Follow Me

Sunday, May 17, 2026

Writing Diaries on Bottles

May 17, 2026 0 Comments

Bismillah.


It's been 43 days since I install Bottled App. At first, I only install it cause I'm kinda off on Slowly App. Honestly the first reaction after installing Bottled is... i'm frustated and disappointed. People use this app as dating app, I'm not there for that.

 

So instead expecting a lot from other people, I chose to enjoy the Diary tools there. It is literally just like Stories on Instagram, 24 hours timed, after that, archieved. People still see the archieved. There's a choice whether we'll make our diaries public or seen only by friend.

 

I don't write a long post like in blogs, but I think it's good to archieve what I wrote there in this blog from time to time. So that this blog will not be too dusty ^^

 

***

 April 29th

 

*** 

May 1st

 

 

 "Have you had a sudden trip? Not for vacation. But because of a sad news delivered from your relatives.

How's your feeling on the way to go there?

Does your mind play history of memory with the person who just went away to life after death?

Can you still smile and feel a little bit calm seeing the beautiful sky, the scenery on the way?

Would your fingers try to knit words into an imperfect poetry or sentence like this?

Or you just try to blank your mind with loud melody in your ears?

Or would your lips busy sending every good prayer for every special person in your life? Don't you know safar means a good time to make du'a?"

 

***

 

May 2nd

 


 

Why people go to such length and pretend to be someone else?

Are they still looking for who they are?

Are they afraid of people judgement of who they are?

Are they not aware, that each pretending they do will only make them lost themselves?

 

***

 

I think for now, 3 diaries are enough to be imported here. There's a lot to say about this app, but I think I don't have energy to vent about it. Honestly... I feel like, I still need community or place where I could practice my english or other language, but sometimes it feels like wasting time. But who knows, while interacting with others, we can also do "indirect da'wah".

 

Alhamdulillah from Bottles I met many Indonesian girl whom I get new inspiration and perspective too. And I also met a girl from Bangladesh who loves reading, and I feel good that I know where I could talk to when I need motivation to read. Because of her, I start reading Disease and The Cure by Ibn Qayyim Al Jauziyyah. I read that book one day only a few pages because someone ask me to return a borrowed book. I only start reading it, and probably will read it at my own pace. But let's start from a page!

 


 

 ***

 

That's all. Sorry for the broken english. Dzulhijjah is coming! May Allah gives us barakah in those special days ahead. Aamiin. 


Wallahua'lam.

Saturday, May 16, 2026

Greeting in Dream

May 16, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksi 

 

Angin dari kipas angin menerpa wajah Tita yang sedang terlelap, mulutnya sedikit terbuka, ia berjuang mencari-cari oksigen, bulir keringat dingin membasahi wajahnya, meski jelas kipas anginnya masih berputar sesekali menerpa wajahnya, kemudian ke tubuhnya, lalu kakinya. Meski matanya tertutup, sebagian dirinya sudah bangun, ia harus bangun, terlebih hidungnya tersumbat membuat ia tidak bisa bernafas dengan lega. Sekali lagi angin menerpa wajahnya, membuat ia tidak bisa membuka kelopak matanya. Satu dua detik, lalu anginnya pergi, dalam hatinya Tita mendorong kuat dirinya agar terbangun, ayo BANGUN! SEKARANG!

 

Tita segera duduk saat ia mampu terbangun, memorinya mengajaknya mengingat mimpi yang baru saja mampir sesaat sebelum ia kesulitan bernafas dan akhirnya terbangun. It's not a nightmare. Hanya sebuah sapaan dari orang tak terduga di masa lalunya dalam mimpi. Tapi sapaan anggukan kepala itu, dan responnya dalam mimpi tersebut me-recall memori terkuat interaksi antara dirinya dengan orang di mimpinya tadi. Sayangnya, bukan memori yang membawa emosi positif. 

 

***

 


 

Juicy Life
sometimes it's sour, but also sweet, and that's what makes life delicious

 

Title: "What is the meaning of a dream?" 

"I met my old school friend in dreams, he greeted me, so I greeted him back, called his name as a sign that I remembered him. It's strange, I remember the face was blurry, but I called his name.

The strongest memory of our interaction came to my mind, along with emotion I feel that day. It was Ramadhan, a beautiful Ramadhan day that turns to sour. I remember crying a lot that night, trying to surpress the unfair feeling to judged as the wrong one. It was just a text, but the words turn into a scolding tone, and I feel so small, and part of me want to protest and deny all,,, but I understood his POV, his anger, and my wrong, so even if it's still feel unfair, I just admit that I am wrong, and I apologize.

That feeling afloat again, through a simple greeting in dream. All of a sudden, without any triggering. Today I felt strange, how could a simple greeting in dreams, makes me wonder, what's that dream want to tell me about? Is it my subsconcious? Why now? After all those years?"

 

 ***

 

Tita baru saja hendak memejamkan matanya lagi, tapi suara gagang pintu yang bergerak hendak membuka kamarnya membuat ia segera duduk lagi. Duk, pintunya tak terbuka, terganjal kunci gerendel besi kecil.

 

"Sintia?" tanya Tita, setengah khawatir kalau yang dibalik pintu orang lain. "Sebentar, maaf.. aku kira kamu nginep di kosan temenmu," ucap Tita sembari mendekat ke pintu setelah Sintia meminta maaf karena mendadak pulang tanpa memberi kabar.

 

"Gak bisa tidur di kosan temen, bawaannya pengen ngobrol terus. Mana besok aku full kelas dari jam 9 sampai dzuhur. Kalau gak tidur, bisa-bisa aku kena hukum dosen karena tidur di kelas." Sintia tanpa jeda langsung curcol sembari meletakkan tas laptopnya di meja, melepas jaketnya, kemudian duduk sejenak.

 

"Mana mereka ngobrolnya gosip-gosip receh, aku udah bosen banget dengerinnya, jadi aku buka hp aja, eh kamu update blog! Tahu kamu kebangun karena mimpi, aku buru-buru pamit ke temen2 untuk pulang. Bodo amat jalan kaki malem2, aman lah, toh lewat gang kecil padat penghuni, kalau ada apa-apa tinggal teriak, nanti penjahatnya diamuk massa,"

 

"Na'udzubillah, jangan bilang gitu ih! Ngeri." Tita bergidik membayangkan kalau Sintia tadi berpapasan dengan orang gak bener di jalan. Anehnya, Sintia malah menyengir sembari berbisik pelan.

 

"Btw, siapa sih yang kamu sapa di mimpi? Ceritain detailnya dong..." 

 

 "Gak ada! Udah malem, katanya besok pagi full kelas," tolak Tita sembari menarik selimutnya dan memejamkan mata. Ia pura-pura tidur. Begini ternyata rasanya kalau blog personalnya punya pembaca setia, dan pembaca itu adalah room matenya, dan room mate-nya adalah Sintia, sosok yang kuriositasnya terlalu tinggi.

 

***

 

Tita sedang asik mengaduk-aduk bubur ayam sarapannya, pikirannya masih bertanya-tanya, hikmah apa yang ingin Allah titipkan dari mimpi semalam. Apa ia harus berusaha mengkontak orang itu, hanya sekedar memenuhi egonya untuk meluapkan emosi yang bangkit dari kuburannya setelah beberapa tahun. But isn't it greed? Dragging other people to the past, just to resolve her burried negative emotion? Ia sudah sibuk dengan hidupnya, tak perlu ia menambah drama atas peristiwa yang mungkin ia sudah lupa. Karena memori itu subjektif, bisa jadi, sama seperti orang itu meninggalkan rasa pahit di malam Ramadhannya, begitu pula ia, ia juga bisa jadi melakukan hal yang sama. Bibir tita naik ke atas tipis, tersenyum pahit, masih memandangi bubur ayam yang sudah tidak terlihat aestetik sama sekali. At least I have apologize to him that night. 

 

"Kata ibuku," suara Sintia membuat Tita keluar dari pikirannya dan kembali ke realita. Tita menatap Sintia, menunggu kalimat berikutnya. Sintia selesai melahap satu kerupuk.

 

"Kalau kita mimpiin seseorang, artinya orang itu lagi mengingat dan mikirin kita."

 

"That's never been true in my case," cepat Tita menolak opini itu.

 

"Sebagai orang yang sering mimpi, dan seringkali aku kontak segera orang-orang yang muncul di mimpiku, it's just me and my subconscious mind, it's never about them."

 

"Emang siapa aja yang pernah mampir di mimpimu? Aku pernah gak?" ucap Sintia.

 

Tapi alih-alih menjawab, Tita memilih menyendokkan buburnya, membiarkan Sinta terlihat tidak sabar. Senyumnya mekar, kali ini rasanya tidak pahit. Betapa manis, punya teman yang bisa membuat pikiran berat yang kau kira akan menggayuti harimu, menjadi lebih ringan dan mudah dicerna.

 

"Nanti malem cerita ya.. aku duluan, kelas Dosen Killer, gak boleh telat!", Sintia mengemas tas, dompet dan hpnya cepat. Ia melambaikan tangan lalu jalan bergegas menuju kampus.

 

"Habis makan.. jangan lari..!" ucapan Tita tidak cukup keras untuk didengar Sintia. Tapi cukup untuk membuat pelanggan lain menoleh ke arahnya. Tita seketika kikuk, buru-buru ia melanjutkan makannya. Sambil berharap semua orang juga kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.

 

The End.

 

 

***

 

PS: bukan serial, tapi aku buat fiksi mini dengan karakter yang sama. Yang mau baca fiksi sebelumnya dengan karakter yang sama,

 

Baca juga: Nightmare in Juicy Life