Follow Me

Wednesday, January 21, 2015

Resensi: Dari Hal Lucu Kita Memetik Hikmah


sumber: Dokumentasi Pribadi

Judul : Catatan Dodol Ukhti Ngocol
Penulis : Arkadini Leo
Penerbit : Pro-U Media
Tahun Terbit : 2014
Fisik : 12 x 20 cm; 132 halaman

Bismillah.

Siapa bilang segala yang membuat tertawa, melalaikan kita dari-Nya? Ternyata tidak semua, justru kekocakan bisa jadi membuat kita termenung, kemudian memetik buah hikmah. Mungkin tidak banyak orang yang merasakan itu, mendengar hal lucu, tertawa atau tersenyum, namun tidak berhenti di sana. Ya tidak semua orang mempunyai kepekaannya terhadap hikmah begitu besar, sehingga hikmah tidak cuma dipetik dari hal-hal menyedihkan, namun juga pada hal yang membuat tawa menggema. Membaca buku "Catatan Dodol Ukhti Ngocol" membuat saya setuju, bahwa ada kisah-kisah kocak yang sarat makna. Kisah-kisah kocak yang jika ditulis/diceritakan kepada banyak orang, tidak hanya membuat mereka tersenyum geli, namun juga menyicip hikmah darinya.

Buku "Catatan Dodol Ukhti Ngocol" merupakan sebuah kumpulan kisah-kisah kocak nyata yang dialami atau diketahui penulis. Arkadini Leo, penulis, merupakan seorang mahasiswi Universitas Gajah Mada yang aktif menulis di catatan Facebook. Tulisannya yang unik dan berkarakter membuat teman-teman di jejaring sosial mendorong dan memotivasi ia untuk terus menulis. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dikumpulkan dan dipilih untuk diajukan ke penerbit.

Kisah-kisah di buku ini struktur penulisannya seragam, yaitu bagian lucu/dodol dilanjutkan dengan bagian hikmah. Dari 19 kisah-kisah kocak sarat hikmah, beberapa yang paling menarik adalah "Maling Paling Kocak", "Ridiculous Tapi Genius dan Nenek-Nenek Pikun".

"Maling Paling Kocak" menceritakan beberapa pengalaman penulis saat kecurian, yang pertama saat kecurian dompet berisi hp dan surat-surat penting. Bagian yang lucu adalah pencuri nya ternyata bisa diajak kerjasama. Ketika hp ditelpon dan ga diangkat, penulis inisiatif sms hp tersebut merelakan hpnya diambil namun meminta dompet berisi surat-surat penting untuk dikembalikan. Dan ternyata beneran dibalikin dompetnya dengan diletakkan di tempat pencopetan dompet tadi. Merasa si maling kooperatif, penulis kembali mengirim sms ke si maling, "Makasih ya Mas udah balikin dompetnya. Biar harga jual HP lebih tinggi, ketemuan yuk Mas, entar tak kasih charger dan phonebook-nya, mau nggak?" hehe. Sayang, niat baik penulis tidak direspon.

Pengalaman kedua kasus pencurian terjadi di toilet umum di sebuah terminal. Saat itu penulis sedang kambuh penyakit dodolnya, ia menitipkan tasnya ke penjaga toilet sebelum masuk WC. Setelah keluar, ia mencari-cari dompet yang entah kenapa tidak ditemukan. Ia waktu itu bertanya dalam hati, dompetku  dicopet dimana ya? Di bis atau dicopet mas penjaga toilet? Setelah yakin bahwa dompetnya hilang, penulis meminta maaf kepada penjaga karena tidak bisa membayar toilet. Lalu, masnya berbaik hati meminjamkan Hpnya buat misscall HP penulis. Hasilnya nihil, akhirnya penulis bilang ke penjaga toilet, "Nggak bisa mas, Hpnya sudah dinonaktifkan". Yang membuat kaget dan kocak adalah saat masnya keceplosan bilang gini, "Coba di telepon ke nomer satunya lagi, Mbaknya kan pake dual sim". Hehe. Saat itu penulis ingin marah dan meminta masnya mengembalikan Hpnya, tapi ia akhirnya pergi dan meng-ikhlaskannya.

Setelah dua kasus tadi, baru penulis menjelaskan hikmah yang ia petik dari kisah tadi. Tentang kehilangan dan bagaimana kita menyikapinya. Penulis menceritakan tentang kisah Ummu Salamah, saat kehilangan suaminya, dan ia ridha dan bersabar. Kemudian Allah berikan ganti yang lebih baik, Ummu Salamah dipinang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam.

"Guys, inilah penyikapan yang baik ketika kita mendapat Musibah, yaitu menerima musibah sebagai ketentuan Allah, alias ridha. Lalu mengharapkan pahala dari musibah itu. Setelah itu meminta kepada Allah untuk memberi ganti yang lebih baik" -hal.73

Kelebihan buku ini menurut saya terletak pada idenya sendiri, bahwa dari hal kecil, dari canda, ada banyak hikmah yang bisa kita ketik. Cocok dibaca saat mulai jenuh menelusuri kalimat-kalimat berat, selingan yang membuat tertawa geli, namun tidak melalaikan. Buku ini ringan satu dua jam cukup untuk menyelesaikannya, namun meski ringan ia berisi, karena ada pelajaran yang bisa kita petik usai membacanya. Gaya bahasa yang digunakan membuat pembaca tidak merasa digurui. Selain itu, beberapa ilustrasi menambah kekocakan dan memperkuat kisah yang disampaikan. Ukurannya yang tipis dan tidak besar menjadikan buku ini nyaman untuk dibawa kemana-mana.

Kekurangan buku ini terletak pada beberapa kisah dan hikmah yang terkesan "dipaksa" ditautkan meski tidak terlalu nyambung. Ada juga beberapa jokes yang garing seperti pada "Becandaan Kami", dan ada juga yang kontennya tidak lucu seperti "Tips Menjadi Keren", bahkan agak berat seperti "Hidup Mahasiswa Kere".

After All, sangat direkomendasikan bagi kamu yang ingin refreshing sejenak dari buku berat. Penggunaan bahasa yang tidak terlalu baku menjadikan buku ini cocok dibaca oleh remaja ke atas. Selamat menemukan sensasi kengocolan sekaligus untaian nasihat dalam buku ini.

"Karena Islam adalah kebenaran. Karena Islam adalah kejelasan. Karena Islam adalah keindahan. Karena Islam adalah kemudahan. Allah subhanahu wata'ala befirman, Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS. Al Baqarah[2] : 185)" -Arkadini Leo, Catatan Dodol Ukhti Ngocol

Allahua'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya