dedaunan mengering,
berguguran tertiup angin sepoi..
tak kencang,
autumn memang tak seindah summer
namun menoreh cerita di hati
ranting-ranting yang ditinggal dedaunan,
dinginnya angin yang berhembus,
serta lalu lalang manusia yang sama..
tak berbeda, masih sibuk dengan dunianya sendiri
seegois air yang selalu mengalir dari hulu ke hilir..
dari mata ke pipi..
kemudian kemarau di bibir.
Tenang, autumn kan berlalu..
Meninggalkan hari bersemi,
Mekar bunga dan kesal sayap kupu,
Hijau rumput dan belukar semak,
Kan menghias hati temani kelam,
Seindah warna-warni pelangi..
Tujuh asa tertanam,
Melukis senyum di bibir..
Seolah semua mimpi kan terwujud,
Semua tawa kan terdengar,
Riang mengalahkan kicau burung,
Walau lalu lalang mereka masih sama
Masih seegois aku..
Tak mau ambil peduli,
Akan terus berlari walau lumpuh bersarang di kaki
Akan terus melompat gapai bintang di langit,
Walau aku tau, langit berlapis tujuh..
Karena akupun..miliki tujuh asa terindah.
Reflecting 2025: A Season of Growth and Self-Discovery [ Part 2 ]
-
“Sometimes the end of the year asks us to pause and look back—not at what
we achieved, but at who held us through it. The quiet anchors, the
unexpected ble...
2 weeks ago


No comments:
Post a Comment
ditunggu komentarnya