Follow Me

Thursday, January 31, 2019

Small Things Matter

January 31, 2019 0 Comments
Bismillah.

#buku
-Muhasabah Diri-

Nukil buku Mutiara Al Quran, karya Dr. Sultan Abdulhameed.

***



Mungkin sudah sering mendengar atau membaca bahwa ternyata hal-hal kecil itu berarti. Karena yang besar biasanya dimulai dari yang kecil. Orang-orang yang sukses, biasanya memiliki kebiasaan kecil yang positif, yang berdampak dalam hidupnya. 

Dalam salah satu tulisan di Buku Mutiara Qur'an, Dr. Sultan Abdulhameed mengajak pembaca untuk merenungi ayat yang sidah familiar. QS Az Zalzalah, ayat 7 dan 8.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Ia menuliskan, 
Kedua ayat tersebut menunjukkan tentang kehidupan yang tersusun dari mosaik-mosaik kecil. Sama halnya sebuah istana yang dibangun dengan meletakkan sepotong bata satu di antara yang lain. Setiap momen berlangsung cepat dan memberikan kita pilihan-pilihan. Jika kita melakukan suatu kebajikan pada saat ini, maka perbuatan itu akan membawa kebaikan di waktu mendatang. Jika kita melakukan hal yang membahayakan kita atau orang lain, maka tindakan itu akan membuahkan dampaknya pada suatu saat nanti. Apa yang akan kita lakukan pada saat tertentu merupakan sebuah langkah kecil, dan karena itu, mudah untuk dikontrol. Langkah kecil yang banyak kita kerjakan, seiring dengan berjalannya waktu akan saling bertalian untuk membentuk nasib kita. - Sultan Abdulhameed 
Banyak yang membaca ayat tersebut tanpa tahu artinya, atau sudah tahu artinya namun belum merenungkan maknanya, serta belum berusaha mengamalkannya. Aku pribadi lama menyimpan tulisan ini di draft, karena jujur, aku masih merasa sangat lemah dalam hal ini. Ada kalanya mengabaikan perbuatan baik yang kecil, padahal bisa jadi hal kecil itu nilainya besar. Ada kalanya meremehkan perbuatan buruk yang kecil, padahal perbuatan buruk kecil juga meninggalkan noktah hitam di hati. 

Ayat ini, juga memberikan harapan bagi kita. Mungkin kita tidak bisa secara drastis menjadi baik. Namun setiap langkah, setiap pilihan, hal kecil yang kita lakukan untuk mendekat padaNya, itu semua berarti dan akan dibalas oleh Allah. 
Betapapun lemah atau melencengnya seseorang, dia biasanya cukup kuat untuk mengambil satu langkah yang tepat. Hari berikutnya akan kembali menghadirkan peluang ini. Segala sesuatu yang kita ucapkan atau lakukan menciptakan perbedaan dan juga berakumulasi. Peluang untuk menciptakan masa depan yang lebih baik terletak pada langkah-langkah kecil yang kita kerjakan setiap jam, setiap hari. - Sultan Abdulhameed
Ayat tersebut juga merupakan peringatan, karena setiap perbuatan buruk akan menjadi jalan menuju perbuatan buruk lain yang lebih besar.
Langkah-langkah kecil saling berkaitan dan menciptakan sebuah arah. Kapan saja kita melakikan sesuatu, akan ada jejak yang tergores. Bila kita melakukannya lagi, jejaknya menjadi semakin dalam, dan ketika kita mengulangi perbuatan itu, maka jejaknya menjadi sebuah alur tertentu. Alur itu kemudian membesar menjadi sebuah saluran yang alirannya akan membawa kita menuju arah tujuan kita. - Sultan Abdulhameed 
Maka perhatikan setiap hal kecil, jangan abaikan atau remehkan. Pastikan tiap pilihan, langkah yang kita ambil membawa kita ke tujuan kita. Jika kita ingin berpulang ke surgaNya, maka jangan remehkan perbuatan buruk meski kecil, dan ambil kesempatan berbuat baik, meski keci. Cause small things matter. ^^

Allahua'lam.

***

PS: Doakan aku bisa buat review atau resensi dari keseluruhan buku ini yaa.. *ada banyak sekali hal yang seharusnya ditulis dan aku masih letih sendiri melawan diri. **maaf curcol hehe

Wednesday, January 30, 2019

Manusia Melihat Hasil

January 30, 2019 0 Comments
Bismillah.

from unsplash

Hari ini, aku diingatkan lagi, bahwa manusia melihat hasil. Hanya Allah yang melihat proses. 

***

Manusia bisa dengan mudah mengatakan seseorang A. Karena yang ia lihat, orang tersebut A. Manusia ga tahu, dan ga melihat mengapa orang tersebut A. It's easier to judge than to understand. Seperti lebih mudah berprasangka buruk daripada berprasangka baik.

***

Seseorang bertanya padamu, terkait takdir Allah, mengapa Allah menuliskan aku begini, hidupku begini, dll. Mudah rasanya jika kita menganggapnya tidak bersyukur, jauh dari Allah. Apalagi setelah kamu jawab ayat-ayatNya, kamu sarankan ia beristighfar, shalat, doa, dzikir, ternyata ia masih juga bertanya hal yang sama padamu. 

Yang kita lihat hasilnya... kita lihat ia belum berubah, ia masih belum bisa bersyukur, ia masih menyalahkan takdir, dan belum melihat kebijaksanaan rencana Allah. Kita tidak tahu, dan tidak melihat perjuangannya. 

Kita tidak tahu,... meski ia masih bertanya pertanyaan yang sama, ia sudah jatuh bangun berjuang. Ia sudah berusaha memperbaiki shalatnya, tidak mununda-nunda. Kita tidak tahu, ia menangis dan berdoa dalam tangisnya, agar Allah menghidupkan kembali hatinya yang mengeras. Kita tidak tahu berapa kali ia menggenggam al quran, membuka dan menutupnya kembali, karena ia ingin membaca al quran, meski merasa tidak pantas, karena dosanya begitu tinggi menjulang. Dan telepas dari usaha itu, ia tidak bisa menafikkan, bahwa pertanyaan-pertanyaan yang sama masih berdesakkan di kepalanya. Maka ia bertanya pada kita, kita yang ia percaya sebagai teman yang mau mendengarkan. Kita. . . yang ternyata hanya melihat hasil. 

***

Manusia melihat hasil, normalnya, kebanyakan dari mereka. Tapi bukan berarti manusia tidak bisa belajar untuk mendengarkan dan mengerti. Bukan berarti manusia tidak bisa menghargai proses.

Ada manusia, yang Allah berikan kebijakan dan hikmah, untuk bisa melihat proses. Meski fitrahnya, manusia melihat hasil.

***

Hari ini, aku diingatkan Allah, bahwa manusia melihat hasil, tapi Allah melihat proses. Maka saat semua orang tampak membuta akan perjuangan rahasiamu, jatuh bangunmu berproses... meski mungkin tidak ada yang mengerti dan mau mengerti. Semoga kita ingat, bahwa Allah melihatnya. Allah mengetahui dan melihat proses. Setiap langkah yang kau ambil, meski tak sempurna, meski hasilnya 'masih' gagal. Allah melihatnya. TT

Hidup tanpa mengenal Allah pasti begitu menyiksa. Karena manusia melihat hasil, dan mudah untuk merasa kerdil karena pandangan manusia tersebut. Dan pandangan manusia, justifikasi mereka karena 'hasil' yang kita bawa, bisa kita abaikan, kalau kita mengenal Allah. Kalau kita yakin dan tahu, bahwa Allah melihat proses. Allah menghitung bahkan yang sekecil atom. Allah bahkan juga menghitung niat baik, sesuatu yang kasat mata bagi manusia.

