Follow Me

Saturday, December 27, 2025

Off and On Slowly

December 27, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Sudah hampir 3 bulan aku tidak membalas surat-surat di Slowly, dan jujur ada rasa bersalah. Kenapa? Karena di profil Slowly-ku, aku aktifin tanda kapan terakhir online. Dan aku sebenarnya tiap hari tetep buka Slowly. Bukan untuk membalas surat, tapi hanya untuk membaca surat-surat terbuka yang tiap hari di update, untuk pengguna non-pro, tiap hari bisa baca 3 surat terbuka. Dan jujur, rasanya menyenangkan, ibarat berkenalan dengan orang baru, melihat sudut pandang mereka, kadang ada yang menarik, ada juga yang membosankan sih. Bisa juga mirip-mirip kaya baca blog orang. Blog ya, beda sama medium, medium padahal banyak banget tulisan, tapi males bacanya, karena kaya baca artikel >< gak ada sisi personal. Ya, ada sih tulisan yang ada sisi personal, tapi gak sebanyak dulu waktu aku banyak blogwalking.

 

Anyway, di bulan November ada surat baru masuk. Kalau sebelum-sebelumnya, surat yang masuk tidak menggerakkan hatiku untuk aktif lagi di Slowly, surat yang satu ini cukup membuatku ingin membalasnya. 

 

Aku membalas suratnya tanggal 14 November. Satu surat, lalu dia balik balas. Lalu keinginanku untuk aktif di slowly hilang lagi. Sampai bulan Desember awal aku akhirnya menulis surat minta maaf karena mungkin bakal off on di slowly. Anehnya, setelah suratnya dibuat, dari sekian banyak surat yang belum dijawab, ternyata kebanyakan orang baru, dan yang udah beberapa kali kirim-kiriman surat cuma satu. Dan ini yang membuatku menulis di sini.

 

*** 

 

Jadi aku kirim surat minta maaf, dan hasilnya? Centang satu coba. Jujur bersalahnya jadi bertumpuk. Her name is Erin. She's older than me. We shared quiet a lot letter in my pov. Not that many, but each letter is a long letter.

 


 

I don't know why she haven't read my letter. Entah karena namaku sudah dihapus dari list teman slowly. Atau karena memang dia udah lama gak buka slowly. Perasaan bersalah itu yang membuatku memberanikan diri untuk mengirim satu surat lagi untuknya, walaupun mungkin surat itu gak akan dibaca olehnya.

 

Jujur, karena dia, aku jadi banyak tahu buku-buku puisi berbahasa inggris. Kenal Emily Dickinson dari dia. She loves nature, she's an introvert, she lives with her dog name Sam. Surat terakhir yang dikirimnya, dia cerita tentang eksperimennya untuk membuat apple cake.

 

Saat aku mengirim surat lagi, setelah surat permintaan maaf, ada perasaan aneh. Sedih karena mungkin ia tidak membacanya, tapi sebagian hatiku seolah merasa mungkin lebih baik memang tidak dibaca. Bagiku, mengirim surat yang tidak terbaca itu lebih mudah. Aku bisa lebih terbuka dan tanpa beban bercerita banyak hal. Berbeda saat tahu bahwa ada yang membaca di sana. Sadar tidak sadar, aku meminimalisasi bercerita tentang diri, ya walau tetap terbuka, tapi aku masih saja berada di balik pagar. Entah karena ini kebiasaan nulis di blog, yang kemungkinan gak ada yang baca, atau kalaupun ada, kita gak tahu siapa yang baca, mesin atau orang. Tapi surat kan berbeda. Mungkin karena itu juga aku sering memilih menunda membalas surat di Slowly. Padahal tanpa menunda pun, suratnya pasti hadir terlambat, kan namanya slowly. Entahlah, aku juga bingung pada diri. Di satu sisi ingin terhubung dengan orang lain, tapi di sisi lain, ingin seperti di blog saja. Baca open letter, seperti blogwalking. Lalu menulis surat tanpa benar-benar terhubung. Tapi di sisi lain, padahal asik juga kalau beneran bisa berkomunikasi dengan orang asli di bagian bumi lain, bertukar pikiran, siapa tahu bisa saling membantu, barangkali surat-suratku bisa minimal mengurangi stereotipe muslim yang ditunjukkan di media mainstream barat.

 

Oh ya, aku tiba-tiba teringat tentang bahasan interaksi sosial di era sosial media. Sebagai makhluk sosial, perubahan era ini mempengaruhi banget psikologis kita setiap berinteraksi dengan orang lain. Sedihnya, banyak yang bisa punya relasi yang bisa ngobrol panjang dan dalam. Interaksi di sosmed kan gitu ya, instan dan cepat. Setiap orang sangat sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kenal atau tahu kabar seringkali cuma sekedar dari apa yang di upload di story, atau di post di sosial media. Padahal manusia itu butuh koneksi yang lebih dari sekedar itu. Dan pencarian koneksi yang dalam itu makin sulit di jaman sekarang.

 

***

 

Terakhir, sembari menulis ini, aku jadi menyadari bahwa surat-surat yang kukirim di Slowly mayoritas panjang-panjang. Entah karena terlalu banyak yang kusimpan sendiri, sehingga sekalinya ada kesempatan untuk menulis, jadi nulis panjang. Atau sekedar kebiasaan bernarasi panjang saja. Seperti chat di wa-ku yang seringkali tanpa sadar beberapa kalimat baru di enter, Kesadaran baru itu membuatku ingin mengingatkan diri, agar lebih banyak nulis di blog saja. Di sana, di slowly, let's write faster but shorter. Tidak semua orang betah membaca surat panjang dan membosankan. Tapi di sini, kamu bebas menulis panjang.

 

Satu lagi, alhamdulillah. I'm grateful for every friend I met in life, directly or indirectly. Seperti yang disebutkan dalam salah satu ayat Al Hujurat, ehm, inget ayatnya gak? Hehe. Semakin banyak kita mengenal orang lain, kita akan belajar kelebihannya dan kekurangan kita, begitu sebaliknya. Semoga dengan itu kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣ 
 
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

 

Wallahua'lam. 

Thursday, December 4, 2025

A36: Mencari Ilmu Sebatas Waktu Luang

December 04, 2025 0 Comments

Bismillah. 

 


 

☑️ #DAY36-0090

📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi

📑 Quote:

 

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkaya dalam Syarh Muqaddimah Al-Majmu' halaman 148,

"Benar, di antara manusia ada yang saat ia melihat kejernihan hati dan ketenangan jiwa dalam dirinya, ia menelaah dan mengkaji ilmu, mengokohkannya dan terus belajar.

Di antara manusia juga ada yang menjadikan ilmu sebatas waktu luangnya. Saat ia memiliki waktu luang maka ia mencari ilmu. Manusia jenis kedua ini adalah manusia yang ada kemalasan dalam dirinya, sampai-sampai andai dia duduk untuk menelaah ilmu atau belajar maka ia akan cepat bosan.

 

💡 Insight:

 

Nasihat tepat sasaran yang menghujam dan menohok diri. Pengingat bahwa ilmu seharusnya tidak dijadikan sebatas waktu luang apalagi waktu sisa. Terlebih lagi saat membaca bagian akhir kutipan! Benar sekali, begitu cepat aku merasa bosan, tapi bukannya memilih untuk menyediakan waktu untuk belajar, ironisnya malah membiarkan diri tenggelam dalam distraksi yang membuat otak makin sulit fokus dan cepat bosan.

 

Hei diri! Ayo latih lagi dirimu untuk bersabar dalam belajar! Hargai waktumu! Seperti yang disebutkan dalam pra-kelastentang adab belajar online,

"Menghargai waktu adalah bentuk komitmen kita untuk belajar."

 

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus belajar dan menuntut ilmuAamiin.

 

Asy Syafi’i pernah berkata,

     مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu.

Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”

 (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139)

 

Wallahua'lam. 

Wednesday, December 3, 2025

Bersembunyi Lagi Entah Untuk Berapa Lama

December 03, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

-Refleksi Diri- 

 

So I set this blog to private again. I don't know, for how long, probably will set it to public again after publishing this and send it back to draft. Or never send it back to draft. Probably just set it to private cause this will just make comfortable to write and express more open.

 

Lately been feeling... I don't know how to describe it. Stuck? Jalan ditempat? Or worse, going backward. Fall into.... let me just not end the sentence. 

 

My mind been wandering too much on it's own, while the body is doing a numb auto-pilot routine. And at the middle at the night like this, the feeling of afraid come, as a reminder, not to live a life like this. I am getting older, but am I getting better?

 

***

 

Awal November kemarin ada yang memberanikan diri mengungkapkan keresahan dirinya yang merasa hidupnya seolah hanya untuk kerja. Sedihnya, dia sampai nge-state, She feels like there's something wrong but she didn't know what to do.

 

So I suggest her to write, 

"Coba nulis mba. Barangkali bisa bantu mengurai yang bekelindan di kepala hehe.
Nulis ini sambil ngingetin diri juga yang udah lama gak nulis hehe" - kirei

 

Then she said, she even don't have time to spare for herself, seolah waktunya semua terkuras untuk pekerjaan. Sadly, she even ask, "apa hidupku yg gak berkah atau gmn gt".

 

Part of me want to deny her statement, please don't say that... berkah atau tidak hidup seseorang itu tidak bisa dilihat dari satu mata subjektif, apalagi mata seseorang yang perasaannya sedang merasa kosong dan hampa. But instead expressing this thought, I chose to reply on the part when she said she don't have time for herself. I said to her,

 

"Nah, ini (baca: waktu untuk diri sendiri) harus diagendakan. Kalau gak ada waktu buat diri sendiri emang jadi bikin hati rasanya kosong/hampa." -kirei

 

Kulanjutkan,  

"Jadi inget Al Ashr. Emang manusia rugi banget ya kalau tentang waktu. Ada banyak banget yang nggak bisa kita kendalikan. Emang lemah dan butuh bantuan Allah untuk bisa nata hidup biar bisa balance."

 

Ia menjawab, "Tapi drive untuk keluar dan mulai mencari lagi itu agak susah ya kalau lagi capek."

 

Sejujurnya saat membaca lagi kalimat itu, karena menulis ini, aku masih belum paham. "Drive untuk keluar dan mulai mencari lagi" itu, apa untuk keluar dari pekerjaan. Atau untuk lebih ke drive untuk keluar dari rutinitas kesibukan dan mencari solusi. But I think when I write the reply to her answer, I chose to focus on the word "capek". That's why I wrote this as a closing chat that day.

 

"Ibarat udah masuk arus deras, susah untuk keluar. Kalau udah capek, ujung-ujungnya milih istirahat fisik aja. Padahal mind&soul kita juga butuh di-charge"

 

Actually she still reply, and I still want to continue the conversation. But part of me chose to end the conversation, cause I feel like I need to look at the mirror before giving suggestion, or advice about someone else's life.

 

Pada dasarnya ia menjelaskan ulang keresahannya yang muter-muter. She felt something is wrong, but she didn't know where and how to solve it. But then she's tired, so she's just doing her hardworking life routine. And/ it goes back, to her feeling empty.

 

Saat itu, dan sampai saat ini, aku sebenarnya masih bisa saja menjawab lagi. Mudah sekali rasanya memberi nasihat dan berkata-kata tentang kehidupan orang lain. Aku ingin menyarankannya berdoa kepada Allah, agar Allah nanti yang tunjukkan dimana letak salahnya, dan harus mulai darimana menyelesaikannya. Tapi untuk menulis jawaban itu, aku tahu diri untuk berkaca, dan saat melihat kaca, lidahku kelu, dan kututup bibirku rapat, sebulan, kutahan jemariku untuk menuliskan tentang ini, ah, jariku.. Bukan, jariku bukan kutahan, sebenarnya aku saja yang tenggelam dalam distraksi dan tidak bersegera menyulam hikmah dari percakapan 8 November lalu di sebuah grup WhatsApp. 

 

Sampai saat ini, sejujurnya aku merasa tidak pantas menuliskan ini. Part of me is cursing myself, "sok tahu! Emang hidup lu udah beres? Buktinya meski udah tahu yang salah dalam hidup lu, lu masih gini-gini aja!?"

 

No I'm not usually talk to me with "lu", but i think that sentence describe perfectly how harsh I want to critize myself. 

 

***

 

Back to the intro. Lately been feeling.stuck, jalan ditempat, or worse, going backward. And my mind knows where's the wrong side. And my brain knows what should I do, what step should I take to fix it. But days went and I see myself drowning in distraction, wandering in places and story inside my head. It's easier to daydream than to face reality. But didn't I learn before the hurt from running away from tumpukan masalah? *pardon for the switch language. It's 1.35, and i don't want to open dictionary, to search for vocabulary for "tumpukan". I might visit my old writing later. But right now, let me just write with my right brain.

 

***

 

Terakhir, untukku. Dan mungkin (semoga gak ada), untuk yang nyasar baca ini sampai bagian ini. Dapet dari Channel WhatsApp Khalid Basalamah Official.

 

"Perumpamaan perbedaan orang yang suka berdzikir dan tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan mati."

 

Membaca kutipan itu mengingatkan aku. Mungkin, salah satu penyebab perasaan hampa dan mati rasa itu karena kita aku kurang berdzikir. Perlu banyak istighfar. Perlu banyak taubat. Barangkali yang menghalangi diriku untuk beramal adalah tumpukan karat dosa yang membuat hati makin legam. TT

 

Membaca kutipan itu juga mengingatkanku mindset lamaku, dulu, kalau aku membaca kutipan tersebut, yang muncul bukan keinginan untuk beramal, tapi justru perasaan putus asa. Perasaan sedih yang berlipat karena kepastian bahwa hatiku bukan hanya membatu, tapi barangkali sudah mati. Dulu, begitu. Sampai aku belajar tadabbur surat Al Hadid 16-17. Dua ayat yang mengubah cara pandangku. Dua ayat yang menjadikan aku mencintai hujan. Meski gak ada kata hujan di dua ayat itu.

 

اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ۝١٧ 
 
i‘lamû annallâha yuḫyil-ardla ba‘da mautihâ, qad bayyannâ lakumul-âyâti la‘allakum ta‘qilûn
 
Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti.

 

Jangankan hatimu yang mati, bumi yang tadinya mati saja, bisa Allah hidupkan kembali. Kalau bumi bisa Allah hidupkan dengan hujan, kira-kira hati kita yang sekarat/mati Allah hidupkan lagi dengan apa? Dengan Al Quran. Hujan dan Al Quran, sama-sama turun dari langit, sama-sama bisa menghidupkan.

 

I know I should stop here, tapi karena kita semua sedang berkabung atas bencana dan musibah banjir dan longsor yang terjadi di aceh, sumatra utara, sumatra barat, dan juga berbagai daerah lain. Kalimat hujan yang bisa menghidupkan mungkin akan terkesan ironis. Sedangkan kita tahu berapa banyak korban dari bencana tersebut. Ada yang perlu kita sadari, bukan hujan yang mematikan, tapi kerusakan yang manusia lakukan, yang menyebabkan hujan yang seharusnya menjadi rahmat, justru menjadi bencana.

 

Terakhir, mari jangan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Berdoalah untuk diri, dan juga untuk saudara kita di luar sana yang sedang ditimpa musibah, yang sedang diuji, dengan ujian yang mungkin tidak bisa kita lalui. Every test is the right test for each of us. Mari saling bantu. Seperti yang disebutkan dalam al ashr, satu-satunya cara untuk selamat dari kerugian adalah memenuhi 4 syarat: menjadi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang beramal shalih dan yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan yang saling mengingatkan dalam kesabaran.

 

Wallahua'lam bishowab.