Follow Me

Sunday, December 26, 2021

Challenge #10Halaman (4)

December 26, 2021 0 Comments
Bismillah.

Allah punya rencana, dan dalam rencana besarnya ada titik-titik kejadian, ada jalur-jalur yang harus dilewati.

Itu yang diceritakan oleh Mba Peggy, bagaimana beliau hijrah, lalu fokus terjun di projek untuk membantu Palestina. Bagaimana beliau awalnya membantu untuk ibu-ibu dan bayi di palestina yang baru lahir, kemudian bertemu rekan dokter Palestina yang memberitahu kebutuhan pembangunan sentral disabilitas, lalu lanjut ke pemberian beasiswa untuk sekolah dokter spesialis, lalu membangun fasilitas dan tempat pelatihan menjahit. Lalu Allah berikan kesempatan untuk berkunjung ke Palestina. Kemudian disana bertemu langsung dan melihat dari dekat kondisi realnya.

Buku ini mengingatkanku kembali, bahwa bisa jadi Allah sedang menuntun kita menuju rencana besarnya. Maka kamu Bell.. jangan terdistraksi. Bismillah. Fokus terus memperbaiki diri dan perbanyak amal shalih. Berprasangka baiklah padaNya. Jika sedih, jika khawatir, jika takut, tidak mengapa... itu hanya pertanda bahwa kau manusia. Menangislah padaNya, He knows the meaning every tears that falls.

Allahua'lam.

Canva di HP atau di Desktop?

December 26, 2021 0 Comments
Bismillah.

Kamu termasuk pengguna canva? Lebih suka edit canva di hp atau desktop? Apa alasannya?

***

Aku lebih sering edit di laptop sebenarnya. Ada beberapa fasilitas yang gak bisa diakses jika edit via hp. Salah satunya pengaturan teks, kalau di hp, satu textbox hanya bisa dibuat satu pilihan font, ukuran, warna dll. Kalau di desktop, satu textbox bisa berisi teks dengan dua atau lebih font, beda ukuran, bahkan beda style (bold, italic).

Tapi aku juga gak bisa memungkiri kalau edit di canva via hp juga punya kelebihan. Dari kecepatan. Kalau lagi butuh buat desain cepat dan kilat, tinggal klik template, edit-edit dikit. Dalam waktu kurang dari satu menit, voila! jadi deh, tinggal di post. Apalagi kalau mau post di ig.

Kalau desainnya di desktop, gak bisa langsung upload ke ig. upload ke ig harus via hp. biasanya aku simpen dulu di telegram. suka beda soalnya kalau misal buka di editor canva hp dan download dari hp.

***

Entah sudah berapa pekan aku gak buka laptop. Kangen? iyaa. Tapi qadarullah belum menyempatkan pergi ke tukang service *bener gak sih nulisnya hehe.

Ada banyak kerjaan yang gak bisa dikerjain di hp. Tapi lepas dari itu. Semoga ini blessing in disguise.

Aku malu mengakui, tapi nyatanya aku lebih banyak terdistraksi dan tidak menggunakan laptop dengan produktif saat ia masih baik-baik saja. semoga Allah ganti yang lebih baik. Dan selama masa menunggu ini mari kita perbaiki dulu diri ini.

Semangaat 🍉🍉

Allahua'lam

Friday, December 24, 2021

Challenge 10 Halaman (3)

December 24, 2021 0 Comments
Bismillah.

Salah satu yang kuingat dari menghadiri munasyarah semisal (pemberitaan sekaligus pengumpulan donasi untuk Palestina/Suriah), adalah penekanan hal ini:

[1] they don't need our help, they deserve our help
[2] have you at least make a dua for them.

Kita hidup berjauhan, tapi itu seharusnya tidak menghapus fakta bahwa mereka adalah saudara seiman. Iman kita seharusnya membuat kita merasa dekat dan tergerak untuk membantu.

Mereka tidak membutuhkan bantuan kita tapi berhak untuk mendapatkan bantuan kita. Jika kita tidak memberikan bantuan, pasti Allah gerakkan hati hamba-Nya yang lain untuk membantu. Jika kita belum bisa banyak membantu, sudahkah kita minimal berdoa untuk mereka?

Dan bagaimana kita mau mendoakan orang lain, jika kita sendiri suka lupa berdoa untuk diri sendiri? TT

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berdoa dan membantu saudara seiman kita, di Palestina maupun di tempat lain. Sesederhana apapun bantuan itu. Semoga Allah menjadikan kita hambaNya yang selalu terhubung denganNya melalui Al Quran dan doa. Aamiin.

Allahua'lam.

First Chapter of Love : Love Yourself

December 24, 2021 0 Comments
Bismillah.

Nukil buku "Love | Ade Aprilia"

***

Mumpung masih fresh dibaca. Izinkan aku menukil sebagian kecil dari 30 pertama yang kubaca dari buku ini.

Setelah prakata dari penulis, setelah lembar intention, bab pertama di buku Love adalah tentang Love Yourself.

Aku setuju banget sama penulis, bahwa saat berbicara tentang cinta. Cinta yang merupakan kata kerja. Kata kerja transitif. Objek pertama yang pertama kali harus menyertai adalah diri kita[1].

Di dalam buku ini, penulis mengajak pembaca berbincang tentang love yourself,

"When was the last time you appreciate yourself: gave yourself a pat on the back, took care of yourself, or rewarded yourself just for being you? Chances are it's been a while. Perchance you are also the person who is the first one to compliment others and give those around you a boost.

Sadly, you have probably critized yourself in some way or another time today. How many times have you thought of positive things about your appearance, personality, or accomplishments? Not enough to count?

