Follow Me

Monday, January 12, 2026

Invisible Blade Inside Our Mind

Bismillah.

 

#fiksi 

 

"Ah, hpku tertinggal," ucap O menepuk punggung Tama yang sedang mengendarai motor. Yang ditepuk bukannya berbalik arah, ia justru menjawab rasa enggannya dan menyalahkan O. Ia sudah agak terlambat dari janji, udah syukur dia aku tebengin.

 

"Hapeku ketinggalan karena tadi nyari uang receh buat parkir, lagian ini kan belum jauh," ucap O protes, berharap Tama masih mau berbalik arah. Tapi sebagai penumpang, hanya itu yang bisa ia lakukan. Gak mungkin juga ia minta diturunkan. Lebih baik tanpa hp. O menelan rasa kesalnya, ia memilih diam dan mencoba berdamai dengan diri.


"Tapi nanti pulangnya bisa bareng kan?" tanyan O dengan suara lebih lemah.

 

"Ya. Sejalan inih. Tunggu aja di luar. Biasa kan jam 4," jawab Tama melembut, lalu kembali mempercepat laju motornya.

 

***


Sepertinya sudah pukul 4 lebih saat O keluar gerbang. Sore itu berawan tidak cerah tapi bukan mendung gelap seperti mau hujan. Q melihat ke arah parkiran motor yang hanya dua baris, tidak ada motor Tama di situ. O memilih duduk tak jauh dari gerbang, duduk di pembatas tanaman hiasan, kau tau ada sekitar 10 cm yang biasanya dicat berwarna hitam putih. O terbiasa menunggu, untuk orang tidak punya kendaraan sendiri untuk mobilisasi menunggu adalah hal biasa. Entah itu menunggu ojek, bis, KRL bahkan angkot. Tapi tentu beda rasanya menunggu teman dan menunggu angkutan umum. Terlebih ada prasangka dan emosi negatif yang berputar-putar di kepalanya. O masih kesal karena Tama memilih tidak berbalik arah saat tahu hp O tertinggal. Prasangka buruk O mengajaknya bertanya-tanya, apa Tama tadi sudah datang lebih awal, lalu memilih pergi karena O tidak muncul? Atau Tama barangkali lupa akan janjinya, lalu membiarkannya terlantar sendiri di sini, tanpa alat komunikasi apa pun?

 

Prasangka buruk itu ibarat pisau tersembunyi dalam pikiran, jika kita tidak berhati-hati kita akan terus terluka, padahal tidak ada yang melukai. Tak tampak, tapi cukup untuk mengacaukan pola pikir dan perasaan. Belum lagi jika kamu memiliki luka lama, innerchild, atau unfinished bussiness terkait satu dua kejadian yang "mirip", ibarat bomnya sudah ada di kepala, maka pikiran buruk tersebut adalah api kecilnya. Dan bom!

 

Mata O tiba-tiba memanas, kilasan emosi lama dan ingatannya saat dulu sakit dan harus menunggu jemputan, naik turun tangga sebuah bangunan, kemudian diakhiri dengan makian, hanya karena ia mengajak penjemput memenuhi panggilan solat yang berkumandang saat si penjemput baru tiba. Mata O memerah, suasana di luar gerbang memang sepi, di belakang terdengar sayup-sayup obrolan satpam dan tukang parkir, di depan, lalu lintas kendaraan berlalu, tapi yang ditunggu tak kunjung terlihat hidungnya.

 

'Gawat!' batin O, ia segera membuka tas ransel hitamnya, mencari-cari buku catatan dan kertas. Menulis selalu mampu membuatnya mengurai dan meredakan emosi yang kadang tanpa aba-aba melaju naik begitu kencang. Satu dua kalimat. Tapi bukannya meredakan, tapi justru memberi jalan agar emosi negatif dari prasangka dan perasaan yang acak adut tersalur dalam bulir air. Dan tik, satu jatuh ke kertas yang sedang ia coreti, syukurnya tidak mengalir dan meninggalkan jejak. Mungkin karena posisi kepalanya yang menunduk.

 

Segera O menutup buku, lalu kembali sibuk mencari distraksi lain dari ranselnya, kali ini camilan. Ia memang sengaja membawanya, karena setiap selesai berenang, biasanya ia lapar. Cemilan tersebut memang belum disentuh sama sekali, karena setelah bilas tadi ia buru-buru berlari ke gerbang, kaget saat melihat jarum jam panjang sudah melebihi angka 12. Rasa manis biskuit coklat dan gerakan geraham melembutkan biskuit tersebut, sedikit meredakan pikiran dan hatinya, tapi untuk lebih amannya lagi, sengaja ia melepaskan pandangannya ke langit, mencari-cari barangkali ada burung nyasar yang terbang di sore kotanya yang sudah tidak sehijau dulu. Ah, ada satu, melintas cepat, entah spesies apa. Pikirannya teringat sore di kampungnya, saat ada begitu banyak jenis burung yang sering ia lihat. Saat sibuk nostalgia itu, suara klakson motor lembut membuat ia tahu, masa menunggunya sudah selesai.

 

"Tumben lama, ngobrol dulu?" tanya O pada Tama, sembari memberi tanda lewat tangan kanannya agar Tama menunggu O berkemas, memasukkan cemilan ke tas ransel, mengambil tas kresek hitam berisi baju alat mandi dan handuk basah. Dalam hati O sudah menyiapkan jawaban, kalau saja Tama menyadari matanya lebih merah dari biasa, ah, ini tadi kena shampoo. Tapi pertanyaan itu hadir seperti yang ditakutkan O.

 

Tama menunggu O sembari bercerita bahwa tadi ia keasikan hunting dan mencari beri liar di kebun tempat pertemuan pekanannya. Saat O mendekat, ia segera menyerahkan helm, dan sebagai gantinya ia ambil kresek hitam isi pakaian basah.

 

"Kirain lupa kalau aku nebeng pulang bareng," O melepaskan kekhawatirannya lewat kalimat sederhana.

 

"Nggak mungkin lah," tanpa jeda panjang, timpalan Tama cukup membuat O tersenyum. Hilang sudah tadi prasangka buruk yang menutupi pikiran rasionalnya. Sepanjang perjalanan tidak banyak obrolan memang. Tama memilih fokus ke jalan, berkendara lebih cepat, berharap menghindari lampu merah. Dan O sibuk berbincang pada diri dan menyimpulkan ternyata ia, meski sering dan terbiasa menunggu, masih saja bisa kalah oleh pisau tersembunyi dalam kepalanya.

 

 The End.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya