Bismillah.
#fiksi
"Kenapa ya, aku tuh selalu kaya gak nafsu makan gitu?"
"Cacingan mungkin," jawabnya asal, membuat yang bertanya tertawa kecil.
"Bukannya kalau cacingan itu malah jadi cepet laper ya?" ucap yang lain, lalu melanjutkan penjelasan tanpa dasar ilmu, cuma pakai logika kalau cacingan kan nutrisi kita dimakan cacing, jadi lebih cepat lapar.
Percakapan berlanjut panjang, berbelok dan berputar, melompat menjadi topik lain. Yang bertanya pertama kali cuma terdiam memasang wajah seolah dirinya masih mengikuti percakapan, masih menyimak, meskipun sebagian pikirannya seolah memasangkan sayap dan mengajaknya terbang ke dunia lain. Dunia dimana ia biasa bermonolog dengan percakapan yang lebih menarik daripada percakapan yang saat ini mengetuk-ngetuk gendang telinganya.
***
"Kenapa ya, aku tuh selalu kaya gak nafsu makan gitu?"
"Kamu sih, nggak pernah ngerasa kelaperan gak ada makanan.."
Percakapan berakhir. Yang bertanya dibuat kehilangan kata-kata, tapi hanya di lidah. Kepalanya? Kepalanya masih riuh oleh berbagai kalimat. Sebagian dirinya berkata, 'Kan aku bilang juga apa, percuma cari orang yang bisa mengerti atau minimal terbuka untuk diajak berdialog. Mending bercakap panjang dengan tulisan orang-orang yang sudah ditata sedemikian rupa, dibukukan dalam topik tertentu.'
Orang yang seolah menyindirnya, dan menganggap pertanyaannya sebuah keluhan sudah pergi. Kini ia bebas mengekspresikan perasaannya. Ia ber-chih lalu tertawa sinis sendiri. Antara sinis dengan pernyataan menghakimi dari orang itu, atau menertawakan memorinya yang memunculkan ingatan saat badannya bergetar hebat karena sudah hampir 2 hari ia tidak makan dengan layak, hanya air putih dan sedikit snack, yang jauh dari kebutuhan gizi untuk tubuhnya.
***
"There are several possible causes of a loss of appetite. The most common causes are:
- Physical changes to your body.
- Emotional changes to your mental health.
- An underlying health condition.
- A side effect of a medication."
Suara keyboard lembut mengisi ruangan yang sunyi. Semua orang mayoritas tidur, kecuali si penulis yang sedang riset sendiri dan meramu, kira-kira dari sekian penyebab, yang mana yang membuat ia sering merasa tidak nafsu makan. Menulis dan membaca selalu jadi jawaban dan jalan terbaik baginya, saat sebuah hal mengganggu pikirannya lebih lama dari seharusnya. Tapi ia sadar, barangkali ia hanya belum mencari orang-orang yang tepat yang bisa mengobrol dan bertukar pikiran tanpa membuatnya merasa jauh, tidak nyambung atau bahkan dihakimi. Dan untuk menemukan lingkaran orang-orang tersebut, ia yang harus memperbanyak usaha, karena diam dan menyendiri, hanya akan membuatnya sendiri sibuk dengan percakapan monolog yang hampir tidak pernah berhenti.
The End.


No comments:
Post a Comment
ditunggu komentarnya