Bismillah.
#fiksi
"Lagi ngapain?" ucapnya sembari membenturkan lengan kanannya lembut.
"Lagi nata pikiran," jawabku. Mau bilang lagi bengong aja, terdengar jauh dari image cool-ku.
"tentang apa?" tanyanya kepo.
"Igeo jeogeo" kujawab dengan senyum sok misterius. Kutanya balik ia, tumben dia tidak sedang lagi jadi story teller di antara rekan kerja kami. Outing company kami sedang sesi bebas, dia yang suka bercerita biasanya selalu berada diantara rekan kerja lain, menceritakan banyak hal, seperti tidak pernah kehabisan cerita. Sedangkan aku, seperti biasa memilih untuk jalan sendiri dan menjauh dari keramaian. Rekan kerja yang lain sudah hafal, kalau introver sepertiku butuh waktu sendiri setelah tiga jam lalu energinya terkuras di team workshop. Apalagi ini sesi free time. Setiap orang bebas mengeksplor tempat kami outing.
"Di sini, kayanya bagus buat foto, foto bareng yuk.." ajaknya. Aku melunak dan menemaninya foto maupun menjadi fotografer untuknya.
"Tadi pagi kamu mimpi ya?" tanyanya sembari melihat-lihat foto yang kuambil tadi. Aku berpikir agak lama untuk menjawabnya, ragu untuk jujur atau memilih menjaga jarak dan meninggikan dinding. Tapi di sisi lain, aku jujur kaget dan penasaran kok dia bisa tahu? Seolah mendengar pertanyaanku, ia melanjutkan kalimatnya.
"Tadi pagi pas aku ragu mau bangunin shubuh apa gak, aku liat dahimu berkerut seolah sedang mikir dalam tidur, makanya aku pikir kamu sedang mimpi. Bener gak?"
Aku mengangguk pelan. "Apa aku ngigo juga?" tanyaku, jujur agak takut, kalau jawabannya iya. Ia dengan cepat menjawab tidak akan ketakutanku. Kemudian ia lanjut berbicara panjang lebar tentang mimpi dan alam bawah sadar, tentang REM dan gelombang tetha. Sesekali matanya mencari mataku, mencoba menjalin komunikasi lewat eye contact, tapi lebih banyak, ia bercerita sembari melemparkan pandangannya ke langit dan pemandangan hamparan hijau di sebelah barat. Kakinya berjalan pelan menjauh, menyusuri jalan, saat dilihatnya ada beberapa orang rekan kantor yang berjalan menuju tempat kami berdiri.
Ia bercerita banyak, tentang mimpi, bunga tidur, jenis-jenis mimpi, pun cerita pribadinya terkait mimpi. Ia seolah tidak kehabisan bahan berbicara. Seolah sebelum mengajakku bicara tentang ini, ia sudah terlebih dahulu riset. Lalu di akhir ceritanya, ia bertanya padaku tentang apa yang memenuhi pikiranku, sampai-sampai masuk ke dalam mimpi. Barangkali dengan bercerita, aku bisa merasa sedikit lebih lega.
Aku tersenyum, lalu entah mengapa, dengan ringan aku bercerita padanya beberapa hal yang memenuhi pikiranku, rasa sedih di masa lalu, kekhawatiran akan masa depan, dan perasan bersalah karena belum bisa memanfaatkan dengan baik masa kini. Aku kira dia hanya lihai story telling, itu yang membuat ia selalu menjadi pusat pembicara tiap kutemukan lingkaran obrolan dengan rekan-rekan kerja. Ternyata ia juga seorang pendengar yang baik. Ia menyimak dan tak terburu-buru memberi respon, ia tahu kapan harus menunjukkan padaku bahwa ia tertarik untuk mendengarkanku lewat sinar antusias di matanya, tapi juga tahu kapan ia harus melayangkan pandangan ke luar untuk memberiku jarak nyaman bahwa aku aman untuk terbuka dengannya.
"Tadi pagi, mimpinya tentang apa? Boleh tahu? Penasaran, kok bisa seseorang berpikir keras dalam tidurnya..", tanyanya.
Belum sempat aku menjawab, panggilan untuk berkumpul tanda free time sudah habis membuat kami bergegas menuju ruangan acara selanjutnya.
"Lanjut nanti malam ya, di kamar," ucapnya. Aku mengangguk pelan dan tersenyum. Di otakku penjelasannya tentang REM dan gelombang theta masih terngiang, pun bayangan memori mimpi-mimpi yang beberapa hari ini hampir selalu menemaniku setiap sebelum bangun tidur. Aku bertanya-tanya, yang mana yang akan aku ceritakan padanya, benarkah aman untuk menceritakannya, atau mungkin lebih baik aku memikirkan topik obrolan lain untuk mengalihkannya dari membahas tentang bunga tidurku. 'Yang manapun pilihanku, itu urusan nanti. Mari fokus ke agenda saat ini', ucapku pada diriku, saat seorang pembicara workshop teamwork membuka presentasinya.
The End.


No comments:
Post a Comment
ditunggu komentarnya