Follow Me

Monday, January 26, 2026

Lost Motivation to Live or in Life?

January 26, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksi

 

"I always thought that I am kind of person who don't care about what other people are saying. But sometimes, there is a particular sentence that stuck to your mind, at it linger too long, waiting to be chewed and digested. As if even if I don't care, some words are just stucked there, and I try to bury it deep. But on some night, I wake up and think of that particular sentence.

 

Someone judge me, and sentenced me, as a person who lost motivation to live, but do I? At first I just want to laugh it, like a sarcastic laugh. What did you know about me? Only after meeting once, yet you sent that bullet straight. Not enough, you put the salt on the wound, saying I haven't been move on on life, as if I was still stuck with my past.

 

Normally, I would just shrug off that kind of comment, and forget. But maybe because I was emotional at that time, those sentence remain on my hidden drawer. And on the night like this, I open it again, trying to do whatever I need to do. I need to chew and digest it, and maybe spit it out, or chose to just swallow it. If it is a lie, I should just throw it far away from life. But if it is the truth, then I must swallow that bitter truth and choose to face it then move forward."

 

***

 

Dibacanya tulisan itu perlahan, tapi fokusnya bukan pada isinya. Lebih pada koreksi grammar. Satu, dua, dan beberapa koreksi ia lakukan. Setelah selesai, ia membaca ulang, kebiasaan mereview ulang apa yang sudah ia koreksi.

 

Dikirimnya dua paragraf itu yang sudah dikoreksi itu. Ia tambahkan PS di bawahnya,

 

"In a world where AI can help you check and correct your grammar, why do you ask me to do it? Is there anything else you want me to read? I'm all ears, or eyes, since I'm not literally listening to you"

 

Tak lama menunggu, beberapa kalimat ia kirim.  

  

"I don't lost motivation to live. I just don't have any ambition like the young me had.

I don't stuck on my past. I just wandering cause my goals aren't clear, or it is clear and I am too lazy to fight it.

But some say nobody is lazy, they're just lacking motivation. So does that mean it is true that I lost motivation in life?"

 

Penyakit grammar police, membuat ia gatal ingin memperbaiki kalimatnya. Tapi yang pengirim minta bukan koreksi. Kali ini yang dibutuhkannya adalah pendengar pembaca yang baik, yang membaca dengan empati. Bukan membaca untuk berkomentar. Tapi membaca untuk mengerti, kemudian mengambil aksi yang barangkali bisa membuat pengirim pesan tersebut merasa dimengerti.

 

Tapi sebagai sosok yang tidak terlalu pandai berempati, akhirnya ia memilih untuk jujur saja.

 

"Lost motivation to live" and "Lost motivation in life" hold two different meaning. This time you use both of them. Can you just explain it in our native language instead? Perhaps, that would make you feel better. Cause honestly, I am afraid of giving a wrong response to you, and lost the chance to become a good listener.

 

Jujur, bahwa ia tidak mengerti maksud dari frase yang terlihat menakutkan, entah dirinya yang parno, atau overthinking. Jujur bahwa ia takut salah memberi respon, lalu pintu komunikasi tersebut tertutup lagi. Seperti beberapa tahun yang lalu, saat pengirim memilih untuk menghilang dan memutus komunikasi.

 

Ia menunggu balasan dengan sabar, terlihat bahwa sosok yang di sana sedang mengetik. Memperhatikan hilang munculnya notifikasi mengetik membuat dia membayangkan sosok pengirim, sudah lama mereka tidak bertemu muka.

 

***

 

Sepekan berlalu sejak pertanyaannya tentang perbedaan "lost motivation in life" dan "lost motivation to live". Alih-alih mendapat penjelasan yang lebih terang, yang ia dapatkan justru penolakan halus. Padahal pintunya sudah hampir terbuka, mungkin responnya salah, sehingga bukannya mempersilahkannya masuk, ia justru meminta maaf kemudian menutup kembali pintunya. Membuat ia terpaku di depan pintu itu sendiri.

 

"Next time, maybe, I'll tell you more... Makasih ya udah bantu benerin grammarnya." 

Sunday, January 18, 2026

Hikmah iPusnas Error di Awal Tahun 2026

January 18, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Ada yang pengguna iPusnas? Bagaimana perasaanmu saat ini? Bagaimana kebiasaan membacamu di awal tahun? Ada yang masih tiap hari cek iPusnas, berharap aplikasi/webnya sudah gak error? Atau kamu seperti aku? Bukan cek iPusnas, tapi cek twitter, biar tahu apakah ipusnas sudah bisa dipakai.

 

***

 

31 Januari 2025 yang lalu, aku masih membuka iPusnas, entah memang masih bisa dipakai, atau karena pake mode offline dan aku membaca buku-buku yang kupinjam dan sudah aku download versi offline-nya. Yang jelas, semua aman tgl 31 Januari.

 

Tahun berganti, dan selama 6 hari, aku tidak membaca >< Jangan tanya kenapa. Sederhananya karena memang belum termotivasi untuk membaca saja. Dan jujur, begitulah kondisiku dengan membaca, naik turun motivasinya, tapi minimal sih biasanya sepekan sekali aku usahain baca dan share kutipan di grup wa yang support habit bacaku. The name of the group is "Baca Tiap Hari", it is a goal i wish to achieve.

 

Enam hari gak baca itu, aku cuma kepikiran kapan harus rekap dan apresiasi laporan baca member grup. Juga sibuk dengan pikiran sendiri, yang merasa harusnya sih nulis di blog dan melakukan proses eval tahunan pada diri. Bikin resolusi tahunan kek, dll, dst. Overthinking hehe.

 

7 Januari, aku cek ipusnas, baik aplikasi ataupun web, gak bisa dibuka. Dan yang bikin aneh, buku-buku antrianku, tiba-tiba ada available book-nya. Padahal biasanya kan selalu 0, saking banyaknya yang minat baca buku itu. Saat itulah aku sadar, ini mah errornya bukan hanya di aku. Dan voila, pas aku cek twitter, beneran dong, katanya memang ada proses perbaikan di iPusnas, awalnya katanya cuma sampai tgl 8. Aku tersenyum, lumayan cuma nunggu 1 hari, dalam hatiku, untung aku baru nyadar pas tgl 7.

 


Tapi ternyata, apa kabar iPusnas hari ini?? Jeng jeng... ya sudahlah kita terima saja fakta bahwa awal tahun ini memang belum bisa melanjutkan baca buku-buku yang ada di iPusnas, mari fokus merajut hikmahnya saja!

 

***

 

Mohon maaf atas story telling POV yang terlalu panjang. Langsung aja ya ke hikmah!

 

1. Buku-buku fisik yang kita beli jadi terbaca!

 

Aku yakin pengguna iPusnas pasti setidaknya punya satu buku fisik yang belum selesai dibaca. Entah buku beli di bazaar buku akhir tahun 2025. Atau buku yang kau sendiri lupa tahun berapa dulu belinya. Karena iPusnas lagi error, manfaatin momen ini untuk baca buku fisik. Barangkali ini bentuk latihan buat kita supaya baca buku, sekaligus puasa screen.

 

2. New Year, New Book!

 

Bukan, maksudku, bukan baru dalam artian beli baru. Tapi lebih ke bacaan baru! Sejak iPusnas error, otomatis tanpa sadar, bacaan kita jadi berbeda dari list yang ada di histori baca iPusnas. Karena buku yang aku pinjam di iPusnas seringkali adalah buku yang gak aku miliki. Pun saat aku cari alternatif lain dari iPusnas, aplikasi perpusda, entah itu skala provinsi atau kabupaten/kota. Buku yang tersedia tidak selengkap di iPusnas, dan berbeda isinya. Jadi deh, tahun baru ini, bukannya menyelesaikan buku yang kubaca tahun kemarin, aku jadi baca buku baru. Perhaps, Allah wants us to read a new topic, see a new perspective.

 


 

3. Jeda Membaca untuk Melanjutkannya dengan Menulis

 

Meski ada ribuan cara dan jalan lain agar kita tetap baca terlepas dari fakta iPusnas masih error, adakah yang sepertiku, mengira ini sebagai pertanda kita untuk sesaat jeda membaca dan melanjutkannya dengan menulis? Dari sekian buku dan bacaan tahun lalu, informasi, perspektif baru, trik dan tips, emosi dan empati dari kisah fiksi, semua itu, merajuk pada kita untuk dirajut. Untuk dicerna dan kemudian ditelurkan dalam sebuah tulisan. Membaca saja tidak cukup untuk otak kita. Kita butuh untuk menghubungkan dan mengkoneksikan apa yang sudah kita baca dan pelajari, agar informasi tersebut tidak cuma tertumpuk tapi menjadi sebuah "ramuan" dan ilmu yang berguna di kehidupan kita.

 

Jadi, apakah kamu berminat menuliskan sedikit insight dari buku-buku yang kamu baca tahun lalu?

 

***

 

Sekian. Cuma tiga. Tapi semoga ini cukup, untukku yang motivasi nulisnya lagi turun hehe.  Aku takut terlalu panjang mencari hikmah, tapi poin ketiga-nya gak dilakukan hehe. It's been so long since I write about what I read. Kecuali buku-buku lama yang kubaca, karena tuntutan serial tulisan #menjadi arketipe yang baru sampai no 36, artinya masih 30 lagi menanti ditulis dan dicari insightnya. Karena toh untuk kutipannya kan sudah ada dan tercatat di telegram sejak 2022 lalu. hiks. Jadi sedih plus malu, selama itu aku memendam bahan tulisan yang harusnya bisa satu-satu aku kerjakan dan publish di sini.

 

Anyway. it's a new year. Mari teruskan kebiasaan membaca di tahun ini. Jika pun ada penghalang, seperti iPusnas yang masih error, mari jangan terpaku di satu penghalang itu. Ada banyak jalan lain, pun ada banyak hikmah dari satu batu kerikil yang membuatmu terpaku saat berjalan berusaha membangun habit membaca.

 

Tetap semangat membaca! Tidak apa sedikit, tidak apa pelan. Read at your own pace. Mulai dari membaca buku yang kau sukai, lalu buku dengan topik yang kau butuh untuk tahu tentang itu. Jangan fomo dalam membaca ya, boleh tentunya baca buku yang viral, yang lagi best selling, tapi jangan sekedar mengikuti trend.

 

Katanya sekian Bell? Kok nambah 2 paragraf hehe. Kali ini beneran penutup. Bye~ Hope we're all have a good year to go. Tahun kita terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi, hari ke hari. Semoga Allah memudahkan rencana dan urusan kita. Semoga Allah mengabulkan harapan dan doa-doa kita. Aamiin.

 

Wallahua'lam.

Monday, January 12, 2026

Invisible Blade Inside Our Mind

January 12, 2026 0 Comments
Bismillah.

 

#fiksi 

 

"Ah, hpku tertinggal," ucap O menepuk punggung Tama yang sedang mengendarai motor. Yang ditepuk bukannya berbalik arah, ia justru menjawab rasa enggannya dan menyalahkan O. Ia sudah agak terlambat dari janji, udah syukur dia aku tebengin.

 

"Hapeku ketinggalan karena tadi nyari uang receh buat parkir, lagian ini kan belum jauh," ucap O protes, berharap Tama masih mau berbalik arah. Tapi sebagai penumpang, hanya itu yang bisa ia lakukan. Gak mungkin juga ia minta diturunkan. Lebih baik tanpa hp. O menelan rasa kesalnya, ia memilih diam dan mencoba berdamai dengan diri.


"Tapi nanti pulangnya bisa bareng kan?" tanyan O dengan suara lebih lemah.

 

"Ya. Sejalan inih. Tunggu aja di luar. Biasa kan jam 4," jawab Tama melembut, lalu kembali mempercepat laju motornya.

 

***


Sepertinya sudah pukul 4 lebih saat O keluar gerbang. Sore itu berawan tidak cerah tapi bukan mendung gelap seperti mau hujan. Q melihat ke arah parkiran motor yang hanya dua baris, tidak ada motor Tama di situ. O memilih duduk tak jauh dari gerbang, duduk di pembatas tanaman hiasan, kau tau ada sekitar 10 cm yang biasanya dicat berwarna hitam putih. O terbiasa menunggu, untuk orang tidak punya kendaraan sendiri untuk mobilisasi menunggu adalah hal biasa. Entah itu menunggu ojek, bis, KRL bahkan angkot. Tapi tentu beda rasanya menunggu teman dan menunggu angkutan umum. Terlebih ada prasangka dan emosi negatif yang berputar-putar di kepalanya. O masih kesal karena Tama memilih tidak berbalik arah saat tahu hp O tertinggal. Prasangka buruk O mengajaknya bertanya-tanya, apa Tama tadi sudah datang lebih awal, lalu memilih pergi karena O tidak muncul? Atau Tama barangkali lupa akan janjinya, lalu membiarkannya terlantar sendiri di sini, tanpa alat komunikasi apa pun?

 

Prasangka buruk itu ibarat pisau tersembunyi dalam pikiran, jika kita tidak berhati-hati kita akan terus terluka, padahal tidak ada yang melukai. Tak tampak, tapi cukup untuk mengacaukan pola pikir dan perasaan. Belum lagi jika kamu memiliki luka lama, innerchild, atau unfinished bussiness terkait satu dua kejadian yang "mirip", ibarat bomnya sudah ada di kepala, maka pikiran buruk tersebut adalah api kecilnya. Dan bom!

 

Mata O tiba-tiba memanas, kilasan emosi lama dan ingatannya saat dulu sakit dan harus menunggu jemputan, naik turun tangga sebuah bangunan, kemudian diakhiri dengan makian, hanya karena ia mengajak penjemput memenuhi panggilan solat yang berkumandang saat si penjemput baru tiba. Mata O memerah, suasana di luar gerbang memang sepi, di belakang terdengar sayup-sayup obrolan satpam dan tukang parkir, di depan, lalu lintas kendaraan berlalu, tapi yang ditunggu tak kunjung terlihat hidungnya.

 

'Gawat!' batin O, ia segera membuka tas ransel hitamnya, mencari-cari buku catatan dan kertas. Menulis selalu mampu membuatnya mengurai dan meredakan emosi yang kadang tanpa aba-aba melaju naik begitu kencang. Satu dua kalimat. Tapi bukannya meredakan, tapi justru memberi jalan agar emosi negatif dari prasangka dan perasaan yang acak adut tersalur dalam bulir air. Dan tik, satu jatuh ke kertas yang sedang ia coreti, syukurnya tidak mengalir dan meninggalkan jejak. Mungkin karena posisi kepalanya yang menunduk.

 

Segera O menutup buku, lalu kembali sibuk mencari distraksi lain dari ranselnya, kali ini camilan. Ia memang sengaja membawanya, karena setiap selesai berenang, biasanya ia lapar. Cemilan tersebut memang belum disentuh sama sekali, karena setelah bilas tadi ia buru-buru berlari ke gerbang, kaget saat melihat jarum jam panjang sudah melebihi angka 12. Rasa manis biskuit coklat dan gerakan geraham melembutkan biskuit tersebut, sedikit meredakan pikiran dan hatinya, tapi untuk lebih amannya lagi, sengaja ia melepaskan pandangannya ke langit, mencari-cari barangkali ada burung nyasar yang terbang di sore kotanya yang sudah tidak sehijau dulu. Ah, ada satu, melintas cepat, entah spesies apa. Pikirannya teringat sore di kampungnya, saat ada begitu banyak jenis burung yang sering ia lihat. Saat sibuk nostalgia itu, suara klakson motor lembut membuat ia tahu, masa menunggunya sudah selesai.

 

"Tumben lama, ngobrol dulu?" tanya O pada Tama, sembari memberi tanda lewat tangan kanannya agar Tama menunggu O berkemas, memasukkan cemilan ke tas ransel, mengambil tas kresek hitam berisi baju alat mandi dan handuk basah. Dalam hati O sudah menyiapkan jawaban, kalau saja Tama menyadari matanya lebih merah dari biasa, ah, ini tadi kena shampoo. Tapi pertanyaan itu hadir seperti yang ditakutkan O.

 

Tama menunggu O sembari bercerita bahwa tadi ia keasikan hunting dan mencari beri liar di kebun tempat pertemuan pekanannya. Saat O mendekat, ia segera menyerahkan helm, dan sebagai gantinya ia ambil kresek hitam isi pakaian basah.

 

"Kirain lupa kalau aku nebeng pulang bareng," O melepaskan kekhawatirannya lewat kalimat sederhana.

 

"Nggak mungkin lah," tanpa jeda panjang, timpalan Tama cukup membuat O tersenyum. Hilang sudah tadi prasangka buruk yang menutupi pikiran rasionalnya. Sepanjang perjalanan tidak banyak obrolan memang. Tama memilih fokus ke jalan, berkendara lebih cepat, berharap menghindari lampu merah. Dan O sibuk berbincang pada diri dan menyimpulkan ternyata ia, meski sering dan terbiasa menunggu, masih saja bisa kalah oleh pisau tersembunyi dalam kepalanya.

 

 The End.