Bismillah.
#fiksi
"I thought you'd be forever living your offline life. Never occurred to me, someday I'll see you there sharing your life on social media.
The world sure is moving. Cause contrary to you, someone else who used to always be active online, right now is choosing to live a calm life offline."
***
Elene mengedipkan matanya berkali-kali, masih tidak menyangka melihat akun yang direkomendasikan oleh instagram kepadanya. Nama itu begitu familiar dan sungguh ini pasti bukan kebetulan. Entah apa yang dilakukan perusahaan Meta, sehingga ia bisa tahu bahwa nama tersebut adalah orang yang dia kenal dan mungkin Elene ingin terhubung lagi dengan orang itu di instagram. Padahal kalau dari keterangan yang tertulis, mutual friendnya cuma 2, tapi kenapa masih saja muncul di rekomendasi? Pertanyaan itu masih melekat di kepalanya, saat ia akhirnya memilih untuk memenuhi rasa haus kuriositasnya dengan melihat profil orang tersebut.
Saat Elene membuka profilnya, seharusnya orang tersebutlah yang ada di pikiran Elene. Tapi uniknya, yang muncul di kepala Elene justru orang lain. Dua orang itu tidak benar-benar terhubung, kontras bahkan. Tapi perbedaan itu, yang membuat Elene sadar, bahwa roda kehidupan benar-benar berputar. Jemarinya kemudian dengan cepat mengetik nama lain. Kali ini matanya tidak berkedip, ia memandangi lama saja halaman profil berbeda tersebut sembari menahan nafas, bersamaan dengan kelebat memori yang membuat hatinya terasa lebih kosong.
"I thought you'd be
forever living your offline life. Never occurred to me, someday I'll see
you there sharing your life on social media.
The world sure is
moving. Cause contrary to you, someone else who used to always be active
online, right now is choosing to live a calm life offline."
Setelah memposting deretan kata itu di story IG-nya, ia menekan lagi tanda + membuat story baru. Di pilihnya format pertanyaan,
So do people change? if so, what makes them change?
Elene melihat empat angka di kiri atas hpnya, ia buru-buru menutup semua aplikasi di hpnya, kemudian meletakannya jauh dari tempat tidurnya. Lampu kamarnya ikut dimatikan diikuti tarikan selimut dan kelopak mata yang tertutup. Otaknya sebenarnya masih belum ingin tidur, mengajaknya membayangkan siapa saja yang akan membalas story-nya, dan apa jawaban mereka. Di sstt-kannya pikirannya dengan suaranya sendiri. Seperti berbisik, ia melakukan rutinitas doa-doa singkat yang biasa mengantarkannya ke buaian alam mimpi.
Roda kehidupan memang berputar. Siapa yang mengira, Elena yang sebelumnya tidak percaya dan tidak peduli pada Tuhan, kini menjadikan doa sebagai kebiasaannya sebelum tidur?
The End.


No comments:
Post a Comment
ditunggu komentarnya