Alhamdulillah 'ala kulli hal. 

Allahua'lam. 

Tuesday, January 29, 2019

Sikap Manusia Terhadap Kematian

January 29, 2019 0 Comments
Bismillah.

#buku
-Muhasabah Diri-

Tahun 2019, bulan Januari sudah di penghujung. Awal tahun biasanya orang-orang menulis resolusi membuat rencana apa yang akan dilakukan dalam setahun, apa yang ingin dicapai, apa yang ingin diperbaiki. Tapi sadarkah kita? Bahwa kematian lebih pasti daripada kehidupan? Siapa yang menjamin kita masih hidup sampai penghujung tahun? Banyak yang menolak untuk mengingat kematian, berusaha menafikan kepastian datangnya. Padahal mengingat kematian bisa memberikan manfaat bagi orang-orang yang beriman.

***


Ketahuilah, hati orang yang tenggelam dalam dunia dan tertipu olehnya serta jatuh cinta pada berbagai syahwatnya sudah pasti lalai dari mengingat kematian. Apabila seseorang mengingatkannya pada kematian, maka dia merasa tidak suka dan langsung lari menjauh darinya. Orang seperti itulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS Al-Jumu’ah: 8)

Dalam hal ini, manusia terbagi tiga: orang yang tenggelam dalam dunia, orang yang bertobat, dan orang yang mengenal Allah.

Orang yang tenggelam dalam dunia tidak akan mengingat kematian. Jika dia teringat akan kematian, maka yang timbul dalam benaknya hanyalah rasa sayangnya akan kehilangan dunia, lalu dia mengecamnya. Mengingat kematian yang seperti itu hanya semakin menjauhkannya dari Allah.

Orang yang bertobat banyak mengingat kematian dalam rangka memupuk rasa takut dan cemas dalam hatinya. Dengan begitu, tobatnya akan sempurna. Ada kalanya, dia tidak menyukai kematian karena khawatir kematian sudah datang sebelum tobatnya sempurna, sebelum bekalnya cukup banyak. Hal ini bisa dimaklumkan. Maka dirinya tidak tergolong orang yang disebutkan dalam hadis, “Barangsiapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” Dia hanya khawatir luput dari pertemuan dengan Allah akibat kelalaian dan keteledorannya. Persis seperti orang yang takut terlambat bertemu dengan kekasihnya, sehingga dia senantiasa sibuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sang kekasih dalam suasana penuh keridhaan. Dengan demikian, dia tidak bisa dianggap sebagai orang yang tidak suka bertemu dengan kekasihnya.

Ciri-ciri orang seperti ini adalah dia selalu sibuk bersiap-siap bertemu dengan Allah, tidak ada kesibukan selain itu. Jika ciri-ciri ini tidak terdapat pada diri seseorang, maka dia termasuk orang yang tenggelam dalam dunia.

Sedangkan orang yang mengenal Allah senantiasa mengingat kematian hanya karena kematian merupakan waktu yang ditentukan baginya untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Seorang pecinta tidak akan melupakan waktu yang ditentukan untuk bertemu dengan kekasihnya. Biasanya, orang seperti ini menganggap datangnya kematian terlalu lambat. Dia menyukai datangnya kematian agar dapat segera hengkang dari negeri para pelaku maksiat dan pindah ke sisi Tuhan semesta alam. Sebagaimana ketika Hudzaifah radhiyallahu anhu menjelang wafat, dia berkata, “Kekasih yang dinanti-nanti tiba di saat genting. Tidaklah beruntung orang yang menyesal pada saat ini. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan jauh lebih aku sukai daripada kekayaan, dan waktu sakit jauh lebih aku sukai daripada waktu sehat, dan kematian jauh lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah kematian bagiku agar aku bertemu dengan-Mu”.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Prolog tulisan saya, sisanya menyadur dari buku Bekal Menggapai Kematian yang Husnul Khatimah, Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi, Qisthi Press, Hal. 18-19

Monday, January 28, 2019

Mengada-ada

January 28, 2019 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe
-Muhasabah Diri-

Aku tahu ini mengada-ada. Tapi aku tidak bisa tidak reaktif, saat kukunjungi tulisan fiksi "membuta" di sini, kemudian memperbaiki typo dan kelebihan kata, kemudian teringat, bahwa belum lama kubaca ayat yang sama di tempat lain. 

***

Kau tahu? Aku membuat benang merah, seolah di sini dan di sana terhubung jembatan kasat mata. Meski aku tidak tahu, apa fungsi jembatan itu.

glass bridge (from unsplash)

Padahal jika aku mau lebih rasional. Sebenarnya bukan itu poinnya. Bukan itu Bell. Jadi berhentilah mengada-ada. 

Poinnya adalah, Allah ingin mengingatkanmu tentang ayat tersebut, bagaimana ayat tersebut kau refleksikan dalam hidupmu. Apa kabar mata? Apa kabar telinga? Apa kabar hati? Apa kau masih manusia? Atau kau lebih buruk dari binatang ternak? Yang abai memakan rumput, meski sesuatu yang begitu cepat baru saja melintas?

***

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةًۭ فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

QS Al Jasiyah ayat 23

Allahua'lam.

Lebih Baik Begini

January 28, 2019 0 Comments
Bismillah.

Kata mereka rasanya ingin menyerah padamu, karena jelas terlihat kamu masih terpaku di sana, melihat ke belakang, meratapi kemalangan, kesalahan, di masa lalu. Marah sekaligus enggan melepas yang ditakdirkan berpisah denganmu. Setiap hari begitu, dan rasanya tidak ada perubahan meski berkali-kali di jawab.

from unsplash

Aku ingin menjawab mereka. Aku juga berulang kali berpikir untuk menyerah padamu. Aku pernah berpikir untuk pergi saja meninggalkanmu. Tapi... kali ini, ingin kusangkal mereka, meski mungkin aku tak berhak. Ingin kuberitahu, bahwa menurutku lebih baik begini. Aku senang membaca dan mendengarkanmu. Bagaimana kamu mengeja dalam kata, perasaan dna pikiran yang berdesakan di otakmu. Mungkin hampir keseluruhannya negatif, tapi itu jauh lebih baik daripada beberapa saat yang lalu. Saat itu kau bercuap seolah diri baik-baik saja, padahal di tempat lain kau meluapkan emosi dengan kata-kata yang menyakiti dirimu sendiri. Kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulutmu atau dieja dengan jemarimu. 

Bagiku... lebih baik begini. Setidaknya aku bisa bercakap denganmu. Berharap satu dua kalimat sederhanaku bisa mengingatkanmu. Tentang kasih sayangNya yang selalu deras mengalir. Tentang setiap luka dan rasa sakit, akan menjadi baik jika itu mengantarkan kita kepadaNya. 

Allahua'lam.

Saturday, January 26, 2019

Menulis di Kepala

January 26, 2019 0 Comments
Bismillah.

from unsplash

Pernahkah kamu menulis di kepala? Bukan di kertas, atau di aplikasi menulis, tapi di kepala. Jangan diartikan denotatif ya, tentu maksud menulis di kepala, bukan menggoreskan tinta di kepala.

Beberapa hari ini ide menulis hadir, tapi aku tidak menyegerakan menuliskannya di kertas. Aku memilih menulisnya di kepalaku, memikirkan pembuka tulisannya, alurnya, kemudian penutupnya. Aku bahkan sudah mulai membuat kalimat-kalimatnya. Seperti bicara dalam kepala sendiri, proses menulis di kepala, mirip seperti itu.

Proses menulis di kepala sebenarnya bisa baik, jika setelah itu, kita segera meraih pena, atau keyboard dan menuliskannya. Tapi seringkali, yang aku lakukan, aku memberikan jeda waktu yang cukup lama sejak aku menulis di kepala, sampai akhirnya kutulis di kertas. Hasilnya? Saat mulai menggerakkan jemari, semua yang sudah kutulis di kepala seolah hilang jejaknya. Aku hanya teringat ide pokoknya, aku lupa bagaimana pembukanya, alurnya, apalagi penutupnya. Kalimat yang tadinya sudah utuh kutulis di kepala, seolah menghilang ditelan waktu.

Peristiwa berulang tersebut membuatku sadar, bahwa tidak baik menulis di kepala. Boleh, memikirkan sebelum menulis, tapi baiknya setelah itu segera ditulis. Bahkan mungkin daripada menulis di kepala, lebih baik menulis di kertas, tidak apa nanti ada coretan, tidak apa, nanti bisa diedit. Karena lebih mudah mengedit tulisan yang sudah ada, ketimbang mencari-cari tulisan di kepala yang sudah terlupakan.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam kegiatan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Kegiatan menulis kolektif tentang gagasan, catatan, cerita dan atau ekspresi secara rutin di hari Sabtu. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.

Friday, January 25, 2019

Bukan Hari Biasa

January 25, 2019 0 Comments
Bismillah.


Hari ini bukan hari biasa baginya, jumat ini, serta hari-hari sebelum jumat ini. Aku mungkin tidak bisa membahasakannya di sini. Tapi aku bisa membayangkan jika aku ada di sepatunya. Perasaan negatif yang bergumul, berdesakkan, mengisi dan mengelilinginya. Aku harap ia bisa keluar dan terbebas dari itu. 

Hari ini, semoga menjadi satu pelajaran baginya. Menjadi titik ia untuk belajar lagi mencintaiNya. Dan serpihan kaca yang terlanjur berserakkan itu. Semoga bukan ia injak, atau genggam, hingga melukai kaki dan tangannya. Sekarang saatnya ia berhenti melukai diri sendiri, dan mulai menerima. Biarlah yang sudah pecah dan tak bisa diperbaiki. Tapi tetap menjaga keyakinan, bahwa Allah lebih dari mampu, mengganti serpihan itu dengan hal lain yang lebih indah, yang lebih baik, yang tidak menyakitinya. 

Ada banyak tangan yang ingin membantunya. Mengambilkan sapu, membersihkan serpihan yang berserak. Ia bisa meminta bantuan orang lain. Tapi jika terasa sulit, ia bisa meminta bantuanNya saja. Biar nanti Allah kuatkan ia untuk membersihkan pecahan yang berserak.

Allahua'lam.

Sunday, January 20, 2019

Allah Membaca Tulisanku

January 20, 2019 0 Comments
Bismillah.

12 September 2018 yang lalu, sebuah tulisan aku publish, judulnya "Mengapa Butuh Forum Diskusi Buku?" isinya tentang alasan mengapa aku butuh forum diskusi buku. Juga kerinduanku akan proker Majelis Buku, Aksara Salman ITB.

Beberapa bulan kemudian, Januari, 2019 aku seolah mendapatkan jawabannya, bahwa forum diskusi buku itu ada.. cuma aku aja yang belum banyak mencari tahu. 

***

Komunitas Buka Buku



Komunitas Offline, ada grup WhatsApp-nya juga, *katanya hehe. Ini di Purwokerto. Membernya mayoritas mahasiswa, tapi bukan mahasiswa juga boleh ikutan. Silahkan cek fanpage Komunitas Buka Buku

BBBBookClub (@bbbbookclub)



Ini klub gerakan ibu ibu baca buku. Aktifnya di instagram, isinya warna warni tentang membaca buku, serta reposr tantangan baca, review buku, dari instagram post dengan hashtag #buibubacabuku.


Dari sini aku jadi bisa baca sekilas buku-buku yang keberadaannya tidak kuketahui. Terkadang ada quotes dan insight buku yang bisa kita dapatkan kalau follow instagram BBBBookClub. 


IMLA (Indonesia Muslim Literacy Action)  @imla_literaksi



Komunitas offline literasi, fokus untuk meningkatkan minat literasi, acara offline banyak dilaksanakan di UIN Sunan Ampela. Diskusi online biasanya melalui video call. Saya sudah pernah menulis tentang IMLA di sini. Malam ini (Senin, 21/1) ada diskusi tentang buletin kedua dari IMLA, yang judulnya "Sejarah Islam, Sejarah Dunia". Yang ingin gabung bisa kontak wa, ketik: IMLA (spasi) nama (spasi) no. hp kirim ke 0821-3918-0143 (WA)

Bacabacaaa.id (@bacabacaaa.id)



Konsep komunitasnya agak beda. Karena yang ingin bergabung diminta meminjamkan buku minimal dua. Jadi semacam perpustakaan yang letaknya beda-beda, tapi databasenya jadi satu. Yang menarik, komunitas ini rutin ngadain Bincang Buku, forum dengan konsep mirip Majelis Buku yang saya rindukan dari Aksara Salman ITB. Saya baru ikutan sekali, yang diadakan hari Sabtu malam, membahas buku Buya Hamka, "Dari Lembah Cita-cita". Ini ada link notulensi-nya, barangkali ada yang mau baca-baca.


***

Selain yang disebutkan di sini, pasti ada komunitas lain yang menyediakan tempat untuk memupuk budaya literasi, tempat berdiskusi buku-buku bacaan, saling sharing insight buku yang dibaca, meskipun perbedaan selera genre bacaan. Kalau kita tidak bergerak mencari, atau coba ikutan dulu salah satunya, kita akan sulit untuk menemukannya.

Saya tahu komunitas IMLA dan Bacabacaa.id karena bergabung di Generasi Al Fihri yang konsepnya mirip ODOJ tapi bukan baca quran, melainkan baca buku setiap hari, dengan batas minimal yang sangat mudah dicapai (hanya 3 lembar). Dari sana, ada grup sharing, dimana setiap anggota bisa share undangan diskusi buku, atau membagikan tulisan yang bisa membakar semangat membaca.

Komunitas Buka Buku, kenal karena pernah dibimbing Pak Nassirun Purwokartun di komunitas menulis Kompilasi.

Kenal instagram BBBBookClub dari facebook pemilik blog salamfirst (Ummu Kiram - DW) yang memang senang membaca dan sharing tentang buku.

***

Balik ke judul ya, Allah Membaca Tulisanku, ada hal menarik yang aku dapatkan dari menulis. Seolah menulis adalah bentuk lain doa. Sekedar memendam pertanyaan dan keinginan di otak seringkali akan membuatnya terhenti sebagai lintasan pikiran belaka. Namun saat kita membahasakannya, menjadi tulisan, seolah-olah itu menjadi pintu untuk menemukan jawaban pertanyaan, dan undnagan akan jalan menuju keinginan tersebut. Allah membaca tulisan kita. Saat kita menulis, niat sudah naik tingkat jadi tekad, kemudian Allah menyajikan skenarionya, agar kita bisa meniti jalan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang kita tulis, atau jalan.. dari keinginan yang kita tulis.

Allah membaca tulisanku, maka seharusnya aku lebih memilih menulis, ketimbang memendam semua di pikiran saja. Allah membaca tulisanku, maka aku harus hati-hati, menata niat, dan menulis dengan kata-kata baik, berdoa semoga tulisan tidak berhenti di sana saja. Semoga tidak mengajak pada keburukan atau memberi dampak negatif pada diri atau orang lain.

Allah membaca tulisan kita... jika menyuarakan doa dalam suara masih tidak bisa. Sesekali cobalah menuliskan doa kita. Lakukan keduanya berulang. Allah akan menjawabnya, pada waktu yang tepat, dengan jawaban yang kau harapkan atau bahkan yang lebih baik, di dunia, atau di akhirat kelak. In syaa Allah.

Allahua'lam.

Boleh Curhat Di Sini?

January 20, 2019 0 Comments
Bismillah.


Itu pertanyaan yang terlintas di kepalaku kemarin siang. Saat hujan menghias Purwokerto, rasanya pas buat nulis dan cerita tentang hal-hal yang belum bisa kuungkapkan. Tapi ternyata lintasan ide itu lewat aja, hehe. Aku akhirnya tidak menulis dan memilih mengerjakan hal lain. Begitu pula kemarin malam, keinginan untuk menulis ada, tapi akhirnya terhempas keinginan melakukan hal lain. 

Blog ini memang banyak menyimpan cerita hari, tempat aku mengungkapkan dan mengekspresikan apa yang ada di hati dan pikiran, namun di sini bukan diary. Maka aku berusaha sesedikit mungkin curhat. Di sini bukan jurnal harianku, begitu kata diriku. 

Kemarin keinginan untuk curhat itu begitu tinggi, karena hari berlalu dan begitu banyak hal terjadi, badan dan emosi yang letih, mencari tempat untuk istirahat. Aku berontak, dari rutinitas, menyengaja terlambat, menikmati buncahan emosi yang mengembun meninggalkan titik-titik air. 

***

Boleh curhat di sini? Tanyaku kemarin, kujawab tidak. Jangan di sini. Lalu aku menutup editor blog ini, memilih melakukan hal lain. Menulis di secarik kertas, di blog magic of rain, serta banyak bercakap dengan diri. Serta terdistraksi banyak hal lain, kemudian memilih untuk istirahat, tanpa mempublish satu tulisan.

Boleh curhat di sini? Pertanyaan ini barangkali bukan hanya aku yang pernah bertanya. Orang-orang mungkin pernah bertanya, di tempat yang berbeda, mungkin di sosmed, atau di blog, atau di sebuah grup, atau pada orang tertentu. Sebagian mungkin akhirnya benar-benar curhat, dan mencurahkan hal-hal yang memenuhi hati dan otaknya. Sebagian lain akhirnya menahan jemari dan lidahnya, memilih memendamnya saja, lagi, sendiri. Atau memilih tempat lain, yang lebih privat, yang tidak membutuhkan orang lain, yang tidak banyak dilalui banyak orang. 

Boleh curhat di sini? Pertanyaan ini membuatku berpikir, bahwa mencari pendengar yang baik itu sulit. Tapi memberanikan diri untuk menyuarakan cerita diri, atau menuliskan curahan hati, itu juga bukan hal yang mudah. Akhirnya banyak yang memilih menyendiri, tanpa mengungkapkan hal yang seharusnya dikeluarkan. Sendiri, bergulat dengan perasaan yang campur baur, dan pikiran yang berkelit kelindan.

Boleh curhat di sini? Mungkin tidak selalu harus dengan kata. Karena air mata bisa bercerita, mulut yang terbungkam, ketukan jemari karena resah, itu juga bisa bercerita. Tapi siapa yang bisa membacanya? Siapa yang bisa mendengar saat kita bicara sendiri dalam benak tanpa getaran pita suara? Siapa? Siapa lagi kalau bukan Allah. Idealnya mungkin percakapan tanpa kata ini terjadi dalam shalat dan doa. Tapi bisa saja ini dilakukan saat kita sendiri, menelungkupkan kepala, agar tidak ada yang tahu buncahan perasaan yang perlahan mengembun tinggalkan jejak basah. Lalu kita sadar, bahwa bahkan saat jemari kaku dan lisan kelu, Allah masih bisa membaca dan mendengar kita. Allah tahu arti bungkam kita, Allah tahu setiap bulir air yang turun membawa beban apa, Allah juga tahu setiap desah nafas kita. Allah Tahu...  

Boleh curhat di sini? Boleh... Tentu saja boleh. Ini ruangmu bercerita dan menulis. Tapi jika sulit, terlalu sulit membahasakannya, kau mungkin perlu bercakap sendiri, sembari mengingat bahwa ada Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. 

يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Wallahua'lam.

Saturday, January 19, 2019

Mudah Bagiku

January 19, 2019 0 Comments
Bismillah.
#sabtulis

Mudah bagiku menulis kata-kata random. Memilah diksi, merangkainya menjadi kalimat yang bermakna ambigu. Mudah bagiku seperti itu, sama seperti saat kita bicara asal, tanpa ada pesan yang ingin disampaikan atau ilmu yang perlu melandasi. Tapi kemudahan itu bisa segera sirna saat kondisi hatiku tidak baik-baik saja, saat otakku terlalu sesak padat oleh informasi dan prasangka.

Kalau menulis hanya tentang bermain kata, menyulam kalimat menjadi paragraf, maka itu mudah bagiku. Tapi menulis bukan sekedar tentang itu. Benar kita merangkai kata, memilih diksi yang tepat, menjadikannya kalimat kemudian paragraf. Tapi di tulisan tersebut, ada pesan dan makna yang disampaikan, sebagian tersurat, lebih banyak yang tersirat. Pesan itu mungkin dari penulis untuk pembaca, atau dari penulis untuk orang tertentu, atau bahkan dari dan untuk penulis itu sendiri. Makna itu, mungkin menggambarkan ekspresi perasaan penulis, atau merangkai informasi yang ada di otaknya, atau bisa juga gabungan dari keduanya.

Mudah bagiku menulis, daripada diam dan menimbun semuanya sendiri. Karena saat aku menutup rapat-rapat isi hati dan pikiran, kondisi emosiku bisa menjelma menjadi bom, bukan bom waktu, tapi bom yang jika terinjak atau tak sengaja tertekan meledak. Super sensitif lalu tanpa sengaja jadi mengorbankan orang sekitar. Lidah yang lebih tajam dari pisau menjadi senjata tak terkendali. Maka lebih mudah bagiku, untuk menulis saja, ketimbang membiarkan itu terjadi.

Aku harap begitu, selalu. Jika pun suatu hari menulis menjadi hal yang sulit, aku harap aku masih memilih jalan itu. Karena aku tahu, kesulitan suatu hari bisa berubah menjadi kemudahan. Seperti berhitung atau mengeja pernah menjadi hal yang sulit dalam hidup kita.


Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam kegiatan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Kegiatan menulis kolektif tentang gagasan, catatan, cerita dan atau ekspresi secara rutin di hari Sabtu. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.

Thursday, January 17, 2019

Sepertinya... Aku Akan Segera 'Jatuh'

January 17, 2019 0 Comments
Bismillah.

Iman itu naik turun, dan kita sebenarnya bisa merasakannya, saat ia mendaki perlahan-lahan, atau saat ia terjun turun. Saat tahu sedang menurun dan bisa jadi akan segera terjun, jatuh, apa pilihan kita menyerah saja? Atau bisakah kita mencegahnya? Supaya tidak benar-benar jatuh.

Seperti suatu hari, saat seseorang berkata padaku, "I'm feeling I'm going to have a break down soon," disebuah grup, "significantly", tambahnya. 

Aku kemudian menjawab padanya, bahwa itu hal baik. Perasaan itu, "firasat" itu, prasangka itu, bisa menjadi hal baik. 

"If you have that feeling, maybe that's a good thing. Artinya kamu bisa segera mengantisipasi, agar ga bener-bener kejadian. Coba pikirkan, apa yang bisa mencegahmu dari break down.  Apa yang bisa kamu lakukan, supaya feeling-mu ga jadi kenyataan."

Selalu lebih mudah jika hanya kata-kata. Kenyataannya, tidak mudah melakukan hal tersebut.

Ibarat kau sudah terpelosok ke dalam jurang, tapi masih bisa berpegangan pada seutas tali, atau mungkin akar pohon, ranting pohon. Kamu jelas-jelas merasakannya, peganganmu perlahan turun, mengikuti berat badan, dan gaya gravitasi. Kamu tahu, sebentar lagi kamu jatuh. Pertanyaannya, apakah kamu akan menyerah? Membiarkan tubuhmu terjatuh, dan melepaskan saja peganganmu? Atau kamu mau berusaha, dengan sisa tenagamu, meski sulit, untuk mendaki, berharap tanganmu bisa mengangkat tubuhmu yang sudah hampir jatuh. Berharap tali, atau ranting itu cukup kuat, selagi kamu berjuang untuk tidak terjatuh. Atau kau berteriak, minta tolong, barangkali ada orang lain yang bisa membantumu, sebelum kau benar-benar terjatuh ke dalam jurang. 

***

Sekitar empat hari, sejak tulisan terakhirku sabtu pekan kemarin. Empat hari untuk merasakan, sulitnya mengamalkan hal yang aku ucapkan dan tuliskan. Saat menulis, aku pikir itu cuma kata-kata untuk orang lain. Tapi hari berikutnya, Allah seolah ingin mengingatkanku, betapa kata tidak boleh berhenti di tulisan.

***

Perasaan akan jatuh, lalu usaha, lalu beneran jatuh atau bisa mencegah untuk jatuh, lalu mengobati luka, bangkit lagi, berusaha berjalan dan berlari lagi. Fasenya bisa berulang, begitu lagi. Belajar lagi dari kesalahan. Belajar untuk tidak buru-buru menyerah. Belajarlah, bahwa perasaan yang muatannya negatif itu, bahkan bisa menjadi hal baik, jika kita memilih respon yang benar.

read quran if you feel like you're gonna break down
Allahua'lam.

Saturday, January 12, 2019

IMLA (Indonesia Muslim Literacy Action)

January 12, 2019 0 Comments
Bismillah.


IMLA, komunitas ini baru saya kenal tahun 2019. Dari grup sharing Generasi Al Fihri, ada ajakan diskusi online IMLA. Daftar, awalnya saya kira diskusinya di grup WhatsApp secara tertulis (lewat chatting). Ternyata, gabung di grup diskusi IMLA cuma untuk pembagian sesi dan kelompok. Selanjutnya diskusi dilakukan via video call grup lewat web https/appear.in

Pas tahu lewat video conference, agak ragu mau ikut. Tapi aku pikir, coba dulu aja, toh dapet kelompoknya yang anggotanya akhwat semua. Pas buka link, sengaja ditutup kamera depan hpnya, trus utak-atik biar disable video, hehe. Singkat cerita akhirnya ikut diskusi, berdua tapi, sama anggota IMLA. Diskusinya bahas buletin IMLA tentang Buya Hamka dan budaya literasi beliau. 

Dari diskusi tersebut, diingatkan lagi, supaya semangat membaca. Betapa membaca bisa memperkaya pengetahuan dan ilmu seseorang dan nantinya akan tercermin di tulisan-tulisan kita. 

Saat itu, teman diskusi dari IMLA, kalau ga salah ingat mahasiswi UIN Sunan Ampel, asli medan. Namanya lupa tapi... *maafkan.. hehe saya tipe yang sulit ingat nama. Beliau penggemar Buya Hamka dan pengoleksi buku-bukunya. Ga cuma koleksi ya, tentu aja dibaca. Beliau sharing ke saya tentang pandangan Buya Hamka terkait sejarah islam masuk ke Indonesia. Bagaimana Buya Hamka menolak pendapat dari salah satu penulis lain. *lupa lagi. Pokoknya, saya diingatkan lagi, pentingnya untuk belajar sejarah. 

Selain diskusi tentang Buya Hamka, saya juga dikenalkan tentang komunitas IMLA, yang mempunya visi untuk mengajak anak muda untuk aktif melaksanakan literasi (baca, tulis, diskusi). 

Berkenalan dengan IMLA banyak mengingatkanku pada Aksara Salman ITB, "rumah" pertama saya mengenal asiknya berliterasi. 

***

Ada yang tertarik lebih jauh tentang IMLA? Mangga dikepoin aja ig-nya, bisa dm dan tanya-tanya mungkin, ada agenda offline-nya juga kalau ga salah. 

Saya cuma salah satu orang, yang kebetulan bersinggungan dan merasa IMLA bisa jadi salah satu wadah yang pas untukku agar meningkatkan semangat literasi. Sekarang masih jadi penonton, tapi semoga pelan-pelan bisa berpartisipasi aktif di IMLA. Entah dengan mengirimkan tulisan atau resensi, atau bisa juga dengan ikutan diskusi bulanan online dari IMLA. 

Terakhir, semangat literasi! Niatkan setiap membaca, menulis dan berdiskusi sebagai bentuk kita menuntut ilmu, salah satu langkah mendekat padaNya, dan supaya bisa menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi dengan baik. Deuh berat bahasanya. Intinya, luruskan niat, semoga manfaatnya tidak hanya dipetik di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Aamiin. 

See you ~

Allahua'lam.

Web atau Blog Di Banned Facebook?

January 12, 2019 2 Comments
Bismillah.

Ada yang sudah baca versi sensi? Hehehe. Semoga saja belum ada.

***

Qadarullah beberapa hari yang lalu, saya sadar kalau ternyata blog ini linknya ga bisa di share di fb maupun ig. Setelah sekian lama menutup pintu ke blog ini, dengan sengaja ga share ke sosmed seperti fb, ternyata. . blog ini dianggap tidak aman oleh pihak facebook.

Awal tahu, aku banyak mikir, kenapa ya? Trus berspekulasi sendiri hehe. Sempat kepikiran untuk ngambek dan meninggalkan facebook. Hehe. *reaktif banget. Sempat terlintas, mungkin lebih baik begitu, blog ini mending ga di share kemana-mana hehe. Sampai akhirnya aku sadar, aku tidak boleh reaktif.

***

Jadi aku googling deh, dan nemu jawaban ini.


Udah coba buka debuggernya, tapi di hp. Hasilnya kaya gini :

Belum coba langkah berikutnya sih. Tapi minimal, aku jadi tahu, kalau ga boleh reaktif. Nanti kalau ada kesempatan buka laptop, semoga ga lupa untuk ngurus ini.

***

Ga penting memang, di banned atau ga di facebook. Tapi hal ini seolah mengajarkanku, supaya jangan reaktif dan fokus cari solusi. Setiap masalah, ada jalan keluarnya. Sederhanakan, jangan dibuat ribet.

Allahua'lam.

***

PS: Maaf kalau banyak typo atau justru salah nulis kata. Maklum nulisnya dengan mata sisa sekian watt. (: Doakan aku bisa nyelesaiin tulisan sabtulis, entah di sini, atau di new leaf ^^

17 Tulisan Bersama Sabtulis

January 12, 2019 0 Comments
Bismillah.

Sabtu ini, jadwalnya nulis. Malam sudah jam segini, belum dapet ide. Jadi aku memutuskan menulis ini. Sekedar ingin mencatat hal yang sudah pernah tercapai. 17 tulisan bersama sabtulis.

***

Sebelumnya, aku cuma memilih jadi audience saja. Penonton. Agak ragu untuk aktif berpartisipasi, meski aku tahu gerakan Sabtulis baik untukku. Alasan dulu, aku merasa sudah rutin nulis sepekan minimal sekali di blog. Dengan atau tanpa ikut sabtulis, in syaa Allah nulis tetep jalan. Kedua, bagiku, ikut sabtulis sama aja membuka pintu orang-orang untuk ke blog ini. Tapi kedua alasan itu bisa dihilangkan, dan ternyata aku bisa ambil manfaat dari ikutan sabtulis.

Pertama, aku jadi buat blog baru, dengan warna yang lebih spesifik. Beda sama blog ini, yang fungsinya mirip-mirip sosmed. Banyak curhat, random, tapi kadang diisi tulisan nukil buku, cerpen, merajut hikmah dari kejadian yang aku alami/lihat, juga tempat mengutarakan apa yang ada di pikiran dan hati.

Kedua, meski sudah hampir tiap pekan nulis, tetap saja, berbeda. Karena saat menulis  bersama sabtulis, aku belajar untuk lebih teliti dan gak ngasal. Beda saat nulis blog ini, seringnya santai *meski kadang suka sensi juga hehe.

***

Tanpa terasa sudah 17 tulisan bersama sabtulis.




Mayoritas tulisannya bisa dibaca di akardaunranting.blogspot.com. Ada yang dari blog ini juga, satu. Coba tebak yang mana? Hehe.

17 tulisan bersama Sabtulis, aku belajar melepas rantai gajah-ku. Belajar mengizinkan diri menjadi penulis, yang tulisannya tidak hanya dibaca diri sendiri.

***

Terima kasih sabtulis (:

***

Satu lagi, sebelum tulisan ini di tutup. Agak out of topic, tapi sebenarnya masih menyinggung.

Ada satu komunitas yang aku ragu juga.. mau aktuf berpartisipasi atau lebih baik diam dan melihat dari jauh saja. Tapi jika komunitas itu baik untukku, bukankah sebaiknya kuhancurkan keraguan tersebut?

Semangat menulis~

Bye...

Allahua'lam.

Friday, January 11, 2019

Bau Busuk

January 11, 2019 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-
Hidungku berkerut, karena angin membawa bau busuk, membuatku menahan nafas. Kuperhatikan sekitar, kulihat bekas jejak seperti kotoran yang terinjak, segera kuambil air, kuberi sabun, dan mulai kubersihkan agar bau busuknya hilang. Aku bertanya-tanya, siapa yang tadi kesini, dan meninggalkan bekas kotoran berbau busuk ini? 


Sejenak, bau busuk itu hilang, berganti dengan bau sabun yang kugunakna untuk mengepel lantai. Tapi beberapa saat, bau busuk itu kembali tercium diujung hidungku. Aku mulai curiga, apa justru asalnya dari diriku? Aku perika pakaianku, bukan. Lalu kuangkan sebelah sepatuku. Kutemukan asal bau busuk tersebut. Mungkin beberapa menit yang lalu aku yang menginjak kotoran, aku juga yang meninggalkan jejak itu, tapi aku begitu terbiasa menyalahkan orang lain terlebih dahulu, tanpa menyadari bahwa sebenarnya sepatuku, bukan sepatu orang lain yang harus dibersihkan. 

***


Dua paragraf diatas, seolah Allah titipkan di kepalaku untuk ditulis. Bukan, bukan untuk dibagikan ke orang lain untuk dibaca. Tapi agar aku belajar berkaca sebelum berprasangka pada orang lain. Karena nyatanya, saat aku pikir orang lain membutuhkan nasihat, ternyata yang lebih butuh nasihat itu diriku sendiri. Saat aku kira orang lain butuh mendekat pada Allah dan bertaubat, nyatanya justru yang lebih membutuhkan bertaubat dan meminta ampunan itu diriku sendiri.

Bau busuk itu bukan dari orang lain. Tapi mirisnya, justru dari diriku sendiri. TT

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَ أَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Allahua'lam.

Wednesday, January 9, 2019

I Wish They Expect Nothing From People

January 09, 2019 0 Comments
Bismillah.


Semoga mereka tidak berharap banyak pada manusia, seperti aku yang juga berusaha tidak berharap banyak pada manusia. Karena melihat mereka kecewa, rasanya lebih menyakitkan daripada merasa kecewa sendiri. 

Inginnya, jika pun aku harus diuji dengan perasaan kecewa, biar aku saja sendiri. Tapi punya kuasa apa aku? Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa. Semoga Allah menjaga hati mereka. Hati orang-orang yang selalu mendoakan kebaikan untukku. Semoga tidak ada kekecewaan lagi yang mampir di hati mereka. Atau jikapun ada, semoga segera Allah hapuskan dan ganti dengan ketenangan. Aamiin. 

***

Januari, masih sering hujan di sini. Mari perbanyak doa (:

Tuesday, January 8, 2019

Digenggam dengan Iman

January 08, 2019 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Jika kehilangan digenggam dengan iman, maka hanya butuh sedikit waktu untuk menyembuhkan.
Jika kekecewaan digenggam dengan iman, maka akan datang penerimaan yang membuatmu bersyukur.
Jika cinta digenggam dengan iman, maka jangan heran kehadirannya akan menyejukan.
Allah masih yang pertama kan?
- dari blog Mba Genis
***

Cuma ingin menyalin di sini, untuk pengingat diri.

Ini juga, video, dari status whatsapp-nya Anna, aku minta file-nya, katanya dapat dari grup. Entah grup mana.

Ustadz Nouman Ali Khan mengingatkan bahwa setiap ujian akan menjadi baij jika kita jadikan momen itu untuk mendekat padaNya. Juga tentang doa meminta diberikan petunjuk (':


Tetap semangat berjuang! Every inch matter. Terus bergerak. Jika terasa sulit, mulailah dengan mengingat tiga, atau satu saja, hal yang kamu syukuri hari ini.

(:

Allahua'lam.

Sabotase Diri

January 08, 2019 0 Comments
Bismillah.

#nukilbuku #buku


Dan sesungguhnya kepada hamba-hamba-Ku, "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang baik (benar). Sungguh setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
(QS Al Isra', 17:53

Sabotase diri merupakan masalah besar bagi banyak orang. Orang menyusun rencana untuk membuat hidup mereka lebih baik, tetapi mereka tidak mampu mewujudkan rencana itu. Mereka mengambil sedikit langkah dan kemudian tak tahu mengapa tiba-tiba melakukan hal-hal yang justru menyabotase semua rencana mereka. Dalam psikologi, fenomena ini disebut "Diri yang Terbelah"  (divided self), yaitu orang yang berselisih pendapat dengan dirinya sendiri karena sebagian dirinya ingin sukses, sementara sebagian dirinya yang lain ingin gagal.  
Akar penyebab sabotase diri bisa ditemukan dalam kata-kata yang diucapkan oleh orang tersebut kepada dirinya sendiri. Orang terbiasa melemahkan diri mereka sendiri. Ada sebuah pemecahan semangat karena pada satu tingkat mereka memiliki pendapat bagus mengenai diri mereka. Namun, pada tingkat lain yang lebih dalam, mereka mempunyai pendapat jelek tentang kemampuan mereka yang terekspresikan dalam kata-kata yang mereka ucapkan.  
Seringkali, pernyataan-pernyataan mengkritik diri sendiri diucapkan secara tidak sadar. Kadang-kadang, kalimat semacam itu terucap ketika orang-orang lelah atau mengantuk. Kata-kata itu terpatri dalam pikiran mereka saat mereka masih kanak-kanak melalui kritikan yang mereka terima dari orang tua mereka atau dari orang lain. Kata-kata yang bernada buruk ini terukir jelas dalam pikiran mereka. Seseorang akan terus mengulang kata-kata itu secara otomatis, dan dengan cara seperti ini, kata-kata itu akan terus menyabotase dirinya sendiri.
Anda bisa mengobati kebiasaan menyabotase diri dengan menggunakan nasihat yang disebutkan di ayat ini. Ucapkan yang baik-baik tentang diri Anda sehingga Anda bisa meredam perselisihan pendapat dalam diri Anda. Atasilah setiap godaan untuk menciptakan kalimat-kalimat membatasi terhadap diri Anda. Ketika gejala mengkritik diri mulai merambah pikiran Anda, perhatikan dan gantilah kritik itu dengan kalimat-kalimat yang memperkuat diri sendiri.  
...  
Nasihat yang terkandung dalam ayat ini akan mengubah kehidupan siapa pun yang menerapkannya. Namun, dibutuhkan banyak upaya dan waktu yang lama untuk bisa memetik manfaat dari penerapan nasihat ini. Mengetahuinya atau memikirkannya saja tidak cukup. Cara kita bicara berakar begitu kuat dalam kepribadian kita. Anda harus memperhatikan cara Anda merasa dan cara Anda berbicara. Setiap hari, lawanlah kecenderungan untuk mengkritik diri Anda dan orang lain. Temukan kata-kata baru yang lebih baik untu menggambarkan diri Anda dan orang lain. Butuh waktu agar perubahan ini bisa terinsternalisasi. Namun, jika Anda terus tekun dan bersabar, Anda akan mampu mengatasi pola-pola yang berpotensi menyabotase hubungan Anda dengan diri Anda maupun hubungan Anda dengan orang lain. 
- Dr Sultan Abdulhameed, Mutiara Quran
***

Saat membaca buku ini, aku banyak dibuat menyernyitkan dahi karena pemikiran penulis sedikit berbeda dari pemahaman yang aku miliki. Tapi lepas dari kekurangan itu, buku ini banyak memberikan aku pengingat baik, dan perluasan persepsi. Jadi alhamdulillah tetap diteruskan baca dan selesai. 

Kutipan diatas merupakan salah satu hal yang ingin kunukil karena aku merasa pernah dan dan semoga tidak lagi melakukannya. Sabotase diri, yang menghalangi diriku untuk maju, sukses, bahagia bukan orang lain, bukan situasi, bukan kondisi, tapi murni diri sendiri. Divided self, sebagian diriku ingin aku berhasil, tapi sisi lain merasa bahwa aku tidak pantas mendapatkan itu. Membaca paragraf-paragraf diatas membuatku banyak menengok masa lalu, juga teringat sebuah tulisan fiksi di sini, yang sedikit banyak menggambarkan perasaan tidak pantas dan tidak berhak untuk meraih yang seharusnya bisa digenggam jika aku mau berusaha lebih keras. 

Ya, aku teringat jurang gelap, hari-hari berat, saat malam aku bersemangat dan membuat rencana-rencana indah supaya aku bisa bangkit dari kondisi terpuruk. Namun paginya, aku sendiri yang menggagalkan rencana tersebut, memilih melakukan hal lain yang bertolak belakang dengan rencana. Ibarat ingin ke timur, tapi justru melangkah ke barat. Kesulitan dan berjuang dengan kebencian pada diri sendiri karena hal tersebut. Merasa menjadi orang terjahat karena melukai banyak hati lembut orang-orang yang menginginkan kebaikan untuk diriku. 

Dan seperti yang disebutkan dikutipan tersebut. Jika kita tidak bergerak dan memulai mengatakan hal-hal baik pada diri kita, maka kita bisa terkurung dalam sabotase diri kita sendiri. Awal tidak pernah mudah. Sulit untuk berkata baik pada diri, yang kita tahu betul sisi gelapnya. Tapi karena memaksakan diri membuka dan membaca kalamNya, dan Allah berbicara dengan bahasa indah, bahkan pada hamba-Nya yang tenggelam dalam dosa... pelan-pelan jadi belajar. Belajar untuk mengusir kenegatifan dan menghadirkan kata-kata baik. Aku tidak tahu berapa lama, tapi pelan dan pasti aku bergerak keluar dari masa-masa kelam dan menyakitkan tersebut. Kalau bukan karena karuniaNya, kalau bukan karena rahmahNya, yang tercurah langsung maupun lewat orang-orang berhati baik..  Alhamdulillah. Alhamdulillah bini'matihi tatimusholihat. 

Maka untuk siapapun yang masih berjuang keluar dari dekapan kata-kata negatif, semoga Allah melindungimu, membantumu melangkah mendekat padaNya, dan mendatangkan orang-orang yang mengulurkan tangan saat kamu jatuh dan jatuh lagi. Jangan biarkan kalimat negatif duduk lama di otakmu, segera usir. Karena satu hal akan mengundang yang lain, seperti yang dituliskan, masih dari buku ini (Mutiara Quran, Dr Sultan Abdulhameed). 

Setiap pemikiran ibarat sebuah magnet. Ia menarik pemikiran-pemikiran lain yang serupa. Dan ketika dua pemikiran serupa tergabung dalam pikiran Anda, maka mereka akan berfungsi seolah magnet yang jauh lebih besar. Mereka akan menarik lebih banyak pemikiran serupa, serta menarik orang-orang yang memiliki pikiran serupa. Jika Anda tidak memutus proses ini secara sengaja, maka gugusan pemikiran itu akan membesar dalam pikiran Anda seperti sebuah bola salju, dan pada gilirannya nanti, pikiran Anda akan diselimuti oleh jenis pemikiran semacam itu yang kemudian mengkristal menjadi sebuah keyakinan. Proses inilah yang oleh para guru spiritual modern disebut dengan law of attraction.
- Dr Sultan Abdulhameed
Perjuangannya tidak mudah, tapi kamu bisa.. dan pasti bisa keluar dari sabotase diri.


Belajarlah mengenal Allah (lagi). Baca Al Qur'an, baca juga buku atau tulisan-tulisan berisi kalimat dan kata-kata baik. Tetaplah berada diantara orang-orang berhati baik, meski setiap berada di dekat mereka kamu merasa tak pantas. Ubah sikap mentalmu pada Allah, terus berjuang, meski harus berkali jatuh dan dihujani air mata. Karena setiap langkah, Allah akan balas dengan hal-hal yang lebih baik. Jauh lebih baik dari yang kamu kira. In syaa Allah.

Barakallahu fiik.

Dah... 👋

Allahua'lam.

Friday, January 4, 2019

Buku yang Bikin Galau

January 04, 2019 0 Comments
Bismillah.
#buku

Begitu label yang diberikan pada buku "Hujan Matahari" oleh kakakku, yang saat itu melihatku memegang buku bersampul coklat tersebut. Aku hanya tersenyum. Diam yang berarti setuju.

Sejujurnya, aku tidak pernah berminat membaca buku ini. Membaca di tumblr saja sudah merasa cukup. Tapi buku ini seperti menarikku untuk membacanya, padahal secara fisik, sudah jauh dari baik-baik saja. Sampulnya lepas, bentuknya sudah berubah, karena pernah menjadi korban air hujan yang masuk karena genteng yang bocor beberapa tahun yang lalu. Awalnya iseng, lama-lama ga bisa berhenti baca hehe.

Apa buku "Hujan Matahari" bikin galau? Aku jawab, bisa jadi hehe. Tergantung kondisi hati pembaca. Kalau yang sedang galau, baca buku ini, bisa makin galau. Kalau yang hampir galau, baca buku ini, bisa jadi beneran galau. Tapi bisa jadi bacanya biasa saja. Meski memang jadi ikutan ingin menulis atau cerita tentang hal-hal setema yang sering dibahas di buku ini. 

Seperti saat aku membaca salah satu tulisan, tentang rasa yang hadir tanpa alasan. Membuatku ingin reaktif menulis, bagaimana pandanganku tentang love at the first sight, dan bagaimana buku ini sedikit mengingatkanku, bahwa aku tidak boleh terburu-buru menghakimi yang mengaku jatuh hati dalam waktu yang singkat. Ya, aku tidak boleh asal menuduh. Apalagi aku sendiri paham, bahwa hati memang begitu, mudah dibolak-balik. Belum lagi hadits tentang ruh yang saling mengenal. 

Buku ini sebenarnya juga tidak selalu berisi akan hal-hal membuat galau. Banyak juga yang bicara tentang hal lain, cuma kalau kita fokus pada yang yang galau-galau, yang ini jadi tidak terlihat. Seperti nukil buku yang pernah kutulis di sini, tentang "ikut campur". Atau tulisan tentang menerima dan menjalani takdir sebagai seorang adam atau hawa, yang diciptakan berbeda, dan memiliki tugas yang sesuai dengan keunikannya. 

Yang membuat buku ini nyaman dan 'mudah' dibaca adalah kemampuan penulisnya menceritakan hikmah dalam sepenggal kisah atau prosa. Story tellingnya begitu kuat, sehingga kita bisa membayangkan setting (tempat, situasi, waktu) dari cerita. Aku juga selalu suka, membaca kominikasi antara anak dan orangtua yang sering dituliskan di buku ini. Di zaman sekarang saat anak lebih akrab berbicara dengan layar, manis rasanya membaca kisah, bahwa ada anak-anak yang akrab dan bisa berkomunikasi dengan ibu atau ayahnya.

Apalagi ya..?

Membaca buku ini, membuatku ingin membaca buku selanjutnya dari Kang Gun, sapaan akrab Kurniawan Gunadi. Juga membuatku jadi ingin segera menerbitkan buku berisi kumpulan tulisanku.

Sekian. Allahua'lam. Bye5! 

Resolusi Menulis

January 04, 2019 0 Comments
Bismillah.


Apa resolusi menulismu? Ada yang punya target satu bulan satu buku, ada yang punya target nyelesain 3 naskah, dan terbit satu buku mayor/indie. Ada yang punya target ikutan 30haribercerita januari ini. Ada juga yang punya target menulis satu pekan sekali, ikutan sabtulis (@sabtulis).

Apapun targetnya, pastikan niatnya lurus. Jangan cuma cari pujian atau hal-hal duniawi. Niatkan, supaya tulisanmu, yang meski sederhana, bisa menjadi tabungan amal baik. Niatkan agar bermanfaat untuk diri, dan juga orang lain. Niatkan untuk mengajak diri dan orang lain mendekat padaNya. Lalu buat pengingat, semoga resolusi bukan sekedar rencana, tapi benar-benar dilaksanakan.

Untuk siapapun. Semangat menulis~

***

PS: Yang mau ikutan sabtulis, nulis satu tulisan setiap hari sabtu, silahkan mulai menulis, publish di blog masing-masing, lalu kirimkan link-nya ke bit.ly/kumpulsabtulis. Yang ragu buat ikutan karena malu share link blog, coba dulu aja. Aku dulu ragu, pas udah ikut sabtulis, ternyata keraguannya hilang. Apalagi setelah tahu, kalau yang bener-bener baca dari sabtulis bisa  dihitung jari. *dilihat dari sumber kunjungan, cm sedikit yang asalnya dari campsite-nya sabtulis. 

Thursday, January 3, 2019

Bergumam Sendiri

January 03, 2019 0 Comments
Bismillah.

mirror, reflection, self talk (from unsplash) 

Suatu hari aku bergumam sendiri, "Begini kah rasanya, sudah bersuara namun seolah tidak pernah terdengar kata-katanya?"

Atau di sebuah siang, masih berbicara sendiri, "Bukan egois. Tapi ia aneh, ia memintaku bersuara, maka aku bercerita. Namun tiba-tiba ia bicara tentang ingin egois dan tidak membantu. Aku jadi bungkam, padahal aku bercerita bukan dalam rangka meminta bantuan".

Atau saat ini, "Berapa banyak waktu yang ia perlukan? Dan berapa lama aku bisa bertahan dan tidak banyak berharap? Sementara kulihat ia jauh jauh di sana, maka apa aku boleh pergi saja? Menyerah pada diri yang tidak bisa bersabar?"

Semuanya percakapan dengan diri, sebagian kubiarkan melintas saja diotak, sebagian kusuarakan dalam gumam kecil, sebagian lagi, menjelma menjadi kumpulan kata, penghias magicofrain (blog sebelah hehe). 

Ketiga-tiganya berbeda, tidak terkait. Tapi sebenarnya kalau aku mau jujur, ada kesamaannya. Bahwa itu semua hanya prasangkaku, sensiMe. Kejadian seperti ini hal biada bagiku, aku yang sering bicara sendiri, berprasangka sendiri, sensi sendiri. Tapi hal biasa itu, tidak akan kubiarkan menetap lama. Aku tidak mau tenggelam dalam arus overthinking yang membuat dada sesak. Maka setelah ucapan-ucapan itu, aku menjawab lagi, masih pada diri sendiri. 

"Ia hanya tidak membacanya. Maka ia bertanya lagi, tanpa sadar bahwa aku pernah menyuarakan tentang itu. Aku bisa bersuara lagi, atau bisa juga memilih diam. Tapi tak perlu marah apalagi sensi. Ia hanya tidak mendengarnya. Itu saja. Seperti kamu, yang sering tidak membaca dan tidak mendengar. Bukan karena menutup telinga atau menutup mata. Qadarullah saja tidak mendengarmu, atau membaca tulisanmu. Itu saja."

Juga, "Kau tahu betapa satu kalimat bisa diartikan berbeda. Meski kalimatnya netral. Kau juga tahu, betapa kau sering salah menerka hanya karena terbawa sensi. Padahal kalimat itu tentang ia dan harinya, tidak ada satupun tentangmu. Jadi jangan sensi. Adapun tentang cerita dan bantuan, kalau mau jujur, sebenarnya kau saja yang sensitif tentang dua hal itu. Jadi? Jangan berprasangka. Lain kali lebih baik tidak baca. Karena saat kamu tidak netral, membaca kalimat ambigu bisa membuatmu sensi. Itu kau lebih paham."

Lalu, "Jika kau benar-benar menginginkan kebaikan untuknya, maka teruslah berdoa dan membantu semampumu. Adapun ia membaik atau memburuk,... kamu ingin ia membaik, tapi kecepatanmu dan dia berbeda. Jika memang kamu peduli, berusahalah bersabar. Semoga jika bukan lewat tanganmu, Allah kirimkan tangan lain untuknya, agar ia bisa segera bangkit dan membaik. Aamiin."

***

Terakhir, tulisan ini adalah tentang aku, dan percakapanku dengan diri. Juga tentang tiga hal yang mengawali percakapan tersebut. Agak abstrak dan ambigu, mungkin sulit mengambil yang baik dari sini. Intinya sebenarnya satu, saat prasangka hinggap, dan sensiMe menyerang, jangan terburu-buru menyerah. Ucapkanlah jawaban yang mengusir prasangka dan meredakan sensi yang terlanjur naik. 

Allahua'lam.