Sebagai Ujian Satu Sama Lain (3)
Isabella Kirei
November 17, 2016
0 Comments
#fiksi #cerpen
Bismillah.
Sebelumnya mohon maaf, sempat lupa ada fiksi yang masih bersambung hehe. Biar nyambung boleh baca dari awal di sini: Sebagai Ujian Satu Sama Lain, Sebagai Ujian Satu Sama Lain (2).
***
Bismillah.
Sebelumnya mohon maaf, sempat lupa ada fiksi yang masih bersambung hehe. Biar nyambung boleh baca dari awal di sini: Sebagai Ujian Satu Sama Lain, Sebagai Ujian Satu Sama Lain (2).
***
Aster dan Zeze sudah berada di atas tempat tidur masing-masing. Mencoba mencerna obrolan yang berlangsung kurang lebih tiga jam. Masing-masing berusaha menutup matanya, karena sudah pukul 22.00. Tapi ada gemuruh di dada masing-masing. Aster, yang tidak bisa tidur, karena dia akhirnya memilih menyembunyikan semuanya. Aster, tidak jadi bercerita pada Zeze, sahabatnya, tentang perjalanannya membaca buku-buku pengenalan Islam, tulisan-tulisan di internet, juga beberapa video.
Zeze, merasa tidak tenang, karena sebenarnya ia tidak menceritakan semuanya pada Aster. Zeze cuma cerita tentang kemungkinan pertemuannya dengan Abqari sebagai ujian. Ujian yang membuat hati Zeze gelisah, entahlah Abqari bagaimana. Tapi Zeze khawatir, kejadian berpapasan tadi sore, yang terjadi bukan hanya pandangan pertama, namun ada pandangan kedua. Zeze merasa bersalah, mengapa harus berpapasan dengan Abqari dalam kondisi tersenyum lebar, mengobrol dengan kawannya. Padahal Zeze pernah mendengar sebuah ceramah, bahwa sekedar senyum seorang akhawat bisa mengobrak-abrik hijab yang dibangun tingi-tingi oleh seorang laki-laki.
Zeze beranjak dari tempat duduknya... ada yang salah di hatinya. Ada yang harus ia tuliskan tentang pertemuannya sore tadi, bahwa bisa jadi, itu bukan hanya ujian, tapi ada hal lain. Zeze meraih hp-nya, membuka aplikasi blog, kemudian mengetik beberapa bait, mempublishnya. Kemudian berbaring lagi, mengulang beberapa hafalan quran, supaya ia tidak terpikir lagi kejadian sore itu.


