Follow Me

Showing posts with label _strange feeling inside_. Show all posts
Showing posts with label _strange feeling inside_. Show all posts

Wednesday, February 3, 2021

Epilog: Will You Notice Me?

February 03, 2021 0 Comments

Bismillah.

#fiksi


Gia membaca ulang barisan kalimat di layar laptopnya, ia ragu untuk mengunggah tulisan tersebut di blognya.


***


The Reason


Sekitar dua bulan sebuah perasaan aneh mengusik hati dan otak. Aku tenggelam, dan terlalu sibuk untuk merespon perasaan tersebut, sampai sebuah pertanyaan hadir dan membuatku tersadar. Sebelum disibukkan menjawab "apa respon terbaik", "bagaimana caranya", "kapan waktunya", "dimana", aku seharusnya bertanya terlebih dahulu.


"Mengapa aku merasa seperti ini?"


Sejak dulu, aku terbiasa merasa cukup melihat dari jauh, tersenyum dari di tempat yang tersembunyi. Lalu mengapa, kali ini rasanya aku begitu sedih, sekaligus begitu khawatir, hingga dorongan untuk melangkah mendekat dan berhenti bersembunyi menyeruak begitu kuat. Entah berapa kali aku naik turun tangga agar terdistraksi dari perasaan dan pikiran yang mengganggu tersebut.


Aku limpung merespon tiap letikan memori, dan ide-ide liar agar orang tersebut tidak lupa akan eksistensiku. Sampai sebuah pertanyaan hadir dan aku jadi mereka ulang, memetakan darimana datangnya perasaan tersebut. 


The reason why I'm so anxious and want someone to notice me. Alasannya adalah, karena aku berharap ia bukan sekedar satu koordinat dalam garis hidupku. Aku berharap ia adalah himpunaan koordinat. That's why. That's the reason.


***


Sebuah ketukan pintu membuat telunjuk Gia menekan mouse. Klik, tulisan tersebut berpindah folder, dari draft ke published.

Friday, November 6, 2020

Melawan Rasa Rindu

November 06, 2020 0 Comments

Bismillah.




Rasa rindu itu, harusnya bukan dilawan, tapi diterima, dan diobati hehe. Tapi berhubung tema 1m1c bulan ini "melawan", jadi.... mari bahas tentang melawan rasa rindu, meski sedikit.


***


Jika rindu mengusik, dan rasa rindu itu ga bisa diobati, mungkin kita bisa melawannya. Kita berusaha melawannya, sampai kita berhasil membuat ia pergi tanpa meminta penawar. Kita berusaha melawan, agar deraknya kecil dan tidak membesar.


Aku melawan rasa rindu dengan cari mendistraksinya, menyibukkan diri dengan hal lain. Saat fokus kita beralih ke hal lain, maka kita mengajak agar otak kita berhenti memikirkan objek rindu.


Aku melawan rasa rindu dengan mengecilkannya. Bahwa yang kurindukan bukan sosoknya, hanya tulisannya. Bahwa rasa sfi yang mengundang rindu itu, bukan hadir karena sosoknya. Tapi karena aku merasa terhibur membaca tulisannya. Dan menurutku, ini benar-benar berhasil untuk mengurangi volumenya.


Aku melawan rasa rindu dengan berpuasa, menahan jemarin untuk mengetik alamat web yang sudah kuhafal. 


***


Terakhir, jika kita sudah lelah melawan rasa rindu, cobalah untuk menerimanya saja. Jika hujan turun, dan memori memasuki hidungmu bersama petrichor, lantunkan doa dalam hati. Bukan, bukan berdoa "semoga suatu saat bertemu". Tapi doa, semoga harinya, hidupnya dilingkupi keberkahan.


Karena fitrahnya hari yang dilalui manusia, tidak hanya berisi 'kebaikan', bisa jadi ada hal-hal yang kita anggap 'keburukan'. Tapi apalah arti label 'baik' dan 'buruk', jika di dalamnya Allah isi dengan keberkahan-Nya?


Sekian. Semoga tidak ada yang dirundung rindu sampai limbung langkahnya. Semoga rasa rindu, dan rasa-rasa lain yang menghias hidup kita menjadi jalan untuk mendekat padaNya. Karena toh, rindu itu letaknya di hati, dan hati kita di genggam Allah. Jadi kita bisa tenang. Seperti rasa itu tumbuh di hati, seperti itu juga Allah bisa menghilangkannya. Berdoalah, dan rasakan hati kita tetap bisa tenang, meski ada rindu yang tersembunyi di sudut hati.


Allahua'lam.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.




Wednesday, October 21, 2020

You Made It Too Obvious

October 21, 2020 0 Comments

Bismillah.


#fiksi


Ada yang memilih menyembunyikan. Ada yang memilih untuk menunjukkannya terang-terangan. Ada yang pura-pura menyembunyikan, tapi jejaknya begitu terlihat, sehingga mudah ditebak. Ia yang ketiga.


Awalnya aku tidak tahu. Kemudian mulai merasa tahu. Jejak-jejak mulai bermunculan, aku tertarik untuk menelusurinya. Yang ia berikan, terlalu besar untuk disebut hint. Tapi tidak juga bisa disebut kunci jawaban.


"You made it too obvious," ucapku padanya.


"Terlalu kentara, sampai aku tidak bisa berpura-pura untuk tidak tahu."


Ia masih diam dan tersenyum penuh arti. Aku mengangguk pelan, kemudian mundur tiga langkah, sebelum akhirnya berbalik dan pergi.


The End.


Thursday, June 4, 2020

Melepaskan

June 04, 2020 0 Comments
Bismillah.

Jarang-jarang nulis tentang ini. Tapi sementara, tulis dulu saja, publish pun tak mengapa, nanti... bisa dibalikin lagi ke draft.

***

Berawal dari akhir ramadhan, saat aku seharusnya berusaha fokus meraih kemuliaan 10 hari terakhir. Ada rasa yang menelisik di hati, perasaan rindu? Entahlah. Mungkin lebih tepatnya perasaan seolah ada yang hilang, ada yang hendak hilang.

Kemudian Ramadhan berakhir. Rasa rindunya sudah memudar. Berganti dengan perasaan lain. Perasaan biru karena merasa harus melepaskan sesuatu, sesuatu yang sedari awal sebenarnya belum pernah ada di tanganku. Seolah mungkin memang sudah saatnya melepaskannya. Bahwa rasa yang dulu pernah berubah warna berkali-kali, ternyata cuma seperti sfi yang lain.

Aku merasa harus melepaskannya. Karena saat merunut ulang tulisan-tulisan, aku menemukan kejelasan, mana yang fakta, dan mana yang fiksi.

Padahal tidak ada yang berubah. Aku masih tetap sama, di sini, dalam diam dan jarakku. Tapi mengapa rasanya, aku benar-benar harus melepaskannya? Padahal wujudnya tidak berada di tanganku, tapi mengapa aku merasa harus mengirimnya jauh sebelum benar-benar merasakan hadirnya?

Padahal sedari dulu sudah tahu, tapi mengapa sekarang merasa berat?

Ada dua kata, dan ide-ide aneh terkaitnya, tapi aku cuma bisa maju sedikit, untuk kemudian berhenti. Karena aku paham, aku cuma bisa melangkah sampai di sini, bahwa aku tidak akan pernah melalui garis, dan merekatkan jarak yang terbentang. Karena seperti judul tulisan ini, kesimpulan yang kuambil adalah melepaskan, bukan sebaliknya.

Terakhir, saat menulis ini, bukan berarti aku sudah melepaskan. Tulisan ini hanya sebuah bukti, akan perasaan biru dan juga usahaku untuk melepaskan.

***

PS: Aku kira aku akan menuliskannya lebih gamblang, tapi ternyata aku kembali mengabstrak. Maybe because the feeling is originally abstract, like... how can I say goodbye to the things that never been there?

Friday, October 12, 2018

Getting Far Away

October 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi
"I feel like I'm getting far away. From you."
Sebuah kertas hvs merah muda yang terselip di pintu kamar menarik mataku. Kutengok kanan kiri, tidak ada orang, pelan aku berjongkok dan menariknya keluar. Kertas berukuran hvs tersebit terlipat dua, kubuka dan kutemukan kalimat tersebut. Tulisan tangan, agak keriting, namun masih terbaca dengan jelas.

Aku hendak membaca kalimat berikutnya, namun suara langkah dan obrolan dua atau tiga orang teman kosku membuatku menutupnya lipatannya lagi. Aku buru-buru mencari kunci dan membuka pintu kamarku yang terletak persis disebrang pintu kertas merah muda yang kupungut tadi.

Aku masih berdiri dibalik pintu, mendengarkan suara langkah dan berusaha mengenali siapa saja yang lewat. Setelah suasana kembali sepi, aku menghela nafas lega. Pertama, karena tidak ada yang melihatku mengambil kertas tersebut. Dan kedua, karena tidak ada suara Windy. Aku masih punya waktu untuk membaca kalimat berikutnya, sebelum kukembalikan kertas merah muda ini pada yang berhak.

***
"Every time I fall, every chance I lost, every step I miss, take me far far away from you. You're getting better, and I'm getting worse. You take a step closer, but I take step back, twice. So I'm wondering, will we ever get a chance to meet again? I think I just... "
Semua tulisan di sana berbahasa inggris, setiap dijeda titik, tulisannya makin keriting membuatku harus fokus supaya bisa membacanya. Yang paling aneh, akhirnya, akhir kalimatnya yang terpenggal, seolah tidak selesai. Atau sebenarnya kalimat sempurnanya ada di otak si penulis, namun ia tidak mampu atau tidak mau menuliskannya.

Lipatan kertas merah muda itu menghuni kamarku tiga hari, aku selalu lupa memberitahu Windy. Lebih tepatnya, aku takut Windy marah karena aku membaca yang tidak seharusnya kubaca. Sampai suatu hari, aku ke kamar Windy, hendak meminta kertas A4 reuse.

"Ambil aja di kerdus itu," tunjuknya mempersilahkan aku masuk. Ia sedang memakan snack kacang, sembari membaca buku tebal bersampul ungu dengan ilustrasi seorang anak kecil memakai teropong untuk melihat bintang. Aku mengambil beberapa lembar, A4 reuse, kemudian terhenti karena menemukan hvs hijau muda terlipat. Kutengok Windy yang masih fokus membaca, pelan kubuka lipatannya, sekilas kubaca satu kalimat sebelum Windy memergokiku dan aku salah tingkah.

"Windy.. sebenernya, hari Senin kemarin, aku nemu lipatan kertas hvs merah muda terselip di bawah pintu kamarmu... " ucapku jujur, akhirnya. Windy meletakkan bukunya, menghampiriku dan mengambil kertas hijau hvs yang terlipat dua.

"Ada di kamarku, sebentar ya aku ambil," aku keluar kamar Windy, dan segera menuju kamarku, meraih kertas hvs merah muda dan mengambil nafas pelan. Selintas kuingat lagi kalimat di kertas hijau yang kuintip isinya.
"I'll keep my distance, even if I can easily make it disappear."
Aku menyerahkan kertas itu, menunduk. Siap untuk diomelin, berharap Windy tidak memilih diam dan mengusirku keluar.

***

"Jadi ini bukan surat dari siapa gitu buat kamu?" tanyaku heran. Windy tertawa kecil, tangan kanannya menutupi mulutnya, matanya mengecil. Beneran ketawa, bukan pura-pura.

"Kamu kebanyakan nonton atau baca cerita romance Tri," ia tersenyum. Aku masih bengong, tidak menyangka akan begini. Tiga hari itu, aku sibuk membuat skenario kemungkinan-kemungkinan. Pun saat kulihat lipatan hvs hijau, kukira, kertas merah muda itu bukan yang pertama. 

"Kecewa lah, masa kamu ga ngenalin tulisanku sih?" Aku mendengus kesal, memberitahunya bahwa wajar aku tidak tahu tulisan tangannya. Kami bukan teman satu jurusan yang suka saling pinjam catatan. Apalagi di jaman serba ketik, sangat sulit untuk mengenali atau menghafal tulisan tangan seseorang.

"Trus ini surat buat siapa?" tanyaku, membuat Windy salah tingkah. Matanya tidak bisa menatapku, otaknya mungkin sedang berpikir bagaimana mengubah topik. Selagi Windy panik, kuambil hvs hijau yang terlipat dua.

"Pinjam ya," ucapku mengejeknya, kujulurkan lidahku kemudian aku lari ke kamar. Windy mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Aku tertawa puas, baru kemudian membukanya.

"Siapa?" tanyaku. 

***

Kata Windy, surat ini cuma untuk mengeluarkan apa yang ada di otaknya. Tidak bermaksud ditujukan pada siapapun. Tapi bukan Ratri namaku, kalau aku tidak berhasil membuat Windy bersuara. Pertanyaannya aku ganti. Bukan siapa, tapi aku ingin tahu penjelasan tulisan di kertas merah muda yang kubaca tiga hari yang lalu.

"Cuma perasaan inferior aja. Karena ia tampak begitu tinggi, dan aku begitu rendah."

"Kaya bumi dan langit?" tanyaku, 

"Ga dong, enak aja." jawaban Windy membuatku heran. Seolah ia masih punya pride dan tidak mau dikatakan kalah jauh ketimbang sosok yang seharusnya menerima surat tersebut.

"Jangan sering-sering ngebandingin diri sama orang lain, ga baik." nasihatku pada Windy. Aku kini sedikit paham mengapa ia menuliskan kalimat-kalimat itu. Sosok itu mungkin tampak lebih dekat dengan Allah, sedangkan Windy masih tertatih untuk mendekat padaNya, masih sering jatuh dan menjauh lagi denganNya.

"Kakak tingkat?" tanyaku iseng, menggoda Windy. Windy diam terpaku, mungkin itu bisa diartikan ya. Selanjutnya aku yang banyak bicara. Sok bijak, sok dewasa. Untuk hal ini, aku lebih berpengalaman. Aku juga pernah merasakan yang mirip dengan itu.

"Iman itu, ada di hati. Yang tampak tidak selalu sama dengan yang ada di hati. Ketimbang fokus pada rasa minder, mending fokus memperbaiki diri. Ga usah banyak menengok ke arahnya, ga baik."

"Aku juga tahu kok Tri. Makasih udah diingetin."

"Jangan bilang siapa-siapa ya," ucap Windy sebelum akhirnya balik ke kamar. Aku tersenyum tipis. Tangan kananku masih di belakang punggung, memegang hvs hijau yang terlipat dua.

***
I choose to stay far away, not because I'm afraid to get closer. I just don't want you to read me. Though I'm like one little book inside a library. Also.. I think I'm alone. And it's better this way. And there's some.... 
Kali ini, aku menyesal membacanya. Kenapa Windy selalu mengakhiri tulisannya dengan kalimat yang tidak selesai. Kulipat kembali kertasnya, rasa penasaran membuat otakku menebak lanjutan kalimatnya. Mungkin benar kata Windy, aku terlalu banyak membaca dan menonton kisah romance. Menit selanjutnya, aku membuat dua tiga skenario fiksi. Termasuk membayangkan sudut pandang sosok penerima surat, yang tidak kuketahui eksistensinya. 

The End.

Monday, June 4, 2018

Back Then; A Flashback to Past Ramadhan

June 04, 2018 0 Comments
Bismillah.

In syaa Allah ditulis di sini, dipublish, kemudian dibalikin ke draft.

***

menyalin coretan agar tidak hilang
***

18 Ramadhan. Tarawih, witir, doa qunut. Lalu memoriku menayangkan flashback. Back then 15 Ramadhan 2015. Tarawih, witir, doa qunut juga. Aku bertanya-tanya, berapa ramadhan aku lewati dalam gelap? Dalam jatuh bangun iman? Bahkan mungkin sampai Ramadhan ini, aku masih berjuang untuk bisa bangkit. Obatnya pahit. Dan aku terkadang atau seringkali bandel, justru mengkonsumsi racun. Bagaimana mau sembuh? Alhamdulillah. Allah still give me chance to meet this Ramadhan. Ayo bel, semangat!

Back then 15 Ramadhan 1436H. Satu tahun, atau dua tahun setelahnya, aku bermain dengan angan-angan. Hanya karena pertemuan singkat sore hujan saat itu. Dan komentar seorang teman, saat aku ceritakan padanya tentang perasaan yang berbalik hampir 180°, dari benci, tidak suka, biasa saja, kagum, hingga sfi. Temanku berkomentar, "mungkin terhubung dengan doa". Lalu otakku heboh memainkan prasangkanya. Mungkinkah? Pernahkah ia berdoa untuk kebaikanku? Atau ini hanya benang yang aku ada-adakan eksistensinya? Pada akhirnya, aku harus puas dengan sebuah kesimpulan. Aku tidak tahu, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Back then, 15 Ramadhan 2015. It's not my best Ramadhan, maybe even my worst Ramadhan (Allahua'lam). But that night, that particular night, Allah menggerakkan hatiku. Lewatnya aku bisa hadir di masjid itu. Berjamaah dan shalat tarawih-witir di selasar itu. Sembari lirih memohon doa, "Sungguh, aku tidak mau tinggal di jurang dosa nan kelam". Hari ini, 18 Ramadhan, Allah really answers my prayer. Despite my lack power, my lack bravery to climb that ravine, Allah sampaikan aku di Ramadhan tahun ini. Tak terhitung berbagai nikmat yang ia curahkan agar aku bisa sampai di sini. Aku hanya mendekat sedikit, berdoa sedikit dan juga ikhtiar sedikit. But He gave me more than I even deserve. Maka benarlah,... bahwa petunjuk, iman, dan islam adalah harta tak bernilai yang bisa ditukar dengan apapun. Karena tanpa itu semua, mungkin malam itu, aku tidak berdiri dan tidak ikut menengadahkan tangan melangitkan doa.

Alhamdulillah. Alhamdulillahillazi tatimusholihat..

Allahua'lam.

istimewa, aku bahkan ingat sang imam membaca surat ath thur

Wednesday, May 16, 2018

Pertanyaan Andalanku

May 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

Salah satu pertanyaan, atau pernyataan andalanku, kalau udah buntu mau ngobrol apa, sama temen/kakak tingkat yang udah lama tidak berkomunikasi. Daripada berakhir awkward, karena ga ada bahan buat penutup percakapan. Mending, aku tutup dengan pertanyaan tentang blog, dan pernyataan bahwa aku nunggu tulisannya dan ngingetin ia untuk menulis. 


Dulu pernah, sampai teteh tersebut bilang padaku, that I've made her day. Gatau kenapa momen itu, kalimatnya, reaksinya, masih teringat jelas. Aku tuliskan juga di blog ini, bisa baca di sini buat yang penasaran.

Kali ini, seorang teman seangkatan. Berkali-kali kami ingin bertemu tapi belum jodoh. Giliran aku di Bandung, ia di Jakarta. Pas aku ke Jakarta, ia di Jogja. Hehe. Yaudah sih, gapapa. Meski jujur aku rindu ingin bertemu dengannya. Setelah percakapan terasa aneh, dan bingung mau lanjut bahas tema apa, aku akhirnya bertanya padanya. Blognya kapan diisi lagi, nulis lagi dong. Semacam itu, kalimatnya beda dikit, esensinya sama.

"Wah ga nyangka ada yg aware aku gak nge-blog", begitu balasnya. Aku tersenyum membacanya. Dalam hati aku ingin bercerita, kalau setiap orang buat blog, nulis blog, pasti ada pembacanya. Meski mungkin bukan pembaca rutin, orang yang ga sengaja lewat. Ada. Pokoknya ada. Ia kemudian mengungkapkan padaku, ia memang ada rencana untuk isi blog, tapi nanti, setelah ia menyelesaikan suatu urusan di suatu tempat.

Lalu kalimat berikutnya darinya membuatku ingin menuliskan momen tersebut di sini. 
"Dulu pas km ngilang, aku juga suka liat, bella update blog gak, gitu. Haha", ANP
Gak tahu kenapa, baca kalimat itu rasanya ingin meleleh. Mengetahui bahwa ada yang sincerely peduli, dan 'mencari' ku saat aku hilang. Usahanya untuk menengok blogku, mungkin terlihat pasif, karena ia tidak ke kosanku, tidak juga berusaha untuk kontak aku. Tapi bagiku, itu jauh dari kata pasif. Sekedar menengok blogku, peduli, apa ada update atau ga, saat aku 'ngilang'. Menengok blogku saat aku hilang dari peredaran, itu bukti yang jauh dari cukup, untuk membuktikan she really cares about me. That we're not just college, or acquaintance. We're friends.. teman, sahabat, yang in syaa Allah saling peduli dan menyayangi karena Allah.

***

Aku kemudian teringat pertemuan terakhir kami, aku masih di Bandung, ia weekend ke Bandung. Kami bertemu, ia menemaniku beli kado, kami duduk bersama, makan bareng, ia.. sedang fase sensitif, kemudian mengalirkan air matanya di hadapanku. Saat itu qadarullah aku lagi fase ga mudah menangis. Ia ga bercerita lebih panjang, ga juga lebih detail. Ia hanya terbata mengucapkan kalimat singkat berikut kata maaf. Saat itu aku cuma bisa diam mendengarkan. Kemudian berusaha meyakinkannya bahwa ia tidak perlu minta maaf atas air yang tertumpah. We need time to cry, especially us, women, like us.

***

Balik ke judul tulisan. Itu pertanyaan andalanku, dan hampir selalu berhasil membuat komunikasi ga jadi awkward

I don't use it often, karena aku jarang komunikasi sama yang sudah jauh di mata dan udah ga banyak interaksi. Tapi setiap kali kupakai pertanyaan itu, aku selalu bersyukur, bersyukur Allah menggerakkan hati dan jemariku untuk bertanya. Karena lewat pertanyaan sederhana itu, aku jadi dapet hikmah baru. 

Kalau kamu, apa pertanyaan andalanmu? Untuk teman yang sudah jarang komunikasi. Bukan sekedar pertanyaan umum seperti sibuk apa. hm. 

Kalau misal, ada teman, yang bertanya padamu, kapan kamu akan mengisi blogmu lagi, apa jawabanmu? Bagaimana reaksimu?

***

Untuk siapapun yang sudah jarang nengokin blog, mari diisi lagi blognya. Terutama ini bulan Ramadhan, mari produktif menulis. Semoga berlipat juga pahalanya, asal niatnya lurus, in syaa Allah, dibalas dengan pahala dariNya. 

Allahua'lam 

Wednesday, November 15, 2017

Strange Feeling Inside

November 15, 2017 0 Comments
Bismillah.

Ada satu hal, yang muncul dan menghilang saja secara alami. Hadir dan tiba-tiba mengisi hatimu, kemudian suatu ketika hilang seolah tak pernah ada. Beberapa menyebutnya vmj, (virus merah jambu), rasa tertarik alami antara perempuan dan laki-laki. Aku menyebutnya sfi (strange feeling inside), karena rasanya aneh aja. That's it.

Sebenarnya, aku menghindari menulis tentang ini. Takut ada yang salah menerka, salah menangkap. Takut ujung-ujungnya, aku yang salah. Tidak seharusnya aku menulis ini. Tapi hari ini... entah mengapa aku ingin menuliskannya. Tentang itu.

***

Tidak ada yang salah selama...

Hal pertama yang aku temukan tentang rasa itu, adalah... sebenarnya tidak ada yang salah, ketika tiba-tiba rasa itu muncul dan tumbuh di sela-sela hati kita. Fitrah. Tidak ada yang salah, selama tidak ada aksi. Yang membuat sfi berubah jadi vmj adalah ketika ada aksi yang diambil. Bentuknya macam-macam, dari sekedar stalking/kepo, atau saling kontak, entah itu untuk hal-hal 'penting', maupun tidak penting, sampai perlahan.. satu demi satu pintu mendekat ke zina.

Jadi, saat kau mulai menyadari, bahwa ternyata rasa itu ada untuk orang tertentu. Yang perlu kamu lakukan hanya satu, mengabaikannya. Tidak menyiraminya apalagi memupuknya. Kau cuma perlu membiarkannya tumbuh secara alami, mekar, kemudian layu dan menghilang dengan sendirinya.

Allah menitipkan rasa itu karena...

Hal kedua, ini baru aku petik ketika seorang teman bertanya padaku. Tiba-tiba saja terlintas hikmah ini. Bahwa selain tidak ada yang salah, sebenarnya, bersama tumbuh dan gersangnya sfi, Allah juga menitipkan ibrah dan hikmah kepadamu.

Orang-orang tertentu, yang sfi ini tumbuh untuknya, mungkin bukan jodoh kita, mungkin jodoh orang lain. Tapi ketika Allah menumbuhkan rasa kagum, rasa suka, dan perasaan aneh lainnya... pasti ada hal yang Allah titipkan juga bersamanya. Bisa jadi, lewat seseorang itu, Allah titipkan hidayah supaya kita kembali padaNya, belajar lagi untuk mengenalNya, Zat yang menciptakan cinta, yang memberikan cinta yang hakiki. Bisa jadi, lewat seseorang itu, Allah ingin mengajarkan pada kita, bagaimana seharusnya interaksi antara non-mahram, bagaimana yang seimbang, yang tidak terlalu lunak, yang menjadi bentuk penjagaan izzah dan iffah kita. Bisa jadi, lewat seseorang itu, Allah ingin mengajarkan pada kita, supaya lebih banyak mengingatNya, sakit hati mengharap pada manusia, membuat kita belajar bahwa harapan harus selalu disandarkan kepada Allah, yang tak pernah ingkar janji, yang mencintai kita meski diri kita hina dina dan tidak pantas dicintai.

Perasaan minder itu...

Ini juga, kupetik karena pernyataan seorang teman, sembari memetiknya, aku sembari berkaca tentang diri, dan perasaan minder itu.

Sfi, terkadang juga mengundang perasaan lain, salah satunya rasa minder. Mungkin pernah salah satu dari kita bertanya-tanya, tentang diri yang tidak pantas, jauh dibawah seseorang itu. Menurutku, perasaan minder ini natural hehe, karena kita hanya melihat sisi baik orang tersebut, sedangkan kita, mengetahui seluk beluk diri sendiri, termasuk fakta yang buruk-buruk tentang diri sendiri.

Tapi satu hal yang sering kita lupa. Kenyataannya, kita tidak tahu, ya tidak tahu sama sekali. Dan minder ini, penyebabnya adalah ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita mungkin lupa, bahwa Allah melarang kita untuk melakukannya. Allah tidak pernah, tidak akan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Rasa minder itu, harus berusaha kita hilangkan, tidak mudah memang, terutama kalau kamu perempuan. Tapi kita bisa belajar kan, melangkah sedikit demi sedikit.

Karena.. kalau kau biarkan rasa minder itu menetap, ada yang siap membisikkanmu was-was, membuatmu sedikit demi sedikit lupa akan nikmat dariNya. Kita menjadi tidak bersyukur, dan tidak bersyukur ini efeknya bisa panjang, mempengaruhi ibadahmu, dan hari-harimu. Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.

***


Tiga itu saja sih, yang ingin aku tuliskan tentang sfi. Ada yang tahu istilah yang lebih pas? Yang lebih umum? Yang mungkin jadi keyword yang orang pilih?

Bye~ Semoga bermanfaat.

Allahua'lam.

Monday, May 4, 2015

"Gatal" untuk Berkomentar

May 04, 2015 0 Comments

-Muhasabah Diri, SensiMe-

Bismillah.

http://assets.kompasiana.com/statics/files/1417255040435110281.png?t=o&v=300
Sebutlah diri membaca status saudarinya di jejaring sosial "garis" haha, ada 2 komen. Tap, lalu muncul lah dua nama, nama pemilik status (akhwat) dan nama komentator (ikhwan). Dan percakapan bathin pun terjadi pada si silent reader.

A : "Kenapa sih ikhwan kegatelan banget untuk komentar di status akhawat?"

A' : "Iya, kaya kamu yang gatel untuk berkomentar kalau liat ikhwan komen di status akhwat"

A : (tertawa) "Iya juga. Tapi beneran deh getet* kalau liat yang kaya gitu. Pengennya teriak, PENTING YA KOMEN KAYA GITU??"

Monday, September 1, 2014

Satu Bulan Lebih Vacum Blogging

September 01, 2014 0 Comments



 taken from here

Bismillah. Satu bulan lebih terhitung sejak tanggal 10 Juli 2014. Terhitung  lima puluh dua hari. Super sekali!


Vacum menulis adalah hal yang wajar ketika menulis sekedar mengisi waktu luang. Adalah hal yang wajar, ketika menulis belum menjadi kebutuhan kita. Namun saat hal itu sebaliknya, bagaimana rasanya vacum menulis bagi ia yang terbiasa setiap hari merangkai kata? Bagaimana rasanya, saat kebutuhan kita untuk menulis, tidak bisa kita penuhi. Haus seperti halnya kita tidak memenuhi kebutuhan air. Lemas seperti halnya kita tidak memenuhi kebutuhan makan diri kita.

Pertanyaan selanjutnya, yang manakah diri?

Monday, July 7, 2014

Tentang Jodoh

July 07, 2014 0 Comments

-Opini-

Bismillah..

Karena kita tidak tahu kapan ia hadir. Yang kita tahu, Allah telah menuliskannya di sebuah buku. Namun kita belum tahu siapa dia, dan bagaimana pertemuan kita dengannya nanti.

Saturday, June 14, 2014

Akhir Semester Ini

June 14, 2014 0 Comments
lupa ambil dimana, kayanya di facebook

#fiksiku

Bismillah.

Waktu berjalan atau berlari, yang jelas ia tidak pernah diam. Tak terasa, akhir semester ini telah kutemui. Tiga pekan yang lalu kami bersua, saling menatap, namun tak satu kata pun terucap. Sama seperti semester - semester sebelumnya. Ia hanya hadir sekali dalam satu semester, ya, dipenghujung.

Aku akhirnya mengalah, ku sapa ia, "Hai!". Ia hanya membalas dengan senyum. Aku berbalik tersenyum.

"Can we talk something?"

ia mengangguk.

Friday, May 9, 2014

Evaluasi Asrama Juli - Desember 2013

May 09, 2014 0 Comments

Bismillah..
Tuliskan kesan dan pesan selama tinggal di asrama :

Kata tak pernah mampu mewakili, sekedar makna bahagia yang dilukis selama aku di asrama

Tak pernah mampu mewakili, sekedar makna ukhuwah, yang terjalin begitu indah di sini.

Tak pernah mampu mewakili, perasaan yang selalu terdesir di sini.. Asrama begitu “wow” dengan segala yang di dalamnya. Hingga terkadang diri berpikir, masih pantaskah aku di sini?

Tak juga mampu mewakili, perasaan tak bernama di sini. Yang membuatku berjuang untuk tetap di sini. Dengan segala keterbatasanku.

Kata memang tak akan mampu, tapi mereka lebih dimengerti. Ketimbang diam dan heningku, saat makna berebut meminta segera dipeluk dan diekspresikan.
***


Ku tulis di power point evaluasi Asrama Salman Juli-Desember 2013 yang lalu.

Semester ini? Akan dalam bentuk apa evaluasi-nya? Google docs? Atau ini lagi?

Thursday, May 1, 2014

Tuesday, December 10, 2013

Frank Lampard Aja Nulis Buku

December 10, 2013 0 Comments

-muhasabah diri, menulis-

Bismillah..
Buka FB pagi ini disambut Tinjauan Selama 2013. Dan ada statusku di tanggal 9 Januari 2013 yang cukup membuatku tertegun serta bersemangat lagi untuk lebih baik di tahun mendatang. Ini dia status itu:
Banyak penulis bagus di Facebook. Sayangnya mereka tak kunjung "go publik". Pertanyaannya adalah: Apa tak mendapat kesempatan? Atau... Apa tak kunjung mencari kesempatan itu? Soalnya kesempatan banyak banget. Penerbit sekarang yang kejar-kejar penulis. Lalu? | Menulis itu tidak sulit. Kendalanya hanya komitmen waktu. Ahai... Hari gini masih sibuk audisi antologi sana-sini yang biaya terbit ditanggung sendiri. C'mon! Ini sudah 2013. Saatnya naik kelas. | Ngomong sama tembok Facebook. *melipir-sebelum-bonyok*

Pertanyaan hari ini adalah: Sudah hampir setahun, apa kamu masih di kelas yang sama? Dan sudah berapa tahun kamu di kelas itu-itu saja? Kupikir tak akan ada yang betah berlama-lama di kelas yang sama, kan?

--dari grup fb Aksara Salman ITB

***

Saturday, December 7, 2013

Ada Apa Dengan Facebook?

December 07, 2013 2 Comments

-gakpenting-

Bismillah...

Baru log-in, sempat melihat banyak status dan posting-an temen-temen di newsfeed. Lalu kemudian, saat me-reload.

Whooa? What happen? Aku bertanya-tanya, apa karena aku tidak mempunyai teman? Perasaan udah ada lumayan banyak deh (nggak sampai 5000 sih).

Oke, buka halaman pembaruan Page saja. Dan hasilnya??

***

Masih bertanya-tanya : ada apa dengan facebook? hmmm... *curious.

Wednesday, November 20, 2013

Mendaki Gunung

November 20, 2013 0 Comments

-Opini-
Mendaki sebuah gunung bukan sebuah kebanggaan, Kawan
Karena kalau kita anggap pendakian gunung itu kebanggaan
Maka jangan lupa, penduduk setempat bahkan setiap hari
Setiap hari mencari kayu bakar, rotan, dan sebagainya di sana
Bahkan anak-anal mereka pergi memancing ke atas danau di gunung
Berangkat pagi, pulang sore

Mengunjungi sebuah kota, New York, London, dsbgnya juga bukan prestasi
Karena kalau melanglang buana itu kita anggap prestasi
Maka jangan lupa, pengemis, gelandangan di sana setiap hari
Setiap hari mengemis dan menggelandang di jalanannya
Tidur di sudut2 kota, tempat kita baru saja ber-pose
Lantas kita bagikan di jejaring sosial

Kita tidak bicara berapa banyak gunung yang kita daki
Berapa lembar foto keren yang kita peroleh
Tapi berapa banyak pemahaman yang menetap di hati kita
Lantas menjadi sumber inspirasi kebaikan bagi sekitar
Menyayangi alam, memahami kebesaran Tuhan
Berhenti bertingkah kekanakan
Itulah hakikat pendakian tersebut

Kita tidak bicara berapa banyak kota yang kita kunjungi
Berapa lembar foto hebat yang kita dapatkan
Tapi berapa banyak pelajaran yang tinggal di kepala kita
Lantas menjadi sumber kebermanfaatan bagi orang lain
Memahami keanekaragaman dan perbedaan
Berhenti sombong dan berlebihan
Itulah hakikat sebuah perjalanan

Lakukanlah perjalanan mengelilingi dunia, Kawan
Kunjungi tempat-tempat indah dan spesial
Bukan untuk dicatat, difoto lantas dipamerkan
Tapi simpel, perjalanan adalah perjalanan
Dia akan mendidik kita dengan lembut
Tentang banyak hal

*Tere liye
***

Bismillah...

Jadi ceritanya lagi seneng bahas tentang perjalanan alias safar. Terus jadi pengen curhat,... tapi....

*biar Allah saja yang tahu, naik turun perasaan ini.

Monday, October 21, 2013

Ijinkan Aku Mendengarkanmu

October 21, 2013 0 Comments
kita bukan satu jenis bunga, namun kita tumbuh dan mekar di lahan yang sama
ada kala-nya, akar kita saling berebut air
ada kala-nya, tangkai kita saling terkait
ada kala-nya kita sama-sama tersenyum merasakan hangat matahari
ada kala-nya kita saling memuji, tentang keindahan masing-masing

kita bukan satu jenis bunga, namun kita tumbuh dan mekar di lahan yang sama
adakah kita bertanya, mengapa Allah menakdirkan kita untuk bersama?
adakah untuk melukai sesama? atau untuk yang lain?
adakah kita bertanya, mengapa Allah menakdirkan kita untuk bersama?
mungkinkah, itu untuk kebaikan masing-masing dari kita?


-untuk Sahabat-
Bismillah...
Satu-satu.... Daun-daun...
Berguguran tinggalkan tangkainya...
Satu-satu... Burung kecil...
Beterbangan tinggalkan sarangnya...