Follow Me

Wednesday, January 21, 2015

Resensi: Benarkah Kau Mencintainya?



Judul Buku: Shahih Sirah Nabawiyah
Penulis: Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfury
Penerbit: Jabal
Jumlah Halaman: 648 halaman.

Bismillah.

Bukankah cara masuk surga termudah adalah dengan mencintainya?  Seperti itulah yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Muslim,

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR. Muslim) [1]

Tapi mencintai seseorang apakah hanya dilisan? Dengan bershalawat kepadanya tiap tasyahud dalam shalat? Tapi bisakah kita mengaku mencintainya, namun kita tidak mengenalnya? Bagaimana kita mengaku cinta, jika kita tidak tahu apa yang ia sukai? Bagaimana kita mengaku cinta, jika kita tidak tahu apa yang ia tidak suka? Bagaimana kita mengaku cinta, jika kita tidak tahu siapa istri-istrinya? Bagaimana kita mengaku cinta, jika kita tidak tahu siapa sahabatnya? Bagaimana kita mengaku cinta, jika kita tidak tahu keresahan dan kesedihannya? Bagaimana kita mengaku cinta, jika kita tidak tahu luka dan cobaan yang ia lakukan untuk melihat kita selamat?

Dari kedua paragraf di atas, saya termotivasi untuk memberi dan membaca buku tebal ini. Sebelum membahas buku ini, mari kita mengetahui perbedaan dasar Tarikh dan Sirah [2]. Tarikh merupakan sebuah tulisan yang disusun secara kronologis tanpa mempedulikan kisah atau cerita yang dibangun. Sedangkan sirah merupakan tulisan perjalanan hidup seseorang atau biasa kita kenal dengan biografi.

Buku Sirah ini ditulis oleh seorang ulama kelahiran India ini, judul aslinya Ar Rahiq Al Makhtum, atau Bukti Kenabian.  Sirah yang satu ini cukup terkenal di Indoesia karena cap "Juara 1 Lomba Penulisan Sejarah Nabi" oleh Persatuan Ulama Sedunia. Karya ini, selain memiliki bobot ilmiah, juga dinilai mempunyai metode pengungkapan yang indah. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh beliau sendiri ke dalam bahasa Urdu, dan kini diterjemahkan hampir ke semua bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia. [3]

Sirah ini terbagi menjadi enam bab, yaitu: kondisi bangsa arab dan kaumnya, garis keturunan Rasulullah (shalallahu 'alaihi wasalam), di bawah lindungan nubuwah dan risalah dakwah, penaklukan kota mekah sampai haji wada, dan akhir masa kehidupan Rasulullah.

Bab pertama menceritakan kondisi bangsa Arab sebelum Rasulullah dilahirkan. Bagian ini membuat kita seolah dapat melihat kondisi pada waktu itu. Kita seolah melihat posisi  tanah arab, dan kerajaan atau imperium disekitarnya, dan kehidupan bangsa arab. Cerita fase perjalanan Nabi Ibrahim 'alaihisalam setelah kejadian sa'i diungkap disini dengan cukup jelas. Saat saat perintah berkurban turun, dua kali saat bertemu dengan istri Ismail, dan yang terakhir saat membangun ka'bah bersama. Bab ini mungkin dihadirkan untuk menyamakan suhu pembaca. Bagian ini menurut saya juga merupakan keunikan dari buku ini. Beberapa buku Sirah Rasulullah yang lain seringkali tidak memiliki fase "pemanasan" ini.

Bab kedua menceritakan pembaca garis keturunan dan keluarga Nabi serta kelahiran hingga 40 tahun sebelum nubuwah. Tentang garis keturunan Rasulullah, terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Penulis dapat menuliskannya dengan singkat dan mudah dimengerti. Ia pendapat garis keturunan membagi menjadi tiga bagian: bagian yang disepakati oleh seluruh ahli biografi dan keturunan (Rasulullah hingga Adnan), bagian yang terdapat 30 pendapat berbeda (Adnan - Ismail) dengan kesamaan pendapat bahwa Adnan benar merupakan keturunan Ismail 'alaihisalam, dan bagian dari Ibrahim hingga Adam yang banyak dinukil dari ahli kitab. Kemudian bagian selanjutnya adalah penjelasan keluarga Rasulullah (Hasyim, Abdul Muthalib dan Abdullah) dengan disisipi kisah Pasukan Gajah yang hendak menyerang Ka'bah. Kemudian diteruskan dengan kisah kelahiran sampai sebelum wahyu turun yang hampir sama dengan kebanyakan Sirah Nabawi lain.

Bab ketiga menjelaskan kisah Nabi saat wahyu mulai turun hingga sebelum perintah hijrah. Beberapa cuplikan kisah yang membuat saya berhenti sejenak dan menuliskannya ulang adalah  kisah terputusnya wahyu, kisah tiga musyrikin yang mencuri dengar bacaan quran Rasulullah, dan kisah saat kaum musyrikin mekan tersungkur dan bersujud saat mendengar ayat sajdah (An Najm ayat 62).

Bab Keempat adalah bab terpanjang di buku ini, yaitu sebanyak  289 halaman (dari halaman 221-509). Masih dengan bahasa yang baku namun tidak kaku, penulis menceritakan kisah dakwah Rasulullah di Madinah. Kembali, di awal bagian ini penulis menceritakan 'prolog'. Ia menceritakan kondisi masyarakat Madinah saat Rasulullah hijrah, agar pembaca tahu dan seolah dapat melihat dan mengenal masyarakat Madinah saat itu. Setelah itu cerita dibagi menjadi dua tahap, membangun masyarakat baru dan babak baru dalam dakwah. Tahap pertama merupakan kisah-kisah saat Rasulullah mulai membangun masjid, mempersaudarakan kaum muslim, juga cerita beberapa perang (badar, uhud, dll) hingga perjanjian hudaibiyah. Babak baru dalam dakwah menceritakan saat kaum muslim saat itu sudah dilihat kuat dan disegani bangsa arab lain. Beberapa korespondensi dengan Raja dan Amir diceritakan termasuk didalamnya pengiriman surat dan utusan ke Najasyi (Raja Habsyah), Kisra (Raja Persia), Qaishar (Raja Romawi), dll.

Bab Penaklukan kota mekah sampai haji wada adalah bagian kedua terakhir di Sirah Nabawiyah ini.  Penaklukan kota mekah menurut Ibnul Qayyim, merupakan perisrtiwa penaklukan terbesar yang dengannya Allah telah memuliakan agamaNya, Rasul-Nya, tentara-Nya, dan pasukanNya yang terpercaya. Dengan penaklukan ini pula, lanjut Ibnu Qayyim, Dia telah menyelamatkan "negeri" dan "rumah"-Nya yang akan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di bab ini pula diceritakan peristiwa mengharukan saat kaum Anshar protes, dan dijawab dengan pernyataan yang membuat janggut mereka (kaum Anshar) basah oleh air mata.

Bab penghujung buku ini, kisah sendu nan pilu kembalinya Rasulullah ke haribaan ilahi dipaparkan. Setelah kisah tersebut, penulis melakukan flash back, menuliskan hal-hal lain yang tidak dituliskan secara khusus di bab-bab sebelumnya. Yaitu tentang rumah tangga Rasulullah, serta sifat dan akhlak Rasulullah. Di bagian sifat dan akhlak ini, penulis mengutip pendapat beberapa shahabat tentang kesempurnaan fisik, juga jiwa dan akhlaknya. "Dia sangat bersih, wajahnya cerah berseri, postur yang tegap, perutnya tidak besar, karena kegemukan dan tidak terlalu ramping karena kekurusan ", begitu tutur Ummu Ma'bad. Sedangkan Ali menjelaskan tentangnya (Rasulullah), "Perawakannya sedang, tidak tinggi, juga tidak pendek. Rambutnya hitam tebal dan tidak kaku, tidak pula keriting dan juga tidak lurus, sungguh seimbang.". Sedangkan Abu Bakar setiap ia melihat beliau (Rasulullah), dia selalu berkata, "Yang terpercaya lagi terpilih, menyeru kebaikan, laksana sinar purnama, yang menyingkirkan kegelapan."

Cara penulis menjelaskan kisah perjalanan Rasulullah, dengan tetap mempertahankan ilmiah namun tanpa begitu banyak catatan kaki membuat buku ini recommended untuk dibaca. Saya setuju bahwa buku ini mempunyai metode pengungkapan yang indah seperti yang dikatakan Fimadani. Beberapa sirah yang pernah saya baca (meski tidak ada yang selesai) adalah sirah Syeikh Sa'id Ramadhan Al-Buthy dan Husain Haekal tidak cukup menarik hati saya untuk menyelesaikan membacanya. Entah karena penerjemahnya, atau memang bahasa yang dipakai tidak semengalir Syeikh Mubarakfury. Selain itu, beberapa gambar baik peta, gambar posisi pasukan saat perang cukup menghias dan membantu memahami kondisi pada saat itu.  Kekurangan buku ini adalah kesan "sangat tebal" yang akan membuat pembaca yang tidak biasa membaca buku setebal ini akan menciut, dan sudah malas membaca sebelum memulai. Selain itu tebal dan besarnya buku ini membuatnya tidak praktis dibawa. 

After All, sangat direkomendasikan bagi kamu yang ingin membaca sirah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam dengan bahasa yang tidak terlalu berat. Dibuku ini layak dibaca oleh kalangan SMP ke atas.  Namun, jangan jadikan buku ini membuat kita berhenti membaca buku Sirah Nabawi yang lain. Ada sebuah kutipan dari Nouman Ali Khan, yang kurang lebih isinya begini,

Satu tahun sekali sempatkan baca satu sirah atau tarikh Rasulullah, dari berbagai sisi dan banyak penulis. Yakinlah, meski akan ada banyak kisah yang kembali diulang, akan kita temukan lebih banyak lagi pelajaran yang akan memperkaya hidup dan memperbaiki diri kita.


Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Mari mengenal Rasulullah, mari belajar dari dirinya, mari buktikan bahwa kita benar-benar mencintainya dengan mempelajari dan mengamalkan sunnahnya. Semoga Allah kelak mempertemukan kita dengan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam di Jannah-Nya.   

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya