Follow Me

Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts

Saturday, May 28, 2022

Perjalanan Menulis Isabella Kirei

May 28, 2022 0 Comments

Bismillah.

Challange dari kulwap malam itu di grup KMK dan EMC. In syaa Allah saya post di grup KMK saja. Satu saja cukup hehe. (back then in 2018 maybe, I thought if I republished this draft, it will be on that date, but... yaudah sih hehe)


***


Saya pernah baca di blognya Mba Sinta Yudisia, salah satu penulis ternama di Indonesia, kalau membaca dan menulis adalah sepasang kekasih. Aku.. pernah jatuh hati kepada keduanya. Masih jatuh hati, pada salah satunya. Dan sedang berusaha jatuh hati lagi pada kekasihnya juga.


Yang pertama kukenal adalah membaca, baru kemudian aku mengenal kekasihnya, menulis. Aku ingat, bagaimana awal aku belajar membaca karena ingin ikut-ikutan semua aktivitas kakak yang usianya hanya 13 bulan lebih tua dariku. Aku ingat, bagaimana ayah membelikan bundel majalah bobo bekas. Bagaimana bundel yang setebal novel Harry Potter tersebut kuhabiskan dalam satu malam. Semuanya, dari surat pembacanya, komik bobo, nirmala, cerpen di dalamnya, semuanya. Pengalaman pertama begadang karena membaca, ya aku jatuh hati pada membaca.


Duduk di sekolah dasar aku mengenal menulis. Mungkin karena mereka sepasang kekasih, tanpa sadar aku mulai jatuh hati pada menulis juga. Aku rutin menulis di diary, kuhabiskan dua tiga buku, dari yang sederhana, sampai yang bergembok. Aku juga suka menulis puisi, mungkin belum pantas disebut puisi, hanya barisan kata yang terpisah dalam bait. Binder anak seusiaku yang biasanya hanya berisi biodata teman sekelas, kupenuhi dengan puisi kanak-kanakku.


Duduk di sekolah menengah pertama. Aku mengkonsumsi banyak buku fiksi. Lalu terdengar kabar ada seleksi siswa yang akan menjadi perwakilan lomba menulis cerpen. Kuberanikan diri menyerahkan cerpenku pada Bu Budi, guru Bahasa Indonesia yang sangat lekat di memoriku. Dibimbing Bu Budi aku diajarkan menulis cerpen yang baik, juga menulis tangan yang rapi. Karena Bu Budi lebih suka aku menyerahkan tulisanku, bukan hasil cetakan, tapi tulisan dari jemariku langsung. Alhamdulillah pernah menyicip juara 1 lomba menulis cerpen tingkat kabupaten dua kali. Di masa ini juga aku belajar menulis non fiksi, karena pernah bergabung di ekstrakulikuler jurnalistik, yang paling melekat saat belajar pengertian dan cara menulis tajuk dari Pak Agus.


Duduk di sekolah menengah akhir. Aku banyak menulis puisi lagi, bukti bahwa selain pada menulis dan membaca, aku juga pernah merasakan jatuh hati pada manusia. They call it first love, but I'd rather call it, strange feeling inside. Di masa itu aku ikut organisasi Suryakanta1,   juga Rohis. Semuanya terkait dengan tulis menulis. Meski tidak mengikuti lomba menulis individu, kami (tim suryakanta1) pernah bertarung membuat mading, dan dapat juara. Di akhir masa putih abu-abu ini juga, aku mulai aktif menulis di blog yang pernah kubuat saat SMP hasil pelajaran TIK.


Kuliah. Banyak menulis di blog. Semua unit kemahasiswaan hampir selalu masuk divisi media. Di sini aku mulai melupakan kekasih menulis. Rasanya membaca tidak ada waktu. Menulisku tetap jalan, karena selain dari membaca, bahan tulisan bisa dari pengalaman, dan informasi yang kutangkap dari ucapan orang-orang sekitar, atau guru-guru kehidupan. Selama masa itu, keinginan menerbitkan buku selalu ada, namun hanya naik turun di level keinginan, belum sama sekali masuk ke level eksekusi.


Pasca kuliah. Aku tahu dan paham kalau menulis di blog adalah zona nyamanku. Aku cukup puas menulis di sana, dibaca oleh orang-orang yang tidak sengaja melintas. Aku tahu dan paham, aku tidak boleh berhenti di sini. Maka aku mulai telusuri lagi, apa yang salah, apa yang tertinggal. Dari sana, aku teringat kekasih menulis. Membaca.


Saat ini. Aku masih berusaha jatuh hati lagi dengan membaca. Draft buku? Sudah ada, bahkan bahannya sudah ada, puluhan tulisan di blog yang bertema senada. Tapi seperti materi yang disampaikan di grup KMK, aku kehilangan poin pertama (strong why) yang bisa membuat keinginanku menerbitkan buku terwujud.


Saat ini. Hanya sebagian kecil dari perjalananku menulis. Doakan aku, semoga jika niat ini baik, semoga Allah menguatkan tekadku untuk merampungkan draft dan segera mengirimkannya ke penerbit.


Terakhir, izinkan aku menuliskan sebaris doa dari Ustadz Fauzil Adhim, yang kubaca dipengantar salah satu buku Ustadz Salim A. Fillah,

Semoga Allah bangkitkan kebaikan dan kekuatan, melalui setiap kata yang mengalir dari ujung jari kita. Sungguh sebuah buku dapat mengubah jiwa manusia dan nasib dunia.. -M. Fauzil Adhim


Isabella Kirei - Purwokerto
Ini tulisanku, mana tulisanmu?


***


Jadi Bel, sudah siap melanjutkan perjalanan menulismu? Atau mau berhenti lama di zona nyaman ini?

Wallahua'lam bishowab.


--end of draft that time

***


Tambahan, waktu sudah berlalu lama sejak materi tersebut aku simak, grup KMK sekarang sudah nonaktif. Aku sudah membuat beberapa e-book, menerbitkan antologi saat memberanikan diri ambil amanah PJ KMO Club, dan sekarang sedang menunggu dan berdoa semoga pengkaryaan guidelight batch 3 segera bisa sampai di tangan. Buku solo? *tiba-tiba teringat, orang-orang yang tidak paham istilah buku solo, karena memang mereka tidak berkecimpung di dunia tulis menulis hehe. Sedihnya, masih sama, strong why-nya masih belum terbentuk. Aku masih terlalu nyaman bersembunyi di sini, sesekali saja mengimport tulisan ke medium, tulisan tentang buku. Keinginan itu memang belum kuat, tapi masih ada, selalu sayup-sayup menggema setiap kali kulihat buku dengan isi dan layout, cover yang ciamik. Aku juga ingin punya yang seperti itu hehe.


Qadarullah juga, beberapa waktu yang lalu pernah sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan dari salah seorang anak kecil, yang bertanya apa mimpiku. Dan lebih terkejut lagi saat aku jujur menjawab "penulis". Walaupun sekarang malu sih, karena sudah jarang menulis jika dibandingkan dulu. Lebih sering memilih hal lain yang tidak produktif, dan sama sekali bukan tangga ke 'puncak' yang ingin aku tuju.


Anyway, kupublish ini untuk memotivasi diri lagi. Here's your journey, would you like to level up? Mohon doanya.. TT


Sekian. Maaf banyak cerita tentang diri dan curhat.


Kamu, apa mimpimu? Semoga Allah memudahkan dan memberkahi perjalananmu mewujudkannya yaa~ Semangaat! Bye 5~

Thursday, September 24, 2020

Berkelana Merajut Asa Meraih Cita

September 24, 2020 0 Comments

*Berkelana Merajut Asa Meraih Cita*

Penulis: Alumni KMO Club Batch 25 Kel. 39

Genre: Nonfiksi

Ukuran: 14 x 21 cm

Terbit: Oktober 2020

Harga Pre-Order (22 September - 1 Oktober) : 55.000

Pengiriman (16 Oktober)

Info pemesanan: wa.me/6285227742193

Blurb:

Impian manusia tidak akan pernah berakhir selama ilmu diterapkan dengan kreativitas tanpa batas untuk membangun sebuah proses menuju kesuksesan.

Kapankah seseorang bisa dikatakan telah gagal?
Apakah saat melakukan kesalahan? Tidak!
Apakah saat orang-orang menjauhi? Tidak!
Apakah saat mendapatkan penilaian buruk dan dikritik habis-habisan? Tidak!

Seseorang dikatakan gagal ketika ia tidak lagi memiliki impian.

Bacalah kumpulan tulisan dalam buku ini, untuk memperoleh rasa percaya diri yang tinggi dalam menggapai mimpi.

Wednesday, March 11, 2020

1M1C x Line Today

March 11, 2020 0 Comments
Bismillah.

Sebelumnya aku udah pernah cerita kan, kerjasama komunitas 1m1c sama line today. Jadi tulisan fiksi dari member 1m1c dapat kesempatan untuk tayang di line today. Ga semua tulisan yang masuk tentunya, akan ada proses pemilihan dan penyaringan. Baik itu dari admin 1m1c maupun dari pihak line today-nya.

Meski udah tahu info ini dari bulan kemarin, aku baru nyempetin cek website 1m1c dan submit beberapa tulisan fiksi di blog ini yang apa adanya hehe.

Setoran 1m1c x line today

S&K

Meski aku tahu, fiksi-ku biasa-biasa aja, dan kemungkinan besar ga kepilih, gatau kenapa kepengin setor banyak tulisan fiksi di situ. Hehe. Setelah lama menulis untuk di baca sendiri, di blog, ternyata pengen naik tingkat juga, pengen dibaca orang lain, pengen tahu kurangnya dimana aja. Untuk ikutan lomba, kayanya gak buat aku pribadi. Tapi kalau cuma sekedar submit tulisan macem begini, rasanya lebih mudah.

***

Menulis ini mengingatkanku akan kerinduan pada komunitas menulis lain, yang sejak 2020 berhenti. Katanya sih sementara, semoga begitu. Sampai sekarang aku masih mikir, sayang... kalau saja boleh jalan sendiri. hehe. Tapi kan ga bisa hehe. I miss ***tulis

Jadi salut sama 1m1c yang bisa bertahan lama, dan sampai diajak kerjasama dengan linetoday. Semoga banyak member 1m1c yang tulisannya tembus ke line today. Meski aku ga yakin bakal baca hehe. Udah lama ga bisa akses line dan telegram. *curcol

Terakhir, semangat menulis! Apapun genre-mu, mau non fiksi, fiksi, pokoknya semangat menulis ~

Tuesday, May 28, 2019

That's All from Ramadhan 1439H

May 28, 2019 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-



That's all from Ramadhan 1439H, dua puluh tiga tulisan, dengan segala naik turun perasaan di dalamnya. Di dalamnya juga tercermin buku apa yang saat itu sedang dibaca. It's far from 'well done' but at least I tried, and it's worth trying^^ Produktif menulis di bulan Ramadhan itu tidak mudah. Thumbs up, salut, buat yang sudah membiasakannya. Semoga Allah berikan balasan yang lebih baik. Jazakumullah khairan. Termasuk untuk yang menyempatkan menulis, meski hanya satu dua tulisan.

***

From Ramadhan 1439H


    ***

*warning* lots lots of selftalk

Ramadhan 1440H apa kabar? Bisa produktif menulis? Kamu Bell.. aku tanya ke kamu, bukan ke pembaca.. TT

Niat sudah, rencana ada, pelaksanaannya? Honestly? Payah. Dan ada beberapa alasan yang ingin aku gunakan, tapi kann... ga boleh banyak excuse. Jadi? Let's just learn from it, and keep trying.

Ternyata, menulis quran journal itu tidak mudah. Apalagi di publish, dan ada perasaan 'takut' bahwa ayat tesebut, penjelasannya, refleksi yang dituliskan, sanggupkah tidak hanya ditulis? Or will I be the people who said things that they didn't do? TT

Sementara baru selesai 7/31, jangan tanya kenapa bisa ada 31. Mungkin kapan-kapan aku ceritain, mungkin saat aku menyalinnya dari facebook ke sini. Wallahuua'lam. Jika Allah mengizinkan. 

Inginnya sih, semoga bisa nambah, jadi 10, atau 15. Atau bisa selesai 31? Allahua'lam. Usaha Bell! Set the time, prioritize it. Jangan malah milih nulis yang lain TT

Dan kalau pun tidak selesai. Semoga bisa dilanjutkan setelah Ramadhan, sampai selesai. In syaa Allah.

Mohon doanya yaa...

***

A reminder for myself and anyone that read this blog. Semua yang ditulis di blog ini sejatinya sebuah pengingat dan penyemangat untuk diri. Makanya, setiap tulisan aku pastikan masuk label "untukku" dan "motivasiku". Dalam realitanya, aku masih terbata, dan tertatih mengamalkan apa yang kutulis. Aku menulis agar ilmu tidak hilang, agar lebih lekat di memori, agar kalau lupa, jadi baca lagi *karena yang pengunjung dan pembaca utama blog ini adalah diriku sendiri. Tapi membaca, menulis jauh berbeda dengan mengamalkan.
Ada jarak yang begitu jauh, antara mengetahui ilmu dan mengejawantahkannya dalam amal. Jarak yang bisa ditempuh dengan usaha dan doa. Jarak yang untuk menempuhnya diperlukan perjuangan, bukan cuma raga, tapi juga hati. -kirei
Kalau sudah menulis random kaya gini, aku selalu ingat hikmah dan makna dibalik doa kafaratul majlis. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Terakhir, semoga Allah memberkahi hari-hari terakhir Ramadhan kita, menerima amal ibadah kita, dan mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin



Allahua'lam.

Saturday, September 15, 2018

Cerita Hari

September 15, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Ia mungkin tidak tahu, dan tidak perlu tahu. Bahwa beberapa kalimatnya membuatku tidak nyaman. Aku tahu, ia tidak bermaksud buruk. Tapi aku.. jujur tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak nyamanku. Maka izinkan kutulis di sini. 

***

Ya, aku biasa menulis cerita hari. Ketimbang membuat artikel, yang tidak terkait tentang diri dan tidak di sisipi curhat, aku lebih nyaman menulis cerita hari. Karena selama perjalananku menulis, aku menemukan hikmah dan pelajaran di kesederhanaan. Cerita hari yang biasa, berulang, bahkan mungkin terdengar klise... di sana ada hikmah yang bisa diambil. Kecil mungkin, tidak dipenuhi muatan informasi hasil studi A, B, C. Kecil mungkin, dan memang terkadang lebih banyak cerita hari daripada tulisan tentang hikmahnya. Tapi hal kecil itu membantuku. Cerita hari ini, baik yang kutulis atau yang orang lain tulis, di mataku istimewa. 

***

Ada istilah 'sampah' yang digunakan orang untuk tulisan cerita hari. Jujur aku tidak nyaman pada istilah itu. Benar memang, cerita itu dituang karena otak kita penuh. Tapi cerita hari, meski sederhana tidak sekotor sampah, pun bukan berarti hanya tumpukan 'hal' yang tidak berguna. Aku juga paham mengapa ia menyebutnya sampah, karena cerita hari, tidak selalu positif, seringkali hanya ungkapan hal-hal negatif yang melintas di otak, dan perasaan negatif yang menyesakkan dada. Tapi menuliskannya, bukankah membantu kita? Saat menulisnya, kita seolah menjejerkan potongan puzzle yang tadinya bertumpuk. Pelan kita mulai melihatnya dari sudut pandang lain. Lalu kita jadi bisa merangkainya. 

***

Aku tahu, ia tidak sedang memandang kerdil cerita hari. Ia hanya sedang berusaha menulis yang bukan cerita hari. Maka saat melihat tulisanku, yang mayoritas isinya cerita hari, ia jadi bertanya... memang biasa menulis itu? Pernah nulis yang bukan cerita hari?

Sebenarnya, pertanyaan itu muatannya normal, bukan negatif. Tapi mungkin aku yang terlalu sensitif, merasa di sindir. Karena memang benar, sudah lama aku tidak menulis di luar cerita hari. Menulis, yang membutuhkan banyak baca dan cari referensi untuk membuatnya kaya informasi. Menulis... yang banyak orang bisa mengambil manfaat. 

Ya, aku saja yang terlalu sensitif. Karena memang aku sendiri kesulitan, membuat tulisan tanpa kata 'aku' di dalamnya. Masih harus belajar.

Allahua'lam.

Sunday, June 17, 2018

Bahkan Tidak Mampu Menyingkap Seluruh Siluetnya

June 17, 2018 0 Comments
Bismillah.

Baru nulis di blog magic of rain, trus kepikiran ide buat menulis lebih panjang, tentang sebuah tema. Tentang betapa kompleks sesosok manusia.

***
"sungguh, kita tidak bisa menerka seseorang cuma dari tulisannya di satu tempat
manusia itu kompleks.
tulisannya hanya sebagian kecil dirinya
suatu waktu kamu akan terkejut saat berdiskusi langsung dengannya
ekspresi khasnya, intonasi, gesturenya
ini bukan hanya tentang isi sosmednya, blognya. bukan
manusia lebih kompleks dari itu.."
- Isabella Kirei, dalam blog private-nya The Magic of Rain
***

Jadi tulisan diatas awalnya cuma curcol aja, tentang satu sosok manusia, yang baru kutemukan tulisannya di tempat lain. Biasanya aku baca di link X misal, trus somehow, dapet link Y, disebutkan bahwa pemilik link X dan Y itu sama. Trus... aku heran aja, bisa beda gitu. Like I see the new side of it. Hahaha. Sok rahasia her/him, malah diganti it wkwkwk.

Sebelumnya aku mikirnya gini, kalau tulisan seseorang itu khas, jadi biasanya ya style dan gaya menulisnya sama. Kalau ada dua tulisan mirip banget cara penyampaiannya, aku pikir, kemungkinan besar penulisnya sama. Ah.. trus jadi inget, waktu aku baru pernah hadir kajian yang diisi oleh ustadz Salim A. Fillah, di Salman, acara IRAMA kalau ga salah. Saat itu aku heran, tertarik, ga nyangka, kalau gaya beliau berbicara mirip sama gaya menulisnya. Diksi yang beliau pakai, intonasi lemah lembut khas jogja, ritmenya, jeda antar kalimatnya, pokoknya setengah takjub, amazed gitu. Secara aku cukup nge fans sama karya tulisan beliau. Jatuh cinta sama tulisan non fiksi karena karya beliau.

Balik ke tema awal. Jadi aku kira ya gitu deh, tulisan seseorang dibanyak tenpat itu tetep sama. Tapi lewat kejadian dua atau satu pekan lalu, aku diingetin lagi, kalau manusia, ga sesimple itu. Manusia itu kompleks. Penuh dengan misteri dan keunikan masing-masing. Kita ga bisa merasa 'mengenal' seseorang cuma karena membaca sebagian tulisannya. Hehe.

Kita aja butuh banyak waktu untuk mengenal diri sendiri, apalagi mengenal orang lain. Ga boleh, sok kenal, cuma karena baca sebagian tulisannya. Ya benar, membaca tulisan seseorang memang bisa membuat kita mengetahui sedikit tentangnya, apa yang sering ia pikirkan, cara berpikirnya, sudut pandangnya, sedikit memorinya. Tapi sungguh, meski sudah baca banyak tulisan dari seseorang, kita masih sangat jauh dari mengenal sosoknya, bahkan tidak mampu menyingkap seluruh siluetnya. Makanya, kalau di buku-buku pernikahan disebutkan bahwa proses taaruf yang sebenarnya itu berlangsung seumur hidup.

***

Udah sih, cuma itu saja hehe. Ada lagi sih, sebenarnya hikmah dari kejadian dua atau sepekan yang lalu. Aku diingatkan untuk cukup membaca saja tulisan, tanpa perlu penasaran siapa penulisnya, ga perlu cari tahu karena penasaran. Meski tulisannya bermanfaat, penasaran kepada sosok penulis sering menjadikan kita ga objektif, nanti jadi subjektif. Nikmati saja tulisan yang ada, ambil pelajaran baiknya, tentang sosok penulisnya, ga perlu kita tahu banyak. Kalau sudah 'gak sehat' penasarannya, lebih baik stop baca tulisannya. Gak baik menurutku hehe. 

Aku ga ingin ngefans berlebihan ke seseorang, bahkan ke sosok Ustadz Salim atau Ustadz Nouman Ali Khan. Kagum akan dakwah beliau-beliau.. baca bukunya, dengerin ceramahnya. Sampai di situ aja, ga perlu sampai tahu setiap jadwal 'manggung'  beliau, kehidupan keseharian beliau, dll. Jadi keinget lagi.. kejadian lain yang membuat aku sadar, bahwa popularitas seseorang sampai segitunya ternyata. hehe. Heran, waktu seseorang bertanya padaku, tentang seseorang (Z). Jadi Z gimana Mba? Tanya seorang adik yang baru lulus SMA, aku cuma bisa garuk kepala yang tidak gatal dan menjawab pertanyaannya, dengan pertanyaan balik, gimana gimananya? wkwkwk. Da, aku ga kenal Z secara personal, sama kaya mayoritas orang, cuma tahu sedikit tentangnya, dan bahkan ga nyadar akan efek popularitas Z.

Ah...kan banyak curhat, ngalor ngidul. Publish dulu ya, bisa jadi nanti dibalikin ke draft lagi.

Allahua'lam.

PS: Untuk seseorang, yang kusalahterka tentangnya, maaf ya. Sincerely, I'm sorry for thinking of you the same way as things you write that I have read. Aku cuma manusia, yang lupa, kalau manusia itu kompleks. Ga sesimple itu. 

Thursday, June 7, 2018

I Don't Need That

June 07, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe

Saat itu, sebuah tulisan kubagikan di grup. Isinya, tentangku dan perasaan minderku akan tulisanku. 

Tapi respon seseorang terhadap tulisanku, membuatku sebel sendiri, sensi sendiri. Ga diekspresiin di sana sih, karena aku tahu, yang salah itu diriku yang terlalu sensi.


Ingin kukatakan pada yang bersangkutan. Iya... aku menulis itu, karena merasa  minder membaca tulisannya yang lebih berbobot, lebih bagus, lebih berisi dan bergizi. Jujur, aku memang merasa sedikit mengerdil, tiap membaca tulisannya. Tapi sungguh, aku menulis tulisan tentang minder, dan bagaimana aku mengatasi perasaan itu, sebagai bentuk kejujuranku pada diri, bukan mengharap apapun dari ybs. So, I don't need that kind of respond

Jadi.. jujur aku merasa sensi. Saat kubaca ia merespon tulisanku. Ingin kukatakan padanya, I don't need that. Aku ga butuh respon itu. Bisakah ia diam saja, seperti dua puluh hari yang lalu?

***

Ini salah satu bentuk ujian kan? Aku cuma perlu berhenti bersensi ria, dan terus saja menulis. Tenangkan hati, jangan marah, jangan sensi. 

Kalau masih ga bisa? Bisaaaaaaa. Istighfar, duduk, main air *eh hehe. Bisa in syaa Allah. Ok? Semangat ^^

Allahua'lam.

Wednesday, May 16, 2018

Pertanyaan Andalanku

May 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

Salah satu pertanyaan, atau pernyataan andalanku, kalau udah buntu mau ngobrol apa, sama temen/kakak tingkat yang udah lama tidak berkomunikasi. Daripada berakhir awkward, karena ga ada bahan buat penutup percakapan. Mending, aku tutup dengan pertanyaan tentang blog, dan pernyataan bahwa aku nunggu tulisannya dan ngingetin ia untuk menulis. 


Dulu pernah, sampai teteh tersebut bilang padaku, that I've made her day. Gatau kenapa momen itu, kalimatnya, reaksinya, masih teringat jelas. Aku tuliskan juga di blog ini, bisa baca di sini buat yang penasaran.

Kali ini, seorang teman seangkatan. Berkali-kali kami ingin bertemu tapi belum jodoh. Giliran aku di Bandung, ia di Jakarta. Pas aku ke Jakarta, ia di Jogja. Hehe. Yaudah sih, gapapa. Meski jujur aku rindu ingin bertemu dengannya. Setelah percakapan terasa aneh, dan bingung mau lanjut bahas tema apa, aku akhirnya bertanya padanya. Blognya kapan diisi lagi, nulis lagi dong. Semacam itu, kalimatnya beda dikit, esensinya sama.

"Wah ga nyangka ada yg aware aku gak nge-blog", begitu balasnya. Aku tersenyum membacanya. Dalam hati aku ingin bercerita, kalau setiap orang buat blog, nulis blog, pasti ada pembacanya. Meski mungkin bukan pembaca rutin, orang yang ga sengaja lewat. Ada. Pokoknya ada. Ia kemudian mengungkapkan padaku, ia memang ada rencana untuk isi blog, tapi nanti, setelah ia menyelesaikan suatu urusan di suatu tempat.

Lalu kalimat berikutnya darinya membuatku ingin menuliskan momen tersebut di sini. 
"Dulu pas km ngilang, aku juga suka liat, bella update blog gak, gitu. Haha", ANP
Gak tahu kenapa, baca kalimat itu rasanya ingin meleleh. Mengetahui bahwa ada yang sincerely peduli, dan 'mencari' ku saat aku hilang. Usahanya untuk menengok blogku, mungkin terlihat pasif, karena ia tidak ke kosanku, tidak juga berusaha untuk kontak aku. Tapi bagiku, itu jauh dari kata pasif. Sekedar menengok blogku, peduli, apa ada update atau ga, saat aku 'ngilang'. Menengok blogku saat aku hilang dari peredaran, itu bukti yang jauh dari cukup, untuk membuktikan she really cares about me. That we're not just college, or acquaintance. We're friends.. teman, sahabat, yang in syaa Allah saling peduli dan menyayangi karena Allah.

***

Aku kemudian teringat pertemuan terakhir kami, aku masih di Bandung, ia weekend ke Bandung. Kami bertemu, ia menemaniku beli kado, kami duduk bersama, makan bareng, ia.. sedang fase sensitif, kemudian mengalirkan air matanya di hadapanku. Saat itu qadarullah aku lagi fase ga mudah menangis. Ia ga bercerita lebih panjang, ga juga lebih detail. Ia hanya terbata mengucapkan kalimat singkat berikut kata maaf. Saat itu aku cuma bisa diam mendengarkan. Kemudian berusaha meyakinkannya bahwa ia tidak perlu minta maaf atas air yang tertumpah. We need time to cry, especially us, women, like us.

***

Balik ke judul tulisan. Itu pertanyaan andalanku, dan hampir selalu berhasil membuat komunikasi ga jadi awkward

I don't use it often, karena aku jarang komunikasi sama yang sudah jauh di mata dan udah ga banyak interaksi. Tapi setiap kali kupakai pertanyaan itu, aku selalu bersyukur, bersyukur Allah menggerakkan hati dan jemariku untuk bertanya. Karena lewat pertanyaan sederhana itu, aku jadi dapet hikmah baru. 

Kalau kamu, apa pertanyaan andalanmu? Untuk teman yang sudah jarang komunikasi. Bukan sekedar pertanyaan umum seperti sibuk apa. hm. 

Kalau misal, ada teman, yang bertanya padamu, kapan kamu akan mengisi blogmu lagi, apa jawabanmu? Bagaimana reaksimu?

***

Untuk siapapun yang sudah jarang nengokin blog, mari diisi lagi blognya. Terutama ini bulan Ramadhan, mari produktif menulis. Semoga berlipat juga pahalanya, asal niatnya lurus, in syaa Allah, dibalas dengan pahala dariNya. 

Allahua'lam 

Thursday, March 29, 2018

Tentang Tulisan Reaktif

March 29, 2018 0 Comments
Bismillah.


Beberapa postingan belakangan ini merupakan tulisan reaktif. Apa sih bedanya tulisan reaktif dan tulisan non-reaktif? Bedanya di jeda waktu. Tulisan reaktif itu biasanya tulisan spontan yang tergerak atas perasaan sensi ku, sensi di sini ga mesti marah, bisa juga perasaan ga nyaman, ga setuju, ingin bertanya, atau juga ingin menjawab pertanyaan. Rasanya seperti ada yang menggelitik otak dan jemarimu, harus dituang kemana gitu. Dan aku biasanya memilih untuk menuangnya di blog magic of rain, tapi ada saat-saat ingin di publish ke umum, kalau blog magic of rain kan yang baca cuma sendiri hehe.

Tulisan non reaktif itu, biasanya ada jeda waktu. Dari "ide tulisan" yang biasa muncul dari kejadian, atau interaksi dengan buku/manusia, kemudian ada jeda, dimana aku mengolah pengetahuan yang kuketahui, terhadap ide tersebut. Kalau lagi niat banget, biasanya ada proses cari referensi, biar hasil tulisanku bukan sekedar yang aku tahu, tapi juga jadi membuatku belajar hal baru. Di jeda ini juga, akan ada proses pembuatan outline, sebagian aku simpan di kepala, kadang aku buat draftnya saja dulu di sini, atau di tempat lain (di kertas terdekat biasanya).

***

Bicara tentang tulisan reaktif tiba-tiba mengingatkanku akan istilah expressive writing. Istilah yang digunakan untuk menulis yang 'menyembuhkan' luka. Kalau expressiv writing, justru harus ekspresif, dan biasanya tulisan lebih ekspresif kalau reaktif. Karena terbawa perasaan emosional. Berbeda sama tulisan non-reaktif, yang mayoritas menggunakan otak rasional. Ya, bawa perasaan juga sih. Tapi ga se-dominan tulisan reaktif.

***

Orang yang perfeksionis, biasanya jarang menelurkan tulisan reaktif. Semua kata sudah terencana, ejaan harus benar, kalimatnya juga harus beneran efektif. Judul harus yang click bait. Mungkin juga disiapin gambar yang mau disisipkan di tulisan tersebut. hehe. *teringat betapa banyak tulisan di blog ini yang belum dihiasi gambar. hm..  

***

Udah sih, itu aja yang ingin saya tulis mengenai tulisan reaktif. Reaktif atau tidak, tetaplah menulis~ Tapi untuk tulisan reaktif, usahakan jangan ditulis di "jalan raya". Bukan di sosial media, di mana banyak mata yang membaca. Di blog boleh, kalau pengunjung blogmu ga rame-rame banget. Atau di tempat-tempat sepi lainnya.

Sekian, semangat menulis~

Wednesday, February 14, 2018

Grup Komunitas Menulis Online

February 14, 2018 6 Comments
Bismillah.

from unsplash


Berawal dari Serdadu Aksara, lalu juga Enjoy Menulis Club yang kemudian pindah grup dan nama jadi Klub Menulis Kreatif. Dari sana, saya dapat info grup telegram dan facebook baru, yang akan diisi materi kepenulisan oleh 8 mentor. Saya langsung gabung, alhamdulillah banyak manfaat. Materi pertama dari Zulfadhli Ashari tentang Copywriting. Saya ga terlalu tertarik sih, tapi seneng baca materinya, jadi tahu, kalau yang menulis copywriting itu perlu belajar banyak hal tentang produk/jasa yang mau ditawarkan, termasuk menganalisis calon pembeli, buat database, biar tahu karakter tiap pembeli. Panjang deh hehe.

Oh ya, yang mau gabung grup telegram bisa klik link bit.ly/tele8pm. Yang mau dapet broadcast materinya saja, satu arah, bisa klik link t.me/channel8pm.

***

Malam ini, ada materi kedua. Grupnya sebenarnya lumayan sepi, mungkin orang-orang pada sibuk hehe. Pas ditanya, materi apa yang diinginkan, saya memberanikan diri bersuara, ingin materi tips dan serba serbi menulis draft buku pertama (butuh soalnya hehe, jadi belajar biar ga silent reader saja).

Materi kedua diisi oleh Rezky Firmansyah, berjudul "Tips Menulis Buku yang Gue Banget". Saya tidak berniat membuat resume materinya, hehe. Jadi kalau yang penasaran, bisa gabung saja ke grup atau channel telegramnya. Saya cuma ingin menulis beberapa hal yang mengena di hati, dan membuat jemari saya gemas ingin menulis dan promosi di blog ini.

Kapan Mulai Aksi Nyatanya?

Bagian awal materi, udah disentil hehe. Ini kutipannya,
Kalau ada yang bertanya, "Gimana sih cara menulis buku?". Saya enggan menjawab pertanyaan ini berulang-ulang....
...Bukan kenapa-kenapa. Karena kalau Anda masih berkutat di pertanyaan itu, kapan mulai aksi nyatanya?
- Rezky Firmansyah
Tidak cuma di situ, saya juga diingatkan lagi, bahwa draft yang ga maju-maju itu, jawabannya karena saya banyak menulis di tempat lain dan sibuk melakukan hal-hal lain.
Begini. Rumus menulis itu, ya menulis aja. Jangan banyak tanya. Menulis itu pekerjaan tangan dan hati, bukan pekerjaan mulut yang jadinya banyak tanya. Paham ya? - Rezky Firmansyah
Ehm. Perlu emang disindir kaya gitu diriku, biar segera sadar dan kembali pasang sabuk pengaman, tancap gas melanjutkan draft yang diabaikan lama. Berapa pekan coba diabaikan? Hahaha *ketawa pahit. Temennya senyum pahit.

@InsightKajian, Ide Baru, Modifikasi dari Ide Lama @AnakKajian

Ini bagian akhir dari materi. Jadi, di materi dibahas juga tentang kreatif. Kalau kreatif itu ga harus menciptakan hal yang benar-benar baru, kreatif itu kaya membuat suatu yang lama, tapi dengan tambahan yang baru. Bingung ya? Hehe. Tulisan saya memang sering membingungkan. Peace V

Rezky Firmansyah mencontohkan akun instagram @insightkajian yang terinspirasi dari @anakkajian. Kalau akun @anakkajian cuma membagikan jadwal kajian, insightkajian juga berbagi dokumentasi dan insight yang di dapat dari kajian. Insight, bukan cuma notulensi hehe. Dikemas dalam bahasa yang apik dan kekinian. Saya jadi tertarik untuk follow, dan baca beberapa postingannya. Beneran bagus dan kreatif~

***

Udah itu aja hehe. Hari ini, saya dapet hikmah, bahwa memilih bertahan di grup serdadu aksara, enjoy menulis club, klub menulis kreatif, meski cuma menjadi silent reader. akhirnya berbuah manis. Jadi tahu info grup telegram bersama 8 mentor. Lewat grup itu juga, Allah seolah menjawab doaku, yang butuh komunitas menulis online. Allah always answer my prayer, even though I often don't realize His way of answering my prayer. Aku saja yang sering tidak peka.

Alhamdulillah bini'matihi tatimushalihaat..

Allahua'lam.

***

PS :24.8.2018 sekarang grup 8pmnya ga aktif gatau kenapa. pada sibuk mungkin mentor2nya hehe

Wednesday, January 31, 2018

Sabtulis, Gerakan Sabtu Menulis

January 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

Sabtulis


Mungkin banyak yang sudah kenal dengan gerakan 30DWC, alias gerakan menulis 30 hari. Mungkin tidak sekedar tahu, bahkan sudah merasakannya, dan ternyata.... ada yang berhasil, ada yang gugur di tengah jalan, ada yang sampai penghujung tapi banyak bolong. Beberapa pekan kemarin saya menemukan gerakan menulis yang mungkin cocok untuk yang belum bisa nulis setiap hari. Namanya Sabtulis, akronim dari Sabtu Menulis. Jadi, gerakannya menulis satu tulisan setiap pekan, tepatnya di hari sabtu.

Sama seperti 30DWC yang mayoritas tidak mempermasalahkan ditulis dimana, sabtulis juga seperti itu. Kamu bisa menulis di sosmed, maupun blog, medium, wordpress, tumblr, dll. Lalu mengirim tulisannya di bit.ly/kumpulsabtulis. Tulisan yang kamu submit, nantinya akan dipublish di fanpage facebook sabtulis dan instagram sabtulis, serta di campsite sabtulis. Ini yang agak berbeda dengan 30WDC, kalau di tantangan 30 hari menulis, tulisan tersebar tanpa ada compiler atau pengumpul. Dengan adanya fanpage, ig dan line sabtulis, setiap yang ikut gerakan sabtulis bisa saling berkunjung dan blogwalking ke tulisan sabtulis-ers lainnya. Ini yang bikin saya seneng, bisa dapet tempat blogwalking baru dari sabtulis J

Bergabung dengan gerakan Sabtulis caranya juga mudah, tidak ada sistem pendaftaran, tidak ada sistem harus share info ke beberapa grup whatsapp hehehe. Hanya dengan menguatkan tekad, menulis di hari sabtu, dan submit ke bit.ly/kumpulsabtulis. Simple kan?

***

Untuk siapapun yang ingin konsisten menulis, dan butuh pengingat, gerakan Sabtulis mungkin cocok untukmu. Aku yang sekarang belum bisa ikut komunitas menulis offline, dan banyak ikut grup menulis, yang akhirnya terabaikan karena saya bukan tipe yang rajin buka whatsapp akhirnya sadar, kalau yang aku butuhin itu, bukan grup whatsapp, bukan tempat cari materi nulis di whatsapp, tapi sebuah gerakan menulis seperti 30DWC atau Sabtulis. Untuk pengetahuan kepenulisan, teknis, tips, dll, saya lebih cocok cari materi di seminar offline atau dari buku dan blog yang fokus di tema kepenulisan. Beberapa kali ikut kulwap, saya merasakan, saya tidak bisa stay di kulwap dengan fokus, yang ada, notifikasi menumpuk dan harus manjat ke atas di pagi hari-nya membuat materi kulwap tidak terbaca.

Tapi saya masih ga left sih dari grup-grup tersebut, karena kalau lagi luang dan niat, saya kadang baca juga. Dapet share link tulisan blog orang lain, atau malah juga dapet file antologi kaya gini. Silahkan di klik ya, isinya antologi beberapa tulisan mahasiswa UNS tentang depresi, saya belum baca semua sih, baru liat sekilas aja. Keren idenya. Udah di desain pula, tinggal nyebar dan mencari pembaca yang berminat. *Ehm, saya juga belum menyempatkan baca, bantu nyebar dulu aja hehe.

***

Semangat menulis~ mungkin tidak bisa tiap hari, tapi mungkin bisa dicoba tiap pekan sekali. Kamu bisa pilih hari apapun, tanpa ada ikatan, seperti aku yang nulisnya suka-suka tapi diusahakan satu pekan publish. Tapi kalau butuh yang ada ikatan, dan ada pengingat, bisa ikut gerakan Sabtulis.
Menulislah, meski dalam sunyi. Menulislah, meski untuk diri sendiri. -kirei
Allahua'lam.

Thursday, January 18, 2018

Menulis; Pembiasaan, Keseimbangan, dan Kejernihan

January 18, 2018 0 Comments
Bismillah.

#menulis
-Muhasabah Diri-

Untukku, yang masih belajar supaya konsisten menulis, bukan cuma di sini, di zona nyaman ini. Tapi juga di sana, tempat merajut cita, yang kerlipnya sering kalah oleh perasaan negatif di otak dan di dada.

***

Orang yang tidak pernah menulis akan bertanya heran, bagaimana seseorang bisa rutin menulis sebulan sekali? Orang yang biasa menulis sebulan sekali akan bertanya heran, bagaimana seseorang bisa rutin menulis satu pekan sekali? Orang yang biasa menulis sepekan sekali akan bertanya heran, bagaimana seseorang bisa rutin menulis setiap hari, satu tulisan?

Kata kerjanya bisa diganti, mungkin dengan 'olahraga', atau 'membaca quran', atau hal-hal lain. Yang kamu heran orang lain bisa konsisten dan rutin melakukannya.

Tapi bahasanku kali ini tentang menulis.

***

Ada yang berkata, bahwa menulis itu kekasihnya membaca, tidak bisa dipisahkan. Kalau seseorang kesulitan menulis, mungkin ia melupakan atau justru memisahkannya dengan kekasihnya, membaca. Jadi keduanya memang harus diseimbangkan.

balance your writing and and your reading

Hanya jika tekonya berisi, ia bisa menuang air. Begitu pula... kita bisa menulis, ketika otak kita diisi dengan bacaan, atau hidup kita diisi dengan pengalaman, atau pikiran kita diajak untuk sering brainstorming.

Yang terbiasa menulis sebulan sekali, mungkin gelas yang ia pakai besar dan tinggi. Ia baru bisa meminumnya, ketika tekonya penuh, airnya dituang dan memenuhi gelas. Kalau baru setengah terisi, atau masih setengah kosong, ia memilih menulis sebagai draft saja, tidak di publish. Atau tulisan draftnya tidak selesai, hanya setengah jalan. Hanya pokok-pokok pikiran, atau ide utama tulisan, tanpa pelengkap kalimat penjelas.

Perkecil gelasnya, lebih sering isi tekonya. Semoga dengan itu, frekuensimu menulis, menjadi naik. Jangan memaksakan diri naik tingkat terlalu instan dan cepat. Karena kuncinya adalah pembiasaan, maka lakukan perlahan-lahan, tapi konsisten. Baca buku yang tadinya sebulan sekali, naikkan frekuensinya jadi dua pekan sekali, lalu naik jadi satu pekan sekali, lalu naik jadi hari senin dan kamis, lalu naik jadi dua hari sekali, lalu naik jadi setiap hari. Meski cuma satu halaman perhari, tidak apa-apa, yang penting dibiasakan. Menulis juga, kenaikan frekuensinya tidak perlu mencuat bagai naik tebing, pelan-pelan tingkatkan frekuensinya. Buat jadwal, luangkan waktu, laksanakan, jangan banyak alasan. Hehe.

***

Ada faktor lain selain keseimbangan membaca dan menulis. Ada hati yang perlu dijaga kejernihannya, ada otak yang perlu dibersihkan dari debu-debu negatif. Jika yang ingin kau tulis adalah kata-kata yang baik (betterword), maka tempat mengolah katanya juga harus bersih. Yang masuk ke teko mungkin air susu putih, tapi teko yang berdebu, akan menjadikan susunya rusak. Yang masuk ke teko mungkin teh manis, tapi teko yang kotor bertanah akan menjadikan tehnya pahit. Atau mungkin tidak terlihat, tapi saat diminum, susunya tidak sesegar yang diharapkan, tehnya tidak semanis yang dibayangkan.

Seperti halnya kita, yang terus berusaha memperbaiki dan meluruskan niat, agar setiap tulisan tidak hanya memberi manfaat di dunia, tapi juga akhirat kita. Seperti itu juga, kita harus terus berusaha menjaga kejernihan dan kesehatan hati dan otak. Hati... dari segala penyakit hati. Otak... dari segala virus kenegatifan.

Allahua'lam.

Tuesday, January 16, 2018

7 Hal yang Perlu Dilakukan Saat Merasa Ingin Berhenti Menulis

January 16, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Whatever you’re facing right now, don’t give up! Do take a break, do reach out for help, and do change your goals if necessary … but don’t stop writing altogether.
- Aliventures, Seven Things to Do When You Feel Like Giving Up on Writing
Photo by Tim Wright on Unsplash

***

Baca lengkapnya di link ya. Di sini? Ga ada apa-apa. Hehe *back to blogwalking mode.

Sudah lama follow aliventures[dot]com, website yang isinya gizi untuk penulis. Semua tentang menulis, penulis, dll. Berbahasa inggris, orang UK, tapi masih enak kok, ga terlalu berat menurutku. Meski sering baca judul-judul tulisannya di feed blogger, daftar bacaanku, aku jarang berkunjung ke sana. Alesannya klise, link di feed bloggerku, menuju ke proxy, ga langsung ke tulisan. Jadi kalau mau baca tulisan tertentu yang menarik, dua kali kerja, ke website, cari tulisan dengan judul yang sama. Wkwkwk.

Pagi ini entah mengapa, qadarullah niat baca. Jadi aku berkunjung ke aliventures, baca beberapa tulisan di sana, dan nemu yang pas untuk disalin dan jadi tulisan blogwalking. Pas aja, untukku yang beberapa hari ini down, and feel like giving up on writing my first draft. Hehe.

Ada 7 hal, aku salin aja ya poin-poinnya, penjelasannya baca di web sumbernya.

1. Take a break from writing | Istirahat sejenak dari menulis

Sehari, dua hari, seminggu, bahkan gapapa sebulan. Sejenak berhenti menulis. Kuncinya di kata break, berhenti sejenak bukan quit, berhenti selamanya.

2. Create some breathing space to your life | buat ruang 'bernafas' di hidupmu

Mungkin terlalu pekat, terlalu padat, dan ini pengaruh, kamu jadi pengen berhenti nulis. Maksudnya membuat space, atau ruang bernafas, banyak caranya, entah itu keluar dari kesibukan/kepanitiaan, minta bantuan orang lain, dll. Baca di link ya.

3. Look at tangible evidence of past successes | Tengok balik bukti kesuksesan yang dulu

Entah itu karya yang pernah di publish, atau buku, atau cerpen yang menang lomba. Feedback positif, komentar positif, testimoni positif. Atau bisa juga, pencapaian pribadi. Semacam 1000post di blog, atau tulisan atau draft yang pernah dibuat.

4. Put negative feedback in perspective | ubah perspektif terhadap negatif feedback

Kalau dari webnya sih, misal, mungkin aja yang komen negatif, lagi ngalamin bad day, dan tulisanmu jadi kambing hitamnya. Tapi ini jadi suudzon ga sih? hehe. Intinya mah, ubah perspektif, bikin hal yang negatif jadi positif. Atau kalau perlu abaikan aja negatif feedbacknya kalau kita jadi terlalu fokus ke situ.

5. Reconsider your goal | cek ulang target/tujuanmu

Cek lagi tujuan, atau targetmu, sudah rasional kah? Ada yang perlu diubah kah? Atau diganti? Mungkin waktu buat draft tulisan ga bisa sebulan selesai *berdeham nyindir diri sendiri

6. Seek emotional support | cari dukungan emosional
All of us need a friendly ear (or a friendly shoulder to cry on) once in a while. If you’re feeling really down about your writing, find someone you can talk to. It might be your spouse, a good friend, someone at your writing group, or members of an online group or forum.

I know how hard it can be to reach out for help and to tell people you’re struggling – but it can be hugely helpful to share your feelings about writing, and to feel that you’re not alone.
- Ali Luke, Seven Things to Do When You Feel Like Giving Up on Writing
7. Get Practical Assistance | Cari Teman/Mentor Menulis

Terjemahannya ga pas kayanya. Baca poin bahasa inggrisnya aja. Bisa minta tolong ke penulis/editor profesional, atau masuk komunitas menulis, dll.

***

Semangat menulis!

Allahua'lam.

Tuesday, January 9, 2018

Pilih, Urutkan dan Edit

January 09, 2018 0 Comments
Bismillah.

#bersihbersihdraft #selftalk

Mimpi itu cuma akan jadi mimpi kalau sekedar ada di otak kita, penghias tidur kita. Tapi mimpi, akan bisa jadi kenyataan, bisa diraih, kalau kita melakukan kerja, ada usaha.

Untuk yang ingin menerbitkan buku, ya usaha/kerjanya adalah membuat buku. Kalau kata Todd Briston,
Yes, all it takes to write a book is one word and then another word and then maybe 49,998 more of those.
- Todd Briston, dalam tulisannya di Medium berjudul "The Only 222 Words You Need to Win the Day"
dari sini
Glek. Itu perasaanku saat baca kutipan tersebut. Bener kok, tapi... iya satu kata, menjemput kata lain, dan mungkin puluhan ribu kata lain.

Ok, balik ke topik. Untuk itu, kita perlu buat buku. Tahapnya gimana? Wah jangan tanya ke saya, saya kan gatau hehe. *another selftalk

Mungkin ada dua, yang pertama mulai dari awal. Dari kertas kosong, cari topik/tema, buat outline, cari referensi, nulis, cari referensi lain, nulis lagi, editting dll, dst. Yang kedua, menyeleksi, menyortir dan mengedit tulisan. Yang kedua ini, yang sedang aku usahakan, dengan naik turun semangat, *masih jauh dari istiqomah.

***

Ya, dari seribu lebih tulisan di sini, aku harus pilih yang mana yang bisa masuk ke draft calon bukuku. Itu yang pertama, yang kedua, menyortir. Ini artinya bisa mengurutkan, bisa juga mengelompokkan. Jadi dipilih yang mirip-mirip topiknya, atau bisa nyambung. Dan yang terakhir, di edit. Apa yang harus diedit? Banyak.  Salah jawabannya! Yang ditanya kan bukan seberapa yang diedit, tapi apa. Iya maaf

Yang harus diedit itu ada ejaan, trus tata tulis yang baik, seperti bahasa inggris yang harus ditulis dengan huruf miring. Selain itu, aku juga mengedit sebagian isinya, yang mayoritas curhat.

Kalau misal udah digituin, trus gimana bell? Bisa gitu jadi satu buku dengan isi tulisan dan topik beda? Nah.. itu yang sering bikin aku bingung dan nurunin semangat. Aku juga gatau bakal jadi kaya gimana. Apa baiknya aku pilih cara yang pertama? Yang mulai dari selembar kertas kosong? Tapi kok ya, lebih sulit kayanya, lagian sayang juga blog ini udah diisi hampir 10 tahun, tapi sebagian kecil, ya, sedikit yang bermanfaat dan berkualitas ga dimasukkin buku? hehe.

Sementara, gini aja dulu deh. Proses menyortir/mengelompokkan mungkin memang sulit dan membingungkan. Jadi mending fokus di menyeleksi dan mengedit. Pilih yang bagus isi tulisannya, trus edit deh. Dikelompokkin juga bisa, sementara buat dua kelompok/folder. Yang satu non fiksi, satu lagi fiksi. Kalau ada satu tulisan isinya campur gimana? Edit jadiin dua tulisan, gimana? Atau masukin ke salah satunya aja, bagian yang lainnya dihapus.

***

from unsplash

Fine, semangat bekerja lagi ya! Mimpi itu, memang bercahaya kaya bintang. Sometimes, you can smile only by looking at it, or dreaming about it. Tapi kalau kau berhenti di sana, apa bedanya kau dengan orang yang kerjaannya melamun dan berangan-angan kosong? Semangat ya.. Satu hari satu tulisan dulu gapapa, yang penting istiqomah. Toh dari seribu postingan di sini, cuma sebagian kecil saja yang bisa kamu ambil. Jangan kebanyakan mikir, harus ngedit seribu tulisan, ntar kamu jadi patah semangat dulu sebelum memulai. Itu, sikap kaya gitu, wajib dihilangin, must, bukan have to. Understand?

Semangka!

***

PS: Draft 11 September 2017, ga ada yang saya edit, cuma perlu di publish saja. J Semangat~ maaf kalau aneh bacanya, namanya juga selftalk. Nanya sendiri, jawab sendiri, marahin diri sendiri, negur diri sendiri, nyemangatin diri sendiri..

New "Strange" Follower; Dual-Language

January 09, 2018 0 Comments
Bismillah.

#bersihbersihdraft #random



I know it's something which is, so not important to write. But.. yeah. Barusan ada notif di mediumku, aku di-follow oleh akun medium lain. Ini hal biasa? Iya lah biasa. karena ada sistem following yang mirip twitter di medium. Tapi yang bikin aneh adalah, yang nge-follow aku adalah orang luar negri. Maybe I read one of his writing, highlight one of his sentence, or bookmark one of his stories, but why? Penasaran aja, apa ini termasuk strategi biar aku nge-follow balik? Hehe. Kemungkinan besar jawabannya itu sih. It will be strange, if he actually can read my stories, padahal isi tulisan di Medium-ku semuanya berbahasa indonesia. Hehe. Anyway.. harusnya biasa aja ya? Skip aja? Ga usah dibahas.

Tapi gara-gara dia, aku jadi keinget untuk buka medium. Read some more stories there. Baik yang berbahasa indonesia maupun yang berbahasa inggris. Meski banyak juga yang berakhir di bookmark, karena pegel bacanya. Mostly because I don't really interested in the topic, but still got curious. Or because reading a full English article is just.. begitulah. Males mendeskripsikannya, takut jadi keluhan. Padahal manfaat baca artikel di Medium banyak, melatih kemampuan reading-ku, nambah vocabulary juga.

***

Mumpung sedang bahas tentang tulisan berbahasa inggris dan berbahasa indonesia. Ada satu hal yang ingin sekali aku tanyakan, dan sudah ditanyakan ke satu orang, tapi belum dibalas. Mengapa sebuah tulisan yang baik itu harus ditulis dalam satu bahasa? Kalau kita mau buat artikel dengan bahasa dua, indonesia dan inggris, apa kah itu tidak sesuai dan dianggap tidak baku dan tidak formal? Bukankah tergantung target pembacanya kan? Kalau target pembacanya adalah mayoritas orang yang bahasa pertama/keduanya bahasa indonesia, dan bahasa ketiganya bahasa inggris, why can't we make a dual language writing?

bilingual

Walaupun memang sih. Logikanya mah, ga bisa gitu. Ga boleh. Apalagi kalau yang nulis kaya kamu bell.. Satu kalimat, setengahnya bahasa inggris, setengahnya bahasa indonesia. Boleh, kalau isinya teratur, misal bagian bahasa inggrisnya minimal satu kalimat, tidak terpotong. Bahasa indonesia juga gitu.

Beda cerita ya, kalau untuk karya tulis ilmiah, memang bagusnya satu bahasa. Kalau perlu tambahan bahasa inggris ya buat dua versi. Versi bahasa inggris dan versi bahasa indonesia. Ya kan? 

***

Draft ini... jujur membacanya lucu, curhat banget. Tambahan dariku sekarang, menulis dengan satu bahasa, atau dua bahasa itu balik lagi ke target pembacanya. Kalau pembacanya diri sendiri, kamu boleh menggunakan campuran dua, tiga bahkan empat bahasa. Yang penting semuanya kamu mengerti. Karena pembacanya cuma dirimu.

Kalau tulisanmu target pembacanya adalah orang Indonesia, semua usia, maka lebih baik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Supaya tidak mengajari anak-anak muda untuk menggunakan tata bahasa yang kacau. Bahkan kalau perlu, terjemahkan kutipan bahasa inggris yang ingin dijadikan penghias di tulisanmu. 

Mari belajar menulis dengan tata bahasa yang baik dan benar. Untukku terutama.


Wallahua'alam.

Monday, December 11, 2017

Sudah Ada yang Menulis

December 11, 2017 0 Comments
Bismillah.
#menulis

Judul di atas, sudah bisa memberikan gambaran penuh tentang apa yang ingin saya bahas? Ini termasuk writer block, atau kalau ditarik lebih luas, sebenarnya pernyataan semacam ini adalah penghalang seseorang untuk bekerja/melakukan sesuatu.

Kita sering kali dibuat berhenti atau tidak berani memulai karena pertanyaan semacam ini. Misal, kita berniat/hendak menulis tentang pengalaman wisata ke tempat X. Niatnya ingin memberikan informasi, biaya tiket masuk, di dalam sana ada apa saja. Namun pikiran itu, niat itu berhenti, oleh pernyataan bahwa sudah ada yang menulis. Selesai. Ga jadi aksinya.

Saya juga pernah, atau mungkin sering. Jujur, keinginan untuk menulis tentang Maryam, dan pelajaran yang bisa kita petik dari doa Maryam salamun 'alaiha, masih ada. Namun pernah sekali, dua kali terhalang, karena ternyata sudah ada yang membuat subtitle videonya. Pikiran saya mengalir, mungkin lebih baik kalau video saja, tidak perlu saya tulis ulang isinya. Toh, banyak yang lebih menikmati menonton ketimbang membaca. Pikiran semacam itu. Hmhmhm.

Atau tentang hal lain.. Pikiran seolah kalau kita melakukan sesuatu, artinya jadi tidak ada. Seolah cuma mengulang kerja orang lain.

Kalau mau kita lebih jujur, lebih positif.. Harusnya pikiran atau pernyataan semacam itu kita abaikan. Bayangkan berapa orang yang memilih untuk berhenti bermimpi menjadi dokter, hanya karena sudah ada ribuan mahasiswa yang ingin jadi dokter. Aneh kan? Takut untuk memulai. Perasaan takut itu, perasaan ragu itu, harus kita hancurkan.

Meskipun sudah ada yang menulis, kita menulis dengan tema/topik yang sama, tidak menjadikannya tidak berarti. Mungkin informasi yang disajikan saja, tapi pasti tidak persis seperti copy-paste. Ada perbedaan gaya bahasa, ada perbedaan sudut pandang. Saat kita dibuat ragu, karena 'sudah ada yang menulis', mungkin saat itu kita perlu berkaca lagi, apa tujuan kita ingin menulis. Allah menilai suatu perbuatan dari niatnya. Kalau kita berniat membantu orang lain agar mudah dapat info tersebut, maka niat itu akan dibalas tunai oleh Allah. Lepas, dari berapa orang yang merasakan manfaatnya.

Seperti sedekah kita, yang mungkin tidak berarti banyak, jumlahnya sedikit. Tapi setiap sedekah, jika niatnya lurus, akan Allah berikan pahalanya. Karena Allah tidak melihat hasil, Allah melihat proses, Allah tidak melihat besar kecil, Allah melihat keikhlasan, sesuatu yang ghaib, yang bahkan malaikat pun tidak tahu.


Jadi? Semangat menulis! Meski sudah banyak yang menulis~ Luruskan niat, dan mulailah bekerja! Semangat menulis! SemangKA!

Allahua'lam.

Monday, November 6, 2017

12h 5d 3w

November 06, 2017 0 Comments
Bismillah.


Entah sudah berapa kali aku membaca kombinasi angka dan huruf mirip judul tulisan ini. Narasimu di sana, dan time stamp yang tertera di sana. Sudah beberapa kali, narasimu di sana membuatku reaktif untuk menulis juga di sini. Entah ingin menjawab narasimu, atau ingin membahas tema yang sama dengan sudut pandang berbeda, atau ingin curhat tentangku dan bahasan yang mirip, atau ingin mengutip saja narasimu di sana.

Tapi aku akhirnya memilih untuk berhenti. Tidak jadi menuliskannya di sini, karena aku tahu.. yang kau posting di sana bukan konsumsi umum. Ya, aku juga ragu untuk menghubungimu secara privat dan bertanya tentang postingan "12h 5d 3w", karena kamu seringkali lebih memilih menutup diri. Lebih baik aku mengirim doa saja dari jauh kan?

***

Aku sudah membuat draft dengan tema "I don't believe in social media". Mungkin akan aku merge di sini saja bahasannya. Hehe.
"Aku ga percaya sama sosial media. Perdebatan-perdebatan di sana. Simpang siur informasi di sana. Aku tidak percaya itu. Aku juga ga percaya cari kabar teman lewat sosial media." -draftsebelah
Aku senang menyimak kisah sederhana orang-orang, suka menyimak narasi hasil perenungan dan pergulatan pikiran mereka, suka memperhatikan bagaimana mereka berjuang dalam jatuh bangkitnya, suka mengambil hikmah dan mengasah kepekaan hatiku dengan menyimak dan membaca kisah-kisah nyata tersebut.

Namun aku bukan tipe yang suka stalking di sosmed. I don't believe in sosmed. Originalitasnya, isinya, cuma ada dipermukaan. Menurutku, apa yang orang bagikan di sosmed mereka, sekedar satu puzzle kecil dalam hidup mereka, yang sudah di-filter lagi dan lagi. Selain itu, banyak reshare-reshare saja, atau bahas topik kekinian, atau kalimat bijak pendek. Aku tidak hendak menyamakan semua orang di sosial media-nya. Ada yang sosmednya penuh tulisan narasi besar dan bermanfaat, apik dan menarik. Tapi aku sedang cerita kebanyakan sosmed yang aku temukan, yang terhubung di sosmedku.

Jadi aku lebih menikmati baca blog orang-orang, follow jika memang kisahnya menarik untukku meski ia jarang publish. Karena dari sekian banyak blog, sekian banyak tulisan, sekian banyak kisah, pasti ada satu dua yang bisa mengasah kepekaanku, memantik jemariku untuk menenun hikmah. Atau mungkin tidak sampai sedalam itu, cukup bisa untuk membuka mataku lebih lebar dan lebih luas lagi, itu cukup.

***

Terbukti, tulisan "12h 5d 3w"-mu sering mengingatkanku untuk bersyukur saat aku sedang sulit bersyukur. Sering mengingatkanku untuk bersabar saat aku sedang tertarik untuk misuh-misuh. Sering mengingatkanku untuk terus berjuang, saat aku ingin berhenti beristirahat saja. Sering mengingatkanku untuk melembutkan hatiku dan lebih peka sedikit saja, bahwa sapaan renyahmu, senyum tulusmu, doa kecilmu, sebaiknya kau bagikan. Ya, ada banyak hal-hal baik yang bisa aku lakukan, ketimbang mengeluh, menangis, merasa lemah, dan kegiatan-kegiatan yang kulakukan karena efek energi negatifku.

12h, narasi panjangmu, karya jemarimu saat malam larut namun matamu belum bisa terpejam. Terimakasih sudah menulisnya, mempublishnya di sosial media, sosmed yang tidak kau berlakukan sebagai sosmed, melainkan sebagai mikro blogmu.

Izinkan kukirimkan pelukan jauh dari sini. Jarak memang masih ada, dan tidak bisa dilenyapkan. Aku.. juga masih sama, belum bisa menjalin ukhuwah jarak jauh dengan baik. Cuma bisa menulis ini, tidak bisa kirim link, belum bisa japri. Ada banyak excuse, aku juga masih ingin introvert dulu.

Anyway, tetap semangat, berjuang, jatuh dan bangun lagi, bangun lagi, berdiri lagi, berjalan lagi, berlari lagi. Semoga setiap luka, setiap kesedihan, setiap perasaan tidak nyaman itu, menjadi penggugur dosamu. Semoga hidupmu dinaungi keberkahan dari-Nya.

Dariku, yang cuma bisa menulis ini. Kirei

Wednesday, November 1, 2017

Mau?

November 01, 2017 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Alhamdulillah bisa teringat untuk menulis blogwalking lagi. Blogwalking kali ini, sebenarnya bacanya sudah lama, tapi baru menyempatkan menulis. Sebuah motivasi bagi siapapun yang ingin jadi penulis, atau sudah jadi penulis.

***


Sinta Yudisia, bertanya melalui tulisan dalam blognya, "Maukah Kamu Menjadi Penulis?". Pertanyaan ini, rasanya ingin kujawab dengan dalam judul tulisan ini. Tapi akhirnya jawabanku adalah pertanyaan juga. Mau? Hehe. Maksudnya bertanya pada diri sendiri, benarkah mau? Sekedar mau? Mana usahanya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kutujukan pada diriku sendiri.
Penulis adalah pekerjaan lepas yang benar-benar ‘lepas’ : hanya orang-orang yang benar-benar niat jadi penulis, akan menjalani profesi sebagai penulis dengan segala lika likunya.
- Sinta Yudisia, di pembuka tulisannya yang berjudul Maukah Kamu Menjadi Penulis?
Mba Sinta kemudian memaparkan beberapa alasan mengapa ada yang memilih menjadi penulis, dan mengapa ada juga yang akhirnya tidak sanggup terus berjalan di jalan menulis. Dari segi materi misalnya, betapa orang akhirnya memilih mundur sebelum 'berperang'. Mba Sinta juga menjelaskan tentang salah satu hal unik yang selalu ia temukan dari diri seorang penulis, personal growth.
Satu dua orang berhasil meraih impiannya lewat jalur menulis dan hidup cukup dari hasil menulis buku. Sebagian besar, harus bekerja keras sebagai penulis untuk dapat hidup layaknya orang ‘normal’. Tetapi, mereka terlihat sangat bahagia dan bangga dengan pekerjaannya. Mereka merasa menemukan jatidiri sejati sebagai seorang penulis. Mereka merasa, bahwa dengan menulis inilah banyak hal dalam diri mereka berkembang. Salah satu aspek psychological well being adalah personal growth. Menjadi penulis, mengharuskan seseorang belajar dan terus belajar. Rupanya, ini membuat teman-teman penulis saya yang laki-laki gemar melahap buku dan tulisan apapun. Kebiasaan membaca ini membuat mereka lebih bijak, fleksibel, dan mampu mencermati banyak hal dalam hidup dengan filosofi yang indah bermakna. Teman-teman penulis saya terus ‘tumbuh’.
- Sinta Yudisia, masih dalam tulisan Maukah Kamu Menjadi Penulis?
Beberapa personal growth yang disebutkan adalah tentang kesabaran, dan juga kemampuan untuk peka dan mengamati orang lain.

Setelah menunjukkan hal istimewa yang bisa di dapatkan seseorang yang mau menempuh jalan menulis, Mba Sinta juga menunjukkan beberapa hal buruk yang terjadi pada penulis. Seolah ingin menunjukkan, bahwa jalan menulis tidak akan mulus-mulus saja, jadi jika ingin dan mau jadi penulis, siapkan bekalmu dan berjalanlah di jalan menulis.

Ada lima poin yang disebutkan oleh Mba Sinta, silahkan di cek lengkapnya di blog-nya beliau ya J. Saya cuma ingin mengutip saja yang pertama, tentang perjalanan panjang, yang mungkin seumur hidup.

Hanya orang-orang bermental baja, punya lengan dan jari jemari otot kawat-besi yang bisa kuat belaja rmenulis, mengetik, ditolak, diedit, ketik ulang, edit lagi, direvisi dan seterusnya.
....
Pelatihan, workshop, camp atau apapun namanya hanya dapat memantik keinginan untuk menulis. Selebihnya, penulis harus punya jiwa baja untuk terus berjuang mengembangkan diri –personal growth hingga ia mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar untuk mampu mengubah dunia : lewat mengubah dirinya terlebih dahulu.
- Sinta Yudisia, tentang perjalanan panjang menulis
***

Terakhir, untukku. Sebenarnya aku masih belum ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Masih naik turun rasanya keinginan untuk menyimpan tulisan dan berhenti di sini saja (menulis di blog saja), atau memberanikan diri ke zona tidak nyaman, entah itu lewat buku, atau mengirimkan tulisan ke media. Masih perlu belajar menulis~ sembari mengembangkan diri~ Semoga suatu saat mencapai titik kesabaran yang dibutuhkan dan titik kekuatan yang paling besar hehe. Dengan izin Allah tentunya. ^^

Semangat! Menulis! *tiba-tiba ingat sebuah fanpage dengan hastag #MenulisKarenaAllah

Bismillah.

Ingat juga kutipan dari Ustadz Fauzil Adhim.

Awalnya dari niat, kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu -M. Fauzil Adhim
Semoga Allah bangkitkan kebaikan dan kekuatan, melalui setiap kata yang mengalir dari ujung jari kita. Sungguh sebuah buku dapat mengubah jiwa manusia dan nasib dunia.. -M. Fauzil Adhim

Semangat menulis^^ Keep yourself growing better and better~

Allahua'lam.