Follow Me

Tuesday, April 7, 2026

When Book Become Escapism

Bismillah.

Hello there. Long time no see.  How's your Syawal?


Kutulis ini lewat aplikasi Blogger. Jujur rasanya sedikit kikuk. Sepertinya sudah lama sekali tidak menulis di hp.


***


Post kali ini sesuai judul ingin membahas bagaimana sebuah buku bisa menjadi tepat untuk kabur sejenak dari relitas hidup. Terkadang kita butuh waktu-waktu itu kan? Sejenak keluar dari dimensi realita, ke tempat aman dan nyaman dimana kita bisa meletakkan sejenak beban pikiran kita.


Aku, jujur, masih belum bisa mencintai buku seperti dulu aku mencintainya. I still read. But the love I have is different. Kalau dulu, aku bisa berlama-lama dengannya. Akhir-akhir ini, aku hanya duduk sebentar dan membaca. Lalu cepat bosan, berganti judul, membaca lagi. My attention span is decreasing and I know the cause. Tapi aku belum punya kekuatan tekad untuk menyingkirkan penyebabnya. Padahal Allah seolah pernah mengetuk hatiku lewat sebuah kejadian.


***


Saat itu jam 12, semua orang tertidur, tapi kulihat seorang anak usia sekitar 4 tahun masih terbangun. Tangannya memegang hp, atau tidak, mungkin hpnya diletakkan di karpet. Aku lupa detailnya. Aku lihat dengan jelas dari layar hpnya, ia scroll dari satu short ke short lain. Hatiku bergemuruh, bertanya-tanya siapa orangtua anak kecil tersebut.


At that age, you haven't have control upon yourself. I mean, I am an adult, and sometimes I forget time when I do scroll and scroll. ><


Tapi aku hanya memperhatikan anak tersebut, bertanya kenapa belum tidur, tadi tidur jam berapa. Dia menjawab sekenanya. Perhatiannya masih di hp.


Aku tidak mengenal anak tersebut, pun tidak mengenal orangtuanya. Tapi apakah diam sikap yang benar?


I don't have authority here. Maybe I should ask for help. Itu yang ada di pikiranku. I know it sounds like a coward move, but I really don't know what to do except asking for help. So I walk down the stairs, and talk to the committee, staff, someone who has authority. Kuberitahu situasinya, kujelaskan kekhawatiran ku, dan kudetailkan dimana anak tersebut berada. Dari jawaban mereka, mungkin ini bukan yang pertama kali. Tapi hanya beda lokasi. Setelah meminta tolong, aku pamit. Dan sekitar 10 menitan setelahnya, kulihat mereka naik tangga dan menyapa gadis cilik yang masih sibuk melihat video-video pendek. 4 tahun, bagaimana nanti ke depannya. Itu yang ada di benakku. It's really a hard challenges to educate children in this kind of era.


***


Balik ke judul. Jadi, aku kira aku cepat bosan dan tidak bisa membaca seperti dulu. But then I found books that could become my escapism. Dan kutemukan diriku membacanya dengan perhatian penuh, lembar demi lembar, seperti masuk ke dunia Alice. Meski tentu masih melakukan kewajiban, tapi.. ini berbeda. Satu, dua, tiga buku. Lalu aku memaksa diriku berhenti.


No! I don't need this kind of book. I felt guilty. Then I stop reading for a long time. Dua pekan atau lebih lama. Rasanya seperti tidak membaca 2 bulan. Meski kalau dilihat dari catatan laporan baca di grup WhatsApp "Konsisten Baca Buku" aku masih laporan baca 4 kali di bulan Februari dan 2 kali di bulan Maret. Tapi tetap saja, aku tahu betul berapa kali aku menghindarkan diri untuk membaca karena rasa bersalah yang bersarang.


***


But things get better.. hidup memang begitu, naik turun. Alhamdulillah sekarang perasaannya sudah membaik. Buku-buku yang dijadikan escapism biarlah di sana. Mari fokus kembali ke tujuan awal membaca, untuk menghubungkan diri dengan realita. Untuk menambah pengetahuan dan memperluas perspektif hidup.


Kalau tidak bisa sendiri, setidaknya cari teman.~ Jadi kubuka lagi pintu untuk perempuan yang ingin konsisten baca buku dan butuh support system.


Semoga dengan bertambahnya anggota jadi bertambah pula semangat untuk membaca. Kita juga jadi bisa melihat, bagaimana beragam bacaan orang lewat laporan tiap anggota.


Yang mau gabung boleh langsung klik link https://chat.whatsapp.com/JcBDKKPti1WKtM71zq3xaz?mode=gi_t


Nanti kalau udah request to join, aku wapri tanyain nama dan domisili. Untuk berkenalan dan memastikan yang join memang niat join karena pengen konsisten baca. Karena jujur ada beberapa nomer yg join tapi ketika di wapri gak jawab. Kemungkinan besar gabung karena ingin spam, atau bot wa yang dapet link dari google.


Anyway. Kesimpulan akhirnya, seperti disebut di awal. Sesekali gapapa menjadikan buku sebagai escapism. Tapi mayoritas bacaanmu seharusnya lebih banyak menjadikan dirimu terhubung dengan realita. Karena bahkan banyak buku fiksi yang ceritanya diangkat dari kisah nyata, agar kita tahu bahwa itu pernah atau bahkan masih terjadi, di tempat dan orang yang berbeda.

Sekian. Semangat membaca, meski "dunia" memaksamu untuk sibuk menonton. Feed your mind, and take care your mindset. Broad your perspective and sharp your emphaty. Hope we all becoming a better person day by day. Aamiin.


See you next time^^


Wallahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya