can.

Yang jadi masalah itu... quick count, atau info apapun yang diburu-buru, biasanya tidak akurat, rawan diisi kesalahan.

Trus, mau dilanjutin? Hehe.

***

Terakhir, untukmu bell... sibukkan diri dengan hal produktif please.. Kan kemarin baru belajar tentang prioritas. Ok?

Tentang rencana pagi yang tidak terlaksana. Ambil hikmahnya, kamu juga belum siap, lakukan kerja dan doa, sisanya biar Allah yang menentukan skenarionya.

Ucapkan in syaa Allah saat berencana. Jika lupa, berdoalah. 'asaa ayyahdiyani robbi li aqroba min hadza rosyada. aamiin.

Allahua'lam.

Nothing Last Forever

June 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

Masih terinspirasi dari serial dunia hujan di blog-nya Teh Mentari Pagi.

Membaca serial tulisan pendek itu.. membuatku ingin menulis ini. Nothing last forever. Whatever it is. Termasuk relationship. I don't mean, we must give up and end the relationship we cherish because one conflict. Aku cuma ingin menuliskan, bahwa kita tetap harus menyadari bahwa ga ada yang abadi. Bahkan ibu dan anak, saling menghindar di hari dimana semua orang sibuk memikirkan diri sendiri. 

***

Itu yang pertama, nothing last forever. Yang kedua.. saat sebuah hubungan layu, apa kita harus berhenti menyiraminya? Aku pernah blogwalking, yang aku komentari dengan kesensian diri.

Saat ada yang salah, hubungan kita dengan manusia, entah itu sahabat, orangtua atau bahkan kekasih, pertanyaan pertamanya harus sama dan ditujukan ke diri, bagaimana hubungan kita dengan Allah?

Karena saat kita melukai orang lain, kita salah mengucapkan kalimat berduri, artinya ada yang salah di diri kita. Ukhuwah itu buah iman, saat ukhuwah kering dan radang, apa kabar iman kita? Bukan berarti kita melupakan inti permasalahannya, tapi sebelum beranjak ke teknis penyebab semua itu layu, kita perlu melihat dulu ke dalam diri kita. 

Lalu sembari memperbaiki iman kita, kita jalani juga usaha untuk memekarkan lagi hubungan yang layu. Bagaimana caranya? Lewat doa. Lewat membuka pintu komunikasi. Lewat memberikan hadiah kecil. Terus saja begitu.. tekniknya ada banyak. Kita coba satu persatu. 

Seperti tanaman yang layu, kita coba sirami, kita coba cabuti gulma, kasih pupuk, berikan sinar mentari pagi. Sambil doa juga.. 

Yang menggerakkan hati itu Allah. Diam dan jarak itu mungkin akan lama kita rasakan. Sedih, iya. Tapi kalau kita berusaha memperbaiki diri, mencoba memperbaiki komunikasi, serta sering-sering melangitkan doa untuknya. Suatu saat Allah akan memekarkan lagi hubungan itu. Atau kalaupun tidak mekar di dunia, bukankah.. sama-sama reuni di Jannah itu cukup? Itu bahkan lebih penting, ketimbang mekar dan berbuah hanya di dunia. 

Allahua'lam 

***

PS:

Aku pernah tahu rasanya... saat hujan dan samudra tidak pernah bertemu. Saat itu hujan sedang sakit, samudra.. entahlah, mungkin jauh lebih sehat. 

Aku pernah jadi yang melukai, pernah juga yang terluka. Tapi lepas dari semua luka itu... aku merasa... doa dari teman-teman berhati tulus lah, yang membuatku mampu mengeratkan lagi ukhuwah yang pernah putus. 

Atau jika itu tentang justru ikatan yang tak bisa putus.. tapi karena terlalu erat justru melukai. Aku juga masih belajar, bagaimana agar tidak menjadi yang melukai, dan tidak terlalu sensitif dan selalu merasa dilukai. 

Ah.. tiga paragraf ini mungkin sebaiknya tidak perlu ditulis. Sok tahu, sok abstrak. Di hide aja ya hehe. 

Blogwalking Spesial: Nururrohmahzainab

June 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

#blogwalkingspesial

Ide blogwalking spesial tercetus saat brainstorming projek setelah 1000post. Ramadhan kemarin, kemarinnya lagi. Hehe. Qadarullah belum sempat direalisasikan. Malam ini, gatau kenapa jemariku tergerak untuk menulis satu.

***

Nururrohmahzainab.wordpress.com


Blog-nya Teh Zae, SAPPK ITB 2009. Pertama kenal Teh Zae di Gamais, di Oasis Gamais. Acara penyambutan TPB. Sekarang namanya ganti Simfoni kalau ga salah. Ketemu juga sama teh Zae di Mata' Salman, pas DP2Q. Teh Zae yang aku ingat tinggi, kurus, wajahnya mirip Anna, suaranya khas, lembut. Mungkin karena introvert, kesan pendiamnya dapet pas awal kenal, tapi kalau ga salah, aku pernah juga menangkap memori saat Teh Zae riang ngobrol dengan teteh-teteh mata' 2009 lain. Berantem, debat, ala temen, bukan nada tinggi bahas serius. Tapi hal kecil da sambil banyak senyum.

Pertama tahu blognya, dari tulisan a letter to my daughter, trus Teh Zae komentar sebagai saudara muhajirin-ansharnya Teh Amy. Trus jadi klik link, baca blognya.  Tahun 2016, beneran blogwalking, baca satu persatu tulisan di sana, dan menemukan banyak pencerahan dari tulisannya. 

It's as if.. Allah led me to read her blog. Tulisan jaman baheula tak terungkap, yang aku reblog, terjawab clear oleh penjelasan di blog teh Zae. Sejak itu.. alamat blognya aku taruh di gadget list blog menarik.

***

Isi blognya mayoritas tentang apa yang ada di pikirannya, buah dari perenungannya. Ada sebagian tentang film/drama. Tulisannya ga alay kaya di sini. Ga akan ada hehe, wkwkwk, emot ^^. Kalimatnya lembut mengalir, pas sesuai dengan image Teh Zae yang ada di otakku.

Dari tulisan-tulisannya aku belajar banyak, ikut merenungi pemikirannya, banyak setuju, ikut nostalgia juga.. pas liat slide foto oasis. Dari tulisan-tulisannya.. aku sedikit mengenalnya. Melihat Teh Zae dari sisi berbeda. Sebelumnya mana pernah aku ngobrol panjang dengannya. Diskusi ini itu dengannya. Ga ada kesempatan dan ga ada tempatnya. Tapi karena ia menulis, di blognya, aku jadi bisa seolah mendengarkan dan mengobrol dengannya. Ia dengan tulisannya. Aku dengan komentar blogwalking di sini. 

Aku belum pernah kontak langsung tetehnya. Malu dan gatau mulainya gimana. Tapi tulisan ini.. semoga bisa jadi bentuk sedikit apresiasi dariku, untuk Teh Zae, untuk tulisan-tulisan di blognya.

***

Beberapa judul tulisan di blog Nurrohmahzainab.wordpress.com yang aku suka :

Thanks a lot. Jazakillah khairan katsir untuk nurrohmahzainab.wordpress.com ^^

***

PS: Someday, I'll send link of this post to her. (: In syaa Allah. Doakan aku agar berani ya hehe. Cari kontaknya mah mudah, yang sulit itu, memberanikan diri untuk mengaku, kalau aku silent reader blognya Teh Zae hehe J

Monday, June 25, 2018

I Want to be Mean

June 25, 2018 0 Comments
#fiksi

"I want to be mean" gumamku pelan sembari melihat ke layar ukuran 7 inchi. Tuk, sebuah permen dilempar ke tempatku duduk. Aku menoleh ke belakang, arah asal permen mint itu.

"Nih, gue lagi baik bagi-bagi permen mint. Pas banget lo gumam pengen permen mint." Mendengar penjelasannya, aku hanya mendesah nafas pendek, heran sama leluconnya yang ga lucu. Mungkin bukan lelucon, ia hanya salah mendengar kalimatku.


"Ga ada yang pengen permen mint. I just said, I want to be mean, pengen jahat sama orang."

Ia, dengan sekantung permen mint-nya mendekat, penasaran dengan maksud asli kalimatku. Kuceritakan padanya tentang anak kecil yang kutemui di dunia maya. Minta kritik dan saran tulisannya. Ga ada yang nanggepin. Kasihan kan? Yaudah aku paksakan diri baca cerita ala abg, yang isinya sinetron banget. Tokoh utamanya klise, perempuan cantik populer sesekolahan. Ketemu sama tokoh utama laki-laki ga sengaja nabrak pas pergi ke kantin. Dikejar-kejar cowok yang udah ditolak tapi ga punya harga diri. Trus ujungnya, yang ngejar ternyata niatnya cari "uang" karena nyokapnya karakter utama tajir. 

"Harus gue bales apa coba? Apa perlu gue babat habis? Jujur tentang ceritanya yang gak menarik? I want to be mean.. but.. "

"But? Kan anak kecil itu minta kritik saran, kenapa ga jujur aja meski menyakitkan?" jawabnya, sembari membuka permen mint yang ketiga, dua permen sebelumnya sudah habis dikunyah saat aku cerita tentang tulisan anak kecil yang baru kubaca. 

"Kasihan, masih kecil. Gue.. juga pernah di masa itu. Tulisan pertama anak kecil, wajar kalau ceritanya childish. Kalau gue jujur, takut malah matahin semangat anak orang buat nulis."

"Trus?" Ucapnya ringan, membuatku makin yakin, kalau bercerita dengannya percuma. Bagi ia, ini bukan hal yang perlu dipusingkan. Kalau ga bisa tega jadi kritikus pedas, ya lebih baik berhenti jadi kritikus. Kalimat tanya pendek 'terus' itu cukup untukku tahu, apa yang harus aku lakukan. 

"Ga ada terusannya. Udah sanah, pergi. Sampahnya jangan lupa dibawa".

***

Pelan, kuketik sebaris saran. Ya, yang diminta anak kecil itu kritik dan saran. Karena ga bisa kritik pedas, kuberikan saja saran untuknya, saran tentang membuat kalimat efektif. Kuabaikan plot ceritanya, aku fokus mengoreksi teknis pembuatan kalimat. Japri, bukan di grup. 

Tapi balasannya membuatku kembali menggumam kalimat yang sama. I want to be mean. 

"Kak, mau baca lanjutannya ga?"

***

Kuletakkan hp-ku, sebutir permen mengalihkan fokusku. I try hard not to be mean. But at the end.. I still mean to that little girl who wants to learn writing. Aku memang tidak mennumpahkan kritik penuh biji cabai padanya. Tapi pilihanku untuk tidak membalasnya, dan untuk diam saja, sudah cukup membuatku mengaplikasikan makna 'mean'.



The End.

Sunday, June 24, 2018

Palestina

June 24, 2018 0 Comments
Bismillah.


Ramadhan kemarin.. ada pembahasa dua buku... yang pertama buku berjudul Palestina Yang Terlupakan, satu lagi buku tenntang inspirasi dari kepemimpinan Shalahudin Al Ayyubi. Dari situ... diingatkan lagi tentang pentingnya tanah syams. Sebenarnya di salah satu grup tercetus ide sih.. untuk membuat projek literasi terkait palestina.. harusnya habis lebaran, tapi sampai saat ini belum ada suara hehe. Salahku juga, yanng inget tapi enggan bersuara di grup.

Izinkan idenya aku adopsi. Doakan semoga terlaksana ya.. harus buat konten tentang palestina, artinya aku harus banyak studi literasi, kenapa? Karena pengetahuanku bisa dibilang limit mendekati nol hehe. Tanah syams ini istimewa bukan cuma karena sejarah yang terukir di sana.. tapi sampai nanti, sampai akhir zaman, tetap menjadi tanah yang istimewa. Jadi inget kajian akhir zaman, dulu di taman ganesha sebelum renovasi hehe. Catetannya masih ada bell? Hehe. Nanti dicari-cari, atau beli bukunya aja lah hehe. Harusnya mah banyak buku yang bisa dijadikan sumber referensi. 

Aku lagi kepikiran, mulai nulisnya darimana ya? Apa mau kronologis? Dari awal nabi adam diturunin? Hehe. Trus tentang nabi-nabi yang dakwah di bumi syams? Atau justru dari timeline sekarang.. trus putar ulang, mundur pelan-pelan, trus maju ke bahasan akhir zaman? Hehe. Masih angan-angan, masih cuma lintasan pikiran. Bisa jadi tulisan ini akan balik ke draft kalau misalnya ternyata cuma numpuk di ide. Hehe. 

Tapi kan ya.. lebih baik berencana, biar kemudian sibuk merealisasikan rencana. Daripada ga ada rencana. Trus waktu untuk baca, dan nulis, kebuang untuk main sosmed dan hal-hal melalaikan lainnya hehe. 

Anyway.. Let's just start with bismillah.. Bismillahirrahmanirrahim.. ^^

***

PS: Sebenarnya ya.. kalau ide kaya gini baiknya ngajak orang lain, biar kalau aku lupa, ada yang ngingetin.. hehe.

Dua Ayat

June 24, 2018 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Udah lama kayanya ga bahas tentang ayat Quran. Kalau ditanya kenapa, jawabannya, karena lama saya ga baca atau nonton video terkait itu.. atau sudah baca sudah mendengarkan, tapi.. belum menginternalisasikan. 

Ada satu ayat, yang membacanya gatau kenapa ngingetin aku akan ayat lain. Padahal bacaannya ga mirip, tapi gatau kenapa...


Ayat Al Baqarah ayat 28, sebuah pertanyaan.. kaifa takfuruna billah?

dan ayat Al Infithar ayat 6, sebuah pertanyaan juga... ma gharraka birabbikal karim?

***

Sebenarnya pernah baca/dengar penjelasan surat al infithar ayat 6 sih.. cuma begitu samar jadi ga berani nulisinnya. 

Yang jelas ayat al baqarah 28, gatau kenapa ngingetin aku sama al infithar ayat 6. Seolah keduanya bertanya padaku... kok bisa sih? Bagaimana bisa... mengingkari Allah... padahal Allah yang menghidupkan kita, padahal tadinya kita mati, kemudian Allah mematikan kita dan menguidupkan kita kembali.  Seolah keduanya bertanya padaku... how can you?? Kepada Rabb Al Karim? Yang menciptakan kita, menyempurnakan kejadian kita, menyusunnya menjadi seimbang?

Keduanya, dua pertanyaan itu, dua ayat itu... semoga bisa sedikit memberikan cahaya pada hati, yang terlalu gelap dan penuh kerak dosa. 

Allahua'lam. 

Facebook, Instagram

June 24, 2018 0 Comments
Bismillah.

Ceritanya... qadarullah dalam waktu berdekatan saya blogwalking ke dua tulisan dengan tema mirip tapi tendensinya berbeda.

Yang pertama dibaca, tentang ketidaksukaan seseorang terhadap Facebook dan Instagram, dan ia lebih suka blogging. Alasannya ia paparkan lumayan panjang, pakai bahasa keduanya (bahasa Inggris). Dari tulisannya aku jadi tahu info baru. Seperti ternyata Facebook dan Instagram ternyata pemiliknya sama ya? Wkwkwkk. Baru tahu? Parah! Hehe. Jangan protes ya. Saya memang ga update beginian. Terus lewat membacanya juga aku jadi banyak setuju, iya juga ya, sekarang banyak konten yang diatur sama Facebook, ga bebas lagi untuk bersuara. Trus baru tahu juga, kalau sekarang kalau kita posting di instagram, ga semua orang bisa baca postingan kita. Hmm.. ini gimana jelasinnya ya? Mungkin karena algoritma bubble gitu loh. Facebook kan gitu.. yang muncuk di newsfeed biasanya cuma topik yang sering like, orang-orang yang sering kita like. Instagram ternyata juga gitu sekarang. Ini aku ga punya bukti sih hehe. Secara aku pakai istagram belum lama dan ga follow banyak akun. Kalau yang follow ratusan akun ig, mungkin kerasa ya.. misal sehari ada 50 orang yang update, apa kelimapuluhnya muncul di dashboard? Atau cuma beberapa orang aja?

Pokoknya intinya setelah baca tulisan pertama saya tanpa sadar jadi tergiring opininya hehe.

Sampai saya membaca tulisan lain, tentang Facebook juga, tentang ruang komunal Facebook. Ada yang bisa nebak, yang ini saya baca dimana? Hehe. Ditulisan itu... ditunjukkan visi pertama Facebook, connect people from all over the world. Kalimatnya ga persis kaya gitu sih hehe. Trus dijelaskan juga visi kedua, ada sedikit perubahan tapi tetep sejalan sama visi pertama. Dan visi kedua ini membuat saya paham, kenapa Facebook suka 'ikut campur' sama postingan kita hehe. Di tulisan kedua dicantumkan foto ruang komunal yang disponsori Facebook tersebut.  Aku pribadi suka sama ide penyediaan ruang komunal, kebayang bakal banyak diskusi produktif dan kolaboratif di sana. 

Jadi... setelah baca keduanya, saya jadi teringat lagi untuk lebih objektif. Jangan cuma baca tulisan dengan satu tendensi ke kiri, baca juga yang ke kanan, yang pertengahan juga. Trus baru ambil pilihan dan sikap.

***

Dari dua blogwalking itu, aku diingatkan untuk baca lebih banyak, teliti, banyak skeptis gapapa, supaya ga mudah termakan hoax. Di era global sekarang, sosial media selalu bisa jadi pisau yang melukai diri.

Facebook, Instagram, Blog also.. use it wisely. J


Allahua'lam.

Saturday, June 23, 2018

Suspicion

June 23, 2018 0 Comments
Bismillah.

#selftalk

I know for sure the fault is in my hand. But I still don't know how to handle this suspicion in my head.

****

Lebih mudah percaya daripada curiga. Sungguh. Tapi untuk belajar percaya dan berhenti curiga, butuh usaha.

***

Kalau itu tidak terjadi, jangan mengada-adakan prasangka Bell. Yang tidak terjadi tidak dihitung, seperti niat buruk dalam hatimu, tidak dihitung dosa oleh Allah. 

Kalau itu ada di hati orang lain, kamu jauh lebih tidak tahu. What's in other people's heart?  Is it poison or honey? You won't know. Don't follow the little clue, it's just suspicion. And if it doesn't happen in front of your eyes, it means it really doesn't happen. Case closed. Ok?

***



Be strong^^ Be positive... 
Even if that's not going to be easy.
Stay strong, stay positive...

Allahua'lam. 

Thursday, June 21, 2018

Sleep? Are You Sure?

June 21, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Akan dibalikin lagi ke draft in syaa Allah. Just a reactionary post.

Jadi.. aku baca lumayan bayak tulisan di Medium. Sampai medium bilang, I read a lot. Trus ada tambahan kata, and we like it. wkwkwk. Dulu ga ada padahal hehe. Bagus ih, minimal sekarang nadanya bukan kaya ga suka kalau kita baca banyak hehe. *Dih, ngomongin medium dibelakang mulu hehe. 

Oke, balik ke topik. Dari sekian tulisan yang aku baca, ada tulisan ini, berjudul 5 Essential Investment Every Human Being Should Make in Themselves

By the way, the article is good.. read it and hopefully it will give you benefit. Abaikan tulisan sensi ini, baca lengkapnya di link di atas.

di sana ditulis ini.. 
If you improve the quality of your sleep, you’ll improve every other area of your life. - Srinivas Rao
Aku baca itu gatau kenapa sensi. Yakin tidur? bukan hal lain? Aku tahu kalimat itu ga sepenuhnya salah. Karena dia ngerasain bedanya saat tidur teratur dibanding saat dia susah tidur. Tapi ya tapi..  yang bener bukan kualitas tidur yang dibenern biar aspek lain di hidup kita juga naik. Kau tahu apa? Shalat. Ya, tulisan sensi ini untuk mengingatkanku... bahwa.. 
If you improve the quality of your shalah, you'll improve every other area of your life (not only in this life, but also afterlife). - Kirei
***

Trus aku mikir... yakin kau pantes sensi nulis ini? Punya kaca Mba? Coba dilihat.. gimana kualitas shalatmu? Ehm... *speechless

Allahummaj'alna minal mushollin..

Allahua'lam.

Dunia Hujan (3)

June 21, 2018 0 Comments
#blogwalking 

Bismillah.

Udah baca lama padahal, tapi malem ini.. berkunjung lagi ke tulisan itu, baca 6 komentar di bawah tulisannya. Trus jadi ingin komentar. Sudah ngetik di sana lumayan panjang, eh, somehow, web browser-nya nge-hang wkwkwk. Trus mikir, apa ini tanda, kalau baiknya jangan komen? hehe. 

Akhirnya memutuskan menulis di sini saja. Nanti kirim link ke pemilik blog hehe. Biar komentarnya tetap sampai. (:
"Apa jadinya jika orang yang paling kamu cintai malah yang paling berat mengecewakanmu? Menoreh luka di hatimu terlalu dalam? Mengubah segala pandangmu tentangnya?  
Apa masih ada ruang maaf di hatimu untuknya?
Akankah pintu kembalinya kamu buka?
Bagaimana kamu kini menyimpan memori tentangnya?" 
- Ukhti Mentari Pagi, dalam serial barunya, Dunia Hujan (3)
***

Di kolom komentar, Ukhti tersebut menyebutkan bahwa kisah dunia hujan bisa dipikirkan dalam status apapun,
"Ibu-anak/
Orang tua-anak
Sahabat
Kakak-adik
Ng, sepasang yang masih unknown statusnya
Ng, sepasang yang sudah known statusnya"
Kalau boleh jujur, saat aku membaca tulisan tersebut, aku berkaca tentang diri. Bukan sebagai orang yang dikecewakan, tapi justru sebagai orang yang membuat kecewa. Begitulah aku.. dengan sifat individualis, setiap membaca sesuatu, pasti banyak memikirkan diri, bukan mencoba memahami sudut pandang penulis, menerka jalan pikiran penulis lebih sulit hehe. 

Jadi ketimbang menjawab pertanyaan di Dunia Hujan (3), aku justru fokus di sudut pandang yang berbeda. Hati manusia, siapa yang tahu? Yang bersalah, yang membuat kecewa, seperti aku.. cuma bisa berusaha memperbaiki diri. Seperti aku tahu, bahwa yang terjadi tidak bisa di-undo. Seperti aku tahu, bahwa luka di hati seseorang, aku tidak punya kemampuan untuk menyembuhkannya. Seperti aku tahu, bahwa kita cuma bisa mengetuk pintu maaf, yang bisa membukanya cuma pemilik pintu tersebut. Dan seperti aku tahu, bahwa Allah masih memberiku kesempatan waktu untuk hidup. Seperti itu juga aku harus berusaha memperbaiki diri, mencoba menjadi anak yang lebih baik setelah luka yang aku gores di hatinya. Cuma itu. Maybe they won't see me the same anymore. But it shouldn't be my focus. Fokusku cuma berusaha dan berdoa, sisanya biar Allah yang menyembuhkan luka di hati dua insan yang ditakdirkan menjadi orangtuaku. Sisanya, biar Allah yang menggerakkan hati mereka, untuk memaafkan kesalahanku, dan memandangku sebagaimana sebelum kekecewaan itu aku tanam di hatinya. 

***

Satu lagi yang aku pikirkan saat membaca tulisan itu.

Jika seseorang yang paling kita cintai justru yang paling berat mengecewakan kita.. mungkin justru itu ujiannya. Ujian yang disajikan Allah. 

Allah ingin bertanya, apakah cinta kita kepadanya sudah karena-Nya? Apakah cinta tersebut sudah benar komposisinya? Apa sudah benar dosisnya? Karena cinta yang komposisinya salah, dan dosisnya berlebih akan selalu melukai, meracuni. Allah tidak ingin itu pada hambaNya. Allah tidak ingin kita terluka karena komposisi dan dosis cinta yang salah. Maka Allah menguji kita... bahwa justru.. ya, justru orang yang paling kita cintailah yang bisa paling berat mengecewakan kita. 

Kalau ia bukan orang yang kita cintai, tentu kita tidak kecewa berat. Misal kita bertanya alamat, ternyata orang asing yang kita tanya, salah ngasih petunjuk. Jadinya kita muter-muter lama. Kecewa? Iya. Tapi gimana ukuran kecewanya? Mungkin ga terlalu besar. Gapapa. Toh ia hanya orang asing yang lewat di hari kita. 

Kecewa ada karena ekspektasi. Dan semakin kita mencintai seseorang, normalnya kita juga punya ekspektasi terhadapnya. Apapun bentuknya.

Tahukah satu hal yang unik? Cinta Allah.. Cinta yang berbeda dibanding cinta makhluk hina seperti manusia.

Allah tidak berekspektasi apapun meski cintaNya pada kita begitu besar. So it was always easier to return to Him after all the sins we made. Manusia lain, jika tahu bobroknya kita, tentu akan berbalik arah dan menghindari kita. Tapi Allah justru membuka pintu taubat lebar-lebar, biarlah manusia, memang begitu manusia, mendekat dan berlarilah pada Allah. 

Balik lagi ke ekspektasi. Cara mengurangi kecewa, turunkan ekspektasi. Jangan tempatkan manusia sebagai malaikat. Manusia, siapapun itu.. someday they will hurt you, she will hurt you, he will hurt you. Jangankan sepasang yang belum unknown statusnya, jangankan sepasang yang known statusnya, jangankan sahabat, bahkan kakak-adik, bahkan orangtua-anak. They'll make mistakes, they'll make you hurt, and they'll make you disappointed. Tapi terlepas dari fakta itu... kita juga harus mengakui, bahwa kita manusia. Kita bisa terluka, kita bisa kecewa. Kita juga bisa melukai dan mengecewakan sosok yang mencintai kita.

Jadi...? Kesimpulannya apa?

Hm... gatau hehe. It's just.. dari satu tulisan penuh pertanyaan di seri Dunia Hujan (3) dan komentar di bawahnya, aku tergerak untuk memikirkan dan menulis ini. Mungkin apa yang kutulis banyak salah dan banyak sok tahu. Hehe. Maaf *peace. Pardon me. Maklum.. Aku terbiasa bernarasi panjang.

Allahua'lam.

****

PS: Mungkin web browser-nya nge-hang itu pertanda, kalau baiknya tulis di blog aja. Kalau beneran di-post di kolom komentar tulisan tersebut, kasihan yang baca, ini komentar kok panjang banget hahaha.

Tuesday, June 19, 2018

Ghost Writer

June 19, 2018 0 Comments
Bismillah.


Ada yang pernah ketemu ghostwriter? Jangan diartikan hantu penulis ya hehe. Ghostwriter atau co-writer, adalah orang yang menulis dibelakang layar. Jadi ia dibayar untuk menulis atas nama orang lain. Aku pertama kenal istilah ini di Aksara, waktu itu agenda Majelis Buku kalau ga salah, di perpustakaan Salman (Salman Reading Corner). Membahas tentang ghostwriter itu terkesan tabu, aku ingat suasana diskusi saat itu, pokoknya ada kontrak, kalau sudah bersedia sebagai ghostwriter tidak boleh mengumumkan kalau novel/buku X sebenernya yang nulis dia. Katanya bayarannya lumayan hehe. Ga disebutin nominalnya tapi hehe. 

Beberapa tahun kemudian, aku tahu lagi tentang ghostwriter tapi dengan brand baru co-writer. Pembahasannya ga lagi terkesan tabu. Aku dikasih sudut pandang baru, kalau ghostwriter itu semacam minjemin tangan, dan otak, bantu orang lain menulis kisah yang ga bisa dia tulis. Hebatnya lagi.. ia tidak bermain belakang layar. Kontraknya tetep terjaga, dia ga nyebutin produk yang pernah dia hasilkan, cuma menyebutkan jumlahnya saja. Kemampuan menulisnya ia jual lewat pelatihan. Sekarang jadi CEO perusahaan training penulis.

***

Dari kedua ghostwriter tersebut aku belajar, bahwa pilihan itu.. ada di orangnya. Aku ga berani mengatakan bawa yang satu lebih baik daripada yang lain, secara aku ga kenal secara personal kedua ghostwriter tersebut, cuma dengan info-info kecil aja. 

Belajar juga, bahwa perbuatan itu akan dibalas dengan niatnya. Mau jadi ghostwriter atau jadi penulis dengan membawa nama sendiri, balik lagi ke niat. Kalau yang ditulis itu baik, dan bermanfaat. Allah Maha Mengetahui. Ga akan tertukar pahalanya akan masuk ke timbangan siapa.

Aku pernah mikir, kalau ghostwriter apa motivasinya karena uang yang didapatkan banyak? Trus ini sekarang, beberapa hari ini gatau kenapa kepikiran lagi. Balik lagi ke niat. Sama seperti ga ada yang salah orang berbisnis ingin omset yang tinggi. Ga ada yang salah juga ingin tulisannya di kunjungi banyak orang, bukunya dibeli banyak orang. It doesn't effect, asal niatnya lurus dan benar. 

***

Kenapa kalau sudah sampai ke penutup, aku suka bingung ya mau nulis apa? 

Anyway, begitu sekilas tentang ghostwriter yang aku ketahui. Begitu juga hikmah yang aku coba temukan, setelah "menemukan" dua orang ghostwriter

Terakhir, semangat menulis^^


Monday, June 18, 2018

Memaksimalkan Fungsi Otak

June 18, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Kya... lama ga nulis blogwalking. Padahal sebenernya banyak banget tulisan bagus dari feed daftar bacaanku.

Kemarin aku baru berkunjung ke sebuah tulisan dengan judul yang sama, tulisan Yuning Ika R. Dari tulisannya aku jadi tahu, kalau pikiran negatif bisa menumpulkan potensi otak. Dan tahu sedikit contoh hal-hal yang bisa dilakukan agar kita menguatkan potensi otak.
Penurunan daya ingat merupakan tanda bahwa hipokampus, bagian otak yang bertugas untuk mengatur daya ingat kita mulai menciut. Memaksa untuk mengingat justru akan memberikan tekanan pada orak kita. Sebaiknya yang kita lakukan adalah memperkuat daya pikir alih-alih memaksa mengingat. Daya pikir ini bisa dimaksimalkan dengan memperbanyak pertukaran informasi dan membangun komunikasi dengan orang lain.
- Yuning Ika R., Memaksimalkan Fungsi Otak
Baru tahu, kalau kita sering lupa nama orang, memaksa mengingat bukan jadi solusi. Mungkin.. menurunnya kemampuan mengingatku, karena aku jarang membangun komunikasi dengan orang lain dan bertukar informasi wkwkwk, lebih banyak menulis sendiri, selftalk, jarang banget diskusi atau komunikasi dua arah. Kemarin-kemarin sudah sih, sama ukhti jelita yang dua bulan ini sedang banyak memikirkan sebuah misteri.

Langsung meluncur ke link dibawah kutipan ya.

***

Aku berkunjung ke blog tersebut lewat gerakan Sabtulis. Ternyata ia salah satu pelopor gerakan sabtulis. Tahu dari mana? Pernah baca tulisannnya, penjelasan tentang sabtulis, juga beberapa orang yang jadi 'pengurus'nya. Tulisannya berjudul Menulis Untuk Sabtulis. Membaca itu gatau kenapa aku main tebak-tebakan sendiri, sok tahu, siapa miss N dan mr. B. Sok tahu, hanya menerka dari nama-nama yang hampir tiap sabtu submit tulisan Sabtulis, dengan inisial yang sama hehe. Bisa jadi saya salah. 

Meski ga ikutan gerakan sabtulis, ga submit tulisan di bit.ly/kumpulsabtulis meski hari sabtu qadarullah aku nulis, gatau kenapa ada perasaan sesuatu sama gerakan ini. Lewat gerakan ini, aku banyak baca tulisan bagus, tanpa harus follow. Sudah diseleksi juga. Trus jenisnya juga bermacam-macam, ga cuma esai, tapi ada puisi juga. Oh ya, akhir-akhir ini qadarullah aku banyak baca blog puisi, baik di Medium, Wordpress, Tumblr, dan tentunya Blogger. Trus jadi inget kutipan di nukil Madarijus Salikin, kalau puisi, kata-kata indah termasuk makanan jiwa, jiwa apa hati ya? Ilmu itu makanan otak, nasi makanan badan, trus dzikir itu makanan hati. Harus dicek lagi hehe. *nanti diupdate kalau sudah nemu kutipan aslinya. in syaa Allah. 

Ya, jadi ketertarikan itu membuatku ingin gabung jadi volunteer gitu. Bantu sedikit. Hehe. Soalnya kemarin pas lagi pada sibuk 10 hari terakhir, masa mudik, lebaran, ada satu pekan sosmed Sabtulis ga ada update-an. Padahal aku penasaran, di masa sibuk itu, ada berapa ya yang submit di sabtulis. Penasaran.. sampai ingin japri, can I help something? Tapi penasaran itu.. cuma sampai situ aja, ga jadi inisiatif tanya. Gemes sebenarnya sama diri, apa susahnya coba membuka pintu komunikasi? Bisanya ngomong sendiri, ngomong di belakang. Kaya gini nih, nulis di blog pribadi, kalau dibaca salah satu pengurus sabtulis, alhamdulillah. Kalau ga dibaca juga gapapa. Wkwkwk. Ibarat nulis surat, masukin ke kotak pos, tapi ga dikasih alamat tujuan hehe. Such a coward. Hehe

Anyway,.. semoga terus jalan ya, gerakan Sabtulis. Izinkan aku jadi secret admirer aja hehe. Jujur jadi inget sama GMM (Gerakan Muslimah Menulis) yang intinya mirip sama Sabtulis, tapi ga jalan hehe. Salahku juga sih, dulu banget cuma buat grup Facebook, ga update zaman now, ga aktif tanya ke member, barangkali mau diadakan grup WhatsApp, atau apa kek hehe. Lagian ga dibuat sistem kaya Sabtulis sih hehe. 

***

Tulisan ini out of topic banget ya? Judulnya apa, isinya apa? Hehe. Barangkali ada yang belum tahu, kalau ada tulisan #blogwalking, tata cara bacanya cuma baca kutipan, klik link, udah ditutup deh tab blog ini. Karena setelah kutipan, sisanya hanya ceracau random dariku yang disangkut pautkan dengan tulisan/blog hasil blogwalking.

***

Bicara tentang gerakan menulis, keinget aksara. Kangen kangen. Pengen cari komunitas semacam aksara, yang fokusnya ga cuma nulis, ga cuma baca, tapi beneran budaya literasi, lengkap nulis, baca, diskusi. Mau cari di online ga nemu, di offline kayanya juga belum ada. Kalau mau proaktif harusnya tinggal coba buat aja ya di Purwokerto. Aktifin kompilasi misal, atau buat baru, gausah mikir nama dulu, cari orang yang sevisi dulu. Sebenarnya bisa kan, misal, anggota Gen Al Fihri yang domisilinya Purwokerto, atau cari info CP FLP Purwokerto. Ketemukan orang yang suka baca, sama suka nulis, kalau udah ketemu, in syaa Allah akan ada diskusi hehe. 

Ide kaya gini, takutnya cuma berujung ide. Tapi ditulis juga gapapa, justru mungkin kalau ga ditulis, cuma jadi lintasan pikiran saja. 

Tiba-tiba keinget Qaf, aku sedikit banyak tahu awal kisah terbangunnya QAF. Dari empat orang, sama-sama semangat belajar islam dan al quran. Trus buat buletin, translate dari handout bayyinah.tv. Dari situ ada CP, bisa gabung. Trus aku kontak, dikasih link buat isi form pendaftaran, wawancara, trus gabung deh study group Qaf.

Kalau beneran nih ide mau direalisasikan. Mungkin bisa pakai metodenya Qaf. Buat buletin atau apa. Taruh di masjid/mushola kampus, nitip ke toko buku? Kaya Qaf nitip buletin di Togamas J

See Bell? Lewat nulis kan jadi jalan brainstorming-nya. Kalau cuma lintasan pikiran aja, dipendem aja, jadi bingung karena ga tau step-step-nya. Kalau ditulis, jadi kerja otaknya, sementara udah nemu dua langkah, cari orang yang sevisi (carinya dimana udah kebayang kan?), sama tahu step buat ngerekrut. Mau rekrut online juga bisa, tapi kamu lagi pengen buat yang offline kan? Udah kebayakan gabung grup2-grup online hehe. Lagian kalau online, sudah ada grup SSS NAKID, grup Kulwap MAMT, dan grup-grup lain..

Minimal sudah dapat izin dari orangtua, disuruh malahan, biar gerak dan ga kebanyakan depan hp mulu hehe.

Bismillah. Awalnya dari niat... *terusin dengan kutipan ustadz Fauzil Adhim favoritku.

"Awalnya dari niat, kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu" -M. Fauzil Adhim
Oh ya, tentang keinginan kontribusi di sabtulis, bisa juga dilaksanakan. Kenalan atuh sama miss Y, miss N. Ga sesulit itu kok dm ig sabtulis hehe. J bisa juga dm ig Miss Y, dan miss N. It won't be so difficult just to say hello.

You just have to speak your mind. Kalau terbata, bisa aja kirim link tulisan tentang sabtulis dari blog ini. Just say that you appreciate that kind of movement, say that Sabtulis is a great and inspiring movement.

Dicoba ya bell... ga harus besok, tapi dalam waktu dekat. It's a challenge for you. Ok?

Allahua'lam.

Iya, Jadiin Buku Aja

June 18, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kumpulin dulu aja, bukuin. Setipis apapun, kalau tulisannya bermanfaat, in syaa Allah berkah. Semoga dimudahkan.


Allahua'lam. 

Sunday, June 17, 2018

Bahkan Tidak Mampu Menyingkap Seluruh Siluetnya

June 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

Baru nulis di blog magic of rain, trus kepikiran ide buat menulis lebih panjang, tentang sebuah tema. Tentang betapa kompleks sesosok manusia.

***
"sungguh, kita tidak bisa menerka seseorang cuma dari tulisannya di satu tempat
manusia itu kompleks.
tulisannya hanya sebagian kecil dirinya
suatu waktu kamu akan terkejut saat berdiskusi langsung dengannya
ekspresi khasnya, intonasi, gesturenya
ini bukan hanya tentang isi sosmednya, blognya. bukan
manusia lebih kompleks dari itu.."
- Isabella Kirei, dalam blog private-nya The Magic of Rain
***

Jadi tulisan diatas awalnya cuma curcol aja, tentang satu sosok manusia, yang baru kutemukan tulisannya di tempat lain. Biasanya aku baca di link X misal, trus somehow, dapet link Y, disebutkan bahwa pemilik link X dan Y itu sama. Trus... aku heran aja, bisa beda gitu. Like I see the new side of it. Hahaha. Sok rahasia her/him, malah diganti it wkwkwk.

Sebelumnya aku mikirnya gini, kalau tulisan seseorang itu khas, jadi biasanya ya style dan gaya menulisnya sama. Kalau ada dua tulisan mirip banget cara penyampaiannya, aku pikir, kemungkinan besar penulisnya sama. Ah.. trus jadi inget, waktu aku baru pernah hadir kajian yang diisi oleh ustadz Salim A. Fillah, di Salman, acara IRAMA kalau ga salah. Saat itu aku heran, tertarik, ga nyangka, kalau gaya beliau berbicara mirip sama gaya menulisnya. Diksi yang beliau pakai, intonasi lemah lembut khas jogja, ritmenya, jeda antar kalimatnya, pokoknya setengah takjub, amazed gitu. Secara aku cukup nge fans sama karya tulisan beliau. Jatuh cinta sama tulisan non fiksi karena karya beliau.

Balik ke tema awal. Jadi aku kira ya gitu deh, tulisan seseorang dibanyak tenpat itu tetep sama. Tapi lewat kejadian dua atau satu pekan lalu, aku diingetin lagi, kalau manusia, ga sesimple itu. Manusia itu kompleks. Penuh dengan misteri dan keunikan masing-masing. Kita ga bisa merasa 'mengenal' seseorang cuma karena membaca sebagian tulisannya. Hehe.

Kita aja butuh banyak waktu untuk mengenal diri sendiri, apalagi mengenal orang lain. Ga boleh, sok kenal, cuma karena baca sebagian tulisannya. Ya benar, membaca tulisan seseorang memang bisa membuat kita mengetahui sedikit tentangnya, apa yang sering ia pikirkan, cara berpikirnya, sudut pandangnya, sedikit memorinya. Tapi sungguh, meski sudah baca banyak tulisan dari seseorang, kita masih sangat jauh dari mengenal sosoknya, bahkan tidak mampu menyingkap seluruh siluetnya. Makanya, kalau di buku-buku pernikahan disebutkan bahwa proses taaruf yang sebenarnya itu berlangsung seumur hidup.

***

Udah sih, cuma itu saja hehe. Ada lagi sih, sebenarnya hikmah dari kejadian dua atau sepekan yang lalu. Aku diingatkan untuk cukup membaca saja tulisan, tanpa perlu penasaran siapa penulisnya, ga perlu cari tahu karena penasaran. Meski tulisannya bermanfaat, penasaran kepada sosok penulis sering menjadikan kita ga objektif, nanti jadi subjektif. Nikmati saja tulisan yang ada, ambil pelajaran baiknya, tentang sosok penulisnya, ga perlu kita tahu banyak. Kalau sudah 'gak sehat' penasarannya, lebih baik stop baca tulisannya. Gak baik menurutku hehe. 

Aku ga ingin ngefans berlebihan ke seseorang, bahkan ke sosok Ustadz Salim atau Ustadz Nouman Ali Khan. Kagum akan dakwah beliau-beliau.. baca bukunya, dengerin ceramahnya. Sampai di situ aja, ga perlu sampai tahu setiap jadwal 'manggung'  beliau, kehidupan keseharian beliau, dll. Jadi keinget lagi.. kejadian lain yang membuat aku sadar, bahwa popularitas seseorang sampai segitunya ternyata. hehe. Heran, waktu seseorang bertanya padaku, tentang seseorang (Z). Jadi Z gimana Mba? Tanya seorang adik yang baru lulus SMA, aku cuma bisa garuk kepala yang tidak gatal dan menjawab pertanyaannya, dengan pertanyaan balik, gimana gimananya? wkwkwk. Da, aku ga kenal Z secara personal, sama kaya mayoritas orang, cuma tahu sedikit tentangnya, dan bahkan ga nyadar akan efek popularitas Z.

Ah...kan banyak curhat, ngalor ngidul. Publish dulu ya, bisa jadi nanti dibalikin ke draft lagi.

Allahua'lam.

PS: Untuk seseorang, yang kusalahterka tentangnya, maaf ya. Sincerely, I'm sorry for thinking of you the same way as things you write that I have read. Aku cuma manusia, yang lupa, kalau manusia itu kompleks. Ga sesimple itu. 

Pastikan Niatnya untuk Menyambung Silaturahim

June 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pernah aku menulis rasa engganku formalitas ngucapin happy ied mubarak, males aja copy paste basa basi hehe. Tapi setelah aku bertanya ulang pada diriku, tujuan dari semua itu apa, dan jawabannya silaturahim, aku mulai tergerak buat ucapan singkat, kirim ke grup dan personal. Kemudian menyambung dengan sapa dalam rangka silaturahim, jadi bukan cuma formalitas copas. Dan hikmahnya?

Jalinan silaturahim beneran terhubung, jadi komunikasi, diskusi ini itu, brainstorming suatu topik, sembari disisipi curhat, ia dengan ceritanya, aku dengan ceritaku. Awalnya aku juga ga ada ekspektasi bisa beneran nyambung dan tukar pesan panjang, secara momennya lebaran, banyak acara keluarga, kesibukan masing-masing. Tapi rencana Allah memang sesuatu, meski balesnya kadang lama, komunikasi dan diskusi tetep jalan. Gatau kenapa selalu amazed dan takjub, ga pernah bosen terpesona sama rencanaNya. Untukku terutama, yang sulit komunikasi jarak jauh, ternyata kalau ada usaha, bisa juga dibuka jalannya. Dapet insight baru, ngerasa kok pas banget ya, diskusi asik meski cuma lewat teks.

Selama pertukaran pesan itu aku juga jadi belajar, kapan harus menjadi penyimak, dan bertanya dengan penasaran akan ceritanya. Kapan bisa mengemukakan pendapat. Belajar juga, untuk tahu kapan harus buka hp, dan kapan harus meletakkan hp. Silaturahim di dunia nyata jalan, di dunia maya juga jalan. Jangan sampai, lagi ketemu saudara, eh lebih banyak liat layar hp daripada fokus ke orang yang di sekitar kita.


Terakhir, ternyata benar, kita akan mendapatkan sesuai niat kita. Maka pastikan niatnya untuk menyambung silaturahim. Jangan cuma untuk formalitas, biar ga dianggap ansos, atau cuma untuk makan bareng. Kalau niatnya untuk silaturahim in syaa Allah akan ada banyak keberkahan yang didapatkan. Ada yang tahu manfaat dari silaturahim? Rizqi, umur, apa lagi ya? Aku juga lupa. Hehe. 

Allahua'lam. 

Saturday, June 16, 2018

Saat Blog Penuh Iklan dan Promosi Tersembunyi

June 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

Ada sebuah blog yang sudah lama saya ikuti, isinya bagus, lumayan aktif. Sampai suatu hari, aku mulai meniteni kalau isinya sekarang bermuatan promosi dan iklan. Misal judulnya mah hari fitri nan bersih, eh.. ada iklan sabun cuci muka di dalamnya. Tetap ada kontennya sih, ga murni iklan, tapi ya gitu.. saya jadi agak ga nyaman bacanya. Pengen unfollow juga gimana, kadang masih ada pelajaran yang di dapat dari blog tersebut. Jadi deh, setiap ada pemberitahuan, aku jadi harus jeli dan ga terlalu refleks buat klik, open in new tab.

***

Tentang blog yang menghasilkan uang, memang ada banyak caranya. Salah satunya itu, iklan tersembunyi dalam kemasan konten menarik. Aku lupa istilahnya apa.. oh ya, copywriting, bener ga? Bisa juga dengan nyediain space, biar pihak ketiga bisa pasang iklan.

Aku yang sudah lama, main blog, pernah juga kepikiran untuk itu. Tapi memang baru selintas ide saja. Ga ada sama sekali motivasi untuk merealisasikannya. Kadang aku bertanya-tanya sih, bagaimana kalau promosi tersembunyi, atau papan iklan, justru mengganggu pembaca? Jangan sampai konten yang ingin kita bagikan, justru ga sampai.

Pernah juga mikir, apa perlu buat blog baru? Dengan topik yang seragam? Secara kalau blog ini kan isinya campur aduk, banyak curhat, sering ga jelas, plus sebenarnya tidak ingin terlalu publik juga.

Kalau buat blog baru, topik apa yang akan dipilih? Aku mikirnya bahasa inggris, penjelasan sederhana, cem tulisan "are you ok", yang mayoritas dikunjungi pengguna android. Banyak yang search gitu, apa arti are you ok, jawabnya gimana. Nah kan.. bisa tuh, buat konten lain, semacam bedanya penggunaan must sama have to, atau apa lah hehe. Sekalian belajar, sambil nulis, sambil belajar hehe. 

Tapi... tapi.. ya gitu, baru selintas ide. Aku masih belum bisa proaktif, masih sering ragu dan membatasi diri sendiri. Perasaan minder itu ada, menulis itu, salah satu hambatannya ya perasaan minder. Ga cuma diri, aku yakin temen-temen lain juga banyak yang gitu. Pengalaman ngobrol sama beberapa temen dunia maya, satu grup menulis, aku tanya biasa nulis dimana, jawabannya di hp atau laptop sendiri, disimpan dan dibaca sendiri. Jangankan di share di blog, di sosial media seperti instagram pribadi juga enggak. Padahal keinginan untuk nulis itu sudah ada, bahkan tulisannya juga sudah ada. Tapi ya gitu, beda orang, beda level rasa nyaman untuk share tulisan.

Yang lucu itu ya.. kemarin Ramadhan kan aku target tiap hari nulis (cuma kecapai 23 tulisan, di akhir gugur hehe), aku share ke grup kecil yang isinya perempuan dengan umur beda-beda, ada yang senior, ada juga yang masih duduk di sekolah. Saat itu, ada yang komentar, bagus sih komentarnya, apresiasi gitu, pengen grup tersebut rame terus dengan sharing tulisan. Tapi dalam hati aku menggelengkan kepala, ga bisa gitu juga kali hehe. Aku juga ga bisa setiap hari share link tulisan, lebih banyak masa aku ingin menulis saja tanpa share, ketimbang waktu aku ekstrovert dan nyaman share tulis hehe. 

***

Udah ngelantur kemana-mana ya? Hehe. Intinya, ada tiga. Pertama bahwa punya blog menghasilkan itu baik, salut buat yang sudah bisa membuat konten menarik, dengan sisipan promosi/iklan tersembunyi. Kedua, untuk buat blog semacam itu butuh usaha, butuh niat juga, dan balik lagi ke prioritas, pinter-pinter aja ngatur, bagaimana blog bisa terbaca dan bermanfaat, menghasilkan tapi ga mengganggu kenyamanan pembaca. Ketiga, menulis itu berat hahahaha, jadi inget sebuah tulisan yang balik ke draft. Ralat, inti ketiga bukan itu. Menulis itu.. ada hambatan-hambatannya, tinggal kita mau ga berjuang melewati hambatan itu? Tetap semangat menulis~


Allahua'lam.

Friday, June 15, 2018

Happy Ied Mubarak

June 15, 2018 0 Comments
Bismillah.


Alhamdulillah, 1 Syawal, masih diberikan kesempatan hidup, kesempatan beramal baik. Taqabalallahu minna wa minkum. Semoga kita termasuk hamba yang mendapat ampunan, yang lulus bulan 'latihan' dan siap bertarung di medang 'perang' sesungguhnya.

***

Salah ga sih, kalau kita enggan membuat format kalimat klise dan membaginya di grup atau ke orang-orang? Ansos banget ya kayanya? Hehe. Tapi jujur, rasanya ga nyaman, kalau sekedar kopas, cuma 'penggugur' aja, basa-basi. Iya mungkin. Harusnya, ga usah dijadiin basa-basi ya. Beneran ucapin dengan tulus, jangan cuma cari kata-kata indah, tapi dengan tulus berdoa, semoga amalan kita diterima, tulus minta maaf atas segala khilaf dan salah, bertanya kabar, menjalin silaturahim.

***

Semoga blog ini segera diisi dengan tulisan yang menumpuk di draft hehe. Doakan ya, semoga bisa lebih produktif menulis.

Selesai. 5!

PS: Setelah dilaksanakan.. ternyata ga ada apa2nya. Ga berat, biasa aja. Buat desain, share ucapan ied mubarak ke grup tertentu, jawab ucapan dari orang-orang, bener-bener nyambung silaturahim. Seneng malah, bisa tanya kabar, bahkan ada yang lanjut sampai bahas ini itu. Nyaman aja, mudah in syaa Allah, tinggal inget lagi tujuan awalnya, untuk silaturahim, bukan cuma formalitas, bukan cuma basa basi sambil lalu. Allah akan mudahkan. Bahkan untukku, manusia yang sering kesulitan berkomunikasi kepada sesama hehe. 

Tuesday, June 12, 2018

Kuadran Dua

June 12, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tulisan ini.. akan jadi nukil buku tapi versi coretan. Nanti yang lebih tertata, dan ga acak-acakan lain waktu. Selama Ramadhan, ada dua buku yang aku baca, ya, dua buku yang belum beres-beres dibaca hehe. Madarijus Salikin sama 7 Habits. Madarijus Salikin udah ada beberapa nukil bukunya kan ya? Nah yang seven habit, ada beberapa yang ingin aku tulis di sini.

Aku baru baca sampai kebiasaan keempat. Kebiasaan pertama proaktif, di sini.. aku banyak banget belajar, bahwa selama ini aku banyak reaktif. Meski aku bilang pada diriku, aku ga menyalahkan orang lain, ga menyalahkan lingkungan. Tapi setelah baca penjelasan di buku ini, aku paham betapa aku pasif, dan efeknya, ya.. ga banyak berprogres. Seolah aku cuma menerima apa yang hadir di hidupku, tanpa aktif mecari peluang dan kesempatan, tanpa aktif mendayagunakan nikmat yang sudah ada.

Yang unik dari penjelasan proaktif, ada contoh kisah yang sudah aku kenal. Kisah nabi Yusuf. Trus sembari baca itu.. banyak hal aku pikirin. Tentang video How Du'a Works, yang jelasin juga tentang jalan hidup Nabi Yusuf 'alaihisalam. Juga video Essence of Parenting, bagaimana kita ga bisa bergantung pada lingkungan. Rasanya kaya ikut kuliah yang sama berkali-kali. Jadi, kemana aja selama ini? Cuma duduk dan isi presensi? Isi kuliahnya ga paham sama sekali? Gitu deh rasanya. Menengok lagi juga masa-masa waktu teh Risma baca buku ini, di selasar kortim, bulan Ramadhan tahun lalu kalau ga salah, aku waktu itu ga baca buku, kayanya sih buka laptop blogwalking atau nulis. Inget waktu teh Risma jelasin apa yang udah dibaca. Semuanya kaya nyambung. Saat itu aku terlalu banyak menunggu, menunggu kondisi ideal untuk bergerak. Aku bener-bener jauh dari proaktif. 

Baca proaktif ngingetin aku.. kalau kita harus bergerak di lingkar pengaruh kita. Lakukan saja dulu apa yang bisa kita lakukan. Jangan banyak bicara, mengeluh, apalagi mencerca. Jangan menyalahkan kondisi, orang lain, bahkan juga diri sendiri. Lebih baik sibuk melakukan apa yang kita bisa lakukan. Sedikit demi sedikit.

Jadi bell.. menulis ini, kamu sudah tahu kan? Kamu harus melakukan apa? J

Kebiasaan kedua, start from the end. Mulai dari akhir. Tentukan tujuan akhir, visualisasikan. Jangan terjebak sibuk naik tangga, tapi ternyata salah tangga. Di sini dibahas bedanya kepemimpinan sama manajerial. Pemimpin yang bisa ngasih tahu, kita berada di jalur yang benar atau salah. Manajer, fokusnya ke efisiensi kerja. Bener ga ya? Hehe.. Sama seperti sebelumnya, aku banyak inget teh Risma. Aku inget di perpus lantai empat, saat aku menyatakan bahwa aku sebenarnya sudah memutuskan X. Saat itu teh risma menjawab, lewat kutipan dari buku ini. Gapapa, kalau memang itu yang sesuai dengan tujuan akhirmu. Jangan sampai menaiki tangga yang bersandar pada dinding yang salah. 

Kebiasaan ketiga, dahulukan yang utama. Ini baru tentang manajerial. Tentang prioritas. Ini yang mendorongku untuk menulis. Jadi... dijelaskan di buku ini ada empat generasi, bagaimana manusia mengatur aktivitasnya. Dan tahu ga, aku kok masuk generasi pertama ya? hehe. Checklist, cuma daftar aktivitas, kl udah beres dicoret, ga ada letak prioritas. Jleb.. 

Trus juga, kan dijelasin nih tentang empat kuadran aktivitas dan waktu. Udah pada kenal kan? dibagi berdasarkan penting-tidak penting dan mendesak-tidak mendesak. Aku awal baca agak males, ah.. ini mah dar dulu juga udah tahu, ada pembagian ini. Tapi setelah dipaksa baca, ternyata. Selama ini aku cuma tahu pembagiannya, iya bagusnya kita sibuk di kuadran dua (penting dan tidak mendesak), tapi ya cuma tahu. 

Nah di buku 7 Habits dijelasin cara make nya. Ada tabelnya juga. Dan itu turunan dari kebiasaan dua. Jadi sebenernya, di kebiasaan dua disuruh buat semacam misi gitu, tujuan yang mau dicapai. Dibagi ke peran, trus prinsip yang perlu dilakukan. Misal peran anak, tujuan/misinya jadi qurotta a'yun bagi orangtua, nah trus dijabarkan gimana supaya bisa jadi qurotta a'yun. Nah di kebiasaan ketiga, dibuat jadwal per pekan. Misal mijetin ibu tiap hari apa.. ngepel kamar ortu tiap hari apa, ngafal quran, dll, dst. Setiap sepekan di evaluasi. Gimana tingkat komitmen kita, tingkat integritas kita akan jadwal yang kita buat sendiri.

***

Kuadran dua. Gimana supaya kita bisa prioritas ke kuadran dua. Gimana supaya ga sibuk ngerjain kuadran 1 atau 3. Gimana supaya kita ga lari ke kuadran 4. Setelah baca tentang pembagian kuadran, termasuk teknik penjadwalan sejujurnya aku belum mulai praktik. Masih teori aja. Padahal di buku ini di awal ditegaskan, bukan belajar namanya, kalau cuma tahu tapi ga dilaksanakan.

Ramadhan udah tinggal hitung jari, tapi masih kacau manajemen waktu TT

Salah satu kalimat yang masih membuatku bertahan, "jangan menyerah pada diri". Kalimat itu harus sering-sering diulang.


Selama masih diberi nikmat hidup, selama itu juga kita belajar, memperbaiki diri, jatuh dan bangkit lagi, salah dan belajar lagi, dosa dan bertaubat lagi, jauh dan mendekat lagi. Gitu terus, berdoa semoga saat mati, dalam keadaan terbaik.

Allahua'lam.

Monday, June 11, 2018

It's Just Me being Introvert, isn't it?

June 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kayanya dulu ga pernah deh, tapi beberapa bulan ini, gatau kenapa fenomena itu berulang saja terjadi. Saat aku tiba-tiba bersuara/muncul di grup, kemudian... perasaan menyesal dan malu menyergap begitu besar. Rasanya, ingin cari panci buat tutup muka. Biasanya aku menendang-nendang selimut, atau berdiri dan menghentak-hentakkan kaki, heboh sendiri. Kadang, aku sampai mematikan koneksi, bahkan kalau perlu mematikan hp. Yang tertulis susah tertulis, sudah sent, mau di-delete for everyone juga agak gimana hahaha.

Tapi biasanya perasaan itu ga berlangsung lama. Sejam, atau setengah jam kemudian, aku bisa dengan tenang membuka grup, membaca respon, kalau ada. Dan aku tahu, ga ada yang salah. Beneran ga ada yang salah.

***

Aku kemudian bertanya pada diri.. ini, perasaan aneh ini, ini cuma sisi introvert ku kan? Aku merasa asing, karena selama ini aku lebih condong ke ekstrovert kan? Rasanya pengen tanya ke orang introvert. Apa kalian biasa ngerasain begini? Apa itu alasan kalian lebih sering sibuk berpikir sendiri, ketimbang bersuara?

***

Padahal aku ga bersuara di grup yang setahun lebih aku jadi silent reader, padahal... biasanya juga biasa aja menulis ini itu. Tapi ada saat-saat aku kaya gitu. Sensasi menyesal telah menyeruak dan berbicara. Merasa bersalah, harusnya jadi silent reader aja dan ga menulis apa-apa. Perasaan aneh itu.. it's just me being introvert kan? 

***

Gak tahu. Aku masih gak tahu. Tapi saat seperti itu, biasanya solusinya memang itu. Menjauh sejenak. Atau cari tempat lain buat numpahin perasaan yang rasanya meledak-ledak. Lebay ya? Begitulah hehe. Hiperbol, harap maklum, aku sudah mengenal hiperbol sejak lama, jadi kalau tanpanya (tanpa hiperbol) rasanya tulisan hambar hehe. 

Seperti saat ini.. eh, tapi kalau sekarang mah, karena ada salah ya, jadi paham, kenapa harus delete for everyone hahaha. Pagi ini aku belajar, bahwa proofreading itu penting. Apalagi aku menulis di hp, kadang pakai autocomplete tapi ternyata belum sempurna ke klik. Rasanya malu, membaca tiga kata dengan ejaan error berurutan. hahaha. Yasudahlah, buat pelajaran, ambil hikmahnya. Dah. *disappear*

Allahua'lam.

New from Your Network

June 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random #blog

"Ngomongin" tentang medium lagi di sini hehe. Maklum lah, medium itu temen baru, dan di sini, teman lama, tempat paling nyaman. Btw, ada ga sih admin/pengurus medium di Indonesia. Kayanya aku bisa jadi pemberi feedback, sekalian pengen diskusi bareng tentang medium, keunikannya sebagai platform menulis, hal yang bisa diimprove dll. 

***

Jadi... sebelumnya, aku pernah memperlakukan medium seperti sosial media. I limit myself from following opposite gender, seperti sosmed lainnya (facebook, instagram, line, whatsapp). Tapi setelah pakai agak lama, aku baru sadar, Medium beda sama sosmed, Medium itu lebih mirip blog. Jadi? Jadi habis itu aku banyak follow akun pengguna lain, yang tulisannya pas di mataku. Mayan nambah daftar blogwalking, ujarku dalam hati. 

But then.. kok meski udah banyak follow, aku ga lihat tulisan mereka di dashboard aplikasi medium di hp ya? Jeng jeng... ternnyata oh ternyata. Entah sejak kapan, feature new from your network ga aku temukan fungsinya di aplikasi android medium. Tiap buka aplikasi, jadi baca tulisan bahasa inggris yang topiknya kadang ga sesuai selera. Ah bete sendiri, akhirnya uninstall. *jgn ditiru, harusnya mah kasih feedback aja ke appstore. hehe

Trus.. setelah kasus akun medium-ku suspend, aku jarang buka medium. Giliran hari ini buka medium, buka tab new from your network, feed-nya berhenti sampai 20 tulisan. Aku? Aku bete sendiri lagi hahaha. Why? Aku juga pengen baca tulisan lama orang-orang yang udah aku follow. 20 tulisan teratas dan terbaru masih belum memuaskanku baca. Masa aku harus buka satu-satu akun, trus aku cek ada tulisan baru apa ga? Ahh.. trus yaudah, balik ke blogger aja. Mending follow di blogger aja ya? hehe.

Kalau di blogger, daftar bacaannya, bisa ditelusuri terus sampai yang lama-lama. Jadi kalau misal aku sebulan ga buka daftar bacaan, aku tetep bisa baca tulisan sekian ratus blog yang update tulisan dalam sebulan. 

***

Aku tahu, ini ga nyelesaiin masalah, tapi mau ngasih feedback juga agak gimana. Aku cuma satu dari sekian banyak pengguna medium. Trus, sebenernya aku paham, alasan dari pembatasan jumlah tulisan di new from your network. Kalau aku bisa akses tulisan dari network dari bulan Mei awal, namanya bukan new, tapi udah old. 

Jadi? Jadi... ya.. ini tulisan keluhan aja. Solusinya, lebih baik follow medium di blogger aja hehe. Nanti in syaa Allah kalau bisa akses laptop, aku follow satu per sati akun yang lumayan aktif nulis di blogger.

Trus habis itu mau deactive medium? Ga dong hehe. Akun medium tetap harus ada, aku kan perlu kasih claps juga, mungkin perlu comment juga, dan banyak hal lain.

Oh ya, ngomongin medium tiba-tiba ingat sebuah LDW yang punya medium, keren ih. Al Hayaat, Bang Hayat. Qadarullah pas cek line, banyak nemu tulisan apik dari akun itu. Bahasanya cocok lah untuk anak muda, dan isinya juga bergizi. Cocok untuk lidahku hehe. Barakallahu fiik untuk pengurusnya. 

MSTEI akunnya juga bagus kok, hehe. Bukan lupa LDW sendiri. Tapi kadang, perlu juga apresiasi LDW lain. Berlomba dalam kebaikan. 

Ah.. masa rebutan kader antara wilayah dan pusat memang sudah lewat. Aku bukan anak wilayah doang, aku anak pusat juga. Aku paham, keduanya sama-sama kekurangan kader, secara begitulah fitrah jalan dakwah, hanya sedikit yang menitinya. Kangen.... 

Mari kita akhiri, sebelum loncat topik lagi. Sorry for the random talks.

Sekian.

Tentang Takwa

June 11, 2018 0 Comments
Bismillah.


"Mengejar tanpa tahu seperti apa hal yang kita kejar adalah konyol. Begitu juga setiap Ramadhan, ketika kita diperintahkan untuk shaum agar kita bisa meraih predikat takwa, tapi konyol rasanya jika kita tak tahu seperti apa takwa itu. Hmm..." - Lintang Wahyu Mukti dalam bukunya Keep Calm and Read Quran

Membaca prolognya gatau kenapa ngena banget. Qadarullah pula aku membacanya di bulan Ramadhan. Jleb jleb... 

Jadi di Quran banyak sekali disebutkan tentang takwa, kenapa? Karena kita sering lupa.. lupa hakikat takwa, lupa untuk mengejar dan menerapkannya di kehidupan. Dan dari sekian banyak ayat yang menyebutkan tentang takwa, ada surat Ali Imran ayat 133-135.

 وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Kita diminta bersegera.. wa sari'u, ga boleh leha-leha. Kenapa? Ada dua yang alasan kita bersegera, yang pertama kita bersegera atas sesuatu yang terbatas. Segera beli diskon sekian persen selama Ramadhan. Ini juga... mumpung Ramadhan, waktu di bulan ini terbatas, dan waktu ini pas banget untuk kita meminta ampunan atas dosa kita yang bergunung-gunung, yang sebagian besarnya Allah sembunyikan dari mata manusia. wa sari'u.. dan bersegeralah... 

Yang kedua.. kita bersegera karena hal yang kita kejar itu penting. Seperti kita yang bersegera ke atm ambil uang jika uang cash kita habis, atau saat kita terbangun mepet waktu shubuh, kita bersegera untuk makan sahur. Seperti itu juga kita harus bersegera pada ampunan dari Allah dan surgaNya, karena itu adalah hal penting bagi kita. 

Di akhir ayat 133 disebutkan bahwa surgaNya, yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Nah, siapakah orang-orang yang bertakwa? Apa ciri-cirinya? Dua ayat berikutnya jawabannya.. 

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

#1 orang yang berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit

Alladzina yunfiquna fissarrai waddhorroi. Pemilihan kata infaq ini sesuatu banget ternyata. Allah tidak menggunakan kata amwaal, yang maknanya jadi sempit, karena berarti memberikan harta atau hal yang sifatnya benda. Berbeda dengan infaq yang mencakup segenap potensi yang kita punya. Kita bisa berinfaq dengan harta, waktu, pikiran, energi, prioritas, masa muda, kebahagiaan, bahkan segenal kecenderungan perasaan.

Membaca penjelasan tentang infaq, membuat aku diingatkan lagi pentingnya belajar bahasa arab. Meski kita sudah sering dengar kata infaq, tapi ada penyempitan makna. Tapi kalau kita belajar lagi dari bahasa aslinya, kita jadi bisa merasakan efek yang jauuh berbeda, dari satu kata yang sama. Infaq. 

#2 dan orang yang menahan amarahnya

wal kadzimiinal ghoizh. Dan orang-orang yang menelan amarahnya. Kadzim lebih tepat diartikan menelan/shallow. Saat kita menelan sesuatu, orang lain sudah tidak bisa tahu bentuknya, apa yang kita telan. Begitu juga amarah, orang-orang yang mampu menelan amarah, menjadikan kita tidak sadar, bahwa sebenarnya dia sedang diserang marah. 

Penjelasan ini ngingetin aku juga... bahwa menahan marah itu beda sama sabar. Kita tidak menahan marah, tapi dada kita sakit. Bukan, kita menelan amarah, dan bersabar. Saat emosi kita sudah hilang, amarah sudah tidak menyerang, kita baru mengutarakan ketidaksukaan atau perasaan tidak nyaman kita.

That's the art. Seninya adalah, bagaimana kita mengutarakan hal yang tidak nyaman, dengan tenang dan tanpa emosi. Jelaskan pada orang yang bersangkutan, bahwa kita tidak nyaman ia memanggil kita dengan nickname 'ndut' misalnya, atau kita tidak suka saat seseorang menertawakan jatuhnya kita. Kita bisa berkomunikasi, tapi tanpa amarah, tanpa nada tinggi dan juga tanpa mendiamkan seseorang. 

#3 dan memaafkan (kesalahan) orang

Wal 'afina 'aninnas. Allah menggunakan kata 'afina bukan kata ghafir. Apa bedanya? Ternyata 'afina itu maknanya bukan cuma memaafkan, tapi memaafkan dengan cinta. Ada kasus kita sudah memaafkan tapi memilih menghindar dan enggan berbuat baik pada yang sudah kita beri maaf. Afina itu way above it.. kita memaafkan, dan kita masih memiliki kasih sayang kepadanya, kita tetap berbuat baik kepadanya. 

Gatau kenapa tentang pilihan kata 'afina ini mengingatkanku akan orangtua yang memaafkan anaknya, dan masih tetap mencintai dan mengasihi anaknya, meski kesalahannya ga kecil. TT

Kemudian di akhir ayat 134, wallahu yuhibbul muhsinin, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Siapa sih, yang ga mau dicintai Allah, yang dengan cintaNya, hidup kita terjamin bahagia, baik di dunia maupun akhirat? Siapa yang tidak ingin dicintai Allah, yang dengan cintanya, jutaan dosa kita diampuni, dan kita diizinkan masuk ke surgaNya, meski kondisi kita hina dina? TT

Lanjut ke ayat berikutnya... ciri-ciri orang yang bertakwa. 

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Ciri-ciri sebelumnya berat kan? Ayat ini.. semoga bisa membuat kita bersemangat, bahwa kita masih berkesempatan menjadi orang yang bertakwa.

#4 Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji ata menganiaya diri sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan tidak meneruskan perbuatan kejinya itu. 
Orang bertakwa bukanlah yang bebas dari dosa, melainkan mereka yang apabila mengerjakan perbuatan keji dan menyakiti diri sendiri segera mengingat Allah dan memohon ampun. - Keep Calm and Read Quran, Lintang Wahyu Mukti
Seperti Nabi Adam 'alaihi wasalam, yang mengakui kesalahannya dan memohon ampunan. Kita juga... semoga bisa termasuk orang, yang segera mengingat Allah ketika jatuh ke lubang dosa, kemudian memohon ampunanNya, serta bertekad tidak mengulanginya. 

Rabbana dzalamna anfusana wa illam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.. 

Allahumma afuwwun tuhibbul afwa fa'fuanna.. 
Salah satu "produk adalan setan" untuk menjerumuskan kita adalah rasa putus asa terhadap ampunan Allah atas dosa yang telah kita perbuat. - masih dari buku Keep Calm and Read Quran, Lintang Wahyu Mukti 
Semoga kita tidak pernah putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah. Sungguh, sebanyak dan seberat apapun dosa kita, selama jantung kita masih diizinkan berdetak, ampunan Allah jauh jauh lebih besar dari dosa kita.

Jangan terlalu lama down kalau kata seseorang. Segera bangkit, mengaku salah padaNya, berlarilah mendekat padaNya. Kita hamba Allah, sehina apapun kita, tak ada tempat lain yang lebih nyaman, tak ada tempat kembali selain kepada Allah. Seperti anak kecil yang dimarahin ibunya karena kesalahannya, ia menangis, tapi tangan kecilnya masih erat menggenggam tangan ibunya.

Terakhir... setelah semua ciri-ciri itu. Ayat berikutnya mengingatkan kita akan ayat awal. Di awal kita diminta bersegera pada apa? Ampunan dan surgaNya. Di ayat 136, Allah menyatakan lagi.. 

أُو۟لَـٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّـٰتٌۭ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَـٰمِلِينَ
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Ali Imran ayat 136)

***

Dibukunya banyak penjelasan lain sih.. Hadits tentang hamba yang berulang kali berdosa, minta ampun, dan diampuni. Manusia itu khattaun, berulangkali melakukan kesalahan, tapi Allah Arrahman, Al Ghofur. 

Dibukunya juga dijelasin kasus fitnah Aisyah. Dan gatau kenapa kemarin, baca ayat yang Allah turunkan untuk menghibur Aisyah, seolah baru pertama baca. Seolah ayat itu hadir untuk menghiburku.. TT "... janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu". Even if it is a false rumors, it may be good things happen to you. Though sure it hurts.

Termasuk ayat yang membuat Abu Bakar kembali menafkahi saudaranya, meski saudaranya termasuk penyebar berita bohong tentang Aisyah putrinya. 

Termasuk juga.. bagian akhir tulisan, ada doa yang belum lama aku pelajari dari seorang ustadzah. Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal 'afaf wal ghina. Seolah semua "kebetulan" ini jadi sebuah skenario indah. Qadarullah ma syaa Allah (': Alhamdulillahirrabil’alamin...


Allahua'lam. 









Sunday, June 10, 2018

Beberapa Pengingat

June 10, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kemarin, gatau kenapa banyak mikir, betapa pengingat dari Allah dibentangkan di hari-hariku, tapi kadang aku yang gagal mengenalinya. Atau kalau sudah sadarpun, sedihnya seringkali diabaikan.


Tentang prasangka, kecurigaan.

Setelah berulang kali sok tahu, mengikuti kecurigaan, ga nyaman sendiri, dan ternyata... salah terka. Berulangkali salah, harusnya sekarang paham, bahwa ga baik berdiam diri dikelilingi prasangka, ga baik mengikuti kecurigaan. Bahkan pernah juga baca sekilas di tumblr, bahwa seseorang yang dicuri hartanya, bisa lebih berdosa daripada yang mencuri, karena ia selalu curiga dan ujung-ujungnya berburuk sangka.

Pernah mikir, aku kan orangnya ga mudah percaya, tapi kenapa ditempatkan di posisi harus sering berinteraksi dengan orang yang ga bisa dipercaya? Waktu itu aku pernah menulis, bertanya-tanya, bagaimana bisa aku belajar untuk percaya, kalau orang yang aku temui, justru mereka yang berbohong dan aku lihat sendiri betapa ucapan dan tindakan bertolak belakang. Aku kira... bukankah itu akan justru membuatku semakin sulit percaya pada orang lain?

Tapi kini.. aku mikir lagi. Justru itu letak ujiannya, justru harus belajar percaya dari yang tidak mudah dipercaya. Percaya sama orang yang jujur itu mudah. Tapi belajar percaya sama seseorang yang sering berdusta itu beda level. Beneran butuh effort buat latihan percaya, latihan berbaik sangka. Bukan berarti menjadi bodoh dan menerima semuanya mentah-mentah. Tapi juga bukan berarti harus selalu curiga. Mungkin itu... hikmahnya aku ditempatkan di situasi ini, saat harus sering berinteraksi dengan orang yang mungkin lebih baik dariku, tapi keburukannya diperlihatkan di depan mataku. Sulit? Iya sulit. Namanya juga belajar, butuh usaha hehe.

Tentang rencana yang berubah


Ini agak bingung jelasinnya. Pakai perumpamaan aja ya, jadi rencana awalnya aku mau belajar naik sepeda, tapi ternyata sama sang guru justru diminta belajar naik motor. Selama belajar naik motor aku setengah ga ikhlas, bertanya-tanya, kenapa ga sepeda dulu yang lebih mudah? Lebih familiar juga, karena sebelum bertemu sang guru, sebenarnya aku sudah beberapa kali nyoba naik sepeda. Tapi setelah menjalani belajar naik motor, meski hasilnya jauh dari target, dan berhenti belajar di tengah-tengah, tetep aja... aku bisa mengambil hikmahnya. 

Seolah memang itu yang Allah takdirkan. Aku jadi belajar banyak hal, tentang urutan yang benar, tentang tidak ada jalan pintas. Tentang sulitnya mengubah sesuatu yang salah tapi sudah jadi habit, ketimbang membuat habit baru dari awal. Tentang kekuranganku, bahwa lewat belajar 'motor' aku jadi paham, aku harus sering-sering cek hatiku, matikah? sakit? atau sehat? Kalau sakit, ciri-cirinya apa. Kalau ga pengen sakit, obat apa yang harus diminum, harus berapa kali ke dokter, dll. 

Oh ya, ini perumpamaan aja ya. Jadi jangan heran kalau ga nyambung. Gimana hubungan belajar naik motor sama hati yang sakit? Ga ada hehe. 

Ramadhan kok ngerasa hampa? 


Pernah beberapa hari ngerasain itu. Hari-hari berlalu, trus aku baca tulisan tentang dzikir di buku Madarijus Salikin. Trus udah deh, akhirnya nemu jawabannya. Buat perempuan terutama, yang ga puasa karena ga boleh, trus hari-hari Ramadhan terasa hampa, mungkin kita perlu tengok apakah hari kita sudah diisi dengan dzikir kepadaNya? Bukan sekedar di lisan, tapi beneran mengingatNya. Coba berkaca, siapa/apa yang sering diingat? Jangan sampai sering kosong, tanpa dzikir, kebanyakan mikir dunia TT

Ciri-ciri Orang Bertakwa


Habis baca tentang dzikir, qadarullah digerakkan hatinya buat baca buku berwarna merah, judulnya Keep Calm and Read Quran, karya teh Lintang. Akhirnya aku baca dari tulisan pertama. Dan tahukah? Qadarullah yang pertama bahas tentang takwa. Membahas tiga ayat di surat Ali Imran ayat 133-135.

Pokoknya baca itu jadi jleb. Kamu ngapain aja bell? Diminta bersegera tuh.. kenapa bersegera? Karena itu hal penting.

Nanti, semoga aku sempat merangkum sedikit dari sana ya. Ga sekarang tapi. Bukunya lagi ga terjangkau tangan. Malem in syaa Allah. *doakan ya.. 

Dilema Nulis di Banyak Tempat


Mulai ngerasa ga bisa menuhin target menulis sehari sekali, di Facebook khusus Ramadhan. Udah bolong beberapa hari. Alasannya klise, kalau udah nulis di sini, rasanya kewajiban nulis udah gugur, trus ada tempat lain juga, udah nulis, jadi deh, yang di Facebook justru terbengkalai. Hmm.

Menulis setiap hari itu susah, ditambah menulis di banyak tempat. Jadi inget jaman dulu. Saat mayoritas amanah harus nulis, beda tulisan, trus gitu deh, ga pinter manajemennya. Mungkin benar kata seseorang, baiknya ambil satu amanah saja, fokus di sana, daripada kita menzalimi banyak pihak. *sekarang mengakui sarannya, dulu mah.. sensi aja hahaha. 

Sometimes I want to explain myself


Ini kok jadi tulisan random penuh curhatan tersirat dan tersurat ya? Yaudah sih, biarin, nulis dulu aja. Nanti bisa dihapus atau diedit.

Ada banyak situasi dimana aku ingin menjelaskan dan mengekspresikan tentang diri, perasaanku, apa yang sudah aku lakukan, dll. Tapi sebagian besar aku menahannya. Dan aku sendiri ga tahu, itu hal baik atau hal buruk. Di satu sisi, aku paham, ga penting banget jelasin tentang diri, sudut pandangku, perasaanku, buat apa?? Tapi di sisi lain, itu yang namanya komunikasi, biar ga ada salah paham. Tapi aku ga sukaaaa... menjelaskan diri itu rasanya seperti harus show off. Jelasin diri, rasanya seperti menghapus rasa ikhlas. Susah jelasinnya. Yang jelas, aku masih ga tahu, kapan aku harus berkomunikasi, dan kapan aku harus diam. Kapan aku harus menahan diri untuk menjelaskan diri, mengekspresikan sudut pandang, dan kapan aku harus berbicara supaya orang lain tidak salah paham dan tidak harus susah payah berbaik sangka kepadaku?

***

Ada lagi kah? Harusnya ada banyak sih.. pengingat untuk diri. Harusnya kalau melihatnya, langsung dicatat, agar tidak lupa. Kadang Allah menitipkan pengingat lewat banyak cara, lewat situasi, buku, tulisan, lewat interaksi dengan orang lain, lewat pemandangan yang diperlihatkan di mata kita, dan lewat banyak hal lainnya. Pertanyaannya, mau kah kita mengambil pelajaran? Peka kah kita sehingga kita bisa mengenali rupanya?

Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wa hablana min ladunka rahmah. Aamiin.

Allahua'lam.