Why is it so easy to love every one around us, but when it comes down to loving ourselves, we are not able to do it?"

- Ade Aprilia, dalam buku Love

Tiga paragraf pertama di bab ini langsung menghujam ke hati. Rasanya tersindir saat membaca, "Perchance you are also the person who is the first one to compliment others and give those around you a boost. Sadly, you have probably critized yourself in some way or another time today."

Mudah untuk memuji orang lain. Tapi lebih mudah lagi mengkritik diri sendiri. PR untukku, untuk membiasakan mengapresiasi diriku, bukan agar tinggi kepala, tapi bentuk syukur atas apa yang Allah berikan, baik nikmat yang tampak maupun yang tidak tampak.[2]

***

Kenapa love yourself menjadi bab pertama dari buku Love? Penulis menjelaskannya dengan singkat dan sederhana.

"What you call Mr. Right is available, but you will never find a healthy relationship until you first look inwards and start loving on yourself. You deserve to feel special. But you need to love yourself and stop beating yourself up."

Healthy relationship itu penting banget dalam mencintai. Dan salah satu kuncinya, kita harus bisa mencintai diri kita sendiri.

Terakhir, untukmu yang masih dalam fase menunggu. Mari isi proses menunggu ini dengan banyak belajar, termasuk belajar tentang cinta dari buku-buku yang bagus (:

Semangat membaca^^

Allahua'lam.

***


Keterangan:

[1] Allah dan Rasul-Nya, nomer 0, hehe. Sebelum angka 1 hehe. In syaa Allah ini gak lupa. Karena ini nantinya yang jadi basis dari bagaimana kita mencintai diri sendiri dan orang lain. Karena dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya, kita jadi tahu, bahwa arti dari mencintai diri sendiri bukan membiarkan diri kita tenggelam dalam kilau dunia yang fana. Karena dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya, kita jadi tahu, bahwa definisi mencintai orang lain bukanlah menghalalkan segala cara untuk bisa bersama dengannya. Bahwa mencintai pun, ada step-stepnya, agar cinta tersebut tidak ternodai dan berbalik menjadi racun.

[2] Allah menyebutkan dalam QS Luqman ayat 20, bahwa Allah telah menyempurnakan nikmatnya untukmu, zhahir dan bathin.

اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ

"Tidakkah Allah memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan bathin. Tetapi, di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan".

Thursday, December 23, 2021

Buku Berbahasa Inggris di iPusnas

December 23, 2021 2 Comments
Bismillah.

Malam ini, qadarullah Nemu buku berbahasa inggris di iPusnas. Buku ini muncul saat aku hendak meminjam ulang buku Emotional Healing Theraphy.

Judulnya Love, covernya pink gitu. Saat kuklik, deskripsi buku terulis dalam Bahasa Inggris. Saat itu aku mulai bertanya-tanya, apa mungkin isinya juga Bahasa Inggris?

And here it is...

Buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini memang dalam Bahasa Inggris. Dan yang lebih menyenangkan lagi, layout-nya aesthetic. Banyak ilustrasi dan semacam goresan kuas. Aku jadi membayangkan membaca buku aslinya. Hard cover and beautiful layout all printed (:

Itu dari tampilan ya, gimana dengan isinya? Aku, yang baru baca 29 halaman pertama, jujur udah kesengsem*.


Aku suka saat membaca Author Note's di awal buku. She said,

"I belive that you, too, can experience the same relief and inner guidance that I did through the amazing power of prayer and letting go." -Ade Aprilia, dalam buku Love

Aku juga suka saat penulis pembaca untuk menuliskan niat-niat sebelum membaca. Katanya, tuliskan semua niat, jangan batasi.

Baru pernah aku liat buku yang ngingatin tentang niat. Semoga kita gak lupa untuk sering-sering lurusin niat. Kalau kita tulis/nyatain niat dalam hati sebelum melakukan sesuatu, maka in syaa Allah hal itu akan tercapai. Innamal a'malu bin niyaat.

***

Ada yang tahu buku berbahasa inggris lain yang ada di iPusnas? Kalau ada yang tahu silahkan komentar, judul dan penulisnya.

Lumayan bisa buat refreshing kalau lagi bosen baca buku bahasa indonesia. Kadang memang perlu pintar kombinasi baca, tahu kapan baca buku ringan, kapan baca buku yang berat. It's okay. Yang penting baca buku hehe. Semangat baca~

Bye 5!

***

Keterangan:

 *kesengsem, bahasa jawa, artinya terpikat atau kagum.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Wednesday, December 22, 2021

Salah Memilih Buku (?)

December 22, 2021 0 Comments
Bismillah.

Hai! Lama rasanya gak menyapa. Hari berlalu, dan meski sadar lama tidak menulis di sini, aku memilih untuk tidak menulis. Entah sejak kapan, menulis selalu menjadi prioritas ke sekian.

Hm. Doakan aku segera menata ulang prioritasku ya. Terutama jika aku benar-benar ingin serius meng-upgrade diri sebagai penulis profesional. Bukan penulis yang moody.

***

Maaf prolognya panjang hehe. Jadi aku ingin menulis tentang salah memilih buku. Pernahkah merasa salah memilih buku?

Jika salah, apakah kau tipe yang langsung drop buku tersebut dan berhenti membacanya? Atau kau tetap berusaha menyelesaikannya?Apa standarmu untuk menentukan bahwa kau salah pilih buku? Kapan dan bagaimana kau menyadarinya?

Pertanyaan itu muncul saja ketika aku hendak menulis ini. Tidak, aku tidak akan menjawab satu-satu pertanyaan itu.

