Follow Me

Showing posts with label cerbung. Show all posts
Showing posts with label cerbung. Show all posts

Thursday, November 17, 2016

Sebagai Ujian Satu Sama Lain (3)

November 17, 2016 0 Comments
#fiksi #cerpen

Bismillah.

Sebelumnya mohon maaf, sempat lupa ada fiksi yang masih bersambung hehe. Biar nyambung boleh baca dari awal di sini: Sebagai Ujian Satu Sama Lain, Sebagai Ujian Satu Sama Lain (2).

***

Aster dan Zeze sudah berada di atas tempat tidur masing-masing. Mencoba mencerna obrolan yang berlangsung kurang lebih tiga jam. Masing-masing berusaha menutup matanya, karena sudah pukul 22.00. Tapi ada gemuruh di dada masing-masing. Aster, yang tidak bisa tidur, karena dia akhirnya memilih menyembunyikan semuanya. Aster, tidak jadi bercerita pada Zeze, sahabatnya, tentang perjalanannya membaca buku-buku pengenalan Islam, tulisan-tulisan di internet, juga beberapa video.

Zeze, merasa tidak tenang, karena sebenarnya ia tidak menceritakan semuanya pada Aster. Zeze cuma cerita tentang kemungkinan pertemuannya dengan Abqari sebagai ujian. Ujian yang membuat hati Zeze gelisah, entahlah Abqari bagaimana. Tapi Zeze khawatir, kejadian berpapasan tadi sore, yang terjadi bukan hanya pandangan pertama, namun ada pandangan kedua. Zeze merasa bersalah, mengapa harus berpapasan dengan Abqari dalam kondisi tersenyum lebar, mengobrol dengan kawannya. Padahal Zeze pernah mendengar sebuah ceramah, bahwa sekedar senyum seorang akhawat bisa mengobrak-abrik hijab yang dibangun tingi-tingi oleh seorang laki-laki.

Zeze beranjak dari tempat duduknya... ada yang salah di hatinya. Ada yang harus ia tuliskan tentang pertemuannya sore tadi, bahwa bisa jadi, itu bukan hanya ujian, tapi ada hal lain. Zeze meraih hp-nya, membuka aplikasi blog, kemudian mengetik beberapa bait, mempublishnya. Kemudian berbaring lagi, mengulang beberapa hafalan quran, supaya ia tidak terpikir lagi kejadian sore itu.

Thursday, November 10, 2016

Sebagai Ujian Satu Sama Lain (2)

November 10, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah. 

Baca bagian pertamanya di Sebagai Ujian Satu Sama Lain

***
"Pernah ga kamu buat benteng tinggi-tinggi, terus... Hanya karena sebuah angin sepoi, benteng tersebut luluh lantak?" tanya Zeze.

Aster yang sebenarnya tidak terlalu suka kiasan, ekspresinya beku. Dalam hati ia berbisi, 'jangan banyak pakai kiasan Ze.'

"Pernah ga?" tanya Zeze. Aster menggeleng. Zeze tersenyum melihat ekspresi Aster. Zeze sebenarnya bukan tipe guru yang bagus, ia suka muter kesana sini untuk menjelaskan satu hal. Tapi Aster katanya siap menyimak penjelasan panjangnya.

"Sorry, sorry. Yang tadi lupain aja. Jadi gini, kalau di Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah di Bumi. Dan selama di hidupnya manusia akan bertemu banyak ujian. Kalo konsep yang ini paham kan?" tanya Zeze

Aster mengangguk. Meski ia tidak menganut agama Islam seperti sahabatnya Zeze, ia cukup tahu banyak konsep-konsep pemikiran Islam. Termasuk tentang khalifah, dan ujian.

"Yang kamu pernah sebutin dari Quran, Tuhan menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia?" jawab Aster balik dengan tanya.

Zeze mengangguk, senyumnya mekar. Dalam hati Zeze mengakui, Aster memang gadis yang pintar, dan sangat kuat ingatannya. Ayat yang disebutkan maknanya itu, ada di surat Al Mulk, surat yang dihafal Zeze sebagai syarat jadi pengurus suatu unit dakwah. 'Ya Allah, semoga dari sekian banyak obrolanku dengan Aster, bisa menjadi jalan hidayah dari-Mu, aamiin'.

Monday, October 10, 2016

Tanya di Ujung Jarak (3) - End

October 10, 2016 0 Comments
#fiksi #cerpen

Bismillah.

Tali penghubung meski Jingga dan Nila masih berjarak; Tanya di Ujung Jarak Bagian Terakhir


Biar nyambung baca dari awal ya:
- Tanya di Ujung Jarak
- Tanya di Ujung Jarak (2)

***

Jingga memandangi thread yang sama di aplikasi messaging hpnya. Sudah hampir satu jam, tapi balasan dari Nila belum juga datang. Sejujurnya Jingga paling tidak suka kebiasaan buruk Nila yang satu ini, Nila selalu susah dihubungin, respon yang lama, bahkan sering kali tanpa respon. Seberkas pikiran buruk melintas di kepala Jingga, 'apakah percakapan kami akan berhenti di sini?', seperti empat tahun yang lalu?

Flashback. Sudah jam 10 malam tapi karena satu dua hal Jingga baru hendak pulang ke rumah. Jingga masih mengenakan baju putih-abu-abunya, ia mengirim sms ke Nila, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah mereka. Jingga meminta izin pada Nila kalau boleh menginap satu malam saja, besok pagi, ahad jam 9 baru pulang. Nila membalas katanya bisa, lalu Jingga bertanya alamat rumah Nila, bukan tidak tahu, hanya ingin memastikan. Tapi lima belas menit berlalu tanpa jawaban, membuat Jingga akhirnya memilih menelpon taksi dan membayar harga mahal untuk perjalanan satu jam ke rumahnya.

Ya, itulah titik saat Jingga dan Nila mulai memperlebar jarak diantara mereka. Mereka meski masih duduk sebelahan, tidak pernah lagi mengobrol, seperti kedua orang asing. Saat itu Jingga jujur marah pada Nila, berharap Nila mau memulai dulu menjelaskan padanya, tapi hingga mereka terpisah pulau karena Jingga kuliah di Ibukota, penjelasan itu tidak pernah datang. Dan saat ini Jingga gelisah menunggu jawaban Nila, ia menghela nafas, kemudian menutup thread dan aplikasinya, menutup mata berusaha tidur.

Friday, October 7, 2016

Tanya di Ujung Jarak (2)

October 07, 2016 0 Comments
#fiksi #cerpen

Bismillah.

Baca Tanya di Ujung Jarak yang pertama di sini.

***

Nila mencerna lagi pertanyaan Jingga tentang keadilan Tuhan. Nila pernah mendengar penjelasan jawaban pertanyaan itu, tapi contoh kasusnya berbeda. Contoh kasusnya tentang dua penjahat, yang satu membunuh satu orang, yang lain membunuh satu juta orang. Kasus penjahat itu selesai dengan jawaban keadilan di akhirat. Tapi tentang perempuan yang dilahirkan cantik, dan perempuan yang dilahirkan biasa saja atau justru buruk muka, Nila sendiri belum pernah mendengar jawabannya.

Jingga, Nila, dan pertanyaan di ujung jarak

N: Manusia lahir dalam bentuk yang berbeda-beda, bahkan ga ada manusia dengan sidik jari yang sama. Lalu ada yang cantik ada yang ga, dimana letak adilnya? Lalu ada yang bisa melihat ada yang buta, dimana letak adilnya?

N: Kalau kita hanya melihat apa yang ada di dunia. Memang keadilan ga ada.Tapi hebatnya apa-apa yang tidak adil di mata manusia di sini akan dilunasi keadilan di hari akhir nanti. Gini, kenapa di dunia ga ada keadilan. Ada orang A membunuh 1 orang, hukumannya apa? Penjara seumur hidup? Atau hukum mati? Ada orang B membunuh 1 juta orang, hukumannya apa? Penjara seumur hidup? Atau hukum mati? Gimana bisa membunuh 1 orang hukumannya sama dengan membunuh 1 juta orang. Apa itu adil?

Tuesday, October 4, 2016

Tanya di Ujung Jarak

October 04, 2016 0 Comments
#fiksi #cerpen

Bismillah.
Dua orang perempuan yang sama-sama sedang jauh dari Allah, dipertemukan lewat sebuah tanya di grup media sosial. Sebut saja nama mereka Jingga dan Nila.

"I'm hopeless now. Mau ga kamu jelasin ke aku, biar ga ada pertanyaan yang menggantung lagi. Biar aku yakin lagi dengan agama aku."

Membaca tulisan Jingga tadi, mata Nila memanas. Jujur kaget, teman baik yang sudah lama tidak bertemu itu mempertanyakan tentang eksistensi tuhan dan kebenaran Islam. Sejauh yang Nila ingat, Jingga lahir dan dibesarkan dalam kondisi yang baik, sehingga Jingga memiliki pengetahuan agama yang jauh lebih banyak daripada Nila. Hatinya bergetar ingin membantu, namun sebagian dirinya ragu. Berbeda dengan Jingga, Nila sebenarnya yakin tentang eksistensi Tuhan, yakin bahwa Islam adalah agama fitrah. Namun dalam kesehariannya, Nila mendustai kenyataan itu. Nila memilih mengabaikan perintah-Nya dan tersiksa atas dosa-dosa yang ia buat sendiri.

"Kenapa emang, Jingga? Lewat sosmed gapapa diskusinya? Jujur aku juga lagi jauh dari Allah. Tapi semoga dengan ngobrol bareng jadi bisa naikin lagi iman kita."