Follow Me

Friday, March 27, 2026

Eid Mubarak 1447H

March 27, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Happy Eid Mubarak everyone~

 

 

Lebaran kali ini terasa lebih sibuk. Jadi maaf baru bisa menyapa. Maaf juga menjelang lebaran justru posting tulisan #fiksiku yang agak-agak dark, gak dark juga sih, cuma muatannya negatif. But that's just the strong unspoken things that push me to write. Sebelum itu, aku udah nulis juga di akhir Ramadhan, tapi di blog anonim hehe.

 

Anyway. Eid mubarak! Taqabalallahu minna wa minkum. Semoga mudik atau di rantau, sendiri atau bersama keluarga, hari-hari Syawal-mu dipenuhi dengan senyum. Juga, semoga tidak mengalami Ramadhan blues. Jatuh terpuruk setelah di bulan Ramadhan berhasil menaikkan kuantitas dan kualitas ibadahmu. Btw aku juga baru tahu ada istilah Ramadhan blues karena ngikutin channel WhatsApp yang isinya resume dari kajian ustadz-ustadz dari luar negri. It's a good channel you should follow it!

 

Here's the links:

https://whatsapp.com/channel/0029VaixR2c0AgW9ATtOZT1w (resume ustadz Nouman Ali Khan)

https://whatsapp.com/channel/0029VbAWjVOCBtx8MmEcwW35 (resume ustadz Omar Suleiman) 

 

Oh, tentang Ramadhan blues, setelah aku cek wa, ternyata resume kajiannya Ustadz Yasir Qadhi, kajian 3 tahun lalu. Aku belum dengerin ceramah aslinya, baru baca sedikit poin-poin resumenya. Tapi membaca sedikit itu saja, udah membuatku merasakan manfaatnya dan ingin membagikannya ke orang lain. Rasanya pengen copas aja, I know it's more useful than writing other stuff here. Should I? Izin ya Kak... (Resume ini dibuat dan di share sama salah satu anggota grup whatsapp NAKID).

 

***

Kegalauan Pasca Ramadan | Shaykh Dr. Yasir Qadhi [1]


https://youtu.be/JqzOqZBU9LA



1️⃣ Video ini membahas fenomena jujur yang disebut "Post-Ramadan Blues" atau perasaan sedih pasca-Ramadan.
2️⃣ Shaykh Yasir Qadhi memulai ceramah dengan suasana santai di Texas, menyapa jemaah yang itikaf.
3️⃣ Beliau mengakui bahwa selama Ramadan, iman seseorang biasanya berada di titik tertinggi dalam setahun.
4️⃣ Banyak orang menghabiskan dua hingga empat jam sehari di masjid selama sepuluh malam terakhir.
5️⃣ Ada perasaan sedih yang muncul bahkan sebelum Ramadan benar-benar berakhir karena kita tahu ini akan segera pergi.

6️⃣ Beliau mengingatkan bahwa seminggu setelah Ramadan, kondisi spiritual kita tidak akan sama lagi.
7️⃣ Fenomena menarik: saat Idul Fitri, kita sering lupa waktu Maghrib karena tidak lagi menghitung mundur untuk berbuka.
8️⃣ Setelah Ramadan, level ibadah dan iman biasanya mengalami penurunan tajam atau "nosedive".
9️⃣ Tujuan ceramah ini adalah memberikan saran praktis agar penurunan tersebut tidak kembali ke titik nol.
1️⃣0️⃣ Aturan pertama: Kita harus bersikap realistis terhadap diri sendiri mengenai kapasitas ibadah kita.

1️⃣1️⃣ Tidak mungkin mempertahankan intensitas 200% seperti di malam ke-27 Ramadan sepanjang tahun.
1️⃣2️⃣ Mengakui keterbatasan manusiawi adalah langkah awal untuk menjaga konsistensi yang sehat.
1️⃣3️⃣ Target utamanya adalah memastikan level iman pasca-Ramadan lebih tinggi daripada sebelum Ramadan dimulai.
1️⃣4️⃣ Beliau menggunakan analogi pasar saham untuk menjelaskan pertumbuhan iman yang ideal.
1️⃣5️⃣ Jika modal awal 100, naik ke 200 saat Ramadan, lalu turun ke 150, kita tetap untung 50 poin.

1️⃣6️⃣ Setiap tahun, kita harus masuk Ramadan dengan "modal spiritual" yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
1️⃣7️⃣ Ramadan harus dipandang sebagai mekanisme pembersihan dan "gym" spiritual tahunan.
1️⃣8️⃣ Poin praktis pertama untuk menjaga iman adalah menjaga kehadiran di masjid secara fisik.
1️⃣9️⃣ Masjid memainkan peran krusial dalam membentengi dan melindungi iman seseorang dari kerasnya dunia.
2️⃣0️⃣ Di masjid, kita termotivasi oleh orang lain; jika orang lain salat, kita pun tergerak untuk ikut salat.

2️⃣1️⃣ Suasana masjid membantu kita mendapatkan kekhusyukan yang sulit didapat jika hanya di rumah sendirian.
2️⃣2️⃣ Dunia (dunya) cenderung mengeraskan hati, sementara masjid adalah oase yang melunakkannya kembali.
2️⃣3️⃣ Jangan langsung memutuskan hubungan dengan masjid segera setelah hari raya Idul Fitri berlalu.
2️⃣4️⃣ Cobalah untuk meningkatkan frekuensi ke masjid sebesar 150% dibandingkan sebelum bulan Ramadan.
2️⃣5️⃣ Utamakan salat Subuh dan Isya berjemaah karena keduanya memiliki berkah yang sangat besar.

2️⃣6️⃣ Beliau menyayangkan jika masjid penuh saat Ramadan jam 3 pagi, tapi sepi di waktu Isya hari biasa.
2️⃣7️⃣ Padahal, Tuhan yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama di bulan-bulan lainnya.
2️⃣8️⃣ Di negara Barat atau lingkungan korporat, hampir tidak ada pengingat otomatis tentang Allah sepanjang hari.
2️⃣9️⃣ Kita harus melakukan upaya ekstra dan meluangkan waktu perjalanan ke masjid demi menjaga iman.
3️⃣0️⃣ Sejarah mencatat bahwa Makkah adalah masjid pertama yang ditetapkan sebagai tempat ibadah permanen.

3️⃣1️⃣ Kita harus bersyukur karena umat Islam diberikan kemudahan untuk membangun masjid di mana saja.
3️⃣2️⃣ Orang-orang dari luar negeri sering takjub melihat antusiasme jemaah di Amerika yang mencapai ribuan orang.
3️⃣3️⃣ Berdiam diri di masjid sambil menunggu waktu salat adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi.
3️⃣4️⃣ Menunggu salat di masjid dianggap sebagai "meditasi halal" yang menenangkan jiwa dan pikiran.
3️⃣5️⃣ Malaikat mendoakan orang-orang yang duduk di masjid menunggu waktu salat dimulai.

3️⃣6️⃣ Nabi Muhammad menyebut duduk di masjid sebagai salah satu bentuk "Ribat" atau perjuangan di jalan Allah.

 

3️⃣7️⃣ Sangat disarankan untuk membuat jadwal rutin ke masjid, bukan hanya datang secara acak atau sesempatnya.
3️⃣8️⃣ Poin praktis kedua adalah memperhatikan dengan siapa kita bergaul atau "Good Companionship".
3️⃣9️⃣ Iman kita tinggi di Ramadan karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang juga sedang membaca Al-Qur'an.
4️⃣0️⃣ Seseorang cenderung mengikuti agama dan gaya hidup teman dekat atau rekan pergaulannya.

4️⃣1️⃣ Kita harus berani memeriksa daftar teman dekat kita dan melihat pengaruh apa yang mereka bawa.
4️⃣2️⃣ Jika teman-teman kita hanya bicara sia-sia atau ghibah, iman kita akan perlahan-lahan ikut terkikis.
4️⃣3️⃣ Ramadan adalah momen tepat untuk membangun ikatan persaudaraan baru dengan jemaah masjid lainnya.
4️⃣4️⃣ Gunakan kesempatan ini untuk mencari "penjual parfum" spiritual yang memberikan pengaruh wangi kebaikan.
4️⃣5️⃣ Secara bertahap, kita perlu menjaga jarak dari lingkungan yang membawa dampak negatif pada spiritualitas kita.

4️⃣6️⃣ Tantangan bagi generasi muda saat ini jauh lebih berat karena kemudahan akses pada keburukan lewat internet.
4️⃣7️⃣ Allah menguji anak muda zaman sekarang karena Allah tahu mereka memiliki kapasitas untuk melewatinya.
4️⃣8️⃣ Penyebab kegagalan terbesar anak muda seringkali bukan diri mereka sendiri, tapi teman bergaul mereka.
4️⃣9️⃣ Anda mungkin tidak bisa mengatur apa yang teman lakukan, tapi Anda bisa memilih siapa yang jadi teman Anda.
5️⃣0️⃣ Poin praktis ketiga adalah menjaga asupan harian Al-Qur'an dan zikir setiap hari tanpa putus.

5️⃣1️⃣ Al-Qur'an adalah "sarapan bagi jiwa" yang harus dikonsumsi sebelum memulai aktivitas duniawi.
5️⃣2️⃣ Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membuka Mushaf, meskipun hanya membaca lima baris saja.
5️⃣3️⃣ Konsistensi kecil jauh lebih dicintai Allah daripada amal besar yang dilakukan hanya sesekali.
5️⃣4️⃣ Waktu terbaik untuk membaca Al-Qur'an adalah di pagi hari karena di situlah letak keberkahan umat.
5️⃣5️⃣ Malaikat memberikan perhatian khusus pada bacaan Al-Qur'an di waktu fajar atau subuh.

5️⃣6️⃣ Jika kita bisa bangun malam selama Ramadan, kita pasti mampu menyisihkan 15 menit ekstra di bulan biasa.
5️⃣7️⃣ Amalan yang konsisten (istiqamah) adalah kunci utama untuk mencapai garis finish kehidupan dengan baik.
5️⃣8️⃣ Setiap tahun, target kita adalah menjadikan Ramadan terakhir kita sebagai Ramadan yang paling berkualitas.
5️⃣9️⃣ Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput, maka kita harus selalu berusaha menjadi lebih baik setiap tahun.
6️⃣0️⃣ Umat Islam beruntung karena diberikan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan ibadah.

6️⃣1️⃣ Manfaatkan sisa malam-malam terakhir untuk berdoa agar Allah menerima semua amal ibadah kita.
6️⃣2️⃣ Shaykh menutup dengan doa agar kita diberikan kekuatan untuk terus istiqamah setelah Ramadan berakhir. 

 

***


Penutup, semoga tidak ada yag mengalami Ramadhan Blues ya. Jika pun itu terjadi, semoga kita tahu, bahwa "jalan kesembuhan" dari perasaan dan kondisi tersebut adalah mendekat kepada-Nya, dan meminta pada-Nya agar diberi jalan untuk keluar dari perasaan dan kondisi tersebut. Termasuk memohon supaya Allah kelilingi kita dengan teman-teman yang shalih dan shalihah. At least, saat kita down, ada yang mengingatkan dan meski mereka tidak melakukan banyak effort, keberadaan mereka saja, bertemu dan berinteraksi dengan mereka saja, sudah cukup untuk memberikan semangat dan menjadi pengingat bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada tangan yang menggandeng kita untuk menjadi hamba lebih baik, pribadi yang lebih baik. Semoga takwa, yang Allah harapkan ba'da Ramadhan, dapat tercapai. Aamiin.

 

Terakhir, I know it's late. Tapi rasanya ingin menutup dengan takbir. ya, takbir yang dikumandangkan di malam dan pagi 1 syawal. Semoga dengan menuliskannya, mengingatkanku untuk selalu "meng-akbar-kan" Allah di setiap saat dalam hidup kita. It's not an easy thing to do, but it is the right way to do.

 

Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar. Laa ilaaha illallaahu Allahu akbar. Allahu Akbar walillahil hamd. 

 

Wallahua'lam bishowab.

 

*** 

Keterangan:

 

[1] Resume tersebut dibagikan oleh Rio di grup whatsapp NAK Indonesia. Yang mau gabung ke grupnya, bisa langsung cek bio instagram @nakindonesia

Saturday, March 21, 2026

I Just Want to Cry Out Alone But A Hand Touch My Shoulder

March 21, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksiku 

 

*warning* messy writing, mix language, free writing without editing 

  

Aku hanya ingin menangis dengan tenang sendiri, maka aku mulai mencari-cari tempat yang kiranya aman. Dan aku memilih untuk duduk di tangga itu, sudah hampir pukul 11, di sini lebih baik daripada di koridor itu, ada banyak orang lalu lalang. Sengaja kutelungkupkan wajahku di atas kedua tanganku yang terletak di atas lututku, it was a perfect position to hide a cry. Aku kira aku menangis tanpa suara. Aku hanya merasakan emosi yang meluap dan mata yang tidak berhenti mengalirkan air, kubiarkan alirannya jatuh dan membasahi masker putih yang kupakai. Ada rasa sakit di dada saat otakku memutar memori beberapa menit yang lalu, kejadian yang menjadi trigger tangisku, lalu memori lain di masa lalu, rasa sakit yang sama atas rasa kecewa. Aku pikir, aku tidak pernah meminta banyak, tapi sikapnya melukaiku. Lalu mungkin karena tangki emosi negatif yang sering kutekan dan kusimpan rapat-rapat sudah penuh, mungkin karena itu, seperti bendungan yang tak lagi mampu menahan debit air yang yang sudah terlalu tinggi. 

 

I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. Sentuhan halus itu membuatku menghadapkan kepalaku ke arah tangan tersebut. Aku ingat beberapa detik sebelum tangannya menyentuhku, aku sedang bermonolog dengan diri, berusaha menjinakkan emosi yang menarik-narikku ke arah yang salah. Aku sedang mengingatkan diriku pada kisah Nabi Ya'qub 'alaihi salam dan quotes dari beliau yang banyak orang tahu. Aku lupa apakah itu sebuah doa, atau itu kalimatnya yang dikatakan kepada anak-anaknya yang lain saat mereka protes akan kesedihan yang tampak pada raut wajahnya, pada sikapnya, seolah kehilangan Nabi Yusuf 'alaihi salam masih menimbulkan luka yang mengaga di hatinya. Ya, betul kalimat itu...

 إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ


Aku baru saja menggaungkan kalimat itu untuk mengingatkan diriku, bahwa tujuanku di sini bukan untuk tenggelam dalam emosi negatif yang meledak di saat itu. Bukankah aku pergi ke sana, untuk mendekatkan diri padaNya, dan meminta ampunan-Nya? Baru saja aku hendak belajar dari ucapan Nabi Ya'qub, lalu Allah hadirkan pilihan lain, seolah Allah ingin memberitahuku, kuberi kau kesempatan untuk bercerita pada orang lain, jika kau mau. Bahwa tidak semua orang bisa seperti Nabi Ya'qub yang kesabarannya begitu indah. Tentu saja, aku tahu, masalahku begitu kecil dan remeh jika dibandingkan kisah beliau. Anyway... ku tengadahkan kepalaku. Mungkin mataku merah dan masih berair, tapi pandanganku jernih, seorang akhwat dengan kerudung hitam dan wajah manis menyapaku, ia mungkin melihatku saat berpindah dari koridor ke tangga, mungkin melihatku menelungkupkan kepalaku dan menebak dengan benar bahwa aku sedang menangis dan sedih. Mungkin tangisanku cukup keras, dan itu mengganggu hatinya yang penuh dengan empati.

 

Ia mulai bertanya kenapa aku menangis, bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Aku meminta tissue padanya, dan beberapa menit kemudian dia mondar-mandir mencari tissue dan tidak menemukannya, lalu duduk di sampingku, mencoba membuatku bercerita tentang alasanku duduk di tangga itu dan menangis. Ia mengatakan ia hanya orang asing yang mungkin tidak bertemu lagi. Aku dalam hati tertawa, what an amazing scenario, cause I usually feel more comfortable open up to strangers. But not this time. Jujur, aku sangat ingin mengusirnya, jika saja ada pintu, rasanya ingin segera menutup pintu dan menyuruhnya pergi. But her voice is soft, and she looks concern and sincere. Jadi aku hanya diam dan membiarkan otakku berdebat sendiri bagaimana cara agar akhawat tersebut bisa memberiku waktu dan ruang untuk sendiri.

 

Dia sepertinya paham ada dinding tinggi tak terlihat diantara kami. Meski dia berusaha meyakinkanku bahwa aku aman untuk bercerita. Bahwa perempuan mungkin tidak butuh solusi, tapi bercerita bisa membantunya untuk merasa lebih baik. Yang tentu kujawab bahwa aku lebih nyaman menulis daripada bercerita. Ia juga mungkin berpikir banyak saat aku hanya memilih diam. Tapi ia tidak pergi, dan aku tidak enak hati untuk mengusirnya. Apalagi saat ia berkata, bahwa barangkali sekedar keberadaan orang lain bisa membantuku lebih reda dan tenang. She caresing my knees as she told me other sentence. Kalimat-kalimat baik seperti, jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Atau saat ia bercerita tentang seorang anak SMP yang terlihat cemas menunggu dijemput ayahnya, hpnya tertinggal, dan ia terlihat cemas. Kecerdasan emosi dan empatinya yang tinggi membuat akhwat tersebut menangkap sinyal cemas dari remaja putri tersebut, dan ia mengajak remaja putri tersebut mengobrol sembari menemaninya sampai anak SMP tersebut dijemput. Mendengar ceritanya mengingatkanku pada kejadian di masa lalu, saat aku SMP, dan cemas menangis karena mengira salah naik angkot, hanya karena angkotnya lewat jalan yang jauh. What a silly incident but that makes me could relate to her stories.

 

Kuungkapkan bahwa aku bisa relate, dan membayangkan rasa takut yang dirasakan anak SMP tersebut. Talking about other people story is always easy than talking about ourself right, especially for introvert. Tapi akhwat tersebut belum menyerah mengetuk pintuku, ia bertanya apakah aku datang sendiri atau sama teman. Aku bertanya balik sudah berapa hari ia di sini. Ah, she ask my name and I ask her name too. I actually don't trust her, I think Aminah is her fake name. But I tell her my real name, probably she didn't hear it or remember it. Ya, begitulah sikap skeptisku. Meski aku tahu niatnya baik, aku masih sangat ingin mengusirnya. Jadi akhirnya kuyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja, aku hanya perlu waktu untuk mengalirkan emosiku, aku tidak perlu tissue, aku bisa cuci muka dan membuang sisa air mata dan cairan lain di wastafel. Aku ucapkan aku juga akan naik ke atas menyusulnya. Dan akhirnya ia pergi, sembari mengatakan bahwa jika ingin bertemu lagi dan ingin bercerita, ia sangat terbuka.

 

***

 

I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. What a beautiful scenario right? Entah hikmah apa yang ingin Allah ajarkan padaku. Setelah kejadian itu, aku bertemu lagi dengannya di lantai atas. Ia seperti yang ia katakan, baru ke atas di akhir malam, dan benar, aku sedang duduk bersandar di tiang terdekat dengan tangga, saat ia menaikinya. Aku tersenyum melihatnya, lalu kembali melanjutkan aktivitasku dengan hp di hadapanku. Ia duduk sejenak di sampingku bertanya apakah aku sudah lebih tenang. Kujawab ya, atau hanya dengan anggukan, aku lupa. Tapi aku ingat aku kemudian fokus kembali ke hpku dan aktivitasku, membuat ia merasa awkward, entah ada yang ingin ia katakan lagi atau... ia hanya ingin pamit tapi bingung cari timingnya. Ia sempat bertanya mengapa aku belum tidur, kukatakan aku akan tidur jam 12. Lalu ia pergi dan mencari tempat tidur.

 

It's 12, and most of the people are asleep, except some who are still busy, I should sleep. So I search for a good place to sleep. Just when I was arranging my bag, my jacket, the emphatic girl come again. She told me about affirmation.

 

"Pernah ngelakuin afirmasi gak?" Aku jawab ya. Lalu ia bertanya seperti apa? My mind goes blank, sunyi beberapa detik. All iz well, semua akan baik-baik saja, that kind. Jawabku akhirnya. Lalu ia mengajarkanku kalimat afirmasi lain, aku mampu, aku bisa, aku cantik. Kalimat afirmasi yang bisa membantu kita mencintai diri sendiri. Dia mengajakku mencoba melakukannya, tapi aku memilih untuk diam, I refused her suggestion in my head, probably also with my body language. She's really concern about me I guess. But I really can't say that kind of affirmation out loud. Though most of the people is asleep but some of them are still awake, busy with their own things to do. Aku tidak seperti akhawat penuh empati tersebut, aku bukan tipe yang mengucapkan dengan keras dan berulang kalimat afirmasi, I do said it, in a written way. The silence is loud and she chose to go again, as I bid goodbye and thank you for her.

 

***

 

I just want to cry out alone but a hand touch my shoulder. I wasn't kind to her that day. Tapi saat menuliskan ini, aku bisa melihat dari sudut pandang lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang mungkin pernah tenggelam dalam kesedihan, yang melalui proses healingnya dengan mengucapkan kata-kata afirmasi. Ia tahu persis bahwa ia bersyukur jika saat sedih ada yang menemaninya, atau ada teman/orang asing yang bisa menjadi tempat ia menuangkan emosi dan pikiran yang berkelindan dan membuatnya sedih. Aku melihatnya kini sudah keluar dari masa-masa itu, dan kini ia selalu mengasah awarenessnya pada sekitar, karena ia tahu betapa menyiksanya perasaan sendiri saat awan kesedihan, ketakutan, kecemasan melingkupi hati dan pikiran seseorang.

 

Pagi itu, aku terakhir melihatnya duduk di bangku luar masjid sembari mendengarkan kajian ba'da shubuh. Aku duduk di sebrangnya, di lantai bersandar pada tembok menghadap ke pelataran luar masjid. Aku teringat ucapan salam terdengar dari pengisi kajian, lalu mataku terkantuk, entah berapa lama, tapi aku terbangun, dan kulihat kebelakang orang-orang sedang sibuk shalat syuruq, di bangku tempat ia duduk, sudah tidak ada dirinya. Entah sudah pergi, atau ia masuk ke dalam untuk shalat. Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan keluar, memandang langit dan awan berbaris-baris yang menghias pagi itu.

 

The End. 

Wednesday, March 4, 2026

Jeda Lama Nulis Catatan Ramadhan Karena....

March 04, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#curcol

 

Apa kabar hari-hari Ramadhanmu? Aku... nggak ada yang tanya sih, anyway, mari saling mengingatkan dan mendoakan semoga hari-hari Ramadhan kita diisi dengan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan dan hal yang sia-sia.

 

Terkait judul postingan ini, tolong abaikan ya. Karena kalau perlu dijawab ada banyak sekali excuse. Intinya it's my fault that I haven't write the next CR. Draftnya sudah ada, video materinya udah aku simak, dan menarik untuk dirangkum dan ditulis ulang, untukku terutama, yang seringkali lupa pentingnya mengikat ilmu. Tapi what's done is done.

 

Kutulis ini, semoga ajdi penyemangatku untuk lanjut menulis. Apalagi, ternyata 28 Februari kemarin ada komen dari adik tingkat, what a surprise visit! Jujur, aku selama ini masih sering mempercayai, kalau blogku ini yang mampir ya cuma orang-orang yang gak kenal aku di real life hehe. It's more calming that way. Meski di sisi lain, seneng juga pas tahu ada orang yang kukenal baca blog ini sesekali. Semoga gak ada yang rutin berkunjung ya, agak trauma soalnya hehe. 

 

***

 

Tantangan menulis catatan Ramadhan bagiku sebenarnya tantangannya banyak, tapi fokus utamaku bukan ke teknis, bukan masalah manajemen waktu, atau kesulitan membuat kalimat dan lain-lain. Lebih banyak ke mental block aja, rasa takut. Jujur dari dulu sampai sekarang masih sama. Menulis tentang islam, mengajak hal-hal baik, menghimbau untuk meninggalkan keburukan, semua itu masih jadi passionku, itu yang ingin terus aku lakukan, karena aku masih ingat manisnya saat membaca buku Jalan Cinta Para Pejuang, aku masih ingat betapa syahdu dan istimewanya malam mabit DP2Q Mata' Salman, saat diminta mengikuti dan melntangkan ikrar. Aku juga masih merasa manfaat dari mendengarkan bahasan tentang Quran pada imanku yang naik turun dan jauh dari stabil ini. Jadi jika boleh mengambil bagian, aku masih ingin terus menulis seperti ini. Tapi terlepas dari semua itu, aku masih sama, aku masih merasa begitu jauh jarak, dan perbedaan jauh dari apa yang kutulis dan apa yang aku usahakan dalam amal. Jujur takut banget kalau cuma omdo, kalau cuma nato. I don't want to be a liar. Ayat-ayat pertama surat Ash Shaff... siapa yang ingin dibenci oleh Allah TT Padahal satu-satunya hal yang membuatku masih hidup saat ini adalah cinta kasih-Nya 

 

Nowadays I found myself listening and reading more about the end of the world. Dan surat Al Kahfi yang disunnahkan baca tiap hari jumat, apakah sudah benar-benar "dibaca", direnungkan, diamalkan? 

 

I am getting older each day, death is getting closer. Please don't waste your time! Please don't regret when it's already over. Bukankah itu yang mungkin ingin Allah ajarkan lewat hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupmu?

 

Ayo Bell! Ramadhan sudah masuk pertengahan loh, jangan sampai Ramadhan berlalu tapi kamu tidak berubah. Jangan sampai kebiasaan baik yang ingin dibangun tidak diusahakan. Pun kebiasaan buruk yang ingin dihapus jangan sampai dibiarkan menetap dan menggerogoti hari-hari Ramadhanmu. Ayo! Rajakan kembali hatimu, dan tundukkan hawa nafsumu. Bukankah itu esensi dari puasa? Jangan hanya lapar dan dahaga saja, tapi juga semua hal... tell your body, your mind and your soul, that you're fasting. And that you must fill your day with the obedience to Allah.

 

Sekian. Lakukan dari hal kecil, lakukan saat ini, satu lagi apa ya? Lupa. Anyway.. mari perbanyak doa juga untuk saudara muslim di seluruh dunia, di bulan doa diijabah ini, jangan batasi doa kita hanya untuk diri kita dan keluarga saja. Ahh.. kangen banget shalat di masjid dan saat witir ada doa qunut. 

 

Wallahua'lam.