Aku menulis ini hanya ingin curcol. Aku merasa salah memilih buku, bukan, bukan karena buku tersebut buruk. Tapi karena aku merasa kesulitan untuk membaca 10 halaman tiap hari dari buku tersebut.

Sudah baca tentang tantangan ku pada diri untuk membaca 10 halaman per hari?

Aku berniat khusus untuk tantangan itu, aku tidak akan berpindah buku kecuali jika aku sudah menyelesaikannya. Buku pilihan pertama (Biografi 10 Imam besar) aman. Buku pilihan kedua (Kun Fayakun! Menembus Palestina) juga aman. Keduanya dapat dengan lancar kuselesaikan dengan tantangan #10halamantiaphari.

Buku pilihan ketiga. Dari list on going book, aku pilih buku yang bukan genre religi. Aku pikir untuk variasi. Aku pikir, toh buku ini gaya bahasanya ringan. Pasti akan mudah.

Tapi... Ternyata gaya bahasa yang ringan itu tidak menjadikan bukunya mudah dibaca. Topik yang merupakan my cup of tea, juga tidak terlalu membantu. Kenapa? Karena ada tantangan yang lebih besar.

Qadarullah, atas kehendak-Nya aku memilih buku ini. Apakah aku salah memilih? Sebenarnya tidak. Justru Allah seolah memaksaku untuk bersegera menghadapi masalahku dan agar berhenti bermain-main dengan distraksi.

Tidak mudah mencerna buku ini. Setiap contoh kasus, setiap halaman hampir selalu menyindirku. Seolah buku ini mengajakku agar tidak hanya membaca sebagai informasi baru, tapi benar-benar sebagai ilmu yang harus dipraktekkan.

Karena alasan itulah, menurutku buku ini merupakan pilihan yang salah untuk tantangan #10halamantiap hari. Apalagi kemarin aku di hadapkan fakta bahwa dengan mudah aku bisa membaca 30 halaman buku lain (fiksi) dalam sehari. Hmmm.

***

Untukku. Semoga buku ini bisa tetap kubaca setiap hari. Meski mungkin tidak sesuai target. Jangan sampai karena merasa sulit jadi menunda atau justru berhenti membaca.

Untuk yang lain. Yang mungkin pernah merasa salah memilih buku. Katanya siih, gapapa berhenti membacanya dan memilih buku baru yang lain. Sama seperti orang *eh, kalau jodoh nanti juga ketemu lagi hehe. ✌️

Semangat membaca!
Dan menulis!
Semangat juga mengisi hari dengan kebaikan. Barakallahu fiikum.

Friday, December 17, 2021

Challenge #10halaman (2)

December 17, 2021 0 Comments
Bismillah.

Aku belum pernah ke Palestina. Gak punya andil banyak juga untuk bantu Palestina. Masih sering lupa untuk mendoakan.

Tapi buku ini menjadi jalan. Aku seolah diperlihatkan behind the scene bagaimana Peggy Melati Sukma menjadi tangan perantara bantuan-bantuan dari banyak orang sampai ke Palestina.

Gaya bahasanya ringan. Ada banyak foto dan juga scan surat-surat. Bab terakhir tentang catatan perjalanannya saat berkunjung ke Palestina membuatku bisa membayangkan sedikit kondisi di sana. Teringat lagi, bahwa aku tidak boleh terlalu sibuk memikirkan diri. Aku harus terus belajar dan bertumbuh, agar kelak bisa memberikan kontribusi lebih. Read more, write more, and keep learning!

Allahua'lam bishowab.

Istiqomah

December 17, 2021 0 Comments
Bismillah.

Kutipan #daribuku MMPQ.

***

"Tidak ada lagi yang kami harapkan setelah datangnya petunjuk, melainkan keistiqomahan dalam menjalankannya hingga penghujung ajal. Inilah bagian tersulitnya.

Banyak yang berkata menghafal ayat baru lebih mudah daripada menjaga murjaah. Begitu pula dengan hidayah. Menjaga hidayah ini tetap terpatri dalam hati membutuhkan usaha berkali-kali lipat dibandingkan saat mendapatkannya pertama kali. Dan hari ini, dunia menarik kita dengan sangat kencang. Dengan tarikan yang dapat merontokkan sendi-sendi keimanan, jika kita tidak istiqamah dalam kebaikan dan tidak bersegera dalam beramal shalih." - Abdullah Ibnu Ahmad.

***

*warning* bagian ini selftalk+curcol. Skip aja.

Sedih gak sih, malam jumat terlewat untuk hal sia-sia. Baru nyadar saat tahu harus tidur. Supaya bisa bangun. Sedih gak? Gak? Hmm.

Bagusnya keinget lama gak update di sini. Keinget target bulan ini yang sebenernya sebagian hati udah pesimis bakal kecapai.

Kadang, aku ngerasa, daripada nulis dengan kata-kata sendiri. Aku ingin mengumpulkan dan menyampaikan ulang tulisan-tulisan orang lain saja. Dari buku-buku bagus. Sayang banget kalau cuma dibaca sendiri. Karena kata-kata baik itu membantuku untuk mengingat diri. Membantuku menemukan diri. Membantuku menelusuri hutan tempatku dulu tersesat.

Tapi di sisi lain, egoku ingin menulis lebih dari sekedar menyalin kutipan. Kutipan di atas kuambil dari arsip buku kumpulan quotes. Kemungkinan kusalin akhir 2017, atau awal 2018. Saat masih begitu semangat. Tulisannya masih relatif rapi dan terbaca. Masih ada tinta warna.

Karena laptop masih belum diniatkan untuk diservice, beberapa kali aku menulis dengan pena di atas kertas [🖋️]. Dan jujur rasanya aneh dan kesal saat ternyata tulisanku tidak serapi dulu.

***

Semoga tidak salah fokus. Tulisan ini pengingat untuk diri agar Istiqomah. Pengingat agar bersegera beramal shalih. Biar gak sedih dan menyesal di akhir hari.

Semoga Allah mematikanku dalam keadaan terbaik. Allahumma inna nas-aluka husnul khatimah. Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahablana milladunka rahmah, innaka antal wahhab. Aamiin.

Allahua'lam bishowab.

***

Keterangan: impulsive thoughts

[🖋️] Tiba-tiba teringat komentarnya. Saat aku menyebutkan pena. Katanya "pena" itu bahasa Melayu. Bolpen. Suaranya begitu riang. Aku tersenyum meski sebagian hati ingin berkelah bahwa sejak dulu aku hampir selalu menggunakan diksi pena karena lebih puitis. Aku sebenernya tidak terlalu mengenalnya kecuali sedikit bahwa ia banyak membantu di sebuah komunitas yang saat itu aku baru bergabung. Terakhir kabarnya ia di rumah sakit, perawatan intensif. Semoga Allah mengangkat penyakitnya, semoga Allah menjadikan sakitnya sebagai penghapus dosa. Semoga kelak bisa melihatnya menjalankan perannya lagi. Hmmm.

Wednesday, December 15, 2021

Semua Orang Ingin Didengarkan

December 15, 2021 0 Comments
Bismillah.

Aku pernah berpikir bahwa aku termasuk orang yang mudah mendengarkan. Sampai aku dihadapkan fakta bahwa aku ternyata juga begitu banyak berbicara. Bahwa ada orang lain yang lebih ingin didengarkan dibandingkan aku.

Maka hari itu meski ada begitu banyak kata yang ingin kuucapkan, aku diam dan belajar lagi mendengarkan. Belajar benar-benar mendengarkan dan bukan mendengar untuk menjawab.

Hari itu, kutenangkan diriku yang juga ingin didengarkan. Kukatakan pada diriku, suatu saat kau akan rindu untuk mendengarkan. Barangkali justru orang lain sosok yang selama ini menahan lidah dan tidak mengucapkan banyak kata.

Lalu ia berhenti berbicara. Kembali ke kesibukannya. Dan aku memulai percakapan dengan diriku, sembari menanam tekad akan menuliskan tentang topik ini. Bahwa semua, ya, semua orang ingin didengarkan.

Aku bersyukur Allah memudahkan jemariku untuk menulis. Menulis sudah seperti teman baik yang setia menemaniku. Seperti yang kuulang-ulang saat harus mendeskripsikan diri. Aku, Bella, berteman dengan kata kala nada tak mau menyapa. Ada banyak momen aku ingin berbicara dan didengarkan. Dan menulis menyediakan keduanya. Ya, dengan menulis aku berbicara, pun merasa didengarkan.

Jika ada yang bertanya, kok bisa menulis membuatmu merasa didengarkan?

Entahlah, mungkin karena karakter/kepribadianku. Dari beberapa tes kepribadian aku termasuk yang melihat ke masa depan, mempunyai imajinasi. Itulah mengapa saat menulis, aku biasa membayangkan aku sedang berbicara kepada seseorang. Siapapun itu. Bisa jadi diriku di masa yang datang, atau orang yang sengaja/tanpa sengaja lewat dan berkunjung ke blog ini.

Ah, tiba-tiba aku jadi ingat. Tahukah bahwa membaca juga bisa menghadirkan perasaan didengarkan dan dimengerti? Aneh memang, tapi aku pernah merasakannya. Rasanya seperti penulis buku tersebut mendengarkanku, merasakan juga apa yang aku rasakan. Buku yang kubicarakan di sini, buku non fiksi. Aku pernah menuliskannya di sini, judulnya kalau tidak salah ingat: Buku Itu Membacaku. (Mungkin nanti kuedit kuberi linknya)

Apakah literasi memang bisa begitu? Karena itu bentuk komunikasi juga?
Atau tidak semua orang merasakan didengarkan dari membaca dan menulis?

Pernah seseorang bercerita bahwa ia berhenti menulis karena merasa satu arah. Ia lebih suka bercakapan langsung dengan manusia sungguhan. Saat itu aku masih memotivasinya untuk tetap menulis sih. Walaupun aku pun setuju, bahwa tetap berbeda, tentu rasanya jauh lebih menyenangkan jika ada orang yang mau mendengarkan kita. Karena seperti judul tulisan ini, semua orang ingin didengarkan.

***

Last but not least. Akan ada masa kita sangat butuh untuk didengarkan tapi tidak ada orang yang mau atau punya waktu untuk mendengarkan. Atau mereka punya waktu da mau mendengarkan. Tapi kita entah mengapa begitu sulit untuk mengucapkan kata.

Akan ada masa kita sangat butuh untuk didengarkan. Tapi sayangkan bahkan menulis tidak bisa menghadirkan rasa didengarkan. Kenapa? Karena saat itu yang ingin kita bicarakan begitu banyak dan kompleks. Kita ingin secara gamblang dan terang menceritakannya. Tapi kita juga tidak ingin semua bagian diketahui detailnya. Akhirnya yang keluar hanya kata-kata kosong yang tidak benar-benar mewakili apa yang ingin kita sampaikan.

Saat itu, mungkin, mungkin, kita harus belajar membahasakannya dalam bulir air mata. Bukan pada manusia yang tidak bisa mengartikan makna air mata hangat tadi. Tapi pada Allah Yang Maha Dekat. Hanya Dia Dzat yang bisa memahami bungkam bibir dan kaku jemari kita. Hanya Allah yang Esa, yang mampu memahami campuran emosi dan luka yang tersembunyi dan tak terlihat mata. Menangis lah di hadapanNya. Tidak apa. Kau boleh menjadi seseorang yang begitu lemah dan hina dihadapanNya. Allah knows your worst, He knows all your sins and the dark side of you, yet He is still loving you and waiting for you to call upon Him.

Kita semua ingin didengarkan. Dan Allah mendengarkan kita, kapan pun, di mana pun. We might be becoming so far away from Him. But Allah is near. Allah is near.

Allahua'lam.

Monday, December 13, 2021

Challenge #10halaman (1)

December 13, 2021 0 Comments
Bismillah.

Setelah sekian lama buku ini gak dirampungin, akhirnya selesai juga lewat tantangan ini.

11 halaman terakhir dibaca dalam sehari (sekitar 10-15 menitan mungkin).

Bayangkan kalau 11 halaman itu aku baca tanpa tantangan ini? Buku ini mungkin baru aku rampungin Januari 2022. Kenapa? Karena bacanya 3 halaman, 4 halaman, 4 halaman. Trus tiap jeda baca sekitar sepekan. Itu mah bukan lagi slow reader.

***

Ada banyak sebenernya yang ingin kuceritain tentang buku ini. Cuma 10 imam, dan singkat banget biografinya. Tapi dari yang singkat itu, jadi teringat lagi gimana teladan yang baik. Malu sama Imam Syafi'i yang hafalannya super tapi selalu semangat nyatet tiap belajar. Jadi lebih berasa pas baca nasihat tentang hafalan dan pengaruh maksiat.

Ada banyak insight dan pelajaran, yang harus ditulis khusus di postingan nukil buku. Tapi.. aku gak berani janji. Sementara masih sedang memperbaiki kuantitas dulu. Free writing dulu.

***

Jujur rasanya malu nulis ini. Takut sungguh takut cuma jadi keledai, atau lebih parah lagi dibenci Allah karena nulis kaya gini tapi amalnya masih minus.

Tapi.. aku juga lebih takut lagi kalau aku gak buat tantangan ini. Aku lebih takut aku gak benerin diri aku. Aku lebih takut, aku gak nulis ini trus jadi lebih banyak lupa dan tenggelam dalam distraksi.

So let me just archived it here. Satu-satu, sembari nambahin free writing. Bukan untuk dibaca orang lain. First and foremost, it is for me to read. Semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan yang sudah dibaca, meski jatuh bangun. Rabbi habli hukman wa alhiqni bishshalihin. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: sebenernya selalu merasa bersalah kalau nulis romanize dari ayat Qur'an. Gak konsisten, kadang double huruf untuk panjang pendek, kadang gak pakai panjang pendek. Harusnya copas teks arabnya... Tapi kalau copas, kadang jadi gak baca dalam hati. Semoga next time latihan ngetik ulang aja ya. Jangan copas. Pakai fasilitas keyboard Arab. Hmm semoga bukan cuma wacana.

Saturday, December 11, 2021

#daribuku Rasulullah Sang Pendidik

December 11, 2021 0 Comments
Bismillah.

Nukil Buku  "Rasulullah Sang Pendidik | Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin" 

***

"Sebab, ada kebaikan di dalam diri manusia. Di dalam diri setiap orang ada potensi kebaikan, sebagaimana juga ada potensi keburukan. Jika orang-orang yang berperilaku buruk itu dididik, dibina dengan baik, maka potensi kebaikan dalam dirinya itu akan muncul ke permukaan, sebaliknya potensi keburukannya semakin tertekan dan tertutupi. Lalu kebaikan-kebaikan yang mulanya kecil, lama kelamaan semakin besar dan terus membesar, lalu mendominasi hati dan perilakunya, dan jadilah ia sebagai orang baik." -Ustadz Muhammad Rusli Amin

***

"Saat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam tiba di Madinah, itulah hari yang paling menyinari segala sesuatu, kemudian saat beliau wafat, itulah hari yang membuat segalanya gelap." -Ustadz Muhammad Rusli Amin

***

"Dan sesungguhnya bagi Muslim, berapapun lama kehidupan yang dijalani di dunia ini, yang terpenting adalah, bagaimana ia bisa mempergunakan umurnya itu untuk beriman, memperbanyak ibadah dan kebaikan-kebaikan. Yang terpenting adalah dalam menjalani hidup, ia berperilaku dengan akhlak mulia, sehingga keberadaan dan tindakannya mendatangkan kebaikan bagi orang lain." -Ustadz Muhammad Rusli Amin

***

"Jasad mereka telah terkubur di dalam tanah, tapi ingatan atau kenangan terhadap mereka tak terlupakan. Mereka telah meninggal dunia, tapi seolah-olah masih hidup. Yang membuat mereka tetap dikenang meskipun telah tiada, adalah karena ketika hidup mereka membuat karya." -Ustadz Muhammad Rusli Amin"

***

Salah satu dari beberapa buku yang kubaca karena tema khusus agenda The Lady Book.

Kalau gak salah pas bulan kelahiran Rasulullah. Searching keyword "Rasulullah" di iPusnas, dan menemukan buku ini.

Isi buku terbitan AMP Press ini enak banget dibaca. Bisa dibaca cepat. Mudah dimengerti. Mungkin karena bukan buku terjemah ya?

Tapi sebenernya aku belum selesai membacanya. *Jadi malu. Masih di bagian awal buku. Baru seperempatnya. Doakan semoga makin rajin baca biar karakterku menjadi lebih baik juga.

Terakhir, kalau kamu gak suka baca, boleh banget cari media lain yang memungkinkanmu membaca dengan cara lain. Satu lagi, seburuk apapun dirimu, jangan menyerah. *Ini ngomong sama diri ya? **Anyway, kelilingi dirimu dengan orang-orang baik. Penting untuk gabung komunitas baca. Kerasa banget jadi banyak baca buku-buku baru karena trigger dari komunitas [1].

Sekian. Bye 5!

Allahua'lam.

***

Keterangan :
[1] Buku baru yang kubaca karena tematik dari Lady Book : Max Havelaar, Rasulullah Sang Pendidik dan Sognando Palestina. Tiga-tiganya belum selesai dibaca wkwkwk. Tapi aku bersyukur udah memulai baca. Setidaknya jadi kecatet dan ada pendorong buat nyelesaiin. Ya kan? J






Membaca Ulang Reclaim Your Heart

December 11, 2021 0 Comments
Bismillah.

Aku membaca ulang Reclaim Your Heart. Dari halaman belakang.

Sudah lumayan lama memulainya. Tapi belum selesai. Karena aku membaca banyak buku dalam satu waktu.

Kenapa baca ulang? Karena buku lain terasa 'berat' dan cover warna daun kuning buku terjemah Reclaim Your Heart terbitan Zaman begitu eye-catching. Ditambah lagi, aku merasa butuh membaca puisi-puisi di halaman belakang buku ini. Gak kupahami semuanya memang, puisi dibaca bukan untuk dipahami. Aku menyukainya karena beberapa bait bisa mewakiliku.

"Aku tersaruk-saruk.
Tidak berjalan.
Aku tersandung sekarang.
Tidak berbicara.
Ada rasa sakit di dalam dadaku
Terlahir dari keheningan, kesedihan, kegelisahan
Milik siapa lagi kalau bukan milikku?" -Yasmin Mogahed


Dan tentu... Yang satu ini, puisi dalam bentuk paragraf. Aku belum menghafalnya, padahal sudah sering mengulang membaca dan menulisnya.

***

Aku teringat kereta yang membawaku pulang ke Purwokerto. Pulang setelah bertahun merantau.

Aku teringat aku membaca habis buku ini dalam perjalanan. Di sela-selanya sempat tersenyum dan mengambil jajanan pasar yang ditawarkan nenek di sebelah koridor. Nenek, yang di akhir perjalanan tiba-tiba... Ah, aku sudah mulai melantur.

***

Membaca ulang buku itu baik. Buku-buku yang kau sukai.

Lebih baik daripada hal-hal lain yang tidak ingin kau sebut di sini.

Jadi, maukah kau membaca saja? Atau menulis saja? Dan berhenti tenggelam dalam kegelapan?

***

Terakhir, Ya Allah, Allah Al Waliy Al 'Aziz Al Hayyu Al Qayyum, selamatkan aku.


***

PS: aku tahu tidak ada yang membaca. But just in case,.. jangan overthink, jangan khawatir. Kalau masih khawatir, kau bisa berdoa yang baik-baik untukku. Doakan aku kebaikan dunia dan akhirat (:

Menulis Surat

December 11, 2021 0 Comments
Bismillah.

I used to think that it is easier to write a letter and put all of my thoughts there. I could express my heart easier with words without intonation. They are my friends. Writing used to always be easier for me.

But this time, it's different. Probably because the topic is difficult. And probably I write while thinking how the achiever will read it. But actually not because two of that.

What makes it more difficult for me to write that letters are....

I don't want it to be just letters.
I don't want to write just sentences.
I want to deliver my feeling and thought.
I want it to be full meaning.

And above all... I'm afraid those will be lies. Sweet words but lies.

***

It's not worth to write. If it doesn't reflected on myself, the way I act, the choice I take.

What is the worth of an empty promise?

I don't want to write those kind of letters.

***

But I still want to write it, as at least a step for me to speak up.
As a way to open up.

So, like these days, when it gets difficult to write a letter... I should have the courage to still write it. Right?


***

Last, what a broken grammar, and poor vocabulary. But who cares?

I'm glad I write this one. And I'll hide it again if I wanted it to disappear.

Allahua'lam.

Thursday, December 9, 2021

Challenge for Myself

December 09, 2021 0 Comments
Bismillah.

#10halamantiaphari @quote.daribuku

 

📖 #daribuku Kun Fayakun! Menembus Palestina - Peggy Melati Sukma, Penerbit Noura

☑️ 394-405

 

📑 Quote:

"Perjalanan saya memperkuat keyakinan, bahwa inilah Palestina dan seluruh area Bumi Syams, yang merupakan tanahnya nabi dan rasul. Dari tanah inilah para nabi dan rasul saya berasal. Dari tanah inilah para nabi dan rasul memulai perjuangannya mensyiarkan Islam, sampai tiba waktu hadirnya Panglima para nabi dan rasul, Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, yang diteruskan oleh para sahabat, hingga akhirnya Islam menyebar ke seluruh muka bumi ini, sampai di masa kita sekarang."

 

💡 Insight: Itulah mengapa tiga masjid yang harus dikunjungi adalah Baitul Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Karena dengan berkunjung, kita diingatkan lagi akan sejarah perjuangan dakwah Islam. Kita membaca sejarah, kemudian melihat jejak-jejaknya langsung di sana.

 

Jika hati kita masih tidak juga terikat dan ingin mengunjungi tiga masjid tersebut, barangkali kita kurang membaca. Hey diri! Iqra' bismirabbikalladzi khalaq.

 

***


Jadi, ceritanya aku menantang diri untuk membaca 10halamantiap hari. Share quotes dan insight di Instagram @quote.daribuku


Trus... Gagal sih sebenernya wkwkwk. Beberapa hari skip. Tapi in syaa Allah gak akan nyerah sih. Masih mau lanjutin meski gatau bisa tiap hari apa gak.


Harus diginiin kayanya, biar baca bukunya makin semangat. Rasanya beberapa bulan turun gitu. Baca sih, tapi cuma satu dua halaman tiap hari. Trus pekan kemarin skip gak hadir the ladybook, terdistraksi ><


Anyway, memulai habit baru itu.. butuh usaha dan waktu. Namanya juga pembiasaan. Harus dilatih dan diulang-ulang. Harus sabar mendidik diri.


Aku... Kadang merasa sisi burukku begitu kuat, sampai lupa bahwa sisi baik harus dipupuk supaya bersemi dan tumbuh menjadi pohon yang kuat.


Atau kalau pepatah barat, ada dua rubah/serigala di hati kita. Mana yang dikasih makan, itu yang bakal menang. Maka. Jangan salah kasih makan ya.


Terakhir, ini gak nyambung sama topik.


Desember, sering hujan. Jaga kesehatan, jangan lupa pakai jaket 🧣 dan sedia payung ☂️ kalau keluar rumah. Makan yang teratur dan bergizi, banyakin minum air putih. Istirahat yang cukup. Stay healthy both body & mind. And above those two, keep your heart safe too.


Sekian. Bye 5!


Allahua'lam.

Tuesday, December 7, 2021

70 More Post

December 07, 2021 0 Comments
Bismillah.

Meski ada target nulis lain, semoga target yang ini terlaksana.

Supaya blog ini kuantitas tulisan 2021 minimal sama kaya tahun 2020, aku butuh posting 70an lebih tulisan baru.

Jadi, selamat menikmati tulisan-tulisan pendek. Kadang cuma share quotes. Kadang free writing aja, meski agak abstrak dan terkesan sepenggal dan gak utuh. Tapi semoga gak mengurangi esensi.

Esensinya: memupuk lagi keberanian untuk menulis. Jangan biarkan kalimat mengendap di kepala, kemudian hilang entah ditelan apa. Ehhehe.

Anyway, ada yang blognya udah berbulan bahkan bertahun gak dikunjungi? Mumpung Desember, banyak hujan, yuk diisi lagi dengan tulisan baru. *Gak nyambung ahha 

Bye 5!

Cari Kesempatan untuk Curhat

December 07, 2021 0 Comments
Bismillah.

#fiksiku

"Aku aja yang overthinking. Plus cari kesempatan dalam kesempitan untuk curhat. Hehe ✌️ Maaf ya kalau jadi nambah beban pikiranmu."

Sebelum kalimat itu.

"Segitu dulu deh curhatnya hehe. Bisa jadi aku aja yg overthinking. Bisa jadi kamu ingin berhenti karena alasan lain."

***

Gak semua orang mudah untuk membuka diri, kemudian menceritakan curahan hatinya.

Gak semua orang mudah bercerita tentang diri, meski sebenarnya ia juga suka bercerita tentang diri.

Hanya saja, lidahnya sudah terbiasa ia tahan. Ditahan oleh dua rahangnya, lalu barisan gigi, lalu bibirnya yang sering terlihat kering.

Maka saat kesempatan itu hadir. Kesempatan untuk curcol. Ia menggunakan kartu chance-nya.

Bisa jadi, ia sebenarnya hanya ingin bercerita dan bukan bertanya. Atau ia memang ingin bertanya, karena pikiran-pikiran di otaknya sudah terlalu macet dan meminta untuk diberi jalan keluar.

Maka ia bercerita. Sedikit tapi lebih dari cukup untuk memberi ruang bernafas. Tentang satu hal kecil yang sebenarnya tidak bermaksud untuk ia sembunyikan. Tapi juga tidak ia biarkan diketahui keberadaannya.

Maka ia bercerita. 3 enter. Lalu diikuti 2 enter di pembuka tulisan ini.

***

Jauh, jauh sebelum kejadian ia mengambil kesempatan untuk curhat, aku melihatnya bolak-balik resah. Aku mendengarnya ingin mundur, bahwa ini akan menjadi yang terakhir.

Lalu saat kesempatan untuk curhat itu hadir, sebagian keresahannya ia letakkan. Ia tidak lagi bolak-balik dan menggumam. Meski bisa jadi ini tetap akan menjadi yang terakhir baginya.

Tapi... Kini ia tahu. Allah yang memberikan kesempatan itu untuknya. Kesempatan untuk membuka diri. Kesempatan untuk bercerita sedikit tentang diri. 

Ya, Allah yang memberikannya kesempatan. Kesempatan untuk mengakui suatu masalah yang pernah terjadi dan telah berlalu. Kesempatan untuk curhat, meski hanya lewat paragraf pendek dan sederhana.

Karena meski aku sebelumnya tak tahu. Allah sejak dulu sudah tahu, hamba-Nya yang satu ini sering lupa cara mengambil kesempatan untuk curhat. Kadang, ia perlu dipojokkan dulu, ditempatkan di situasi dan kondisi yang membuatnya bersuara, meski lewat kata-kata tanpa nada.

The End.


From Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

December 07, 2021 0 Comments
Bismillah.

Kutipan, yang sayang untuk dibaca sendiri.

Insecure di depan manusia itu tidak boleh.

Tapi tidak apa merasa kecil dan begitu hina di hadapan-Nya. Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan pasrah kepada-Nya.

***

PS:

Hey it's okay to write something that trouble your mind here. You can always put it back to draft or delete it later. Write it. Maybe...maybe it will be easier to take the decision.

Bacalah Al-Qur'an Meski Kamu Banyak Dosa

December 07, 2021 2 Comments
Bismillah.

Pernahkah kamu terjatuh dalam dosa, kemudian tenggelam dalam penyesalan.

Pernahkah kamu merasa begitu kotor, kemudian ragu untuk mendekat pada Al-Qur'an?

Lintasan pikiran dan bisikan itu hadir. Rasanya, aku tidak pantas membaca Al-Qur'an.

Lintasan pikiran dan bisikan itu hadir. Al-Qur'an terlalu suci, untuk diriku yang hina dan berlumur dosa.

***

Manusia tempatnya salah dan khilaf. Ia pasti pernah dan akan jatuh dalam dosa. Bukan cuma sekali, tapi lagi dan lagi.

Maka meski diri ini merasa begitu kerdil dan hina. Maka meski dosa kita bertumpuk dan memberatkan tangan, mata dan lisan kita untuk membaca ayat-ayatNya... Tetaplah berusaha mengejanya, melafalkannya meski terbata. Tetaplah berusaha terhubung dengan Allah, membaca Kalamullah dan mengetahui dari bacaan tersebut bahwa Allah tidak ingin kamu menyerah dari Rahmat-Nya.

Abaikan lintasan pikiran dan bisikan yang justru akan menyeretmu makin dalam ke jurang, makin dalam tersesat di hutan.

Ubah mindsetmu. Baca kutipan ini dan resapi,

"Bukan karena kamu banyak dosa, lantas kamu merasa tidak pantas membaca Al-Qur'an. Justru karena kita semua merasa banyak dosa, kita harus segera kembali kepada Al-Qur'an." - Ahmad Khorul Anam, dalam buku Seni Bahagia Menghafal Al-Qur'an

***

Semoga kita bukan termasuk orang-orang munafik yang digambarkan di surat Al-Hadid ayat 14. Mereka dulu bersama-sama orang beriman, namun mereka menunggu, menunda-nunda, meragukan janji Allah, dan ditipu angan-angan kosong. Allahumma la taj'alna minum. 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang beriman yang kelak akan menemukan cahaya dari depan dan samping kanan. Kemudian berdoa,

Rabbanaa atmimlanaa nuuranaa waghfirlanaa. Innaka 'ala kulli syai-in qadiir.

Di surat At Tahrim ayat 8, orang-orang beriman itu berdoa, meminta disempurnakan cahayanya. Dan apa lagi doanya? Waghfirlana, dan ampunilah kami. Artinya apa? Bahkan orang-orang yang beriman juga pernah jatuh dalam dosa.

Orang-orang beriman, bukanlah malaikat yang suci dari dosa. Mereka berdosa juga, tapi mereka bersegera meminta ampun pada Allah.

Dosa kita... yang begitu banyak dan tak terhitung itu. Semoga tidak menghalangi kita untuk kembali pada-Nya. Semoga tidak menghalangi kita untuk membuka dan membaca lagi Al-Qur'an.

Ya Allah, justru karena aku memiliki banyak dosa. Aku ingin terus menerus membacanya. Semoga tiap ayat bisa menjadi penggugur dosa, bisa membersihkan jiwaku yang kering, bisa menghidupkan kembali hatiku yang keras dan hampir mati. Aamiin.


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Monday, December 6, 2021

Tools Box PFA

December 06, 2021 0 Comments
Bismillah.

Sabtu kemarin, kemarinnya lagi ikut Training Konselor Remaja. Dibahas tentang PFA (Psychological First Aid). Singkatnya PFA itu mirip P3K tapi ini untuk luka jiwa/luka hati/luka psikis.

Nah, toolbox-nya itu ada 4 : empati, active listening, observasi, building raport.

Ada beberapa langkah juga, yang gak boleh dibalik-balik urutannya:

1. Look
2. Listen
3. Comfort (beri rasa aman)
4. Link
5. Protect
6. Hope

***

Trus dikasih contoh gimana cara menanggapi curhatan orang lain yang benar.

Trus pekan ini rasanya kaya diuji sama Allah buat mpraktekin ilmu itu.. hampir aja salah kasih respon. Udah kirim chat respon yang salah.

Trus buka blog, baca tulisan lama berjudul "Capek Banget", trus langsung berasa jleb. Seolah Allah ingetin aku, bukan gitu tanggapan yang baik.

Langsung deh hapus chat yang udah terkirim, coba merangkai ulang kalimat baru. Semoga lebih baik daripada kalimat sebelumnya.

****

Salah satu insight dari pelatihan tersebut yang ingin kucatat di sini, selain tentang mendengarkan dengan empati, adalah tentang semangat membantu orang lain.

Saat ini, kita bisa rasakan begitu banyak ideologi dan kondisi yang memojokkan kita seolah memaksa kita untuk menjadi seorang individualis nan egois. Rasanya, hanya buang waktu, untuk mendengarkan keluhan teman yang itu-itu saja.

Padahal, tahukah kalau Allah menjanjikan kemudahan jika kita membantu orang lain? Tahukah, saat kita membantu urusan mu'min yang lain, Allah akan mempermudah urusan kita?

Jadi... Ayo berlomba untuk saling membantu dan memudahkan urusan orang lain. Keluarlah dari tempurungmu, kau akan melihat, bahwa ada begitu banyak nikmat yang Allah berikan padamu. Kau akan melihat, bahwa kamu bisa membuat orang lain tersenyum meski hanya bantuan kecil.

****

Terakhir, untuk ukhti nan jauh di sana.. maaf karena sering terlambat membalas pesan darimu. Maaf karena seringkali aku lupa untuk mendengarkan dengan baik sebelum memberi respon.