Follow Me

Showing posts with label surat. Show all posts
Showing posts with label surat. Show all posts

Saturday, December 27, 2025

Off and On Slowly

December 27, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Sudah hampir 3 bulan aku tidak membalas surat-surat di Slowly, dan jujur ada rasa bersalah. Kenapa? Karena di profil Slowly-ku, aku aktifin tanda kapan terakhir online. Dan aku sebenarnya tiap hari tetep buka Slowly. Bukan untuk membalas surat, tapi hanya untuk membaca surat-surat terbuka yang tiap hari di update, untuk pengguna non-pro, tiap hari bisa baca 3 surat terbuka. Dan jujur, rasanya menyenangkan, ibarat berkenalan dengan orang baru, melihat sudut pandang mereka, kadang ada yang menarik, ada juga yang membosankan sih. Bisa juga mirip-mirip kaya baca blog orang. Blog ya, beda sama medium, medium padahal banyak banget tulisan, tapi males bacanya, karena kaya baca artikel >< gak ada sisi personal. Ya, ada sih tulisan yang ada sisi personal, tapi gak sebanyak dulu waktu aku banyak blogwalking.

 

Anyway, di bulan November ada surat baru masuk. Kalau sebelum-sebelumnya, surat yang masuk tidak menggerakkan hatiku untuk aktif lagi di Slowly, surat yang satu ini cukup membuatku ingin membalasnya. 

 

Aku membalas suratnya tanggal 14 November. Satu surat, lalu dia balik balas. Lalu keinginanku untuk aktif di slowly hilang lagi. Sampai bulan Desember awal aku akhirnya menulis surat minta maaf karena mungkin bakal off on di slowly. Anehnya, setelah suratnya dibuat, dari sekian banyak surat yang belum dijawab, ternyata kebanyakan orang baru, dan yang udah beberapa kali kirim-kiriman surat cuma satu. Dan ini yang membuatku menulis di sini.

 

*** 

 

Jadi aku kirim surat minta maaf, dan hasilnya? Centang satu coba. Jujur bersalahnya jadi bertumpuk. Her name is Erin. She's older than me. We shared quiet a lot letter in my pov. Not that many, but each letter is a long letter.

 


 

I don't know why she haven't read my letter. Entah karena namaku sudah dihapus dari list teman slowly. Atau karena memang dia udah lama gak buka slowly. Perasaan bersalah itu yang membuatku memberanikan diri untuk mengirim satu surat lagi untuknya, walaupun mungkin surat itu gak akan dibaca olehnya.

 

Jujur, karena dia, aku jadi banyak tahu buku-buku puisi berbahasa inggris. Kenal Emily Dickinson dari dia. She loves nature, she's an introvert, she lives with her dog name Sam. Surat terakhir yang dikirimnya, dia cerita tentang eksperimennya untuk membuat apple cake.

 

Saat aku mengirim surat lagi, setelah surat permintaan maaf, ada perasaan aneh. Sedih karena mungkin ia tidak membacanya, tapi sebagian hatiku seolah merasa mungkin lebih baik memang tidak dibaca. Bagiku, mengirim surat yang tidak terbaca itu lebih mudah. Aku bisa lebih terbuka dan tanpa beban bercerita banyak hal. Berbeda saat tahu bahwa ada yang membaca di sana. Sadar tidak sadar, aku meminimalisasi bercerita tentang diri, ya walau tetap terbuka, tapi aku masih saja berada di balik pagar. Entah karena ini kebiasaan nulis di blog, yang kemungkinan gak ada yang baca, atau kalaupun ada, kita gak tahu siapa yang baca, mesin atau orang. Tapi surat kan berbeda. Mungkin karena itu juga aku sering memilih menunda membalas surat di Slowly. Padahal tanpa menunda pun, suratnya pasti hadir terlambat, kan namanya slowly. Entahlah, aku juga bingung pada diri. Di satu sisi ingin terhubung dengan orang lain, tapi di sisi lain, ingin seperti di blog saja. Baca open letter, seperti blogwalking. Lalu menulis surat tanpa benar-benar terhubung. Tapi di sisi lain, padahal asik juga kalau beneran bisa berkomunikasi dengan orang asli di bagian bumi lain, bertukar pikiran, siapa tahu bisa saling membantu, barangkali surat-suratku bisa minimal mengurangi stereotipe muslim yang ditunjukkan di media mainstream barat.

 

Oh ya, aku tiba-tiba teringat tentang bahasan interaksi sosial di era sosial media. Sebagai makhluk sosial, perubahan era ini mempengaruhi banget psikologis kita setiap berinteraksi dengan orang lain. Sedihnya, banyak yang bisa punya relasi yang bisa ngobrol panjang dan dalam. Interaksi di sosmed kan gitu ya, instan dan cepat. Setiap orang sangat sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kenal atau tahu kabar seringkali cuma sekedar dari apa yang di upload di story, atau di post di sosial media. Padahal manusia itu butuh koneksi yang lebih dari sekedar itu. Dan pencarian koneksi yang dalam itu makin sulit di jaman sekarang.

 

***

 

Terakhir, sembari menulis ini, aku jadi menyadari bahwa surat-surat yang kukirim di Slowly mayoritas panjang-panjang. Entah karena terlalu banyak yang kusimpan sendiri, sehingga sekalinya ada kesempatan untuk menulis, jadi nulis panjang. Atau sekedar kebiasaan bernarasi panjang saja. Seperti chat di wa-ku yang seringkali tanpa sadar beberapa kalimat baru di enter, Kesadaran baru itu membuatku ingin mengingatkan diri, agar lebih banyak nulis di blog saja. Di sana, di slowly, let's write faster but shorter. Tidak semua orang betah membaca surat panjang dan membosankan. Tapi di sini, kamu bebas menulis panjang.

 

Satu lagi, alhamdulillah. I'm grateful for every friend I met in life, directly or indirectly. Seperti yang disebutkan dalam salah satu ayat Al Hujurat, ehm, inget ayatnya gak? Hehe. Semakin banyak kita mengenal orang lain, kita akan belajar kelebihannya dan kekurangan kita, begitu sebaliknya. Semoga dengan itu kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣ 
 
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

 

Wallahua'lam. 

Tuesday, August 26, 2025

Open Letter in Slowly

August 26, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Bulan Juni kemarin, saat aku mulai mengaktifkan lagi pakai aplikasi Slowly, dan menyelesaikan hutang balas surat 1 tahun yang lalu, aku menemukan ada fasilitas baru yang ada di Slowly, yaitu Open Letter.

 

Open Letter, seperti namanya adalah surat terbuka. Surat yang bisa dibaca banyak orang, tanpa harus masuk ke inbox seseorang. Dan seperti namanya, open letter benar-benar membuka peluang untuk mendapatkan teman di Slowly yang sama-sama punya keinginan untuk terhubung, entah karena topik/pertanyaan yang ditulis di surat terbuka tersebut, atau karena hal lain. Membaca banyak Open letter di Slowly sekarang ibarat blogwalking[1], aku bisa belajar mengenal orang-orang baru lewat surat tersebut, meski sayangnya cuma satu surat. Kalau mau baca lebih banyak surat, kita harus memberikan balasan dulu ke surat terbuka tersebut.

 

 

Sejak awal daftar Slowly, aku ingin cari temen yang bisa diajak sharing tentang buku/menulis. Ini template suratku, waktu dulu aku masih pakai fasilitas profil di Slowly.

 

Hi! I'm Blue.. Do you read books? If you do, what is your recent favorite book? Tell me is it about? And what is the lesson learn or memorable things from that book? If you don't, what do you usually do in your spare time, other than youtube, and social media? Do you have a hobby? I'll be waiting for your reply. Have a nice day~ 

 

Tapi ya gitu, meski di profil topic nulisnya interested in literacy/book, jarang yang share tentang buku. Lanjut ke automatch, ini aku pakai untuk latihan bahasa asing, topik mental health, dan topik traveling. Tapi hasilnya terlalu bagus juga, ya ada sih yang balas, tapi dikit, trus udah aja.

 

Setelah baca open letter beberapa kali, aku akhirnya memberanikan diri membuat Open Letterku. Kali ini, bukan tentang buku sih, tapi aku cari temen nulis. Open Letter ini kutulis tgl 3 Juli yang lalu. Meski pas nulis, aplikasi Slowly banyak meminta kita untuk nulis Open Letter yang panjang, aku sebisa mungkin ingin membuat surat terbuka yang singkat, tapi tetap menarik. Kenapa? Karena pengalaman sebelumnya, ada banyak open letter yang aku skimming dan males baca hanya karena sekilas tahu bahwa tulisan ini panjang *mental block. Setelah open letter-nya kupublikasi, tebak berapa banyak balasan yang aku dapat? 7/8 surat kalau gak salah. Bagiku ini keberhasilan banget! Dari open letter ini, aku jadi nulis cerpen bahasa inggris, nyoba terjemahin puisiku dan belajar diksi-diksi puitis bahasa inggris, juga jadi tahu tentang haiku.

 

Oh ya, yang penasaran sama open letternya, bisa baca di bawah ini.

 

 

 

Terbaca kah? Maaf ya karena sharenya lewat SS dari hp, karena fasilitas Open Letter Slowly saat ini cuma bisa dibuka di aplikasinya, di versi web-nya masih belum tersedia. Gimana setelah baca, tertarik untuk kirim balasan suratnya gak? Kalau tertarik, boleh banget add id slowly-ku N7Z2QX

 



***



Dari 7/8 surat yang masuk, ada yang udah gak terhubung lagi sih. Tapi ada juga yang masih terhubung. Tapi aku sudah biasa saja dengan fenomena itu. Aku pribadi gak mencari teman yang kirim-mengirim surat sampai lama, bagiku mengenal orang asing, dan saling bertukar surat satu kali saja, itu sudah lebih dari cukup. Cukup untukku mengisi energi sosialku. My extrovert side is still there, though my introvert side somehow "filter" many people. Lucu sebenarnya mengenali diri yang E/I-nya gak stabil. Aku masih enjoy buka Slowly tiap hari (dan ini sekarang bisa dimunculin last seen-nya), tapi untuk balas surat, aku tetap saja memilih untuk menunda dan menunggu mood yang tepat, sifat E baru bisa muncul saat I sedang tidak low batt. Kalau sedang low battery, lebih baik fokus input aja. Semoga sih inputnya yang bermanfaat dan bergizi ya. Bukan sekedar distraksi dan junk information.



Sekian. Kututup tulisan ini dengan ajakan menulis, jika kamu membuat surat terbuka/open letter, apa yang akan kau tulis? Share open lettermu di blog/medium, dan bagikan linknya di komentar yaa~
 
Bye5!
 
Wallahua'lam. 
 
 
*** 



PS:

[1] aku masih blogwalking, baca-baca tulisan di medium. Tapi entah kenapa membaca tulisan medium itu feelnya beda kaya blogwalking di blog (blogger, wordpress, tumblr). Mungkin karena di medium, lebih banyak yang nulisnya artikel, jadi sedikit kurang personal (ada sih yang banyak bercerita tentang diri juga, tapi tidak banyak). Jadi rasanya bukan kaya mengenal orangnya, lebih ke mengenal ide/opininya. Padahal salah satu hal yang aku suka dari blogwalking adalah mengenal dan mengamati orang lain secara personal dari jauh. Seperti membuka lembar jurnal/diary yang terbuka. Dari situ aku belajar untuk memahami kesulitan dan caranya menyelesaikan masalah. Dari situ aku belajar untuk melihat sisi lain dari orang tersebut, yang tidak ia tampakkan di media sosial. Begitu. Tapi blogwalking di Medium tetap asik sih, meski untuk rutin melakukannya masih perlu effort lebih, karena kebiasaan buruk diri lebih prefer scroll sosmed >< astaghfirullah. Anyway, mari tetap semangat menulis, entah itu blog/surat. Juga sempatkan blogwalking, untuk membuka wawasan dan POV kita lebih lebar. 

Monday, July 14, 2025

Disconnect (2)

July 14, 2025 0 Comments

Bismillah.

 


 

Beberapa waktu yang lalu membaca tulisan lama di blog ini berjudul Disconnect. Mungkin karena baca itu, jadi teringat lagi emosi yang disimpan waktu itu. Lalu qadarullah mengalami beberapa kendala komunikasi serupa. Perasaan ketidakterhubungan hanya karena merasa percakapan satu arah, tanpa ada tanda tanya balik. Lalu puncaknya beberapa hari yang lalu menerima surat di Slowly tanpa tanda tanya. Satu, dua sampai empat hari kubiarkan surat itu di inbox, sambil merangkai emosi dan kalimat, topik apa yang selanjutnya harus kuusulkan agar percakapan kembali menjadi percakapan dan bukan sebuah interview atau interogasi. Dan pagi ini, selain memberikan tanda tanya baru dan mengajukan topik obrolan baru, aku memberanikan diri mengeluarkan unek-unekku terkait perasaan 'disconnect'.

 

Dan inilah yang aku tuliskan, dalam bahasa inggris.

 

***

 

Hmm.. There's something I want to say. But please don't be offended.

 

Actually, when I first read your latest reply I feel a little bit disappointed. Because I can't find any question mark there. It happens a lot. And not only in Slowly. And I'm a little bit sensitive about it lately.

 

As an Introvert who gather energy to open up and connect with new people. It's sad when I saw that the conversation flow as if it's one way. It's not even an interview, but trying to always be the one who ask is kinda... Hmm. It's a complicated feeling.

 

I usually take time to neutralize that complicated feeling before sending a response to whatever communication it is. Whether it's in Slowly or in chat. But I usually still can keep the conversation going. As I have a high curiosity and I'm told that I have a good empathy. Making more questions is not difficult for me. And trying to think what's on their shoes is also not difficult.

 

Most people just more introvert than me. Answering questions from stranger and trying to open up for them is already taken a lot of their energy. So they don't have time to think asking questions. And I think most people, just like me, wanted to be heard/listened, but that in their life there's not many occasions that they can tell people about themselves. So when a question come, they just focus on answering. And giving response or answer is also their way to continue the conversation.

 

Anyway, I just want to let out this complicated feeling. I'm sorry if somehow I hurt your feeling. It is not only about your letter. More of me trying to let out that stacked of emotion after some similar cases where I feel "disconnected" just because I didn't get any question mark. Perhaps, I'm just having a high expectations that people are just like me, someone who easily ask questions. 

 

 - Isabella Kirei a.k.a Blue on Slowly 

 

***

 

Membaca kembali tulisan impulsif di atas membuatku pusing. Bukan karena isinya, lebih ke tatanan bahasa inggris yang kacau dan kalimat yang tidak efektif. Padahal, tujuan utamaku menggunakan akun Slowly, selain untuk kirim-mengirim surat, adalah untuk melatih kemampuan menulis bahasa inggrisku. Tapi kalau setiap kirim surat, aku gak cek grammarnya, gak dibaca ulang dan coba diedit, kan tujuannya jadi gak tercapai ya? Syukurlah, minimal dengan proses menyalin tulisan seperti ini, aku jadi ingat lagi.

 

Terakhir, kututup postingan ini dengan pertanyaan untukmu. Apakah kamu juga pernah merasa seperti aku? Perasaan tidakterhubung, perasaan aneh saat orang yang kau ajak "bicara" (komunikasi tertulis entah itu chat/surat) tidak balik bertanya? Apakah cuma aku yang overthinking, dan jadi bingung, haruskah menghentikan obrolan, atau haruskah mencari topik lain? Bagaimana dengan orang-orang ekstrovert? Apakah hal seperti ini harusnya memang tidak dipikirkan ya? Yaudah sih, kalau masih mau ngobrol lanjut tanya aja. Dan kalau tidak, bisa cari orang lain yang mungkin lebih punya waktu dan lebih tertarik untuk mengobrol topik tersebut. Ceritakan dalam tulisan dan publikasikan dalam blogmu ya. Atau bisa jawab di komentar juga. Boleh anonim juga.

 

Sekian. Bye~

 

Wallahua'lam.

 

***

 

PS: Saat menulis "I have a good empathy", ini sebenarnya agak gimana, takut kesannya sok empati gitu haha. Tapi di sisi lain, aku bisa menulis seperti itu, karena dulu pas tes Talent Mapping, memang poinku di empati lumayan tinggi. Semoga gak overclaim hehe. Mohon doanya, semoga beneran bisa jadi orang yang bisa berempati dengan banyak orang, dan semoga hal itu bukan cuma bikin emosiku mudah naik turun, tapi juga bisa membuatku menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang lebih bijak. Aamiin.

Wednesday, June 25, 2025

A Bad User on Slowly

June 25, 2025 0 Comments

Bismillah.

 


 

Sudah sejak 2023 aku install aplikasi Slowly. Awalnya sih lumayan aktif. Kirim beberapa surat ke akun yang punya banyak kesamaan topik. Ada surat-surat yang masuk juga meski aku gak kirim duluan. Ada yang bales ada yang gak bales. Ya begitulah, namanya juga kirim surat ke orang asing, yang bisa jadi dia gak minat sama topik bahasan kita, atau memang dianya sibuk dan lebih memilih aktif di sosial media ketimbang aplikasi slowly. 

 

Trus akhir 2023, aku mulai kehabisan energi untuk membalas surat. Balesnya bisa sebulan atau dua bulan. Sampai aku memutuskan untuk mengabaikan surat-surat masuk yang butuh balasan. Ini yang akhirnya membuatku melabeli diriku "a bad user on Slowly".

 

Aplikasi Slowly masih ada, belum ku uninstall karena sebagian diriku masih ingin menjawab beberapa surat yang masuk dan sudah kubaca di sana. Setahun kemudian 2024, keinginan untuk membalas akhirnya muncul lagi. Aku membalas beberapa surat. Mengirim beberapa surat baru juga, termasuk surat dengan bahasa lain dengan harapan baru, bisa latihan bahasa di Slowly. Dibales dong alhamdulillah dari 2 orang. Harusnya nih, aku lanjut bales, campur-campur bahasa inggris juga gapapa, eh, aku malah kehabisan energi lagi, dan memilih off lagi. what a bad user, right? >.<

 

Tahun berganti, it's 2025. Aku masuk lagi ke slowly. Di momen saat aku mulai aktif blogging lagi, momen ini, juga pas untukku mulai aktif Slowly lagi. Kan esensinya sama, menulis juga. Bedanya kalau di blog ini, nulis untuk diri sendiri, dan gak banyak feedback. Kalau nulis surat kan beneran ada orang lain yang dituju dan kemungkinan dibales 50%.

Anyway, meski gak janji bisa jadi user yang baik di Slowly, aku minimal berniat baik untuk menjadi user yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku juga udah mengupdate bio profil-ku. Dan in syaa Allah akan segera membalas 5 surat yang belum terbalas. Sebelumnya ada 7, 2 udah aku bales. Sisanya pelan-pelan aku cicil hehe. [1]

 

Oh ya, aku juga lagi suka pake tools automatch. Ini lebih mudah, ketimbang caraku dulu, yang cari satu-satu teman, dari banyaknya kesamaan topik, baca profil trus baru kirim surat. Kita cuma perlu nyiapin satu surat, pilih beberapa kategori auto-match yang diinginkan, lalu memilih jumlah surat yang dikirim (1-3), dan kemudian Slowly akan membantu kita auto-match ke beberapa user. 

 

***

 

Sekian cerita pengalamanku menggunakan aplikasi Slowly. Kalau ada yang tertarik untuk pakai Slowly, dan ingin bertukar surat denganku silahkan add slowly id-ku N7Z2QX

Oh ya, sembari membagikan Slowly id, ingin rasanya kasih feedback ke developer slowly. Kayanya bagus kalau selain share id, bisa share link yang bisa membuat orang yang klik untuk kirim surat, kan lumayan kalau misal linknya ditaruh di bio ig misal, yang belum daftar slowly, diarahkan untuk daftar dulu jika ingin menambahkan kirim surat ke user id tersebut. Gituu.. **tapi ini feedbacknya kirim kemana ya? Ke komentar di PlayStore? Atau kemana? [2]

 

Maaf jadi ngelantur. Kan tadi udah nulis sekian. Kalau ada yang baca sampai sini, terima kasih. Semoga tulisan ini tidak membuang waktumu. Pertanyaan untukmu, selain sosial media mainstream, adakah aplikasi yang membantumu terhubung dengan orang lain? Apa itu, dan ceritakan pengalamanmu sebagai user.

 

Bye~

 

Wallahua'lam. 

 

***

 

PS:

[1] update 3 juli 2025, hutang bales suratku sudah lunas. yeayy~ 

[2] Udah kumasukin sarannya ke help-center, trus dapat balesan dari Slowly Team, harusnya kalau saran kaya gitu dimasukkannya ke feature-request.

Monday, October 2, 2023

A Polite Goodbye

October 02, 2023 0 Comments

Bismillah.

A friend from slowly, sent this to me...

 

"...Since I have more free time now I want to focus on my language studies. I hope I can read more as well. So I'll stop using slowly as it takes me a lot of time and mental power to write. Thank you for all the lovely letters you've sent me, it was great talking to you. May Allah bless you with lots of goodness. Take care~ 💐"


***


Sad but... I know every meeting has its own separation. Honestly I can't stop myself from overthinking.


Do something I said, somehow annoy her?


I tried, to connect with her with other option outside slowly, but she doesn't use social media anymore.


Perharps, it is really a goodbye. And I need to let go this overthinking which sometimes drag me into something negative.


***


She said, it takes a lot time and mental power to write in slowly. I agree about that too. That's why, I'm taking slowly as slow as I possibly could. Just hoping the one waiting there not getting tired and choose to stop answering my letter.


But her decision to stop, I think that's what make us different. Perhaps, cause I love writing, and I need it too.. That's why even if it's not easy to write a sincere and honest letter, trying to connect with someone you've never and might be will never met, I choose to still use it. Despite sometimes, getting tired of it. 


I know for sure, it's better than scrolling on social media, or youtube short. With letters from slowly, they remind me how to answer a shallow "how are you". And how honest would I be, when I have choice to pretend to be who i am not. It reminds me to act upon my writing, cause someone else really read it. It's different, in this blog, sometimes, I still think the only reader is just me, Allah, and maybe google crawler wkwkwk.


Anyway, a goodbye is a goodbye. Thank you also for all the letters. I hope you achieve what want, and maybe even better than what you imagine. Nice to meet you. Bye 5!


Wallahua'lam.

Monday, September 25, 2023

Lost Letter (?)

September 25, 2023 0 Comments

Bismillah.


I remember feeling tired to answer letter without question back to me. And after some rest time, and I'm ready to tell them my story, without them asking, I can't find her letter.


It's a letter from a friend in other continent. I remember asking about love to her. I'm curious how it is, in her age--she's still young btw.


I try to remember her name, try to sort my inbox in Slowly. And can't find it. Does she deactive her account? No.. I think, we can still see letter even if one of them deactive their account. Does she change her id? I scroll through my inbox once again, this time focusing on the place under name, to find a country name in Africa. But I can't find it.


Then, I remember I copy one of my letter to her, and post it in my anonym Medium account. I open, and found 4 Sept. Do I unintentionally delete/remove her letter? Thankfully I go to setting and found that I can see previous removed user.

 

"There you are!"


***


I'm glad that I found that lost letter, and finally writing a reply to it.


Sometimes we're just tired and want to stop for a while. But it doesn't mean that we want to quit.

 

I hope I remember to be careful. Sometimes we didn't want to remove people from our life. But how we act, choice we choose, might be the reason, we cut people from our life. intentionally or not.


I suddenly remember, how sometimes, I can't choose a good sentence and it might offend other person.

I suddenly remember, how sometimes I ignore people's chat, just because I'm too dizzy thinking about myself.


I hope I could be a better person in communication. Voice or written. Aamiin.


Wallahua'lam.

Thursday, July 13, 2023

Unsent Letter

July 13, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Hi R****m, I hope you're okay there.. I don't know why you deactivated your account. And I'm kinda overthinking about it. I know I can't send this letter. But let me just write it for me. Maybe.. maybe, though it's almost impossible, you'll find this and know, that it's from me, Blue.

 

*** 


An unpredictable weekend is good, better than a boring weekend. And I agree that managing our mental health should be our priority, especially if we know, we have some problem with it. Just don't feel ashamed to talk about it. It's important to accept and honest about it with yourself, and don't be afraid to be judge. Especially from me, we're just stranger. And for me, it is the easier thing to do, talk 'everything' about myself to a stranger. I think I also have write about it.. You can read it here: "Yang Lebih Sulit"


So you "read" Mark Manson book on podcast? I thought you read it in pages of books. Yeah, listening to audio book is easier sometimes. I just not familiar with podcast, don't install spotify app too.. that's why it's more comfortable to read. But I do ever listen to audio book of Habit, the translation one, on google podcast.


***


For blogs, my first motivation is I love writing, and it is the first platform I know since Junior High School. After some high and low.. a found a new motivation too.. I want to share goodness through word. I want to have place that I can express my mind, my feeling, also my experience. There's some days that I don't like writing, those days, I read other blog, blogwalking. In one phase of my life, writing become something that I need. That's why I keep writing. It's personal blog, don't have a niche. But if you're more interested reading a niche blog, you can read my Medium, I import mostly post about book from this blog.

 

***

 

What is posum? It's a new diction for me. I thought it was a kind of... I don't know, but when I googled it, I know I'm wrong. So you love to watch animal content? I watch some too.. The latest videos that I remember is about seal rescue.


***


For me, productivity is producing something that is meaningful and can benefit other. It's not about money. When I say, I feel like I'm not productive, it's because I consume so much content, without processing or producing anything. I have so many ideas of content I want to make, but for now, it's just day dream, why? Cause it's just on my head, and I don't really plan to execute it. It's easier to write about it, than to actually do it. I hope I'm not included as someone that Allah's hate. (QS Shaff: 2-3)


I think human will always struggle to become more productive. It's good when we acknowledge that we're not as productive as we could. But it's better, when that realization makes us move. It will not be an instant trip. It's a journey that we'll have to take. 

 

***


About your story, walking through social media to find "the one". I think I understand your point of view. It's natural. Especially you're on that age. I do have that phase too when I was young. But instead of focusing "who", and "how" we meet "the one". It's more important to focus on our growth and destination we want to reach in our life. Later, you'll meet many people that also have the same destination. And one of them maybe "the one" for you.


And this is not something I learn one time. I read a lot books about love, non-fiction, when I am in that phase. It boarden my perspective. And it make me less anxious.


So I agree... with your shift mindset. Instead of looking for "the one" in these type of social media. You should just look for a friend to talk and learn from each other, whether they're young or old, whether they're man or women, whether they're single or married.


***


Progress.. I still in a comfort zone where I write more in blogs. So my step progress will be finalizing the topic that I want to write in my draft. Selecting and sorting post from my blogs in that topic. Maybe contact an editor or mentor, or someone I trust, for a feedback. Send the draft to publisher. And look for alternative, like a self-publishing.


***


Word up, I just google that app. I think it's a good app. For english I actually need grammar correction. For vocab, I can just google translate it, if I can't find the english word from my brain. That's how I build up my vocab. I also know many new vocab from reading and watching content in english.


Writing in english is exhausting for me too. I need more effort. But strangely, I build a habit to always speak english in mind, and write in english if I speak about personal topic, something that I want to keep to myself.

 

Ah, I want to write in full Indonesia too actually. I kinda mix it in most of my blog post. A mentor once asking me, why you write in two language, when I show him my draft book some years ago, and it made me insecure. I know his concern. But I kinda conflicted how I want to write my draft. I mean, I read Rene Suhardono book (Your Journey to be #UltimateU2), and he use dual language too.. also write quotes in latin, I think.


***


Thank you for telling me about your existential crisis, it's not easy to tell someone about that kind of experience. And I might can't understand fully. But I know how hurt it is when we expect so much from people (especially the closest one to us), but they react differently. But as a third person, I can also imagine why your dad react that way. It's not that he's ashamed, he might just didn't know how to react. Father is always a father, they teach through tough love, they usually can't express well, compare to mother. 


Esential life is also a good dream. Building a good family especially, it's really important in this era, when the world told us to become so individualist. I've been taught and believe that to change the world, we need to change ourselves first, and then build a good family.

 

This "small dream" it might sound far away, for some people, but just don't give up on yourself. I suddenly remember how Ibrahim 'alaihi salam, expelled from his house, he's alone, but he pray not only for himself. He wants the goodness he knew, for the world too.. I think it's in Asy Syu'ara/Asy Syura.

 

***


Last, I hope you're now in a good condition. And surround yourself with good people. Have a good life, and always stay close to Allah. People and the world will always disappoint you. Allah won't.


--

Blue


Allahua'lam.


Friday, June 9, 2023

Surat (2)

June 09, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Surat untuk "Fatimah" sudah kukirim, berdoa semoga ia tidak lupa untuk menulis balasannya. Surat-surat di aplikasi slowly juga sudah mulai masuk, ternyata tanpa memulai menulis terlebih dahulu, ada saja satu dua surat yang masuk.

 

Ada kekhawatiran, aku takut menulis surat membuatku lupa menulis di sini. Tapi ada rasa optimis juga. Bahwa surat-surat di sana justru akan mengingatkankanku untuk menulis. Seperti pagi ini. Pertanyaan singkat tentang mimpi membuatku diingatkan untuk berhenti bermimpi dan mulai merencanakan langkah kerja, agar mimpi bisa benar-benar tercapai.

 

I don't know where to start. But... bismillah. I know, I should start with bismillah.

 

Itu saja. Cuma mau nulis itu aja tentang lanjutan tulisan surat kemarin.

 

Oh ya, barangkali ada yang mau mengirim surat untukku, melalui aplikasi slowly, ini idku: N7Z2QX

 

Atau yang mau kirim surat ke email juga boleh, ke isabella.kirei@gmail.com

 

Kalau yang mau kirim surat fisik, boleh kirim dm dulu ke ig betterword_kirei, nanti aku kasih alamat rumahku hehe.

 

I know, letter are old. But I think I enjoy writing letter more, rather than chat on whatsapp, or dm on instagram. So for anyone who is bored writing text in those platform, why not try to write a letter? Kamu tidak harus mengirimkannya untukku, tapi justru, buat dan kirimkan ke orang-orang yang kau benar-benar ingin terhubung dengannya. Someone who are once in your life, but somehow the communication cuts.


Sekian. Selamat menulis surat hehe.~


Wallahua'alam.


Wednesday, March 10, 2021

Mengeja Rasa Menjadi Kata

March 10, 2021 0 Comments

Bismillah.



Untukmu, yang mampu mengeja rasa menjadi kata.


***


Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung dan membaca barisan kata darimu. Ada yang berbeda di sana.


Entah apa yang terjadi di balik layar, tapi aku membaca bagaimana kau mengeja rasa menjadi kata. Ya, kau berhasil mengeja sakit, menjadi sakit. Mengeja sulit menjadi sulit. Mengeja sesal menjadi sesal.


Kalimatmu sederhana, dan narasimu pendek. Tapi aku tahu, butuh kekuatan yang besar untuk bisa melakukannya. Karena aku sedikit banyak tahu, tentang sulitnya mengkomunikasikan perasaan, terutama perasaan negatif. Lebih mudah untuk menguburnya, atau membiarkannya tertumpuk di alam bawah sadar. Tapi kamu mengejanya, rasa itu, kamu mengejanya menjadi kata. Dan aku, membaca itu, tersenyum. Bukan karena aku senang atas perasaan negatif yang kau rasakan, tapi karena aku merasa kau sudah melakukannya dengan baik. Kau mengeja rasa menjadi kata dengan sangat baik. *berbeda denganku yang sering hiperbol dan muter-muter haha 


Rasanya, aku ingin menepuk bahumu pelan dan memujimu. Tentu, aku juga bisa saja diam lebih lam, untuk menyimak dan berusaha berempati (*meski yang satu ini aku masih perlu banyak belajar).Tapi perasaan pertama yang muncul saat itu, yang pertama, bukan empati, tapi semacam perasaan bangga, seolah aku ingin berterima kasih, karena kamu sudah mengeja rasa menjadi kata.


Selamat! Untukmu yang mengeja rasa menjadi kata. Kau berhasil mengeja sakit, menjadi sakit. Mengeja sulit menjadi sulit. Mengeja sesal menjadi sesal.


Karena aku tahu, tidak mudah mengekspresikan itu, tidak mudah mengkomunikasikan hal itu dengan baik. Dan kamu melakukannya, kamu mengeja rasa menjadi kata, kata yang mungkin tidak berwarna cerah, tapi kata tersebut bebas dari racun. Ada banyak orang yang kesulitan untuk mengeja rasa menjadi kata, sehingga yang keluar adalah kata-kata umpatan dan cacian. Tapi kau mengejanya dengan sangat baik. Kalimatmu pendek dan sederhana.


Terima kasih telah mengeja rasa menjadi kata, sehingga aku dengan mudah mengerti dan mengangguk pelan. "Hm... ternyata seperti itu, ternyata kau merasakan itu."


The last but not least. I might not fully understand your feeling. But because you write it so well, I can fully understand the word you spell. You express it well, you communicate it so well. And I'm happy that you're brave enough to spell it out loud. I learn a lot from you.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


Friday, January 13, 2017

Surat Motivasi

January 13, 2017 0 Comments
#hikmah

Bismillah.

Alkisah seorang ukhti mengirimkan padaku sebuah surat, bukan surat persahabatan, bukan juga surat undangan, tapi surat motivasi. Ia meminta dikoreksi katanya, barangkali ada tata kalimat, atau ejaan yang salah. Membaca suratnya, dua setengah lembar A4 itu, aku teringat suatu pagi menjelang siang, saat aku dan dia bertemu dan mengobrol. Aku lupa awalnya dari mana, tapi percakapan itu tiba-tiba mengalir, aku tanggapi dengan excited saat mendengar rencananya. Pagi itulah aku menawarkannya jasa proof reading dan editting

***

Singkat cerita, lewat surat motivasi-nya tersebut, aku jadi tergerak hati dan jemari untuk menulis di sini.

Membaca surat motivasinya somehow membuatku terdiam dan merenung. Saat rencana dan cita terasa jauh dan kaki lelah penuh luka untuk menggapainya, mungkin sebuah surat motivasi, yang dulu kamu tulis, bisa sedikit memberi angin semilir ke wajahmu. Surat motivasi itu bisa mengingatmu lagi, akan penggerak yang dulu membuatmu memberanikan melangkah, meski kau tahu jalanan terjal dihadapanmu.

Thursday, December 8, 2016

Salah Fokus

December 08, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

ashhabul kahf
Dari tulisannya Teh Dery, bener ga tulisannya? Takut salah, dari tulisan dhefimaputri, aku diingatkan lagi, tentang aksi superdamai 212, ini bukan tentang jumlah. Jangan salah fokus!

Berapa jumlah pemuda Alkahfi yang berlindung di gua? Tiga? Lima? Tujuh?

Nyatanya tidak ada satu pun kita yang bisa yakin menjawab karena memang Ia tidak menyebutkan angka pastinya. Karena tidak disebutkan berarti jumlah disini bukanlah hal yang ingin ditekankan, melainkan fokus ada pada hikmah dan kisahnya itu sendiri.

Begitu pula yang saya rasakan terhadap aksi 212 kemarin, tentu estimasi jumlah peserta itu perlu, biar ga dikerdilkan maupun dilebaykan, tapi jangan sampai menggeser esensi dan hikmah dapat dipelajari.

Lihatlah, dan lihatlah lebih dalam lagi, mukmin mana yang tidak bergetar melihat pemandangan seperti ini?
- Derry Hefima Putri, dalam tulisannya Jejak Peristiwa
***