Follow Me

Monday, September 21, 2026

Medium vs Substack

Bismillah.

 

Mohon maaf, judul hanya click bait hehehe. Tapi aku beneran mau cerita tentang dua platform blog tersebut.

 

Oh ya, ini bukan artikel. Cuma bentuk curahan hati dan cerita saja, kalau yang ke sini karena click bait, dipersilahkan undur diri. V *peace 

 

***

 

Jadi beberapa waktu yang lalu, karena kuriositasku pada tulisan seseorang, aku akhirnya install dan buat akun Substack. Padahal sebenarnya, aku sudah lumayan kenal akun substack karena pernah liat beberapa orang dari grup komunitas menulis share tulisan mereka di substack. Tapi saat itu, aku yang merasa punya akun medium dan tidak terawat, merasa tidak bertanggung jawab kalau buat akun blog lagi di platform lain. Anyway, akunnya dibuat, tapi bukan pakai nama Isabella Kirei, melainkan pakai nama alias yang kubuat untuk Slowly, lalu berlanjut ke Bottle, lalu berlanjut ke HelloTalk. Ya, aku punya nama pena baru, tapi ini nama pena internasional karena cuma dipakai di sosial media internasional dan digunakan untuk berinteraksi dengan orang asing. Adapun Isabella Kirei, nama ini, mari gunakan untuk teman-teman dari Indonesia saja, dan juga orang-orang yang sudah mengenal nama itu sejak aku SMA (?), ya sejak jaman Facebook. Aku lupa dulu friendsterku namanya Isabella Kirei, atau Isabella... nama asliku (does anyone here know?)

 

Beberapa waktu setelahnya, aku buka medium lagi, import tulisan, juga blogwalking. Awalnya draft ini hendak aku isi dengan protes dan keluhan mengenai medium. Karena saat import, aku menemukan kendala ini.

 

 
 
BT banget kan, udah lama gak buka medium tiba-tiba disambut pesan seperti itu. Dan saat ku-klik learn more about how to fix this, katanya browser yang aku pakai gak supported. Tambah kesel kan, aku klik lagi dan cari memang browser yang support apa sih? Dan browser yang aku pakai (firefox) termasuk yang supported. Jadi salahnya apa?! Su'udzanku, karena ada kata Al Aqsa di tulisanku tersebut. Medium. As you know, medium is built by .... (fill the blank by yourself).
 
Masalahnya sudah selesai memang, tulisannya sudah bisa di publish, tapi biarkan aku tetap menulis protesku di sini. Aku tahu, tulisanku di sini dibaca. Entah mesin/orang. But weirdly, some problem that I rant here is solved later. Seperti keluhanku karena gak ada fasilitas find di histori percakapan di meta AI, yang itu membuatku memilih export ke telegram. Guess what? The next thing I knew, that find tools is finally there. Meski tetap saja, agak-agak gak guna. Entah kenapa gak efektif saat dipakai. Ujung-ujungnya balik lagi pilih search di telegram aja hahaha. I'm sorry whatsapp, but I do prefer telegram more than you. lol.
 
Balik ke Medium. Jadi aku blogwalking kan.. dan alhamdulillah jadi sadar lagi. Bahwa di mediumlah aku bisa menemukan banyak tulisan bagus. Claps for every writer there 👏👏. Terutama penulis-penulis Indonesia, yang selalu baik hati menyediakan friend link di awal tulisan mereka, biar baik yang pemakai gratisan maupun yang bayar tetap bisa menikmati karya mereka. Malam itu, selain blogwalking, aku bahkan meninggalkan komentar, such a rare thing I do. My extrovert side dominant that night, and I want to appreciate some writing more than just a clap or a follow.
 
Setelah merasakan kembali nikmatnya blogwalking di medium, aku jadi tergerak untuk mencari tulisan-tulisan bagus juga di substack. Barangkali aku perlu follow akun substack lain. Jadi, aku tanya ke grup kecil "konsisten baca buku" (grup wa, untuk support system membangun kebiasaan baca yang kubuat) dan menemukan dua teman mutual untuk bisa saling follow/subscribe di substack meski kami belum banyak menulis.
 
Oh ya, ini salah satu hal yang unik di substack. Jadi di substack ada follow dan subscribe, tapi aku gak tahu bedanya. Kayanya kalau subscribe masuk ke email kah? Kalau di Medium kan enak tuh, cukup satu klik, follow, nanti muncul pilihan lain, kita mau otomatis masukin notifikasi ke email atau tidak.
 
Selain tentang itu. Yang membuat Substack berbeda dengan Medium adalah, Substack gak cuma berisi tulisan. Ada podcast di sana. Jadi konten yang bisa di up bentuknya bukan cuma tulisan panjang/artikel. Bisa berupa short note (semacam status pendek, bisa upload foto/desain/quote dengan captionnya), bisa berupa artikel, bisa juga audio podcast. Dan juga, substack oke dengan tulisan-tulisan yang AI-Assist. Beda banget sama Medium yang punya aturan ketat mengenai penggunaan AI.
 
Oh ya, Substack juga ada fasilitas chat, yang ini gak dimiliki oleh Medium. Jujur pas awal buat substack aku cuma isi sesuai minatku, lalu subscribe satu akun, trus tahu-tahu aku ternyata gabung di chat (mirip2 channel instagram) suatu topik/tema. Di sana, orang bisa share tulisan terkait tema tersebut. 
 
 
Apalagi ya? Di substack ada fasilitas reblog mirip tumblr/wordpress. Tapi namanya diganti restack. Atau kalau di sosial media mah, kaya share/re-post.
 
Satu lagi. Substack otomatis nerjemahin artikel ke bahasa setting device kita. Ini aku baru banget tahu pagi ini. Jadi kan, aku tukeran alamat substack sama member grup konsisten baca buku. Nah, awalnya aku kira dia nulis pakai bahasa inggris, karena itu yang sekilas kulihat saat pertama kali buka link and follow substacknya. Dan aku kaget, waktu pagi ini buka di browser laptop dan menemukan bahwa ternyata temenku nulis di substack pakai bahasa indonesia. I was just about to believe that substack translated her writing to Indonesian, but then rationally, I know, it would be the opposite.
 
 
***
 
Sekian curcolku tentang medium dan substack. Menulis ini mengingatkanku akan tumblr. My frozen tumblr. poor her. lol. Semoga tiap jejak blog yang kupunya, bukan sekedar sampah digital. Tapi bentuk jejakku, tulisan pikiran dan perasaanku, memoriku, yang semoga gak cuma bermanfaat untuk diri, tapi juga untuk orang lain. Wallahua'lam. 
 

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya