Follow Me

Showing posts with label #fiksiku. Show all posts
Showing posts with label #fiksiku. Show all posts

Saturday, March 21, 2026

I Just Want to Cry Out Alone But A Hand Touch My Shoulder

March 21, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

#fiksiku 

 

*warning* messy writing, mix language, free writing without editing 

  

Aku hanya ingin menangis dengan tenang sendiri, maka aku mulai mencari-cari tempat yang kiranya aman. Dan aku memilih untuk duduk di tangga itu, sudah hampir pukul 11, di sini lebih baik daripada di koridor itu, ada banyak orang lalu lalang. Sengaja kutelungkupkan wajahku di atas kedua tanganku yang terletak di atas lututku, it was a perfect position to hide a cry. Aku kira aku menangis tanpa suara. Aku hanya merasakan emosi yang meluap dan mata yang tidak berhenti mengalirkan air, kubiarkan alirannya jatuh dan membasahi masker putih yang kupakai. Ada rasa sakit di dada saat otakku memutar memori beberapa menit yang lalu, kejadian yang menjadi trigger tangisku, lalu memori lain di masa lalu, rasa sakit yang sama atas rasa kecewa. Aku pikir, aku tidak pernah meminta banyak, tapi sikapnya melukaiku. Lalu mungkin karena tangki emosi negatif yang sering kutekan dan kusimpan rapat-rapat sudah penuh, mungkin karena itu, seperti bendungan yang tak lagi mampu menahan debit air yang yang sudah terlalu tinggi. 

 

I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. Sentuhan halus itu membuatku menghadapkan kepalaku ke arah tangan tersebut. Aku ingat beberapa detik sebelum tangannya menyentuhku, aku sedang bermonolog dengan diri, berusaha menjinakkan emosi yang menarik-narikku ke arah yang salah. Aku sedang mengingatkan diriku pada kisah Nabi Ya'qub 'alaihi salam dan quotes dari beliau yang banyak orang tahu. Aku lupa apakah itu sebuah doa, atau itu kalimatnya yang dikatakan kepada anak-anaknya yang lain saat mereka protes akan kesedihan yang tampak pada raut wajahnya, pada sikapnya, seolah kehilangan Nabi Yusuf 'alaihi salam masih menimbulkan luka yang mengaga di hatinya. Ya, betul kalimat itu...

 إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ


Aku baru saja menggaungkan kalimat itu untuk mengingatkan diriku, bahwa tujuanku di sini bukan untuk tenggelam dalam emosi negatif yang meledak di saat itu. Bukankah aku pergi ke sana, untuk mendekatkan diri padaNya, dan meminta ampunan-Nya? Baru saja aku hendak belajar dari ucapan Nabi Ya'qub, lalu Allah hadirkan pilihan lain, seolah Allah ingin memberitahuku, kuberi kau kesempatan untuk bercerita pada orang lain, jika kau mau. Bahwa tidak semua orang bisa seperti Nabi Ya'qub yang kesabarannya begitu indah. Tentu saja, aku tahu, masalahku begitu kecil dan remeh jika dibandingkan kisah beliau. Anyway... ku tengadahkan kepalaku. Mungkin mataku merah dan masih berair, tapi pandanganku jernih, seorang akhwat dengan kerudung hitam dan wajah manis menyapaku, ia mungkin melihatku saat berpindah dari koridor ke tangga, mungkin melihatku menelungkupkan kepalaku dan menebak dengan benar bahwa aku sedang menangis dan sedih. Mungkin tangisanku cukup keras, dan itu mengganggu hatinya yang penuh dengan empati.

 

Ia mulai bertanya kenapa aku menangis, bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Aku meminta tissue padanya, dan beberapa menit kemudian dia mondar-mandir mencari tissue dan tidak menemukannya, lalu duduk di sampingku, mencoba membuatku bercerita tentang alasanku duduk di tangga itu dan menangis. Ia mengatakan ia hanya orang asing yang mungkin tidak bertemu lagi. Aku dalam hati tertawa, what an amazing scenario, cause I usually feel more comfortable open up to strangers. But not this time. Jujur, aku sangat ingin mengusirnya, jika saja ada pintu, rasanya ingin segera menutup pintu dan menyuruhnya pergi. But her voice is soft, and she looks concern and sincere. Jadi aku hanya diam dan membiarkan otakku berdebat sendiri bagaimana cara agar akhawat tersebut bisa memberiku waktu dan ruang untuk sendiri.

 

Dia sepertinya paham ada dinding tinggi tak terlihat diantara kami. Meski dia berusaha meyakinkanku bahwa aku aman untuk bercerita. Bahwa perempuan mungkin tidak butuh solusi, tapi bercerita bisa membantunya untuk merasa lebih baik. Yang tentu kujawab bahwa aku lebih nyaman menulis daripada bercerita. Ia juga mungkin berpikir banyak saat aku hanya memilih diam. Tapi ia tidak pergi, dan aku tidak enak hati untuk mengusirnya. Apalagi saat ia berkata, bahwa barangkali sekedar keberadaan orang lain bisa membantuku lebih reda dan tenang. She caresing my knees as she told me other sentence. Kalimat-kalimat baik seperti, jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Atau saat ia bercerita tentang seorang anak SMP yang terlihat cemas menunggu dijemput ayahnya, hpnya tertinggal, dan ia terlihat cemas. Kecerdasan emosi dan empatinya yang tinggi membuat akhwat tersebut menangkap sinyal cemas dari remaja putri tersebut, dan ia mengajak remaja putri tersebut mengobrol sembari menemaninya sampai anak SMP tersebut dijemput. Mendengar ceritanya mengingatkanku pada kejadian di masa lalu, saat aku SMP, dan cemas menangis karena mengira salah naik angkot, hanya karena angkotnya lewat jalan yang jauh. What a silly incident but that makes me could relate to her stories.

 

Kuungkapkan bahwa aku bisa relate, dan membayangkan rasa takut yang dirasakan anak SMP tersebut. Talking about other people story is always easy than talking about ourself right, especially for introvert. Tapi akhwat tersebut belum menyerah mengetuk pintuku, ia bertanya apakah aku datang sendiri atau sama teman. Aku bertanya balik sudah berapa hari ia di sini. Ah, she ask my name and I ask her name too. I actually don't trust her, I think Aminah is her fake name. But I tell her my real name, probably she didn't hear it or remember it. Ya, begitulah sikap skeptisku. Meski aku tahu niatnya baik, aku masih sangat ingin mengusirnya. Jadi akhirnya kuyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja, aku hanya perlu waktu untuk mengalirkan emosiku, aku tidak perlu tissue, aku bisa cuci muka dan membuang sisa air mata dan cairan lain di wastafel. Aku ucapkan aku juga akan naik ke atas menyusulnya. Dan akhirnya ia pergi, sembari mengatakan bahwa jika ingin bertemu lagi dan ingin bercerita, ia sangat terbuka.

 

***

 

I just want to cry out alone, but a hand touch my shoulder. What a beautiful scenario right? Entah hikmah apa yang ingin Allah ajarkan padaku. Setelah kejadian itu, aku bertemu lagi dengannya di lantai atas. Ia seperti yang ia katakan, baru ke atas di akhir malam, dan benar, aku sedang duduk bersandar di tiang terdekat dengan tangga, saat ia menaikinya. Aku tersenyum melihatnya, lalu kembali melanjutkan aktivitasku dengan hp di hadapanku. Ia duduk sejenak di sampingku bertanya apakah aku sudah lebih tenang. Kujawab ya, atau hanya dengan anggukan, aku lupa. Tapi aku ingat aku kemudian fokus kembali ke hpku dan aktivitasku, membuat ia merasa awkward, entah ada yang ingin ia katakan lagi atau... ia hanya ingin pamit tapi bingung cari timingnya. Ia sempat bertanya mengapa aku belum tidur, kukatakan aku akan tidur jam 12. Lalu ia pergi dan mencari tempat tidur.

 

It's 12, and most of the people are asleep, except some who are still busy, I should sleep. So I search for a good place to sleep. Just when I was arranging my bag, my jacket, the emphatic girl come again. She told me about affirmation.

 

"Pernah ngelakuin afirmasi gak?" Aku jawab ya. Lalu ia bertanya seperti apa? My mind goes blank, sunyi beberapa detik. All iz well, semua akan baik-baik saja, that kind. Jawabku akhirnya. Lalu ia mengajarkanku kalimat afirmasi lain, aku mampu, aku bisa, aku cantik. Kalimat afirmasi yang bisa membantu kita mencintai diri sendiri. Dia mengajakku mencoba melakukannya, tapi aku memilih untuk diam, I refused her suggestion in my head, probably also with my body language. She's really concern about me I guess. But I really can't say that kind of affirmation out loud. Though most of the people is asleep but some of them are still awake, busy with their own things to do. Aku tidak seperti akhawat penuh empati tersebut, aku bukan tipe yang mengucapkan dengan keras dan berulang kalimat afirmasi, I do said it, in a written way. The silence is loud and she chose to go again, as I bid goodbye and thank you for her.

 

***

 

I just want to cry out alone but a hand touch my shoulder. I wasn't kind to her that day. Tapi saat menuliskan ini, aku bisa melihat dari sudut pandang lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang mungkin pernah tenggelam dalam kesedihan, yang melalui proses healingnya dengan mengucapkan kata-kata afirmasi. Ia tahu persis bahwa ia bersyukur jika saat sedih ada yang menemaninya, atau ada teman/orang asing yang bisa menjadi tempat ia menuangkan emosi dan pikiran yang berkelindan dan membuatnya sedih. Aku melihatnya kini sudah keluar dari masa-masa itu, dan kini ia selalu mengasah awarenessnya pada sekitar, karena ia tahu betapa menyiksanya perasaan sendiri saat awan kesedihan, ketakutan, kecemasan melingkupi hati dan pikiran seseorang.

 

Pagi itu, aku terakhir melihatnya duduk di bangku luar masjid sembari mendengarkan kajian ba'da shubuh. Aku duduk di sebrangnya, di lantai bersandar pada tembok menghadap ke pelataran luar masjid. Aku teringat ucapan salam terdengar dari pengisi kajian, lalu mataku terkantuk, entah berapa lama, tapi aku terbangun, dan kulihat kebelakang orang-orang sedang sibuk shalat syuruq, di bangku tempat ia duduk, sudah tidak ada dirinya. Entah sudah pergi, atau ia masuk ke dalam untuk shalat. Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan keluar, memandang langit dan awan berbaris-baris yang menghias pagi itu.

 

The End. 

Thursday, April 12, 2018

Why Did You Hide?

April 12, 2018 0 Comments
Bismillah.

#fiksiku

Pertanyaan itu dilemparkan kepadaku. Dengan ketus kutampik, "Nggak, aku nggak sembunyi". Aku sedang menunggu teman, dan aneh rasanya menunggu di tengah lorong, jadi aku menepi, dan itu bukan persembunyian.

Ingin rasanya memperpanjang penjelasan, agar ia paham, aku tidak memiliki alasan untuk bersembunyi darinya maupun dari orang lain. Aku mungkin memang tidak akan menyengaja menemui banyak orang, aku hanya akan menyengaja bertemu dengan orang-orang yang ingin kusapa, orang-orang yang dengan mereka aku bisa ringan bercerita semua, karena mereka sudah tahu, dan aku tahu mereka menerimaku, kekuranganku. Tapi tidak menyengaja untuk bertemu bukan berarti bersembunyi. Sungguh, I won't hide, I won't even ignore. Jika memang tanpa sengaja bertemu, aku tidak akan bersembunyi atau menghindar. Aku mungkin bisa tersenyum dan memulai sapaan, bertukar pertanyaan, kemudian melanjutkan aktivitasku.

***

Why did you hide? Tanyanya saat itu. Itu bawa apa? Tanyanya lagi. Aku melihat tas kertas batik di tangan kananku. Oh, ini... hadiah untuk temanku, hari ini hari istimewa, bukan hari lahir memang, tapi ini hari tanda ia telah menyelesaikan salah satu tugasnya. Dan aku hadir jauh-jauh untuk berada di sampingnya di hari istimewa tersebut. Ia mengangguk pelan, mungkin menyadari kesalahan pertanyaannya. Semoga ia sadar, bahwa jika aku benar-benar memilih bersembunyi, maka aku tidak mungkin di sana, dan berniat kesana.

Tahu A? Tanyanya.. Ini juga hari istimewanya. Aku sedikit terkejut pada informasi yang kudengar darinya, aku kira hari istimewanya sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Kusebutkan padanya, berarti ada banyak orang, yang hari itu.. adalah hari istimewa. Bukan cuma temanku, bukan cuma A, tapi banyak orang.

***

Ia pergi, saat yang ia cari di lorong itu, ternyata sedang ada urusan di tempat lain. Entah basa-basi atau benar-benar bertanya, ia sebutkan nama kecamatan itu. Aku jawab, hanya tahu angkot dengan jurusan tersebut, namun belum pernah kesana. Ia pergi, dan aku... masih merasa ofensif pada pertanyaannya.

Why did you hide?

Aku bertanya pada diri sendiri saat ini, ditulisan ini. Apa rasa ofensif dan keinginan menuliskan ini, adalah tanda... kalau sebenarnya saat itu aku bersembunyi? Darinya? Karena apa? Karena menghindari pertanyaan klise saat orang-orang berpapasan setelah lama tidak bersua? Karena itu?

Jawabanku tetap sama. Aku tidak bersembunyi. Sungguh. Saat itu aku tidak bersembunyi. Karena jika aku memang berniat bersembunyi, saat kulihat ia datang ke arahku, aku seharusnya berbalik dan segera pergi dari lorong itu, menuju jalan sempit yang lebih gelap. Di sana tempat sembunyi yang cocok. Tapi saat ia mendekat ke tepi lorong tempat aku bersembunyi, aku menyapanya, ya, aku yang terlebih dahulu menyebut namanya. Menceritakan padanya, bahwa temanku mengenalinya dari jauh, namun aku enggan mencari tahu lebih jauh, bukan karena ingin bersembunyi, hanya karena, buat apa? Haha.

***

Dua, tiga atau hampir sepekan setelah pertanyaan itu dilempar padaku. Aku kemudian teringat, bahwa aku mungkin juga melemparkan pertanyaan yang membuat ia tidak nyaman. Di sini... izinkan aku meminta maaf. Mungkin lebih baik, kalau saat itu aku sembunyi. Sehingga ia tidak perlu menjelaskan padaku, mengapa ia ada di sana. Maaf, jika karena pertanyaanku, ia tidak bisa bersegera pergi karena segan dan bingung mengakhiri percakapan. Aku kurang pandai membaca bahasa non verbal, saat itu. Kalau diingat lagi, padahal jelas terlihat berulangkali gerak kakinya ingin segera pergi. Tapi pertanyaan pertamanya, padaku, membuatku ingin membuktikan padanya, sungguh aku tidak sedang bersembunyi.

Jadi, maaf. Ia salah. Aku tidak bersembunyi. I didn't hide that time.

The End.

Wednesday, January 3, 2018

Or Forget About You

January 03, 2018 0 Comments
Bismillah.

#bersihbersihdraft #fiksiku

it's not scary, it's a fortunate thing. Along with the distance, and time passed, they'll forget about me. J

Aku pernah dan sekarang mungkin masih, menginginkan jadi sosok yang terlupakan hadirnya. Aku berharap, tidak ada yang tahu aku pernah berada di sana, I wish they forget about me. Biarkan aku saja yang mengingat mereka, semoga mereka melupakan aku.

Alhamdulillah. Tidak adanya bukti foto, yang banyak orang jaman sekarang bilang "no pic hoax", memudahkan itu. Gatau kenapa lega. Maybe sooner or later, they will forget me, they will forget my face, or maybe also my name. Apalagi kalau aku ganti nama pena. Mungkin aku benar-benar akan menghilang dari memori mereka, menghilang, terlupakan.

Aneh, betapa aku ingin dilupakan. Meski pun di sisi lain hatiku, I know it will hurt me. Ya, sisi lainku berkata "Aku juga tidak ingin dilupakan".

from unsplash

***

Tapi apalah artinya semua itu. Mereka lupa, atau mereka ingat, sebenarnya tidak menjadi hal besar, tidak boleh menjadi sesuatu yang aku kejar atau aku hindari.

Satu hal yang seharusnya aku katakan pada diriku sendiri, people may forget you, but Allah never forget.

Fakta bahwa Allah tidak pernah lupa, fakta sederhana itu bisa menimbulkan harapan sekaligus takut, raja' dan khouf. Allah tidak pernah lupa, bahkan menyingkirkan duri ditengah jalan, Allah mengingatnya. Allah tidak pernah lupa, bahkan setitik sombong yang bagai semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap.

Allahua'lam.

***

PS: Saat mengedit draft ini, aku menyadari, bahwa keinginan untuk dilupakan, atau diingat, akan selalu hadir bergantian. Di satu waktu merasa senang saat mereka mengingatku, di lain waktu, rasanya lebih baik kalau mereka melupakanku.

PPS: Nemu picture quote-nya dulu di tumblr, habis itu semangat ngelanjutin draft ini. Sebelumnya? Cuma buka tutup buka tutup, tiga kali ada kayanya dalam hari ini hehe. Qadarullah, mungkin sudah takdirnya dipublish.

PPPS: Quotenya ga muncul, tapi aku aedikit inget intinya. Tentang menjadi terlupakan yang merupakan hal menakutkan. 

Tuesday, December 12, 2017

Gapapa Kok

December 12, 2017 0 Comments
Bismillah.

#fiksiku

Benar, bahwa keputusanku ada di tanganku. Orang lain tidak berhak untuk bertanya atau memaksa. Benar, bahwa tidak perlu ada penyesalan atas keputusan yang sudah dibuat. Seperti yang diucapkan seorang perempuan padaku, suatu pagi dalam barisan kalimat di sebuah chat.

"No, Bel. Kamu gak boleh ngerasa salah sama keputusanmu. Kamu sekarang harus gerak nyari solusi atau mikirin kedepannya mau ngapain"

"Yang boleh disesali hanya dosa kepada Allah dan manusia", tambahnya.

"Percaya deh, nyesel atau ngerasa bersalah itu justru membawa energi negatif kecuali nyesel atau ngerasa bersalah karena dosamu sama manusia dan Tuhan"

Aku saat itu membaca kalimat itu, dengan mata berkaca-kaca. Saat itu perempuan jelita tersebut sedang bergelut dengan ujiannya sendiri. Sakit yang mendera tubuhnya ternyata justru menguatkan kejernihan pikirannya. Kata-katanya sampai ke hatiku dengan lembut.

"Ini hidup kamu. Kamu yg nentuin. Aku yakin sama kamu :)"

Kalimat selanjutnya yang ia ketik membuatku tersenyum dan menjawab dalam hati, there's nothing friend like you J

"Kamu gausah risau kalo ada temen-temen kayak aku yang nanya-nanya. Gausah juga maksain diri cerita masalahmu ke orang lain yg belum tentu bisa ngasih solusi."

Kujawab ringan, "You're one of my unique friend. Gak ada duanya. Justru aku cerita, karena kamu yang tanya."

***

Kupandangi dua buah aplikasi chat. Tertera angka dua dan empat. Diaplikasi biru, ada empat pesan tak terbaca, yang tentunya tidak aku balas. Diaplikasi berwarna hijau pupus ada dua pesan tak terbaca. Keduanya, dari orang yang sama. Orang, yang sebenarnya aku tidak pernah mengenalnya secara personal.

Jika mengingat pernyataan perempuan tentang sesal yang hanya boleh atas dosa kita terhadap Allah dan manusia. Mungkin ini salah satu hal kecil, yang membuatku tidak berhenti menyesal. Nyatanya, faktanya, ada yang terluka atas keputusanku. Ada yang terzalimi, karena keputusanku. Mungkin orang itu, nama yang tertera di unread message itu, juga termasuk orang yang aku berhutang permintaan maaf padanya.

Siang itu, lewat sebuah pesan lain, yang mengingatkanku bahwa aku harus bergerak dari milestone satu ke milestone berikutnya. Aku akhirnya memutuskan untuk membuka, dan membaca pesan yang terabaikan lima bulan lamanya.

Kutulis kalimat singkat dan padat. Berisi permintaan maaf, dan sedikit penjelasan mengapa aku tidak bisa merespon pertanyaannya. Kusalin kalimat yang sama, kukirim pesan sama persis lewat dua aplikasi berbeda.

***


"gapapa kok"

":)"

Beban itu seolah terbang seiring responnya aku baca. Dua kata singkat, diiringi emoticon senyum. Bukan stiker, bukan emoticon bawaan aplikasi. Tapi emoticon yang tersusun dari dua tanda baca. Titik dua, kurung tutup.

***

Pelahan, mungkin tidak bisa cepat. Rasa sesal yang masih tertinggal ini, mungkin akan terhapus. Aku cuma perlu berusaha mendaki satu demi satu milestone. Dosa pada Allah, harus terus menerus ditaubati, diistighfari. Dosa pada manusia, selain taubat kepada Allah, juga harus meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Aku nyatanya, cuma manusia biasa yang punya banyak dosa. RahmatNya menutup rapat sehingga hanya aku dan orang tertentu yang diizinkanNya untuk tahu.


Aku.. cuma salah satu dari keturunan Adam. Yang belajar, dan akan terus belajar, bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab akan kesalahan yang diperbuat. Berharap kelak, mati dalam keadaan terbaik menghadapNya. Berharap kelak, diizinkan mencicipi Jannah-Nya, yang lebih luas dari langit dan bumi.

The End.

***

PS: Lama rasanya tidak menggunakan hashtag #fiksiku, lebih sering menggunakan hashtag #fiksi. Mau tahu bedanya apa? #fiksi hanya fiksi, mungkin inspirasinya dari kejadian nyata, tapi hanya fiksi. Fiksiku, lebih banyak dari kisah nyata, disajikan dalam tulisan ala fiksi. Tapi keduanya, sebenarnya cuma potongan saja, tidak pernah bisa menggambarkan kejadian asli yang menjadi inspirasi awalnya, atau tidak pernah bisa melukiskan detail kisah nyata nya.

PPS: Ga sesulit itu menulis panjang di aplikasi hp ternyata hehe. Tulisan ini, bukan by Isabella Kirei, tapi by The Magic of Rain ~

Wednesday, November 22, 2017

Yang Melupakan, Yang Mengingat

November 22, 2017 0 Comments
Bismillah.

#fiksi

Aku melangkah ke lab temanku, setelah menyelesaikan empat rakaat ashar. Di sana, aku menitipkan tas dan menumpang mengisi baterai handphone-ku.

"Kita, ada acara prodi. Harus pergi," ucap temanku, mengusirku secara halus. Aku tersenyum, segera mengatakan bahwa aku juga harus pergi.

Saat hendak keluar, seseorang memanggilku, bukan memanggil nama, tapi jelas ia memanggilku. Aku menoleh, setelah melewati pintu lab.

"Bener kan ya? Aku pernah ketemu teteh loh, dulu teteh ngajarin aku kalkulus" ucap seorang perempuan berkhimar abu yang berdiri di sebelah temanku. Aku sedikit memiringkan kepalaku, mencoba mengingat-ingat.

"Kenalin Yun, ini Titis, adik tingkat lab-ku", temanku memperkenalkanku pada Titis. Kuterima uluran tangannya kujabat tangan Titis pelan, ragu karena aku sama sekali tidak mengingatnya. Kuucapkan namaku, "Yunita"

"Dulu.. Waktu aku TPB, aku pernah nginep di kosan Teh Faiza. Yang lain udah tidur, teh Yunita masih begadang di depan laptop," ucap Titis. Temanku masuk lagi ke labnya, mungkin hendak berkemas sebelum hadir acara prodi.

Titis kembali menjelaskan, saat itu ia kesulitan di salah satu soal kalkulus, besoknya ia ada UTS. Saat itu aku mungkin membantunya. Aku tidak ingat sama sekali sebenarnya. Meski aku memang salah satu penghuni kos yang sering begadang di ruang internet.

"Makasih ya, yang waktu itu Teh" ucapnya. Aku tersenyum, mengangguk, bertanya sekali lagi namanya karena aku sering lupa nama seseorang.

from unsplash

***

Sepulang dari gedung prodi tersebut, aku melangkah ke masjid kampus. Sembari berjalan aku teringiang penjelasan Titis, fakta bahwa ia mengingat apa yang tidak aku ingat. Seperti itulah hidup. Memori dan ingatan itu terikat erat pada pribadi masing-masing. Ada yang ingat sebuah kejadian, karena itu berarti untuk mereka. Dan ada yang lupa. Bisa jadi kejadian baik, seperti kesan Titis padaku, atau kejadian buruk seperti luka lama yang mereka lupa namun aku mengingatnya.

Uniknya sore itu, aku membaca sebuah ayat yang membuatku lebih memaknai lagi tentang lupa dan ingat. Bukan tentang kejadian baik atau kejadian buruk. Itu urusan dunia. Tapi tentang diriku, dan dosa-dosaku, yang mungkin telah aku lupa.

"Pada hari itu mereka semua dibangkitkan, lalu diberitakannya pada mereka apa yang telah mereka kerjakan, Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu" (QS Al Mujadilah ayat 6)

The End.

Saturday, October 14, 2017

Dua Saudari, Dua Karakter, dan Seorang Ibu

October 14, 2017 0 Comments
Bismillah.
#hikmah


Dua Saudari

Dua orang saudari, berbagi satu rahim. Setelah empat bulan sang kakak dilahirkan dari rahim tersebut, sang adik giliran mengisi rahim itu. Tiga belas bulan jarak kelahiran kedua saudari ini. Satu tahun lebih empat puluh hari, relatif waktu yang singkat, namun relatif lama. Keduanya tumbuh bersama, berebut mainan, mengenakan baju yang sama, belajar membaca bersama. Setiap pertengkaran kecil, setiap tawa, setiap tangis, setiap saat kebersamaan, menjadikan keduanya dekat, tidak sekedar kakak-adik, tapi seolah teman seumuran, berbagi rahasia-rahasia kecil, pergi ke sekolah yang sama. Ya, dari tingkat kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan akhir. Sampai akhirnya keduanya terpisah oleh jarak, sang kakak ditakdirkan duduk kuliah di kota kelahirannya, sedangkan sang adik merantau ke kota orang.

Dua Karakter

Seperti kembar yang berbeda karakter, kedua saudari yang hanya berbeda satu tahun lebih ini juga memiliki dua karakter yang berbeda. Yang satu dominan, ekstrovert, koleris. Yang lain melankolis, introvert, sanguin. Yang satu sangat disiplin, yang lain perlu diajarkan supaya disiplin. Yang satu pelit, yang satu dermawan. Mereka berbeda, seringkali bertolak balik tapi tidak jarang pula beririsan. Mereka klop, dua karakter yang klop. Yang ekstrovert anehnya bisa membaca rahasia-rahasia introvert, mungkin karena sudah tumbuh dan besar bersama. Lewat sang ekstrovert, ibu jadi mengetahui sang introvert. Ya, Ibu.

Seorang Ibu

Seorang ibu yang melankolis, protektif, tekun. Sering mengajak bercanda kedua putrinya tentang cinta monyet keduanya saat masih remaja. Namun bisa berbicara wejangan tentang calon suami kedua putrinya kelak dengan serius namun tidak membebani. Seorang ibu yang sering menyenderkan badannya, meminta perhatian dari kedua putrinya. Seorang ibu yang mengirim sms berkali-kali dalam sehari untuk mengetahui keadaan kedua putrinya.

Tidak ada yang tahu, mengapa Allah menakdirkan sang introvert untuk pergi merantau. Tidak ada yang tahu, mengapa Allah menakdirkan sang ekstrovert untuk tetap di samping sang Ibu. Selama masa-masa itu... banyak hal terjadi. Sang introvert sadar, bahwa ia begitu buruk menjaga komunikasi dengan sang Ibu. Sang ekstrovert, sering marah-marah kalau sang Ibu menyenderkan badannya manja padanya.

Waktu berlalu, roda berputar. Sekarang sang introvert yang berada di sisi Ibunya, sedangkan sang ekstrovert merantau, mengikuti suaminya yang bekerja di luar pulau. Hikmah, selalu datang diam-diam, menelisip saja ke kalbu manusia, menanti untuk ditemukan.

Sang introvert diam-diam bersyukur, setelah 6 tahun merantau, ia kini bisa berada lagi di samping ibunya. Shalat berjamaah bersama, saling bersandar manja, mendengarkan kecerewetan Ibunya langsung dan bukan lewat pesan yang menumpuk di hape. Ia senang bisa berada di samping Ibunya, berjalan bersama, menemani Ibunya menghadiri majelis ilmu, meski tak banyak kata, tapi berada di samping Ibunya sedikit demi sedikit menghapus luka di hatinya.

Sang ekstrovert diam-diam bersyukur, merantaunya kali ini lebih bermakna. Ia menjadi paham peran Ibu dalam hidupnya, kerinduan yang muncul setiap kali ia di rumah, memori bersama Ibu yang muncul seiring waktunya bersama bayi pertamanya. Rindunya masih bisa diejawantahkan di setiap telpon menjelang magrib, ia selalu tahu pertanyaan dan cerita apa yang butuh ia ungkapkan. Waktu sempit itu memang tidak pernah mampu mengganti saat dulu ia bisa bebas bercerita apa saja pada Ibunya saat masih satu rumah, namun karena pernikahannya, ia jadi paham betapa berharga waktu-waktu yang dulu ia lewati.

Dua Saudari, Dua Karakter dan Seorang Ibu

Semoga ketiganya bisa menjalin silaturahim dengan caranya masing-masing, hingga kelak, dipertemukan lagi di Jannatullah. Aamiin.

Monday, September 18, 2017

Permen

September 18, 2017 0 Comments
Bismillah.
#fiksi
Aku akan menyesalinya, menyesalinya, dan menyesalinya lagi. Tidak dapat kupungkiri, meski sebagian hatiku akan lega, tapi sebagian hati yang lain tidak akan berhenti untuk menyesal.

"As far as I know, regret can change nothing. Yes, that uncomfortable feeling won't change anything. Beside, that uncomfortable feeling might be holding you back when you try to walk forward. But as far as now, I still want to keep this regret, but not to be drawn to, instead to remind myself, that I shouldn't repeat that same mistakes, that I shouldn't repeat that same missteps, that I shouldn't repeat that same misspeak"
Aku mengetik rangkaian paragraf tersebut, kemudian tersenyum geli karena aku seenaknya saja membuat frase baru, 'ada gitu kata missteps? apa lagi misspeak?' batinku.

"Lagi ngapain Ya?", sebuah suara membuatku menoleh ke arah dispenser. Suara Siska, seperti tebakan telinga dan memori otakku, ia yang turun dari lantai dua untuk mengisi botol air minumnya. Kujawab iseng, "Sedang duduk", mendengar jawabanku Siska mendengus. Suasana kemudian hening, hanya terdengar suara air yang berpindah, dari galon, ke keran dispenser, kemudian ke botol 1L berwarna biru muda itu. Aku saat itu sedang sibuk mencari grammar dan vocab yang benar, saat Siska duduk di sampingku, di meja ruang tengah kontrakan kami.

"Aneh," gumamnya pelan. Aku melihat dari ujung mataku, pandangan Siska ke wajahku, seolah ada laser di matanya. Aku menoleh, kemudian membesarkan kedua bola mataku, menunjukkan ketidaknyamananku dipandang Siska seperti itu, juga meminta penjelasan lewat gesture mata tersebut. Siska yang sudah tiga tahun tinggal se atap, pernah sebelahan pula kamarnya, saat dulu aku masih di lantai 2, menangkap sinyalku.

"Lo aneh banget Ya, Kiara, alias Aya", ucapnya sepenggal. Kemudian ia lanjutkan dengan berbagai analisis wajahku yang tidak cocok.

"Tadi, waktu aku turun, ujung bibirmu naik satu senti, harusnya kamu sedang bahagia. Tapi.. ketika aku dekati, ada jejak tangis di mata dan pipimu," jelasnya. Aku memilih mengabaikan penjelasannya, karena tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi.

"Aya? Lo baik-baik aja kan Ya?", ucap Siska sembari menempelkan telapak tangannya ke dahiku, yang kemudian segera aku lepaskan. Siska memiringkan sedikit kepalanya, tanda kalau ia benar-benar merasa heran.

"Kenapa? Ga panas? Iyalah. Aku sehat Ka, Lo aja ya aneh," ucapku dengan nada meninggi. Siapa juga yang dibilang orang aneh.

"Hidup ini Ka," ucapku, "emang kaya gitu. Sebentar nangis, sebentar kemudian ketawa. Ga mungkin nangis-nangis terus, atau ketawa-ketawa terus. Harus fluktuatif, ada bahagia ada sedih, ada sakit, ada sehat, ada luang, ada sibuk. Apanya yang aneh?" ucapku, masih sewot. Siska cuma angguk-angguk kepala, dan menggerakkan tanggannya seolah mempersilahkanku kembali fokus ke laptop.

"Terimakasih atas wejangan malam ini, Raden Ayu Kiara," ucapnya dengan nada pelan dan penuh sopan santun. Aku yang sempat naik darah jadi leleh lagi, kemudian tersenyum. "Maaf, kebawa emosi", kataku sembari menggigit bibir karena menyesal sudah meluapkan rasa marahku pada Siska.

"Dimaafkan. Salah gue juga bercandain miss sensi," ujarnya kemudian berlari kecil menaiki tangga

"Ka," panggilku kemudian berdiri, Siska makin mempercepat langkahnya mungkin mengira aku hendak mengejarnya.

***

Untuk yang satu ini aku akan menyesalinya, aku tahu, aku akan menyesalinya, lagi dan lagi. Tidak dapat kupungkiri, meski sebagian hatiku akan lega, tapi sebagian hati yang lain tidak akan berhenti untuk menyesal.
  
"Menyesal memang tidak dapat mengubah apapun, aku tahu itu. Menyesal juga dapat menahan kita untuk maju ke depan, itu.. aku juga tahu. Tapi untuk saat ini, tentang ini, aku akan membiarkan diriku menyesal, lagi dan lagi. Bukan untuk tenggelam dalam penyesalan, kemudian hidup di dalamnya. Bukan. Tapi untuk mengingatkan diri, bahwa pahit asam dan asin penyesalan ini, tidak sedap. Supaya aku tidak merasakannya lagi, aku harus belajar dan berprogres. Saat menyesal, penyesalan, dan kata-kata lain terntang sesal dikelilingi aura negatif, izinkan aku menyimpannya untuk kemudian menjadikan aku positif. Semoga dengan menyimpannya, atau mengingatnya, lagi dan lagi, aku jadi berusaha untuk tidak jatuh di kesalahan yang sama. Dengan memilikinya, lagi dan lagi, membuatku belajar untuk tidak salah langkah, tidak salah bicara, tidak salah lagi di tempat yang sama, dengan cara yang sama, dengan situasi yang sama.

Meski aku tahu, manusia sejatinya, akan mengulangi kesalahan lebih dari satu kali. Izinkan aku menyimpan penyesalan ini, mengingatnya lagi dan lagi. Agar hatiku selalu tunduk malu di hadapanNya. Agar mataku selalu basah, memohon ampun kepadaNya. Agar setiap tinggi hati musnah, setiap perasaan sombong sirna, karena aku tahu.. aku menyesal, begitu menyesal, lagi dan lagi atas setiap kesalahan yang aku perbuat.

Semoga Allah menjadikanku salah satu hamba, yang selalu bertaubat dan kembali padaNya, lagi dan lagi. Berlari, ke Ampunan-Nya yang lebih luas dan jauh lebih besar, dari dosa-dosaku.

PS: Terkadang menulis dengan bahasa inggris, untuk topik sensitif memang menyenangkan, dan sudah jadi ciri khasku. Tapi jika aku tersendat, karena kemampuan bahasa inggrisku yang segitu-gitu saja, bahasa indonesia, bahasa utamaku, bukan lagi pilihan kedua. Cause it's better to write it, than to kept it inside and let it bottled up. Right?"
Aku melihat baris judul di editor blogku. 'Harus kuisi dengan apa ya?' batinku, saat kudengar langkah kaki turun dari lantai dua. Aku buru-buru menyembunyikan botol biru satu liter di belakang punggungku.

"Cari apa Ka?" tanyaku dengan senyum yang merekah di wajahku. Jejak air di wajahku kini sudah benar-benar sirna, mataku juga sudah tidak merah atau bengkak lagi. Perasaanku sudah membaik sehingga aku bisa berlaku childish, menyembunyikan botol biru yang tadi ditinggalkan Siska yang sibuk melarikan diri, padahal aku tidak berniat mengejarnya.

"Tadi kamu berdiri mau ngingetin kalau botolku ketinggalan?" tanyanya.

"Botol apa?" tanyaku kemudian mencoba menahan tawa. Lalu kami "berantem" layaknya anak kecil, Siska yang berusa mengambil botol birunya, dan aku, yang berusaha mencegahnya.

The End.

***

Epilog *wah ada epilog juga kkkk*


Siska sebenarnya dari tadi tidak masuk ke kamarnya. Ia memang lari naik ke lantai 2, kemudian duduk di anak tangga paling atas. Terduduk saja dalam hening sembari mencoba mendengarkan suara dari lantai satu. Yang ia dengar cuma suara kecil saat jemari Aya beradu dengan keyboard, kemudian hening, kemudian suara Aya membersihkan cairan di hidungnya sekali, mungkin karena tangis sunyinya. Selebihnya, suara jemari yang beradu dengan keyboard lagi. Setengah jam, tidak ada isak, tidak ada suara tangis, perlahan Siska beranikan diri turun ke lantai satu lagi. Saat itulah ia disambut senyum mekar Aya. Siska menghela nafas lega dalam hati, "Aya baik-baik saja, Aya sudah baik-baik saja."

Penghuni kontrakan lain mungkin tidak tahu. Mereka tidak pernah tahu kalau Aya selalu menyembunyikan tangisnya. Ia bisa dengan mudah tersenyum, meski matanya mengalirkan air mata. Ia bisa dengan mudah menjawab, kalau ia kurang tidur, dan memang ia selalu kurang tidur. Tapi Siska tahu, Aya selalu seperti itu. Dibalik senyum itu, senyum manis itu, ada banyak luka di hati Aya. Ada bekas tangis yang seringkali dapat hilang dalam hitungan menit. Dan Siska tidak pernah memberanikan bertanya alasannya, karena Aya selalu begitu, penampakannya terlalu ekstrovert untuk seorang introvert. Senyumnya bukan senyum topeng, karena benar kata Aya, kalau kehidupan memang seperti itu. Dalam hitungan detik, kita bisa berpindah dari kondisi tangis ke kondisi tersenyum. Dari sana Siska belajar banyak hal, kalau Siska tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Ada banyak yang bisa membuat Aya tersenyum, meski Siska tidak tahu, apa yang membuat Aya tersenyum saat Siska pertama kali turun untuk mengisi botol air minumnya. Yang siska tahu, Aya sekarang sudah baik-baik saja, dan senyum kali ini.. bisa jadi Siska pemicunya.

permen (from unsplash)

"Semoga Siska bisa jadi alasan kecil untuk Aya tersenyum, dan bercanda lagi, seperti anak kecil, yang bisa dengan mudah tersenyum karena sebuah permen meski sedetik yang lalu menangis. Izinkan Siska menjadi pemen itu", ucap Siska dalam hati ketika ia mulai mencoba merebut botol biru yang disembunyikan Aya di belakang punggungnya.

***

Sunday, June 4, 2017

Surat Di Kertas Putih Bergaris Merah

June 04, 2017 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

Pemuda yang hatinya katanya sudah mati akhirnya datang ke gedung ini. Perlahan ia menyerahkan selembar kertas berwarna putih bergaris merah, sepertinya sobekan dari salah satu buku tulisnya. Ia meletakkan kertas itu di mejaku, kemudian berkata, "Mohon dibaca setelah saya pergi". Kalimat pendek itu.. lalu ia berbalik dan meninggalkan gedung ini.

Aku perhatikan kertas itu, terlipat menjadi dua sehingga aku tidak bisa melihat isinya, ujung-ujung sedikit keriput, mungkin ia memegangnya dan menekan ujungnya agak keras saat berjalan menuju gedung ini. Perlahan aku buka lipatannya dan tertulis di sana beberapa paragraf dengan tinta biru, aku membaca suratnya, runut dari tanggal di ujung kanan atas sampai akhir titiknya.

***

Kalau boleh aku bersikeras, aku ingin ia pergi saja. Karena jujur aku sudah cukup bersyukur dengan progres diriku sekarang. Rasanya aku baru pantas lulus SD, aku tidak siap jika harus pada saat ini juga aku menempuh ujian masuk SMP. Ingin rasanya istirahat setahun dulu, karena lulus SD saja aku seperti berdarah-darah. Aku tahu aku lebay, ini super duper hiperbol. Masa ikut ujian masuk SMP aja ga mau? Tinggal jalanin, kan yang nentuin kamu masuk atau ga bukan kamu. Jalanin aja... kalau memang ga bisa masuk SMP, kamu baru boleh istirahat satu tahun. 

Tapi.... lembar soal di hadapanku, aku tidak mau sekedar berpikir dan mencari jawabannya. Bahkan aku tidak mau sekedar ngasal menghitamkan lembar jawaban. Aku tidak mau itu semua... aku ingin pergi saja, tanpa membuka lembar soal yang masih tertutup, aku ingin pergi saja dan membiarkan lembar jawaban itu kosong. Aku... jahat bukan?? Sesungguhnya aku juga benci melihat diriku yang seperti ini. Aku benci mengetahui diriku yang begitu jahat. Ingin rasanya aku menghukumnya, meski aku tidak tahu bagaimana caranya. Ingin aku... merubahnya menjadi lebih baik, meski aku tidak percaya ia bisa berubah. Mungkin aku percaya, tapi tidak bisa secepat ini, tidak bisa dalam tiga empat bulan ini.

***

Tulisannya tidak serapi biasanya, terlihat dari beberapa bagian yang mendadak keriting, mungkin ia beberapa kali menangis sembari menulis.

Aku mengambil selembar kertas A4 kosong, kulipat jadi dua, lalu di sana kutulis satu, dua sampai tujuh kalimat. Ku foto kertas itu, kemudian kukirim hasilnya ke nomor pemuda yang sudah tidak berada di gedung ini sekarang.
"Kamu bukan tidak mau mengerjakan soal masuk SMP, kamu hanya takut. Kamu terlalu takut akan hasilnya, sehingga kamu memilih tidak melakukan apa-apa. Ingatlah... kamu tidak sedang mengusahakan untuk diterima di SMP tersebut. Kamu sedang mengusahakan ridho orang tua melalui usaha keras ujian tersebut. Fokuslah ke tugas kamu, ikuti proses sebaik-baiknya. Baca soalnya, pikirkan jawaban mana yang benar, selesaikan ujiannya. Hasilnya, bukan urusan kamu."
The End.

***

PS: Epilog hehe, barusan buat desain di canva tentang apa yang kemungkinan si pemuda tersebut tulis setelah membaca balasan suratnya? Hehe.. Trus jadi dapet inisial tokoh si pemuda: fr. Tinggal cari nama yang bagus, kalau misal mau dilanjutin kisahnya hehe. 


Wednesday, March 8, 2017

You Made My Day

March 08, 2017 0 Comments
#fiksiku #hikmah

Bismillah.

Pesan dari seorang teteh.. baru pernah, ada yang bilang begitu padaku, jadi izinkan kutuliskan di sini. Maaf banyak curhat.

***

Monday, December 12, 2016

Can't Help But Know

December 12, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

kebun sayur
Dihadapanku, seolah ukhti tersenyum, sembari mengambil foto kesana kemari. Aku mengikutinya tanpa beban, karena berada di taman, selalu membuat tenang. Kawanku, dengan kameranya, dan aku yang mencukupkan menyimpan dalam memori image yang ditangkap mata.

"Aku mau memfoto semua, semua bunga, semuanya... bayam ini juga, sawi ini juga. Semua mau di foto", sahutnya saat aku berjalan mendahuluinya. Aku tersenyum, menghentikan langkahku, memperhatikan ia, yang asik dengan kameranya.

***

Kalau aku seorang ikhwan, melihat sahabatku yang cantik dan bersifat ceria, pasti naksir hehe. Pasti bisa dibuat ga bisa tidur, hanya karena memikirnya senyumnya hehe. Untunglah, alhamdulillah, Allah menakdirkanku sebagai sahabatnya, yang bisa menikmati tanpa takut dosa, senyum cerianya. Namanya Ceri, seperti nama buah. Uniknya, nama itu cocok sekali dengan sifatnya yang selalu ceria. Aku yang yang sering naik turun mood-nya, sering diwarnai dan dibuat ikut tersenyum, hanya karena melihat keceriannya.

Ceri dan aku duduk di sebuah bangku taman. Sejenak mengguyur dahaga, dan menyemil wafer coklat yang dibawa oleh kami.

"Aku pengen deh, jadi fotografer profesional, kaya....." ucap Ceri menyebut sebuah nama. Nama ikhwan.

Thursday, October 13, 2016

Connected or Disconnected

October 13, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

May menyeruput latte hangat di hadapannya sembari memperhatikan rintik hujan yang intensitasnya makin rendah. Di sebelahnya Nayla asik memandangi gadgetnya, entah sedang bertukar pesan lewat sosmed, atau sekedar scrolling puluhan status terbaru di newsfeednya.

"May, kamu kalau lagi jenuh sering pergi sendirian kaya gini?" tanya Nayla tiba-tiba.

"Hm.." jawab May pendek.



May dan Nayla sebenarnya tidak terlalu dekat, hanya saling kenal karena beberapa kali mengambil mata kuliah sama. Hari ini saat May sedang asik berjalan sendiri sekedar untuk menghabiskan waktu me-time mereka bertemu karena sama-sama menghindar dari hujan. Mungkin takdir, mereka sama-sama sendiri, dan Nayla yang ramah itu, menyapa May dan mengajaknya minum kopi semeja, meski pada akhirnya lebih sering hening ketimbang mengobrol.

Wednesday, September 28, 2016

Si Jaket Biru dan si Jelita

September 28, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

Alkisah di sebuah kampus, seorang mahasiswi baru sedang duduk di pelataran masjid, membaca catatan materi satu pekan lalu karena hari ini akan ada kuis fisika dasar. Nama mahasiswi itu Sika, ia memang lebih suka kemana-mana sendiri, soliter, pendiam, juga seorang observant. Pandangannya dari buku catatan tiba-tiba tertarik pemandangan lain. Sesosok kakak tingkat berjaket biru tua cerah.

JB, Jaket Biru
Mungkin karena sama-sama sering berada di pelataran yang sama, meski jarak jauh sekitar 10 meter, Sika selalu bisa mengenali sosok jaket biru itu (selanjutnya disebut JB). Kak JB ini, pakaiannya selalu khas, menarik mata Sika untuk titen, kalau bukan pakai jaket biru, pasti pakai baju koko. Satu dua pekan, entah sengaja atau tidak, Sika jadi tahu sedikit-sedikit info tentang si JB. Ia ternyata mahasiswa tingkat 3, padahal awalnya Sika mengira Kak JB tingkat 4, muka tua kali ya hehehe. Sika juga tahu kalau JB adalah mahasiswa jurusan yang sama dengan jurusan Sika.

"Fokus Sik.. fokus.. Fisika lebih penting daripada yang disana," ucap Sika dalam hati. Namun ternyata pandangan di sana lebih menarik hati Sika. Apalagi sekarang Sika melihat Kak JB sedang 'berduaan' dengan seorang kakak tingkat, perempuan jelita (selanjutnya disebut Jelita). Jarak kak JB dan kak Jelita tidak bisa disebut jauh, karena mereka sedang sama-sama fokus ke laptop dihadapan mereka. Entahlah, mungkin sedang minta diajarkan pelajaran tertentu, atau sedang mengedit proposal kegiatan tertentu.

Thursday, September 22, 2016

Bawaannya Jadi Stres

September 22, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

"Kita, yang biasa aktif di sana-sini, kalau di cut aktifitasnya malah bikin stress. Belajar juga tetep durasinya segitu-segitu aja, tapi malah tambah stres," ucap gadis yang mengenakan khimar berwarna mocca.

Dua teman di hadapannya, si khimar hitam, dan si khirmar magenta menanggapi dengan argumen setuju.

"Trus kamu gimana sekarang?" tanya mocca pada hitam yang belum menjawab aktivitas yang sekarang digeluti.

Saturday, September 17, 2016

Pentingnya Cerita dalam Mengopinikan Pendapat

September 17, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

Another blogwalking from one to another blog of Alumni IF ITB.

Ada yang tahu padanan frase ini di bahasa Indonesia?
There’s a reason all the fairy tales begin, “Once upon a time.” Very few children enjoy getting a lecture.
Let’s face it : “The Tree Little Pigs” wouldn’t have gotten off the ground if it began, “Today I’m going to tell you why you should build your house out of bricks instead of straw”).
- Abraham Krisnanda dalam tulisannya "How to Wow - Beberapa Tips Praktikal"
Saya sarankan baca lengkapnya di link di atas. Karena tulisan aslinya ada banyak hal yang di bahas dan in syaa Allah bermanfaat. Di sini, aku cuma ingin sedikit curhat tentang contoh dan alasan aku masih memilih menulis fiksi meski dibanyak situasi aku lebih suka memilih non-fiksi.

***

Friday, September 16, 2016

Ayo Ketemu dan Ngobrol!

September 16, 2016 0 Comments
#fiksi #random

Bismillah.

Kenapa harus apel?
Alkisah di sebuah Kerajaan setiap tahunnya diadakan sebuah tradisi tiga hari hanya makan buah apel, yaitu bertepatan pada musim apel di saat bulan purnama. Sama seperti kebanyakan tradisi lain, generasi berganti, dan beberapa generasi muda mulai mengabaikan tradisi yang tidak masuk akal bagi mereka.

Ada sebagian generasi muda yang suka sembunyi-sembunyi makan gandum selain makan apel di hari-hari itu. Ada juga yang terbuka di wilayah umum makan roti, membuat banyak generasi tua yang geleng-geleng kepala. Namun ada juga generasi muda yang tetap menjaga tradisi atau biasa juga disebut gerakan apel. Salah satu dari aktivis tervokal dari gerakan apel suatu hari sekitar dua pekan sebelum perayaan tradisi memberikan pengumuman di pusat keramaian anak muda.

Sunday, January 10, 2016

Bukan Itu Maksudnya...

January 10, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

please come to our house
Udara dingin makin mengepung ayah dan anak gadisnya di Stasiun Bandung malam itu. Mereka sedang menunggu kedatangan kereta yang akan mengantar mereka ke kampung halaman. Mungkin orang-orang menyangka orangtua mahasiswi itu begitu protektif, karena tidak pernah membiarkan anaknya sendirian selama perjalanan ke Bandung atau dari Bandung. Mungkin teman-teman mahasiswi itu menyangka gadis itu ikut aliran agama yang keras, karena tidak mau safar tanpa mahram. Tapi banyak juga yang tidak berprasangka, mereka hanya melihat seorang anak gadis yang begitu dekat dengan ayahnya.

Seperti biasa momen menunggu diisi dengan obrolan panjang. Obrolan yang menanti dibagi setelah hampir satu semester tidak bertemu. Obrolan tentang sang kakak yang sedang berproses menuju pernikahan dengan seorang ikhwan di Pulang Nusa Tenggara. Obrolan tentang hal-hal kecil sampai yang besar.

"Tadi siang Ayah ketemu sama kakak tingkatmu," ucap ayah dilanjutkan dengan deskripsi orang itu. Anaknya mengingat nama kakak itu, mahasiswa itu kenal dengan sang Ayah karena di suatu acara kakak itu menjadi LO Ayah sang gadis. Mungkin karena sering bertemu saat di Bandung, tanpa sengaja Ayah melontarkan pertanyaan yang tidak disangka sang kakak tingkat. Sebuah pertanyaan sederhana, "Kapan-kapan main ke rumah ya?"

"Mukanya langsung berubah dan ia terdiam," lanjut Ayah. Pertanyaan tadi memang bisa diartikan berbeda, sama seperti anggapan orang-orang tentang Ayah dan gadis tadi.

Maksud Ayah bukan "main ke rumah" yang artinya menuju ke pernikahan. Bukan itu maksudnya. Ucapan ajakan main ke rumah, cuma ucapan kebiasaan ayah sebagai dosen yang mengajak mahasiswanya main ke rumah.

Kereta yang datang menghentikan obrolan mereka. Obrolan mereka memang sudah selesai, tapi sang gadis terus memikirkan hal tersebut. Berdoa dalam hati, semoga kakak itu tidak salah menangkap, dan juga segera melupakan pertanyaan ayahnya.

***

Pesannya: Kita tidak bisa mengatur cara pandang orang lain, bagaimana mereka menangkap perkataan kita. Yang bisa kita lakukan jika ada miskomunikasi adalah dengan komunikasi juga. Namun tidak semua anggapan orang lain harus kita respon.

Monday, September 15, 2014

TL40xx : Khalwat

September 15, 2014 0 Comments

#fiksiku

Bismillah..



Suasana GKU Timur tidak seramai biasanya, maklum masih 30 menit dari jam satu sing. Riri melangkah pelan menyusuri satu persatu anak tangga di gedung kuliah umum tadi, sembari sekilas melihat propaganda yang tertempel di mading. Di belakangnya, ada dua orang yang sekelas dengannya, melakukan hal sama.



9222 masih kosong dan gelap, enggan menjadi orang pertama yang masuk kelas, Riri memilih menuju "tangga rahasia", duduk di sana dan menikmati kesendiriannya.



"Hei, ayo masuk kelas Ri!" teriak salah satu sisi batinnya.

"Ga mau." jawab sebelah sisi lainnya

"Tapi kau harus mencegah mereka berkhalwat!!"


Monday, July 7, 2014

Saling Cuek

July 07, 2014 0 Comments


-Muhasabah Diri-

#fiksiku

Bismillah.

"kepengurusan tahun ini saling cuek. Akhawatnya cuek, ikhwannya juga. Jalan sendiri-sendiri."

Monday, June 30, 2014

Bukannya Tak Mau Pahala

June 30, 2014 0 Comments
#fiksiku

Bismillah..

Seorang akhawat nampak baru hadir, nafasnya terdengar ngos-ngosan. Ia terlambat rapat perdana ini. Pandangannya kini tengah mencari forum yang harusnya ia hadiri. Koridor ini seperti biasa penuh, meski Ramadhan sudah hari kedua.

Di ujung utara forum yang ia cari masih belum memulai bahasan. "Kita tunggu satu akhawat ya," ucap pemimpin forum.